Anda di halaman 1dari 4

KOMPLIKASI ABORTUS

Komplikasi yang dapat terjadi karena aborsi adalah10 :

1. Perdarahan (hemorrhage)

Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi
dan jika perlu dilakukan pemberian transfusi darah. Bila terjadi perdarahan harus
cepat ditangani karena dapat menyebabkan kematian.

2. Perforasi

Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi
hiperrentrofleksi. Jika hal ini terjadi, maka perlu diamati bila ada tanda bahaya, perlu
segera dilakukan laparotomi. Dilakukan penjahitan luka perforasi atau perlu
histerektomi tergantung dari luas dan bentuk perforasi. Perforasi juga bisa terjadi
sering terjadi sewaktu dilatasi dan kuretase yang dilakukan oleh tenaga yang tidak ahli
seperti bidan dan dukun.

3. Infeksi

Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus, tetapi
biasanya ditemukan pada abortus inkompletus dan lebih sering pada abortus buatan
yang dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis.

4. Syok,

Pada abortus dapat disebabkan oleh:

- Perdarahan yang banyak disebut syok hemoragik

- Infeksi berat atau sepsis disebut syok septik atau endoseptik

5. Gagal ginjal akut

Gagal ginjal akut yang persisten pada kasus abortus biasanya berasal dari
efek infeksi dan hipovolemik yang terjadi. Bentuk syok bakterial yang sangat berat
sering disertai dengan kerusakan ginjal intensif. Setiap kali terjadi infeksi klostridium
yang disertai dengan komplikasi hemoglobenimia intensif, maka gagal ginjal pasti
terjadi.
PEMBUKTIAN KASUS ABORTUS

Peranan dokter dalam pembuktian perkara aborsi ada 2 yaitu sebagai pembuat
visum et repertum dan sebagai saksi ahli. Untuk tujuan medikolegal abortus dapat
dikategorikan dalam 3 grup yaitu spontan, terapeutik, dan kriminalitas. Untuk dapat
membuktikan apakah kematian seorang wanita itu merupakan akibat dari tindakan
abortus yang dilakukan atas dirinya, diperlukan petunjuk-petunjuk:

1. Adanya kehamilan

2. Umur kehamilan

Dimana untuk abortus adalah terminasi kehamilan pada saat usia hamil < 22
minggu/20 minggu

3. Adanya hubungan sebab akibat antara abortus dengan kematian

4. Adanya hubungan antara saat dilakukannya tindakan abortus dengan saat


kematian

5. Adanya barang bukti yang dipergunakan untuk melakukan abortus sesuai


dengan metode yang dipergunakan

6. Alasan atau motif untuk melakukan abortus itu sendiri

Pemeriksaan Korban Hidup

Pada pemeriksaan pada ibu yang diduga melakukan aborsi, usaha dokter
adalah mendapatkan tanda-tanda sisa kehamilan dan menentukan cara pengguguran
yang dilakukan. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan oleh Sp.OG. 12

Untuk menentukan tanda-tanda sisa kehamilan diusahakan melakukan


anamnesis secara teliti dan pemeriksaan fisik berupa adanya payudara yang membesar
dan pengeluaran ASI serta dijumpai adanya kolustrum pada pemeriksaan
laboratorium, Warna kehitaman disekitar payudara, uterus masih membesar, dijumpai
adanya striae, lochia dari vagina, dan perlukaan pada portio. 12
Untuk menentukan usaha penghentian kehamilan dilakukan pemeriksaan
toksikologi, pemeriksaan PA jaringan hasil aborsi atau sisa plasenta yang tertinggal
dirahim, luka, peradangan, bahan-bahan yang tidak lazim dalam liang senggama, sisa
bahan abortivum. Pada masa kini bila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan DNA
untuk pemastian hubungan ibu dan janin. 12

Pemeriksaan Korban Mati

Pemeriksaan dilakukan menyeluruh melalui pemeriksaan luar dan dalam


(autopsi). Pemeriksaan ditujukan pada12:

a) Menentukan perempuan tersebut dalam keadaan hamil atau tidak. Untuk ini
diperiksa :

 Payudara secara makroskopis maupun mikroskopis

 Ovarium, mencari adanya corpus luteum persisten secara mikroskopik

 Uterus, lihat besarnya uterus, kemungkinan sisa janin dan secara


mikroskopik adanya sel-sel trofoblast dan sel-sel decidua

b) Mencari tanda-tanda cara abortus provokatus yang dilakukan

 Mencari tanda-tanda kekerasan lokal seperti memar, luka, perdarahan jalan


lahir

 Mencari tanda-tanda infeksi akibat pemakaian alat yang tidak steril. Jika
digunakan zat kimia secara lokal maka pada liang senggama atau cavum
uteri dapat ditemukan zat-zat tersebut.

 Jika digunakan obat-obatan oral atau suntikan maka tentunya obat-obatan


tersebut akan dapat dilacak melalui pemeriksaan toksikologik.

c) Menentukan sebab kematian.

Dengan otopsi yang teliti disertai pemeriksaan penunjang maka dapat diketahui
penyebab kematiannya:
 Vagal refleks : Komplikasi ini terjadi karena adanya rangsangan pada
permukaan sebelah dalam dari canalis servikalis. Kematian khas terjadi di
meja operasi.

 Perdarahan : Terjadi karena robeknya vagina, serviks, atau uterus sehingga


menyebabkan perdarahan yang masif.

 Emboli udara : Komplikasi ini sering terjadi pada aborsi dengan alat
semprot. Dimana udara ikut masuk ke dalam pembukuh darah dan dapat
menyebabkan emboli udara pada arteri coronaria atau arteri otak. Kematian
terjadi dalam waktu 10 menit. Jumlah udara yang mematikan tergantung
dari banyak faktor. Udara sebanyak 10 mililiter saja sudah dapat
menyebabkan kematian, tetapi pernah ada laporan bahwa penderita dapat
sembuh sesudah mengalami emboli sebanyak 100 mililiter.

 Sepsis : Dapat terjadi karena alat-alat yang digunakan tidak steril, uterus
tidak bersih, dan robeknya usus besar.