Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

FISIKA DASAR I
“MODULUS YOUNG dan AYUNAN PUNTIR”

TANGGAL PENGUMPULAN : 15 OKTOBER 2017


TANGGAL PRAKTIKUM : 10 OKTOBER 2017
WAKTU PRAKTIKUM : 07.30-11.00 WIB

NAMA : RALDY ADITYA


NIM : 11170163000013
KELOMPOK / KLOTER : 3 (TIGA) / 1 (SATU)
NAMA ANGGOTA :
1. Afkariyya Shofwa Putri (11170163000007)

LABORATORIUM FISIKA DASAR


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2017
“MODULUS YOUNG dan AYUNAN PUNTIR”
A. TUJUAN PRAKTIKUM
Modulus Young
1. Mempelajari kelenturan batang logam
2. Mencari nilai modulus elastisitas dari berapa batang logam
3. Memahami konsep elastisitas

Ayunan Puntir
1. Mengukur besar modulus geser berbagai jenis kawat
2. Mencari nilai konstanta puntir kawat logam

B. DASAR TEORI
Modulus Young
Tegangan pada sebuah benda didefinisikan sebagai gaya persatuan luas
penampan benda tersebut. Bila dua buah kawat dari bahan yang sama
namun luas penampangnya berbeda-beda sama-sama diberikan gaya, maka
kedua kawat tersebut tegangan yang berbeda pula. Dimana tegangan
secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
𝐹
𝑇𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛(𝑠𝑡𝑟𝑒𝑠𝑠) = [𝑁]
𝐴
Dengan F merupakan besarnya gaya dan A adalah luas penampangnya
(Joseph 1978 : 32).
Apabila benda diregangkan melewati bahan elastis maka benda tersebut
akan memasuki daerah plastis yang berarti benda tak lagi akan kepanjang
aslinya bilamana gaya eksternal dihilangkan dari benda, melainkan akan
mengalami deformasi secara permanen seperti sebuah klip kertas yang
dibengkokkan.(Giancoli,2014 : 303).
Regangan adalah perubahan bentuk yang dialami benda dimana dua buah
gaya yang berlawanan arah (menjadi pusat benda) dikenakan pula pada
ujung benda. Makin besar tegangan suatu benda maka semakin pula besar
regangannya. Secara sistematis regangan dirumuskan sebagai berikut
∆𝐿
𝑒=
𝐿𝑖
Dengan e merupakan regangan (strain) , ∆𝐿adalah pertambahan panjang
(m) dan Li adalah panjang mula-mula benda tersebut. (Trippler.1998 : 8)
Ada benda yang sangat mudah diubah-ubah panjangnya, dan ada yang
sangat sulit diubah panjangnya. Benda yang bentuknya mudah diubah oleh
gaya dikatakan lebih elastis. Untuk membedakan bahan berdasarkan
keelastisannya, maka didefinsikan besaran yang namanya modulus
Young. (Abdullah, 2016 : 704).
Modulus Young adalah perbandingan antara tegangan yang dialami oleh
suatu benda dengan regangannya. Secara sistematis, Modulus Youg atau
Modulus Elastis dapat dirumuskan sebagai berikut :
𝑠𝑡𝑟𝑒𝑠𝑠 𝐹/𝐴
𝐸= = [𝑁/𝑚2 ]
𝑠𝑡𝑟𝑎𝑖𝑛 ∆𝐿/𝐿𝑖
Dengan F adalah gaya luar yang diberikan pada benda [N], A luas
penampang lintang benda [m2], ∆𝐿 adalah perubahan panjang [m] dan Li
panjang mula=mula [m].

Ayunan Puntir
Semua benda memiliki elastisitas, termasuk logam. Namun logam
memiliki eleastisitas yang kecil, namun suatu elastisitas logam dapat
diamati dengan cara ayunan puntir. Ayunan puntir adalah bila mana suatu
piringan digantungkan pada bidang horizontal lalu diberi simpangan sudut
akan terjadi gerakan osilasi. Periode sebuah gerak osilasi system
memenuhi :
𝐼
𝑇 = 2𝜋√ [𝑠]
𝑘
Dimana I adalah momen inersia [kg.m2] dan k adalah konstanta puntir
[N.m]. Konstanta puntir merupakan sebuah tetapan harga untuk suatu
logam yang dapat dipuntir sampai batas maksimal elastisitasnya.
Sedangkan modulus geser merupakan beda panjang suatu logam sebelum
dan setelah dipuntir. Hubungan antara konstanta puntir dan modulus geser
(M) [N.m2] dinyatakan dalam persamaan :
𝜋𝑅 4
𝑘= 𝑀[𝑁. 𝑚2 ]
2𝐿
Dengan L adalah panjang kawat [m] dan R jsri-jari kawat [m].

C. ALAT DAN BAHAN


Modulus Young
NO. GAMBAR NAMA ALAT DAN BAHAN
1. Batang Logam Tembaga
2. Tiang Statif 3 buah

3. Penjepit Statif 3 buah

4.

Mistar

5. Dial Gauge

6. Waterpass

7. Beban
8. Alas Statif

Ayunan Puntir
NO. GAMBAR NAMA ALAT DAN BAHAN
1. Cakram Logam

2. Kawat Tembaga

3. Statif Dinding

4. Mistar

5. Stopwatch
6. Mikrometer Sekrup

7. Busur

D. LANGKAH KERJA
Modulus Young
Percobaan 1 : Metode Pelenturan Tengah
1. Siapkan semua peralatan.

2. Ukur Lebar dan tebal batang logam tembaga

3. Susun/rakit batang statif, alas statif dan penjepit statif

4. Atur jarak penyangga L sebesar 30 cm


5. Letakkan waterpass di atas batang logam untuk memastikan kalau batang
logam sudah lurus

6. Gantungkan beban sebesar 150 g dan catat perubahan jarak lentur (𝛿) pada
dial gauge

7. Tambahkan beban sebesar 50 g setiap percobaan dan ukur perubahan jarak


lentur hingga beban yang digantungkan sebesar 250 g

Percobaan 2 : Metode Pelenturan Ujung

1. Susun alat seperti percobaan 1, namun kali ini dekatkan jarak antar
penyangga di satu ujung, dan letakkan dial gauge disamping penyangga
sejauh 15cm
2. Letakkan beban sebesar 250 g

3. Ubah jarak batang statif pada dial gauge berjarak 15 cm dan 20 cm


terhadap penyangga

4. Dengan beban yang sama namun jarak yang berubah, catat hasilnya pada
data percobaan

Ayunan Puntir

1. Persiapkan semua alat yang ingin digunakan pada praktikum ini


2. Gantungkan cakram pada poros yang melalui pusat massa

3. Ukur diameter dan massa cakram logam


4. Ukur panjang dan diameter kawat yang digunakan mulai dari 20 cm

5. Putar cakram dengan sudut kecil (𝜃 = 100 ), kemudian lepaskan sehingga


benda berisolasi, catat waktu yang dibutuhkan untuk 5 ayunan

6. Ulangi langkah tersebut untuk panjang kawat yang berbeda


E. DATA PERCOBAAN
Modulus Young
No. Jenis Logam Lebar Tebal Panjang
Batang (m) Batang (m) Batang (m)
1 Tembaga 3.5 x 10-2 2.65 x 10-2 55 x 10-2

Percobaan Pelenturan Tengah


No. Massa Beban (kg) Jarak Lentur (m) Jarak Penyangga
(m)
1 150 𝑥 10−3 8 𝑥 10−3 300 𝑥 10−3
2 200 𝑥 10−3 23.5 𝑥 10−3 300 𝑥 10−3
3 250 𝑥 10−3 53 𝑥 10−3 300 𝑥 10−3

Percobaan Pelenturan Ujung


No. Massa Beban (kg) Jarak Lentur (m) Jarak Penyangga
1 250 𝑥 10−3 101 𝑥 10−3 150 𝑥 10−3
2 250 𝑥 10−3 606 𝑥 10−3 200 𝑥 10−3
3 250 𝑥 10−3 640 𝑥 10−3 250 𝑥 10−3

Ayunan Puntir
No. Jenis Kawat Panjang Besar Diameter Waktu 5x
(m) Sudut Kawat (m) Ayunan
1 Tembaga 20 x 10-2 150 0.15 x 10-3 40.21
2 Tembaga 20 x 10-2 200 0.15 x 10-3 41
3 Tembaga 20 x 10-2 300 0.15 x 10-3 42
4 Tembaga 30 x 10-2 150 0.15 x 10-3 47
5 Tembaga 30 x 10-2 200 0.15 x 10-3 48
6 Tembaga 30 x 10-2 300 0.15 x 10-3 49
7 Tembaga 35 x 10-2 150 0.15 x 10-3 50
8 Tembaga 35 x 10-2 200 0.15 x 10-3 51
9 Tembaga 35 x 10-2 300 0.15 x 10-3 52

F. PENGOLAHAN DATA
Modulus Young (Pelenturan Tengah)
1 𝑃𝐿3
𝛿=
4 𝑏𝑑 3 𝐸
𝛿 = Jarak Lentur (m)
P = Berat beban (kg)
L = Panjang batang antara 2 tumpuan (m)
b = Lebar batang (m)
d = Tebal batang (m)
E = Modulus Young (N/m2)
1. P = 150 x 10-3 ; 𝛿 = 8 x 10-3 ; L = 300 x 10-3
1 𝑃𝐿3
𝛿=
4 𝑏𝑑 3 𝐸
−3
1 150 𝑥 10−3 𝑥 (300 𝑥 10−3 )3
8 𝑥 10 =
4 3.5 𝑥 10−2 𝑥 (2.65 𝑥 10−2 )3 𝐸
1 150 𝑥 10−3 𝑥 27 𝑥 10−3
8 𝑥 10−3 =
4 3.5 𝑥 10−2 𝑥 18.6 𝑥 10−6 𝐸
−3
1 4050 𝑥 10−6
8 𝑥 10 =
4 65.1 𝑥 10−8 𝐸
4050 𝑥 10−6
8 𝑥 10−3 =
260.4 𝑥 10−8 𝐸
20.832 𝑥 10 𝐸 = 4050 𝑥 10−6
−9

4050 𝑥 10−6
𝐸= = 194 𝑥 103 𝑁/𝑚2
20.832 𝑥 10−9

2. P = 200 x 10-3 ; 𝛿 = 23.5 x 10-3 ; L = 300 x 10-3


1 𝑃𝐿3
𝛿=
4 𝑏𝑑 3 𝐸
−3
1 200 𝑥 10−3 𝑥 (300 𝑥 10−3 )3
23.5 𝑥 10 =
4 3.5 𝑥 10−2 𝑥 (2.65 𝑥 10−2 )3 𝐸
1 200 𝑥 10−3 𝑥 27 𝑥 10−3
23.5 𝑥 10−3 =
4 3.5 𝑥 10−2 𝑥 18.6 𝑥 10−6 𝐸
−3
1 5400 𝑥 10−6
23.5 𝑥 10 =
4 65.1 𝑥 10−8 𝐸
5400 𝑥 10−6
23.5 𝑥 10−3 =
260.4 𝑥 10−8 𝐸
61.2 𝑥 10 𝐸 = 5400 𝑥 10−6
−9

5400 𝑥 10−6
𝐸= = 88.2 𝑥 103 𝑁/𝑚2
61.2 𝑥 10−9

3. P = 250 x 10-3 ; 𝛿 = 53 x 10-3 ; L = 300 x 10-3


1 𝑃𝐿3
𝛿=
4 𝑏𝑑 3 𝐸
−3
1 250 𝑥 10−3 𝑥 (300 𝑥 10−3 )3
53 𝑥 10 =
4 3.5 𝑥 10−2 𝑥 (2.65 𝑥 10−2 )3 𝐸
1 250 𝑥 10−3 𝑥 27 𝑥 10−3
53 𝑥 10−3 =
4 3.5 𝑥 10−2 𝑥 18.6 𝑥 10−6 𝐸
−3
1 6750 𝑥 10−6
53 𝑥 10 =
4 65.1 𝑥 10−8 𝐸
6750 𝑥 10−6
53 𝑥 10−3 =
260.4 𝑥 10−8 𝐸
138 𝑥 10 𝐸 = 6750 𝑥 10−6
−9

6750 𝑥 10−6
𝐸= = 48.9 𝑥 103 𝑁/𝑚2
138 𝑥 10−9

Modulus Young (Pelenturan Ujung)


1 𝑃𝐿3
𝛿=
4 𝑏𝑑 3 𝐸
𝛿 = Jarak Lentur (m)
P = Berat beban (kg)
L = Panjang batang antara 2 tumpuan (m)
b = Lebar batang (m)
d = Tebal batang (m)
E = Modulus Young (N/m2)

1. P = 250 x 10-3 ; 𝛿 = 101 x 10-3 ; L = 150 x 10-3


1 𝑃𝐿3
𝛿=
4 𝑏𝑑 3 𝐸
−3
1 250 𝑥 10−3 𝑥 (150 𝑥 10−3 )3
101 𝑥 10 =
4 3.5 𝑥 10−2 𝑥 (2.65 𝑥 10−2 )3 𝐸
1 250 𝑥 10−3 𝑥 3.375 𝑥 10−3
101 𝑥 10−3 =
4 3.5 𝑥 10−2 𝑥 18.6 𝑥 10−6 𝐸
−3
1 843.75 𝑥 10−6
101 𝑥 10 =
4 65.1 𝑥 10−8 𝐸
−3
843.75 𝑥 10−6
101 𝑥 10 =
260.4 𝑥 10−8 𝐸
263 𝑥 10 𝐸 = 843.75 𝑥 10−6
−9

843.75 𝑥 10−6
𝐸= = 3.20 𝑥 103 𝑁/𝑚2
263 𝑥 10−9

2. P = 250 x 10-3 ; 𝛿 = 606 x 10-3 ; L = 200 x 10-3


1 𝑃𝐿3
𝛿=
4 𝑏𝑑 3 𝐸
−3
1 250 𝑥 10−3 𝑥 (200 𝑥 10−3 )3
606 𝑥 10 =
4 3.5 𝑥 10−2 𝑥 (2.65 𝑥 10−2 )3 𝐸
1 250 𝑥 10−3 𝑥 8 𝑥 10−3
606 𝑥 10−3 =
4 3.5 𝑥 10−2 𝑥 18.6 𝑥 10−6 𝐸
−3
1 2000 𝑥 10−6
606 𝑥 10 =
4 65.1 𝑥 10−8 𝐸
2000 𝑥 10−6
606 𝑥 10−3 =
260.4 𝑥 10−8 𝐸
1578 𝑥 10 𝐸 = 2000 𝑥 10−6
−9

2000 𝑥 10−6
𝐸= = 1.26 𝑥 103 𝑁/𝑚2
1578 𝑥 10−9

3. P = 250 x 10-3 ; 𝛿 = 640 x 10-3 ; L = 250 x 10-3


1 𝑃𝐿3
𝛿=
4 𝑏𝑑 3 𝐸
1 250 𝑥 10−3 𝑥 (250 𝑥 10−3 )3
640 𝑥 10−3 =
4 3.5 𝑥 10−2 𝑥 (2.65 𝑥 10−2 )3 𝐸
−3
1 250 𝑥 10−3 𝑥 15.625 𝑥 10−3
640 𝑥 10 =
4 3.5 𝑥 10−2 𝑥 18.6 𝑥 10−6 𝐸
1 3906 𝑥 10−6
640 𝑥 10−3 =
4 65.1 𝑥 10−8 𝐸
3906 𝑥 10−6
640 𝑥 10−3 =
260.4 𝑥 10−8 𝐸
1666 𝑥 10 𝐸 = 6750 𝑥 10−6
−9

6750 𝑥 10−6
𝐸= = 4.05 𝑥 103 𝑁/𝑚2
1666 𝑥 10−9

AYUNAN PUNTIR
1. h = 20 cm→ 𝜃 = 15°

𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 40
𝑇= = = 8 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑛
𝑔𝑒𝑡𝑎𝑟𝑎𝑛 5

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑎𝑤𝑎𝑡 = 𝜌𝜋𝑅 2 ℎ

22
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑎𝑤𝑎𝑡 = 8,9 𝑥 7
𝑥 (7 𝑥 10−3 )2 𝑥 20 = 27412 x 10-6 gram

𝑚 = 27 𝑥 10−6 𝑘𝑔

1
𝐼 = 𝑚𝑅 2
2

1
𝐼 = (27 𝑥 10−6 )(7 𝑥 10−5 )2
2

𝐼 = 661,5 𝑥 10−16 𝑘𝑔. 𝑚2


𝐼
𝑇 = 2𝜋√
𝑘

𝐼 4 𝜋2
𝑘=
𝑇2

(661,5 𝑥 10−16 )4 (3,14)2


𝑘= = 0,40 𝑥 10−13 𝑁. 𝑚
82

𝜋𝑅 2
𝑘= 𝑀
2𝐿

2𝐿
𝑀= 𝑘
𝜋𝑅 2

2 𝑥 0,2
𝑀= 40 𝑥 10−15
22 −5 2
7 (7 𝑥 10 )

𝑀 = 0,72 𝑥 10−6 𝑁. 𝑚2

2. h = 20 cm → 𝜃 = 20°

𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 41
𝑇= = = 8,2 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑛
𝑔𝑒𝑡𝑎𝑟𝑎𝑛 5

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑎𝑤𝑎𝑡 = 27 𝑥 10−6 𝑘𝑔

1
𝐼 = 𝑚𝑅 2
2

1
𝐼 = (27 𝑥 10−6 )(7 𝑥 10−5 )2
2

𝐼 = 661,5 𝑥 10−16 𝑘𝑔. 𝑚2

𝐼
𝑇 = 2𝜋√
𝑘
𝐼 4 𝜋2
𝑘=
𝑇2

(661,5 𝑥 10−16 )4 (3,14)2


𝑘= = 0,39 𝑥 10−13 𝑁. 𝑚
8,22

𝜋𝑅 2
𝑘= 𝑀
2𝐿

2𝐿
𝑀= 𝑘
𝜋𝑅 2

2 𝑥 0,2
𝑀= 39 𝑥 10−15
22 −5 2
7 (7 𝑥 10 )

𝑀 = 0,71 𝑥 10−6 𝑁. 𝑚2

3. h = 20 cm → 𝜃 = 35°

𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 42
𝑇= = = 8,4 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑛
𝑔𝑒𝑡𝑎𝑟𝑎𝑛 5

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑎𝑤𝑎𝑡 = 27 𝑥 10−6 𝑘𝑔

1
𝐼 = 𝑚𝑅 2
2

1
𝐼 = (27 𝑥 10−6 )(7 𝑥 10−5 )2
2

𝐼 = 661,5 𝑥 10−16 𝑘𝑔. 𝑚2

𝐼
𝑇 = 2𝜋√
𝑘

𝐼 4 𝜋2
𝑘=
𝑇2

(661,5 𝑥 10−16 )4 (3,14)2


𝑘= = 0,37 𝑥 10−13 𝑁. 𝑚
8,42
𝜋𝑅 2
𝑘= 𝑀
2𝐿

2𝐿
𝑀= 𝑘
𝜋𝑅 2

2 𝑥 0,2
𝑀= 37 𝑥 10−15
22 −5 2
7 (7 𝑥 10 )

𝑀 = 0,68 𝑥 10−6 𝑁. 𝑚2

4. h = 30 cm → 𝜃 = 15°

𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 47
𝑇= = = 9.4 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑛
𝑔𝑒𝑡𝑎𝑟𝑎𝑛 5

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑎𝑤𝑎𝑡 = 𝜌𝜋𝑅 2 ℎ

22
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑎𝑤𝑎𝑡 = 8,9 𝑥 𝑥 (7 𝑥 10−3 )2 𝑥 30 = 41118 x 10- 6 gram
7

𝑚 = 41 𝑥 10−6 𝑘𝑔

1
𝐼 = 𝑚𝑅 2
2

1
𝐼 = (41 𝑥 10−6 )(7 𝑥 10−5 )2
2

𝐼 = 1004,5 𝑥 10−16 𝑘𝑔. 𝑚2

𝐼
𝑇 = 2𝜋√
𝑘

𝐼 4 𝜋2
𝑘=
𝑇2

(1004,5 𝑥 10−16 )4 (3,14)2


𝑘= = 4.46 𝑥 10−13 𝑁. 𝑚
9.42
𝜋𝑅 2
𝑘= 𝑀
2𝐿

2𝐿
𝑀= 𝑘
𝜋𝑅 2

2 𝑥 0,3
𝑀= 446 𝑥 10−15
22 −5 2
7 (7 𝑥 10 )

𝑀 = 12.16𝑥 10−6 𝑁. 𝑚2

5. h = 30 cm → 𝜃 = 20°

𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 48
𝑇= = = 9.6 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑛
𝑔𝑒𝑡𝑎𝑟𝑎𝑛 5

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑎𝑤𝑎𝑡 = 𝜌𝜋𝑅 2 ℎ

22
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑎𝑤𝑎𝑡 = 8,9 𝑥 𝑥 (7 𝑥 10−3 )2 𝑥 30 = 41118 x 10- 6 gram
7

𝑚 = 41 𝑥 10−6 𝑘𝑔

1
𝐼 = 𝑚𝑅 2
2

1
𝐼 = (41 𝑥 10−6 )(7 𝑥 10−5 )2
2

𝐼 = 1004,5 𝑥 10−16 𝑘𝑔. 𝑚2

𝐼
𝑇 = 2𝜋√
𝑘

𝐼 4 𝜋2
𝑘=
𝑇2

(1004,5 𝑥 10−16 )4 (3,14)2


𝑘= = 430𝑥 10−13 𝑁. 𝑚
9.62
𝜋𝑅 2
𝑘= 𝑀
2𝐿

2𝐿
𝑀= 𝑘
𝜋𝑅 2

2 𝑥 0,3
𝑀= 430 𝑥 10−15
22 −5 2
7 (7 𝑥 10 )

𝑀 = 11.8 𝑥 10−6 𝑁. 𝑚2

6. h = 30 cm → 𝜃 = 35°

𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 49
𝑇= = = 9.8 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑛
𝑔𝑒𝑡𝑎𝑟𝑎𝑛 5

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑎𝑤𝑎𝑡 = 𝜌𝜋𝑅 2 ℎ

22
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑎𝑤𝑎𝑡 = 8,9 𝑥 𝑥 (7 𝑥 10−3 )2 𝑥 30 = 41118 x 10- 6 gram
7

𝑚 = 41 𝑥 10−6 𝑘𝑔

1
𝐼 = 𝑚𝑅 2
2

1
𝐼 = (41 𝑥 10−6 )(7 𝑥 10−5 )2
2

𝐼 = 1004,5 𝑥 10−16 𝑘𝑔. 𝑚2

𝐼
𝑇 = 2𝜋√
𝑘

𝐼 4 𝜋2
𝑘=
𝑇2

(1004,5 𝑥 10−16 )4 (3,14)2


𝑘= = 412 𝑥 10−13 𝑁. 𝑚
9.82
𝜋𝑅 2
𝑘= 𝑀
2𝐿

2𝐿
𝑀= 𝑘
𝜋𝑅 2

2 𝑥 0,3
𝑀= 412 𝑥 10−15
22 −5 2
7 (7 𝑥 10 )

𝑀 = 11.23 𝑥 10−6 𝑁. 𝑚2

7. h = 35 cm → 𝜃 = 15°

𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 50
𝑇= = = 10 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑛
𝑔𝑒𝑡𝑎𝑟𝑎𝑛 5

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑎𝑤𝑎𝑡 = 𝜌𝜋𝑅 2 ℎ

22
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑎𝑤𝑎𝑡 = 8,9 𝑥 𝑥 (7 𝑥 10−3 )2 𝑥 35 = 6853 x 10- 6 gram
7

𝑚 = 68 𝑥 10−6 𝑘𝑔

1
𝐼 = 𝑚𝑅 2
2

1
𝐼 = (68 𝑥 10−6 )(7 𝑥 10−5 )2
2

𝐼 = 238 𝑥 10−16 𝑘𝑔. 𝑚2

𝐼
𝑇 = 2𝜋√
𝑘

𝐼 4 𝜋2
𝑘=
𝑇2

(238𝑥 10−16 )4 (3,14)2


𝑘= = 93.86 𝑥 10−13 𝑁. 𝑚
102
𝜋𝑅 2
𝑘= 𝑀
2𝐿

2𝐿
𝑀= 𝑘
𝜋𝑅 2

2 𝑥 0,3
𝑀= 93.86 𝑥 10−15
22 −5 2
7 (7 𝑥 10 )

𝑀 = 2.56 𝑥 10−6 𝑁. 𝑚2

8. h = 35 cm → 𝜃 = 20°

𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 51
𝑇= = = 10.2 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑛
𝑔𝑒𝑡𝑎𝑟𝑎𝑛 5

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑎𝑤𝑎𝑡 = 𝜌𝜋𝑅 2 ℎ

22
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑎𝑤𝑎𝑡 = 8,9 𝑥 𝑥 (7 𝑥 10−3 )2 𝑥 35 = 6853 x 10- 6 gram
7

𝑚 = 68 𝑥 10−6 𝑘𝑔

1
𝐼 = 𝑚𝑅 2
2

1
𝐼 = (68 𝑥 10−6 )(7 𝑥 10−5 )2
2

𝐼 = 238 𝑥 10−16 𝑘𝑔. 𝑚2

𝐼
𝑇 = 2𝜋√
𝑘

𝐼 4 𝜋2
𝑘=
𝑇2

(238𝑥 10−16 )4 (3,14)2


𝑘= = 90.21 𝑥 10−13 𝑁. 𝑚
10.22
𝜋𝑅 2
𝑘= 𝑀
2𝐿

2𝐿
𝑀= 𝑘
𝜋𝑅 2

2 𝑥 0,3
𝑀= 90.21 𝑥 10−15
22 −5 2
7 (7 𝑥 10 )

𝑀 = 2.46 𝑥 10−6 𝑁. 𝑚2

9. h = 35 cm → 𝜃 = 20°

𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 52
𝑇= = = 10.4 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑛
𝑔𝑒𝑡𝑎𝑟𝑎𝑛 5

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑎𝑤𝑎𝑡 = 𝜌𝜋𝑅 2 ℎ

22
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑎𝑤𝑎𝑡 = 8,9 𝑥 𝑥 (7 𝑥 10−3 )2 𝑥 35 = 6853 x 10- 6 gram
7

𝑚 = 68 𝑥 10−6 𝑘𝑔

1
𝐼 = 𝑚𝑅 2
2

1
𝐼 = (68 𝑥 10−6 )(7 𝑥 10−5 )2
2

𝐼 = 238 𝑥 10−16 𝑘𝑔. 𝑚2

𝐼
𝑇 = 2𝜋√
𝑘

𝐼 4 𝜋2
𝑘=
𝑇2

(238𝑥 10−16 )4 (3,14)2


𝑘= = 86.90 𝑥 10−13 𝑁. 𝑚
10.42
𝜋𝑅 2
𝑘= 𝑀
2𝐿

2𝐿
𝑀= 𝑘
𝜋𝑅 2

2 𝑥 0,3
𝑀= 86.90 𝑥 10−15
22 −5 2
7 (7 𝑥 10 )

𝑀 = 2.37 𝑥 10−6 𝑁. 𝑚2

G. PEMBAHASAN
Dalam praktikum ini kita hanya menggunakan batang logam jenis
tembaga, karena waktu yang dibutuhlan dalam praktikum ini terbatas.
Pada praktikum mencari nilai modulus young, dengan logam yang
digunakan sama berarti luas penampangnya sama, namun gaya yang
diberikan berbeda akan mempengaruhi nilai modulus young. Dimana
moulus young berbanding lurus dengan tegangan namun berbanding
terbalik dengan regangan
Dimana pada metode pelenturan tengah kita gunakan jarak antar
penyangga sejauh 30 cm, jarak tidak berubah namun beban yang diberikan
berubah-ubah. Ternyata pada pelenturan tengah ini dipengaruhi oleh berat
beban, panjang batang, lebar dan tebal batang dimana akan menghasilkan
nilai pelenturan dan pada proses akhir kita dapat menemukan nilai
modulus young tersebut. Pada metode pelenturan tengah karena kita
menggunakan batang logam yang sama otomais untuk tebal, dan tebal
batang nilainya tetap, yang menjadi pengaruh lainnya yaitu beban yang
diberikan. Semakin besar suatu beban yang diberikan semakin besar jarak
lenturnya namun semakin kecil nilai modulus youngnya.
Lalu percobaan kedua kita gunakan metode pelenturan ujung
dimana beban yang digunakan besarnya sama namun jarak penyangganya
berubah-ubah. Dimana itu dapat mempengaruhi hasil modulus elastisnya.
Dan hasilnya semakin jauh jarak peneyangga semakin besar jarak
penyangga semakin besar pula jarak lenturnya tapi semakin kecil nilai
modulus elastisnya. (catatan : bahwa terdapat kesalahan pada perhitungan)
Percobaan selanjutnya yaitu mencari konstanta puntir, namun
sebelumnya kita harus mencari nilai periode, lalu inersia benda, lalu
mendapatkan konstanta puntirnya, namun setelah semua telah dicari kita
juga sekaligus dapat menentukan nilai modulus gesernya. Dimana pada
periode kita gunakan persamaan banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk
menghasilkan 1 getaran.
Semakin besar waktu yang dibutuhkan semakin besar nilai periode,
dalam praktikum ini kita sudah tentukan bahwa getaran harus sampai 5
kali. Untuk inersia karena kita gunakan logam yang sama itu berarti nilai
inersia benda tetap. Dan kita dapatkan konstanta puntir yaitu semakin
besar sebuah periode semakin kecil konstanta puntir. Dari konstanta puntir
kita dapat menentukan modulus geser, dimana jari-jari kawat nilainya
tetap namun panjang kawatnya konstanta puntirnya berbeda. Semakin
besar nilai konstanta puntir semakin kecil nilai modulus geser, namun
semakin besar panjang kawat semakin besar nilai modulus geser. Yang
artinya modulus geser berbanding lurus dengan panjang kawat namun
berbanding terbalik dengan konstanta puntir.

H. TUGAS PASCA PRAKTIKUM


MODULUS YOUNG
1. Buat grafik jarak lentur terhadap beban (δ vs P) dengan jarak penyangga
tetap dari pelenturan tengah dan ujung! Analisalah grafik yang diperoleh!
2. Buat grafik jarak lentur terhadap jarak penyangga (δ vs L) dengan beban
tetap dari kedua lenturan! Analisalah grafik yang diperoleh!
3. Bandingkan besar pengukuran modulus young batang logam dari hasil
percobaan dengan literatur!
Ayunan Puntir
1. Buatlah grafik perioda kuadrat terhadap momen inersia kawat (T2 vs I)!
2. Hitung nilai modulus geser M dari grafik T2 vs I !
3. Hitung nilai konstanta puntir k untuk setiap panjang tali !
4. Dapatkah cara ini dipakai untuk menentukan jenis kawat yang digunakan?
Mengapa?
5. Faktor apa yang mungkin menyebabkan kesalahan percobaan ini?
6. Buat analisis dan beri kesimpulan dari hasil percobaan ini!
Jawab :
Modulus Young
1. Pada praktikum ini untuk jarak penyangga tetap kita hanya lakukan pada
metode pelenturan tengah
No Jarak Lentur (cm) Beban
1 8 150
2 23.5 200
3 53 250

δ vs P
60

50

40

30
δ vs P

20

10

0
150 200 250

2. Pada praktikum ini untuk beban tetap kita hanya lakukan pada metode
pelenturan ujung
No Jarak Lentur (cm) L (cm)
1 101 15
2 606 20
3 640 25
δ vs L
700

600

500

400

300 δ vs L

200

100

0
15 20 25

3. Perbandingan modulus young antara percobaan dengan literature

Percobaan
No Bahan Literatur
Pelenturan Tengah Pelenturan Ujung
1 Tembaga 110 𝑥 109 194 𝑥 103 3.20 𝑥 109
2 Tembaga 110 𝑥 109 88.2 𝑥 103 1.26 𝑥 109
3 Tembaga 110 𝑥 109 48.9 𝑥 103 4.05 𝑥 109
∑𝐸 110 𝑥 109 110 𝑥 103 2.83 𝑥 109

Ayunan Puntir
1. Grafik Periode kuadrat terhadap momen inersia
No 𝑇2 I
64 661.5 𝑥 10−16
1
67.24 661.5 𝑥 10−16
2
70.56 661.5 𝑥 10−16
3
88.36 1004,5 𝑥 10−16
4
92.16 1004,5 𝑥 10−16
5
96.04 1004,5 𝑥 10−16
6
100 238 𝑥 10−16
7
104.04 238 𝑥 10−16
8
108.16 238 𝑥 10−16
9

T^2 vs I
250

200

150

T^2 vs I
100

50

0
64 67 70 88 92 96 100 104 108

2. Nilai Modulus geser


1.h = 20 cm→ 𝜃 = 15°

2𝐿
𝑀= 𝑘
𝜋𝑅 2

2 𝑥 0,2
𝑀= 40 𝑥 10−15
22 −5 2
7 (7 𝑥 10 )

𝑀 = 0,72 𝑥 10−6 𝑁. 𝑚2

2.h = 20 cm → 𝜃 = 20°

2𝐿
𝑀= 𝑘
𝜋𝑅 2

2 𝑥 0,2
𝑀= 39 𝑥 10−15
22 −5 2
7 (7 𝑥 10 )

𝑀 = 0,71 𝑥 10−6 𝑁. 𝑚2
3.h = 20 cm → 𝜃 = 35°

2𝐿
𝑀= 𝑘
𝜋𝑅 2

2 𝑥 0,2
𝑀= 37 𝑥 10−15
22 −5 2
7 (7 𝑥 10 )

𝑀 = 0,68 𝑥 10−6 𝑁. 𝑚2

4.h = 30 cm → 𝜃 = 15°

2𝐿
𝑀= 𝑘
𝜋𝑅 2

2 𝑥 0,3
𝑀= 446 𝑥 10−15
22 −5 2
7 (7 𝑥 10 )

𝑀 = 12.16𝑥 10−6 𝑁. 𝑚2

5.h = 30 cm → 𝜃 = 20°

2𝐿
𝑀= 𝑘
𝜋𝑅 2

2 𝑥 0,3
𝑀= 430 𝑥 10−15
22 −5 2
7 (7 𝑥 10 )

𝑀 = 11.8 𝑥 10−6 𝑁. 𝑚2

6.h = 30 cm → 𝜃 = 35°

2𝐿
𝑀= 𝑘
𝜋𝑅 2

2 𝑥 0,3
𝑀= 412 𝑥 10−15
22 −5 2
7 (7 𝑥 10 )

𝑀 = 11.23 𝑥 10−6 𝑁. 𝑚2
7.h = 35 cm → 𝜃 = 15°

2𝐿
𝑀= 𝑘
𝜋𝑅 2

2 𝑥 0,3
𝑀= 93.86 𝑥 10−15
22 −5 2
7 (7 𝑥 10 )

𝑀 = 2.56 𝑥 10−6 𝑁. 𝑚2

8.h = 35 cm → 𝜃 = 20°

2𝐿
𝑀= 𝑘
𝜋𝑅 2

2 𝑥 0,3
𝑀= 90.21 𝑥 10−15
22 −5 2
7 (7 𝑥 10 )

𝑀 = 2.46 𝑥 10−6 𝑁. 𝑚2

9.h = 35 cm → 𝜃 = 20°

2𝐿
𝑀= 𝑘
𝜋𝑅 2

2 𝑥 0,3
𝑀= 86.90 𝑥 10−15
22 −5 2
7 (7 𝑥 10 )

𝑀 = 2.37 𝑥 10−6 𝑁. 𝑚2

3. Konstanta Puntir
1.h = 20 cm→ 𝜃 = 15°

𝐼 4 𝜋2
𝑘=
𝑇2

(661,5 𝑥 10−16 )4 (3,14)2


𝑘= = 0,40 𝑥 10−13 𝑁. 𝑚
82
2.h = 20 cm → 𝜃 = 20°

𝐼 4 𝜋2
𝑘=
𝑇2

(661,5 𝑥 10−16 )4 (3,14)2


𝑘= = 0,39 𝑥 10−13 𝑁. 𝑚
8,22

3.h = 20 cm → 𝜃 = 35°

𝐼 4 𝜋2
𝑘=
𝑇2

(661,5 𝑥 10−16 )4 (3,14)2


𝑘= = 0,37 𝑥 10−13 𝑁. 𝑚
8,42

4.h = 30 cm → 𝜃 = 15°

𝐼 4 𝜋2
𝑘=
𝑇2

(1004,5 𝑥 10−16 )4 (3,14)2


𝑘= = 4.46 𝑥 10−13 𝑁. 𝑚
9.42

5.h = 30 cm → 𝜃 = 20°

𝐼 4 𝜋2
𝑘=
𝑇2

(1004,5 𝑥 10−16 )4 (3,14)2


𝑘= = 430𝑥 10−13 𝑁. 𝑚
9.62

6.h = 30 cm → 𝜃 = 35°

𝐼 4 𝜋2
𝑘=
𝑇2

(1004,5 𝑥 10−16 )4 (3,14)2


𝑘= 2
= 412 𝑥 10−13 𝑁. 𝑚
9.8

7.h = 35 cm → 𝜃 = 15°
𝐼 4 𝜋2
𝑘=
𝑇2

(238𝑥 10−16 )4 (3,14)2


𝑘= = 93.86 𝑥 10−13 𝑁. 𝑚
102

8.h = 35 cm → 𝜃 = 20°

𝐼 4 𝜋2
𝑘=
𝑇2

(238𝑥 10−16 )4 (3,14)2


𝑘= = 90.21 𝑥 10−13 𝑁. 𝑚
10.22

9.h = 35 cm → 𝜃 = 20°

𝐼 4 𝜋2
𝑘=
𝑇2

(238𝑥 10−16 )4 (3,14)2


𝑘= = 86.90 𝑥 10−13 𝑁. 𝑚
10.42

4. Ya, kita dapat menentukan jenis kawat menggunakan cara ini. Jenis kawat
dapat ditentukan setelah kita menemukan massa jenis kawat tersebut
dengan terlebih dahulu menentukan konstanta puntir, periode dan
inersianya
5. Faktor yang dapat menyebabkan kesalahan yaitu kurang ketepatan pada
saat melakukan percobaan, kurang singkronnya ketika memulai
melakukan simpangan dengan stopwatch, kesalahan perhitungan, dan bisa
merusak alat apabila alat tidak digunakan dengan semestinya
6. Bahwa dalam percobaan ayunan puntir ini modulus geser dipengaruhi oleh
periode benda, konstanta puntir dan panjang kawat. Dimana bila semakin
besar periode dan semakin panjang kawat semakin besar nilai modulus
geser, namun semakin kecil konstanta puntirnya

I. Kesimpulan
Modulus Young
1. Bahwa batang logam pun sebenarnya memiliki kelenturan namun
sangat kecil
2. Mendapatkan nilai modulus elastis dengan perbandingan antara
tegangan dengan regangan [E]
3. Elastisitas merupakan sifat yang dimiliki sebuah benda yang elastis

Ayunan Puntir

1. Mencari nilai modulus geser dapat dicari dengan persamaan


konstanta puntir, yang sebelumnya konstanta puntir tersebut di
dapat dari persamaan periode
2. Konstanta puntir didapat dengan persamaan periode dimana dala
persamaan kita gunakan periode yang didapat dari banyaknya
waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan banyaknya getaran,
dan juga inersia sebuah benda tersebut
J. Komentar
Kritik :
1. Harus teliti saat melaksanakan praktikum dikarenakan alat yang
digunakan seperti dial gauge itu sensitive
2. Kerja sama pada praktikum ini dibutuhkan untuk mendapatkan
hasil maksimal dengan waktu yang ada pada saat praktikum
Saran :
1. Dalam mengukur ketebalan, diameter, panjang, lebih baik
dilakukan pada saat akhir praktikum, karena untuk setiap
percobaan batang logam yang digunakan sama
2. Fokuskan pada praktikum terlebih pada ayunan puntir dimana satu
sisi melihat stopwatch satu sisi lainnya melihat 5 gerakan osilasi
pada cakram logam
K. DAFTAR PUSTAKA
Joseph, W. Kone. 1978. FISIKA UNIVERSITAS. Jakarta : Erlangga
Giancoli, Douglas C. 2014. Fisika Dasar Edisi Ketujuh Jilid I
(Terjemahan).Jakarta : Erlangga.
Abdullah, Mikrjuddin, 2016, Fisika Dasar I, Institute
Teknologi Bandung, Bandung.
Lampiran

Anda mungkin juga menyukai