Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

PANDANGAN ISLAM TENTANG ZAKAT DAN PAJAK

Di susun oleh:
NAMA : 1. Heru Wenaldi ( 6017020 )

2. Citra Agus Sanjaya ( 6017006 )

3. Romdhon ( 6017026 )

KELOMPOK : 10

PRODI: : Penjaskesrek

MATA KULIAH : Pendidikan Agama Islam

DOSEN PENGAMPU : Wati Ningsih, M.Pd

PROGRAM STUDI PENJASKESREK


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
( STKIP PGRI ) KOTA LUBUKLINGGAU
2018
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT, yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita, sehingga saya dapat

menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan judul “ Pandangan Islam Tentang

Zakat dan Pajak”.

Makalah ini disusun dengan harapan dapat menambah pengetahuan dan

wawasan kita semua untuk mengetahui pandang islam tentang zakat dan pajak.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah ini masih jauh dari

kesempurnaan. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang

sifatnya membangun guna sempurnanya karya ilmiah ini . Kami berharap semoga

Makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan bagi kami khususnya .

Lubuklinggau,05 April 2018

Kelompok 10

ii
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR ............................................................... .... ii


DAFTAR ISI ......................................................................... .... iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................ .... 1
A. Latar Belakang ............................................................... .... 1
B. Rumusan Masalah ........................................................... .... 1
C. Tujuan ......................................................................... .... 2
BAB II PEMBAHSAN ................................................................. .... 3
A. Menelusuri Konsep dan Fungsi Zakat Dalam Pandangan Islam.. 3
B. Pajak Menurut Pengertian Umum .......................................... 4
C. Pajak Menurut Umat Islam di Sebut Dharibah ( Beban ) .......... 4
D. Pendapat Negara Menurut Islam ............................................ 6
E. Sebab – Sebab Munculnya Pajak Dalam Islam ........................ 9
F. Hutang atau Pajak, Hukum Membayar Pajak Dalam islam ....... 12
G. Landasan Pajak Menurut Islam .............................................. 16
H. Definisi Pajak Menurut Pandangan Islam ............................... 18
I. Analisi Persamaan dan Perbedaan Zakat dan Pajak ................... 23
J. Ketentuan Perpajakan Tentang Zakat ....................................... 24
K. Surat / Ayat Yang Berkaitan Zakat dan Pajak ........................... 25
BAB III PENUTUP ........................................................................ ....... 27
A. Kesimpulan .......................................................................... ....... 27
B. Saran .................................................................................. ....... 27
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................... ....... 28

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Islam sebagai sistem kehidupan mengatur hubungan manusia dengan

Allah SWT (al-ibadat), dan hubungan manusia dengan makhluk (al-muamalah)

dalam seluruh aspek ekonomi, politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan

negara.

Dalam makalah ini penulis membahas antara zakat yang diatur oleh Islam

dan pajak yang dilaksanakan sebagai hasil pemikiran dan sistem keuangan

moderen, dan membahas tentang persamaaan dan perbedaan antara zakat dan

pajak.

Zakat dan pajak meskipun keduanya merupakan kewajiban dalam bidang

harta, namum keduanya merupakan falsafah yang khusus yang keduannya

berbeda sifat dan asasnya, berbeda sumbernya, sasaran,bagian serta kadarnya,

disamping itu berbeda pula prinsip, tujuan dan jaminan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa Yang di Maksud Dengan Menelusuri Konsep dan Fungsi Zakat Dalam
Pandangan Islam
2. Apa Yang di Maksud Pajak Menurut Pengertian Umum
3. Apa Yang di Maksud Pajak Menurut Umat Islam di Sebut Dharibah
4. Bagaimana Pendapat Negara Menurut Islam
5. Bagaimana Sebab – Sebab Munculnya Pajak Dalam Islam
6. Bagaimana Hutang atau Pajak, Hukum Membayar Pajak Dalam islam

1
7. Bagaimana Landasan Pajak Menurut Islam
8. Bagaimana Definisi Pajak Menurut Pandangan Islam
9. Bagaimana Analisi Perbedaan dan Persamaan Zakat dan Pajak
10. Bagaimana Ketentuan Perpajakan Tentang Zakat

C. Tujuan

1. Untuk Mengetahui Konsep dan Fungsi Zakat Dalam Pandangan Islam


2. Untuk Mengetahui Pajak Menurut Pengertian Umum
3. Untuk Mengetahui Pajak Menurut Umat Islam di Sebut Dharibah
4. Untuk Mengetahui Pendapat Negara Menurut Islam
5. Untuk Mengetahui Sebab – Sebab Munculnya Pajak Dalam Islam
6. Untuk Mengetahui Hutang atau Pajak, Hukum Membayar Pajak Dalam islam
7. Untuk Mengetahui Landasan Pajak Menurut Islam
8. Untuk Mengetahui Definisi Pajak Menurut Pandangan Islam
9. Untuk Mengetahui Analisi Perbedaan dan Persamaan Zakat dan Pajak
10. Untuk Mengetahui Ketentuan Perpajakan Tentang Zakat

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Menelusuri Konsep dan Fungsi Zakat Dalam Pandangan Islam

Aturan zakat tdak hanya bertujuan untuk mengumpulkan harta dan

memenuhi kas saja, dan bukan pula sekedar untuk menolong orang yang lemah

dan yang mempunyai kebutuhan serta menolong mereka dari kejatuhannya saja,

akan tetapi tujuan zakat yang utama adalah agar manusia lebih tinggi nilainya

daari pada harta, sehingga ia menjadi tuannya harta bukan menjadi budaknya.

Karenanya, maka kepentingan tujuan zakat bagi pemberi sama dengan

kepentingannya bagi penerima.

Al-Qur’an telah membuat ibarat tentang tujuan zakat, dihubungkan dengan

orang-orang kaya yang diambil dari padanya zakat, yaitu disimpulkan pada dua

kalimat yang terdiri dari beberapa huruf, akan tetapi keduanya mengandung aspek

yang banyak dari rahasia-rahasia zakat dan tujuan-tujuannya yang agung.

Dua kalimat tersebut adalah tathir/membersihkan dan tazkiyah/mensucikan yang

keduanya terdapat dalam firman Allah: Ambillah olehmu dari harta mereka

sedekah yang membersihkan dan mensucikan mereka. Keduanya meliputi segala

bentuk pembersihan dan pensucian, baik material maupun sepiritual, bagi pribadi

orang kaya dan jiwanya atau bagi harta dan kekayaannya.

Jadi secara garis besar, zakat baik secara pemungutan maupun

penggunannya adalah bertujuan untuk merealisasikan fungsi-fungsi sosial,

ekonomi dan fungsi psikologis, selain untuk bertujuan ibadah kepada Allah.

3
Karena yang diharapkan oleh orang yang menunaikan zakat adalah pahala dari

sisi Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat.

B. Pajak Menurut Pengertian Umum

Pengertian pajak secara umum ialah iuran wajib atau pungutan yang

dibayar oleh Wajib Pajak ( Orang yang bayar pajak ) kepada Pemerintah

berdasarkan Undang-Undang dan hasilnya digunakan unutk membiayai

pengeluaran umum pemerintah dengan tanpa balas jasa yang ditunjukan secara

langsung.

Jadi dapat disimpulkan ciri-ciri pajak yaitu :

1. Pajak diambil harus berdasarkan dengan undang-undang

2. Pajak digunakan untuk membiayai fasilitas negara atau fungsi pemerintahan

3. Kita tidak menerima imbalan secara langsung

4. Bisa bersifat memaksa pada kejadian tertentu atau keadaan yang memberikan

kedudukan pada seseorang

5. Pajak dipungut oleh Negara atau Pemerintah

Jadi kita membayar pajak ada hasilnya, bayangin aja kalau sampai gak ada

yang bayar pajak. Bisa jadi kebutuhan hidup kita akan menjadi lebih besar lagi

dibandingkan dengan adanya orang yang bayar pajak.

C. Pajak Menurut Umat Islam di Sebut Dharibah ( Beban )

Padanan kata yang paling tepat untuk pajak menurut Sistem Ekonomi

Islam sebetulnya bukan Jizyah karena Jizyah artinya kehinaan. Menurut Khalifah

4
Umar bin Khattab sungguh tidak pantas kaum Muslim dipungut dengan kehinaan

karena segala aktifitas Muslim yang mengikuti perintah Allah SWT termasuk

dalam nilai ibadah yang berarti kemuliaan. Oleh sebab itu, Pajak bagi kaum

Muslim tidak dapat diartikan kehinaan, rendah atau berkurang. Rasulullah SAW

tidak pernah menyebut apalagi mengenakan Jizyah untuk kaum Muslim. Jizyah

lebih tepat diterjemahkan dengan “upeti” (pajak kepala), yang dikenakan terhadap

Ahli Kitab (Nasrani dan Yahudi) dan Majusi (kaum penyembah api), sebagaimana

dijelaskan oleh Imam Syafe’I dalam Kitab Al-Umm, Imam Malik dalam kitab Al-

Muwatha’, Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqhus Sunnah, Sa’id Hawwa dalam kitab

Al-Islam, Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’atul Fatawa, dan Imam Al Mawardi

dalam kitab Al Ahkam al Sulthaniyah.

Pada kata yang paling tepat untuk Pajak adalah Dhariibah (‫)الضريبة‬, yang

artinya beban. Mengapa disebut Dharibah (beban)? Karena Pajak merupakan

kewajiban tambahan (tathawwu’) bagi kaum Muslim setelah Zakat, sehingga

dalam penerapannya akan dirasakan sebagai sebuah beban atau pikulan yang berat

(Qardhawi, Fiqhuz Zakah, Bab Zakah wa Dharibah,1973). Secara etimologi,

Dharibah, yang berasal dari kata dasar ‫ضرب‬، ‫يضرب‬، ‫( ضربا‬dharaba, yadhribu,

dharban) yang artinya: mewajibkan, menetapkan, menentukan, memukul,

menerangkan atau membebankan, dan lain-lain. Dalam Al-Qur’an, kata dengan

akar kata da-ra-ba terdapat di beberapa ayat, antara lain pada QS. Al-Baqarah

[2]:61:......‫والمسكنة الذلة عليهم وضربت‬, yang artinya,”lalu ditimpahkanlah kepada

mereka nista dan kehinaan”. Dharaba adalah bentuk kata kerja (fi’il), sedangkan

bentuk kata bendanya (ism) adalah Dharibah ( ‫)ضريبة‬, yang dapat berarti beban.

5
Dharibah adalah isim mufrad (kata benda tunggal) dengan bentuk jamaknya

adalah Dharaaib (‫)ضرائب‬. Dalam contoh pemakaian, jawatan perpajakan di

negara Arab disebut dengan maslahah adh-Dharaaib (َ‫)الضرائب َمسل َحة‬.

Ada juga ulama atau ekonom Muslim dalam berbagai literatur menyebut

pajak dengan padanan kata/istilah Kharaj (pajak tanah) atau ‘Ushr (bea masuk)

selain Jizyah (upeti), padahal sesungguhnya ketiganya berbeda dengan Dharibah.

Objek Pajak (Dharibah) adalah al-Maal (harta/penghasilan), objek Jizyah adalah

jiwa (an-Nafs), objek Kharaj adalah tanah (status tanahnya) dan objek ‘Ushr

adalah barang masuk (impor). Oleh karena objeknya berbeda, maka jika dipakai

istilah Kharaj, Jizyah, atau ‘Ushr untuk pajak akan rancu dengan Dharibah. Untuk

itu, biarkanlah Pajak atas tanah disebut dengan Kharaj, sedangkan istilah yang

tepat untuk pajak yang objeknya harta/penghasilan adalah Dharibah.

D. Pendapat Negara Menurut Islam

Pendapatan Negara (Mawarid Ad-Daulah) pada zaman pemerintahan

Rasulullah Muhammad SAW (610-632M) dan Khulafaurrasyidin (632-650M)

diklasifikasikan menjadi 3 kelompok besar, yaitu:

1. Ghanimah,

2. Fay’i, dan

3. Shadaqah atau Zakat

(lihat Ibnu Taimiyah, Majmu’atul Fatawa). Fay’i dibagi lagi atas 3 macam yaitu :

1. Kharaj;

2. ‘Usyr dan;

6
3. Jizyah.

Berikut uraian tentang berbagai jenis pendapatan tersebut. Ghanimah,

adalah harta rampasan perang yang diperoleh dari kaum kafir, melalui

peperangan. Inilah sumber pendapatan utama negara Islam periode awal.

Ghanimah dibagi sesuai perintah Allah SWT, yang turun saat usai perang Badar

bulan Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah, yaitu 4/5 adalah hak pasukan, dan 1/5

dibagi untuk Allah SWT, Rasul dan kerabat beliau, Yatim, Miskin dan Ibnu Sabil.

Dari Ghanimah inilah dibayar gaji tentara, biaya perang, biaya hidup Nabi dan

keluarga beliau, dan alat-alat perang, serta berbagai keperluan umum. Ghanimah

merupakan salah satu kelebihan yang diberikan Allah SWT kepada Nabi

Muhammad SAW, yang tidak diberikan kepada Nabi-Nabi yang lain. Fay’i adalah

harta rampasan yang diperoleh kaum Muslim dari musuh tanpa terjadinya

pertempuran, oleh karenanya, tidak ada hak tentara didalamnya (QS. Al-Hasyr

[59]:6).

Fay’i pertama diperoleh Nabi dari suku Bani Nadhir, suku bangsa Yahudi

yang melanggar Perjanjian Madinah. Kharaj adalah sewa tanah yang dipungut

kepada non Muslim ketika Khaibar ditaklukan, tahun ke-7 H. Pada awalnya

seluruh tanah taklukan pemerintah Islam, dirampas dan dijadikan milik negara.

Namun kemudian, khalifah Umar bin Khattab berijtihad, tidak lagi merampasnya

jadi milik kaum Muslim, tapi tetap memberikan hak milik pada non Muslim,

namun mewajibkan mereka membayar sewa (Kharaj) atas tanah yang diolah

tersebut. ‘Ushr adalah bea impor (bea masuk) yang dikenakan kepada semua

pedagang yang melintasi perbatasan negara, yang wajib dibayar hanya sekali

7
dalam setahun dan hanya berlaku bagi barang yang nilainya lebih dari 200

dirham.

Tingkat beda yang diberikan kepada non Muslim adalah 5% dan kepada

Muslim sebesar 2,5%. Ushr yang dibayar kaum Muslim tetap tergolong sebagai

Zakat. Jizyah (Upeti) atau Pajak kepala adalah Pajak yang dibayarkan oleh orang

non Muslim khususnya ahli kitab, untuk jaminan perlindungan jiwa, properti,

ibadah, bebas dari nilai-nilai, dan tidak wajib militer. Mereka tetap wajib

membayar Jizyah, selagi mereka kafir. Jadi Jizyah juga adalah hukuman atas

kekafiran mereka.

Hal ini sesuai dengan perintah Allah SWT dalam QS.[9]:29. Zakat

(Shadaqah) adalah kewajiban kaum Muslim atas harta tertentu yang mencapai

nishab tertentu dan dibayar pada waktu tertentu. Diundangkan sebagai pendapatan

negara sejak tahun ke-2 Hijriyah, namun efektif pelaksanaan Zakat Mal baru

terwujud pada tahun ke-9 H. Demikianlah sumber-sumber pendapatan negara

yang utama dalam Sistem ekonomi Islam. Disamping pendapatan utama (primer)

ada pula pendapatan sekunder yang diperoleh tidak tetap, yaitu: ghulul, kaffarat,

luqathah, waqaf, uang tebusan, khums/rikaz, pinjaman, amwal fadhla, nawa’ib,

hadiah, dan lain-lain. Dengan Sistem Ekonomi Islam seperti demikian, negara

mengalami surplus dan kejayaan, antara lain dizaman Khalifah Umar bin Khattab

(634-644 M), Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) dan sebagai puncak keemasan

dinasti Abbasiyah adalah tatkala dibawah Khalifah Harun Al-Rasyid (786-803

M).

E. Sebab – Sebab Munculnya Pajak Dalam Islam

8
Dari uraian tentang sumber-sumber pendapatan negara diatas, tidak

terlihat adanya Pajak (Dharibah). Mengapa Pajak (Dharibah) ini muncul? Ada

beberapa kondisi yang menyebabkan munculnya Pajak, yaitu:

1. Karena Ghanimah dan Fay’i berkurang (bahkan tidak ada).

Pada masa pemerintahan Rasulullah SAW dan Shahabat, Pajak (Dharibah)

belum ada, karena dari pendapatan Ghanimah dan Fay’i sudah cukup untuk

membiayai berbagai pengeluaran umum negara. Namun setelah setelah ekspansi

Islam berkurang, maka Ghanimah dan Fay’i juga berkurang. Akibatnya,

pendapatan Ghanimah dan Fay’i tidak ada lagi, padahal dari kedua sumber inilah

dibiayai berbagai kepentingan umum negara, seperti menggaji pegawai/pasukan,

mengadakan fasilitas umum (rumah sakit, jalan raya, penerangan, irigasi, dan lain-

lain), biaya pendidikan (gaji guru dan gedung sekolah).

2. Terbatasnya tujuan penggunaan Zakat.

Sungguh pun penerimaan Zakat meningkat karena makin bertambahnya

jumlah kaum Muslim, namun Zakat tidak boleh digunakan untuk kepentingan

umum seperti menggaji tentara, membuat jalan raya, membangun masjid,

sebagaimana perintah Allah SWT pada QS.[9]:60. Bahkan Rasulullah SAW yang

juga adalah kepala negara selain Nabi, mengharamkan diri dan keturunannya

memakan uang Zakat (Fikhus Sunnah, Sayyid Sabiq). Zakat juga ada batasan

waktu (haul) yaitu setahun dan kadar minimum (nishab), sehingga tidak dapat

dipungut sewaktu-waktu sebelum jatuh tempo. Tujuan penggunaan Zakat telah

ditetapkan langsung oleh Allah SWT dan dicontohkan oleh RasulNya Muhammad

SAW. Kaum Muslim tidak boleh berijtihad didalam membuat tujuan Zakat,

9
sebagaimana tidak boleh berijtihad dalam tata cara Shalat, Puasa, Haji, dan ibadah

Mahdhah lainnya. Pintu Ijtihad untuk ibadah murni sudah tertutup.

3. Jalan pintas untuk pertumbuhan ekonomi.

Banyak negara-negara Muslim memiliki kekayaan sumber daya alam

(SDA) yang melimpah, seperti: minyak bumi, batubara, gas, dan lain-lain. Namun

mereka kekurangan modal untuk mengeksploitasinya, baik modal kerja (alat-alat)

maupun tenaga ahli (skill). Jika SDA tidak diolah, maka negara-negara Muslim

tetap saja menjadi negara miskin. Atas kondisi ini, para ekonom Muslim

mengambil langkah baru, berupa pinjaman (utang) luar negeri untuk membiayai

proyek-proyek tersebut, dengan konsekuensi membayar utang tersebut dengan

Pajak.

4. Imam (Khalifah) berkewajiban memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Jika terjadi kondisi kas negara (Baitul Mal) kekurangan atau kosong

(karena tidak ada Ghanimah dan Fay’i atau Zakat), maka seorang Imam (khalifah)

tetap wajib mengadakan tiga kebutuhan pokok rakyatnya yaitu keamanan,

kesehatan dan pendidikan. Jika kebutuhan rakyat itu tidak diadakan, dan

dikhawatirkan akan muncul bahaya atau kemudharatan yang lebih besar, maka

Khalifah diperbolehkan berutang atau memungut Pajak (Dharibah). Jadi dalam hal

ini Imam punya dua pilihan, yaitu Utang atau Pajak. Utang mengandung

konsekuensi riba dan membebani generasi yang akan datang. Oleh sebab itu,

Pajak adalah pilihan yang lebih baik karena tidak menimbulkan beban bagi

generasi yang akan datang.

10
Inilah alasan-alasan yang memunculkan ijtihad baru dikalangan fuqaha,

berupa Pajak (Dharibah). Salah satu dalil yang dijadikan dasar adanya Pajak

adalah Hadits Rasulullah SAW, beliau bersabda,”Di dalam harta terdapat hak-

hak yang lain di samping Zakat.” (HR Tirmidzi dari Fathimah binti Qais ra., Kitab

Zakat, bab 27, hadits no.659-660 dan Ibnu Majah , kitab Zakat, bab III, hadits no.

1789). Sungguhpun Pajak (Dharibah) diperbolehkan oleh ulama, namun ia harus

tetap dibuat dan dilaksanakan sesuai dengan Syari’at Islam. Aturan Pajak harus

berpedoman kepada Al-Qur’an, Hadits, Ijma dan Qiyas. Jika memungut Pajak

secara dzalim (tidak sesuai syari’at) maka Rasulullah melarang, sebagaimana

hadits yang berbunyi artinya,”Laa yadkhulul jannah shahibul maks”, yang artinya

Tidak masuk surga petugas Pajak yang dzalim), (HR. Abu Daud, Bab Kharaj, hal.

64, hadits no. 2937 dan Darimi, bab 28, hadits no. 1668). Petugas pajak yang

dzalim adalah yang memungut pajak di pasar-pasar (di Kota Madinah waktu)

yang tidak ada perintah dan contoh dari Nabi Muhammad SAW.

Layaknya seperti preman yang meminta uang palak kepada pedagang-

pedagang pasar. Petugas pajak yang yang memungut uang tidak didasari Undang-

Undang seperti inilah yang dimaksud dengan “Shahibul maks” atau petugas pajak

yang dzalim. Sedangkan Pajak (Dharibah) yang dibuat oleh pemerintah (Ulil

amri) dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (ahlil halli wal aqdi) dengan

berpedoman kepada Syari’at Islam dibolehkan dengan dasar ijtihad.

11
F. Utang atau Pajak dan Hukum Membayar Pajak Dalam Islam

a. Utang atau Pajak

Utang dalam arti luas ialah segala sesuatu yang harus dilakukan oleh yang

berkewajiban sebagai konsekwensi perikatan, seperti penyerahan barang,

membuat lukisan, melakukan perbuatan tertentu, membayar harga barang dan

seterusnya.

Utang dalam arti sempit adalah perikatan sebagai akibat perjanjian khusus

yang disebut utang piutang, (bijzondere overeenkomst, benoemde overeenkomst)

yang mewajibkan debitur untuk membayar (kembali) jumlah uang yang telah

dipinjamnya dari kreditur.

Utang pajak” adalah pajak yang masih harus dibayar termasuk sanksi

administrasi berupa bunga, denda, atau kenaikan yang tercantum dalam surat

ketetapan pajak atau surat sejenisnya berdasarkan peraturan perundang-undangan

perpajakan.

“Pajak yang terutang” adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat

dalam masa pajak, dalam tahun pajak atau dalam bagian tahun pajak sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

b. Hukum Membayar Pajak Dalam Islam

Kata pajak dalam bahasa Arab disebut Adh-Dharibah yang artinya

pungutan yang ditarik dari rakyat oleh para penarik pajak. Menurut Imam Al

Ghazali, pajak ialah apa yang diwajibkan oleh penguasa (pemerintahan Muslim)

kepada orang-orang kaya dengan menarik dari mereka apa yang dipandang dapat

12
mencukupi (kebutuhan masayarakat dan neagra secara umum) ketika tidak ada

kas di dalam baitul mal.

Dalam sejarah agama Islam, pajak hanya diperuntukkan bagi mereka kaum

non Muslim demi keamanan dan kenyamanan mereka yang hidup di bawah

pemerintahan Islam.

Adapun pajak yang berlaku di masa pemerintahan Muslim dahulu adalah

al Jiziyah (upeti dari ahli kitab kepada pemerintahan Islam), al Usyur (bea cukai

bagi pedagang non Muslim yang masuk ke dalam negara Islam), dan al Kharaj

(pajak bumi yang dimiliki pemerintahan Islam).

Sedangkan pajak yang kita kenal saat ini di negara kita adalah pajak

penghasilan, pajak bumi dan bangunan, pajak pertambhaan nilai, pajak barang dan

jasa, pajak penjualan barang mewah, dan sebagainya. Lalu bagaimana hukum

membayar pajak yang dibebankan negara kepada kita saat ini ?

Terdapat dua pendapat ulama yang berbeda mengenai hal ini, pendapat pertama

adalah tidak boleh membebankan pajak kepada kaum Muslim karena umat Islam

telah dibebankan dengan zakat. Hal ini diperkuat dengan hadist Rasulullah SAW :

“Janganlah kalian berbuat zhalim (beliau mengucapkannya tiga kali).

Sesungguhnya tidak halal harta seseorang muslim kecuali dengan kerelaan dari

pemiliknya.” (HR. Imam Ahmad V/72 no.20714, dan di-shahih-kan oleh Al-Albani

dalam Shahih wa Dha’if Jami’ush Shagir no.7662, dan dalam Irwa’al Ghalil

no.1761 dan 1459).

Dari hadist di atas, jelas terlihat bahwa pajak yang saat ini dikenakan

kepada umat Muslim tidak seharusnya dipungut karena pemungutan pajak tidak

13
dilandasi dari musyawarah dengan umat Muslim atas kerelaan hartanya ditarik

oleh negara.

‫ل ِب ْٱل َب ِط ِل َب ْينَ ُكم أ َ ْم َولَ ُكم تَأ ْ ُكلُ َٰٓوا َل َءا َمنُوا ٱلَّذِينَ ََٰٓيأ َ ُّي َها‬
َٰٓ َّ ‫س ُك ْم ت َ ْقتُلُ َٰٓوا َو َل ۚ ِمن ُك ْم ت ََراض َعن ِت َج َرة ت َ ُكونَ أَن ِإ‬
َ ُ‫ِإ َّن ۚ أَنف‬

َّ َ‫َر ِحيما ِب ُك ْم َكان‬


َ‫ٱّلل‬

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan

harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang

berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh

dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”(Q.S. An

Nisa:29).

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang mengisahkan

dilaksanakannya hukum rajam terhadap pelaku zina (seorang wanita dari

Ghamid), setelah wanita tersebut diputuskan untuk dirajam, datanglah Khalid bin

Walid Radhiyallahu ‘anhu menghampiri wanita itu dengan melemparkan batu ke

arahnya, lalu darah wanita itu mengenai baju Khalid, kemudian Khalid marah

sambil mencacinya, maka Rasulullah SAW bersabda:

“Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya perempuan itu

telah benar-benar bertaubat, sekiranya seorang pemungut pajak bertaubat

sebagaimana taubatnya wanita itu, niscaya dosanya akan diampuni.” (HR.

Muslim III/1321 no: 1695, dan Abu Daud II/557 no.4442. dan di-shahih-kan oleh

syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah hal. 715-716)

Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa mereka yang mengambil

pajak secara zhalim adalah mereka yang mengerjakan dosa, untuk itu mereka

14
yang menarik pajak disarankan untuk segera bertaubat. Rasulullah SAW

bersabda:

“Sungguh akan datang kepada manusia suatu zaman saat manusia tidak peduli

dari mana mereka mendapatkan harta, dari yang halalkah atau yang haram” (HR

Bukhari kitab Al-Buyu : 7)

Sedangkan pendapat kedua, membolehkan dipungutnya pajak dari kaum

Muslim dengan beberapa syarat dan kondisi, diantaranya adalah jika negara

benar-benar membutuhkan dan dalam keadaan genting jika pajak tidak ditarik.

Hal ini dilandasi oleh firman Allah SWT:

َ ‫ق قِبَ َل ُو ُجو َه ُك ْم ت ُ َولُّوا أَن ْٱلبِ َّر لَّي‬


‫ْس‬ ِ ‫ب ْٱل َم ْش ِر‬
ِ ‫ٱّللِ َءا َمنَ َم ْن ْٱلبِ َّر َو َل ِك َّن َو ْٱل َم ْغ ِر‬
َّ ِ‫اخ ِر َو ْٱليَ ْو ِم ب‬ ْ ‫َو ْٱل َم َٰٓلَئِ َك ِة‬
ِ ‫ٱل َء‬

ِ َ ‫سكِينَ َو ْٱليَت َ َمى ْٱلقُ ْربَى ذَ ِوى ُحبِِۦه َعلَى ْٱل َما َل َو َءات َى َوٱلنَّبِيِۦنَ َو ْٱل ِكت‬
‫ب‬ َ ‫سبِي ِل َوٱبْنَ َو ْٱل َم‬
َّ ‫سآَٰئِلِينَ ٱل‬
َّ ‫َوفِى َوٱل‬

ِ ‫ٱلرقَا‬
‫ب‬ ِ ‫ام‬َ َ‫صلَوة َ َوأَق‬ َّ َ‫صبِ ِرينَ ۖ َع َهد ُوا إِذَا بِعَ ْه ِد ِه ْم َو ْٱل ُموفُون‬
َّ ‫ٱلزكَوة َ َو َءات َى ٱل‬ َ ْ ‫َو ِحينَ َوٱلض ََّّرآَٰ ِء ْٱلبَأ‬
َّ ‫سا َٰٓ ِء فِى َوٱل‬
َٰٓ َٰٓ
‫صدَقُوا ٱلَّذِينَ أُولَئِكَ ۗ ْٱل َبأ ْ ِس‬
َ ۖ َ‫ْٱل ُمتَّقُونَ ُه ُم َوأُولَئِك‬

Artinya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu

kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah,

hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta

yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin,

musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta;

dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat;

dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang

yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah

orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang

bertakwa.”(Q.S. Al Baqarah:177)

15
Allah SWT menyuruh kita untuk menolong mereka yang membutuhkan,

apalagi jika negara dalam keadaan genting maka seluruh rakyat harus membantu.

Jika dalam posisi seperti ini, maka pajak diperbolehkan untuk dipungut demi

keselamatan negara. Perbuatan ini juga termasuk jihad dengan harta.

‫س ِبي ِل فِى َوأَنفُ ِس ُك ْم ِبأ َ ْم َو ِل ُك ْم َو َج ِهد ُوا َوثِقَال ِخفَافا ٱن ِف ُروا‬ َّ ۚ ‫تَ ْعلَ ُمونَ ُكنت ُ ْم ِإن لَّ ُك ْم َخيْر ذَ ِل ُك ْم‬
َ ِ‫ٱّلل‬

Artinya: “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat,

dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu

adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (Q.S. At Taubah:41).

G. Landasan Pajak Menurut Islam

Sumber-sumber pendapatan Baitul Mal dalam Khilafah Islam yang telah

ditetapkan Syari’at sebenarnya cukup untuk membiayai pengaturan dan

pemeliharaan urusan dan kemaslahatan rakyat. Karena itu, sebetulnya tidak perlu

lagi ada kewajiban Pajak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Syari’at

Islam telah menetapkan pembiayaan atas berbagai keperluan dan bidang, yang

dibebankan kepada Baitul Mal. Namun, ketika di Baitul Mal tidak terdapat harta

atau kurang, sementara sumbangan sukarela dari kaum Muslim atas inisiatif

mereka juga belum mencukupi, maka Syari’at menetapkan pembiayaannya

menjadi kewajiban seluruh kaum Muslim. Hal itu karena Allah telah mewajibkan

yang demikian. Sebab, tidak adanya pembiayaan atas berbagai keperluan dan

bidang itu akan menyebabkan bahaya bagi kaum Muslim. Allah telah mewajibkan

kepada negara dan umat untuk menghilangkan bahaya itu dari kaum Muslim.

16
Rasulullah SAW. bersabda: Tidak boleh mencelakakan orang lain dan tidak boleh

mencelakakan diri sendiri. [HR. Malik dan Ahmad dari Ibnu Abbas].

Memang pada harta tak ada kewajiban selain Zakat. Namun apabila Zakat

telah diselesaikan, kemudian sesudah itu ternyata datang kebutuhan mendesak,

maka wajib bagi orang kaya mengeluarkan hartanya untuk keperluan tersebut

(Qardhawi, Fiqh Az-Zakah). Apabila harta Baitul Mal kosong, kemudian

keperluan biaya militer meningkat, maka imam hendaklah membebankan biaya

itu kepada mereka yang kaya sekira dapat mencukupi keperluan tersebut,

sehingga Baitul Mal berisi kembali. Seseorang tidak ada hak yang wajib

ditunaikan karena adanya harta selain Zakat. Namun ia punya kewajiban yang

bukan disebabkan oleh adanya harta, seperti kewajiban memberi nafkah kepada

kerabat dekat, istri, hamba sahaya dan hewan ternak. Juga wajib menanggung

orang yang kena denda (diah), ikut membantu orang berutang dan orang yang

ditimpa musibah. Dan wajib juga memberi makan orang yang kelaparan, memberi

pakaian mereka yang tak punya pakaian dan kewajiban lain yang bersifat materi

yang disebabkan adanya sesuatu sebab. Bagi orang yang wajib naik haji, harta

merupakan syarat utama, sedangkan badan sebab utama dan kesanggupan menjadi

syarat. Harta dalam Zakat merupakan sebab, maka wajib Zakat bila ada harta,

sehingga bila di negerinya tidak ada mustahiknya, hendaklah dipindahkan

ketempat lain, karena Zakat adalah hak yang diwajibkan Allah SWT (terus

menerus, walaupun tidak ada mustahik).

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan, bahwa pembolehan Pajak adalah:

1). Setelah Zakat ditunaikan, baru kemudian Pajak dipungut;

17
2). Kewajiban Pajak bukan karena adanya harta, melainkan karena adanya

kebutuhan mendesak, sedangkan Baitul Mal kosong atau tidak mencukupi;

3). Ada beban-beban lain selain beban Zakat yang memang sudah dibebankan

Allah SWT atas kaum Muslim;

4). Hanya orang kaya yang dibebani kewajiban tambahan;

5). Pemberlakuan Pajak adalah situasional, tidak terus menerus. Ia bisa saja

dihapuskan apabila Baitul Mal telah terisi kembali.

Oleh karena kewajiban utama atas harta adalah Zakat, maka landasan teori

Pajak harus mengacu (sama) dengan Zakat. Alasannya, subjek Zakat dan Pajak

(Dharibah) adalah sama, yaitu orang Muslim. Dengan demikian tentu dua

kewajiban itu tidak boleh berada pada posisi yang sama berat dan besarnya,

melainkan satu dengan yang lain merupakan pelengkap. Ibarat shalat wajib

dengan shalat sunnah, landasan kewajiban shalat sunnah pasti sama dengan shalat

wajib. Konsekuensinya, Pajak bisa ditunaikan setelah Zakat dikeluarkan. Dengan

demikian Zakat sudah semestinya kredit (pengurang Pajak). Dengan menyatunya

kewajiban Zakat dan Pajak pada diri seorang Muslim, maka dapat pula diambil

suatu landasan teori yang sama antara Zakat dengan Pajak.

H. Definisi Pajak Menurut Pandangan Islam

Secara etimologi, pajak dalam bahasa Arab dikenal dengan nama Adh-

dharibah, yang berasal dari kata dasar dharaba, yadhribu, dharban yang artinya:

mewajibkan, menetapkan, menentukan, memukul, menerangkan, atau

membebankan, dan lain-lain. Dharaba adalah bentuk kata kerja (fi’il), sedangkan

18
bentuk kata bendanya (ism) adalah dharibah, yang dapat diartikan beban. Ia

disebut beban, karena merupakan kewajiban tambahan atas harta selain zakat,

sehingga dalam pelaksanaanya akan dirasakan sebagai sebuah beban.

Fawaz mendefinisikan pajak sebagai pungutan yang ditarik dari rakyat

oleh para penarik pajak.

Qardhawi mendefinisikan pajak sebagai kewajiban yang ditetapkan

terhadap Wajib Pajak, yang harus disetorkan kepada negara sesuai dengan

ketentuan, tanpa mendapatkan prestasi kembali dari negara, dan hasilnya untuk

membiayai pengeluaran-pengeluaran umum di satu pihak dan untuk

merealisasikan sebagian tujuan ekonomi, sosial, politik, dan tujuan-tujuan lain

yang ingin dicapai oleh negara.

Sedangkan Zallum dalam Gusfahmi berpendapat bahwa pajak adalah harta

yang diwajibkan Allah Swt kepada kaum muslim untuk membiayai berbagai

kebutuhan dan pos-pos pengeluaran yang memang diwajibkan atas mereka, pada

kondisi baitul mal tidak ada uang/harta.

Dari berbagai definisi tersebut, nampak bahwa definisi yang dikemukakan

oleh Qardhawi masih bersifat sekuler, karena belum ada unsur-unsur syariah

didalamnya. Sedangkan definisi pajak menurut Zallum lebih dekat dan tepat

dengan nilai-nilai Syariah, karena di dalam definisi yang dikemukakannya

terangkum lima unsur penting pajak menurut Syariah yaitu:

1. Diwajibkan oleh Allah swt.

2. Objeknya harta.

3. Subjeknya kaum muslim yang kaya.

19
4. Tujuannya untuk membiayai kebutuhan negara.

5. Diberlakukan karena adanya kondisi darurat (khusus), yang harus segera

diatasi oleh Ulil Amri (pemerintah).

6. Karakteristik Pajak menurut syariah

Ada beberapa karakteristik pajak menurut syariah, yaitu:

1. Pajak (dharibah) bersifat temporer, tidak bersifat kontinyu, hanya boleh

dipungut ketika di baitul mal tidak ada harta atau kurang. Ketika baitul

mal sudah terisi kembali, maka kewajiban pajak bisa dihapuskan. Berbeda

dengan zakat, yang tetap dipungut, sekalipun tidak ada lagi pihak yang

membutuhkan (mustahik).

2. Pajak (dharibah) hanya boleh dipungut untuk pembiayaan yang

merupakan kewajiban bagi kaum muslimin dan sebatas jumlah yang

diperlukan untuk pembiayaan wajib tersebut, tidak boleh lebih.

3. Pajak (dharibah) hanya diambil dari kaum muslim, tidak kaum non-

muslim.

4. Pajak (dharibah) hanya dipungut dari kaum muslim yang kaya, tidak

dipungut dari selainnya.

5. Pajak (dharibah) hanya dipungut sesuai dengan jumlah pembiayaan yang

diperlukan, tidak boleh lebih.

6. Pajak (dharibah) dapat dihapus bila sudah tidak diperlukan.

7. Syarat-syarat Pemungutan Pajak menurut syariah

20
Menurut Qardhawi Pajak yang diakui dalam sejarah fiqh Islam dan sistem

yang dibenarkan harus memenuhi beberapa syarat, yaitu :

1. Harta (pajak) yang dipungut tersebut benar-benar dibutuhkan dan sudah

tidak ada lagi sumber lain yang bisa diharapkan. Pajak itu boleh dipungut

apabila negara memang benar- benar membutuhkan dana, sedangkan

sumber lain tidak diperoleh. Sebagian ulama mensyaratkan bolehnya

memungut pajak apabila Baitul Mal benar- benar kosong.

2. Apabila pajak itu benar-benar dibutuhkan dan tidak ada sumber lain yang

memadai, maka pemungutan pajak, bukan saja boleh, tapi wajib dengan

syarat. Tetapi harus dicatat, pembebanan itu harus adil dan tidak

memberatkan. Jangan sampai menimbulkan keluhan dari masyarakat.

Keadilan dalam pemungutan pajak didasarkan kepada pertimbangan

ekonomi, sosial dan kebutuhan yang diperlukan rakyat dan pembangunan.

Distribusi hasil pajak juga harus adil, jangan tercemar unsur KKN.

3. Pajak hendaknya dipergunakan untuk membiayai kepentingan umat, bukan

untuk maksiat ataupun hawa nafsu. Hasil pajak harus digunakan untuk

kepentingan umum, bukan untuk kepentingan kelompok (partai), bukan

untuk pemuas nafsu para penguasa, kepentingan pribadi, kemewahan

keluarga pejabat dan orang-orang dekatnya. Karena itu, Al-Qur’an

memperhatikan sasaran zakat secara rinci, jangan sampai menjadi

permainan hawa nafsu, keserakahan atau untuk kepentingan money politic.

4. Ada persetujuan dari para ahli atau cendekiawan berakhlak. Kepala

negara, wakilnya, gubernur atau pemerintah daerah tidak boleh bertindak

21
sendiri untuk mewajibkan pajak, menentukan besarnya, kecuali setelah

dimusyawarahkan dan mendapat persetujuan dari para ahli dan

cendikiawan dalam masyarakat. Karena pada dasarnya, harta seseorang itu

haram diganggu dan harta itu bebas dari berbagai beban dan tanggungan,

namun bila ada kebutuhan demi untuk kemaslahatan umum, maka harus

dibicarakan dengan para ahli termasuk ulama.

5. Tujuan Penggunaan Pajak Menurut Syariah

Menurut Zallum, ada enam pengeluaran yang boleh dibiayai oleh pajak

menurut Islam (Gusfahmi: 179), yaitu:

1. Pembiayaan jihad dan yang berkaitan dengannya seperti: pembentukan

dan pelatihan pasukan, pengadaan senjata, dan sebagainya.

2. Pembiayaan untuk pengadaan dan pengembangan industri militer dan

industri pendukungnya.

3. Pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan pokok orang fakir, miskin, dan

ibnu sabil.

4. Pembiayaan untuk gaji tentara, hakim, guru, dan semua pegawai negara

untuk menjalankan pengaturan dan pemeliharaan berbagai kemaslahatan

umat.

5. Pembiayaan atas pengadaan kemaslahatan atau fasilitas umum yang jika

tidak diadakan akan menyebabkan bahaya bagi umat, semisal jalan umum,

sekolah, rumah sakit, dan sebagainya.

6. Pembiayaan untuk penanggulangan bencana dan kejadian yang menimpa


umat, sementara harta di baitul amal tidak ada atau kurang.

22
I. Analisi Persamaan dan Perbedaan Zakat dan Pajak

Persamaan Zakat dan Pajak

Zakat dan pajak memiliki persamaan karena perintah mengeluarkan

sebagian harta ini dijalankan menurut aturan tertentu yang menaungi sebuah

kelompok masyarakat. Zakat dibayar berdasarkan syariat Islam, sedangkan pajak

dibayarkan menurut undang-undang perpajakan yang berlaku dalam sebuah

negara.

Persamaan pajak dan zakat berikutnya adalah besarnya pembayaran

ditentukan menurut prosentase tertentu dan berlaku untuk orang-orang yang

memenuhi syarat. Keduanya juga berperan dalam membangun kesejahteraan

kelompok masyarakat tertentu.

Perbedaan Pajak dan Zakat

Perbedaan zakat dan pajak adalah dalam hal penerimanya. Zakat

dibayarkan melalui amil zakat (lembaga penyalur dan pengelola zakat) maupun

dibayarkan langsung kepada 8 golongan orang yang berhak menerima zakat.

Manfaat zakat dapat dirasakan langsung maupun tidak langsung oleh masyarakat.

Sedangkan pajak negara merupakan kewajiban yang dibayarkan kepada kantor

pelayanan pajak dan lembaga-lembaga lain yang ditunjuk oleh Pemerintah

sebagai tempat pembayaran pajak. Manfaat pajak negara tidak bisa dirasakan

langsung oleh masyarakat suatu negara.

Perbedaan pajak dan zakat yang kedua adalah waktu pembayarannya.

Zakat fitrah dibayarkan hanya pada bulan Ramadhan, lalu zakat harta dibayarkan

pada saat telah mencapai nisab dan dimiliki selama setahun. Sedangkan waktu

23
pembayaran pajak negara adalah satu tahun pembukuan. Misalnya tenggang

waktu pembayaran pajak setiap akhir bulan Maret.

Perbedaan pajak dan zakat yang ketiga adalah benda yang digunakan

sebagai alat pembayaran. Pajak negara umumnya dibayar menggunakan uang

tunai. Sementara itu zakat fitrah boleh dibayarkan dalam bentuk uang tunai

maupun bahan makanan pokok seperti beras dan gandum.

J. Ketentuan Perpajakan Tentang Zakat

Persoalan lain yang dihadapi umat Islam dalam dualisme pajak dan zakat

adalah adanya anggapan sebagian masyarakat bahwa pajak sama dengan zakat.

Artinya, kewajiban pajak meruntuhkan kewajiban membayar zakat.

Oleh karena itu, banyak di antara umat Islam yang membayar pajak dengan niat

zakat dan menganggap telah gugur kewajiban zakatnya. Yusuf Qardawi menolak

pendapat ini dengan mengemukakan beberapa alas an, yaitu :

1) Harus dalam jumlah tertentu yang di tetapkan oleh syariat, yaitu 1/10, 1/20

sampai 1/40. tariff pajak tidak tetap, kadang- kadang lebih besar dari tariff zakat,

kadang-kadang lebih kecil. Selain itu, kadang harta yang memenuhi syarat wajib

zakat tidak dikenai zakat karena tidak memenuhi syarat wajib pajak, kadang pajak

dipungut dari harta yang tidak menjadi objek zakat karena tidak memenuhi syarat

wajib zakat.

2) Harus menggunakan niat tertentu, yaitu berniat mendekatkan diri kepada Allah

dan mengikuti perintahnya dengan membayar zakat yang di perintahkan pada

hamba-Nya. Kadang niat pajak bertentangan dengan niat zakat, karena niat ibadat

24
dalam pajak tidak murni, sedangkan zakat adalah ibadah yang disyaratkan ikhlas

dalam mengerjakannya.

3) Harus di berikan kepada sasaran tertentu, yaitu 8 asnaf, baik secara langsung

maupun melalui perantaraan amil zakat yang mewakili pemerintah.

K. Surat / Ayat Yang Berkaitan Zakat dan Pajak

Ayat – ayat yang menjelaskan tentang zakat

Surat At-Taubah Ayat 103 :

َ ٌ‫ص َدقَةٌ أَم َوا ِل ِهمٌ ِمنٌ ُخذ‬


ٌ‫ع ِليم‬ َ ُ ‫ل ِب َها َوتُزَ ِ ِّكي ِهمٌ ت‬
َ ٌ‫ط ِ ِّه ُر ُهم‬ َ ‫علَي ِهمٌ َو‬
ٌِِّ ‫ص‬ َ ٌ‫ّللاُ لَ ُهم‬
َ ٌ‫س َكن‬
َ ٌ‫صالت َكٌَ ِإن‬ ٌ ‫َو‬

ٌ‫س ِميع‬
َ

Artinya :

ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan

dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu

itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi

Maha mengetahui.

Surat Al-Baqarah ayat 43 :

ٌَ‫َو َوأ َ ِقي ُموا الص َالٌة َ الز َكاٌة َ آتُوا َوار َكعُوا َم ٌَع الرا ِك ِعين‬

Artinya :

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang

ruku.

Surat Al-Baqarah ayat 110 :

25
‫الص َالٌة َ َوآتُوا الز َكاٌة َ َو َما تُقَ ِ ِّد ُموا ِِلَنفُ ِس ُكم ِ ِّمنٌ خَيرٌ ت َِجدُوٌهُ ِعن ٌَد اللـ ٌِه إِنٌ اللـ ٌهَ ِب َما ت َع َملُو‬
‫َوأَقِي ُموا‬

ٌ‫صير‬
ِ َ‫نٌَ ب‬
Artinya :

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu

usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah.

Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.

Dalil yang menjelaskan pajak menurut islam

Surat At- Taubah : 41

ٌَ‫ل ّللاٌِ َٰ َذ ِل ُكمٌ خَيرٌ لَ ُكمٌ إِنٌ ُكنتُمٌ ت َعلَ ُمون‬ َ ‫ِخفَافا َو ِثقَالٌ َو َجا ِه ٌُد وا ِبأَم َوا ِل ُكمٌ َوأَنفُ ِس ُكمٌ ِفي‬
ٌِ ‫س ِبي‬
‫ان ِف ُروا‬

Artinya :

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan
berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu
adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Kesimpulan
Dari ayat di atas bisa kita simpulkan bahwa zakat merupakan suatu

kewajiban umat muslin dan merupakan salah satu dari rukun islam.Karena zakat

mententramkan jiwa kita.

Sedangkan Pajak merupak jalan kebaikan dengan cara menjihadkan

sebagian harta di jalan allah yang akan membuat dirimu lebih baik.

26
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Zakat adalah hak tertentu yang diwajibkan Allah terhadap harta kaum

muslimin yang di peruntukkan bagi fakir miskin dan mustahik lainnya, sebagai

tanda syukur atas nikmat Allah dan untuk mendekatkan diri kepada –Nya serta

membersihkan diri dari hartanya. Sedangkan, pajak menurut para ahli keuangan

ialah : kewajiban yang ditetapkan terhadap wajib pajak, yang harus disetorkan

kepada negara sesuai dengan ketentuan, tanpa dapat prestasi kembali dari negara,

dan hasilnya untuk membiayai pengeluaran – pengeluaran umum disatu pihak dan

untuk merealisir sebagian tujuan ekonomi.

Zakat dan pajak meski keduanya sama-sama merupakan kewajiban dalam

bidang harta, namun keduanya mempunyai falsafah yang khusus dan keduanya

berbeda sifat dan asasnya, berbeda sumbernya, sasarannya, begian serta kadarnya,

disamping itu berbeda pula mengenai prinsip tujuan dan jaminannya.

B. Saran
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah

ini, untuk itu penulis mengharapkan kepada pembaca untuk dapat memberikan

kritik dan saran demi kemajuan penulisan makalah selanjutnya.

27
DAFTAR PUSTAKA

Hasan, M Ali, 2006, zakat dan infak: salah satusolusi mengatasi masalah sosial
di indonesia, jakarta : kencana

Mufraini, M Arief, 2006,akuntansi dan manajemen zakat,jakarta : kencana

Gusfahmi, 2007, pajak menurut syari’ah, jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Qardawi, Yusuf, 1988, Hukum Zakat, Bogor: PT Pustaka Litera Antar Nusa,

Mhd. Ali, Nuruddin. 2006. Zakat Sebagai Instrumen Dalam Kebijakan Fiskal.
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Qardawi, Yusuf. 2007. Hukum Zakat. Bogor: Litera Antar Nusa.

Nuruddin Mhd. Ali, Zakat Sebagai Instrumen Dalam Kebijakan Fiskal, (Jakarta:
Pt RajaGrafindo Persada, 2006)

28
29