Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN SEMI SOLID

SALEP KLORAMFENIKOL

DISUSUN OLEH :

1. Hani Asyani Sabilla (P24840118041)


2. Hannifah Syachbani (P24840118043)
3. Ilmi Yulaima Zahwa (P24840118045)
4. Jihan Tsabitah (P24840118047)

Kelompok 6

Lokal 2A

Dosen Pembimbing : Sarma, M.Pharm.

POLITEKNIK KESEHATAN KEMETRIAN KESEHATAN JAKARTA II

JURUSAN FARMASI

TAHUN 2019
1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karna atas berkat
rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan Laporan Praktikum Kimia Farmasi mengenai Golongan
Antibiotik. Laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Praktikum Kimia Farmasi
prodi Farmasi di Politeknik Kesehatan Jakarta 2.

Dalam kesempatan kali ini kami mengucapkan terimakasih kepada :


1. Ibu Sarma, M.Pharm. selaku dosen dan pengawas praktik mata kuliah Teknologi
Sediaan Semi Solid
2. Ibu Yetri Elisya, M.Pharm. selaku dosen dan pengawas praktik mata kuliah
Teknologi Sediaan Semi Solid

Melalui kata pengantar ini kami ingin lebih dahulu meminta maaf dan memohon
permakluman bilamana isi laporan ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami buat kurang
tepat atau menyinggung perasaan pembaca. Dengan ini kami mempersembahkan laporan ini
dengan penuh rasa terima kasih dan semoga Tuhan yang Maha Esa memberkahi laporan ini
sehingga dapat memberikan manfaat kepada kita semua.

Jakarta, 15 September 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...................................................................................................................... 2


Daftar Isi ..................................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 4
1.2 Tujuan ................................................................................................................ 5

BAB II DASAR TEORI ......................................................................................... 6


2.1 Teori Singkat ................................................................................................. 6
2.2 Monografi ........................................................................................................ 13
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN ................................................... 16
3.1 Waktu dan Tempat Percobaan ............................................................. 16
3.2 Tujuan Percobaan........................................................................................ 16
3.3 Formulasi ......................................................................................................... 16
3.4 Perhitungan ..................................................................................................... 16
3.5 Penimbangan.................................................................................................. 17
3.6 Alat dan Bahan ............................................................................................. 17
3.7 Cara Pembuatan ........................................................................................... 17
3.8 Evaluasi Sediaan .......................................................................................... 18
3.9 Pembahasan .................................................................................................... 19
BAB IV PENUTUP...................................................................................................... 20
4.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 20
4.2 Saran ................................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 21
LAMPIRAN ............................................................................................................................. 22

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kloramfenikol adalah antibiotik yang dihasilkan oleh Streptomyces venezuelae,


oraganisme yang pertama kali diisolasi tahun 1947 dari sample tanah yang dikumpulkan di
Venezuela ( Bartz, 1948). Kloramfenikol mempunyai aktifitas bakteriostatik, dan pada dosis
tinggi bersifat bakterisid. Aktivitas antibakterinya dengan menghambat sintesa protein
dengan jalan mengikat ribosom subunit 50S, yang merupakan langkah penting dalam
pembentukan ikatan peptida. Kloramfenikol efektif terhadap bakteri aerob gram-positif,
termasuk Streptococcus pneumoniae, dan beberapa bakteri aerob gram-negatif, termasuk
Haemophilus influenzae, Neisseria meningitidis, Salmonella, Proteus mirabilis,
Pseudomonas mallei, Ps. cepacia, Vibrio cholerae, Francisella tularensis, Yersinia pestis,
Brucella dan Shigella.
Kloramfenikol bisa digunakan secara eksternal (topikal) dan juga internal. Bentuk-
bentuk sediaannya antara lain kapsul 250 mg dan 500 mg; suspensi 125 mg/5 ml; sirup 125
ml/5 ml; serbuk injeksi 1g/vail; Salep mata 1 %; Obat tetes mata 0,5 %; Salep kulit 2 %; Obat
tetes telinga 1-5 %.
Kloramfenikol yang dijadikan sediaan salep merupakan antibiotik topikal. Antibiotik
topikal memegang peranan penting pada penanganan kasus di bidang kulit. Antibiotik topikal
merupakan obat yang paling sering diresepkan oleh spesialis kulit untuk pasien mengalami
ache vulgaris ringan sampai sedang serta merupakan terapi adjunctive dengan obat oral.
Untuk infeksi superficial dengan area yang terbatas, seperti impetigo, penggunaan bahan
topical dapat mengurangi kebutuhan akan obat oral, problem kepatuhan, efek samping pada
saluran pencernaan, dan potensi terjadinya interaksi obat. Selanjutnya antibiotika topikal
seringkali diresepkan sebagai bahan profilaksis setelah tindakan bedah minor atau tindakan
kosmetik (dermabrasi, laser resurfacing) untuk mengurangi resiko infeksi setelah operasi dan
mempercepat penyembuhan luka. Kloramfenikol topikal ditujukan pada bagian appedages
dikulit. Dipilih bentuk sediaan salep karena dapat mengurangi iritasi obat terhadap saluran
cerna, mendapatkan efek emollient pada jaringan, untuk menghindari first pass metabolisme
serta mudah diterima dan digunakan oleh pasien.

4
1.2. Tujuan

 Mahasiswa dapat membuat sediaan salep dengan baik berdasarkan CPOB


 Mahasiswa dapat mengevaluasi sediaan salep
 Mahasiswa dapat membuat mengetahui formulasi sediaan salep

5
BAB II

DASAR TEORI

2.1. Teori Umum

 Dasar Pembuatan Salep


1. Dasar salep senyawa hidrokarbon
Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak, antara lain vaseline putih dan
salep putih. Hanya sejumlah kecil komponen air dapat dicampurkan kedalamnya.
Salep ini dimaksudkan untuk memeperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan
bertindak sebagai pembalut penutup. Dasar salpe hidrokarbon digunakan terutama
sebagai emolien dan sukar dicuci. Tidak mengering dan tidak tampak, berubah
dalam waktu lama.
a. Vaselin
Vaselin terdiri dari Vaseline putih dan Vaseline kuning. Vaseline putih adalah
vaselin yuang dipucatkan menggunakan H2SO4. Hati-hati pada penggunaan
vaselin putih untuk mata, akan terjadi iritasi. Kelebihan asam dari vaselin putih
dapat dinetralkan dengan KOH. Vaselin hanya dapat menyerap air 5%.
Penambahan surfaktan (Natrium laurisulfat, Tween) akan mampu menyerap air
lebih banyak.
Campuran :
5 bagian malam dengan 95 bagian vaselin dapat menyerap air ± 40%
5 bagian cetaceum dengan 95 bagian vaselin dapat menyerap air 100%
b. Minyak dan lemak
Contoh minyak cair yang tidak dapat menyerap air adalah Oleum Cocos, Oleum
Olivae, dan Oleum Sesami. Oleum cacao adalah salah satu minyak yang
konsistensinya padat, jika akan dipanaskan tidak boleh terlalu lama karena akan
berubah bentuk dan sukar membeku. Untuk mempercepat pembekuan harus
dipancing dengan Oleum Cacao padat.

2. Dasar salep serap


Dasar salep serap ini dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
a. Terdiri dari dasar salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air
dalam minyak (paraffin hidrofillik dan lanolin anhidrat).

6
b. Terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah
larutan air tambahan (lanolin)

Dasar salep serap juga bermanfaat sebagai emolien. Contoh dari dasar salep
serap adalah Adeps Lanae. Adeps lanae terdiri dari ester-ester sterol dengan asam
oksikarboksilat tinggi. Adeps lanae dapat menyerap air tiga kali bobotnya.
Campuran 1: 5 bagian adeps lanae dengan 95 bagian vaselin dapat menyerap air
50% dan membentuk emulsi A/M.
Campuran 2: 3 bagian cholesterol, 3 bagian stearol, 8 bagian malam putih, dan 86
bagian vaselin putih.
Campuran ini disebut dengan vaselinum hydrophylicum, camperannya dipanaskan
diatas tangas air. Dipakai bagi yang sangat peka terhadap Adeps Lanae.

3. Dasar salep yang dapat dicuci dengan air


Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air, antara lain Salep hidrofillik dan
lebih tepat disebut krim. Dasar salep ini dapat dicuci dengan air dari kulit atau
dengan lap basah, sehingga lebih dapat diterima untuk dasar kosmetik. Keuntungan
lainnya adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang
terjadi pada kelainan dermatologic.
a. Emulgide adalah campuran digliserida, asam lemak, dan sabun. Campuran ini
menyerap air dalam jumlah yang besar, sering dipakai pada krim. Bereaksi basa,
tidak tercampurkan dengan bahan yang terurai oleh basa. Dapat dinetralkan
dengan penambahan 2% Na bifosfas terhadap jumlah emulgide.
b. Sabun trietanolamin, selalu dibuat dari TEA dengan asam lemak tinggi,
biasanya Asam Stearat. Bereaksi basa lemah, setiap 1 gram TEA membutuhkan
2,2 gram asam stearate, namun biasanya dipakai asam stearate berlebih. Emulsi
yang terbentuk adalah M/A.

4. Dasar salep larut air


Dasar salep ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen
larut air. Dasar salep ini memberikan banyak keuntungan seperti dasar salep yang
dapat dicuci dengan air, dan tidak mengadung bahan tak larut dalam air seperti
paraffin, lanolin, anhidrat, atau malam. Dasar salep ini lebih tepat disebut gel.
a. Polyethylenglycol

7
Polyethylenglicol terlihat seperti lemak tetapi bukan lemak, terdiri dari
polietilenglikol yang dinyatakan dengan nomor. Nomor ini menunjukkan bobot
molekul. Keuntungan memakai PEG yaitu banyak bahan obat yang dapat larut
dalam PEG (sulfa-sulfa larut baik dalam larutan PEG). Umumnya dipakai
campuran PEG bobot molekul tinggi dengan yang rendah.

 Pemilihan Dasar Salep


Pemilihan dasar salep bergantung pada beberapa faktor, yaitu:
1. Khasiat yang diinginkan
2. Sifat bahan obat yang dicampurkan
3. Ketersediaan hayati
4. Stabilitas dan ketahanan sediaan jadi.

Dasar salep yang baik memiliki beberapa sifat di antaranya;


1. Stabil, selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas, tidak terpengaruh
oleh suhu dan kelembaban ruangan.
2. Lunak, semua zat yang ada dalam salep harus dalam keadaan halus dan seluruh
produk harus lunak dan homogeny.
3. Mudah dipakai
4. Dasar salep yang cocok
5. Dapat terdistribusi merata.

 Aturan Pembuatan Salep


Aturan pembuatan salep secara umum:
1. Zat yang dapat larut dalam dasar salep, dilarutkan bila perlu dengan pemanasan
rendah.
2. Zat yang tidak cukup larut dalam dasar salep, lebih dulu diserbuk dan diayak dengan
derajat ayakan no. 100.
3. Zat yang mudah larut dalam air dan stabil, serta dasar salep mampu mendukung
atau menyerap air tersebut, dilarutkan dulu dalam air yang tersedia, setelah itu
ditambahkan bagian dasar salep lain.
4. Bila dasar salep dibuat dengan peleburan, maka campuran tersebut harus diaduk
sampai dingin.

8
Menurut F. Van Duin :

1. Peraturan salep pertama


Zat-zat yang dapat larut dalam campuran lemak, dilarutkan ke dalamnya, jika perlu
dengan pemanasan. Contoh : Champora larut dalam basis minyak lemak
2. Peraturan salep kedua
Bahan-bahan yang larut dalam air, jika tidak ada peraturan lain, dilarutkan lebih
dahulu dalam air, asalkan jumlah air yang dipergunakan dapat diserap seluruhnya
oleh basis salep dan jumlah air yang dipakai, dikurangi dari basis salepnya. Contoh
: Protargol, Resorcin, Tannin
3. Peraturan salep ketiga
Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagaian dapat larut dalam lemak dan air
harus diserbukkan lebih dahulu, kemudian diayak dengan pengayak No.60. Contoh
: ZnO, Sulfur, Chloramphenicol/antibiotik dan anastesin
4. Peraturan keempat
Salep-salep yang dibuat dengan jalan mencairkan, campurannya harus digerus
sampai dingin” bahan-bahan yang ikut dilebur, penimbangannya harus dilebihkan
10-20% untuk mencegah kekurangan bobotnya. Contoh : Unguentum Simplex

 Formulasi Salep
1. Zat padat
A. Zat padat dan larut dalam dasar salep
a. Camphorae
 Dilarutkan dalam dasar salep yang sudah dicairkan didalam pot salep
tertutup (jika tidak dilampaui daya larutnya)
 Jika dalam resepnya terdapat minyak lemak (Ol. sesami), camphorae
dilarutkan lebih dahulu dalam minyak tersebut
 Jika dalam resep terdapat salol, menthol, atau zat lain yang dapat
mencair jika dicampur (karena penurunan titik eutektik), camphorae
dicampurkan supaya mencair, baru ditambahkan dasar salepnya
 Jika camphorae itu berupa zat tunggal, camphorae ditetesi lebih dahulu
dengan eter atau alkohol 95%, kemudian digerus dengan dasar
salepnya.

9
b. Pellidol
 Larut 3% dalam dasar salep, pellidol dilarutkan bersama-sama dengan
dasar salepnya yang dicairkan (jika dasar salep disaring tetapi jangan
lupa harus ditambahkan pada penimbangannya sebanyak 20%.
 Jika pellidol yang ditambahkan melebihi daya larutnya, maka digerus
dengan dasar salep yang mudah dicairkan.
c. Iodium
 Jika kelarutannya tidak dilampaui, kerjakan seperti pada camphorae.
 Larutkan dalam larutan pekat KI atau NaI (seperti pada unguentum iodii
dari Ph. Belanda V)
 Ditetesi dengan etanol 95% sampai larut, baru ditambahkan dasar
salepnya

B. Zat padat larut dalam air


a. Protargol
 Taburkan diatas air, diamkan ditempat gelap selama ¼ jam sampai larut
 Jika dalam resep terdapat gliserin, tambahkan gliserin tersebut, baru
ditambahkan airnya dan tidak perlu ditunggu ¼ jam lagi karena dengan
adanya gliserin, protargol atau mudah larut.
b. Colargol
 Dikerjakan seperti protargol
c. Argentum nitrat (AgNO3)
 Walaupun larut dalam air, zat ini tidak boleh dilarutkan dalam air karena
akan meninggalkan bekas noda hitam pada kulit yang disebabkan oleh
terbentuknya Ag2O, kecuali pada resep obat wasir.
d. Fenol/fenol
 Sebenarnya fenol mudah larut dalam air, tetapi dalam salep tidak
dilarutkan karena akan menimbulkan rangsangan atau mengiritasi kulit
dan juga tidak boleh diganti dengan Phenol liquifactum (campuran fenol
dan air 77-81,5% FI ed.III).

C. Bahan obat yang larut dalam air tetapi tidak boleh dilarutkan dalam air, yaitu :
a. Argentum nitrat : stibii et kalii tartras
b. Fenol : oleum iecoris aselli

10
c. Hydrargyri bichloridum : zink sulfat
d. Chrysarobin : antibiotik (misalnya penicilin)
e. Pirogalol : chloretum auripo natrico

D. Bahan yang ditambahkan terakhir pada suatu massa salep :


a. Ichtyol
Jika ditambahkan pada massa salep yang masih panas atau digerus terlalu
lama, akan terjadi pemisahan.
b. Balsem-balsem dan minyak yang mudah menguap.
Balsem merupakan campuarn damar dan minyak mudah menguap jika
digerus terlalu lama, damarnya akan keluar.
c. Air
Ditambahkan terakhir karena berfungsi sebagai pendingin; disamping itu,
untuk mencegah permukaan mortir menjadi licin.
d. Gliserin
Harus ditambahkan ke dalam dasar salep yang dingin, karena tidak bisa
bercampur dengan bahan dasar salep yang sedang mencair dan harus
ditambahkan sedikit demi sedikit karena tidak mudah diserap oleh dasar
salep.
e. Marmer album
Dimasukkan terakhir karena dibutuhkan dalam bentuk kasar, yang akan
memberikan pengaruh percobaan pada kulit.

E. Zat padat tidak larut dalam air


Umumnya dibuat serbuk halus dahulu, misalnya :
 Belerang (tidak boleh diayak)
 Ac. Boricum (diambil bentuk yang pulveratum)
 Oxydum zincicum (diayak dengan ayakan No. 100/B40).
 Mamer album (diayak dengan ayakan No.25/B10)
 Veratrin (digerus dengan minyak, karena jika digerus tersendiri akan
menimbulkan bersin)

11
2. Zat cair
A. Sebagai pelarut bahan obat
a. Air
 Terjadi reaksi
Contohnya, jika aqua calcis bercampur dengan minyak lemak akan
terjadi penyabunan sehingga cara penggunaannya adalah dengan
diteteskan sedikit demi sedikit kemudian dikocok dalam sebuah botol
bersama dengan minyak lemak, baru dicampur dengan bahan lainnya.
 Tak terjadi reaksi
Jumlah sedikit : teteskan terakhir sedikit demi sedikit
Jumlah banyak : diuapkan atau diambil bahan berkhasiatnya saja dan
berat airnya diganti dengan dasar salepnya
b. Spiritus/etanol/alkohol
 Jumlah sedikit : teteskan terakhir sedikit demi sedikit
 Jumlah banyak :
 Tahan panas : Tinct. Ratanhiae, panaskan diatas tangas air
sampai sekental sirop atau sepertiga bagian.
 Tak tahan panas :
 Diketahui pembandingnya, maka diambil bagian-bagiannya saja,
misalnya tinct. Iodii
 Tak diketahui pembandingnya, teteskan terakhir sedikit demi
sedikit
 Jika dasar salep lebih dari 1 macam, harus diperhitungkan menurut
perbandingan dasar salepnya.
c. Cairan kental
Umumnya dimasukan sedikit demi sedikit. Contohnya : gliserin, pix
lithantratis, pix liquida, balsem peruvianum, ichtyol, kreosot.

3. Bahan berupa ekstrak/extractum


a. Extractum sicccum /kering
Umumnya larut dalam air, maka dilarutkan dalam air, dan berat air dapat
dikurangkan dari dasar salepnya
b. Extractum spissum/kental

12
Diencerkan dahulu dengan air atau etanol
c. Extractum liquidum
Dikerjakan seperti pada cairan dengan spiritus.

4. Bahan-bahan lain
a. Hydrargyrum
Gerus dengan adeps lanae dalam lumpang dingin, sampai halus (<20µg) atau
gunakan resep standar, misalnya : Unguentum Hydrargyri (Ph.Belanda V)
yang mengandung 30% dan Unguentum Hydrargyri Fortio (C.M.N)
mengandung 50%
b. Naphtolum
Dapat larut dalam sapo kalicus, larutkan dalam sapo tersebut. Jika tidak ada
sapo, dikerjakan seperti Camphorae. Mempunyai D.M/T.M untuk obat luar.
c. Bentonit
Serbuk halus yang dengan air akan membentuk massa seperti salep.

2.2. Monografi

1. Chloramphenicol (FI EDISI III Hal 143)

Nama Resmi : Chloramphenicolum


Rumus Molekul : C11H12Cl2N2O5
Berat Molekul : 323,13
Kloramfenikol mengandung tidak kurang dari 97,0% dan tidak lebih dari 103,0%
C11H12Cl2N2O5, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Pemerian : Hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang; putih sampai
putih kelabu atau putih kekuningan; tidak berbau; rasa sangat pahit. Dalam larutan
asam lemah, mantap.

13
Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 400 bagian air, dalam 2,5 bagian etanol (95%) P
dan dalam 7 bagian propilrnglikol P; sukar larut dalam kloroform P dan dalam eter P.
Jarak Lebur : Antara 149o dan 153o
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindungi dari cahaya.
Khasiat : Antibiotik

2. Propilenglikol (FI EDISI III Hal 534)

Nama Resmi : Propylenglycolum


Rumus Molekul : C3H8O2
Berat Molekul : 76,10
Pemerian : Cairan kental, jernih, tidak berwarna ; tidak berbau ; rasa agak manis ;
higroskopik
Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol 95% P dan dengan kloroform P ;
larut dalam 6 bagian eter P ; tidak dapat dicampur dengan eter minyak tanah P dan
dengan minyak lemah.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat : Zat tambahan ; pelarut.

3. Lemak Bulu Domba (FI EDISI III Hal 61)


Nama Resmi : Adeps Lanae
Lemak bulu domba adalah zat serupa lemak yang dimurnikan, diperoleh dari bulu
domba (ovis aries linne) mengandung air tidak lebih dari 0,25%.
Pemerian : Zat serupa lemak, liat, lekat ; kuning muda / kuning pucat, agak tembus
cahaya ; bau lemah dan khas.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air ; agak sukar larut dalam etanol 95% P ;
mudah larut dalam kloroform P dan dalam eter P.
Jarak Lebur : Antara 36o dan 42o
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindungi dari cahaya, ditempat sejuk.
Khasiat : Penggunaan bahan tambahan.

14
4. Vaselin Putih (FI EDISI III Hal 633)
Nama Resmi : Vaselinum Album
Vaselin putih adalah campuran hidrokarbon setengah padat yang telah diputihkan,
diperoleh dari minyak mineral.
Pemerian : Massa lunak, lengket, bening, putih, sifat ini tetap setelah zat dileburkan
dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk berfluoresensi lemah, juga jika dicairkan ;
tidak berbau ; hampir tidak berasa.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan etanol 95% P ; larut dalam kloroform P,
dalam eter P, dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang – kadang berfluoresensi
lemah.
Jarak Lebur : Antara 38o dan 56o
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat : Penggunaan zat tambahan.

15
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Waktu dan Tempat

1. Tempat pengambilan data percobaan dilaksanakan di Laboratorium Teknologi


Sediaan Semi Solid Poltekkes Jakarta II Jurusan Farmasi
2. Waktu pengambilan data percobaan dilaksanakan pada Senin, 9 September 2019 pada
pukul 08.00 – 11.00 WIB

3.2. Tujuan Percobaan

 Mahasiswa dapat membuat sediaan salep dengan baik berdasarkan CPOB


 Mahasiswa dapat mengevaluasi sediaan salep

3.3. Formula

Salep Kloramfenikol (Fornas Hal 66)

Tiap 10 g mengandung :
R/ Chloramphenicol 200 mg
Propylenglycol 1
Adeps Lanae 1
Vaselin Album ad 10

3.4. Perhitungan

Salep Kloramfenikol => 1 tube ~ 10 g


Jadi 10 g x 4 tube = 40 g
R/ Chloramphenicol => 200 mg x 4 tube = 800 mg
Propylenglycol => 1 g x 4 tube = 4 g
Adeps lanae => 1 g x 4 tube = 4 g
Vaseline album ad 10 – (0,2 + 1 + 1) = 7,8
Jadi 7,8 g x 4 tube = 31,2 g

16
3.5. Penimbangan

1. Chloramphenicol base : 0,8 g


2. Propylenglycol :4g
3. Adeps lanae :4g
4. Vaselin album : 31,2 g

3.6. Alat dan Bahan

1. Alat :
- Mortir dan stamfer - Cawan uap
- Timbangan dan anak timbangan - Oven
- Pipet tetes - Kertas saring
- Sudip - Objek glass
- Etiket dan perkamen - Tube
2. Bahan :
- Chloramphenicol
- Propylenglycol
- Adeps lanae
- Vaselin album

3.7. Cara Pembuatan

1. Siapkan alat dan bahan, setarakan timbangan.


2. Timbang Chloramphenicol diatas perkamen.
3. Timbang Propylenglycol diatas cawan uap yang sudah disetarakan.
4. Timbang Adeps lanae diatas perkamen.
5. Timbang Vaselin album diatas perkamen.
6. Masukkan Chloramphenicol dan Propylenglycol ke dalam mortir, gerus ad homogen.
7. Tambahkan Adeps lanae ke dalam mortir, gerus ad homogen.
8. Tambahkan Vaselin album ke dalam mortir, gerus ad homogen.
9. Masukkan kedalam wadah atau tube.
10. Beri etiket dan label

17
3.8. Evaluasi Sediaan

No. Pengujian Hasil Gambar


Bau : Lemah
Uji Organoleptis (vaselin)
Cara : Dengan menggunakan Rasa : Licin dan
1.
alat indera, meliputi bau, rasa lengket
(kulit), tekstur, warna. Tekstur : Lembut
Warna : Putih susu

Uji Homogenitas
Cara : Oleskan salep diatas Sediaan Homogen
2. kaca objek, ratakan, lalu amati (zat aktif tersebar
homogenitas bahan aktif dalam merata)
basis.

Uji Pengujian pH
Cara : Encerkan salep 0,5 g
Ph yang dihasilkan
kedalam 5 ml aquadest.
3. adalah 5 (masih
Celupkan stik pH / kertas pH
dalam range)
universal kedalam salep yang
telah diencerkan.
Uji Daya Sebar
Cara : Sebanyak 0,5 g salep
diletakkan diatas cawan petri
- Tanpa beban :
yang berdiameter 15 cm dan
3,6 cm
biarkan selama 15 menit.
- Beban 50 g :
Letakan cawan petri lain
4. 3,9 cm
diatasnya dan biarkan selama 1
- Beban 100 g :
menit. Letakkan beban seberat
4,7 cm
50 g diatasnya selama 1 menit,
lalu letakkan beban 100 g
selama 1 menit. Lalu ukur
diameter yang konstan.

18
3.9. Pembahasan

Dalam praktikum pembuatan sediaan salep, berdasarkan hasil evaluasi organoleptis


memiliki bau lemah seperti bau vaselin, wajar karena memakai basis vaselin album. Untuk
rasa di uji di atas permukaan kulit dan sediaan terasa licin dan lengket dan untuk teksturnya
lembut. Sedangkan warna yang dihasilkan dari campuran zat aktif dan bahan lainnya adalah
putih susu.

Uji homogenitas menggunakan kaca objek dan terlihat bahwa sediaan salep sudah
homogen dan tidak terlihat gumpalan ataupun zat aktif yang tidak merata. Sedangkan untuk
pengukuran ph, kertas ph di celupkan kedalam salep yang telah di encerkan dan terlihat
bahwa ph yang dihasilkan sebesar 5 yaitu masih dalam range. Sehingga sediaan salep aman
untuk digunakan pada kulit.

Uji daya sebar dilakukan tiga kali yaitu tanpa beban, dengan beban seberat 50 g, dan
dengan beban seberat 100 g. Untuk pengujian pertama tanpa beban didapatkan hasil diameter
3,6 cm, pengujian kedua dengan beban seberat 50 g dihasilkan diameter sebesar 3,9 cm,
sedangkan pengujian terakhir dengan beban seberat 100 g terlihat diameter bertambah
sebesaer 4,7 cm. Maka dari itu daya sebar suatu salep dapat dipengaruhi oleh waktu dan juga
beban diatasnya.

19
BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Salep (Unguents) adalah preparat setengah padat untuk pemakaian luar yang
dimaksudkan untuk pemakaian pada mata dibuat khusus yang disebut salep mata. Dasar salep
digolongkan kedalam 4 kelompok besar: (1) Dasar salep hidrokarbon (2) Dasar salep absorbsi
(3) Dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan (4)Dasar salep yang larut dalam air.
Formulasi sediaan salep terdiri atas zat padat, zat cair, bahan ekstrak, dan bahan lain-lain.

Berdasarkkan evaluasi sediaan salep yang dilakukan dapat disimpulkan telah sesuai
dengan syarat yang telah ada. Pada uji organoleptis didapat bau nya lemah seperti vaseline,
rasa pada kulit licin dan juga lengket, sedangkan teksturnya licin dan warnanan teksturnya
licin dan warnana putih susu.

Uji homogenitas salep terlihat bahwa sediaan salep homogen, ph yang dihasilkan
sebesar 5 dimana ph masih dalam batas range. Sedangkan untuk uji daya sebar didapatkan
hasil diameter 3,6 cm tanpa beban, diameter 3,9 dengan beban seberat 50 g, dan diameter
bertambah besar yaitu 4,7 cm dengan beban seberat 100 g.

4.2. Saran

Saat praktik usahakan tidak lupa memakai masker dan sarung tangan karena untuk
menjaga agar sediaan tetap steril dan tidak tercampur bahan lainya yang tidak seharusnya
didalam sediaan salep. Kami harap makalah ini bisa bermanfaat bagi kami khususnya dan
perkembangan ilmu kefarmasian pada umumnya terutama dalam hal mengenai salep.

20
DAFTAR PUSTAKA

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan


Republik Indonesia : Jakarta

Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan


Republik Indonesia : Jakarta

Anief. 2004. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ansel, H.C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi (terjemahan) Jakarta: UI Press.

Nuroniah, Arin. 2014. Dasar-dasar Pembuatan Salep.


https://arinnuroniah.wordpress.com/2014/04/16/salep/.

Diakses pada tanggal 14 September 2019.

21
LAMPIRAN

 Dus

 Brosur

 Etiket

22