Anda di halaman 1dari 45

BAB 1

PENDAULUAN

1.1 Latar Belakang


Mata merupakan organ indra rumit yang disusun dari bercak sensitif
dan cahaya primitif pada permukaan intervetebrata. Secara struktural, bola
mata bekerja seperti sebuah kamera, tetapi mekanisme persarafan yang ada
tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Lapisan saraf yang melapisi separuh
bagian posterior bola mata merupakan bagian dari susunan saraf pusat yang
dihubungkan melalui suatu berkas serat saraf yang disebut saraf optik
(Syaifuddin, 2011)
Mata terdiri dari bagian-bagian yang sangat penting dan mempunyai
fungsi masing-masing. Mata membutuhkan perawatan yang teratur agar tetap
berada dalam kondisi yang baik. Namun, jika mata tidak dirawat atau dijaga
dengan baik maka akan timbul kerusakan-kerusakan pada mata, baik
kerusakannya merupakan gangguan pada saraf mata atau pada cara
penglihatan mata, contoh gangguan yang bisa terjadi pada mata adalah
Retinoblastoma dan Ablasio retina.
Retinoblastoma merupakan tumor ganas mata yang paling sering
terjadi pada masa anak dengan frekuensi 1 dari 20.000 kelahiran.
Retinoblastoma dapat diturunkan sebagai kondisi dominan autosomal namun
kebanyakan kasus bersifat sporadis. Sedangkan Ablasio Retina adalah
pelepasan retina dari lapisan epitelium neurosensoris retina dan lapisan
epitelia pigmen retina (Donna D. Ignativicius, 1991).
Berdasarkan data Badan kesehatan dunia World Health Organization
(WHO) penderita kanker di dunia tercatat terus meningkat. Kanker pada anak
diperkirakan 2-4 % dari seluruh jumlah kejadian penyakit kanker di seluruh
dunia. Di Indonesia terdapat sekitar 9.000 penderita kanker anak.
Retinoblastoma adalah penyakit yang menyerang pada anak sejak usia 0-5
tahun.
Berdasarkan fenomena yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari,
perawat harus mmapu untuk memberikan asuhan keperawatan pada pasien
dengan gangguan retinoblastoma dan ablasio retina karena perawat adalah
tenaga kesehatan yang berinteraksi paling lama dengan pasien yang

1
bersangkutan. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas mengenai
gangguan retinoblastoma dan ablasio retina serta proses keperawatan yang
akan ditujukan pada penderita.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah anatomi dan fisiologi pada mata manusia?
2. Apakah yang dimaksud dengan gangguan mata Retinoblastoma?
3. Apakah yang dimaksud dengan gangguan mata Ablasio Retina?
4. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan Retino
Blastoma?
5. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan Ablasio
Retina?

1.2 Tujuan
1.1 Tujuan Umum
1. Menyelesaikan tugas makalah keperawatan sensori persepsi
2. Mengetahui konsep dan keperawatan pada pasien dengan gangguan
gangguan Ablasioretina dan retinoblastoma
1.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui anatomi dan fisiologi pada mata manusia
2. Mengetahui apakah yang dimaksud dengan gangguan mata
Retinoblastoma
3. Mengetahui apakah yang dimaksud dengan gangguan mata Ablasio
Retina
4. Mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan
gangguan Retino Blastoma
5. Magaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
Ablasio Retina

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2
2.1 Anatomi dan Fisiologi Mata
Mata memiliki reseptor penglihatan dan sistem pembiasan yang
memfokuskan sinar pada reseptor yang terdapat di retina. Mata merupakan
organ indra rumit yang disusun dari bercak sensitif dan cahaya primitif pada
permukaan intervetebrata. (Syaifuddin, 2011).

Gambar 1. Anatomi mata (Sumber: Syafuddin, 2011)

Secara struktural, bola mata bekerja seperti sebuah kamera, tetapi


mekanisme persarafan yang ada tidak dapat dibandingkan dengan apapun.
Lapisan saraf yang melapisi separuh bagian posterior bola mata merupakan
bagian dari susunan saraf pusat yang dihubungkan melalui suatu berkas serat
saraf yang disebut saraf optik (nervus opticus). Lapisan fibrosa yang terletak
di luar sesuai dengan duramater yang berwarna putih keruh. Antara lapisan
fibrosa luar dan retina terdapat suatu lapisan vaskular yang berfungsi sebagai
nutrisi. (Syafuddin, 2011).
A. Anatomi Mata
1. Palpebra (kelopak mata)

3
Merupakan lipatan tipis yang dapat bergerak yang terletak di
depan mata. Fisura palpebra merupakan lubang berbentuk elips di
antara palpebra superior dan palpebra inferior, tempat masuk ke dalam
sakkus konjungtiva. Glandula sebasea bermuara langsung ke dalam
folikel bulu mata. Glandula siliaris merupakan modifikasi kelenjar
keringat, sedangkan konjungtiva adalah membran mukosa yang tipis
melapisi palpebra.

Gambar 2. Anatomi Mata (Sumber: Syafuddin.2011)

2. Aparatus lakrimal
Aparatus lakrimal terdiri atas pars orbitalis besar kecil, saling
berhubungan pada ujung lateral aponerosis muskulus levator palpebrae
superior. Kelenjar ini terletak di atas bola mata bagian anterior dan
superior orbita yang mempunyai 12 saluran yang bermuara pada
permukaan bawah kelenjar dan pada bagian lateral forniks (lateral
konjungtiva). Persarafan glandula lakrimalis berasal dari nukleus
lakrimalis dan Nervus Fasialis (N. VII). Air mata mengalir membasahi
kornea dan mengumpul dalam sakus lakrimalis melalui punkta
lakrimalis berjalan ke medial lalu bermuara dalam sakus lakrimal.
3. Orbita (rongga berbentuk pyramid)
Atap orbita dibentuk oleh pars orbitalis ossis frontalis yang
memisahkan orbita dengan fossa kranii anterior. Dinding lateral orbita
terdiri atas os zigomatikum dan ossis sphenoidalis, sedangkan dasarnya
dibentuk oleh fasies orbitalis maksilaris.

4
4. Bola mata
Terbenam dalam korpus adiposum orbita namun terpisah dari
selubung fasia bola mata. Bola mata terdiri atas 3 lapisan yaitu tunika
fibrosa, lamina vaskulosa dan tunika sensorial.
a. Tunika fibrosa
Merupakan jaringan ikat fibrosa yang tampak putih. Pada bagian
posterior ditembus oleh nervus optikus dan menyatu dengan
selubung saraf duramater. Lamina kibrosa adalah daerah sklera yang
ditembus oleh serabut saraf nervus optikus. Daerah ini relatif lemah
dan dapat menonjol ke dalam bola mata oleh pembesaran kavum
subarachnoid yang mengelilingi nervus optikus (N. II).
b. Lamina vaskulosa
1) Koroid (choroidea) adalah lapisan luar berpigmen dan berlapis.
Lapisan dalam sangat vascular karena menyentuh pembuluh
darah. Koroid mengandung pleksus vena yang luas dan
mengempis setelah kematian.
2) Korpus siliare ke belakang bersambung dengan koroid, ke depan
terletak di belakang tepi perifer iris, terdiri atas korona siliaris,
prosesus siliaris, dan muskulus siliaris. Persarafan siliaris nervus
okulomotorius berjalan ke depan bola mata sebagai nervus
Breves. Bagian terbesar dari badan siliaris mempunyai tiga
lapisan serat otot polos dan di antara serat otot terdapat jaringan
elastik yang rapat dan mengandung melanosit. Lapisan luar epitel
berpigmen retina disokong oleh lamina basalis. Lapisan dalam
tidak berpigmen dan pemukaannya tidak teratur yang merupakan
perpanjangan dalam saraf retina.
3) Iris
Merupakan lapisan berpigmen yang tipis terdapat di dalam
aqueous humor di antara kornea dan lensa. Tepi iris melekat pada
permukaan anterior korpus siliare membagi ruang di antara lensa
dan kornea menjadi kamera anterior dan posterior. Serat otot iris
terdiri atas serat sirkuler yang menyusun muskulus sphincter

5
pupilae di sekitar tepi pupil dan muskulus dilatator pupil berupa
lembaran tipis yang terletak dekat permukaan posterior.
c. Retina

Gambar 3. Anatomi Retina


Retina terdiri atas pars pigmentosa, sebelah luar melekat pada koroid
dan pars nervosa sebelah dalam berhubungan dengan korpus
vitreum. Ujung anterior retina membentuk cincin berombak disebut
ora serata (ora serrata retinae). Bagian anterior retina bersifat
nonreseptif dan terdiri dari sel-sel pigmen dengan lapisan epitel
silinder di bawahnya. Di pusat bagian posterior retina terdapat
daerah lonjong kekuningan disebut macula lutea yang merupakan
daerah retina yang terlihat paling jelas.
Lapisan luar membentuk epitel berpigmen, sedangkan lapisan dalam
menjadi retina saraf. Suatu ruangan potensial berada di antara kedua
lapisan tersebut yang dilalui oleh penonjolan sel pigmen. Retina
optikal melapisi koroid mulai dari papilla saraf di bagian posterior
hingga oraserata anterior. Suatu cekungan dangkal yang disebut
fovea sentralis terletak 2,5 mm kearah temporal papilla optic. Di
sekeliling fovea terdapat suatu daerah yang dikenal sebagai bintik
kuning (macula lutea). Fovea merupakan daerah penglihatan terjelas
yang tidak memiliki foto reseptor di atas papilla optic sehingga
daerah ini disebut bintik buta.

6
Gambar 4. Anatomi Retina Manusia
5. Isi bola mata
Isi bola mata adalah media refraksi yang terdiri dari aqueous humor,
korpus vitrous, dan lensa.
a. Aqueous humor
Cairan bening yang mengisi kamera anterior dan kamera posterior
bulbi yang merupakan secret dari prosessus siliaris. Setelah itu cairan
akan mengalir ke dalam kamera posterior, kemudian ke dalam kamera
anterior melalui pupila dan diangkut melalui celah-celah angulus irido
kornealis ke dalam kanalis Schlem.
b. Korpus vitreus
Mengisi bola mata di belakang lensa merupakan gelombang transparan
yang dibungkus oleh membran vitreus menebal yang terdiri atas
lapisan posterior yang menutup korpus vitreum, lapisan anterior yang
membentuk ligamentum suspensorium, dan lensa yang melekat pada
prosesus siliare.
c. Lensa
Badan bikonveks yang transparan terletak di belakang iris, di dekat
korpus vitreum, dan dikelilingi oleh prosesus siliaris yang terdiri atas
kapsul elastis, epitel kubois, dan serat-serat lensa. Agar mata dapat
berakomodasi untuk melihat yang dekat, muskulus siliaris berkontraksi
dan menarik korpus siliare ke depan dan ke dalam, sehingga serat
ligamentum suspensorium dapat relaksasi. Keadaan ini memungkinkan
lensa menjadi lebih bulat.

B. Fisiologi Mata

7
1. Pembedaan Warna
Penglihatan warna terjadi melalui dua tingkatan proses, yaitu pada
tingkat reseptor sesuai dengan teori triwarna, sedangkan pada saraf
optik dan di luarnya sesuai dengan teori antagonis.
a. Teori triwarna menganggap bahwa pada retina terdapat 3 macam
pigmen yang mempunyai penyerapan maksimum terhadap warna
biru, hijau, dan merah pada spectrum. Pigmen-pigmen ini terdapat
pada reseptor secara terpisah yang masing-masing mengirimkan
impuls-impuls yang dapat dibedakan ke otak.
b. Teori antagonis menganggap bahwa retina mempunyai aktivitas
yang lebih kompleks. Ada 6 macam tanggapan retina yang terjadi
dalam bentuk pasangan antagonistik. Rangsangan yang
menghasilkan setiap tanggapan tunggal dapat menekan kegiatan
anggota pasangan lain.
2. Kepekaan Dan Ketajaman Mata
Ada tiga macam ukuran kepekaan atau ketajaman mata, yaitu :
a. Ambang kuantum
Merupakan jumlah minimum foton yang diperlukan untuk
merangsang sebuah tanggapan sensor yang berperan untuk
menentukan ketajaman penglihatan seseorang di tempat gelap.
b. Ambang penerangan
Ambang penerangan merupakan ukuran kepekaan relatif mata
terhadap cahaya dengan aneka macam panjang gelombang.
c. Ketajaman
Ketajaman yang dimaksud merupakan ukuran ketajaman
penglihatan dan diukur dengan pemisahan sudut minimum
terhadap dua buah objek dan bukan satu. Batas terendah teoritis
untuk resolusi dua buah titik cahaya adalah sebesar 0,1 mrad,
sedangkan pada kenyataannya, dengan penglihatan paling tajam
dan kondisi yang optimum manusia dapat memisahkan sudut
pemisahan sekitar 0,2 mrad.

2.2 Retino blastoma


1. Definisi Retino blastoma
Retinoblastoma adalah tumor endo-okular pada anak yang mengenai
saraf embrionik retina. Kasus ini jarang terjadi, sehingga sulit untuk

8
dideteksi secara awal. Rata rata usia klien saat diagnosis adalah 24 bulan
pada kasus unilateral, 13 bulan pada kasus kasus bilateral. Beberapa kasus
bilateral tampak sebagai kasus unilateral, dan tumor pada bagian mata
yang lain terdeteksi pada saat pemeriksaan evaluasi. ini menunjukkan
pentingnya untuk memeriksa klien dengan dengan anestesi pada anak anak
dengan retinoblastoma unilateral, khususnya pada usia dibawah 1 tahun.
(Pudjo Hagung Sutaryo, 2006 ).

Gambar 5. Gambar Anatomi Retina yang Mengalami Retino Blastoma

Gambar 6. Gambar Mata Penderita Retino Blastoma


Retinoblastoma merupakan gloma maligna retina, tumor ganas, yang
didapatkan pada anak-anak dengan pola herediter. Biasanya bersifat
unilatelar. Pada pemeriksaan akan terlihat kekuning-kuningan dan bersinar
putih. Tumor ini akibat transmisi mutasi RB1 pada kedua gene RB1. Paien
dengan herediter RB mempunyai risiko untuk mendapat tumor diluar bola
mata seperti pinealoma, osteosarkoma, sarcoma jaringan lunak dan
sarcoma. Tumor yang berkaitan RB ini biasanya dibuat diagnosisnya
setelah dewasa. Dipengaruhi oleh etris dimana sedikit tinggi pada berkulit
hitam, kaukasus, danamerika-asia.

9
2. Etiologi
Retinoblastoma terjadi secara familiar atau sporadik. Namun dapat
juga diklasifikasikan menjadi dua subkelompok yag berbeda, yaitu
bilateral atau unilateral dan diturunkan atau tidak diturunkan. Kasus yang
tidak diturunkan selalu unilateral, sedangkan 90 % kasus yang diturunkan
adalah bilateral, dan unilateral sebanyak 10%. Gen retinoblastoma (RBI)
diisolasi dari kromosom 13q14, yang berperan sebagai pengatur
pertumbuhan sel pada sel normal. Penyebabnya adalah tidak
terdapatnya gen penekan tumor, yang sifatnya cenderung diturunkan.
Kanker bisa menyerang salah satu mata yang bersifat somatic maupun
kedua mata yang merupakan kelainan yang diturunkan secara autosom
dominant. Kanker bisa menyebar ke kantung mata dan ke otak (melalu
saraf penglihatan/nervus optikus).
3. Patofisiologi
Dua bentuk retino blastoma telah diidentifikasi, keduanya
disebabkan oleh hilangnya fungsi kedua alel pada gen Rb pencegah
kanker. Bentuk non familia disebabkan oleh mutasi somatic pada satu sel
yang kemudian berprolifrasi. Bentuk tersebut biasanya merupakan tumor
tunggal unilateral. Bentuk familia disebabkan oleh inaktifasi salah satu alel
saat lahir, yang menyebabkan kecenderungan mudah mengalami retino
balstoma dan timor. Tumor tersebut sering terjadi bilateral (85%) dan
multvokal).
Tumor mata (Retinoblastoma) terbagi atas IV stadium, stadium
tersebut terdiri dari:
a. Stadium I: menunjukkan tumor masih terbatas pada retina (stadium
tenang)
b. Stadium II: tumor terbatas pada bola mata.
c. Stadium III: terdapat perluasan ekstra okuler regional, baik yang
melampaui ujung nervus optikus yang dipotong saat enuklasi.
d. Stadium IV: ditemukan metastase jauh ke dalam otak.
Menurut Reese-Ellsworth, retino balastoma digolongkan menjadi
beberapa golongan:
a. Golongan I

10
1) Tumor soliter/multiple kurang dari 4 diameter pupil.
2) Tumor multiple tidak lebih dari 4dd,dan terdapat pada atau
dibelakang ekuator
b. Golongan II
1) Tumor solid dengan diameter 4-10 dd pada atau belakang ekuator
2) Tumor multiple dengan diameter 4-10 dd pada atau belakang
ekuator
c. Golongan III
1) Beberapa lesi di depan ekuator
2) Tumor ada didepan ekuator atau tumor soliter berukuran >10
diameter papil
d. Golongan IV
1) Tumor multiple sebagian besar > 10 dd
2) Beberapa lesi menyebar ke anterior ke ora serrate
e. Golongan V
1) Tumor masif mengenai lebih dari setengah retina
2) Penyebaran ke vitreous
3) Tumor menjadi lebih besar, bola mata memebesar menyebabakan
eksoftalmus kemudian dapt pecah kedepan sampai keluar dari
rongga orbita disertai nekrose diatasnya.

4. Manifestasi Klinik
Retinoblastoma biasanya menunjukkan leukokoria, refleksi putih
kekuningan dalam pupil yang disebabkan oleh tumor di belakang lensa.
Temuan lain yang sering adalah penurunan atau menghilangnya
penglihatan dan strabismus. Pada tumor yang lebih berkembang mungkin
terdapat iregularitas pupil, hifema, dan nyeri tulang mungkin timbul pada
penyakit amat lanjut atau metastasis. (Behrman, 2000)
Sedangkan Manifestasi klinis pada retinoblastoma juga bisa
dibedakan berdasarkan subyektif dan obyektifnya gejala (Ilyas S. dkk,
2000):
a. Gejala subyektif

11
1. Biasanya sukar ditemukan karena anak tidak mengeluh.
2. Penglihatan yang menurun pada anak-anak
3. Terasa Nyeri
b. Gejala obyektif
1. Ditemukan adanya leukokoria (Refleks putih pada pupil dan dapat
disebabkan karena kelainan pada retina, badan kaca, dan lensa)
2. Ditemukan adanya strabismus (dapat berupa gangguan otak dalam
mengkoordinasikan mata, atau dari satu atau lebih dari kekuatan
otot relevan atau arah gerakan)
3. Glaukoma (suatu penyakit dimana gambaran klinik yang lengkap
ditandai oleh peninggian tekanan intraokluler dan degenerasi papil
saraf optik serta defek lapang pandangan yang khas)
4. Tampak adanya suatu massa yang menonjol di dalam badan kaca
(vitreus)
5. Massa tumor dapat menonjol di atas retina ke dalam badan kaca
pada retinoblastoma tipe endofitik atau terletak di bawah retina
terdorong ke dalam badan kaca seperti pada tipe eksofitik.
6. Masa tumor tampak sebagai lesi yang menonjol berbentuk bulat,
berwarna merah jambu, dapat ditemukan satu atau banyak pada satu
mata atau kedua mata.
7. Sering terdapat neovaskularisasi di permukaan tumor.
8. Ditemukan adanya mikroneurisma atau teleangiektasi.
9. Pada pemeriksaan funduskopi pada lesi ini tidak ditemukan tanda
peradangan seperti edema retina, kekeruhan badan kaca dan lain-
lain.

5. Penatalaksanaan
Dua aspek pengobatan retinoblastoma harus diperhatikan, pertama
adalah pengobatan local untuk jenis intraocular, dan kedua adalah
pengobatan sistemik untuk jenis ekstrokular, regional, dan metastatic.
Hanya 17% pasien dengan retinoblastoma bilateral kedua matanya masih
terlindungi. Gambaran seperti ini lebih banyak pada keluarga yang
memiliki riwayat keluarga, karena diagnosis biasanya lebih awal.
Sementara 13% pasien dengan retinoblastoma bilateral kedua matanya

12
terambil atau keluar karena penyakit intraocular yang sudah lanjut, baik
pada waktu masuk atau setelah gagal pengobatan local.
Beberapa penatalaksanaan yang bisa diberikan pada penderita
retinoblastoma:
1. Pembedahan
Enukleasi adalah terapi yang paling sederhana dan aman untuk
retinoblastoma. Pemasangan bola mata palsu dilakukan beberapa
minggu setelha prosedur ini, untuk meminimalkan efek kosmetik.
Bagaimanapun, apabila enukleasi dilakukan pada dua tahun pertama
kehidupan, asimetri wajah akan terjadi karena hambatan pertumbuhan
orbita. Bagaimanapun, jika mata kontralateral juga terlibat cukup parah,
pendekatan konservatif mungkin bisa diambil.
Enukleasi dianjurkan apabila terjadi glaukoma, invasi ke rongga
naterior, atau terjadi rubeosis iridis, dan apabila terapi local tidak dapat
dievaluasi karena katarak atau gagal untuk mengikuti pasien secara
lengkap atau teratur. Enuklasi dapat ditunda atau ditangguhkan pada
saat diagnosis tumor sudah menyebar ke ekstraokular. Massa orbita
harus dihindari. Pembedahan intraocular seperti vitrektomi, adalah
kontraindikasi pada pasien retinoblastoma, karena akan menaikkan
relaps orbita.
2. External beam radiotherapy (EBRT)
Retinoblastroma merupakan tumor yang radiosensitif dan
radioterapi merupakan terapi efektif lokal untuk khasus ini. EBRT
mengunakan eksalator linjar dengan dosis 40-45 Gy dengan pemecahan
konvensional yang meliputi seluruh retina. Pada bayi mudah harus
dibawah anestesi dan imobilisasi selama prosedur ini, dan harus ada
kerjasama yang erat antara dokter ahli mata dan dokter radioterapi
untuk memubuat perencanan. Keberhasilan EBRT tidak hanya ukuran
tumor, tetapi tergantung teknik dan lokasi. Gambaran regresi setelah
radiasi akan terlihat dengan fotokoagulasi. Efek samping jangka
panjang dari radioterapi harus diperhatikan. Seperti enuklease, dapat
terjadi komplikasi hambatan pertumbuhantulang orbita, yang akhirnya

13
akan meyebabkan ganguan kosmetik. Hal yang lebih penting adalah
terjadi malignasi skunder.
3. Radioterapi plaque
Radioaktif episkeral plaque menggunakan 60 Co, 106 Ro, 125 I
sekarang makin sering digunakan untuk mengobati retinoblastoma.
Cara itu biasanya digunakan untuk tumoryang ukurannya kecil sa,pai
sedang yang tidak setuju dengan kryo atau fotokoagulasi, pada kasus
yang residif setelah EBRT, tetapi akhir-akhir ini juga digunakan pada
terapi awal, khusunya setelah kemoterapi. Belum ada bukti bahwa cara
ini menimbulkan malignansi sekunder.
4. Kryo atau fotokoagulasi
Cara ini digunakan untuk mengobati tumor kecil (kurang dari 5
mm) dan dapat diambil. Cara ini sudah secara luas digunakan dan dapat
diulang beberapa kali sampai kontrol lokal terapi. Kryoterapi biasanya
ditujukan unntuk tumorbagian depan dan dilakukan dengan petanda
kecil yang diletakkan di konjungtiva. Sementara fotokoagulasi secara
umum digunakan untuk tumor bagian belakang baik menggunakan laser
argon atau xenon. Fotokoagulasi tidak boleh diberikan pada tumor
dekat makula atau diskus optikus, karena bisa meninggalkan jaringan
parut yang nantinya akan menyebabkan ambliopi. Kedua cara ini tidak
akan atau sedikit menyebabkan komplikasi jangka panjang.
5. Modalitas yang lebih baru
Pada beberapa tahun terakhir,banyak kelompok yang menggunakan
kemoterapi sebagai terapi awal untuk kasus interaokular, dengan tujuan
untuk mengurabgi ukuran tumor dan membuat tumor bisa diterapi
secara lokal. Kemoterapi sudah dibuktikan tidak berguna untuk kasus
intraocular, tetapi dengan menggunakan obat yang lebih baru dan lebih
bisa penetrasi ke mata, obat ini muncul lagi. Pendekatan ini digunakan
pada kasus-kasus yang tidak dilakukan EBICT atau enukleasi,
khususnya kasus yang telah lanjut. Carboplatin baaik sendiri atau
dikombinasi dengan vincristine dan VP16 atau VM26 setelah

14
digunakan. Sekarang kemoreduksi dilakukan sebagai terspi awal kasus
retinoblastoma bilateral dan mengancam fungsi mata.
6. Kemoterapi
Protocol adjuvant kemoterapi masih kontrovensial. Belum ada
penelitian yang luas, prospektif dan random. Sebagian besar penelitian
didasarkan pada sejumlah kecil pasien dengan perbedaan resiko relaps.
Selain itu juga karena kurang diterimanya secra luas sistem stadium
yang dibandingkan dengan berbagai macam variasi. Sebagian besar
penelitian didasarkan pada gambaran factor risiko secara histopatologi.
Penentuan stadium secara histopatologi setelah enukleasi sangat
penting untuk menentukan risiko relaps. Banyak peneliti memberikan
kemoterapi adjuvant untuk pasien-pasien retinoblastoma intraokular dan
memiliki faktor risiko potensial seperti nervus optikus yang pendek (< 5
mm), tumor undifferentiated, atau invasi ke nervus optikus prelaminar.
Kemoterapi ingtratekal dan radiasi intracranial untuk mencegah
penyebaran ke otak tidak dianjurkan.
7. Obat yang digunakan
Apabila penyakitnya sudah menyebar ke ekstraokuler, kemoterapi awal
dianjurkan. Obat yang digunakan adalah carboplatin, cis;platin,
etoposid, teniposid, sikofosfamid, ifosfamid, vinkristin, adriamisin, dan
akhir-akhir ini adalah dikombinasi dengan idarubisin. Meskipun laporan
terakhir menemukan bahwa invasi keluar orbita dan limfonodi
preauricular dihubungkan dengan keluaran yang buruk, sebagian besar
pasien ini akan mencapai harapan hidup yang panjang dengan
pendekatan kombinasi kemoterapi, pembedahan, dan radiasi. Meskipun
remisi bisa dicapai oleh pasien dengan metastasis, biasanya mempunyai
kehidupan pendek. Hal ini biasanya dikaitkan dengan ekspresi yang
belebihan p 170 glikoprotein pada retinoblastoma, yang dihubungkan
dengan multidrug resistance terhadap kemoterapi.
6. Komplikasi
Komplikasi retinoblastoma antara lain rubeosis iridis dengan
glaukoma, dislokasi lensa ke anterior, uveitis, endooftalmitis, dan

15
pseudoinflamasi. Gejala-gejala inflamasi ini dapat terjadi akibat
pertumbuhan retinoblastoma yang bersifat endofitik, dan sel-sel tumor
lepas ke korpus vitreous dan bilik mata depan serta menyebabkan
inflamasi.
7. Prognosis
Angka kesembuhan keseluruhan lebih dari 90%, meskipun
ketahanan hidup sampai dekade ketiga dan keempat mungkin agak
menurun akibat insidensi keganasan sekunder yang tinggi. Kesembuhan
jarang terjadi pada penderita dengan penyakit orbita yang masif atau
keterlibatan saraf mata yang luas pada waktu diagnosis, yang mungkin
mempunyai perluasan intrakranial dan metastasis jauh. Jika pemeriksaan
mikroskopi menunjukkan tumor di jaringan saraf mata periglobal, ada
kemungkinan kecil ketahanan hidup jangka panjang denga iradiasi dan
kemoterapi.
Hal ini tergantung pada luas penyakit saat diagnosis. Secara
keseluruhan mortalitas kondisi ini adalah 15%. Sayangnya sekitar 50%
pasien dengan mutasi germinal akan mengalami tumor primer sekunder
(misal suatu osteosarkoma femur) atau tumor yang terkait dengan
pengobatan radioterapi.
2.3 Ablasio Retina
1. Pengertian
Ablasia retina adalah suatu penyakit dimana lapisan sensorik dari
retina lepas. Lepasnya bagian sensorik retina ini biasanya hampir selalu
didahului oleh terbentuknya robekan atau lubang didalam retina. Ablasio
retina terjadi bila ada pemisahan retina neurosensori dari lapisan epitel
berpigmen retina dibawahnya karena retina neurosensori, bagian retina
yang mengandung batang dan kerucut, terkelupas dari epitel berpigmen
pemberi nutrisi, maka sel fotosensitif ini tak mampu melakukan aktivitas
fungsi visualnya dan berakibat hilangnya penglihatan (C. Smelzer,
Suzanne, 2002). Ablatio Retina juga diartikan sebagai terpisahnya khoroid
di daerah posterior mata yang disebabkan oleh lubang pada retina,

16
sehingga mengakibatkan kebocoran cairan, sehingga antara koroid dan
retina kekurangan cairan (Barbara L. Christensen 1991).

Gambar 7. Ablasio Retina pada Mata

Ada 2 jenis ablasio retina yaitu:


1) Nonregmatogen (tanpa robekan retina)
Terjadi karena adanya eksudasi di bawah lapisan retina, misalnya:
a. Inflamasi ocular: vought-Koyanagi-Harada-disease
b. Penyakit vascular ocular: coast disease
c. Penyakit vascular sistemik: hipertensi maligna
d. Tumor intra ocular: melanoma koroid hemangioma
2) Regmatogen (dengan robekan retina atau “break:tear &hole”) adanya
tear atau hole menyebabkan masuknya cairan ke ruang subretina
sehingga retina terdorong lepas dari epitel pigmen.
2. Etiologi
Penyakit ablasio retina disebabkan oleh penyakit lain seperti
tumor,peradangan hebat,akibat trauma atau sebagai komplikasi dari
diabetes. Ablasio retina dapat terjadi secara spontan atau sekunder setelah
trauma, akibat adanya robekan pada retina, cairan masuk kebelakang dan
mendorong retina (rhematogen) atau terjadi penimbunan eksudat dibawah
retina sehingga retina terangkat (non rhegmatogen), atau tarikan jaringan
parut pada badan kaca (traksi). Penimbunan eksudat terjadi akibat penyakit
koroid, misalnya skleritis, koroiditis, tumor retrobulbar, uveitis dan
toksemia gravidarum. Jaringan parut pada badan kaca dapat disebabkan
DM, proliferatif, trauma, infeksi atau pasca bedah.
Sedangkan menurut (C. Smelzer, Suzanne, 2002) penyebab ablasio
retina adalah :

17
a. Malformasi konginetal
b. Kelainan metabolisme
c. Penyakit vaskuler
d. Inflamasi intraokuler
e. Neoplasma
f. Trauma
g. Perubahan degeneratif dalam vitreous atau retina
3. Patofisiologi
RD (retinal detachment) regmatogenosa terjadi akibat robekan atau
lubang pada lapisan neuronal. Keadaan tersebut biasanya terjadi pada
pasien usia >50 tahun dan lebih sering terjadi pada laki-laki dari pada
perempuan. Hal tersebut di hubungkan dengan myopia degenerative,
degenerasi lattice, riwayat pembedahan katark, dan trauma. RD eksodatif
disebabkan oleh kondisi di retina dan koroid yang merusak sawar darah
retina. Keadaan yang menyebabkan RD jenis ini meliputi okulusi vena
retinal sentral (CRVO, central retinal vein occlusion), edema pupil,
hipertensi,toksemia gravidarum,glomerulonefiritis,vaskulitis dan tumor
koroid. Rd traksi merupakan akibat dari pembentkan pita fibrosa pada
vitreus,kontraksi pita menarik retina menjauh dari epitel retina
berpigemen. Keadaaan-keadaan yang menyebabkan jenis RD tersebut
meliputi retinopati diabetic proliferatif, retinopati prematuritas,
toksokariasi, retinopati sel sabit,trauma,dan riwayat robekan retina besar.
Bila sudah ada robekan-robekan retina, cairan encer seperti air dapat
masuk dari korpus vitreum ke lubang di retina dan dapat mengalir di
antara retina dan dinding mata bagian belakang. Cairan ini akan
memisahkan retina dari dinding mata bagian belakang dan mengakibatkan
retina lepas. Bagian retina yang terlepas tidak akan berfungsi dengan baik
dan di daerah itu timbul penglihatan kabur atau daerah buta.
4. Manifestasi Klinik
a. Gejala dini: floaters dan fotopsia (kilatan halilintar kecil pada lapang
pandang)
b. Gangguan lapang pandang
c. Pandangan seperti tertutup tirai
d. Visus menurun tanpa disertai rasa sakit

18
e. Pada pemeriksaan fundud okuli,tampak retina yang trlepas berwarna
pucat dengan pembuluh darah retina yang berkelok-kelok disertai atau
tanpa robekan retina
5. Pemeriksaan Penunjang
Bila ada keluhan seperti di atas, pasien harus segera memeriksakan
diri ke dokter spesialis mata. Dokter akan memeriksa dengan teliti retina
dan bagian dalam dengan alat yang disebut oftalmoskop. Dengan cahaya
yang terang dan pembesaran dari alat tersebut, dokter dapat menentukan
lokasi daerah retina robek atau daerah yang lemah yang perlu diperbaiki
dalam pengobatan. Alat-alat diagnostik khuhsus lainnya yang mungkin
perlu digunakan adalah lensa-lensa khusus, mikroskop, dan pemeriksaan
ultrasonografi (USG). Terapi bila retina robek tetapi belum lepas, maka
lepasnya retina itu dapat dicegah dengan tindakan segera.

6. Penatalaksanaan
a. Penderita tirah baring total
b. Mata yang sakit ditutup dengan bebat mata
c. Pada penderita dengan ablasio retina nonregmatogen,bila penyakit
primernya sudah diobati, tetapi masih terdapat ablasio retina, dapat
dilakukan operasi cerclage
d. Pada ablasio retina rematogen
1) Fotokoagulasi retina;bila terdapat robekan retina dan belum terjadi
separasi retina
2) Plombage local: dengan spons silicon dijahitkan pada episklera di
derah robekan retina (dikontrol dengan oftalmoskop indirek
binuclear)
3) Membuat radang steril pada koroid dan epitel pigmen pada daerah
robekan retina dengan jalan:
 Diatermi
 Pendinginan
 Operasi cerclage
 Operasi ini dikerjakan untuk mengurangi tarikan badan kaca
pada keadaan cairan subretina dapat dilakukan fungsi lewat
sclera.

19
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN
RETINO BLASTOMA DAN ABLASIO RETINA

3.1 Asuhan Keperawatan Retino blastoma


3.1.1 Pengkajian
1) Anamnesa
Pengumpulan data ketika pengkajian digunakan sebagai dasar
untuk membuat rencana asuahan keperawatan klien. Pengkajian harus
dilakukan secara pribadi karena setiap orang memiliki keutuhan yang
berbeda. Dalam menelaah status pernapasan klien, perawat melakukan
wawancara dan pemeriksaan fisik untuk memaksimalkan data yang
dikumpulkan tanpa harus menambah distres pernapasan klien. Setelah
pengkajian berupa wawancara, perawat harus bisa menentukan
pemeriksaan fisik yang dibutuhkan untuk mengetahui keadaan klien
lebih lanjut.
Data-data yang dibutuhkan meliputi:
1. Identitas klien
Yang meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pekerjaan, dll.
2. Keluhan Utama
Keluhan utama yang biasa dirasakan pasien adalah penurunan fungsi
penglihatan
3. Riwayat Penyakit Sekarang

20
Pada mata pasien terdapat retino blastoma, terdapat bintik putih pada
mata tepatnya pada retina, terjadi penonjolan,dan terdapat stabismus.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Pernah mendapatkan diagnose medis retinoblastoma
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Pada penderita retinoblastoma biasanya keluarga pernah mengalami
riwayat yang sama.

2) Pengkajian B1-B6
3) Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan tajam penglihatan
Pada retinoblastoma, tumor dapat menyebar luas di dalam bola
mata sehingga dapat merusak semua organ di mata yang
menyebabkan tajam penglihatan sangat menurun.
b. Pemeriksaan gerakan bola mata
Matanya menonjol akan menekan saraf dan bahkan dapat
merusak saraf tersebut dan apabila mengenai saraf III, IV, dan VI
maka akan menyebabkan mata juling.
c. Pemeriksaan segmen Anterior
Pemeriksaan segmen anterior mata (inspeksi struktur eksternal)
meliputi :
1. Pemeriksaan Palpebrae: adanya bengkak.
2. Konjungtiva dan sclera: tidak adanya hyperemi.
3. Kornea: keruh
4. Pupil : anisokor, leukokoria (reflex pupil yang berwarna
putih)
5. Iris : uveitis (inflamasi traktus uvea)
6. Lensa : keruh
7. Bilik mata depan : hipopion (adanya nanah), Hifema (adanya
darah).
d. Pemeriksaan segmen posterior
Menggunakan opthalmoskop
Reflex fundus : refleksi tidak ada atau gelap akibat pendarahan
yang banyak pada badan kaca.
e. Pemeriksaan tekanan bola mata
Pertumbuhan tumor ke dalam bola mata menyebabkan tekanan
bola mata meningkat.

21
3.1.2 Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan TIO
2. Ansietas berhubungan dengan stress hospitalisasi, ketakutan pada
lingkungan asing yang baru
3. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan penurunan fungsi
penglihatan
4. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan keluarga, kurang efektifnya perawatan di rumah.
5. Risiko pertumbuhan dan perkembangan terganggu berhubungan
dengan kurangnya interaksi sosial pada anak
3.1.3 Intervensi
1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan TIO
 Definisi:
Pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat
adanya kerusakan jaringan yang actual atau potensial atau
digambarkan dengan istilah seperti (international association for the
study of pain), awitan yang tiba-tiba atau perlahan dengan intensitas
ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat
diramalkan dan durasinya kurang dari 6 bulan.
Batasan Karakteristik:
 Subjective:
Mengungkapkan secara verbal atau melaporkan nyeri dengan
isyarat
 Objective:
Posisi untuk menghindari nyeri
Perubahan tonus otot (dengan rentang dari lemas, tidak bertenaga
sampai kaku)
Respon autonomic (misalnya diaphoresis, perubahan tekanan darah,
pernafasan atau nadi)
Perubahan selera makan
Perilaku distraksi
Perilaku ekspresif (misalnya gelisah, merintih, menangis)
Wajah topeng (nyeri)
Perilaku menjaga atau sikap melindungi
Focus menyempit (misalnya gangguan persepsi waktu, gangguan
proses berpikir, interaksi dengan orang lain atau lingkungan
menurun)
 Tujuan : dalam waktu 1 x 24 jam nyeri pada mata pasien
berkurang atau hilang.

22
 Kriteria Hasil:
a. Memperlihatkan pengendalian nyeri, yang dibuktikan oleh
indicator skala 1-5 pasien akan menunjukkan nyerinya pada
skala yang rendah.
b. Ekspresi wajah tidak menunjukkan adanya nyeri yang
dirasakan
c. Gelisah atau ketegangan otot berkurang

Intervensi Rasional
Collaboratif: Analgesik adalah golongan obat yang

Berikan analgesik untuk mengurangi bisa digunakan untuk mengurangi

atau menghilangkan nyeri dan menghilangkan nyeri

Gunakan bagan alir nyeri untuk Bagan alir nyeri adalah salah satu

memantau peredaan nyeri oleh metode yang bisa digunakan untuk

analgesik dan kemungkinan efek memantau nyeri pasien, karena

sampingnya. pasien bisa mengekspresikan nyeri


yang dirasakannya lewat bagan alir.
Instruksikan pasien untuk Apabila nyeri yang dialami oleh

menginformasikan kepada perawat pasien tidak dapa dicapai dapat

jika peredaan nyeri tidak dapat dicapai diberikan intervensi lain untuk
mencapai peredaan nyeri
informasikan kepada pasien tentang Menginformasikan prosedur kepada

prosedur yang dapat meningkatkan pasien dapat membuat pasien

nyeri dan tawarkan strategi koping mengerti prosedur yang sedang

yang disarankan dijalani, sehingga dapat mendukung


peran perawat dalam peredaan nyeri
Mengungkapkan perasaan dan
kekhawatiran meningkatkan
Ciptakan suasana lingkungan yang
kewaspadaan diri klien dan
kondusif dan saling percaya
membantu klien dalam
mengidentifikasi masalah

Ajarkan penggunaan tekhnik non Intervensi non farmakologis


farmakalogi, misalnya umpan balik meningkatkan perasaan control klien,
biologis, hypnosis, relaksasi, terapi memungkinkan keterlibatan aktif,

23
music, distraksi, terapi bermain, terapi menurangi stress dan ansietas,
aktivitas, kompres hangat atau dingin, meningkatkan mood, serta
dan massase. meningkatkan ambang nyeri

Bantu pasien untuk lebih berfokus


pada aktivitas, bukan pada nyeri dan Mengalihkan focus pasien dapat
rasa tidak nyaman dengan melakukan membuat pasien menjadi lupa
pengalihan melalui televise, radio tape dengan nyeri yang dialaminya
dan interaksi dengan pengunjung.

Laporkan kepada dokter jika tindakan


tidak berhasil atau jika keluhan saat ini Diperlukan tindakan lain yang lebih
merupakan perubahan yang bermakna baik jika tindakan yang pertama
dari pengalaman nyeri pasien di masa belum bisa meredakan nyeri
lalu.

Kolaborasi dengan keluarga klien Klien merasa lebih nyaman dan


dalam proses penyembuhan klien mempercepat proses penyembuhan

2. Ansietas berhubungan dengan stress hospitalisasi, ketakutan pada


lingkungan asing yang baru
 Definisi:
Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai
respon autonom (sumber sering kali tidak spesifik atau tidak
diketahui oleh individu), perasaan takut yang disebabkan oleh
antisipasi terhadap bahaya. Perasaan ini merupakan isyarat
kewaspadaan yang memperingatkan bahaya yang akan terjadi dan
memampukan individu melakukan tindakan untuk menghadapi
ancaman.
 Faktor yang berhubungan:
Terpajan toksin
Hubungan keluarga/hereditas
Transmisi dan penularan interpersonal
Krisis situasi dan maturasi
Stress
Penyalahgunaan zat
Ancaman kematian
Ancaman terhadap konsep diri

24
Kebutuhan yang tidak terpenuhi
Konflik yang tidak disadari tentang nilai dan tujuan hidup yang
esensial.
 Tujuan: dalam waktu 1x24 jam ansietas berkurang, dibuktikan
oleh bukti tingkat ansietas hanya ringan-sedang, dan selalu
menunjukkan pengendalian diri terhadap ansietas, konsentrasi,
dan koping.
 Kriteria Hasil:
a) Menunjukkan pengendalian diri terhadap ansietas yang
dibuktikan oleh indicator skala 1-5, dan pasien akan
mengekspresikan ansietas dengan skala rendah.
b) Pasien bersedia untuk mengomunikasikan kebutuhan dan
perasaan negative secara tepat
c) Menunjukkan ekspresi wajah tenang dan ceria.

Intervensi Rasional
Meminimalkan kekhawatiran, ketakutan, Sumber-sumber penyebab ansietas harus
prasangka, atau perasaan tidak tenang yang diketahui dengan jelas agar perawat bisa
berhubungan dengan sumber bahaya yang meminimalkan ansietas yang dialami
diantisipasi dan tidak jelas. pasien
Membantu pasien untuk beradaptasi dengan
Proses adaptasi yang berhasil dapat
persepsi stressor, perubahan atau ancaman
membuat klien menjadi nyaman dengan
yang menghambat pemenuhan tuntutan dan
perubahan yang terjadi
peran hidup

Memberikan penenangan, bantuan atau


dukungan emosi pada klien dapat
mendorongnya untuk mengungkapkan
Memberikan penenangan, penerimaan dan perasaan sehingga dapat membantu klien
bantuan atau dukungan selama masa stress mengklarifikasi dan memverbalisasikam
ketakutannya sehingga perawat mudah
untuk memberikan umpan balik yang
realistis
Singkirkan sumber-sumber ansietas jika Salah satu hal yang dilakukan untuk
memungkinkan meredakan ansietas adalah dengan
menghilangnkan atau mengurangi sumber

25
yang menyebabkan terjadinya ansietas
Kurangi rangsangan yang berlebihan dengan
menyediakan lingkungan yang tenang, Mengurangi rangsangan yang berlebihan

kontak yang terbatas, dengan orang lain jika dalam penyebab ansietas dapat membantu

dibutuhkan, serta pembatasan penggunaan menghilangkan ansietas yang dialami

kafein dan stimulant lainnya. klien

Berikan obat untuk menurunkan ansietas, Obat-obatan diperlukan apabila terapi non

jika perlu farmakologis tidak mampu


menghilangkan ansietas
Coba tekhnik seperti imajinasi terbimbing Tekhnik relaksasi yang dilakukan dapat

dan relaksasi progresif meningkatkan perasaan control klien


terhadap tubuhnya pada keadaan stress
Memberikan dukungan emosi pada klien

Beri dorongan kepada pasien untuk dapat mendorongnya untuk

mengungkapkan secara verbal, pikiran dan mengungkapkan perasaan sehingga dapat

perasaan untuk mengeksternalisasikan membantu klien mengklarifikasi dan

ansietas. memverbalisasikam ketakutannya


sehingga perawat mudah untuk
memberikan umpan balik yang realistis
Berikan informasi mengenai sumber Berbagai ketakutan atau ansietas terjadi

komunitas yang tersedia, seperti teman, akibat ketidakakuratan informasi dan

tetangga, kelompok sebaya, tempat ibadah dapat diatasi dengan memberikan

dan pusat rekreasi informasi yang akurat agar ansietas dapat


diatasi

3. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan penurunan tingkat


penglihatan
 Definisi:
Resiko mengalami cidera sebagai akibat dari kondisi lingkungan
yang berinteraksi dengan sumber-sumber adaptif dan pertahanan
individu.
 Batasan Karakteristik:
1) Internal
Profil darah yang abnormal (misalnya leukositosis atau
leukopenia)
Gangguan faktor pembekuan

26
Disfungsi biokimiawi, misalnya disfungsi sensori
Penurunan kadar Hb
Usia Perkembangan (fisiologis, psikososial)
Disfungsi efektor
Penyakit imun (autoimun)
Disfungsi integrative
Malnutrisi
Fisik (missal kulit rusak)
Psikologis
Sel sabit
Talasemia
Trombositopenia
Hipoksia jaringan
2) Eksternal
Biologis: Tingkat imunisasi komunitas, mikroorganisme
Kimia: obat, zat gizi, racun, polutan
Fisik: rancangan, struktur, dan penataan komunitas, bangunan
atau peralatan.
Jenis kendaraan atau transportasi
Individu atau penyedia layanan kesehatan (agen nosocomial,
pola kognitif, afektif dan psikomotor)
 Tujuan : Resiko cedera berkurang
 Kriteria Hasil:
a. Klien menunjukkan peningkatan ketajaman matanya
b. Hilangnya bercak putih di mata tengah kiri klien
c. Tekanan bola mata normal

Intervensi Rasional
Orientasikan klien terhadap lingkungan, Orientasi akan mempercepat

staf, dan orang lain yang ada di areanya penyesuaian diri klien di lingkungan
baru
Berikan informasi mengenai bahaya
lingkungan dan karakteristiknya, misalnya Menginformasikan bahaya kepada

tangga, jendela, kunci lemari pasien dapat meningkatkan kewaspaan

Tempatkan bel atau lampu panggil pada


tempat yang mudah dijangkau pasien yang Alat bantu panggil dapat menjadi media

tergantung pada setiap waktu untuk berkomunikasi non verbal

Anjurkan keluarga memberikan mainan


Dukungan keluarga penting dalam
yang aman (tidak pecah), dan pertahankan
proses penyembuhan klien
pagar tempat tidur

27
Arahkan semua alat mainan yang
dibutuhkan klien pada tempat sentral Mempermudah pengambilan mainan
pandangan klien dan mudah untuk dapat mengurangi resiko cedera
dijangkau.

Kolaborasi dengan tenaga medis lain untuk


melakukan terapi (kemoterapi) Memperbaiki kondisi klien

4. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan kurangnya


pengetahuan keluarga, kurang efektifnya perawatan di rumah.
 Definisi:
Keadaan dimana seorang individu berisiko terserang oleh agen
patogenik dan oportunistik (virus, jamur, bakteri, protozoa, atau
parasit lain) dari sumber-sumber eksternal, sumber-sumber eksogen
dan endogen.
 Faktor yang berhubungan:
Prosedur Invasif
Ketidakcukupan pengetahuan untuk menghindari paparan patogen.
Trauma
Kerusakan jaringan dan peningkatan paparan lingkungan
Ruptur membran amnion
Agen farmasi (imunosupresan)
Malnutrisi
Peningkatan paparan lingkungan patogen
Imunosupresi
Ketidakadekuatan imun buatan
Tidak adekuat pertahanan sekunder (penurunan Hb, Leukopenia,
penekanan respon inflamasi)
Tidak adekuat pertahanan tubuh primer (kulit tidak utuh, trauma
jaringan, penurunan kerja silia, cairan tubuh statis, perubahan
sekresi pH, perubahan peristaltik).
Penyakit kronik
 Tujuan:

28
klien dapat mengidentifikasi tindakan untuk mencegah/menurunkan
resiko infeksi.
 Kriteria hasil :
1. Bebas dari proses infeksi nosokomial selama perawatan di
rumah sakit
2. Memperlihatkan kemampuan tentang faktor-faktor risiko yang
berkaitan dengan infeksi dan melakukan tindakan pencegahan yang
tepat untuk mencegah infeksi
Intervensi Rasional
Bersikan lingkungan secara tepat
Lingkungan yang bersih akan
setelah digunakan oleh pasien
mencegah terjadinya risiko infeksi.

Penggunaan peralatan secara


Ganti peralatan pasien setiap selesai
individu akan mencegah
tindakan
penyebaran infeksi.
Untuk melindungi diri dari
Lakukan universal precautions
berbagai agens infeksi.
Lakukan perawatan aseptic pada Perawatan secara aseptic akan
semua jalur IV mencegah terjadinya risiko infeksi.
Gizi seseorang dapat terpenuhi
Kolaborasi dengan ahli gizi tentang
dengan baik jika pemberian gizi
jumlah kalori dan tipe nutrisi yang
dapat memenuhi kriteria kebutuhan
dibutuhkan
gizi dari pasien
Diet tinggi protein dan tinggi kalori
dapat membantu penyembuhan
Berikan pasien diit tinggi protein,
infeksi karena protein dan kalori
tinggi kalori
yang cukup dapat memperbaiki sel-
sel yang mengalami infeksi
Kolaborasi dengan pasien dan
Ajarkan pasien dan anggota keluarga keluarga dapat memudahkan
bagaimana mencegah infeksi perawat untuk memberikan
perawatan yang terbaik untuk
pasien

5. Risiko keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan


dengan kurang pengetahuan orang tua

29
 Definisi :
Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan : kondisi ketika
individu mengalami atau beresiko mengalami hambatan
kemampuan dalam melaksanakan berbagai tugas menurut kelompok
usianya atau gangguan pertumbuhan
 Faktor yang berhubungan:
Berhubungan dengan hambatan kemampuan fisik dan
ketergantungan sekunder akibat gangguan sirkulasi, defek
jantung kongenital, dan gagal jantung kongestif
Gangguan neurologis: kerusakan serebral, defek kongenital,
serebral palsi, mikroensefalus
Gangguan pencernaan: sindrom malabsorbsi, refluks
gastroesofagus, fibrosis kistik
Gangguan endokrin: gangguan hormone
Gangguan musculoskeletal: anomaly kongenital pada
ekstremitas, penyakit akut, nyeri yang berlangsung lama,
penyakit akut berulang, penyakit kronik, asupan kalori, nutrisi
tidak adekuat, distrofi otot.
 Tujuan: Pasien akan menunjukkan peningkatan perilaku yang
sesuai dengan usia dengan indicator sosialisasi, bahasa,
keterampilan motoric, perawatan diri, keterampilan kognitif.
 Kriteria Hasil:
a. Orang tua klien berperan aktif dalam perawatan klien
b. Klien tumbuh dan berkembang secara normal

Intervensi Rasional
Berikan kesempatan anak mengambil
keputusan dan melibatkan orang tua dalam
perencanaan kegiatan:
Orang tua berperan penting dalam tumbuh
1. Melibatkan orang tua berperan aktif kembang anak
dalam perawatan anak

2. Buat jadwal untuk prosedur terapi dan


latihan.
Upaya meningkatkan pola pikir klien Cara paling mudah dan efektif unuk anak-
dengan melakukan pendekatan melalui anak

30
metode permainan.

Berikan kesempatan pada anak yang sakit Kesempatan untuk tumbuh dan

untuk memenuhi tugas perkembangan berkembang harus diperhatikan agar

terkait usia pertumbuhan dan perkembangan seorang


anak tidak mengalami gangguan

3.2 Asuhan keperawatan Ablasio Retina


3.2.1 Pengkajian
Anamnesa
Data-data yang dikumpulkan atau dikaji meliputi :
1) Identitas Pasien
Identifikasi meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama atau
kepercayaan, suku bangsa, bahasa, status pendidikan dan pekerjaan
pasien.
2) Keluhan Utama
Perunan ketajaman penglihatan, timbul nyeri pada bagian belakang
mata (koroiditis retinitis), kilatan halilintar kecil pada lapang
pandang, pandangan seperti tertutup tirai, visus menurun tanpa
disertai rasa sakit.
3) Riwayat penyakit sekarang
Pada pemeriksaan fundus okuli, tampak retina yang terlepas
berwarna pucat dengan pembuluh darah retina yang berkelok-kelok
disertai atau tanpa robekan retina.

4) Riwayat Penyakit Dahulu


a) Riwayat penyakit trauma mata, riwayat inflamasi (koroiditis),
riwayat miopi, retinitis.
b) Psikososial: kemampuan aktivitas, gangguan membuat risiko
jatuh, berkendaraan.
Pemeriksaan Fisik
1. Pengkajian khusus mata
a) Fotopsia (seperti melihat halilintar kecil), terutama pada tempat
gelap, merupakan keluhan dini ablasio retina
b) Bayangan titik-titik pada penglihatan hungga terjadi kehilangan
penglihatan.
c) Kehilangan lapang pandang, gambaran kehilangan penglihatan
menunjukkan kerusakan pada area yang berlawanan. Jika

31
kehilangan pada area inferior, kerusakan (ablasi) terjadi pada area
superior.
d) Sensasi mata tertutup (jikaa robekan luas).
e) Pemeriksaan fundus okuli dengan oftalmoskop didapatkan
gambaran tampak retina yang etrlepas berwarna pucat denga
pembuluh darah retina yang berkelok-kelok disertai atau tanap
robekan retina.
2. Pengkajian B1-B6
3. Pemeriksaan segmen Anterior
Pemeriksaan segmen anterior mata (inspeksi struktur eksternal)
meliputi : Pemeriksaan Palpebrae, Konjungtiva dan sclera, Kornea,
Pupil, Iris, Lensa, Bilik mata depan, dan Retina. Umumnya pada
ablasio retina terdapat pergerakan undulasi retina ketika mata
bergerak.
4. Pemeriksaan Oftalmologi
a. Pemeriksaan visus, dapat terjadi penurunan tajam penglihatan
akibat terlibatnya makula lutea ataupun terjadi kekeruhan media
penglihatan atau badan kaca yang menghambat sinar masuk.
Tajam penglihatan akan sangat menurun bila makula lutea ikut
terangkat.
b. Pemeriksaan lapangan pandang, akan terjadi lapangan pandang
seperti tertutup tabir dan dapat terlihat skotoma relatif sesuai
dengan kedudukan ablasio retina, pada lapangan pandang akan
terlihat pijaran api seperti halilintar kecil dan fotopsia.
c. Pemeriksaan funduskopi, yaitu salah satu cara terbaik untuk
mendiagnosis ablasio retina dengan menggunakan binokuler
indirek oftalmoskopi. Pada pemeriksaan ini ablasio retina
dikenali dengan hilangnya refleks fundus dan pengangkatan
retina. Retina tampak keabu-abuan yang menutupi gambaran
vaskuler koroid. Jika terdapat akumulasi cairan bermakna pada
ruang subretina, didapatkan pergerakkan undulasi retina ketika
mata bergerak. Suatu robekan pada retina terlihat agak merah
muda karena terdapat pembuluh koroid dibawahnya. Mungkin
didapatkan debris terkait pada vitreus yang terdiri dari darah dan
pigmen atau ruang retina dapat ditemukan mengambang bebas.
5. Pemeriksaan Penunjang

32
a. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mengetahui adanya
penyakit penyerta antara lain glaukoma, diabetes mellitus,
maupun kelainan darah.
b. Pemeriksaan ultrasonografi, yaitu ocular B-Scan ultrasonografi
juga digunakan untuk mendiagnosis ablasio retina dan keadaan
patologis lain yang menyertainya seperti proliverative
vitreoretinopati, benda asing intraokuler. Selain itu ultrasonografi
juga digunakan untuk mengetahui kelainan yang menyebabkan
ablasio retina eksudatif misalnya tumor dan posterior skleritis.
c. Pemeriksaan angiografi fluoresin akan terlihat:
1) Kebocoran didaerah parapapilar dan daerah yang berdekatan
dengan
2) Tempatnya ruptur, juga dapat terlihat
3) Gangguan permeabiltas koriokapiler akibat rangsangan
langsung badan kaca pada koroid.
4) Dapat dibedakan antara ablasi primer dan sekunder
5) Adanya tumor atau peradangan yang menyebabkan ablasi

3.2.2 Diagnosa Keperawatan


Pre Operasi:
1. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang
kejadian operasi
Post Operasi
1. Nyeri berhubungan denagn luka pascaoperasi.
2. Risiko cedera berhubungan dengan peningkatan TIO, perdarahan,
kehilangan viterus, pelepasan bucking, kegagalan pelekatan retina.
3. Gangguan konsep diri berhubungan dengan kepercayaan diri
menurun karena kehilangan salah satu anggota tubuh
4. Gangguan perawatan diri berhubungan dengan penurunan
penglihatan, pembatasan aktivitas pascaoperasi.

3.2.3 Intervensi Keperawatan


1. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kejadian
operasi
 Definisi :
Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai
respon autonom (sumber sering kali tidak spesifik atau tidak
diketahui oleh individu), perasaan takut yang disebabkan oleh
antisipasi terhadap bahaya. Perasaan ini merupakan isyarat

33
kewaspadaan yang memperingatkan bahaya yang akan terjadi dan
memampukan individu melakukan tindakan untuk menghadapi
ancaman.
 Data Subjektif:
Menyatakan takut/khawatir dengan penyakitnya
 Data Objektif:
Murung, menyendiri, ekspresi wajah tegang
 Tujuan:
Tidak terjadi kecemasan
 Kriteria hasil
a) Klien mengungkapakan kecemasan minimal atau hilang
b) Klien berpartisipasi dalam persiapan operasi

Intervensi Rasional
Jelaskan gambaran kejiadian pre Meningkatkan pemahaman
dan pascaoperasi, manfaat operasi, langsung tentang gambaran
dan sikap yang harus dilakukan operasi untuk menurunkan
klien selama masa operasi ansietas
Jawab pertanyaan khusus tentang
Meningkatkan kepercayaan dan
pembedahan. Berikan waktu untuk
kerja sama. Berbagai perasaan
mengekpresikan perasaan.
membnatu menurunkan
Informasikan bahwa perbaikan
ketegangan. Informasi tentang
penglihatan tidak terjadi secar
perbaikan penglihatan bertahap
langsung, tetapi berharap sesuai
diperlukan untuk antisipasi
penurunan bengkak pada kornea
depresi atau kekecewaan setalah
mata dan perbaikan penglihatan
fase operasi dan memberikan
memrlukan waktu enam bulan atau
harapan akan hasil operasi.
lebih.
Dukungan dan motivasi dapat
Berikan dukungan dan motivasi
meningkatkan kepercayaan diri
kepada klien selama tindakan pre
pasien dan mengurangi ansietas
operasi
yang terjadi

34
2. Risiko cedera berhubungan dengan peningkatan TIO, perdarahan,
kehilangan viterus, pelepasan bucking, kegagalan pelekatan retina.
 Definisi :
Resiko mengalami cidera sebagai akibat dari kondisi lingkungan
yang berinteraksi dengan sumber-sumber adaptif dan pertahanan
individu.
 Data Subjektif:
Menyatakan nyeri, rasa tidak nyaman pada mata.
 Data Objektif:
Perilaku tubuh tudak terkontrol
 Tujuan:
Tidak terjadi cidera mata pascaoperasi
 Kriteria hasil:
a) klien menyebutkan faktor yang menyebabkan cedera.
b) Klien tidak melakuka aktivitas yang meningkatkan risiko
cedera.
Intervensi Rasional
Diskusikan tentang rasa sakit,
Meningkatkan kerja sama dan
pembatasan aktivitas dan
pembatasan yang diperlukan.
pembalutan mata.
Istirahat ditempat tidur dilakukan
Tempatkan klien pada tempat
selama 3-7 hari pascaoperasi,
tidur yang lebih rendah dan
bergantung pasa kondisi dan jenis
anjurkan untuk membatasi
operasi yang dijalani. Aktivitas di
pergerakan mendadak/tiba-tiba
tempat tidur dapat dimulai lebih dini
serta menggerakkan kepala
dengan tetap memerhatikan posisi
berlebihan
retina.
Bantu aktivitas selama fase Mencegah/menurunkan risiko
intirahat. Ambulasi dilakukan komplikasi cedera. Klien dianjurkan
dengan hati-hati. untuk istirahat ditempat tidur selama
3-7 hari pascaoperasi, apabila
operasi dengan penyuntikan gas
(SF6,C3F8,maupun udara steril).

35
Pada operasi dengan penyuntikan
gas, klien ditempatkan pada posisi
yang memungkinkan lokasi anlasi
berada diatas, sehingga gas akan
menekan daerah ablasi dan tidak
boleh tidur terlentang. Biasanya gas
akan diserap dan diganti dengan
cairan aqueus dalam waktu 3 hari
sampai 2 bulan
Tindakan yang dapat meningkatkan
TIO dan menimbulkan kerusakan
struktur mata pascaoperasi
Ajarkan klien untuk - Mengejan (valsava
menghinadri tindakan yang maneuver).
dapat menyebabka cedera - Menggerakkan kepala
mendadal
- Membungkuk terlalu lama.
- Batuk
Berbagai kondisi seperti luka
Amati kondisi mata: luka meninol, bilik mata depan menonjol,
menonjol, bilik mata depan nyeri mendadk, hyperemia, serta
menonjol, nyeri mendadak, hipopion mungkin menunjukkan
nyeri yang tdak berkurang cedera mata pascaoperasi. Apabila
dengan pengobatan, mula dan pandangan melihat benda
muntah.dilakukan setiap 6 jam mengapung (floater) atau pandangan
pada awal operasi atau terasa gelap mungkin menunjukkan
seperlunya. abalsio retina atau tidak terjadi
perlengketan retina.
3. Nyeri yang berhubungan denagn luka pascaoperasi.
 Definisi :
Pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat
adanya kerusakan jaringan yang actual atau potensial atau
digambarkan dengan istilah seperti (international association for the

36
study of pain), awitan yang tiba-tiba atau perlahan dengan intensitas
ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat
diramalkan dan durasinya kurang dari 6 bulan.
 Data Subjektif:
Menyatakan nyeri.
 Data Objektif:
Mengiris,wajah tegang
 Tujuan:
Nyeri berkurang, hilang dan tak terkontrol
 Kriteria hasil:
a) Klien mendemonstrasikan teknik penurunan nyeri.
b) Melaporkan nyeri berkurang atau hilang
Intervensi Rasional
Normalnya, nyeri terjadi dalam waktu
kurang dari lima hari setelah operasi dan
berangsur menghilang. Nyeri dapat
Kaji derajat nyeri setiap hari
meningkat karna peningkatan TIO 2-3
hari pascaoperasi. Nyeri mendadak
mrnunjukkan peningkatan TIO massif
Anjurkan untuk melaporkan
Meningkatkan kolaborasi, memberikan
perkembangan nyeri setiap hari
rasa aman untuk peningktan dukungan
atau segera saat terjadi
psikologis.
peningkatan nyeri mendadak
Anjurkan pada klien untuk Bebrapa kegiatan klien dapat
tidak melakukan gerakan tiba- meningkatkan nyeri, seperti gerakan tiba-
tiba yang dapat memprovokasi tiba, membungkuk, mengucek mata,
nyeri. batuk dan mengejan.
Ajarkan teknik distraksi dan Menurunkan ketegangan dan mengurangi
relaksasi nyeri
Lakukan tindakan kolaborasi
Mengurangi nyeri dengan meningkatkan
dalam pemberian analgesic
ambang nyeri.
topical/sistemik

37
4. Gangguan konsep diri berhubungan dengan kepercayaan diri
menurun karena kehilangan salah satu anggota tubuh.
 Definisi:
Kondisi ketika individu beresiko atau mengalami status
perubahan yang negative pada cara ini merasakan, memikirkan,
dan memandang dirinya sendiri. Gangguan konsep diri dapat
meliputi perubahan citra tubuh, ideal diri, harga diri, performa
peran atau identitas personal.
 Faktor yang berhubungan:
Patofisiologis:
Berhubungan dengan perubahan penampilan, gaya hidup, respon
orang lain, sekunder akibat: penyakit kronik, kehilangan
anggota tubuh, kehilangan fungsi tubuh, trauma yang berat,
nyeri
Situasional:
Berhubungan dengan perasaan terlantar atau kegagalan,
sekunder akibat: perceraian, kehilangan pekerjaan
Berhubungan dengan imobilisasi dan hilangnya fungsi
Berhubungan dengan hubungan yang tidak memuaskan
Berhubungan dengan pilihan seksual
Berhubungan dengan kehamilan remaja
Berhubungan dengan perbedaan gender
Berhubungan dengan tindak kekerasan orang tua
 Tujuan:
Individu akan mendemonstrasikan keterampilan koping dan
adaptasi yang sehat
 Kriteria Hasil:
a) Menghargai diri sendiri dan situasi yang ada dengan sikap
yang realistis tanpa distorsi
b) Menyatakan dan mendemonstrasikan perasaan positif yang
meningkat

Intervensi Rasional
Lakukan kontak yang sering dengan Kondisi seseorang yang tidak baik
klien serta perlakukan ia dengan membutuhkan perhatian yang banyak
perhatian yang hangat dan positif dari seseorang
Dorong klien untuk mengungkapkan Dengan mengungkapkan perasaan
perasaan dan pikirannya mengenai dapat membantu seseorang merasa
kondisi, kemajian, prognosis, efek, lebih nyaman

38
sistem pendukung dan obat-obatan
Tunjukkan rasa percaya klien terhadap Kepercayaan diri dapat
kemampuan pasien untuk menangani mempengaruhi seseorang menghadapi
situasi situasi
Dorongan atau motivasi dapat
Berikan dorongan kepada pasien untuk
meingkatkan kepercayaan diri pasien
menerima perubahan yang terjadi
dengan keadaan yang dialaminya
Penghargaa atau pujian dapat menjadi
dukungan positif bagis eseorang,
Berikan penghargaan atau pujian kepada
sehingga mampu menjadi respon baik
pasien yang mampu mencapai tujuannya
untuk meningkatkan kepercayaan diri
pasien

5. Gangguan perawatan diri yang berhubungan dengan penurunan


penglihatan, pembatasan aktivitas pascaoperasi.
 Definisi :
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau memenuhi
aktivitas sehari-hari seperti berpakaian, berhias, eliminasi,
hygiene
 Data Subjektif:
Menyatakan penurunan kemampuan penglihatan
 Data Objektif
Klien banyak istirahat di tempat tidur
 Tujuan:
Kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi.
 Kriteria hasil:
a) Klien mendapatlan bantuan parsial dalam pemenuhan
kebutuhan diri
b) Klien memragakan perilaku perawatan diri secara bertahap

Intervensi Rasional
Terangkan pentingnya oerawatan Klien dianjurkan untuk istirahat di
diri dan pembatasan aktivitas tempat tidur pada 2-3 jam pertama

39
pascaoperasi atau 12 jam, jika ada
selama fase pascaoperasi komplikasi. Selama fase ini, bantu
total diperlukan bagi klien.
Bantu klien memenuhi kebutuhan
Memnuhi kebutuhan perawatan diri.
perawatan diri
Pelibatan klien dalam aktivitas
perawatan dirinya dilakukan
bertahap, dengan bepedoman pada
prinsip bahwa aktivitas tidak
Secara bertahap, lipatan klien dalam
memicu peningkatan TIO dan
memenuhi kebutuhan diri
menyebabkan cedera mata. Control
klinis dilakukan dengan
menggunakan indicator nyeri mata
pada saat melakukan aktivitas.

BAB 4
PENUTUP

4.1 Simpulan
Mata memiliki reseptor penglihatan dan sistem pembiasan yang
memfokuskan sinar pada reseptor yang terdapat di retina. Mata merupakan
organ indra rumit yang disusun dari bercak sensitif dan cahaya primitif pada
permukaan intervetebrata. (Syaifuddin, 2011).

40
Retina terdiri atas pars pigmentosa, sebelah luar melekat pada koroid dan
pars nervosa sebelah dalam berhubungan dengan korpus vitreum. Ujung
anterior retina membentuk cincin berombak disebut ora serata (ora serrata
retinae). Bagian anterior retina bersifat nonreseptif dan terdiri dari sel-sel
pigmen dengan lapisan epitel silinder di bawahnya. Di pusat bagian posterior
retina terdapat daerah lonjong kekuningan disebut macula lutea yang
merupakan daerah retina yang terlihat paling jelas. Di dalam retina terdapat
zon apenglihatan paling tajam yaitu macula dan titik penglihatan paling tajam
yaitu fovea.
Retinoblastoma adalah tumor endo-okular pada anak yang mengenai
saraf embrionik retina. Kasus ini jarang terjadi, sehingga sulit untuk dideteksi
secara awal. Rata rata usia klien saat diagnosis adalah 24 bulan pada kasus
unilateral, 13 bulan pada kasus kasus bilateral. Beberapa kasus bilateral
tampak sebagai kasus unilateral, dan tumor pada bagian mata yang lain
terdeteksi pada saat pemeriksaan evaluasi. ini menunjukkan pentingnya untuk
memeriksa klien dengan dengan anestesi pada anak anak dengan
retinoblastoma unilateral, khususnya pada usia dibawah 1 tahun. (Pudjo
Hagung Sutaryo, 2006 ).
Ablasia retina adalah suatu penyakit dimana lapisan sensorik dari retina
lepas. Lepasnya bagian sensorik retina ini biasanya hampir selalu didahului
oleh terbentuknya robekan atau lubang didalam retina. Ablasio retina terjadi
bila ada pemisahan retina neurosensori dari lapisan epitel berpigmen retina
dibawahnya karena retina neurosensori, bagian retina yang mengandung
batang dan kerucut, terkelupas dari epitel berpigmen pemberi nutrisi, maka sel
fotosensitif ini tak mampu melakukan aktivitas fungsi visualnya dan berakibat
hilangnya penglihatan (C. Smelzer, Suzanne, 2002).
Pada beberapa pasien dengan gangguan retinoblastoma dan ablasio
retina akan mengalami gangguan pada penglihatan karena tidak berfungsinya
salah satu organ penglihatannya, oleh karena itu kita sebagai seorang perawat
harus mampu memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
pada retina yang meliputi retino blastoma dan ablasio retina.

41
4.2 Saran
1. Makalah ini adalah makalah yang membahas tentang asuhan keperawatan
pasien dengan retino blastoma dan ablasio retina, sehingga diharapkan
bermanfaat bagi pembaca yang membutuhkan.
2. Makalah ini belum memenuhi kesempurnaan, oleh karena itu dibutuhkan
perbaikan makalah ini agar lebih baik dan lengkap.
3. Setelah membaca makalah ini, pembaca dapat menerapkan asuhan
keperawatan pada pasien dengan retino blastoma dan ablasio retina.

DAFTAR PUSTAKA

Bare, B.G & Smeltzer, S.C. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jarkarta: EGC.
Behrman, Richard E, Robert M. Kliegman, Ann M. Arvin. 2000. Ilmu Kesehatan
Anak Nelson Vol.3. Jakarta : EGC.
Brooker, Christine. 2001. Buku Saku Keperawatan Edisi 31. Jakarta: EGC.
C. Smeltzer, Suzanne (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (Brunner &
Suddart) . Edisi 8. Volume 3. Jakarta: EGC.
Carpenito, L.J. 2000. Diagnosa Keperawatan dan Masalah Kolaboratif. Ed. 8.
Jakarta : EGC.

42
Corwin, Elizabeth. J. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Danielle G dan Jane C. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Jakarta:
EGC.
Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. (3th ed). Jakarta: EGC.
Ganong, William, F. 1998. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 17. Jakarta:
EGC.
Hazil, Maryadi. 2009. Asuhan Keperawatan Ablasio Retina.
Ilyas, Sidarta. 2000. Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : FKUI
Jakarta.
James, Bruce, dkk. 2005. Lectutre Notes on Ophthalmology. Jakarta: Erlangga.
Johnson, Marion, dkk. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). USA
Kluwer, Wolters, Lippincott Williams & Wilkins. 2012. Kapita Selekta Penyakit
dengan Implikasi Keperawatan. Jakarta: EGC.
Mansjoer, A., et. al. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I, Edisi III, Cetakan
IV, Media Aekulapius. Jakarta: FK-UI.
Price dan Wilson. 1991. Patofisiologi Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit. (2nd
ed). Jakarta: EGC.

Scanton, Valerie C. 2006. Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi Edisi Ketiga. Jakarta:
EGC.
Syaifuddin. 2011. Anatomi Tubuh Manusia Untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi
Kedua. Jakarta: Salemba Medika.
Tamsuri, Anas. S.Kep., Ns. ____. Klien Gangguan Mata dan Penglihatan
Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.

WOC RETINOBLASTOMA

Eksogen Endogen

Polusi, bahan kimia, Sinar UV, Radiasi Replikasi, Gerakan dan Perpindahan Sel terganggu

Mutasi Gen RB1 di kromosom 13q14

Gen RB1 inaktif


Protein RB1 tidak diprosuksi

Pertumbuhan Sel tidak terkontrol


Retinoblastoma

Tumor Endofilik Tumor Eksofilik


Tumor tumbuh di dalam vitreus Tumor Tumbuh ke arah luar

Mengisi ruang vitreus Tumor menembus koroid, sclera, jaringan saraf

Mengisi ruang vitreus Metastase menginvasi sistem saraf pusat


43
Penurunan Lapang Pandang

Tindakan Operasi

Peningkatan TIO Pre Operasi Post Operasi


Mata Menjadi menonjol pengangkatan bola mata

Timbul Tahanaan pada mata Pasien Masuk RS Perawatan di rumah Aktivitas anak
Lingkungan masih dibatasi
asing Perawatan keluarga
MK: Nyeri Anak lebih sering
Stress Hospitalisasi Kurangnya
berada di rumah
Ketajaman Penglihatan menurun pengetahuan
Interaksi sosial
MK: Ansietas keluarga
Susah untuk melakukan aktivitas dengan teman
Perawatan sebaya menurun
Butuh pengawasan orangtua kurang efektif Kurang bersosialisai

MK: Resiko Cedera MK: Resiko


MK: Resiko
Penyebaran
pertumbuhan
infeksi
dan
perkembangan

44
WOC ABLASIO RETINA

penyakit lain seperti tumor,peradangan hebat,akibat trauma atau sebagai komplikasi dari diabetes

Adanya robekan di retina

Cairan masuk ke belakang dinding retina

Terjadi penimbunan eksudat di bawah retina Mendorong dan mendesak retina

Retina terangkat

Retina memisah dari dinding retina

Tindakan Operasi

Pre Operasi Post Operasi


Ablasio retina
Kurang pengetahuan tentang prosedur operasi
Luka Kegagalan/ komplikasi operasi
Timbul ketakutan pada prosedur operasi Kehilangan
satu organ MK: Nyeri Timbul Permasalahan baru
penglihatan
Stress Hospitalisasi
MK: Resiko Cedera

Perlu Kepercayaan
MK: Ansietas
Pembatasan diri menurun
aktivitas

MK: Gangguan
Aktivitas Konsep Diri
Perlu bantuan

MK: Defisit
Perawatan Diri

45