Anda di halaman 1dari 8

Nama : Servianus Gonsaga Ragung

Nim : 131811123025
Kelas : AJ 1/ B21
Tugas : Keperawatan Komplementer

CIPLUKAN

1. Pendahuluan
Tanaman Ciplukan merupakan nama sejenis tanaman perdu berumur sekitar 1 tahun,
berbuah kecil, yang ketika masak tertutup oleh pembesaran kelopak bunganya.
2. Nama Tanaman
a. Nama Latin
 Klasifikasi ilmiah:
 Kingdom : Plantae
 Divisi : Tracheophyta
 Kelas : Magnoliopsida
 Ordo : Solanales
 Family : Solanaceae
 Genus : Physalis L.
 Spesies : Physalis angulata L.
 Nama Binominal:
 P .angula
 P .minima
 P .peruviana
b. Nama Daerah
 Ceplukan : Jawa
 Cecendet : Sunda
 Nyur-nyuran : Madura
 Lapinonat : Seram-Maluku
 Leletokan : Minahasa
 Keceplokan : Bali
3. Morfologi Ciplukan
a. Akar
Akar tanaman ciplukan adalah akar tunggang yang kemudian akan tumbuh akar
cabang lalu akar serabut. Bentuk akar ini bulat memanjang dan berwarna putih,
tidak insetif, menyebar dan tidak masuk jauh ke dalam tanah. Akar ciplukan
memiliki rasa yang agak pahit.
b. Batang
Batang tanaman ciplukan berdiri tegak dan tingginya bisa mencapai 1meter.
Batang bawah berbentuk bulat, beralur, berusuk, bersegi lancip, berongga, dan
berwarna kecoklatan. Batang yang sudah tua akan berkayu. Percabangan biasanya
muncul di ketiak daun ketiga yang dekat tanah. Kulit batangnya berwarna hijau.

Gambar 3.1 : morfologi batang Ciplukan. Bagian kiri adalah batang muda, bagian
kanan adalah batang tua (Susilowati, 2017).
c. Daun
Daun Ciplukan berbentuk tunggal yang bertangkai. Letak daunnya tersebar di
bagian bawah, kemudian berpasangan di atas. Helaian daun berbentuk bulat oval
atau bulat memanjang lanset dengan ujung meruncing. Tepi daun merata atau
bergelombang. Panjang daun sekitar 5-15 cm dan lebar 2,5-10,5 cm. Ibu tulang
daun yang di bagian pangkal berwarna keunguan, tangkai daun berwarna hijau
dengan uratnya berwarna keputihan.
Gambar 3.2 : morfologi daun Ciplukan (Susilowati, 2007)
d. Bunga
Bunga Ciplukan adalah bunga tunggal yang muncul di ujung tangkai atau ketiak
daun. Kelopak bunganya berbagi lima, serta taju bersudut tiga dan meruncing.
Mahkota bunga berbentuk seperti lonceng dan berwarna kuning muda dengan
noda-noda berwarna cokelat. Di bawah setiap noda tersebut, terdapat kelompok
rambut-rambut pendek yang berbentuk menyerupai huruf V. Tangkai benang sari
berwarna kuning pucat dan kepala sari berwarna biru muda. Kepala putik
berbentuk menyerupai tombol.

Gambar 3.3. Bunga Ciplukan (Susilowati, 2017)

e. Buah
Buah ciplukan berbentuk seperti telur yang terbungkus dalam kelopak
menggelembung, berwarna hijau muda kekuningan. Buah ciplukan adalah buah
buni yang memiliki rasa manis-kecut atau keasaman. Buah ciplukan merupakan
buah semu karena pada saat pembentukan buah, kelopak bunga tumbuh terus dan
menyelubungi buah, sehingga buah yang sesungguhnya tidak nampak dari luar
(Lampiran 5). Buah dilindungi oleh kelopak berwarna hijau dengan tulang
kelopak berwarna ungu (Gambar 3b). Buah ciplukan berbentuk bulat dan
berwarna kuning bila sudah masak (Gambar 3c).

Gambar 3.4 : morfologi buah Ciplukan (Susilowati, 2017)


4. Kandungan
Senyawa-senyawa aktif yang terkandung dalam Ciplukan antara lain saponin,
flavonoid, polifenol, dan filsali . Hasil uji histokimia pada daun dan batang ciplukan
menunjukkan keberadaan senyawa alkaloid dan terpenoid yang terakumulasi pada
trikoma kelenjar. Hasil pemeriksaan fitokimia pernah dilaporkan oleh Afifah et al.
(2011) bahwa simplisia dan ekstrak air herba ciplukan mengandung alkaloid,
flavonoid, saponin, polifenol, steroid, triterpenoid, monoterpenoid, dan
seskuiterpenoid.
Komposisi detail pada beberapa bagian tanaman, antara lain:
a. Herba : Fisalin B, Fisalin D, Fisalin F, Withangulatin A
b. Biji / buah : 12-25% protein, 15-40% minyak lemak dengan komponen utama
asam palmitat, asam stearat, alkaloid, kriptoxantin, vitamin C, dan gula.
c. Akar : Alkaloid. Salah satu jenis alkaloid yang terkandung dalam tumbuhan
Physalis adalah figrin. Senyawa ini dapat ditemukan pada seluruh organ
tumbuhan Physalis spp. tetapi tidak ditemukan pada genus lain dari suku
Solanaceae (Baseyet al. 1992). Perez-Castorena et al.(2013) dalam Susilowati
(2017), melaporkan bahwa pada akar Physalis solanaceus terkandung dua
senyawa yaitu steroid dan physalin, kedua senyawa tersebut merupakan derivate
dari senyawa terpenoid.
d. Daun : Glikosida flavonoid (luteolin).
e. Tunas : Flavonoid dan saponin
5. Manfaat
Berdasarkan kandungan yang ada dalam tanaman ciplukan, berikut adalah beberapa
manfaat dari ciplukan:
a. Mengatasi gejala penyakit Parkinson
Penyakit parkinson merupakan penyakit yang disebabkankan oleh adanya
gangguan pada sistem saraf pusat yang memberikan pengaruh pada gerak tubuh.
Salah satu gejala parkinson adalah tremor pada salah satu tangan. Konsumsi jus
ciplukan secara rutin dipercaya dapat menurunkan gejala tremor tersebut.
b. Menurunkan Kolesterol
Tingginya kandungan antioksidan pada Ciplukan seperti alkaloid, flavonoid,
saponin, polifenol, steroid, triterpenoid, monoterpenoid, dan seskuiterpenoid dapat
menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
c. Penyakit Kuning atau Hepatitis
Penyakit kuning adalah penyakit yang menyebabkan perubahan warna kulit
menjadi kuning akiibat tingginya kadar zat bilirubin dalam darah. Penyakit ini
umumnya dialami bayi, terutama yang baru lahir, tetepi dalam beberapa kondisi
juga bisa menyerang orang dewasa. Kandungan senyawa antioksidan seperti
fisalin, saponin, flavonoid, dan polifenol yang ada di dalam ciplukan dipercaya
dapat membantu mengatasi penyakit kuning ini. Ekstrak dari tumbuhan ciplukan
digunakan di berbagai negara sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai
penyakit di antaranya malaria, asma, hepatitis, dermatitis, liver, rematik, dan
berperan dalam meningkatkan fungsi sistem imun tubuh (Lin et al. 1992 dalam
Sukowati, 2017).
d. Mengatasi epilepsi
Penyakit epilepsi disebabkan oleh tertanggunnya aktivitas sel saraf di otak
sehingga menyebabkan penderita mengalami kejang. Penyebab epilepsi
bermacam-macam bisa akibat faktor genetik atau cedera otak akibat trauma.
Gejala epilepsi akibat genetik bisa terlihat sejak usia dini. Pengobatan epilepsi
dapat menggunakan obat-obatan maupun dengan cara diet tertentu. Sebagai
pendamping terapi untuk epilepsi, Anda bisa mengonsumsi buah ciplukan
sebanyak 8-10 buah perhari untuk menurunkan gejala.
e. Menurunkan kadar gula darah
Hiperglikemia atau kondisi tingginya kadar gula darah adalah kondisi yang
umumnya dialami oleh penderita diabetes. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa
daun ciplukan memiliki aktivitas antihiperglikemia sehingga dapat menurunkan
kadar gula darah. Tanaman ciplukan bekerja langsung memengaruhi kerja insulin.
f. Menjaga kerja saluran kemih
Manfaat ciplukan selanjutnya adalah untuk menjaga kerja saluran kemih.
Ciplukan dapat menjadi salah satu obat diuretik yang dapat memperlancar buang
air kecil, mencegah infeksi saluran kemih, dan juga mencegah batu kandung
kemih (lithotripik)
g. Mengatasi infeksi Kulit
Infeksi kulit yang menyebabkan luka terbuka di kulit biasa disebut dengan borok.
Penyebabnya bermacam-macam mulai dari infeksi bakteri hingga kondisi tertentu
seperti diabetes. Daun ciplukan bisa menjadi salah satu pilihan untuk mengatasi
borok. Hal ini disebabkan karena beberapa kandungan tanaman ciplukan memiliki
sifat antiinflamasi.
h. Obat nyeri untuk penyakit Lupus
Ciplukan juga memiliki efek analgesik, antiinflamasi, dan imunostimulan,
sehingga bisa mengurangi nyeri dan meningkatkan daya tahan tubuh yang
dirasakan oleh penderita penyakit lupus (Lin et al. 1992 dalam Susilowati, 2017).
i. Mengatasi nyeri Sendi dan Rematik
Buah ciplukan mengandung sejumlah zat yang bersifat antipiretik, antiinflamasi,
dan anti uremic, sehingga bisa mengatasi keluhan nyeri sendi dan rematik
(Hargono,1997).
j. Mengatasi beberapa masalah saluran pernapasan
Mengonsumsi air rebusan daun ciplukan secara rutin diklaim mampu untuk
mencegah asma kambuh. Selain itu, kandungan antibakteri dalam tanaman
ciplukan juga dipercaya dapat mencegah perkembangan bakteri penyebab
tuberkulosis atau TBC. Penelitian Priyantoro et al. (2004) menemukan bahwa
ekstrak daun ciplukan (Physalis minima L) memberikan efek relaksasi terhadap
sediaan terpisah dari trakea marmut, yang telah dikontraksikan dengan histamin.
Terdapat hubungan antara besar dosis daun ciplukan dengan efek relaksasi otot
polos trakhe marmut. Efek relaksasi ekstrak daun ciplukan (Physalis minima L)
terjadi mulai dosis 0,5 %.). Wakhidatin (1996) membuktikan bahwa ekstrak
alkohol dari daun ciplukan (Physalis minima L) dapat menurunkan kontraktilitas
otot polos arteri terpisah tikus yang diberi impuls listrik. Penurunan kontraksi ini
menunjukkan adanya zat aktif yang terkandung dalam ciplukan mampu
menurunkan kontraksi otot polos arteri. Sampai saat ini belum ada penelitian dan
penggunaan daun ciplukan sebagai obat antiasma seperti halnya Physalis Angulata
L, namun Efendi (1998), berhasil mendapatkan alkaloid berupa atropin dan
skopolamin dari ekstrak daun ciplukan. Telah diketahui bahwa atropin sebagai
anti kolinergik dapat merelaksasikan otot polos saluran nafas yang merupakan
salah satu terapi pada asma, sehingga menarik untuk mengkaji lebih lanjut daun
ciplukan (Physalis minima L). Atas dasar kandungan alkaloid berupa atropin dan
hubungan kekerabatan antara ciplukan (Physalisminima L) dengan Physalis
angulata L yang digunakan sebagai obat antiasma, dapat diduga daun ciplukan
mempunyai efek relaksasi otot polos saluran nafas sehingga dapat pula digunakan
sebagai obat asma (Karyono. S 2004 dalam Jurnal Kedokteran Brawijaya, Vol.
XX, No.1, April 2004).
k. Sebagai Antikanker
Ciplukan dapat digunakan untuk mengobati penyakit kanker (Maryati dan
Sutrisna 2007). Tumbuhan obat yang berfungsi sebagai antikanker umumnya
mengandung metabolit sekunder seperti senyawa alkaloid, flavonoid, dan
terpenoid (Ramanthan et al. 1992). Alkaloid merupakan senyawa aktif yang
penting bagi manusia, beberapa senyawa derivatnya yaitu berberin, evodiamin,
matrin, piperin, sanguinarin, dan tetrandrin berpotensi sebagai anti kanker (Lu
etal. 2012).

6. Referensi
a. Hargono.1997. Buah Ceplukan (Physalis Sp.) dan Kemungkinannya Untuk Diolah
Menjadi Produk Buah Kalengan. Media Litbangkes . Vol. VII. No 03/04/1997.
Diakses dari (e-journal.litbang.depkes.go.id/
index.php/mpk/article/view/1001/1592)
b. Kurdi A. 2010. Buku Tanaman Herbal Keluarga Indonesia. Halaman : 68-70
(https:// www.academia.edu/94760007: diakses tanggal 11 Maret 2019)
c. Klasifikasi dan Morfologi Ciplukan (www.materipertanian.com . Diakses tanggal
10 Maret 2019)
d. Priyantoro. 2004. Efek Ekstak Daun Ciplukan (Physalis minima L) Terhadap
Relaksasi Otot Polos Terpisah Trakea Marmut (Cavia porcella). Skripsi S1.
Malang: Program Studi Kedokteran-Fakultas Kedokteran Unibraw Malang.
e. Susilowati. 2017. Analisis Karakter Morfologi, Anatomi, Dan Struktur Sekretori
Tanaman Ciplukan (Physalis angulata L.). Skripsi S1. Bogor: Departemen Biologi
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor.