Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH PERAN KERJA TIM UNTUK KESELAMATAN PASIEN

TUGAS KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA


Dosen Pengampu : Ns., Deoni Vioneery,S.Kep.,M.Kep

Disusun Oleh

Kelompok III :

1. Agung Aris Prasetyo ST182001 6. Restiani Savitri ST182041


2. Diajeng Ayu Septian W ST182010 7. Siti Nuryaningsih ST182044
3. Makmur Sri Setyaningrum ST182021 8. Sri Daryati ST182045
4. Ndaru Syukma Putra ST182025 9. Theresia Iswidaningrum ST182050
5.Nur Istiqomah Fitriadewi ST182031

PROGRAM ALIH KREDIT XI SARJANA KEPERAWATAN


S T I K E S K U S UM A H US A D A
SURAKARTA
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Isu keselamatan pasien merupakan salah satu isu utama dalam
pelayanan kesehatan. Patient safety merupakan sesuatu yang jauh lebih penting
daripada sekedar efisiensi pelayanan. Berbagai resiko akibat tindakan medik
dapat terjadi sebagai bagian dari pelayanan kepada pasien ( Bawelle et
al,2013).
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan
Peraturan Menteri Kesehatan no 1691/2011 tentang Keselamatan Pasien
Rumah Sakit. Peraturan ini menjadi tonggak utama operasionalisasi
Keselamatan Pasien di rumah sakit seluruh Indonesia. Banyak rumah sakit di
Indonesia yang telah berupaya membangun dan mengembangkan Keselamatan
Pasien, namun upaya tersebut dilaksanakan berdasarkan pemahaman
manajemen terhadap Keselamatan Pasien. Peraturan Menteri ini memberikan
panduan bagi manajemen rumah sakit agar dapat menjalankan spirit
Keselamatan Pasien secara utuh.
Menurut PMK 1691/2011, Keselamatan Pasien adalah suatu sistem di
rumah sakit yang menjadikan pelayanan kepada pasien menjadi lebih aman,
oleh karena dilaksanakannya: asesmen resiko, identifikasi dan analisis insiden,
kemampuan belajar dari insiden dan tindaklanjutnya, serta implementasi solusi
untuk meminimalkan timbulnya resiko dan mencegah terjadinya cedera yang
disebabkan oleh kesalahan akibat tindakan medis atau tidak dilakukannya
tindakan medis yang seharusnya diambil. Sistem tersebut merupakan sistem
yang seharusnya dilaksanakan secara normatif.
Melihat lengkapnya urutan mekanisme Keselamatan Pasien dalam
PMK tersebut, maka, jika diterapkan oleh manajemen rumah sakit, diharapkan
kinerja pelayanan klinis rumah sakit dapat meningkat serta hal-hal yang
merugikan pasien (medical error, nursing error, dan lainnya) dapat dikurangi
semaksimal mungkin.
B. Tujuan Penulisan
1. Untuk memahami Peran kerja tim untuk patinet safety
2. Untuk memahami kolaborasi tim kesehatan dan patient safety
3. Untuk memahami manfaat kolaborasi tim kesehatan
4. Untuk memahami Solusi Life-Saving Keselamatan Pasien Rumah
Sakit
5. Untuk memahami Aspek Hukum terhadap Patient Safety

C. Rumusan Masalah
1. Peran Kerja Tim Untuk patient safety
2. Pentingnya kolaborasi tim kesehatan dan patient safety
3. Kolaborasi penting bagi terlaksananya patient safety
4. Manfaat kolaborasi tim kesehatan
5. Solusi Life-Saving Keselamatan Pasien Rumah Sakit
6. Aspek Hukum terhadap Patient Safety
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian patient safety


Keselamatan (safety) bebas dari bahaya atau resiko ini telah
menjadi isu global termasuk juga rumah sakit. Keselamatan pasien
merupakan prioritas utama untuk dilaksanakan dan hal tersebut terkait
dengan isu mutu dan citra perumah sakitan (Harus dan Sutriningsih,2015).
Perilaku perawat danlam kerja tim sangat berperan penting dalam
pelaksanaan keselamatan pasien, perilaku yang tidak aman, lupa,
kurangnya perhatian/motivasi, kecerobohan, tidak teliti dan kemampuan
yang tidak memperdulikan dan menjaga keselamatan pasien beresiko
untuk terjadinya kesalahan dan akan mengakibatkan cedera pada pasien
berupa Near Miss (Kejadian Nyaris Cedera/KNC) atau Adverse Event
(Kejadian tidak diharapkan/KTD) (Lombogia et al.,2016).
Dalam tim kesehatan yang terdiri dari berbagai profesi seperti
dokter,perawat,psikiater,ahli gizi,farmasi,pendidik dibidang kesehatan dan
pekerja sosial. Elemen penting dalam kolaborasi tim kesehatan yaitu
ketrampilan komunikasi yang efektif,saling menghargai,rasa percaya dan
proses pembuatan keputusan. Konsep kolaborasi tim kesehatan itu
merupakan hubungan kerjasama yang kompleks dan membutuhkan
pertukan pengetahuan yang berorientasi pada pelayanan kesehatan untuk
pasien(Kozier,2010).

B. Pentingnya kolaborasi tim kesehatan dan patient safety


Kolaborasi sangatlah penting karena masing-masing tenaga
kesehatan memiliki pengetahuan,ketrampilan,kemampuan,keahlian dan
pengalaman yang berbeda. Dalam kolaborasi tim kesehatan mempunyai
tujuan yang sama yaitu sebuah keselamatan untuk pasien selain itu
kolaborasi tim dapat meningkatkan performa di berbagai aspek yang
berkaitan dengan sistem pelayanan kesehatan. Semua tenaga kesehatan
dituntut untuk memiliki kualifikasi baik pada bidangnya masing-masing
sehingga dapat mengurangi faktor kesalahan manusia dalam memberikan
pelayanan kesehatan.

C. Kolaborasi penting bagi terlaksananya patient safety


1. Pelayanan kesehatan tidak mungkin dilakukan oleh 1 tenaga medis
2. Meningkatnya keasadaran pasien akan kesehatan
3. Dapat mengevaluasi kesalahan yang pernah dilakukan agar tidak
terulang
4. Dapat menimalisirkan kesalahan
5. Pasien akan dapat berdiskusi dan berkomunikasi dengan baik,untuk
dapat menyampaikan keinginanya

D. Manfaat kolaborasi tim kesehatan


1. Kemampuan dari pelayanan kesehatan yang berbeda dapat
terintregasian sehingga terbentuk tim yang fungsional
2. Kualitas pelayanan kesehatan meningkat sehingga masyarakat mudah
menjangkau pelayanan kesehatan
3. Bagi tim medis saling berbagai pengetahuan dari profesi kesehatan
lainya dan menciptakan kerjasama tim kompak
4. Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan
menggabungkan keahlian unik profesional
5. Memaksimalkan produktivitas serta efectivitas dan efesiensi sumber
daya
6. Meningkatkan kepuasaan profesionalisme,loyalitas dan kepuasan
kerja
7. Peningkatan akses berbagai pelayanan kesehatan
8. Meningkatkan efektivitas dan efesiensi pelayanan kesehatan
9. Memberikankejelasan peran dalam berinteraksi antar tenaga kesehtan
profesional sehingga saling menghormati dan bekerja sama
10. Untuk tim kesehtan memiliki pengetahuan,ketrampilan dan
pengalaman

E. Solusi Life-Saving Keselamatan Pasien Rumah Sakit


WHO Collaborating Centre for Patient safety pada tanggal 2 Mei
2007 resmi menerbitkan “Nine Life Saving Patient safety Solutions”
(“Sembilan Solusi Life-Saving Keselamatan Pasien Rumah Sakit”).
Panduan ini mulai disusun sejak tahun 2005 oleh pakar keselamatan
pasien dan lebih 100 negara, dengan mengidentifikasi dan mempelajari
berbagai masalah keselamatan pasien.
Sebenarnya petugas kesehatan tidak bermaksud menyebabkan
cedera pasien, tetapi fakta tampak bahwa di bumi ini setiap hari ada
pasien yang mengalami KTD (Kejadian Tidak Diharapkan). KTD, baik
yang tidak dapat dicegah (non error) mau pun yang dapat dicegah (error),
berasal dari berbagai proses asuhan pasien.
Solusi keselamatan pasien adalah sistem atau intervensi yang
dibuat, mampu mencegah atau mengurangi cedera pasien yang berasal
dari proses pelayanan kesehatan. Sembilan Solusi ini merupakan panduan
yang sangat bermanfaat membantu RS, memperbaiki proses asuhan
pasien, guna menghindari cedera maupun kematian yang dapat dicegah.
Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) mendorong
RS-RS di Indonesia untuk menerapkan Sembilan Solusi Life-
Saving Keselamatan Pasien Rumah Sakit, atau 9 Solusi, langsung atau
bertahap, sesuai dengan kemampuan dan kondisi RS masing-masing.
a. Perhatikan Nama Obat, Rupa dan Ucapan Mirip (Look-Alike, Sound-
Alike Medication Names).
Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip (NORUM), yang
membingungkan staf pelaksana adalah salah satu penyebab yang paling
sering dalam kesalahan obat (medication error) dan ini merupakan suatu
keprihatinan di seluruh dunia. Dengan puluhan ribu obat yang ada saat ini
di pasar, maka sangat signifikan potensi terjadinya kesalahan akibat
bingung terhadap nama merek atau generik serta kemasan. Solusi
NORUM ditekankan pada penggunaan protokol untuk pengurangan risiko
dan memastikan terbacanya resep, label, atau penggunaan perintah yang
dicetak lebih dulu, maupun pembuatan resep secara elektronik.
b. Pastikan Identifikasi Pasien.
Kegagalan yang meluas dan terus menerus untuk mengidentifikasi
pasien secara benar sering mengarah kepada kesalahan pengobatan,
transfusi maupun pemeriksaan; pelaksanaan prosedur yang keliru orang;
penyerahan bayi kepada bukan keluarganya, dsb. Rekomendasi
ditekankan pada metode untuk verifikasi terhadap identitas pasien,
termasuk keterlibatan pasien dalam proses ini; standardisasi dalam
metode identifikasi di semua rumah sakit dalam suatu sistem layanan
kesehatan; dan partisipasi pasien dalam konfirmasi ini; serta penggunaan
protokol untuk membedakan identifikasi pasien dengan nama yang sama.
c. Komunikasi Secara Benar saat Serah Terima/Pengoperan Pasien.
Kesenjangan dalam komunikasi saat serah terima/ pengoperan
pasien antara unit-unit pelayanan, dan didalam serta antar tim pelayanan,
bisa mengakibatkan terputusnya kesinambungan layanan, pengobatan
yang tidak tepat, dan potensial dapat mengakibatkan cedera terhadap
pasien. Rekomendasi ditujukan untuk memperbaiki pola serah terima
pasien termasuk penggunaan protokol untuk mengkomunikasikan
informasi yang bersifat kritis; memberikan kesempatan bagi para praktisi
untuk bertanya dan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan pada saat serah
terima,dan melibatkan para pasien serta keluarga dalam proses serah
terima.
d. Pastikan Tindakan yang benar pada Sisi Tubuh yang benar.
Penyimpangan pada hal ini seharusnya sepenuhnya dapat dicegah.
Kasus-kasus dengan pelaksanaan prosedur yang keliru atau pembedahan
sisi tubuh yang salah sebagian besar adalah akibat dan miskomunikasi dan
tidak adanya informasi atau informasinya tidak benar. Faktor yang paling
banyak kontribusinya terhadap kesalahan-kesalahan macam ini adalah
tidak ada atau kurangnya proses pra-bedah yang distandardisasi.
Rekomendasinya adalah untuk mencegah jenis-jenis kekeliruan yang
tergantung pada pelaksanaan proses verifikasi prapembedahan; pemberian
tanda pada sisi yang akan dibedah oleh petugas yang akan melaksanakan
prosedur; dan adanya tim yang terlibat dalam prosedur Time out sesaat
sebelum memulai prosedur untuk mengkonfirmasikan identitas pasien,
prosedur dan sisi yang akan dibedah.
e. Kendalikan Cairan Elektrolit Pekat (concentrated).
Sementara semua obat-obatan, biologics, vaksin dan media
kontras memiliki profil risiko, cairan elektrolit pekat yang digunakan
untuk injeksi khususnya adalah berbahaya. Rekomendasinya adalah
membuat standardisasi dari dosis, unit ukuran dan istilah; dan pencegahan
atas campur aduk/bingung tentang cairan elektrolit pekat yang spesifik.
f. Pastikan Akurasi Pemberian Obat pada Pengalihan Pelayanan.
Kesalahan medikasi terjadi paling sering pada saat
transisi/pengalihan. Rekonsiliasi (penuntasan perbedaan) medikasi adalah
suatu proses yang didesain untuk mencegah salah obat (medication
errors) pada titik-titik transisi pasien. Rekomendasinya adalah
menciptakan suatu daftar yang paling lengkap dan akurat dan seluruh
medikasi yang sedang diterima pasien juga disebut sebagai “home
medication list”, sebagai perbandingan dengan daftar saat admisi,
penyerahan dan/atau perintah pemulangan bilamana menuliskan perintah
medikasi; dan komunikasikan daftar tsb kepada petugas layanan yang
berikut dimana pasien akan ditransfer atau dilepaskan.
g. Hindari Salah Kateter dan Salah Sambung Slang (Tube).
Selang, kateter, dan spuit (syringe) yang digunakan harus didesain
sedemikian rupa agar mencegah kemungkinan terjadinya KTD (Kejadian
Tidak Diharapkan) yang bisa menyebabkan cedera atas pasien melalui
penyambungan spuit dan slang yang salah, serta memberikan medikasi
atau cairan melalui jalur yang keliru. Rekomendasinya adalah
menganjurkan perlunya perhatian atas medikasi secara detail/rinci bila
sedang mengenjakan pemberian medikasi serta pemberian makan
(misalnya slang yang benar), dan bilamana menyambung alat-alat kepada
pasien (misalnya menggunakan sambungan & slang yang benar).
h. Gunakan Alat Injeksi Sekali Pakai.
Salah satu keprihatinan global terbesar adalah penyebaran dan
HIV, HBV, dan HCV yang diakibatkan oleh pakai ulang (reuse) dari
jarum suntik. Rekomendasinya adalah penlunya melarang pakai ulang
jarum di fasilitas layanan kesehatan; pelatihan periodik para petugas di
lembaga-lembaga layanan kesehatan khususnya tentang prinsip-pninsip
pengendalian infeksi,edukasi terhadap pasien dan keluarga mereka
mengenai penularan infeksi melalui darah;dan praktek jarum sekali pakai
yang aman.
i. Tingkatkan Kebersihan Tangan (Hand hygiene) untuk Pencegahan
lnfeksi Nosokomial.
Diperkirakan bahwa pada setiap saat lebih dari 1,4 juta orang di
seluruh dunia menderita infeksi yang diperoleh di rumah-rumah sakit.
Kebersihan Tangan yang efektif adalah ukuran preventif yang pimer
untuk menghindarkan masalah ini. Rekomendasinya adalah mendorong
implementasi penggunaan cairan “alcohol-based hand-rubs” tersedia
pada titik-titik pelayan tersedianya sumber air pada semua kran,
pendidikan staf mengenai teknik kebarsihan taangan yang benar
mengingatkan penggunaan tangan bersih ditempat kerja; dan pengukuran
kepatuhan penerapan kebersihan tangan melalui pemantauan/observasi
dan tehnik-tehnik yang lain.

F. Aspek hukum terhadap patient safety


Aspek hukum terhadap “patient safety” atau keselamatan pasien adalah
sebagai berikut
UU Tentang Kesehatan & UU Tentang Rumah Sakit
1. Keselamatan Pasien sebagai Isu Hukum
a. Pasal 53 (3) UU No.36/2009
“Pelaksanaan Pelayanan kesehatan harus mendahulukan keselamatan
nyawa pasien.”
b. Pasal 32n UU No.44/2009
“Pasien berhak memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama
dalam perawatan di Rumah Sakit.
c. Pasal 58 UU No.36/2009
1) “Setiap orang berhak menuntut G.R terhadap seseorang, tenaga
kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian
akibat kesalahan atau kelalaian dalam Pelkes yang diterimanya.”
2) “…..tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan
penyelamatan nyawa atau pencegahan kecacatan seseorang dalam
keadaan darurat.”

2. Tanggung jawab Hukum Rumah sakit


a. Pasal 29b UU No.44/2009
”Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi,
dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan
standar pelayanan Rumah Sakit.”
b. Pasal 46 UU No.44/2009
“Rumah sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian
yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan di RS.”
c. Pasal 45 (2) UU No.44/2009
“Rumah sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan tugas dalam
rangka menyelamatkan nyawa manusia.”
3. Bukan tanggung jawab Rumah Sakit
Pasal 45 (1) UU No.44/2009 Tentang Rumah sakit “Rumah Sakit Tidak
bertanggung jawab secara hukum apabila pasien dan/atau keluarganya
menolak atau menghentikan pengobatan yang dapat berakibat kematian
pasien setelah adanya penjelasan medis yang kompresehensif.
4. Hak Pasien
a. Pasal 32d UU No.44/2009
“Setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan kesehatan yang
bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional”
b. Pasal 32e UU No.44/2009
“Setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan yang efektif dan
efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi”
c. Pasal 32j UU No.44/2009
“Setiap pasien mempunyai hak tujuan tindakan medis, alternatif tindakan,
risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap
tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan”
d. Pasal 32q UU No.44/2009
“Setiap pasien mempunyai hak menggugat dan/atau menuntut Rumah
Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak
sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana”
5. Kebijakan yang mendukung keselamatan pasien
a. Pasal 43 UU No.44/2009
1) RS wajib menerapkan standar keselamatan pasien
Standar keselamatan pasien dilaksanakan melalui pelaporan insiden,
menganalisa, dan menetapkan pemecahan masalah dalam rangka
menurunkan angka kejadian yang tidak diharapkan.
2) RS melaporkan kegiatan keselamatan pasien kepada komite yang
membidangi keselamatan pasien yang ditetapkan oleh menteri
3) Pelaporan insiden keselamatan pasien dibuat secara anonym dan
ditujukan untuk mengoreksi system dalam rangka meningkatkan
keselamatan pasien.
Pemerintah bertanggung jawab mengeluarkan kebijakan tentang
keselamatan pasien. Keselamatan pasien yang dimaksud adalah suatu
system dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. System
tersebut meliputi:
a. Assessment risiko
b. Identifikasi dan pengelolaan yang terkait resiko pasien
c. Pelaporan dan analisis insiden
d. Kemampuan belajar dari insiden
e. Tindak lanjut dan implementasi solusi meminimalkan resiko
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Peran kerja tim dalam keselamatan pasien sangat diutamakan terlebih
hubungan kerjasama yang kompleks dan membutuhkan pertukan
pengetahuan yang berorientasi pada pelayanan kesehatan untuk pasien.
2. Keselamatan pasien merupakan upaya untuk melindungi hak setiap orang
terutama dalam pelayanan kesehatan agar memperoleh pelayanan
kesehatan yang bermutu dan aman.
3. Indonesia salah satu negara yang menerapkan keselamatan pasien sejak
tahun 2005 dengan didirikannya Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit
(KKPRS) oleh Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI). Dalam
perkembangannya Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) Departemen
Kesehatan menyusun Standar Keselamatan Pasien Rumah Sakit dalam
instrumen Standar Akreditasi Rumah Sakit.
4. Peraturan perundang-undangan memberikan jaminan kepastian
perlindungan hukum terhadap semua komponen yang terlibat dalam
keselamatan pasien, yaitu pasien itu sendiri, sumber daya manusia di
rumah sakit, dan masyarakat. Ketentuan mengenai keselamatan pasien
dalam peraturan perundang-undangan memberikan kejelasan atas
tanggung jawab hukum bagi semua komponen tersebut.
Daftar Pustaka

Harus, B, D,. Dan Sutriningsih, A. 2015. Pengetahuan Perawat Tentang


Keselamatan Pasien Dengan Pelaksanaan Prosedur Keselamatan Pasien
Rumah Sakit (KPRS) di Rumah Sakit Panti Waluya Sawahan Malang.
Jurnal CARE 3(1): 25-26.

http://id.scribd.com diakses 1 april 2019

Lombogia, A., Roottie, J., dan Karundeng, M. 2016. Hubungan Perilaku Dengan
Kemampuan Perawat Dalam Melaksanakan Keselamatan Pasien (Pastient
Safety) di Ruang Akut Instalansi Gawat Darurat. E-journal Keperawatan
4(2): 2.

Wikipedia. Patient safety. [document on the internet]. Wikimedia Foundation:


2017 (diunduh 30 Maret 2019).Tersedia dari: http:// en.wikipedia.org/wiki/
patient_safety

Anda mungkin juga menyukai