Anda di halaman 1dari 46

ASKEP LABIOPALATOSCHIZIS

TINJAUAN TEORITIS PENYAKIT

A. Pengertian
Labio palatoshcizis atau sumbing bibir langitan adalah cacat bawaan
berupa celah pada bibir atas, gusi, rahang dan langit-langit (Fitri Purwanto,
2001).
Labio palatoshcizis merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah
mulut palato shcizis (sumbing palatum) labio shcizis (sumbing pada bibir) yang
terjadi akibat gagalnya perkembangan embrio (Hidayat, 2005).
Labio palatoschizis adalah merupakan congenital anomaly yang berupa adanya
kelainan bentuk pada wajah ( Suryadi SKP, 2001).
Berdasarkan ketiga pengertian di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa
labio palatoschizis adalah suatu kelainan congenital berupa celah pada bibir atas,
gusi, rahang dan langit-langit yang terjadi akibat gagalnya perkembangan embrio.
Beberapa jenis bibir sumbing :
a. Unilateral Incomplete
Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu sisi bibir dan tidak memanjang
hingga ke hidung.
b. Unilateral complete
Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu bibir dan memanjang hingga ke
hidung.
c. Bilateral complete
Apabila celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang hingga ke
hidung.
B. Etiologi
1. Faktor herediter
2. Kegagalan fase embrio yang penyebabnya belum diketahui
3. Akibat gagalnya prosessus maksilaris dan prosessus medialis menyatu
4. Dapat dikaitkan abnormal kromosom, mutasi gen dan teratogen (agen/faktor
yang menimbulkan cacat pada embrio).
5. Beberapa obat (korison, anti konsulfan, klorsiklizin).
6. Mutasi genetic atau teratogen.

C. Patofisiologi
1. Kegagalan penyatuan atau perkembangan jaringan lunak dan atau tulang selama
fase embrio pada trimester I.
2. Terbelahnya bibir dan atau hidung karena kegagalan proses nosal medial dan
maksilaris untuk menyatu terjadi selama kehamilan 6-8 minggu.
3. Palatoskisis adalah adanya celah pada garis tengah palato yang disebabkan oleh
kegagalan penyatuan susunan palato pada masa kehamilan 7-12 minggu.
4. penggabungan komplit garis tengah atas bibir antara 7-8 minggu masa
kehamilan.
Penyebab utama bibir sumbing karena kekurangan seng dan karena
menikah/kawin dengan saudara/kerabat. Bagi tubuh, seng sangat dibutuhkan
enzim tubuh. Walau yang diperlukan sedikit, tapi jika kekurangan berbahaya.
Sumber makanan yang mengandung seng antara lain : daging, sayur sayuran dan
air. Di NTT airnya bahkan tidak mengandung seng sama sekali. Soal kawin
antara kerabat atau saudara memang menjadi pemicu munculnya penyakit
generatif, (keterununan) yang sebelumnya resesif. Kekurangan gizi lainya seperti
kekurangan vit B6 dan B complek. Infeksi pada janin pada usia kehamilan muda,
dan salah minum obat obatan/jamu juga bisa menyebabkan bibir sumbing.
Proses terjadinya labio palatoshcizis yaitu ketika kehamilan trimester I
dimana terjadinya gangguan oleh karena beberapa penyakit seperti virus. Pada
trimester I terjadi proses perkembangan pembentukan berbagai organ tubuh dan
pada saat itu terjadi kegagalan dalam penyatuan atau pembentukan jaringan lunak
atau tulang selama fase embrio.
Apabila terjadinya kegagalan dalam penyatuan proses nasal medical dan
maxilaris maka dapat mengalami labio shcizis (sumbing bibir) dan proses
penyatuan tersebut akan terjadi pada usia 6-8 minggu. Kemudian apabila terjadi
kegagalan penyatuan pada susunan palato selama masa kehamilan 7-12 minggu,
maka dapat mengakibatkan sumbing pada palato (palato shcizis).

D. Manifestasi Klinis
1. Deformitas pada bibir
2. Kesukaran dalam menghisap/makan
3. Kelainan susunan archumdentis.
4. Distersi nasal sehingga bisa menyebabkan gangguan pernafasan.
5. Gangguan komunikasi verbal
6. Regurgitasi makanan.
7. Pada Labio skisis
Distorsi pada hidung
Tampak sebagian atau keduanya
Adanya celah pada bibir
8. Pada Palati skisis
a. Tampak ada celah pada tekak (unla), palato lunak, keras dan faramen incisive.
b. Ada rongga pada hidung.
c. Distorsi hidung
d. Teraba ada celah atau terbukanya langit-langit saat diperiksadn jari
e. Kesukaran dalam menghisap/makan.

E. Komplikasi
1. Gangguan bicara
2. Terjadinya atitis media
3. Aspirasi
4. Distress pernafasan
5. Resiko infeksi saluran nafas
6. Pertumbuhan dan perkembangan terhambat
7. Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh atitis media rekureris sekunder
akibat disfungsi tuba eustachius.
8. Masalah gigi
9. Perubahan harga diri dan citra tubuh yang dipengaruhi derajat kecacatan dan
jaringan paruh.

F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan tergantung pada kecacatan. Prioritas pertama antara lain
pada tekhnik pemberian nutrisi yang adekuat untuk mencegah komplikasi,
fasilitas pertumbuhan dan perkembangan.
Penanganan : bedah plastik yang bertujuan menutupi kelainan, mencegah
kelainan, meningkatkan tumbuh kembang anak. Labio plasty dilakukan apabila
sudah tercapai ”rules of overten” yaitu : umur diatas 10 minggu, BB diatas 10
ponds (± 5 kg), tidak ada infeksi mulut, saluran pernafasan unutk mendapatkan
bibir dan hidung yang baik, koreksi hidung dilakukan pada operasi yang pertama.
Palato plasty dilakukan pada umur 12-18 bulan, pada usia 15 tahun dilakukan
terapi dengan koreksi-koreksi bedah plastik. Pada usia 7-8 tahun dilakukan ”bone
skingraft”, dan koreksi dengan flap pharing. Bila terlalu awal sulit karena rongga
mulut kecil. Terlambat, proses bicara terganggu, tidak lanjutnya adalah
pengaturan diet. Diet minum susu sesuai dengan kebutuhan klien.
1. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan bibir sumbing adalah tindakan bedah efektif yang melibatkan
beberapa disiplin ilmu untuk penanganan selanjutnya. Adanya kemajuan teknik
bedah, orbodantis,dokter anak, dokter THT, serta hasil akhir tindakan koreksi
kosmetik dan fungsional menjadi lebih baik. Tergantung dari berat ringan yang
ada, maka tindakan bedah maupun ortidentik dilakukan secara bertahap. biasanya
penutupan celah bibir melalui pembedahan dilakukan bila bayi tersebut telah
berumur 1-2 bulan. Setelah memperlihatkan penambahan berat badan yang
memuaskan dan bebas dari infeksi induk, saluran nafas atau sistemis. Perbedaan
asal ini dapat diperbaiki kembali pada usia 4-5 tahun. Pada kebanyakan kasus,
pembedahan pada hidung hendaknya ditunda hingga mencapi usia pubertas.
Karena celah-celah pada langit-langit mempunyai ukuran, bentuk dan derajat
cerat yang cukup besar, maka pada saat pembedahan, perbaikan harus
disesuaikan bagi masing-masing penderita. Waktu optimal untuk melakukan
pembedahan langit-langit bervariasi dari 6 bulan – 5 tahun. Jika perbaikan
pembedahan tertunda hingga berumur 3 tahun, maka sebuah balon bicara dapat
dilekatkan pada bagian belakang geligi maksila sehingga kontraksi otot-otot
faring dan velfaring dapat menyebabkan jaringan-jaringan bersentuhan dengan
balon tadi untuk menghasilkan penutup nasoporing.
2. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Perawatan Pra-Operasi:
1) Fasilitas penyesuaian yang positif dari orangtua terhadap bayi.
a) Bantu orangtua dalam mengatasi reaksi berduka
b) Dorong orangtua untuk mengekspresikan perasaannya.
c) Diskusikan tentang pembedahan
d) Berikan informasi yang membangkitkan harapan dan perasaan yang positif
terhadap bayi.
e) Tunjukkan sikap penerimaan terhadap bayi.
2) Berikan dan kuatkan informasi pada orangtua tentang prognosis dan pengobatan
bayi.
a) Tahap-tahap intervensi bedah
b) Teknik pemberian makan
c) Penyebab devitasi
3) Tingkatkan dan pertahankan asupan dan nutrisi yang adequate.
a) Fasilitasi menyusui dengan ASI atau susu formula dengan botol atau dot yang
cocok.Monitor atau mengobservasi kemampuan menelan dan menghisap.
b) Tempatkan bayi pada posisi yang tegak dan arahkan aliran susu ke dinding
mulut.
c) Arahkan cairan ke sebalah dalam gusi di dekat lidah.
d) Sendawkan bayi dengan sering selama pemberian makan
e) Kaji respon bayi terhadap pemberian susu.
f) Akhiri pemberian susu dengan air.
4) Tingkatkan dan pertahankan kepatenan jalan nafas
a) Pantau status pernafasan
b) Posisikan bayi miring kekanan dengan sedikit ditinggikan
c) Letakkan selalu alat penghisap di dekat bayi
b. Perawatan Pasca-Operasi
1) Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang adequate
a) Berikan makan cair selama 3 minggu mempergunakan alat penetes atau sendok.
b) Lanjutkan dengan makanan formula sesuai toleransi.
c) Lanjutkan dengan diet lunak
d) Sendawakan bayi selama pemberian makanan.
2) Tingkatkan penyembuhan dan pertahankan integritas daerah insisi anak.
a) Bersihkan garis sutura dengan hati-hati
b) Oleskan salep antibiotik pada garis sutura (Keiloskisis)
c) Bilas mulut dengan air sebelum dan sesudah pemberian makan.
d) Hindari memasukkan obyek ke dalam mulut anak sesudah pemberian makan
untuk mencegah terjadinya aspirasi.
e) Pantau tanda-tanda infeksi pada tempat operasi dan secara sistemik.
f) Pantau tingkat nyeri pada bayi dan perlunya obat pereda nyeri.
g) Perhatikan pendarahan, cdema, drainage.
h) Monitor keutuhan jaringan kulit
i) Perhatikan posisi jahitan, hindari jangan kontak dengan alat-alat tidak steril,
missal alat tensi

G. Pemeriksaan penunjang
1. Tes pendengaran, bicara dan evaluasi.
2. Laboratorium untuk persiapan operasi; Hb, Ht, leuko, BT, CT.
3. Evaluasi ortodental dan prostontal dari mulai posisi gigi dan perubahan struktur
dari orkumaxilaris.
4. Konsultasi bedah plastik, ahli anak, ahli THT, ortodentisist, spech therapi.
5. MRI

TINJAUAN TEORITIS ASUHAN


KEPERAWATAN

A. Konsep Tumbuh Kembang, Bermain, Nutrisi dan Dampak Hospitalisasi.


Dibawah ini akan diuraikan mengenai konsep tumbuh kembang, bermain, nutrisi
dan dampak hospitalisasi pada anak yang berumur 5 tahun.
1. Pertumbuhan, menurut Whalley dan Wong (2000), mengemukakan pertumbuhan
sebagai suatu peningkatan jumlah dan ukuran, hal ini merupakan suatu proses
yang alamiah yang terjadi pada setiap individu, sedangkan Marlow (1998)
mengemukakan pertumbuhan sebagai suatu peningkatan ukuran tubuh yang dapat
diukur dengan meter atau sentimeter untuk tinggi badan dan kilogram atau gram
untuk berat badan. Pertumbuhan pada anak usia 5 tahun pertumbuhan fisik
khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-rata per tahunnya adalah 2 Kg,
kelihatan kurus akan tetapi aktifitas motorik tinggi, dimana sistem tubuh
mencapai kematangan seperti berjalan, melompat, dan lain-lain. Pada
pertumbuhan khususnya ukuran tinggi badan anak akan bertambah rata-rata 6,75
sampai 7,5 cm setiap tahunnya (Hidayat, 2006).
2. Perkembangan, perkembangan menitikberatkan pada perubahan yang terjadi
secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi dan
kompleks yang melalui maturasi dan pembelajaran. Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi perkembangan anak diantaranya faktor herediter, faktor
lingkungan, dan faktor internal. Perkembangan psikoseksual, anak pada fase falik
(3-6 tahun), selama fase ini genitalia menjadi area yang menarik dan area tubuh
yang sensitif. Anak mulai mempelajari adanya perbedaan jenis kelamin,
seringkali anak merasa penasaran dengan pertanyaan yang diajukannya. Dengan
perbedaan ini anak sering meniru ibu atau bapaknya untuk memahami identitas
gender (Freud). Pada masa ini anak mengalami proses perubahan dalam pola
makan dimana anak pada umumnya mengalami kesulitan untuk makan. Proses
eliminasi pada anak sudah menunjukkan proses kemandirian dan masa ini adalah
masa dimana perkembangan kognitif sudah mulai menunjukkan perkembangan
dan anak sudah mempersiapkan diri untuk memasuki sekolah yang terlihat sekali
kemampuan anak belum mampu menilai sesuatu berdasarkan apa yang mereka
lihat dan anak membutuhkan pengalaman belajar dengan lingkungan dan orang
tuanya (Hidayat, 2006).
3. Nutrisi, nutrisi sangat penting untuk tumbuh dan berembang, anak membutuhkan
zat gizi yang esensial mencakup protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin
dan air yang harus dikonsumsi secara seimbang, dengan jumlah yang sesuai
kebutuhan pada tahapan usianya. Kebutuhan cairan pada anak usia 5 tahun yaitu
1600-1800cc/24 jam (Hidayat, 2006). Kebutuhan kalorinya adalah 85 kkal per kg
BB, Pada masa prasekolah kemampuan kemandirian dalam pemenuha kebutuhan
nutrisi sudah mulai muncul, sehingga segala peralatan yang berhubungan dengan
makanan seperti garpu, piring, sendok dan gelas semuanya harus dijalaskan pada
anak atau doperkenalkan dan dilatih dalam penggunaannya, sehingga dapat
mengikuti aturan yang ada. Dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi pada usia ini
sebaiknya penyediaan bervariasi menunya untuk mencegah kebosanan, berikan
susu dan makanan yang dianjurkan antara lain daging, sup, sayuran dan buah-
buahan.
4. Bermain , bermain merupakan suatu aktifitas dimana anak dapat melakukan atau
mempraktikkan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi
kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan dan berprilaku dewasa. Pada usia 3-6
tahun anak sudah mulai mampu mengembangkan kreatifitas dan sosialisasi
sehingga sangat diperlukan permainan yang dapat mengembangakan kemampuan
menyamakan dan membedakan, kemampuan berbahasa, mengembangkan
kecerdasan, menumbuhkan sportifitas, mengembangkan koordinasi motorik,
mengembangkan dalam mengontrol emosi, motorik kasar dan halus,
memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan dan
memperkenalkan suasana kompetisi serta gotong royong. Sehingga jenis
permainan yang dapat digunakan pada anak usia ini seperti benda-benda sekitar
rumah, buku gambar, majalah anak-anak, alat-alat gambar, kertas untuk belajar
melipat, gunting dan air.
5. Dampak Hospitalisasi
Hospitalisasi merupakan suatu poroses yang karena suatu alasan yang berencana
atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi
dan perawatan sampai pemulangannya sampai kembali kerumah. Selama proses
tersebut, anak dan orang tua dapat mengalami berbagai kejadian yang menurut
beberapa penelitian ditunjukkan dengan pengalaman yang sangat traumatik dan
penuh dengan sterss. Perawatan anak dirumah sakit memaksa anak untuk
berpisah dari lingkungan yang dirasakan amat, penuh kasih sayang, dan
menanyakan, yaitu lingkungan rumah, permainan, dan teman sepermainannya.
Reaksi terhadap perpisahan dengan menolak makan, sering bertanya, menangis
walaupun secara perlahan, dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan.
Perawatan dirumah sakit juga membuat anak kehilangan kontrol terhadap dirinya,
anak merasa kehilangan kekuatan diri, malu, bersalah, atau takut.anak akan
bereaksi agresif dengan marah dan berontak, tidak mau bekerjasama dengan
perawat.

B. PENGKAJIAN
1. Riwayat Kesehatan
Riwayat kehamilan, riwayat keturunan, labiotalatos kisis dari keluarga,
berat/panjang bayi saat lahir, pola pertumbuhan, pertambahan/penurunan berat
badan, riwayat otitis media dan infeksi saluran pernafasan atas.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi kecacatan pada saat lahir untuk mengidentifikasi karakteristik sumbing.
b. Kaji asupan cairan dan nutrisi bayi
c. Kaji kemampuan hisap, menelan, bernafas.
d. Kaji tanda-tanda infeksi
e. Palpasi dengan menggunakan jari
f. Kaji tingkat nyeri pada bayi
3. Pengkajia Keluarga
a. Observasi infeksi bayi dan keluarga
b. Kaji harga diri / mekanisme kuping dari anak/orangtua
c. Kaji reaksi orangtua terhadap operasi yang akan dilakukan
d. Kaji kesiapan orangtua terhadap pemulangan dan kesanggupan mengatur
perawatan di rumah.
e. Kaji tingkat pengetahuan keluarga

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Koping Keluarga melemah berhubungan dengan situasi lain atau krisis
perkembangan /keadaan dari orang terdekat mungkin muncul ke permukaan.
2. Resiko aspirasi berhubungan dengan kondisi yang menghambat elevasi tubuh
bagian atas.
3. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan ketidakseimbangan.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan menaikkan zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis.
5. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
6. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif

D. INTERVENSI
1. DX.1 : Koping keluarga melemah berhubungan dengan situasi lain dan krisis
perkembangan / keadaan dari orang lain terdekat mungkin muncul ke permukaan.
NOC.: Family koping
KH :
a. Mengatur masalah
b. Mengekspresikan perasaan dan emosional dengan bebas
c. Menggunakan startegi pengurangan stress
d. Membuat jadwal untuk rutinitas dan kegiatan keluarga
Indikator skala :
1) Tidak pernah dilakukan
2) Jarang dilakukan
3) Kadang dilakukan
4) Sering dilakukan
5) Selalu dilakukan
NIC : Family Support
a. Dengarkan apa yang diungkapkan
b. Bangun hubungan kepercayaan dalam keluarga
c. Ajarkan pengobatan dan rencana keperawatan untuk keluarga
d. Gunakan mekanisme kopoing adaptif
e. Mengkonsultasikan dengan anggota keluarga utnk menambahkan kopoing yang
efektif.
2. DX.II: Resiko aspirasi berhubungan dengan kondisi yang menghambat elevasi
tubuh bagian atas.
NOC : Risk Control
KH :
a. Monitor lingkungan faktor resiko
b. Gunakan strategi kontrol resiko yang efektif
c. Modifikasi gaya hidup untuk mengurangi resiko
d. Monitor perubahan status kesehatan
e. Monitor faktor resiko individu
Indikator skala :
1) Tidak pernah dilakukan
2) Jarang dilakukan
3) Kadang dilakukan
4) Sering dilakukan
5) Selalu dilakukan
NIC : Aspiration Precaution
a. Monitor status hormonal
b. Hindari penggunaan cairan / penggunaan agen amat tebal
c. Tawarkan makanan / cairan yang dapat dibentuk menjadi bolu sebelum ditelan.
d. Sarankan untuk berkonsultasi ke Patologi
e. Posisikan 900 atau lebih jika memungkinkan.
f. Cek NGT sebelum memberi makan
3. DX. III : Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan ketidak seimbangan
NOC :
a. Menggunakan pesan tertulis
b. Menggunakan bahasa percakapan vocal
c. Menggunakan percakapan yang jelas
d. Menggunakan gambar/lukisan
e. Menggunakan bahasa non verbal
Indikator skala :
1) Tidak pernah dilakukan
2) Jarang dilakukan
3) Kadang dilakukan
4) Sering dilakukan
5) Selalu dilakukan
NIC : Perbaikan Komunikasi
a. Membantu keluarga dalam memahami pembicaraan pasien
b. Berbicara kepada pasien dengan lambat dan dengan suara yang jelas.
c. Menggunakan kata dan kalimat yang singkat
d. Mendengarkan pasien dengan baik
e. Memberikan reinforcement/pujian positif pada keluarga
f. Anjurkan pasien mengulangi pembicaraannya jika belum jelas.
4. DX. IV : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakmampuan menaikkan zat-zat gizi berhubungan dengan faktor
biologis.
NOC : Status Nutrisi
KH :
a. Stamina
b. Tenaga
c. Penyembuhan jaringan
d. Daya tahan tubuh
e. Pertumbuhan (untuk anak)
Indikator skala :
1) Tidak pernah dilakukan
2) Jarang dilakukan
3) Kadang dilakukan
4) Sering dilakukan
5) Selalu dilakukan
NIC : Nutrition Monitoring
a. BB dalam batas normal
b. Monitor type dan jumlah aktifitas yang biasa dilakukan
c. Monitor interaksi anak/orangtua selama makan
d. Monitor lingkungan selama makan
e. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
f. Monitor turgor kulit
g. Monitor rambut kusam, kering dan mudah patah
h. Monitor pertumbuhan danperkembangan
5. DX. V : Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
NOC : Tingkat Kenyamanan
KH :
a. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan managemen nyeri.
b. Mampu mengenali nyeri (skal), intensitas, frekwensi, dan tanda nyeri.
c. TTV dalam batas normal
Indikator skala :
1) Tidak pernah dilakukan
2) Jarang dilakukan
3) Kadang dilakukan
4) Sering dilakukan
5) Selalu dilakukan
NIC : Pain Management
a. Kaji secara komprehensif tentang nyeri meiputi : Lokasi, karkteristik, durasi,
frekwensi, kualitas dan intensitas nyeri.
b. Observasi isarat-isarat non verbal dari ketidaknyamanan
c. Gunakan komunikasi teraupeutik agar pasien dapat nyaman mengekspresikan
nyeri.berikan dukungan kepada pasien dan keluarga.
6. DX. VI : Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif
NOC : Risk Control
KH :
a. Monitor gejala kemunduran penglihatan
b. Hindari tauma mata
c. Hindarkan gejal penyakit mata
d. Gunakan alat melindungi mata
e. Gunakan resep obat mata yang benar
Indikator skala :
1) Tidak pernah dilakukan
2) Jarang dilakukan
3) Kadang dilakukan
4) Sering dilakukan
5) Selalu dilakukan
NIC : Identifikasi Resiko
a. Identifikasi pasien dengan kebutuhan perawatan rencana berkelanjutan
b. Menentukan sumber yang financial
c. Identifikasi sumber agen penyakit untuk mengurangi faktor resiko
d. Menentukan pelaksanaan dengan treatment medis dan perawatan

E. EVALUASI
1. Diagnosa I : Koping keluarga melemah berhubungan dengan situasi lain atau
krisis perkembangan keadaan dari orang terdekat mungkin muncul ke
permukaan.
a. Mengatur masalah
b. Mengekspresikan perasaan dan emosional dengan bebas
c. Menggunakan startegi pengurangan stress
d. Membuat jadwal untuk rutinitas dan kegiatan keluarga
2. Diagnosa II : Resiko aspirasi berhubungan dengan kondisi yang menghambat
elevasi tubuh bagian atas.
a. Monitor lingkungan faktor resiko
b. Gunakan strategi kontrol resiko yang efektif
c. Modifikasi gaya hidup untuk mengurangi resiko
d. Monitor perubahan status kesehatan
e. Monitor faktor resiko individu
3. Diagnosa III : Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan
ketidakseimbangan.
a. Menggunakan pesan tertulis
b. Menggunakan bahasa percakapan vocal
c. Menggunakan percakapan yang jelas
d. Menggunakan gambar/lukisan
e. Menggunakan bahasa non verbal
4. Diagnosa IV : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan ketidak mampuan menaikkan zat-zat gizi berhubungan
dengan faktor biologis.
a. Stamina
b. Tenaga
c. Penyembuhan jaringan
d. Daya tahan tubuh
e. Pertumbuhan (untuk anak)
5. Diagnosa V : Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik
a. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan managemen nyeri.
b. Mampu mengenali nyeri (skal), intensitas, frekwensi, dan tanda nyeri
c. TTV dalam batas normal
6. Diagnosa VI : Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif.
a. Monitor gejala kemunduran penglihatan
b. Hindari tauma mata
c. Hindarkan gejal penyakit mata
d. Gunakan alat melindungi mata
e. Gunakan resep obat mata yang benar

DADFTAR PUSTAKA

http://www.trinoval.web.id/2010/04/askep-labio-palato-skisis.html

http://askep-topbgt.blogspot.com/.../asuhan-keperawatan-labio-palatos

Betz, Cecily, dkk. 2002. Buku Saku Keperawatan Pedriatik. Jakarta ; EEC.

Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta :


Salemba Medika.

Nelson. 1993. Ilmu Kesehatan Anak bagian 2. Jakarta; Fajar Interpratama.

Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EEC.

Wong, Dona L.2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pedriatik. Jakarta : EEC.


ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN
LABIOPALATOSKISIS

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut laporan peneliti dari berbagai negara, cacat labio palatoschizis dapat
muncul dari 1 : 800 sampai 1 : 2000 kelahiran. Indonesia yang berpenduduk 200 juta
lebih, tentu mempunyai dan akan mempunyai banyak kasus labio palatoschizis.

Labio palatoschizis merupakan kelainan bibir dan langit – langit, hal ini
biasanya disebabkan karena perkembangan bibir dan langit – langit yang tidak dapat
berkembang secara sempurna pada masa pertumbuhan di dalam kandungan. Dimana
biasanya penderita labio palatoschizis mempunyai bentuk wajah kurang normal dan
kurang jelas dalam berbicara sehingga menghambat masa persiapan sekolahnya.

Labio palatoschizis sering dijumpai pada anak laki – laki dibandingkan anak
perempuan (Randwick, 2002) kelainan ini merupakan kelainan yang disebabkan faktor
herediter, lingkungan, trauma, virus (Sjamsul Hidayat, 1997).

Kelainan ini dapat dilihat ketika bayi berada di dalam kandungan, melalui alat
yang disebut USG atau Ultrasonografi. Setelah bayi lahir kelainan ini tampak jelas pada
bibir dan langit –langitnya.

1.2 Rumusan Masalah

1) Apa yang dimaksud Labio palatoschizis ?

2) Apa yang menyebabkan Labio palatoschizis ?


3) Bagaimana patofisiologi Labio palatoschizis?

4) Apa sajakah klasifikasi Labio palatoschizis?

5) Bagaimana prevalensi Labio palatoschizis?

6) Apa manifestasi klinis dan komplikasi Labio palatoschizis?

7) Bagaimana penatalaksanaan Labio palatoschizis?

8) Bagaimana asuhan keperawatan untuk anak dengan Labio palatoschizis ?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Memberi pengetahuan tentang Labio palatoschizis

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Menjelaskan definisi Labio palatoschizis


2. Menjelaskan etiologi Labio palatoschizis
3. Menjelaskan patofisiologi Labio palatoschizis
4. Menjelaskan klasifikasi Labio palatoschizis
5. Menjelaskan prevalensi Labio palatoschizis
6. Menjelaskan manifestasi klinis dan komplikasi Labio palatoschizis
7. Menjelaskan penatalaksanaan Labio palatoschizis
8. Menjelaskan asuhan keperawatan Labio palatoschizis
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian

Labio palatoshizis adalah suatu keadaan terbukanya bibir dan langit – langit
rongga mulut dapat melalui palatum durum maupun palatum mole, hal ini disebabkan
bibir dan langit – langit tidak dapat tumbuh dengan sempurna pada masa pembentukan
mesuderm pada saat kehamilan.

Labio palatoshizis yang terjadi seringkali berbentuk fistula, dimana fistula ini dapat
diartikan sebagai suatu lubang atau celah yang menghubungkan rongga mulut dan
hidung (Sarwoni, 2001)

2.2 Etiologi

Ada beberapa etiologi yang dapat menyebabkan terjadinya kelainan Labio


palatoschizis, antara lain:

1. Faktor Genetik

Merupakan penyebab beberapa palatoschizis, tetapi tidak dapat ditentukan dengan


pasti karena berkaitan dengan gen kedua orang tua. Diseluruh dunia ditemukan hampir
25 – 30 % penderita labio palatoscizhis terjadi karena faktor herediter. Faktor dominan
dan resesif dalam gen merupakan manifestasi genetik yang menyebabkan terjadinya
labio palatoschizis. Faktor genetik yang menyebabkan celah bibir dan palatum
merupakan manifestasi yang kurang potensial dalam penyatuan beberapa bagian
kontak.

2. Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa embrional, baik
kualitas maupun kuantitas (Gangguan sirkulasi foto maternal).
Zat –zat yang berpengaruh adalah:
• Asam folat

• Vitamin C

• Zn

Apabila pada kehamilan, ibu kurang mengkonsumsi asam folat, vitamin C dan
Zn dapat berpengaruh pada janin. Karena zat - zat tersebut dibutuhkan dalam tumbuh
kembang organ selama masa embrional. Selain itu gangguan sirkulasi foto maternal
juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang organ selama masa embrional.

3. Pengaruh obat teratogenik.Yang termasuk obat teratogenik adalah:

• Jamu. Mengkonsumsi jamu pada waktu kehamilan dapat berpengaruh pada janin,
terutama terjadinya labio palatoschizis. Akan tetapi jenis jamu apa yang menyebabkan
kelainan kongenital ini masih belum jelas. Masih ada penelitian lebih lanjut
• Kontrasepsi hormonal. Pada ibu hamil yang masih mengkonsumsi kontrasepsi
hormonal, terutama untuk hormon estrogen yang berlebihan akan menyebabkan
terjadinya hipertensi sehingga berpengaruh pada janin, karena akan terjadi gangguan
sirkulasi fotomaternal.

• Obat – obatan yang dapat menyebabkan kelainan kongenital terutama labio


palatoschizis. Obat – obatan itu antara lain :

- Talidomid, diazepam (obat – obat penenang)

- Aspirin (Obat – obat analgetika)

- Kosmetika yang mengandung merkuri & timah hitam (cream pemutih)

Sehingga penggunaan obat pada ibu hamil harus dengan pengawasan dokter.
4. Faktor lingkungan. Beberapa faktor lingkungan yang dapat menyebabkan Labio
palatoschizis, yaitu:

• Zat kimia (rokok dan alkohol). Pada ibu hamil yang masih mengkonsumsi rokok dan
alkohol dapat berakibat terjadi kelainan kongenital karena zat toksik yang terkandung
pada rokok dan alkohol yang dapat mengganggu pertumbuhan organ selama masa
embrional.
• Gangguan metabolik (DM). Untuk ibu hamil yang mempunyai penyakit diabetessangat
rentan terjadi kelainan kongenital, karena dapat menyebabkan gangguan sirkulasi
fetomaternal. Kadar gula dalam darah yang tinggi dapat berpengaruh padatumbuh
kembang organ selama masa embrional.h

• Penyinaran radioaktif. Untuk ibu hamil pada trimester pertama tidak dianjurkan terapi
penyinaran radioaktif, karena radiasi dari terapi tersebut dapat mengganggu proses
tumbuh kembang organ selama masa embrional.

5. Infeksi, khususnya virus (toxoplasma) dan klamidial . Ibu hamil yang terinfeksi
virus (toxoplasma) berpengaruh pada janin sehingga dapat berpengaruh
terjadinya kelainan kongenital terutama labio palatoschizis.

Dari beberapa faktor tersebit diatas dapat meningkatkan terjadinya Labio


palatoshizis, tetapi tergantung dari frekuensi dari frekuensi pemakaian, lama
pemakaian, dan wktu pemakaian.

2.3 Patofisiologi

Cacat tebentuk pada trimester pertama, prosesnya karena tidak terbentuknya


mesoderm pada daerah tersebut sehingga bagian yang telah menyatu (Prosesus nasalis
dan maksialis) pecah kembali.
2.4 Klasifikasi

2.4.1 Berdasarkan organ yang terlibat

 Celah bibir ( labioscizis ) : celah terdapat pada bibir bagian atas

 Celah gusi ( gnatoscizis ) : celah terdapat pada gusi gigi bagian atas

 Celah palatum ( palatoscizis ) : celah terdapat pada palatum

2.4.2 Berdasarkan lengkap atau tidaknya celah yang terbentuk

 Komplit : jika celah melebar sampai ke dasar hidung

 Inkomplit : jika celah tidak melebar sampai ke dasar hidung

2.4.3 Berdasarkan letak celah

• Unilateral : celah terjadi hanya pada satu sisi bibir

• Bilateral : celah terjadi pada kedua sisi bibir

• Midline : celah terjadi pada tengah bibir

2.5 Prevalensi penyakit

Labio palatoschizis adalah suatu kelainan kongenital sehingga insidensnya adalah


neonatus, dengan prevalensi penyakit 1:1000 kelahiran. Insiden dari Labio palatoschizis
tertinggi terdapat pada orang Asia dan insiden paling rendah pada orang amerika
keturunan Afrika.

2.6 Manifestasi Klinis

a) Tampak ada celah

b) Adanya rongga pada hidung


c) Distorsi hidung

d) Kesukaran dalam menghisap atau makan.

2.7 Komplikasi

Komplikasi yang terjadi pada pasien dengan Labio palatoschizis adalah:

1. Kesulitan berbicara – hipernasalitas, artikulasi, kompensatori. Dengan adanya


celah pada bibir dan palatum, pada faring terjadi pelebaran sehingga suara
yang keluar menjadi sengau.
2. Maloklusi – pola erupsi gigi abnormal. Jika celah melibatkan tulang alveol,
alveol ridge terletak disebelah palatal, sehingga disisi celah dan didaerah celah
sering terjadi erupsi.
3. Masalah pendengaran – otitis media rekurens sekunder. Dengan adanya celah
pada paltum sehingga muara tuba eustachii terganggu akibtnya dapat terjadi
otitis media rekurens sekunder.
4. Aspirasi. Dengan terganggunya tuba eustachii, menyebabkan reflek menghisap
dan menelan terganggu akibatnya dapat terjadi aspirasi.
5. Distress pernafasan. Dengan terjadi aspirasi yang tidak dapat ditolong secara
dini, akan mengakibatkan distress pernafasan
6. Resiko infeksi saluran nafas. Adanya celah pada bibir dan palatum dapat
mengakibatkan udara luar dapat masuk dengan bebas ke dalam tubuh,
sehingga kuman – kuman dan bakteri dapat masuk ke dalam saluran
pernafasan.
7. Pertumbuhan dan perkembangan terlambat. Dengan adanya celah pada bibir
dan palatum dapat menyebabkan kerusakan menghisap dan menelan
terganggu. Akibatnya bayi menjadi kekurangan nutrisi sehingga menghambat
pertumbuhan dan perkembangan bayi.
8. Asimetri wajah. Jika celah melebar ke dasar hidung “ alar cartilago ” dan
kurangnya penyangga pada dasar alar pada sisi celah menyebabkan asimetris
wajah.
9. Penyakit peri odontal. Gigi permanen yang bersebelahan dengan celah yang
tidak mencukupi di dalam tulang. Sepanjang permukaan akar di dekat aspek
distal dan medial insisiv pertama dapat menyebabkan terjadinya penyakit peri
odontal.
10. Crosbite. Penderita labio palatoschizis seringkali paroksimallnya menonjol dan
lebih rendah posterior premaxillary yang colaps medialnya dapat menyebabkan
terjadinya crosbite.
11. Perubahan harga diri dan citra tubuh. Adanya celah pada bibir dan palatum
serta terjadinya asimetri wajah menyebabkan perubahan harga diri da citra
tubuh.

2.8 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan labio palatoschizis adalah dengan tindakan pembedahan.


Tindakan operasi pertama kali dikerjakan untuk menutup celah bibir palatum
berdasarkan kriteria “ rule of ten “, yaitu:

a. Umur lebih dari 10 minggu ( 3 bulan )

b. Berat lebih dari 10 pond ( 5 kg )

c. Hb lebih 10 g / dl

d. Leukosit lebih dari 10.000 / ul

Cara operasi yang umum dipakai adalah cara millard. Tindakan operasi selanjutny
adalah menutup bagian langitan ( palatoplasti ), dikerjakan sedini mungkin ( 15 – 24
bulan ) sebelum anak mampu berbicara lengkap sehingga pusat bicara di otak belum
membentuk cara bicara. Kalau operasi dikerjakan terlambat, seringkali hasil operasi
dalam hal kemampuan mengeluarkan suara normal ( tidak sengau ) sulit dicapai.

Bila Ini telah dilakukan tetapi suara yang keluar masih sengau dapat dilakukan
laringoplasti. Operasi ini adlah membuat bendungan pada faring untuk memperbaiki
fonasi, biasanya dilakukan pada umur 6 tahun keatas.
Pada umur 8 -9 tahun dilakukan operasi penambalan tulang pada celah alveolus
atau maksila untuk memungkinkan ahli ortodonti mengatur pertumbuhan gigi di kanan
kiri celah supaya normal. Graft tulang diambil dari dari bagian spongius kista iliaca.
Tindakan operasi terakhir yang mungkin perlu dikerjakan setelah pertumbuhan tulang –
tulang muka mendekatiselesai, pada umur 15 – 17 tahun.

Sering ditemukan hiperplasi pertumbuhan maksila sehingga gigi geligig depan atas
atau rahang atas kurang maju pertumbuhannya. Dapat dilakukan bedah ortognatik
memotong bagian tulang yang tertinggal pertumbuhannya dan mengubah posisinya
maju ke depan.

BAB 3

WEB OF CAUTION

Fakto genetik Insufisiensi zat untuk Pengaruh obat Faktor lingkungan Infeksi

kelainan tumbuh kembang teratogenik : Zat kimia,


Radioaktif Virus

kromosom selama embrional Jamu, Kortison, Gx.


Metabolik Klamidial

(kualitas&kuantitas) : Klorsiklizin,

asam folat, Zn, Vit C Anti konvulsan,

Kontrasepsi

hormonal
Mesoderm tdk terbentuk pada trimester I kehamilan

Prosesus nasalis & maksialis tdk menyatu

LABIO PALATOSCIZIS

Sistem pencernaan Sistem Pernapasan

Ada celah pada bibir & palatum Ada celah pada bibir& palatum

Spingter di muara tuba eustachia terganggu Distorsi nasal

Tidak dapat menghisap Dispnea & maloklusi

Perub. Nutrisi kurang dari


kebutuhan ●Aspirasi
●Resiko tinggi infeksi

Dampak hospitalisasi

Anak Keluarga

● Cemas

Pre Op Post Op ● Ketegangan

● Cemas ● Perub. Nutrisi kurang dari kebutuhan ● Kurang pengetahuan

● Ketegangan ● Nyeri ● Koping klg tidak efektif

● Perub. Nutrisi kurang ● Resiko tinggi trauma insisi pembadahan

dari kebutuhan ● Resiko tinggi infeksi

BAB IV

ASUHAN KEPERAWATAN

4.1 Pengkajian
Riwayat pertumbuhan dan perkembangan

A. BB normal neonatus : 2,75 – 3,00 kg


B. TB normal neonatus : 50 cm
C. LK normal neonatus : 43 -35 cm
D. LD normal neonatus : 32 -33 cm
E. Perkembangan motorik kasar

1. Usia 1 - 4 bulan
a. Mengangkat kepala saat tengkurap

b. Dapat duduk sebentar dengan ditopang

c. Dapat duduk dengan kepala tegak

d. Jatuh terduduk di pangkuan ketika disokong pada posisi berdiri

e. Kontrol kepala keluar

f. Mengangkat kepala sambil berbaring terlentang

g. Berguling dari terlentang kemiring

h. Posisi lengan dan tungkai kurang flexi

i. Berusaha merangkak

2. Usia 4 -8 bulan

a. Menahan kepala tegak terus menerus

b. Berayun ke depan dan ke belakang

c. Berguling dari terlentang ke tengkurap

d. Dapat duduk dengan bantuan selama interval singkat

3. Usia 8 -12 bulan


a. Duduk dari posisi tegak tanpa bantuan

b. Dapat berdiri tegak dengan bantuan

c. Menjelajah

d. Berdiri tegak tanpa bantuan walaupun sebentar

e. Membuat posisi merangkak

f. Merangkak

g. Berjalan dengan bantuan

F. Perkembangan motorik halus

1. Usia 1 – 4 bulan
a. Melakukan usaha yang bertujuan untuk memegang suatu obyek

b. Mengikuti obyek dari sisi ke sisi

c. Mencoba memgang benda tapi terlepas

d. Memasukkan benda ke dalam mulut

e. Memperhatikan tangan dan kaki

f. Memegang benda dengan kedua tangan

g. Mempertahankan benda di tangan walaupun hanya sebentar

2. Usia 4 - 8 bulan

a. Menggunakan ibu jari dan telunjuk untuk memegang

b. Mengeksplorasi benda yang sedang dipegang

c. Mampu menahan menahan kedua benda di kedua tangan secara simultan

d. Menggunakan bahu dan tangan sebagai satu kesatuan


e. Memindahkan objek dari satu tangan ke tangan yang lainnya

3. Usia 8 – 12 bulan

a. Melepas objek dengan jari lurus

b. Mampu menjepit benda

c. Melambaikan tangan

d. Menggunakan tangan untuk bermain

e. Menempatkan objek ke dalam wadah

f. Makan biskuit sendiri

g. Minum dengan cangkir engan bantuan

h. Menggunakan sendok dengan bantuan

i. Makan dengan jari

j. Memegang krayon dan membuat coretan di atas kertas

G. Perkembangan sensoris

1. Usia 0 -1 bulan
a. Membedakan rasa manis dan asam

b. Menari diri dari stimulus yang menyakitkan

c. Membedakan bau, mampu mendeteksi bau ibu

d. Memalingkan kepala dari bau yang tidak disukai

e. Membedakan bunyi berdasarkan perbedaan nada, frekuensi dan durasi

f. Berespon terhadap penurunan cahaya

g. Mudah melacak objek tetapi mudah juga kehilangan objek tersebut


h. Lebih berfokus pada wajah manusia dibandingkan benda – benda lain yang ada dalam
satu lapang pandang

i. Mempunyai ketajaman penglihatan 20 / 40, mampu berfokus pada objek yang berada
pada jarak 20 cm

j. Terdiam jika mendengar bunyi suara

2. Usia 1 – 4 bulan

a. Membedakan wajah dan suara ibu

b. Menunjukkan pelacakan visual yang akurat

c. Membeda-bedakan antar pola penglihatan

d. Membeda-bedakan wajah yang dikenal dan tidak kenal

3. Usia 4 – 8 bulan

a. Berespon terhadap perubahan warna

b. Mengikuti objek dari garis tengah ke samping

c. Mengikuti objek dari berbagi arah

d. Mencoba mencari sumber bunyi

e. Berusaha mengkoordinasikan tangan – mata

f. Indera penciuman sudah berkembang dengan baik

g. Mencapai batas ketajaman penglihatan dewasa

h. Berespon terhadap suara yang tidak terlihat

4. Usia 8 – 12 bulan

a. Persepsi ke dalam telah meningkat


b. Mengenali namanya sendiri

H. Perkembangan kognitif

1. Usia 0 -1 bulan
a. Perilaku involunter

b. Refleksif primer

c. Orientasi autistik

d. Tidak ada konsep baik diri sendiri maupun orang lain

2. Usia 1 – 4 bulan

a. Perilaku reflektif secara bertahap diagantikan gerakan volunter

b. Aktifitas berpusat di sekitar tubuh

c. Membuat usaha awal untuk mengulang atau menirukan tindakan

d. Banyak menunjukkan perilaku trial dan error

e. Berusaha memodifikasi perilaku sebagai respon terhadap berbagai stimulus


(menghisap payudara vs botol)

f. Menunjukkan orientasi simbolitik

g. Tidak mampu membedakan diri sendiri dan orang lain

h. Terlibat dalam suatu aktifitas, karena aktifitas tersebut menyenangkan

3. Usia 4 – 8 bulan

a. Menunjukkan pengulangan tindakan yang bertujuan

b. Menunjukkan keinginan berperilaku untuk mencapai tujuan

c. Menentukan perbedaan intensitas (suara dan penglihatan)


d. Menunjukkan tindakan sederhana

e. Menunjukkan permulaan objek permanent

f. Antisipasi kejadiaan – kejadian di masa akan datang (makan)

g. Menunjukkan kesadaran bahwa diri sendiri terpisah dengan orang tua

4. Usia 8 – 12 bulan

a. Mengantisipasi kejadian sebagai suatu yang menyenangkan dan tidak menyenangkan

b. Menunjukkan tingkat kegawatan pada kesengajaan perilaku

c. Menunjukkan perilaku – perilaku yang mengarah pada tujuan

d. Membuktikan kepermanenan objek

e. Mencari objek – objek yang hilang

f. Dapat mengikuti sejumlah besar tindakan

g. Memahami dari kata – kata dan perintah sederhana

h. Menghubungkan sikap dan perilaku dengan symbol

i. Menjadi lebih mandiri dan figur keibuan

I. Perkembangan bahasa

1. Usia 0 -1 bulan
a. Mendengkur

b. Membuat suara tanpa huruf hidup

c. Membuat suara merengek ketika sedang kesal

d. Membuat suara berdeguk ketika sedang kenyang

e. Tersenyum sebagai respon terhadap pembicaraan orang dewasa


2. Usia 1 -4 bulan

a. Bersuara dan tersenyum

b. Dapat membuat bunyi huruf hidup

c. Bersuara

d. Berceloteh

3. Usia 4 -8 bulan

a. Menggunakan vokalisasi yang semakin banyak

b. Menggunakan kata – kata yang terdiri dari 2 suku kata (buu – buu)

c. Dapat membuat dan bunyi vokal bersamaan

4. Usia 8 -12 bulan

a. Mengucapkan kata – kata pertama

b. Menggunakan bunyi untuk mengidentifikasikan objek, orang dan aktifitas

c. Menirukan berbagai bunyi kata

d. Mengucapkan serangkaian suku kata

e. Memahami arti larangan misal : “ jangan “

f. Berespon terhadap panggilan dan orang – orang yang mirip anggota keluarga

g. Menunjukkaninfleksi kata – kata yang nyata

h. Menggunakan 3 kosa kata

i. Menggunakan kalimat satu kata

J. Perkembangan psikoseksual (Tahap oral)

1. Berfokus pada tubuh – mulut


2. Tugas perkembangan – gratifikasi kebutuhan dasar (makanan, kehangatan dan
kenyamanan)

3. Krisis perkembangan dan penyapihan; bayi dipaksa untuk menghentikan


kesenangannya untuk minum ASI / menyusu dari botol

4. Keterampilan koping yang umum – menghisap, menangis, mendengkur, berceloteh,


memukul dan bentuk perilaku lainnya sebagai respon iritan

5. Kebutuhan seksual – menggeneralisasikan sensasi tubuh yang menyenangkan.


Meskipun berfokus pada kebutuhan oral, bayi mendapat kesenangan fisik dari
digendong, ditimang, diayun

6. Bermain – stimultan taktil diberikan melalui aktifitas pengasuhan

K. Perkembangan psikososial

1. Tugas perkembangan – perkembangan rasa percaya terhadap pemberian asuhan


primer
2. Krisis perkembangan – disapih dari ASI / susu botol

3. Bermain – interaksi dengan pemberi asuhan. Membentuk dasar – dasar perkembangan


hubungan di kemudian hari

4. Peran orang tua – bayi merumuskan sikap dasar terhadap kehidupan berdasarkan
pengalamannya bersama orang tua. Orang tua dapat dianggap sebagai sebagai seorang
yang dapat dipercaya, konsisten, selalu ada dan penyayang

L. Perilaku social

1. Usia 0 -1 bulan
a. Bayi tersenyum tanpa membeda -bedakan

2. Usia 1 – 4 bulan

a. Tersenyum pada wajah manusia


b. Waktu tidur dalam sehari lebih sedikit daripada waktu terjaga

c. Membentuk siklus tidur bangun

d. Menangis menjadi sesuatu yang berbeda

e. Membeda – bedakan wajah yang dikenal dan tidak dikenal

f. Senang menatap wajah – wajah yang dikenalnya

g. Diam saja jika ada orang asing

3. Usia 4 – 8 bulan

a. Merasa terpaksa jika ada orang asing

b. Mulai bermain dengan mainan

c. Takut akan kehadiran orang asing

d. Mudah frustasi

e. Memukul - mukul lengan dan kaki jika sedang kesal

4. Usia 8 -12 bulan

a. Bermain permainan sederhana (cilukba)

b. Menangis jika dimarahi

c. Membuat permintaan sederhana dengan gaya tubuh

d. Menunjukkan peningkatan ansietas terhadap perpisahan

e. Lebih menyukai menyukai figure pemberi asuhan daripada orang dewasa lainnya

f. Mengenali anggota keluarga

M. Perkembangan moral
Perkembangan moral tidak dimulai sampai usia toddler, ketika kognitif awal sudah
muncul

N. Perkembangan kepercayaan (tahap tidak membedakan)

Rasa percaya dan interaksi dengan pemberi asuhan membentuk dasar untuk
perkembangan kesetiaan selanjutnya

4.2 Observasi dan Pengkajian

4.2.1 Respiratory Sistem

o RR neonatus normal : 30 – 50 x/menit

o RR bayi normal : 26 – 40 x/menit

o Pernafasan abdominal dan diafragma

o Pernafasan dangkal dan iregular

o Pada pt dengan labio palatoschizis system pernafasannya terganggu, karena bayi tidak
dapat bernafas melalui mulut apabila hidungnya tersumbat. Akibatnya dapat terjadi
distress pernafasan atausebagai kompensasi melakukan hiperventilasi dan selanjutnya
dapat terjadi dispnea

4.2.2 Kardiovaskuler

o TD neonatus normal 80/50 mmHg

o TD bayi normal 90/61 mmHg

o Nadi neonatus normal 70 -170 mmHg

o Nadi bayi normal 80 – 160 mmHg

o Pada pasien labio palatoscizis, sistem kardiovaskuler tidak mengalami gangguan

4.2.3 Persyarafan
Reflek pada bayi :

A. Babinski

Jari – jari kaki ekstensi ketika telapak kaki diusap. Pada penderita labio palatoschizis
reflek babinski positif

B. Galant

Melengkungkan badan ke arah sisi yang di stimulasi ketika dilakukan pengusapan di


sepanjang tulang belakang. Pada penderita labio palatoschizis reflek gallant positif

C. Moro

Ekstensi tiba –tiba kea rah luar dan kembali kea rah garis tengah ketika bayi terkejut
akibat suara keras / perubahan posisi yang cepat. Pada penderita labio palatoschizis
reflek moro positif

D. Palmar

Menggenggam objek dengan jari ketika telapak tangan disentuh. Pada penderita labio
palatoschizis reflek palmar positif

E. Placing

Usaha untuk mengangkat dan meletakkan kaki di tepi permukaan kaki ketika kaki
disentuh di bagian atasnya. Pada penderita labio palatoschizis reflek placing positif

F. Plantar

Fleksi jari – jari kaki ke arah dalam, ketika tumit telapak kaki diusap. Pada penderita
labio palatoschizis reflek plantar positif

G. Righting

Berusaha untuk mempertahankan kepala pada posisi tegak. Pada penderita labio
palatoschizis reflek ini positif

H. Rooting
Memiringkan kepala ke arah pipi yang diberi stimulus sentuhan. Pada penderita labio
palatoschizis reflek ini positif

I. Sucking

Menghisap objek yang diletakkan dalam mulut. Pada penderita labio palatoschizis reflek
ini negative karena muara tuba eustachiinya terganggu

J. Stepping

Membuat gerakan melangkah ketika digendong pada posisi tegak dengan kaki
menyentuh permukaan. Pada penderita labio palatoschizis reflek ini positif.

4.2.4 Gastro Intestinal

Pada penderita labio palatoschizis, system ini mengalami gangguan dikarenakan


bentuk bibir. Labio palatoschizis pada bayi normal, jumlah nutrisi berdasarkan BB
adalah :

BB Kebutuhan Nutrisi / Hari

1 – 10 kg 100 cc / BB

11 – 20 kg 1000 + 50 cc ( BB – 10 )

> 20 kg 1500 + 20 cc ( BB – 20 )

Pada penderita
labio palatoschizis asupan kurang dari kebutuhan karena proses menghisap terganggu

4.2.5 Urinary Sistem

A. Jumlah urin = cairan yang masuk

B. Awal : urin keluar 20 ml dan meningkat sesuai dengan pemasukan

C. Frekuensi voiding : 2 -6 x selanjutnya 5 – 25 x / 24 jam


D. Pada bayi void : 15 – 60 ml/kg BB/24 jam

E. BJ urin : 1,005 – 1,015

F. Standar volume urin

• Bayi baru lahir : 10 – 90 ml/kg BB/ hari

• Bayi : 80 – 90 ml/kg BB/hari

G. GFR bayi baru lahir : 30 – 50 % dewasa

H. Rata – rata bayi BAK : 8 -12 x/hari

I. Pada penderita labio palatoschizis system ini mengalami gangguan

4.2.6 Muskuloskeletal

A. Jumlah kartilago > osifikasi tulang

B. Pertumbuhan ukuran otot karena hipertropi dibanding hiperplasia

4.3 Pemeriksaan Diagnostik

• MRI

• Rontgen
4.4 Daftar Prioritas Masalah

• Resiko tinggi trauma

• Nyeri

• Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan

• Cemas

• Ketegangan

• Resiko aspirasi

• Kurang informasi

4.5 Intervensi

1. Diagnosa Keperawatan: Resiko tinggi trauma sisi pembedahan berhubungan dengan


prosedur pembedahan, disfungsi menelan

Kriteria hasil :

- Pasien tidak mengalami trauma pada sisi bedah

- Sisi operasi tetap tidak rusak

Intervvensi Rasional

1. Beri posisi telentang / miring / duduk 1. Untuk mencegah trauma pada sisi operasi

2. Pertahankan alat pelindung bibir 2. Untuk melindungi garis jahitan

3. Gunakan teknik pemberian makan non 3. Untuk meminimalkan resiko trauma


traumatik

4. Gunakan jaket restrein pada bayi lebih 4. Untuk mencegahnya agar tidak berguling dan
besar menggaruk wajah

5. Hindari menempatkan objek di dalam 5. Untuk mencegah trauma pada sisi operasi
mulut setelah perbaikan PS

(kateter penhisap, spatel lidah, dot,


sendok kecil)

6. Jaga agar bayi tidak menangis keras dan 6. Karena dapat menyebabkan tegangan pada
terus menerus jahitan

7. Bersihkan garis jahitan dengan perlahan 7. Karena inflamasi dan infeks akan mempengruhi
setelah memberi makan penyembuhan dan efek kosmetik dari
perbaikan pembedahan

8. Ajari tentang pembersihan dan prosedur 8. Untuk meminimalkan komplikasi setelah pulang
restrein khususnya bila pulang sebelum
jahitan dilepas

2. Diagnosa Keperawatan: Perubahan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan kesulitan makan setelah prosedur pembedahan

Kriteria hasil :

- Bayi mengkonsumsi jumlah nutrient yang adekuat

- Keluarga mendemonstrasikan kemampuan untuk menjalankan perawatan pasca


operasi

- Bayi menunjukkan penambahan BB yang adekuat

Intervensi Rasional
1. Beri diet sesuai usia dan ketentuan 1. Bayi mendapat nutrisi yang adekuat
selama periode pasca operasi

2. Libatkan keluarga dalam metode 2. Memegang tanggung jawab pemberian


pemberian makan yang terbaik makan di rumah

3. Ubah teknik pemberian makan 3. Untuk menyesuaikan diri efek pembedahan

4. Beri makan dalam posisi duduk 4. Untuk meminimalkan resiko aspirasi

5. Sendawakan dengan sering 5. Kecenderungan menelan banyak udara

6. Bantu dalam menyusui, ajarkan teknik 6. Untuk menjamin perawatan di rumah


pada keluarga

3. Diagnosa Keperawatan: Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan

Kriteria Hasil : Bayi tampak nyaman dan tenang

Intervensi Rasional

1. Kaji perilaku dan TTV 1. Untuk adanya bukti nyeri

2. Berikan analgetik / sedatife sesuai 2. Untuk meminimalkan nyeri


instruksi

3. Beri stimulasi belaian dan taktil 3. Untuk pertumbuhan dan perkembangan


optimal

4. Libatkan orang tua dalam perawatan bayi 4. Untuk memberikan rasa nyaman dan aman
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1 Labio palatoschizis adalah suatu keadaan terbukanya bibir dan langit – langit rongga
mulut dapat melalui palatum durum maupum palatum mole, hal ini disebabkan bibir
dan langit – langit tiadak dapat tumbuh dengan sempurna pada masa pembentukan
mesuderm pada saat kehamilan

2 Beberapa penyebab labio palatoschizis antara lain : faktor genetik, insufisiensi zat untuk
tumbuh kembang, pengaruh obat teratogenik, faktor lingkungan maupun infeksi
khususnya toxoplasma dan klamidial

3 Labio palatoshizis dibagi menjadi tiga klasifikasi: berdasarkan organ yang terlibat,
berdasarkan lengkap atau tidaknya celah yang terbentuk, berdasarkan letak celah.

4 Labio palatoshizis adalah suatu kelainan kongenital sehingga insidensnya adalah


kongenital. Insiden tertinggi terdapat pada orang Asia dengan prevalensi 1:1000
kelahiran.

5 Penatalaksanaan Labio palatoshizis adalah dengan tindakan pembedahan

6 Asuhan keperawatan ditegakkan untuk mengatasi masalah dan dampak hospitalisasi


yang ditimbulkan.

5.2 Saran

Bagi masyarakat khusunya ibu hamil dapat sesering mungkin untuk memeriksakan
kehamilannya dan menghindari seminimal mungkin hal – hal yang dapat menyebabkan
terjadinya kelainan kongenital pada janin atau organ yang dikandungnya
DAFTAR PUSTAKA

Suradi, S.Kp, dan Yuliani, Rita. S.Kp.2001. Asuhan keperawatan pada anak. PT Fajar
Interpratama, Jakarta.

Wong, Donna L.1996. Pedoman klinis keperawatan pediatrik. EGC. Jakarta

Mansyoer, Arif. Dkk.2000. Kapita selekta kedokteran. Edisi III jilid II. Media Aesculapius
FK UI. Jakarta.

Dr . Bisono, SpBp. Operasi bibir sumbing. EGC. Jakarta.