Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH III

“HERPER ZOSTER”

DOSEN MATA KULIAH :

Ns. MELTY SURYA, M. Kep

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK VII

1. ADINDA OKTAVIANA ( 1710105040 )


2. ANDRI ( 1710105042)
3. RAHMA TIANA PUTRI ( 1710105061 )
4. ROSFIKA IRA MERLIANA ( 17101050108 )
5. WULAN PERMATA PUTRI ( 1710105080 )

KELAS VB KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKes ) ALIFAH PADANG


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga berhasil menyelesaikan makalah
ini tepat pada waktunya yang berjudul “HERPES ZOSTER” sebagai tugas
kelompok ibu Dosen Ns. MELTY SURYA, M.Kep yang mengajar mata kuliah
KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH III. Kami menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang
bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terimakasih banyak kepada semua pihak yang
telah berperan serta dalam proses penyusunan makalah ini dari awal hingga akhir.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua yang membacanya.

Padang, September 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii

DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang ................................................................................................. 1


1.2 Tujuan ............................................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi ........................................................................................................... 3


2.2 Anatomi fisiologi ............................................................................................ 15
2.3 Patofisiologi ................................................................................................... 21
2.4 Etiologi ............................................................................................................
2.5 Komplikasi .....................................................................................................
2.6 Penatalaksanaan .............................................................................................
2.7 Askep teoritis ..................................................................................................
2.8 Askep kasus .....................................................................................................
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 28


DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Herpes zoster adalah penyakit setempat yang terjadi terutama pada


orang tua yang khas ditandai oleh adanya nyeri radikuler yang unilateral serta
adanya erupsi vesikuler yang terbatas pada dermatom yang diinervasi oleh
serabut saraf spinal maupun ganglion serabut saraf sensoris dari nervus
cranialis.

Hesper zoster rupanya menggambarkan reaktifitas dari refleksi endogen


yang telah menetap dalam bentuk laten mengikuti infeksi varisela yang telah
ada sebelumnya. Hubungan varisela dan Hesper zoster pertama kali di
temukan oleh Von Gokay pada tahun 1888. Ia menemukan penderita anak-
anak yang dapat terkena varisela setelah mengalami kontak dengan individu
yang mengalami infeksi herpes zoster.

Implikasi neurologic dari distribusi lesi segmental herpes zoster


diperkenalkan oleh Richard Bright tahun 1931 dan adanya peradangan
gonglion sensoris pada saraf spinal pertama kali di uraikan oleh Von
Bareusprung pada tahun 1862. Herpes zoster dapat mengenai kedua jenis
kelamin dan semua ras dengan prekuensi yang sama. Zoster adalah penyakit
yang disebabkan oleh infeksi virus varisela zoster yang menyerang kulit dan
mukosa. Infeksi ini merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah infeksi
primer

1.2 Tujuan

Agar mahasiswa mampu mengaplikasikan dalam kehidupan praktik di


rumah sakit dan mengetahui tentang herpes zoster

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Herpes zoster adalah radang kulit akut yang bersifat khas seperti
gerombolan vesikel unilateral, sesuai dengan dermatomnya (persyarafannya).
Herpes zoster adalah penyakit yang disebabkan oleh reaktivasi virus Varicella
– Zoster yang sifatnya localized, dengan ciri khas berupa nyeri radikuler,
unilateral, dan gerombolan vesikel yang tersebar sesuai dermatom yang
diinervasi satu ganglion saraf sensoris.
Herpes simpleks adalah infeksi akut yg disebabkan oleh virus herpes
simpleks (virus herpes hominis) tipe I atau tipe II yang ditandai oleh adanya
vesikel yang berkelompok diatas kulit yang sembab dan eritematosa pada
daerah dekat mukokutan, sedangkan infeksi dapat berlangsung baik primer
maupun rekurens
Penyakt infeksiosa dan kontagiosa yang disebabkan oleh virus herpes
simplek tipe 1 dan 2 dengan kecenderungan menyerang kulit-mukosa
(orofasial , genital), terdapat kemungkinan manifestasi ekstrakutan dan
cenderung untuk residif karena sering terjadi persintensi virus. Derajat
penularannya tinggi, tetapi karena patogenitas dan daya tahan terhadap
infeksi baik, maka infeksi ini sering berjalan tanpa gejala atau gejala ringan,
subklinis atau hanya local.
2.2 Anatomi dan fisiologi
A. Anatomi Kulit
Kulit terdiri atas 2 lapisan utama yaitu epidermis dan dermis. Epidermis
merupakan jaringan epitel yang berasal dari ektoderm, sedangkan dermis
berupa jaringan ikat agak padat yang berasal dari mesoderm. Di bawah
dermis terdapat selapis jaringan ikat longgar yaitu hipodermis, yang pada
beberapa tempat terutama terdiri dari jaringan lemak (Kalangi, Sonni.
2013).
1. Epidermis
Epidermis merupakan lapisan paling luar kulit dan terdiri atas
epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk. Epidermis hanya
terdiri dari jaringan epitel, tidak mempunyai pembuluh darah
maupun limfe oleh karena itu semua nutrien dan oksigen diperoleh
dari kapiler pada lapisan dermis. Epitel berlapis gepeng pada
epidermis ini tersusun oleh banyak lapis sel yang disebut keratinosit.
Sel-sel ini secara tetap diperbarui melalui mitosis sel-sel dalam lapis
basal yang secara berangsur digeser ke permukaan epitel. Selama
perjalanannya, sel-sel ini berdiferensiasi, membesar, dan
mengumpulkan filamen keratin dalam sitoplasmanya. Mendekati
permukaan, selsel ini mati dan secara tetap dilepaskan (terkelupas)
(Kalangi, Sonni. 2013).
Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai permukaan adalah
20 sampai 30 hari. Modifikasi struktur selama perjalanan ini disebut
sitomorfosis dari sel-sel epidermis. Bentuknya yang berubah pada
tingkat berbeda dalam epitel memungkinkan pembagian dalam
potongan histologik tegak lurus terhadap permukaan kulit (Kalangi,
Sonni. 2013).
2. Dermis
Dermis terdiri atas stratum papilaris dan stratum retikularis,
batas antara kedua lapisan tidak tegas, serat antaranya saling
menjalin (Kalangi, Sonni. 2013).
3. Hipodermis
Sebuah lapisan subkutan di bawah retikularis dermis disebut
hipodermis. Ia berupa jaringan ikat lebih longgar dengan serat
kolagen halus terorientasi terutama sejajar terhadap permukaan kulit,
dengan beberapa di antaranya menyatu dengan yang dari dermis.
Pada daerah tertentu, seperti punggung tangan, lapis ini
meungkinkan gerakan kulit di atas struktur di bawahnya. Di daerah
lain, serat-serat yang masuk ke dermis lebih banyak dan kulit relatif
sukar digerakkan. Sel-sel lemak lebih banyak daripada dalam
dermis. Jumlahnya tergantung jenis kelamin dan keadaan gizinya.
Lemak subkutan cenderung mengumpul di daerah tertentu. Tidak
ada atau sedikit lemak ditemukan dalam jaringan subkutan kelopak
mata atau penis, namun di abdomen, paha, dan bokong, dapat
mencapai ketebalan 3 cm atau lebih. Lapisan lemak ini disebut
pannikulus adiposus (Kalangi, Sonni. 2013).
B. Fisiologi Kulit
Fungsi utama kulit adalah sebagai pelindung dari berbagai macam
gangguan dan rangsangan dari luar. Fungsi perlindungan ini terjadi melalui
mekanisme biologis, seperti pembentukan lapisan tanduk secara terus
menerus (keratinisasi dan pelepasan sel-sel yang sudah mati),
pembentukan pigmen melanin untuk melindungi kulit sinar radiasi
ultraviolet, sebagai peraba dan perasa, serta pertahanan terhadap infeksi
dari luar (Kalangi, Sonni. 2013).
Kulit juga mencegah dehidrasi, menjaga kelembaban kulit, pengaturan
suhu, serta memiliki sifat penyembuhan diri. Kulit mempunyai ikatan yang
kuat terhadap air. Apabila kulit mengalami luka atau retak, daya ikat
terhadap air akan berkurang. Kulit menjaga suhu tubuh agar tetap normal
dengan cara melepaskan keringat ketika tubuh terasa panas. Keringat
tersebut menguap sehingga tubuh terasa dingin. Ketika seseorang merasa
kedinginan, pembuluh darah dalam kulit akan menyempit (Kalangi, Sonni.
2013).
Kulit melindungi bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisik maupun
mekanik, misalnya tekanan, gesekan dan tarikan, gangguan kimiawi,
seperti zat-zat kimia iritan, serta gangguan panas atau dingin. Gangguan
fisik dan mekanik ditanggulangi dengan adanya bantalan lemak subkutan,
ketebalan lapisan kulit, serta serabut penunjang pada kulit. Gangguan
kimiawi ditanggulangi dengan adanya lemak permukaan kulit yang berasal
dari kelenjar kulit yang mempunyai pH 5,0-6,5 (Kalangi, Sonni. 2013).
2.3 Patofisiologi
Herpes zoster bermula dari Infeksi primer dari VVZ (virus varisells
zoster) ini pertama kali terjadi di daerah nasofaring. Disini virus mengadakan
replikasi dan dilepas ke darah sehingga terjadi viremia permulaan yang
sifatnya terbatas dan asimptomatik. Keadaan ini diikuti masuknya virus ke
dalam Reticulo Endothelial System (RES) yang kemudian mengadakan
replikasi kedua yang sifat viremianya lebih luas dan simptomatik dengan
penyebaran virus ke kulit dan mukosa. Sebagian virus juga menjalar melalui
serat-serat sensoris ke satu atau lebih ganglion sensoris dan berdiam diri atau
laten didalam neuron. Selama antibodi yang beredar didalam darah masih
tinggi, reaktivasi dari virus yang laten ini dapat dinetralisir, tetapi pada saat
tertentu dimana antibodi tersebut turun dibawah titik kritis maka terjadilah
reaktivasi dari virus sehingga terjadi herpes zoster.
Patofisiologi herpes simpleks masih belum jelas, ada kemungkinan :
1. Infeksi primer akibat transmisi virus secara langsung melalui jalur
neuronal dari perifer ke otak melalui saraf Trigeminus atau
Offactorius.
2. Reaktivitas infeksi herpes virus laten dalam otak.
3. Pada neonatus penyebab terbanyak adalah HSV-2 yang merupakan
infeksi dari secret genital yang terinfeksi pada saat persalinan.
HERPES ZOSTER Invasi virus varisela Zoster

Reaktivitas virus varisella Zoster

Penurunan antibody tubuh

Merangsang saraf-saraf vagus


HERTPES ZOSTER
Infeksi primer dan mengirimkan sinyal keotak

Menuju ganglia radiks dorsalis Virus masuk dan menetap


didalam susunan tepi syaraf
Pembentukan prostaglandin di
kulit
Menetap pada priode latin dan otak
tidak terdeteksi

Sampai timbul priode Merangsang hipotalamus


teraktivasi meningkatkan suhu tubuh

Jika teraktivasi virus akan


turun melalui serabut saraf
ferifer kulit dan menimbulkan Hipertermi
lesi

Timbul rasa panas gatal dan


nyeri

Pada kulit mucul lesi primer,


MK : Gangguan rasa Tidak tau cara perawatan dan
lepuh-lepuh kecil berisi cairan
nyaman nyeri pengobatan
dan berkelompok

Muncul lesi, erosi dan krusta


Timbul rasa malu MK : kurang pengetahuan

MK : gangguan citra tubuh MK:kerusakan integritas kulit


2.4 Etiologi
Herpes zoster disebabkan oleh reaktivasi dari virus varicella zoster .
virus varicella zoster terdiri dari kapsid berbentuk ikosahedral dengan
diameter 100 nm. Kapsid tersusun atas 162 sub unit protein–virion yang
lengkap dengan diameternya 150–200 nm, dan hanya virion yang terselubung
yang bersifat infeksius. Infeksiositas virus ini dengan cepat dihancurkan oleh
bahan organic , deterjen, enzim proteolitik, panas dan suasana Ph yang tinggi.
Masa inkubasinya 14–21 hari.
1. Faktor Resiko Herpes zoster
a. Usia lebih dari 50 tahun, infeksi ini sering terjadi pada usia ini akibat
daya tahan tubuhnya melemah. Makin tua usia penderita herpes zoster
makin tinggi pula resiko terserang nyeri.
b. Orang yang mengalami penurunan kekebalan (immunocompromised)
seperti HIV dan leukimia. Adanya lesi pada ODHA merupakan
manifestasi pertama dari immunocompromised.
c. Orang dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
d. Orang dengan transplantasi organ mayor seperti transplantasi sumsum
tulang.
2. Factor pencetus kambuhnya Herpes zoster
a. Trauma / luka
b. Kelelahan
c. Demam
d. Alkohol
e. Gangguan pencernaan
f. Obat – obatan
g. Sinar ultraviolet
h. Haid
i. Stress
Secara umum, penyebab dari terjadinya herpes simpleks ini adalah sebagai
berikut:
a. Herpes Virus Hominis (HVH).
b. Herpes Simplex Virus (HSV)
c. Varicella Zoster Virus (VZV)
d. Epstein Bar Virus (EBV)
e. Citamoga lavirus (CMV)
Namun yang paling sering herpes simpleks disebabkan oleh virus herpes
simpleks tipe I dan tipe II. Cara penularan melalui hubungan kelamin,
tanpa melalui hubungan kelamin seperti : melalui alat-alat tidur, pakaian,
handuk,dll atau sewaktu proses persalinan/partus pervaginam pada ibu
hamil dengan infeksi herpes pada alat kelamin luar.

Faktor pencetus replikasi virus penyebab herpes simpleks :


1. Herpes oro-labial.
a. Suhu dingin.
b. Panas sinar matahari.
c. Penyakit infeksi (febris).
d. Kelelahan.
e. Menstruasi.
2. Herpes Genetalis
a. Faktor pencetus pada herpes oro-labial.
b. Hubungan seksual.
c. Makanan yang merangsang.
d. Alcohol.
3. Keadaan yang menimbulkan penurunan daya tahan tubuh:
a. Penyakit DM berat.
b. Kanker.
c. HIV.
d. Obat-obatan (Imunosupresi, Kortikosteroid).
e. Radiasi.
2.5 Komplikasi
Komplikasi Herpes zoster tidak menimbulkan kom plikasi pada kebanyakan
orang. Bila timbul komplikasi, hal-hal berikut dapat terjadi:
a. Heuralgia pasca herpes.
lni adalah komplikasi yang paling umum. Nyeri saraf (neuralgia) akibat
herpes zoster ini tetap bertahan setelah lepuhan kulit menghilang.
Masalah ini jarang terjadi pada orang yang berusia di bawah 50 tahun.
Rasa nyeri biasanya secara bertahap mengHilang dalam satu bulan, tetapi
pada beberapa orang dapat ber' langsung berbulan-bulan bila tanpa
pengobatan.
b. Infeksi kulit.
Kadang-kadang lepuhan terinfeksi oleh bakteri sehingga kulit sekitamya
menjadi merah meradang. Jika hal ini terjadi maka Anda mungkin perlu
antibiotik.
c. Masalah mata.
Herpes zoster pada mata dapat menyebabkan peradangan sebagian atau
seluruh bagian mata yang mengancam penglihatan.
d. Kelemahan/ layuh otot.
Kadang-kadang, saraf yang terkena dampak adalah saraf motorik dan
saraf senson'k yang sensitif. Hal ini dapat menimbulkan kelemahan
(palsy) pada otot-otot yang dikontrol oleh saraf.
e. Komplikasi lain.
Misalnya, infeksi otak oleh virus variseIa-zoster, atau penyebaran virus
ke seluruh tubuh. lni adalah komplikasi yang sangat sedus tapi jarang
terjadi. Penderita herpes zoster dengan sistem kekebalan tubuh lemah
lebih berisiko mengembangkan komplikasi Iangka ini.
2.6 Penatalaksanaan
1. Pengobatan
a. Pengobatan topical
1) Pada stadium vesicular diberi bedak salicyl 2% atau bedak kocok
kalamin untuk mencegah vesikel pecah
2) Bila vesikel pecah dan basah, diberikan kompres terbuka dengan
larutan antiseptik atau kompres dingin dengan larutan burrow 3 x
sehari selama 20 menit
3) Apabila lesi berkrusta dan agak basah dapat diberikan salep antibiotik
(basitrasin / polysporin ) untuk mencegah infeksi sekunder selama 3 x
sehari.
b. Pengobatan sistemik
1) Drug of choice- nya adalah acyclovir yang dapat mengintervensi
sintesis virus dan replikasinya. Meski tidak menyembuhkan infeksi
herpes namun dapat menurunkan keparahan penyakit dan nyeri. Dapat
diberikan secara oral, topical atau parenteral. Pemberian lebih efektif
pada hari pertama dan kedua pasca kemunculan vesikel. Namun hanya
memiliki efek yang kecil terhadap postherpetic neuralgia.
2) Antiviral lain yang dianjurkan adalah vidarabine (Ara – A, Vira – A)
dapat diberikan lewat infus intravena atau salep mata.
3) Kortikosteroid dapat digunakan untuk menurunkan respon inflamasi
dan efektif namun penggunaannya masih kontroversi karena dapat
menurunkan penyembuhan dan menekan respon immune.
4) Analgesik non narkotik dan narkotik diresepkan untuk manajemen
nyeri dan antihistamin diberikan untuk menyembuhkan priritus.
2. Penderita dengan keluhan mata
Keterlibatan seluruh mata atau ujung hidung yang menunjukan
hubungan dengan cabang nasosiliaris nervus optalmikus, harus ditangani
dengan konsultasi opthamologis. Dapat diobati dengan salaep mata steroid
topical dan mydriatik, anti virus dapat diberikan
3. Neuralgia Pasca Herpes zoster
a. Bila nyeri masih terasa meskipun sudah diberikan acyclovir pada fase
akut, maka dapat diberikan anti depresan trisiklik ( misalnya :
amitriptilin 10 – 75 mg/hari)
b. Tindak lanjut ketat bagi penanganan nyeri dan dukungan emosional
merupakan bagian terpenting perawatan
c. bedah atau rujukan ke klinik nyeri diperlukan pada neuralgi berat yang
tidak teratasi
Pada prinsipnya, penanganan dari infeksi Herpes Simpleks Virus (HSV)
ada 2 macam, yaitu:
1. Terapi Spesifik;
a. Infeksi primer
1) Topikal : Penciclovir krim 1% (tiap 2 jam selama 4 hari) atau
Acyclovir krim 5% (tiap 3 jam selama 4 hari). Idealnya, krim ini
digunakan 1 jam setelah munculnya gejala, meskipun juga
pemberian yang terlambat juga dilaporkan masih efektif dalam
mengurangi gejala serta membatasi perluasan daerah lesi.
(Rekomendasi FDA & IHMF)
2) Sistemik : Valacyclovir tablet 2 gr sekali minum dalam 1 hari
yang diberikan begitu gejala muncul, diulang pada 12 jam
kemudian, atau Acyclovir tablet 400 mg 5 kali sehari selama 5
hari, atau Famciclovir 1500 mg dosis tunggal yang diminum 1
jam setelah munculnya gejala prodromal.
b. Infeksi Rekuren
Terapi rekuren ditujukan untuk mengurangi angka kekambuhan
dari herpes genitalis, dimana tingkat kekambuhan berbeda pada
tiap individu, bervariasi dari 2 kali/tahun hingga lebih dari 6
kali/tahun. Terdapat 2 macam terapi dalam mengobati infeksi
rekuren, yaitu terapi episodik dan terapi supresif.
1) Terapi Episodik:
a) Acycovir, 400 mg p.o 3 x/hr, 5 hr, atau 800 mg x/hr, 5 hr,
atau 800 mg p.o 3 x/hr,3 hr
b) Valacyclovir, 500 mg p.o 2 x/hr 3 hr, atau 1 gr p.o 1x/hr, 5
hr
c) Famciclovir, 125 mg p.o 2 x/hr,5 hr, atau 1 gr p.o 2 x/hr,1
hr
2) Terapi Supresif:
a) Acyclovir 400 mg p.o 2 x/hr selama 6 th, atau
b) Famciclovir 250 mg p.o 2 x/hr selama 1 th, atau
c) Valacyclovir 500 mg p.o 1x/hr selama 1 th, atau
d) Valacyclovir 1 gr p.o 1x/hr selama 1 th
2. Terapi Non-Spesifik;
Pengobatan non-spesifik ditujukan untuk memperingan gejala
yang timbul berupa nyeri dan rasa gatal. Rasa nyeri dan gejala lain
bervariasi, sehingga pemberian analgetik, antipiretik dan antipruritus
disesuaikan dengan kebutuhan individu. Zat-zat pengering yang
bersifat antiseptic juga dibutuhkan untuk lesi yang basah berupa
jodium povidon secara topical untuk mengeringkan lesi, mencegah
infeksi sekunder dan mempercepat waktu penyembuhan. Selain itu
pemberian antibiotic atau kotrimoksasol dapat pula diberikan untuk
mencegah infeksi sekunder Tujuan dari terapi tersebut masing-
masing adalah untuk mempercepat proses penyembuhan,
meringankan gejala prodromal, dan menurunkan angka penularan
2.7 Askep teoritis
1. Pengkajian
A. Identitas Klien
Nama :
Alamat :
Pekerjaan :
Umur : dapat terjadi pada semua umur, tetapi yang lebih
beresiko terjadi pada dewasa/lanjut usia
Jenis Kelamin : dapat terjadi pada pria dan wanita
Tanggal Masuk RS:
B. Riwayat Kesehatan
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien mengalami demam, sakit kepala, fatige, malaise, kemerahan,
sensitive, sore skin ( penekanan kulit), (rasa terbakar atau tertusuk),
gatal dan kesemutan, nyeri.
2. Riwayat Kesehatan Dahulu
a. Riwayat menderita penyakit cacar
b. Riwayat immunocompromised (HIV/AIDS, Leukimia
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Kemungkinan ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang
sama dengan klien karna herpes merupakan penyakit menular.
C. Riwayat psikososial
a. Kondisi psikologis pasien
b. Kecemasan
c. Respon pasien terhadap penyakit
D. Pola Kebiasaan Sehari-Hari
a. Aktivitas dan Istirahat
Apakah pasien mengeluh merasa cemas, tidak bisa tidur karena
nyeri, dan gatal
b. Pola Nutrisi dan Metabolik
Bagaimana pola nutrisi pasien, apakah terjadi penurunan nafsu
makan, anoreksia.
c. Pola Aktifitas dan Latihan
Dengan adanya nyeri dan gatal yang dirasakan, terjadi penurunan
pola akifitas pasien.
d. Pola Hubungan dan peran
Klien akan sedikit mengalami penurunan psikologis, isolasi karena
adanya gangguan citra tubuh.
2. Pemeriksaan Fisik
A. Keadaan Umum
1. Tingkat Kesadaran
2. TTV
B. Head To Toe
a. Kepala
1. Bentuk
2. Kulit kepala
b. Rambut
Warna rambut hitam, tidak ada bau pada rambut, keadaan rambut
tertata rapi.
c. Mata (Penglihatan)
Posisi simetris, pupil isokor, tidak terdapat massa dan nyeri tekan,
tidak ada penurunan penglihatan.
d. Hidung (Penciuman)
Posisi sektum naso tepat ditengah, tidak terdapat secret, tidak
terdapat lesi, dan tidak terdapat hiposmia. Anosmia, parosmia,
kakosmia.
e. Telinga (Pendengaran)
1. Inspeksi
a) Daun telinga : tidak terdapat lesi, kista epidemoid, dan
keloid.
b) Lubang telinga : tidak terdapat obstruksi akibat adanya benda
asing.
2. Palpasi
Tidak terdapat edema, tidak terdapat nyeri tekan pada otitis
media dan mastoidius.
3. Pemeriksaan pendengaran
a) Test audiometric : 26 db (tuli ringgan)
b) Test weber : telinga yang tidak terdapat sumbatan mendengar
lebih keras.
c) Test rinne : test (-) pada telinga yang terdapat sumbatan
f. Mulut dan Gigi
Mukosa bibir lembab, tidak pecah-pecah, warna gusi merah muda,
tidak terdapat perdarahan gusi, dan gigi bersih.
g. Leher
Posisi trakea simetris, tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid,
tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada nyeri tekan.
h. Thorak
1. Bentuk : simetris
2. Pernafasan : regular
3. Tidak terdapat otot bantu pernafasan
i. Abdomen
1. Inspeksi
a) Bentuk : normal simetris
b) Benjolan : tidak terdapat benjolan
2. Palpasi
a) Tidak terdapat nyeri tekan
b) Tidak terdapat massa / benjolan
c) Tidak terdapat tanda tanda asites
d) Tidak terdapat pembesaran hepar
3. Perkusi
Suara abdomen : tympani.
j. Reproduksi
Pada pemeriksaan genitalia pria, daerah yang perlu diperhatikan
adalah bagianglans penis, batang penis, uretra, dan daerah anus.
Sedangkan pada wanita,daerah yang perlu diperhatikan adalah labia
mayora dan minora, klitoris, introitus vagina, dan serviks. Jika
timbul lesi, catat jenis, bentuk, ukuran / luas,warna, dan keadaan lesi.
Palpasi kelenjar limfe regional, periksa adanyapembesaran; pada
beberapa kasus dapat terjadi pembesaran kelenjar limferegional.
k. Ekstremitas
Tidak terdapat luka dan spasme otot.
l. Integument
Ditemukan adanya vesikel-vesikel berkelompok yang nyeri,edema di
sekitar lesi,dan dapat pula timbul ulkus pada infeksi sekunder.
3. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan adanya lesi kulit
Definisi : Pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang actual atau
potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa.
Batasan Karakteristik :
a. Perubahan selera makan
b. Perubahan tekanan darah
c. Perubahan frekuensi jantung
d. Perubahan frekuensi pernapasan
e. Dioferesis
f. Prilaku distraksi
g. Mengekspresikan prilaku
h. Sikap melindungi area nyeri
i. Fokus menyempit
j. Indikasi nyeri yang dapat diamati
k. Perubahan posisi untuk menghindari nyeri
l. Siakap tubuh melindungi
m. Dilatasi pupil
n. Melaporkan nyeri secara verbal
o. Gangguan tidur
p. Faktor yang Berhubungan
q. Agen cedera ( biologis, kimia, fisik, psikologis)
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan lesi dan respon
peradangan
Definisi : Perubahan/gangguan epidermis dan dermis
Batasan Karakteristik :
a. Kerusakan lapisan kulit (dermis)
b. Gangguan permukaan kulit (epidermis)
3. Risiko infeksi berhubungan dengan kerusakan fungsi barier kulit
Domain 11 : keamanan/perlindungan Kelas 1 : Infeksi
Definisi : Rentan mengalami invasi dan multiplikasi organisme
patogenik yang dapat mengganggu kesehatan
4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus dan nyeri dari lesi
herpes
4. Intervensi NIC-NOC

No Diagnosa NOC NIC

1. Nyeri akut berhubungan Pain control Pain Management


dengan adanya lesi kulit
- Jelaskan - Lakukan
Kriteria hasil faktor penyebab. pengkajian nyeri
secara komprehensif
- Mampu mengontrol - Gunakan termasuk lokasi,
nyeri (tau penyebab nyeri, tindakan karakteristik, durasi,
mampu menggunakan pencegahan. frekuensi, kualitas.
tehnik non farmakologi
untuk mengurangi nyeri). - Gunakan - Gunakan
tindakan non komunikasi terapeutik
- Melaporkan bahwa analgesic untuk mengetahui
nyeri berkurang dengan pengalam nyeri
menggunakan manajemen - Laporkan
pasien.
nyeri perubahan gejala
nyeri ke perawat. - Kaji faktor yang
- Mampu mengenali mempengaruhi respon
nyeri (skala, intensitas, - Catat
nyeri.
tanda nyeri). serangan/ tanda
gejala nyeri. - Evaluasi
- Mengatakan rasa pengalaman nyeri
nyaman setelah nyeri masa lalu.
berkurang.
- Evaluasi bersama
pasien dan tim medis
tentang
ketidakefektifan
ü Control Nyeri
- Kontrol
lingkungan yang
dapat mempengaruhi
nyeri seperti suhu
ruangan, kebisingan.
- Pilih dan
lakukan penanganan
nyeri (farmakologi,
non farmakologi, &
interpersonal).
- Kaji tipe dan
sumber nyeri untuk
menentukan
intervensi.
- Ajarkan tentang
tehnik
nonfarmakologi.
- Berikan analgesic
untuk mengurangi
nyeri.
- Evaluasi
ketidakefektifan
kontrol nyeri.
- Tindakan
istirahat
- Monitor
penerimaan pasien
tentang manajemen
nyeri
- Observasi reaksi
nonverbal dan
ketidaknyamanan.
- Monitor
penerimaan pasien
tentang manajemen
nyeri. (Amin dkk,
2015)

2. Kerusakan integritas kulit Tissue integrity (skin Pressure management


berhubungan dengan lesi and mucous
dan respon peradangan membranes) - Jaga
kebersihan kulit agar
- Elastisitas kembali tetap bersih dan
normal kering
- Tidak terdapat Skin - Hindari
lesions kerutan pada tempat
tidur
- Texture kulit
kembali normal - Monitor kulit
akan adanya
- Skin integrity kemerahan
kembali normal
- Monitor
- Tidak terdapat aktivitas dan
necrosis mobilisasi pasien
- Monitor status
nutrisi pasien
- Mobilisasi
pasien setiap dua jam
sekali
- Oleskan lotion
/ minyak pada daerah
yang tertekan
- Anjurkan
pasien untuk
menggunakan pakaian
yang longgar
- Kolaborasi
dengan tim medis lain
jika terjadi
komplikasi

3. Risiko infeksi Infeksi yang hebat Kontrol Infeksi


berhubungan dengan
kerusakan fungsi barier - Dahak kental - Bersihkan
kulit lingkungan setelah
- Pengambilan dipakai pasien
Kriteria Hasil : nanah
- Pertahankan
Klien bebas dari tanda - Demam teknik isolasi
dan gejala infeksi
- Hypotermi - Instruksikan
Mendeskripsikan proses pada pengunjung
-
penularan penyakit, factor untuk mencuci tangan
Ketidakstabila
yang mempengaruhi saat berkunjung dan
n suhu
penularan serta setelah berkunjung
penatalaksanaanya - Nyeri meningggalkan pasien
Menunjukan kemampuan - Gejala - Cuci tangan
untuk mencegah timbulnya gastrointestinal sebelum dan sesaat
infeksi tindakan
- Rasa tidak
Jumlah leukosit dalam enak badan - Gunakan
batas normal sarung tangan,baju
- Mengerikkan sebagai alat pelindung
Menunjukan prilaku hidup
sehat. - Monitor tanda
dan gejala infeksi
sistemik dan lokal
- Monitor
kerentanan terhadap
infeksi
- Dorong
istirahat
- Instruksikan
pasien untuk minum
antibiotic sesuai resep
yang diberikan
- Berikan terapi
antibiotic bila perlu
- Ajarkan cara
menghindari inveksi
- Laporkan
kultur positif
2.8 Askep kasus

STATUS PASIEN

Identitas Pasien
Nama : Ny. N
Umur : 24 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Desa Sukoanyar
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SMP
Agama : Islam
Status Perkawinan: Menikah
Suku : Jawa
Tanggal Periksa : 7 November 2014
Anamnesis
1) Keluhan Utama : bintil-bintil di sekitar bibir
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Ny.N datang ke Puskesmas Wajak karena muncul bintil-bintil di
sekitar bibir sejak 3 hari yang lalu. Pasien mengeluhkan awalnya
gatal-gatal, kadang terasa nyeri di sekitar bibir, dan juga
mengeluhkan badan sumer-sumer sejak ± 4 hari yang lalu setelah
sebelumnya pasien merasa kelelahan dikarenakan ikut membantu
acara pernikahan di tetangganya. Kemudian 3 hari yang lalu
muncullah bintil-bintil tersebut di sekitar bibir, tidak tumbuh di
tempat lain. Bintil-bintil tersebut semakin bertambah dan berisi
cairan jernih. Pasien mengira karena gigitan serangga seperti yang
pernah dialami suaminya beberapa bulan yang lalu, lalu dibiarkan
saja. Oleh karena pasien takut keluhan semakin memberat sehingga
pasien memutuskan pergi ke Puskesmas Wajak dengan harapan
penyakitnya bisa cepat sembuh.
3) Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat sakit serupa sebelumnya disangkal. Pasien pernah
menderita cacar air waktu kecil. Riwayat alergi makanan maupun
obat-obatan disangkal. Riwayat sakit jantung, kencing manis, dan
riwayat sakit kronis lainnya disangkal.
4) Riwayat Pengobatan
Pasien belum berobat sebelumnya untuk sakit ini. Jika sakit, pasien
biasanya berobat ke dokter.
5) Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat serupa dengan pasien, yaitu suami pasien beberapa bulan
yang lalu. Riwayat alergi makanan maupun obat-obatan disangkal.
Riwayat sakit jantung, kencing manis, dan riwayat sakit kronis
lainnya disangkal.
6) Riwayat Kebiasaan
Riwayat olahraga: pasien jarang olah raga. Riwayat pengisian waktu
luang: kumpul bersama keluarga, nonton TV, dan mengerjakan
pekerjaan rumah tangga.
7) Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah seorang istri yang memiliki seorang suami dan satu
orang anak. Pasien tidak bekerja, sehari-hari hanya mengerjakan
pekerjaan rumah tangga di rumah. Hubungan sosial baik, Ny.N
masih mengikuti kegiatan di lingkungan rumah, misalnya pengajian
seminggu sekali. Penghasilan satu bulannya cukup untuk kehidupan
sehari-hari. Penghasilan keluarga Rp. 1.300.000,00 - Rp.
1.500.000,00.
8) Riwayat Gizi
Makan 3 kali sehari dengan nasi, sayur, lauk pauk, buah dan minum
air putih. Kesan gizi baik.
Anamnesis Sistem
1) Kulit : kelainan kulit sekitar bibir (+), gatal (+), nyeri (+).
2) Kepala : sakit kepala (-), pusing (-), rambut rontok (-), luka
pada kepala (-), benjolan/borok di kepala (-)
3) Mata : pandangan mata berkunang-kunang (-/-),
penglihatan kabur (-/-), ketajaman penglihatan
dalam batas normal
4) Hidung : tersumbat (-/-), mimisan (-/-)
5) Telinga : pendengaran berkurang (-/-), berdengung (-/-), keluar
cairan (-/-)
6) Mulut : sariawan (-), mulut kering (-), lidah terasa pahit (-).
7) Tenggorokan : sakit menelan (-), serak (-)
8) Pernafasan : sesak nafas (-), batuk (-), mengi (-)
9) Kadiovaskuler : berdebar-debar (-), nyeri dada (-), ampeg (-)
10) Gastrointestinal : mual (-), muntah (-), BAB (-), nafsu makan
menurun (-), nyeri perut (-).
11) Genitourinaria : BAK lancar, warna dan jumlah dalam batas
normal.
12) Neurologik : kejang (-), lumpuh (-), kesemutan dan rasa tebal
pada kedua kaki (-)
13) Psikiatri : emosi stabil, mudah marah (-)
14) Muskuloskeletal: kaku sendi (-), nyeri/linu-linu pada lutut kanan-kiri
(-), nyeri otot (-)
15) Ekstremitas :
o Atas kanan : bengkak (-), sakit (-), luka (-)
o Atas kiri : bengkak (-), sakit (-), luka (-)
o Bawah kanan : bengkak (-), sakit (-), luka (-)
o Bawah kiri : bengkak (-), sakit (-), luka (-)
Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum : cukup
Derajat kesadaran : compos mentis, GCS 4-5-6
Status gizi : gizi baik
2) Vital sign
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit, regular
Respirasi : 20 x/menit.
Suhu : 37,8 °C
BB : 46 kg
TB : 155 cm
3) Kulit
Sawo matang, kelembaban baik, turgor (< 2 detik).
4) Kepala
Bentuk kepala mesocephal, luka (-), rambut tidak mudah dicabut,
keriput (-), macula (-), papula (-), nodula (-).
5) Mata
Mata cowong (-/-), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil
isokor (+/+), reflek cahaya (+/+), tanda radang (-/-).
6) Hidung
Pernapasan cuping hidung (-/-), sekret(-/-), epistaksis (-/-), deformitas
hidung(-/-), hiperpigmentasi(-/-).
7) Mulut
Bibir pucat(-), bibir kering(-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-),
tepi lidah hiperemi (-), gusi berdarah (-), sariawan (-), vesikel (+) di
sekitar bibir.
8) Telinga
Nyeri tekan mastoid (-/-), sekret (-/-), pendengaran berkurang (-/-),
cuping telinga dalam batas normal.
9) Tenggorokan
Tonsil membesar (-/-), hiperemi faring(-/-).
10) Leher
JVP meningkat (-). Trakea di tengah, pembesaran KGB (-),
pembesaran kelenjar tiroid (-), lesi pada kulit (-).
11) Toraks
Normochest, simetris, pernapasan thorakoabdominal, retraksi (-),
spider navi (-), pulsasi intrasternalis (-), sela iga melebar (-).
 Cor
Inspeksi : iktus kordis tak tampak
Palpasi : iktus kordis tak kuat angkat
Perkusi :
batas kiri atas : ICS II parastrenalis line sinistra
batas kanan atas : ICS II parasternalis line dextra
batas kiri bawah : ICS V midclavicularis line sinistra
batas kanan bawah: ICS IV parastrenalis line dextra
pinggang jantung : ICS II parastrenalis line sinistra
(kesan jantung tidak melebar)
Auskultasi : BJ I-II intensitas normal, regular, bising (-).
 Pulmo
Inspeksi : pengembangan dada kanan sama dengan dada kiri
Palpasi : fremitus raba kanan sama dengan kiri
Perkusi :
Sonor Sonor
Sonor
Sonor Sonor

Auskultasi : vesikuler
+ +
+
+ +

suara tambahan: ronkhi wheezing


- - - - -
- - - -
- - - - -

12) Abdomen
Inspeksi : soefl, flat, dinding perut sejajar dengan dinding
dada.
Auskultasi : BU (+) normal
Palpasi : meteorismus (-), nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak
teraba.
Perkusi : timpani
13) Ekstremitas
 Palmar eritema (-/-)
 Akral dingin Edem Ulkus

- - - - - -
- - - - - -
14) Sistem genitalia
Tidak diperiksa.
15) Pemeriksaan neurologik
Kesadaran : GCS 4-5-6
Fungsi Luhur : dalam batas normal
16) Pemeriksaan psikiatrik
Penampilan : perawatan diri baik
Kesadaran : kualitatif tidak berubah; kuantitatif compos mentis
Afek : appropriate
Psikomotor : normoaktif
Proses Pikir : bentuk: realistis; isi: waham (-), halusinasi (-), ilusi (-);
arus: koheren; insight: baik.
17) Status dermatologis
Regio facialis terdapat gerombolan vesikel di atas kulit yang
eritematous, antar gerombolan vesikel yang satu dengan yang lain
dipisahkan oleh kulit yang normal, vesikel (+), bulla (+).
Pemeriksaan Laboratorium (Penunjang)
Tidak dilakukan.
Resume
Ny.N datang ke Puskesmas Wajak karena muncul bintil-bintil di
sekitar bibir sejak 3 hari yang lalu. Pasien mengeluhkan awalnya gatal-
gatal, kadang terasa nyeri di sekitar bibir, dan juga mengeluhkan badan
sumer-sumer sejak ± 4 hari yang lalu setelah sebelumnya pasien merasa
kelelahan sehabis ikut membantu acara nikahan di tetangganya.
Kemudian 3 hari yang lalu muncullah bintil-bintil tersebut di sekitar
bibir, semakin bertambah dan berisi cairan jernih. Suaminya pernah
sakit serupa beberapa bulan yang lalu.
Pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak cukup baik,
kesadaran compos mentis. Suhu tubuh meningkat, tanda vital lainnya
dalam batas normal. Status dermatologis: Regio facialis terdapat
gerombolan vesikel di atas kulit yang eritematous, antar gerombolan
vesikel yang satu dengan yang lain dipisahkan oleh kulit yang normal,
vesikel (+), bulla (+).
DIAGNOSA HOLISTIK
1. Aspek Personal
 Keluhan Utama : bintil-bintil di sekitar bibir
 Harapan : segera sembuh
 Kekhawatiran : khawatir semakin parah
 Persepsi : pasien peduli terhadap penyakitnya
2. Aspek Klinis
Ny.N, 24 tahun, datang dengan keluhan bintil-bintil di sekitar bibir,
diagnosis kerja Herpes Zoster.
3. Aspek Risiko Internal
 Kelelahan
 Pasien pernah menderita cacar air waktu kecil.
4. Aspek Risiko Eksternal
 Riwayat serupa dengan pasien, yaitu suami pasien beberapa bulan
yang lalu.
5. Aspek Fungsional
Skor 2 = mampu melakukan pekerjaan sehari-hari di dalam dan di luar
rumah. Mulai mengurangi aktivitas pekerjaan.
PENATALAKSANAAN
1. Non medika mentosa
a. Edukasi
Edukasi terhadap pasien dan keluarga mengenai :
- Perjalanan penyakit herpes zoster.
- Komplikasi dari herpes zoster.
- Intervensi farmakologi dan non-farmakologi.
- Luka dijaga agar tetap bersih dan kering, jangan sampai pecah
sehingga akan menyebar.
- Pasien tetap disarankan mandi untuk menjaga kebersihan badan.
b. Diet adekuat
c. Cukup istirahat
Penderita sebaiknya tidur yang cukup 6-8 jam setiap harinya dan
tidak memaksakan diri dalam melakukan aktivitas sehari- hari.
d. Mengurangi stress dan beban pikiran
2. Medikamentosa
a. Terapi sistemik
Asiklovir tablet 5x800 mg selama 7 hari
Parasetamol tablet 3x500 mg
b. Terapi topikal
Bedak salisil talk 2 %
PROGNOSIS
Ad vitam : ad bonam
Ad fungsionam : ad bonam
Ad sanationam : ad bonam.
KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA
Daftar Anggota Keluarga yang Tinggal dalam Satu Rumah
No. Nama Kedudukan L/P Usia Pendi- Pekerjaan Pasien Kete-
dikan PKM rangan
1. Tn. H Suami L 30 SMA Pedagang - Sehat
(Kepala Keluarga) tahun
2. Ny.N Istri P 24 SMP Ibu Rumah + Sakit
tahun Tangga
3. An.B Anak P 2 tahun - - Sehat
Bentuk Keluarga: Nuclear family
IDENTIFIKASI FUNGSI KELUARGA
Fungsi Holistik
1. Diagnosis dari segi biologis
Pasien, Ny.N (24 tahun) adalah seorang istri yang memiliki
seorang suami, saat ini sebagai masyarakat biasa dan tinggal
bersama dengan suami dan anaknya dalam satu rumah, yaitu
Tn.H(30 tahun) dan An.B (2 tahun).
2. Diagnosis dari segi psikologis
Hubungan dengan keluarga baik, ada komunikasi yang baik antar
anggota keluarga, tidak ada masalah dalam keluarga. Sering
berkumpul dengan keluarga. Saling mencurahkan kasih sayang
antara anggota keluarga.
3. Diagnosis dari segi sosial
Hubungan dengan masyarakat baik, aktif mengikuti kegiatan di
lingkungan rumah, misalnya pengajian seminggu sekali.
Fungsi Fisiologis (APGAR)
1. Adaptation
Kemampuan anggota keluarga tersebut beradaptasi dengan anggota
keluarga yang lain, serta penerimaan, dukungan dan saran dari
anggota keluarga yang lain.
2. Partnership
Menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi
antara anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh
keluarga tersebut.
3. Growth
Menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang
dilakukan anggota keluarga tersebut.
4. Affection
Menggambarkan hubungan kasih dan interaksi antar anggota
keluarga.
5. Resolve
Menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan
dan waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain.
Nilai APGAR Keluarga Ny.N
APGAR terhadap Keluarga Tn.H Ny.N
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke 2 2
keluarga saya bila saya menghadapi masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas 2 2
dan membagi masalah dengan saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima 2 2
dan mendukung keinginan saya untuk
melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang
baru.
A Saya puas dengan cara keluarga saya 2 2
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian, dll.
R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya 2 2
membagi waktu bersama-sama
SKOR 10 10
Keterangan:
 Hampir selalu : 2 poin
 Kadang – kadang : 1 poin
 Hampir tak pernah : 0 poin
Total APGAR score: 10+10+10=30/3=10
Kesimpulan: Fungsi fisiologis keluarga baik
Fungsi Patologis (SCREEM)
Nilai SCREEM Keluarga Ny.N
SUMBER PATOLOGIS Tn.H Ny.N
Social Interaksi dengan tetangga - -
sekitar.
Cultural Kepuasan keluarga terhadap - -
budaya, tata krama, dan
perhatian terhadap sopan santun.
Religius Ketaatan anggota keluarga - -
dalam menjalankan ibadah
sesuai dengan ajaran agama.
Economy Status ekonomi anggota - -
keluarga.
Education Tingkat pendidikan anggota - +
keluarga.
Medical Kemampuan anggota keluarga + +
untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan yang memadai.
Kesimpulan : SCREEM score = Fungsi patologis keluarga Ny.N
adalah adanya masalah pada education pada Ny.N karena hanya
mengenyam pendidikan SMP sebelumnya sehingga pemahaman
terhadap penyakit masih kurang dan masalah medical pada semua
anggota keluarga dalam serumah karena tidak menggunakan asuransi
kesehatan sehingga masih kurang memperhatian kesehatan dan untuk
mendapatkan pengobatan dengan cara pembayaran umum jika berobat
ke puskesmas.
Pola Interaksi Keluarga
O

Ny.N

An.
B
Tn.H

Gambar 1.3. Pola Interaksi Keluarga Ny.N


Keterangan gambar:
Hubungan baik :
Hubungan kurang baik :
Hubungan antara Ny.N dengan keluarga baik.
Identifikasi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan
Identifikasi Faktor Perilaku dan Nonperilaku
PEMAHAMAM
• Ny.N dan
keluarga kurang
PELAYANAN memahami
KESEHATAN keluhan dan
peyakitnya,
• Jika sakit, periksa • Ny.N dan
ke dokter atau ke keluarga kurang
puskesmas. memahami
KETURUNAN perilaku hidup SIKAP
• Tidak ada faktor bersih dan sehat.
keturunan. • Ny.N dan
keluarga sangat
peduli terhadap
penyakitnya.
LINGKUNGAN
• Rumah
memenuhi rumah
sehat
• Keluarga Ny.N TINDAKAN
aktif dalam • Keluarga Ny.N
kegiatan di memutuskan
masyarakat
KELUARGA untuk berobat ke
Ny. N
• Ny.N sering Puskesmas.
berkumpul
dengan anggota
keluarga dan
masyarakat di
lingkungan
rumah.

Gambar 1.4. Identifikasi Faktor Perilaku dan Nonperilaku

Keterangan:
: Faktor Nonperilaku
: Faktor Perilaku
Identifikasi Lingkungan Rumah
1. Lingkungan

Keluarga ini tinggal di sebuah rumah berukuran 10 x 8 m2,. Tidak


terdapat pagar pembatas. Rumah ini terdiri dari 2 kamar tidur, 1 ruang
tamu, dapur dan ruang bersama. Rumah terbuat dari dinding bata dan lantai
di semua ruangan terbuat dari plester (semen). Atap rumah pasien terbuat
dari genteng dan seng. Ruang tamu memiliki jendela dengan ukuran 2 X 1
m. Kamar tidur rumah pasien memiliki jendela dengan ukuran 2mx0,5m.
Rumah pasien mempunyai kamar mandi di dalam rumah.
2. Denah Rumah

J Kamar
mandi
Dapur Ruang tidur
a

l
Ruang TV (R. Ruang Tidur
Keluarga)
a
Ruang Tamu
n

Pekarangan rumah
Jalan

Denah Rumah Ny.N


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Herpes zoster (shingles) adalah infeksi akut, kulit virus yang disebabkan
oleh reaktivasi virus varicellazoster (VZV), virus herpes yang menyebabkan
varicella (cacar air). Perbedaan manifestasi klinis antara varicella dan herpes
zoster tampaknya tergantung pada status kekebalan individu; mereka yang
tidak paparan sebelumnya VZV, paling sering anak-anak, mengembangkan
sindrom klinis varisela, sedangkan mereka dengan antibodi varisela
mengembangkan luapan baru terlokalisasi, zoster

Herpes zoster disebabkan oleh infeksi VZV. VZV adalah menyelimuti,


doublestranded virus DNA milik keluarga Herpesviridae; genom
mengkodekan sekitar 70 protein. Pada manusia, infeksi primer dengan VZV
terjadi ketika virus datang ke dalam kontak dengan mukosa dari saluran
pernapasan atau konjungtiva. Dari situs ini, itu didistribusikan ke seluruh
tubuh. Setelah infeksi primer, virus bermigrasi sepanjang serabut saraf
sensorik ke sel-sel satelit dari dorsal ganglia akar di mana ia menjadi
terbengkalai
DAFTAR PUSTAKA

Janniger, Camila,, K, MD, 2017 May 04. Herpes Zoster. The heart org medscape.

Maharani, Ayu,2015. Penyakit Kulit. Yogyakarta : Pustaka Baru Press.

Kalangi, Sonni, J, R, 2013 November. Histologi Kulit. Nanda. 2015.

Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi.2015-2017. JakartaEGC

Nanda. 2015. Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & Nanda Nic-
Noc Edisi Revisi Jilid 3. 2015. Mediaction

Nikma, Rohmatur & Walid Saiful. 2014. Proses Keperawatan teori & Aplikasi.
2014. Ar-Ruzz Media