Anda di halaman 1dari 36

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS MASALAH KESEHATAN

POPULASI : PENYAKIT KRONIK

Disusun
Oleh :

KELOMPOK 7

Andi Nurul Atika (C121 16 511)


Anissa Kartika Dewi Paat (C121 16
Asma Danisa Hasmuddin (C121 16 325)

Rifca Ayunila NR (C121 16 502)


Sarina (C121 16 009)
Ani Winarsi (C12116 001)
Suriyanti (C121 16 317)
Jetliani Nicepa Doran (C121 16 017)
Ayu Hastuti (C121 16 520)
Saznita Tadjuddin (C121 16 026)
Ruslia Mayau (C121 16 309)

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2019

1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
memberikan anugrah sehingga kami dapat menyusun makalah ini. Shalawat serta salam
tak lupa kita curahkan kepada junjungan kami Rasulullah SAW.

Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai “Asuhan Keperawatan Komunitas


Masalah Kesehatan Populasi : Penyakit Kronik” dalam mata kuliah Keperawatan
Komunitas II. Dalam proses pengerjaannya, kami sadar masih banyak kekurangan baik
pada teknis penulisan maupun materi, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak
yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga materi di makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi
pihak yang membutuhkan, sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Akhir kata, terima kasih kepada semua pihak yang membantu, hingga selesainya
makalah ini dapat tercapai.

Makassar, 10 April 2019

Kelompok 7

2
DAFTAR ISI

Halaman Sampul i

Kata Pengantar ii

Daftar Isi iii

BAB I Pendahuluan 1

A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Penulisan 2

BAB II Pembahasan 3

A. Konsep Keperawatan Komunitas 3


B. Konsep Penyakit Kronik 8
C. Asuhan Keperawatan 10

BAB III Penutup 31

A. Kesimpulan 31
B. Saran 31

Daftar Pustaka 32

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lingkup praktik keperawatan komunitas berupa asuhan keperawatan langsung


dengan fokus pemenuhan dasar kebutuhan dasar komunitas yang terkait
kebiasaan/prilaku dan pola hidup tidak sehat sebagai akibat ketidakmampuan masyarakat
beradaptasi dengan lingkungan internal dan exsternal. Asuhan keperawatan komunitas
menggunanakan pendekatan proses keperawatan komunitas, yang terdiri atas
pengkajiaan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan entry point pada individu,
keluarga, kelompok, atau komunitas.

Pengkajian asuhan keperawatan komunitas terdiri atas dua bagian utama, yaitu
inti komunitas (core) dan delapan subsistem yang melengkapinya. Inti komunitas
menjelaskan kondisi penduduk yang dijabarkan dalam demografi, vital statistic, sejarah
komunitas, nilai dan keyakinan, serta riwayat komunitas, sedangkan delapan subsistem
lainnya meliputi lingkinganfisik, pendidikan, keamanan, dan transportasi, politik dan
pemerintah, layanan kesehatan dansocial, komunitas, ekonomi, dan rekreasi.Komponen
lingkungan fisik yang dikaji meliputi lingkungan sekolah dan tempat tinggal yang
mampu mepengaruhi kesehatan, batasan wilayah, luas daerah, denah atau peta
wilayah,iklim, jumlah dan kepadatan penduduk, kesehatan lingkungan, dan kegiatan
penduduk sehari-hari. Data yang dikaji dari subsistem layanan kesehatan dan sosial
meliputi fasilitas di dalam komunitas dan di luar komunitas.

Penyakit kronis didefinisikan World Health Organization (WHO) sebagai


penyakit dengan durasi yang lama dan biasanya menunjukkan progesifitas yang lambat
(Singh, 2008). Penyakit kronis berupa penyakit jantung, stroke, kanker, PPOK (Penyakit
Paru Obstruksi Kronis), dan diabetes menempati urutan tertinggi sebesar 61% di
Indonesia sebagai penyebab kematian pada tahun 2002 (WHO, 2002). Prevalensi ini terus
meningkat jika tidak diberikan tindakan nyata berupa pencegahan.

4
Penyakit kronis memerlukan terapi obat seumur hidup termasuk perubahan gaya
hidup. Obat-obat yang digunakan berfungsi tidak untuk menyembuhkan namun untuk
meningkatkan kualitas hidup dan mencegah terjadinya komplikasi. Terapi seumur hidup
dengan menggunakan obat tentu akan meningkatkan risiko terjadinya efek samping obat
dan interaksi dengan obat penyakit lain atau obat bebas yang mungkin digunakan oleh
pasien (Smeltzer,2014).

Dari uraian diatas , maka perlu disusun makalah ini guna memahami asuhan
keperawatan komunita masalah kesehatan populasi : penyakit kronik. Sehingga dapat
menambah wawasan dan membantu mahasiswa dalam membuat perencanaan asuhan
keperawatan komunitas khususnya populasi penyakit kronik.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep keperawatan komunitas?
2. Bagaimana konsep penyakit kronik?
3. Bagaimana contoh kasus masalah kesehatan populasi penyakit kronik?
4. Bagaimana pengkajian komunitas dari kasus?
5. Apa saja masalah-masalah dan diagnosa keperawatan komunitas dari kasus?
6. Bagaimana asuhan keperawatan komunitas sesuai kasus?

C. Tujuan Penulisan

Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami :

1. Konsep keperawatan komunitas dan penyakit kronik


2. Contoh kasus masalah kesehatan populasi : penyakit kronik
3. Pengkajian komunitas populasi : penyakit kronik
4. Masalah-masalah dan diagnose keperawatan komunitas populasi :
penyakit kronik
5. Asuhan keperawatan komunitas masalah kesehatan populasi : penyakit
kronik

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Keperawatan Komunitas


1. Definisi Keperawatan Komunitas
Keperawatan komunitas atau community health nursing merupakan
praktik untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat dengan
menggunakan pengetahuan dari ilmu keperawatan, ilmu sosial dan ilmu kesehatan
masyarakat. Pengertian lain dari keperawatan komunitas adalah suatu bentuk
pelayanan profesional berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan yang ditujukan
terutama pada kelompok risiko tinggi untuk meningkatkan status kesehatan
komunitas dengan menekankan upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit
serta tidak mengabaikan kuratif dan rehabilitative.

2. Tujuan Keperawatan Komunitas

Tujuan keperawatan komunitas adalah sebagai berikut.

a. Promosi kesehatan Promosi kesehatan pada tujuan keperawatan komunitas ini


berarti adalah suatu upaya untuk membantu masyarakat menjadikan gaya hidup
mereka sehat optimal. Kesehatan yang optimal didefinisikan sebagai
keseimbangan kesehatan fisik, emosi, sosial, spiritual, dan intelektual. Promosi
kesehatan tidak sekadar mengubah gaya hidup, tetapi mempertahankan dan
meningkatkan perilaku sehat adalah tujuan yang akan dicapai pula.
b. Proteksi kesehatan Proteksi kesehatan merupakan upaya perlindungan
kelompok masyarakat terhadap terpaparnya suatu penyakit.
c. Pencegahan penyakit dan penyembuhan Pencegahan penyakit merupakan
upaya dalam mencegah terjadinya penyakit pada kelompok yang berisiko,
sedangkan penyembuhan adalah upaya yang dilakukan pada kelompok
masyarakat yang telah terkena penyakit. Upaya penyembuhan bertujuan untuk

6
menyembuhkan kelompok masyarakat yang sakit dan mencegah terjadinya
komplikasi.

3. Sasaran Keperawatan Komunitas

Sasaran keperawatan komunitas adalah individu, keluarga dan kelompok


berisiko tinggi (keluarga atau penduduk di daerah kumuh, daerah terisolasi, daerah
yang tidak terjangkau termasuk kelompok bayi, balita dan ibu hamil).

4. Peran dan Fungsi Perawat Komunitas


Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan mempunyai peran dan fungsi
dalam meningkatkan kesehatan komunitas. Perawat dituntut mempunyai sekumpulan
kemampuan/kompetensi yang telah ditetapkan oleh kebijakan organisasi dengan
merujuk pada persepsi dan harapan komunitas terhadap pelayanan keperawatan
komunitas yang diberikan.
a. Manager kasus
Jika, berperan sebagai manager, perawat harus mampu mengelola
pelayanan yang berkoordinasi dengan komunitas atau keluarga, penyedia
pelayanan kesehatan atau pelayanan sosial yang ada. Hal ini bertujuan untuk
mempermudah pencapaian tujuan asuhan keperawatan komunitas.
Seyogyanya kualifikasi pendidikan seorang manager kasus minimal Sarjana
Keperawatan. Anda mungkin pernah mengetahui tentang peran di atas,
sebagai manager kasus perawat komunitas harus dapat berfungsi untuk
melakukan tindakan sebagai berikut. 1) Mengidentifikasi kebutuhan
komunitas terhadap pelayanan kesehatan. Hal ini penting dilakukan agar
pelayanan kesehatan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan komunitas. 2)
Menyusun rencana asuhan keperawatan komunitas. Rencana ini dibuat
berdasarkan hasil pengkajian kebutuhan komunitas terhadap pelayanan
kesehatan. 3) Mengoordinasikan aktivitas tim kesehatan multidisiplin
sehingga pelayanan yang diberikan dapat optimal dan tepat sasaran. 4)
Menilai kualitas pelayanan keperawatan dan pelayanan kesehatan yang telah

7
diberikan. Sebagai manager, hal ini penting untuk meningkatkan
pengelolaan berikutnya.

b. Pelaksana Asuhan keperawatan


Salah satu peran penting perawat adalah memberikan pelayanan
langsung kepada komunitas sesuai dengan kebutuhan komunitas atau
keluarga. Anda dapat mencoba peran ini sesuai dengan tahapan mulai dari
pengkajian sampai dengan evaluasi keperawatan. Sebagai pelaksana
asuhan keperawatan, perawat dapat berfungsi untuk: 1) melakukan
pengkajian secara komprehensif; 2) menetapkan masalah keperawatan
komunitas; 3) menyusun rencana keperawatan dengan
mempertimbangkan kebutuhan dan potensi komunitas; 4) melakukan
tindakan keperawatan langsung mencakup tindakan mandiri (seperti
melakukan perawatan luka, melatih napas dalam dan batuk efektif, melatih
latihan rentang gerak/rom, dan sebagainya), serta tindakan kolaboratif
(seperti pemberian obat TBC dan sebagainya); 5) mengevaluasi tindakan
keperawatan yang sudah diberikan; 6) mendokumentasikan semua
tindakan keperawatan.

c. Pendidik
Jika berperan sebagai pendidik, maka perawat harus mampu
menjadi penyedia informasi kesehatan dan mengajarkan komunitas atau
keluarga tentang upaya kesehatan yang dapat dilakukan komunitas. Peran
tersebut dapat Anda lihat saat perawat melakukan pendidikan kesehatan.
Berikut fungsi yang dapat dijalankan oleh perawat komunitas dalam
menjalankan perannya sebagai pendidik.
Mengidentifikasi kebutuhan belajar, yaitu apa yang ingin diketahui
oleh komunitas, ini bisa diketahui saat perawat melakukan pengkajian
komunitas. 2) Memilih metode pembelajaran (ceramah, diskusi, atau
demonstrasi), dan materi yang sesuai dengan kebutuhan. 3) Menyusun
rencana pendidikan kesehatan. 4) Melaksanakan pendidikan kesehatan.

8
5) Melatih komunitas/kelompok/keluarga tentang keterampilan yang harus
dimiliki sesuai kebutuhannya. 6) Mendorong keluarga untuk melatih
keterampilan yang sudah diajarkan perawat. 7) Mendokumentasikan
kegiatan pendidikan kesehatan.

d. Pembela (Advocate)
Peran sebagai pembela (advocate) dapat dilakukan perawat dengan
mendukung pelayanan keperawatan yang berkualitas dan kompeten. Sikap
perawat yang selalu berupaya meningkatkan kompetensinya agar asuhan
keperawatan komunitas yang diberikan terjaga kualitasnya, merupakan
contoh pelaksanaan peran sebagai pembela (advocate).
Selain sikap di atas, tindakan lain yang dapat dilakukan perawat
sebagai pembela (advocate) adalah: 1) menyediakan informasi yang
dibutuhkan komunitas atau keluarga untuk membuat keputusan; 2)
memfasilitasi komunitas atau keluarga dalam mengambil keputusan; 3)
membuka akses ke provider agar komunitas atau keluarga mendapatkan
pelayanan yang terbaik (membangun jejaring kerja); 4) menghormati hak
klien; 5) meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan; 6)
melaksanakan fungsi pendampingan komunitas atau keluarga; 7)
memberikan informasi terkait sumber-sumber pelayanan yang dapat
digunakan; 8) memfasilitasi masyarakat dalam memanfaatkan sumber-
sumber tersebut.

e. Konselor
Perawat konselor membutuhkan keterampilan khusus, yaitu
perawat tersebut adalah orang yang memahami (expert) di bidang
keahliannya, dapat dipercaya untuk membantu komunitas atau keluarga
dan mengembangkan koping yang konstruktif dalam penyelesaian
masalah. Perawat juga dapat memberikan berbagai solusi dalam rangka
menetapkan cara yang lebih baik untuk penyelesaian masalah. Memang
tidak semua perawat dapat berperan sebagai konselor, karena

9
membutuhkan keterampilan khusus, namun demikian yakinlah bila Anda
berusaha meningkatkan kompetensi, maka Anda akan mampu untuk
menjadi seorang konselor.

f. Role Model
Pelayanan keperawatan komunitas bersifat berkelanjutan dan
berkesinambungan, tentu saja ini menuntut perawat untuk mampu
berinteraksi baik dengan komunitas. Dalam interaksi, ada proses
transformasi perilaku perawat yang dapat dipelajari oleh komunitas atau
keluarga. Proses inilah yang sebenarnya, bahwa perawat sedang
menjalankan perannya sebagai role model (contoh).

g. Penemu Kasus
Peran selanjutnya yang dapat dilakukan oleh perawat komunitas
adalah melibatkan diri dalam penelusuran kasus di komunitas atau
keluarga, untuk selanjutnya dilakukan kajian apa saja yang dibutuhkan
komunitas. Tentu saja kasus tersebut mungkin membutuhkan intervensi
dari profesi lain atau pelayanan kesehatan yang lebih kompleks, maka
yang dilakukan perawat komunitas adalah segera merujuk klien.

h. Pembaharu
Peran ini membantu komunitas untuk melakukan perubahan ke
arah kehidupan yang lebih sehat. Hal yang dilakukan perawat sebagai
pembaharu adalah sebagai berikut. 1) Mengidentifikasi kekuatan dan
penghambat perubahan. Hal ini penting dilakukan karena suatu perubahan
merupakan suatu hal yang baru yang membutuhkan dukungan. 2)
Membantu pencairan dan memotivasi untuk berubah. 3) Membantu
komunitas menginternalisasi perubahan.

i. Peneliti

10
Berkembangnya ilmu keperawatan, salah satunya banyak
dipengaruhi oleh hasil-hasil penelitian. Melalui penelitian, perawat
komunitas dapat mengidentifikasi masalah praktik dan mencari jawaban
melalui pendekatan ilmiah.
B. Konsep Penyakit Kronik
1. Definisi Penyakit Kronis

Penyakit kronis merupakan jenis penyakit degeneratif yang berkembang atau


bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama, yakni lebih dari enam bulan. Orang
yang menderita penyakit kronis cenderung memiliki tingkat kecemasan yang tinggi
dan cenderung mengembangkan perasaan hopelessness dan helplessness karena
berbagai macam pengobatan tidak dapat membantunya sembuh dari penyakit kronis.
Rasa sakit yang diderita akan mengganggu aktivitasnya sehari-hari, tujuan dalam
hidup, dan kualitas tidurnya.
Penyakit kronis dapat bersifat menular dan tidak menular. Penyakit kronis yang tidak
menular atau PTM merupakan penyakit kronis yang tidak ditularkan dari orang ke
orang, penyakit tersebut juga berkembang lambat dan memiliki durasi yang lama
(Nies & McEwen, 2016).
2. Etiologi Penyakit Kronis
Penyakit kronis dapat diderita oleh semua kelompok usia, tingkat sosial
ekonomi, dan budaya. Penyakit kronis cenderung menyebabkan kerusakan yang
bersifat permanen yang memperlihatkan adanya penurunan atau menghilangnya suatu
kemampuan untuk menjalankan berbagai fungsi, terutama muskuloskletal dan organ-
organ pengindraan. Ada banyak faktor yang menyebabkan penyakit kronis dapat
menjadi masalah kesehatan yang banyak ditemukan hampir di seluruh negara, di
antaranya kemajuan dalam bidang kedokteran modern yang telah mengarah pada
menurunnya angka kematian dari penyakit infeksi dan kondisi serius lainnya, nutrisi
yang membaik dan peraturan yang mengatur keselamatan di tempat kerja yang telah
memungkinkan orang hidup lebih lama, dan gaya hidup yang berkaitan dengan
masyarakat modern yang telah meningkatkan insiden penyakit kronis (Smeltzer &
Bare, 2010).
3. Fase Penyakit Kronis
Menurut Smeltzer & Bare (2010), ada sembilan fase dalam penyakit kronis,
yaitu
sebagai berikut.
a. Fase pra-trajectory adalah risiko terhadap penyakit kronis karena faktor-
faktor genetik atau perilaku yang meningkatkan ketahanan seseorang terhadap
penyakit kronis.
b. Fase trajectory adalah adanya gejala yang berkaitan dengan penyakit

11
kronis. Fase ini sering tidak jelas karena sedang dievaluasi dan sering
dilakukanpemeriksaan diagnostik.
c. Fase stabil adalah tahap yang terjadi ketika gejala-gejala dan perjalanan
penyakit terkontrol. Aktivitas kehidupan sehari-hari tertangani dalam
keterbatasan penyakit.
d. Fase tidak stabil adalah periode ketidakmampuan untuk menjaga gejala
tetap terkontrol atau reaktivasi penyakit. Terdapat gangguan dalam
melakukan aktivitas sehari-hari.
e. Fase akut adalah fase yang ditandai dengan gejala-gejala yang berat dan
tidak dapat pulih atau komplikasi yang membutuhkan perawatan di rumah
sakit untuk penanganannya.
f. Fase krisis merupakan fase yang ditandai dengan situasi kritis atau
mengancam jiwa yang membutuhkan pengobatan atau perawatan kedaruratan.
g. Fase pulih adalah keadaan pulih kembali pada cara hidup yang diterima
dalam batasan yang dibebani oleh penyakit kronis.
h. Fase penurunan adalah kejadian yang terjadi ketika perjalanan penyakit
berkembang disertai dengan peningkatan ketidakmampuan dan kesulitan
dalam mengatasi gejala-gejala.
i. Fase kematian adalah tahap terakhir yang ditandai dengan penurunan
bertahap atau cepat fungsi tubuh dan penghentian hubungan individual.

4. Kategori Penyakit Kronis

Terdapat beberapa kategori penyakit kronis, yaitu seperti


di bawah ini.
a. Lived with illnesses. Pada kategori ini individu diharuskan beradaptasi dan
mempelajari kondisi penyakitnya selama hidup dan biasanya tidak mengalami
kehidupan yang mengancam. Penyakit yang termasuk dalam kategori ini adalah
diabetes, asma, arthritis, dan epilepsi.
b. Mortal illnesses. Pada kategori ini secara jelas kehidupan individu terancam dan
individu yang menderita penyakit ini hanya bisa merasakan gejala-gejalapenyakit
dan ancaman kematian. Penyakit dalam kategori ini adalah kanker dan penyakit
kardiovaskuler.
c. At risk illnesses. Kategori penyakit ini sangat berbeda dari dua kategori
sebelumnya. Pada kategori ini tidak ditekankan pada penyakitnya, tetapi pada risiko
penyakitnya. Penyakit yang termasuk dalam kategori ini adalah hipertensidan
penyakit yang berhubungan dengan hereditas.

5. Tanda dan Gejala

12
Karakteristik penyakit kronis adalah penyebabnya yang tidak pasti, memiliki
faktor risiko yang multiple, membutuhkan durasi yang lama, menyebabkan kerusakan
fungsi atau ketidakmampuan, dan tidak dapat disembuhkan secara sempurna
(Smeltzer & Bare, 2010).Tanda-tanda lain penyakit kronis adalah batuk dan demam
yang berlangsung lama, sakit pada bagian tubuh yang berbeda, diare berkepanjangan,
kesulitan dalam buang air kecil, dan warna kulit abnormal

6. Pencegahan

Sekarang ini pencegahan penyakit diartikan secara luas. Dalam pencegahan


penyakit dikenal pencegahan primer, sekunder, dan tersier . Pencegahan primer
merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang sehat agar tetap sehat atau
mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Secara garis besar, upaya pencegahan ini
dapat berupa pencegahan umum (melalui pendidikan kesehatan dan kebersihan
lingkungan) dan pencegahan khusus (ditujukan kepada orang-orang yang mempunyai
risiko dengan melakukan imunisasi). Pencegahan sekunder merupakan upaya untuk
menghambat progresivitas penyakit, menghindari komplikasi, dan mengurangi
ketidakmampuan yang dapat dilakukan melalui deteksi dini dan pengobatan secara
cepat dan tepat. Pencegahan tersier dimaksudkan untuk mengurangi ketidakmampuan
dan mengadakan rehabilitasi. Upaya pencegahan tingkat ketiga ini dapat dilakukan
dengan memaksimalkan fungsi organ yang mengalami kecacatan.

7. Penatalaksanaan

Kondisi kronis mempunyai ciri khas dan masalah penatalaksanaan yang


berbeda. Sebagai contoh, banyak penyakit kronis berhubungan dengan gejala seperti
nyeri dan keletihan. Penyakit kronis yang parah dan lanjut dapat menyebabkan
kecacatan sampai tingkat tertentu, yang selanjutnya membatasi partisipasi individu
dalam beraktivitas. Banyak penyakit kronis yang harus mendapatkan penatalaksanaan
teratur untuk menjaganya tetap terkontrol, seperti penyakit gagal ginjal kronis (Smeltzer
& Bare, 2010).
C. Askep Keperawatan Komunitas : Penyakit Kronik
1. Kasus

Di RT 3 RW 5 kelurahan Margo Rukun terdapat penduduk yang menderita


diabetes melitus berjumlah 300 orang, 55 % wanita yaitu sebanyak 180 orang dan 45 %
laki-laki sebanyak 120 orang. Dari jumlah penduduk yang menderita diabetes melitus
tersebut sebanyak 150 orang (50 %) usia dewasa dan 30% usia lansia sebanyak 90 orang,
serta 20% ibu hamil sebanyak 60 orang. Dari data tersebut diketahui Diabetes Melitus
dengan tipe IDDM 25% sebanyak 75 orang, NIDDM 35% sebanyak 105 orang, dan DM

13
dengan gangren 30% sebanyak 90 orang, serta DM gestasional sebanyak 30 orang (10
%). Dari penduduk yang menderita DM sangat sedikit sekali penderita DM yang rutin
memeriksakan kadar gula darahnya. Asuhan keperawatan ini menggunakan pendekatan
proses keperawatan yang meliputi : pengkajian status kesehatan masyarakat, perumusan
diagnosa keperawatan, dan perencanaan keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan
melibatkan kader kesehatan, tokoh masyarakat dan pimpinan wilayah tersebut.

2. Pengkajian

Pengkajian menggunakan pendekatan community as partner meliputi : data inti


dan data sub sistem.

1. Data Inti komunitas meliputi ;


a. Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas
1) Lokasi :
 Propinsi : Jawa Timur
 Kabupaten/ kotamadya : Pacitan
 Kecamatan : Sumber Asri
 Kelurahan : Margorukun
 Rw : 05
 Rt : 03
 Luas wilayah : 5.220 m2
b. Batas wilayah/wilayah
 Utara : Jalan raya melati
 Selatan : RT 06 /RW 04
 Barat : RT 07
 Timur : RT 18/ RW 03

c. Keadaan tanah menurut pemanfaatannya

Pemukiman : 4550 m2

14
Data demografi

1) Jumlah penderita hipertensi : 250 orang

2) Jumlah penderita TB Paru : 65 orang

3) Jumlah penderita asma : 20 orang

4) Jumlah penderita DM : 300 orang

 Berdasarkan kelompok penderita DM

Anak-anak :-

Remaja :-

Dewasa : 150 orang (50 %)

Lansia : 90 orang (30 %)

Ibu hamil : 60 orang (20%)

 Berdasarkan agama

Islam : 20 orang (80%)

Kristen : 30 orang (10%)

Hindu : 15 orang (5%)

Budha : 15 orang (5%)

Konghucu :-

Katolik :-

 Berdasarakan suku bangsa

Jawa : 210 orang (70%)

Madura : 75 orang (25%)

Sunda : 9 orang (3%)

WNI keturunan : 6 orang (2%)


15
Jumlah penderita DM gangrene : 90 orang

 Status perkawinan

Kawin : 195 orang (65%)

Tidak kawin : 60 orang (20%)

Duda : 30 orang (10%)

Janda : 15 orang (5%)

2. Data sub sistem


a. Data lingkungan fisik
1) Sumber air dan air minum
 Penyediaan Air bersih

PAM : 180 orang (60%)

Sumur : 120 orang (40%)

Sungai :-

 Penyediaan air minum

PAM : 150 orang (50%)

Sumur : 90 orang (30%)

Sungai :-

Lain-lain/air mineral : 60 orang (20%)

 Pengolahan air minum

Masak : 300 orang (100%)

Tidak dimasak :-

16
 Pengelolaan air minum

Selalu dimasak : 300 orang (100%)

Air mentah :-

2) Saluran pembuangan air/sampah


 Kebiasaan membuang sampah

Diangkut petugas : 30%

Dibuang sembarangan : 70%

Pembuangan air limbah

Got/parit : 100%

Sungai :-

 Keadaan pembuangan air limbah

Baik/lancar : 25%

Kotor : 75%

3) Jamban
 Kepemilikan jamban

Memiliki jamban : 80%

Tidak memiliki jamban : 20%

 Macam jamban yang dimiliki

Septitank : 75%

Disungai : 25%

 Keadaan jamban

Bersih : 45%

Kotor : 55%

17
4) Keadaan rumah
 Tipe rumah

Tipe A/permanen : 210 orang (70%)

Tipe B/semipermanen : 75 orang (25%)

tipe C/tidak permanen : 15 orang (5%)

 Status rumah

Milik rumah sendiri : 180 orang (60%)

Kontrak : 120 orang (40%)

 Lantai rumah

Tanah : 30 orang (10%)

Papan : 90 orang (30%)

Tegel/keramik : 180 orang (60%)

 Ventilasi

Ada : 240 orang (80%)

Tidak ada : 60 orang (20%)

Luas kamar tidur

Memenuhi syarat : 180 orang (60%)

Tidak memenuhi syarat : 120 orang (40%)

 Penerangan rumah oleh matahari

Baik : 120 orang (40%)

Cukup : 150 orang (50%)

Kurang : 30 orang (10%)

5) Halaman rumah

18
 Kepemilikan pekarangan

Memiliki : 240 orang (80%)

Tidak memiliki : 60 orang (20%)

 Pemanfaatan pekarangan

Ya : 270 orang (90%)

Tidak : 30 orang (10%)

6) Fasilitas umum dan kesehatan


Fasilitas umum
 Sarana kegiatan kelompok

Karang taruna : 1 kelompok

Pengajian : 2 kelompok

Ceramah agama : 1 kelompok

PKK : 1 kali per bulan

 Tempat perkumpulan umum

Balai desa : ada (1 buah)

Dukuh : ada (1 buah)

RW : ada (1 buah)

RT : ada (1 buah)

Masjid/Mushola : ada (2 buah)

Fasilitas kesehatan

 Pemanfaatan fasilitas kesehatan

Puskesmas : 150 orang (50%)

Rumah sakit : 50 orang (16,6%)

19
Para dokter swasta : 25 orang (8,3%)

Praktek kesehatan lain : 75 orang (25%)

 Kebiasaan check up kesehatan

Rutin tiap bulan : 90 orang (30%)

Jarang : 210 orang (70%)

Ekonomi

7) Karekteristik pekerjaan

PNS/ABRI : 60 orang (20%)

Pegawai swasta : 60 orang (20%)

Wiraswasta : 30 orang (10%)

Buruh tani/pabrik :150 orang (50%)

 Penghasilan rata-rata perbulan

<dari UMR : 150 orang (50%)

UMR – 1.000.000,00 : 90 orang (30%)

>dari UMR : 60 orang (20%)

 Pengeluaran rata-rata perbulan

<dari UMR : 165 orang (55%)

UMR – 1.000.000,00 : 105 orang (35%)

>dari UMR : 30 orang (10%)

 Kepemilikan usaha

Toko : 30 orang (10%)

Warung makanan : 15 orang (5%)

20
UKM : 9 orang (3%)

Tidak punya : 246 orang (82%)

 Diet makan

Kebiasaan makan makanan manis : 70% ( 210 org )

Kebiasaan makan makanan berlemak: 20% ( 60 org )

Lain-lain :10% ( 30 org )

 Kepatuhan terhadap diet

Patuh : 25% ( 75 org )

Kadang-kadang : 30% ( 90 org )

Tidak patuh : 45% (135 org )

 Kebiasaan berolah raga

Sering : 15% (45 org )

Kadang-kadang : 40% (120 org )

Tidak pernah : 45% (135 org )

 Kebiasaan sehari-hari

Memakai alas kaki

Setiap saat : 60% ( 180 org )

Saat di luar rumah : 30% ( 90 org)

Jarang memakai : 10% ( 30 org )

 Kebiasaan mencuci kaki sebelum tidur

Sering : 10% ( 30 org )

Kadang-kadang : 15% ( 40 org )

21
Tidak pernah : 75% ( 225 org )

Transportasi

8) Fasilitas transportasi : Jalan raya, angkutan umum,


ambulan
 Alat transportasi yang dimiliki

Sepeda : 90 orang (30%)

Motor : 120 orang (40%)

Mobil : 6 orang (2%)

Lain-lain/ becak : 84 orang (28%)

 Penggunaan sarana transportasi oleh masyarakat

Angkutan umum : 165 orang (55%)

Kendaraan pribadi : 135 orang (45%)

 Politik dan pemerintahan

Struktur organisasi : ada

Terdapat kepala desa dan perangkatnya

Ada organisasi karang taruna

Kelompok layanan kepada masyarakat (pkk, karang taruna, panti,


posyandu)

Kebijakan pemerintah dalam pelayanan kesehatan : ada yaitu


puskesmas

Kebijakan pemerintah khusus untuk penyakit DM : belum ada

Peran serta partai dalam pelayanan kesehatan :


belum ada

9) Sistem komunikasi

22
 Fasilitas komunikasi yang ada

Radio : 225 orang (75 %)

TV : 165 orang (55 %)

Telepon/handphone : 120 orang (40 %)

Majalah/Koran : 135 orang (45%)

 Fasilitas komunikasi yang menunjang untuk kelompok DM

Poster tentang diit DM : ada

Pamflet tentang penanganan DM : ada

Leaflet tentang penanganan DM : ada

 Kegiatan yang menunjang kegiatan DM

Penyuluhan oleh kader dari masyarakat dan oleh petugas


kesehatan dari Puskesmas : ada tapi jarang

10) Pendidikan

Distribusi pendudukan berdasarkan tingkat pendidikan formal

SD : 135 orang (45%)

SLTP : 90 orang (30%)

SLTA : 60 orang (20%)

Perguruan tinggi : 15 orang (5%)

11) Rekreasi

Tempat wisata yang biasanya dikunjungi taman kota dan alun –


alun.

Ada program setahun sekali diadakan program wisata bersama


kader kesehatan RT 05 RW 03 Kelurahan Margo Rukun.

23
3. Analisa Data

No Pengelompokan Data Etiologi Masalah

1 Ds : Ketidakpatuhan Ketidakpatuhan
akan diet dan berhubungan dengan
Dari hasil wawancara di dapat
kurang pajanan dari perilaku masyarakat yang
tingkat pendidikan ada 50% warga
petugas kesehatan tidak taat dan hambatan
yang tidak patuh menjalankan diet
hubungan klien dengan
penyedia layanan

Do: kesehatan di RT 3 RW 5
kelurahan Margo Rukun
- kebiasaan masyarakat makan
makanan yang manis sebanyak
210 orang (70%)

- penyuluhan kader dari


masyarakat dan petugas kesehatan
dari puskesmas jarang ada

2. Ds : Pengetahuan yang Defisiensi Pengetahuan


kurang berhubungan dengan
Dari hasil wawancara di dapat
Ketidakpatuhan terhadap
tingkat pendidikan ada 50% warga
diet Di RT 3 RW 5
yang tidak patuh menjalankan diet
kelurahan Margo Rukun
Do :

- data menyebutkan bahwa tingkat


pendidikan SD sebanyak 135
orang (45%)

- penyuluhan kader dari


masyarakat dan petugas kesehatan

24
dari puskesmas jarang ada

- kebiasaan masyarakat makan


makanan yang manis sebanyak
210 orang (70%)

3 Ds: Faktor penghasilan Defisiensi Kesehatan


yang rendah yang Komunitas berhubungan
Dari hasil wawancara didapat
dapat menyebabkan dengan ketidakcukupan
ketidak patuhan masyarakat untuk
defisiensi kesehatan sumber daya (finansial,
melaksanakan check up kesehatan
masyarakat sosial dan pengetahuan)
sebanyak 219 orang (70%)

Do:

- sebanyak 210 orang jarang check


up/bulan

- lulusan SD sebanyak 135 orang

- lulusan SLTP sebanyak 90 orang

- penghasilan < UMR sebanyak


150 orang

- penghasilan UMR-1.000.000
sebanyak 90 orang

- penghasilan > UMR 60 orang

4 Ds: Kurangnya Ketidakefektifan


pengetahuan Manajemen Kesehatan
Dari hasil wawancara didapat
penderita DM pada penderita ganggren
jumlah penderita DM 300 orang
tentang pencegahan Di RT 3 RW 5 kelurahan
terjadinya luka Margo Rukun
Do: ganggren

25
-jumlah penderita DM dengan
ganggren sebanyak 30% (90
orang)

- distribusi penderita DM
berdasarkan tingkat pendidikan
formal

SD :45% (135 orang)

SLTP :30% (90 orang)

SLTA :20% (60 orang)

Perguruan tinggi:5%(15 orang)

-sebanyak 210 orang (70%)


penderita DM tidak check up
secara rutin

- kebiasaan sehari hari penderita


DM yang setiap saat memakai alas
kaki sebanyak 45 orang (15%),saat
dilauar rumah 75 orang (25%) dan
jarang memakai 180 orang (60%)

5 Ds : Perilaku Kesehatan
Cenderung Berisiko
Dari hasil wawancara di dapat
berhubungan dengan
tingkat pendidikan ada 50% warga
status sosio-ekonomi
yang tidak patuh menjalankan diet
rendah Di RT 3 RW 5
kelurahan Margo Rukun

Do:

- distribusi penderita DM
berdasarkan tingkat pendidikan

26
formal

SD :45% (135 orang)

SLTP :30% (90 orang)

SLTA :20% (60 orang)

Perguruan tinggi:5%(15 orang)

27
4. Prioritas Masalah
No Diagnosa Keperawatan A B C D E F G H I J K L Jumlah Urutan

1. Perilaku Kesehatan 3 4 5 3 2 1 5 1 3 3 3 2 35 1
Cenderung Berisiko
berhubungan dengan status
sosio-ekonomi rendah Di
RT 3 RW 5 kelurahan
Margo Rukun
2. Ketidakpatuhan 3 3 3 3 2 1 4 3 3 3 2 4 34 2
berhubungan dengan
perilaku masyarakat yang
tidak taat dan hambatan
hubungan klien dengan
penyedia layanan kesehatan
di RT 3 RW 5 kelurahan
Margo Rukun
3. Defisiensi Pengetahuan 3 3 1 1 2 4 3 2 2 3 3 3 30 3
berhubungan dengan
Ketidakpatuhan terhadap
diet Di RT 3 RW 5
kelurahan Margo Rukun

4. Defisiensi Kesehatan 3 3 2 3 3 1 1 1 1 4 4 2 28 4
Komunitas berhubungan
dengan ketidakcukupan
sumber daya (finansial,
sosial dan pengetahuan)
5. Ketidakefektifan 3 2 1 3 3 1 2 2 1 1 2 2 23 5
Manajemen Kesehatan
pada penderita ganggren Di
RT 3 RW 5 kelurahan

28
Margo Rukun
Keterangan :
A = Tingkat resiko kejadian G = Ruang
B = Tingkat resiko permasalahan H = waktu
C = Potensial untuk ditangani dengan penkes I = fasilitas kesehatan
D = minat masyarakat J = biaya
E = Kemungkinan Masalah teratasi K = sumber daya/tenaga
F = hub. dengan program pemerintah L = sesuai peran perawat CHN

Keterangan Nilai :
1 sangat rendah 4 tinggi
2 rendah 5 sangat tinggi
3 cukup

29
5. Asuhan Keperawatan

Data Diagnosis Keperawatan NOC NIC


Kode Diagnosis Kode Hasil Kode Intervensi
Data Subjektif : 0018 Perilaku kesehatan Preventif primer Preventif primer
cenderung beresiko 162604 Membuat target 5510 Pendidikan kesehatan
Dari hasil wawancara di dapat
pencapaian berat badan Teaching group
tingkat pendidikan ada 50% warga
5604
yang tidak patuh menjalankan diet
Preventif sekunder Preventif sekunder
260629 Skrining kesehatan sesuai Skrining kesehatan

Data Objektif : umur 6520 Identifikasi risiko


6610
 Distribusi penderita DM
berdasarkan tingkat pendidikan
formal

SD :45% (135 orang)

SLTP :30% (90 orang)

SLTA :20% (60 orang)

Perguruan tinggi:5%(15 orang)

30
Ds : 00079 Ketidakpatuhan Preventif Primer Preventif primer
1622 Perilaku Patuh: Diet yang 1020 Penahapan diet
Dari hasil wawancara di dapat
disarankan
tingkat pendidikan ada 50% warga
1603 Perilaku pencarian 5510 Pendidikan kesehatan
yang tidak patuh menjalankan diet
kesehatan

Do: Preventif Sekunder Preventif sekunder


1634 Perilaku Skrining 5614 Pengajaran : peresepan
- kebiasaan masyarakat makan
Kesehatan Pribadi diet
makanan yang manis sebanyak
1627 Perilaku mengurangi berat 6520 Skrining kesehatan
210 orang (70%)
badan
- penyuluhan kader dari
masyarakat dan petugas kesehatan
dari puskesmas jarang ada

Ds : 00126 Defisiensi Preventif Primer Preventif Primer


Pengetahuan 1602 Perilaku Peningkatan 5566 Pendidikan Orang Tua :
Dari hasil wawancara di dapat
Kesehatan Keluarga yang
tingkat pendidikan ada 50% warga
1606 Partisipasi dalam Membesarkan Anak
yang tidak patuh menjalankan diet
keputusan perawatan Pengajaran : Peresepan

31
Do : Kesehatan 5614 Diet
3102 Manajenem Diri: Penyakit
- data menyebutkan bahwa tingkat
Kronik
pendidikan SD sebanyak 135
Preventif Sekunder
orang (45%)
Preventif Sekunder Konseling
- penyuluhan kader dari ------- 5240 Bantuan Modifikasi Diri
masyarakat dan petugas kesehatan 4470
dari puskesmas jarang ada

- kebiasaan masyarakat makan


makanan yang manis sebanyak
210 orang (70%)
Ds: 00215 Defisiensi Preventif Primer Preventif Primer
Kesehatan 1602 Perilaku peningkatan 5510 Pendidikan Kesehatan
Dari hasil wawancara didapat
Komunitas kesehatan 8500 Pengembangan
ketidak patuhan masyarakat untuk
1908 Deteksi Risiko Kesehatan Komunitas
melaksanakan check up kesehatan
sebanyak 219 orang (70%)
Preventif Sekunder 6520 Preventif Sekunder
Do: 2810 Kontrol Risiko Skrining Kesehatan

- sebanyak 210 orang jarang check Komunitas: Tradisi

up/bulan budaya yang tidak sehat

32
- lulusan SD sebanyak 135 orang

- lulusan SLTP sebanyak 90 orang

- penghasilan < UMR sebanyak


150 orang

- penghasilan UMR-1.000.000
sebanyak 90 orang

- penghasilan > UMR 60 orang

Ds: 00078 Ketidakefektifan Preventif Primer Preventif Primer


Manajemen 1820 Pengetahuan: Manajemen 5520 Fasilitasi pembelajaran
Dari hasil wawancara didapat
Kesehatan Diabetes
jumlah penderita DM 300 orang
3102 Manajemen Diri: Penyakit 4470 Bantuan Modifikasi diri
Kronik

Do:
Preventif Sekunder Preventif Sekunder
-jumlah penderita DM dengan
1619 Manajemen Diri: Diabetes 5602 Pengajaran : Proses
ganggren sebanyak 30% (90
1842 Pengetahuan: Manajemen penyakit
orang)
Infeksi 5618 Pengaajaran :
- distribusi penderita DM Prosedur/Perawatan

33
berdasarkan tingkat pendidikan 4360 Modifikasi perilaku
formal

SD :45% (135 orang)

SLTP :30% (90 orang)

SLTA :20% (60 orang)

Perguruan tinggi:5%(15 orang)

-sebanyak 210 orang (70%)


penderita DM tidak check up
secara rutin

- kebiasaan sehari hari penderita


DM yang setiap saat memakai alas
kaki sebanyak 45 orang
(15%),saat dilauar rumah 75 orang
(25%) dan jarang memakai 180
orang (60%)

34
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Asuhan keperawatan komunitas merupakan salah satu bentuk dari asuhan
keperawatan yang bersifat komprehensif karena yang dikaji adalah semua anggota
keluarga dalam satu rumah. Penyakit diabetes melitus ini bisa menjadi penyakit bawaan
yagn ada pada keluarga tersebut. Jadi apabila ada riwayat anggota keluarga dengan
penyakit DM, anggota keluarga lainnya harus merawatnya dengan baik seagar penyakit
ini bisa disembuhkan.

B. Saran

Dengan mengetahui asuahan keperawatan komunitas pada penderita diabetes


mellitus kita dapat melakukan pencegahan agar penyakityang timbul tidak menuju
keparahan. Banyak intervensi keperawatan yang dapat diberikan pada tingkat komunitas
berupa promotif dan preventif.

35
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2013). Nursing
Interventions Classification (NIC) Edisi Keenam. Singapore: Elseiver.

Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2013). Nursing Outcomes
Classification (NOC) Pengukuran Outcome Kesehatan Edisi Kelima. Singapore:
Elseiver.

NANDA. (2017). NANDA-I Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2018-2020.


Jakarta: EGC.

Nies, M. A. & McEwen, M. (2016). Keperawatan Kesehatan Komunitas dan Keluarga. Mosby:
Elseiver.

Smeltzer, Suzanne.C, Brenda.G.B., (2014). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth. Jakarta : EGC.

36