Anda di halaman 1dari 2

CERITA CAROLINE

Pada tanggal 10 April 2001, Caroline (37 tahun),


dirawat di Rumah Sakit Kota untuk melahirkan anak
ketiganya dengan prosedur cesar yang rumit. Dr
A adalah dokter kandungan dan Dr B adalah ahli
Anestesi yang memasang kateter Epidural pada
pasien. Pada tanggal 11 April, Caroline mengeluhkan
sakit pada bagian tulang belakangnya karena secara
tiba-tiba kateter epiduralnya terbentur pada malam
sebelum kateter itu dilepas. Selama proses itu,
Caroline terus menerus mengeluh kesakitan dan
nyeri di daerah pinggang. Dr B memeriksa dia dan
mendiganosa sakit pada otot. Masih merasa sakit dan
lemah, Caroline dibawa keluar dari Rumah Sakit pada
tanggal 17 April.
Setelah tujuh hari kemudian, Caroline tinggal
di rumah. Dia kemudian menelpon Dr A karena
mengeluhkan panas yang dideritanya disertai rasa
gemetar, sakit yang teramat pada bagian belakang
tubuh dan kepala. Pada tanggal 24 April, petugas
medis lokal, Dr C, memeriksa Caroline dan bayinya.
Dr C merekomendasikan Caroline dan bayinya segera
dibawa ke rumah sakit daerah untuk menanggulangi
sakit dan kondisi kekuningan pada kulit akibat
penurunan kadar darah merah.
Dokter yang menerima di rumah Sakit Kecamatan,
Dr D, menyebut bahwa rasa sakit di bagian
belakang tubuh yang dirasakan Caroline bukan
berasal dari bekas anestesi epidural, tapi terjadi
pada otot persendian S1. Pada tanggal 26 April,
kondisi kekuningan pada bayi Caroline telah
membaik, tapi Caroline belum juga diperiksa oleh
Dr Umum, yakni Dr E, yang mengakui bahwa ia lupa
memeriksa Caroline. Registrar Medis, Dr F, memeriksa
Caroline dan mendiagnosa dia dengan penyakit
Sakrolitis. Dr F lantas meberikan resep obat berupa
oksikodonhidroklorida, parasetamol dan sodium
diklofenak. Dr F juga menyampaikan informasi ini
kepada dokter kandungan Caroline, Dr A, terkait
diagnosisnya.
Sakit yang diderita Caroline terus mendapatkan
pelayanan medis. Hingga akhirnya pada tanggal 2
Mei, kondisi Caroline kian memburuk. Lalu, suami
Caroline membawa dia ke rumah sakit sakit daerah
lainnya sementara kondisi Caroline tak sadar dan terus
mengigau. Segera setelah sampai di Rumah Sakit pada
tanggal 3 Mei, Caroline mulai kejang-kejang dan terus
mengigau tak jelas. Dr C, dalam catatan medisnya
menyebutkan bahwa Caroline mengalami akibat dari
“terlalu banyak penggunaan obat sakit sakroiliitis”.
Kondisi Caroline kritis dan kemudian dibawa dengan
Ambulan ke Rumah Sakit Provinsi.
Sesampainya di rumah sakit Provinsi, Caroline sudah
tak sadar dan butuh intubasi. Pupil matanya tertutup
dan dicoba untuk dibuka. Namun, kondisinya tak
juga membaik hingga pada tanggal 4 Mei Caroline
dipindahkan lagi ke rumah sakit kota. Pada Sabtu,
5 Mei pukul 1.30 waktu setempat, otak Caroline
dinyatakan tak berfungsi dan alat bantuan medis
ditarik, ia dinyatakan meninggal. Pemeriksaan
postmortem mengungkap Caroline mengalami abses
epidural dan meningitis yang berpengaruh pada
bagian tubuh lainnya, yakni sumsum tulang belakang
dari bagian dasar otak, sehingga mengakibatkan
infeksi Staphylococcus aureu (MRSA). Perubahan pada
liver, jantung dan limpa konsisten dengan diagnosa
septicemia.
Hasil investigasi coronial menyimpulkan bahwa
bengkak bernanah yang diderita Caroline dapat dan
seharusnya didiagnosa terlebih dahulu. Perdebatan
selanjutnya dari laporan coroner pada kematian
Caroline Anderson menunjukkan banyak persoalan
yang bisa dibahas dalam Edisi Kurikulum Keamanan
Pasien WHO edisi Multiprofesional ini.