Anda di halaman 1dari 5

FILSAFAT PANCASILA DRIYARKARA

(PANCASILA DAN RELIGI)

NAMA: FADHYLA WIDYA PUSPITASARI

NIM : 155070507111020

PRODI: FARMASI-B
PANCASILA DAN RELIGI

Karangan Pancasila dan Religi semula merupakan prasaran yang


disampaikan almarhum Prof. Dr. N. Driyarkara pada seminar lima hari tentang
Pancasila di Yogyakarta pada tanggal 17 Februari 1959. Dari hasil seminar
bersama pembicara lain yang juga diminta untuk mengemukakan gagasan tentang
Pancasila, pemerintah berharap dapat menarik kesimpulan penting untuk
kehidupan bernegara. Menurut penjelasan pemerintah sebagai penyelenggara
seminar, kesimpulan tersebut memandang perlunya Demokrasi Terpimpin dan
Undang-Undang Dasar Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai sarana untuk
mengimplementasikan hasil-hasil seminar tentang Pancasila ini bagi kehidupan
bernegara. Pada akhir seminar, Presiden Soekarno memberitahukan akan
merekomendasi Dewan Konstitusi (Konstituante) untuk menetapkan Undang-
Undang Dasar 1945 agar Demokrasi Terpimpin dapat segera dijalankan dalam
kerangka undang-undang dasar ini. Pemerintah rupanya tertarik dengan prasaran
Driyarkara yang mengemukakan Pancasila dari sudut filsafat, yang bisa
menyatukan semua pandangan sehingga menganggap perlunya menerjemahkan
prasaran tersebut dalam Bahasa Inggris untuk bisa disebarkan juga ke khalayak
internasional. Maka, prasaran ini pun kemudian diterjemahkan dalam Bahasa
Inggris oleh Ministry of Information, Republic of Indonesia dan diberi pengantar
oleh R.M Harjoto, Sekretaris Jendral Menteri Penerangan pada waktu itu.

Pada waktu itu, Driyarkara merefleksikan hakikat Pancasila adalah


rumusan realitas dasar manusia yang ada bersama cinta kasih. Titik tolaknya
adalah filsafat manusia yang memandang keberadaan manusia di dunia sebagai
pribadi (persona). Karena manusia berada di dunia, maka dunia diartikan sebagai
kondisi eksistensial. Dalam dunia, manusia terhubung dengan alam jasmani dan
manusia lain, serta hal itu dipahami dalam hubungannya dengan yang mutlak.

Driyarkara menjabarkan Pancasila dengan sila kemanusiaan sebagai akar


dialektis dari seluruh Pancasila. Kemanusiaan ditafsirkan sebagai
perikemanusiaan, menyusullah sebagai biji bagi sila-sila yang lain yang diberi
nama cinta kasih (keadilan sosial), demokrasi (kerakyatan), tanah air (persatuan)
sehubungan dengan nasionalisme dan internasionalisme, lalu akhirnya ialah
“mencari Tuhan” (ketuhanan) sebagai puncak kehidupan manusia yang menganut
religi sebagai “tuntutan total”.

Lebih jelasnya, dengan bertitik tolak dari sila kedua yakni sila
perikemanusiaan yang menunjukkan realitas yang dialami manusia sebagai ada
bersama dengan cinta kasih, yaitu menghormati, menjunjung tinggi sesama
manusia, setiap manusia, segala manusia. Sila keadilan sosial sebagai isi dari
perikemanusiaan itu sendiri, yaitu membuat, memiliki, dan menggunakan barang-
barang dunia yang berguna sebagai syarat, alat, perlengkapan hidup secara
bersama-sama. Sementara, sila demokrasi sebagai bentuk kerakyatan, yaitu
mengadakan kesatuan-karya dengan saling menghormati dan menerima sesama
sebagai pribadi dengan segala hak dan kewajibannya. Sila persatuan sebagai
spesifikasi perikemanusiaan, yaitu kesatuan dalam hidup menegara yang saling
membantu memperkembangkan unsur-unsur yang beragam. Dan sila ketuhanan
merupakan dasar dari semua sila, yaitu menyadari keterbatasan diri,
ketidaksempurnaan diri dalam hidup sehari-hari.

Implikasi dari kelima sila ini cukup besar, karena ide-ide asasi yang
terkandung dalam tiap sila bersifat universal. Lima menjadi satu, empat yang
terlihat dahulu merupakan satu yakni cinta kasih, yang pada akhirnya nampak
pada dasarnya sebagai cinta kasih kepada Tuhan. Dalam hal ini jelaslah bahwa
manusia adalah cinta kasih dalam suatu dinamika atau dorongan ke arah sesama
manusia, yang pada dasarnya ke arah Tuhan. Dorongan itu hanya dapat
dilaksanakan dengan memperkembangkan hidup di dunia, yakni dengan
memasyarakat, membangsa dan menegara. Perikemanusiaan, kebangsaan,
keadilan sosial dan kerakyatan (demokrasi) adalah pelaksanaan cinta kasih
manusia kepada Tuhan di dunia lain. Dalam hal ini, negara yang merupakan
konkretisasi dari religi dan negara yang bertujuan menciptakan kesejahteraan
umum merupakan sarana untuk mewujudkan kodrat manusia.

Maka, Pancasila yang merupakan dalil-dalil filosofis bersifat universal,


yang juga dapat diterima semua orang. Rumusan filsafat manusia berdasarkan
Pancasila ini akan menjadi pendirian hidup (Weltanschauung) apabila dilakukan
dengan kesungguhan hati.
Lantas bagaimanakah hubungan antara Pancasila sebagai dasar negara dan
Religi? Menurut Driyarkara, tujuan negara ialah kemakmuran umum. Ketuhanan
tidak bisa menjadi tujuan langsung sebab semakin tinggi nilai suatu tujuan
semakin rohani sifatnya. Jadi, sebagai prinsip Ketuhanan bukanlah prinsip
langsung. Negara tidak langsung melaksanakan Ketuhanan, negara adalah dengan
langsung melaksanakan kesejahteraan umum, jadi dapat menjadi alat untuk
pelaksanaan sila Ketuhanan. Ketuhanan juga menjadi prinsip dan tujuan, tetapi
secara tidak langsung, yaitu sebagai prinsip dan tujuan terdasar. Karena
pelaksanaan sila Ketuhanan itu ada di atas aturan negara, maka pelaksanaan harus
diserahkan kepada Religi, yang merupakan pelaksanaan itu.

Bagi Driyarkara, religi tidak bisa dipaksakan oleh negara, sebab religi
berdasarkan keyakinan, dan keyakinan tidak bisa dipaksakan. Kehidupan religi
tidak masuk dalam tujuan negara secara langsung. Semua itu bukan berarti
mengurangi hak-hak negara, melainkan menegaskan bahwa hak-hak itu memang
tidak ada. Dengan sila Ketuhanan, diakui bahwa Ketuhanan merupakan prinsip
yang menjadi tujuan lebih lanjut atau akhir. Tujuan akhir atau pokok bukan hanya
kemakmuran, melainkan Tuhan sendiri. Dengan itu juga berarti menciptakan
kondisi yang baik bagi religi, tapi bukan berarti negara tunduk di bawah religi.

Driyarkara dengan begitu menegaskan bahwa negara yang berdasarkan


Pancasila bukanlah negara agama. Hubungan yang sebaik-baiknya hanya terdapat
dalam negara Pancasila. Negara yang tanpa sila Ketuhanan, pada dasar dan
prakteknya bertentangan dengan Religi, dan akan selalu melanggar Demokrasi
dan Perikemanusiaan. Berdasarkan Pancasila, negara berhasrat menentukan
hubungan yang sebaik-baiknya dengan Religi. Negara Pancasila bukanlah negara-
agama, tetapi sebaliknya juga bukan negara bersifat acuh tak acuh atau tidak
mengakui kedudukan religi, dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, negara
Pancasila memberi tempat yang sewajarnya kepada Religi.

Negara yang berdasakan Pancasila, menurut Driyarkara, bukanlah negara


profan yang berarti negara yang tidak bersangkutan dengan agama. Negara
Pancasila itu negara profan sebatas profan berarti bukan penjelmaan religi. Akan
tetapi jika profan diartikan sebagai sikap tidak peduli terhadap religi, bahkan
permusuhan, maka Pancasila bukanlah sama sekali negara profan. Negara
Pancasila mengakui bahwa seluruh hidup manusia itu merupakan gerak kepada
Tuhan, bahwa apa yang diselenggarakan dengan menegara itu pada akhirnya
untuk melaksanakan ada kita sebagai cinta kasih kepada Tuhan. Jadi, negara
Pancasila mengakui ketinggian dan kesucian hidup.