Anda di halaman 1dari 19

HUBUNGAN PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG TANDA

DAN GEJALA SKIZOFRENIAPARANOID DENGAN UPAYA


MENCEGAH KEKAMBUHAN PASIEN
DI RSJD SURAKARTA

NASKAH PUBLIKASI
Di ajukan sebagai salah satu syarat
untuk meraih gelar Sarjana Keperawatan

Disusun Oleh :

TAUFIQ FAHMI YAQIN


J 210080045

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2015

1
Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Tanda Dan Gejala Skizofrenia Paranoid 1
Dengan Upaya Mencegah Kekambuhan Pasien di RSJD Surakarta
(Taufiq Fahmi Yaqin)

PENELITIAN

HUBUNGAN PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG TANDA DAN


GEJALA SKIZOFRENIA PARANOID DENGAN UPAYA MENCEGAH
KEKAMBUHAN PASIEN DI RSJD SURAKARTA

Taufiq Fahmi Yaqin .*


Arif Widodo, A.Kep., M.Kes **
Endang Zulaicha S, S.Kp. ***

Abstrak

Penanganan penderita gangguan jiwa belumlah memuaskan, hal ini


terutama terjadi di negara yang sedang berkembang, disebabkan ketidaktahuan
(ignorancy) keluarga maupun masyarakat terhadap jenis gangguan jiwa
diantaranya adalah masih terdapatnya pandangan yang negative (stigma) dan
bahwa gangguan jiwa bukanlah suatu penyakit yang dapat diobati dan
disembuhkan. Kedua hal tersebut di atas menyebabkan penderita gangguan jiwa
mengalami perlakuan yang diskriminatif dan tidak mendapatkan pertolongan
yang memadai. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan
keluarga tentang tanda dan gejala skizofrenia paranoid dengan upaya mencegah
kekambuhan pada pasien di Instalasi Rawat Jalan RSJD Surakarta tahun 2013.
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional.
Sampel penelitian adalah 87 keluarga klien saat pasien periksa rawat jalan di
Instalasi Rawat Jalan di RSJD Surakarta. Teknik pengolahan data menggunakan
teknik Chi Square. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka
kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) Pengetahuan keluarga tentang tanda
dan gejala kekambuhan skizofrenia pada keluarga pasien skizofrenia sebagian
besar adalah cukup (48%), (2) upaya mencegah kekambuhan keluarga terhadap
kekambuhan skizofrenia sebagian besar adalah cukup (47%), dan (3) terdapat
hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang tanda dan gejala
skizofreia paranoid dengan upaya mencegah kekambuhan kepada pasien
skizofreia paranoid di Instalasi Rawat Jalan RSJD Surakarta (p-value = 0,000).

Kata kunci: pengetahuan keluarga, tanda dan gejala skizofrenia paranoid, upaya
mencegah kekambuhan pasien skizofrenia paranoid.
Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Tanda Dan Gejala Skizofrenia Paranoid 2
Dengan Upaya Mencegah Kekambuhan Pasien di RSJD Surakarta
(Taufiq Fahmi Yaqin)

THE CORRELATION OF FAMILY KNOWLEDGE ABOUT SIGNS AND SYMPTOMS


PARANOID SCHIZOPHRENIA EFFORTS TO PREVENT RECURRENCE
PATIENTS AT RSJD OF SURAKARTA

Taufiq Fahmi Yaqin .*


Arif Widodo, A.Kep., M.Kes **
Endang Zulaicha, S.Kp. ***

Abstract

Treatment of patients with mental disorders has not been satisfactory, it


was especially true in developing countries, due to ignorance family and the
community against this type of mental disorder was still the presence of such a
negative view (stigma) and that a mental disorder was not an illness that can be
treated and cured. Both of the above led to people with mental disorders
experience discrimination and were not getting adequate help. This study aims to
determine the relationship of family knowledge about the signs and symptoms of
paranoid schizophrenia with efforts to prevent relapse in patients in the
Outpatient Installation RSJD Surakarta in 2013. This research was quantitative
research with cross sectional approach. The samples were 87 families when the
outpatient client came at RSJD Outpatient Installation in Surakarta. Data
processing techniques using Chi Square technique. Based on the results of
research and discussion, the conclusions of this study were : (1) family
knowledge about the signs and symptoms of relapse of schizophrenia in relatives
of patients with schizophrenia was largely sufficient (48%), (2) efforts to prevent
the recurrence of the family against relapse of schizophrenia was largely
sufficient (47%), and (3) there was a significant relationship between knowledge
of the signs and symptoms of paranoid skizofreia with efforts to prevent relapse
in patients skizofreia paranoid Outpatient Installation RSJD Surakarta (p-value =
0,000)..

Keywords: family knowledge, signs and symptoms of paranoid schizophrenia,


efforts to prevent recurrence paranoid schizophrenia patients.

.
Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Tanda Dan Gejala Skizofrenia Paranoid 3
Dengan Upaya Mencegah Kekambuhan Pasien di RSJD Surakarta
(Taufiq Fahmi Yaqin)

PENDAHULUAN penderita gangguan jiwa belumlah


Di zaman era memuaskan, hal ini terutama terjadi
globalisasi ini banyak sekali di negara yang sedang berkembang,
masyarakat yang mengalami disebabkan ketidaktahuan
gangguan jiwa dan biasanya klien (ignorancy) keluarga maupun
yang telah mengalami gangguan masyarakat terhadap jenis
jiwa akan mengalami kekambuhan. gangguan jiwa diantaranya adalah
WHO (2001) menyatakan, paling masih terdapatnya pandangan yang
tidak ada satu dari empat orang di negative (stigma) dan bahwa
dunia mengalami masalah mental gangguan jiwa bukanlah suatu
dan saat ini di perkirakan ada 450 penyakit yang dapat diobati dan
juta jiwa mengalami gangguan disembuhkan. Kedua hal tersebut di
kesehatan jiwa (Yosep, 2007). atas menyebabkan penderita
Berdasarkan hasil Riset gangguan jiwa mengalami perlakuan
Kesehatan Dasar (2007) jumlah yang diskriminatif dan tidak
pasien dengan gangguan jiwa berat mendapatkan pertolongan yang
adalah 4,6 per seribu penduduk. memadai.
Sehingga diperkirakan jumlah pasien Gangguan jiwa termasuk
pada kelompok usia 15-64 tahun dalam penyakit yang statusnya
adalah 650.000-700.000 orang. sama dengan penyakit lain yang
Diperkirakan penduduk Indonesia bisa diobati dan disembuhkan. Pada
yang menderita gangguan jiwa banyak kasus, pasien gangguan jiwa
sebesar 2-3% jiwa. Beban gangguan secara medis dinyatakan sembuh
jiwa yang bersifat kronik dan dan dikembalikan kepada
ketidakmampuan yang diakibatkan keluarganya. Namun, dalam
dihitung dengan indikator DALY beberapa bulan mengalami
(Disability Adjusted Life Year) atau kekambuhan. Kekambuhan kembali
hilangnya waktu produktif dalam mantan penderita gangguan jiwa
setahun), dimana pada tahun 1995 sebagian besar disebabkan oleh
adalah 8,1% lebih tinggi dari dampak kurangnya perhatian dari lingkungan
yang diakibatkan penyakit TBC dan bahkan keluarga sendiri
(7,2%), Kanker (5,8%), Penyakit sehingga berakibat pada lambatnya
Jantung (4,4%), Malaria (2,6%). proses penyembuhan. Hal itu
Angka tersebut pada tahun 2000 diungkapkan dr. Eniarti M.Sc. Sp.Kj,
menjadi 12,3%, dan diproyeksikan Direktur Medik dan Keperawatan
menjadi 15% pada tahun 2020 RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang,
(Kusumawati, 2010). Jateng. (Magelang Kompas, 2011).
Dilihat dari sejarahnya Menurut Sullinger (1988)
dahulu penanganan pasien dalam Yosep (2009), kekambuhan
gangguan jiwa dengan cara pasung, pasien gangguan jiwa disebabkan
dirantai atau diikat kuat-kuat lalu oleh banyak faktor, Salah satu faktor
ditempatkan tersendiri ditempat yang yang menyebabkan kekambuhan
jauh atau bahkan dihutan bila klien gangguan jwa adalah keluarga
gangguan jiwanya berat. Bila pasien yang tidak tahu cara menangani
tersebut tidak berbahaya dibiarkan prilaku klien dirumah. Menurut
berkeliaran di jalan mencari makan Sullinger (1988) dalam Nasir (2011),
sendiri dan menjadi tontonan serta klien dengan diagnosis skizofrenis
gunjingan masyarakat umum (Direja, diperkirakan akan kambuh 50%
2011). Menurut Hawari (2007), pada tahun pertama, 70% pada
hingga sekarang penanganan tahun kedua, dan 100% pada tahun
Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Tanda Dan Gejala Skizofrenia Paranoid 4
Dengan Upaya Mencegah Kekambuhan Pasien di RSJD Surakarta
(Taufiq Fahmi Yaqin)

kelima setelah pulang dari rumah gangguan dan kekambuhan


sakit karena perlakuan yang salah gangguan jiwa merupakan masalah
selama dirumah atau di masyarakat. yang tidak bisa dianggap ringan dan
Dalam pengetahuan keluarga perlu penanganan dan perawatan
tentang tanda dan gejala yang efektif dari petugas kesehatan
kekambuhan sangat penting karena dan juga bagi keluarga. Jadi dapat
itu setelah klien pulang ke rumah dilihat bahwa keluarga khususnya
maka peran perawat di rumah sakit pengetahuan keluarga sangat
jiwa digantikan oleh keluarga yang penting dan berpengaruh dalam
ada dirumah. Sikap permusuhan proses terjadinya kekambuhan
yang ditunjukkan oleh keluarga gangguan jiwa.
terhadap klien akan berpengaruh Berdasarkan studi
terhadap kekambuhan klien. pendahuluan di Rumah Sakit Jiwa
Keluarga dengan ekspresi emosi Daerah (RSJD) Surakarta
yang tinggi seperti bermusuhan, didapatkan data penderita
mengkritik, banyak melibatkan diri skizofrenia paranoid pada tahun
dengan klien diperkirakan klien akan 2008 terdapat 434 klien, tahun 2009
kambuh atau mengalami ada 395 klien, sedangkan tahun
kekambuhan dalam waktu Sembilan 2010 meningkat menjadi 407 klien.
bulan. Hasil wawancara dengan petugas
Tingkat pengetahuan poliklinik di RSJD Surakarta
keluarga terkait konsep sehat sakit menyatakan bahwa penyuluhan
akan mempengaruhi prilaku tentang pencegahan kekambuhan
keluarga dalam menyelesaikan pada pasien dengan gangguan jiwa
masalah kesehatan keluarga sudah pernah dilakukan. Hasil
(Mubarak, 2010). Beberapa wawancara dengan 5 keluarga
penyebab kekambuhan pasien pasien skizofrenia paranoid yang
gangguan jiwa salah satunya adalah kambuh setelah ± 2 bulan di rumah,
keluarga khususnya pada fungsi 3 keluarga sudah tahu tentang tanda
keluarga yang berkaitan dengan dan gejala dan pernah mendapatkan
kesehatan yaitu fungsi perawatan penyuluhan kesehatan tentang
kesehatan keluarga (Wiramihardja, skizofrenia paranoid.
2007). Berdasarkan hasil pre survey
Keluarga merupakan penelitian dengan teknik wawancara
faktor yang sangat penting dalam terhadap keluarga klien yang
proses kesembuhan gangguan jiwa. mengalami kekambuhan gangguan
Keluarga merupakan lingkungan jiwa di Instalasi Rawat Jalan Rumah
terdekat pasien, dengan keluarga Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta
yang bersikap terapeutik dan tahun 2012 dilakukan pada 16
mendukung pasien, masa responden ternyata didapatkan 2
kesembuhan pasien dapat (12,5%) responden belum mengenal
dipertahankan selama mungkin. masalah kesehatan keluarga, 4
Berdasarkan penelitiaan, ditemukan (25%) responden belum
bahwa angka kambuh pada pasien memberikan perawatan yang
gangguan jiwa tanpa terapi keluarga maksimal kepada keluarga yang
sebesar 25%-50%, sedangkan sakit, 3 (18,75%) responden belum
angka kambuh pada pasien yang bisa mempertahankan suasana
mendapatkan terapi keluarga adalah rumah yang sehat, 5 (31,25%)
sebesar 5%-10% (Keliat, 2009). responden belum bisa membuat
Dapat dilihat dari data bahwa keputusan yang tepat, 2 (12,5%)
Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Tanda Dan Gejala Skizofrenia Paranoid 5
Dengan Upaya Mencegah Kekambuhan Pasien di RSJD Surakarta
(Taufiq Fahmi Yaqin)

responden belum menggunakan Faktor yang mempengaruhi


fasilitas kesehatan dimasyarakat. pengetahuan menurut Notoatdmojo
Berdasarkan latar belakang (2003 & 2007)
diatas peneliti tertarik untuk 1) Pendidikan.
melakukan penelitian tentang Pendidikan adalah suatu usaha
hubungan pengetahuan keluarga untuk mengembangkan
tentang tanda dan gejala skizofrenia kepribadian dan kemampuan di
paranoid dengan upaya mencegah dalam dan di luar sekolah dan
kekambuhan pada pasien di berlangsung seumur hidup.
Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit 2) Lingkungan
Jiwa Daerah Surakarta tahun 2013. Lingkungan adalah segala
sesuatu yang ada di sekitar
individu, baik lingkungan fisik,
LANDASAN TEORI
biologis, maupun sosial.
3) Mass media / informasi.
Tinjauan Pustaka
Informasi yang diperoleh baik
dari pendidikan formal maupun
Pengetahuan
non formal dapat memberikan
Pengetahuan atau kognitif
pengaruh jangka pendek
merupakan dominan yang sangat
(immediate impact) sehingga
penting dalam membentuk tindakan
menghasilkan perubahan atau
seseorang atau over behavior
peningkatan pengetahuan.
(Notoatmodjo, 2010). Menurut Potter
4) Sosial budaya dan ekonomi.
dan Perry (2010) Kemampuan
Kebiasaan dan tradisi yang
kognitif seseorang dibentuk dari cara
dilakukan orang-orang tanpa
berpikir seseorang dan selalu
melalui penalaran apakah yang
berhubungan dengan tahap
dilakukan baik atau buruk.
perkembangan individu.
5) Persepsi
Pengetahuan keluarga
Persepsi mengenal dan memilih
mengenai kesehatan mental
objek sehubungan dengan
merupakan awal usaha dalam
tindakan yang akan diambil.
memberikan iklim yang kondusif bagi
6) Motivasi
anggota keluarganya. Keluarga
Motivasi merupakan dorongan
selain dapat meningkatkan dan
keinginan dan tenaga penggerak
mempertahankan kesehatan mental
yang berasal dari dalam diri
anggota keluarga, juga dapat
seseorang untuk melakukan
menjadi sumber problem bagi
sesuatu dengan
anggota keluarga yang mengalami
mengesampingkan hal-hal yang
persoalan kejiwaan (Nurdiana dkk.
dianggap kurang bermanfaat,
2007).
dalam mencapai tujuan dan
Menurut Notoatmodjo (2007)
munculnya motivasi dan
pengetahuan tercakup dalam
memerlukan rangsangan dari
domain kognitif mempunya 6
individu maupun dari luar.
tingkatan yaitu:
7) Pengalaman.
1) Tahu (know)
Pengalaman sebagai sumber
2) Memahami
pengetahuan adalah suatu cara
3) Aplikasi
untuk memperoleh kebenaran
4) Analisis
pengetahuan dengan cara
5) Sintesis
mengulang kembali
6) Evaluasi
pengetahuan yang diperoleh
Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Tanda Dan Gejala Skizofrenia Paranoid 6
Dengan Upaya Mencegah Kekambuhan Pasien di RSJD Surakarta
(Taufiq Fahmi Yaqin)

dalam memecahkan masalah sakit. Keluarga haruslah mampu


yang dihadapi masa lalu. menentukan kapan meminta
8) Usia. pertolongan kepada tenaga
Usia mempengaruhi terhadap profesional ketika salah satu
daya tangkap dan pola pikir anggotanya mengalami gangguan
seseorang. kesehatan.
Kemampuan keluarga dalam
Keluarga memberikan asuhan kesehatan
Keluarga merupakan suatu akan mempengaruhi tingkat
perkumpulan dua atau lebih individu kesehatan keluarga dan individu,
yang diikat oleh hubungan darah, tingkat pengetahuan keluarga terkait
perkawinan atau adopsi, dan tiap- konsep sehat sakit akan
tiap anggota keluarga selalu mempengaruhi prilaku keluarga
berinteraksi satu sama lain. dalam menyelesaikan masalah
Keluarga merupakan unit dasar atau kesehatan keluarga. Kesanggupan
pondasi dari sebuah pondasi dari keluarga melaksanakan perawatan
sebuah komunitas dan merupakan atau pemeliharaan kesehatan dapat
bagian tepenting dalam dilihat dari tugas kesehatan keluarga
pembentukan sebuah karakter yang dilaksanakan, keluarga yang
individu, sebagai sistem keluarga melaksanakan tugas kesehatan
mempunyai anggota yaitu: ayah, ibu, dengan baik berarti sanggup
dan anak atau semua individu yang menyelesaikan masalah kesehatan
tinggal di dalam rumah tangga keluarga. Selain keluarga mampu
tersebut. Anggota keluarga tersebut melaksanakan fungsi dengan baik,
saling berinteraksi, interelasi, dan keluarga juga harus mampu
interdependensi untuk mencapai melakukan tugas kesehatan
tujuan bersama (Mubarak, 2010). keluarga.
Menurut Friedman (1998) Dalam menjalankan fungsi
dalam Mubarak (2010) perawatan keluarga, keluarga harus
mengidentifikasi lima fungsi dasar bisa memberikan perawatan
keluarga yaitu: fungsi afektif, fungsi kesehatan yang optimal terhadap
sosialisasi, fungsi reproduksi, fungsi seluruh anggota keluarganya
ekonomi, fungsi perawatan terutama terhadap anggota keluarga
keluarga. Berdasarkan fungsi yang sakit. Agar perawatan
perawatan keluarga, keluarga kesehatan dapat diberikan secara
memberikan perawatan kesehatan optimal, maka harus ada sistem
yang bersifat preventif dan secara kesehatan keluarga (FHS) yang
bersama-sama merawat anggota baik, Menurut Anderson (2005)
keluarga yang sakit, lebih jauh lagi dalam Potter (2010), FHS adalah
keluarga mempunyai sebuah model holistik yang membantu
tanggung jawab yang utama untuk pengkajian dan perawatan bagi
memulai dan mengoordinasi keluarga. Sistem kesehatan
pelayanan yang diberikan oleh para keluarga (FHS) meliputi bagian
profesional perawatan, keluarga kehidupan keluarga yaitu: interaksi,
menyediakan makanan, pakaian, perkembangan, adaptasi, integritas
perlindungan, dan memelihara dan kesehatan. FHS menggunakan
kesehatan. Keluarga melakukan penilaian keluarga untuk
praktik asuhan kesehatan untuk menentukan area yang bermasalah
mencegah terjadinya gangguan atau dan kekuatan keluarga berdasarkan
merawat anggota keluarga yang lima bagian tersebut. Fungsi
Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Tanda Dan Gejala Skizofrenia Paranoid 7
Dengan Upaya Mencegah Kekambuhan Pasien di RSJD Surakarta
(Taufiq Fahmi Yaqin)

keluarga merupakan apa yang 1) Membuat suatu keadaan di


dilakukan keluarga terebut. Aspek mana anggota keluarga dapat
fungsional khusus berupa cara melihat bahaya terhadap diri
reproduksi keluarga, interaksi sosial klien dan aktifitasnya dengan
keluarga yang lebih mudah, bekerja cara mengurangi rasa takut,
sama untuk pemenuhan kebutuhan memberikan arahan, menolong
ekonomi, dan cara berhubungan mereka dapat merasa tenang.
dengan masyarakat luas (Hanson, 2) Tidak merasa takut dan mampu
2005 dalam Potter, 2010). bersifat terbuka dengan
Menurut Keliat (2011), dalam menyusun pertanyaan untuk
piramida pelayanan kesehatan jiwa mengurangi rasa takut. Dan
komunitas. Kebutuhan pelayanan menguatkan anggapan anggota
jiwa terbesar adalah kebutuhan dan menanyakan anggapan
kesehatan jiwa yang dapat dipenuhi individu. Mendapatkan fakta
oleh individu dan keluarga. tentang rencana dan kelemahan
Banyak masalah kesehatan proses, persepsi pribadi dan
jiwa yang dapat diatasi oleh orang lain.
keluarga dan individu. Pada tingkat 3) Membantu anggota bagaimana
piramida pelayanan kesehatan, memandang orang lain dengan
memberdayakan keluarga dengan cara obsevasi sharing.
anggota keluarga adalah suatu hal 4) Bertanya dan memberikan
yang sangat penting dalam informasi yang langsung (tidak
kesehatan jiwa komunitas. berbelit-belit).
Jadi dapat terlihat jelas bahwa 5) Membangun Self sistem dengan
kemampuan sebuah keluarga dalam cara menghargai klien, dan
pemberian asuhan kesehatan pada memberi kepercayaan pada
tiap-tiap individu di dalam keluarga klien.
sangat menentukan baik buruknya 6) Menurunkan ancaman dengan
kesehatan keluarga (Mubarak, latar belakang aturan untuk
2010), contohnya jika di dalam interaksi.
anggota keluarga ada yang 7) Menurunkan ancaman dengan
mengalami gangguan jiwa dan di struktur.
dalam lingkungan keluarga tidak 8) Pendidikan ulang anggota
nyaman atau tidak termodifikasi keluarga untuk bertanggung
dengan baik maka klien gangguan jawab.
jiwa dapat mengalami kekambuhan.
Peran keluarga terbagi dalam Skizofrenia Paranoid
peran-peran formal dan peran-peran Skizofrenia adalah gangguan
informal keluarga, peran formal yang benar-benar membingungkan
keluarga merupakan peran-peran dan menyimpan banyak tanda tanya
yang terkait terhadap sejumlah (teka-teki). Kadangkala skizofrenia
prilaku yang bersifat homogen, dapat berpikir dan berkomunikasi
keluarga memberi peran yang dengan jelas, memiliki pandangan
merata kepada para anggotanya, yang tepat dan berfungsi secara baik
sedangkan peran infomal keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Namun
bersifat implisit, biasnya tidak pada saat yang lain, pemikiran dan
tampak (Mubarak, 2010). kata-kata terbalik, mereka
Peran keluarga dalam terapi kehilangan sentuhan dan mereka
menurut Nasir (2011) tidak mampu memelihara diri
mereka sendiri (Nolen, 2004).
Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Tanda Dan Gejala Skizofrenia Paranoid 8
Dengan Upaya Mencegah Kekambuhan Pasien di RSJD Surakarta
(Taufiq Fahmi Yaqin)

Skizofrenia adalah sebelum keluar dari RS mempunyai


sekelompok reaksi psikotik yang karakteristik hiperaktif, tidak mau
mempengaruhi berbagai fungsi minum obat dan memiliki sedikit
individu, termasuk berpikir dan keterampilan sosial.
berkomunikasi, menerima dan Masih menurut Sullinger
menginterpretasikan realitas, (1988) dalam Yosep (2009),
merasakan dan menunjukkan emosi mengkaji beberapa gejala kambuh
dan perilaku dengan sikap yang yang diidentifikasi oleh klien dan
dapat diterima secara sosial (Isaac, keluarganya, biasanya klien merasa
2005). nervous, tidak nafsu makan, sukar
Menurut Sumarjono (2010) konsentrasi, sulit tidur, depresi, tidak
Skizofrenia paranoid adalah orang ada minat, dan menarik diri. Menurut
yang mempunyai kepercayaan atau Videbeck (2008) pada gangguan
menganggap sesuatunya aneh, ada jiwa psikotik akan timbul gejala
yang ganjil, yang salah tetapi tidak positif yang aktif seperti waham,
mau diluruskan. Dia biasanya halusinasi, gangguan pikir, ekopasia,
bersikap curiga yang berlebihan asosiasi longgar, flight of ideas.
pada orang lain, sering menganggap Menurut Stuart (2009) tahapan
dirinya diguna-guna orang lain. Dia dari kambuh adalah:
menganggap bahwa orang lainlah a. Overextension
penyebab kegagalan-kegagalannya. b. Restricted Consciousnes
Biasanya dia sangat peka (sensitif), c. Disinhibition
emosional dan mudah sekali cemas. d. Disorganisasi psikotik
Dia juga kurang percaya diri dan e. Resolusi psikotik
kualitas hidupnya juga menurun, Menurut Sullinger (1998)
serta sering diserang penyakit dalam Nasir (2011) ada beberapa
depresi. faktor yang mempengaruhi
kekambuhan penderita gangguan
Kekambuhan jiwa meliputi:
Menurut kamus besar bahasa a. Klien
Indonesia (2007) kambuh diartikan Klien merupakan orang
jatuh sakit lagi. Menurut Ramali yang mengalami gangguan,
(2005), Kambuh merupakan kesembuhan dan kekambuhan
seseorang yang jatuh sakit lagi suatu penyakit khususnya jiwa
sesudah sembuh atau serangan bisa dipengaruhi oleh klien itu
(bangkitnya) kembali penyakit yang sendiri ditunjang dengan
telah sembuh. Kambuh merupakan berbagai penyebab lain, yang
keadaan klien dimana muncul gejala menujang kesembuhan atau
yang sama seperti sebelumnya dan kekambuhan klien itu sendiri.
mengakibatkan klien harus dirawat Sudah umum diketahui
kembali (Andri, 2008). bahwa klien yang gagal
Kekambuhan biasanya terjadi memakan obat secara teratur
karena adanya kejadian buruk mempunyai kecenderugan
sebelum mereka kambuh untuk kambuh.
(Wiraminardja, 2007). Angka Berdasarkan hasil
kekambuhan secara positif penelitian menunjukan bahwa
hubungan dengan beberapa kali 25-50 % klien pulang dari
masuk Rumah Sakit (RS), lamanya rumah sakit tidak memakan
dan perjalanan penyakit. Penderita- obat secara teratur Appelton
penderita yang kambuh biasanya
Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Tanda Dan Gejala Skizofrenia Paranoid 9
Dengan Upaya Mencegah Kekambuhan Pasien di RSJD Surakarta
(Taufiq Fahmi Yaqin)

(1982) dikutip oleh Sullinger dan mengurangi stres (Nasir,


(1998) dalam Nasir (2011). 2011).
b. Dokter Keluarga merupakan faktor
Makan obat secara teratur yang sangat penting dalam proses
dapat mengurangi frekuensi kesembuhan gangguan jiwa.
kekambuhan, namun Keluarga merupakan lingkungan
pemakain obat neuroplatik terdekat pasien, dengan keluarga
yang lama dapat yang bersikap terapeutik dan
mengganggu hubungan sosial mendukung pasien, masa
gerakan tidak terkontrol kesembuhan pasien dapat
menimbulkan efek samping dipertahankan selama mungkin.
tardive diskinesia yang dapat Sebaliknya, jika keluarga kurang
mengganggu hubungan sosial mendukung, angka kekambuhan
seperti gerakan tidak menjadi lebih cepat. Berdasarkan
terkontrol. Pada pemberian penelitiaan, ditemukan bahwa angka
resep, seorang dokter kambuh pada pasien gangguan jiwa
diharapkan tetap waspada tanpa terapi keluarga sebesar 25%-
mengidentifikasi dosis 50%, sedangkan angka kambuh
terapetik yang dapat pada pasien yang mendapatkan
mencegah kambuh dan terapi keluarga adalah sebesar 5%-
menurunkan efek samping . 10% (Keliat, 2009).
c. Penanggung jawab klien (case Beberapa penyebab
maneger) kekambuhan pasien gangguan jiwa
Setelah klien kembali salah satunya adalah keluarga
pulang ke rumah maka khususnya pada fungsi keluarga
perawat puskesmas tetap yang berkaitan dengan kesehatan
bertanggung jawab atas yaitu fungsi perawatan kesehatan
program adaptasi klien keluarga. Keluarga merupakan suatu
dirumah. sistem yang kompleks. Sistem
d. Keluarga keluarga dapat berfungsi dengan
Keluarga merupakan baik dan memelihara taraf
tempat utama dan terpenting kesehatan anggota-anggotanya,
dalam pembentukan karakter serta mendukung perkembangan
dan kejiwaan seseorang. setiap anggotanya dan menerima
Kekambuhan klien juga serta melakukan perubahan-
dipengaruhi keluarga. Klien perubahan. Namun, sistem keluarga
yang tinggal dengan keluarga juga dapat menimbulkan
yang ekspresi emosinya tinggi disfungsional, meskipun hanya pada
diperkirakan kambuh dalam satu atau beberapa angggota
waktu sembilan bulan. keluarga saja, akan mempengaruhi
Hasilnya 57% kembali di rawat anggota yang lain (Wiramihardja,
dari keluarga dengan 2007).
emosinya tinggi dan 17% Anggota keluarga dapat
dirawat dari keluarga dengan membantu pasien mengidentifikasi
emosi rendah. Selain itu, klien gejala dan memberikan dukungan
juga mudah dipengaruhi oleh dan perawatan, kekambuhan dapat
stres yang menyenangkan diprediksi jika keluarga pasien selalu
maupun yang menyedihkan. waspada terhadap tanda-tanda
Dengan terapi keluarga, klien peringatan (tanda-tanda
dan keluarga dapat mengatasi
Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Tanda Dan Gejala Skizofrenia Paranoid 10
Dengan Upaya Mencegah Kekambuhan Pasien di RSJD Surakarta
(Taufiq Fahmi Yaqin)

kekambuhan gangguan jiwa anggota diri, waham, halusinasi,


keluarganya), (Stuart, 2009). gangguan pikiran).
Keluarga perlu mempunyai b. Menjalani pengobatan
sikap menerima klien, memberikan yang sesuai.
respon positif kepada klien, c. Menghindari situasi yang
menghargai klien sebagai anggota mungkin memicu
keluarga dan menumbuhkan sikap timbulnya gejala. Seperti
tanggung jawab kepada klien. Sikap film-film atau program di
permusuhan yang ditunjukkan oleh televisi, pengalaman
keluarga terhadap klien akan terbaru.
berpengaruh terhadap kekambuhan d. Mempelajari tentang
klien. Keluarga dengan ekspresi keadaan sakit yang
emosi yang tinggi (bermusuhan, diderita anggota
mengkritik, banyak melibatkan diri keluarganya.
dengan klien) diperkirakan klien e. Melaksanakan latihan
kambuh dalam waktu sembilan tekhnik manajemen stress.
bulan. Pengetahuan keluarga Contoh: meditasi, berpikir
tentang tanda dan gejala positif, dan nafas dalam.
kekambuhan sangat penting oleh f. Melaksanakan aktivitas
karena setelah klien pulang ke secara terstruktur (buku
rumah maka peran perawat di rumah catatan harian mengenai
sakit jiwa digantikan oleh keluarga perasaan dan perilaku,
yang ada dirumah (Keliat, 2010). jadwal minum obat dan
Upaya preventif adalah upaya dosis, tidur, kontrol rutin).
memelihara kesehatan dengan
mencegah datangnya penyakit
(Wawan dan Dewi, 2010). Caranya
dapat dlilakukan dengan Medical
activities dan non-medical activities.
Terdapat 2 tingkatan upaya
pencegahan yaitu:
a. Primary preventive:
langsung mencegah
penyakit: medical activities
(terapi), non medical act
(minum obat).
b. Secondary preventive:
tidak langsung mencegah
penyakit (rekreasi).
Dalam Centre for
Addiction and Mental Health
(CAMH) 2009, strategi yang
dapat membantu keluarga
untuk mencegah kekambuhan:
a. Mengenali tanda kambuh
(nervous, tidak nafsu
makan, sukar konsentrasi,
sulit tidur, depresi, tidak
ada minat dan menarik
Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Tanda Dan Gejala Skizofrenia Paranoid 11
Dengan Upaya Mencegah Kekambuhan Pasien di RSJD Surakarta
(Taufiq Fahmi Yaqin)

Kerangka Konsep Populasi dan Sampel


V. Bebas V. Terikat
Populasi pada penelitian ini yaitu
adalah keluarga klien yang
Pengetahuan Upaya mencegah menghantar klien di Instalasi Rawat
keluarga tentang kekambuhan pasien
skizofrenia parnoid Jalan RSJD Surakarta pada rentang
tanda dan gejala
skizofrenia
waktu pengumpulan data penelitian
paranoid dilakukan.
Penelitian ini menggunakan
teknik acidental sampling, dengan
Variablel perancu: dengan mengambil kasus atau
1. Tingkat pendidikan
keluarga responden yang kebetulan ada atau
2. Kurangnya pengetahuan tersedia di suatu tempat sesuai
3. Persepsi yang negative dengan konteks penelitian.
4. Sosial budaya
Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan alat
Gambar 1. Kerangka Konsep
ukur berupa kuesioner.
Hipotesis
Analisis Data
Ho : Tidak ada hubungan antara
Analisa data pada penelitian ini
pengetahuan keluarga
adalah univariat dan bivariat.
tentang tanda dan gejala
Analisis univariat menggunakan
skizofrenia paranoid dengan
tabel atau grafik, sedangkan analisis
upaya mencegah
bivariat menggunakan uji Chi
kekambuhan pasien di RSJD
Square.
Surakarta tahun 2013
Ha : Ada hubungan antara
HASIL PENELITIAN DAN
pengetahuan keluarga
PEMBAHASAN
tentang tanda dan gejala
skizofrenia paranoid dengan
Analisis Univariat
upaya mencegah
kekambuhan pasien di RSJD
Surakarta tahun 2013
Tingkat Pengetahuan Keluarga
tentang Tanda dan Gejala
METODELOGI PENELITIAN
Skizofreia Paranoid
Rancangan Penelitian Tabel 1 Tabulasi Data
Penelitian ini merupakan Pengetahuan Tentang
penelitian kuantitatif dengan Tanda dan gejala
pendekatan cross sectional, yang Skizofreia Paranoid
melihat upaya keluarga untuk
mencegah kekambuhan pada pasien No Kategori Frek %
skizofrenia paranoid berkaitan 1 Baik (Skor >17,8) 22 25
dengan pengetahuan keluarga Cukup (Skor 11,6 –
2 42 48
tentang tanda dan gejala skizofrenia 17,8)
paranoid. 3 Kurang (Skor <11,6) 23 26
Total 87 100

Berdasarkan tabel 1 tersebut


diatas hasil analisis univariat data
Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Tanda Dan Gejala Skizofrenia Paranoid 12
Dengan Upaya Mencegah Kekambuhan Pasien di RSJD Surakarta
(Taufiq Fahmi Yaqin)

pengetahuan responden tentang Hubungan pengetahuan


tanda dan gejala skizofreia paranoid keluarga tentang tanda dan gejala
mayoritas memiliki pengetahuan skizofrenia dengan upaya mencegah
cukup, yaitu sebanyak 42 responden kekambuhan menunjukkan pada
(48%), selanjutnya kurang sebanyak pengetahuan kurang sebagian
23 responden (26%) dan baik memiliki upaya mencegah dalam
sebanyak 22 responden (25%). kategori kurang yaitu sebanyak 11
responden (12,6%), sedangkan
Upaya mencegah kekambuhan pada pengetahuan cukup sebagian
pada Pasien besar memiliki upaya yang cukup
yaitu sebanyak 25 responden
Tabel 2. Tabulasi Data Upaya (28,7%), dan pada pengetahuan
mencegah kekambuhan baik sebagian besar memiliki upaya
kepada Pasien Skizofreia yang baik yaitu sebanyak 13
Paranoid responden (14,9%).
No Kategori Frek % Hasil analisis Chi Square
1 Baik (Skor >15,6) 21 24 untuk menguji hipotesis penelitian
2 Cukup (Skor 9,2 – 15,6) 41 47 yaitu adanya hubungan
3 Kurang (Skor <9,2) 25 29
Total 87 100
pengetahuan keluarga tentang tanda
dan gejala skizofrenia paranoid
Berdasarkan tabel 2 diatas, dengan upaya mencegah
menunjukkan bahwa upaya kekambuhan pada pasien di
mencegah kekambuhan kepada Instalasi Rawat Jalan RSJD
pasien skizofreia paranoid sebagian Surakarta tahun 2013 diperoleh nilai
besar adalah cukup yaitu sebanyak χ2hitung sebesar 23,560 dengan
41 responden (47%), selanjutnya tingkat signifikansi (p-value) sebesar
kurang sebanyak 25 responden 0,000. Pada taraf kesalahan alfa (α)
(29%), dan baik sebanyak 21 =5% dapat disimpulkan bahwa
responden (24%). hubungan pengetahuan keluarga
tentang tanda dan gejala skizofrenia
Analisis Bivariat paranoid dengan upaya mencegah
Tabel 3 Hasil Analisis Chi Square kekambuhan pada pasien di
Hubungan Pengetahuan Instalasi Rawat Jalan RSJD
Keluarga Tentang Tanda Surakarta tahun 2013 adalah
Dan Gejala Skizofrenia bermakna atau signifikan. Nilai
Paranoid Dengan Upaya koefisien korelasi (r) sebesar 0,417
Mencegah Kekambuhan menunjukkan bahwa arah korelasi
Pada Pasien di Instalasi positif dengan kekuatan korelasi
Rawat Jalan RSJD yang cukup.
Surakarta tahun 2013
Upaya Mencegah
Pengeta Kekambuhan PEMBAHASAN
huan Kurang Cukup Baik Total
F % F % F % F %
Kurang 11 12,6 9 10,3 3 3,4 23 26,4 Tingkat Pengetahuan Keluarga
Cukup 12 13,8 25 28,7 5 5,7 42 48,3 tentang Tanda dan Gejala
Baik 2 2,3 7 8,0 13 14,9 22 25,3 Skizofreia Paranoid
Total 25 28,7 41 47,1 21 24,1 87 100
Distribusi tingkat
χ2hitung = 23,560
p-value = 0,000 pengetahuan keluarga tentang tanda
Keputusan = H0 ditolak dan gejala skizofrenia paranoid
rhitung = 0,417 menunjukkan sebagian besar adalah
Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Tanda Dan Gejala Skizofrenia Paranoid 13
Dengan Upaya Mencegah Kekambuhan Pasien di RSJD Surakarta
(Taufiq Fahmi Yaqin)

cukup yaitu sebanyak 42 responden merawat pasien skizofrenia.


(48%). Pengetahuan keluarga Pengalaman-pengalaman dalam
tentang tanda dan gejala skizofrenia penanganan pasien skizofrenia
paranoid meliputi pengetahuan dimana salah satunya tentang tanda
tentang timbulnya gangguan pikir, dan gejala skizofrenia paranoid
afek dan emosi, serta gejala selanjutnya menjadi sumber
halunisasi, waham curiga dan informasi yang membantu
kebesaran yang dialami oleh pasien responden dalam memahami tanda
skizofrenia. dan gejala skizofrenia paranoid dan
Tingkat pengetahuan akhirnya menjadi suatu
keluarga tentang tanda dan gejala pengetahuan. Hal tersebut
skizofrenia paranoid dipengaruhi sebagaimana dikemukakan oleh
oleh beberapa faktor, antara lain Notoatmodjo (2007), salah satu
tingkat pendidikan responden. bentuk objek kesehatan dapat
Distribusi tingkat pendidikan dijabarkan oleh pengetahuan yang
menunjukkan tingkat pendidikan diperoleh dari pengalaman sendiri.
responden rata-rata adalah SMP Pengalaman pribadi akan
dan SMA. Tingkat pendidikan yang meninggalkan kesan yang kuat.
dimiliki oleh responden berkaitan Dalam hal ini penghayatan akan
dengan kemampuan mereka dalam pengalaman yang lebih mendalam
memahami informasi-informasi dan lebih lama berbekas.
tentang pengetahuan kesehatan.
Tingkat pendidikan responden yang Upaya Mencegah Kekambuhan
sebagian besar dalam kategori Pasien Skizofreia Paranoid
menengah menyebabkan Distribusi upaya mencegah
kemampuan mereka dalam kekambuhan pasien skizofrenia
memahami informasi tentang tanda paranoid menunjukkan sebagian
dan gejala skizofrenia paranoid besar adalah cukup yaitu sebanyak
menjadi kurang dan berpengaruh 41 responden (47%). Upaya
terhadap tingkat pengetahuan mencegah kekambuhan oleh
mereka. keluarga terhadap pasien skizofreia
Azwar (2011) paranoid didorong oleh banyak
mengemukakan bahwa faktor–faktor faktor, salah satunya adalah budaya,
yang mempengaruhi tingkat karena kebudayaan dimana kita
pengetahuan seseorang salah hidup dan dibesarkan mempunyai
satunya adalah informasi yang pengaruh besar terhadap
berpengaruh besar terhadap opini pembentukan sikap kita.
dan kepercayaannya. Karena Kebudayaan telah menanamkan
informasi yang didapat akan garis pengaruh sikap kita terhadap
mempermudah seseorang untuk berbagai masalah. Kebudayaan
mempersepsikannya sehingga dapat telah mewarnai sikap anggota
dinilai secara langsung dari isi masyarakat, karena kebudayaanlah
informasi tersebut hingga terwujud yang memberi corak pengalaman
dalam suatu tindakan. individu- individu yang menjadi
Dalam penelitian ini terdapat anggota kelompok masyarakat
pula responden yang memiliki hanya kepribadian individu yang
pengetahuan yang baik. Tingkat telah mapan dan kuatlah yang dapat
pengetahuan responden yang baik memudarkan dominan kebudayaan
salah satunya disebabkan oleh dalam pembentukan sikap individual.
pengalaman mereka selama
Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Tanda Dan Gejala Skizofrenia Paranoid 14
Dengan Upaya Mencegah Kekambuhan Pasien di RSJD Surakarta
(Taufiq Fahmi Yaqin)

Selama ini banyak mitos koefisien korelasi (r) sebesar 0,417


yang mempengaruhi masyarakat menunjukkan bahwa arah korelasi
dengan stigma – stigma negatif positif dengan kekuatan korelasi
tentang pasien skizofreia paranoid. yang cukup.
Tanda dan gejala skizofreia paranoid Pengetahuan yang diperoleh
yang lebih memiliki kemungkinan keluarga merupakan hasil upaya
untuk dikenai stigma adalah jenis mencari tahu yang terjadi setelah
tanda dan gejala skizofreia paranoid individu tersebut melakukan
yang menunjukkan abnormalitas penginderaan. Pengindraan melalui
atau penyimpangan (deviasi) pada berbagai alat indra akan tetapi
pola perilakunya. Stigma yang lebih sebagian besar pengetahuan
memberatkan adalah tanda dan diperoleh melalui penglihatan dan
gejala skizofreia paranoid yang pendengaran. Pengetahuan atau
mempengaruhi penampilan kognitif merupakan domain yang
(performance) fisik seseorang sangat penting untuk terbentuknya
daripada tanda dan gejala tindakan seseorang atau over
skizofrenia paranoid yang tidak behavior (Notoatmojo, 2003).
berpengaruh pada penampilan fisik Pengetahuan yang dimiliki
seseorang (Syaharia, 2008). oleh keluarga merupakan hasil
Berbagai bentuk kesalahan pengumpulan informasi yang
dalam upaya mencegah mereka terima baik secara formal
kekambuhan dalam merespon misalnya penjelasan dari tenaga
kehadiran pasien skizofreia paranoid medis maupun informal misalnya
terjadi akibat konstruksi pola berpikir pengalaman mereka terhadap
yang salah akibat ketidaktahuan pasien skizofrenia. Pengetahuan
publik. Terdapat logika yang salah di yang dimiliki oleh keluarga menjadi
masyarakat, kondisi mispersepsi pijakan keluarga dalam melakukan
tersebut selanjutnya berujung pada upaya-upaya mencegah
tindakan yang tidak membantu kekambuhan pasien skizofrenia.
percepatan kesembuhan si Semakin baik pengetahuan
penderita. Masyarakat cenderung keluarga, maka pemahaman
menganggap orang dengan kelainan mereka terhadap cara-cara
mental atau tanda dan gejala mencegahan kekambuhan semakin
skizofreia paranoid sebagai sampah baik, sehingga upaya mencegah
sosial (Tarjum, 2004). kekambuhan pasien skizofrenia juga
menjadi baik.
Hubungan Pengetahuan tentang Hal tersebut sebagaimana
Tanda dan Gejala Skizofreia dikemukakan oleh Notoatmojo
Paranoid terhadap Upaya (2003), yang mengungkapkan
Mencegah Kekambuhan kepada bahwa sebelum orang mengadopsi
Pasien Skizofreia Paranoid perilaku baru, didalam orang
tersebut terjadi proses yang
Hasil analisis Chi Square berurutan, yakni: (1) Awarness
disimpulkan bahwa hubungan (kesadaran), dimana orang tersebut
pengetahuan keluarga tentang menyadari dalam arti mengetahui
tanda dan gejala skizofrenia terlebih dahulu terhadap stimulus
paranoid dengan upaya mencegah (obyek), (2) Interest (merasa
kekambuhan pada pasien di tertarik) terhadap stimulus atau
Instalasi Rawat Jalan RSJD obyek tersebut. Disini sifat obyek
Surakarta tahun 2013 adalah sudah mulai timbul, (3) Evaluation
bermakna atau signifikan. Nilai
Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Tanda Dan Gejala Skizofrenia Paranoid 15
Dengan Upaya Mencegah Kekambuhan Pasien di RSJD Surakarta
(Taufiq Fahmi Yaqin)

(menimbang-nimbang) terhadap Jalan RSJD Surakarta sebagian


baik dan tidaknya stimulus tersebut besar adalah cukup.
bagi dirinya. Hal ini sikap responden 3. Terdapat hubungan yang
sudah lebih baik lagi, (4) Trial, signifikan antara pengetahuan
dimana subyek mulai mencoba tentang tanda dan gejala
melakukan sesuatu dengan apa skizofreia paranoid dengan
yang dikehendaki oleh stimulus, dan upaya mencegah kekambuhan
(5) Adoption, dimana subyek telah kepada pasien skizofreia
berperilaku baru sesuai dengan paranoid di Instalasi Rawat Jalan
pengetahuan, kesadaran dan RSJD Surakarta.
sikapnya terhadap stimulus.
Penelitian mengenai Saran
pengetahuan dan upaya mencegah
terhadap suatu penyakit dilakukan 1. Bagi Masyarakat
oleh Wibowo (2005) yang meneliti Hasil penelitian
tentang hubungan antara diharapkan dapat membantu
pengetahuan dan upaya mencegah masyarakat untuk menambah
penyakit HIV/AIDS pada remaja di pengetahuan tentang tanda dan
Bibis Luhur Surakarta. Penelitian gejala skizofreia paranoid dan
Wibowo (2005) menghasilkan kepedulian masyarakat dalam
kesimpulan bahwa pengetahuan bersikap yang baik kepada
memiliki hubungan yang signifikan pasien skizofreia paranoid.
terhadap upaya remaja mencegah 2. Bagi Institusi Pendidikan
penyakit HIV/AIDS pada remaja di Menambah praktikum
Bibis Luhur Surakarta. dalam kurikulum dengan
Penelitian ternyata berbeda disesuaikan perkembangan ilmu,
dengan penelitian Wulansih (2008) karena ilmu kesehatan yang
tentang hubungan antara tingkat kompleks selalu mengalami
pengetahuan dan sikap keluarga perkembangan yang cepat.
dengan kekambuhan pada pasien Diharapkan dapat memberikan
skizofrenia di RSJD Surakarta. informasi lebih lanjut dan
Penelitian ini menyimpulkan bahwa memberikan pembelajaran
tidak terdapat hubungan tentang keperawatan jiwa yang
pengetahuan keluarga dengan lebih mendalam sehingga dapat
kekambuhan pasien skizofrenia. membantu masyarakat dalam
menanggulangi masalah
KESIMPULAN kesehatan jiwa dengan baik.
Kesimpulan Menggali dan mengembangkan
pengetahuan tentang Upaya
1. Pengetahuan keluarga tentang mencegah kekambuhan pada
tanda dan gejala kekambuhan pasien skizofreia paranoid serta
skizofrenia pada keluarga pasien dapat memberikan konseling
skizofrenia di Instalasi Rawat atau pendidikan kesehatan
Jalan RSJD Surakarta sebagian tentang sikap yang seharusnya
besar adalah cukup. ditujukan kepada pasien
2. Upaya mencegah kekambuhan skizofreia paranoid baik kepada
keluarga terhadap kekambuhan keluarga penderita maupun
skizofrenia pada pasien masyarakat, supaya dapat
skizofrenia di Instalasi Rawat menambah pengalaman dalam
Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Tanda Dan Gejala Skizofrenia Paranoid 16
Dengan Upaya Mencegah Kekambuhan Pasien di RSJD Surakarta
(Taufiq Fahmi Yaqin)

penerapan ilmu dan konsep Hawari, D. (2007). Pendekatan


keperawatan jiwa. holistik pada gangguan jiwa.
3. Bagi Penelitian berikutnya Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Rekomendasi untuk Isaacs, Ann. (2005).Keperawatan
penelitian yang lebih lanjut Jiwa & Psikiatri. Edisi 3
adalah mengkaji lebih dalam dan Jakarta:EGC
secara kualitatif atau Kamus Pusat Bahasa, (2007).
observasional untuk mengetahui Kamus besar bahasa
faktor – faktor lain yang Indonesia, Ed 3-Cet ke 4,
mempengaruhi upaya Jakarta: Balai Pustaka
mencegah kekambuhan Keliat, BA. (2009). Model Praktek
keluarga kepada pasien Keperawatan Profesional
skizofreia paranoid. Sehingga Jiwa. Jakarta: EGC
kedepannya mampu menjadi _________ (2011). Keperawatan
suatu pengetahuan baru dalam jiwa komunitas. Jakarta:
menanggulangi pasien skizofreia EGC
paranoid di masyarakat. Kusumawati F dan Hartono Y.
(2010). Buku ajar
keperawatan jiwa. Malang:
DAFTAR PUSTAKA Salemba Medika
Mubarak, dkk. (2010). Keperawatan
Andri, (2008). Kongres Nasional komunitas. Jilid II Jakarta:
Skizofrenia V Closing The Salemba Medika
Treathment Gap for Nasir A dan Muhit A. (2011). Dasar-
Schizophrenia. http://www. dasar keperawatan jiwa.
kabarindonesia.com/berita.p Jakarta: Salemba Medika
hp?pil=3&dn= 2 00810 Nolen, Hoeksema, S. (2004).
21083307 Diakses tanggal Abnormal Pyschology (3rd
14 Agustus 2011. ed.). New York, NY:
Azwar, Saifuddin. 2011. Penyusunan McGraw-Hill.
Skala Psikologi. Yogyakarta Notoatmodjo, S (2003). Pendidikan
: Pustaka Pelajar dan prilaku kesehatan
CAMH (2009). Center of Addition & Jakarta: Rineka Cipta
Mental Health : Overview of _____________ (2007). Promosi
Structured Relapse Kesehatan Ilmu dan Seni
Prevention. Canada : CAMH Jakarta: Rineka Cipta
Staff _____________ (2010). Metodologi
Data Rekam Medik. (2011). RSJD Penelitian Kesehatan (Edisi
Surakarta.Tidak Revisi). Jakarta:Rineka
dipublikasikan. Cipta.
Dewi, dan Wawan. (2010). Teori dan Nurdiana, Syafwani, Umbransyah.
Pengukuran Pengetahuan, (2007). Peran Serta
Sikap, dan Perilaku Keluarga Terhadap Tingkat
Manusia. Yogyakarta: Nuha Kekambuhan Klien
Medika. Skizofrenia. Jurnal Ilmiah
Direja, AHS. (2011). Buku ajar Kesehatan Keperawatan,
asuhan keperawatan jiwa. vol.3 no.1.
Jakarta: Nuha Medika Potter, P. (2010). Fundamental
keperawatan. Jakarta: EGC
Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Tanda Dan Gejala Skizofrenia Paranoid 17
Dengan Upaya Mencegah Kekambuhan Pasien di RSJD Surakarta
(Taufiq Fahmi Yaqin)

Ramali, A dan Pamoentjak. (2005).


Kamus kedokteran. Jakarta: ** Arif Widodo, A.Kep., M.Kes:
Djambaran Dosen Keperawatan FIK UMS. Jln A
Stuart, G. W. (2009). Principle and Yani Tromol Post 1 Kartasura.
practice of psychiatric
*** Endang Zulaicha S, S.Kp.:
nursing. Canada: Mosby
Dosen Keperawatan FIK UMS. Jln A
Elseiver
Yani Tromol Post 1 Kartasura
Sumarjono, Sujono. (2010).
Panduan Lulus Tes Masuk
Prajurit TNI. Jogjakarta: Diva
Press.
Syaharia, (2008). Studi Kualitatif
tentang Sikap Keluarga
terhadap Pasien Gangguan
Jiwa di wilayah Kecamatan
Sukoharjo”.Skripsi.
http://etd.eprints.ums.ac.id/2
0213/15/02._Naskah_Publik
asi.pdf. Di akses pada
tanggal 16 Maret 2013
Tarjum. (2004). Sakit Jiwa Aib?.
diakses pada
http://sivalintar.tripod.com/
pada tanggal 9 mei 2012
Videbeck, SJ. (2008). Buku ajar
keperawatan jiwa. Jakarta:
EGC.
Wibowo. J. (2005) “Hubungan
Antara Pengetahuan dan
Upaya Mencegah Penyakit
HIV/AIDS Pada Remaja di
Bibis Luhur Surakarta”.
Skripsi. Surakarta: UMS
Wiramihardja, S. (2007). Penghantar
psikologi klinis. Jakarta:
EGC
Yosep,I.(2007).“Mencegah
Gangguan Jiwa Mulai Dari
Keluarga Kita”
http://www.scribd.com/doc/8
1245196/gangguan-kejiwaan
diakses pada tanggal 10
Juni 2012
_______(2009). Keperawatan jiwa.
Bandung: Refika Aditama

*Taufiq Fahmi Yaqin : Mahasiswa


S1 Keperawatan FIK UMS. Jln A
Yani Tromol Post 1 Kartasura