Anda di halaman 1dari 8

SUMMARY LEADERSHIP

CHAPTER 6 : COURAGE AND MORAL LEADERSHIP

Kelompok 2

Benediktus Albi Julian 201650030

Angelica Lidya Y. 201650076

Devina Natalia 201650081

Isabella 201650133

Ira Nichola 201650166

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI TRISAKTI


JAKARTA
2019
MORAL LEADERSHIP TODAY
Penyimpangan etika saat ini terjadi di semua tingkatan organisasi, namun tetap
pemimpin atas lah yang paling terlihat sebagai penanggung jawab utama dengan adanya
penyimpangan ini.
Ketika seorang pemimpin gagal untuk mengatur dan memenuhi batas standar etis,
organisasi, para pegawai, pemegang saham, dan masyarakat umum menderita. Perilaku tidak
etis ini bisa mengarah pada konsekuensi yang serius untuk perusahaan: perusahaan memiliki
waktu yang sulit untuk menarik pegawai yang baik, dikarenakan adanya masalah yang ada
tadi mempengaruhi para pencari kerja berpikir kembali apakah akan mendaftar di perusahaan
yang bermasalah itu. Karyawan yang sudah ada serta para konsumen akan kehilangan
kepercayaan pada pemimpin dan akan berdampak pada kinerja mereka yang akan menurun.
Pemimpin di semua tingkatan membawa tanggung jawab yang besar untuk mengatur
iklim etis. Pada waktu yang bersamaan pula, mereka menghadapi banyak tekanan yang
menantang kemampuan mereka untuk melakukan sesuatu yang benar. Tekanan untuk
memotong biaya, menaikkan keuntungan, dan melihat kesuksesan yang bisa berkontribusi
pada penyimpangan etis.
Banyak pemimpin hanya terjebak dalam penekanan utama pada keuntungan yang cepat
dan harga saham yang terus tumbuh. awalnya ditujukan untuk menyelaraskan kepentingan
manajer dengan para pemegang saham, namun pada akhirnya akan memunculkan sifat
keserakahan.
Ada beberapa kriteria yang membedakan kepemimpinan yang etis dengan
kepemimpinan yang tidak etis:
Kepemimpinan Etis Kepemimpinan Tidak Etis
Memiliki kerendahan hati Arogan, mementingkan diri sendiri
Menjaga perhatian untuk sesuatu yang lebih Berlebihan mempromosikan kepentingan diri
besar sendiri
Mudah dan jujur Penuh dengan muslihat
Memenuhi komitmen Melanggar kesepakatan
Memperjuangkan keadilan Penawaran tidak adil
Bertanggung jawab Menyalahkan orang lain
Respek pada setiap individu Merendahkan orang lain
Mendorong perkembangan para pengikut Mengabaikan pengembangan para pengikut
Melayani orang lain Menahan dorongan dan pertolongan
Tidak berani menghadapi ketidakadilan Berani berdiri pada kebenaran
ACTING LIKE A MORAL LEADER
Beberapa pemimpin lupa bahwa bisnis adalah tentang nilai, bukan hanya sekedar
kinerja tujuan ekonomi. Bukan berarti mereka harus menyampingkan profit, harga bahan
baku, biaya produksi, namun mulai menyadari perlunya pengakuan terhadap nilai, kualitas,
dll. Satu hal lain penting juga dalam membuat tujuan yang etis adalah komitmen dari seorang
pemimpin dalam meberikan contoh-contoh perilaku yang etis pada para bawahannya.
Ada beberapa hal yang bisa jadi pedoman dalam seorang pemimpin bertindak menjadi
pemimpin yang bermoral:
1. Mengembangkan, menyampaikan dengan jelas, dan menegakkan prinsip moral.
2. Fokus pada apa yang baik untuk organisasi maupun untuk orang yang ada di dalamnya.
3. Menentukan contoh yang ingin anda tiru
4. Jujur pada diri sendiri dan orang lain
5. Usir rasa takut dan hilangkan hal-hal yang tidak dapat didiskusikan
6. Membuat dan mengomunikasikan kebijakan etis
7. Mengembangkan kekuatan – perlihatkan tidak adanya toleran untuk pelanggaran etis
8. Hargai tingkah laku etis
9. Perlakukan siapapun dengan adil, bermartabat, dan respek, dari level bawah sampai
level atas.
10. Lakukan hal yang benar dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan professional.

Kode Etik Perusahaan Trans World Entertainment

Pernyataan kebijakan umum

1. Kejujuran dan keterusterangan dalam kegiatan, termasuk pengamatan semangat, serta


ketentuan hukum.
2. Menghindari konflik antara kepentingan pribadi dan kepentingan perusahaan, atau
bahkan penampilan konflik tersebut.
3. Menghindari pembayaran perusahaan kepada kandidat yang mencalonkan diri untuk
jabatan.
4. Kepatuhan terhadap prinsip dan kontrol akuntansi yang diterima secara umum.
BECOMING A MORAL LEADER

Moral leader adalah tentang membedakan dari yang salah dan melakukan yang benar,
mencari yang adil, jujur, yang baik, dan perilaku yang benar dalam mencapai tujuan dan
memenuhi tujuan. Pemimpin yang sering tahu apa yang benar menjadi pertanyaannya
bagaimana mereka memilih untuk menindaklanjutinya dan apa kekuatan internal serta
kebijakan dan proses eksternal yang tersedia untuk memungkinkan mereka menindaklanjuti
melakukan hal yang benar.

Salah satu karakteristik internal yang memengaruhi kapasitas pemimpin untuk


membuat pilihan moral adalah pilihan individu. tingkat perkembangan moralmenunjukkan
ilustrasi yang disederhanakan dari satu model pengembangan moral pribadi.

 Preconventional level
Tingkat perkembangan moral pribadi di mana individu egosentris dan peduli dengan
menerima hadiah eksternal dan menghindari hukuman. Mereka mematuhi wewenang
dan mengikuti aturan untuk menghindari konsekuensi pribadi yang merugikan atau
memuaskan minat diri sendiri.

 Conventional level
Tingkat perkembangan moral pribadi di mana orang belajar untuk menyesuaikan diri
dengan harapan perilaku yang baik seperti yang didefinisikan oleh kolega, keluarga,
teman, dan masyarakat. Orang-orang di level ini mengikuti aturan, norma, dan nilai-
nilai dalam budaya perusahaan. Jika aturannya adalah untuk tidak mencuri, menipu,
membuat janji palsu, atau melanggar hukum peraturan, seseorang di level ini akan
berusaha untuk patuh.

 Postconventional level
Kadang-kadang disebut principled level, pemimpin dipandu oleh seperangkat prinsip
yang diinternalisasi secara universal diakui sebagai adil dan benar. Orang-orang di
level ini bahkan mungkin melanggar aturan atau hukum yang melanggar prinsip-
prinsip ini. Nilai-nilai yang diinternalisasi ini menjadi lebih penting daripada harapan
orang lain dalam organisasi atau komunitas.
SERVANT LEADERSHIP

Servant leadership merupakan tahap di luar stewardship, di mana para pemimpin


menyerahkan kendali dan membuat pilihan untuk melayani karyawan. Sepanjang kontinum,
fokus kepemimpinan bergeser dari pemimpin ke pengikut.

Authoritarian Management
Pendapat sederhana mengenai kepemimpinan menyatakan bahwa pemimpin adalah manajer
yang baik yang dapat mengatur dan mengendalikan organisasi. Organisasi berfokus pada
“maintenance stability dan efficiency”. Pada level ini, pemimpin berusaha membuat strategi
dan tujuan dengan baik, sebaik penghargaan dan metode untuk bisa mencapainya, sehingga
bawahan hanya bisa mengikuti saja tanpa dapat menciptakan arti dan tujuan pekerjaan
mereka.

Participative Management
Pemimpin mulai meningkatkan keterlibatan dan partisipasi karyawan melalui ide dan
saran mereka. Karyawan berperan sebagai team player dan mengambil tanggung jawab yang
lebih besar dari pekerjaannya masing-masing, namun kendali dalam menentukan maksud ,
tujuan dan keputusan akhir di pegang oleh pemimpin. Dalam tahap ini, pemimpin hanya
berperan sebagai coaches.
Stewardship
Mendukung kepercayaan bahwa pemimpin sama seperti pengikut yang bertanggung
jawab terhadap organisasi. Bawahan diberi wewenang untuk membuat keputusan dan mereka
mengendalikan pekerjaan mereka. Pemimpin memberi bawahan kekuatan atau wewenang
untuk mempengaruhi tujuan, sistem dan struktur serta menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.
Terdapat 4 prinsip utama kerangka kerja dalam stewardship :
1. Adopt a partnership mindset
Berorientasi pada partnership antara leader dan followers
2. Give decision-making power and the authority to act to those closest to the work and
the customer
Tanggung jawab dalam mengambil keputusan ada pada siapa yang paling dekat
dengan masalah
3. Tie rewards to contributions rather than formal positions
Mengakui dan menghargai nilai dari pekerja, dimana sistem penghargaan diberikan
kepada setiap orang yang mendapat imbalan sebanding dengan kinerjanya.
4. Expect core work teams to build the organization
Mengharapkan adanya tim kerja inti dalam membangun organisasi.

The Servant Leader


Pelayanan Kepemimpinan adalah kepemimpinan terbalik. Pelayanan Kepemimpinan
adalah kepemimpinan di mana pemimpin mengutamakan kepentingan untuk melayani
kebutuhan orang lain, membantu orang lain tumbuh, dan memberikan kesempatan secara
material dan emosional. Dalam organisasi, prioritas utama para pemimpin ini adalah
pelayanan kepada karyawan, pelanggan, pemegang saham, dan masyarakat umum. Dalam
pikiran mereka, tujuan keberadaan mereka adalah untuk melayani.
Pelayanan Kepemimpinan pertama kali dijelaskan oleh Robert Greenleaf. Ada empat
persepsi dasar dalam model kepemimpinan pelayan Greenleaf :
1. Put service before self-interest
Servant leaders membuat pilihan secara sadar untuk menggunakan bakat atau apa
yang telah dikaruniakan kepada mereka dalam penyebab perubahan dan pertumbuhan
bagi individu lain dan organisasi.
2. Listen first to affirm others
Servant leaders mendengarkan, memahami sepenuhnya masalah yang dihadapi orang
lain, dan menegaskan keyakinannya kepada orang lain.
3. Inspire trust by being trustworthy
Servant leaders membangun kepercayaan dengan melakukan apa yang dikatakannya,
jujur pada orang lain, menyerahkan kendali, dan fokus terhadap kesejahteraan orang
lain.
4. Nourish others and help them become whole
Servant leaders peduli dengan bawahannya. Mereka percaya pada potensi unik dari
setiap orang untuk memberi dampak positif bagi dunia. Servant leader membantu
menemukan kekuatan akan semangat dan menerima tanggung jawab mereka.
Pelayanan Kepemimpinan bisa berarti sesuatu yang sederhana seperti mendorong orang
lain dalam pengembangan pribadi mereka dan membantu mereka memahami tujuan yang
lebih besar dalam pekerjaan mereka.

LEADING WITH COURAGE

Terkadang, pemimpin harus melihat ke dalam diri mereka sendiri untuk menemukan
kekuatan dan keberanian untuk melawan godaan atau membela prinsip-prinsip moral ketika
orang lain mengejeknya atau ketika pemimpin menderita, baik secara finansial dan emosional
karena tindakannya. Keberanian merupakan persoalan moral dan praktis bagi pemimpin. Ciri
khas keberanian adalah melangkah maju mengatasi rasa takut.

Keberanian bukan berarti tidak adanya keraguan atau rasa takut, melainkan kemampuan
untuk bertindak terlepas dari keraguan dan rasa takut itu sendiri. Para pemimpin sejati
melangkah mengatasi segala ketakutan untuk menerima tanggung jawab, mengambil risiko,
melakukan perubahan, mengutarakan pikiran mereka, dan memperjuangkan apa yang mereka
yakini.

COURAGE MEANS ACCEPTING RESPONSIBILITY

Para pemimpin berani menciptakan peluang untuk membuat perbedaan dalam


organisasi dan komunitasnya. Para pemimpin juga menunjukkan keberanian dengan secara
terbuka bertanggung jawab atas kegagalan dan kesalahan mereka, daripada menghindari
kesalahan atau mengalihkannya kepada orang lain.
COURAGE OFTEN MEANS NONCONFORMITY

Leadership courage berarti melawan arus, melanggar tradisi, mengurangi batasan, dan
memulai perubahan. Para pemimpin bersedia mengambil risiko untuk tujuan etis yang lebih
besar, dan mereka mendorong orang lain untuk melakukannya juga. Seringkali lebih mudah
bertahan untuk melakukan sesuatu yang sudah biasa, bahkan jika hal itu akan menyebabkan
kegagalan tertentu, daripada memulai suatu perubahan yang berani.

COURAGE MEANS PUSHING BEYOND THE COMFORT ZONE


Untuk mengambil kesempatan dan meningkatkan suatu hal, pemimpin harus bisa
melampaui zona nyaman mereka. Orang-orang biasanya menghadapi ketakutan internal
ketika akan melakukan sesuatu di luar zona nyaman mereka. Menghadapi ketakutan internal
adalah saat keberanian paling dibutuhkan.

COURAGE MEANS ASKING FOR WHAT YOU WANT AND SAYING WHAT YOU
THINK

Pemimpin harus berbicara untuk mempengaruhi orang lain. Namun keinginan untuk
menyenangkan orang lain terkadang bisa menghalangi kebenaran. Paradoks abilene adalah
nama yang digunakan untuk menggambarkan kecenderungan orang untuk tidak menyuarakan
fikiran mereka yang sebenarnya karena mereka ingin menyenangkan orang lain. Keberanian
berarti berbicara yang sejujurnya, bahkan ketika tahu orang lain mungkin tidak setuju atau
bahkan mungkin mencemooh.

COURAGE MEANS FIGHTING FOR WHAT YOU BELIEVE

Keberanian berarti berjuang untuk hasil yang dihargai, yang bermanfaat bagi
keseluruhan. Pemimpin mengambil risiko, tetapi mereka melakukannya untuk tujuan yang
lebih tinggi, bukan untuk keegoisannya sendiri. Hal itu berarti melakukan apa yang di yakini
benar, bahkan ketika bertentangan dengan status quo dan mungkin berujung pada kegagalan
dan pengorbanan pribadi