Anda di halaman 1dari 186

PT Trakindo Utama

Training Center Cileungsi

Next Step Ahead for Human Resources Development


ELEKTRIK & ELEKTRONIK
BUKU PANDUAN SISWA

TRAINING CENTER CILEUNGSI

Jl. Raya Narogong KM. 19 Cileungsi - Bogor 16820


Phone: +6221 8233361
Fax: +6221 8233360

i
i
ii
Trakindo Utama Training Center Service Technician Module

Elektrik & Elektronik

Diterbitkan oleh:
Training Center Dept. PT Trakindo Utama
Jl. Narogong Raya Km. 19 Cileungsi
Bogor 16820
INDONESIA
Mei 2009

Ucapan Terima Kasih


Terimakasih kepada semua fihak untuk kontribusi yang telah diberikan untuk program ini, khususnya:
 Para staf dan Instructor Training Center Dept. Trakindo Utama, Indonesia
 Caterpillar Inc., USA

ii
iiii
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

TOPIK 1
ELECTRICAL SCHEMATIC
PENDAHULUAN

Gambar 1.1

Seorang serviceman yang sering bekerja dalam bidang elektrik harus memahami beberapa hal
pokok agar memudahkan dalam pekerjaannya. Hal-hal pokok tersebut adalah:

1. Mampu membaca dan mengerti skematik elektrik.


2. Mengetahui dan mendiagnosa komponen-komponen dan sistem elektrik.
3. Mampu menggunakan alat-alat ukur/diagnostik elektrik.
4. Dapat mencari sumber-sumber literature yang sesuai dengan materi elektriknya.

Skematik biasanya berupa gambar-gambar garis yang menjelaskan bagaimana sistem bekerja
dengan menggunakan simbol dan garis penghubung. Simbol digunakan untuk mewakili sistem
elektrik dan elektronik yang sederhana maupun yang rumit. Simbol skematik digunakan oleh
Caterpillar untuk tujuan mendiagnosa kelistrikan. Walaupun terdapat banyak simbol kelistrikan
digunakan pada diagram rangkaian, ilustrasi di atas menunjukkan beberapa simbol kelistrikan
Caterpillar yang umum digunakan.

Skematik digunakan oleh teknisi untuk menentukan bagaimana sistem bekerja dan membantu
mereka untuk memperbaiki kerusakan sistem yang sedang terjadi. Simbol skematik menampilkan
banyak informasi pada ruangan yang terbatas dan pembacaan simbol skematik memerlukan
keterampilan yang tinggi dan latihan. Pendekatan yang logis dan tahap demi tahap dalam
menggunakan diagram skematik untuk proses troubleshooting dimulai dengan pemahaman
teknisi terhadap keseluruhan sistem.

1
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

INFORMASI BAGIAN DEPAN SKEMATIK

Gambar 1.2

Beberapa informasi di bagian sisi depan adalah:


1. Code warna untuk identifikasi circuit
2. Code singkatan warna
3. Deskripsi simbol
4. Informasi wiring harness
5. Note dan kondisi schematic
6. Desain Grid (posisi) untuk komponen lokasi
7. Part Number komponen

Skematik kelistrikan Caterpillar berisi informasi yang sangat berharga. Informasi ini dicetak pada
kedua sisi (halaman bagian depan dan belakang) dari lembaran skematik. Teknisi harus
mempunyai keahlian dalam membaca dan menterjemahkan semua informasi yang terdapat pada
lembaran skematik ini.

INFORMASI BAGIAN BELAKANG SKEMATIK

Gambar 1.3

Beberapa informasi di bagian sisi belakang adalah:


8. Identifikasi dan simbol harness dan wire
9. Definisi simbol
10. Service manual electric yang berhubungan
11. Tabel lokasi konector harness
12. Spesifikasi switch mesin
13. Lokasi komponen & connector di mesin
14. Daftar Komponen Identifikasi (CID) dan konversi Flash kode
15. Tabel lokasi Komponen
2
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

16. Spesifikasi Resistor & Solenoid


17. Daftar Failure Mode Identifikasi (FMI)
JENIS-JENIS DASHED LINE
Berikut ini adalah jenis-jenis dashed line yang digunakan pada skematik:
1. Dashed line (garis putus-putus) yang berwarna menunjukkan attachment sirkuit. Gunakan
kode identifikasi warna yang terletak pada skematik untuk mengetahui rangkaian yang
diwakili oleh warna tersebut.
2. Heavy double dashed line (garis putus-putus ganda) mengidentifikasi rangkaian dan
komponen yang terletak pada ruang operator.
3. Dashed line yang tipis dan berwarna hitam digunakan untuk menunjukkan attachment, wire,
cable, atau komponen (lihat penjelasan simbol pada skematik).

FORMAT PENULISAN SCHEMATIC


Beberapa gambar di bawah ini menerangkan tentang format baru untuk skematik yang dipakai
Caterpillar.

1 . Format penulisan connector

Gambar 1.4

Beberapa Caterpillar mesin menggunakan schematic format baru. Format baru disebut PRO/E
dan menyediakan tambahan informasi untuk wire, connector, komponen dan splice symbol.

“H”, ”G” adalah Harness identifikasi, “C” kepanjangan dari connector, “7” adalah Nomor connector
pada harness, 3E3382/ 3E3379 adalah Part No Connector.

2 . Format penulisan wire

Gambar 1.5

3
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Label menjelaskan Nomer Wire (169), Kode Harness (H), Nomer Wire di dalam Harness (5),
Kode Warna (PK), AWG/Ukuran Wire (18).

3 . Format penulisan component

Gambar 1.6

Pada model lama label menunjukkan Nama dan Part No Komponen. Sedangkan pada PRO/E
format menunjukkan Huruf identifikasi Harness (H). Kode serial (P-12) dimana “P” singkatan untuk
“Part”, “12 “ adalah posisi harness (part nomer 12 di dalam Harness “H”) dan komponen Part No
(1138490).

4 . Format penulisan splice

Gambar 1.7

Format PRO/E untuk sambungan menggunakan dua titik sambungan untuk menunjukkan pada sisi
mana wire tersebut keluar. Simbol sambungan sebelumnya menggunakan ‘dot’ (titik) sederhana
untuk menunjukkan suatu sambungan. Format baru menunjukkan bahwa harness “G”, wire 405-G9
GY-16 disambungkan pada dua wire, “405-G7 GY-18” dan “405-G14 GY-18”.

Note: Kode-kode di atas merupakan contoh-contoh dari sistem identifikasi baru. Gunakan skematik
listrik yang tepat untuk informasi yang lengkap dan akura

4
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

TOPIK 2
STARTING SYSTEM
PENDAHULUAN

Gambar 2.1

Starting sistem merupakan salah satu sistem yang digunakan untuk memutar engine pertama
kali. Terdapat dua macam staring system yang digunakan oleh Caterpillar, yaitu Electric Starting
System dan Air Starting System. Pada pelajaran ini akan dibahas starting system yang
menggunakan sistem electric untuk menghidupkan engine.

Gambar 8 diatas menunjukkan rangkaian electric starting system. Ketika starter switch diaktifkan,
arus yang kecil mengalir dari baterai ke solenoid dan kembali ke baterai melalui ground. Solenoid
mempunyai fungsi ganda, yaitu menghubungkan pinion dengan flywheel dan menggerakkan
switch (kontaktor) di dalam solenoid antara baterai dan starter motor, sehingga arus yang besar
mengalir dari battery ke starter motor.

Starter motor mengambil energi listrik dari baterai dan mengubahnya ke dalam energi mekanik
untuk memutar flywheel saat engine di-start.

Motor starter sama dengan motor listrik lainnya, dimana gaya putar diperoleh dari interaksi gaya-
gaya magnet di dalam motor itu sendiri.

5
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

PRINSIP KERJA STARTER MOTOR

Prinsip Kerja Kemagnetan

Gambar 2.2

Sebelum mempelajari prinsip dasar starter motor beberapa prinsip dasar magnet perlu diulas
kembali. Prinsip-prinsip ini antara lain adalah:
 Kutub yang sama tolak menolak, kutub yang berbeda tarik menarik.
 Garis-garis fluks magnet merupakan garis berlanjut yang menghasilkan gaya magnet.
 Konduktor penghantar arus memiliki medan magnet yang mengelilingi konduktor tersebut
dalam arah yang ditentukan oleh aliran arus.

Jika sebuah konduktor dialiri arus yang terus menerus, maka akan terbentuk medan magnet.
Sebuah magnet permanen memiliki medan pada kedua kutubnya. Pada saat konduktor yang
menghantarkan arus diletakkan dalam medan magnet permanen, maka akan timbul gaya yang
dihasilkan pada konduktor karena medan magnet tersebut. Jika konduktor terbentuk dalam
sebuah lilitan dan ditempatkan dalam medan magnet, maka Hasilnya adalah sama. Karena aliran
arus berada dalam arah yang berlawanan dengan koil, salah satu akan terdorong ke atas dan sisi
lainnya terdorong ke bawah. Hal ini akan membuat efek rotasi atau torsi pada koil (Gambar 9).

Pole Piece

Gambar 2.3

Pole Piece dalam kerangka suatu medan dapat ditunjukkan sebagai ujung sebuah magnet. Jarak
antara kutub inilah yang merupakan medan magnet (Gambar 2.3).

6
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Field Winding (Kumparan Medan)

Gambar 2.4

Jika sebuah kawat, yang disebut field winding, dililitkan di antara Pole Piece dan dialiri arus,
kekuatan medan magnet di antara kedua kutub akan meningkat (Gambar 2.4).

Gambar 2.5

Jika sebuah arus dialirkan dari sumber baterai ke sebuah lilitan maka akan terbentuk medan
magnet disekeliling kawat.

Armatur Sederhana

Gambar 2.6

Jika suatu lilitan kawat diletakkan pada medan magnet antara dua kutub (pole piece) dan dialiri
arus, maka akan terbentuk sebuah armature sederhana. Medan magnet di sekitar lilitan dan
medan magnet antara kutub akan tolak menolak, yang menyebabkan lilitan tersebut berputar
(Gambar 2.6) .

7
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Commutator dan Brush

Gambar 2.7

Commutator dan brush digunakan untuk menjaga agar motor tetap berputar dengan cara
mengendalikan aliran arus yang melalui kumparan (Gambar 2.7). Commutator berfungsi sebagai
timing pengatur aktifnya kumparan dan penyambung listrik antara kumparan dan brush.
Commutator memiliki banyak segmen, yang saling terisolasi satu dengan lainnya. Brush
bergesekan dengan commutator dan mengalirkan arus dari baterai ke kumparan. Ketika
kumparan berputar menjauhi segmen brush, segmen commutator merubah aliran listrik antara
brush dan kumparan. Hal ini akan membalikkan medan magnet pada sekeliling kumparan.
Kumparan akan tertarik kembali melalui kutub yang lain. Hubungan listrik yang berubah terus-
menerus akan membuat motor berputar. Sebuah gerakan tarik dan dorong secara terus-menerus
dibuat ketika setiap lilitan bergerak di dalam kutub. Banyaknya kumparan dan commutator
digunakan untuk meningkatkan daya motor dan kehalusan gerakan. Setiap kumparan
dihubungkan dengan segmen tersendiri pada commutator. Pada saat motor berputar, kumparan
memberikan dorongan gerakan tersebut dengan menghasilkan gaya putar yang halus dan
konstan.

KONSTRUKSI STARTER MOTOR


Armature (Rotor)

Gambar 2.8

Starter motor, berbeda dengan motor listrik sederhana. Starter motor dapat menghasilkan torsi
yang sangat besar pada kecepatan yang relatif tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah sistem
untuk mendukung lilitan serta untuk meningkatkan kekuatan setiap medan magnet pada lilitan
tersebut. Sebuah starter armature (Gambar 15) terdiri atas armature shaft, armature core,
commutator dan armature winding. Starter motor shaft menopang armature pada saat armature
tersebut berputar dalam housing. Commutator diletakkan pada salah satu ujung armature shaft.
Armature core menahan lilitan pada tempatnya. Armature core terbuat dari besi untuk
meningkatkan kekuatan medan magnet yang dihasilkan oleh lilitan.

8
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Field Winding (Stator)

Gambar 2.9

Field winding (Gambar 2.9) adalah sebuah kawat (fixed) terisolasi yang digulung dengan bentuk
melingkar, dan menciptakan medan magnet yang kuat di sekitar motor armature. Pada saat arus
mengalir melalui kumparan, medan magnet antara kutub menjadi sangat besar. Medan tersebut
dapat berkisar 5 hingga 10 kali medan magnet permanen. Pada saat medan magnet di antara
sepatu kutub tolak menolak dengan medan yang dihasilkan armature maka motor akan berputar
dengan daya besar.

KARAKTERISTIK STARTER MOTOR

Starter motor adalah motor listrik berkapasitas tinggi dengan intermittent duty yang cenderung
memiliki karakteristik spesifik operasi:
 Jika motor tersebut diperlukan untuk memberikan daya pada komponen mekanik (atau
beban) tertentu, motor tersebut akan mengkonsumsi sejumlah daya.
 Jika beban tersebut dihilangkan, kecepatan akan meningkat dan arus akan turun.
 Jika beban ditambah, kecepatan akan menurun dan arus akan meningkat. Starter motor
memiliki resistansi yang rendah dan arus yang tinggi.

Jumlah torsi yang dihasilkan oleh sebuah motor listrik meningkat seiring dengan peningkatan
arus yang mengalir. Starter motor dirancang untuk beroperasi dalam periode waktu yang singkat
dengan beban yang ekstrim. Stater motor menghasilkan horse power yang sangat besar.

Counter Electromotive Force (CEMF)


Bertanggung jawab terhadap perubahan aliran arus jika kecepatan berubah. CEMF
meningkatkan resistansi aliran arus dari baterai melalui motor starter ketika kecepatan motor
starter meningkat. Hal ini terjadi karena pada saat konduktor dalam armature dipaksa berputar,
konduktor memotong medan magnet yang diciptakan oleh field winding. Hal ini akan menginduksi
suatu gaya yang menciptakan tegangan lawan pada armature yang melawan tegangan baterai.
Tegangan ini meningkat jika kecepatan armature meningkat. Hal ini mengendalikan kecepatan
serta mencegah kecepatan bebas yang terlalu tinggi.

Walaupun sebahagian motor listrik memiliki beberapa bentuk perangkat perlindungan arus pada
rangkaiannya, tapi starter motor tidak memilikinya. Ada beberapa yang memiliki perlindungan
temperatur dengan menggunakan switch termostatik yang sensitif terhadap panas. Switch
termostatik terbuka pada saat suhu motor starter naik karena arus crank yang terlalu tinggi,
switch menutup secara otomatis pada saat dingin kembali.
Switch tersebut dikategorikan sebagai motor operasi alternatif. Jika digunakan sebagai motor
yang beroperasi terus-menerus maka ukurannya akan hampir sebesar ukuran mesin itu sendiri.
Karena tuntutan torsi yang tinggi pada motor starter, sejumlah panas akan dihasilkan selama
operasi. Operasi starter motor yang terlalu lama akan menyebabkan kerusakan internal karena
panas. Semua komponen rangkaian listrik, starter motor merupakan perangkat keras yang dapat
menahan arus yang tinggi saat beroperasi.

9
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Jika beban yang diterima lebih besar maka diperlukan daya yang lebih besar pula untuk
beroperasi, maka setiap starter motor harus memiliki torsi yang cukup untuk menyediakan
kecepatan putaran yang diperlukan untuk menghidupkan engine. Daya ini berhubungan langsung
dengan kekuatan medan magnet, karena kekuatan medan itulah yang menghasilkan daya.

Gambar 2.10

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, starter motor memiliki komponen stator (field winding) dan
komponen armature yang berputar (rotor). Field winding dan armature umumnya dihubungkan
bersama agar semua arus yang masuk motor melalui field dan armature tersebut. Inilah yang
disebut rangkaian motor. Brush merupakan bagian pemberi arus dari rangkaian eksternal (field
winding) ke rangkaian internal (kumparan armature). Brush ditempatkan dalam brush holder.
Umumnya, separuh jumlah brush dihubungkan ke ground sedangkan separuh jumlah yang
lainnya diisolasikan dan dihubungkan ke field winding.

Konfigurasi
Medan starter motor dapat dihubungkan bersama dengan empat konfigurasi yang berbeda untuk
menghasilkan kekuatan medan yang diperlukan:
 Seri
 Paralel/shunt
 Seri paralel

Starter yang digulung secara seri (Gambar 17) dapat menghasilkan torsi awal yang sangat tinggi
pada saat diaktifkan. Torsi ini kemudian menurun pada saat beroperasi karena counter-
electromotive force menurunkan arus karena semua lilitan berada dalam rangkaian seri.

Motor gabungan (compound) memiliki tiga gulungan seri dan satu gulungan paralel. Hal ini
menghasilkan torsi awal yang baik untuk starter serta memiliki keuntungan dari penyesuaian
muatan karena gulungan paralelnya. Jenis starter ini juga memiliki keuntungan tambahan berupa
pengendali kecepatan karena medan paralel.

Motor paralel menyediakan aliran arus yang lebih tinggi dan torsi yang lebih besar dengan cara
membagi gulungan seri menjadi dua rangkaian paralel.

Motor seri-paralel menggabungkan keuntungan dari motor seri dan motor paralel.

Heavy duty starter motor memiliki empat medan dan empat brush. Starter yang diperlukan untuk
menghasilkan torsi yang sangat tinggi, bisa menggunakan enam field dan brush, sementara
starter untuk light duty mungkin hanya memiliki dua field. Starter motor heavy-duty tidak
dihubungkan ke ground rangka starter. Jenis starter motor seperti ini, dihubungkan ke ground
melalui sebuah insulated terminal yang harus dihubungkan dengan ground baterai agar dapat
beroperasi. Sebuah kawat ground untuk solenoid dan perangkat listrik mesin lainnya juga harus
dihubungkan pada terminal starter ground untuk operasi listrik yang benar. Hingga saat ini kita
telah membahas komponen starter motor. Setelah daya listrik diteruskan ke motor starter,
diperlukan rangkaian yang berhubungan untuk membuat energi ini bekerja. Penggerak starter
motor memungkinkan penggunaan energi mekanik yang dihasilkan oleh starter motor. Walaupun
torsi yang dihasilkan oleh starter motor tinggi, torsi tersebut tidak memiliki kemampuan untuk

10
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

crank engine secara langsung. Sarana lain harus digunakan guna menyediakan kecepatan yang
cukup untuk melakukan crank engine serta torsi yang dibutuhkan.

Untuk menyediakan torsi yang mencukupi untuk menghidupkan engine, kecepatan starter dirubah
dengan rasio dari pinion gear pada flywheel starter dan mesin. Rasio ini dapat bervariasi antara
15:1 hingga 20:1. Sebagai contoh, jika starter drive gear memiliki 10 gigi, ring gear dapat memiliki
200 gigi untuk memperoleh rasio 200:10 atau 20:1.

MEKANISME STARTER DRIVE

Gambar 2.11

Jika starter (Gambar 2.11) dibiarkan terhubung pada flywheel setelah engine dihidupkan,
armature dapat mengalami kerusakan karena kecepatan terlalu tinggi yang diciptakan ketika
RPM engine meningkat. Pada kecepatan yang tinggi, armature akan melempar lilitannya karena
efek gaya sentrifugal. Gear yang engage dan menggerakkan flywheel disebut pinion gear. Gear
pada flywheel disebut ring gear. Mekanisme starter pinion gear engage dengan flywheel ring gear
tergantung pada jenis penggerak yang dipergunakan. Starter pinion gear serta mekanisme
penggeraknya dapat dibagi menjadi dua jenis yang berbeda:

 Penggerak inersia (inertia drive)


 Overrunning clutch drive

Inertia drive
Penggerak inersia digerakkan oleh gaya rotasi pada saat armature berputar. Penggerak ini aktif
setelah motor mulai bergerak. Lengan penggerak memiliki ulir sekrup yang kasar, yang sesuai
dengan ulir dalam pinion. Pada saat motor mulai berputar, gaya inersia yang diciptakan pada
penggerak membuat pinion bergerak ke atas ulir hingga pinion tersebut engage dengan ring gear
pada flywheel. Anda dapat menciptakan kembali gaya ini dengan cara memutar sebuah nut pada
sebuah baut dan amati gerakan rotasi yang berubah menuju gerakan linear pada saat nut
bergerak naik dan turun. Satu kekurangan dari penggerak inersia ini adalah pinion belum engage
sebelum starter mulai berputar. Jika penggerak tidak engage dengan flywheel, maka starter akan
berputar pada kecepatan tinggi tanpa menghidupkan mesin atau jika pinion tertinggal maka
pinion tersebut akan menabrak gear dengan kekuatan tinggi dan dapat merusak giginya.

11
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Overrunning clutch drive

Gambar 2.12

Overrunning clutch drive (Gambar 2.12) adalah jenis penggerak clutch paling sederhana yang
digunakan pada starter motor. Overrunning clutch drive membutuhkan sebuah tuas untuk
menggerakkan pinion engage dengan flywheel ring gear. Pinion tersebut engage dengan flywheel
ring gear sebelum armature mulai berputar. Jenis sistem penggerak ini adalah sebuah sistem
khusus yang digunakan untuk mencegah armature tidak berputar pada kecepatan yang terlalu
tinggi. Tuas akan menarik pinion dari flywheel, sedangkan overrunning clutch mencegah
kecepatan yang terlalu tinggi. Overrunning clutch mengunci pinion pada satu arah putaran dan
mengijinkan putaran ke arah yang lain. Hal ini memungkinkan pinion gear dapat memutar
flywheel ring gear untuk menghidupkan mesin. Overrunning clutch juga membuat pinion gear
bergerak bebas pada saat engine mulai berjalan. Overrunning clutch terdiri atas sebuah roller
yang ditahan dalam posisinya oleh pegas terhadap roller clutch. Roller clutch ini memiliki sisi tirus
yang memungkinkan roller dapat mengunci pinion pada porosnya selama crank. Torsi akan
disalurkan melalui clutch housing dan ditransfer oleh roller ke pinion gear. Pada saat engine
dihidupkan dan kecepatan drive pinion melebihi kecepatan armature shaft, roller didorong ke arah
bawah ramp dan memungkinkan pinion berputar secara terpisah dari armature shaft. Pada saat
starter drive pinion dilepaskan dari flywheel serta tidak beroperasi, tekanan pegas akan memaksa
roller menyentuh ramp sebagai persiapan untuk starter berikutnya. Terdapat berbagai rancangan
heavy duty untuk penggerak ini.

KOMPONEN STARTING SYTEM


Rangkaian starter memiliki beberapa komponen yang dihubungkan sebagai perangkat kontrol
dan pelindung. Perangkat ini dibutuhkan pada Starter motor serta dan mencegah Starter motor
beroperasi ketika mesin sedang berada dalam mode operasi karena alasan safety. Komponen
pada rangkaian listrik starter terdiri atas berikut ini:

 Baterai
 Cable & wire
 Key start switch
 Netral switch (jika dilengkapi)
 Starter relay
 Starter solenoid

Baterai

Gambar 2.13

12
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Baterai menyuplai semua kebutuhan energi listrik ke starter motor, sehingga starter motor dapat
menghidupkan engine. Baterai harus terisi penuh dan dalam kondisi yang baik agar sistem starter
motor dapat beroperasi dengan maksimal.
Cable dan wire

Gambar 2.14

Arus yang mengalir tinggi yang melalui starter motor cukup tinggi, sehingga membutuhkan kawat
yang berukuran cukup besar agar memiliki resistansi rendah. Dalam sebuah rangkaian seri, nilai
resistansi akan bertambah didalam suatu rangkaian sehingga akan mempengaruhi beban operasi
karena terjadi pengurangan jumlah total aliran arus di dalam rangkaian. Dalam sistem, kabel akan
menghubungkan baterai dengan relay, relay dengan starter motor, sementara dalam sistem yang
lain kabel akan dihubungkan langsung dari baterai ke starter. Kabel ground juga harus berukuran
cukup besar agar dapat menahan aliran arus. Semua konektor dan sambungan dalam sistem
starter harus memiliki resistansi sekecil mungkin.

Start Switch

Gambar 2.15

Start switch mengaktifkan starter motor dengan cara meneruskan daya ke starter relay dari
baterai. Switch tersebut dapat dioperasikan secara langsung dengan menggunakan kunci atau
tombol atau diaktifkan dari jarak jauh dengan menggunakan kunci pengontrol, serta ditempatkan
pada dashboard assembly.

Neutral Switch

Gambar 2.16

13
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Semua kendaraan yang dilengkapi dengan power shift atau transmisi otomatis memerlukan
switch pengaman netral yang hanya memungkinkan starter motor bekerja pada posisi parkir atau
netral. Switch ini dapat ditempatkan pada transmisi, pada shifter atau pada linkage. Kontak switch
akan close pada saat selektor transmisi berada dalam kondisi parkir atau netral, serta open pada
saat selektor transmisi berada dalam gear transmisi engage. Beberapa kendaraan dapat
menggunakan switch pengaman clutch yang akan open pada saat clutch berada dalam posisi
aktif dan menutup pada saat operator menekan pedal clutch. Hal ini mencegah engine hidup saat
clutch diaktifkan. Beberapa transmisi juga menggunakan sebuah switch gear netral untuk
mencegah starter beroperasi, kecuali jika transmisi berada dalam posisi netral. Semua switch
pengaman jenis ini harus dijaga kondisinya serta tidak boleh di-bypass atau dihilangkan.

Starter Relay

Gambar 2.17

Starter relay (switch magnet) dapat digunakan dalam beberapa sistem starter. Komponen ini
dalam rangkaian kontrol, terletak di antara start switch dan starter solenoid. Komponen ini
merupakan sebuah switch magnet yang koilnya diaktifkan oleh listrik dari baterai yang disuplai
melalui start switch. Start relay umumnya ditempatkan sedemikian rupa supaya kabel antara
starter dan baterai sependek mungkin. Starter relay menggunakan sejumlah kecil arus dari start
switch untuk mengendalikan arus yang lebih besar ke starter solenoid serta mengurangi beban
pada start switch. Pemberian arus pada relay winding akan menyebabkan plunger tertarik ke atas
karena gaya magnet yang dihasilkan oleh kumparan. Disk kontak juga akan tertarik ke atas dan
akan menyentuh ujung baterai dan ujung terminal starter. Arus akan mengalir dari baterai menuju
starter solenoid.

Starter Solenoid

Gambar 2.18

Solenoid merupakan kombinasi cara kerja sebuah relay dengan kemampuan untuk melakukan
pekerjaan mekanikal (mengaktifkan penggerak). Starter solenoid menghasilkan medan magnet
yang menarik solenoid plunger dan disk. Solenoid ditempatkan di bagian atas starter motor
sehingga dapat langsung terhubung dengan overrunning clutch drive untuk mengaktifkan pinion.
Solenoid memiliki dua lilitan yang berbeda untuk memperoleh operasi yang efektif. Pada saat
ignition switch diputar ke posisi start, arus dari baterai mengalir ke pull-in winding dan hold-in
winding untuk memperoleh daya tarik yang lebih kuat karena menggunakan dua kumparan.

14
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Kumparan tersebut menghasilkan medan magnet yang kuat untuk menarik plunger ke depan
serta mengaktifkan starter drive. Pada saat plunger mencapai akhir gerakan, solenoid bekerja
sebagai relay serta menyebabkan arus besar mengalir ke starter motor. Hal ini juga dapat
digunakan untuk memutuskan arus menuju pull-in winding. Starter motor bekerja, kumparan yang
aktif hanya hold-in winding. Medan magnet yang diciptakan oleh hold-in winding lebih kecil
karena hanya diperlukan untuk menahan plunger pada tempatnya. Hal ini mengurangi jumlah
arus yang hampir mengurangi panas serta menyediakan arus yang lebih banyak menuju starter
motor.

CARA KERJA STARTING SYSTEM


Stand by

Gambar 2.19

Saat disconnect switch pada posisi close, rangkaian dari baterai menjadi satu rangkaian menuju
ground. (Gambar 2.19) adalah sistem starter dalam kondisi standby. Pada terminal BAT pada
starter motor dan B pada start switch, supply dari baterai sudah standby di sana.

15
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Key on

Gambar 2.20

(Gambar 2.20) Pada saat start switch diposisikan ke start, maka arus akan mengalir dari supply
baterai di teminal B ke terminal S pada start switch menuju salah satu terminal koil pada start
relay. Pada saat yang sama arus yang lebih besar mengalir dari baterai ke terminal S pada
Starter motor melalui kontak start relay yang sudah close, dan membuat pull-up winding dan hold-
in winding di-energized. Dalam waktu yang sangat singkat, saat terminal BAT dan M belum
terhubung oleh kontaktor, kedua pull-in dan hold-in winding aktif, yang menyebabkan tuas
mendorong pinion sambil overrunning clutch-nya bersentuhan dengan flywheel. Pull-in winding
aktif berperan untuk membantu hold-in winding mendorong pinion.

Starting

Gambar 2.21

16
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

(Gambar 2.21) Gaya magnet menarik plunger ke arah kiri, yang akan menggerakkan overrunning
clutch dan pinion ke arah flywheel ring gear. Pada saat plunger ditarik ke kiri dan terminal BAT
dan M terhubungkan oleh plat kontaktor, pada tahap ini pinion mulai engage dengan flywheel ring
gear dan pull-in winding menjadi tidak aktif yang dikarenakan tidak ada arus yang mengalir
padanya karena di-bypass oleh plat kontaktor. Pada saat ini plunger dipertahankan dalam posisi
tertarik hanya oleh gaya magnet dari hold-in winding. Starter motor kemudian dialiri arus besar,
pinion akan engage dengan flywheel ring gear dan engine akan mulai berputar.

Solenoid melakukan dua fungsi, yaitu menghubungkan pinion dengan flywheel dan
menghubungkan arus yang tinggi dari baterai ke starter motor. Starter motor mengambil energi
listrik dari baterai dan merubahnya menjadi energi mekanik yang berputar untuk menghidupkan
mesin. Cara kerja ini serupa dengan motor listrik pada umumnya. Semua motor listrik
menghasilkan gaya dorong / tarik melalui interaksi medan magnet di dalam motor.

Key off

Gambar 2.22

(Gambar 2.22) Posisi starter motor berhenti (key start switch kembali pada posisi on). Pada saat
ignition switch diputus, arus yang mengalir melalui hold-in winding dan pull-in winding berhenti,
yang menyebabkan gaya magnet pada hold-in winding hilang. Kontak pada solenoid kemudian
terbuka. Plunger dan overrunnning clutch didorong kembali ke posisi awal oleh spring, dan motor
akan berhenti berputar.

Sistem Seri-Paralel
Mesin dengan engine diesel yang lebih besar memerlukan kekuatan starter yang tinggi untuk
dapat menyediakan putaran untuk menghidupkan engine. Untuk memperoleh kekuatan ini,
beberapa mesin menggunakan starter 24V. Menggunakan tegangan 24V, membuat starter
menghasilkan daya yang sama dengan aliran arus yang lebih sedikit. Dalam sistem seri-paralel,
starter beroperasi pada 24V tetapi sistem listrik mesin beroperasi pada 12V. Sebuah switch seri-
paralel khusus dipergunakan untuk menghubungkan dua atau lebih baterai secara paralel untuk
aksesori dan operasi charging, dan kemudian menghubungkan secara seri pada starter ketika
cranking. Aksesori 12V dipilih karena jauh lebih murah daripada lampu dan aksesori 24V.

Sistem Listrik 12 / 24 V
Pada jenis lain dari sistem ini, starter motor dihubungkan secara seri dengan dua buah baterai 12V dan
alternator mengisi kedua baterai tersebut dengan tegangan 28 ± 1 Volt.
17
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

PENGUJIAN STARTING SYSTEM


Keakurasian pengujian suatu starter system, mulai dengan mengerti bagaimana fungsi dari
sistem tersebut. Jika anda mengetahui operasinya secara lengkap, anda bisa secara logika
menentukan kerusakan dengan menginspeksi secara visual dan pengujian secara kelistrikan.
Prosedur yang tersusun dan inspeksi diperlukan untuk menghindari penggantian part yang masih
bagus atau tidak perlu memperbaiki dari komponen operasional.

Kumpulkan Permasalahan
Operasikan langsung sistemnya untuk melihat bagaimana kondisinya. Masalah starting system
umumnya akan akan masuk dalam kategori:
 Motor starter berputar tetapi tidak memutar engine.
 Engine bisa di-crank tapi putarannya lambat.
 Engine tidak bisa di-crank sama sekali.
 Motor starter berbunyi kasar.
Jangan meng-crank engine lebih dari 30 detik dalam sekali start. Biarkan motor starter
mulai dingin dulu dalam setiap periode cranking untuk menghindari kerusakan.

Kenali Masalahannya
Menentukan apakah masalahnya bersifat mekanikal atau elektrikal. Sebagai contoh, jika motor
starter berputar tetapi tidak bisa meutar engine, masalahnya kemungkinan besar bersifat
mekanikal, yaitu pinion drive tidak terdorong ke flywheel. Masalah yang bersifat mekanikal bisa
diperbaiki dengan perbaikan komponen atau penggantian part yang dibutuhkan. Masalah yang
bersifat elektrikal membutuhkan pengujian tambahan untuk menentukan penyebab kerusakan
dan memperbaiki yang akan dibutuhkan.

Pisahkan Masalah
Tanpa memperhatikan masalah bersifat mekanikal atau elektrikal, yang perlu segera diketahui
adalah masalahnya terjadi dimana, lalu dengan cepat dan tepat melakukan langkah perbaikan.

Langkah pengujian rangkaian starting system adalah:


 Uji baterai untuk menentukan apakah baterai terisi penuh dan mampu mensupply arus.
 Uji wire dan switch untuk menentukan apakah wire dan switch dalam kondisi yang bagus.
 Jika engine, baterai, dan wire semuanya bagus, tetapi starter tidak beroperasi dengan
baik, kerusakan pasti terjadi pada sistem starter itu sendiri.

Visual Inspection
Awali semua pengujian starting system dengan visual inspection yang teliti. Periksalah:
 Terminal baterai dari kemungkinan longgar atau korosi.
 Pembungkus kabel baterai dari kemungkinan rusak atau robek.
 Sambunagn relay dan solenoid dari korosi.
 Relay atau solenoid dari kerusakan.
 Pembungkus start relay dari kemungkinan rusak atau patah.
 Longgarnya grounding chassis atau engine.
 Kemungkinan rusaknya switch pengaman netral.
 Kemungkinan rusaknya ignition switch.
 Kemungkinan motor starter kendor.

Pengujian Baterai
Lanjutkan inspeksi dengan pengujian baterai. Lakukan semua pengujian yang diminta, untuk
memastikan baterai dalam kondisi yang bagus. Penting mengetahui output baterai agar starting
system dapat bekerja dengan bagus dan untuk diagnosa yang benar dari sistem starting.

Pengujian Sistem Starting


Pengujian motor starter pada unit harus dilakukan pertama kali untuk menentukan apakah sterter
harus diangkat dan diuji lebih lanjut. Pengujian di atas unit meliputi:
 Tegangan sistem starting selama cranking.
 Arus yang ditunjukan selama cranking.
 Voltage drop selama cranking.

18
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

 Putaran engine.
 Pemeriksaan pinion dan flywheel ring gear.

Pengujian terpisah dari engine, akan menentukan apakah starter harus diperbaiki atau diganti.
Pengujian ini termasuk pengujian tanpa beban dan pengujian komponen starter motor.

PENGUJIAN DI UNIT
Contoh di bawah untuk motor starter Delta Remy 37MT, 41MT, dan 42MT.

Gambar 2.23

Pengujian ini telah diringkas untuk membantu teknisi dalam menentukan apakah motor starter
perlu dilepas, diganti, atau diperbaiki. Prosedur ini tidak mencakup seluruh kemungkinan masalah
yang terjadi tetapi hanya petunjuk sederhana. Pada mesin yang memiliki diagnostic connector
maka penggunaan starting charging analizer (6V2150) bisa menganalisa masalah dengan cepat.
Lihat Special Instruction Form No. SEHS7768 untuk lebih jelasnya.

Informasi Umum
Semua starting system memilki 4 komponen utama yaitu key start switch, start relay, starter
motor solenoid, dan starter motor. Dalam hal ini, supply input start switch terhubung langsung ke
solenoid motor starter. Start switch adalah komponen berkapasitas arus rendah. Start switch
terbatas untuk men-switch kira-kira 5–20A. Karena koil start relay (antara tes point 1 dan 2) akan
muncul 1 A, start switch bisa dengan mudah mengaktifkan start relay dan umurnya menjadi lebih
panjang.

Kontak start relay dibatasi untuk men-switch antara 100 dan 300A. Karena solenoid starter
membutuhkan 5–50 A. Solenoid motor starter memiliki 2 fungsi:

 Menggerakkan pinion ke flywheel.


 Menjadi switch berkapasitas besar (1000A) untuk menyalakan starter motor.

Solenoid motor starter (Gambar 30) memiliki 2 koil: yaitu koil pull-in (W) membutuhkan 40A dan
koil hold-in (X) membutuhkan 5A. Saat start relay close, kedua koil (W) dan (X) mendapat supply.
Tegangan baterai diberikan ke kedua koilnya, (pada tes point 4)), dari koil pull-in (W) secara
sesaat dan mengambil tempat melalui tahanan DC dari motor starter. Secepatnya, gaya magnet
dihasilkan pada kedua koil, pinion bergerak ke flywheel ring gear. Pinion akan berhenti dan
menahan (37-MT) atau bersentuhan flywheel ring gear (41-MT dan 42-MT). Solenoid mengkontak
close memberikan power ke starter motor. Dengan waktu yang singkat, menghilangkan ground
koil pull-in (W) dan memberikan tegangan baterai pada kedua ujung saat motor melakukan crank.

19
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Selama periode ini, koil pull-in tidak bekerja lagi karena telah ter-bypass. Crank berlanjut hingga
supply ke solenoid terputus oleh pemutusan kontak pada start switch.

Koil relay membatasi / membolehkan 5A untuk kontak yang dialirkan arus ke motor 500–1000A
yang digunakan untuk meng-crank suatu engine

Tegangan Sistem
Ada tegangan baterai selama crank, berubah tergantung pada temperatur baterai. Ikuti tabel
suatu petunjuk dari sistem yang normal.

Tabel 1 - Tegangan Sistem

Tabel berikutnya menunjukan drop tegangan maksimum yang diperbolehkan dikarenakan arus
beban yang tinggi pada baterai untuk mensupply motor starter. Nilai ini adalah maksimum untuk
mesin kira-kira 2000 SHM dan di atasnya.

Tabel 2 - Tegangan Sistem Maksimum yang Diperbolehkan

Tegangan (voltage drop) yang lebih besar dari yang ditunjukan, biasanya sering disebabkan oleh
koneksi yang kendor dan atau terkorosi atau kontak switch yang kurang baik (cacat).

Prosedur Diagnosa

Tabel 3 - Tool yang Dibutuhkan

Note:
Jangan operasikan motor starter lebih dari 30 detik dalam sekali pengoperasian. Setelah 30 detik
cranking harus dihentikan selama 2 menit agar motor starter mendingin. Ini akan menghindari
kerusakan starter motor dari panas yang meningkat.

Jika motor starter meng-crank amat lambat atau tidak biasa crank sama sekali, ikutilah prosedur
berikut:

20
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

1. Ukur tegangan baterai pada terminal baterai dengan voltmeter saat crank atau coba meng-
crank engine. Pastikan mengukur pada terminal baterai. Jangan ukur pada clamp terminal
kabel.
2. Apakah tegangan baterai sama atau lebih besar dari yang ditunjukkan Spesial Instruction
Form No. SEHS7633

Jika tegangan baterai bagus, menuju ke Step 3.


 Jika tegangan baterai begitu rendah, uji baterai seperti yang ditunjukan pada Special
Instruction Form No. SEHS7633.

Note:
Tegangan baterai yang rendah bisa disebabkan oleh kondisi baterai atau starter yang
terhubung singkat.

3. Ukur arus yang muncul pada kabel baterai positif antara baterai dan solenoid starter motor
dengan clam-on amperemeter. Arus maksimum yang diijinkan:

a. 37–MT; 24V ... 750A pada 18.0V dan 1200 rpm


b. 37–MT; 12V ... 1400A pada 9.0V dan 800 rpm
c. 41–MT; 24V ... 750A pada 18.0V dan 1500 rpm
d. 41–MT; 12V ... 1400A pada 9.0V dan 1200 rpm
e. 42–MT; 24V ... 750A pada 18.0V dan 1200 rpm
f. 42–MT; 12V ... 1400A pada 9.0V dan 1200 rpm.

Spesifikasi untuk pengujian saat temperatur 27°C dan di atasnya. Pada temperature di
bawah 27°C, tegangan akan lebih rendah dan arus yang muncul akan lebih tinggi . Jika arus
yang muncul terlalu tinggi, starter motor bermasalah dan harus dikeluarkan, diganti, atau
diperbaiki.

Note:
Jika tegangan pada terminal baterai kira-kira sampai 2V dari nilai terendah pada interval
temperatur yang diaplikasikan dari dan jika kabel motor starter yang besar memanas,
anjurannya, ini suatu masalah motor starter tanpa penggunaan amperemeter 8T0900.

4. Ukur tegangan motor starter dari tes point (4) ke (5) dengan voltmeter saat crank atau coba
meng-crank engine (Gambar 19).

Apakah tegangan baterai sama dengan atau lebih besar dari yang ditunjukan Special
Instruction Form No. SEHS7633?
a. Jika tegangan motor starter bagus, baterai dan kabel motor starter ke motor di dalam
spesifikasi. Menuju ke Step 8
b. Jika tegangan motor starter rendah, penurunan tegangan antara baterai dan motor starter
begitu besar. Menuju Step 6

5. Ukur penurunan tegangan pada rangkaian crank dengan voltmeter. Bandingkan hasilnya
dengan penurunan tegangan maksimum yang diijinkan.

6. Apakah semua tegangan sesuai dengan dalam spesifikasi?


a. Jika penurunan tegangan bagus, kembali ke Step 8, untuk memeriksa engine.
b. Jika penurunan tegangan begitu besar, perbaiki dan atau ganti komponen listrik yang
rusak.

7. Putar engine dengan tangan untuk memastikan engine tidak terkunci. Periksa kekentalan oli
dan adanya beban dari luar yang akan mempengaruhi putaran engine.

8. Apakah engine terkunci dan atau sulit berputar?


a. Jika ya, perbaiki engine seperti apa yang diminta
b. Jika engine tidak sulit berputar, Menuju ke Step 10.

21
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

9. Apakah motor starter malakukan crank?


a. Jika bisa crank, keluarkan motor starter untuk diperbaiki dan atau diganti.
b. Jika tidak bisa crank, periksa persentuhan yang terhalang dari pinion dan flywheel ring
gear.

Note:
Terhalang bersentuhan dan membukanya kontak solenoid akan memberikan tanda-tanda
masalah elektrik yang sama.

PENGUJIAN TANPA BEBAN

Tabel 4 – Tool yang dibutuhkan

Lakukan prosedur yang ada untuk menunjukan suatu pengujian tanpa beban setelah motor
starter sudah diperbaiki atau dikeluarkan dari mesin. Ini sebaiknya dicatat dengan lengkap untuk
memeriksa suatu motor starter, prosedur yang lengkap sebaiknya dilakukan seperti yang
ditunjukan pada prosedur diagnosa mesin motor starter. Untuk memeriksa komponen motor
starter, lihat pengujian komponen motor starter.

Prosedur

Diagram Pengujian Tanpa Beban

Diagram pengujian tanpa beban (ditunjukan 42-MT, kawat negatif motor starter tidak ditunjukan
supaya lebih jelas).

1. Hubungkan 2 baterai 12V yang terisi penuh untuk motor starter yang ditampilkan. Gunakan 1
baterai untuk system 12V. Hubungkan kabel baterai positif ke terminal BAT di solenoid motor
starter. Hubungkan kabel baterai negatif ke housing motor starter (37-MT) atau terminal
negative (42-MT).
2. Hubungkan switch yang terbuka antara terminal S dan BAT terminal di solenoid seperti yang
ditampilkan.
3. Hubungkan voltmeter pada lead yang merah ke terminal solenoid motor starter. Hubungkan
voltmeter pada lead yang hitam ke housing motor starter (37-MT) atau terminal negatif (42-
MT).
4. Gunakan indikator RPM atau tachometer untuk mengukur kecepatan armatur.
5. Close-kan switch. Amati dan bandingkan dengan spesifikasi:
a. 37–MT, 24V: 84 ± 16A pada 23.0V dan 3628 ± 413 rpm
22
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

b. 37–MT, 12V: 127.5 ± 27.5A pada 11.0V dan 7018 ± 1517 rpm.
c. 41–MT, 24V: 65 ± 15A pada 23.0V dan 8450 ± 1250 rpm
d. 41–MT, 12V: 127.5 ± 27.5A pada 11.0V dan 7018 ± 1517 rpm
e. 42–MT, 24V: 67.5 ± 7.5A pada 23.0V dan 7643 ± 1683 rpm
f. 42–MT, 12V: 127.5 ± 27.5A pada 11.0V dan 6900 ± 1800 rpm.
6. Jika tegangan kurang dari spesifikasinya, baterai rendah dan butuh di-charge lagi. Ini perlu
dicatat, jika tegangan lebih besar, kecepatan akan secara proporsional akan lebih cepat pula.

Hasil Pengujian Tanpa Beban


Ikuti beberapa hasil pengujian tanpa beban yang bisa dilihat dan kemungkinan kesamaan
masalah.
1. Tingkat arus yang muncul dan tingkat kecepatan tanpa beban mengindikasikan kondisi
normal motor sterter.

2. Kecepatan rendah dan mengindikasikan arus tinggi muncul.


a. Begitu besar gesekan disebabkan oleh kerapatan, kotoran, bushing yang rusak
permukaannya, armatur yang bengkok, atau kendornya sepatu kutub medan yang
membuat armature tersangkut.
b. Armatur terhubung singkat. Ini selanjutnya bisa diperiksa dengan growler setelah
dibongkar.
c. Armatur atau kumparan medan yang terhubung ke ground. Periksa ground-nya setelah
dibongkar.

3. Kesalahan operasi dengan muncul arus yang tinggi mengindikasikan:


a. Ground terhubung pada terminal atau medan assembly.
b. Pembekuan bushing. Ini bisa dilihat dengan memutar armatur dengan tangan.

4. Kesalahan operasi dengan tidak munculnya arus mengindikasikan.


a. Rangkaian medan yang terbuka. Ini bisa diperiksa dengan ohmmeter setelah dibongkar.
b. Buka armature. Inspeksi komutator dengan bilahan yang cacat terbakar.
c. Rusaknya spring brush. Gunakan brush atau isolasi tinggi antara bilahan komutator yang
menghindari kontak antara brush-brush dan komutator.

5. Kecepatan tanpa beban rendah dan muncul arus yang rendah, mengindikasikan:
a. Tahanan dalam besar akibat buruknya penyambungan, lead yang cacat, komutator yang
kotor dan atau disebabkan karena langkah 4 di atas.

6. Kecepatan tinggi dan arus yang tinggi mengindikasikan:


a. Rangkaian medan terhubung singkat. Periksa kumparan medan yang terhubung singkat
setelah pembongkaran.

PEMERIKSAAN KOMPONEN

KUMPARAN MEDAN

Tabel 7 – Kumparan Medan

Pengujian Ground

23
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

(1) Field winding lead, (2) Motor terminal


Dengan secara visual, periksa koil kumparan medan dulu. Periksa kerusakan. Periksa semua
koneksi bersih dan kuat pada sambungan solder.

1. Pasang ohmmeter pada skala tahanan 20 Megaohm. Sentuhkan lead ohm meter antara tiap
lead kumparan medan (1) dengan housing motor starter.
2. Sentuhkan lead ohm meter antara terminal motor (Mtr) (2) dan housing motor starter.
3. Tiap pembacaan alat ukur harus lebih besar dari 100.000 ohm (pembacaan alat ukur 0.1 atau
lebih besar)
4. Jika pembacaan ohm meter lebih kecil dari 100.000 ohm, berarti kumparan medan terhubung
ke ground dan harus dipasang ulang atau diganti.

Pengujian Hubungan Kumparan Medan

Field winding continuity test

1. Pasang ohm meter pada skala tahanan 200 ohm. Sentuhkan lead ohm meter antara lead
kumparan medan.
2. Sentuhkan lead ohm meter antara tiap lead kumparan medan (1) dan terminal motor (Mtr) (2).
3. Tiap pembacaan alat ukur harus pada interval 0.0 – 0.1 ohm.
4. Jika pembacaan ohm meter lebih besar dari pada nilai di nomor 3 di atas, ada hubungan
terbuka di dalam kumparan medan dan harus dirangkai ulang atau diganti.

Note:
Pengujian ini dipakai pada motor starter baru 37-MT dengan terminal (3). Pada semua motor
starter lainnya, koil shunt digulung serie dengan koil medan.

Pengujian Koil Shunt Ground Baru Hanya Pada 37-MT

Note:
Pengujian ini hanya dipakai pada motor starter baru 37-MT dengan terminal (3). Pada semua
motor starter lainnya, koil shunt digulung serie dengan koil medan. Oleh karena itu, periksa suatu
koil shunt yang digroundkan pada waktu yang sama seperti koil medan; lihat subjek Pengujian
Kumparan Medan ground (Field Winding Ground Test).

24
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

1. Pasang ohm meter pada skala tahanan 200 ohm. Sentuhkan lead ohm meter antara terminal
koil shunt dan lead koil shunt.
2. Tiap pembacaan alat ukur harus pada interval 0.5 – 0.6 ohm.
3. Jika pembacaan ohm meter lebih besar dari pada nilai di nomor 2 di atas, ada hubungan
terbuka di dalam koil shunt. Kumparan medan dan harus dirangkai ulang atau diganti.
4. Jika pembacaan ohm meter lebih rendah dari pada nilai di nomor 2 di atas, ada hubung
singkat di dalam koil shunt. Kumparan medan dan harus dirangkai ulang atau diganti

PENGUJIAN ARMATUR

Sirkuit Hubung Singkat

(4) Armature (A) Growler tester

1. Tempatkan armature (3) pada growler tester (A). Nyalakan alat tersebut.
2. Tahan blade besi berlawanan inti armature saat memutarnya dengan perlahan.
3. Blade tidak boleh bervibrasi atau ditarik ke inti armature.
4. Jika blade vibrasi atau ditarik ke inti, armature sudah short dan harus dirakit ulang atau
diganti.

Note:
Growler adalah peralatan yang disupply dengan AC yang mana dalam pengaruh separuh
pertama dari trafo. Armatur membentuk separuh kedua. Armatur ditempatkan pada V di growler
dan power dinyalakan. Blade besi hanya ditahan di atas titik paling tinggi dari armatur dan
armature diputar pada bidang V dengan tangan. Putaran yang short circuit diindikasikan oleh
blade besi sedang ditarik ke armatur ketika sebuah koil dengan terhubung singkat memutar di
bawah blade.

Pengujian Ground

(3) Armature

1. Pasang ohm meter pada skala tahanan 20M ohm. Sentuhkan salah satu lead ohm meter
pada tiap bilahan komutator dan lead lainnya pada inti armatur.

25
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

2. Tiap pembacaan alat ukur harus lebih besar dari 100.000 ohm (pembacaan ohm meter 0.1
atau lebih besar).
3. Jika pembacaan ohm meter lebih rendah dari pada nilai di nomor 2 di atas, armature
terhubung ke ground dan harus dirangkai ulang atau diganti

Pengujian Hubungan
Menguji armature terbuka adalah sulit tanpa adanya peralatan khusus. Jika komutator
menunjukan tanda lubang atau bilahan komutator yang hitam (terbakar), armature sudah open
(terbuka) dan harus diganti.

Pemeriksaan Runout Check

(4) Commutator (5) Core

Periksa run out armature (TIR). Indikasi maksimum membolehkan:


a. Komutator (4) … 0.13 mm (0.005 inchi)
b. Inti (5) … 0.13 mm (0.005 inchi)
Jika run out-nya terlalu besar, armature harus diganti.

Pengukuran Diameter Sisi Luar

(4) Commutator

1. Periksa diameter luar komutator (4). Diameter harus:


a. Diameter baru (semua) … 58.8 mm ± 0.10 mm (2.3150 ± 0.0040 inch)
b. Diameter minimum (semua) … 56.7 mm (2.230 inch)

2. Jika armature terpakai, dia harus diganti. Kedalaman isolasi antara bilahan komutator (X)
0.64 mm (0.025 inchi).

26
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Commutator

3. Ukur kedalaman isolasi antara bilahan komutator (Gambar). Kedalaman minimum yang
diijinkan adalah (X) 0.64 mm (0.025 inchi)

Note:
Kerusakan membuang pengikisan isolasi dan partikel akan menyebabkan brush dipakai pada
tingkat cepat.

4. Jika kedalaman di bawah minimum, isolasi bisa dijual dengan harga yang lebih murah pada
model 24V. Model 12V tidak bisa dijual dengan harga yang lebih murah. Jika isolasi dijual
dengan harga murah, pastikan buang semua pengikisan dan partikel isolasi.
PENGUJIAN BRUSH HOLDER

(8) Brush holder plate (7) Brush holder (6) Brush spring

1. Periksa spring brush holder (6) dari kerusakan atau karat (jamur). Ganti komponen tersebut
jika diperlukan.
2. Pasang ohm meter dengan skala tahanan 20M ohm. Pada motor starter 37-MTdan 41-MT,
sentuhkan satu lead ohm meter ke tiap brush holder positif (7) dan lead yang lainnya pada
plat brush holder (8). Periksa kedua brush holder positif. Pada motor starter 42-MT,
sentuhkan satu lead ohm meter ke tiap brush holder (7) dan lead yang lainnya pada plat
brush holder (8). Periksa keempat brush holdernya.
3. Tiap pembacaan alat ukur harus lebih besar dari 100.000 ohm (pembacaan ohm meter 0.1
atau lebih besar).
4. Jika pembacaan ohm meter lebih rendah dari pada nilai di nomor 3 di atas, brush holder
terhubung ke ground dan harus diganti.

Pengujian Panjang Brush

(X) Brush Length

1. Mengukur panjang brush (X). Itu harus seperti:


a. Panjang baru: semua motor … 23.0 mm (0.91 inchi)
b. Panjang minimum: semua motor … 10 mm (0.39 inchi)
2. Jika brush sudah terpakai di bawah panjang minimum, ganti semua.

27
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

PEMERIKSAAN PINION DRIVE (Hanya 41-MT dan 42-MT)

(9) Housing (10) Pinion


1. Inspeksi secara visual bagian overrunning clutch pinion drive dari kerusakan.
2. Tahan housing (9) dan putar pinion (10) pada arah operasi. Suara ‘clicking’ harus terdengar
selama pengujian ini.
3. Tahan housing (9) dan putar pinion (10) pada arah yang berlawanan dari arah operasi).
Pinion harus terkunci dan tidak akan mengijinkan adanya putaran.
4. Tahan housing (9) dan tekan pinion (9) ke dalam housing sejauh dia biasa bergerak,
kemudian lepaskan pinion. Pinion harus balik karena ada spring ke dalam posisi awalnya.
5. Jika ada pengujian pada langkah 1-4 yang tidak sesuai, maka ganti pinion drive.

Pengaturan Celah Pinion (37-MT)

Pinion clearance adjustment – 37 – MT

1. Putuskan dan cabut konektor terminal motor (Mtr).


2. Sambungkan 1 atau 2 baterai 12V ke motor starter seperti yang ditampilkan. Hubungkan satu
kabel jumper dari terminal negatif baterai (-) ke baut penahan solenoid ke motor starter 12V.
Untuk motor starter 24V, sambungkan ujung jumper lainnya ke ground solenoid terminal (G).
Sambungkan jumper kabel lainnya dari terminal positif baterai (+) ke terminal start (S)
solenoid.
3. Berikan secara sesaat ketiga lead jumper dari baut penahan solenoid ke terminal motor (Mtr).
Pinion drive sekarang akan bergeser ke posisi crank dan tetap hingga baterai diputus.

28
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Pemeriksaan Celah Pinion

(4) Pinion clearance adjustment nut (5) Pinion drive housing


(6) Pinion (7) Retainer (X) 1.0 ± 0.8 mm (.04 ± .03 in)

1. Dorong pinion drive kembali ke arah komutator untuk menghilangkan adanya free play.
2. Ukur celah antara pinion (6) dan retainer (7). Celah (X) harus 1.0±0.8 mm (0.04±0.03 in).
3. Jika celah tidak tepat, lepas plug pada housing shift lever. Putar mur pengatur (4) hingga
mendapat celah yang benar. Putar mur searah jarum jam akan memperkecil celah, dan
sebaliknya, jika kebalikan jarum jam maka akan memperbesar celah.
4. Lepas jumper baterai dan pasang plug housing shift lever.

Pengaturan Celah Pinion (41-MT dan 42-MT)

Pengaturan Celah Pinion (41–MT dan 42–MT)

1. Cabut wire terminal negative dari terminal ground (G) di solenoid


2. Sambungkan 2 baterai 12V ke motor starter seperti yang ditampilkan. Hubungkan satu kabel
jumper dari terminal negatif baterai (-) ke ground solenoid terminal (G). Sambungkan jumper
kabel lainnya dari terminal positif baterai (+) ke terminal start (S) solenoid.
3. Berikan secara sesaat lead jumper ketiga dari terminal ground solenoid (G) ke terminal motor
(Mtr). Pinion drive sekarang akan bergeser ke posisi crank dan tetap hingga baterai diputus.

29
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Pemeriksaan Celah pinion

Mur Pengatur Celah Pinion (2) Pinion drive housing (3) Pinion (X) 9.1±0.8 mm (.36±0.3
in)

1. Dorong pinion drive kembali ke arah komutator untuk menghilangkan adanya free play.
2. Ukur celah antara pinion (3) dan pinion drive housing (2). Celah (X) harus
a. 41-MT … 4.57 ± 0.76 mm (0.18 ± 0.03 inchi).
b. 42-MT … 9.1 ± 0.8 mm (0.36 ± 0.03 inchi).
3. Jika celah tidak tepat, lepas plug pada housing shift lever. Putar mur pengatur (4) hingga
mendapat celah yang benar. Putar mur searah jarum jam akan memperkecil celah, dan
sebaliknya, jika kebalikan jarum jam maka akan memperbesar celah.
4. Lepas jumper baterai dan pasang plug housing shift lever.

30
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

TOPIK 3
CHARGING SYSTEM
PENDAHULUAN

Gambar 3.1

Tujuan sistim charging adalah menyediakan tegangan untuk baterai setelah running dan men-
supply semua accessories setelah engine running. Charging systim ini merubah energi mekanis
menjadi energi listrik. Alternator juga melakukan pengisian baterai untuk menggantikan energi
yang dipergunakan untuk starter. Sistem charging melakukan pengisian ulang baterai dan
menghasilkan arus selama operasi.

Komponen – komponen utama sistim charging adalah:


 Alternator
 Circuit breaker
 Baterai

31
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

OPERASI RANGKAIAN CHARGING


Rangkaian charging beroperasi dalam tiga tahap:

Gambar 3.2

Pada saat starter,


Baterai mensuplai arus pada semua beban. Pada rangkaian charging di atas, awalnya baterai
memberikan arus ke rangkaian starting motor untuk menghidupkan engine (Gambar 3.2.1).
Setelah hidup, engine kemudian menggerakkan alternator, yang menghasilkan arus untuk
mengambil alih operasi ignition, lampu dan beban asesoris di seluruh sistem.

Selama puncak operasi,


Baterai dan alternator, bersama-sama menyediakan arus. Diagram pada (Gambar 3.2.2)
memperlihatkan bahwa baterai juga menyediakan arus selama puncak operasi ketika beban
listrik terlalu tinggi untuk alternator. Alternator menyediakan arus ke sistem kelistrikan mesin
(Gambar 3.2.3). Alternator mensuplai arus selama engine hidup di atas kecepatan idle.

Selama operasi normal


Alternator menyuplai semua arus beban dan melakukan recharge baterai. Ketika engine
berada pada kondisi idle atau berhenti, maka baterai mengambil alih sebagian atau semua
beban. Akan tetapi, alternator akan tetap mensuplai arus selama engine dalam kondisi idle.

32
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

PRINSIP KERJA PEMBANGKITAN ARUS LISTRIK

Induksi Elektromagnet

Gambar 3.3

Ketika fluks magnet terpotong oleh konduktor listrik yang bergerak di dalam sebuah medan
magnetik, maka gaya elektromotif (tegangan induksi) akan terjadi di dalam konduktor, dan arus
akan mengalir jika konduktor merupakan bagian dari sebuah rangkaian tertutup. Seperti
diperlihatkan pada Gambar 48, jarum galvanometer (sebuah ammeter yang diaktifkan oleh jumlah
arus yang terkecil) akan bergerak karena gaya elektromotif yang tercipta ketika konduktor
digerakkan maju mundur memotong medan magnet antara kutub utara dan selatan.

Dari kegiatan yang dijelaskan di atas akan terlihat bahwa:


 Jarum galvanometer akan bergerak jika konduktor atau magnet digerakkan.
 Arah penyimpangan pergerakan jarum akan bervariasi sesuai dengan arah pergerakan
konduktor atau magnet.
 Besarnya defleksi jarum sebanding dengan kecepatan gerakan dan banyaknya fluk yang
terpotong.
 Jarum berhenti bergerak jika gerakan dihentikan.

Ketika konduktor memotong magnetik fluks, maka gaya elektromagnet akan terjadi di dalam
konduktor. Fenomena ini disebut sebagai “induksi elektromagnet”. Generator menghasilkan gaya
electromotive dengan cara induksi elektromagnetik, dan mengubahnya menjadi daya listrik
(tegangan dan arus).

33
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Arah Gaya Elektromotif

Gambar 3.4

Arah dari gaya electromotive (EMF/electromotive force) yang dihasilkan pada konduktor di dalam
medan magnetik akan bervariasi sesuai perubahan arah fluks magnetik dan arah ke mana
konduktor bergerak. Jika konduktor digerakkan (ke arah yang diperlihatkan oleh panah besar
pada Gambar 49 di antara kutub magnetik utara dan selatan, maka gaya electromotive akan
mengalir dari kanan ke kiri (arah dari fluks magnetik adalah dari kutub utara ke kutub selatan).
Arah dari gaya elektromotif dapat dipahami dengan menggunakan Aturan Tangan Kanan
Fleming.

Aturan Tangan Kanan Fleming

Gambar 3.5

Dengan ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah dari tangan kanan yang diregangkan dengan sudut
siku antara satu dengan lainnya (Gambar 50), maka jari telunjuk akan mengindikasikan arah dari
fluks magnet (garis gaya magnetik), ibu jari adalah arah gerakan konduktor, dan jari tengah
adalah arah gaya electromotif

34
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Jumlah Gaya Elektromotif

Gambar 3.6
Jumlah dari gaya elektromotif yang dihasilkan ketika konduktor memotong fluks magnet melewati
fluks magnet dalam medan magnet sebanding dengan jumlah garis gaya magnet yang terpotong
dalam waktu tertentu (Gambar 3.6).

Gambar 3.7

Dalam suatu medan magnetik dengan densitas yang seragam, jumlah gaya electromotive yang
dihasilkan akan bervariasi sesuai dengan arah gerakan konduktor meskipun kecepatan konduktor
konstan. Seperti diperlihatkan pada (Gambar 3.7), sebuah konduktor digerakkan dari titik A ke B,
ke C, ke D dan kembali ke A. Akan tetapi, konduktor hanya akan memotong fluks ketika bergerak
dari titik A ke B dan dari C ke D. Dengan kata lain, meskipun konduktor bergerak dengan
kecepatan yang sama diantara setiap titik, gaya electromotive hanya akan dihasilkan jika
bergerak antara A dan B dan antara C dan D.

Gambar 3.8

Jika konduktor digerakkan sepanjang jalur yang melingkar di dalam medan magnetik, maka gaya
elektromotif akan selalu berubah. Pada (Gambar 3.8), konduktor digerakkan di dalam sebuah
lingkaran dengan kecepatan konstan dari titik A ke G dan kembali ke titik A di antara kutub utara
dan selatan magnet. Dalam hal ini, jumlah terbesar dari garis gaya magnetik terpotong antara titik
D dan E dan antara titik J dan K, akan tetapi tidak ada garis yang terpotong antara titik A dan B
atau titik G dan H.

Gambar 3.9

35
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Dengan demikian, jika gaya elektromotif yang dihasilkan ketika konduktor bergerak di dalam
sebuah lingkaran dinyatakan dalam sebuah grafik, maka dalam Gambar 3.9 dapat dilihat bahwa
tingkat gaya ini secara konstan mengalami perubahan (naik dan turun). Selanjutnya, arah dari
arus yang dihasilkan oleh gaya electromotive akan berubah dengan setiap setengah putaran dari
konduktor.

Gambar 3.10

Meskipun gaya elektromotif timbul ketika sebuah konduktor tunggal diputar pada medan magnet,
jumlah gaya yang didapat sangat kecil (Gambar 3.10).

Gambar 3.11

Akan tetapi, jika dua konduktor digabungkan dari ujung ke ujung (Gambar 3.11), maka gaya
electromotive akan dihasilkan di kedua ujung, dan konsekuensinya gaya ini akan digandakan.
Oleh karena itu, semakin banyak konduktor yang berputar di dalam medan magnet, maka
semakin banyak gaya elektromotif yang akan dihasilkan.

Gambar 3.12

Jika konduktor berbentuk koil, maka jumlah total gaya elektromotif yang dihasilkan akan lebih
besar, begitu juga dengan jumlah tegangan yang dihasilkan. Generator menghasilkan listrik
dengan memutar sebuah koil di dalam medan magnet (Gambar 3.12). Ada dua jenis listrik, arus
searah / Direct Current (DC) dan arus bolak-balik / Alternating Current (AC), serta tergantung
pada metode memproduksi listrik, jenis generator ada yang Direct Current dan Alternating
Current.

36
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Generator AC

Gambar 3.13

Jika listrik yang dihasilkan oleh sebuah koil disuplai melalui slip ring dan brush (sehingga koil
dapat berputar), maka jumlah arus yang mengalir ke lampu akan berubah dan, pada saat yang
sama, arah aliran juga berubah (Gambar 3.13). Ketika koil berputar, arus yang dihasilkan pada
setengah putaran pertama akan disuplai dari brush pada sisi A, melalui lampu dan kemudian
kembali ke brush di sisi B. Pada setengah putaran terakhir, arus akan disuplai dari sisi B dan
kembali ke sisi A.

Gambar 3.14

Dengan cara ini, generator AC menyediakan arus yang dihasilkan oleh koil di dalam medan
magnetik (Gambar 3.14). Di bawah ini adalah contoh generator AC yang memiliki penghantar
yang tidak bergerak dan magnet yang berputar. Dalam hal ini, magnet permanen-nya adalah
rotor sedangkan koilnya adalah stator.

PRINSIP KERJA ALTERNATOR

Gambar 3.15

37
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Alternator yang digunakan di dalam sistem charging pada mesin CAT menggunakan dioda untuk
menyearahkan arus (rectifier) yaitu merubahnya menjadi arah arus searah, sebelum diteruskan
ke sistem charging, baterai, dan beban listrik yang lain. Arus diubah searah secara elektronik
dengan menggunakan dioda. Secara umum alternator lebih kompleks daripada generator dan
dapat menyediakan arus yang lebih tinggi pada engine pada kecepatan rendah. Sebagian besar
menggunakan banyak assesoris listrik, maka alternator harus dapat menyediakan arus output
yang lebih baik untuk beban listrik yang makin meningkat.

Pada alternator, medan magnet berotasi di dalam kumparan (Gambar 60). Medan magnet yang
berputar ini sebagai rotor. Bagian yang diam merupakan konduktor. Garis gaya magnet bergerak
melewati konduktor dan menginduksi aliran arus di dalamnya. Karena konduktor tidak bergerak,
maka dapat langsung dihubungkan tanpa menggunakan brush. Hal ini mengurangi panas dan
keausan. Pada alternator, konduktor yang menghasilkan sejumlah panas besar, diposisikan di
bagian dalam dari casing luar. Hal ini memungkinkan pelepasan panas dengan lebih baik ke
atmosfer.

Induksi Tegangan
Tegangan / ElectroMotive Force – (EMF) akan diinduksi di dalam sebuah konduktor jika sebuah
medan magnet digerakkan melalui konduktor tersebut. Sebagai contoh seperti diperlihatkan pada
Gambar 61. Anggap sebatang magnet dengan medan magnetnya berputar dalam sebuah
kumparan. Dengan berputarnya magnet, dan dengan kutub S (South) di bagian bawah magnet
langsung berada di bagian atas dari konduktor dan kutub N (North) di bagian atas magnet
langsung berada di bagian bawah konduktor maka tegangan yang diinduksi akan menyebabkan
arus mengalir di dalam rangkaian dengan arah seperti yang diperlihatkan gambar 61. Ketika arus
mengalir dari positif ke negatif melalui rangkaian eksternal atau rangkaian beban maka ujung
kumparan yang bertanda “A” berpolaritas positif dan ujung yang bertanda “B” adalah negatif.
Setelah batang magnet bergerak melalui setengah perputaran, maka kutub N telah bergerak
langsung di bawah konduktor atas dan kutub S langsung di atas konduktor bawah. Tegangan
yang diinduksi sekarang akan menyebabkan arus mengalir ke arah yang berlawanan. Ujung dari
kumparan yang bertanda “A” akan merupakan polaritas negatif, dan ujung yang bertanda “B”
akan menjadi positif. Polaritas dari ujung kumparan telah berubah. Setelah setengah putaran
kedua, maka batang magnet akan kembali pada titik awal di mana “A” adalah positif dan “B”
adalah negatif. Akibatnya arus akan mengalir melalui rangkaian eksternal atau beban, awalnya
searah kemudian berubah ke arah yang lain. Ini adalah arus bolak-balik (Alternating Current),
yang terjadi secara internal dalam alternator.

Gambar 3.16

Sangat sedikit tegangan yang diproduksi dengan sebatang magnet yang berputar di dalam lilitan
tunggal. Jika lilitan dan magnet ditempatkan di dalam kerangka besi, maka tercipta sebuah jalur
penyalur untuk garis gaya magnet. Karena besi menyalurkan kemagnetan dengan sangat mudah,
maka penambahan kerangka besi akan sangat meningkatkan jumlah garis gaya (lihat Gambar
3.16). Sebagian besar garis gaya magnet berada di tengah ujung magnet. Oleh karena itu,
bidang magnet yang kuat berada di tengah magnet dan medan magnet yang lemah berada di
bagian tepi pinggir. Kondisi ini terjadi jika celah udara antara magnet dan kerangka bidang lebih
besar di tepi daripada di tengah magnet. Jumlah tegangan yang diinduksi di dalam konduktor
sebanding dengan jumlah garis gaya yang memotong melalui konduktor dalam jangka waktu
38
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

tertentu. Tegangan juga akan meningkat jika batang magnet berputar lebih cepat, karena garis
gaya memotong kumparan dalam jangka waktu yang lebih cepat.

Gambar 3.17

Magnet yang berputar di dalam alternator disebut rotor dan kumparan serta frame assembly
disebut stator (Gambar 3.17).

Gambar 3.18

Pada Gambar 3.18 lilitan tunggal yang bertindak sebagai lilitan stator dan batang magnet yang
bertindak sebagai rotor menggambarkan bagaimana tegangan AC diproduksi di dalam sebuah
alternator dasar. Gambar 63, jika tiga lilitan masing-masing berjarak 120 derajat, dipasangkan
pada alternator dasar, maka tiga tegangan yang terpisah akan dihasilkan dengan jarak masing-
masing 120 derajat. Dengan kutub S dari rotor yang berada langsung di bawah konduktor A,
maka tegangan pada A akan berada pada besaran maksimum. Setelah rotor berputar 120
derajat, maka kutub S akan langsung berada di bawah konduktor B dan tegangan di B akan
maksimum. Juga 120 derajat kemudian, tegangan pada C akan maksimum. Tegangan puncak di
A, B, C di dalam masing-masing kumparan terjadi dengan jarak 120 derajat.

39
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Delta Winding

Gambar 3.19

Jika ujung dari lilitan, yang bertanda A1, B1 dan C1, dihubungkan pada ujung-ujung yang
bertanda masing-masing B, C dan A, maka sebuah lilitan tiga phasa “delta” pada stator akan
terbentuk (Gambar 3.19). Ketiga tegangan (BA, CB, dan AC) yang tersedia dari lilitan stator delta
adalah sama dengan ketiga tegangan yang telah dibahas sebelumnya.

Star Winding

Gambar 3.20

Jika ujung dari lilitan yang bertanda A1, B1 dan C1 dihubungkan bersama, sebuah lilitan tiga
phasa hubungan “Y” atau “star” atau “bintang” akan terbentuk (Gambar 3.20). Masing-masing
tegangan ini terdiri dari tegangan pada dua lilitan yang dijumlahkan bersama. Tiga tegangan AC
dengan jarak 120 derajat tersedia dari stator Y. Stator Y seringkali disebut konfigurasi bintang.
Konstruksi alternator pada umumnya adalah 3 phasa seperti ditunjukkan pada gambar di atas,
sehingga pada saat terjadi induksi, masing-masing phasa akan mengeluarkan tegangan dengan
selisih phasa 120 derajat. Pada sambungan delta, masing-masing lilitan dihubungkan pada ujung
dari lilitan yang lain (Gambar 3.20). Hal ini menghasilkan hubungan sejajar di dalam stator delta,
yang umumnya memungkinkan output arus yang lebih tinggi daripada stator lilitan “Y”. Dalam
stator lilitan “Y”, lilitan dihubungkan untuk membentuk rangkaian seri. Rangkaian seri ini
umumnya menyediakan tegangan yang lebih tinggi tetapi output arus yang lebih rendah daripada
stator sambungan delta. Pabrik-pabrik pembuat alternator masa kini menggunakan koil dengan
sambungan “delta” maupun “Y” dalam stator. Untuk meningkatkan output dari alternator beberapa
modifikasi pada model dasar diperlukan dengan:
 Meningkatkan jumlah konduktor dalam masing-masing winding.
 Meningkatkan kekuatan dari medan magnet.
 Meningkatkan kecepatan berputar.

40
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

PENYEARAH ARUS

Penyearah Satu Phasa

Gambar 3.21

Meskipun alternator tampaknya telah lengkap, arus yang dihasilkan darinya masih merupakan
arus bolak-balik. Sistem kelistrikan memerlukan arus searah. Agar output dari alternator dapat
digunakan, maka harus diubah dari AC menjadi DC. Komponen yang tepat untuk tugas ini adalah
rectifier, yang menggunakan dioda (Gambar 3.21). Dioda merupakan komponen ringkas yang
menghantarkan arus hanya pada satu arah dan mudah dipasang di dalam alternator housing.
Setelah melewati rectifier, maka tegangannya menjadi DC, yang kemudian akan diperhalus /
dimurnikan lagi oleh kapasitor sehingga menjadi konstan. Dan untuk mengatur outputnya
digunakanlah regulator, yang terdapat di dalam alternator tersebut. Secara normal dioda
digunakan pada alternator dalam dua kelompok, di mana masing-masing kelompok terdapat 3
dioda. Karena sistem tiga phasa di dalam alternator, maka diperlukan tiga dioda positif dan tiga
dioda negatif. Dalam sistem yang memerlukan output yang lebih tinggi, mungkin diperlukan dioda
yang lebih banyak. Sebuah baterai yang terhubung pada terminal output DC akan diberi energi
lagi ketika alternator menyuplai arus charging. Penghambatan yang dilakukan dioda mencegah
baterai agar tidak langsung dikosongkan melalui rectifier.

Note:
Sebuah kapasitor diperlihatkan terhubung antara B+ dan B-. Kapasitor melaksanakan fungsi
berikut ini:
 Melindungi rectifier dari tegangan peralihan sementara yang tinggi
 Melindungi rangkaian dioda
 Memperhalus output dari rectifier
 Mengurangi bunyi berisik listrik.

41
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Penyearah Tiga Phasa

Gambar 3.22

Ketiga kurva tegangan AC yang disediakan oleh stator tipe “Y” telah dibagi menjadi enam periode
pada Gambar 3.22. Di mana setiap periode mewakili seperenam perputaran rotor, atau 60
derajat.

Selama periode 1, maksimum tegangan yang diinduksi timbul melewati terminal stator BA. Hal ini
berarti bahwa arus mengalir dari B ke A di dalam lilitan stator selama periode ini dan melalui
dioda seperti diperlihatkan pada Gambar 67 di atas. Asumsikan bahwa tegangan yang
dibangkitkan dari B ke A adalah 16 Volt. Hal ini berarti bahwa potensial di B adalah 0 Volt dan
potensial di A adalah 16 Volt. Demikian juga, dari kurva tegangan, tegangan dari C ke B pada
saat ini adalah negatif 8 Volt. Ini berarti potensial pada C adalah 8 Volt, karena C ke B, atau 8 ke
nihil, mewakili suatu negatif 8 Volt. Pada saat yang sama ini, tahap tegangan dari A ke C adalah
juga negatif 8 Volt karena A ke C, atau 16 ke 8, mewakili tegangan negatif 8 Volt. Potensial
tegangan ditunjukkan pada rectifier. Hanya dua dioda akan menghantarkan arus, karena hanya
dalam dioda ini arus dapat mengalir ke beban. Dioda yang lain tidak akan menghantarkan arus,
karena dioda tersebut reverse bias. Tegangan yang ada pada rectifier dan “bias” dioda
menentukan arah aliran arus. Tegangan ini diwakili oleh kurva tegangan, yang merupakan
tegangan yang sebenarnya tampil pada dioda rectifier. Dengan mengikuti prosedur yang sama
untuk periode 2-6, maka aliran arus dapat ditentukan. Jika hubungan baterai dibalik maka dioda
akan rusak, akibat aliran arus yang besar melawan dioda.

Gambar 3.23

Tegangan yang diperoleh dari kombinasi penyearahan output stator yang dihubungkan dengan
baterai belum datar murni tetapi harus datar murni yang outputnya tidak berubah. Tegangan
diperoleh dari kurva tegangan phasa dan diilustrasikan pada gambar 3.23.
42
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 3.24

Kumparan stator tipe delta dapat menyediakan output yang sama seperti sebuah stator “Y”, juga
akan menyediakan suatu output tegangan dan arus yang halus, ketika dihubungkan pada enam
dioda penyearah (Gambar 3.24). Untuk menjelaskan, kurva tegangan tiga phase yang diperoleh
dari hubungan delta dasar untuk satu perputaran rotor dihasilkan dan telah dibagi menjadi enam
periode.

Gambar 3.25

Selama periode 1, tegangan maksimum yang dibangkitkan di dalam stator pada BA (Gambar 70).
Arus yang mengalir melalui rectifier sama persis seperti arus pada stator “Y”, karena potensial
tegangan pada dioda sama. Perbedaan antara stator delta dan stator “Y” adalah stator “Y”
menghantarkan arus hanya melalui dua lilitan selama satu periode, sedangkan stator delta
menghantarkan arus melalui ketiga lilitan. Tahap BA adalah sejajar dengan tahap BC dan CA.
Jika tegangan dari B ke A adalah 16, maka tegangan dari B ke C ke A juga harus 16 karena 8
Volt dibangkitkan oleh dari dua phase ini (B ke C dan C ke A). Dengan mengikuti prosedur yang
sama untuk periode 2-6, maka aliran arus dapat ditentukan.

REGULATOR

Gambar 3.26

43
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Fungsi regulator adalah mengatur tegangan output dari alternator agar tetap berada pada nilai
tegangan tertentu. Jika alternator dibiarkan beroperasi tanpa kendali, maka akan menghasilkan
tegangan yang terlalu tinggi untuk dapat digunakan di dalam mesin tersebut dan akan
menyebabkan kerusakan pada komponen. Regulator (Gambar 71) mengendalikan output
alternator. Output arus dibatasi oleh konstruksi alternator dan diindikasikan sebagai maksimum
pada name plate housing. Sebagai contoh, sebuah name plate housing mungkin disebutkan 12V
85A. Hal ini mengindikasikan bahwa output maksimum adalah 85 Ampere dan alternator itu
dirancang untuk sistem 12 Volt. Regulation rangkaian mengendalikan output tegangan dari
alternator dengan mengubah kekuatan dari medan magnetik yang diproduksi oleh rotor.
Regulator peka terhadap tegangan baterai dan terhadap beban listrik yang diberikan pada sistem.
Regulator kemudian dapat menyesuaikan jumlah arus ke rotor untuk memenuhi kebutuhannya.
Jika tegangan baterai rendah dan kebutuhan dari assesoris listrik adalah tinggi, maka regulator
tegangan akan meningkatkan output dari alternator untuk mengisi baterai dan menyediakan arus
yang cukup untuk mengoperasikan assesoris. Jika tegangan baterai tinggi dan kebutuhan listrik
rendah, maka regulator tegangan akan mengurangi output dari alternator. Cara operasinya
dengan mengatur kemagnetan pada koil excitation field, karena hal-hal yang mempengaruhi
tegangan output tersebut adalah:
 Jumlah lilitan / winding
 Kecepatan / speed
 Kemagnetan pada excitation field koil

Gambar 3.27

Cara kerjanya:
Pada saat engine start up, maka arus yang mengalir melalui R7 dan R8 turun dan lebih rendah
dari tegangan breakdown dioda zener, sehingga tegangan pada base TR B sama dengan
tegangan di emitternya dan arus tidak bisa mengalir melalui TR B. Perbedaan tegangan yang
terjadi pada base dan emitter di TR A menyebabkan arus bisa mengalir melalui TR A tersebut
dan menuju ke field alternator untuk eksitasi. Kemudian tegangan output dari alternator menjadi
naik sesuai dengan kecepatan dari enginenya. Pada saat kecepatan engine makin cepat dan
kebutuhan akan arus yang dibutuhkan makin tinggi, maka regulator mengatur outputnya agar
tidak terjadi ”over voltage”. Dikarenakan output alternator mulai naik maka arus yang melalui
resistor 7 (R7), dan resistor 8 (R8) menjadi naik pula. Hal ini menyebabkan tegangan pada kedua
resistor tersebut lebih besar dari tegangan breakdown-nya dioda zener, sehingga arus dapat
mengalir melalui dioda tersebut. Kemudian terjadi perbedaan tegangan antara base dan emitter
pada transistor B (TR B), yang menyebabkan transistor tersebut “conduct” dan arus bisa mengalir
melalui transistor tersebut. Hal ini berakibat tegangan pada base dan emitter di transistor A (TR
A) tidak ada perbedaan, maka transistor tersebut tidak dapat dialiri arus, yang akibatnya field koil
pada alternator collapse. Dan pada saat itu alternator tidak mengeluarkan output tegangannya.
Sehingga tegangan pada R7 dan R8 menjadi turun kembali, yang berakibat dioda zener kembali
off (tidak conduct). Maka transistor B kembali on dan transistor A kembali off, dan siklusnya

44
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

kembali seperti semula pada saat start up. Kejadian tersebut berulang-ulang pada saat regulator
mempertahankan tegangan outputnya sesuai dengan spesifikasinya yaitu sekitar 28 volt.

KONSTRUKSI ALTERNATOR

Gambar 3.28

Brush-type Alternator
Sesuai dengan yang dibicarakan sebelumnya, medan magnetik di dalam alternator AC (Gambar
3.28) diciptakan oleh rotor assembly yang berputar di dalam stator.

Gambar 3.29

45
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Rotor ini terdiri dari sebuah rotor shaft, dua bagian rotor (rotor half) dengan finger yang akan
menciptakan medan magnetik yang besar, sebuah rangkaian koil dan dua slip ring (Gambar
3.29). Jika arus dilewatkan melalui rangkaian koil, sebuah medan magnetik tercipta di dalam
masing-masing kutub rotor. Satu set finger akan menjadi kutub utara sementara set finger yang
lain akan menjadi kutub selatan. Karena rotor finger saling tumpang-tindih, maka banyak
lingkaran fluks individu yang akan terbentuk antara kutub utara dan selatan alternator. Bukan
hanya satu medan magnet yang melalui setiap lilitan selama satu perputaran rotor, melainkan
banyak medan magnet yang akan melalui lilitan, yang akan meningkatkan output dari stator.
Karena rotor harus diberi arus untuk dapat menciptakan medan magnetik, maka rangkaian koil di
dalam kutub dihubungkan pada slip ring. Slip ring ini disediakan agar brush dapat dipergunakan
untuk menyediakan arus ke medan yang bergerak. Slip ring ditekan pada shaft dan diisolasikan
dari shaft. Konduktor koil disolderkan pada slip ring untuk membentuk suatu rangkaian yang
tertutup, yang diisolasi dari shaft. Karena rotor akan berputar dengan kecepatan tinggi, maka
harus ditopang oleh bearing. Ujung depan dari shaft mempunyai sebuah bearing yang dipasang
di dalam drive end housing assembly (Gambar 3.29). Perhatikan tambahan spacer untuk
menempatkan rotor pada posisi yang benar setelah alternator dirakit dan untuk menghindari fan
membentur housing. Karena pembangkitan listrik menyebabkan panas, maka sebuah fan
disediakan untuk memberikan aliran udara melalui assembly untuk pendinginan. Sebuah pulley
dipasang pada ujung rotor shaft dan digerakkan oleh belt.

Gambar 3.30

Ujung housing menopang pada slip pada dari rotor shaft dan menyediakan tempat untuk
pemasangan brush, rectifier assembly, stator dan regulator (jika dilengkapi). Drive end housing
dengan rotor dan slip ring end housing dengan komponennya dirakit sebagai satu unit dengan
stator. Rangkaian ini ditahan bersama dengan through capscrew (Gambar 3.30). Stator assembly
adalah lapisan ring besi lunak dengan tiga kumpulan koil atau lilitan. Salah satu ujung dari setiap
lilitan stator dihubungkan pada sebuah dioda positif dan negatif. Ujung lilitan stator yang lain
dapat dihubungkan dengan konfigurasi stator tipe “Y” atau dengan sebuah konfigurasi stator
delta. Rectifier assembly merubah arus AC menjadi arus DC. Tiga dioda positif dan tiga dioda
negatif dipasang pada rectifier assembly. Alternator dirancang untuk menyediakan jarak
seminimal mungkin antara rotor dan stator untuk memaksimalkan medan magnetik. Alternator
merupakan assembly ringkas yang dapat menghasilkan arus tinggi untuk memenuhi kebutuhan

46
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

sistem kelistrikan. Brush terhubung pada slip ring tembaga untuk meneruskan arus yang
diperlukan untuk menghasilkan medan magnetik di dalam rotor. Karena pentingnya koneksi yang
bagus untuk penyaluran yang benar, maka brush ditahan pada slip ring oleh koil spring yang
kecil. Ada dua brush, yang umumnya terdapat di dalam brush holder assembly. Assembly ini
dengan mudah dapat dikaitkan pada slip ring dan housing dari alternator.

Alternator Tanpa Brush (Brushless)

Gambar 3.31

(Gambar 3.31) Alternator jenis ini mirip dengan alternator lainnya. Perbedaannya hanya pada
pemberian supply arus pada kumparan penguatan medan yang diberikan oleh regulator. Pada
alternator jenis brush, penguat medan ikut berputar bersamaan dengan inti rotor karena
kumparan penguat medan berada pada rotor. Oleh karena itu, diperlukan brush dan cincin seret
untuk men-supply-nya. Pada alternator jenis ini, kumparan penguat medan dalam kondisi diam
bergabung dengan housing alternator. Keuntungannya, tidak diperlukan cincin seret dan brush
untuk men-supply-nya. Jadi yang berputar itu hanya inti besi di bagian rotor. Selain itu,
keuntungan lainnya, tidak ada percikan api (spark), lebih ekonomis karena tidak pakai brush
berarti tidak ada biaya perawatan untuk penggantian brush dan cincin seret, pemberian supply
arus ke kumparan penguat medan pun sangat sempurna (tidak melalui gesekan yang
menyebabkan rugi-rugi).

Umumnya engine-engine sekarang sudah menggunakan alternator jenis ini dengan pertimbangan
seperti hal di atas. Alternator brushless ini ada yang bertegangan output 12V dan 24V.

PENGUJIAN CHARGING SYSTEM


Pengetesan yang akurat terhadap charging system dimulai dari pemahaman bagaimana sistem
tersebut bekerja. Bila pemahaman sudah memadai maka bias diputuskan dengan logis
kerusakan yang terjadi dengan visual inspection dan pengetesan komponennya. Dalam

47
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

perbaikan charging system ada kemungkinan terjadinya penggantian maupun perbaikan part di
dalamnya mulai dari battery sampai ke alternator.

Semua perbaikan sebaiknya mengacu pada service manual dari machine bersangkutan. Dalam
pengetesan electrical system, maka penggunaan schematic akan sangat membantu. Demikian
halnya ddalam perbaikan charging system. Penggantian part tanpa melalui prosesdur
pengetesan yang benar merupakan metode yang salah dalam mencari kerusakan dan
memperbaikinya.

Menanggapi keluhan
Tentukan dengan tepat apa keluhan tersebut, kemudian pastikan kerusakan tersebut benar-benar
terjadi. Beberapa permasalahan yang sering dijumpai pada charging system adalah:
- Battery dalam kondisi discharge namun charging system tidak mengisi atau low charge.
- Battery bisa terisi namun charging system mengalami overcharging.
- Alternator berbunyi bising.
- Lampu charge indicator selalu menyala ataupun tidak pernah menyala.

Menentukan masalah
Mulai dengan langkah-langkah visual inspection terhadap kemungkinan berikut ini:
- Terminal battery yang longgar atau berkarat.
- Kabel ground menuju ke engine atau body longgar atau rusak.
- Sambungan antara regulator dan alternator longgar atau kotor.
- Fuse putus.
- Kabel rusak, terjepit, atau putus.
- Ada rangkaian yang short to ground.
- Kerusakan pada fisik alternator atau regulatornya.
- Kerusakan pada pulley atau belt.
- Adanya bau terbakar dari komponen elektrik.

Tentukan masalah yang terjadi apakah bersumber dari sistem elektrikal ataukah dari sistem
mekanikalnya. Karena alternator digerakkan oleh belt, maka perlu juga diperiksa kekencangan,
keausan, dan kerusakan belt tersebut untuk memastikan dapat bekerja dengan baik. Untuk
pemeriksaan fisik pada belt maka kita harus memeriksa sisi luar dan dalam dari kemungkinan retak-
retak, pecah, glazing, atau, terkelupas.

Periksa pulley alternator (dan pulley lain yang ikut bergerak ketika alternator diputar) terhadap
kemungkinan aus. Kerusakan belt yang terlalu dini bisa jadi disebabkan oleh keausan pulley. Periksa
alignment dari pulley, biasanya dari visual inspection akan kelihatan apabila pulley tidak terpasang
dengan baik, tapi untuk lebih memastikannya bisa dicek menggunakan penggaris. Periksa
kekencangan belt, dan ketika menyetel jangan dibuat terlalu longgar maupun terlalu kencang (lihat
manual book untuk spect kekencangan yang benar). Pengencangan belt yang salah bisa
menyebabkan kerusakan pada alternator., misalnya suara berisik, keausan bearing, maupun
kerusakan komponen internal seperti rotor bergesekan dengan stator atau putaran fan menabrak
diode dan regulator.

Problem mekanikal bisa di atasi dengan mengganti komponen yang rusak atau memperbaikinya bila
memungkinkan dan problem elektrik memerlukan pengetesan yang lebih detail. Lanjutkan
pemeriksaan dengan pengetesan battery. Charging system tidak akan bekerja dengan baik bila
battery rusak atau bermasalah.

Pisahkan penyebab masalah


Setelah berhasil memastikan problem yang terjadi maka langkah selanjutnya adalah memisahkan
penyebab masalah tersebut sehingga proses perbaikan bisa dilakukan dengan cepat dan tepat.
Kerusakan mekanikal bisa ditentukan dengan pemeriksaan visual maupun dengan pendengaran,
sedang kerusakan elektrikal bisa ditentukan dengan pengetesan bagian yang dicurigai rusak.

Pengetesan charging system


Pengetesan charging system pada unit harus dilakukan terlebih dahulu untuk menentukan apakah
alternator harus dicabut dari unit. Pengetesan yang bisa dilakukan di atas unit adalah:

48
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

- Pengetesan tegangan output alternator.


- Pengetesan regulator.
- Pemeriksaan voltage drop pada rangkaian (positif dan negatif).

Sedangkan pemeriksaan yang dilakukan pada alternator test bench bisa membantu untuk
memastikan apakah alternator diganti atau masih bisa diperbaiki. Pengetesan pada alternator
testy bench meliputi:
- Rotor field winding tests
- Stator tests.
- Rectifier tests.
- Brush tests.
- Alternator output test.

Langkah Pengujian 1: Check Drive System


1. Periksa kondisi dari belt penggerak alternator. Bersihkan pulley dan ganti belt penggerak
pulley bila kondisinya berminyak, keringkan belt bila kondisinya basah, dan gantilah bila telah
aus.
2. Periksa kekencangan belt penggerak alternator. Setel kekencangan sesuai dengan
spesifikasi. Mengaculah pada spesifikasi di buku manual untuk tingkat kekencangan yang
tepat.
3. Periksa nut yang ada pasa pulley. Keraskan nut bila ada kelonggaran. Lihat spesifikasi torque
yang tepat untuk nut pada buku manual.

Hasil Yang Diharapkan


Sistem penggerak untuk alternator berfungsi dengan baik. Jadi tidak ada kekhawatiran lagi
terhadap sistem penggerak alternator.

Hasilnya
- Yes.
Drive system pada alternator berfungsi dengan baik, tidak ada perbaikan yang perlu
dilakukan. Lanjut ke Langkah Pengujian 5.
- No.
Bila drive siystem tidak berfungi baik, maka perbaikan istem ini harus dilakukan lebih dahulu.

Perbaikan
Bila permasalahan di drive system telah di atasi, lakukan pengetesan kembali. Stop.

Langkah Pengujian 2: Check System Voltage


1. Sebelum melakukan starting pada unit, pasang voltmeter antara terminal B alternator dan
bodi alternator. Matikan semua beban listrik.
2. Putar kunci kontak pada posisi ON tapi jangan di-start. Lihat pembacaan pada voltmeter, dan
catatlah pembacaan pada voltmeter tersebut.

Hasil Yang Diharapkan


Tegangan yang terbaca harus sesuai dengan tegangan pada charging system.

Hasilnya
- Yes.
Bila tegangan sudah sesuai dengan tegangan pada charging system, lanjut ke Langkah
Pengujian 2.
- No.
Bila tegangan pembacaan lebih rendah dari tegangan pada charging system, maka lanjut
pada Langkah Pengujian 4.

Langkah Pengujian 3: Check Operation Of Alternator.


1. Posisi voltmeter tetap pada terminal b dan bodi alternator.
2. Start unit, dan set throttle pada posisi 75%, lihat tegangan yang terbaca pada voltmeter. Catat
pembacaan voltmeter.

49
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Hasil Yang Diharapkan


Hasil pengukuran harus lebih tinggi daripada hasil pengukuran pada Langkah Pengujian 2.

Hasilnya
- Tegangan lebih tinggi.
Voltage yang terbaca lebih tinggi dibanding voltage yang terukur pada proses Langkah
Pengujian 2. Namun tegangan harus berada di bawah tegangan maksimum alternator yang
tercantum dalam spesifikasi alternator. Hal ini berarti alternator berhasil melakukan pengisian
battery. Lanjut ke Langkah Pengujian 3.

- Tegangan terlalu tinggi.


Tegangan yang terbaca lebih tinggi daripada tegangan maksimum alternator. Hal ini berarti
terjadi overcharging pada alternator. Lanjut ke Langkah Pengujian 16

- Tegangan lebih rendah.


Pembacaan tegangan lebih rendah daripada yang terbaca pada Langkah Pengujian 2. lanjut
ke Langkah Pengujian 4.

Langkah Pengujian 4: Test Alternator Output Current.

Note: Tegangan pengisian pada battery yang terisi penuh bisa terbaca sebesar 12,5 volt pada
sistem 12 volt dan terbaca 25 volt pada sistem 24 volt.

1. Bila battery terisi penuh crank engine sekitar 30 detik, hal ini akan mengurangi tegangan
battery. Cara lain yaitu menyalakan lampu-lampu yang terpasang sekitar 10 menit dalam
kondisi engine mati.
2. Pasang 9u–5795 current probe atau 8t-0900 ammeter pada DMM (digital multimeter).
Multimeter harus mempunyai fitur ‘peak hold’. Pasang clam/probe pada output alternator di
terminal b. Sebelum memasang clamp pastikan pembacaan ammeter pada angka nol.
3. Set digital multimeter pada ‘peak hold’ atau ‘max mode’ dalam skala ‘mv’.
4. Nyalakan semua beban listrik seperti lampu-lampu, air conditoner, dan radio.
5. Start engine dan set throttle pada posisi 75%. Maka peak current akan terbaca pada volt
meter.

Hasil Yang Diharapkan


Pembacaan output current harus di atas 90% dari spesifikasi output current alternator tersebut.

Hasilnya
- Yes.
Output current di atas 90% dari spesifikasi output current. Lanjut ke Langkah Pengujian 10.
- N o.
Output current dibawah 90% dari spesifikasi output current. Lanjut ke Langkah Pengujian 4.

Langkah Pengujian 5: Test Charging Circuit Voltage.


1. Pastikan nut pada terminal ‘B+’ alternator sudah kencang. Juga pastikan kabel-kabel telah
tersambung dengan baik pada terminal B.
2. Ada beberapa unit caterpillar dilengkapi dengan connector untuk 6v–2150
3. Starting/charging analyser. Gunakan tester ini untuk menjalankan Langkah Pengujian ini.
Untuk menjalankan analyser, mengacu pada tool operating manual SEHS7768 (using 6v–
2150 starting/charging analyser).
4. Start engine dan set throttle pada posisi 75%. Nyalakan semua beban listrik. Biarkan engine
menyala sekitar 3 menit sebelum melanjutkan langkah berikutnya.
5. Ukur voltage antara terminal b alternator dan bodi alternator. Catatlah hasil pembacaan,
lakukan pengukuran selanjutnya.
6. Ukur tegangan pada battery. Pasang lead merah pada terminal positif battery dan lead hitam
pada terminal negatif battery. Catatlah hasil pembacaan.

Hasil Yang Diharapkan

50
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Voltage pada battery harus lebih rendah daripada voltage alternator. Perbedaan tegangan
keduanya tidak boleh lebih dari 1 volt pada sistem 12 volt dan 2 volt pada sistem 24 volt.

Hasilnya
- Yes.
Tegangan battery lebih rendah dari tegangan alternator, dan perbedaan tegangan dibawah 1
volt untuk sistem 12 volt dan 2 volt untuk sistem 14 volt. Hal ini berati pemasangan wiring
menuju alternator sudah benar.
Perbaikan
Terdapat masalah pada internal alternator. Ganti alternator atau lihat System Operation
‘component description’, untuk menentukan komponen yang mengalami kerusakan. Lanjutkan
pengetesan komponen. STOP.
- No.
Tegangan battery lebih rendah dari tegangan alternator atau selisih tegangan battery dan
alternator lebih tinggi dari 1 volt untuk sistem 12 volt dan 2 volt untuk sistem 24 volt.
Lanjutkan ke Langkah Pengujian 6.

Langkah Pengujian 6: Test Positive Side Of Charging Circuit.


1. Ukur tergangan antara frame dan terminal B alternator. Catatlah hasil pembacaan voltmeter.
Lakukan test selanjutnya.
2. Ukur tegangan antara frame dan terminal positif battery. Catatlah hasil pembacaan volt
meter.

Hasil Yang Diharapkan


Selisih tegangan hasil pembacaan tidak boleh melebihi 1 volt pada sistem 24 volt dan 0,5 volt
pada sistem 12 volt.

Hasilnya
- Yes.
Perbedaan tegangan tidak melebih toleransi. Hal ini berarti positive circuit dalam kondisi
bagus. Lanjutkan ke Langkah Pengujian 7.
- No.
Perbedaan tegangan berada di luar toleransi.

Perbaikan
Terdapat resistansi yang tinggi pada posistif dari charging circuit yang kemungkinan disebabkan
oleh hal-hal berikut:
- Persambungan elektrikal longgar.
- Persambungan elektrikal berkarat.
- Kerusakan paa main relay.
- Kerusakan pada circuit breaker.

Perbaiki masalahnya atau ganti komponen yang mengalami kerusakan. Setelah itu test kembali
charging system. STOP.

Langkah Pengujian 7: Test Negative Side Of Charging Circuit.


1. Periksa tegangan antara terminal negatif battery dan body pada alternator.

Hasil Yang Diharapkan


Tegangan yang terbaca tidak boleh lebih dari 1 volt pada sistem 24 volt atau 0,5 volt pada sistem
12 volt.

Hasilnya
- Yes.
Perbedaan tegangan tidak melebihi toleransi yang diijinkan. Hal ini berarti negative circuit
dalam kondisi bagus. Lanjut ke Langkah Pengujian 8.
- N o.
Perbedaan tegangan berada di luar toleransi.

51
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Perbaikan
Terdapat resistansi yang tinggi pada negatif dari charging circuit yang bisa disebabkan oleh hal-
hal berikut ini:
- Persambungan elektrikal longgar.
- Ground pada alternator longgar.
- Ground pada engine terlepas.

Perbaiki masalahnya atau ganti komponen yang mengalami kerusakan. Setelah itu test kembali
Charging System. STOP.
Langkah Pengujian 8: Test Circuit Of ‘R’ Terminal
1. start engine dan set throttle pada posisi 75 %.
2. pasang voltmeter antara terminal B alternator dan bodi alternator.
3. lepas persambungan kabel pada terminal R alternator. Bila terminal R tidak digunakan pada
unit lanjut ke Langkah Pengujian 9.

Hasil Yang Diharapkan


Tegangan tidak berubah.

Hasilnya
- Yes.
Tegangan tidak berubah.lanjut ke Langkah Pengujian 9.
- No.
Tegangan bertambah dan alternator mulai mengisi.

Perbaikan
Kabel yang menuju ke terminal R short. Perbaiki atau ganti wiring. Setelah itu test kembali
charging sistem. STOP.

Langkah Pengujian 9: Restore Residual Magnetism Of Rotor


1. Pasang kabel jumper pad terminal B alternator.
2. Kemudian hubungkan dengfan terminal R alternator selama 2 detik.

Hasil Yang Diharapkan


Output voltage bertambah pada terminal B alternator. Rotor telah terisi residual magnet.

Hasilnya
- Yes.
Output voltage bertambah, hal ini berarti rotor telah terisi residual magnet. Alternator bisa
mengisi.

Perbaikan
Lakukan kembali pengetesan pada charging system. STOP.
- No.
Output voltage tidak bertambah.

Perbaikan
Tedapat permalahan pada komponen internal alternator. Ganti alternator atau lihat System
Operation, ‘Component Description’, untuk menentukan komponen yang mengalami kerusakan.
Lanjutkan pengetesan komponen. STOP.

Langkah Pengujian 10: Test For Undesirable Current Flow In Alternator Charging System
(Parastic Current Draw).
1. Matikan semua beban dan posisikan kunci kontak pada posisi off.
2. Pasang clamp 9U -5795 Current Probe atau 8T-0900 Ammeter pada kabel ground. Catat
hasil pembacaan ammeter.

Hasil Yang Diharapkan


Pembacaan current dibawah 2 ampere. Hal ini berarti pengetesan disconnect switch berhasil
dilakukan

52
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Hasilnya
- Yes – Dengan Disconnect Switch terpasang.
Pembacaan current dibawah 2 ampere. Lanjut ke Langkah Pengujian no 11.
- Yes – Tanpa Disconnect Switch.
Pembacaan current dibawah 2 ampere. Lanjut ke Langkah Pengujian no 12.
- No.
Pembacaan current diatas 2 ampere, hal ini berarti terdapat current draw pada charging
system. Lanjut ke Langkah Pengujian 13.

Langkah Pengujian 11: Measure Current Of System By Using Main Disconnect Switch.
1. Putar kunci kontak pada posisi on.
2. Pasang ammeter pada terminal disconnect switch. Pasang lead merah pada terminal ground
disconnect switch dan lead hitam pada terminal battery pada disconnect switch. Bila
menggunakan multimeter set posisinya pada 10A untuk menghindari kerusakan multimter.
3. Putar disconnect switch pada posisi OFF dan catat pembacaan arus pada multimeter.

Hasil Yang Diharapkan


Arus dibawah 0.050 ampere (50 milli amp).

Hasilnya
- Yes.
Arus di bawah 0.050 Ampere, hal ini berarti charging system berfungsi dengan baik. failure
kemungkinan disebabkan oleh interrmittent draw pada sistem. battery kemungkinan rusak.
yakinkan bahwa tidak ada peralatan yang dihiduokan selama pengetesan ini. setelah itu
lakukan pengetesan kembali chrging system. STOP.
- No.
Current di atas 0.050 Ampere. terdapat draw di dalam sistem. lanjutkan ke Langkah
Pengujian 13.

Langkah Pengujian 12: Measure Current Of System By Removing Negative Battery Cable
(Parasitic Current Draw).
1. Disconnect kabel ground dari terminal negatif battery, kemungkinan terdapat lebih dari satu
battery yang terhubung ke ground. Jangan melepas jumper diantara 2 battery yang terpasang
secara seri (24 volt).
2. Pasang ammeter diantara terminal negatif pada disconnect switch dan satunya lagi pada
terminal negatif battery. Pasang lead warna merah ammeter pada kabel dan lead warna
hitam pada teminal battery. Bila menggunakan multi meter, set pada skala 10A untuk
menghindari kerusakan multimeter.

Hasil Yang Diharapkan


Current di bawah 0.050 Ampere (50 milli Amp).

Hasilnya
- Yes.
Bila current di bawah 0.050 Ampere. Berarti charging system masih dalam kondisi bagus.
fault kemungkinan disebabkan oleh intermittent draw di dalam sistem kemungkinan battery
rusak, pastikan tidak ada peralatan yang dihidupkan selama pengetesan. STOP.
- No.
current di atas 0.050 Ampere. terjadi aliran arus yang berllebihan di dalam sistem. lanjutkan
ke Langkah Pengujian 13.

Langkah Pengujian 13: Test Current Of Alternator Output Below 2 Amperes.


1. Putar kunci kontak ke posisi off.
2. Pasang 9u-5795 current probe atau 8t-0900 pada digital multi meter). Pasang clamp pada
kabel terminal B alternator. Sebelum memasang clamp, pastikan pembacaan dimuai dari nol.
3. Lihat pembacaan arus pada ammeter, lalu catat.

Hasil Yang Diharapkan

53
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Arus di bawah 2 Ampere.

Hasilnya
- Yes.
Arus di bawah 2 ampere, lanjut ke Langkah Pengujian 14.
- N o.
Arus di atas 2 ampere.

Perbaikan
Terdapat permasalahan pada komponen di dalam alternator. Ganti alternator atau lihat system
operation ‘component description’ untuk memastikan komponen yang mengalami kerusakan. STOP.

Langkah Pengujian 14: Test Output Current Of Alternator Below 0.015 Amperes.
1. Disconncect kabel dari terminal b alternator. Set multimeter pada skala 10A. Pasang lead
merah pada ujung kabel yang dilepas dan lead hitam pada terminal B alternator. Catat hasil
pembacaan ammeter.

Hasil Yang Diharapkan


Arus di bawah 0.015 Amperes.

Hasilnya
- Yes.
Bila arus di bawah 0.015 Ampere, berarti alternator beroperasi dengan benar. Kemungkinan
terdapat current draw pada unit/machine. Lanjutkan ke Langkah Pengujian 15.
- No.
Arus di atas 0.015 Ampere.

Perbaikan
Terdapat permasalahan pada komponen di dalamnya. Ganti alternator atau lihat system operation ‘
component description’ untuk memastikan komponen yang mengalami kerusakan. Stop.

Langkah Pengujian 15: Identify Source Of Excessive Current Draw / Parasitic Current
Draw.
1. Yakinkan tiap komponen elektrikal telah dimatikan, dan kunci kontak di posisi OFF.
2. Pasang clamp 9U-5795 Current Probe atau 8T-0900 Ammeter di kabel ground. Reset
ammeter ke nol sebelum memulai pengukuran gunakan current probe bila current draw yang
terbaca di atas 2 ampere, dan gunakan ammeter bila current drawa di bawah 2 ampere.
3. Cabut fuse atau buka circuit breaker secara bergantian. Check besarnya arus yang terbca
setiap kali fuse dicabut atau circuit breaker dibuka. Setelah mencqatat hasil pembacaan,
pasang kembali fuse dan circuit breaker. Mulai dengan memasang fuse yang arusnya besar
diikuti oleh fuse berarus kecil.
4. Periksa kemungkinan ada komponen di dalam rangkaian yang menyala.
5. Bila telah dipastikan semuanya mati, disconnect semua komponen pada rangkaian secara
bergantian. Perhatikan pembacaan arus yang terjadi setiap kali komponen dicabut.
6. Bila semua komponen telah di-disconnect dan problem tetap muncul periksa wiring pada
rangkaian. Kemungkinan ada kebocoran pada karat-karat yang terjadi atau short circuit.

Hasil Yang Diharapkan


Sumber dari current draw berhasil ditemukan.

Hasilnya
- Yes.
Sumber dari current draw berhasil ditemukan

Perbaikan

54
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

perbaiki masalahnya atau ganti komponen yang mengalami kerusakan. Setelah itu lakukan
pengetesan charging system kembali. STOP.
- No.
Sumber dari current draw tidak berhasil ditemukan

Perbaikan
Exit this procedure dan retest alternator charging system. STOP.

Langkah Pengujian 16: Test For An Overcharging Condition From Alternator.


1. Pastikan nut pada terminal B alternator telah dikeraskan dan hubungan kabel ke terminal B
sudah bagus. Gantilah bila terdapat komponen di jalur yang menuju terminal B mengalami
kerusakan. STOP.

Hasilnya
- N o.
Perbedaan Tegangan Melewati Toleransi Yang Diperbolehkan

Perbaikan
Terdapat resistansi yang tinggi pada bagian positif charging circuit yang disebabkan oleh hal-hal
berikut ini:
- Ada persambungan yan longgar.
- Ada persambungan yang berkarat.
- Kerusakan main relay.
- Kerusakan circuit breaker.

Perbaiki masalahnya dan lanjutkan pengetesan alternator.

PEMERIKSAAN KOMPONEN

CAPACITOR TEST
1. Lepas capacitor (1) dari alternator.
2. Sambung kedua terminal (2) capacitor bersama-sama dengan kabel jumper. Ini akan
mengosongkan capacitor.

Capacitor Test

Note: Capacitor (1) harus betul-betul kosong setelah step 2 selesai.

3. Set multimeter pada skala tahanan 0.20M ohm. Pasang lead multimeter pada terminal
capacitor (2).
4. Pembacaan multimeter harus menunjukkan very low resistance untuk sesaat. kemudian stabil
pada posisi 100 kilo ohm (0.100 Megaohm).
5. Bila pembacaan multi meter di luar toleransi, maka harus diganti.

DIODE ASSEMBLY TEST


1. Set multimeter ke posisi skala diode. Pasang lead hitam pada terminal cathode (1). kemudian
pasang lead merah ke tiap-tiap terminal anode (2), dan catat pembacaan ketiga terminal
anode yaitu: (A ke 1), (B ke 1), dan (C ke 1).

55
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Cathode terminal, (2) Anode terminal

2. Ketiga hasil pengukuran harus berada di antara 0.4 dan 0.9 Volts. Bila salah satu hasil
pengukuran tidak tepat maka diode assy harus diganti. Hasil pengukuran yang lebih rendah
menunjukkan shrt dan hasil pengukuran yang lebih tinggi menunjukkan open pada diode.
3. Set multimeter pada skala diode. Pasang lead merah pada terminal cathode (1). Pasang lead
hitam pada masing-masing terminal anode (2), dan catat ketiga hasil pengukuran yaitu: (A ke
1), (B ke 1) dan (C ke 1).
4. Ketiga hasil pengukuran harus menunjukkan ‘OL’ (Over Load). Bila salah satu hasil
pengukuran tidak tepat maka diode assy harus diganti. Pembacaan OL menunjukkan diode
dalam kondisi very high voltage drop (bagus). Hasil pengukuran yang lebih rendah
menunjukkan diode short.

FIELD WINDING TEST

Field Winding Continuity Test

(1) Slip Rings, (2) Rotor, (3) Rotor Shaft

1. Set multimeter pada skala tahanan 200 Ohm. Ukur resistansi di antara slip rings (1).
2. Resistansi di antara slip ring (1) harus berada di dalam nilai-nilai berikut:
Resistance field winding pada suhu 27 C (81 F).
a. 9X- 6796 Alternator Gp ... 1.7 to 1.8 Ohm.
b. 9X-9096 Alternator Gp ... 1.7 to 1.8 Ohm.
c. 121-4134 Alternator Gp ... 1.7 to 1.8 Ohm.
d. 121-4135 Alternator Gp ... 1.7 to 1.8 Ohm.
e. 113-1379 Alternator Gp ... 1.7 to 1.8 Ohm.
f. 125-9597 Alternator Gp ... 1.7 to 1.8 Ohm.
g. 107-7977 Alternator Gp ... 9.5 to 10.7 Ohm.
h. 132-2156 Alternator Gp ... 9.5 to 10.7 Ohm.
3. Ganti rotor (2) bila hasil pengukuran tidak sesuai.

Field Winding Ground Test


1. Set multimeter pada skala tahanan 20 Mega Ohm. Ukur tahanan di antara slip ring (1) dan
rotor shaft (3).
2. Pembacaan multimeter harus lebih besar dari 100 Kilo Ohms (0.100 Mega Ohms).
56
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

3. Ganti rotor, bila pembacaan multimeter rendah. Resistansi yang rendah menunjukkan adanya
continuity field winding dan rotor shaft.
4. Ulangi step 1 sampai 3 untuk slip ring (1) yang lain.

RECTIFIER TEST

Positive Diode Check

(1) Positive diode contacts, (2) Positive heat sink,


(3) Negative diode contacts (4) Negative heat sink

Note: Jangan menekan terminal diode terlalu kencang, tekuk sedikit bila diperlukan.

1. Tekuk ketiga positive diode contacts (1) menjauhi studs. Contacts (1) tidak boleh menyentuh
positive heat sink (2).
2. Set multimeter pada skala diode. Pasang lead hitam pada positive heat sink (2), pasang lead
merah pada salah satu positive diode contact (1). Pembacaaan multimeter harus berada di
antara 0.4 VDC dan 0.9 VDC.
3. Ulangi step 2 untuk kedua positive diode contacts (1) yang lain. Bila Pembacaan multimeter
di luar range 0.4 VDC dan 0.9 VDC pada setiap terminal positive diode, ganti rectifier.
4. Set multimeter pada skala diode. Pasang lead merah to positive heat sink (2), dan lead pada
salah satu positive diode contacts (1). Pembacaan multimeter harus ‘OL’.
5. Ulangi step 4 untuk kedua positive diode contacts (1) yang lain. Bila pembacaan multimeter
tidak pada ‘OL’ pada setiap terminal positive diode ganti rectifier.

Negative Diode Check

Note: Jangan menekan terminal ddiode terlalu kencang, tekuk sedikit bila diperlukan.

1. Tekuk ketiga negative diode contacts (3) Menjauhi studs. Contacts (3) tidak boleh menyentuh
negative heat sink (4).
2. Set multimeter pada skala diode. Pasang lead merah pada negative heat sink (4) dan lead
hitam pada salah satu negative diode contacts (3). Pembacaan multi meter harus berada
diantara 0.4 VDC dan 0.9 VDC.
3. Ulangi step 2 untuk kedua negative diode contacts (3) yang lain. Bila pembacaan multi meter
di luar range 0.4 VDC dan 0.9 VDC pada setiap terminal negative diode ganti rectifier.
4. Set multimeter pada skala diode. Pasang lead hitam pada negative heat sink (4) dan lead

57
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

merah pada salah satu negative diode contacts (3). Pembacaan multimeter harus ‘OL’.
5. Ulangi step 4 untuk kedua negative diode contacts (3) yang lain. Bila Pembacaan multi meter
tidak menunjukkan ‘OL’ pada tiap terminal negative diode ganti rectifier.

REGULATOR TEST

Regulator Test

*** Special Required Tools


0 to 30 VDC 8 Amperes Variable DC Power Supply

Note: Pengetesan regulator tidak menjamin dapat menyelesaikan semua permasalahan, tapi
untuk memastikan berfungsi dengan baik.

Regulator membatasi output dari alternator pada nilai yang telah disetting dengan cara
mengontrol arus yang masuk ke field coil. Regulator berfungsi sebagai saklar elektronis yang
menyambun dan memutuskan hubungan antara field coil dan ground. Frequensi kerja (memutus
dan menyambung) diantara 10 Hertz dan 7000 Hertz.

Pengetesan ini menetukan dua tegangan yang menyebabkan regulator bekerja menghubungkan
field coil dan ground. Perbedaan kedua voltage haru di bawah 0.54 VDC untuk sistem12 Volt dan
1 VDC untuk sistem 24 Volt.

Test ini akan menentukan problem yang terjadi pada komponen Diode Assembly, Field Coil dan
Regulator.

1. Pasang variable power supply dan dua multimeters pada alternator, bisa dilihat pada gambar
24. Multimeter (A) terpasang sebagai ammeter dan multimeter (V) terpasang sebagai
voltmeter. Terminal ‘R’ dan terminal ‘B+’ terhubung bersama-sama.

Note: Reduce voltage output of power supply to zero before applying power to alternator.

2. Perhatikan arus pada multimeter (A). Setel variable power supply sampai arus bertambah
dan stabil.

3. Catat tegangan yang terukur. Pengukuran ini disebut ‘Turn On’ voltage. Ketika alternator
beroperasi normal, tegangannya sebesar 14.0±0.5 Volt untuk sistem 12 Volt dan 28.0 ± 1.0
Volt untuk sistem 24 volt. bila tegangan di luar spesifikasi tersebut maka ganti regulator.

4. Pembacaan pada multimeter (A) adalah field current. Ketika alternator beroperasi normal,
field current berada diantara 6.7 dan 7.1 Amperes untuk sistem 12 Volt dan diantara 2.2 dan
2.5 Ampere untuk sistem 24 volt.. Bila field current terlalu tinggi, maka field coil short. Bila
field current terlalu rendah maka bisa disebabkan oleh hal berikut:
- Field coil is open.

58
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

- Brushes are open.


- Regulator is open.

5. Setel variable power supply pada ‘Turn On’ voltage yang terukur pada step 3.

6. Setel tegangan sampai multimeter (A) membaca zero Amperes. Catat hasil pengukuran. ini
yang disebut sebagai ‘Turn Off’ voltage.
7. Kurangkan ‘Turn On’ voltage dengan ‘Turn Off’ voltage. Selisih tegangan tersebut tidak boleh
melebihi 0.54 VDC for sistem 12 Volt dan 1.0 VDC untuk sistem 24 Volt . Ganti regulator bila
seliisihnya terlalu besar.

STATOR TEST

Stator Winding Continuity Test

(1) Stator, (2) Stator leads, (3) Stator Frame

1. Pasang lead diantara dua terminal stator (2) yaitu: (A to B), (B to C) dan (C to A). Catatlah
setiap hasil pengukuran.
2. Keitga hasil pengukuran harus berada di sekitar 0.063 Ohm.
3. Ganti stator (1)bila salah satu hasil pengukuran di luar spesifikasi. bila hasil pengukuran
terlalu rendah stator (1) short dan bila terlalu tinggi berarti stator (1) putus.

Stator Winding Ground Test


1. Set multimeter pada skala tahanan 20 Mohm. Ukur resistansi antara terminal stator (2) dan
stator frame (3) yaitu: (A to 3), (B to 3) dan (C to 3).
2. Hasil pengukuran harus berada di atas 100 KOhm (0.100 M Ohms).
3. Bila ketiga hasil pengukuran lebih rendah berarti stator (1) terjadi short ke stator frame (3).
Ganti stator bila terjadi short.

BRUSH LENGTH

(1) Brush, (2) Brush Length

18. Ukur panjang brushe (1). Panjang minimal brush (2) adalah
7.6mm (0.30 inch). Brush baru panjangnya adalah 21.9mm (0.86 inch).
19. Ganti brush (2) bila telah mendekati panjang minimum yang
diperbolehkan.

59
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

INSULATED SCREW

(1) Insulated Screws, (2) Capacitor, (3) Regulator


Regulator (3) terpasang di dekat rear frame dengan tiga screw. Capacitor (2) terpasang dengan dua
screw. Kedua screw (1) pada regulator mempunyai insulators, dan salah satu screw (1) pada
capacitor mempunyai insulator. Hati-hati memeriksa ketiga insulator screws (1) tersebut. Kerusakan
atau tidak terpasangnya insulator bisa menyebabkan kerusakan pada komponen internal alternator.

RESIDUAL MAGNETISM

(1) B+ terminal, (2) Ground terminal, (3) R terminal

1. Pasang voltmeter di antar terminal ‘B+’ (1) dan bodi alternator (2).
2. Start engine dan set throttle pada posisi 75%.
3. pasang jumper antara terminal ‘B+’ (1) dan terminal ‘R’ (3) alternator selama 2 detik.

Bila tegangan output bertambah berarti residual magnetism pada rotor telah dikembalikan, alternator
bisa mengisi. Bila output voltage tidak bertambah berarti ada kerusakan pada komponen internal
alternator.Ganti alternator atau mengacu pada Systems Operation, Component Description’. Untuk
menentukan komponen yang mengalami kerusakan. Lakukan pengetesan komponen satu per satu.

60
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

TOPIK 4
ELECTRONIC COMPONENTS
PENDAHULUAN

Gambar 4.1

Sistem elektronik pada mesin Caterpillar beroperasi sama seperti kebanyakan sistem pada
mesin-mesin lainnya yang ada di pasaran. Meskipun mesin Caterpillar menggunakan berbagai
jenis electronic control, tapi teknologi dasar pengoperasiannya tetap sama. Setiap sistem
pengontrolan membutuhkan bermacam-macam input device untuk memberi informasi kepada
control device untuk selanjutnya diproses.

Control device memproses informasi dari input lalu kemudian mengirim signal elektronik yang
diperlukan ke sejumlah output device yang berbeda-beda, seperti, solenoid, lampu indicator,
alarm, dan lain-lain.

Yang wajib diketahui oleh Teknisi adalah bagaimana mengidentifikasi berbagai tipe alat control
yang digunakan pada mesin-mesin Caterpillar. Kebanyakan alat control berbentuk paten, jadi
tidak disarankan untuk mengakses komponen elektronik di dalamnnya.

Demikian juga halnya Teknisi perlu memahami perbedaan berbagai tipe input device. Hal ini
untuk memudahkan proses penyelesaian throubleshooting untuk dipadukan dengan kemampuan
internal diagnostic dari control device tersebut.

61
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 4.2

Gambar 4.2 menunjukkan block diagram Caterpillar Monitoring System yang terpasang pada Off
Highway Truck. Diagram tersebut menunjukkan contoh dari berbagai input component, output
component, dan control device yang digunakan oleh Off Highway Truck untuk memonitor kondisi
dari berbagai system yang bekerja pada alat tersebut.

INPUT COMPONENT

Gambar 4.3

Kebanyakan input device yang digunakan pada sistem elektronik mesin Caterpillar adalah switch,
sender, dan sensor. Teknisi harus mampu mengidentifikasi setiap device, memahami cara
kerjanya, dan mengerti penggunaan peralatan diagnostic test untuk menentukan kondisi operasi
dari tiap komponen. Penjelasan masing-masing komponen akan dibicarakan pada bagian ini.

Komponen input digunakan untuk memonitor dan mendapatkan informasi. Komponen input merubah
parameter fisik seperti kecepatan, tekanan, posisi, flow, atau level fluid menjadi sinyal elektronik.
Electronic Control System menggunakan sinyal elektronik (input information) untuk memonitor
kondisi engine dan machine serta menentukan sinyal output yang sesuai.

Beberapa jenis komponen input (switch, sender, sensor) menghasilkan informasi untuk di kirim ke
ECM. Pada umumnya sensor dan sender memonitor kondisi machine, tetapi khusus pada throttle
position sensor dan lever position sensor diaktifkan/digerakkan oleh operator.

Ketika komponen input digunakan untuk memonitor perubahan kondisi yang terjadi pada engine atau
machine komponen yang digunakan dapat berupa sender maupun sensor. Teknisi harus bisa
mengindentifikasi komponen input, mengetahui cara kerjanya dan mengetahui alat diagnosa yang
digunakan untuk menentukan kondisi dari setiap komponen.
62
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

SWITCHES

Gambar 4.4

Caterpillar Monitoring System menggunakan beberapa jenis switch untuk memonitor kondisi
machine. Namun semuanya mempunyai fungsi yang sama dan sering disebut sebagai two state
device (karena bekerja on atau off saja). Switch menyediakan open input ataupun grounded input
pada suatu alat kontrol elektronik.

Electronic Monitoring System (EMS) model lama umumnya menggunakan switch tipe seperti ini.
Pada Monitoring System model baru tetap menggunakan beberapa switch seperti ini namun telah
ditambahkan jenis input device yang baru (yang selanjutnya akan dibahas lebih detail dalam
bagian akhir modul ini). Beberapa perbedaan masing-masing tipe switch ini akan dijelaskan
berikut ini.

Klasifikasi Switch

Gambar 4.5

Pada tabel di atas menunjukkan switch (on/off input device) yang dikelompokkan berdasarkan
parameter yang dimonitor dan komponen apa yang terdapat pada switch tersebut.

Switch untuk temperatur, tekanan, fluid flow, dan coolant level dilengkapi dengan variable resistor
atau komponen lain seperti thermocouple untuk membuat switch menjadi on atau off.

Ketika sistem yang dimonitor di machine berada pada kondisi minimum atau maksimum maka
switch akan open atau close kemudian akan mengirimkan sinyal ke ECM.
63
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Switch operator activated akan mengirim sinyal ke ECM ketika switch telah diaktifkan secara
manual oleh operator.

Oil Pressure Switch

Gambar 4.6

Gambar 4.6 di atas menunjukkan engine oil pressure switch (lihat tanda panah) yang terpasang
pada sisi kanan engine. Kondisi kontak pressure switch adalah normally open (ketika engine
mati).

Ketika engine dihidupkan dan tekanan oli berada di dalam spesifikasi range yang ditentukan,
kontak pada switch akan berada pada posisi close dan menghubungkan rangkaian ke ground.

Pada saat tekanan oli turun sampai pada level di luar spesifikasi yang ditentukan, kontak swtcih
akan berada pada posisi open, dan operator akan mendapatkan warning alert dari monitoring
system.

Switch yang digunakan pada Caterpillar Monitoring System akan berada pada posisi close ketika
system beroperasi normal. Dalam hal terjadi putusnya kabel pada rangkaian switch, maka system
membacanya sebagai open circuit dan akan mengeluarkan warning alert pada operator.

64
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Coolant Level Switch

Gambar 4.7

Pada gambar di atas menunjukkan switch yang digunakan untuk memonitor engine coolant level.
Bentuk switch ini berbeda jika dibandingkan dengan level switch lainnya. Switch ini membutuhkan
supply sebesar +8 DCV sebagai input agar switch ini dapat bekerja.

Pada kondisi pengoperasian normal dimana level cairan (coolant) masih menyentuh plastic
sleeve pada switch maka switch (secara internal) menghubungkan Main Diplay Module dengan
ground sehingga alert indicator tetap pada posisi off. Hal yang perlu diperhatikan adalah pastikan
plastic sleeve pada probe tetap dalam kondisi bagus dan tertutup. Apabila plastic sleeve rusak
maka conductive rod pada switch akan terbuka dan switch tidak dapat bekerja sempurna.

Switch dipasang di machine jika akan ditest dan key start harus pada posisi key on. Gunakanlah
Digital Multimeter untuk mengukur tegangan (Voltage) signal pada connector. Jika coolant level
berada sesuai spesifikasi (berada disekitar plastic sleeve) maka nilai tegangan signal harus
kurang dari 1 Volt DC dan nilai ini menunjukkan switch bekerja normal. Jika nilai tegangan lebih
besar dari 1 Volt DC maka switch mengalami kerusakan.

Untuk memudahkan proses throuble shooting dan diagnosa switch input, sangat penting bagi
teknisi memahami prinsip dasar dari switch input pada electronic control. Gambar 4.7
menunjukkan tipikal sebuah switch input.

65
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Fluid Flow Switch

Gambar 4.8

Coolant flow switch berjenis paddle ketika tidak ada flow kondisinya normally open. Pada saat
engine hidup dan ada aliran coolant maka switch akan close. Jika aliran tersumbat dan aliran
terhenti maka switch akan open dan mengirim sinyal ke ECM engine.

Switch untuk flow jenis ini dapat di test dengan menggunakan digital multimeter pada skala Volt
atau Ohm. Nilai Voltage akan tergantung pada aplikasi machine yang memakai switch tersebut.

Brake Oil Temperature Switch

Gambar 4.9

Pada gambar kanan atas menunjukkan sebuah brake oil temperature switch yang dipasang pada
articulated truck. Switch ini termasuk resistive-type device yang digunakan untuk memonitor
temperatur cairan dan komponen ini mempunyai internal switch.

66
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Sinyal output yang dikirim ke monitoring system ECM adalah hasil dari perubahan temperatur
yang akan mepengaruhi besar kecilnya tahanan pada switch. Sistem Monitoring akan
menginformasikan ke operator tentang kondisi yang sedang terjadi. Pada umumnya tahanan
akan bertambah jika temperatur naik.
Switch temperatur normalnya close. Ketika engine dihidupkan dan temperatur oli brake masih
dalam range temperatur kerja normal maka switch akan tetap pada posisi close terhubung
dengan ground.

Temperatur Switch jenis ini dapat di test dengan menggunakan digital multimeter pada skala Volt
atau Ohm. Nilai tegangan akan tergantung pada aplikasi machine yang memakai switch tersebut.

Brake Oil Pressure Switch

Gambar 4.10

Pada gambar kanan atas menunjukkan brake oil pressure switch yang dipasang pada articulated
truck.

Switch ini digunakan untuk mengukur tekanan dan pada posisi normal dalam keadaan open (engine
tidak running). Ketika engine hidup dan tekanan oli pada sistem brake masih di dalam spesifikasi
maka switch akan close dan terhubung dengan ground.

Jika tekanan turun sampai dimana kondisi switch akan open maka switch akan mengirim sinyal ke
ECM. Switch yang digunakan oleh sistem electronic control pada kondisi normal pada posisi close.
Jika wire putus maka switch akan mengirim sinyal ke ECM untuk menginformasikan bahwa sirkuit
dalam kondisi open.

Switch tekanan jenis ini dapat di test dengan menggunakan digital multimeter pada skala Volt atau
Ohm. Nilai Voltage akan tergantung pada aplikasi machine yang memakai switch tersebut.

67
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Rocker Type Switch

Gambar 4.11

Pada gambar 4.11, ditunjukkan contoh dari rocker type switch (lihat tanda panah) yang terpasang
pada panel sebelah kanan kabin. Switch ini digunakan oleh operator untuk memilih mode operasi
yang akan ditampilkan pada main display modul di monitoring system.

Tipe switch ini adalah momentary ON, dan kontaknya adalah normally open. Ketika switch ditekan
(activated), maka rangkaian pada main control module terhubung ke ground dan operator bisa
mengakses mode yang diinginkan.

Operator Activated Switch

Gambar 4.12

Operator activated switch akan mengirimkan sinyal ke ECM jika switch diaktifkan oleh operator.
Switch akan open atau close kemudian akan mengirimkan sinyal ke ECM dan ECM akan
mengeksekusi input dari switch.

Misalnya pada parking brake switch di articulated truck akan diaktifkan oleh ECM jika switch
diaktifkan oleh Operator. ECM akan memproses sinyal dan akan mengeluarkan output sinyal yang
akan mengaktifkan parking brake.

Switch ini dapat di test dengan menggunakan digital multimeter pada skala Volt atau Ohm. Nilai
tegangan akan tergantung pada aplikasi machine yang memakai switch tersebut.

68
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

SENDERS

Gambar 4.13
Caterpillar Monitoring System menggunakan dua tipe sender sebagai komponen input pada main
display module. Keduanya terbagi atas sender dengan ukuran 0-240 ohm dan sender dengan
ukuran 70-800 ohm.

0 to 240 ohm senders:


Sender tipe ini menggunakan nilai tahanan yang spesifik untuk digunakan pada kondisi yang
lebih spesifik. System yang menggunakan sender jenis ini adalah fuel level. Nilai tahanan
outputnya diukur dan akan dikonversi menjadi tingkat kedalaman fuel di dalam tangki oleh main
display module. Main display module menghitung nilai tahanan dan menampilkan output pada
gauge yang ada di cluster module. Sender tipe ini dapat dipasangkan pada gauge, alert indicator,
atau keduanya.

70 to 800 ohm senders:


Sender jenis ini digunakan untuk untuk mengukur temperature (atau system lain yang mempunyai
parameter yang sama). Nilai tahanan outputnya diukur dan dikonversi menjadi nilai temperature
cairan (oil, coolant, hydraulic) oleh main display module. Oleh main display module, tahanan
output dari sender dihitung dan menampilkan outputnya pada gauge yang ada di cluster module.

Sama seperti sender di atas, sender tipe ini (70-800 ohm) dapat dipasangkan pada gauge, alert
indicator, atau keduanya.

Kedua tipe sender ini banyak dipakai pada monitoring system tipe lama yang disebut Electronic
Monitoring System (EMS) dan system lain dimana input device langsung terhubung dengan
gauge.

69
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Fuel Level Sender

Gambar 4.14

Gambar 4.14 di atas menunjukkan contoh darI sender 0-240 ohm yang digunakan untuk
mengukur fuel level. Sender (lihat tanda panah) terpasang pada bagian atas fuel tank dan dipakai
untuk mengukur kedalaman fuel di dalam tangki. Ada dua jenis sender yang terpasang pada
system ini. Sender yang satu memiliki nilai tahanan antara 0-90 ohm, dan sender yang lain
memiliki nilai tahanan antara 33-240 ohm.

Kedalaman fuel di dalam tangki menentukan posisi pelampung (2) di dalam tangki yang ikut
bergerak naik atau turun sesuai posisi fuel. Pergerakan pelampung ini akan mengubah nilai
tahanan pada sender yang terhubung dengan dengan pelampung tersebut melalui sebuah
rotating rod. Nilai output tahanan dari sender berubah-ubah sesuai pergerakan pelampung dan
akan terukur di main display module dan ditampilkan sebagai fuel level.

Bila terjadi failure pada rangkaian fuel level sender, maka kemungkinan penyebabnya adalah:
- Sender
- Open ground
- Shorted signal to +Battery
- Open signal wire

Catatan: Resistive sender dapat dicheck secara terpisah dari fuel level assembly.

Cara memeriksa fuel level sender dapat menggunakan digital multimeter dengan membaca nilai
tahanan. Nilai tahanannya berbeda-beda tergantung dari part numbernya. Sesuaikan Electrical
Schematic dari sender yang ditanyakan. Berikut contoh perbedaan 2 type sender:

• Part Number 106-3535


Empty Tank 240-260 ohm
Half Tank 97 - 118 ohm
Full Tank 27 - 40 ohm

• Part Number 104-5546


Empty Tank 92 - 99 ohm
Full Tank 0 - 5 ohm

70
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Fuel level sender dapat di cek dengan melepas sender dari tangki dan menggerakkan sender
dengan tangan. Lihat tahanan antara empty dan full range dari sender. Nilai tahanannya
seharusnya sama dengan pembacaan di atas.

Caterpillar Monitoring System menyediakan MID, CID dan FMI informasi untuk sender dan
sensor. Ketika troubleshooting kedua type input, selalu sesuaikan service literature dan machine
electrical schematic untuk informasi tambahan.

Temperature Sender

Gambar 4.15

Gambar 4.15, menunjukkan sender yang digunakan untuk mengukur temperature. Nilai tahanan
sender jenis ini adalah 70-800 ohm. Nilai tahanan output akan bervariasi sesuai dengan
temperature dari fluid yang diukurnya dan mengirimkan signal kepada main display module untuk
ditampilkan pada gauge cluster module. Nilai tahanan akan bertambah seiring pertambahan nilai
temperature.

Sender yang memilki satu terminal saja berarti menggunakan bodinya sebagai ground. Karena itu
perlu diperhatikan kontak antara bodi sender dengan base tempatnya terpasang. Demikian juga
perlu diperhatikan posisi dari terminal sender terhadapa kemungkinan short ke bodi atau base.
Bila terjadi failure pada sender tipe ini, main display module akan mengeluarkan warning alert
kategori 2 dan menampilkan log fault. Gauge akan terbaca pada kondisi high temperatur. Dan
diagnostic information akan tersimpan pada display memory.

Temperature sender adalah komponen input type resistive dan pengecekan menggunakan digital
multimeter. Disconnect sender dari wiring machine harness dan ukur tahanannya. Sebagai contoh
Track Type Tractor nilai tahanan sender yang umum adalah:
 Pada 110°C (230°F), tahanannya seharusnya 140 - 160 ohm.
 Pada 54°C (130°F), tahanannya seharusnya 850 - 1050 ohm.

71
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

SENSORS

Gambar 4.16

Sensor digunakan untuk mengukur parameter fisik seperti kecepatan, temperature, tekanan, dan
posisi. Electronic sensor akan mengkonversi parameter fisik tersebut ke dalam bentuk signal
elektronik. Besarnya signal elektronik yang dihasilkan proporsional terhadap parameter yang
diukur.

Pada electronic system yang ada di Caterpillar, sensor digunakan untuk memonitor sistem yang
nilainya terus menerus berubah selama mesin beroperasi. Signal elektronik me-representasikan
parameter yang diukur. Signal tersebut akan dimodulasi dalam tiga metode, yaitu:

 Fequency modulation yang me-representasikan parameter menjadi frequency level,


 Pulse width modulation (PWM) me-representasikan parameter menjadi duty cycle (0%-
100%),
 Analog modulation me-representasikan parameter menjadi voltage level.

Selanjutnya dibahas tipe-tipe sensor:


1. Frequency sensor.
2. Analog sensor.
3. Digital sensor.
4. Analog to digital sensor.

72
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Klasifikasi Sensor

Klasifikasi Sensor

Sensor dan sender (variable input device) dapat dikelompokkan seperti ditunjukkan pada tabel di
atas. Pada tabel ditunjukkan jenis sensor dan sender yang dipakai pada engine dan machine
Caterpillar. Contoh–contoh komponen yang ada pada tabel di atas akan dijelaskan dibawah ini.
Keterangan dari tabel karakteristik sensor di atas adalah sebagai berikut:

- Sensor Make-up : merupakan metode pembangkitan signal yang digunakan oleh


komponen internal sensor tersebut.

- Active atau Passive : jenis sensor yang terdiri dari Active sensor (mendapatkan suplai
power dari ECM dan harus dalam keadaan diberi power untuk mengetahui kondisinya)
dan Passive sensor (tidak memerlukan power dari ECM dan dapat ditest tanpa
mendapatkan suplai power).

- DMM Measurement : merupakan jenis pengukuran yang bisa dilakukan dengan


menggunakan Digital Multimeter pada sensor tersebut.

Catatan: Umumnya variable input device dikenal sebagai sensor. Fuel level input device yang
menggunakan variable resistor dikenal sebagai sender. Semua variable input device
mengacu pada sensor seperti yang dijelaskan pada modul ini.

73
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

FREQUENCY SENSORS

Gambar 4.17

Electronic control menggunakan tipe sensor frekuensi yang bervariasi. Sensor tipe ini
digolongkan dalam 2 bagian, yaitu:

1. Magnetic Sensor, jenisnya adalah:


- Magnetic Pick-up (MPU).
- Passive Speed Timing Sensor, yang terbagi 2 yaitu:
a.Low speed (<600 rpm), contohnya crank speed timing sensor.
b.High speed (>600 rpm), contohnya cam speed timing sensor.

2. Hall Effect Sensor, jenisnya adalah:


- Untuk mengukur speed dan timing, contohnya Engine Speed Sensor (ESS).
- Hanya mengukur speed, contohnya Transmission Output Speed Sensor (TOS).

Penggunaan tipe sensor ini tergantung aplikasinya pada machine. Biasanya untuk sistem
pengukuran kecepatan rendah yang tidak kritis digunakan sensor tipe magnetic, sedang untuk
sistem yang memerlukan pengukuran kecepatan rendah yang presisi digunakan sensor tipe Hall
Effect.

Sebagai contoh untuk melihat kecepatan engine pada tachometer dipakai tipe magnetic (MPU),
sedangkan untuk men-sensing engine speed dipakai tipe Hall Effect (Engine Speed Sensor)
karena dalam hal ini parameter rpm dipakai sebagai referensi timing dari mulai 0 rpm.

74
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Magnetic Pick-Up Sensor

Gambar 4.18

Magnetic pick–up mengkonversi pergerakan mekanikal menjadi tegangan AC. Magnetic pickup
terdiri dari coil, pole piece, magnet, dan housing. Sensor ini memiliki medan magnet yang jika
terpotong oleh gigi–gigi ring gear dari flywheel, maka akan membangkitkan tegangan AC pada
koilnya. Besar tegangan AC yang dihasilkan proporsional terhadap besarnya putaran (rpm).

Agar Magnetic Pick-up Sensor (MPU) dapat bekerja secara normal, maka jarak antara MPU dan
gear teeth harus tepat. Pemasangan MPU yang benar adalah dengan memasukkan sensor
sampai menyentuh bagian atas gear kemudian diputar kembali setengah putaran lalu lock-nut
dikencangkan. Jika jaraknya terlalu jauh maka signal yang dihasilkan lemah. Mengaculah pada
spesifikasi di buku manual untuk mengetahui prosedur dan jarak yang tepat untuk pemasangan
magnetik pickup.

Cara mendiagnosa kerusakan sensor ini ada dua cara yaitu:


1. Static
Pada saat terlepas dari harness -nya ukur pada konektornya antara pin A ke pin B (100-200
Ohm tergantung aplikasinya). Ada juga yang terukur sampai 1200 Ohm. Spesifikasi nilai
resistan akan berbeda–beda tergantung aplikasinya, tetapi nilai tahanan yang terlalu tinggi
mengindikasikan open atau jika nilai tahanan nol dapat mengindikasikan shorted.

2. Dynamic
Setelah test staticnya bagus maka kita check dengan engine dalam keadaan running, check
pin A dan pin B maka akan terbaca frekwensi dan tegangan AC. Jika tidak kemungkinan
jaraknya tidak sesuai spesifikasi.

75
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Passive Speed Timing Sensor

Gambar 4.19

Speed sensor pada engine elektronik digunakan untuk mengukur kecepatan engine dan timing
penginjeksian. Signal pada Passive Speed Timing Sensor berbeda dengan signal yang dihasilkan
oleh Hall-Effect Sensor. Pada tipe ini perubahan timing telah diprogram di dalam Electronic
Control Module (ECM) sehingga dapat digunakan untuk penentuan timing yang sangat presisi.

Gambar di atas menunjukkan sepasang speed timing sensor yang digunakan pada beberapa EUI
engine yang baru misalnya Caterpillar 3406E dan 3456. Sensor ini jenisnya magnetic pick up dan
selalu digunakan berpasangan.

Sensor yang satu di desain untuk mensensing putaran rendah yaitu saat cranking dan start awal.
Sensor yang satunya lagi digunakan pada saat putaran engine telah normal. Dudukan kedua
sensor tersebut dibuat terpisah untuk mencegah tertukarnya sensor.

76
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 4.20

Gambar 4.20 menunjukkan lokasi speed timing sensor (lihat tanda panah) yang terpasang pada
Caterpillar Engine 3456 EUI. Keduanya terpasang tegak lurus mengarah ke speed timing gear.

Sensor ini sering disebut sebagai upper dan lower, top dan bottom, atau primary dan secondary.
Walaupun sensor mempunyai range operasi maksimumnya sendiri-sendiri tetapi jika terjadi
kesalahan atau kerusakan pada salah satu sensor maka ECM akan menggunakan signal sensor
lainnya sebagai back-up.

Metode diagnosa sensor jenis dapat dilakukan persis sama dengan metode yang digunakan pada
magnetic pick-up sensor yang dijelaskan sebelumnya.

Catatan: Pada beberapa large engine bisa mempunyai empat speed sensor.

Hall Effect Sensor

Gambar 4.21

Pada beberapa sistem elektronik Caterpillar menggunakan sensor tipe Hall-Effect untuk
mendeteksi medan magnet. Electronic transmission control dan Electronic unit injection system

77
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

menggunakan sensor ini untuk mengirimkan signal sehingga bisa mengetahui transmission
output speed dan timing penginjeksian engine.

Ada dua jenis Hall Effect Sensor, yaitu:


- Hanya mengukur speed, contohnya Transmission Output Speed Sensor (TOS).
- Untuk mengukur speed dan timing, contohnya Engine Speed Sensor (ESS).

Pada kedua sensor ini terdapat Hall Cell yang terpasang pada slip head yang ada di ujung
sensor. Saat gigi-gigi pada gear melewati hall cell ini maka akan merubah besarnya medan
magnet yang terjadi, sehingga signal yang dikirimkan pada amplifier (berada di dalam sensor)
juga akan berubah. Komponen elektronik di dalam sensor memproses signal ini dan
mengubahnya menjadi square wave pulse untuk dikirim ke control.

Konstruksi dari Hall Effect Sensor. Terdapat sensing element yang terpasang pada slip head dan
sangat akurat karena outputnya yang berupa phasa dan amplitude mampu mengukur semua
tingkat putaran yang disensingnya. Sensor ini mampu mendeteksi putaran mulai dari 0 rpm, dan
kemampuan untuk beroperasi di daerah bersuhu tinggi

Signal yang dihasilkan oleh Hall effect speed sensor mengikuti lekukan yang terdapat pada gear
yang di-sensing. Signal akan berada pada posisi high (biasanya +10V) ketika tooth pada gear
bertemu dengan ujung sensor, dan berada dalam posisi low (+0V) ketika tooth melewati ujung
sensor. Bila terdapat pattern pada gear yang disensing tersebut, maka signal yang dihasilkan
juga akan mengikuti pattern yang ada di gear tersebut. Juga terdapat model speed gear yang
memiliki pattern tertentu sehingga electronic control dapat menentukan kecepatan dan arah
putaran gear tersebut.

Hall Effect Sensor didesain untuk bekerja sempurna pada kondisi zero air gap (celah yang sangat
rapat). Jadi ketika memasang sensor yang bertipe seperti ini maka slip head harus ditarik penuh
keluar. Sehingga ketika diputar masuk kembali ke dalam dudukannya maka slip head akan
bersentuhan/kontak penuh dengan tooth pada gear yang akan di-sensing-nya. Saat
dikencangkan slip head ini akan otomatis tertekan kembali sehingga bisa menyesuaikan celah /
kontak pada gear.

Transmission Output Speed Sensor (TOS)

Gambar 4.22

Transmission output speed sensor merupakan jenis dari Hall Effect Sensor. Signal yang
dihasilkan berada di pin C pada connector-nya. Sensor ini memerlukan tegangan DC +10V pada
pin A connector untuk mengaktifkannya. Tegangan yang diberikan pada sensor dihasilkan oleh
electronic control, inilah yang disebut sebagai tegangan suplai (supply voltage).

Troubleshooting/diagnosa pada Hall-Effect sensor sulit untuk dilakukan karena connector yang
digunakan pada electronic system-nya berjenis MS (Military Specification) yang menyulitkan
untuk pemakaian 7X1710 Probe Group untuk mengetest sensor secara dinamik. Ada beberapa
harness yang memiliki connector didekat speed sensor sehingga probe group dapat dipasang
untuk mengukur sensor.

78
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Prosedur yang dianjurkan untuk mengetest sensor adalah harus dilakukan pada machine (on-
board diagnostic) untuk mengetahui bahwa kontrol mendapatkan speed input signal yang benar.
Gunakanlah probe group untuk mengetest signal input pada connector di control untuk
memastikan sinyalnya ada. Jika sinyal tidak ada lepaskan sensor dan periksalah secara visual
apakah terjadi kerusakan pada self-adjusting tip. Jika terjadi kerusakan gantilah sensor.
Penting untuk diperiksa adalah memastikan kondisi kontak dari slip head terhadap gear tooth
saat sensor terpasang. Bila slip head tidak tertarik penuh keluar saat pemasangan maka
memungkinkan terdapat celah antara sensor dengan gear tooth, dan hal ini bisa merusak ujung
sensor tersebut.

Umumnya self-adjusting slip head pada speed sensor tidak akan mengalami kerusakan
intermitten tetapi kondisinya hanya bekerja atau rusak.

Engine Speed Sensor (ESS) / Engine Speed Timing / Timing Sensor

Gambar 4.23

Engine Speed Sensor disebut juga Speed Timing Sensor. Speed timing sensor pada engine
elektronik digunakan untuk mengukur speed dan timing. Putaran gear diukur dengan men-
sensing perubahan medan magnet yang terjadi ketika gear tooth melewati ujung sensor. Timing
reference didapatkan dari salah satu ujung gear tooth tersebut.

Berikut ini dijelaskan perbedaannya dengan tipe passive speed timing sensor. Sebenarnya
karakteristik pengoperasiannya kedua sensor ini sama, hanya saja speed timing sensor didesain
khusus untuk sekaligus mensensing timing penginjeksian pada electronic engine. Karena sensor
ini juga dipakai untuk referensi injection timing, maka electronic control perlu mengetahui secara
tepat kapan waktu gear tooth melewati slip head dari sensor.

79
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 4.24

Pada gambar di atas menunjukan posisi timing gear dan sensor. Ketika gear tooth pada sensor
melewati hall cell maka sensing element akan mengirimkan signal pada amplifier (komponen di
dalam speed sensor). Komponen internal di dalam sensor akan memprosesnya dan selanjutnya
mengirim signal ke comparator.

Bila nilai signal di bawah rata-rata (posisi gear tooth menjauhi hall cell) maka outputnya juga akan
berada di posisi low, sebaliknya bila nilai signal di atas rata-rata (saat tooth gear bertemu dengan
hall cell) maka output akan berada di posisi high. Rangkaian di dalam sensor telah dirancang
sedemikian rupa sehingga Electronic Control module pada Engine bisa menentukan dengan tepat
posisi gear yang berputar tersebut.

Pada sistem Electronic Unit Injection (EUI), terdapat pattern pada timing gear yang sangat unik
yang memungkinkan electronic control untuk menentukan posisi crankshaft, arah putaran, dan
kecepatan putaran (rpm). Ketika satu gigi (tooth) melewati hall cell, maka akan dibangkitkan satu
sinyal. Sinyal ini akan berada di posisi high ataupun low (tergantung posisi dari tooth gear
terhadap hall cell, seperti penjelasan di atas).

Electronic control akan menghitung jumlah signal yang dihasilkan sehingga bisa menentukan
besarnya putaran, juga merekam pattern dari signal yang dihasilkan (sesuai pattern yang unik
dari tooth gear) lalu membandingkan pattern dari signal tersebut dengan standard pattern yang
diprogram di dalam electronic control sehingga bisa menentukan posisi crankshaft dan arah
putaran.

Catatan: Single component speed/timing sensor tidak lagi digunakan pada aplikasi saat ini.

80
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Lever Position Sensor

Gambar 4.25

Lever position sensor (1) yang terlihat pada gambar di atas adalah Hall-Effect position sensor.
Pada aplikasi ini digunakan sebagai transmission shift lever sensor dan posisinya berada
dibawah transmission shift lever (2). Lever terhubung dengan suatu komponen yang mempunyai
dua magnet. Salah satunya adalah magnet (3) seperti terlihat pada gambar kanan atas.

Ketika lever digerakan maka magnet akan melewati Hall Cell (4) maka akan terjadi perubahan
pada medan magnet yang akan menghasilkan sinyal. Internal electronic (5) yang ada pada
sensor akan memproses sinyal tadi dan mengirim ke ECM dalam bentuk sinyal PWM.

Lever position sensor menerima 24 VDC dari sistem elektronik machine. Sensor jenis ini
mempunyai pin nomer 4 yang digunakan untuk kalibrasi pada beberapa aplikasi tertentu.

Sinyal PWM Hall Effect position sensor dengan kondisi sensor terhubung ke ECM dan key switch
pada kondisi ON akan menghasilkan nilai pengukuran sebagai berikut:
 Pin 1 to Pin 2 -- Supply Voltage
 Pin 3 to Pin 2 -- .7 - 6.9 DCV pada skala DC Volt
 Pin 3 to Pin 2 -- 4.5 - 5.5 KHz pada skala KHz
 Pin 3 to Pin 2 -- 5% - 95% duty cycle dalam skala %

81
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Throttle Position Sensor

Gambar 4.26

Sensor ini terdiri dari potentiometer yang dilengkapi dengan sebuah contact (1) yang akan
bergerak melewati lilitan (winding) sehingga menghasilkan tahanan yang bervariasi ketika
bergerak. Ketika potentiometer digerakan maka tahanan pada sirkuit juga akan berubah sehingga
Voltage drop –nya juga akan berubah. Position sensor termasuk digital sensor dan terdiri dari
komponen elektronik (2) yang terletak di dalam sensor body.

Potentiometer menggunakan tiga kabel (power, ground, dan signal return) dan mendapatkan
supply power yang konstan. Power akan mengalir pada kabel melalui kabel power dan ground
tapi nilai tegangannya akan tergantung dari aplikasinya. Ketika potentiometer wiper arm bergerak
melewati winding, tahanan berubah kemudian tegangan yang dihasilkan akan dikirimkan ke ECM
melalui kabel sinyal.

Position sensor menerima tegangan 8.0 ± 0.5 Volt dari ECM. Untuk mengechek nilai supply
Voltage pada sensor, hubungkan multimeter antara Pin A dan B pada konektor sensor. Set-lah
pada skala pembacaan "DC Volt”. Output signal dari Throttle position sensor berbentuk Pulse
Width Modulated (PWM) yang akan bervariasi tergantung dari throttle position dan akan
ditunjukan dalam bentuk persentase diantara 0 dan 100%.

Untuk mengetahui nilai sinyal output pada position sensor, hubungkan multimeter antara Pin B
dan pin C pada konektor throttle position sensor. Set-lah pada pembacaan “duty cycle”. Duty
cycle output pada throttle position sensor sekitar 16 ± 6% pada low idle dan 85 ± 4% pada high
idle. Duty cycle output pada lever position sensor harus berada sekitar 5 sampai 95% dari posisi
stop ke stop.

82
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

ANALOG SENSOR

Gambar 4.27

Analog sensor sangat berbeda dengan sensor tipe lainnya, bukan hanya cara kerjanya tapi juga
cara pengetesannya. Pada gambar schematic lambang analog sensor mirip dengan lambang
digital sensor. Untuk membedakan keduanya adalah dengan melihat supply voltage yang
digunakan oleh sensor tersebut.

Analog sensor menggunakan voltage supply (pada pin A) sebesar +5V (berasal dari Electronic
Control Module). Ground pada analog sensor (pin B) dikenalk sebagai “analog return” atau
“return”, yang berarti grounding pada analog sensor langsung masuk ke dalam electronic control
dan tidak disambungkan pada frame sebagai ground-nya.

Analog signal berubah-ubah secara pelan (smooth) sepanjang pengoperasian dan proporsional
terhadap perubahan parameter yang diukurnya. Output signal dari analog sensor berupa
tegangan DC yang besarnya antara 0 sampai 5 volt. Analog sensor dapat pula dikenali dari
bentuk fisiknya yang kecil, karena sensor ini hanya terdiri dari beberapa komponen di dalamnya
untuk menghasilkan signal.

Analog sensor biasanya dipakai pada electronic engine untuk mengukur parameter yang
perubahannya relative konstan.

Troubleshooting Analog Sensors

Untuk proses throuble shooting pada analog sensor, teknisi sebaiknya mengacu pada diqagnostic
information yang dikeluarkan oleh electronic control. Berdasarkan diagnostic information yang
disampaikan oleh electronic control, bisa diperkirakan kerusakan pada salah satu analog sensor.
Maka dengan mudah kita bisa menentukan lokasi kerusakan apakah di sensor atau di
harness/connector.

Untuk memeriksa kerusakan, gunakan Digital multimeter, 7X1710 Probe Group, dan service
manual.

Bila tidak ada signal yang terdeteksi, maka periksalah supply voltage dan ground. Bila supply
voltage dan ground dalam kondisi bagus, maka sensor harus diganti.

Bila hasil pengukuran signal dan supply voltage sensor di luar spesifikasi, maka proses throuble
shooting harus dilanjutkan.

83
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Berikut referensi hasil pengukuran untuk kondisi normal dari sebuah analog temperature sensor
dengan kondisi terpasang dan posisi key switch ON:
 Pin A to Pin B -- Regulated 5.0 DCV input from the control.
 Pin C to Pin B -- 1.99 - 4.46 DCV from the sensor.

Output signal pada pin C akan berbeda-beda, tergantunr pada aplikasi sensor tersebut. Besarnya
output signal proporsional terhadap parameter yang diukur (temperature, pressure, etc.). Teknisi
harus mengacu pada buku manual untuk spesifikasi masing-masing sensor.

DIGITAL SENSOR

Gambar 4.28

Digital sensor pada electronic system caterpillar menggunakan metode yang disebut Pulse Width
Modulation (PWM) untuk menghasilkan berbagai jenis input yang diinginkan oleh control.
Persyaratan yang dibutuhkan oleh setiap aplikasi akan menentukan jenis sensor jenis apa yang
akan dipakai nantinya. Digital sensor digunakan untuk untuk mengukur berbagai parameter
seperti posisi, kecepatan, gaya, tekanan, dan lain-lain.

Dalam pembahasan digital PWM sensor ini kita gunakan sebuah temperature sensor sebagai
contoh. Karena pada dasarnya semua PWM sensor memiliki system operasi yang sama. Perlu
diperhatikan ukuran digital PWM sensor, hal ini penting agar teknisi dapat mengidentifikasi
perbedaan dari masing-masing sensor. Pada umumnya digital sensor lebih besar ukurannya
dibanding dengan analog sensor karena digital sensor terdiri dari banyak komponen elektronik di
dalam bodinya.

84
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Simbol Digital Sensor

Gambar 4.29

Bila diperhatikan di electrical schematic, pada sirkuit digital sensor akan ditemukan sambungan
untuk ground-nya akan kembali bersirkulasi kepada ground yang ada di control melalui pin B
pada connector. Hal ini karena digital sensor mendapat suplai power dari control untuk
mengaktifkannya.

SUPPLY
Tegangan suplai untuk sensor dapat diperoleh dari berbagai sumber, yaitu:
- B+, +B, +Battery, berarti supply voltage didapatkan dari battery.
- +8, berarti supply voltage untuk sensor didapatkan dari control sebesar 8V. Untuk digital
sensor besarnya tegangan ini bisa 8V, 10V, 12V, dan 24V.
- V+, berarti digital sensor mendapatkan supply voltage dari suber lain selain dari battery
yang ada di machine.

GROUND
Ground untuk digital sensor terbagi dua yaitu ada yang di-ground langsung ke machine frame
(posisi groundingnya berdekatan dengan sensor) dan ada yang ground-nya kembali pada ECM.
Untuk itu teknisi perlu mengetahui dengan jelas posisi grounding tiap-tiap sensor digital yang
ditunjukkan oleh schematic.

SIGNAL
Signal merupakan output yang dihasilkan oleh sensor. Signal wire mengirimkan informasi kepada
electronic control module untuk selanjutnya diproses.

Troubleshooting Digital Type Sensors


Dalam pekerjaan throuble shooting teknisi sebaiknya menggunakan diagnostic information yang
dikeluarkan oleh electronic control. Berdasarkan diagnostic information yang disampaikan oleh
electronic control telah memunculkan dugaan kerusakan pada salah satu digital sensor, maka
dengan mudah kita bisa menentukan lokasi kerusakan apakah di sensor atau di
harness/connector.

Untuk memeriksa kerusakan, gunakan Digital multimeter, 7X1710 Probe Group, dan service
manual.

Bila ada signal yang terdeteksi tapi tidak masuk dalam range spesifikasinya, maka sensor
tersebut harus diganti.

Bila tidak ada signal yang terdeteksi, maka periksalah supply voltage dan ground. Bila supply
voltage dan ground dalam kondisi bagus, maka sensor harus diganti.

85
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Bila hasil pengukuran signal dan supply voltage sensor di luar spesifikasi, maka proses throuble
shooting harus dilanjutkan. Untuk itu, gunakan 9U-7330 (FLUKE 87) atau 146-4080 (Digital
Multimeter) untuk mengecheck signal PWM yang dihasilkan oleh sensor. Digital Multimeter jenis
ini mempunyai kemampuan untuk mengukur tegangan DC, frequency, dan duty cycle. Ukur
output signal yang dihasilkan menggunakan 7X1710 (Probe) pada pin B (ground) dan C(signal).

Berikut referensi hasil pengukuran untuk kondisi normal dari sebuah digital temperature sensor
dengan kondisi terpasang dan posisi key switch ON:
(untuk sensor lain bisa mengacu pada spesifikasi yang ada di buku manual):
• Pin A to Pin B -- Supply Voltage
• Pin C to Pin B -- .7 - 6.9 DCV on DC volts scale
• Pin C to Pin B -- 4.5 - 5.5 KHz on the KHz scale
• Pin C to Pin B -- 5% - 95% duty cycle on the % scale
(untuk sensor lain bisa mengacu pada spesifikasi yang ada di buku manual).

Kuncinya adalah tegangan DC yang terukur bisa saja berbeda tergantung dari tipe sensornya tapi
frequency yang terbaca harus selalu sesuai dengan spesifikasi sensor dan duty cycle yang
dihasilkan harus lebih besar dari 0% (biasanya 5%-10%) pada posisi low dan maksimal 95%
pada posisi high (namun tidak boleh mencapai 100%).

86
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

ANALOG TO DIGITAL SENSORS

Gambar 4.30

Jenis analog to digital sensor adalah sensor yang merupakan gabungan antara sinyal analog dan
sinyal digital. Analog to digital sensor dipakai dan diatur oleh elektronic control yang memproses
informasi dari sensor tersebut.

Gambar di atas menunjukkan contoh Analog to Digital sensor yaitu pressure sensor. Tekanan
diukur menggunakan bagian analog dan sinyal dikirim ke konverter dan akan dikonversikan
menjadi digital output (PWM) dan kemudian dikirimkan ke elektronik kontrol.

Simbol Analog To Digital Sensors

Gambar 4.31

Pada gambar di atas ditunjukkan dua bagian dari sensor Analog to Digital. Bagian analog
mengukur parameter yang berupa tekanan dan mengirimkan sinyal ke digital section (konverter).
Output dari digital section adalah sinyal PWM yang kemudian akan dikirim ke ECM.

87
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Simbol sensor pada skematik tidak mengidentifikasikan bahwa sensor itu adalah sensor analog to
digital. Informasi yang diberikan pada simbol di skematik adalah output sensor tersebut. Misalnya
sinyal output-nya adalah sinyal PWM.

Gambar di atas menunjukkan simbol yang digunakan untuk mengidentifikasi sistem yang
dimonitor yaitu brake air pressure.

Untuk proses troubleshooting pada sensor jenis ini, gunakan proses yang sama ketika melakukan
troubleshooting pada digital sensor (PWM). Jenis sinyal output dari sensor yang menentukan
metode troubleshooting sensor tersebut.

ULTRASONIC FUEL LEVEL SENSOR

Gambar 4.32

Beberapa jenis mesin Caterpillar dilengkapi dengan sensor ultrasonik. Sensor jenis ini digunakan
pada fuel system dan menggantikan sensor jenis lama yang menggunakan sender untuk
mengukur fuel level.

Ultrasonik fuel level mengukur ketinggian fuel di dalam tangki. Sensor memancarkan gelombang
ultrasonik yang merambat melalui guide tube yang terpasang di dalam tangki. Kemudian
gelombang dipantulkan oleh metal disk kembali ke sensor. Metal disk ini berupa lempengan
logam terpasang pada pelampung di dalam guide tube. Sensor mengukur lamanya waktu
perambatan signal dari sensor ke metal disk dan kembali ke sensor.

Sensor mempunyai empat terminal. Sensor ultrasonik ini bisa dipakai pada fuel tank tipe deep
tank maupun tipe shallow tank. Untuk membedakan penggunaan sensor pada kedua tipe fuel
tank tersebut maka ditentukan dari posisi terminal 3 pada sensor.

Status Open atau ground pada terminal 3 di konektor digunakan oleh electronic control untuk
menetukan dimana sensor itu terpasang (deep tank atau shallow tank). Terminal 3 harus open
untuk fuel tank tipe deep tank atau terhubung ke ground untuk fuel tank tipe shallow tank.

Prosedur troubleshooting untuk sensor ultrasonik sama dengan prosedur yang dipakai untuk
PWM sensor. Sensor ultrasonik tidak bisa diuji/tes pada kondisi terlepas dari machine. Sensor
harus dipasangkan pada fuel tank untuk bisa diuji/tes.

88
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

PULL-UP VOLTAGE

Gambar 4.33

Pull-up voltage adalah tegangan yang disuplai dari rangkaian di ECM melalui sebuah internal
resistor (besarnya 2K ohm). Tegangan ini digunakan sebagai referensi untuk memonitor kondisi
dari signal circuit apakah dalam posisi open atau shorted. Pull-up circuit digunakan pada
sebagian besar switch maupun sensor yang menjadi input bagi electronic control.

Typical Switch Circuit

Gambar 4.34

Pada gambar kiri di atas diperlihatkan contoh dari rangkaian Pull-up voltage yang menggunakan
switch sebagai komponen input-nya.

Sedangkan pada gambar kanan di atas adalah salah tipe switch yaitu oil pressure switch.

Switch dimonitor oleh ECM sama seperti switch, namun perbedaanya adalah pada 2-sensor ini
menggunakan variable resistor sebagai pengganti kontak pada switch. Tahanannya akan
berubah mengikuti perubahan parameter yang di ukurnya. Sensing device akan mengukur
besarnya voltage drop yang terjadi pada sensor.

Pada contoh di atas diperlihatkan signal yang diinginkan berada diantara 0 volt sampai 5 volt, tapi
tidak mencapai 0 volt ataupun 5 volt. Jadi bila tegangan mencapai 0 volt atau 5 volt, maka
sensing device akan menganggap sensor dalam kondisi fault.

89
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Typical 2-Wire Sensor Circuit

Gambar 4.35

Pada gambar kiri di atas diperlihatkan rangkaian Pull-up voltage yang menggunakan 2-wire
sensor (passive sensor) sebagai komponen input-nya.

Sedangkan pada gambar kanan di atas merupakan contoh dari passive sensor yaitu engine
temperature sensor.

2-wire sensor dimonitor oleh ECM sama seperti switch, namun perbedaanya adalah pada 2-
sensor ini menggunakan variable resistor sebagai pengganti kontak pada switch. Tahanannya
akan berubah mengikuti perubahan parameter yang di ukurnya. Sensing device akan mengukur
besarnya voltage drop yang terjadi pada sensor.

Pada contoh di atas diperlihatkan signal yang diinginkan berada diantara 0 volt sampai 5 volt, tapi
tidak mencapai 0 volt ataupun 5 volt. Jadi bila tegangan mencapai 0 volt atau 5 volt, maka
sensing device akan menganggap sensor dalam kondisi fault.

90
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Karakteristik 2-Wire Sensor

Gambar 4.36

Signal sensing device yang ada di dalam ECM akan mensensing pull-up voltage dari sensor. Jadi
nilai tahanan yang berubah-ubah pada sensor juga akan mempengaruhi besar voltage drop yang
terjadi. Perubahan voltage inilah yang dipakai oleh ECM untuk menentukan sensor dalam kondisi
open, short, atau normal.

Bila kondisi input yang diterima oleh signal sensing device sebesar 0 volt sampai 0,2 volt, maka
ECM akan menganggap sensor dalam keadaan short to ground.

Bila kondisi input yang diterima oleh signal sensing device diantara 0,2 volt dan 4,2 / 4,8 volt,
maka ECM akan menganggap sensor dalam keadaan normal.

Bila kondisi input yang diterima oleh signal sensing device sebesar 4,8 volt sampai 5 volt, maka
ECM akan menganggap sensor dalam keadaan open circuit.

91
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Typical 3-Wire Sensor

Gambar 4.37

Pada 3-wire sensor yang dimonitor oleh electronic control adalah terminal B (negative) dan
terminal C (signal).

Bila terjadi open circuit pada jalur signal maka signal sensing device akan menerima tegangan
pull-up sebesar +6,5 volt (voltage high) dan ECM mengeluarkan diagnostic code (FMI 03 - open).

Bila terjadi short circuit pada jakur signal (C), maka signal sensing device akan menerima
tegangan sebesar 0 volt (voltage low) dan ECM mengeluarkan diagnostic code (FMI 04 – short).

Gambar 4.38

Nilai tegangan pull-up berbeda pada tiap sensor tergantung pada aplikasinya. Terkadang nilai
tegangan pull-up sama dengan nilai supply voltage (A) pada sensor.

Catatan: Yang perlu dipahami adalah bagaimana ECM menggunakan tegangan pull-up ini untuk
mendiagnosa fault pada sensor. Jadi tidak selamanya pengukuran tegangan pull-up
pada tiap sensor harus dilakukan karena kondisi open atau short akan diinformasikan
oleh ECM bila terjadi fault pada sensor.

92
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

OUTPUT KOMPONEN

Gambar 4.39

Komponen output digunakan untuk memberitahu operator tentang status machine system.
Caterpillar produk menggunakan banyak output komponen, seperti: display module, action lamp
dan action alarm, speedometer, tachometer, payload lamp, gear position indicator, solenoid, dll.

Solenoid

Gambar 4.40

Banyak dari sistem Caterpillar electronic control menggunakan solenoid untuk melakukan perintah
dari kontrol.

Sebagai contoh: memindahkan gigi pada transmission, menaikan implement, fuel injection, dll.
Solenoid adalah komponen elektronik yang bekerja dengan prinsip dasar dimana ketika arus listrik
mengalir melalui coil (lilitan) maka akan timbul medan magnet. Medan magnet yang terbentuk dapat
digunakan untuk melakukan kerja. Penggunaan solenoid tergantung dari aplikasi solenoid tersebut.

93
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Pada gambar di atas menunjukkan solenoid valve yang digunakan untuk memindahkan gigi pada
transmission. Ketika solenoid di-energized maka pada coil akan timbul medan magnet yang akan
mengggerakan internal spool. Ketika spool digerakan maka oli dapat mengalir.
Pada beberapa solenoid valve menggunakan sinyal sebesar +24VDC pada saat diaktifkan tetapi ada
juga yang menggunakan tegangan yang di modulasi antara +8VDC dan +12VDC.

Untuk mengechek apakah solenoid bekerja pasanglah sebuah screwdriver di atas coil nut. Jika coil
energized maka screwdriver blade akan tertarik ke nut karena medan magnet yang timbul pada coil.

Implement Solenoid

Gambar 4.41

Pada gambar potongan bagian bawah menunjukkan dua buah pilot control actuator yang digunakan
pada "G" Series Wheel Tractor-Scraper Electro-hydraulic Implement System. Actuator mengontrol
posisi dari implement control valve spool tergantung pada perintah dari Implement ECM. Ketika
operator menggerakkan implement control lever dari posisi tengah maka Implement ECM akan
mengaktifkan (energize) actuator solenoid dengan sinyal PWM sehingga pengontrolan kecepatan
implement menjadi akurat.

Ketika solenoid diaktifkan (energized) oleh ECM maka solenoid akan menggerakan pilot spool. Pilot
spool akan mengalirkan pilot oli langsung ke saluran drain sehingga akan mengurangi tekanan pilot
oli pada ujung main spool.

Solenoid disisi sebelahnya tidak aktif (de-energized) dan tekanan pilot oli pada ujung main spool
akan mendorong main spool sehingga akan mengalirkan oli ke implement.

Solenoid pada PWM pilot actuator menerima 0 sampai 1.0 amp dari Implement ECM. Kerusakan
akan di simpan jika ECM mendeteksi sinyal yang ke actuator solenoid dalam kondisi open, shorted to
ground, atau shorted to battery. Nilai tahanan yang ada dapat diukur dengan skala ohmmeter.

Pada gambar bagian kanan atas menunjukkan hubungan antara arus yang dikirim oleh Implement
ECM ke pilot actuator solenoid dan tekanan pilot oli pada sistem.

Pada garis putus – putus menunjukkan "baseline current vs pressure" untuk solenoid valve yang
digunakan pada Electro-Hydraulic Implement System. Area antara dua garis lurus menunjukkan
toleransi yang diijinkan untuk performa solenoid valve.

94
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Transmission Solenoid

Gambar 4.42

Pada unit D10R Track-type Tractor, ECM Power Train mengontrol perpindahan gigi pada
transmission dengan cara memodulasi arus yang dikirim ke transmission modulating valve, sehingga
akan menghasilkan tekanan oli yang bervariasi pada masing–masing clutch. Solenoid yang dipakai
pada modulating valve adalah jenis PWM.

Pada gambar kiri bawah menunjukkan aliran oli pada transmission modulating valve. Dengan
meningkatkan arus listrik akan menyebabkan shaft terdorong ke kanan kemudian akan mendorong
ball ke kanan sehingga aliran oli yang ke saluran drain akan terhambat. Reducing spool juga akan
bergerak kekanan karena tekanan pada ruangan (chamber) di sebelah orifice meningkat.
Pergerakkan ini akan menyebabkan oli dari supply pompa dapat mengalir melalui metering surface
menuju ke clutch.

Dengan meningkatnya tekanan pada clutch, sinyal dari ECM Power Train yang dikirim ke solenoid
akan bervariasi untuk mengontrol pergerakan dari reducing spool.

Pada gambar kanan bawah menunjukkan siklus modulasi pada transmission. Garis vertikal
menunjukkan arus (orange) dan tekanan clutch (blue). Arus dikirimkan oleh ECM Power Train ke
modulating solenoid valve. Tekanan clutch mempresentasikan suplly oli yang dikirimkan ke clutch.
Ketika clutch telah terisi oli dan piston juga sudah mulai menekan plate, arus dan tekanan akan
proportional dan bergerak pada satu garis sumbu. Garis horisontal mempresentasikan hubungan
antara waktu dan tekanan yang terjadi pada clutch. Terjadinya Pulse time disebabkan oleh initial high
current yang dikirim ke valve pada saat mulai memberi tekanan ke clutch ketika clutch-nya engaged.
Ramp level dimulai saat mengurangi arus yang dikirim ke valve dan juga akan menurunkan arus
pada kondisi Hold level. Ketika arus pada posisi Hold level kondisi clutch sudah terisi penuh.
Selanjutnya tekanan oli akan proportional terhadap arus yang dikirimkan ke solenoid.

Pada tahap akhir Hold time, arus akan meningkat selama proses clutch engaging. Tahap ini disebut
"desired slip time," dan pada tahap pressure ramp disebut "modulation."

Proses modulasi akan berlangsung sampai clutch pada kondisi fully engaged dan tekanan
maksimum clutch tercapai. Kondisi sesaat dimana tekanan pada clutch maksimum disebut "full on
time." Tekanan clutch kemudian akan dikurangi sampai kondisi clutch engagement level. Kondisi
clutch masih fully engaged tetapi tekanannya lebih rendah. Proses siklus modulasi berlangsung
sekitar 1 detik.

95
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Injector Solenoid

Gambar 4.43

Pada gambar kanan atas menunjukkan sebuah Electronic Unit Injector (EUI). Injektor dikontrol
secara elektronik oleh ECM Engine dan proses aktuasi secara mekanikal. ECM akan mengirimkan
sinyal PWM untuk mengontrol membuka atau menutupnya solenoid valve.

Solenoid valve mengontrol waktu penginjeksian bahan bakar ke ruang bakar. ECM akan mengontrol
jumlah bahan bakar (injection duration) dan waktu penginjeksian bahan bakar (timing).

Timing engine dikontrol dengan cara mengontrol waktu awal dan akhir dari energized injector
solenoid. Kecepatan engine dikontrol dengan mengontrol lamanya waktu (duration) energized
injector solenoid. EUI injector akan dikalibrasi untuk mendapatkan injection timing dan jumlah bahan
bakar yang tepat. Setelah proses kalibrasi empat digit nomer kode E-trim (1) akan dicantumkan di
atas permukaan tappet pada injector seperti terlihat pada gambar kiri bawah (2). E-trim code
digunakan untuk mengidentifikasi range performa injector.

Ketika injector dipasang pada engine, nomer pada E-trim dimasukkan ke personality module pada
ECM Engine dengan menggunakan CAT ET service tool. Software memakai trim code untuk
mengkompensasi variasi pada injector karena proses produksi. Ketika mengganti injector baru E-trim
code pada injector harus diprogramkan ke Engine ECM. Jika trim code baru tidak dimasukkan maka
ECM akan memakai karakteristik injector yang lama. Engine tidak akan mengalami kerusakan jika
trim code baru tidak dimasukkan tetapi akan mempengaruhi performa engine.

Pada gambar kanan bawah menunjukkan proses meningkatnya arus pada saat pertama kali menarik
injection coil dan menutup poppet valve. Kemudian dengan cara membuat arus on dan off secara
cepat (rapidly chopping/pulsing) untuk menjaga aliran arus ke solenoid. Proses injeksi berakhir ketika
solenoid tidak dialiri arus lagi sehingga tekanan bahan bakar di dalam injektor akan turun secara
cepat.

96
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Relay

Gambar 4.44

Pada gambar di atas menunjukkan diagram dasar sebuah relay. Relay juga bekerja menggunakan
prinsip electromagnet. Pada relay menggunakan electro-magnet untuk membuka atau menutup
kontak pada sebuah switch. Relay umumnya digunakan untuk meningkatkan kemampuan
mengalirkan arus pada switch yang mekanikal ataupun yang digital.

Ketika koil (lilitan) pada relay diaktifkan (energized) oleh sinyal yang diberikan oleh ECM maka
medan magnet akan membuat kontak pada switch aktif. Kontak pada switch akan terhubung dengan
kutub yang terdapat pada relay. Kutub pada relay dapat digunakan untuk mengalirkan arus yang
tinggi seperti pada aplikasi starter atau solenoid yang besar.

Koil (lilitan) pada relay hanya membutuhkan arus yang kecil dan sirkuit pada arus yang rendah
terpisah dari sirkuit arus yang tinggi.

Start Relay

Gambar 4.45

Pada gambar di atas menunjukkan diagram dasar di starter circuit. Starter circuit adalah contoh dari
sirkuit yang dikontrol oleh sebuah relay. Key digunakan untuk mengaktifkan start relay dan start relay

97
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

akan mengaktifkan starter solenoid. Hal ini menyebabkan kontak pada start relay dapat mengalirkan
arus tinggi yang dibutuhkan starter.

Alert Indicator

Gambar 4.46

Jenis alert indikator monitoring sistim berbeda-beda yang dipakai pada produk Caterpillar. Monitoring
sistem untuk unit lama menggunakan lampu merah "berkedip" untuk memberitahukan operator
mengenai kondisi abnormal pada machine. Caterpillar Monitoring System tetap menggunakan jenis
yang sama dari indikator tersebut, sedangkan VIMS hanya menggunakan satu lampu.

Gambar di atas adalah alert indikator (panah) sebagai lampu internal yang terpasang pada message
center module VIMS. Penempatan atau jenis komponen yang digunakan tidaklah penting. Alert
indikator mempunyai fungsi utama agar operator memperhatikan kondisi machine bila terjadi kondisi
abnormal.

Action Lamp / Alarm

Gambar 4.47

Action lamp dan action alarm adalah bagian-bagian dari monitoring sistem yang terpasang pada
produk Caterpillar.

Action lamp dihubungkan dengan alert indikator untuk memberitahu operator Warning Category 2.
Action alarm juga dihubungkan dengan action lamp dan alert indikator untuk memberitahu operator
warning Category 3.

98
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar di atas menunjukkan action lamp (panah) yang diinstall pada dasbor track-type traktor besar
yang dilengkapi dengan Caterpillar Monitoring System. Gambar action alarm tidak tampak.

Alarm terletak di belakang tempat duduk operator atau di dalam suatu panel yang bisa dilihat dari
luar.

Main Display Module

Gambar 4.48

Caterpillar machine menggunakan banyak jenis display module yang berbeda untuk
menyediakan informasi bagi teknisi dan operator. Dua contoh display module adalah: Caterpillar
Monitoring System Display Module dan Vital Information Management System Display Module.

Gambar di atas menunjukkan Caterpillar Monitoring System main display module yang terpasang
dasbor track-type tractor. Display area dari main display module menyediakan informasi digital
dan informasi teks. Informasi yang tersedia pada display tergantung pada spesifik machine yang
diprogramkan. Jenis informasi yang mungkin ditunjukkan adalah:
 Baris enam digit (dengan tanda desimal antara digit tertentu)
 Enam text symbol (°C, kPa, Miles, km, rpm, Liter)
 Display SERV CODE
 Kali 10 ( x10 ) symbol ( rpm )
 Service meter symbol ( hourglass )

Main display module juga menggunakan alert indikator untuk memberitahu operator tentang
kondisi-kondisi abnormal machine. Alert indikator akan dibahas kemudian.

99
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Message Center Module

Gambar 4.49

Gambar di atas adalah message center module untuk Vital Information Management System
yang terpasang pada Off-Highway Truck. Message center menyediakan informasi teks digital
untuk teknisi atau operator pada semua parameter machine yang diukur sebagai tambahan
terhadap warning informasi dan fungsi universal gauge.

Universal gauge mengijinkan teknisi atau operator untuk memilih suatu parameter spesifik atau
untuk memonitor suatu parameter yang problem dan belum melewati batasnya.

Display Data Link

Gambar 4.50

Display data link adalah enam wire elektrik harness yang menghubungkan main display module
ke output display komponen lain, seperti, gauge cluster module, speedometer/tachometer
module, dan message center module. Karena masing-masing dari output module berisi micro-
processor, mereka harus berkomunikasi satu sama lain dengan format data digital.

100
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Yang berikut adalah uraian ringkas dari tiap connector kontak:


- Kontak No. 1 +9V DC input
- Kontak No. 2 Ground
- Kontak No. 3 Display Clock (digital input)
- Kontak No. 4 Display Data (digital input)
- Kontak No. 5 Display Load (digital input)
- Kontak No. 6 Harness Code input

Komponen Output Lain


Tergantung pada jenis machine dan sistem yang terpasang, berbagai komponen output lain
dapat digunakan. Off-Highway truk yang besar menggunakan payload lamp yang secara otomatis
ON oleh elektronik control untuk memberitahu operator beban target truk telah dicapai.

Juga, VIMS melengkapi machine dengan service lamp (yang terletak pada bagian luar dari
mesin) untuk memberitahu personil service bahwa mesin dalam kondisi abnormal atau ada
problem yang aktip. Apalagi, beberapa elektronik control dapat mengoperasikan solenoid
(sebagai output) untuk menyediakan lubrication, engine shutdown, dll.

Ketika menjelaskan operasi dari elektronik control, adalah penting bagi teknisi untuk memahami
bahwa tiga fungsi sistem untuk melaksanakan tugasnya dengan teliti. Control harus menerima
sinyal input yang benar dari komponen input, yang dengan teliti memproses sinyal itu, kemudian
menyediakan output sistem yang benar.

CONTROL COMPONENT (ECM)

Gambar 4.51

Electronic control Module (ECM) adalah komputer canggih. ECM berisi electronic power supply,
central processing unit (CPU), sensor input memory dan output driver circuit. ECM berkomunikasi
dengan elektronik kontrol lain melalui data link dua arah.

Kebanyakan kontrol yang dipakai pada Caterpillar electronic system menggunakan tiga jenis
input. Input-input tersebut adalah switch-type yang mengukur status tombol (open atau ground),
analog-type yang mengukur amplitudo sinyal (biasanya antara 0- 5 Volt) dan digital-type yang
mengukur frekuensi (kecepatan) atau lebar denyut nadi (pulse width) pada satu sinyal secara
periodik.

Input signal akan di filter, amplified, pulse formed, dan dikonversi dari digital ke analog sebelum
diproses oleh ECM. Umumnya metode digital signal processing yang akan digunakan. ECM

101
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

software terdiri dari control formula. Control formula dirancang oleh engineering menggunakan
equation (persamaan). Tergantung pada data yang akan diolah, sistem kontrol logic yang
diprogramkan untuk menyimpan dan memproses dalam bentuk parameter, characteristic curves,
dan multidimensional program map.

Jenis ECM yang dipakai ditentukan oleh engineering dan didasarrkan atas jenis input dan output
yang digunakan. Umumnya kontrol disebut sebagai "driver" yang akan mengeluarkan output yang
mempunyai karakteristik tertentu seperti current dan voltage driver.

Beberapa jenis ECM telah digunakan pada produk – produk Caterpillar sejak tahun 1980. Tabel
di atas menunjukkan daftar dari ECM yang telah digunakan pada sistem Caterpillar engine dan
machine.

Advanced Diesel Engine Management (ADEM) ECM digunakan pada kontrol electronic engine.
ADEM I pertama kali digunakan tahun 1988 mempunyai 70 pin konektor dengan 42K byte
memory. ADEM II pertama kali digunakan tahun 1993 mempunyai 2 (dua) 40 pin konektor
dengan 128K byte memory. ADEM A3 pertama kali digunakan pada tahun 1998 mempunyai
2(dua) 70 pin konektor dengan 1M byte memory.

Multiple Application Controller (MAC) dan ABL controller digunakan pada sistem control machine
seperti untuk implement hydraulic system atau power train.

Note: ECM termasuk not serviceable, maka memahami internal operation ECM dan bagaimana
komunikasinya dengan machine atau engine tidaklah begitu penting. Tetapi harus dipahami
bagaimana menggunakan ECM untuk memperbaiki wiring harness dan kerusakan komponen
elektronik. Untuk ECM yang dapat diprogram ulang sangatlah penting untuk mengerti parameter
yang dapat diprogramkan ke ECM karena dapat merubah performa engine atau machine.

ADEM II

Gambar 4.52

Pada gambar di atas menunjukkan ADEM II ECM Engine yang digunakan pada electronic engine.
Input berhubungan dengan ECM Engine secara analog dan diatur oleh input yang beroperasi pada
DC voltage antara 0 - 5 volt.

ECM mengukur input dari berbagai sensor, memproses input itu dan kemudian menyediakan output
yang sesuai untuk mengendalikan sistem – sistem pada engine. Engine lama/lebih awal ECM-nya
memiliki "plug in" personality module untuk memprogram parameter engine, log fault, dll. Engine
baru ECM-nya menggunakan metoda “flash” programming, menggunakan perangkat lunak dan data
link. ECM jenis ini tidak menggunakan external battery sebagai memory back-up.
102
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Pada beberapa jenis ECM ADEM II menggunakan sistem pendingin fuel cooled karena digunakan
sebagai injector driver untuk meng-energized solenoid injector yang menghasilkan panas. Gambar
ECM di atas menunjukkan dua hose yang digunakan sebagai saluran bahan bakar (fuel) yang
masuk atau keluar dari ECM.

ADEM A3

Gambar 4.53

Pada ADEM A3 ECM telah ditingkatkan kapasitas memorinya, computing power, dan reliability-
nya dibandingkan dengan ADEM ECM sebelumnya. ADEM A3 juga menggunakan flash
programming untuk meng-update parameter – parameter yang ada di ECM. Pada ADEM A3 ECM
terdapat konektor untuk power supply, ground dan konensi data link.

Fitur –fitur yang ada pada ADEM A3 ECM yaitu:


- Engine Speed Governing
- Fuel limiting
- Fuel injection timing control
- Engine retarder control
- Ether start control
- Engine monitoring
- Voltage monitoring
- Security
- Ground level shutdown
- Active and logged diagnostic

103
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

ADEM A4

Gambar 4.54

ADEM A4 ECM mempunyai 1 (satu) 70-pin konektor untuk menerima dan mengirim sinyal. Informasi
diagnostik dan programming dapat diakses dengan laptop computer yang dilengkapi CAT ET
software. ECM dapat diporgram ulang menggunakan "flash" file melalui WinFlash application yang
ada pada Cat ET.

A4 electronic controls tidak mempunyai diagnostic windows untuk mengakses diagnostic information.
Untuk dapat mengakses informasi diagnostik dan programming pada A4 electronic control dapat
dilakukan dengan menggunakan laptop computer with CAT ET atau software pendukung lain
tergantung dari aplikasi produk.

Pada A4 ECM terdapat konektor untuk power supply, ground, dan data link connection.

Umumnya A4 controller digunakan pada aplikasi 3000 series engine, machine attachment, dan
sistem machine lainnya.

Note: A4 family termasuk dalam konfigurasi beberapa ECM dan pada beberapa aplikasi yang
menggunakan dua 120-pin konektor. Lebih lanjut produk engine dan machine Caterpillar akan
banyak meggunakan A4.

104
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

ABL ECM

Gambar 4.55

ABL ECM mempunyai dua 70-pin konektor untuk menerima dan mengirim sinyal. Informasi
diagnostik dan programming dapat diakses dengan laptop computer yang dilengkapi CAT ET
software. ECM dapat diporgram ulang menggunakan "flash" file melalui WinFlash application
yang ada pada Cat ET.

ABL electronic control tidak mempunyai diagnostic windows untuk mengakses diagnostic
information. Untuk dapat mengakses informasi diagnostik dan programming pada ABL electronic
control dapat dilakukan dengan menggunakan laptop computer with CAT ET atau software
pendukung lain tergantung dari aplikasi produk.

Pada ABL electronic control terdapat konektor untuk power supply, ground, dan data link
connection. Umumnya ABL ECM digunakan untuk aplikasi implement system, power train dan
VIDS/VIMS monitoring system.

Pada ABL ECM terdapat location code yang terdiri dari 4 pin (J1-20 sampai 23) di ABL control
yang dapat OPEN atau GROUNDED. Kombinasi OPEN atau GROUNDED pin menentukan pada
aplikasi apa ABL control akan digunakan. Sebagai contoh jika pin J1-20 dan J1-21 GROUNDED
dan pin J1-22 dan J1-23 OPEN maka ABL control digunakan sebagai Transmission ECM.
Sehingga ketika terhubung ke laptop yang dilengkapi CAT ET software, CAT ET akan secara
otomatis mengenali ABL control sebagai Transmission ECM. ECM location code sangatlah
penting saat akan uploading "flash files yang baru". Tanpa location code, CAT ET tidak akan tahu
ECM apa yang akan di FLASH.

Note: ABL ECM menggunakan housing ADEM III ECM.

105
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

MAC ECM

Gambar 4.56

MAC ECM mempunyai 2 (dua) 40-pin konektor untuk menerima dan mengirim sinyal. Informasi
diagnostik dan programming dapat diakses dengan laptop computer yang dilengkapi CAT ET
software. ECM dapat diporgram ulang menggunakan "flash" file melalui WinFlash application yang
ada pada Cat ET.

MAC electronic control tidak mempunyai diagnostic window untuk mengakses diagnostic information.
Untuk dapat mengakses informasi diagnostik dan programming pada MAC electronic control dapat
dilakukan dengan menggunakan laptop computer with CAT ET atau software pendukung lain
tergantung dari aplikasi produk. Pada MAC ECM terdapat konektor untuk power supply, ground, dan
data link connection.

Umumnya MAC digunakan untuk aplikasi implement system dan power train.

Note: MAC ECM menggunakan housing ADEM II ECM

EPTC II

Gambar 4.57
Pada gambar di atas menunjukan Electronic Programmable Transmission Control (EPTC II) yang

106
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

digunakan pada large mining truck dan scraper. EPTC berkomunikasi dengan ECM Engine untuk
menghasilkan "clutch engagement" yang halus dengan cara menurunkan sesaat kecepatan engine
ketika clutch solenoid di-energized.

Meskipun dari bentuk dan konfigurasi control elektroniknya berbeda tetapi fungsi dasarnya sama
saja. Tetap menggunakan data yang diperoleh dari beberapa input dan mengolah serta
menyimpannya pada program yang ada pada memory.

EPTC II module mempunyai switch type input yang dapat digunakan untuk meng-akses service
mode untuk melakukan set up dan melihat atau menghapus service information. Prosedur untuk
menggunakan switch input sama dengan yang digunakan pada ECM lain. Service mode pada setiap
ECM sangat spesifik sehingga harus selalu mengacu pada service manual sebagai referensi ketika
melakukan pemeriksaan pada sistem elektronik kontrol.

VIMS

Gambar 4.58

Gambar di atas menunjukkan VIMS control module yang terpasang pada large hydraulic excavator.
ECM adalah "jantung" dari VIMS yang memonitoring sistem dan menerima input untuk diproses dari
berbagai elektronic kontrol melalui CAT data link dan menyediakan output yang sesuai.

VIMS control module memerlukan 3 volt battery lithium (external) untuk mem-backup memori ketika
disconnect switch terbuka.

VIMS control module digunakan untuk memonitor sistem machine dan menyediakan informasi yang
akan dimunculkan pada display gauge atau lamp. VIMS control module tidak digunakan untuk
mengontrol sistem pada machine.

Note: Monitoring system pada Caterpillar engine dan machine digunakan untuk memonitor kondisi
engine dan machine. Pada modul ini akan dibahas tentang beberapa monitoring system untuk
mendiagnosa kerusakan pada engine dan machine.

107
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

DIAGNOSA ECM

Gambar 4.59

Daftar di atas dapat digunakan untuk melakukan troubleshooting bila terjadi kerusakkan pada ECM.
ECM sangatlah dapat diandalkan dan jarang rusak. Wiring, konektor, dan komponen harus di periksa
terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengganti ECM.

DATA LINK

Gambar 4.60

108
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Pada diagram di atas menunjukkan 797B Off-Highway Truck electronic system. Semua electronic
control melalui tiga engine control saling berkomunikasi menggunakan CAT Data Link. Semua
informasi dari control dapat di akses melalui VIMS Message center atau laptop computer yang
memiliki VIMS-PC atau ET software.

Semua input dari sensor dan switch yang dikirim ke ECM dan di bagi ke ECM lain dihubungkan
melalui data link. Kemampuan untuk berbagi input bertujuan untuk mengurangi penggunaan sensor
yang sama pada sistem yang sama. Sebuah laptop computer dengan CAT ET dapat dihubungkan
ke data link untuk melihat informasi yang sedang dikirimkan antara ECM.

Caterpillar memiliki tiga jenis data link seperti terlihat pada diagram di atas. Cat Data Link digunakan
pada semua Caterpillar electronically controlled machine system. Controller Area Network (CAN)
Data Link (Protocol J1939) dan American Trucking Association (ATA) Data Link digunakan pada
beberapa engine electronic control system.

CAT Data Link terdiri dari sepasang kabel yang dipuntir yang dihubungkan pada Electronic control
Module (ECM) di machine. Kabel tersebut dipuntir untuk menghindari Radio Frequency Interferrence
(RFI) seperti radio transmission.

Controller Area Network (CAN) Data Link dapat dikenali dari bentuk kabelnya yang terbungkus dan
konektornya juga terbungkus. Di dalamnya terdapat twisted pair of copper wire. CAN Data Link
digunakan untuk komunikasi data dengan kecepatan tinggi antara transmission dan Engine ECM.

Untuk mengetest CAN Data Link, matikan semua power yang ke ECM dan lepaskan semua ECM
receptacle. Check tahanan antara ECM receptacle pin. Nilai tahanan harus seperti di bawah ini:
Pin "A" adalah Negatif, pin "B" adalah Positif, dan pin "C" adalah Shield.
"A" ke "A" = 0 ohm
"B" ke "B" = 0 ohm
"A" ke "B" = 60 ohm
"A" atau "B" ke Ground = OPEN

Kerusakan Data Link

Gambar 4.61

Kerusakan pada rangkaian yang menyebabkan gangguan pada komunikasi data link jenisnya
sama dengan kerusakan yang terjadi pada rangkaian elektronik yaitu: open, short, high
resistance dan intermittent.

Digital multimeter dapat digunakan untuk mengetest aktifitas komunikasi data dan kerusakan
pada rangkaian data link. Adanya DC voltage menunjukkan bahwa ada aktifitas data pada

109
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

rangkaian. Voltmeter akan men-display nilai diantara 0 dan power supply voltage. Sebagai
contoh, 5-volt sistem akan di display sekitar 2.5 volt ketika aktifitas data ada. Pembacaan nilai
voltage sebesar 5 volt, mendekati 0 (zero), atau 0 (zero) mengindikasikan bahwa tidak ada
aktifitas. Meskipun nilainya high atau low akan dapat memberikan informasi jika sirkuit dalam
keadaan open atau grounded.

Min/Max digunakan pada conjunction dengan DC voltage yang menyediakan informasi tambahan
selama fungsi standar DC voltage masih berfungsi. Pada saat posisi Min/Max yang dipilih, nilai
Max menunjukkan nilai dari system power supply voltage, misalnya 4.75 volts sampai 5.25 volt
pada sistem dengan voltage sebesar 5-volt. Pada saat posisi Min yang dipilih maka akan
menunjukkan nilai terendah dari pulsa digital antara 0.2 volt dan mungkin mencapai tertinggi
sebesar 0.7 volt. Pada posisi average yang dipilih maka akan menunjukkan nilai setengah antara
power supply voltage dan 0 (zero), misalnya 2.5 volt pada sistem yang mempunyai nilai sebesar
5-volt. Sinyal pulsa menunjukkan aktifitas data dan tidak adanya pulsa menunjukkan tidak ada
aktifitas data.

110
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

TOPIK 5
CAT MONITORING SYSTEM

PENDAHULUAN

Machine CAT menggunakan bermacam-macam monitoring system dengan aneka teknologi dan
tingkat kerumitannya. Awal mula monitoring system hanya berupa sender dan gauge kemudian
berkembang menjadi sistem yang sangat kompleks berupa penggunaan sensor-sensor yang
terhubing pada suatu modul monitoring yang bisa saling berbagi data dan informasi serta mampu
menyimpan data-data machine tersebut.

Walaupun mempunyai monitoring system yang bervariasi namun dasar cara kerjanya hampir
sama. Setiap monitoring system tetap memerlukan signal dari input untuk bisa diproses oleh
monitoring system.

EARLIER MONITORING SYSTEMS

Gambar 5.1

Pada monitoring sistem tipe lama, menggunakan sebuah sender dan gauge untuk mengukur tiap-
tiap parameter. Dalam gambar di atas diperlihatkan contoh dari temperatur sender. Sinyal dari
sender berupa tegangan yang bisa berubah-ubah terganting dari tahanan sender. Tahanannya
dipengaruhi oleh temperatur yang diukur. Ketika temperatur naik, maka tahanan di sender turun
sehingga penunjukan meter pada gauge akan bergerak ke kanan. Ketika temperatur terlalu tinggi,
maka jarum akan bergerak full ke kanan, demikian juga sebaliknya saat tahanan sender sangat
tinggi, maka jarum tidak akan bergerak.

111
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

ELECTRONIC MONITORING SYSTEM

Gambar 5.2

Pada gambar di atas ditunjukkan contoh dari Electronic Monitoring System (EMS). EMS adalah
monitoring system yang pertama digunakan oleh Caterpillar. EMS merupakan dasar monitoring
system yang masih mempergunakan switch input dan program elektronik untuk menjalankan
funsinya memonitor machine. Apabila kontak dari switch itu dalam kondisi open atau close maka
electronic control bisa menetukan keadaan fault atau tidak.

EMS terdiri dari panel monitor (lihat tanda panah) dengan sepuluh buah lampu indikator untuk
memonitor parameter yang diukurnya. Switch dirancang untuk bekerja pada kondisi yang akan
diukur, misalnya untuk coolant temperatur akan switch akan open pada temperatur 225° F. Panel
EMS akan mendeteksi apabila switch open dan akan menyalakan lampu indikator. EMS juga
memonitor terminal R dari alternator untuk menentukan engine dalam kondisi running atau tidak.

Program elektronik di dalam EMS merupakan logic control level pertama yang dipakai Caterpillar.
Program didalamnya dapat menentukan fault dari beragam input device yang diterimanya. Logic
control bisa menentukan machine dalam kondisi aman atau tidak. misalnya bila parking brake
bekerja dan transmisi dalam keadaan netral, maka lampu peringatan akan menyala untuk
mengingatkan operator kalau parking brake-nya masih aktif. Apabila gigi transmisi dimasukkan ke
posisi 1 maju, maka control EMS akan meningkatkan level peringatan dengan mengaktifkan
lampu indikator disertai bunyi alarm.

Ems diprogramkan untuk memberikan 3 tingkat peringatan (warning), yaitu Level 1, Level 2,
danLevel 3. Warning level 1 diaktifkan untuk mengingatkan operator terhadap kondisi machine
yang harus mendapat perhatian misalnya parking brake sedang aktif. pada level ini lampu
indikator di panel akan menyala. pada warning level 2, maka lampu indikator pada panel akan
berkedip-kedip dan disertai kedipan pada action lamp. Pada warning level 3, EMS akan
menyalakan lampu dan action lamp pada panel dan disertai dengan bunyi alarm pada ruang
operator. Hal ini berarti operator harus mengambil tindakan khusus terhadap masalah yang
terjadi, misalnya parking brake aktif ketika transmisi diaktifkan pada gigi 1 maju.

112
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

COMPUTERIZED MONITORING SYSTEM

Gambar 5.3

Monitoring system generasi berikutnya adalah Computerized Monitoring System (CMS). CMS
dibuat dalam dua versi yaitu yang pertama dengan interface Liquid Crystal Display (LCD) dan
yang kedua dengan interface Vacuum Fluorescent Display (VFD). Keduanya memiliki fungsi yang
sama hanya berbeda pada interfacenya.

CMS memilki 12 lampu indikator untuk menunjukkan kondisi kontak dari switch. Pada tipe LCD,
display-nya memilki 5 bar graph, satu curve bar graph, sebuah pembacaan digital untuk
menunjukkan posisi dan arah gear, sebuah pembacaan digital untuk rpm/mph, dan sebuah
indikator service code. Sedang pada tipe VFD terdapat 12 buah lampu indikator ditambah 6
circular electronic gauge, sebuah gauge besar berlokasi di tengah-tengahyang berfungsi sebagai
speedometer atau tachometer, dan di dekatnya adalah penunjuk posisi dan arah gear transmisi.

CMS terpasang pada beberapa tipe machine berbeda dan tidak semua komponen elektrikalnya
terpasang (terganting model machine). Berdasarkan wiring harness dan CMS software, control
bisa mengetahui komponen mana yang terpasang. Disarankan untuk melihat skematik dan
manual untuk memastikan komponen apa saja yang terpasang untuk tiap machine.

CMS menggunakan switch sebagai komponen input. Switch yang dipakai adalah tipe two-states
device (hanya on dan off saja). Ketika kontak switch close maka rangkaian terhubing ke ground,
demikian juga sebaliknya. Ketika CMS beroperasi, maka kontak switch akan close dan ini akan
diartikan sebagai kondisi normal.

Tipe-tipe switch yang dipakai adalah pressure (engine oil, parking brake, secondary brake, and
filter bypass), temperature (brake oil), flow (oil, coolant, and steering), fluid level (oil), mechanical
(brake master cylinder piston travel and transmission neutral).

Warning Level

Sama seperti EMS maka CMS juga memilki 3 level warning, yaitu:
1. Warning Category 1, alert indicator berkedip.tidak diperlukan tindakan khusus dari operator.
2. Warning Category 2, alert indicator dan action lamp berkedip. Pengoperasian Machine di
hentikan atau diadakan maintenance.
3. Warning Category 3, alert indicator dan action lamp berkedip, disertai bunyi alarm. Operator
harus segera mematikan engine.

Berikut contoh-contoh masalah yang bisa mengaktifkan warning alert dari CMS:
1. Warning Category 1: Park Brake On (transmission in neutral), Electrical System (voltage low
atau high atau alternator frequency kurang dari 90 Hz), Check Engine (diagnostic information
present), Fuel Filter Pressure (fuel filter restricted), Fuel Level (low fuel), Supplemental Steering
Oil Flow (loss of flow).
2. Warning catergory 2: Brake Oil Temperature, Coolant Temperature, Hydraulic Oil Temperature,
Power Train Oil Filter Pressure, Power Train Oil Temperature, Retarder Oil Temperature.

113
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

3. Warning category 3: Brake Air Pressure, Brake Oil Pressure, Park Brake On* (machine not in
neutral), Secondary Brake Pressure, Electrical system* (serious electrical problems), Coolant
Flow, Engine Oil Pressure, Hydraulic Oil Level, Power Train Oil Filter Pressure (filter restricted),
Primary Steering Flow or Pressure.

CATERPILLAR MONITORING SYSTEM

Gambar 5.4

Modul ini mendiskusikan mengenai Caterpillar Monitoring System yang terpasang pada Track-
type Tractor. module monitoring system termasuk main display module, macam-macam switch
dan sensor, action lamp dan action alarm. "Jantung" dari system adalah main display module di
mana informasi diterima dari switch dan sensor melalui CAT Data Link (CDL) dan diproses. Main
display module kemudian mengaktifkan berbagai output.

Gambar 5.5

Monitoring system dapat digunakan pada berbagai macam track-type tractor. Module ini dipakai pada
D10R Track-type Tractor sebagai contoh machine yang spesifik. Pastikan mesin yang sesuai dengan
electric schematic untuk menentukan komponen yang diinstall pada model machine tersebut.
114
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

KOMPONEN UTAMA

Monitoring system hardware terpasang pada track-type tractor terdiri dari main display module,
gauge cluster module, dan tachometer module (D10R and D11R) yang terhubung dengan
berbagai macam komponen input dan output.

Main Display Module

Gambar 5.6

Main display module memproses data untuk sistem dan harus terpasang untuk memonitoring
sistem agar beroperasi. Main Module (dipanah) terletak di dashboard dan berisi suatu bagian
yang akan menyalakan 10 alert indikator (symbol putih bagian atas) dan LCD bagian bawah yang
menampilkan digital readout .Bagian alert indikator menggunakan input dari switch, sensor,
sender, dan CAT Data Link untuk memberitahukan operator mengenai kondisi abnormal
machine.

Digital display area menyediakan enam digit readout yang menunjukkan jam operasional
machine, kecepatan machine, jarak dan informasi diagnostik, serta bagian dari display area
digunakan untuk menyediakan indikator unit seperti °C, kPa, miles, RPM, liter dan hourmeter.
Indikator akan berkedip berhubungan dengan informasi yang ditunjukkan pada enam digit
readout.

Service code indikator juga akan menyala (pada display area) untuk menandai adanya suatu
kesalahan yang ada di dalam service dan diagnostic scrolling mode.

Main display module menggunakan sepasang komunikasi yang menghubungkan untuk


menyediakan suatu alur komunikasi antara elektronik kontrol dan juga menyediakan suatu alur
untuk berbagai display module. CAT Data Link digunakan untuk berkomunikasi dengan elektronik
kontrol lain. CAT Data Link adalah bi-directional, yang mengijinkan masukan kedua-duanya dan
keluaran untuk dikomunikasikan.

Alur komunikasi lain adalah Display Data Link. Mata rantai (link) ini mengkomunikasikan informasi
dua arah antara main display module, quad gauge dan tachometer module.

CAT Data Link dan Display Data Link digunakan pada banyak produk lain, seperti Computerized
Monitoring System dan Vital Information Management System, dan tidak akan diterangkan pada
presentasi ini.

Informasi diagnostik yang tersedia untuk troubleshooting display module meliputi:


 CID 248 CAT Data Link
 CID 263 +8 DCV Sensor Supply
 CID 819 Display (Instrumentation) Data Link
 CID 821 Display Power Supply

115
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Main display Module (panah) dapat menampilkan 10 alert indicator untuk memberitahukan
operator mengenai kondisi abnormal. Alert indicator dipakai untuk menerima data dari
uncommitted switch input, sensor, sender, atau CAT Data Link untuk menentukan jika kondisi
abnormal machine terjadi. FLASHING alert indicator akan memberitahukan system mana yang
bertanggung jawab. Alert indicator akan bervariasi tergantung dari model machine. Untuk materi
ini, D10R display Module yang akan kita gunakan.

Alert indicator No.1 : Engine Oil Pressure informasi dari engine ECM dikirimkan melalui CAT Data
Link.
Alert indicator No.2 : Charging System Status dari terminal "R" alternator. Diproses oleh main
display module.
Alert indicator No.3 : Engine Coolant Flow informasi dari engine ECM dikirimkan melalui CAT Data
Link.
Alert indicator No.4 : Air Filter Status informasi dari engine ECM dikirimkan melalui CAT Data Link
Alert indicator No.5 : Cek Engine Warning Status informasi dari engine ECM dikirimkan melalui CAT
Data Link.
Alert indicator No.6 : Steering System Warning Status informasi dari Electronic Clutch Brake Control
(ECB) dikirimkan melalui CAT Data Link.
Alert indicator No.7 : Brake System Warning Status informasi dikirimkan dari ECB melalui CAT Data
Link.
Alert indicator No.8 : Transmission System Warning Status informasi dari Electric Long Range
Transmission (ELRT) kontrol dikirimkan melalui CAT Data Link.
Alert indicator No.9 : Power train Filter Bypass Status informasi diproses oleh main display Module.
Alert indicator No.10 : Parking Brake Status informasi dari ECB control dikirimkan melalui CAT Data
Link.

Display area yang ada di main display module menyediakan informasi digital dan text. Informasi
yang ada di display tergantung pada machine operating mode yang diprogramkan. Tipe dari
informasi itu antara lain:
 Baris enam digit (dengan tanda desimal antara digit tertentu)
 Enam text symbol (°C, kPa, Miles, km, rpm, Liter)
 Display SERV CODE
 Kali 10 ( x10 ) symbol (RPM)
 Service meter symbol (hourglass)

Gauge Cluster dan Tachometer Module

Gambar 5.7

116
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gauge cluster dan tachometer module menerima output dari main display module. Module
berhubungan dengan main display module dengan display data link. Tiap-tiap module terhubung
dengan display data link oleh enam kontak Deutsch™. Nomer kontaknya yang biasa terhubung
ke semua module dan dihubungkan ke display data link adalah:
Kontak 1 : +9 DCV input
Kontak 2 : Ground
Kontak 3 : Clock
Kontak 4 : Data dari main module
Kontak 5 : Module display load dari main module
Kontak 6 : Harness code (jika menggunakan)

Gauge Cluster Module

Gambar 5.8

Slide ini menunjukkan gauge cluster module (panah) yang terpasang di dashboard D10R . gauge
cluster module menampilkan empat gauge kondisi machine yang paling sering dilihat oleh
operator. Sistem yang ditunjukkan adalah:

- Engine Coolant Temperature (kiri atas)


- Power train / Torque Converter Oil Temperature (kanan atas)
- Hydraulic Oil Temperature (kiri bawah)
- Fuel Level (kanan bawah)

Untuk menentukan fungsi yang digunakan pada machine tertentu, lihat Manual Pemeliharaan dan
Operasi (OMM) yang sesuai.

Tachometer Module

Gambar 5.9

117
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 155 menunjukkan tachometer module (panah) yang terpasang pada dasbor D10R.
Tachometer menampilkan kecepatan engine (rpm). Yang terletak di bawah tachometer adalah
tiga digit readout yang menampilkan informasi ground speed (tidak digunakan pada D10R). Pada
sisi kanan ground speed display, dua digit readout menunjukkan informasi arah transmisi dan
aktual gear.

Action Lamp

Gambar 5.10

Action lamp berkedip memberikan peringatan kepada operator ketika terjadi kondisi abnormal
yang serius. Lampu akan berkedip hanya ketika Warning Category 2 atau Warning Category 3
terjadi. Main display module menampilkan CID 324 diagnostic code jika display membaca action
lamp tegangan terlalu tinggi (FMI 03) atau action lamp tegangan terlalu rendah (FMI 06) atau
arusnya di bawah normal (FMI 05).

Gambar di atas menunjukkan action lamp (panah) terletak pada D10R dashboard. Action lamp
tambahan (tidak terlihat) terpasang dekat sudut kanan belakang dari cabin (belakang armrest
kanan) untuk memperingatkan operator kalau ada warning kondisi yang terjadi ketika operator
melihat ke belakang.

Action Alarm

Gambar 5.11

118
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar di atas menunjukkan action alarm (panah) lokasinya di belakang tempat duduk operator
pada D10R. Action Alarm berbunyi merupakan suatu peringatan kepada operator ketika suatu
kondisi abnormal yang kritis sedang terjadi. Alarm akan berbunyi hanya ketika Warning Category
3 terjadi. Main display module menampilkan CID 271 diagnostic code jika display membaca alarm
tegangan terlalu tinggi (FMI 03), terlalu rendah (FMI 06), atau arusnya di bawah normal (FMI 05).

Power Supply
Main display module memberikan power supply output (+8 DCV) ke sensor PWM yang terhubung
ke module, dan (+9 DCV) ke gauge cluster dan tachometer Module.

Main display module menampilkan CID 263 diagnostic code jika display membaca sensor
tegangan power supply di atas normal atau short ke baterai (FMI 03) atau di bawah normal atau
short ke ground (FMI 04).

Main display module menampilkan CID 821 diagnostic code jika membaca display tegangan
power supply di atas normal atau short ke baterai (FMI 03) atau di bawah normal atau short ke
ground (FMI 04).

CAT Monitoring System Operation

Gambar 5.12

Bagian ini mendiskusikan macam-macam system yang terpasang pada D10R yang
menggunakan Caterpillar Monitoring System. Sesuaikan service manual dan electrical schematic
untuk informasi yang lebih spesifik mengenai machine.

Caterpillar Monitoring System dapat juga dipasangkan pada macam-macam model dari Track-
type tractor yang dilengkapi dengan Electronic Clutch Brake (ECB), Electronic Clutch Pressure
Control (ECPC), Finger Tip Control (FTC) dan Electric Long Range Transmission Control (ELRT)
system. D10R dilengkapi dengan ELRT dan ECB system dan menggunakan FTC untuk
mengontrol shifting, steering, dan brake secara elektronik dari machine. Rancangan yang unik
dari main display module mempertimbangkan berbagai jenis komponen input untuk digunakan.

119
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Operator Mode Selector Switch

Gambar 5.13

Operator mode selector switch (panah) terpasang pada dasbor. Switch yang digunakan oleh
operator untuk memilih mode display pada main display Module. Mode yang tersedia untuk
display tergantung pada spesifik machine yang dibahas. Sesuaikan Pemeliharaan Dan Operasi
Manual untuk menentukan mode operator yang tersedia untuk machine yang dibahas.

Caterpillar Monitoring System mempunyai kapasitas 12 mode operasi. Sebanyak 5 mode dapat
dilihat dan tersedia untuk operator. Pada Track-type tractor, operator dapat memilih dan melihat
service hour, odometer, tachometer, engine oil Pressure dan diagnostic scrolling mode
menggunakan operator monitor switch.

Pada D10R dan D11R, type dari switch ini adalah rocker type (momentarily ON) switch dan
terpasang dibawah gauge cluster Module. Kontaknya adalah normally open. Ketika switch yang
manapun diaktifkan (ditekan) wire sinyal E735-PU-18 akan terhubung ke ground pada kontak 18
dari main display Module

Pada model lain, type switchnya adalah type push button dan terpasang pada sebelah kanan dari
display area.

OPERATION MODES

Gambar 5.14

Caterpillar Monitoring System mempunyai kapasitas 12 mode yang berbeda. Tiap spesifik mode
menyediakan informasi mengenai suatu kondisi machine atau machine setup operasi untuk
monitoring system. Tidak semua mode (12) tersedia untuk semua model. Model machine
120
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

menentukan mode yang tersedia. Untuk menentukan mode yang tersedia, gunakan Monitoring
System Mode Tabel pada Electrical Schematic untuk spesifik machine tersebut. Mode operasi
diubah dengan menggunakan service dan clear input ke main display Module atau dengan
menggunakan 4C8195 Service Tool.

Pada beberapa machine model, operator boleh mengakses mode tertentu dengan menggerakkan
"operator monitor" switch yang ada pada dasbor (cabin). Sesuaikan Manual Pemeliharaan dan
Operasi dari machine yang sedang di service untuk spesifik informasi mode operator. Mode yang
berikut tersedia pada D10R dan D11R yang menggunakan " Operator Mode Selector Switch."
 Service Meter Mode/Gear Indicator (juga pada model lain)
 Odometer Mode
 Digital Tachometer Mode (juga pada model lain)
 Oil Pressure
 Diagnostic Scrolling Mode (juga pada model lain)

Mode yang berikut dapat dilihat menggunakan 4C8195 Service Tool:


1. Normal Mode ( juga pada model lain )
2. Harness Mode ( juga pada model lain )
3. Numeric Readout Mode ( juga pada model lain )
4. Diagnostic Service Mode ( juga pada model lain )
5. Tattletale Mode ( juga pada model lain )
6. Electronic Clutch Brake Calibrations ( juga pada model lain )
7. Units Mode
Normal Mode -0-

Gambar 5.15

Ketika power ON, Caterpillar Monitoring System akan melakukan self test dan kemudian masuk
ke Normal Mode. Semua alert indicator dan gauge berfungsi secara normal untuk monitoring
system.

Untuk mendisplay mode lain, diperlukan untuk meng-ground-kan service dan clear pin pada
service code connector dengan meng-ground-kan pin atau 4C8195 Service Tool

Harness Mode -1-

121
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 5.16

Ketika main display ada di Harness Code Mode, machine (model) code didisplay readout.
Machine Code harus sesuai dengan kode sales model machine yang spesifik dimana monitoring
system diinstall. Kode Machine selalu dua digit. Harness Code ditentukan oleh kontak yang di-
ground-kan dan kontak yang terbuka dari harness code connector.

Service Meter Mode

Gambar 5.17

Service Meter Mode (hoursmeter) didisplay pada saat parking brake switch posisi ON. Hourmeter
memperlihatkan jumlah total jam kerja engine yang dioperasikan.

Main Display Module memonitor "R" terminal pada alternator dan engine oil pressure untuk
menentukan jika engine sedang running, dan menunjukkan total jam pada enam digit readout.
Ketika parking brake switch pada posisi OFF, display membaca posisi roda gigi (actual gear).
Odometer Mode ( D10R Dan D11R) menunjukkan total jarak bahwa mesin telah menempuh
perjalanan. Readout men-display jarak itu dalam " miles" atau " km." Berbagai jenis input
digunakan untuk memonitor jarak (seperti sensor frequensi dan machine software) atau dari
electronic control communication lain melalui CAT Data Link. Satuan ukur dapat di-set
menggunakan Unit Mode dan akan dibahas kemudian.

Numeric Readout Mode -2-

Gambar 5.18

Numeric Readout Mode digunakan oleh technician untuk membantu troubleshooting


sensor/sender. Sensor/Sender menyediakan informasi ke gauge cluster Module. Gunakan
numeric readout mode yang menyediakan informasi lebih akurat dibanding apa yang ditunjukkan
pada gauge.

122
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 5.19

Gauge dikenal dengan GA-1, GA-2, GA-3, dan GA-4 dan mengacu seperti ditunjukkan ilustrasi di
atas. Ketika main display Module mendisplay Numeric Readout Mode (menggunakan 4C8195
Service Tool), informasi yang berikut ditunjukkan:
 Enam digit readout mendisplay system identifier GA-1, sebentar kemudian mendisplay nilai
(unit pengukuran) GA-1.
 Menggerakkan (meng-ground-kan) scrool switch pada service tool, di seluruh sistem yang
diinstall di identifiers ( GA-2, GA-3, GA-4 dan GA-1).
 Membuka (tidak ter-ground) scroll switch dengan suatu sistem identifier akan menghentikan
scroll, dan readout mendisplay actual nilai untuk parameter yang diukur dan satuan/unit
pengukuran. Sistem identifier dan nilai kini pada posisi HOLD. Nilai informasi didisplay secara
terus-menerus dan diperbaharui.

Unit pengukuran yang tersedia untuk kondisi-kondisi mesin yang berbeda adalah:
- Temperature diukur dalam ° C
- Tekanan diukur dalam kPa
- Level diukur dalam % full
- Voltage diukur dalam 0.1 Volt ( persepuluh Volt). Sebagai contoh, " 245" dibaca seperti 24.5
Volt.

Diagnostic Scrolling Mode

Gambar 5.20

Selama diagnostic scrolling, service code indikator ( Serv Code ) yang berfungsi sebagai
indikator. Diagnostic Scrolling Mode digunakan oleh operator dan serviceman untuk melihat
service code yang telah disimpan oleh main display Module. Diagnostic Scrolling Mode dipilih
dengan menekan operator monitor switch. Pada D10R dan D11R, switch ditempatkan/terletak
pada panel gauge cluster Module. Pada lain model, switch ditempatkan/terletak pada sisi kanan
dasbor setelah main display Module.

123
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Ketika Diagnostic Scrolling Mode terpilih, service code yang disimpan sebentar lagi scroll pada
area display. Seperti masing-masing kode ditunjukkan, MID ditunjukkan untuk kira-kira satu detik.
Kemudian, CID dan FMI informasi dipertunjukkan untuk kira-kira dua detik. Ketika kode yang
terakhir ditunjukkan, "End" dipertunjukkan, kemudian kode akan scroll lagi. Jika tidak ada service
code disimpan, display akan menunjukkan "---" terus-menerus kesalahan yang sedang terjadi.
Jika Serv Code tidak tampil lagi, kesalahan sudah tidak ada lagi pada saat ini, tetapi telah terjadi
sebelumnya.

Service Mode -3-

Gambar 5.21

Fungsi Service Mode adalah serupa dengan Diagnostic Scrolling Mode. Keduanya mendisplay
informasi MID, CID dan FMI, tapi dalam Service Mode, kode dipakai untuk troubleshooting dan
perbaikan system yang salah.

Main display Module mendeteksi dan mendiagnosa kesalahan sebagai berikut.·


- Display Output Module
- Action alarm dan action lamp output
- Sensor/Sender input

Tattle Tale Mode -4-

Gambar 5.22

Tattletale Mode adalah suatu alat pemeliharaan yang bermanfaat. Main display Module
memonitor dan mencatat nilai-nilai ekstrim untuk masing-masing kondisi machine yang dimonitor.
Nilai-nilai akan diperbaharui kapan saja ketika suatu nilai lebih tinggi terjadi.

Ketika main display Module mendisplay Tattletale Mode, display akan menunjukkan yang berikut:

124
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 5.23

Pada mode ini, gauge cluster Module menunjukkan pembacaan terendah atau tertinggi (untuk
kondisi abnormal) dan untuk yang menggunakan dua gauge, gauge berganti-ganti menampilkan
pembacaan dari paling rendah dan yang paling tinggi.

Pada D10R dan D11R, tachometer Module mendisplay engine rpm paling tinggi. Alert indikator
akan berkedip bila system machine merekam kondisi-kondisi abnormal.

Units Mode -5-

Gambar 5.24

Units Mode ( D10R dan D11R ) memberikan informasi U.S. dan Metrik. Satu-satunya informasi
yang terpengaruh oleh Units Mode adalah:·
 Miles dan Kilometer ( Km )
 Mode diubah ( toggle ) dengan meng-ground-kan kontak clear sedangkan service input
terbuka.

Calibration Mode -6-

Gambar 5.25

125
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Calibration Mode digunakan pada track-type traktor yang memerlukan prosedur kalibrasi khusus.
Suatu contoh system yang menuntut kalibrasi adalah Electronic Clutch Brake (ECB). Sesuaikan
Service Manual dengan machine yang sedang dikalibrasi.

WARNING OPERATION

Gambar 5.26
Warning Category 3- Alert indicator berkedip, Action lamp berkedip dan Action alarm berbunyi.
Operator harus segera menghentikan (shutdown) machine pada kondisi aman.

Caterpillar Monitoring System didesain untuk memonitor system machine dan memberitahu
operator tentang permasalahan yang akan terjadi atau sedang terjadi. Warning Category system
adalah sama seperti yang digunakan oleh Electronic Monitoring System ( EMS ) dan
Computerized Monitoring System ( CMS ).

Operator menerima jenis peringatan berikut:


 Warning Category 1- Alert indicator berkedip.
Tidak ada tindakan segera yang diperlukan oleh operator. ( Memerlukan pemeliharaan pada
akhir shift ).
 Warning Category 2- Alert indicator dan action lamp berkedip. Operasi machine harus diubah
atau perlu segera melakukan pemeliharaan.

Suatu perbedaan penting didalam Icon/symbol alert indikator terjadi ketika Caterpillar Monitoring
System diinstall pada track-type traktor. Sebanyak tiga icon alert indicator digunakan untuk
memberitahu operator jika sedang ada masalah (1) steering system, (2) brake system, atau (3)
transmission system. Peringatan untuk kedua system warning dapat berbeda baik untuk Category
1 atau Category 3. Warning kondisi sebagai berikut:

 Steering System
Category 1 memberitahukan steering clutch out of adjustment.
Category 3 memberitahukan kondisi abnormal sedang terjadi pada system input atau output.

 Brake System
Category 1 memberitahukan brake system out of adjustment atau sinyal switch service brake
pedal abnormal.
Category 3 memberitahukan kondisi abnormal sedang terjadi dibrake system.

 Transmission System
Category 1 memberitahukan kondisi abnormal sedang terjadi pada upshift atau downshift switch,

126
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

reverse switch, transmission oil temperature sensor, speed solenoid 1, 2, atau 3, atau priority
valve solenoid tidak bekerja/malfunction.
Category 3 memberitahukan kondisi abnormal sedang terjadi pada direction knob position
sensor, harness code atau ECM tidak bekerja/malfunction

Testing dan Adjusting

Gambar 5.27

Peralatan service berikut yang harus digunakan ketika troubleshooting Caterpillar Monitoring
System:
 6V7070 atau 9U7330 Digital Multimeter
 7X1710 Cable Probe Group
 6V3000 Sure-Seal Connector Repair Kit
 4C3406 Deutsch Connector Repair Kit
 4C8195 Control Service Tool

Service Connector

127
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 5.28

Berbagai fungsi diagnostic memerlukan ground atau open dari kontak SERVICE dan kontak
CLEAR pada service connector. Gambar di atas menunjukkan lokasi dari service connector
(panah) di dalam cabin D10R.Gambarkan service connector schematic pada kertas dan jelaskan
prosedur "open" dan "ground."

Throuble Shooting Catergories

Throuble Shooting Categories

Gambar 5.29

Troubleshooting Caterpillar Monitoring System malfunction dapat dikelompokkan kedalam 4 basic


kategori:
 Switch-type input Komponen
 Sender-type input Komponen
 Sensor-type input Komponen
 Output Komponen
128
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Switch digunakan oleh main display Module dengan memberikan input "open" atau input
"ground".Jika input di-ground-kan, alert indikator untuk sistem yang dimonitor OFF( tidak
berkedip). Jika switch open, alert indikator akan mulai berkedip menandakan adanya abnormal
kondisi.

Jika alert indicator berkedip terus menerus, biasanya karena adanya abnormal kondisi (seperti:
overheating, low fluid level, dsb). Selalu lakukan visual check terhadap system lebih dahulu untuk
melakukan analisa yang lebih detail. Jika visual check tidak memberikan petunjuk kondisi
abnormal, kita curigai switch problem dan jumper (connect) switch kontak dengan wire kecil. Jika
alert indikator berhenti berkedip, kemungkinan switchnya rusak. Jika alert indikator tetap
berkedip, kemungkinan ada putus wire antara monitor dan switch atau antara switch dan frame
machine. Lakukan operasional check jika sudah diperbaiki.

DIAGNOSTIC TROUBLESHOOTING

Gambar 5.30

Caterpillar Monitoring System menyediakan diagnostic service code untuk membantu serviceman
dalam mendiagnosa dan memperbaiki kerusakan system. Tambahannya, main display Module
(electronic control) menerima informasi melalui CAT Data Link dari electronic control lain yang
terpasang pada machine.

Hal yang mendasar adalah serviceman harus bisa mengenali Module Identification Code (MID)
yang berhubungan dengan berbagai macam display informasi diagnostic. MID mengarahkan
serviceman langsung ke electronic control yang sedang problem.

Berikut adalah MID yang dipakai pada Track-type tractors:


 Caterpillar Monitoring System………………...30
 ADEM Control ( D10R dan D11R )…………..36
 Electronic Clutch Brake Control…………....113

MID untuk monitoring system adalah "30." Untuk list MID yang lengkap, sesuaikan tabel pada
Electrical Schematic untuk system yang dibahas. Untuk troubleshooting dan diagnosa electronic
control lain yang tidak berfungsi, gunakan service manual yang sesuai dengan control yang
mendeteksi kerusakan tersebut. Berikut adalah prosedur yang direkomendasikan untuk
menginstruksikan serviceman tentang penggunaan informasi diagnostic. Tulis langkah-
langkahnya dan terangkan prosedurnya.

Step 1 : Amati keluhan operator yang dilaporkan (antara lain: alert indikator berkedip, gauge
dalam range tinggi/rendah, action lamp berkedip, action alarm berbunyi).
Step 2 : Lakukan visual cek dari system yang bermasalah (antara lain: cek level fluid, dengan
hati-hati pegang tangki hydraulic, dsb).

129
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Step 3 : Gunakan operator mode select switch, pilih diagnostic Scroll Mode dan catat diagnostic
code yang ditampilkan.
Step 4 : Sesuaikan electrical schematic dan service manual dari kode yang ditampilkan.
Step 5 : Pasang 4C8195 control Service Tool ke service connector yang ada didalam cabin. Scroll
ke Service Mode dan berhenti pada diagnostic code yang diinginkan.
Step 6 : Catat Komponen Identifier (CID) dan Failure Mode Identifier (FMI) yang tampil pada
digital display. Sesuaikan tabel CID/FMI dalam service manual dan kembangkan
strategy troubleshooting untuk informasi yang ditampilkan.
Step 7 : Gunakan service tool dan informasi diagnostic di atas, lakukan prosedur
troubleshooting yang diperlukan (cek apakah open, short atau ground) dibutuhkan
untuk mencari akar permasalahan dari problem di atas.
Step 8 : Perbaiki kerusakan, clear diagnostic code dari display, lakukan operasional cek terhadap
system.

Diagnostic code (FMI) ditampilkan pada digital display dipakai sebagai peralatan input “signal”
wire sebagai referensi (antara lain: signal shorted low, signal to high, signal incorrect atau
intermittent, dsb). Jika kode mengacu pada sinyal menjadi di atas normal ( tinggi) atau shorted ke
+ Baterai (FMI 03), kemungkinan terjadi "open" circuit atau wire sinyal sama dengan system atau
supply voltage control. Gambarkan circuit yang bermasalah berikut pada kertas dan gunakan
analogi berikut untuk suatu penjelasan.

Tambahan Tips Troubleshooting

Gambar 5.31

Jika kode mengacu pada sinyal menjadi dibawah normal (low) atau short ke ground (FMI 04),
kemungkinan terjadi “short “ circuit atau voltage lebih rendah dari sinyal. Gambarkan circuit yang
bermasalah berikut pada kertas dan gunakan analogi berikut untuk suatu penjelasan.

Gambar 5.32

130
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Jika kode mengacu pada sinyal erratic, intermittent, atau incorrect (FMI 02), main display Module
tidak menerima informasi yang diharapkan dari ECM lain. Informasi dikomunikasikan dengan
format digital melalui CAT Data Link. Kesalahan mungkin diakibatkan oleh electrical connection
yang jelek, short didalam harness CAT Data Link, terputusnya wiring harness, atau CAT Data
Link output short ke + Baterai. CAT Data Link circuit seharusnya harnessnya dicek tahanannya.
Lakukan test berikut pada CAT Data Link.

Step 1: Cek electronic control lain untuk service code yang sama.
Step 2: Cek semua connector. Pastikan connector tersebut bersih dan kencang.
Step 3: Cek apakah short to ground (CAT Data Link wires) pada main display Module (power
OFF) dengan cara connector dilepas. Ukur tahanan antara connector Contact 5 dan 14.
Jika tahanan lebih rendah dari 5000 ohm, harness rusak (short). Repair atau ganti
harness. Jika tahanan lebih besar dari 5000 ohm, harness dalam kondisi bagus.
Step 4: Cek apakah short ke +Baterai. Ukur tahanan antara connector Contact 1 dan Contact 5
dan 14. Jika tahanannya lebih rendah dari 5000 ohm, harness rusak (short). Repair atau
ganti harness. Jika tahanannya lebih besar dari 5000 ohm, harness bagus.
Step 5: Cek apakah “open” dalam CAT Data Link harness antara main display Module harness
connector (Contact 5 dan 14) dan tiap penambahan electronic control yang dipasang
pada machine. Jika tahanannya lebih besar dari 5 ohm, harness putus (“open”). Jika
tahanan lebih rendah dari 5 ohm CAT Data Link harness bagus
Step 6: Jika semua harness connection yang dicek masih masuk spesifikation, main display
Module kemungkinan rusak.

Service code FMI 05 dan FMI 06 dihubungkan dengan action lamp dan alarm. Jika muncul code
FMI 05, main display Module akan membaca current below normal atau circuit open. Service
code dari FMI 06 ditunjukkan dengan current above normal atau shorted to ground. Gunakan
digital multimeter dan cek action alarm dan action lamp. Berikut nilai tahanannya:

 Alarm Circuit:
Alarm tahanan seharusnya 200 ± 100 ohm.
Tahanan lebih besar dari 300 ohm menunjukkan harness putus.

 Lamp Circuit:
Lamp tahanan seharusnya kurang dari 200 ohm.
Tahanan lebih besar dari 100 ohm menunjukkan harness putus.

Gambar 5.33

131
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Ketika melakukan troubleshooting PWM sensor, direkomendasikan memeriksa sensor pada


kondisi power ON. Sebelum membuat pengukuran voltage, sesuaikan machine electrical
schematic untuk menentukan jenis sensor itu, supply voltage, wiring harness identification
number dan connector kontak.Sensor terpasang pada Caterpillar Monitoring Sistem dan
beroperasi dengan voltage ( + 8 DCV ) dari main display Module. Penggunaan 9U7330 Digital
Multimeter dan 7X1710 Cable probe group, untuk melakukan pengukuran berikut.
 Tempatkan sensor yang bermasalah dan gunakan 7X1710 kabel probe, ujung probe merah
pada + V kontak wire dan ujung probe hitam pada kontak ground sensor. Multimeter akan
membaca antara 7.5 dan 8.5 DCV.
 Jika voltage yang terbaca bukanlah antara nilai-nilai yang ada dalam daftar, sensor supply
voltage mungkin: Putus antara main display Module dan sensor, atau sensor power supply didalam
main display Module mungkin putus, atau sensor ground wire putus.

Jika hasil pengecekan di atas masih dalam spesifikasi, pindahkan kabel merah untuk memeriksa
wire sinyal (Kontak C) dan kabel hitam tetap ditempat ground wire (Kontak B). Tergantung pada
part number sensor, voltage yang terbaca seharusnya antara 0.8 dan 9.0 DCV dengan semua
connector terhubung dan power ON. Gunakan tabel yang terlihat pada gambar di atas,untuk
menentukan temperature dari fluid yang dimonitor dan memeriksa voltage/duty cycle masih
dalam spec.

Sebagian besar electronic control mempunyai kapasitas menyediakan self diagnostic untuk
membantu serviceman ketika sensor yang terpasang problem.

Self diagnostic ini disebut “pull up” voltage. Jika ECM merasakan tidak ada sinyal di wire sinyal,
ECM akan menghasilkan DC voltage (voltage level berbeda tergantung dari ECM yang
terpasang) dan mengirimkan sinyal dari ECM ke sensor.

Proses ini membuat serviceman dengan cepat menentukan integritas wire sinyal dengan melepas
harness connector dari sensor dan mengukur "pull up" voltage antara kontak sensor sinyal dan
ground. Sesuaikan Service Manual yang spesifik untuk menentukan "pull up" voltage untuk ECM
yang terpasang.

KESIMPULAN
Caterpillar Monitoring System memonitor tanda-tanda vital dari track-type tractor dan
menyediakan warning serta action message ke operator dan serviceman lewat display dicabin.
Ketika serviceman bereaksi terhadap masalah yang dilaporkan, langkah yang pertama dalam
memecahkan masalah harus merupakan penggunaan dari semua informasi diagnostic yang
tersedia. Serviceman perlu mengamati masalah itu (jika ada) dan melakukan cek operasional, jika
mungkin. Module ini menyediakan informasi dan skill (latihan soal) yang dibutuhkan oleh
technician untuk mempunyai working knowledge dari tarck-type tractor yang dilengkapi dengan
Caterpillar Monitoring System.

132
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

TOPIK 6
CAT ELECTRONIC TECHNICIAN
MENGHUBUNGKAN CAT ET

Gambar 6.1

Perlengkapan yang diperlukan untuk mengoperasikan CAT ET adalah Com Adapter. Terdapat
dua jenis Communication Adapter yang dapat digunakan, yaitu:

1. 7X-1700 CA I Communication Adapter (sudah tidak diproduksi lagi tapi masih dapatdigunakan)
2. 171-4400 CA II Communication Adapter (peralatan terkini)

Berbagai jenis kabel dijelaskan pada gambar di atas. Kabel-kabel tersebut hanya bias digunakan
pada Cat machine dan industrial engine. Pada on highway truck engine dan gas engine
memerlukan adapter lain untuk menghubungkan kabel data link cable dengan truck Service Tool
Connector. Adapter tersebut tidak ditunjukkan pada gambar di atas.

Gambar 6.2

133
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Komponen-komponen yang diperlukan untuk dapat berkomunikasi dengan machine atau engine
adalah:
1. Personal Computer (PC)
 Laptop ataupun desktop computer

2. Communication Adapter
 Communication Adapter I atau Communication Adapter II

3. Kabel
 USB adapter
 Adapter untuk Truck dan Gas engine

4. Software
 STW dengan CAT ET
 CAT ET Standalone

Gambar 6.3

Adapter-adapter yang diperlukan agar ET dapat berkomunikasi dengan On Highway Truck atau
gas engine antara lain:

1. Data link adapter untuk Truck Engine


 7X-1403 Cab Data link Navistar 1993 - 1996
 7X-1686 Cab Data link Semua OEM kecuali GM & Navistar 1993 - 1998
 7X-1714 Cab Data link GM ALDL 1995 - sekarang
 157-4829 Cab Data link 9 pin J1939 1993 – sekarang

2. 2. Data link adapter untuk Gas Engine


 7X-1414 Control Panel Adapter, 10 Pin 3500 All S.I. Engine with EIS
 7X-1415 Control Panel Adapter, 4 Pin 3600 S.I.

Note: S.I. = Spark Ignited


E.I.S. = Electronic Ignition System

134
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.4

Sekarang ini terdapat 3 cara untuk menghubungkan Communication Adapter dengan PC yakni
dengan menggunakan port berikut ini:
 Serial port
 Parallel port (hanya pada CA II)
 USB port

Gambar 6.5

Pada PC baru biasanya sudah tidak dilengkapi dengan serial port ataupun parallel port. Bila
demikian halnya, maka diperlukan USB port. USB port memerlukan adapter USB ke serial untuk
serial cable karena tidak terdapat USB cable khusus. Adapter ini memerlukan driver agar dapat
berfungsi.

Software ini biasanya sudah dipasok oleh pembuatnya seperti ditunjukkan pada gambar di atas.
Adapter dapat dibeli di toko-toko elektronik. Akan tetapi, beberapa pengalaman menunjukkan
bahwa adapter-Adapter Ini kadang tidak berfungsi dengan baik dengan CAT ET software ataupun
Communication Adapter.

Perlengkapan yang dianjurkan adalah 237-7547 USB/Serial Adapter untuk serial cable. Saat
kabel dihubungkan untuk pertamakalinya dengan PC, pesan “New hardware found” akan muncul
dengan permintaan untuk memasang driver software terlebih dahulu.

Bila adapter digunakan bersama dengan Communication Adapter I, baud rate perlu diset ke
9,600 menggunakan menu ET Preferences, bila tidak maka akan terjadi kegagalan komunikasi.

135
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Note: USB/Serial Adapter hanya dapat digunakan dengan serial cable.

COMMUNICATION ADAPTER

Gambar 6.6

Communication Adapter memungkinkan terjadinya komunikasi antara PC dengan ECM. Terdapat


dua jenis Caterpillar Communication Adapter yang dapat digunakan saat ini, yaitu:
Communication Adapter I (Group no. 7X-1700), walaupun tidak lagi diproduksi tetapi masih dapat
digunakan. Agar dapat berfungsi, alat ini memerlukan komponen dibawah ini:
 Service Program Module
 Tenaga listrik dari Service Tool Connector
 Fuse
 Kabel

Software-nya terdapat pada SPM (Service Program Module) yang dapat dilepas.

Gambar 6.7

Gambar di atas menunjukkan lokasi SPM dan fuse pada Communication Adapter I yang telah
dibuka tutupnya. Penutup ini dapat dibuka dengan menggunakan phillips screwdriver untuk
memperlihatkan komponen bagian dalamnya.

136
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Komponen yang mungkin perlu diakses adalah fuse dan SPM. Beberapa persiapan diperlukan
saat akan menggunakan Communication Adapter I untuk pertama kalinya. CA I memerlukan SPM
(Media No. NEXG4523), seperti yang akan ditunjukkan pada penjelasan pada halaman berikut
ini.

Pembukaan dan penggantian komponen-komponen ini dibahas pada Tool Operating Manual,
"Using the 7X-1700 Communication Adapter Group" (SEHS9264).
7X-1700 Communication Adapter I telah digantikan dengan 171-4400 Communication Adapter II
Group.

Note: Harus dipahami bahwa Communication Adapter I hanya bekerja dengan ATA dan CDL data
link saja. Bila perlu berkomunikasi melalui CAN Data Link, maka harus menggunakan
Communication Adapter II.
CAN = Controller Area Network, high speed data link

Gambar 6.8

Gambar di atas menunjukkan SPM yang telah dilepaskan dari adapter. Beberapa SPM model
lama mencukupi untuk pengoperasian CAT ET normal namun tidak dapat melakukan lash
Programming. SPM software terkini harus dipasang agar dapat melakukan semua fungsi.

SPM version number dapat diperiksa dengan memperhatikan layar Communication Adapter pada
saat start up (mulai hidup). Version 1.2 ditunjukkan dengan huruf "V1.2.". informasi ini dapat pula
diperoleh dengan membuka unit, dan melihat bagian atas dari SPM (seperti ditunjukkan pada
gambar di atas, dimana digunakan SPM Version 1.2, 4/94).

Buku petunjuk pengoperasian Communication Adapter I menjelaskan mengenai hal ini. Walaupun
telah tidak diproduksi lagi, Communication Adapter I masih banyak digunakan. Selama tidak
memerlukan penggunaan CAN Data Link, alat ini masih dapat digunakan pada berbagai aplikasi.

137
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.9

Alat ini masih dapat digunakan untuk berbagai pekerjaan, akan tetapi saat mem-flash file
kedalam engine yang menggunakan ECM terkini, diperlukan waktu 5 kali lebih lama dbandingkan
dengan enggunakan Communication Adapter II yang baru.

Alasannya adalah pada Communication dapter I tidak terdapat CAN (J1939 Controller Area
Network) data link sehingga hanya mengguna an salah satu data link yang tersedia yakni CDL
(Cat Data Link) atau ATA (American Trucking ssociation) data link.

Flash file terbaru dapat mencapai kapasitas 2 MB. ntuk tugas lainnya, alat ini akan berfungsi
dengan baik dan tidak terlalu rumit.

Gambar 6.10

Gambar di atas menunjukkan kabel-kabel yang digunakan pada Communication Adapter I (CA I).
erdapat dua jenis kabel data link yang digunakan untuk menghubungkan PC dengan CA I, yaitu:
 Serial cable
 Serial cable dengan USB Adapter Cable

138
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Untuk memeriksa port mana yang digunakan oleh USB / Serial Adapter Cable, anda dapat
membuka layar Device Manager. Lihat bagian Preferences pada presentasi ini untuk informasi
lebih jelas mengenai hal ini.

Gambar 6.11

Alat ini memerlukan empat hal agar dapat bekerja. Software yang terdapat didalamnya dan apat
di re-flash, tidak seperti pada Communication Adapter I yang menggunakan SPM sebagai
software.
 PC driver akan terpasang secara otomatis saat proses instalasi CAT ET software.
 Flash file (firmware) juga termuat kedalam PC dengan STW atau CAT ET. Flash file dapat
diperbaharui updated) bila PC operating system diperbaharui, baru dipasang pada PC atau
digunakan dengan PC lain yang mempunyai operating system yang berbeda.
 Power supply dari Service Tool Connector
 Kabel dan box yang termasuk dalam paket penjualan software.

Communication Adapter II juga tersedia secara terpisah (tanpa box atau kabel).

Gambar 6.12

Terdapat tiga jenis data link pada Communication Adapter II, yaitu:
 CAN J1939 Controller Area Network
 CDL Cat Data link
 ATA J1587 American Trucking Association

139
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Note: Dengan engine terkini, misalnya ACERT engine, proses flash programming dapat 5 kali lebih
cepat dengan menggunakan CA II yang memiliki CAN Data Link.

Gambar 6.13

Untuk dapat menggunakan Communication Adapter II, setidaknya satu hal berikut ini harus
dilakukan, yaitu:
 Instalasi PC driver
Secara otomatis dilakukan saat instalasi ET
 Instalasi Flash file (bila perlu)
Dimuat kedalam PC saat proses instalasi software
 Mengeset CAT ET Preference
 Mengaktifkan PC Comm. Port (bila perlu)
 Menghubungkan kabel

Flash file dimuat kedalam PC saat instalasi CAT ET. File ini dapat di-flash-kan kedalam Comm.
Adapter kemudian.

140
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.14

Gambar di atas menunjukkan berbagai kabel yang dihubungkan dengan Comm Adapter II. Saat
ini terdapat 3 jenis dasar susunan kabel yang digunakan untuk menghubungkan PC dengan
Communication Adapter II yaitu:
1. Serial cable – Digunakan bila PC mempunyai serial port
2. USB / Serial Cable Adapter – Digunakan dengan serial cable pada USB port
3. Serial Cable – Digunakan bila serial port tidak tersedia

Untuk memeriksa port mana yang digunakan oleh USB / Serial Adapter Cable dipasangkan,
andadapat membuka Device Manager screen. Lihat bagian Preferences pada presentasi ini untuk
informasi lebih jelas mengenai hal ini.

Gambar 6.15

CAT ET system preferences juga terdapat pada Cat Communication Adapter Toolkit program
yang dapat dilakukan tanpa menghubungkan dengan ECM. CAT ET system preferences dapat
direset kapanpun menggunakan drop down menu:

141
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

 Utilities / Preferences
 Menggunakan menu Utilities, pilih Preferences.

Pada tahap ini, data link harus diputuskan. (Tekan F8 untuk memutus/hubungkan data link)

Gambar 6.16

Perhatikan 5 buah tab dibagian atas kotak Preferences. (Preferences dapat diset walaupun
program belum didaftarkan). Terdapat 5 preference yang dapat diset yaitu:
 Communications
 Directory (lokasi Flash file, Trim dan Report)
 Regional (satuan ukuran dan bahasa yang akan digunakan)
 Confirmation (dibiarkan pada default setting)
 Show Dialogs (dibiarkan pada default setting)

Dari tab Communications, pilih Communication Interface Device menggunakan drop down
menu. Pada kasus ini, Communication Adapter II merupakan tool (pilihan) dan dipilih dengan cara
mengklik panah kecil dan menandai pilihan. Pada beberapa kasus terdapat dua pilihan tool, yaitu:
 Communication Adapter 7X1701 (CA I) atau
 Communication Adapter II (CA II)

Terdapat pula peralatan milik pabrikan lain yang tersedia.

Gambar 6.17

142
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Pilih comm port yang sesuai, dalam contoh di atas dipilih Comm Port 2 yang akan digunakan.
Seperti ditunjukkan di atas LPT1 (parallel) port tidak muncul bila dipilih CA 1. Port ini tidak
didukung oleh CA I.
Pilih OK.

Bila tidak tersedia serial port, ada 2 pilihan: USB adapter dengan serial cable, atau CA II dapat
digunakan dengan serial cable.

Note: Pemilihan communication port pada CAT ET, tidak serta merta menyebabkan komputer
mengaktifkan communication port tersebut. Hal ini hanya dapat dikenali oleh CAT ET.

Communication port Komputer harus diaktifkan sebagai fungsi terpisah. Hal ini normalnya
dilakukan dengan menggunakan program Windows. Bila communication port komputer tidak aktif,
CAT ET program tidak akan dapat berkomunikasi dengan ECM atau machine.

Penggunaan USB adapter berarti bahwa komputer akan mengalokasikan comm port yang
berbeda, misalnya Com Port 4.

Gambar 6.18

Pada gambar di atas, dipilih LPT2 Comm Port. Seperti ditunjukkan pada gambar di atas, pilihan
LPT2 (parallel) port muncul pada saat dipilih CA II. Karenanya CA II, dapat digunakan
berkomunikasi menggunakan port ini.
Pilih dan Klik “OK”

 Cable Type Preferences Setting


 Serial Cable Comm 1 – Comm 4
 USB / Serial Adapter Cable Comm 1 – Comm 4 *
 Parallel Cable LPT1 – LPT 2

* Untuk memeriksa port mana yang digunakan oleh USB / Serial Adapter Cable saat dipasangkan,
anda dapat membuka Device Manager screen. Lihat bagian Preferences pada presentasi ini untuk
informasi lebih jelas mengenai hal ini.

Note: Semua pilihan menu pada buku ini disorot (highlight) dalam tulisan tebal (bold) seperti
ditunjukkan di atas.

143
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.19

Normalnya nilai default baud rate akan mencukupi untuk kebanyakan komputer. Bila digunakan
komputer lama (tua), maka perlu dipilih nilai baud rate yang lebih rendah. Komputer lama (tua)
akan terhenti-henti atau mengunci pertanda bahwa komputer tersebut memerlukan baud rate
yang lebih lambat.
Akan tetapi bila USB / Serial Adapter digunakan dengan Communication Adapter I, nilai baud rate
perlu diubah menjadi 9,600.

Note: Preferences dapat pula diakses melalui layar program Communication Adapter Toolkit. Fitur ini
lebih cocok digunakan saat proses men-troubleshooting adanya masalah tidak dapat berkomunikasi
(no communication problem).

Gambar 6.20

Untuk mempersiapkan CA II, maka perlu meng-upload flash file pada CA II. Sebagai contoh, bila
adapter telah digunakan dengan komputer yang dilengkapi dengan CAT ET versi lama, Flash File
mungkin tidak cocok dengan PC operating system yang saat ini digunakan. Saat dihidupkan,
lampu-lampu akan berkedip secara berurutan satu kali.

Note: Bila, saat menghubungkan Comm Adapter, semua lampu menyala seperti pada gambar di
atas, hal ini menunjukkan bahwa pada Comm Adapter tersebut tidak terdapat Flash File. Karenanya,

144
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

harus di re-flash (di-flash ulang, halaman berikut). Begitupula, apabila muncul kode 443, maka perlu
dilakukan re-flash application firmware kedalam Communication Adapter.

Gambar 6.21

Dengan menggunakan menu Utilities, pilih Comm Adapter II Toolkit Data link harus tidak
terhubung (dialiri arus tapi tidak berkomunikasi dengan ECM) untuk mengakses Comm Adapter II
Toolkit. Tekan F8 atau gunakan icon (panah).

Note: Comm Adapter II Toolkit dapat pula diakses melalui menu Start pada komputer. CAT ET
tidak perlu dibuka/dijalankan untuk menggunakan Comm Adapter II Toolkit.

Gambar 6.22

Menu Comm Adapter II Toolkit tersusun seperti gambar di atas, terdapat empat drop down menu.

145
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.23

Summary screen dapat diakses menggunakan icon ataupun drop down menu berikut ini:
Information / Summary

Tampilan Application Firmware Flash dapat pula diakses menggunakan drop down menu berikut ini:
Utilities / Application Firmware Flash

Untuk keluar dari program, klik icon atau gunakan drop down menu berikut ini:
File / Exit

Gambar 6.24

Perhatikan kotak "Application Firmware Version" (panah) yang menyatakan "Not Present (tidak
ada)”. Ini berarti tidak terdapat flash file pada Comm Adapter. Bila semua lampu menyala terus
menerus (tidak berkedip), ini juga berarti tidak terdapat flash file pada Comm Adapter. Sekarang,
gunakan drop down menu, pilih:
Utilities / Application Firmware Flash.

Perhatikan bahwa CAT ET system preferences dapat diakses melalui Comm Adapter drop down
menu seperti ditunjukkan di atas. Hal ini untuk mempermudah kita agar tidak perlu kembali ke
atau membuka program ET untuk memeriksa pilihan yang telah dibuat.

146
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.25

Klik Select File untuk menuju ke folder yang berisi flash file.

Gambar 6.26

Pilih Flash File. Perhatikan bahwa nama file berisi penjelasan mengenai file dan version number
(nomor versi Flash File).

Sebagai contoh, ca2v2i2.apf: nama file ini dapat diartikan sebagai Communication Adapter II, file
version 2.2.

Perhatikan pula nama folder "Flash". Sebagai tambahan pada kotak File Information dibawah
terdapat penjelasan file lengkap, sebagai contoh:
 Sorot ca2v2i2.apf (atau yang sesuai) seperti terlihat pada gambar di atas (panah).
 Click OK.

Informasi pemilihan file pada Communication Adapter II dan file yang cocok dibahas pada akhir
Pelajaran 2.

147
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.27

Sekarang, pilih Begin Flash (tanda panah). Pada gambar di atas terlihat proses flashing sedang
berlangsung. Bila untuk berbagai alasan, proses flashing terputus/terganggu, dilayar akan muncul
pesan menandakan bahwa proses tidak lengkap. Hasilnya akan sama seperti bila tidak terdapat
flash file; dengan kata lain, tidak dapat berkomunikasi dengan ET.

Gambar 6.28

Pada gambar di atas terlihat proses flashing sedang berlangsung. Bila untuk berbagai alasan,
proses flashing terputus/terganggu, dilayar akan muncul pesan menandakan bahwa proses tidak
lengkap. Hasilnya akan sama seperti bila tidak terdapat flash file; dengan kata lain, tidak dapat
berkomunikasi dengan ET.

148
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.29

Pada gambar di atas terlihat proses flashing telah selesai dengan sukses dan muncul tiga buah
tombol pilihan.
 Toolkit – kembali ke Comm Adapter Toolkit
 Flash – kembali ke Comm Adapter Flash screen
 Exit – keluar dari flashing program dan kembali ke CAT ET

Normalnya, kita klik Exit dan kembali ke CAT ET untuk memeriksa apakah komunikasi telah
berfungsi atau belum dan dilanjutkan dengan penggunaan aplikasi. Bila Comm Port tidak aktif,
karena berbagai alasan, maka juga tidak akan terjadi komunikasi melalui port tersebut.
Komunikasi masih dimungkinkan melalui port yang lainnya, bila ada.

DIAGNOSA KOMUNIKASI DENGAN CAT ET

Gambar 6.30

Saat CAT ET dihubungkan dengan ECM, suatu pesan akan muncul menunjukkan ada tidaknya
komunikasi antara ET dan aplikasi. Pertanyaannya adalah: "bagaimana men-troubleshoot
problem yang terjadi?" Kemungkinannya dapat saja karena key switch pada posisi off atau PC

149
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Communication Port tidak aktif. Dapat pula disebabkan oleh karena terjadi konflik pada software.
Terkadang competitor's software (yang sama dengan CAT ET) dapat mengganggu CAT ET.

Troubleshooting Kegagalan Komunikasi


Sumber masalah komunikasi dapat dikelompokkan dalam lima hal, seperti berikut ini:
 Communication Adapter Hardware atau software
 Cables Open atau short circuit
 PC Masalah pada Komputer, hardware atau software
 CAT ET Preferences Preferences tidak diset dengan benar
 Application System Power supply, data link wiring, connector, fuse, ECM problem, flash file

PC driver terpasang secara otomatis saat instalasi CAT ET software.

Flash file (firmware) juga dimuat kedalam PC oleh CAT ET software, akan tetapi biasanya pada
saat instalasi akan ditanyakan apakah akan disertakan atau tidak pada saat instalasi.

Note: Jangan dibingungkan dengan penyimpanan flash file software (firmware) dan proses flashing.

Gambar 6.31

Perhatikan tanda-tanda kerusakan pada konektor dan body-nya. Ganti dengan alat lain bila
memungkinkan, untuk memastikan problem. Periksa alat dari kerusakan fisik, lihat pin dan
konektornya. Periksa apakah terdapat arus listrik menuju Comm Adapter II, dengan cara
memperhatikan lampu suplai tenaga (power, panah). Problem yang paling umum adalah
keyswitch. Keyswitch harus di-ON-kan dan panel warning light (lampu peringatan pada panel)
menunjukkan adanya arus menuju sistem.

150
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.32

Periksa apakah terdapat arus listrik menuju Comm Adapter II, dengan cara memperhatikan lampu
suplai tenaga (power, panah). Problem yang paling umum adalah keyswitch. Keyswitch harus di-
ON-kan dan panel warning light (lampu peringatan pada panel) menunjukkan adanya arus
menuju sistem.

Gambar 6.33

Data link cable terkini tahan terhadap kemungkinan kelemahan dibandingkan dengan jenis
sebelumnya. Jenis ini telah diperkuat pada sekitar connector (panah) cable entry. Kerusakan
pada cable dapat menyebabkan dua masalah dasar: tidak ada arus menuju Communication
Adapter, yang mengarah ke tidak adanya komunikasi, atau data link problem yang juga
menyebabkan tidak terjadi komunikasi.

Metoda sederhana untuk men-troubleshoot kabel adalah dengan cara menukar kabel dengan
kabel yang lain yang sama. Bila digunakan kabel yang bukan data link cable standar dengan
CAN data link, dan lebih panjang dari spesifikasi normal, CAN communication problem dapat
terjadi.

Note: Communication Adapter I data link cable yang lebih panjang dapat digunakan dengan
Communication Adapter II. Akan tetapi, CAN tidak akan berfungsi karena CAN connection tidak
terdapat pada kabel jenis ini.

151
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.34

Karena berbagai sebab, comm port dapat menjadi tidak aktif. Sebagai contoh, Palm Pilot
computer atau Smart Board software saat dipasang pada Laptop computer dapat menyebabkan
comm port menjadi tidak aktif untuk CAT ET communication. Infrared port dapat pula
menyebabkan konflik dengan comm port. Atau karena memang comm port belum diaktifkan
sebelumnya.

USB/Serial Adapter driver dipasok bersama dengan adapter. Software ini harus dipasang
sebelum mengunakan adapter. Juga periksa pemilihan comm port untuk adapter pada CAT ET
preferences.

USB adapter akan menggunakan port yang berbeda dengan yang digunakan serial cable
sebelumnya.

Kadang-kadang saat menggunakan Dataview akan terjadi konflik antara CAT ET dengan PC
Comm Port. Bila digunakan driver Dataview yang terbaru, hal ini tidak akan terjadi.

Gambar 6.35

Saat men-troubleshoot masalah komunikasi antara PC dan CAT ET, layar/tampilan informasi di
atas dapat berguna. Informasi pada layar memberikan sumber informasi mengenai PC dan
sistem aplikasi. Tekan Ctrl + I untuk mengakses informasi di atas.

152
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.36

Kemungkinan lain dari timbulnya masalah komunikasi adalah pemilihan Communication Adapter
atau comm port yang tidak tepat.
Note: Bila USB adapter dipasang pada serial cable, perubahan pada preferences harus dilakukan
untuk pilihan comm port yang baru. Baud rate juga perlu diubah bila Communication Adapter I
digunakan dengan USB adapter. Preferences juga dapat dipilih melalui menu Communication
Adapter Toolkit, tanpa menjalan kan program CAT ET saat troubleshooting.

Gambar 6.37

Bila keyswitch pada posisi OFF, ECM tidak akan di-energize dan komunikasi tidak akan terjadi.
Service Tool Connector tidak mendapatkan suplai arus untuk Communication Adapter (ini
bervariasi tergantung application wiring arrangement). Pastikan pula battery master switch pada
posisi ON.

Kesimpulan:
 ECM dan Service Tool Connector (untuk Communication Adapter) harus mendapatkan suplai
arus agar dapat berkomunikasi.
 ECM harus mempunyai flash file yang benar agar dapat berkomunikasi. Gunakan WinFlash
untuk memastikan file ini ada dan tidak rusak.
 Bila tegangan dari battery melebihi 40 Volt, ECM akan dimatikan untuk mencegah
kerusakanlebih lanjut. Kondisi ini dapat disebabkan kerusakan pada alternator voltage regulator.

153
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

 Tegangan sirkuit yang tinggi (>40 volt) akan menyebabkan engine mati (shutdown) dan terjadi
kegagalan komunikasi dengan CAT ET.

Gambar 6.38

Masalah wiring harness dapat pula terjadi pada machine atau engine. Periksa kondisi wiring,
connector dan fuse apakah terjadi open atau short. Pin A dan B pada Service Tool Connector
digunakan untuk power supply ke Communication Adapter. Power supply dapat saja terhubung
ataupun tidak terhubung dengan ignition switch. Tegangan dapat diperiksa pada pin ini (pin A dan
B). Termination resistor dibahas pada gambar berikut ini (tidak terlihat pada gambar di atas). Data
link cable harus dipuntir (twisted) untuk mencegah RFI (Radio Frequency Interference).

Gambar 6.39

Termination resistor normalnya terpasang pada sirkuit CAN data link. Bila komponen ini tidak
terpasang, maka tidak akan mungkin untuk mem-flash ECM dengan file yang baru melalui CAN
data link. Bila CAN data link terpasang pada engine atau machine, maka tidak perlu memasang
termination resistor.

Service literature tidak selalu menjelaskan mengenai perlunya terminating resistor pada engine
CAN data link circuit. Termination resistor dapat dibandingkan dengan 3408E HEUI engine
hydraulic system sebagai analogi. Saat injector mati, gelombang tekanan terjadi dan akan
kembali ke sistem dan akan mempengaruhi timing pada barisan injector yang berlawanan.

154
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Check valve dipasang pada sistem untuk mencegah pengaruh tersebut pada injector lain. Pada
cara yang sama, sinyal CAN mengalir melalui sirkuit dan dipantulkan kembali dari ujung sikuit
yang menyebabkan sinyal yang salah memantul disekeliling sistem dan menyebabkan datanya
rusak. Termination resistor mencegah agar hal di atas tidak terjadi.

Informasi Dan Bantuan

Gambar 6.40

Kunjungi websites berikut ini bila memerlukan informasi dan bantuan tambahan.
Service Training: https://psmktg.cat.com/srvtrng/index.htm
Service Technician Workbench https://psmktg.cat.com/srvtrng/elearn/stw/index.htm
SIS Web https://psmktg.cat.com/srvtrng/elearn/stw/find.htm

Periksa Service Training Tech Tips Newsletter pada website untuk informasi yang lebih lengkap.
Caterpillar ET Website

NACD Infocast: https://nacd.cat.com


https://nacd.cat.com/infocast/frames/psfulfill/sfulfill/et/
APDNet: https://apd.cat.com
https://apd.cat.com/infocast/frames/pss/service/et/
CatAmericasNet: https://lacd.cat.com
https://lacd.cat.com/infocast/frames/PSE/ops/servtech/et/
FlashNet: https://cosa.cat.com
https://cosa.cat.com/infocast/frames/prod_supp/serv_tech/et/
Cat Power Net: https://engines.cat.com
https://engines.cat.com/infocast/frames/truck/service/catet/

155
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

MENGGUNAKAN CAT ET SCREEN

Gambar 6.41

Pada CAT ET terdapat training program yang disebut CAT ET Trainer. Bila Training Aid, machine
atau engine tidak tersedia, fitur ini dapat digunakan untuk berbagai kegiatan yang dijelaskan pada
pelajaran ini.

CAT ET Trainer dapat diakses menggunakan icon dibawah ini:

Atau menggunakan pilihan drop down menu:


 Help / Trainer / Enable - Disable
 ECM Selector Screen (Screen Pemilihan ECM)

ECM Selector Screen atau ECM summary screen muncul secara otomatis saat CAT ET
terhubung dengan machine. Bila beberapa ECM terhubung dengan data link, ECM Selector
Screen seperti yang ditunjukkan pada gambar di atas akan muncul. Pemiilihan ECM harus
dilakukan sebelum dapat masuk ke program. Maksimal 9 buah ECM dapat terhubung dengan
data link, misalnya pada 797 Off-Highway Truck. Bila hanya satu ECM terhubung dengan data
link, layar ini tidak akan muncul. Yang akan muncul adalah ECM Summary screen, seperti terlihat
pada gambar dihalaman berikut ini.

156
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.42

Drop Down Menu, Tool Bar dan Function Key


Tampilan ini (ECM Summary) muncul setelah ECM telah dipilih atau bila hanya terdapat satu
ECM terhubung dengan data link. ECM Summary screen berisi informasi peralatan dan ECM
yang sedang terhubung dengan CAT ET. Pada beberapa kasus, suatu machine dapat
mempunyai beberapa ECM yang terhubung melalui data link.

Pada kotak kiri atas terdapat semua ECM yang terhubung dengan data link. Pada gambar di atas
hanya menampilkan satu ECM saja. Pada kotak kanan atas terdapat informasi mengenai CAT
ET, (Program Version Number, Serial Number, dan Subscription Type). Dalam hal ini, terlihat
Version 2002A sedang digunakan. Kotak bagian bawah berisi Equipment ID dan Engine Serial
Number. Pada kotak ini juga terdapat informasi mengenai ECM Personality Module.

ECM Summary Screen dapat secara manual dipilih kapan saja menggunakan drop down menu
Information / ECM Summary atau icon (gambar dibawah). Bila tampilan tidak berukuran penuh,
tampilan dapat dimaksimalkan (tampilan layar penuh) dengan cara mengklik kotak diujung kanan
atas CAT ET screen.

157
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.43

Drop down menu berikut ini terletak di atas layar seperti terlihat pada gambar:
- File
- View
- Diagnostics
- Information
- Service
- Utilities
- Help

Gambar 6.44

Beberapa item di atas juga terdapat pada toolbar icon dan pada Function Key Toolbar icon
berikut telah tersedia antara lain:
- Feedback

158
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

- Bookmarks Search
- Print Preview Print
- Status
- Active Fault
- Logged Fault
- Logged Event
- ECM Summary
- Configuration Tool
- Connect Data link
- Disconnect Data link
- Enable ET Trainer
- Disable ET Trainer
- Help

Toolbar icon dan kebanyakan Function Key dapat disusun sehingga dapat sesuai saat dihitung
dari kiri. Drop down menu pertama yang ditunjukkan adalah View Menu (seperti yang terlihat
pada halaman sebelumnya). Terdapat empat pilihan yang tersedia pada View:

- Toolbar
- Launchpad
- Custom
- Preferences

Bila terdapat tanda “V” pada toolbar, toolbar akan ditampilkan dan bila tidak terdapat tanda tersebut
maka toolbar pun tidak akan tampak. Bila Custom dipilih, terdapat dua pilihan yaitu Toolbar dan
Function Key. Pilih Toolbar.

Gambar 6.45

Toolbar Customization screen (screen penyesuaian toolbar) terlihat pada gambar di atas.
Perhatikan bahwa screen telah dipilih tanpa memperlihatkan STW, sehingga Toolbar screen
dapat diperbesar.

Toolbar sekarang dapat diatur disesuaikan dengan kebutuhan pengguna (dengan anggapan
pengguna memiliki personal computer sendiri). Walaupun Toolbar disusun ulang dengan
sempurna, tetapi masih dapat dikembalikan ke susunan aslinya dengan menggunakan tombol
Get Default.

Alat (tool) yang tersedia dapat dipilih dari kolom sebelah kiri layar. (pilihan yang diambil
ditunjukkan pada kolom sebelah kanan layar). Akhirnya, Toolbar dapat diperkecil ukurannya atau

159
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

dihilangkan dari pandangan bila perlu, menggunakan pilihan drop down menu berikut ini dan
menuju General tab:
View / Preferences

Gambar 6.46

Function Key dapat disesuaikan dengan kebutuhan dengan cara yang sama. Gunakan drop down
menu dan pilih:
View / Custom / Function Keys
Function key F2 - F7 dan F10 - F12 dapat disesuaikan dengan kebutuhan dengan menggunakan
mouse.

Function key F1, F8 dan F9 tidak dapat diubah.


Dengan mengklik tanda panah pada setiap kotak Function Key, pemilihan dapat dilakukan untuk
setiap Function Key.

Bila diperlukan, daftar aslinya (default) dapat digunakan kembali dengan menggunakan tombol
Get Default.

Data Link Connecting dan Disconnecting

Gambar 6.47

160
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Sebagaimana fungsi CAT ET lainnya, terdapat berbagai metoda untuk connecting


menghubungkan) dan disconnecting (memutuskan) data link.
1. Function key F8 (pada keyboard) melakukan kedua hal ini, connecting dan disconnecting.
2. Fungsi connecting/disconnecting dapat pula dilakukan dengan menggunakan File drop down
menu, sebagai berikut:
File / Disconnect F8

3. Dua buah data link icon adalah Toolbar, satu untuk connecting (icon kiri) dan yang lainnya untuk
disconnecting (icon kanan).

Saat fungsi disconnect dipilih, tampilan utama layar akan kosong.

Note: Saat cursor di atas tombol toolbar, bubble help (penjelasan fungsi) akan muncul.

Diagnostic Screen

Active Diagnostic Code

Gambar 6.48

Active Diagnostic Fault (code) screen dapat dipilih menggunakan tombol disebelah kanan, tombol
F3 pada keyboard, atau menggunakan Diagnostics drop down menu. Menu yang dapat
digunakan untuk memilih tampilan ini adalah sebagai berikut:
Diagnostics / Active Diag Codes

Function key yang digunakan untuk tujuan ini tergantung dari pilihan yang ditentukan
sebelumnya. F3 merupakan default key. Hanya satu Active Diagnostic fault yang aktif pada
engine 3408E ini. Seringkali terdapat berbagai active faults dan status flag indicator muncul.

161
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Pengguna dapat men-troubleshoot suatu active fault dengan cara menyorot (highlight) fault dan
menekan tombol Troubleshoot Code dipojok kiri bawah layar. Proses ini akan membuka
Diagnostic Advisor, (bila CAT ET dijalankan didalam STW dan Diagnostic Advisor dipasang) dan
membantu teknisi dalam men-troubleshoot kode fault. Active fault tidak dapat dihapus dari layar.
Active fault akan terhapus/hilang secara otomatis saat fault tersebut telah diperbaiki.

Logged Diagmostic Code

Gambar 6.49

Logged Diagnostic Fault screen dapat dipilih menggunakan icon yang ditunjukkan di sebelah kiri
atau menggunakan drop down menu dibawah ini:
Diagnostics / Logged Diagnostic Codes

Function key juga dapat digunakan (tergantung dari bagaimana function key ditentukan). F4
merupakan default key.

Active, Logged, dan Event Diagnostic screen dapat di-print atau disimpan agar dapat dilihat atau
juga di-print sebagai file *.PLR (lihat Pelajaran 4 untuk informasi yang lebih lengkap mengenai
Mencetak dan Mengelola File).

Perhatikan tiga penjelasan disebelah kanan atas layar: "Occ., First, dan Last". Item ini
menjelaskan jumlah terjadinya kerusakan, jam kapan kejadian pertama dan terakhir kalinya
terjadi. Fitur ini sangat berguna untuk mengidentifikasi intermittent fault.

162
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.50

Logged Fault dapat dihapus dengan menggunakan cursor untuk menyorot (highlight) pesan seperti
yang ditunjukkan pada gambar di atas pada baris kelima. Kemudian tekan tombol Enter, atau tekan
tombol Clear di bagian pojok kiri bawah layar dan tekan Yes untuk memastikan penghapusannya
Kotak Include all ECMs (gambar di bawah) di pojok kanan bawah layar, dapat dipilih untuk
menampilkan data kerusakan pada semua ECM yang terhubung dengan data link.

Bila akan menghapus semua pesan Logged Fault dari semua ECM, tekan Clear All di bagian bawah
layar.

Pada layar CAT ET pada gambar di atas menunjukkan 3 buah ECM. Karena Caterpillar
Monitoring System bukan bagian dari sistem, CMS pada machine di atas tidak didukung oleh
CAT ET. Engine, Transmission dan Brake Logged Fault dikomunikasikan melalui data link ke
CMS. Menghapus fault pada CAT ET tidak akan menghapusnya dari CMS karena CMS pada
machine di atas tidak berkomunikasi dengan CAT ET. Untuk menghapus logged fault pada CMS
yang tidak berkomunikasi dengan CAT ET, hubungkan 4C-8195 Control Service Tool dan
gunakan Mode, Scroll, dan Clear switch untuk mengakses service mode dan menghapus logged
fault.

163
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Logged Events

Gambar 6.51

Logged Event adalah situasi dimana terjadi kerusakan baik kerusakan elektronik ataupun bukan,
yang menyebabkan engine beroperasi diluar normal operating parameter. Tampilan ini dapat
diakses menggunakan Logged Events screen icon seperti pada gambar disamping,
menggunakan function key, atau menggunalkan drop down menu berikut ini:
Diagnostics / Events / Logged Events

Kondisi ini dapat saja berhubungan dengan perawatan, misalnya low oil level (level oli rendah)
atau air filter tersumbat/buntu. Event (kejadian) lain dapat saja disebabkan oleh operator abuse
(kesalahan perlakuan oleh operator) seperti engine overspeed atau overload yang mengarah ke
overheating. Pada contoh di atas, terdapat 8 event (pada gambar di atas). Bila salah satu dari
kejadian tersebut adalah "Engine Overspeed Warning", informasi tambahan dapat dilihat dalam
bentuk histogram. Informasi ini tersedia dengan cara menyorot item-item dan memilih tombol
View Histogram

di bagian pojok kiri bawah layar. Bila tidak terdapat overspeed, tombol ini akan berwarna abu-abu
dan tidak akan dapat disorot. (lihat gambar di atas). Pada sisi kanan atas layar terdapat informasi
tambahan, sama halnya seperti pada Logged Diagnostic Codes. Informasi ini menunjukkan jumlah
kejadian, jam kapan kejadian pertama dan terakhir kalinya terjadi. Sebagai contoh, kejadian Low
Engine Oil Pressure Warning; telah terjadi 11 kali, terjadi antara jam ke 32 sampai 33.

Event tidak dihapus secara rutin dan biasanya memerlukan factory password untuk menghapusnya.
Bila akan menghapus Event, highlight event tersebut, lalu tekan Enter atau pilih Clear dan kemudian
masukan informasi-informasi yang diperlukan untuk mendapatkan password. Normalnya, event akan
tetap berada pada memori ECM sampai waktunya overhaul. Event memberikan Note atau sejarah
dari kemungkinan problem yang akan merusak engine dan akan membantu proses diagnosa,
analisa kerusakan atau sebagai bukti adanya kesalahan pengoperasian oleh operator. Jumlah
maksimal event yang dapat disimpan ECM adalah 255. Bila jumlah ini sudah terlampaui, event dapat
dihapus setelah penyebabnya diketahui dan diperbaiki.

164
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Walaupun ECM dapat menyimpan 255 kejadian, diagnostic clock akan mencatat jam kejadian
terakhir kalinya. Event lain yang mungkin muncul, tergantung dari aplikasinya, antara lain:
- High exhaust temperature
- High aftercooler temperature
- High crankcase pressure
- Loss of coolant flow
- Low (lubrication) oil pressure (mengacu pada oil pressure map)
- User defined shutdown selection
- Fuel filter restriction
- Oil filter restriction
- Low engine oil level
- High atau low boost

Gambar 6.52

Nilai besaran dan jumlah kejadian overspeed dijelaskan pada overspeed histogram C-9 Industrial
Engine seperti pada gambar di atas. Tampilan ini secara grafis memperlihatkan tingkat
overspeed. Garis vertikal pada grafik menunjukkan jumlah setiap kategori overspeed. Garis
horizontal menunjukkan nilai rpm tertinggi setiap terjadi overspeed. Overspeed dikelompokkan
setiap peningkatan 100 rpm.

Pada grafik di atas terdapat 6 kali overspeed terjadi pada rpm 2500, 3 kali pada rpm 2600, 2 kali
pada rpm 2700, satu kali pada rpm 2800, dan satu kali pada rpm 2900. Rentang rpm yang
ditunjukkan pada layar ditentukan oleh aplikasi ECM. Dalam hal ini, 2900 merupakan rpm
tertinggi yang terukur oleh C-9 engine. Engine lainnya mempunyai skala yang berbeda
tergantung dari engine-nya.

Dalam hal ini, engine yang lebih kecil (C-9), dapat dianggap bahwa kerusakan serius telah
dialami pada rpm 2900. Engine telah mencapai rpm yang potensial menimbulkan kerusakan dan
harus diperiksa terhadap kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh overspeed. Pemeriksaan,
sebagai contoh, harus termasuk pemeriksaan valve, piston, bearing dan komponen yang
bergerak lainnya. Akan tetapi, pada engine yang lebih besar, misalnya seri 3500, dapat dianggap
bahwa kerusakan akan telah terjadi pada rpm ini karena kecepatan piston yang lebih tinggi.

165
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Status Screens

Gambar 6.53

Untuk memilih Status screen, klik pada tombol Status screen icon sepertiyang ditunjukkan pada
gambar disamping atau pilih function key F2. Status screen dapat pula dipilih menggunakan drop
down menu:
Information/Status

Pilih salah satu daftar Status screen yang tersedia. Pada aplikasi ini, digunakan 3408E industrial
engine, dimana terdapat 7 screen. Nomor terakhir dibuat oleh pengguna. Saat setiap screen di-
highlight, parameter yang terdapat pada group yang sedang disorot akan terlihat di kotak sebelah
kanan. Tombol New di sebelah kanan layar digunakan untuk mengelompokkan parameter sesuai
keperluan untuk test khusus.

Untuk memilih tampilan tertentu menggunakan cursor: highlight salah satu screen group dari
daftar. Pastikan dengan menekan tombol Enter, atau dengan mengklik tombol "OK" disebelah
kanan. Atau gunakan huruf pertama dari nama grupnya. Pada contoh di atas, dengan menekan
huruf "L" maka grup "Low Power Test" akan ditampilkan pada layar.

Pastikan dengan menekan tombol Enter. Grup juga dapat dipilih menggunakan keypad dengan
memilih nomornya.

166
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.54

Status Screen Group 1 dipilih. Perhatikan kotak Status Flag Indicator dibagian atas layar.
Indikator ini berisi kondisi aktif terkini, sebagai contoh Cold Mode sedang terjadi. Beberapa
indicator flag yang dapat muncul adalah antara lain:
 Injection Disabled
 Engine Overspeed
 Engine Derate
 High Coolant Temperature
 Low Oil Pressure

Tepat dibawah Status Flag indicator terdapat:


Penjelasan mengenai engine:"3408E Industrial Engine"
Engine serial number: "7PR00420"
Status Screen Group yang dipilih

Note: Status Screen group aslinya dapat mempunyai parameter sampai 12 parameter, dan grup
yang dibuat oleh pengguna hanya dapat memuat sampai 10 parameter.

Gambar 6.55
Akan memakan waktu yang cukup lama saat bekerja pada machine dimana harus membaca dari

167
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

jarak jauh. Dalam hal ini, fitur Zoom In dapat dipilih untuk memperbesar tulisan yang terdapat pada
layar. Tombol Zoom Out (panah) digunakan untuk mengembalikan ke ukuran semula.

Fitur Hold digunakan untuk mengunci pembacaan untuk analisa. Contoh, saat melakukan torque
stall test.

Pemilihan dan penyesuaian Status screen merupakan bagian penting dari CAT ET. Sebagai
contoh, bila perlu melakukan torque stall test untuk mengetahui problem low power pada 793
truck, ada sejumlah hal yang harus diperiksa secara serentak.

Cara yang praktis hanyalah dengan membuat daftar sesuai dengan keperluan, untuk ditampillkan
secara serempak pada satu screen. Screen baru ini dapat dibuat, atau memodifikasi dari grup
yang tersedia dan menyimpannya untuk digunakan dikemudian hari.

Untuk membuat screen baru, klik tombol Groups di pojok kiri bawah layar dan tekan tombol New
menggunakan mouse. Screen yang terlihat pada halaman berikut adalah New Group screen.

Gambar 6.56

Bila ingin memeriksa kasus low power, hal-hal yang perlu dan akan diperiksa dapat dipilih dari
layar. Sebagai contoh:
1. Engine speed
2. Desired engine speed
3. Throttle position
4. Atmospheric Pressure
5. Boost Pressure
6. Air filter Restriction
7. AFRC Fuel Limit (air fuel ratio control)
8. Fuel Position
9. Rated Fuel Limit
10. Engine Coolant Temperature

Jumlah maksimal parameter yang dapat ditampung pada satu screen adalah 10. Bila ditekan OK, ini
hanya merupakan "Temporary Group" dan hanya akan disimpan sampai keluar dari Status screen
(lalu kemudian terhapus). Akan tetapi, screen akan menanyakan pada pengguna apakah dia akan
menyimpan parameter yang telah dipilih dengan nama yang spesifik atau tidak. Bila parameter yang
diinginkan telah dipilih, tombol Save As dapat di klik.

168
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.57

Screen dengan parameter yang telah dipilih dapat diberi nama pada kotak "Enter Group
Name". Klik OK untuk menyimpan grup ini. Bila diperlukan lebih dari 10 parameter, maka harus
dibuatkan lagi screen yang kedua. Pengguna dapat mengakses kedua tampilan ini pada saat
melakukan test. Bila dua grup dibuat untuk test yang sama, disarankan judulnya seperti contoh
dibawah ini:
 Low Power Test 1
 Low Power Test 2

Kedua group ini dibuat dan diurutkan berdasarkan abjad dan angka (alpha/numerical). Proses ini
menyederhanakan tugas kita saat beralih diantara dua screen menggunakan tombol Page up/ Page
down.

Gambar 6.58

Gambar di atas adalah screen yang baru dibuat dan menunjukkan engine sedang hidup. Perhatikan
judul screen, "Low Power Test", pada kiri atas kotak Status screen. Tombol Hold dapat digunakan

169
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

untuk mengunci tampilan.

Tombol ini akan berganti dengan tombol Resume yang berguna untuk mengembalikan ke dynamic
screen. Keuntungan dari fitur ini adalah memungkinkan pembacaan parameter dilapangan saat test
dilakukan.

Misalnya, pembacaan torque stall test dapat ditahan/dikunci menggunakan fungsi Hold dan
ditampilkan atau disimpan menjadi file. Informasi ini dapat diprint atau diperlihatkan di lain waktu atau
juga sebagai referensi data. Tombol Active Codes dibagian bawah screen digunakan untuk
menampilkan active faults/codes untuk ECM yang sedang ditampilkan.

Gambar 6.59

Saat tombol Active Codes atau huruf A pada keyboard ditekan, Active Codes screen akan muncul
seperti yang ditunjukkan di atas.

Perhatikan fungsi "Push Pin” (panah), saat dipilih menggunakan mouse, pin ini memungkinkan
pengguna untuk berpindah dari screen satu (status) ke screen lainnya tanpa kehilangan Active Fault
screen.

170
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Parameter Change History

Gambar 6.60

Parameter Change History (bila dilengkapi), memberikan informasi semua perubahan pada setiap
parameter termasuk hal berikut ini:
 ECM hours saat terjadi perubahan
 Service tool serial number
 Nilai setiap perubahan parameter termasuk nilai yang baru (terkini)

Parameter Change History screen dapat diakses menggunakan drop down menu berikut ini:
Information / History / Parameter History

Parameter Change History hanya tersedia pada beberapa aplikasi, misalnya pada engine 3516
untuk 793 truck. Ketersediaan fitur ini ditentukan oleh Personality Module software.

Configuration Screen

Gambar 6.61

Configuration screen memungkinkan merubah parameter yang terdaftar. dan mencatat perubahan

171
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

terhadap setiap parameter yang dilakukan. Screen ini dapat diakses melalui Configuration icon
(ditunjukkan pada gambar disamping), function key (dalam hal ini F5), atau melalui Service drop
down menu sebagai berikut:
Service / Configuration

Configuration screen juga mencatat nilai perubahan terakhir dan jumlah berapa kali parameter telah
diubah. Fitur ini memberikan data-data teknis dari perubahan yang pernah dilakukan pada engine
atau machine. Kolom disebelah kanan layar terdapat tulisan "TT" yang berarti tattletale yakni jumlah
total perubahan parameter yang dilakukan.

Untuk merubah nilai parameter, sorot (highlight) informasi yang akan diubah, tekan Enter, dan ikuti
instruksi selanjutnya pada layar.

Harus diperhatikan bahwa beberapa parameter tidak menampilkan nilai “TT”. Parameter ini
merupakan "read only" dan karenanya tidak dapat diubah pada layar. Personality Module Part
Number dan Installation Dates secara otomatis tercatat pada saat instalasi.

Pada beberapa aplikasi, misalnya pada On Highway Truck, digunakan Customer Passwords untuk
melindungi parameter terhadap perubahan yang dilakukan oleh orang yang tidak berhak.

Ada tingkat perlindungan yang lebih lanjut yaitu dengan Parameter Lockout yang berarti
perlindungan untuk parameter tertentu pada beberapa aplikasi. Untuk mengakses fitur Parameter
Lockout gunakan drop down menu sebagai berikut:
Service / Parameter Lockout

172
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

MENCETAK DAN MENGELOLA FILE

Menyimpan Laporan

Gambar 6.62

Untuk menyimpan tampilan (screen) gunakan pull down menu sebagai berikut:
File / Print to File

Dialog box (seperti gambar di atas) akan muncul. Nama file dapat menggunakan nama yang dibuat
oleh program, ataupun membuat nama tersendiri. Beri tanda pada kotak yang berisi tulisan "Include
Description with Printout" dan tuliskan penjelasannya bila perlu. Pilih Save. Laporan (report)
disimpan dengan file extension *.xml dan disimpan oleh sistem pada folder berikut ini pada CAT ET
program:
Program Files / Caterpillar Electronic Technician / Files / Reports

File-file ini dapat dilihat menggunakan web browser. Karenanya, untuk membuka file ini tidak perlu
menggunakan komputer yang dipasangi CAT ET untuk menampilkan datanya. Bila file di simpan
dalam format HTML, maka file dengan format ini tidak dapat dibuka oleh ET, tetapi hanya dapat
dibuka oleh Internet Explorer. File dapat disimpan dalam format XML (default) ataupun HTML.
.XML file: Dapat dibuka menggunakan CAT ET atau web browser
.HTML file: Hanya dapat dibuka menggunakan web browser

Note: Sistem pengelolaan file yang lama telah ditiadakan mulai CAT ET Version 2002A. Document
yang diekspor disimpan sebagai file *.ET
Saat ini fungsi import hanya digunakan untuk mengimpor file *.ET lama
File laporan (report) yang dibuat sebelum versi 2003B akan mempunyai extension *.PLR.

File yang disimpan oleh CAT ET versi terkini akan mempunyai extension *.XML yang diset secara
otomatis oleh sistem.Kesimpulan mengenai jenis dan extension file CAT ET:
.PLR Extension file laporan sebelum CAT ET Version 2003B
.ET Dibuat oleh File Management Sys. (CAT ET sebelum Version 2002A)
.XML Dapat dibuka menggunakan CAT ET atau web browser
.HTML Hanya dapat dibuka menggunakan web browser saja

HTML - Hypertext Markup Language


Bahasa format berkode digunakan untuk membuat hypertext documents pada World Wide Web dan

173
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

mengatur bagaimana Web pages terlihat.


XML - Extensible Markup Language
XML dirancang untuk meningkatkan fungsionalitas web dengan memberikan kemampuan yang lebih
fleksibel dan identifikasi informasi yang dapat diadaptasi.

Mengakses File

Gambar 6.63

Fitur Open memungkinkan pengguna membuka folder pada program CAT ET yang juga digunakan
untuk menyimpan document. Untuk membuka folder, gunakan urutan drop down menu berikut ini:
File / Open

Pilihlah satu dari folder berikut ini:


- ECM Replacement File Fleet
- Configuration File
- Data Log File
- Report File
- Snapshot File

Perhatikan bahwa setiap aplikasi dapat memiliki berbagai jenis file. Pilih folder, misalnya Reports
dan Open screen (halaman berikut) akan muncul.

174
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.64
Highlight file yang akan dibuka lalu tekan tombol Open.

Note: Bila menggunakan STW, hanya file milik serial number dari machine atau engine yang sedang
terhubung dengan ET saja yang muncul pada Open drop down menu.

Mengimpor dan Mengekspor File

Gambar 6.65

Untuk mengakses fitur Import/Export gunakan drop down menu berikut ini:
File / Import atau Export

Tujuan dari mengimpor atau mengekspor file adalah untuk memudahkan pemindahan file dari satu
komputer ke komputer atau lokasi lain mengunakan floppy disk, USB storage device atau alat
penyimpanan lainnya.

175
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.66

Setelah Export dipilih dari drop down menu, Open dialog box akan muncul, seperti terlihat di atas.
Tampilan ini memungkinkan pengguna untuk melihat isi komputer untuk mencari file untuk di import
atau folder kemana document akan di export.
Note: Hanya file yang dieskport sebelumnya dengan extension *.ET yang dapat diakses
menggunakan perintah import. Fungsi Import tidak lagi digunakan pada file yang dihasilkan oleh CAT
ET versi terbaru. Untuk mengekspor file, cari drive yang tepat kemana file akan di-ekspor, highlight
nama file dan klik tombol Open. Pilih folder, misalnya Reports dan Open screen (halaman berikut)
akan muncul.

Fitur Cetak (Print)

Gambar 6.67

176
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Fitur Print Document memungkinkan data dapat digunakan untuk analisa dikemudian hari atau
tujuan pengarsipan. Fitur Print dapat diakses menggunakan tombol Print (icon dikanan) pada
Toolbar atau menggunakan drop down menu sebagai berikut:
File / Print

Fitur Print akan mem-print suatu laporan yang ada pada screen ke printer, yang diset sebagai
default printer. Tombol Print Preview (icon kiri) memungkinkan pengguna untuk melihat apa yang
akan disimpan ataupun di-print kemudian. Fitur Print to File (default) memungkinkan informasi untuk
disimpan secara elektronik untuk dilihat atau di-print dikemudian hari.

Print Setup memungkinkan pengguna untuk memilih printer berbeda, mengubah ukuran halaman,
mengubah dari bentuk portrait ke landscape, dan berbagai fungsi setup lainnya. Pengguna perlu
menambah dan set-up default printer menggunakan setting pada operating system setting.

177
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.68

Bila menggunakan Print Preview atau Print Function, Comment screen akan muncul. Ini
memungkinkan pengguna dapat mengatur kertas sebelum mem-print, sehingga dapat diidentifikasi
pada printer.

SERVICE REPORT (LAPORAN PERBAIKAN)

Gambar 6.69

Untuk mengakses Service Report screen, gunakan launchpad icon seperti ditunjukkan pada gambar
di atas atau drop down menu berikut ini:
File / Report / Service Report

Service Report memungkinkan penguna untuk membuat laporan dari prosedur troubleshooting yang
lengkap dan menyimpan laporan tersebut dalam bentuk file.

Note: Fitur ini hanya tersedia pada STW.

178
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.70

Tombol toggle tepat dibawah judul Service Report memungkinkan pengguna untuk berpindah dari
Dealer Service Report ke Customer Report. Perbedaan antara Customer Report dan Dealer Service
Report adalah pada dealer report lebih terperinci. Pada Customer Report tidak terdapat Part Causing
Failure, Labor, Miscellaneous Cost dan Mileage, Additional Opportunities Sections, dan Work Order
Closing.

Tombol Edit setelah tiap-tiap bagian laporan memungkinkan untuk melakukan perubahan pada
Service Report. Bagian pertama dari Service Report adalah Report Header Information (informasi
judul laporan). Pada bagian ini terdapat informasi mengenai machine’s serial number, customer
name, equipment location, SMU hours, dan lain-lain. Perhatikan bahwa beberapa informasi secara
otomatis tertera tergantung bagaimana cara pengguna masuk pada STW dan apakah serial number
dimasukkan ataukah tidak.

Area berikut dari service report adalah Part Causing Failure (Suku Cadang Yang Menyebabkan
Kerusakan). Bagian ini disediakan untuk section number, part numbers, group numbers, SMCS
code, quantity, dan informasi spesifik lainnya yang berhubungan dengan kerusakan. Bagian Labor
dan miscellaneous cost (biaya lain-lain) dan bagian mileage memungkinkan teknisi untuk mendata
informasi spesifik ini sebagai sumber untuk segment tertentu pada work order.

Bagian latar belakang perbaikan (repair background section) dari service report memungkinkan
tehnisi untuk memasukan customer complaint (keluhan pelanggan), cause of the failure (penyebab
kerusakan), resultant damage (kerusakan yang terjadi), dan komentar proses perbaikan yang
mungkin dimiliki teknisi.

Bagian berikutnya memungkinkan pelanggan dan tehnisi untuk menandatangani service report. Alat
ini efisien khususnya untuk field technician (tehnisi lapangan). Mereka dapat membuat service report,
menekan tombol Customer Report Toggle dibagian atas laporan, dan mem-print laporan tepat
didepan pelanggan. Ini memungkinkan field technician untuk mempunyai service report yang telah
ditandatangani oleh pelanggan saat mereka kembali ke kantor dan work order langsung diproses
sehingga dapat menghemat waktu.

Bagian Work Order Closing dan Additional Opportunities mengingatkan tehnisi mengenai informasi
yang berharga yang diperlukan untuk menutup work order dan memastikan pelanggan mendapat
pelayanan yang lebih baik di masa mendatang.

Bagian Activity Summary memuat laporan segala sesuatu yang dilakukan oleh tehnisi. Bila dilakukan
test pada CAT ET atau prosedur perbaikan ditemukan pada SIS, aktifitas ini akan dicatat secara
otomatis untuk tehnisi. Tombol Edit setelah bagian ini memungkinkan pengguna untuk memeriksa
179
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

ejaan (spell check) pada daftar aktifitas dan menghapus nomor atau bagian tertentu bila langkah
tersebut tidak diperlukan/tidak digunakan.

Akhirnya, bila tehnisi meng-order suku cadang langsung dari SIS, part numbers, description, dan
jumlahnya akan dicantumkan dibagian bawah service report. Tehnisi dapat secara terus menerus
memperbaharui service report setiap hari, sehingga mereka tidak perlu mengingat apa yang telah
mereka selesaikan pada setiap work order.

Gambar 6.71

Untuk mengakses fitur Service Report Search, gunakan drop down menu berikut:
File / Search / Service Report

Gambar 6.72

Bagian pertama Service Report Search screen meminta lokasi file. Bila lokasinya tidak diketahui,
tekan tombol Browse disebelah kanan dan cari file yang diinginkan. Bagian Date Modified (modifikasi
tanggal) memungkinkan pengguna untuk memilih tanggal kapan laporan terakhir dimodifikasi/diubah.
Untuk memilih rentang tanggal, gunakan drop down calendar untuk memilih tanggal dan memastikan
kotak didepan kotak kotak dipilih dengan ditandai “V”. Untuk mencari hari tertentu, hilangkan tanda
“V” dari To atau From Date, beri tanda “V” pada tanggal yang diinginkan.

180
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Isilah kolom yang masih kosong dengan Dealer Code, Work Order, Employee ID, Model, Serial
Number, Customer, dan Equipment Location. Setelah semua informasi dimasukkan, pilih tombol
Search dibagian bawah screen. Ini akan menampilkan daftar file Service Report yang sesuai dengan
kriteria yang telah ditentukan. Sorot (highlight) file yang diinginkan dan tekan tombol Open untuk
membuka service report.
Tombol Clear akan menghapus semua kriteria yang sebelumnya dimasukkan, sehingga pengguna
dapat melakukan pencarian yang baru. Tombol Close akan menutup search window. Tombol Help
akan menampilkan Help screen (layar bantuan) untuk memandu pengguna mengenai Search
screen.

FITUR ECM REPLACEMENT DAN FLEET CONFIGURATION

Gambar 6.73

Saat mengganti ECM, configuration settings dapat disalin (copy) dari ECM lama ke ECM yang baru.
Fitur ini memungkinkan kita tidak perlu melakukan proses kalibrasi untuk injector dan speed/timing
sensor. Untuk mengakses ECM Replacement, gunakan drop down menu berikut ini:
Service / Copy Configuration / ECM Replacement

Bila konfigurasi pada truck telah diubah, konfigurasi ini juga dapat di-copy (disalin) ke truck lain yang
sama dalam suatu armada. Fitur Copy Configuration akan mengurangi jam kerja yang diperlukan
saat mengubah beberapa ECM pada suatu armada truck. Proses ini memungkinkan tehnisi untuk
menyalin configuration file (file konfigurasi) dari satu ECM ke ECM lain dalam suatu armada
menggunakan CAT ET.

Untuk mengakses Copy Configuration, gunakan drop down menu berikut:


Service / Copy Configuration / Fleet Configuration

CAT ET Trainer dapat pula digunakan untuk menunjukkan proses ECM Replacement dan Fleet
Configuration.

181
PT TRAKINDO UTAMA
TRAINING CENTER CILEUNGSI
TT007 ELEKTRIK DAN ELEKTRONIK

Gambar 6.74

Tampilan di atas menunjukkan proses ECM Replacement telah dilakukan dengan sukses, dan ini
ditunjukkan dengan kotak dialog yang menyatakan "Programming Complete". Perhatikan berbagai
tombol pada bagian bawah screen, juga daftar parameter yang disalin ditunjukkan di sebelah kiri
screen.

182
PT TRAKINDO UTAMA
Training Center Cileungsi