Anda di halaman 1dari 9

A.

KATA KUNCI
1. Pelayanan kesehatan
2. Kebijakan kesehatan
3. Cost effectiveness analysis (CEA)
4. Mutu pelayanan
5. Program pencegahan kesehatan gigi
6. Skrining
7. Pembiayaan
8. Sistem asuransi

B. PERTANYAAN PENTING
1. Jelaskan subsistem pelayanan kesehatan dan undang-undang yang mengatur!
2. Jelaskan subsistem pembiayaan dan undang-undang yang mengatur!
3. Pengertian Cost Effectiveness Analysis (CEA) dan Cost Benefit Analysis (CBA)!
4. Jelaskan cara menghitung CEA dan CBA!
5. Apa saja pertimbangan kebijakan kesehatan?
C. JAWABAN

1. Subsistem Pelayanan Kesehatan dan Udang-Undang yang Mengatur

Berdasarkan UU RI No. 36 Tahun 2009 pasal 1 ayat 11 pengertian upaya


kesehatan adalah “setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara
terpadu, terintegrasi, dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan
derajat masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan penyakit,
pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan masyarakat”.
Defenisi pelayanan kesehatan menurut Prof. Dr. Soekidjo Notoatmojo adalah
sebuah subsistem pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah pelayanan
preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan) dengan sasaran
masyarakat.1 Pelayanan promotif adalah upaya meningkatkan kesehatan masyarakat
ke arah yang lebih baik lagi dan yang preventif mencegah agar masyarakat tidak jatuh
sakit agar terhindar dari penyakit.2
Pelayanan kesehatan dibedakan dalam dua golongan, yaitu:2
1) Pelayanan kesehatan primer (primary health care), atau pelayanan
kesehatan masyarakat adalah pelayanan kesehatan yang paling depan,
yang pertama kali diperlukan masyarakat pada saat mereka mengalami
ganggunan kesehatan atau kecelakaan.
2) Pelayanan kesehatan sekunder dan tersier (secondary and tertiary health
care), adalah rumah sakit, tempat masyarakat memerlukan perawatan lebih
lanjut atau rujukan. Di Indonesia terdapat berbagai tingkat rumah sakit,
mulai dari rumah sakit tipe D sampai dengan Rumah sakit kelas A.
Sedangkan menurut Levey dan Loomba (1973), Menurut pendapat Hodgetts dan
casio, jenis pelayanan kesehatan secara umum dapat dibedakan atas dua, yaitu:1
1) Pelayanan kedokteran : Pelayanan kesehatan yang termasuk dalam kelompok
pelayanan kedokteran (medical service) ditandai dengan cara
pengorganisasian yang dapat bersifat sendiri (solo practice) atau secara
bersama-sama dalam satu organisasi. Tujuan utamanya untuk menyembuhkan
penyakit dan memulihkan kesehatan, serta sasarannya terutama untuk
perseorangan dan keluarga.
2) Pelayanan kesehatan masyarakat : Pelayanan kesehatan yang termasuk dalam
kelompok kesehatan masyarakat (public health service) ditandai dengan cara
pengorganisasian yang umumnya secara bersama-sama dalam suatu organisasi.
Tujuan utama untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah
penyakit, serta sasarannya untuk kelompok dan masyarakat.

Sumber:

1) Hidayat W. Studi Tentang Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan di


Puskesmas Long Ikis Kecamatan Long Ikis Kabupaten Paser. eJournal
Ilmu Pemerintahan. 2015; 3(4): 1640-1
2) Setyawan FEB. Sistem Pembiayaan Kesehatan. Univesitas
Muhammadiyah Malang. 2018; 2(4): 58-59

2. Subsistem Pembiayaan dan Undang-Undang yang Mengatur

Proses pelayanan kesehatan tidak bisa dipisahkan dengan pembiayaan kesehatan.


Biaya kesehatan ialah besarnya dana yang harus disediakan untuk menyelenggarakan
dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang diperlukan oleh perorangan,
keluarga, kelompok dan masyarakat. Berdasarkan pengertian ini, maka biaya
kesehatan dapat ditinjau dari dua sudut yaitu berdasarkan:
1) Penyedia Pelayanan Kesehatan (Health Provider)
adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat menyelenggarakan
upaya kesehatan, maka dilihat pengertian ini bahwa biaya kesehatan dari sudut
penyedia pelayanan adalah persoalan utama pemerintah dan ataupun pihak
swasta, yakni pihak-pihak yang akan menyelenggarakan upaya kesehatan.
Besarnya dana bagi penyedia pelayanan kesehatan lebih menunjuk kepada
seluruh biaya investasi (investment cost) serta seluruh biaya operasional
(operational cost).
2) Pemakai Jasa Pelayanan (Health consumer), adalah besarnya dana yang harus
disediakan untuk dapat memanfaatkan jasa pelayanan. Dalam hal ini biaya
kesehatan menjadi persoalan utama para pemakai jasa pelayanan, namun
dalam batas-batas tertentu pemerintah juga turut serta, yakni dalam rangka
terjaminnya pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang
membutuhkannya. Besarnya dana bagi pemakai jasa pelayanan lebih
menunjuk pada jumlah uang yang harus dikeluarkan (out of pocket) untuk
dapat memanfaatkan suatu upaya kesehatan.1

Berdasakarkan UU RI No. 36 Tahun 2009 pasal 170 ayat 1 menyatakan


“Pembiayaan kesehatan bertujuan untuk penyediaan pembiayaan kesehatan yang
berkesinambungan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil, dan
termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk menjamin
terselenggaranya pembangunan kesehatan agar meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat setinggi-tingginya”.2

Sumber:

1) Setyawan FEB. Sistem Pembiayaan Kesehatan. Univesitas


Muhammadiyah Malang. 2018; 2(4): 58-59
2) Undang-Undang Kesehatan Republik Indonesia No 36. 2009
3. Cost Effectiveness Analysis (CEA) dan Cost Benefit Analysis (CBA)

Cost effectiveness analysis (CEA)


Cost effectivenes analysis adalah tipe analisis yang membandingkan biaya suatu
intervensi dengan ukuran non-moneter, dimana pengaruhnya terhadap hasil perawatan
kesehatan. Cost effectiveness analysis merupakan salah satu cara untuk memilih dan
menilai program yang terbaik bila terdapat beberapa program yang berbeda dengan
tujan yang sama.
Adapun pengertian Cost Effectiveness Analysis menurut beberapa ahli adalah sebagai
berikut:
a. Menurut Henry M. Levin, Cost Effectiveness Analysis adalah evaluasi yang
mempertimbangkan aspek biaya dan konsekuensi dari sebuah alternatif
pemecahan masalah. Ini adalah sebuah alat bantu pembuat keputusan yang
dirancang agar pembuat keputusan mengetahui dengan pasti alternatif
pemecahan mana yang paling efisien.
b. Menurut Diana B. Petitti, Cost Effectiveness Analysis adalah model yang
digunakan untuk menilai alternatif keputusan yang paling tepat dengan cara
membandingkan alternatif tersebut dalam hubungannya dengan keuangan
yang harus dikorbankan.
c. Menurut Shepard (1979) dalam First Principles Of Cost-Effectiveness
Analysis in Health, CEA adalah suatu metode untuk menentukan program
mana yang dapat menyelesaikan tujuan tertentu dengan biaya minimum.

Tujuan dari CEA adalah menentukan jika nilai suatu intervensi sangat ditentukan
oleh biayanya. CEA tidak hanya meliputi penentuan biaya, tapi juga penentuan nilai
dari outcome. Manfaat Cost Efectiveness Analysis yaitu membantu penentuan
prioritas dari sumber daya yang terbatas. Bidang kesehatan membutuhkan CEA
terutama dalam menganalisis program kesehatan yang bersifat pencegahan yang
ditujukan untuk memecahkan berbagai masalah pada populasi target (Rienke, 1994).
Jadi, Cos Effectiveness Analysis adalah metode manajemen guna menilai
efektifitas dari suatu program atau intervensi dengan membandingkan nilai biaya (cost)
dengan outcome yang dihasilkan.

Cost Benefit analysis (CBA)


Cost Benefit Analysis atau Benefit-Cost Analysis merupakan metode yang umum
digunakan pada proses evaluasi manajemen. Tidak menutup kemungkinan juga
analisis ini digunakan dalam tahap perencanaan. Analisis ini digunakan untuk menilai
beberapa alternatif sumber daya maupun program yang memiliki manfaat lebih besar
atau lebih baik dari alternatif lainnya.
Cost Benefit Analysis adalah tipe analisis yang mengukur biaya dan manfaat
suatu intervensi dengan beberapa ukuran moneter dan pengaruhnya terhadap hasil
perawatan kesehatan. Tipe analisis ini sangat cocok untuk alokasi beberapa bahan jika
keuntungan ditinjau dari perspektif masyarakat. Analisis ini sangat bermanfaat pada
kondisi antara manfaat dan biaya mudah dikonversi ke dalam bentuk rupiah (Orion,
1997).
Pengertian Cost Benefit Analysis menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:
a. Menurut Siegel dan Shimp (1994), Cost Benefit Analysis merupakan cara
untuk menemukan alas an dalam menentukan biaya pengambilan alternatif
dari pengukuran hasil yang menguntungkan dari alternative tersebut. Analisis
ini telah dipakai secara luas dalam hubungannya dengan proyek pengeluaran
modal.
b. Vogenberg (2001) mendefinisikan Cost Benefit Analysis sebagai tipe analisis
yang mengukur biaya dan manfaat suatu intervensi dengan beberapa ukuran
moneter. CBA merupakan tipe penelitian farmakoekonomi yang komprehensif
dan sulit dilakukan karena mengkonversi benefit atau manfaat ke dalam nilai
uang.
c. Menurut Schniedrjans, et. al. (2004), Cost Benefit Analysis adalah suatu
teknik untuk menganalisis biaya dan manfaat yang melibatkan estimasi dan
mengevaluasi dari manfaat yang terkait dengan alternatif tindakan yang akan
dilakukan.
d. Menurut Keen (2003), Cost benefit Analysis merupakan analisis bisnis untuk
memberikan gambaran kenapa harus memilih atau tidak memilih spesifikasi
dari suatu investasi.

Tujuan dari metode Cost Benefit Analysis yaitu menetukan apakah merupakan
suatu investasi yang baik. CBA juga betujuan untuk memberikan dasar untuk
membandingkan suatu proyek. Termasuk membandingkan biaya total yang
diharapkan dari setiap pilihan dengan total keuntungan yang diharapkan, untuk
mengetahui apakah keuntungan melampaui biaya serta berapa banyak.
Cost Benefit Analysis digunakan untuk mengetahui besaran keuntungan atau
kerugian serta kelayakan suatu proyek. Analisis ini memperhitungkan biaya serta
manfaat yang akan diperoleh dari pelaksanaan program. Perhitungan manfaat dan
biaya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Cost Benefit Analysis juga
digunakan untuk mengetahui seberapa baik atau seberapa buruk tindakan yang akan
direncanakan akan berubah. Analisis ini sering digunakan oleh pemerintah dan
organisasi lainnya, seperti perusahaan swasta, untuk mengevaluasi kelayakan dari
kebijakan yang diberikan.
Manfaat Cost Benefit Analysis yaitu memasukkan keuntungan dan biaya sosial.
Juga sebagai dasar yang kuat guna mempengaruhi keputusan legislatif atau sumber
dana dan meyakinkan untuk menginvestasikan dana dalam berbagai proyek.
Jadi, Cost Benefit Analysis (CBA) adalah suatu proses sistematis yang digunakan
untuk menghitung serta membandingkan biaya dan manfaat dari suatu proyek,
keputusan maupun kebijakan pemerintah. CBA mengukur biaya dan manfaat dengan
menggunakan beberapa ukuran moneter dan berguna untuk memilih alternatif terbaik
atau mengevaluasi alternatif dan intervensi yang sudah diterapkan.
Sumber:
1) Boardman, A. A., Greenberg, D. H., Vining, A. R., and Weimer, D. L. Cost
Benefit Analysis: Concepts and Practice. (3rd ed.) Upper Saddle River, N.J.:
Prentice Hall, 2006.
2) Levin, H. M., and McEwan, P. J. Cost Effectiveness Analysis. (2nd ed.)
Thousand Oaks, Calif.: Sage, 2001

4. Cara Menghitung CEA dan CBA

Langkah - langkah pengukuran Cost Effectiveness Analysis (CEA) yaitu sebagai berikut:
1) Menentukan kondisi untuk penggunaannya (mengidentifikasi unsur biaya dari
alternatif program yang ada)
2) Evaluasi total biaya program, menghitung total cost atau present value cost dengan
rumus:
𝐶𝑡
𝑃𝑟𝑒𝑠𝑒𝑛𝑡 𝑣𝑎𝑙𝑢𝑒 𝑐𝑜𝑠𝑡 = (1+𝑛)𝑡
atau
1
𝑃𝑟𝑒𝑠𝑒𝑛𝑡 𝑣𝑎𝑙𝑢𝑒 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝐶𝑡 𝑥 (1+𝑛)𝑡
1
Dimana (1+𝑛)𝑡 merupakan nilai discount factor
3) Menghiitung objective atau output yang berhasil.
4) Menghitung cost effectiveness ratio (CER):
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐶𝑜𝑠𝑡 (𝑃𝑟𝑒𝑠𝑒𝑛𝑡 𝑣𝑎𝑙𝑢𝑒 𝑐𝑜𝑠𝑡)
𝐶𝐸𝑅 = ∑𝑂𝑏𝑗𝑒𝑐𝑡𝑖𝑣𝑒
5) Menetapkan biaya untuk rasio paling efektif (membandingkan CER dari masing-
masing alternatif program dan memilih yang terkecil dari program)

Hasil dari CEA merupakan rasio, baik menggunakan Average cost-Effectiveness


Ratio (ACER) atau sebagai Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER). ACER
dapat menggambarkan total biaya dari suatu program atau alternatif program dibagi
dengan outcome dari suatu klinik. Average cost-effectiveness ratio atau ACER
didefiniskan sebagai rata-rata (tunggal) rasio C/E = biaya/efek.

Langkah-langkah pengukuran CBA


Menurut Emira, Wuri et al (2012), dalam penghitungan Cost Benefit Analysis
terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan, sebagai berikut:
a. Identifikasi Alternatif dan Intervensi yang Akan Dianalisis
b. Melakukan Identifikasi Biaya dari Masing-Masing Alternatif atau Intervensi
c. Menghitung Total Biaya dari Masing-Masing Alternatif atau Intervensi
AIC = IIC (1+n)k
l
Dimana
AIC : Annual Investment Cost
IIC : Initial Investment Cost
n : inflasi
k : masa pakai
l: masa hidup
Perhitungan biaya non investasi hanya dengan menjumlahkan seluruh biaya
pertahun. Hasil akhir penjumlahan seluruh biaya adalah Present Value Cost
(PV cost) atau total biaya.

d. Mentransformasi Manfaat dalam Bentuk Uang


e. Menghitung Total Benefit
f. Menghitung Rasio Benefit (Discounting)
Menghitung Discount factor =
1
(1+i)

Keterangan : i = Annual Interest Ratio

g. Dilakukan Analisis Untuk Menentukan Pilihan terhadap Alternatif yang ada


Langkah selanjutnya setelajh data tentang total biaya dan manfaat sudah
tersedia maka dilakukan perhitungan
NPV (Nett Present Value) = PV Benefit - PV Cost
Kemudian dihitung Rasio Biaya Manfaat (Cost Benefit Ratio) untuk setiap
intervensi.
Bila intervensi yang dianalisa lebih dari 2 maka dapat dibuat tabel untuk
memudahkan dilakukannya analisis setiap intervensi.

Ratio B/C= PV Benefit


PV Cost

Sumber:
1) Cellini SR, Kee JW. Cost-effectiveness and cost benefit analysis.
Handbook of practical program evaluation; p.493-5
2) Anggarbito B, Analisis Pengembangan Klinik Gigi Dengan
Menggunakan Cost Benefit Analysis (CBA) Sederhana. Dinas Kes Jatim.

5. Pertimbangan Kebijakan Kesehatan

Konteks mengacu ke faktor sistematis – politk, ekonomi dan social, national dan
internasional yang memiliki pengaruh pada kebijakan kesehatan. Banyak cara untuk
mengelompokkan fakto-faktor tersebut,tetapi Leichter (1979) memaparkan cara yang
cukup bermanfaat:
1) Faktor situasional
merupakan kondisi yang tidak permanen atau khusus yang dapat berdampak
pada kebijakan (contoh: perang, kekeringan). Hal-hal tersebut sering dikenal
sebagai ‘focusing event’. Event ini bersifat satu kejadian saja, seperti:
terjadinya gempa yang menyebabkan perubahan dalam aturan bangunan
rumah sakit, atau terlalu lama perhatian publik akan suatu masalah baru.
Contoh: terjadinya wabah HIV/AIDS (yang menyita waktu lama untuk diakui
sebagai wabahinternasional) memicu ditemukannya pengobatan baru dan
kebijakan pengawasan pada TBC karena adanya kaitan diantara kedua
penyakit tersebut – orang-orang pengidap HIV positif lebih rentan terhadap
berbagai penyakit, dan TBC dapat dipicu oleh HIV.

2) Faktor struktural
merupakan bagian dari masyarakat yang relatif tidak berubah. Faktor ini
meliputi sistem politik, mencakup pula keterbukaan sistem tersebut dan
kesempatan bagi warga masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembahasan
dan keputusan kebijakan; faktor struktural meliputi pula jenis ekonomi dan
dasar untuk tenaga kerja. Contoh, pada saat gaji perawat rendah, atau terlalu
sedikit pekerjaan yang tersedia untuk tenaga yang sudah terlatih, negara
tersebut dapat mengalami perpindahan tenaga professional ini ke sektor di
masyarakat yang masih kekurangan. Faktor struktural lain yang akan
mempengaruhi kebijakan kesehatan suatu masyarakat adalah kondisi
demografi atau kemajuan teknologi. Contoh, negara dengan populasi lansia
yang tinggi memiliki lebih banyak rumah sakit dan obat-obatan bagi para
lansianya, karena kebutuhan mereka akan meningkat seiring bertambahnya
usia. Perubahan teknologi menambah jumlah wanita melahirkan dengan sesar
dibanyak negara. Diantara alasan-alasan tersebut terdapat peningkatan
ketergantungan profesi kepada teknologi maju yang menyebabkan keengganan
para dokter dan bidan untuk mengambil resiko dan ketakutan akan adanya
tuntutan. Dan tentu saja, kekayaan nasional suatu negara akan berpengaruh
kuat tehadap jenis layanan kesehatan yang dapat diupayakan karena kebutuhan
mereka akan meningkat seiring bertambahnya usia. Perubahan teknologi
menambah jumlah wanita melahirkan dengan cesar dibanyak negara. Diantara
alasan-alasan tersebut terdapat peningkatan ketergantungan profesi kepada
teknologi maju yang menyebabkan keengganan para dokter dan bidan untuk
mengambil resiko dan ketakutan akan adanya tuntutan. Dan tentu saja,
kekayaan nasional suatu negara akan berpengaruh kuat tehadap jenis layanan
kesehatan yang dapat diupayakan.

3) Faktor budaya
dapat mempengaruhi kebijakan kesehatan. Dalam masyarakat dimana hirarki
menduduki tempat penting, akan sangat sulit untuk bertanya atau menantang
pejabat tinggi atau pejabat senior. Kedudukan sebagai minoritas atau
perbedaan bahasa dapat menyebabkan kelompok tertentu memiliki informasi
yang tidak memadai tentang hak-hak mereka, atau menerima layanan yang
tidak sesuai dengan kebutuhan khusus mereka. Di beberapa negara dimana
para wanita tidak dapat dengan mudah mengunjungi fasilitas kesehatan
(karena harus ditemani oleh suami) atau dimana terdapat stigma tentang suatu
penyakit (misal: TBC atau HIV), pihak yang berwenang harus
mengembangkan sistem kunjungan rumah atau kunjungan pintu ke pintu.
Faktor agama dapat pula sangat mempengaruhi kebijakan, seperti yang
ditunjukkan oleh ketidak konsistennya.

4) Faktor internasional atau exogenous


yang menyebabkan meningkatnya ketergantungan antar negara dan
mempengaruhi kemandirian dan kerjasama internasional dalam kesehatan.
Meskipun banyak masalah kesehatan berhubungan dengan pemerintahan
nasional, sebagian dari masalah itu memerlukan kerjasama organisasi tingkat
nasional, regional atau multilateral. Contoh, pemberantasan polio telah
dilaksanakan hampir di seluruh dunia melalui gerakan nasional atau regional,
kadang dengan bantuan badan internasional seperti WHO. Namun, meskipun
satu daerah telah berhasil mengimunisasi polio seluruh balitanya dan tetap
mempertahankan cakupannya, virus polio tetap bisa masuk ke daerah tersebut
dibawa oleh orang-orang yang tidak diimunisasi yang masuk lewat perbatasan.

Sumber:

Buse K, Mays N, Gill. Making health policy, understanding health policy.


Two pen plaza. New York:2005. p. 11-2