Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN DENGAN HALUSINASI

DI RSJP SOEROJO MAGELANG

Nama : Maza Malika

Nim : N520184046

Progam Studi : Profesi Ners

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS

TAHUN 2018/2019
1. Pengertian
Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien
mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca indra
tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi
melalui panca indra tanpa stimulus eksteren: persepsi palsu (Maramis, 2009).
Halusinasi adalah kesan, respon dan pengalaman sensori yang salah (Stuart,
2009). Dari beberapa pengertian yang dikemukan oleh para ahli mengenai halusinasi
di atas, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa halusinasi adalah persepsi
klien melalui panca indera terhadap lingkungan tanpa ada stimulus atau rangsangan
yang nyata.

2. Penyebab
Faktor predisposisi dan faktor presipitasi
a. Faktor Predisposisi
Menurut Stuart (2009), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah:
1) Biologis
Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon
neurobiologis yang maladaptif .
2) Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon dan
kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat
mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan
kekerasan dalam rentang hidup klien.
3) Sosial Budaya
Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti:
kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan
kehidupan yang terisolasi disertai stress.
b. Faktor Presipitasi
Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan
setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak
berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan
masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat,
2011).
Menurut Stuart (2009), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi
adalah :
1) Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses
informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang
mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus
yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.
2) Stress lingkungan
3) Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor
lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
4) Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor.

3. Manifestasi Klinik
Berikut ini merupakan gejala klinis berdasarkan halusinasi (Keliat, 2011) :
a. Tahap 1: halusinasi bersifat tidak menyenangkan
Gejala klinis:
1) Menyeriangai / tertawa tidak sesuai
2) Menggerakkan bibir tanpa bicara
3) Gerakan mata cepat
4) Bicara lambat
5) Diam dan pikiran dipenuhi sesuatu yang mengasikkan
b. Tahap 2: halusinasi bersifat menjijikkan
Gejala klinis:
1) Cemas
2) Konsentrasi menurun
3) Ketidakmampuan membedakan nyata dan tidak nyata
c. Tahap 3: halusinasi bersifat mengendalikan
Gejala klinis:
1) Cenderung mengikuti halusinasi
2) Kesulitan berhubungan dengan orang lain
3) Perhatian atau konsentrasi menurun dan cepat berubah
4) Kecemasan berat (berkeringat, gemetar, tidak mampu mengikuti petunjuk).
d. Tahap 4: halusinasi bersifat menaklukkan
Gejala klinis:
1) Pasien mengikuti halusinasi
2) Tidak mampu mengendalikan diri
3) Tidak mamapu mengikuti perintah nyata
4) Beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

4. Akibat
Adanya gangguang persepsi sensori halusinasi dapat beresiko mencederai
diri sendiri, orang lain dan lingkungan (Keliat, 2011). Menurut Townsend, M.C
suatu keadaan dimana seseorang melakukan sesuatu tindakan yang dapat
membahayakan secara fisik baik pada diri sendiri maupuan orang lain.
Seseorang yang dapat beresiko melakukan tindakan kekerasan pada diri
sendiri dan orang lain dapat menunjukkan perilaku :
a. Data subjektif :
1) Mengungkapkan mendengar atau melihat objek yang mengancam
2) Mengungkapkan perasaan takut, cemas dan khawatir
b. Data objektif :
1) Wajah tegang, merah
2) Mondar-mandir
3) Mata melotot rahang mengatup
4) Tangan mengepal
5) Keluar keringat banyak
6) Mata merah

5. Penatalaksanaan
a. PsikofarmakA
1) Anti Psikotik :
 Chlorpromazine (Promactile, Largactile)
 Haloperidol (Haldol, Serenace, Lodomer)
 Stelazine
 Clozapine (Clozaril)
 Risperidone (Risperdal)
2) Anti Parkinson :
 Trihexyphenidile
 Arthan
b. Psikoterapi
Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara :
1) Menciptakan lingkungan yang terapeutik
Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan
pasien akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan
secara individual dan usahakan agar terjadi kontak mata, kalau bisa pasien di
sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau
emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati pasien, bicaralah
dengan pasien. Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya pasien di
beritahu. Pasien di beritahu tindakan yang akan di lakukan.
Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang
perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas,
misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah dan permainan
2) Melaksanakan program terapi dokter
Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan
rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara
persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang di berikan
betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan.
3) Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang ada
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat
menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi
serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga
dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat dengan
pasien.
4) Memberi aktivitas pada pasien
Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik,
misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat
membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan memupuk hubungan
dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun jadwal kegiatan dan memilih
kegiatan yang sesuai.
5) Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan
Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data
pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses
keperawatan. Perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan
menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini
hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugas lain agar tidak
membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak bertentangan.

6. Pohon Masalah

Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan (Akibat)

Perubahan sensori perseptual: halusinasi ( Masalah Utama)

Isolasi sosial : menarik diri (Penyebab)

7. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
1) Identitas klien
Nama, usia, jenis kelamin, agama, suku, status, pendidikan, pekerjaan,
alamat, tanggal masuk RS, tanggal pengkajian, nomor CM, diagnosa medis.
2) Keluhan utama
Tanyakan pada keluarga/klien hal yang menyebabkan klien dan keluarga
datang ke rumah sakit. Yang telah dilakukan keluarga untuk mengatasi
masalah, dan perkembangan yang dicapai.
3) Faktor predisposisi
Tanyakan pada klien/keluarga, apakah klien pernah mengalami gangguan
jiwa pada masa lalu, pernah melakukan atau mengalami penganiayaan fisik,
seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan
criminal. Dan pengkajiannya meliputi psikologis, biologis, dan social
budaya.
4) Aspek fisik/biologis
Hasil pengukuran tanda-tanda vital (TD, Nadi, Suhu, Pernafasan, TB, BB)
dan keluhan fisik yang dialami oleh klien.
5) Aspek psikososial
a) Konsep diri
b) Hubungan social dengan orang lain yang terdekat dalam kehidupan,
kelompok, yang diikuti dalam masyarakat
c) Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah
6) Status mental
Nilai klien rapi atau tidak, amati pembicaraan klien, aktivitas motorik klien,
afek klien, interaksi selama wawancara, persepsi, proses pikir, isi pikir,
tingkat kesadaran, memori, tingkat konsentrasi, dan berhitung.
7) Kebutuhan persiapan pulang
a) Kemampuan makan klien dan menyiapkan serta merapikan lat makan
kembali.
b) Kemampuan BAB, BAK, menggunakan dan membersihkan WC serta
membersihkan dan merapikan pakaian.
c) Mandi dan cara berpakaian klien tampak rapi.
d) Istirahat tidur kilien, aktivitas didalam dan diluar rumah.
e) Pantau penggunaan obat dan tanyakan reaksinya setelah diminum.
8) Mekanisme koping
Malas beraktivitas, sulit percaya dengan orang lain dan asyik dengan
stimulus internal, menjelaskan suatu perubahan persepsi dengan
mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.
9) Masalah psikososial dan lingkungan
Masalah berkenaan dengan ekonomi, dukungan kelompok, lingkungan,
pendidikan, pekerjaan, perumahan, dan pelayanan kesehatan.
10) Pengetahuan
Didapat dengan wawancara klien dan disimpulkan dalam masalah.
11) Aspek medis
Diagnose medis yang telah dirumuskan dokter, therapy farmakologi,
psikomotor, okopasional, TAK dan rehabilitas.
b. Masalah keperawatan yang Muncul
1) Risiko perilaku kekerasan
2) Perubahan sensori perseptual : halusinasi
3) Isolasi sosial : menarik diri
c. Diagnosa keperawatan
Gangguan Persepsisensori : Halusinasi
4.
DIAGNOSA KEPERAWATAN T U J U A N I N T E R V E N S I
Foku
Gangguan persepsi sensori: halusinasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ......... klien mampu mengontrol halusinasi dengan kriteria hasil: T i n d a k a n P s i k o t e r a p e u t i k
s
Inter - Klien dapat membina hubungan saling percaya
1. K l i e n
vensi - Klien dapat mengenal halusinasinya; jenis, isi, waktu, danfrekuensihalusinasi, responterhadaphalusinasi, dantindakanyangsudahdilakukana. B i n a h u b u n g a n s a l i n g p e r c a y a
Kepe - Klien dapat menyebutkandanmempraktekancaramengntrolhalusinasiyaitudenganmenghardik, bercakap-cakapdengan orang lain, terlibat/ melakukankegiatan, danminumobat- Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap
rawat
- Klien dapat dukungan keluarga dalam mengontrol halusinasinya- Observasi tingkah laku klien terkait halusinasinya
an
- Klien dapat minum obat dengan bantuan minimal- Tanyakan keluhan yang dirasakan klien
- Mengungkapkan halusinasi sudah hilang atau terkontrol- Jika klien tidak sedang berhalusinasi klarifikasi tentang adanya pengalaman halusinasi, diskusikan dengan klien tentang halusinasinya meliputi :
b. S P I
- Id e n t i f i k a s i j e n i s h a l u s i n a s i K l i e n
- I d e n t i f i k a s i i s i h a l u s i n a s i K l i e n
- I d e n t i f i k a s i w a k t u h a l u s i n a s i K l i e n
- Identifikasi frekuensi halusinasi Klien
- Identifikasi situasi yang menimbulkan halusinas i
- Identifikasi respons Klien terhadap halusinasi
- Ajarkan Klien menghardik halusinas i
- Anjurkan Klien memasukkan cara menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan harian
c. S P I I
- Evaluasi jadwal kegiatan harian Klien
- Latih Klien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain
- Anjurkan Klien memasukkan dalam jadwal kegiatan haria n
d. S P I I I
- Evaluasi jadwal kegiatan harian Klien
- Latih Klien mengendalikan halusinasi dengan melakukan kegiatan (kegiatan yang biasa dilakukan Klien di rumah)
- Anjurkan Klien memasukkan dalam jadwal kegiatan haria n

e. S P I V
- Evaluasi jadwal kegiatan harian Klien
- Berikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur
- Anjurkan Klien memasukkan dalam jadwal kegiatan haria n
- B e r i p u j i a n j i k a k l i e n m e n ggu n a k a n o b a t d e n ga n b e n a r .
- Menganjurkan Klien mendemonstrasikan cara control yang sudahdiajarkan
- Menganjurkan Klien memilih salah satu cara control halusinasi yang sesuai
2. K e l u a r g a
a. Diskusikan masalah yang dirasakn keluarga dalam merawat Klien
b. Jelaskan pengertian tanda dan gejala, dan jenis halusinasi yang dialami Klien serta proses terjadinya
c. J e l a s k a n d a n l a t i h c a r a - c a r a m e r a w a t K l i e n h a l u s i n a s i
d. Latih keluarga melakukan cara merawat Klien halusinasi secara langsung
e. D i s c h a r g e p l a n n i n g : j a d w a l a k t i v i t a s d a n m i n u m o b a t
T T i n d a k a n P s i k o f a r m a k o
- Berikan obat-obatan sesuai program Klien
- Memantau kefektifan dan efek samping obat yang diminu m
- Mengukur vit al si gn secara periodi c

T i n d a k a n M a n i p u l a s i L i n g k u n g a n
- Libatkan Klien dalam kegiatan di ruangan
- Libatkan Klien dalam TAK halusinasi
Daftar pustaka

Isaacs, Ann. (2005). Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatri. Edisi 3. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Keliat, Budi Anna. (2011) Proses keperawatan kesehatan jiwa. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Maramis, W. F. (2009). Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 9. Surabaya: Airlangga
University Press.
Stuart dan Laraia. (2009). Principle and Practice Of Psychiatric Nursing. edisi 6. St.
Louis: Mosby Year Book.
Stuart, G.W & Sundeen, S.J. 2009. Buku Saku Keperawatan Jiwa (Terjemahan).
Jakarta: EGC.