Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH ILMU DASAR KEPERAWATAN

PRINSIP-PRINSIP BIOKIMIA DAN GIZI SEBAGAI PENDEKATAN HOLISTIC


KEPERAWATAN

KELOMPOK 6

1. Derline Tiara Zoema (191132044)


2. Elma Sovia Zaidir (1911311044)
3. Nurul Ashikin (1911312062)
4. Nurul Irhamna (1911313013)
5. Radhiatul Hamdi (1911312053)
6. Silsa Yahya Yogihaz (1911311029)
7. Silvi Triana Helmi (1911311002)
8. Vita Delfi Yanti (1911312023)

Dr.dr. Susmiati, M.Biomed

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Biokimia berasal dari kata bio yang artinya organisme hidup dan kimia yaitu ilmu
pengetahuan yang mempelajari tentang prilaku dari bahan-bahan kimia. Biokimia adalah
ilmu yang mempelajari struktur dan fungsi komponen selular, seperti protein, karbohidrat,
lipid, asam nukleat, dan biomolekul lainnya.

Penemuan-penemuan biokimia digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari genetika


hingga biologi molekular serta pertanian dan kedokteran. Saat sekarang ini fokus utama
biokimia adalah memahami bagaimana molekul biologis menimbulkan proses-proses yang
terjadi dalam sel-sel hidup yang pada gilirannya sangat berhubungan dengan studi dan
pemahaman organisme.

Seorang perawat akan selalu berhubungan dengan pasien baik dalam keadaan sehat
ataupun sakit. Tugas perawat adalah meningkatkan status kesehatan pasien sehingga
mencapai stataus kesehatan yang optimal. Aspek yang paling penting untuk dapat
meningkatkan kesehatan manusia serta penyembuhan penyakit adalah dengan pemenuhan
kebutuhan gizi.

Biokimia dan gizi adalah dua hal penting yang arus diketahui dan di pahami oleh perawat
agar mampu membantu pasien mencapai status kesehatan yang optimal.

1.2 TUJUAN PENULISAN MAKALAH


1. Untuk mengetahui prinsip-prinsip biokimia dalam tubuh manusia seperti
metabolisme karbohidrat,protein,lipid,purin,dan pirimidin
2. Untuk mengetahui dan memahami konsep tentang gizi seperti zat gizi makro dan
mikro,angka kecukupan gizi yang dianjurkan, kebutuhan gizi individu, penilaian
status gizi individu dan dasar-dasar diet klinik
3. Untuk menerapkan masalah keperawatan dengan menggunakan prinsip-prinsip
biokimia da gizi sebagai bagian pendekatan holistik keperawatan

1.3 MANFAAT PENULISAN MAKALAH


1. Mengetahui prinsip-prinsip biokimia dalam tubuh manusia seperti metabolisme
karbohidrat,protein,lipid,purin,dan pirimidin
2. Mengetahui dan memahami konsep tentang gizi seperti zat gizi makro dan mikro,
angka kecukupan gizi yang dianjurkan, kebutuhan gizi individu, penilaian status gizi
individu dan dasar-dasar diet klinik
3. Mampu menyelesaikan masalah keperawatan dengan menggunakan prinsip-prinsip
biokimia da gizi sebagai bagian pendekatan holistik keperawatan
BAB II
KERANGKA TEORI

2.1 PRINSIP BIOKIMIA


Biokimia dapat diartikan sebagai ilmu kimia kehidupan yaitu ilmu yang mempelajari
tentang dasar kimia kehidupan (kata Yunani, bios berarti “kehidupan”). Biokimia merupakan
ilmu yang mempelajari tentang dasar kimia kehidupan. Sel merupakan unit struktural dan
fungsional dari system hidup. Hal ini membawa kita kepada definisi fungsional biokimia
sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari unsur-unsur kimia pembentuk sel hidup dan
dengan reaksi serta proses yang dijalaninya.

2.1.1 METABOLISME
Metabolisme (Bahasa Yunani, metabole = berubah) adalah reaksi-reaksi kimiawi untuk
mengubah zat-zat yang menghasilkan energi maupun memerlukan energi yang terjadi di
dalam sel-sel tubuh.

Metabolisme merupakan rangkaian reaksi kimia yang diawali oleh substrat awal dan
diakhiri dengan produk akhir, yang terjadi dalam sel. reaksi tersebut meliputi reaksi
penyusunan energi (anabolisme) dan reaksi penggunaan energi (katabolisme). Dalam reaksi
biokimia terjadi perubahan energi dari satu bentuk ke bentuk yang lain, misalnya energi
kimia dalam bentuk senyawa Adenosin Trifosfat (ATP) diubah menjadi energi gerak untuk
melakukan suatu aktivitas seperti bekerja, berlari, jalan, dan lain-lain (Kistinnah, 2009).
2.1.2 Metabolisme Karbohidrat
A.Katabolisme Karbohidrat

Katabolisme karbohidrat adalaah proses penguraian atau pemecahan karbohidrat untuk


menghasilkan energi dalaam bentuk ATP. Proses kataabolisme yang menghasilkan energi ini
terjadi di dalam sel sehingga disebut respirasi internal (respirasi sel). Karbohidrat untuk
respirasi sel berupa gula heksosa, yaitu glukosa, glukosa akan dioksidasi (reaksi yang
memerlukan O2) untuk menghasilkan energi secara bertingkat melalui serangkaian reaksi
yang disebut reaksi aerob. Namun, jika persedian O2 di dalam sel tubuh kurang mencukupi,
akan terjadi respirasi anaerob.

a) Respirasi Aerob

Dibagi menjadi 4 tahap :


I. Glikolisis
Tempat : sitosol , Bahan : Glukosa

 Fosforilasi glukosa, terjadi pemindahan gugus fosfat dari ATP ke glukosa pada atom
C nomor 6 sehingga membentuk glukosa-6-fosfat. Senyawa ini akan memperoleh
energi bebas dari penguraian ATP menjadi ADP dengan bantuan enzim heksokinase.
 Glukosa-6-fosfat dikataalis oleh enzim fosfoglukoisomerase sehingga terbentuk
isomer fruktosa-6-fosfat.
 Fruktosa-6-fosfat mengikat fosfat yang dilepaskan ATP menjadi fruktsa-1,6-bifosfat.
Senyawa mendapat energi bebas dari penguraian ATP menjadi ADP untuk yang
kedua kalinya.
 Enzim aldolase menguraikan fruktosa-1,6-fosfat menjadi 2 senyawa beratom 3C,
yaitu dihidroksi aseton fosfat dan gliserildehida fosfat (PGAL)
 Enzim mengkatalis perubahan bolak-balik (reversible) antara kedua gula beratom 3C
tersebut
 Gliseraldehida fosfat dioksidaasi oleh transfer electron sehingga H+ ditambahkan ke
NAD+ yang membentuk NADH. Reaksi berlangsung secara eksergonik. Energi yang
dilepaskan kemudian digunakan untuk mengikat gugus fosfat yang selalu ada dalam
sitosol sehingga terbentuk 1,3-bifosfogliserat
 Gugus fosfat ditransfer ke ADP sehingga menghasilkan ATP. Sementara itu, gula
dirubah gula berubah menjadi 3-fosfogliserat
 Enzim fosfogliserautase merelokasi/memindahkan gugus fosfat sehingga terbentuk 2-
fosfogliserat
 Enzim enolase membentuk ikatan ganda dalam substrat dengan cara mengekstraksi
molekul air membentuk fosfoenolpiruvat (PEP)
 Reaksi terakhit glikolisis ini menghasilkan ATP dengan mentrasnfer gugus fosfat dari
PEP ke ADP sehingga PEP berubah menjadi asam piruvat ( beratom 3C)

Pada tahap ini, 1 molekul glukosa menghasilkan 2 molekul asam piruvat, 2 molekul
NADH (nikotinamide adenine dinucleotide). Sebenarnya 1 molekul glukosa menghasilkan 4
ATP, tetapi 2 molekul ATP diperlukan kembali dalam reaksi.
II. Dekarboksilasi oksidatif
Tempat : Matriks Mitokondria, Bahan : 2 Asam piruvat

Hasil : Asam piruvat (3 atom C) melepaskan 1 atom C dan berikatan dengan


oksigen membentuk CO2 .

 Asam piruvat (3 atom C) melepaskan 1 atom C dan berikatan dengan oksigen


membentuk CO2

 NAD+ berikatan dengan elektron membentuk NADH

 2 atom C asam piruvat bereaksi dengaan koenzim A membentuk Asetil ko-A

III. Siklus Krebs


Siklus Krebs terjadi di matriks mitokondria dan disebut juga siklus asam
trikarboksilat. Hal ini disebabkan siklus Krebs tersebut menghasilkan senyawa yang
mempunyai gugus karboksil, seperti asam sitrat dan asam isositrat.
Berikut ini tahapan-tahapan dari 1 kali siklus Krebs:
1. Asetil Ko-A (2 atom C) menambahkan atom C pada oksaloasetat (4 atom C) sehingga
dihasilkan asam sitrat (6 atom C).
2. Sitrat menjadi isositrat (6 atom C) dengan melepas H2O dan menerima H2O kembali.
3. Isositrat melepaskan CO2 sehingga terbentuk - ketoglutarat (5 atom C).
4. - ketoglutarat melepaskan CO2. NAD+ sebagai akseptor atau penerima elektron)
untuk membentuk NADH dan menghasilkan suksinil Ko-A (4 atom C).
5. Terjadi fosforilasi tingkat substrat pada pembentukan GTP (guanosin trifosfat) dan
terbentuk suksinat (4 atom C).
6. Pembentukan fumarat (4 atom C) melalui pelepasan FADH2.
7. Fumarat terhidrolisis (mengikat 1 molekul H2O) sehingga membentuk malat (4 atom
C).
8. Pembentukan oksaloasetat (4 atom C) melalui pelepasan NADH. satu siklus Krebs
tersebut hanya untuk satu molekul piruvat saja.
Sementara itu, hasil glikolisis menghasilkan 2 molekul piruvat (untuk 1 molekul glukosa).
Oleh karena itu, hasil akhir total dari siklus Krebs tersebut adalah 2 kalinya. Dengan
demikian, diperoleh hasil sebanyak 6 NADH, 2FADH2 dan 2ATP (ingat: jumlah ini untuk
katabolisme setiap 1 molekul glukosa).

IV. Transfer electron

Rantai transpor elektron terjadi di bagian krista (membran dalam mitokondria). Pada
rantai transpor elektron, NADH dan FADH2 yang dihasilkan dalam glikolisis,, dekarboksilasi
oksidatif, dan siklus krebs akan membebaskan energi tinggi saat melepaskan elektron dan H+
Mekanisme rantai transpor elektron sebagai berikut:

 NADH yang dihasilkan pada glikolisis, dekarboksilasi oksidatif, dan siklus kreb,
melepas elektron dan H+ menjadi NAD+. NAD+ masuk kembali ke siklus reaksi.

 Elektron dari NADH ditransfer ke FMN (flavin mononucleotida) kemudian ke FeS


(protein besi sulfur)

 FADH2 yang dihasilkan pada siklus krebs melepaskan 2 elektron dan 2 H+ menjadi
FAD+.. FAD+ masuk kembali ke siklus krebs

 Elektron dari FADH2 ditransfer ke Fe*S (Protein besi sulfur)

 Elektron dari Fe*S ditransfer secara berturut-turut ke Q (ubikuinon/koenzim)

 Elektron dari Q selanjutnya ditransfer ke cyt (sitokrom), yaitu secara berurutan cyt b,
Fe*S, cyt c1, cyt c, cyt a, cyt a3. Sitokrom mempunyai gugus heme dengan empat cincin
organik yang mengelilingi atom besi tunggal. Atom besi inilah yang membebaskan
elektron

 Tahap terakhir, cyt a3 mentransfer elektronnya ke oksigen, kemudian oksigen (12 O2 )


menangkap 2 H+ sehingga terbentuklah H2O

 Setiap perpindahan elektron akan dilepaskan energi yang digunakan oleh ADP untuk
mengikat Pi sehingga terbentuklah ATP

 Dalam reaksi redoks, ketika senyawa-senyawat mentransfer atau melepas elektron dalam
teroksidasi, namun menangkap elektron dalam keaadaan tereduksi.

Perhitungan jumlah ATP yang dihasilkan dalam proses respirasi aerob adalah sebagai
berikut:
Jadi jumlah ATP yang dihasilkan pada respirasi aerob adalah sebanyak 38 ATP. Namun, 2
ATP lagi digunakan untuk membawa ATP yang di sitosol ke matriks mitokondria sehingga
jumlah ATP yang dihasilkan adalah 36 ATP.

b) Respirasi Anaerob/fermentasi

Respirasi anaerob adalah suatu proses pembebasan energi yang tersimpan dalam
bahan bakar organik (misalnya karbohidrat) melalui serangkaian reaksi tanpa menggunakan
oksigen. Reaksi pada respirasi anaerob tidak melibatkan oksigen sehingga melibatkan
senyawa tertentu seperti asam piruvat (3C) atau asetaldehida (2C) sebagai akseptor
(penerima) elektron terakhir dan mengikat H+.

1) Fermentasi alkohol

Fermentasi alkohol dilakukan oleh bakteri anaerob dan ragi (yeast). Fermentasi
alkohol dapat terjadi pada proses pembuatan minuman anggur (bir) dan tapai.

C6H12O6 →2 C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP

Hasil fermentasi setiap 1 molekul glukosa, yaitu 2 etano, 2 CO2, dan 2 ATP.

1) Fermentasi Asam Laktat

Fermentasi asam laktat terjadi pada sel otot hewan dan manusia ketika kekurangan
oksigen. Eritrosit bersifat anaerob dan menghasilkan asam laktat karena tidak memiliki
mitokondria. Fermentasi ini juga sering digunakan dalam pembuatan keju dan yoghurt,
misalnya Sreptococus sp.

C6H12O6 (Glukosa) → 2 C3H6O3 (asam laktat) + 2 ATP (energi)

B. Anabolisme Karbohidrat

Anabolisme merupakan penyusunan senyawa kompleks organik dari senyawa-senyawa


organik membutuhkan sejumlah energi yang berasal dari cahaya atau dari reaksi kimia. Jika
sumber energinya berasal dari cahaya matahari disebut fotosintesis. Sedangkan, yang berasal
dari senyawa kimia disebut kemosintesis.

I. Fotosintesis

Reaksi fotosintesis dapat berlangsung dengan reaksi terang maupun gelap.

a) Reaksi Terang
 Memerlukan cahaya, Tempat : tilakoid, Hasil : ATP, NADPH2, O2

Mekanisme :

a) Aliran siklik

1) Cahaya masuk dan diserap oleh fotosistem I, sehingga elektron pada pusat
fotosistem I tereksitasi (terlempar). Kemudian diserap oleh akseptor primer.

2) Elekton dari akseptor primer ditransfer ke feredoksin → cytocrome kompleks →


plastocianin. Ketika elektron ditranspor dari cytocrome ke plastocianin terjadi
pelepasan energi. Karena adanya perbedaan energi antara cytocrome dengan
plastocianin

3) Elektron kembali ke fotosistem I

b) Aliran non siklik

A. Cahaya masuk dan diserap oleh fotosistem II, sehingga elektron pada pusat
fotosistem II tereksitasi (terlempar). Kemudian ditangkap oleh akseptor primer.

B. Kekurangan elektron pada fotosistem II akan diisi oleh elektron dari fotolisis air

C. Elektron dari akseptro primer ditranspor ke plastoquinon → cytocrome kompleks →


PC terjadi pelepasan energi

D. Elektron masuk ke fotosistem I → akseptor primer → Fd → NADP+

E. NADP+ berikatan dengan elektron dan H+ sehingga membentuk NADPH

B. Reaksi Gelap

Tidak memerlukan cahaya,, Tempat : stroma, Hasil : glukosa

Proses :

1. Fiksasi => RUBP + CO2 → Fosfogliserat

2. Reduksi => Fosfogliserat + ATP → 1,3 Bifosfogliserat

1,3 bifosfogliserat + NADPH2 → PGAL

3.Regenerasi RUBP => PGAL → Ribulosa Fosfat

Ribulosa fosfat → RUBP + ADP


II. Kemosintesis

Kemosintesi merupakan proses penyusunan bahan organik (karbohidrat) daro air


dan karbondioksida dengan menggunakan energi kimia.

 Bakteri nitrifikasi, Contoh : bakteri nitrit ( Nitrococcus dan Nitrosomonas) dan bakteri
nitrat ( Nitrobacter dan bactoderma ).

2 NH3 ( Amonia) + 3 O2 → 2 HNO3 (Asam nitrit) + 2 H2O + Energi

2 HNO2 (Asam nitrit) + O2 → 2 HNO3 (Asam nitrat) + Energi

 Bakteri belerang , Contohnya: Baggiatoa dan Thiosprillium

2 H2S + O2 → 2 S + 2 H2O + Energi

Jika cadangan hidrogen sulfide habis. Endapan sulfur akan dioksidasi menjadi asam
sulfat ( H2SO4).

2S + 2H2 + 3O2 → 2H2SO4 + Energi

2.1.3 Metabolisme lemak


Metabolisme Lemak Ada 3 fase:
 oksidasi: proses merubah asam lemak menjadi asetil Co-A
 Siklus Kreb: proses merubah asetil Co-A menjadi H
 Fosforilasi Oksidatif: proses mereaksikan H + O menjadi H2O + ATP
Metabolisme Lemak:
1. Di mulut, lemak mulai mengalami tahapan pencernaan, terjadi penyesuaian suhu
tertentu pada saat lemak dikunyah di mulut.
2. Pada lambung, lemak mengalami proses pencernaan dengan bantuan asam dan enzim
menjadi bentuk yang lebih sederhana.
3. Selanjutnya lemak akan memasuki hati, empedu, dan masuk ke dalam usus kecil.
4. Dari kantung empedu lemak akan bergabung dengan bile yang merupakan senyawa
yang penting untuk proses pencernaan pada usus kecil. Selanjutnya hasil pemecahan
tersebut akan diubah oleh enzim lipase pankreas menjadi asam lemak dan gliserol
5. Kelebihan lemak kemudian disimpan dalam tubuh, dan sebagai akan bergabung
dengan senyawa lain seperti fiber yang akan di keluarkan melewat usus besar.
2.1.4 Metabolisme Protein
meliputi:
1. Degradasi protein (makanan dan protein intraseluler)
menjadi asam amino
2. Oksidasi asam amino
3. Biosintesis asam amino
4. Biosintesis protein
Gambar Jalur metabolisme asam amino dalam siklus asam sitrat

Setiap asam amino didegradasi menjadi piruvat atau zat siklus asam sitrat lainnya
dan dapat menjadi prekrusor sintesis glukosa di hepar yang disebut glikogenik atau
glukoneogenik. Untuk beberapa asam amino seperti tirosin dan fenilalanin, hanya
sebagian dari rantai karbonnya yang digunakan untuk mensintesis glukosa karena sisa
rantai karbon di ubah menjadi asetil koa yang tidak dapat digunakan untuk sintesis
glukosa (Burnama, 2011).
Metabolisme protein menurut Suparyanto (2010) dalam Mulasari dan Tri (2013)
yaitu:
a. Penggunaan Protein Untuk Energi
 Jika jumlah protein terus meningkat → protein sel dipecah jadi asam amino untuk
dijadikan energi atau disimpan dalam bentuk lemak.
 Pemecahan protein jadi asam amino terjadi di hati dengan proses deaminasi atau
transaminasi.
 Deaminasi merupakan proses pembuangan gugus amino dari asam amino
sedangkan transaminasi adalah proses perubahan asam amino menjadi asam keto.
b. Pemecahan protein
 Transaminasi yaitu mengubah alanin dan alfa ketoglutarat menjadi piruvat dan
glutamate.
 Diaminasi yaitu mengubah asam amino dan NAD+ menjadi asam keto dan NH3.
NH3 merupakan racun bagi tubuh, tetapi tidak dapat dibuang oleh ginjal. Maka
harus diubah dulu menjadi urea (di hati) agar dapat dibuang oleh ginjal.
c. Ekskresi NH3
NH3 tidak dapat diekskresi oleh ginjal dan harus diubah dulu menjadi urea
oleh hati. Jika hati ada kelainan (sakit) maka proses pengubahan NH3 akan
terganggu dan akan terjadi penumpukan NH3 di dalam darah yang menyebabkan
terjadinya uremia. NH3 bersifat meracuni otak yang dapat menyebabkan koma.
Jika hati telah rusak maka disebut koma hepatikum.
d. Pemecahan protein
Deaminasi maupun transaminasi merupakan proses perubahan protein
menjadi zat yang dapat masuk ke dalam siklus Krebs. Zat-zat yang dapat masuk
adalah alfa ketoglutarat, suksinil Ko-A, fumarat, oksaloasetat, dan sitrat.
e. Siklus krebs
Siklus ini merupakan proses perubahan asetil Co-A menjadi H dan CO2.
Proses ini terjadi di mitokondria. Pengambilan asetil Co-A di sitoplasma dilakukan
oleh oksaloasetat. Proses pengambilan ini terus berlangsung sampai asetil Co-A di
sitoplasma habis. Oksalo asetat berasal dari asam piruvat. Jika asupan nutrisi
kekurangan karbohidrat maka juga akan kekurangan asam piruvat dan oksaloasetat.
f. Rantai respirasi
Hydrogen hasil utama dari siklus krebs ditangkap oleh carrier NAD menjadi
NADH. Hydrogen dari NADH ditransfer ke flavoprotein, quinon, sitokrom b,
sitokrom c, sitokrom a3, terus direaksikan dengan O2 membentuk H2O dan energy.
g. Fosforilasi oksidatif
Dalam proses rantai respirasi dihasilkan energy yang tinggi, energy tersebut
ditangkap oleh ADP untuk menambah satu gugus fosfat menjadi ATP.
h. Keratin dan kreatinin
Keratin disintesa di hati dari metionin, glisin, dan arginin. Dalam otot rangka
difosforilasi fosforilkreatin (simpanan energy). Fosforilkreatin dapat mejadi
kreatinin dan gerak urine.
2.1.5 Metabolisme Purin dan Pirimidin
Purin dan Pirimidin merupakan komponen utama DNA, RNA, koenzim (NAD,
NADP, ATP, UDPG). Inti purin dan pirimidin adalah inti dari senyawa komponen molekul
nukleotida asam nukleat RNA dan DNA. Contoh Pirimidin: (sitosin, urasil, timin) →
dimetabolisme jadi CO2 dan NH3. Sedangkan contoh Purin adalah Adenin dan Guanin. Di
metabolisme menjadi asam urat. Purin dan Pirimidin merupakan unsur yang nonesensial
secara dietetik artinya manusia dapat mensintesis nukleotida secara denovo (dari senyawa
intermediet anfibolik), meskipun tidak mengkonsumsi asam nukleat.

A. Metabolisme purin dan pirimidin

1. Reaksi Penyelamatan Mengubah Purin dan Nukleosidanya menjadi Mononukleotida

Reaksi ini jauh lebih sedikit memerlukan energi dibanding sintesis de novo. Mekanisme
yang lebih penting melibatkan fosforibolisasi oleh PRPP purin bebas (Pu) untuk membentuk
purin 5’-mononukleotida (Pu-RP).

Pu + PR-PP → PRP + PP

Dua fosforibosil transferase kemudian mengubah adenine menjadi AMP serta mengubah
hipoxantin dan guanin menjadi IMP atau GMP. Mekanisme penyelamatan kedua melibatkan
transfer fosforil dari ATP ke ribonukleosida purin (PuR):

PuR + ATP → PuR – P + ADP

Adenosin kinase mengatalisis fosforilasi adenosin dan deoksiadenosin menjadi AMP dan
dAMP, dan deoksisitidin kinase memfosforilasi deoksisitidin dan 2’-deoksiguanosin menjadi
dCMP dan dGMP.

Hepar sebagai tempat utama biosintesis nukleotida purin menyediakan purin dan
nukleotida purin untuk “diselamatkan” dan digunakan oleh jaringan-jaringan yang tidak
mampu membentuk kedua zat tersebut. Contohnya, otak manusia memiliki PRPP glutamil
amidotransferase dalam kadar yang rendah sehingga bergantung pada purin eksogen.

2. Umpan balik AMP dan GMP Meregulasi PRPP Glutamil Amidotransferase


Karena membutuhkan glisin, glutamine, turunn tetrahidrofolat, aspartat, serta ATP,
biosintesis IMP bermanfaat dalam regulasi biosintesis purin. Hal yang paling menentukan
laju biosintesis nukleotida purin de novo adalah konsentrasi PRPP, laju sintesis, pemakaian,
dan penguraiannya. Laju sintesis PRPP bergantung pada ketersedian ribose 5’-fosfat dan pada
aktivitas PRPP sitase, suatu enzim yang peka terhadap inhibisi umpan balik AMP, ADP,
GMP, dan GDP.

3. Reduksi ribonukleosida Difosfat Membentuk Deoksiribonukleosida Difosfat

Reduksi 2’-hidroksil ribonukleosida purin dan pirimidin yang dikatalis oleh kompleks
ribonukleotida reduktase membentuk deoksiribonukleotida difosfat (dNDP). Kompleks enzim
ini aktif hanya jika sel sedang aktif menyintesis DNA. Reduksi memerlukan tioredoksin,
reduktase, dan NADPH. Reduktan yang terbentuk yaitu tioredoksin terekdusi, dihasilkan oleh
NADPH tioredoksin redutase. Reduksi ribonukleosida difosfat (NDP) menjadi
deoksiribonukleosida difosft (dNDP) berada dibawah kontrol regulatorik yang rumit agar
tercapai produksi deoksiribonukleotida yang seimbang untuk sintesis DNA.

B. Katabolisme Purin dan Pirimidin

KATABOLISME PURIN

a. Adenosin → Inosin → Hiposantin → Santin → Asam Urat

b. Guanosin → Guanin → Santin → Asam Urat

c. Santin oksidase adalah enzim yang merubah santin → asam urat, enzim tsb banyak
terdapat di: hati, ginjal, usus halus

d. Penyakit Gout (pirai) ditandai oleh tingginya asam urat dalam tubuh, sehingga terjadi
penimbunan dibawah kulit berbentuk tophi.

KATABOLISME PIRIMIDIN

a. Sitosin → Urasil → Dihidrourasil → Asam β ureidopropionat → CO2 + NH3

b. Timin → Dihidrotimin → Asam β ureidoisobutirat → CO2 + NH3

c. Katabolisme pirimidin terutama berlangsung di hati

Biosintesis Purin dan Pirimidin

a) Purin
Sintesis purin terjadi di hati. Sintesis dari nukleotida purin dimulai dengan PRPP dan
mengarah ke penuh pertama terbentuk nukleotida, inosine 5′-monophosphate (IMP). jalur ini
adalah diagram di bawah ini. Basis purin tanpa terikat pada molekul ribosa terlampir adalah
Hipoxantina. Basis purin dibangun di atas ribosa dengan beberapa amidotransferase dan
reaksi transformylation. Sintesis IMP membutuhkan lima mol ATP, dua mol glutamin, satu
mol glisin, satu mol CO 2, satu mol aspartate dan dua mol formate. Para moieties formil
dilakukan pada tetrahydrofolate (THF) dalam bentuk N 5, N 10-methenyl-THFdan N 10-
formil-THF.

2. Pirimidin

Sintesis dari pirimidin kurang kompleks dibandingkan dengan purin, karena dasar
jauh lebih sederhana. Basis menyelesaikan pertama adalah berasal dari 1 mol glutamin, salah
satu mol ATP dan satu mol CO 2 (yang merupakan karbamoilfosfat) dan satu mol aspartate.
Sebuah mol tambahan glutamin dan ATP yang diperlukan dalam konversi UTP untuk CTP
adalah. Jalur biosintesis pirimidin yang digambarkan di bawah ini. Karbamoilfosfat
digunakan untuk sintesis nukleotida pirimidin berasal dari glutamin dan bikarbonat, dalam
sitosol, yang bertentangan dengan siklus karbamoil fosfat urea berasal dari amonia dan
bikarbonat dalam mitokondria. Reaksi siklus urea dikatalisis oleh sintetase karbamoilfosfat I
(CPS-I) sedangkan prekursor nukleotida pirimidin disintesis oleh CPS-II. karbamoilfosfat
kemudian kental dengan aspartat dalam reaksi dikatalisis oleh enzim yang membatasi laju
biosintesis nukleotida pirimidin, transcarbamoylase aspartate (ATCase).

2.2 GIZI
Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan
keserasian antara perkembangan fisik dan perkembangan mental. Tingkat keadaan gizi
normal tercapai bila kebutuhan zat gizi optimal terpenuhi (Budiyanto, 2002).
Gizi (nutrion) adalah berasal dari bahasa Arab yaitu ”ghidza”, yang berarti makanan
dan pada bahasa sanskerta disebut “geogos” yang artinya sumbersumber makanan yang dapat
bermanfaat bagi kehidupan (Soekirman, 2000).
Menurut Deswarni Idrus dan Gatot Kunanto (1990:19), “Gizi adalah suatu proses
organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti,
absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak
digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-
organ, serta menghasilkan energi.” Singkatnya, gizi adalah ikatan kimia yang diperlukan
tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara
jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan (Almatsier, 2001:3).
Disamping untuk kesehatan, gizi dikaitkan dengan potensi ekonomi seseorang, karena
gizi berkaitan dengan perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktivitas kerja.

2.2.1 PENGELOMPOKKAN ZAT GIZI


Berdasarkan kebutuhannya bagi tubuh, zat gizi dibagi ke dalam dua bagian, yaitu Zat
Gizi Makro dan Zat Gizi Mikro.
I. Zat Gizi Makro (Marco Nutrient)
Gizi makro adalah gizi yang menyediakan kalori atau energi. Istilah makro
berasal dari Yunani yang berarti besar, digunakan karena gizi makro itu dibutuhkan
dalam jumlah yang besar. Zat gizi makro diperlukan tubuh dengan jumlah besar, yaitu
dalam satuan gram/orang/hari.
Zat gizi makro merupakan komponen terbesar dari susunan diet serta
berfungsi menyuplai energy dan zat-zat gizi esensial yang berguna untuk keperluan
pertumbuhan sel atau jaringan, fungsi pemeliharaan maupun aktivitas tubuh.
Kelompok makro nutrient terdiri dari karbohidrat (hidrat arang), lemak, protein (zat
putih telur), makro mineral dan air (ada yang tidak memasukan air dalam zat gizi).
A. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan komponen zat gizi yang tersusun oleh atom karbon, hidrogen,
dan oksigen dengan rasio CnH2nOn. Karbohidrat dikelompokkan ke dalam tiga
kelompok besar, yaitu monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida. Karbohidrat
dalam makanan merupakan zat gizi yang cepat mensuplai energi sebagai bahan bakar
untuk tubuh, terutama jika tubuh dalam keadaan lapar. Makanan yang merupakan
sumber karbohidrat di antaranya adalah serealia, umbi-umbian, sayuran dan buah-
buahan.
Jenis-jenis karbohidrat
a. Monosakarida
Monosakarida (C6H12O6), merupakan gula yang paling sederhana dan
terdiri dari molekul tunggal. Monosakarida tidak dapat dihidrolisis menjadi
bentuk yang lebih sederhana.
Berdasarkan jumlah atom karbon yang menyusunnya, monosakarida
dapat dibagi lagi menjadi triosa (3 karbon), tetrosa (4 karbon), pentosa (5
karbon), heksosa (6 karbon), dan heptosa (7 karbon).
Di antara semua jenis monosakarida tersebut, heksosa yang memiliki 6
karbon merupakan monosakarida yang paling banyak ditemukan dan besar
peranannya dalam sistem pencernaan tubuh, terdiri dari glukosa, fruktosa, dan
galaktosa.
b. Oligosakarida
Oligosakarida merupakan polimer monosakarida, terdiri dari 2 sampai 10
monosakarida dan pada umumnya bersifat larut air. Oligosakarida dengan dua
molekul monosakarida disebut disakarida, dengan tiga molekul disebut
trisakarida, sedangkan dengan empat molekul disebut tetrasakarida. Contoh
disakarida adalah: Maltosa (terdiri dari glukosa dan glukosa),Sukrosa (terdiri dari
glukosa dan fruktosa),Laktosa (terdiri dari glukosa dan galaktosa).

c. Polisakarida
Serangkaian monosakarida yang membentuk polimer ikatan glikosidik rantai
panjang akan membentuk molekul baru, yaitu polisakarida. Polisakarida dalam
bahan makanan berfungsi sebagai penguat tekstur (selulosa, hemiselulosa, pektin,
lignin), dan sebagai sumber energi (pati, dekstrin, glikogen, fruktan). Polisakarida
penguat tekstur merupakan molekul yang tidak dapat dicerna tubuh, tetapi
merupakan serat (dietary fiber) yang dapat menstimulasi enzim-enzim
pencernaan.
Fungsi dari karbohidrat yaitu sebagai sumber energi, pemberi rasa manis pada
manusia, pengatur metabolisme lemak, menghemat fungsi protein, sumber energi
utama bagi otak dan susunan syaraf pusat dan membantu pengeluaran feses.
B. Protein
Protein merupakan komponen penyusun tubuh terbesar kedua setelah air, yaitu
17% susunan tubuh orang dewasa. Sementara itu air menyusun 63%, lemak 13%,
mineral 6%, dan lainnya sebesar 1%. Protein memiliki peran penting sebagai
komponen fungsional dan struktural pada semua sel tubuh. Enzim, zat pengangkut,
matriks intraseluler, rambut, kuku jari merupakan komponen protein.
Pangan yang merupakan sumber protein adalah: telur, ikan, daging (pangan
hewani), serta kacang-kacangan dan biji-bijian (pangan nabati). Fungsi protein yaitu
diantaranya adalah untuk pertumbuhan dan pemeliharaan ,berperan dalam berbagai
sekresi tubuh , mengatur keseimbangancairan didalam tubuh , mengatur netralitas
jaringan tubuh , membantu pembentukan antibodi, berperan dalam transportasi zat
gizi, dan sebagai sumber energi.
Protein terdiri atas rantai-rantai panjang asam amino. Sebagaimana unsur
organik lainnya, komponen penyusun protein terdiri atas unsur karbon (C), hidrogen
(H), dan oksigen (O).
C. Lemak
Lemak dikenal juga dengan istilah lipida. Lemak mengandung unsur karbon
(C), hidrogen (H), dan oksigen (O). Proporsi oksigen lebih kecil dibandingkan
dengan kandungan karbon (C) dan hidrogen (H). Dalam proses metabolismenya,
lemak memerlukan lebih banyak oksigen dan menghasilkan energi lebih banyak dari
karbohidrat dan protein. Lemak bersifat tidak larut dalam air, tetapi larut dalam
pelarut organik seperti eter, alkohol, benzena, dan kloroform.
Lemak biasanya ditemukan dalam bentuk padat dan cair.Lemak bentuk padat
banyak ditemukan pada sumber hewani sedangkan lemak dalam bentuk cair (minyak)
banyak ditemukan pada sumber nabati.
Fungsi lemak yaitu diantaranya : sumber energi, pembawa vitamin larut
lemak, sumber asam lemak esensial, sebagai pelindung bagian tubuh penting,
memberi rasa kenyang dan kelezatan pada makanan, penghemat protein (protein
sparer), memelihara suhu tubuh.
II.Zat Gizi Mikro (Micro Nutrient)
Zat gizi mikro adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah kecil atau
sedikit tetapi ada dalam makanan. Zat gizi yang termasuk kelompok zat gizi mikro adalah
mineral dan vitamin. Zat gizi mikro menggunakan satuan mg (mili gram) untuk sebagian
besar mineral dan vitamin.
A. Vitamin
Vitamin adalah zat-zat organik kompleks yang dibutuhkan dalam jumlah sangat kecil
dan pada umumnya tidak dapat dibentuk sendiri oleh tubuh. Oleh karena itu, vitamin
harus didapatkan dari makanan. Vitamin dibedakan dalam dua kelompok yaitu: vitamin
larut lemak (vitamin A, D, E, K) dan vitamin larut air (vitamin B dan C).
Vitamin berperan dalam beberapa tahap reaksi metabolisme energi, pertumbuhan, dan
pemeliharaan tubuh.
Vitamin yang Larut dalam Lemak
1) Vitamin A
Vitamin A berperan dalam berbagai fungsi tubuh, seperti: penglihatan,
diferensiasi sel, fungsi kekebalan, reproduksi, pencegahan kanker dan penyakit
jantung (Almatsier. 2001:160).
Di dalam bahan pangan hewani, vitamin A berada dalam bentuk vitamin A
yang aktif dan siap digunakan tubuh. Karena sifatnya yang larut lemak, vitamin A
dari pangan hewani banyak ditemukan pada bahan pangan yang berlemak.
Di dalam bahan pangan nabati, sebagian besar sumber vitamin A adalah dalam
bentuk karotenoid yang merupakan pro-vitamin A. Ada berbagai jenis karoten
dalam tanaman, tetapi yang paling banyak ditemukan adalah bentuk karoten, dan
kriptosantin. Pro-vitamin A ini banyak terdapat pada bahan pangan yang
berwarna kuning, oranye atau merah, juga pada sayuran yang berwarna hijau.
Vitamin A banyak terdapat dalam: hati, kuning telur, susu, dan mentega.
2) Vitamin D
Fungsi vitamin D erat kaitannya dengan mineralisasi tulang, yaitu membantu
pembentukan dan pemeliharaan tulang bersama vitamin A dan vitamin C. Vitamin
D, terutama bentuk aktif kalsitriol, akan meningkatkan penyerapan kalsium dan
fosfor yang merupakan zat utama pada proses pengerasan tulang.
Vitamin D diperoleh tubuh melalui sinar matahari dan makanan. Pangan
hewani yang menjadi sumber vitamin D adalah minyak hati ikan, kuning telur,
dan mentega. Adapun vitamin D pada pangan nabati sangat rendah.
3) Vitamin E
Fungsi utama vitamin E adalah sebagai antioksidan yang larut dalam lemak.
Beberapa fungsi lainnya adalah: struktural dalam memelihara integritas membran
sel, sebagai sintesis DNA, merangsang reaksi kekebalan, mencegah jantung
koroner, mecegah keguguran dan sterilisasi, dan mencegah gangguan menstruasi.
Vitamin E banyak terdapat dalam bahan makanan, seperti: minyak tumbuh-
tumbuhan, terutama minyak kecambah gandum, biji-bijian, serta buah-buahan dan
sayuran.
4) Vitamin K
Vitamin K berperan dalam proses pembekuan darah sehingga dapat mencegah
terjadinya perdarahan, terutama pada saat proses operasi. Vitamin K merupakan
kofaktor enzim karboksilase yang diperlukan dalam sintesis protrombin.
Protrombin setelah diubah menjadi trombin dapat mengubah fibrinogen menjadi
fibrin yang bersifat membeku sehingga dapat membekukan darah.
Sumber vitamin K adalah hati, kuning telur, dan sayuran hijau seperti bayam,
kubis, dan bunga kol. Biji-bijian dan buah-buahan hanya sedikit mengandung
vitamin K. Dalam proses metabolisme, vitamin K banyak terbuang dalam feses
dan hanya sedikit yang dapat disimpan dalam hati.
Vitamin yang Larut dalam Air
Sebagian vitamin larut air merupakan komponen sistem enzim yang banyak terlibat
dalam membantu metabolisme energi. Vitamin larut air dikelompokkan menjadi
vitamin C dan B-kompleks.
1. Vitamin C
Vitamin C mempunyai banyak fungsi di dalam tubuh, sebagai koenzim atau
kofaktor, seperti: sintesis kolagen, absorsi dan metabolisme besi, absorsi kalsium,
mencegah infeksi dan mencegah kanker dan penyakit jantung.
Vitamin C umumnya berasal dari pangan nabati, yaitu sayuran dan buah-
buahan, seperti jeruk, nenas, rambutan, pepaya, tomat, dan jambu batu.
Kandungan vitamin C yang tinggi juga terdapat pada daun singkong, daun katuk,
dan daun pepaya.
2. Vitamin B Kompleks
Vitamin B merupakan suatu kompleks vitamin, terdiri dari sepuluh faktor
yang memiliki fungsi saling berkaitan dan banyak ditemukan pada bahan makanan
yang hampir sama. Vitamin B banyak berperan sebagai koenzim ataupun kofaktor
yang diperlukan dalam proses metabolisme sel hidup.
Delapan unsur utama pembentuk vitamin B kompleks adalah: Thiamine (vitamin
B1), Riboflavin (vitamin B2),Niacin (vitamin B3), Asam pantothenate (vitamin
B5), Pyridoxine (vitamin B6), Biotin (vitamin B7), Asam Folat (vitamin
B9),Cobalamine (vitamin B12).
B. Mineral
Mineral merupakan zat gizi mikro (micronutrient) dalam tubuh yang bersama-sama
dengan vitamin berfungsi dalam proses metabolisme unsur gizi makro (karbohidrat,
protein dan lemak). Mineral bersifat esensial karena merupakan unsur anorganik yang
memiliki fungsi fisiologis yang tidak dapat dikonversikan dari zat gizi lain sehingga harus
selalu tersedia dalam makanan yg dikonsumsi.
a) Mineral Makro
1. Kalsium (Ca)
Kalsium menyusun 1,5-2% berat badan orang dewasa dan merupakan mineral dengan
kandungan tertinggi dalam tubuh. Hampir semua kalsium tubuh (99%) terdapat pada
jaringan keras seperti tulang dan gigi, dan hanya 1% kalsium yang ada pada jaringan
lunak.
Fungsi dari kalsium dalam : pembentukan tulang, pembentukan gigi, kontraksi otot,
pembekuan darah.
Kalsium banyak terdapat pada susu dan produk susu, seperti keju, es krim, yoghurt,
dan sebagainya. Ikan yang dimakan dengan tulang (misalnya ikan kering) juga
merupakan sumber kalsium. Pada pangan nabati kalsium banyak ditemukan pada
serealia dan kacang-kacangan.
2. Fosfor (P)
Fosfor dan kalsium merupakan zat utama pembentuk tulang dan gigi. Fosfor juga
berperan dalam pembentukan nukleoprotein yang menyusun bahan-bahan nukleus
dari sel-sel dan sitoplasma yang berfungsi dalam pembelahan sel, reproduksi dan
pemindahan ciri-ciri yang turun menurun. Fosfor merupakan bagian dari asam nukleat
DNA dan RNA.
Pangan sebagai sumber fosfor adalah pangan yang juga merupakan sumber protein,
seperti daging, ayam, ikan, telur, susu dan hasil olahannya, dan kacang-kacangan.
3. Sulfur (S)
Fungsi sulfur erat kaitannya dengan fungsi protein, yaitu karena sulfur merupakan
penyusun asam amino esensial dan enzim. Di samping itu, karena merupakan
penyusun insulin, sulfur berperan juga dalam mengaturgula darah. Bersama-sama
dengan kalsium dan fosfor, sulfur juga merupakan bahan penyusun tulang dan
gigi.Pada umumnya pangan sumber sulfur juga merupakan pangan sumber fosfor,
banyak terdapat pada kecambah, gandum, dan kacang-kacangan..
4. Magnesium
Magnesium merupakan penyusun utama klorofil daun. Di dalam tubuh, sekitar 60%
magnesium berada pada tulang, 26% berada dalam otot, dan sisanya berada pada
jaringan lunak dan cairan tubuh. Fungsi magnesium yaitu berperan dalam : aktivasi
enzim, mencegah kerusakan gigi.
Sumber utama magnesium adalah sayuran hijau, serealia, biji-bijian, dan kacang-
kacangan, serta daging, susu dan hasil olahannya.
b) Mineral Mikro
1. Zat Besi (Fe)
Zat besi merupakan bahan pembentuk hemoglobin (Hb), yaitu protein yang bertugas
mengangkut oksigen ke sel-sel tubuh. Selain itu, sebagai komponen penyusun
mioglobin, zat besi membantu menjaga agar oksigen selalu tersedia untuk keperluan
kontraksi otot, transfer elektron dalam penggunaan energi pada sel-sel, yaitu sebagai
bagian proses metabolisme.
2. Seng
Seng merupakan bagian dari banyak jenis enzim (minimal 70 enzim), di antaranya
karboksipeptidase, karbonik-anhidrase. Seng juga berperan dalam fungsi imunitas,
yaitu sebagai penyusun enzim Superokside dismutase (SOD). Seng besar perannya
dalam fungsi kerja hormon insulin dalam pankreas, yaitu jika seng dalam darah
rendah maka respons insulin juga menjadi menurun, hal ini akan menjadikan sistem
metabolisme glukosa menjadi terganggu.
3. Yodium
Dengan hormon-hormon tiroid, yodium berfungsi dalam mengatur suhu tubuh, laju
pelepasan e (energi) selama metabolisme basal, laju penggunaan oksigen oleh sel,
pertumbuhan dan perkembangan sistem syaraf, serta pertumbuhan linier.

2.2.2 ANGKA KECUKUPAN GIZI

Untuk menilai tingkat konsumsi makanan, diperlukan suatu standar kecukupan atau
Recommended Dietary Allowance (RDA). Di Indonesia, Angka Kecukupan Gizi (AKG)
yang digunakan saat ini secara nasional adalah hasil Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi
tahun 2004 (Supriasa, 2002:112). Angka kecukupan gizi (AKG) merupakan suatu nilai yang
digunakan untuk menentukan jumlah zat yang baik dikonsumsi oleh tubuh dan zat apa saja
yang dibutuhkan oleh tubuh kita.

Angka kecukupan gizi yang digunakan dengan tingkat nasional pada umumnya
mengkonsumsi 2000 kkal dengan keseimbangan taraf persediaan 2000 kkal. Selain itu angka
kecukupan protein dalam taraf nasional ditentukan sebanyak 52 gram dan taraf persediaannya
57 gram. Kecukupan gizi untuk pelabelan produk makanan yang dikemas disebut dengan
acuan label gizi (ALG).

Untuk dapat memenuhi AKG, dianjurkan agar menu makanan sehari-hari terdiri atas
bahan pangan bervariasi yang diperoleh dari berbagai golongan bahan makanan. Di Indonesia
pola menu seimbang tergambar dalam menu 4 Sehat 5 Sempurna dan Pedoman Umum Gizi
Seimbang (PUGS). Pola menu 4 Sehat 5 Sempurna adalah pola menu seimbang yang bila
disusun dengan baik mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh.
Adapun kegunaan dari angka kecukuan gizi meliputi:

1. Menilai kecukupan gizi pada seseorang


2. Merencanakan pemberian makanan
3. Merencanakan penyediaan pangan
4. Untuk pedoman gizi makanan yang baik
5. Sebagai bahan ajar pendidikan gizi
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 75 Tahun 2013 Tentang
Angka Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan Bagi Masyarakat Indonesia menetapkan beberapa
ketentuan pemenuhan gizi bagi seorang individu. Berikut beberapa tabelnya :
Tabel 1. Angka kecukupan energi, protein, lemak, karbohidrat, serat dan air yang dianjurkan
untuk orang indonesia (perorang perhari)

*Nilai rata rata tinggi badan (TB) dan berat badan (BB) masyarakat Indonesia dengan status
gizi normal berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 dan 2010. Angka ini
dicantumkan agar AKG dapat disesuaikan dengan kondisi berat dan tinggi badan kelompok
yang bersangkutan.
Tabel 2. Angka kecukupan vitamin yang dianjurkan untuk orang indonesia (perorang
perhari).
Tabel 3. Angka kecukupan mineral yang dianjurkan untuk orang indonesia (perorang
perhari).

2.2.3 KEBUTUHAN GIZI INDIVIDU


Makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang dibutuhkan tubuh setiap hari
dalam jumlah tertentu sebagai sumber energi dan zat gizi. Kekurangan atau kelebihan dalam
jangka waktu yang lama akan menyebabkan gangguan kesehatan.
Menurut Kementerian Kesehatan Indonesia, kebutuhan gizi adalah jumlah zat gizi
minimal yang dibutuhkan oleh masing-masing orang. Jumlah yang dibutuhkan ini berbeda-
beda berdasarkan kondisi tubuh masing-masing. Kebutuhan gizi setiap individu tergantung
pada beberapa faktor, yakni usia, jenis kelamin, tingkat aktivitas fisik, berat badan, dan tinggi
badan.
A. Kebutuhan Gizi Anak
Kebutuhan gizi balita meliputi : Asupan makanan sehari untuk anak harus mengandung
10-15% kalori, 20-35% lemak, dan sisanya karbohidrat. Setiap kg berat badan anak
memerlukan asupan energi sebanyak 100 kkal. Asupan lemak juga perlu ditingkatkan karena
struktur utama pembentuk otak adalah lemak. Lemak tersebut dapat diperoleh antara lain dari
minyak dan margarin.
Gizi pada Anak Usia Sekolah
1. Pola makan anak usia Taman Kanak-kanak (4-6 tahun)
Anak sudah mempunyai sifat konsumen aktif, yaitu mereka sudah sudah bisa memilih
makanan yang disukainya. Perlu ditanamkan kebiasaan makan dengan gizi yang baik
pada usia dini dan di sekolah diarahkan pula oleh gurunya dengan praktik mengkonsumsi
makanan yang sehat secara rutin. Program makan bersama di sekolah sangat baik
dilaksanakan karena ini merupakan modal dasar bagi pengertian anak supaya mereka
mau diarahkan pada pola makan dengan gizi yang baik .
2. Pada usia 7-9 tahun
Anak pandai menentukan makanan yang disukai karena sudah kenal lingkungan.
Banyak anak menyukai makanan jajanan yang dapat mengurangi nafsu makan anak. Perlu
pengawasan supaya tidak salah memilih makanan karena pengaruh lingkungan.
3. Pada anak usia 10-12 tahun
Kebutuhan sudah dibagi dalam jenis kelaminnya: Anak laki-laki lebih banyak
aktivitas fisik sehingga memerlukan energi yang banyak dibandingkan anak perempuan.
Anak perempuan sudah mengalami masa haid sehingga lebih banyak banyak protein, zat
besi dari usia sebelumnya. Perlu diperhatikan pula adalah pentingnya sarapan pagi supaya
konsentrasi belajar tidak terganggu.
B. Kebutuhan Gizi Remaja
Adolescent (remaja) adalah usia 10-19 thn. Kebutuhan energi pada remaja dipengaruhi
oleh energi basal, jenis kelamin, faktor aktivitas, dan adanya penyakit. Semua kebutuhan zat
gizi meningkat pada masa remaja. Jumlah zat gizi yang dibutuhkan ini disesuaikan dengan
daftar Angka Kecukupan Gizi (AKG) yaitu : Protein seimbang (1gr/kgBB/hr),Mineral Fe &
Ca kebutuhannya 800-1200 mg/hr .Kebutuhan gizi harus sehat dan seimbang. Makanan
harus cukup semua zat gizi.

Masalah gizi meliputi : pengetahuan tentang gizi yang relatif masih kurang, aktifitas fisik
yang tinggi, Pola makan yang tidak teratur, defisiensi besi karena mulai menstruasi pada
putri, dan obesitas.

C. Kebutuhan Gizi Dewasa


Kategori usia dewasa dibagi menjadi dua yaitu dewasa muda antara umur 18 – 30 tahun
dan dewasa tua umur > 30 thn.
Masalah Gizi Kurang pada dewasa adalah Kurang Energi Protein (KEP) dan anemia,
Masalah Gizi Lebih : Kelebihan BB dan Kegemukan. Kebutuhan kalori mulai berkurang pd
usia 25 thn,tergantung pada aktivitas fisik, jenis kelamin, dan massa tubuh. Zat besi
dibutuhkan oleh usia subur selama masa reproduksi, untuk menggantikan kehilangan selama
menstruasi, kehamilan, kelahiran dan menyusui. Kalsium juga berperan penting untuk
pertulangan, mengingat kehilangan kalsium dalam massa tulang berkurang pada masa usia
lanjut. Kebiasaan minum susu atau makan bahan makanan sumber kalsium cukup dianjurkan
pada usia dewasa. Pengaturan makanan yang baik adalah : makanan rendah lemak, makanan
rendah kolesterol, makanan lebih banyak serat, makan lebih banyak KH kompleks , hindari
alkohol, baca label makanan, gunakan lebih sering makanan sumber omega 3 dan kurangi
konsumsi gula.
D. Kebutuhan Gizi pada Usia Lanjut
Menurut World Health Organization (WHO), (2016) lansia dibagi menjadi usia
pertengahan (45-59), usia lanjut (6074), usia tua(75-90), dan usia sangat tua (>90).
Kecepatan metabolisme basal pada orang-orang berusia lanjut menurun sekitar 1520%,
disebabkan berkurangnya massa otot dan aktivitas. Bagi lansia komposisi energi sebaiknya
20-25% berasal dari protein, 20% dari lemak, dan sisanya dari karbohidrat. Kebutuhan kalori
untuk lansia laki-laki sebanyak 1960 kal, sedangkan untuk lansia wanita 1700 kal.
2.2.4 PENILAIAN STATUS GIZI
Status gizi dapat dinilai dengan dua cara, yaitu penilaian status gizi secara langsung
dan penilaian status gizi secara tidak langsung.
A. Penilaian Status Gizi Secara Langsung
Penilaian status gizi secara langsung dapat dilakukan dengan empat cara yaitu (Supariasa,
2002:19) :
1. Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut
pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam
pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan
tingkat gizi. Penilaian antropometri yang penting dilakukan ialah penimbangan
berat dan pengukuran tinggi badan, lingkar lengan, dan lipatan kulit triseps.
Penggunaan Antropometri secara umum : digunakan untuk melihat ketidak-
seimbangan asupan protein dan energi. Ketiakseimbangan ini dilihat pada pola
pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air
dalam tubuh. (Nyoman dkk., 2002).
2. Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi
masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan- perubahan yang terjadi yang
dihubungkan dengan ketidakcukupan gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel
seperti kulit, mata dan rambut (Nyoman dkk., 2002).
Penggunaan metode ini umumnya untuk survei klinis secara cepat. Survei ini
dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan
salah satu atau lebih zat gizi. Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat
status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sing) dan
gejala (symptm) atau riwayat penyakit (Nyoman., dkk, 2002).
3. Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji
secara laboratorium yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan
tubuh yang digunakan antara lain: darah, urin, tinja, dan juga beberapa jaringan tubuh
(Nyoman, dkk, 2002). Uji biokimia yang penting ialah pemeriksaan kadar
hemoglobin, pemeriksaan apusan darah untuk malaria, pemeriksaan protein (Arisman,
2009).
Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi
keadaan malnutrisi yang lebuh parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik,
maka penetuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukan
kekurangan gizi yang spesifik (Nyoman., dkk., 2002).
4. Biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi
dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat. perubahan
struktur dan jaringan. Penggunaannya yaitu dalam situasi tertentu seperti kejadian
buta senja epidemik. Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap (Nyoman.,
dkk, 2002).
B. Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung
Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga yaitu: survei konsumsi
makanan, statistik vital, dan faktor ekologi.
Pengertian dan penggunaan metode menurut Supariasa akan diuraikan sebagai berikut
(Supariasa, 2002:20):
1. Survei konsumsi makanan
Survei ini digunakan dalam menentukan status gizi perorangan atau kelompok.
Survei konsumsi makanan dimaksudkan untuk mengetahui kebiasaan makan atau
gambaran tingkat kecukupan bahan makanan dan zat gizi pada tingkat kelompok,
rumah tangga dan perorangan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Berdasarkan jenis data yang diperoleh, pengukuran konsumsi makanan
menghasilkan dua jenis data yaitu data kualitatif ( frekuensi makanan, dietary
history, metode telepon, dan daftar makanan) dan data kuantitatif ( ametode recall
24 jam, perkiraan makanan, penimbangan makanan, food account, metode
inventaris dan pencatatan).

2. Statistik Vital
Salah satu cara untuk mengetahui gambaran keadaan gizi di suatu wilayah
adalah dengan cara menganalisi statistik kesehatan. Dengan menggunakan
statistik kesehatan, kita dapat melihat indikator tidak langsung pengukuran status
gizi masyarakat. Beberapa statistik yang berhubungan dengan keadaan kesehatan
dan gizi antara lain angka kesakitan dan angka kematian, pelayanan kesehatan,
dan penyakit infeksi yang berhubungan dengan gizi.
a. Angka Kesakitan dan Angka Kematian
Angka kematian berdasarkan umur adalah jumlah kematian pada
kelompok umur tertentu terhadap jumlah rata-rata penduduk pada
kelompok umur tersebut setiap 1.000 penduduk. Manfaat data ini
mengetahui tingkat dan pola kematian menurut golongan umur dan
penyebabnya. Misalnya angka kematian umur 2-5 bulan, umur 1-4 tahun,
umur 13 – 24 bulan.
Angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu, angka
penyebab kematian pada umur 1-4 tahun merupakan informasi penting
untuk menggambarkan keadaan gizi di suatu masyarakat.
b. Pelayanan Kesehatan
Statistik layanan kesehatan misalnya Posyandu, Puskesmas, dan Rumah
Sakit.
c. Infeksi yang Relevan dengan Keadaan Gizi.
Statistik vital ini hanya berupa data pendukung, masih harus dikaji faktor-
faktor lain yang berhubungan sehingga status gizi dapat ditentukan dengan akurat.
Seperti metode yang lain statistik vital mempunyai kelemahan antara lain : data
tidak akurat, adanya kesulitan dalam mengumpulkan data, dipengaruhi oleh
kemampuan menginterpretasikan data secara tepat.

3. Faktor Ekologi
Gizi salah merupakan masalah ekolagi sebagai hasil yang saling
mempengaruhi dan interaksi beberapa faktor fisik, biologi, dan lingkungan
budaya. Faktor ekologi yang berhubungan dengan malnutrisi ada enam kelompok
yaitu, keadaan infeksi, konsumsi makanan, pengaruh budaya, sosial ekonomi,
produksi pangan, serta kesehatan dan pendidikan.

2.2.5 DASAR-DASAR DIET KLINIK


Diet memiliki arti sebagai pengaturan pola dan konsumsi makanan serta minuman
yang dilarang, dibatasi jumlahnya, dimodifikasi atau diperolehkan dengan jumlah tertentu
untuk tujuan terapi penyakit yang diderita, kesehatan atau penurunan berat badan.

Tujuan Penataan Diet Pada Orang Sakit


1.Mencegah timbulnya/ bertambah beratnya suatu penyakit
2.Mempersiapkan tindakan pengobatan
3.Mempercepat proses penyembuhan
4.Merupakansuatu terapi spt: Diet DM
Prinsip Dasar Pengaturan Diet Pasien
1.Diet merupakan bagian proses penyembuhan
2.Sedapat mungkin mendekati kebutuhan
3.Relatif fleksibel
4.Diutamakan melalui oral
5.Diet khusus diberikan indikasi kuat & sebaiknya cepat diganti.