Anda di halaman 1dari 52

TUGAS

KIMIA ANALITIK
“ALKALIMETRI”

Kelompok 2
1. Afriani Bahtiar (PO713203181002)
2. Alan Dwi Saputra
3. Ananda Dwijayanti Putri
4. Hardiyanti Amanda
5. Suci Lestari Ramli
6. Riswana Ramlan
7. Suriani
8. Nurul Aziza
Kata Pengantar

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha


Esa, karena rahmatNya lah kami dapat
menyelesaikan tugas ini yang berjudul
“Alkalimetri”
Dalam penyusunan ini, tidak sedikit
kesulitan dan hambatan yang kami
alami, namun berkat dukungan,
dorongan dan semangat dari orang
terdekat, sehingga kami mampu
menyelesaikannya. Oleh karena itu kami
pada kesempatan ini mengucapkan
terima kasih.
Kami menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dalam tugas ini. Oleh karena
itu segala kritikan dan saran yang
membangun akan kami terima dengan
baik. Semoga tugas "Alkalimetri" ini
bermanfaat bagi kita semua.

Makassar, 28 Juli 2019

Penulis,

2
Daftar Isi
KATA PENGANTAR………………………i
DAFTAR ISI ………………………………ii
DAFTAR TABEL………………………….iii
DAFTAR GAMBAR ……………………...iv
BAB I PENDAHULUAN …………………1
A. Pendahuluan ……………………..1
BAB II Isi dan Pembahasan……………..2
A. Pengertian Titrasi.........................2
B. Pengertian Asidi-Alkalimetri……..5
C. PengertianIndikator………………6
D. Pengertian Alkalimetri……………9
E. Rumus Umum Titrasi…………...10
BAB II Penutup …………………………11
A. Kesimpulan ……………………..12
B. Saran……………………………..12
C. Lampiran ………………………..13
DAFTAR PUSTAKA ……………………16

3
Daftar Tabel
Tabel 3.1 Indikator Asam Basa………….6
Daftar Gambar
Gambar 2.1 Rangkaian alat Titrasi…….3

4
Bab I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kimia merupakan aspek yang tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan. Baik secara
inplisit maupun eksplisit. Ini dikarenakan
kimia dapat ditemukan dimana saja,
mulai dari hal-hal yang sederhana seperti
air, sampai dengan hal yang kompleks
seperti baja dan besi. Hal inilah yang
mendasari pendalaman ilmu kimia ke
tingkat yang lebih tinggi, yaitu kimia
analisis. Kimia Analitik merupakan salah
satu cabang Ilmu Kimia yang
mempelajari tentang pemisahan dan
pengukuran unsur atau senyawa kimia.
Dalam melakukan pemisahan atau
pengukuran unsur atau senyawa kimia,
memerlukan atau menggunakan metode
analisis kimia. Kimia analitik mencakup
kimia analisis kualitatif dan kimia analisis
kuantitatif. Analisis kualitatif menyatakan
keberadaan suatu unsur atau senyawa
dalam sampel, sedangkan analisis
kuantitatif menyatakan jumlah suatu
unsur atau senyawa dalam sampel.
Alkalimetri (Alkali = basa, metri =
pengukuran) diartikan sebagai titrasi

5
untuk penetapan asam dengan standart
basa sebagai alat ukurnya. Faktor utama
dalam menentukan pengukuran adalah
[H+] dan [OH-] dalam larutan, baik
sebagai titrat maupun sebagai titran.
Alkalimetri memiliki kebalikan dalam
titrasi, yaitu asidimetri, dimana
penetapan basa dengan asam standar
sebagai alat ukurnya.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah metode titrasi
alkalimetri?
2. Aspek apa sajakah yang
diperhatikan ketika melakukan
titrasi alkalimetri?

C. Manfaat
Manfaat yang diperoleh setelah
membaca makalah ini :
1. Dapat mengetahui cara titrasi
alkalimetri dan metodenya
2. Dapat mengetahui detil dalam
perlakuan titrasi alkalimetri
3. Dapat mengetahui reaksi
dalam titrasi alkalimetri

6
Bab II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Titrasi
Reaksi penetralan dalam analisis
titrimetri lebih dikenal sebagai reaksi
asam basa. Reaksi ini menghasilkan
larutan yang pH-nya lebih netral.
(Khopkar, 1990) Secara umum metode
titrimetri didasarkan pada reaksi kimia
sebagai berikut:

aA + tT = produk

Dimana a molekul analit A


bereaksi dengan t molekul pereaksi T.
untuk menghasilkan produk yang sifat
pH-nya netral. Dalam reaksi tersebut
salah satu larutan (larutan standar)
konsentrasi dan pH-nya telah diketahui.
Saat equivalen mol titran sama dengan
mol analitnya begitu pula mol
equivalennya juga berlaku sama
(Khopkar, 1990).
N titran = N analit
N eq titran = N eq analit

dengan demikian secara stoikiometri

7
dapat ditentukan konsentrasi larutan ke
dua. (Day, dkk, 1986)
Dalam analisis titrimetri,
sebuah reaksi harus memenuhi
beberapa persyaratan sebelum reaksi
tersebut dapat dipergunakan,
diantaranya:
- Reaksi itu sebaiknya diproses
sesuai persamaan kimiawi tertentu
dan tidak adanya reaksi
sampingan
- Reaksi itu sebaiknya diproses
sampai benar-benar selesai pada
titik ekivalensi. Dengan kata lain
konstanta kesetimbangan dari
reaksi tersebut haruslah amat
besar besar. Maka dari itu dapat
terjadi perubahan yang besar
dalam konsentrasi analit (atau
titran) pada titik ekivalensi.
- Diharapkan tersedia beberapa
metode untuk menentukan kapan
titik ekivalen tercapai. Dan
diharapkan pula beberapa
indikator atau metode instrumental
agar analis dapat menghentikan
penambahan titran

8
- Diharapkan reaksi tersebut
berjalan cepat, sehingga titrasi
dapat dilakukan hanya beberapa
menit. (Day, dkk, 1986)

Gambar 2.1 Rangkaian Alat Titrasi


(anonim, 2009)

9
Titrasi merupakan suatu metode
untuk menentukan kadar suatu zat
dengan menggunakan zat lain yang
sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi
biasanya dibedakan berdasarkan jenis
reaksi yang terlibat di dalam proses
titrasi, sebagai contoh bila melibatan
reaksi asam basa maka disebut sebagai
titrasi asam basa, titrasi redoks untuk
titrasi yang melibatkan reaksi reduksi
oksidasi, titrasi kompleksometri untuk
titrasi yang melibatkan pembentukan
reaksi kompleks dan lain sebagainya
(Day, dkk, 1986).

Larutan yang telah diketahui


konsentrasinya disebut dengan titran.
Titran ditambahkan sedikit demi sedikit
(dari dalam buret) pada titrat (larutan
yang dititrasi) sampai terjadi perubahan
warna indikator baik titrat maupun titran
biasanya berupa larutan. Saat terjadi
perubahan warna indikator, maka titrasi
dihentikan. Saat terjadi perubahan warna
indikator dan titrasi diakhiri disebut
dengan titik akhir titrasi dan diharapkan
titik akhir titrasi sama dengan titik
ekivalen. Semakin jauh titik akhir titrasi

10
dengan titik ekivalen maka semakin
besar kesalahan titrasi dan oleh karena
itu, pemilihan indikator menjadi sangat
penting agar warna indikator berubah
saat titik ekivalen tercapai. Pada saat
tercapai titik ekivalen maka pH-nya 7
(netral).
Syarat zat yang bisa dijadikan standar
primer:
- Zat harus 100% murni
- Zat tersebut harus stabil baik pada
suhu kamar ataupun pada waktu
dilakukan pemanasan, standar
primer biasanya dikeringkan
terlebih dahulu sebelum ditimbang
- Mudah diperoleh
- Biasanya zat standar primer
memiliki massa molar (Mr) yang
besar hal ini untuk memperkecil
kesalahan pada waktu proses
penimbangan. Menimbang zat
dalam jumlah besar memiliki
kesalahan relatif yang lebih kecil
dibanding dengan menimbang zat
dalam jumlah yang kecil
- Zat tersebut juga harus memenuhi
persyaratan teknik titrasi (Anonim,

11
2009)

Proses penambahan larutan standar


sampai reaksi tepat lengkap, disebut
titrasi. Titik dimana reaksi itu tepat
lengkap, disebut titik ekivalen (setara)
atau titik akhir teoritis. Pada saat titik
ekivalen ini maka proses titrasi
dihentikan, kemudian kita mencatat
volume titer yang diperlukan untuk
mencapai keadaan tersebut. Dengan
menggunakan data volume titran, volume
dan konsentrasi titer maka kita bisa
menghitung kadar titran. Lengkapnya
titrasi, harus terdeteksi oleh suatu
perubahan, yang tak dapat disalah lihat
oleh mata, yang dihasilkan oleh larutan
standar (biasanya ditambahkan dari
dalam sebuah buret) itu sendiri, atau
lebih lazim lagi, oleh penambahan suatu
reagensia pembantu yang dikenal
sebagai indikator (Anonim, 2009)
Untuk menetapkan titik akhir pada
proses netralisasi ini digunakan indikator.
Menurut W. Ostwald, indikator adalah
suatu senyawa organik kompleks dalam
bentuk asam atau dalam bentuk basa
yang mampu berada dalam keadaan dua

12
macam bentuk warna yang berbeda dan
dapat saling berubah warna dari bentuk
satu ke bentuk yang lain ada konsentrasi
H+ tertentu atau pada pH tertentu
(Harjadi, 1986).
Jalannya proses titrasi netralisasi dapat
diikuti dengan melihat perubahan pH
larutan selama titrasi, yang terpenting
adalah perubahan pH pada saat dan di
sekitar titik ekuivalen karena hal ini
berhubungan erat dengan pemilihan
indikator agar kesalahan titrasi sekecil-
kecilnya (Harjadi, 1986).
Larutan asam bila direaksikan dengan
larutan basa akan menghasilkan garam
dan air. Sifat asam dan sifat basa akan
hilang dengan terbentuknya zat baru
yang disebut garam yang memiliki sifat
berbeda dengan sifat zat asalnya.
Karena hasil reaksinya adalah air yang
memiliki sifat netral yang artinya jumlah
ion H+ sama dengan jumlah ion OH-
maka reaksi itu disebut dengan reaksi
netralisasi atau penetralan. Pada reaksi
penetralan, jumlah asam harus ekivalen
dengan jumlah basa. Untuk itu perlu
ditentukan titik ekivalen reaksi. Titik
ekivalen adalah keadaan dimana jumlah

13
mol asam tepat habis bereaksi dengan
jumlah mol basa. Untuk menentukan titik
ekivalen pada reaksi asam-basa dapat
digunakan indikator asam-basa.
Ketepatan pemilihan indikator
merupakan syarat keberhasilan dalam
menentukan titik ekivalen. Pemilihan
indikator didasarkan atas pH larutan hasil
reaksi atau garam yang terjadi pada saat
titik ekivalen (Harjadi, 1986).
Salah satu kegunaan reaksi netralisasi
adalah untuk menentukan konsentrasi
asam atau basa yang tidak diketahui.
Penentuan konsentrasi ini dilakukan
dengan titrasi asam-basa. Titrasi adalah
cara penentuan konsentrasi suatu
larutan dengan volume tertentu dengan
menggunakan larutan yang sudah
diketahui konsentrasinya. Bila titrasi
menyangkut titrasi asam-basa maka
disebut dengan titrasi adisi-alkalimetri
(Harjadi, 1986).

2. Rumus umum Titrasi


Pada saat titik ekuivalen maka mol-
ekuivalen asam akan sama dengan mol-
ekuivalen basa (Valcarcel, 2000), maka
hal ini dapat ditulis sebagai berikut:

14
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen
basa
Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil
perkalian antara normalitas (N) dengan
volume (Valcarcel, 2000), maka rumus
diatas dapat ditulis sebagai berikut:
N asam x V asam = N asam x V basa
Normalitas diperoleh dari hasil perkalian
antara molaritas (M) dengan jumlah ion
H+ pada asam atau jumlah ion OH- pada
basa (Valcarcel, 2000), sehingga rumus
diatas menjadi:
(n x M asam) x V asam = (n x M basa) x
V basa
Keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas
n = Jumlah ion H +(pada asam) atau OH-
(pada basa)

3. Pengertian Asidi-Alkalimetri
Asidi dan alkalimetri ini melibatkan titrasi
basa yang terbentuk karena hidrolisis
garam yang berasal dari asam lemah
(basa bebas) dengan suatu asam
standar (asidimetri), dan titrasi asam
yang terbentuk dari hidrolisis garam yang

15
berasal dari basa lemah (asam bebas)
dengan suatu basa standar (alkalimetri).
Bersenyawanya ion hidrogen dan ion
hidroksida untuk membentuk air
merupakan akibat reaksi-reaksi tersebut
(Ham, 2006).
Titrasi asam basa melibatkan asam
maupun basa sebagai titer ataupun
titran. Titrasi asam basa berdasarkan
reaksi penetralan. Kadar larutan asam
ditentukan dengan menggunakan larutan
basa dan sebaliknya. reaksi). Keadaan
ini disebut sebagai “titik ekivalen”
(Pierce, 1967).
Pada saat titik ekivalen ini maka proses
titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat
volume titer yang diperlukan untuk
mencapai keadaan tersebut. Dengan
menggunakan data volume titran, volume
dan konsentrasi titer maka kita bisa
menghitung kadar titran (Pierce, 1967).
Ada dua cara umum untuk menentukan
titik ekivalen pada titrasi asam basa,
yaitu:
1. Memakai pH meter untuk memonitor
perubahan pH selama titrasi dilakukan,
kemudian membuat plot antara pH
dengan volume titran untuk memperoleh

16
kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi
tersebut adalah titik ekuivalen.
2. Memakai indikator asam basa.
Indikator ditambahkan pada titran
sebelum proses titrasi dilakukan.
Indikator ini akan berubah warna ketika
titik ekuivalen teradi, pada saat inilah
titrasi kita hentikan (Pierce, 1967).
3. Pengertian Indikator
Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi
maka titik akhir titrasi dipilih sedekat
mungkin dengan titik ekivalen, hal ini
dapat dilakukan dengan memilih
indikator yang tepat dan sesuai dengan
titrasi yang akan dilakukan. (Ham, 2006).
Keadaan dimana titrasi dihentikan
dengan cara melihat perubahan warna
indikator disebut sebagai titik akhir titrasi
(Anonim, 2009). Titik akhir titrasi adalah
keadaan dimana reaksi telah berjalan
dengan sempurna yang biasanya
ditandai dengan pengamatan visual
melalui perubahan warna indikator.
Indikator yang digunakan pada titrasi
asam basa adalah asam lemah atau
basa lemah. Asam lemah dan basa
lemah ini umumnya senyawa organik
yang memiliki ikatan rangkap

17
terkonjugasi yang mengkontribusi
perubahan warna pada indikator
tersebut. Jumlah indikator yang
ditambahkan kedalam larutan yang akan
dititrasi harus sesedikit mungkin,
sehingga indikator tidak mempengaruhi
pH larutan dengan demikian jumlah titran
yang diperlukan untuk terjadi perubahan
warna juga seminimal mungkin.
Umumnya dua atau tiga tetes larutan
indikator 0,1% ( b/v ) diperlukan untuk
keperluan titrasi. Dua tetes ( 0,1 ml )
indikator ( 0,1% dengan berat formula
100 ) adalah sama dengan 0,01 ml
larutan titran dengan konsentrasi 0,1 M
(Pierce, 1967).
Indikator asam basa akan memiliki
warna yang berbeda dalam keadaan tak
terionisasi dengan keadaan terionisasi.
Sebagai contoh untuk indikator
phenolphthalein ( pp ) seperti di atas
dalam keadaan tidak terionisasi ( dalam
larutan asam ) tidak akan berwarna
( colorless ) dan akan berwarna merah
keunguan dalam keadaan terionisasi
( dalam larutan basa ) (Pierce, 1967).
Warna yang akan teramati pada
penentuan titik akhir titrasi adalah warna

18
indikator dalam keadaan transisinya.
Untuk indikator phenolphthalein karena
indikator ini bertransisi dari tidak
berwarna menjadi merah keungguan
maka yang teramati untuk titik akhir
titrasi adalah warna merah muda. Contoh
lain adalah metil merah. Oleh karena
metil merah bertransisi dari merah ke
kuning, maka bila indikator metil merah
dipakai dalam titrasi maka pada titik akhir
titrasi warna yang teramati adalah
campuran merah dengan kuning yaitu
menghasilkan warna orange (Anonim,
2009).
Tabel 3.1 Indikator Asam Basa

KUANTITAS
RENTANG
INDIKATOR PENGGUNAAN ASAM BASA
PH
PER 10 ML

1-2 tetes 0,1%


Timol biru 1,2-2,8 merah kuning
larutan

1 tetes 0,1% dlm tak


Pentametoksi merah-
1,2-2,3 larutan 0% berwarn
merah ungu
alkohol a

Tropeolin OO 1,3-3,2 1 tetes 1% larutan merah kuning

2,4- 1-2 tetes 0,1% tak


2,4-4,0 kuning
Dinitrofenol larutan dlm 50% berwarna

19
alcohol

1 tetes 0,1%
Metil kuning 2,9-4,0 larutan dlm 90% merah kuning
alkohol

1 tetes 0,1%
Metil oranye 3,1-4,4 merah oranye
larutan

Bromfenol 1 tetes 0,1% biru-


3,0-4,6 kuning
biru larutan ungu

Tetrabromfen 1 tetes 0,1%


3,0-4,6 kuning biru
ol biru larutan

Alizarin
1 tetes 0,1%
natrium 3,7-5,2 kuning ungu
larutan
sulfonat

1 tetes 0,1%
α-Naftil
3,7-5,0 larutan dlm 70% merah kuning
merah
alkohol

p-
1 tetes 0,1%
Etoksikrisoidi 3,5-5,5 merah kuning
larutan
n

Bromkresol 1 tetes 0,1%


4,0-5,6 kuning biru
hijau larutan

1 tetes 0,1%
Metil merah 4,4-6,2 merah kuning
larutan

Bromkresol 1 tetes 0,1%


5,2-6,8 kuning ungu
ungu larutan

20
Klorfenol 1 tetes 0,1%
5,4-6,8 kuning merah
merah larutan

Bromfenol 1 tetes 0,1%


6,2-7,6 kuning biru
biru larutan

1-5 tetes 0,1% tak


p-Nitrofenol 5,0-7,0 kuning
larutan berwarna

5 tetes 0,5%
Azolitmin 5,0-8,0 merah biru
larutan

1 tetes 0,1%
Fenol merah 6,4-8,0 kuning merah
larutan

1 tetes 0,1%
Neutral
6,8-8,0 larutan dlm 70% merah kuning
merah
alkohol

1 tetes 0,1%
Rosolik acid 6,8-8,0 larutan dlm 90% kuning merah
alkohol

1 tetes 0,1%
Kresol merah 7,2-8,8 kuning merah
larutan

1-5 tetes 0,1%


merah
α-Naftolftalein 7,3-8,7 larutan dlm 70% hijau
mawar
alcohol

Tropeolin 1 tetes 0,1% merah


7,6-8,9 kuning
OOO larutan mawar

1-5 tetes 0,1%


Timol biru 8,0-9,6 kuning biru
larutan

21
1-5 tetes 0,1%
Fenolftalein tak
8,0-10,0 larutan dlm 70% merah
(pp) berwarna
alcohol

1-5 tetes 0,1%


α-
9,0-11,0 larutan dlm 90% kuning biru
Naftolbenzein
alcohol

1 tetes 0,1%
tak
Timolftalein 9,4-10,6 larutan dlm 90% biru
berwarna
alkohol

1 tetes 0,1%
Nile biru 10,1-11,1 biru merah
larutan

Alizarin 1 tetes 0,1%


10,0-12,0 kuning lilac
kuning larutan

1-5 tetes 0,1%


oranye-
Salisil kuning 10,0-12,0 larutan dlm 90% kuning
coklat
alcohol

1 tetes 0,1%
Diazo ungu 10,1-12,0 kuning ungu
larutan

1 tetes 0,1% oranye-


Tropeolin O 11,0-13,0 kuning
larutan coklat

1-2 tetes 0,1%


tak oranye-
Nitramin 11,0-13,0 larutan dlm 70%
berwarna coklat
alcohol

1 tetes 0,1% ungu-


Poirrier's biru 11,0-13,0 biru
larutan pink

22
Asam
1 tetes 0,1% tak oranye-
trinitrobenzoa 12,0-13,4
larutan berwarna merah
t

4. Pengertian Alkalimetri
Alkalimetri merupakan penetapan kadar
senyawa-senyawa yang bersifat asam
dengan menggunakan baku basa. Basa
yang digunakan biasanya adalah natrium
hidroksida (NaOH). Sebelum digunakan,
larutan NaOH harus distandarisasi
dahulu dengan asam oksalat (H2C2O4).
Hidroksida-hidroksida dari natrium,
kalium dan barium umumnya digunakan
sebagai larutan standar alkalis (basa).
Ketiganya merupakan basa kuat dan
sangat mudah larut dalam air.
Pembuatan larutan standar alkalis dan
amonium hidroksida tidak dibenarkan,
kecuali bersifat sebagai basa lemah,
pada proses pelarutan dilepaskan gas
amonia (beracun).
Natrium hidroksida paling sering
digunakan karena murah dan
kemurniannya tinggi. Oleh karena
sifatnya yang sangat higroskopis, maka
diperlukan ketelitian pada proses
penimbangan. Pada saat penimbangan

23
gunakan botol timbang bertutup untuk
mengurangi kesalahan. Standarisasi
larutan NaOH dapat dilakukan dengan
larutan asam oksalat sesuai dengan
reaksinya sebagai berikut
NaOH (aq) + H2C2O4 (aq) → Na2C2O4
(aq) + 2 H2O (l)
Titrasi alkalimetri adalah suatu proses
titrasi untuk penentuan konsentrasi suatu
asam dengan menggunakan larutan
basa sebagai standar. Reaksi yang
terjadi pada prinsipnya adalah reaksi
netralisasi, yaitu pembentukan garam
dan H2O netral (pH = 7) hasil reaksi
antara H+ dari suatu asam dan OH- dari
suatu basa.
Reaksi berlangsung stoikiometri apabila
mgrek pentitrasi sama dengan mgrek
titran, saat ini disebut dengan titik
ekivalen. Dalam praktek kondisi ini tidak
bisa dilihat secara visual tetapi dapat
dilihat dengan bantuan indikator (asam-
basa) yang mempunyai warna yang
spesifik pada ph tertentu. Seperti
indicator phenolftalein (pp) akan
berwarna pink pada ph 8,3-10. Saat
tercapainya perubahan warna pada titran
disebut dengan titik titrasi.

24
Asidimetri dan alkalimetri termasuk
reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion
hidrogen yang berasal dari asam dengan
ion hidroksida yang berasal dari basa
untuk menghasilkan air yang bersifat
netral. Netralisasi dapat juga dikatakan
sebagai reaksi antara pemberi proton
(asam) dengan penerima proton (basa)
Reaksi dijalankan secara titrasi, yaitu
suatu larutan ditambahkan dari buret
sedikit demi sedikit, sampai jumlah zat-
zat yang direaksikan tepat menjadi
ekivalen satu sama lain. Pada saat titran
yang ditambahkan tampak telah
ekivalen, maka penambahan titran harus
dihentikan, saat ini dinamakan titik akhir
titrasi. Larutan yang ditambahkan dalam
buret disebut titran, sedangkan larutan
yang ditambahkan titran itu disebut
titrat. (http://osun.org/titrasi-alkalimetri-
pdf-3.html)
Untuk menetapkan titik akhir pada
proses netralisasi ini digunakan indikator.
Menurut W. Ostwald, indikator adalah
suatu senyawa organik kompleks dalam
bentuk asam (Hin) atau dalam bentuk
basa (InOH) yang mampu berada dalam
keadaan dua macam bentuk warna yang

25
berbeda dan dapat saling berubah warna
dari warna satu ke warna yang lain.
Jalannya proses titrasi netralisasi dapat
diikuti dengan melihat perubahan pH
larutan selama titrasi, yang terpenting
adalah perubahan pH di sekitar titik
ekuivalen karena hal ini berhubungan
erat dengan pemilihan indikator agar
kesalahan titrasi sekecil-kecilnya.
1. TUJUAN
Menentukan kadar Asam Asetat
(CH3COOH)

2. PRINSIP
Berdasarkan reaksi netralisasi antara
asam dan basa.

3. REAKSI
CH3COOH(aq)+ NaOH(aq) –>
CH3COONa(aq) + H2O(l)
C2H2O4 (aq) + 2 NaOH(aq) –> Na2C2O4 (aq)+
H2O(l)

26
IV. TEORI

Alkalimetri merupakan metode


titrasi asam-basa dengan menggunakan
larutan baku sekunder basa dan larutan
baku primer asam
Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk
dapat dilakukan analisis volumetrik
adalah sebagai berikut :

27
1. Reaksinya harus berlangsung sangat
cepat.
2. Reaksinya harus sederhana serta dapat
dinyatakan dengan persamaan reaksi
yang kuantitatif/stokiometrik.
3. Harus ada perubahan yang terlihat pada
saat titik ekuivalen tercapai, baik secara
kimia maupun secara fisika.
4. Harus ada indicator jika reaksi tidak
menunjukkan perubahan kimia atau
fisika. Indikator potensiometrik dapat
pula digunakan.
5. Alat-alat yang digunakan pada analisa
titrimetri ini adalah sebagai berikut :
6. Alat pengukur volume kuantitatif seperti
buret, labu ukur, dan pipet volume yang
telah di kalibrasi.
7. Larutan standar yang telah diketahui
konsentrasinya secara teliti atau baku
primer dan sekunder dengan kemurnian
tinggi.
8. Indikator atau alat lain yang dapat
menunjukkan titik akhir titrasi telah di
capai.

28
Larutan baku (standar) adalah
larutan yang telah diketahui
konsentrasinya secara teliti, dan
konsentrasinya biasa dinyatakan dalam
satuan N (normalitas) atau M (molaritas).
Larutan standar sekunder adalah larutan
yang konsentrasinya diperoleh dengan
cara mentitrasi dengan larutan standar
primer, biasanya melalui metode
titrimetri. Contoh: AgNO3, KMnO4,
Fe(SO4)2.
a). Zat yang dapat digunakan untuk
larutan baku sekunder, biasanya memiliki
karakteristik seperti di bawah ini:
1. Tidak mudah diperoleh dalam bentuk
murni ataupun dalam keadaan yang
diketahui kemurniannya.

29
2. Zatnya tidak mudah dikeringkan,
higrokopis, menyerap uap air, menyerap
CO2 pada waktu penimbangan
3. Derajat kemurnian lebih rendah daripada
larutan baku primer
4. Mempunyai BE yang tinggi untuk
memperkecil kesalahan penimbangan
5. Larutannya relatif stabil dalam
penyimpanan
6. Larutan baku dapat dibuat dengan cara
penimbangan zatnya lalu dilarutkan
dalam sejumlah pelarut(air). Larutan
baku ini sangat bergantung pada jenis
zat yang ditimbangnya/dibuat.

b). Syarat-syarat larutan baku primer :


1. Larutan yang dibuat dari zat yang
memenuhi syarat-syarat tertentu .Syarat
agar suatu zat menjadi larutan baku
primer adalah:
2. Mudah diperoleh, dimurnikan,
dikeringkan (jika mungkin pada suhu
110-1200C) dan disimpan dalam keadaan
murni.
3. Tidak bersifat higroskopis dan tidak
berubah berat dalam penimbangan di
udara.

30
4. Zat tersebut dapat diuji kadar
pengotornya dengan uji kualitatif
dan kepekaan tertentu.
5. Sedapat mungkin mempunyai
massa relatif dan massa ekivalen
yang besar, sehingga kesalahan
karena penimbangan dapat
diabaikan.
6. Zat tersebut harus mudah larut
dalam pelarut yang dipilih
7. Reaksi yang berlangsung dengan
pereaksi tersebut harus bersifat
stoikiometrik dan langsung.
kesalahan titrasi harus dapat
diabaikan atau dapat ditentukan
secara tepat dan mudah.

Larutan baku primer biasanya dibuat


hanya sedikit, penimbangan yang
dilakukanpun harus teliti, dan dilarutkan
dengan volume yang akurat. Pembuatan
larutan baku primer ini biasanya
dilakukan dalam labu ukur yang
volumenya tertentu. Zat yang dapat
dibuat sebagai larutan baku primer
adalah asam oksalat, Boraks, asam
benzoat (C6H5COOH), K2Cr2O7, AS2O3,
NaCl.

31
Konsentrasi larutan baku yang
digunakan dapat berupa
molaritas(jumlah mol zat terlarut dalam
satu liter larutan) dan normalitas(jumlah
ekivalen zat terlarut dalam satu liter
larutan). Satuan molaritas merupakan
satuan dasar yang digunakan secara
internasional, sedangkan satuan
normalitas biasa juga dilakukan dalam
analisis karena dapat memudahkan
perhitungan.
Indikator adalah zat yang
ditambahkan untuk menunjukkan titik
akhir titrasi telah di capai. Umumnya
indicator yang digunakan adalah

32
indicator azo dengan warna yang spesifik
pada berbagai perubahan pH.
Kadang-kadang kita perlu
mengetahui tidak hanya atau sekedar
pH, akan tetapi perlu kita ketahui juga
berapa banyak asam atau basayang
terdapat didalam sampel. Sebagai
contoh, seorang ahli kimia lingkungan
mempelajari suatu danau dimana ikan-
ikannya mati. Dia harus mengetahui
secara pasti seberapa banyak asam
yang terkandung dalam suatu sampel air
danau tersebut. Titrasi melibatkan suatu
proses penambahan suatu larutan yang
disebut tirant dari buret ke suatu flask
yang berisi sampel dan disebut analit.
Berhasilnya titrasi asam-basa tergantung
pada seberapa akurat kita dapat
mendeteksi titik stoikiometri. Pada titik
tersebut, jumlah mol dari H3O+ dan OH–
yang ditambahkan sebagai titrant adlah
sama dengan jumlah mol dari OH- atau
H3O+ yang terdapat dalam analit. Pada
titik stoikiometri, larutan terdiri dari garam
dan air. Larutan tersebut adalah asam
apabila ion asam yang terkandung
didalamnya, dan basa apabila ion basa

33
yang terkandung didalamnya (Atkins,
1997 : 550).
Misalkan kita ingin menentukan
molaritas dari suatu larutan HCl yang
tidak diketahui konsentrasinya. Kita bisa
menentukan konsentrasi HCl tersebut
melalui suatu prosedur yang disebut
titrasi, dimana kita menetralisasi suatu
asam dengan suatu basa yang telah
diketahui konsentrasinya. Pada titrasi,
pertama-tama kita menempatkan suatu
asam yang volumenya telah ditentukan
ke dalam suatu flask. Dan tambahkan
beberapa tetes indikator seperti
penolftalein, kedalam larutan asam.
Dalam larutan asam, penolftalein tidak
berwarna. Kemudian, buret kita isi
dengan larutan NaOH yang
konsentrasinya telah diketahui. dan
dengan hati-hati NaOH ditambahkan ke
asam pada flask. Kita bisa mengetahui
bahwa netralisasi telah berlangsung
ketika penolftalein dalam larutan berubah
warna menjadi merah muda. Ini disebut
titik akhir netralisasi. Dari volume yang
ditambahkan dan molar NaOH, kita
dapat menentukan konsentrasi asam
(Timberlake, 2004 : 354-355)

34
V. ALAT DAN BAHAN
A. Alat
1. Labu ukur 250 mL
2. Erlenmayer
3. Buret
4. Kertas putih
5. Pipet Volume
6. Pipet gondok
7. Corong
8. Neraca Analitik

B. Bahan
1. 0,1575 g Asam oksalat
(H2C2O4.2H2O )

35
2. Larutan Baku Sekunder Natrium
Hidroksida (NaOH) 0,01 N
3. Larutan Sampel CH3COOH
(BM=60,05)
4. Indikator Phenolptalein
5. Aquadest

VI. PROSEDUR

A. Pembuatan larutan baku primer


1. Asam oksalat ditimbang seberat
0,1575 g di atas neraca analitik
2. Dimasukkan kedalam labu ukur
250 mL
3. Ditambahkan aquadest sampai
tanda kalibrasi
4. Labu ditutup dan dikocok

B. Pembakuan NaOH dengan


H2C2O4.2H2O
1. 25 mL larutan Asam olksalat di
pipet
2. Dimasukkan kedalam erlenmayer
3. Ditambahkan 3 tetes indikator
phenoptalein
4. Dititrasi dengan menggunakan
larutan NaOH 0,01 N sampai
larutan berwarna merah jambu

36
5. Volume pemakaian NaOH dicatat
6. Titrasi diulangi sekali lagi
7. Dihitung Normalitasnya

A. Penentuan kadar CH3COOH


1. Dipipet 25 mL larutan CH3COOH
2. Dimasukkan kedalam erlenmayer
3. Ditambahkan 3 tetes indikator
phenoptalein
4. Dititrasi dengan menggunakan
larutan NaOH 0,01 N sampai
larutan berwarna merah jambu
5. Volume pemakaian NaOH dicatat
6. Kadar CH3COOH ditentukan
dalam % (b/v)

VII. DATA PENGAMATAN


1. Pembakuan NaOH dengan
H2C2O4.2H2O
No Volume H2C2O4.2H2O Volume NaOH
1 25 mL 32,00 mL
2 25 mL 31,21 mL
Rata-rata 25 mL 31,6 mL

37
2. Penentuan kadar CH3COOH
No Volume H2C2O4.2H2O Volume NaOH
1 25 mL 36,5 mL
2 25 mL 36.5 mL
Rata-rata 25 mL 36,5 mL

VIII. PERHITUNGAN
A. Pembakuan NaOH dengan
H2C2O4.2H2O
BE = bobot molekul : valensi
N= (g:v) x (1000:250 ml) = 0,01 N
VNaOH N NaOH = Vasam oksalat . Nasam oksalat

31,6 mL . NNaoH = 25 mL. 0,01 N


NNaoH = 0,007911 N

B. Penentuan kadar CH3COOH


V1 N1 = V2 N2
25 mL . NAsam Asetat = 36,5 mL. 0,007911 N
N Asam Asetat = 0,01155 N
M= 0,01155 N
% kadar CH3COOH(b/v) = NxBMx
(100:1000)
= 0,01155 x 60,05 x (100:1000)
= 0,0693 %

38
Maka, Kadar CH3COOH adalah 0,0693
% (b/v)

5. Konsep teori asam basa


a. Menurut Archenius (akhir abad ke-
19)
Asam adalah suatu senyawa yang bila
dilarutkan dalam air akan melepaskan
H+ sebagai satu-satunya ion positif.
Contoh: HCl, HNO3, CH3COOH, dan
lain-lain.
HCl merupakan asam kuat, dimana
dalam air akan terdisosiasi sempurna:
HCl H+ + Cl-
+
H + HO 2 H3O+
Dari reaksi ini terlihat bahwa H+ tidak
terdapat bebas dalam air melainkan
terikat pada molekul H2O (kelemahan
teori Archenius).
Basa adalah suatu senyawa yang bila
dilarutkan dalam air, akan melepaskan
ion OH-.

b. Menurut Bronsted dan Lowry


Asam adalah suatu senyawa yang dapat
memberikan proton, disebut sebagai
donor proton. Basa adalah suatu

39
senyawa yang dapat menerima proton,
disebut sebagai akseptor proton.
Asam proton + Basa
konjugasi
A H+ + B
Jadi suatu asam dapat berbentuk:
a) Molekul, misalnya: H2SO4, HCl,
CH3COOH
b) Anion, misalnya: HSO4-, H2PO4-,
CH3COO-,COO-
c) Kation, misalnya: NH4+, C6H5NH3+,
Fe (H2O)3+
d) Suatu basa juga dapat berbentuk:
1) Molekul, misalnya: NH3,
C2H5NH2, H2O
2) Anion, misalnya:
CH3COO , OH , HPO4-2,
- -

C2H5O-
3) Kation, misalnya: Fe
(H2O)5 (OH)2+
Reaksi ini hanya terjadi bila ada suatu
basa yang dapat menerima proton dari
asam:
A1 B1 + H+
B2 + H + A2
A1 + B 2 A2 + B1
A1- B1 dan A2- B2 adalah pasangan-
pasangan konjugasi asam-basa.

40
Perpindahan proton terjadi dari A1 ke B2
atau dari A2 ke B1. Asam kuat
melepaskan proton dengan segera
sedangkan basa kuat dapat menerima
proton dengan segera pula.
c. Menurut G.N. Lewis
Asam adalah suatu senyawa yang dapat
menerima sepasang electron bebas,
disebut sebagai akseptor pasangan
electron bebas.
d. Menurut Boyle
Asam adalah suatu zat yang mempunyai
daya kemampuan melarutkan tinggi.
e. Menurut Roult
Basa adalah setiap zat yang bereaksi
dengan asam membentuk garam
Reaksi = Basa + Asam Garam
+ H2O
f. Menurut Liebeg
Asam adalah senyawa yang
mengandung H, yang dapat digantikan
oleh logam yang akan menghasilkan
garam.
Contoh: 2HCl + Na NaCl + H2

41
Bab III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Titrasi asam basa sering disebut
asidimetri-alkalimetri. Reaksi dasar
dalam titrasi asam-basa adalah
netralisasi atau penetralan, yaitu reaksi
asam dan basa, yang dapat dinyatakan
dalam persamaan reaksi seperti berikut :
H+ + OH- → H2O
Bila kita mengukur berapa ml larutan
asam bertitar tertentu yang diperlukan
untuk menetralkan larutan basa yang
kadar atau titernya belum diketahui,
maka pekerjaan itu disebut asidimetri.
Peniteran sebaliknya, asam dengan basa
yang titernya diketahui disebut
alkalimetri.
Dalam titrasi sampel direaksikan dengan
suatu pereaksi sehingga jumlah kedua
zat tersebut ekivalen. Bila pereaksi
digunakan dalam bentuk padat, maka
beratnya harus diketahui dengan tepat.
Bila pereaksi digunakan dalam bentuk
larutan, maka volume dan
konsentrasinya harus diketahui dengan
tepat. Larutan yang diketahui
konsentrasinya disebut larutan baku atau

42
larutan standar. Larutan standar dibagi
menjadi dua yaitu, larutan standar primer
dan larutan standar sekunder. Larutan
standar primer adalah larutan yang
kadarnya dapat diketahui secara
langsung dari hasil penimbangan.
Contohnya K2Cr2O7 dan Na2B4O7.
Pelaksanaan penentuan kadar zat
dengan jalan titrasi yaitu, larutan peniter
diteteskan sedikit demi sedikit kedalam
larutan contoh sampai tercapai titik akhir
titrasi yaitu, titik dimana indikator tepat
berubah warna. Hendaknya diusahakan
agar titik akhir ini sedekat mungkin pada
titik ekivalen yaitu, titik dimana titran dan
titrat tepat saling menghabiskan, tidak
ada kelebihan yang satu maupun yang
lain.
Dalam penentuan titik akhir titrasi
digunakan indikator yaitu, senyawaan
yang digunakan sebagai penunjuk visiual
pada saat tercapainya titik setara titrasi
antara dua larutan tertentu. Dalam asidi-
alkalimetri indikator yang digunakan
adalah indikator pH yaitu zat yang dapat
berubah warna apabila pH
lingkungannya berubah.

43
Dari uraian makalah ini, dapat diambil
kesimpulan bahwa alkalimetri merupakan
penetapan kadar senyawa-senyawa
yang bersifat asam dengan
menggunakan baku basa. Titrasi yang
melibatkan asam basa dipergunakan
secara meluas dalam analisis kuantitatif.
Faktor utama dalam menentukan
pengukuran adalah [H+] dan [OH-] dalam
larutan, baik sebagai titrat maupun
sebagai titran. Dalam titrasi alkalimetri,
didalam titrat asam sudah mempunyai
harga pH tertentu. Perjalanan titrasi
dengan penambahan titran yang akan
menyebabkan perubahan pH, yang pada
suatu saat nanti dimana M eq titrat = M
eq titran akan mempunyai pH tertentu.
Dalam reaksi alkalimetri penetapan
kadar ditentukan oleh larutan baku
primer dan larutan baku sekunder. Dan
reaksi alkalimetri dan untuk untuk
mengetahui konsentrasi H+ pada pH
dalam larutan itu diperlukan suatu
indikator diantaranya indikator
phenolphtalein, jingga metil, merah
kresol dan sebagainya. Indikator adalah
suatu senyawa kompleks organik, dapat
dalam bentuk asam (Hin) ataupun basa

44
(InOH) yang mampu berada dalam
keadaan dua bentuk warna yang
berbeda dan dapat saling berubah warna
dari bentuk satu kebentuk yang lain pada
konsentrasi H+ pada pH tertentu.
B. Saran
Metode alkalimetri dilakukan untuk
mengetahui penetapan kadar asam dari
suatu sample dengan larutan basa yang
sesuai. Metode alkalimetri juga
ditemukan dalam titrasi asam-basa yang
mendasar pada reaksi netralisasi yaitu
reaksi antara ion hidrogen dan ion
hydroksida yang membentuk molekul air.
Pemahaman reaksi ini harus dimengerti
karena dalam ilmu kimia analisis reaksi
ini diperlukan jika kita dihadapkan
dengan suatu permasalahan yaitu
penetapan kadar asam dari suatu
sample yang akan digunakan.

45
LAMPIRAN

Gambar 2.1 Rangkaian Alat Titrasi


(anonim, 2009)

46
Tabel 3.1 Indikator Asam Basa

KUANTITAS
RENTANG
INDIKATOR PENGGUNAAN ASAM BASA
PH
PER 10 ML

1-2 tetes 0,1%


Timol biru 1,2-2,8 merah kuning
larutan

1 tetes 0,1% dlm tak


Pentametoksi merah-
1,2-2,3 larutan 0% berwarn
merah ungu
alkohol a

Tropeolin OO 1,3-3,2 1 tetes 1% larutan merah kuning

1-2 tetes 0,1%


2,4- tak
2,4-4,0 larutan dlm 50% kuning
Dinitrofenol berwarna
alcohol

1 tetes 0,1%
Metil kuning 2,9-4,0 larutan dlm 90% merah kuning
alkohol

1 tetes 0,1%
Metil oranye 3,1-4,4 merah oranye
larutan

Bromfenol 1 tetes 0,1% biru-


3,0-4,6 kuning
biru larutan ungu

Tetrabromfen 1 tetes 0,1%


3,0-4,6 kuning biru
ol biru larutan

47
Alizarin
1 tetes 0,1%
natrium 3,7-5,2 kuning ungu
larutan
sulfonat

1 tetes 0,1%
α-Naftil
3,7-5,0 larutan dlm 70% merah kuning
merah
alkohol

p-
1 tetes 0,1%
Etoksikrisoidi 3,5-5,5 merah kuning
larutan
n

Bromkresol 1 tetes 0,1%


4,0-5,6 kuning biru
hijau larutan

1 tetes 0,1%
Metil merah 4,4-6,2 merah kuning
larutan

Bromkresol 1 tetes 0,1%


5,2-6,8 kuning ungu
ungu larutan

Klorfenol 1 tetes 0,1%


5,4-6,8 kuning merah
merah larutan

Bromfenol 1 tetes 0,1%


6,2-7,6 kuning biru
biru larutan

1-5 tetes 0,1% tak


p-Nitrofenol 5,0-7,0 kuning
larutan berwarna

5 tetes 0,5%
Azolitmin 5,0-8,0 merah biru
larutan

1 tetes 0,1%
Fenol merah 6,4-8,0 kuning merah
larutan

48
1 tetes 0,1%
Neutral
6,8-8,0 larutan dlm 70% merah kuning
merah
alkohol

1 tetes 0,1%
Rosolik acid 6,8-8,0 larutan dlm 90% kuning merah
alkohol

1 tetes 0,1%
Kresol merah 7,2-8,8 kuning merah
larutan

1-5 tetes 0,1%


merah
α-Naftolftalein 7,3-8,7 larutan dlm 70% hijau
mawar
alcohol

Tropeolin 1 tetes 0,1% merah


7,6-8,9 kuning
OOO larutan mawar

1-5 tetes 0,1%


Timol biru 8,0-9,6 kuning biru
larutan

1-5 tetes 0,1%


Fenolftalein tak
8,0-10,0 larutan dlm 70% merah
(pp) berwarna
alcohol

1-5 tetes 0,1%


α-
9,0-11,0 larutan dlm 90% kuning biru
Naftolbenzein
alcohol

1 tetes 0,1%
tak
Timolftalein 9,4-10,6 larutan dlm 90% biru
berwarna
alkohol

1 tetes 0,1%
Nile biru 10,1-11,1 biru merah
larutan

49
Alizarin 1 tetes 0,1%
10,0-12,0 kuning lilac
kuning larutan

1-5 tetes 0,1%


oranye-
Salisil kuning 10,0-12,0 larutan dlm 90% kuning
coklat
alcohol

1 tetes 0,1%
Diazo ungu 10,1-12,0 kuning ungu
larutan

1 tetes 0,1% oranye-


Tropeolin O 11,0-13,0 kuning
larutan coklat

1-2 tetes 0,1%


tak oranye-
Nitramin 11,0-13,0 larutan dlm 70%
berwarna coklat
alcohol

1 tetes 0,1% ungu-


Poirrier's biru 11,0-13,0 biru
larutan pink

Asam
1 tetes 0,1% tak oranye-
trinitrobenzoa 12,0-13,4
larutan berwarna merah
t
(Sumber : Analisis Kimia kuantitatif,
Edisi Kelima)

50
DAFTAR PUSTAKA

Anonim .2009. Analisis Volumetri atau


Titrimetri. http://belajarkimia.com
(Diakses pada 26 Februari 2013)

Day, RA dan Underwood. 1986. Analisis


Kimia kuantitatif. Edisi Kelima:
Erlangga. Jakarta

HAM, Mulyono. 2006. Kamus Kimia .


Edisi Pertama. Bumi Aksara.
Jakarta

Harjadi W. 1986. Ilmu Kimia Analitik


Dasar, PT Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta

Khopkar SM. 1990. Konsep dasar Kimia


Analitik. UI Press. Jakarta

Pierce WC, Sawyer DT, Haenisch EL.


1967. Quantitative Analysis. John
Wiley and Sons, Inc. New
York,U.S
Valcarcel M. 2000. Principles of
Analytical Chemistry. Springer.
New York, U.S

51
Watson D G.2009. Analisis Farmasi.
EGC. Jakarta

52