Anda di halaman 1dari 8

a.

Produk

Produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan produsen untuk

diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan untuk dikonsumsi yang meliputi

mutu/kualitas, pilihan yang ada (options), merek ( brand names), pengemasan

(packaging), macam (product item), ukuran (sizes), jenis (product lines) dan

jaminan (Sofjan Assauri,2004:2000).

Produk memiliki arti penting bagi perusahaan karena tanpa adanya

produk, perusahaan tidak akan dapat melakukan apapun dari usahanya. Pembeli

akan membeli produk kalau merasa cocok, karena itu produk harus disesuaikan

dengan keinginan ataupun kebutuhan pembeli agar pemasaran produk berhasil.

Dengan kata lain, pembuatan produk lebih baik diorientasikan pada keinginan

pasar atau selera konsumen. Menurut Kotler dan Amstrong (2001: 346) adalah

”Segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan

perhatian, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan

atau kebutuhan”.

Mc Charty dan Perreault (2003:107) mengemukakan bahwa, “Produk

merupakan hasil dari produksi yang akan dilempar kepada konsumen untuk

didistribusikan dan dimanfaatkan konsumen untuk memenuhi kebutuhannya”.

Sedangkan menurut Saladin (2002:121), ”Produk adalah segala sesuatu yang

dapat ditawarkan ke suatu pasar untuk diperhatikan, dimiliki, dipakai atau

dikonsumsi sehingga dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan”.

1. Atribut Produk

Menurut Kotler dan Armstrong (2001:354) beberapa atribut yang

menyertai dan melengkapi produk (karakteristik atribut produk) adalah:


a. Merek (Brand)

Merek (Brand) adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau rancangan, atau

kombinasi dari semua ini yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi

produk atau jasa dari satu atau kelompok penjual dan membedakannya dari produk

pesaing. Pemberian merek merupakan masalah pokok dalam strategi produk.

Pemberian merek itu mahal dan memakan waktu, serta dapat membuat produk itu

berhasil atau gagal. Nama merek yang baik dapat menambah keberhasilan yang

besar pada produk (Kotler dan Armstrong, 2001:360)

b. Pengemasan (Packing)

Pengemasan (Packing) adalah kegiatan merancang dan membuat wadah atau

pembungkus suatu produk.

c. Kualitas Produk (Product Quality)

Kualitas Produk (Product Quality) adalah kemampuan suatu produk

untuk melaksanakan fungsinya meliputi, daya tahan keandalan,

ketepatan kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut bernilai

lainnya. Untuk meningkatkan kualitas produk perusahaan dapat

menerapkan program ”Total Quality Manajemen (TQM)". Selain mengurangi

kerusakan produk, tujuan pokok kualitas total adalah untuk meningkatkan

nilai pelanggan.

2. Tingkatan Produk

Berdasarkan definisi diatas produk dapat dikatakan sebagai fokus inti dari

semua bisnis. Produk adalah apa yang dilakukan perusahaan, mulai dari

mendesain, mengadakan sistem produksi dan operasi, menciptakan program

pemasaran, sistem distribusi, iklan dan mengarahkan tenaga penjual untuk

menjual produk tersebut.


Menurut Kotler dan Armstrong (2001:279) dalam merencanakan

penawaran suatu produk, pemasar harus memahami lima tingkat produk, yaitu :

a. Produk Utama (Care Benefit), yaitu manfaat yang sebenarnya dibutuhkan dan

akan dikonsumsi oleh pelanggan dari setiap produk.

b. Produk Generik (Basic Produk), adalah produk dasar yang mampu memenuhi

fungsi pokok produk yang paling dasar.

c. Produk Harapan (Expected Product), adalah produk formal yang ditawarkan

dengan berbagai atribut dan kondisi secara normal (layak) diharapkan dan

disepakati untuk dibeli.

d. Produk Pelengkap (Augment Product), adalah berbagai atribut produk yang

dilengkapi atau ditambahkan dengan berbagai manfaat dan layanan, sehingga

dapat memberikan tambahan kepuasan dan dapat dibedakan dengan produk

pesaing.

e. Produk Potensial (Potential Product), adalah segala macam tambahan dan

perubahan yang mungkin dikembangkan untuk suatu produk dimasa mendatang.

3. Klasifikasi Produk

Menurut Kotler dan Armstrong (2001:280) klasifikasi produk dibagi

menjadi dua bagian, yaitu :

a. Barang Konsumen

Barang konsumen yaitu barang yang dikonsumsi untuk kepentingan konsumen

akhir sendiri, bukan untuk tujuan bisnis. Umumnya barang konsumsi dapat

diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu :

1) Barang kebutuhan sehari-hari (Convience Goods) adalah barang-barang yang

biasanya sering dibeli konsumen (memiliki frekuensi pembelian tinggi),


dibutuhkan dalam waktu segera, dan memerlukan waktu yang minim dalam

pembandingan dan pembeliannya.

2) Barang belanjaan (Shopping Goods) adalah barang-barang yang karakteristiknya

dibandingkan dengan berbagai alternatif yang tersedia oleh konsumen

berdasarkan kesesuaian, kualitas, harga, dan daya dalam proses pemilihan dan

pembeliannya.

3) Barang khusus (Speciality Goods) adalah barang-barang dengan karakteristik dan

atau identifikasi yang unik, yang untuknya sekelompok pembeli yang cukup besar

bersedia senantiasa melakukan usaha khusus untuk pembeliannya.

4) Barang yang tidak dicari (Unsought Goods) adalah barang-barang yang tidak

diketahui konsumen atau walau sudah diketahui namun secara umum konsumen

belum terpikir untuk membelinya.

a. Barang Industri

Barang industri adalah barang-barang yang dikonsumsi oleh industriawan

(konsumen antara atau konsumen bisnis) untuk keperluan selain konsumsi

langsung, yaitu : untuk diubah, diproduksi menjadi barang lain kemudian dijual

kembali oleh produsen, untuk dijual kembali oleh pedagang tanpa dilakukan

transformasi fisik (proses produksi).

Pengusaha mempengaruhi konsumen lewat produk yang ditawarkan,

misalnya membuat produk dengan warna-warni, bungkus yang bagus dan

exclusive dan sebaginya. Beberapa hal yang perlu dipelajari tentang stategi ini :

b. Konsep Produk

Konsep produk merupakan suatu pengertian atau pandangan konsumen

terhadap suatu produk yang dibutuhkan dan diinginkannya. Misalnya sepatu,

bagi konsumen memiliki dua arti. Pertama, Arti (fungsi) teknis, sepatu adalah
sebagi pelindung telapak kaki dari berbagai barang yang dapat melukai telapak

kaki. Fungsi ini biasa disebut dengan “Produk Pangkal / Generic Produk”

Kedua, Arti non teknis (aspek sosial budaya), sepatu juga dipandang tidak

hanya semata-mata pelindung telapak kakinya akan tetapi juga terhadap harapan

agar dengan memakai sepatu itu konsumen akan dapat menjadi tampak

“bergengsi”. Unsur ini dikenal sebagai aspek kebutuhan manusia atau

kebutuhan pangkal atau “Generic Need”

Dalam arti sempit, produk merupakan sekumpulan atribut fisik yang

terakit dalam sebuah bentuk yang dapat diidentifikasikan. Setiap produk pasti

memiliki nama generik di samping nama brand. Misalnya deterjen, sabun

mandi, paracetamol atau sepatu. Sebaliknya, dalam artik yang luas setiap brand

( merk ) dipandang sebagai produk yang terpisah dari produk lainnya yang

semacam. Televisi merk Sony dengan televisi merk Sharp merupakan produk

yang berbeda, meski sama-sama televisinya. Merk ini menjadi alat pembeda

bagi konsumen. Dan justru oleh karena nama merk inilah keinginan konsumen

lebih dipuaskan. Mengapa ? Karena dari sebuah merk tergambar di belakangnya

warna, harga, kemasan, model, bonafiditas pabrik bahkan komunitas konsumen

dari merk tersebut.

Uraian di atas memberi pengertian bahwa konsumen tidak hanya

membeli sekumpulan atribut fisik dari suatu produk saja. Mereka membayar

sesuatu yang memuaskan keinginan mereka. Perusahaan yang cerdas tidak

hanya memasarkan produk itu sendiri, lebih dari itu, ia menjual manfaat, citra

(brand image), dan faktor-faktor intangible lain.


Jadi, perusahaan menjual produk sekaligus citra. Orang membeli suatu

produk tidak hanya untuk fungsinya, tetapi juga makna produk itu bagi

pribadinya. Barang yang dibeli merupakan cermin atribut pribadi, citra diri,

kelas sosial dan hal-hal lain yang bersifat pribadi. Seseorang akan memilih

sebuah produk yang dapat memperkuat citra pribadinya. Karena itu, Mc Donald

tidak hanya menjual ayam goreng, lebih dari itu, mereka menjual suasana

makan yang nyaman, modern dan relatif bergengsi.

c. Siklus Kehidupan Produk (Product life Cycle)

Seperti halnya mahluk hidup, produk juga mengalami daur hidup.

Dilihat dari sudut volume penjualan, mereka juga mengalami lahir (perkenalan),

tumbuh, puncak penjualan (kedewasaan), merosot sampai akhirnya hilang dari

peredaran. Daur hidup ini harus benar-benar menjadi perhatian, karena berguna

untuk menentukan strategi perusahaan secara kesuluruhan.

Dari ada pemahaman tentang daur hidup ini, membantu perusahaan untuk

menentukan kapan harus dilakukan inovasi-inovasi baru. Inovasi diperlukan

karena setiap produk yang mereka miliki pada akhirnya tidak akan diminati

konsumen lagi karena pangsa pasar dan volume penjualan terkurangi oleh

adanya produk-produk yang dihasilkan para kompetitor. Jika penjualan terus

merosot, otomatis laba akan menurun. Oleh karena itu, perusahaan harus

merubah atau mengganti produknya. Jika tidak, maka laba, pangsa pasar,

volume penjualan akan terus berkurang, hingga akhirnya perusahaan tersebut

tutup.
Menurut Asauri (2004 : 200), atribut-atribut yang perlu di perhatikan agar

produk yang ditawarkan kepada konsumen mampu memberikan kepuasan

adalah :

a. Mutu/Kualitas

Kualitas produk merupakan hal yang perlu mendapat perhatian utama

dariperusahaan atau produsen mengingat kualitas produk berkaitan

erat dengan masalah keputusan konsumen. Kualitas produk berkaitan

dengan masalah kepuasan konsumen yang merupakan tujuan dari

kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan.kualitas produk

menunjukan ukuran tahan lamanya produk itu, dapat dipercayainya

produk tersebut, mudah mengoperasikan dan memeliharanya serta

atribut yang lain yang dinilai konsumen.

b. Pilihan Yang Ada (Options)

Banyaknya variasi produk yang dijual tentu akan membuat menarik

minat calon konsumen untuk belanja dan menjadikan toko tersebut

diingat konsumen sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhanya

diwaktu yang akan datan. Dengan demikian dapat dikatakan jika

suatu toko memiliki kelengkapan barang yang baik, maka akan

mampu membentuk kesan positif konsumen dalam berbelanja.

c. Macam (Produk Item)

Seorang pembeli akan merasa senang jika saat berbelanja suatu jenis

barang tertentu yang dibutuhkan tersedia dalam berbagai pilihan,

baik ukuran, merek, maupun harga.

d. Merek (Brand Names)


Merek merupakan identitas suatu produk yang bermanfaat dalam

diferensiasikan atau membedakan produk suatu perusahaan dengan

produk pesaingnya. Dengan demikian dengan adanya merek maka

akan memudahkan konsumen untuk mengenalinya saat berbelanja

dan melakukan pembelian ulang.

Berdasarkan pendapat Asauri (2004 : 200) tersebut di atas maka untuk

mengukur produk dalam penelitian ini meliputi:

a. Mutu/Kualitas

b. Pilihan yang ada

c. Macam

d. Merek