Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI TANAMAN
“PERGERAKAN PARTIKEL”
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Fisiologi Tanaman

Disusun oleh :
Nama : Rita Wulandari
NIM : 4442170045
Kelas : 3B
Kelompok : 5 (Lima)

JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2018
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur tidak henti-hentinya kita panjatkan kehadirat Allah
S.W.T yang telah memberikan rahmat, nikmat, dan anugerah-Nya sehingga
Laporan Praktikum Fisiologi Tanaman ini dapat terselesaikan dengan baik.
Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam proses pembuatan Laporan Praktikum Fisiologi Tanaman.
Terlebih kami ucapkan terimakasih kepada bapak Imas Rahmawati, S.P, M.P
selaku dosen mata kuliah Fisiologi Tanaman, saudara Reza Maulana Muhammad
selaku asisten laboratorium dan saudara Arif Setiawan selaku asisten
laboratorium.
Demikianlah Laporan Praktikum Fisiologi Tanaman ini saya buat dengan
sepenuh hati. Tidak lupa kritik dan saran saya harapkan agar laporan ini dapat
menjadi lebih baik lagi.

Serang,September 2018

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................................ii
DAFTAR TABEL...............................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................1
1.1 Latar Belakang...................................................................................1
1.2 Tujuan................................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................2
2.1Pergerakan Partikel.............................................................................2
2.2 Difusi..................................................................................................3
2.3 Osmosis..............................................................................................6
BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM........................................................10
3.1 Waktu & Tempat................................................................................10
3.2 Alat & Bahan......................................................................................10
3.3 Cara Kerja..........................................................................................10
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................11
4.1 Hasil...................................................................................................11
4.2 Pembahasan........................................................................................12
BAB V PENUTUP..............................................................................................14
5.1 Simpulan............................................................................................14
5.2 Saran..................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................15
LAMPIRAN

2
DAFTAR TABEL

Table 1.Hasil Pengamatan Larutan Sukrosa Dalam Pipa Berskala (cm) pada
kentang...................................................................................................11
Table 2.Hasil Pengamatan Larutan Sukrosa Dalam Pipa Berskala (cm) pada wortel
...............................................................................................................11
Tabel 3. Berat Kentang Sebelum dan Sesudah Pengamatan................................11
Tabel 4. Berat Wortel Sebelum dan Sesudah Pengamatan................................... 12

3
BAB I
PENDAHULAN

1.1 Latar Belakang


Difusi merupakan proses pergerakan acak partikel gas, cairan dari
konsentrasi yang tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah. Osmosis
merupakan perubahan pelarut dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih
rendah melalui membran semipermeable. Sedangkan plasmolisis adalah
peristiwa melepasnya plasmalema atau membran plasma dari dinding sel
karena dehidrasi (hilangnya air sel) bila sel berada dilingkungan larutan yang
hipertonis.
Dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita berhadapan dengan peristiwa
difusi dan osmosis, baik kita sadari maupun tidak kita sadari. Contohmya pada
saat kita menyeduh teh celup dalam kemasan kantong, warna dari teh tersebut
akan menyebar. Hal ini disebabkan oleh konsentrasi teh dalam gelas lebih
kecil dibandingkan dengan konsentrasi teh yang ada di dalam kantong teh
tersebut. Peristiwa tersebut sering kita sebut sebagai difusi.
Begitu pula pada tumbuhan, yang menyerap air dan zat hara yang
diperlukan dari lingkungan melalui proses difusi, osmosis, maupun imbibisi.
Peristiwa tersebut dapat berlangsung dengan baik jika terdapat perbedaan
tekanan potensial air yang sangat besar antara larutan di luar sel buah dengan
larutan di dalam sel buah tersebut.
Dalam praktikum ini, praktikan mencoba melakukan pengamatan dengan
menggunakan potongan kentang dan wortel untuk menguji kecepatan
masuknya larutan gula dengan konsentrasi berbeda.

1.2 Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah :
1. Menemukan fakta mengenai gejala difusi osmosis
2. Mengamati efek konsentrasi larutan terhadap kecepatan difusi
3. Menunjukan arah gerakan air pada peristiwa difusi - osmosis
4. Mendeskripsikan pengertian difusi - osmosis

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pergerakan Partikel


Air bergerak di dalam tanah secara horizontal dan vertikal. Pergerakan
air secara horizontal disebut juga pergerakan air lateral. Pergerakan air
vertikal dapat berupa pergerakan air ke bawah yang dipengaruhi oleh gerak
gravitasi melalui infiltrasi dan perkolasi serta pergerakan air ke atas melalui
gerak kapilaritas air tanah yang dipengaruhi oleh porositas tanah dan
temperatur tanah. Air tanah yang berada di bawah zona perakaran tanaman
akan mengalir menuju zona perakaran tanaman disebabkan oleh kemampuan
kapiler (cappilary rise) yang dimiliki oleh tanah. Air akan bergerak dari tanah
yang lembab menuju tanah yang lebih kering. Pada tanah lembab yang
jumlah persentase airnya lebih tinggi, gardien tegangannya lebih besar dan
lebih cepat perpindahannya. Pola kapilaritas air tanah dipengaruhi oleh
besarnya pengembangan tegangan dan daya hantar pori-pori dalam tanah.
Nilai efek kapilaritas tidak beraturan pada setiap bagian tanah, karena ukuran
pori-pori yang dilewatinya bersifat acak pula. Pada jenis tanah yang berbeda
akan memberikan pola pergerakan air tanah yang berbeda pula karena pola
pergerakan air tanah yang berupa gerak kapiler ini sangat dipengaruhi oleh
tekstur dari tanah tersebut, oleh karena itu kecepatan pergerakan air vertikal
ke bawah dan pergerakan horizontal di dalam tanah bergerak agak cepat
sampai agak lambat. (Craig, 1991)
Molekul atau partikel air, gas dan mineral masuk ke dalam sel tumbuhan
melalui proses difusi dan osmosis. Melalui proses-proses tersebut tumbuhan
dapat memperoleh zat-zat yang diperlukan untuk pertumbuhannya. Proses
difusi berlangsung dari daerah yang memilki konsentrasi partikel tinggi ke
daerah yang konsentrasi partikelnya rendah. Difusi memiliki peranan penting
dalam sel-sel tumbuhan yang hidup. Sel tumbuhan dapat mengalami
kehilangan air, apabila potensial air di luar sel lebih rendah daripada potensial
air di dalam sel. Jika sel kehilangan air cukup besar, maka ada kemungkinan
volume isi sel akan menurun besar sehingga tidak dapat mengisi seluruh

2
ruangan yang dibentuk oleh dinding sel. Artinya, membran dan sitoplasma
akan terlepas dari dinding sel, peristiwa ini disebut plasmolisis. Sel yang
sudah terplasmolisis dapat disehatkan kembali dengan memasukkannya ke
dalam air murni (Dwidjoseputro, 1978).
Ada tiga macam gerakan ion atau molekul zat untuk melewati membran
plasma yaitu difusi, osmosis dan transpor aktif. Pergerakan molekul-molekul
zat secara difusi dan osmosis tidak memerlukan energi sehingga disebut
transpor pasif sedangkan transpor aktif memerlukan energi untuk
pergerakannya (Pratiwi, 2004)
Mekanisme lalu lintas membran sel di bedakan menjadi dua yaitu tanspor
pasif dan transport aktif. Transpor pasif merupakan difusi suatu zat melintasi
membran biologis tanpa pengeluaran energi, misalnya: difusi dan osmosis.
Sedangkan transpor aktif merupakan pergerakan zat melintasi membran
plasma dengan diiringi penggunaan energi akibat adanya gerakan yang
melawan gradient konsentrasi yang diperantai oleh membran plasma,
misalnya transport natrium-kalium, eksositosis dan endositosis (Campbell.
2010)

4.2 Difusi
Difusi merupakan peristiwa perpindahan melekul dengan menggunakan
tenaga kinetik bebas, proses perpindahan ini berlangsung dari derajat
konsentrasi tinggi ke derajat konsentrasi rendah baik melalui selaput pemisah
maupun tidak dan tanpa menggunakan energi. Jadi, pada difusi konsentrasi
molekul akan sama pada semua bagian. Proses ini akan terus berlangsung
hingga dicapai titik keseimbangan. (Dwidjoseputro, 1978)
Menurut Campbell (1999) difusi adalah perpindahan zat (gas, padat atau
cair) tanpa melewati membrane, dari daerah yang konsetrasinya tinggi ke
daerah yang konsentrasinya rendah sehingga konsetrasi zat menjadi sama.
Menurut Salisbury (1995) difusi merupakan pergerakan neto dari satu
tempat ke tempat lain, akibat aktivitas kinetik acak atau gerak termal dari
molekul ion. Pada umumnya air dan bahan yang larut di dalamnya, masuk
dan keluar sel, bukan sebagai aliran massa, melainkan satu persatu molekul

3
setiap kali. Karena difusi zat cair yang menempuh jaraj makroskopik itu
berlangsung lambat, dan aliran massa gas dan zat cair sangatlah lazim,maka
difusi bukanlah suatu kejadian yang mudah terlihat. Walaupun demikian,
sebenarnya di fusi mudah untuk di amati.
Menurut Saktiono (1989), contoh peristiwa difusi adalah:
a. Masuknya air ke dalam akar, kemudian bergerak dari sel ke sel dan
akhirnya meninggalkan tubuh tumbuhan dalam bentuk nap air.
b. Masuknya gas karbondioksida ke dalam tubuh tumbuhan dan keluarnya gas
oksigen ke luar tubuh tumbuhan
Menurut Pratiwi (2004), kecepatan difusi ditentukan oleh jumlah zat yang
tersedia, kecepatan gerak kinetik dan jumlah celah pada membran sel. Difusi
sederhana ini dapat terjadi melalui dua cara:
a. Melalui celah pada lapisan lipid ganda, khususnya jika bahan berdifusi
terlarut lipid.
b. Melalui saluran licin pada beberapa protein transpor.
Mekanisme difusi melalui membran dapat berlangsung melalui tiga
mekanisme, yaitu difusi sederhana (simple difusion),difusi melalui saluran
yang terbentuk oleh protein transmembran (simple difusion by chanel
formed), dan difusi difasilitasi (fasiliated difusion). Difusi sederhana melalui
membran berlangsung karena molekul-molekul yang berpindah atau bergerak
melalui membran bersifat larut dalam lemak (lipid) sehingga dapat menembus
lipid bilayer pada membran secara langsung. Membran sel permeabel
terhadap molekul larut lemak seperti hormon steroid, vitamin A, D, E, dan K
serta bahan-bahan organik yang larut dalam lemak, Selain itu, memmbran sel
juga sangat permeabel terhadap molekul anorganik seperti O,CO2, HO, dan
H2O. Beberapa molekul kecil khusus yang terlarut dalam serta ion-ion
tertentu, dapat menembus membran melalui saluran atau chanel. Saluran ini
terbentuk dari protein transmembran, semacam pori dengan diameter tertentu
yang memungkinkan molekul dengan diameter lebih kecil dari diameter pori
tersebut dapat melaluinya. Sementara itu, molekul – molekul berukuran besar
seperti asam amino, glukosa, dan beberapa garam – garam mineral, tidak
dapat menembus membrane secara langsung, tetapi memerlukan protein

4
pembawa atau transporter untuk dapat menembus membran. Proses
masuknya molekul besar yang melibatkan transporter dinamakan difusi
difasilitasi (Kimball,1999).
Transport dengan cara difusi fasilitas mempunyai perbedaan dengan
difusi sederhana yaitu difusi fasilitas terjadi melalui carrier spesifik dan difusi
ini mempunyai kecepatan transport maksimum (Vmax). Suatu bahan yang
akan ditransport lewat cara ini akan terikat lebih dahulu dengan carrier
protein yang spesifik, dan ikatan ini akan membuka channel tertentu untuk
membawa ikatan ini ke dalam sel. Jika konsentrasi bahan ini terus
ditingkatkan, maka jumlah carrier akan habis berikatan dengan bahan tersebut
sehingga pada saat itu kecepatan difusi menjadi maksimal (Vmax). Pada
difusi sederhana hal ini tidak terjadi, makin banyak bahan kecepatan transport
bahan maakin meningkat tanpa batas. Difusi terfasilitasi adalah sejenis
transpor pasif yang molekul solutnya bergerak menuruni gradien konsentrasi
dengan bantuan protein pembawa pada membran. Suatu protein pembawa
mengambil sebuah molekul, kemudian protein tersebut berubah ke bentuk
alternatifnya untuk menyimpan molekul ke sisi lain membran. Dalam hal ini
tidak diperlukan masukan energi. (Fitter dan Hay, 1991)
Menurut Loveless (1991) telah diketahui benar bahwa semua zat, baik
unsur maupun senyawa, pada hakikatnya tersusun atas partikel-partikel kecil.
Partikel-partikel ini memiliki dua sifat umum yang penting, yaitu :
1. Kemampuan untuk bergerak bebas
2. Kecenderungan bagi partikel yang sama untuk tarik-menarik.
Kedua sifat ini sangat bertentangan. Kemampuan untuk bergerak bebas
cenderung untuk memisahkan partikel penyusun suatu zat, sedangkan gaya
tarik-menarik cenderung untuk mempersatukan partikel-partikel itu. Efek
pengaruh-mempengaruhi antara kecenderungan yang bertentangan itu
(misalnya, apakah kecenderungan bagi gerakan bebas lebih besar dari pada
gaya tarik, atau sebaliknya) menentukan keadaan fisik suatu zat. Sebagai
perkiraan dapat dikatakan bahwa jika kecenderungan untuk gerakan bebas
lebih unggul, zat itu akan berada dalam bentuk gas; jika kecenderungan untuk
gaya tarik lebih unggul, zat itu akan berada dalam bentuk padat, sedangkan

5
jika kedua kecenderungan itu kira-kira sama kuat, zat itu akan berada dalam
bentuk cair. (Loveless, 1991)
Peristiwa difusi pada tumbuhan sangat penting untuk keseimbangan
hidup tumbuhan. Karbon dioksida (CO2) dan oksigen (O2) diambil oleh
tumbuhan dari udara melalui proses difusi. Pengambilan air dan garam
mineral oleh tumbuhan dari dalam tanah, salah satunya melalui proses difusi.
Difusi zat dari dalam tanah ke dalam tubuh tumbuhan disebabkan konsentrasi
garam mineral di tanah lebih tinggi daripada di dalam sel. Demikian juga gas
CO2 di udara masuk ke dalam tubuh tumbuhan karena konsentrasi CO2 di
udara lebih tinggi daripada di dalam sel tumbuhan. Sebaliknya, O2 dapat
berdifusi keluar tubuh tumbuhan jika konsentrasi O 2 dalam tubuh tumbuhan
lebih tinggi akibat adanya fotosintesis dalam sel (Loveless, 1991).
Menurut Lukyati (1991) faktor yang mempengaruhi difusi :
a. Suhu, makin tinggi difusi makin cepat
b. BM makin besar difusi makin lambat
c. Kelarutan dalam medium, makin besar difusi makin cepat
d. Perbedaan Konsentrasi, makin besar perbedaan konsentrasi antara dua
bagian, makin besar proses difusi yang terjadi.
e. Jarak tempat berlangsungnya difusi, makin dekat jarak tempat terjadinya
difusi, makin cepat proses difusi yang terjadi.
f. Area Tempat berlangsungnya Difusi, makin luas area difusi, makin cepat
proses difusi.

2.3 Osmosis
Osmosis adalah suatu topik yang penting dalam biologi karena fenomena
ini dapat menjelaskan mengapa air dapat ditransportasikan ke dalam dan ke
luar sel. Pada umumnya membran pada organisme hidup bersifat
semipermeable (selektif permeable) yang berarti hanya molekul-molekul
tertentu yang dapat melewati. Cairan sel biasanya bersifat hipertonis
(potensial air tinggi), dan cairan diluar sel bersifat hipotonis (potensial air
rendah), sehingga air akan mengalir masuk ke dalam sel sampai kedua cairan
isotonis (Campbell, 2002).
Osmosis pada hakekatnya adalah suatu proses difusi, dimana molekul air
akan berdifusi dari potensial air lebih tinggi di luar menuju potensial air yang
lebih rendah dalam larutan sel artinya air akan berdifusi dari potensial air

6
lebih tinggi di luar menuju potensial air yang lebih rendah dalam larutan sel.
Artinya air akan berdifusi menuruni gradien potensial air ke dalam larutan.
Akibatnya, tekanan di dalam sistem membesar, yang menyebabkan naiknya
cairan dalam tabung osmometer laboratorium atau naiknya tekanan pada
dinding sel (Salisbury. 1995)
Menurut Salisbury (1995) semua sel memiliki membran yang berfungsi
membungkus isinya, tapi sel hewan dan sel beberapa protista tak berdinding-
hanya bermembran, yang kadang sangat khusus. Sel muda yang sedang
tumbuh, beberapa macam sel penyimpan, sel yang melakukan fotosintesis di
daun, semua sel parenkim, dan beberapa jenis sel lain hanya mempunya sel
dinding primer. Dinding ini tipis dan terbentuk selagi sel sedang tumbuh.
Dinding sel membungkus protoplas yang meliputi membran plasma dan
semua yang ada di dalamnya. Membran ini biasanya melekat erat pada
dinding karena adanya tekanan dari cairan di dalam.
Osmosis merupakan suatu peristiwa perembesan suatu molekul air
melintasi membran yang memisahkan dua larutan dengan potensial air yang
berbeda. Proses osmosis berlangsung dari larutan hipotonik menuju larutan
yang hipertonik atau perpindahan air dari molekul larutan yang potensial
airnya tinggi ke potensial yang rendah melalui membran selektif permeabel
(semipermeabel). Membran selektif permeabel adalah selaput pemisah yang
hanya dapat dilalui oleh air dan molekul-molekul tertentu yang larut di
dalamnya. Molekul-molekul yang dapat melewati membran semipermeabel
adalah molekul-molekul asam amino, asam lemak dan air, sedangkan molekul
zat yang berukuran besar misalnya polisakarida(pati) dan protein tidak dapat
melewati membran semipermeabel tersebut tetapi memerlukan protein
pembawa atau transporter untuk dapat menembus membran. Larutan yang
memiliki konsentrasi tinggi memiliki tekanan osmosis yang tinggi pula
maupun sebaliknya. Setiap sel hidup merupakan sistem osmosis. Jika sel
ditempatkan dalam larutan yang lebih pekat (hipertonis) terhadap cairan sel
maka air dalam sel akan terisap keluar. Hal itu akan menyebabkan plasma
menyusut. Jika air sel terus terisap keluar akan menyebabkan plasma terlepas
dari sel-sel dan sel akan mengerut. Sebaliknya jika sel berada dalam larutan

7
hipotonis (lebih encer daripada cairan sel), air dari luar sel akan masuk ke
dalam sel sehingga sel mengembang. Contoh peristiwa osmosis adalah
kentang yang dimasukkan ke dalam air garam (Lukyati, 1991).
Adapun yang dimksud air dalam proses osmosis adalah air dalam
keadaan bebas yang tidak terikat dengan jenis molekul-molekul lainnya,
seperti gula, protein, atau larutan yang lain. Oleh karena itu, konsentrasi
terlarut dalam suatu larutan merupakan faktor utama yang menentukan
kelangsungan osmosis. Membran semipermeabel harus dapat ditembus oleh
pelarut, tapi tidak oleh zat terlarut, yang mengakibatkan gradien tekanan
sepanjang membran. (Dwidjoseputro, 1978)
a. Isotonik
Larutan isotonik adalah suatu larutan yang mempunyai konsentrasi zat
terlarut yang sama (tekanan osmotik yang sama) seperti larutan yang lain,
sehingga tidak ada pergerakan air. Minuman isotonik dapat di minum untuk
menggantikan fluida dan mineral yang digunakan tubuh selama aktifitas fisik.
(Sasmitamihardja dkk, 1990)
b. Hipotonik
Larutan hipotonik adalah suatu larutan dengan konsentrasi zat terlarut
lebih rendah (tekanan osmotik lebih rendah) dari pada yang lain sehingga air
bergerak ke dalam sel. Contoh: aquades. (Sasmitamihardja dkk, 1990)
c. Hipertonik
Larutan hipertonik adalah suatu larutan dengan konsentrasi zat terlarut
lebih tinggi (tekanan osmotik yang lebih tinggi) dari pada yang lain sehingga
air bergerak ke luar sel. Contoh: larutan yang bersifat lengket dan pekat, seperti
larutan gula dan garam. (Sasmitamihardja dkk, 1990)
Potensial osmosis menunjukkan status suatu larutan dan menggambarkan
perbandingan proporsi zat terlarut dengan pelarutnya. Makin pekat suatu larutan
akan makin rendah potensial osmosisnya. Potensial osmosis dari suatu sel dapat
diukur dengan berbagai metoda. Metoda yang digunakan adalah dengan
menggunakan suatu seri larutan yang konsentrasi dan PO nya diketahui, misalnya
dengan larutan sukrosa. (Fitter dan Hay, 1991)

8
Menurut Lehninger, (1982) secara umum, membran plasma memiliki beberapa
peran penting yaitu:
a. Sebagai pembatas lingkungan sitosolik dan lingkungan non sitosolik.
b. Mengatur permeabilitas terhadap senyawa-senyawa atau ion yang melewatinya,
sifat permeabilitas ini diatur oleh protein integral/protein transmembran.
c. Protein membran berfungsi sebagai enzim khusus, misalnya pada membran
mitokondria, kloroplast, retikulum endoplasma, aparatus Golgi, membran sel
dan lain-lain.
d. Membran sebagai kelompokan molekul yang dapat berfungsi sebagai reseptor
terhadap perubahan lingkungan seperti perubahan suhu, macam dan intensitas
cahaya.

9
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, 20 September 2018 jam
09.20 sampai dengan selesai yang bertempat di Laboratorium Bioteknologi
Agroekoteknoloogi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2 Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah
sedotan, gelas platik, plastik bebas kiko, sterofoam, cutter, double tape,
kentang, wortel, air, dan gula.

3.3 Cara Kerja


Adapun cara kerja pada praktikum ini adalah :
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dibuat seri larutan gula: 0%, 15%, 25%, 50%, 65%, dan 75%
3. Dipotong wortel dan kertang dengan ukuran 3cm, kemudian diukur
beratnya
4. Diptong bagian ujung dan tengah kiko, kemuadian disatukan dengan
sedotan dan dibuat skala (cm), lalu ditusukkan pada sterofoam yang sudah
dibentuk menutupi lubang gelas plastik sampai tembus
5. Ditusukaan sedotan ke kentang dan wortel sampai setengah dari diameter
kentang dan wortel
6. Dituangkan larutan gula melalui pipa plastik kiko
7. Diamati kecepatan penurunan atau kenaikan larutannya pada menit ke-0,
10, 20, 30, dan setelah 24 jam
8. Dicatat hasil dan dibuat dalam bentuk laporan

10
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

1.1 Hasil
Table 1. Hasil pengamatan larutan sukrosa dalam pipa berskala (cm) pada
kentang
Waktu Skala Volume
0% 15% 25% 50% 65% 75%
Menit ke-0 12 cm 9,5 cm 9,5 cm 8 cm 9 cm 10 cm
Menit ke-10 5,8 cm 9 cm 9,5 cm 0 cm 0 cm 6 cm
Menit ke-20 3,5 cm 8,8 cm 9,4 cm 0 cm 0 cm 0 cm
Menit ke-30 2,1 cm 8 cm 9,4 cm 0 cm 0 cm 0 cm
Setelah 24 jam 0 cm 0 cm 0 cm 0 cm 0 cm 0 cm

Table 2. Hasil pengamatan larutan sukrosa dalam pipa berskala (cm) pada
wortel
Waktu Skala Volume
0% 15% 25% 50% 65% 75%
Menit ke-0 12 cm 9,5 cm 9,5 cm 8 cm 10,2 0 cm
cm
Menit ke-10 3,7 cm 5,5 cm 4,5 cm 0 cm 6,5 cm 0 cm
Menit ke-20 2 cm 3,4 cm 2,3 cm 0 cm 0 cm 0 cm
Menit ke-30 0 cm 0 cm 1 cm 0 cm 0 cm 0 cm
Setelah 24 jam 0 cm 0 cm 0 cm 0,5 cm 0 cm 0 cm

Table 3. Berat kentang sebelum dan sesudah pengamatan


Waktu Skala VolumeLarutan
0% 15% 25% 50% 65% 75%
Sebelum 18,02 24,75 28,64 28,48 22,366 25,8499
Sesudah 19,48 24,30 23,94 23,31 16,18 19,41

Table 4. Berat wortel sebelum dan sesudah pengamatan


Waktu Skala VolumeLarutan
0% 15% 25% 50% 65% 75%
Sebelum 29,27 29,45 23,92 10,81 17,14 11,4043
Sesudah 33,04 27,22 22,92 8,7 13,14 8,2

11
1.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini kami melakukan percobaan mengenai peristiwa
difusi dan osmosis, dimana difusi adalah proses pergerakan acak partikel-
pertikel cairan dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah
sedangkan osmosis adalah perpindahan pelarut dari konsentrasi tinggi ke
konsentrasi yang lebih rendah melalui membran semipermeable. Dalam
melaksanakan praktikum ini kami menggunakan sample kentang dan wortel
sebagai indikator dan bahan utama untuk mengetahui adanya peristiwa difusi
dan osmosis.
Pada awalnya, kita akan mengamati perubahan volume larutan pada
kentang dan wortel. Pada pengamatan diatas, volume larutan gula maupun
volume air pada kentang dan wortel mengalami perubahan jumlah volumenya.
Ini berarti menandakan bahwa pada percobaan ini terdapat proses osmosis
karena menurut Kustiyah (2007) difusi merupakan perpindahan molekul atau
ion yang berbeda konsentrasinya, yaitu dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi
rendah sedangkan osmosis merupakan proses difusi air (perpindahan air) pada
organisme dimana molekul yang berdifusi harus menerobos pori-pori membran
plasma yang bersifat semi permeabel.
Dari percobaan ditunjukan bahwa air dan gula dibatasi oleh kentang dan
wortel sebagai membrane. Pada percobaan kali ini, larutan gula terus mengalir
dari pipa kiko ke dalam gelas sehingga hal tersebut bertentangan dengan
literatur yang dikemukaan oleh Yahya (2015) bahwa umbi bersifat
semipermeable karena hanya air yang dapat melaluinya, sedangkan larutan
gula tidak bisa melewati umbi. Karena umbi bersifat semipermeable terhadap
larutan gula.
Selain itu, perbedaan konsentrasi gula juga mempengaruhi kecepatan
pertambahan air, karena larutan dengan konsentrasi gula yang lebih pekat lebih
lama bergerak dibandingkan larutan dengan konsentrasi gula yang rendah.
Perpindahan air melalui membran permeabel selektif dari bagian yang lebih
encer ke bagian yang lebih pekat. Membran semipermeabel harus dapat
ditembus oleh pelarut, tapi tidak oleh zat terlarut, yang mengakibatkan gradien
tekanan sepanjang membran.

12
Namun ada kendala saat melakukan pengamatan, yaitu kebocoran pada
sedotan sehingga hasil yang didapat kurang maksimal. Selain itu, keadaan
kentang dan wortel menjadi mengerut, ditujukan dengan semakin
berkuirangnya bobot wortel dan kentang setelah perendaman dalam larutan
gula yang masuk selama kurang lebih 24 jam. Hal ini dapat dipastikan bahwa
kandungan air dalam kentang dan wortel tersebut ikut bergerak dan habis
sehingga kentang dan wortel menjadi lembek. Hal ini juga sesuai dengan
pernyataan Arlita, dkk (2013) bahwa perendaman umbi di dalam larutan gula
menyebabkan terjadinya peristiwa osmosis dikarenakan tekanan osmotik dalam
umbi kurang dari tekanan osmotik di lingkungan. Perpindahan air ini terjadi
karena sel-sel umbi hipotonis terhadap larutan gula yang hipertonis. Sel-sel
umbi kekurangan air (isi sel), akibatnya terjadi plasmolisis yang
mengakibatkan penurununan tekanan turgor. Jika tekanan turgor menurun
akibatnya umbi menjadi empuk dan lembek sehingga terjadi penurunan bobot
umbi akibat perpindahan air dari sel-sel umbi ke larutan. Kelunakan umbi dan
pengurangan bobot bergantung pada konsentrasi larutan. Semakin hipertonis
larutannya, maka semakin lembek bengkuangnya, juga semakin banyak
pengurangan bobotnya.

13
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari praktikum kali ini yaitu
bahwa difusi adalah perpindahan molekul-molekul dari larutan konsentrasi
tinggi (hipertonis) ke larutan konsentrasi rendah (hipotonis) baik melalui
membran plasma atau tidak. Sedangkan osmosis merupakan perubahan
pelarut dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah melalui
membran semipermeable.
Kentang dan wortel sebagai membrane mempengaruhi proses pergerakan
larutan yang berkonsentrasi. Dapat disimpulkan bahwa larutan dengan
konsentrasi yang lebih pekat lebih lama bergerak menembus membrane di
bandingkan larutan dengan konsentrasi rendah. Tetapi jika dibandingkan
kecepatan pertambahan volumenya antara kentang dan wortel, pertambahan
volume air pada kentang lebih cepat dibandingkan wortel. Dikarenakan
membrane kentang lebih mudah menyerap air dibandingkan dengan
membrane wortel.
Percobaan dikatakan gagal disebabkan adanya kebocoran pada sedotan.
Sehingga hasil yang didapat kurang maksimal.

5.2 Saran
Saran saya pada praktikum selanjutnya adalah agar lebih kondusif saat
praktikum sehingga informasi yang disampaikan asisten laboratorium menjadi
lebih jelas.

14
DAFTAR PUSTAKA

Arlita, Malyan Afri., Sri Waluyo, dan Warji. 2013. Pengaruh Suhu dan
Konsentrasi Terhadap Penyerapan Larutan Gula Pada Bengkuang.
Jurnal Teknik Pertanian. Vol 2(1) : 91
Campbell, NA. JB. Reece, LG. Mitchell. 1999. Biologi Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Campbell, Reece and Mitchell L. 2002. Biology Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta :
Penerbit Erlangga
Campbell, Reece and Mitchell L.2010. Biology Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta :
Penerbit Erlangga
Craig, Houston. 1991. Kapilaritas air (ilmu tanah). Gajah Mada University Press,
Yogyakarta.
Dwidjoseputro, D. 1978. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT Gramedia.
Fitter, A.H. dan R.K.M. Hay, 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Universitas
Gadjah Mada Press. Yogyakarta.
Kustiyah.2007. Miskonsepsi Difusi dan Osmosis pada Siswa MAN Model
Palangkaraya. Jurnal Ilmiah Guru Kanderang Tingang. Vol. 1 (1) : 45
Lehninger, L. A. 1982. Dasar-Dasar Biokimia. Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Loveless, A.R. 1991. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik I.
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Lukyati dan Betty. 1991 . Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Malang:
FMIPA UM.
Salibury, Frank B. dkk. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung : ITB
Sasmitamihardja, Dardjat dan Arbayah H.S. 1990. Dasar-Dasar Fisiologi
Tumbuhan. Bandung: FMIPA-ITB.
Kimbal, J.W. 1999. Biologi Edisi 5 (terjemahan). Jakarta :Erlangga.
Pratiwi, D.A. 2004. Penuntun Biologi. Jakarta: Erlangga.
Saktiono. 1989. Biologi Umum. Jakarta: Gramedia
Yahya. 2015. Perbedaan Tingkat Laju Osmosis Antara Umbi Solonum tuberosum
dan Doucus carota.Jurnal Biology Education. Vol. 4(1) : 205

15
LAMPIRAN

Pengadukan larutan gula osmometer

Neraca Analitik bungkus kiko

Wortel penyimpanan hasil