Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

SAP 3
“ANGKA-ANGKA DALAM LAPORAN KEUANGAN : BEBERAPA ISU
DAN BUKTI EMPIRIS”

KELOMPOK IV
Ida Ayu Nirma Prameswari (1881611026 / 01)
Ni Made Mei Anggreni (1881611037 / 12)
Putu Nirmala Chandra Devi (1881611043 / 18)
I Dewa Ayu Nyoman Stari Dewi (1881611044 / 19)

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2019
SAP 3
ANGKA-ANGKA DALAM LAPORAN KEUANGAN: BEBERAPA ISU DAN BUKTI
EMPIRIS

1. ASUMSI-ASUMSI ANALISIS RASIO


Model yang umum digunakan dalam data laporan keuangan adalah ringkasan dalam
bentuk rasio, dengan tujuan sebagai berikut:
a. Untuk mengendalikan dampak dari perbedaan ukuran antara perusahaan dan karena
perbedaan waktu.
b. Untuk membuat data lebih memuaskan untuk memenuhi asumsi yang mendasari
peralatan statistik seperti analisa regresi.
c. Untuk menyelidiki teori dimana rasio merupakan variabel kepentingan.
d. Untuk mengeksploitasi penelitian empiris yang teramati antara rasio keuangan dan
estimasi atau prediksi variabel yang diminati (contohnya, risiko keamanan atau
kemungkinan suatu perusahaan menyatakan kebangkrutan).
Asumsi-asumsi yang terpenting dalam penggunaan rasio sebagai alat kontrol terhadap
perbedaan yakni karena proporsi di dalamnya tetap.

1.1 Alasan untuk Penggunaan Analisis Non-Rasio


Pada pembahasan terdahulu fokus terhadap asumsi relasional dalam pendekatan rasio
untuk mengendalikan efek terhadap perbedaan ukuran perusahaan yang memiliki risiko
hilangnya informasi penting. Asumsi proporsionalitas tidak deskriptif, seperti dalam
penerapan alat statistik analisis regresi linier atau nonlinier dapat menjadi acuan dalam
menganalisis data.

2. MASALAH PERHITUNGAN DALAM MENGHITUNG RASIO


Masalah interpretasi sering muncul berkaitan dengan penggunaan rasio dalam berbagai
konteks sebagai berikut.

2.1 Penyebut Negatif


Diasumsikan bahwa analisis dalam menilai profitabilitas dari suatu perusahaan
menunjukkan bahwa perusahaan memiliki ekuitas pemegang saham negatif. Hal ini
menyebabkan rasio earning to shareholder’s equity akan menghasilkan rasio yang tidak
dapat diinterpretasikan, namun ada beberapa cara untuk mengatasi hal ini, yaitu:
a. Menghapus pengamatan dari sampel.
b. Memeriksa alasan penyebab adanya penyebut negatif.
c. Menggunakan alternatif rasio yang memakai beberapa aspek profitabilitas,
misalnya: return on total asset atau earnings to sales.

2.2 Pengamatan Outlier


Outlier merupakan sebuah pengamatan yang terlihat tidak konsisten dengan data
lainnya. Ada beberapa langkah untuk menentukan apakah pengamatan merupakan outlier
atau tidak, yaitu dengan cara memastikan nilai ekstrim pada kesalahan pencatatan dan apakah
nilai ekstrim tersebut menyebabkan denominator dari rasio pada tahun tertentu,
mengklasifikasikan kebijakan akuntansi, metode akuntansi, kondisi ekonomis, dan perubahan
struktural. Ada beberapa pilihan alternatif yang tersedia untuk analis ketika menghadapi
observasi yang ekstrim, meliputi:
a. Menghapus pengamatan ekstrim.
b. Mempertahankan pengamatan ekstrim sebagai kondisi ekstrim dari karakteristik yang
mendasari.
c. Menyesuaikan kebijakan akuntansi atau kondisi ekonomis yang dianggap
menyebabkan pengamatan ekstrim.
d. Winsorizing sampel.
e. Trimming sampel.
Alternatif-alternatif ini mengakui bahwa penyebab nilai-nilai ekstrim bervariasi dan
pertimbangan sistematis mengenai faktor penghitungan, akuntansi, ekonomi, dan perubahan
struktural yang memfasilitasi penilaian yang lebih beralasan mengenai penanganannya dalam
aplikasi laporan keuangan.

3. DISTRIBUSI ANGKA DALAM LAPORAN KEUANGAN


Area keputusan terkait bukti mengenai distribusi angka-angka laporan keuangan ini
penting, karena:
a. Sebuah keputusan pinjaman bank di mana keinginan seorang analis untuk
menentukan di mana pada distribusi industri, rasio keuangan dari pemohon pinjaman
yang sebenarnya.
b. Sebuah keputusan strategi perusahaan di mana fokusnya adalah pada potensi dari
penghasilan untuk menggerakkan rasio penjualan unit bisnis dari dasar
10% bawah industri ke 10% teratas.
c. Keputusan dalam keterlibatan audit tentang desain sebuah pendekatan pengambilan
sampel untuk memperkirakan karakteristik keuangan suatu populasi.
d. Keputusan tentang alat statistik apa yang digunakan ketika menganalisis data laporan
keuangan. Statistik dan ekonometrik memberikan variasi yang luas dengan asumsi
yang berbeda untuk pendistribusian data yang dianalisis.
Kebanyakan analisa dari distribusi angka-angka dalam laporan keuangan mencoba
menentukan apakah distribusi normal dapat digunakan untuk menjelaskan angka-angka
tersebut. Alasan pertama mengapa memfokuskan pada normalitas data adalah karena
distribusi normal memiliki properti menarik dimana hanya dua statistik (rata-rata dan standar
deviasi yang memenuhi karakteristik untuk seluruh distribusi normal. Alasan kedua adalah
banyak alat statistik yang tersedia untuk menganalisa data laporan keuangan menggunakan
asumsi bahwa data tersebut berdistribusi normal.

3.1 Aspek Distribusi


a. Central tendency dapat dihitung dengan statistik yaitu median
b. Dispersion. Standar deviasi merupakan alat ukur yang umum untuk mengukur
dispersion
c. Skewnees Distribusi skewnees berbeda dengan distribusi berbentuk bel dari distribusi
normal. Alat ukur yang biasanya digunakan untuk mengukur skewnees adalah
keofisieanskewnees.
d. Kurtosis merupakan test yang umum digunakan untuk mengukur normalitas adalah
membandingkan distribusi sampel dengan distribusi normal menurut teori
e. Studentized Range merupakan pengukur lain dari dispersision
f. Fractiles of the distribution. Kegunaan dari distribusi suatu variabel terkadang
diperoleh dari fractiles of the distribution

3.2 Bukti Pendistribusian yang Dipublikasikan


Beberapa studi melaporkan bukti-bukti distribusi dalam rasio keuangan, yaitu :
a. Deakin (1976), yang menguji distribusi 11 rasio keuangan pada perusahaan
manufaktur di Amerika Serikat pada periode 1953-1973 menyimpulkan bahwa
normalitas pada rasio laporan keuangan tidak dapat dipertahankan kecuali jika rasio
total hutang dengan total aset. Normalitas dapat dicapai dengan mentransform data.
b. Ricketts dan Stover (1978) yang menguji distribusi 11 rasio keuangan pada bank di
Amerika Serikat pada periode 1965-1974, menyimpulkan bahwa asumsi normalitas
tidak dapat ditolak pada rasio bank yang diuji.
c. Frecka dan Hopwood (1983) yang melakukan pengujian serupa dengan Deakin (1976)
dengan periode 1950-1979, menyimpulkan bahwa dengan menghapus outlier,
normalitas atau setidaknya mendekati normalitas, dapat tercapai untuk populasi
perusahaan manufaktur dan untuk industri spesifik lainnya.
d. Bougen dan Drudy (1980) yang menguji distribusi dari 7 rasio keuangan pada lebih
dari 700 perusahaan di Inggris pada tahun 1975, menyimpulkan bahwa bukti-bukti di
Inggris mengindikasikan non-normalitas yang disebabkan oleh beragamnya
tingkat skewness dan adanya outlier yang ekstrim.
e. Buijink dan Jegers (1984) yang menguji distribusi 11 rasio keuangan pada perusahaan
Belgia pada periode 1977-1981 menyimpulkan bahwa rasio-rasio yang diuji
menyajikan kekonsistenan dalam aspek distribusi tersebut.
f. Bukti tentang dispersi dan simetri distribusi rasio keuangan disajikan dalam banyak
publikasi perdagangan dan pemerintahan.

3.3 Beberapa Bukti Tambahan


Dalam mendapatkan sebuah tambahan wawasan tentang distribusi variabel keuangan,
yang benar dari distribusi basis data, diperoleh data pada 1983 industri tahunan tape
Compustat sebagai berikut.
3.3.1 Posisi Kas
1) (Kas + surat berharga) / kewajiban lancar, (C + MS) / CL
2) (Kas + surat berharga) / Penjualan, (C + MS) / S
3) (Kas + surat berharga) / total aset, (C + MS) / TA
3.3.2 Likuiditas
4) Quick aset / kewajiban lancar, QA / CL
5) Aktiva lancar / kewajiban lancar, CA / CL
3.3.3 Modal kerja / Arus Kas
6) Modal kerja dari operasi / Penjualan, WCO / S
7) Modal kerja dari operasi / Total aset, WCO / TA
8) Arus kas dari operasi / Penjualan, CFO / S
9) Arus kas dari operasi / Jumlah aktiva (rata-rata), CFO / TA
3.3.4 Struktur Modal
10) Kewajiban jangka panjang / Pemegang Saham ekuitas, LTL / SE
11) (Kewajiban lancar dan jangka panjang) / Pemegang Saham ekuitas, (CL + LTL) /
SE
3.3.5 Debt Service Coverage
12) Pendapatan operasional / bunga pembayaran, IO / INA
13) Arus kas dari operasi / bunga pembayaran, CFO / INA
3.3.6 Profitabilitas
14) Pendapatan bersih, NI
15) Laba bersih per saham, E. P. S.
16) Pendapatan bersih / Penjualan, NI / S
17) Laba bersih / Pemegang Saham ekuitas (rata-rata), NI / SE
18) Laba bersih / Jumlah aktiva (rata-rata), NI / TA
3.3.7 Perputaran
19) Penjualan / Total aktiva (rata-rata), S / TA
20) Penjualan / Pendapatan piutang (rata-rata), S / AR
21) COGS / Persediaan(rata-rata), COGS / INV
3.3.8 Pasar Modal
22) Harga per saham / EPS, PE
23) Dividen per saham / EPS, DIV. Payout
3.3.9 Ukuran Perusahaan
24) Total aset, TA
25) Penjualan, S
26) Kapitalisasi pasar, MKT. CAP.

4. KORELASI DAN PERGERAKAN DIANTARA ANGKA-ANGKA LAPORAN


KEUANGAN
4.1 Korelasi Cross-Section
Hubungan Cross-section antara rasio keuangan menjadi penting ketika menggunakan
rasio dalam model statistik. Bukti menunjukkan distribusi dari banyak rasio finansial tidak
normal. Bukti ini memiliki implikasi ketika memeriksa hubungan antara rasio keuangan pada
suatu titik. Dua alat statistik utama yang digunakan untuk menganalisa hubungan antaradua
variabel adalah Pearson moment correlation statistic yang digunakan pada saat distribusi
diperkirakan normal dan spearman rank correlation statistic apabila tidak dipertimbangkan
distribusi dari variabel.
4.2 Pergerakan Time Series
Rasio keuangan juga digunakan untuk menilai perubahan likuiditas, profitabilitas, dan
sebagainya dari waktu ke waktu. Permasalahan muncul ketika ada pertanyaan berapa banyak
rasio harus diperiksa dalam penilaian time-series. Satu pendakatan adalah dengan memeriksa
sejauh mana rasio keuangan bergerak bersama-sama dalam periode waktu.

4.3 Beberapa Bukti Tambahan


Secara umum, korelasi dan pergerakan rasio pada setiap kategori lebih tinggi
dibandingkan korelasi dan pergerakan dari rasio yang direpesentasikan antar kategori
berbeda. Kategori perputaran dan pasar modal merupakan yang terendah diantara kategori
korelasi antara rasio individual. Dua kategori ini juga telah dilaporkan relatif heterogen pada
studi sebelumnya.
REFERENSI

Foster, George. 1986. Financial Statement Analysis. New Jersey: Prentice Hall Inc.

Anda mungkin juga menyukai