Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

PENCEGAHAN CEDERA KEPALA

KELOMPOK 1:
AGRA ABILIO
DESWINTA HUTABARAT
ELVINA DELVIANTARI
KHAIROMI PUTRI SARI
MEGAWATI
M.HAMDAN
NUR AFNI OKTAVIANA
RASIDAH
SRI RENO
TRI AGUSTINA

PRGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES PAYUNG NEGERI
PEKANBARU
2019
CEDERA KEPALA

Latar Belakang

Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang
disertai atau tanpa disertai perdarahan interstitial dalam substansi otak tanpa
diikuti terputusnya kontinuitas otak. (Muttaqin, 2008), cedera kepala biasanya
diakibatkan salah satunya benturan atau kecelakaan. Sedangkan akibat dari
terjadinya cedera kepala yang paling fatal adalah kematian.

Akibat trauma kepala pasien dan keluarga mengalami perubahan fisik


maupun psikologis, asuhan keperawatan pada penderita cedera kepala memegang
peranan penting terutama dalam pencegahan komplikasi. Komplikasi dari cedera
kepala adalah infeksi, perdarahan. Cedera kepala berperan pada hampir separuh
dari seluruh kematian akibat trauma-trauma. Cedera kepala merupakan keadaan
yang serius. Oleh karena itu, diharapkan dengan penanganan yang cepat dan
akurat dapat menekan morbiditas dan mortilitas penanganan yang tidak optimal
dan terlambatnya rujukan dapat menyebabkan keadaan penderita semakin
memburuk dan berkurangnya pemilihan fungsi (Tarwoto, 2007).

Sedangkan berdasarkan Mansjoer (2002), kualifikasi cedera kepala


berdasarkan berat ringannya, dibagi menjadi 3 yakni cedera kepala ringan, cedera
kepala sedang dan cedera kepala berat. Adapun penilaian klinis untuk
menentukkan klasifikasi klinis dan tingkat kesadaran pada pasien cedera kepala
menggunakan metode skala koma Glasgow (Glasgow Coma Scale)
(Wahjoepramono, 2005).

Diperkirakan 100.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat cedera


kepala, dan lebih dari 700.000 mengalami cedera cukup berat yang memerlukan
perawatan di rumah sakit. Dua per tiga dari kasus ini berusia di bawah 30 tahun
dengan jumlah laki-laki lebih banyak dari wanita. Lebih dari setengah dari semua
pasien cedera kepala berat mempunyai signifikasi terhadap cedera bagian tubuh
lainnya (Smeltzer, 2002).
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

1. Judul Penyuluhan
PencegahanCederaKepala

2. Pokok Bahasan
a. Pengertian cederakepala
b. Penyebab cedera kepala
c. Gejala cedera kepala
d. Pencegahan cedera kepala

3. Sasaran
Masyarakat Umum

4. Tempat
Masjid Abu BakarAs- SiddiqPekanbaru

5. Waktu
16:00-17:00

6. Hari/tanggal
Sabtu, 29 Juni 2019

7. Tujuan
a. Tujuan Umum
Setelah dilakukan nya penyuluhan diharapkan masyarakat mengerti
tentang pencegahan cedera kepala
b. Tujuan khusus
Peserta dapat memahami pengertian cedera kepala, penyebab cedera
kepala, gejala dan pencegahan cedera kepala.
8. Materi
Terlampir

9. Metode
Ceramah dan tanya jawab

10. Alat Bantu


a. Infokus
b. Laptop
c. Microfone

11. Pelaksanaan kegiatan


Waktu Kegiatan peserta
5 menit Pembukaan 1. Menjawab salam
1. Membuka dengan dan mendengrkan
mengucapkan salam 2. Mendengarkan
2. Memperkenalkan dan saling
diri berkenalan
3. Kontrak waktu 3. mendengarkan
dengan masyarakat
35 menit Proses Mendengarkan dan
1. menjelaskan memperhatikan
pengertian
cederakepala
2. menjelaskan
penyebabcederakepa
la
3. menjelaskan
gejalacederakepala
4. menjelaskan
pencegahancederake
pala
20 menit Penutup Menjawabnya
1. menanyakan Dan mendengarkan pesan
kembali materi yang
disampaikan.
2. Memberikan
kesempatan
masyarakat untuk
bertanya.
3. Memberikan pesan
agar dapat mencegah
cedera kepala
4. Menutup
penyuluhan dan
mengucapkan salam

12. Setting Tempat


Keterangan :

: Fasilitator

: Pemateri

: Moderator

: Audience
: Dokumentasi

13. Pengorganisasian
1. Moderator : KhairomiPutri Sari
2. Penyuluh : Agra Abilio
3. Fasilitator : Tri Agustina, M. Hamdan,Elvina,
Megawati
4. Observer : Deswinta, Nurafni
5. Dokumentasi : Sri Reno, Rasidah

14. Evaluasi
a. Evaluasi struktur
1. Penyelenggaraan penyuluhan pencegahan cedera kepala
2. Pelksanaan penyuluhan pencegahancederakepala sudah di konsulkan
dengan pembimbing
3. Peserta hadir tepat waktu di tempat pelaksanaan penyuluhan
4. Penyaji menguasai materi
5. Penyaji mampu melakukan komunikasi dua arah
b. Evaluasi proses
1. Peralatan penyuluhan telah dipersiapkan sebelum acara dimulai
2. Peserta aktif bertanya dan penyaji menjawb pertanyaan dengan benar
3. Tidak ada peserta yang meninggalkan ruangan tanpa alasan yang
tidak jelas.
c. Evaluasi hasil
Setelah penyuluhan diharapkan sekitar 80% peserta penyuluhan mampu
mengerti dan memahami penyuluhan yang diberikan sesuai dengan
tujuan khusus

d. Kriteria hasil
masyarakat dapat mengerti dan memahami tentang pencegahan cedera
kepala
LAMPIRAN MATERI

A. Definisi Cedera Kepala


Cedera kepala (trauma kepala) adalah kondisi dimana struktur kepala
mengalami benturan dari luar dan berpotensi menimbulkan gangguan pada
fungsi otak. Angka kematian akibat cedera kepala di Indonesia pada tahun
2015 berkisar 6.211 hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan 10
tahun sebelumnya. Sebagian besar penyebab cedera kepala di Indonesia adalah
kecelakaan kendaraan bermotor, namun 20% kasus terjadi akibat kelalaian
keluarga dirumah atau sekitar 1.242 orang. Kelompok usia dewasa muda
(umur 18 – 40 tahun) merupakan yang paling rentan mengalami cedera kepala,
namun tidak bisa dipungkiri bahwa usia bayi dan anak-anak pun juga
berpotensi terkena cedera kepala akibat ketidaktahuan orang tua. Beberapa
kondisi pada cedera kepala meliputi luka ringan, memar di kulit kepala,
bengkak, perdarahan, dislokasi, patah tulang tengkorak dan gegar otak,
tergantung dari mekanisme benturan dan parahnya cedera yang dialami.
(Alexander,2011).

B. Klasifikasi Cedera Kepala


Berdasarkan tingkat keparahannya, cedera kepada dibagi menjadi tiga,
yaitu:
1. cedera kepala ringan : Cedera kepala ringan dapat menyebabkan gangguan
sementara pada fungsi otak. Penderita dapat merasa mual, pusing,
linglung, atau kesulitan mengingat untuk beberapa saat.
2. Cederakepalasedang: Penderita cedera kepala sedang juga dapat
mengalami kondisi yang sama, namun dalam waktu yang lebih lama.
3. cedera kepala berat, potensi komplikasi jangka panjang hingga kematian
dapat terjadi jika tidak ditangani dengan tepat. Perubahan perilaku dan
kelumpuhan adalah beberapa efek yang dapat dialami penderita
dikarenakan otak mengalami kerusakan, baik fungsi fisiologisnya maupun
struktur anatomisnya (Arifin,2013).
C. Penyebab Cedera Kepala
Cedera kepala terjadi ketika ada benturan keras, terutama yang
langsung mengenai kepala. Keparahan cedera akan tergantung dari
mekanisme dan kerasnya benturan yang dialami penderita.
Berikut adalah serangkaian aktivitas atau situasi yang dapat
meningkatkan risiko cedera kepala:
1. Jatuh dari ketinggian atau terpeleset di permukaan yang keras.
2. Kecelakaan lalu lintas.
3. Cedera saat berolahraga atau bermain.
4. Kekerasan dalam rumah tangga.
5. Penggunaan alat peledak atau senjata dengan suara bising tanpa alat
pelindung.
6. Shakenbabysyndrome, atau sindrom yang terjadi saat bayi diguncang
secara kasar atau berlebihan.
Meskipun cedera kepala dapat terjadi pada semua orang, risiko cedera kepala
dapat meningkat saat seseorang sedang dalam usia produktif dan aktif seperti
15-24 tahun, atau lansia berusia 75 tahun ke atas. Bayi yang baru lahir juga
rentan mengalami kondisi ini hingga berusia 4 tahun (Jovan,2015)

D. Gejala Cedera Kepala


Gejala yang dialami penderita cedera kepala berbeda-beda sesuai dengan
keparahan kondisi. Tidak semua gejala akan langsung dirasakan sesaat setelah
cedera terjadi. Terkadang gejala baru muncul setelah beberapa hari hingga
beberapa minggu kemudian.
Berikut ini adalah beberapa gejala yang dapat dialami oleh penderita cedera
kepala ringan:
1. Kehilangan kesadaran untuk beberapa saat.
2. Terlihat linglung atau memiliki pandangan kosong.
3. Pusing.
4. Kehilangan keseimbangan.
5. Mual atau muntah.
6. Mudah merasa lelah.
7. Mudah mengantuk dan tidur melebihi biasanya.
8. Sulit tidur.
9. Sensitif terhadap cahaya atau suara.
10. Penglihatan kabur.
11. Telinga berdenging.

Sedangkan pada penderita cedera kepala sedang hingga berat, berikut ini
adalah gejala yang dapat dialami:
1. Kehilangan kesadaran selama hitungan menit hingga jam.
2. Pusing hebat secara berkelanjutan.
3. Mual atau muntah secara berkelanjutan.
4. Kejang.
5. Terdapat cairan yang keluar melalui hidung atau telinga.
6. Tidak mudah bangun saat tidur.
7. Jari-jari tangan dan kaki melemah atau kaku.
8. Merasa sangat bingung.
9. Perubahan perilaku secara intens.
10. Koma.

Gejala cedera kepala tidak dapat diprediksi keparahannya hanya melalui


pengamatan secara fisik. Periksakan ke dokter untuk mengetahuinya.Jika
Anda merasakan gejala-gejala cedera kepala atau melihat seseorang
mengalaminya, segera temui dokter agar dapat segera ditangani. Dokter akan
melakukan pemeriksaan fisik, seperti mencari tanda-tanda perdarahan,
pembengkakan, atau memar, setelah menanyakan bagaimana cedera terjadi
(Arifin,2013)

E. Pencegahan Cedera Kepala


Upaya pencegahan cedera kepala pada dasarnya adalah suatu tindakan
pencegahan terhadap peningkatan kasus kecelakaan yang berakibat trauma.
Upaya yang dilakukan yaitu :
a. Pencegahan Primer
Pencegahan primer yaitu upaya pencegahan sebelum peristiwa
terjadinya kecelakaan lalu lintas seperti untuk mencegah faktor-faktor
yang menunjang terjadinya cedera seperti sbb:
1. Menggunakan alat pengaman saat melakukan olahraga, seperti
sepakbola, bersepeda, menyelam, tinju, dan sebagainya.
2. Selalu menggunakan alat pengaman, seperti sabuk pengaman atau
helm, saat berkendara. Hindari minuman beralkohol sebelumnya untuk
menghindari kecelakaan.
3. Memasang pegangan besi di kamar mandi dan samping tangga untuk
mengurangi risiko terpeleset.
4. Memastikan lantai selalu kering dan tidak licin.
5. Memasang penerangan yang baik di seluruh rumah.
6. Memeriksa kondisi mata secara rutin.
7. Berolahraga secara teratur untuk meregangkan otot.
Anak-anak juga rentan mengalami cedera kepala saat bermain.
Berikut adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah
kecelakaan terjadi:
1. Memasang pintu di depan tangga dan dikunci saat tidak ada
pengawas.
2. Memasang tralis jendela, khususnya jika Anda tinggal di apartemen
atau rumah tingkat.
3. Meletakkan keset kering di depan pintu kamar mandi untuk
menghindari terpeleset.
4. Hal yang terpenting adalah selalu awasi anak Anda dan pastikan
mereka bermain dengan cara yang aman
b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder yaitu upaya pencegahan saat peristiwa terjadi
yang dirancang untuk mengurangi atau meminimalkan beratnya cedera
yang terjadi (Alexander,2011).Dilakukan dengan pemberian pertolongan
pertama, yaitu :
1. Periksa jalan napas
2. Jika orang tersebut masih bernapas dan denyut jantungnya normal
tetapi tidak sadarkan diri, stabilkan posisi kepala dan leher dengan
tangan. Pastikan kepala dan leher tetap lurus dan sebisa mungkin
hindari menggerakkan kepala dan leher.
3. Bila ada perdarahan, hentikan perdarahan tersebut dengan menekan
luka dengan kain bersih, pastikan untuk tidak menggerakkan kepala
orang yang mengalami cedera kepala tersebut. Jika darah merembes
pada kain yang ditutupkan tersebut, jangan melepaskan kain tersebut
tapi langsung merangkapnya dengan kain yang lain.
4. Jika curiga ada patah tulang tengkorak, jangan menekan luka dan
jangan mencoba membersihkan luka, tetapi langsung tutup luka
dengan pembalut luka yang bersih
5. Jika orang dengan cedera tersebut muntah, miringkan posisinya agar
tidak tersedak oleh muntahnya. Pastikan posisi kepala dan leher tetap
lurus.
6. Jangan mencoba mencabut benda apapun yang tertancap dikepala,
segera bawa ke unit gawat darurat terdekat.
c. Pencegahan Tertier
Pencegahan tertier bertujuan untuk mengurangi terjadinya komplikasi
yang lebih berat, penanganan yang tepat bagi penderita cedera kepala
akibat kecelakaan lalu lintas untuk mengurangi kecacatan dan
memperpanjang harapan hidup.Pencegahan tertier ini penting untuk
meningkatkan kualitas hidup penderita, meneruskan pengobatan serta
memberikan dukungan psikologis bagi penderita.Upaya rehabilitasi
terhadap penderita cedera kepala akibat kecelakaan lalu lintas perlu
ditangani melalui rehabilitasi secara fisik, rehabilitasi psikologis dan
sosial.