Anda di halaman 1dari 7

Kasus :

An B umur 6 tahun dibawa ibunya ke UGD dalam keadaan somnolen. An B mengeluh


kepalanya sakit dan badannya panas sekali. Setelah diperiksa, suhu 39⁰C, tekanan darahnya
90/60 mmHg, nadi 101x/menit, pernapasan 27x/menit, kaku kuduk. Ibu mengatakan bahwa
An. B batuk sejak dua minggu yang lalu, sering muntah dan napsu makannya menurun. Ayah
An B penderita TBC. Dari hasil CT scan dan pemeriksaan lumbal pungsi, dokter menyatakan
An B mengalami infeksi pada meningen (meningitis).

A. Pengkajian
a. Identitas
Nama : An. B
Usia : 6 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tanggal pemeriksaan : 3 Maret 2015
Alamat : Kenjeran Surabaya

b. Keluhan utama
Pasien mengeluh sakit kepala dan demam tinggi.

c. Riwayat kesehatan
1) Riwayat penyakit sekarang.
An B umur 6 tahun dibawa ibunya ke UGD dalam keadaan somnolen. Anak
mengeluh kepalanya sakit dan badannya panas sekali. Dari hasil pemeriksaan,
dokter menyatakan An B mengalami infeksi pada meningen (meningitis).

2) Riwayat penyakit dahulu


An B batuk sejak dua minggu yang lalu.
3) Riwayat penyakit keluarga
Ayah penderita TBC.

d. Pemeriksaan fisik
TTV:
- suhu : 39⁰C
- tekanan darah : 90/60 mmHg
- nadi : 101x/menit
- pernapasan : 27x/menit,

B1 : frekuensi RR meningkat, batuk.


B2 : takikardi.
B3 : somnolen. kaku kuduk.

B4 : haluaran urin sedikit dengan warna kuning pekat.

B5 : muntah 3x.

B6 : lemah.

e. Pemeriksaan penunjang
- Pemeriksaan lumbal pungsi : cairan keruh, jumlah sel darah putih meningkat,
kultur positif terhadap beberapa bakteri.
- CT scan : terdapat penumpukan cairan pada selaput meningen.

B. Analisa Data
Data Etiologi Masalah keperawatan
DS : klien mengatakan Bakteri tubercolusis Nyeri akut
kepalanya sakit. 
DO : pasien meringis. Masuk aliran darah

Darah sampai di selaput
otak

Proses infeksi

Inflamasi pada piameter
dan arachnoid

Peradangan meningen

Sakit kepala
DS : klien mengatakan Bakteri tubercolusis Ketidakefektifan perfusi
kepalanya sakit.  jaringan serebral.
DO : Masuk aliran darah
- hasil CT scan terlihat 
adanya cairan di Darah sampai di selaput
selaput otak. otak
- Pasien mengalami 
penurunan kesadaran. Proses infeksi
- Kelemahan. 
Inflamasi pada piameter
dan arachnoid

Peradangan meningen

Terbentuk jaringan parut
atau pus

Aliran CSS terganggu

Penumpukan cairan di otak

Menekan arteri dan kapiler
darah otak

Suplai darah ke otak turun

Penurunan kesadaran
DS : klien mengatakan Bakteri tubercolusis Hipertermi
badannya panas. 
DO : Masuk aliran darah
- Suhu : 39⁰C 
- Badan terasa panas
- Takipnea Darah sampai di selaput
- Takikardi otak

Proses infeksi

Peningkatan metabolisme
DS : Bakteri tubercolusis Resiko ketidakseimbangan
- ibu An B mengatakan  nutrisi : kurang dari
anaknya sering muntah Masuk aliran darah kebutuhan.
dan napsu makannya 
menurun. Darah sampai di selaput
- otak
DO : 
- kurus dan pucat Proses infeksi
- membrane mukosa 
pucat Inflamasi pada piameter
- menolak untuk makan. dan arachnoid

Peradangan meningen

Terbentuk jaringan parut
atau pus

Aliran CSS terganggu

Penumpukan cairan di otak

Menekan otak

Gangguan neurologi

Muntah
C. Diagnosa Keperawatan yang muncul
1. Nyeri akut berhubungan dengan iritasi selaput otak
2. Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan gangguan aliran arteri
dan kapiler darah otak.
3. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
4. Resiko ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual
muntah dan penurunan nafsu makan.

D. Intervensi
Diagnosa
Tujuan dan Kriteria hasil (NOC) Intervensi (NIC)
keperawatan
Nyeri akut Memperlihatkan Pengendalian 1. Lakukan pengkajian nyeri
berhubungan nyeri. secara komprehensif termasuk
dengan iritasi Setelah dilakukan tindakan asuhan lokasi, karakteristik, durasi,
selaput otak keperawatan selama 3x 24 jam rasa frekuensi, kualitas dan faktor
nyeri pasien teratasi dengan kriteria presipitasi
hasil : 2. Observasi reaksi nonverbal dari
1. Melaporkan nyeri berkurang. ketidaknyamanan
2. Tidak menunjukkan ekspresi 3. Kontrol lingkungan yang dapat
menahan nyeri. mempengaruhi nyeri seperti
3. Mampu mengontrol nyeri ( suhu ruangan, pencahayaan dan
tahu penyebab nyeri, mampu kebisingan
menggunakan teknik 4. Kurangi faktor presipitasi nyeri
nonfarmakologi untuk 5. Ajarkan tentang teknik non
mengurangi nyeri, meminta farmakologi: napas dala,
bantuan) relaksasi, distraksi, kompres
4. Tidak mengalami gangguan hangat/ dingin
dalam system pernapasan, 6. Berikan analgetik untuk
jantung dan tekanan darah. mengurangi nyeri
5. Melaporkan selera makan 7. Tingkatkan istirahat
yang membaik. 8. Berikan informasi tentang nyeri
seperti penyebab nyeri, berapa
lama nyeri akan berkurang dan
antisipasi ketidaknyamanan dari
prosedur
9. Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik
pertama kali

Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan asuhan 1. Monitor TTV


perfusi jaringan keperawatan selama 3 x 24 jam 2. Monitor AGD
serebral ketidakefektifan perfusi jaringan 3. Monitor adanya nyeri kepala
berhubungan cerebral teratasi dengan kriteria 4. Monitor level orientasi
dengan gangguan hasil: 5. Monitor tonus otot pergerakan
aliran arteri dan 1. TTV dalam rentang normal 6. Monitor tekanan intrkranial dan
kapiler darah otak 2. Komunikasi jelas respon nerologis
3. Menunjukkan konsentrasi dan 7. Catat perubahan pasien dalam
orientasi merespon stimulus
4. Pupil seimbang dan reaktif 8. Pertahankan parameter
5. Tidak mengalami nyeri kepala hemodinamik
9. Tinggikan kepala 0-45o
tergantung pada konsisi pasien
dan order medis
Hipertermi Setelah dilakukan tindakan asuhan 1. Pantau suhu minimal setiap 2
berhubungan keperawatan selama 1 x 24 jam
dengan proses hipertemi dapat teratasi dengan 2. Pantau warna kulit
infeksi kriteria hasil : 3. Lepaskan pakaian yang
1. Suhu tubuh dalam rentang berlebihan dan tutupi pasien
normal dengan slimut saja
2. Badan terasa hangat 4. Gunakan waslap dingin di
3. Melaporkan nyeri berkurang aksila, kening, tengkuk, dan
4. Melaporkan selera makan yang lipat paha.
membaik 5. Anjurkan asupan cairan oral
6. Kolaborasi untuk pemberian
antipiretik
Resiko Setelah dilakukan tindakan asuhan 1. Ketahui makanan kesukaan
ketidakseimbangan keperawatan selama 2 x 24 jam pasien
nutrisi : kurang kebutuhan nutrisi tetap adekuat 2. Pantau kandungan nutrisi
dari kebutuhan dengan kriteria hasil : dan kalori makanan
berhubungan 1. Mempertahankan berat 3. Monitor mual dan muntah
dengan mual badan ideal 4. Monitor pucat, kemerahan,
muntah dan 2. Melaporkan selera makan dan kekeringan jaringan
penurunan nafsu yang membaik konjungtiva
makan 3. Melaporkan tingkat energy 5. Kolaborasi dengan dokter
yang adekuat. tentang kebutuhan
4. Nilai laboratorium (Hb, suplemen makanan seperti
albumin, elektrolit dll) dalam NGT/ TPN sehingga intake
batas normal. cairan yang adekuat dapat
dipertahankan
6. Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah
kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien