Anda di halaman 1dari 33

PEMERIKSAAN SEDIMEN

URINE

Hari dan Tanggal Praktikum : Selasa, 16 Oktober 2018


I. TUJUAN
- Menemukan adanya unsur-unsur organic dan anorganik dalam urine

II. METODE
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan sedimen urin ini adalah secara Mikroskopik

III. PRINSIP
Urine mengandung elemen-elemen sisa hasil metabolism didalam tubuh, elemen
tersebut ada yang secara normal dikeluarkan secara bersama-sama urine tetapi ada pula
dikeluarkan pada keadaan tertentu. Elemen-elemen tersebut dapat dipisahkan dari urine
dengan jalan dicentrifuge. Elemen akan mengendap dana endapan dilihat dibawah
mikroskop.

IV. DASAR TEORI


Urin adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan
dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Ekskresi urin diperlukan untuk
membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga
hemostatis cairan tubuh. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju
kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra (Gandasoebrata, 2007).
a. Ciri-Ciri Urine normal
Jumlah urin normal rata-rata adalah 1-2 liter sehari, tetapi berbeda-beda
sesuai dengan jumlah cairan yang dimasukkan. Banyaknya bertambah pula bila
terlampau banyak protein yang dimakan, sehingga tersedia cukup cairan yang
diperlukan untuk melarutkan ureanya. Urin yang normal warnanya bening oranye
pucat tanpa endapan, baunya tajam, reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan
pH rata-rata 6, berat jenisnya berkisar dari 1003 sampai 1030, jumlah ekskresi
dalam 24 jam ± 1.500 cc tergantung dari masuknya (intake) cairan serta faktor
lainnya. Warna bening muda apabila dibiarkan akan menjadi keruh, warna kuning
tergantung dari kepekatan, diet obat-obatan dan sebagainya. Bau khas air kemih
bila dibiarkan terlalu lama maka akan berbau amoniak (Gandasoebrata, 2007).
Urinalisis merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium yang memeriksa
senyawa-senyawa yang terkandung di dalam urin. Pemeriksaan tersebut meliputi
pemeriksaan makroskopis, pemeriksaan mikroskopis dan pemeriksaan kimia.
Manfaat pemeriksaan urinalisis antara lain:
 Diagnostik infeksi saluran kemih
 Pemeriksaan batu ginjal
 Pemeriksaan ginjal
 Skrining kesehatan
 Evaluasi berbagai penyakit ginjal
 Memantau perkembangan penyakit ginja

b. Pemeriksaan Sedimen Urine


Pemeriksaan sedimen urin merupakan sebagian penting dalam pemeriksaan
penyaring. Pemeriksaan sedimen dapat memberi data mengenai saluran kemih
mulai dari ginjal sampai kepada ujung uretra yang tidak mungkin dapat diperoleh
dengan pemeriksaan lain. Cara untuk mengetahu adanya infeksi saluran kemih,
maka dilakukan pemeriksaan mikroskopis urin. Pemeriksaan sedimen urin
termasuk pemeriksaan rutin. Urin yang dipakai untuk itu adalah urin segar. Urin
yang paling baik untuk pemeriksaan sedimen ialah urin pekat yaitu urin yang
mempunyai berat jenis tinggi. Pemeriksaan sedimen urin ini diusahakan menyebut
hasil pemeriksaan secara semikuantitatif dengan menyebut jumlah unsur sedimen
yang bermakna berlapang pandang (Gandasoebrata, 2007).
Sedimen urin secara mikroskopis dapat diidentifikasikan sebagai unsur-
unsur yang terdapat dalam urin, keadaan normal sedimen urin mengandung unsur-
unsur dalam jumlah sedikit.
 Sirkulasi darah : sel darah putih, seldarah merah.
 Cemaran dari saluran kelamin : spermatozoa, sel epitel, silinder.
 Luar tubuh atau unsur asing : bakteri, fungi.
c. Pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis urin
Untuk mengetahui adanya infeksi saluran kemih, maka dilakukan
pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis urin.
a) Pemeriksaan makroskopis urin
Pemeriksaan makroskopis adalah pemeriksaan yang dilakukan
langsung dengan mata tanpa penambahan reagen atau zat kimia tertentu.
Pemeriksaan makroskopis meliputi pemeriksaan volume, warna,
kejernihan, bau, pemeriksaan derajat keasaman (pH) dan berat jenis.
1. Volume urin
Volume urin bermanfaat untuk menentukan adanya faal
ginjal,kelainan dalam keseimbangan cairan badan dan berguna untuk
menafsirkan hasil pemeriksaan kuantitatif dan semi kuantitatif urin.
Volume urin dewasa normal daerah tropis dalam 24 ja antara 800-1300 ml,
banyak faktor yang berpengaruh kepada diuresis seperti umur, berat badan,
kelamin, makanan dan miuman, suhu badan, iklim dan aktifitas seseorang
yang bersangkutan (Gandasoebrata, 2007).
2. Warna urin
Warna urin yang dikeluarkan tergantung dari konsentrasi dan sifat
bahan yang larut dalam urin. Warna urin dapat berubah oleh karena obat-
obatan, makanan, serta penyakit yang diderita. Warna urin normal putih
jernih, kuning muda tau kuning. Warna urin berhubungan dengan derasnya
diuresis (banyak kencing), lebih besar diuresis lebih condong putih jernih.
Warna urin kuning normal antara lain disebabkan oleh urokrom dan
urobilin. Keadaan dehidrasi atau demam, warna urin lebih kuning dan pekat
dari biasa ginjal normal (Gandasoebrata, 2007).
3. Kekeruhan
Urin yang baru dikemihkan biasanya jernih. Kekeruhan yang timbul
bila urin didiamkan beberapa jam disebabkan oleh berkembangnya kuman.
Kekeruhan ringan bisa disebabkan oleh nubecula. Infeksi saluran kemih,
urin akan keruh sejak dikemihkan yang disebabkan oleh lendir, sel-sel epitel
dan leukosit lama-lama mengendap (Gandasoebrata, 2007).
4. Bau urin
Normalnya bau tidak keras, urin normal beraroma seperti zat-zat
yang sudah dimakan.
5. Derajat keasaman urin (pH)
Derajat keasaman urin harus diukur pada urin baru, pH urin dewasa
normalnya adalah 4,6 – 7,5 pH urin 24 jam biasanya asam, hal ini
disebabkan karena zat-zat sisa metabolisme badan yang biasanya bersifat
asam.
6. Berat jenis urin (BJ urin)
Berat jenis urin yaitu mengukur jumlah larutan yang larut dalam
urin. Pengukuran BJ ini untuk mengetahui daya konsentrasi dan data dilusi
ginjal. Normal berat jenis urin adalah 1003 sampai 1030. Tingginya berat
jenis urin memberikan kesan tentang pekatnya urin, jadi bertalian dengan
faal pemekat ginjal (Gandasoebrata, 2007).
b) Pemeriksaan mikroskopis urine
Yang dimaksud dengan pemeriksaan mikroskopik urin yaitu pemeriksaan
sedimen urin. Pemeriksaan mikroskopis dilakukan dengan memutar (centrifuge)
urin lalu mengamati endapan urin di bwah mikroskop. tes ini bertujuan untuk
mengamati unsur-unsur organik (sel-sel: eritosit,leukosit,epitel), silinder,
silindroid, benang lendir; unsur anorganik (kristal,garam amorf); elemen lain
(bakteri, sel jamur, parasit, Trichomonas sp., spermatozoa). Pemeriksaan ini
menggunakan urin yang baru dikemihkan untuk menghindari perubahan morfologi
unsur sedimen.
Syarat-syarat pemeriksaan sedimen adalah:
 Urin baru, bila tidak bisa maka sebaiknya disimpan dalam kulkas maksimal 1
jam disimpan dengan diberi pengawet.
 Urin pagi,karena urin pagi lebih kental dan bahan-bahan yang terbentuk belu
rusak atau lisis.
 Botol penampung harus bersih dan hindari dari kontaminasi (Gandasoebrata,
2007).
 Eritrosit
Dalam keadaan normal,jumlah eritrosit 0 – 2 seleritrosit dalam urin.
Jumlah sel eritrosit yang meningkat menandakan adanya trauma atau
pendarahan pada ginjal dan saluran kemih, infeksi, tumor,batu ginjal.
 Leukosit
Dalam keadaan normal, jumlah leukosit dalam urin adalah 0 - 4 sel.
Peningkatan jumlah leukosit menunjukkan adanya peradangan,infeksi atau
tumor.
 Epitel
Ini adalah sel yang menyusun permukaan bagian dalam ginjal dan
saluran kemih. Sel-sel epitel hampir selalu ada dalam urin, apalagi yang
berasal dari kandung kemih (vesica urinary), urethra dan vagina.
 Silinder (cast)
Ini adalah mukoprotein yang dinamakan protein Tam Horsfal yang
terbentuk di tubulus ginjal. Terdapat beberapa jenis silinder, yaitu : silinder
hialin, silinder granuler, silinder eritrosit, silindir leukosit, silinder epitel
dan silinder lilin (wax cast). Silinder hialin menunjukkan kepadairitasi atau
kelainan yang ringan. Sedangkan silinder-silinder yang lainnya
menunjukkan kelainan atau kerusakan yang lebih berat pada tubulus ginjal.
 Kristal
Dalam keadaan fisiologik atau normal, garam-garam yang
dikeluarkan bersama urin (misalnya oksalat,asam urat, fosfat, cystin) akan
terkristalisasi (mengeras) dan sering tidak dianggap sesuatu yang berarti.
Pembentukan kristal atau garam amorf dipengaruhi oleh jenis makanan,
banyaknya makanan, kecepatan metabolisme dan konsentrasi urin
(tergantung banyak sedikitnya minum). Yang perlu diwaspadai jika kristal-
kristal tersebut ternyata berpotensi terhadap pembentukan batu ginjal. Batu
terbentuk jika konsentrasi garam-garam tersebut melampaui keseimbangan
kelarutan. Butir- butir mengendap dalam saluran urin, mengeras dan
terbentuk batu.
 Benang lender
Benang lendir ini didapat pada iritasi permukaan selaput lendir saluran.
V. ALAT DAN BAHAN
A. Alat
No. Nama Gambar Fungsi
1. Objek glass Sebagai tempat sampel yang
akan diamati di bawah
mikroskop

2. Cover glass Sebagai penutup objek glass

3. Mikropipet Untuk mengambil sampel


endapan urin

5. Pipet tetes Untuk mengambil sampel


endapan urin

6. Mikroskop Alat untuk mengamati


preparat

B. Bahan
No. Nama Gambar Keterangan
1. Sample Endapan Nama : I Gede Adi Wiguna
Urin I Tahun lahir : 2015
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Ciri-ciri sample :
- Berwarna bening putih
kekuningan

2. Sample Endapan Nama : AA Istri Seri


Urin II Darmayanti
Tahun lahir : 1975
Jenis Kelamin : Perempuan
Ciri-ciri sample :
- Berwarna bening putih
kekuningan

3. Sample Endapan Nama : Lindayani Hartono


Urin Khusus Tahun lahir : 1946
Jenis Kelamin : Perempuan
Ciri-ciri sample :
- Berwarna bening putih
kekuningan

VI. PROSEDUR KERJA


1. Menghomogenkan sampel urin terlebih dahulu, kemudian dipindahkan ke dalam
tabung centrifuge sebanyak 10 ml.
2. Mengcentrifuge dengan kecepatan relative rendah (sekitar 1500-2000 rpm) selama
5 menit
3. Tabung dibalik dengan cepat (decanting) untuk membuang supernatant sehingga
tersisa endapan kira-kira 0,2 – 0,5 ml
4. Meneteskan endapan keatas objek glass dan ditutupi dengan cover glass
5. Endapan pertama kali dipertiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran rendah
menggunakan lensa objektif 10x, disebut lapang pandang lemah ( LPL ) atau low
power field (LPF) untuk mengidentifikasi benda-benda besar seperti silinder dan
Kristal
6. Selanjutnya, pemeriksaan dilakukan dengan kekuatan tinggi menggunakan lensa
objektif 40x, disebut lapang pandang kuat (LPK) atau high power field (HPF) untuk
mengidentifikasi sel (eritrosit, leukosit, epitel), ragi, bakteri, trichomonas, filament
lender, sel sperma. Jika identifikasi silinder atau Kristal belum jelas, pengamatan
dengan lapang pandang kuat juga dapat dilakukan.

VII. NILAI NORMAL DAN INTERPRETASI


Dilaporkan Normal + ++ +++ ++++
Eritrosit/LPK 0-3 4-8 8-30 >30 Penuh
Leukosit/LPK 0-4 5-20 20-50 >50 Penuh
Silinder/Kristal
0-1 1-5 5-10 10-20 >30
/LPL

Keterangan :
 Khusus untuk kristal kalsium oksalat : + masih dinyatakan normal, ++ dan +++
sudah dinayatakan abnormal.

VIII. HASIL PENGAMATAN


Berdasarkan praktikum Pemeriksaan Sedimen Urin yang dilaksanakan hari Selasa
16, Oktober 2018 di Laboratorium Kimia Klinik, Jurusan Analis Kesehatan, Politeknik
Kesehatan Denpasar di dapatkan hasil di bawah ini :
Identifikasi Sampel 1.
Nama : I Gede Adi Wiguna
Umur : 3 Tahun
Jenis Kelamin : Laki- laki
Golongan : Balita/Anak-anak
Jenis Sampel : Urin
Viskositas : Cair
Warna : Kuning Pucat

Sedimen Pengamatan

Kriteria Jumlah
A. Organik Gambar
Lpb Lpk

Eritrosit Pada Urin Normal, Penuh Penuh


panjang 7 µ dan (++++) (++++)
tebal 2 µ. Bulat
berbatas tegas,
tampak bercahaya
kuning kehijauan 0-
1/Lpb.
Pada Urin
hipertonik
bergerigi, urin
hipertonik,
bengkak, mudah
lisis berwarna
Hitam. (ghost cell).
Leukosit < 5/Lpb (0-4), Penuh Penuh
bundar, batasnya (++++) (++++)
tepi kurang jelas
sitoplasma
bergranula
sitoplasma abu –
abu suram atau
hijau
kekuningandengan
inti berwarna gelap.
ɸ 10 – 12 µ. Urin
hipotonik leukosit
membengkak =
blitter cell.

Silinder Pada Urin Silinder Silinder/Hial


Normal Hialin : 0- in : 0-1/Lpb
Silinder 1/ Lpk (+)
Hialin : 0- (+)
2/Lpk

Bakteri Batang Bakteri Bakteri


Batang : Batang : 0-
0-3/Lpk 3/Lpb
(+) (+)
B. ANORGANIK
Asam urat Urin asam, (+); Penuh Penuh
seperti prisma, (++++) (++++)
kuning kecoklatan

Identifikasi Sampel 2.
Nama : A.A Sri Darmayanti
Umur : 45 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Golongan : Dewasa
Jenis Sampel : Urin
Viskositas : Cair
Warna : Kuning Pucat
Sedimen Pengamatan

Kriteria
Jumlah
A. Organik Gambar
Lpb Lpk

Eritrosit Pada Urin Normal, 0-3/Lpk 0-2/ Lpb


panjang 7 µ dan (Normal) (Normal)
tebal 2 µ. Bulat
berbatas tegas,
tampak bercahaya
kuning kehijauan
0-1/Lpb.
Pada Urin
hipertonik
bergerigi, urin
hipertonik,
bengkak, mudah
lisis berwarna
Hitam. (ghost
cell).
Leukosit < 5/Lpb (0-4), 0-1/Lpk 0-1/Lpb
bundar, batasnya Normal (Normal)
tepi kurang
jelassitoplasma
bergranula
sitoplasma abu –
abu suram atau
hijau
kekuningandengan
inti berwarna
gelap.
ɸ 10 – 12 µ. Urin
hipotonik leukosit
membengkak =
blitter cell.

Epitel Epitel: (+) tampak 0-5/Lpk 0-3/Lpb


datar, sitoplasma
luas, ireguler inti
besar
Dibagian
tengah.sering
dijumpai kurang
bermakna

B. ANORGANI
K
Asam urat Urin asam, (+); 0-2/Lpk 0-2/Lpb
seperti prisma, (+) (+)
kuning kecoklatan
Calsium (+);okta Penuh Penuh
oxalat hedral/amplop (++++) (++++)
mengkillat

Identifikasi Sampel Khusus


Nama : Lindayani Hartono
Umur : 72 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Golongan : Dewasa
Jenis Sampel : Urin
Viskositas : Cair
Warna : Kuning Pucat
Sedimen Pengamatan

Kriteria
Jumlah
A. Organik Gambar
Lpb Lpk

Eritrosit Pada Urin Normal, Penuh Penuh


panjang 7 µ dan (++++) (++++)
tebal 2 µ. Bulat
berbatas tegas,
tampak bercahaya
kuning kehijauan
0-1/Lpb.
Pada Urin
hipertonik
bergerigi, urin
hipertonik,
bengkak, mudah
lisis berwarna
Hitam. (ghost
cell).
Leukosit < 5/Lpb (0-4), 0-5/Lpk 0-3/Lpb
bundar, batasnya (Normal) (Normal)
tepi kurang
jelassitoplasma
bergranula
sitoplasma abu –
abu suram atau
hijau
kekuningandengan
inti berwarna
gelap.
ɸ 10 – 12 µ. Urin
hipotonik leukosit
membengkak =
blitter cell.
Silinder Pada Urin Silinder Silinder/Hiali
Normal Hialin : 0-3/ n : 0-3/Lpb
Silinder Lpk
Hialin : 0-
2/Lpk

B. ANORGANI
K
Calsium (+);okta 0-1/Lpk 0-1/Lpb
oxalat hedral/amplop (Normal) (Normal)
mengkillat

Berdasarkan praktikum Pemeriksaan Sedimen Urin yang dilaksanakan hari Selasa 30,
Oktober 2018 di Laboratorium Kimia Klinik, Jurusan Analis Kesehatan, Politeknik
Kesehatan Denpasar di dapatkan hasil di bawah ini :

Identifikasi Sampel Khusus.


Nama : Wayan Maria Suci
Umur : 43 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Golongan : Dewasa
Jenis Sampel : Urin
Viskositas : Cair
Warna : Kuning Pucat

Sedimen Pengamatan

Kriteria
Jumlah
A. Organik Gambar

Lpb
Eritrosit Pada Urin Normal,
panjang 7 µ dan
tebal 2 µ. Bulat
berbatas tegas,
tampak bercahaya
kuning kehijauan 0-
1/Lpb.
Penuh
Pada Urin hipertonik
(++++)
bergerigi, urin
hipertonik, bengkak,
mudah lisis
berwarna Hitam.
(ghost cell).

Pada sampel ini


terdapat eritrosit
dismorfik

Leukosit < 5/Lpb (0-4),


bundar, batasnya tepi
kurang jelas
sitoplasma
bergranula
sitoplasma abu – abu Penuh (++++)
suram atau hijau
kekuningandengan
inti berwarna gelap.

ɸ 10 – 12 µ. Urin
hipotonik leukosit
membengkak =
blitter cell.

Bakteri Batang

Bakteri Batang : 0-
1/Lpb

Epitel Sel epitel tubulus


ginjal berbentuk bulat
atau oval, lebih besar
dari leukosit,
mengandung inti
bulat atau oval besar,
bergranula dan
biasanya terbawa ke
0-3/Lpb
urin dalam jumlah
kecil.

Jumlah sel tubulus ≥


13 / LPK atau
penemuan fragmen
sel tubulus dapat
menunjukkan adanya
penyakit ginjal yang
aktif

Oval Fat Bodies oval fat bodies


merupakan tetesan
lemak yang berada
dalam lumen tubulus
yang menunjukkan
adanya disfungsi 0-8 / Lpb
disfungsi glomerulus
dengan kebocoran
plasma ke dalam urin
dan kematian sel
epitel tubulus

Identifikasi Sampel 2.
Nama :-
Umur :-
Jenis Kelamin : -
Golongan :-
Jenis Sampel : Urin
Viskositas : Cair
Warna : Bening

Sedimen Pengamatan

Kriteria
Jumlah
B. Organik Gambar

Lpb
Eritrosit Pada Urin Normal,
panjang 7 µ dan
tebal 2 µ. Bulat
berbatas tegas,
tampak bercahaya
0-2/Lpb
kuning kehijauan 0-
1/Lpb. (Normal)

Pada Urin hipertonik


bergerigi, urin
hipertonik, bengkak,
mudah lisis
berwarna Hitam.
(ghost cell).

Leukosit < 5/Lpb (0-4),


bundar, batasnya tepi
kurang
jelassitoplasma
bergranula
sitoplasma abu – abu
0-1/Lpb
suram atau hijau
kekuningandengan (Normal)
inti berwarna gelap.

ɸ 10 – 12 µ. Urin
hipotonik leukosit
membengkak =
blitter cell.
Epitel Sel epitel tubulus
ginjal berbentuk bulat
atau oval, lebih besar
dari leukosit,
mengandung inti
bulat atau oval besar,
bergranula dan
biasanya terbawa ke
urin dalam jumlah
0-5/Lpb
kecil.

Jumlah sel tubulus ≥


13 / LPK atau
penemuan fragmen
sel tubulus dapat
menunjukkan adanya
penyakit ginjal yang
aktif

Oval Fat Bodies oval fat bodies


merupakan tetesan
lemak yang berada
dalam lumen tubulus
yang menunjukkan
adanya disfungsi 0-3 / Lpb
disfungsi glomerulus
dengan kebocoran
plasma ke dalam urin
dan kematian sel
epitel tubulus

C. ANORGANIK
Asam urat Urin asam, (+);
seperti prisma,
kuning kecoklatan 0-4/Lpb

(+)

Identifikasi Sampel 4
Nama :-
Umur :-
Jenis Kelamin :-
Golongan :-
Jenis Sampel : Urin
Viskositas : Cair
Warna : Bening

Sedimen Pengamatan

Kriteria
Jumlah
D. Organik Gambar

Lpb

Eritrosit Pada Urin Normal,


panjang 7 µ dan
tebal 2 µ. Bulat
berbatas tegas, 0-2 /Lpb
tampak bercahaya
kuning kehijauan 0-
1/Lpb.
Pada Urin hipertonik
bergerigi, urin
hipertonik, bengkak,
mudah lisis
berwarna Hitam.
(ghost cell).

Leukosit < 5/Lpb (0-4),


bundar, batasnya tepi
kurang
jelassitoplasma
bergranula 0-2/Lpb
sitoplasma abu – abu
(Normal)
suram atau hijau
kekuningandengan
inti berwarna gelap.

ɸ 10 – 12 µ. Urin
hipotonik leukosit
membengkak =
blitter cell.

Silinder Pada Urin


Normal
Silinder Silinder/Hialin : 0-
Hialin : 0- 1/Lpb
2/Lpk
Oval Fat Bodies oval fat bodies
merupakan tetesan
lemak yang berada
dalam lumen tubulus
yang menunjukkan
adanya disfungsi 0-4 / Lpb
disfungsi glomerulus
dengan kebocoran
plasma ke dalam urin
dan kematian sel
epitel tubulus

E. ANORGANIK

Asam urat Urin asam, (+);


seperti prisma, 0-2/Lpb

kuning kecoklatan
(+)

IX. PEMBAHASAN
Urin adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan
dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Urine adalah suatu larutan kompleks
yang mengandung bahan-bahan organik dan anorganik sisa dari metabolisme tubuh yang
di filtrasi oleh gamerolus ginjal dan dikeluarkan dari tubuh melalui saluran kemih. Ekskresi
urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh
ginjal dan untuk menjaga hemostatis cairan tubuh. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa
melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra
(Gandasoebrata, 2007).
Unsur-unsur sedimen dibagi 2 yaitu :
 Golongan organik yang berasal dari suatu organ atau jaringan contohnya : Sel
epitel, silinder, leukosit, eritrosit, spermatozoa, potongan-potongan jaringan,
bakteri, jamur, dan parasit.
 Golongan anorganik yaitu bahan yang berassal dari suatu jaringan contohnya :
bahan amorf, Kristal-kristal dalam urin.
Pemeriksaan mikroskopis urine yaitu pemeriksaan sedimen urine. Pemeriksaan
mikroskopis urine penting untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal dan saluran
kemih, serta berat atau ringannya suatu penyakit. Urine yang dipakai adalah urine sewaktu
yang segar atau urine yang dikumpulkan dengan pengawet formalin. Pemeriksaan sedimen
urine dilakukan dengan memakai lensa objektif kecil ( 10 X ) yang dinamakan lapang
pandang kecil atau Lpk. Selain itu dipakai lensa objektif besar ( 40 X ) yang dinamakan
lapang pandang besar atau Lpb. Jumlah unsur sedimen bermakna dilaporkan secra semi
kualitatif, yaitu jumlah rata-rata per Lpk untuk silinder dan Lpb untuk eritrosit dan leukosit.
(Melinda Ayu. 2011).
Urinalisis adalah pemeriksaan sampel urin secara makroskopis, kimia, dan
mikroskopik. Tes makroskopis meliputi warna, kejernihan, pH, berat jenis, bau, dan
pengukuran volume. Tes mikroskopis yang diperiksa adalah sedimen urin dengan
menggunakan mikroskop, sedangkan tes kimia dilakukan dengan menggunakan carik
celup yang dilakukan secara manual maupun dengan menggunakan alat urin analyzer.
Adapun tes khusus meliputi tes biakan urin, protein kualitatif 24 jam, hemosiderin urin,
oval fat bodies, dan lain – lain sesuai kebutuhan khusus (8). Sedimen urin adalah
unsurunsur yang tidak larut di dalam urin yang berasal dari darah, ginjal, dan saluran kemih
seperti eritrosit, lekosit, sel epitel, torak, bakteri, kristal, jamur dan parasit. Tes sedimen
urin atau tes mikroskopis dipergunakan untuk mengidentifikasi unsur-unsur sedimen
sehingga dipakai untuk mendeteksi kelainan ginjal dan saluran kemih, selain itu tes
sedimen urin dapat juga dipakai untuk memantau perjalan penyakit ginjal dan saluran
kemih setelah pengobatan (8). Tes sedimen urin dapat menggunakan metode Shih-Yung
yang merupakan metode penentuan sedimen urin yang menunjukkan ketelitian dan
ketepatan yang lebih baik dibandingkan dengan cara semi kuantitatif, mengurangi
penularan penyakit karena penggunaan tabung sentrifus, kamar hitung sekali pakai
(disposible). Selain itu, metode ShihYung memberikan pelaporan secara kuantitatif. Pada
tes sedimen urin volume sampel urin yang dibutuhkan menurut standar adalah 12 ml,
setelah disentifugasi secara otomatis tersisa ±0,6 ml sedimen urin. (Neuzil, 2006)
Pembentukan urin di dalam nefron melalui 3 fase yaitu; pertama, ultrafiltrasi yang
menghasilkan urin primer. Kedua, reabsorpsi komponen-komponen bermolekul kecil.
Ketigasisa dari penyerapan dialirkan kepapila renalis dan diekskresikan. Oliguria (volume
urin berkurang) ditemukan pada keadaan antara lain demam, glomerulonefritis akut, gagal
ginjal kronis dan infeksi saluran kemih. (Neuzil, 2006)
Cara yang dilakukan adalah menyiapkan sampel urin. Lalu sampel urin yang telah
dimasukkan ke dalam masing-masing tabung plastik dan ditutup dengan penutupnya.
Kemudian, di sentrifugasi 1500 rpm selama 5 menit. Dibuang supernatan dengan cara
membalikkan tabung dan secara otomatis urin tersisa ±0,6 ml sebagai sedimen.
Ditambahkan 1 tetes pewarna sedimen lalu dilakukan resuspensi sedimen urin dengan cara
mengetukkan jari perlahan pada dinding tabung. Diteteskan 1 tetes sedimen dengan
menggunakan pipet penetes ke dalam kamar hitung. Dilakukan pemeriksaan sedimen di
bawah mikroskop, unsur sedimen dihitung pada 4 bidang sedang dengan menggunakan
pembesaran 10 x untuk menghitung silinder dan pembesaran 40 x untuk menghitung sel.
(Neuzil, 2006)
Unsur – unsur sedimen yang kurang bermakna, seperti : epitel atau kristal cukup
dilaporkan dengan ( + ) ada, ( ++ ) banyak, dan ( +++ ) banyak sekali. Lazim nya unsur –
unsur sedimen dibagi atas dua unsur yaitu unsur organik dan unsur anorganik dan unsur
organik. Unsur anorganik ialah unsur yang berasal dari suatu organ atau jaringan, seperti
asam urat, amorf, dan kristal sedangkan unsur organik ialah unsur-unsur yang berasal dari
suatu organ seperti : epitel, eritrosit, leukosit, silinder, potongan jaringan,sperma, bakteri,
parasit, epitel renal dan transisional, lemak, jamur dan trichomonas. (Neuzil, 2006)
Berdasarkan hasil praktikum pemeriksaan sedimen urine yang dilaksanakan pada
hari Jumat, Selasa 16 Oktober 2018 di Laboratorium Kimia Klinik Jurusan Analis
Kesehatan Poltekkes Denpasar. Pada sampel 1 ditemukan eritrosit penuh/LPK (++++),
leukosit penuh/LPK (++++), kristal asam urat penuh/LPK (++++), hialin 0-1/LPK (+),
bakteri batang 0-3/LPK (+). Pada sampel satu tidak ditemukan adanya sel epitel. Pada
sampel 2 ditemukan eritrosit penuh/LPK (++++), leukosit 0-1/LPK (+), kristal asam urat
0-2/LPK (+), kristal kalsium oksalat penuh/LPK (++++), sel epitel 0-5/LPK (+). Pada
sampel 3 ditemukan eritrosit penuh/LPK (++++), leukosit 0-5/LPK (+), kristal kalsium
oksalat 0-1/LPK (+), hialin 0-3/LPK (+). Jika dilihat dari hasil pengamatan pasien dengan
sampel 1,2,3 mengalami hematuria. Dapat diartikan pada sampel mengalami hematuria
karena terdapat eritrosit dalam urine. Terdapat leukosit mengindikasi terjadinya piuria.
Adanya eritrosit atau leukosit didalam sedimen urine mungkin terdapat didalam
urine wanita yang haid atau berasal dari saluran kemih. Dalam keadaan normal, tiadak
dijumpai adanya eritrosit dalam sedimen urine, sedangkan leukosit hanya terdapat 0 – 5 /
Lpk dan pada wanita dapat pula karena kontaminasi dari genitalia. Adanya eritroisit dalam
urine disebut Hematuria. Hematuria dapat disebabkan oleh pendarahan dalam saluran
kemih, sperti infark ginjal, nephorolithiasis, infeksi saluran kemih, dan penyakit dengfan
diatesa hemoragik. Terdapatnya jumlah leukosit dalam jumlah banyak didalam sedimen
urine disebut Piuria. Keadaan ini sering dijumpai padfa infeksi saluran kemih, atau
kontaminasi dengan sekret vagina pada penderita dengan fluor lobus. (Neuzil, 2006)
Silinder adalah endaopan protein yang terbentuk didalam tubulus ginjal,
mempumyai matriks berupa glikoprotein ( protein tamm horsfall ) dan kadang-kadang
dipermukaannya terdapat leukosit, eritrosit dan epitel. Pembemntukan silinder
duipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain : osmolalitas, volume, pH, dan adanya
glikoprotein yang disekresi oleh tubulus ginjal. Dikenal bermacam-macam silinder yang
berhubungan erat dengan berat atau ringannya penyakit ginjal. Banyak peneliti setuju
bahwea dalam keadaan normal biisa didapatkan sedikit eritrosit, leukosit, dan silinder
hialin. Terdapatnya silinder selular sperti silinder leukosit, silinder eritrosit dan silinder
epitel dan silinder berbutir selalu menunjukan pada penyakit serius. Pada pielonefritis
dapat dijumpai silinder leukosit dan pada glimerulonefritis akut dapat ditemukan silinder
eritrosit.sedangkan pada penyakit ginjal yang berjalan lanjut dapat ditemukan siluinder
hialin dan silinder berbutir. (Asriyani et al., 2016)
Kristal didalam urine tidak ada hubungan langsung dengan batu didalam saluran
kemih. Kristal asam urat, kalsium oksalat,triple fosfat, dan bahan amorf merupakan kristal
yang sering ditemukan didalam sedimen dan tidak mempunyai arti, karena kristal-kristal
tersebut merupakan hasil metabolisme tubuh yang normal. Tardapatnya unsur-unsur
tersebut tergantung banyaknya makanan yang dikomsumsi, kecepatan matbolisme dalam
tubuh, dan kepekatan urine. Disamping itu, mungkin didapatkan kristal lain yang didapat
dari obat-obatan seperti : kristal tirosin dan kristal leucin. (Asriyani et al., 2016)
Epitel merupakan unsur organik yang ada dalam keadaan normal didapatkan dalam
sedimen urine. Dalam keadaan patologis, jumlah epitel ini mengikat seperti pada infeksi,
radang, batu dalam saluran kemih. Pada sindrom nefrotik didalam sedimen urine mungkin
didapatkan oval fat bodies. Ini merupakan epitel tubulus ginjal yang mengalami degenerasi
lemak. (Asriyani et al., 2016)
Adapun faktor – faktor kesalahan pada praktikum ini yang mmungkinkan
terjadinya hasil yang tidak akurat yaitu : Spesimen urine yang ideal adalah urine pancaran
tengah (midstream), di mana aliran pertama urin dibuang dan aliran urine selanjutnya
ditampung dalam wadah yang telah disediakan. Pengumpulan urine selesai sebelum aliran
urine habis. Aliran pertama urine berfungsi untuk menyiram sel-sel dan mikroba dari luar
uretra agar tidak mencemari spesimen urin. (Cholacha, Acef. 2010).

X. SIMPULAN
Berdasarkan hasil Praktikum Pemeriksaan Sedimen Urine yang dilaksanakan pada
hari Selasa, 16 Oktober 2018, di Laboratorium Kimia Klinik Jurusan Analis Kesehatan
Poltekkes Denpasar. didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
 Urin adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan
dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Urine adalah suatu larutan
kompleks yang mengandung bahan-bahan organik dan anorganik sisa dari
metabolisme tubuh yang di filtrasi oleh gamerolus ginjal dan dikeluarkan dari tubuh
melalui saluran kemih. Ekskresi urin diperlukan untuk membuang molekul-
molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga hemostatis
cairan tubuh. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung
kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.
 Pada sampel 1 ditemukan eritrosit penuh/LPK (++++), leukosit penuh/LPK
(++++), kristal asam urat penuh/LPK (++++), hialin 0-1/LPK (+), bakteri batang 0-
3/LPK (+). Pada sampel satu tidak ditemukan adanya sel epitel. Pada sampel 2
ditemukan eritrosit penuh/LPK (++++), leukosit 0-1/LPK (+), kristal asam urat 0-
2/LPK (+), kristal kalsium oksalat penuh/LPK (++++), sel epitel 0-5/LPK (+). Pada
sampel 3 ditemukan eritrosit penuh/LPK (++++), leukosit 0-5/LPK (+), kristal
kalsium oksalat 0-1/LPK (+), hialin 0-3/LPK (+).
 Adapun faktor – faktor kesalahan pada praktikum ini yang mmungkinkan
terjadinya hasil yang tidak akurat yaitu : Spesimen urine yang ideal adalah urine
pancaran tengah (midstream), di mana aliran pertama urin dibuang dan aliran urine
selanjutnya ditampung dalam wadah yang telah disediakan. Pengumpulan urine
selesai sebelum aliran urine habis. Aliran pertama urine berfungsi untuk menyiram
sel-sel dan mikroba dari luar uretra agar tidak mencemari spesimen urin
DAFTAR PUSTAKA

Asriyani. 2016. Diperiksa, Y., Dari, K., Dan, J. A. M., Dari, L., Pada, J. A. M., &
Suspek, P. Perbedaan Hasil Pemeriksaan Sedimen Urine Yang Diperiksa
Kurang Dari 1 Jam Dan Lebih Dari 1 Jam Pada Pasien Suspek Infeksi Saluran
Kemih. Tersedia pada : http://repository.poltekkes-kdi.ac.id/239/1/KTI WA
ODE ASRIYANI.pdf. Diakses pada 16 Oktober 2018
Fauzyyah, A. 2017. Infeksi Saluran Kemih. Tersedia pada :
repository.unimus.ac.id/351/3/BAB%202.pdf. Diakses pada 16 Oktober 2018
Gandasoebrata. 2007. Penuntun Laboratorium Klinik. Tersedia pada :
repository.unimus.ac.id/351/3/BAB%202.pdf. Diakses pada 16 Oktober 2018
Junita Sari, Fitri. 2010. Makalah Urinalisis. Tersedia pada:
http://www.academia.edu/9451620/makalah_urinalisis diakses pada 16
Oktober 2018.
Melinda Ayu. 2011. Laporan Praktikum Kimia Klinik Dasar Urin.Tersedia di
:http://www.academia.edu/34900876/Laporan_Praktikum_Kimia_Klinik_Das
ar_Urin diakses pada 16 Oktober 2018.
Neuzil, P. (2006). Pemeriksaan Sedimen Urine. Tersedia pada : Nucleic Acids Research,
34(11), e77–e77. Diakses pada 16 Oktober 2018.
LAPORAN PRAKTIKUM URINALISA DAN CAIRAN DALAM TUBUH

PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN

SEDIMEN URINE

OLEH :
KELOMPOK 2
TINGKAT II A

NAMA KELOMPOK

Ni Kadek Wiraningsih (P07134017007)


Luh Intan Wijayanti (P07134017013)
Ni Luh Made Andriyani (P07134017015)
Made Dwi Priska Dana (P07134017030)
IGA Manik Diantari Prawerti (P07134017039)
KEMENTRIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2018

Anda mungkin juga menyukai