Anda di halaman 1dari 12

KRISIS EKONOMI YANG TERJADI DI NEGARA ANGGOTA ASEAN

(ASSOCIATION OF SOUTHEAST ASIAN NATIONS)

OLEH :

Fitra Ahlun Nazar 1551010184


Indri Septiyani 1651010249
Tri Juliya Utari 1651010272

A. Pengertian krisis ekonomi

Menurut ahli ekonomi, pengertian krisis ekonomi secara sederhana adalah suatu
keadaan dimana sebuah Negara yang pemerintahnya tidak dipercaya lagi oleh
rakyatnya, khususnya masalah financial. Menurut Arafat (2009) Krisis ekonomi
global merupakan peristiwa dimana seluruh sektor ekonomi pasar dunia mengalami
keruntuhan (keadaan gawat) dan mempengaruhi sektor lainnya diseluruh
dunia.Akibat dari krisis ekonomi yang terjadi di beberapa negara maju seperti
Amerika Serikat, memberi dampak besar pada negara-negara Asia yang sedang
berkembang. 1

Krisis ekonomi adalah keadaan yang mengacu pada penurunan kondisi ekonomi
drastic yang terjadi di sebuah Negara.2

Variabel-variabel Yang Potensial Menyebabkan Krisis Moneter

1. Pertumbuhan Ekonomi
2. Nilai Tukar (Kurs)
3. Jumlah Uang Beredar
4. Inflasi
5. Suku Bunga

1
Jurnal Ilmiah Mahasiswa (JIM) Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah Vol.1
No.2 November 2016 : 377-388
2
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180908174215-82-328800/gejala-krisis-
ekonomi

1
6. Indek Harga Saham Gabungan
7. Neraca Pembayaran
8. Rasio Pembayaran Hutang/ Debt Service Ratio (DSR)

Gejala yang biasanya mendahului krisis ekonomi

1. Penurunan kemampuan belanja pemerintah


2. Jumlah pengangguran melebihi 50% dari jumlah tenaga kerja
3. Penurunan konsumsi
4. Kenaikan harga bahan pokok yang tidak terbendung
5. Penurunan pertumbuhan ekonomi yang berlangsung drastic dan tajam3
6. Penurunan nilai tukar yang tajam dan tak terkontrol

B. Apa itu Asean?

Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Perbara) atau lebih populer


dengan sebutan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) merupakan
sebuah organisasi geo-politik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia
Tenggara, yang didirikan di Bangkok, 8 Agustus 1967 berdasarkan Deklarasi
Bangkok oleh Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Organisasi ini
bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan
pengembangan kebudayaan negara-negara anggotanya, memajukan perdamaian dan
stabilitas di tingkat regionalnya, serta meningkatkan kesempatan untuk membahas
perbedaan di antara anggotanya dengan damai.

Sekarang, ASEAN beranggotakan semua negara di Asia Tenggara. Berikut ini


adalah negara-negara anggota ASEAN:

1. Filipina (negara pendiri ASEAN)


2. Indonesia (negara pendiri ASEAN)
3. Malaysia (negara pendiri ASEAN)

3
ibid

2
4. Singapura (negara pendiri ASEAN)
5. Thailand (negara pendiri ASEAN)
6. Brunei Darussalam bergabung pada (7 Januari 1984)
7. Vietnam bergabung pada (28 Juli 1995)
8. Laos bergabung pada (23 Juli 1997) (Laos dan Myanmar bergabung pada
waktu yang sama)
9. Myanmar bergabung pada (23 Juli 1997) (Laos dan Myanmar bergabung
pada waktu yang sama)
10. Kamboja bergabung pada (30 April 1999)4
C. Krisis yang terjadi di Negara anggota Asean

Krisis ekonomi yang melanda kawasan ASEAN terjadi 20 tahun lalu. Setiap
negara memiliki daya tahan yang berbeda terhadap krisis. Tahun 1997 merupakan
masa kelam perekonomian di negara Asia. Krisis ekonomi yang diawali krisis
moneter berdampak pada stabilitas makroekonomi dan kesejahteraan rakyat. Krisis
yang menyebar di Asia Tenggara itu bermula dari ekonomi Thailand yang
terguncang. Akibatnya, neraca transaksi berjalan Negeri Gajah Putih mengalami
defisit. Rentannya perekonomian negara-negara tetangga membuat virus krisis
dengan cepat menyebar dan menggerogoti perekonomian.5

Bermacam pemikiran mengenai penyebab munculnya krisis yang terjadi kala itu,
salah satunya yang sering disebut adalah adanya spekulen khususnya menunjuk pada
George Soros. George Soros adalah seorang multi jutawan, investor, sekaligus
pendiri perusahaan mengemukakan bidang keuangan.6 Melalui perusahaan hedge
fund Quantum Fund, Soros berspekulasi pada mata uang Baht Thailand dengan modal
kurang dari US$1 miliar. Kelihaiannya dalam membaca situasi membuat perusahaan
meraup untung fantastis.7 Dua Negara terdampak paling parah adalah Malaysia dan

4
https://id.wikipedia.org/wiki/Perhimpunan_Bangsa-Bangsa_Asia_Tenggara
5
https://tirto.id/negara-negara-yang-paling-terpuruk-saat-krisis-ekonomi-asean-csSK
6
https://www.ajarekonomi.com/2016/04/mengenang-kembali-krisis-ekonomi-asia.html
7
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180502033958-532-294984/baht-peluit-krisis-mata-
uang-asia

3
Indonesia. Persentase pertumbuhan ekonomi Negara anggota asean pada saat krisis
moneter:

Sumber : Sumber: IMF dan CEIC

Kurs mata uang untuk US $ 1 :

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Krisis_finansial_Asia_1997

1. Thailand

Dari 1985 sampai 1995, Ekonomi Thailand tumbuh rata-rata 9%. Pada tanggal
14-15 Mei 1997, mata uang baht, terpukul oleh serangan spekulasi besar. Pada
tanggal 30 Juni, Perdana Mentri Chavalit Yonchaiyudh berkata bahwa dia tidak
akan mendevaluasi baht, tetapi pemerintah Thailand yang tak memiliki cukup
cadangan devisa untuk mempertahankan nilai tukar tetap dengan dolar AS akhirnya
mengambangkan mata uang lokal tersebut pada 2 Juli.

Pada 1996, "dana hedge" Amerika telah menjual US$400 juta dalam bentuk mata
uang Thailand. Dari 1985 sampai 2 Juli 1997, baht dipatok pada 25 kepada dolar AS.
Kurs Baht lunglai hingga 30 % terhadap dolar AS, cadangan devisa susut hingga

4
US$10 miliar dalam sehari. Hingga pada 2 Juli 1997, Thailand mengubah kebijakan
nilai tukarnya dari semula mengambang terkendali (managed floating) menjadi
mengambang bebas (free floating). Jika sebelumnya kurs ditentukan keuangan pasar
disertai pengendalian otoritas moneter, ketika itu kurs diserahkan seluruhnya melalui
mekanisme pasar8

Baht jatuh tajam dan hilang setengah harganya. Baht jatuh ke titik terendah di 56
ke dolar AS pada Januari 1998. Pasar saham Thailand jatuh 75% pada 1997. Finance
One, perusahaan keuangan Thailand terbesar bangkrut. Pemerintah Thailand meminta
bantuan kepasa international monetary fund (IMF).

Bantuan dari IMF


Dengan berpegang pada prinsip Washington Consensus yaitu kebijakan ekspansi dari
liberalisasi perdagangan dan pasar modal, melalui kebijakan memperbesar
perusahaan dan bank serta menolak kontrol atas aliran modal sebagai satu-satunya
jalan menuju kemakmuran ekonomi, maka IMF bersama dengan Amerika Serikat
melakukan upaya penanggulangan krisis yaitu pemberian bantuan dana likuiditas
sebagai upaya self-help.
Dalam upayanya, IMF melakukan beberapa kebijakan dengan 4 arahan utama, yaitu :

 Memperkuat pengawasan IMF atas kebijakan negara-negara anggotanya.


 Membantu memperkuat kinerja pasar finansial dengan menjadi technical
assistance.
 Secepatnya menyediakan policy advice dan finansial assistance pada saat krisis
muncul.
 Membantu untuk menjamin bahwa tidak ada negara yang termarginalisasi dari
perdagangan global.

8
ibid

5
Dalam pertemuan tahunan IMF pada tahun 1997 di HongKong, Board of Governors
IMF menyepakati untuk mengamandemen perjanjian IMF untuk upaya liberalisasi
pasar dan liberalisasi arus modal internasional sebagai tujuan dari bantuan dana ini.
Lalu atas dasar arahan kebijakan ini, maka pada tanggal 31 Oktober 1997
diadakan perjanjian IMF dengan negara-negara yang terkena dampak krisis seperti
Indonesia, Korea Selatan, dan Thailand. IMF dalam perjanjiannya ini memiliki suatu
program saran reformasi ekonomi, dengan mencakup 4 bidang yaitu:
 Penyehatan sektor keuangan.
 Kebijakan fiskal.
 Kebijakan moneter.
 Penyesuaian struktural.
Dalam proses penerapan kebijakannya ini, IMF melakukan pengucuran bantuan dana
kepada Thailand sebesar USD 17,2 milyar.9

Namun, gelontoran dana bantuan sebesar itu tidak mampu mengangkat mata uang
baht, dari studi-studi yang ada, diduga kegagalan itu disebabkan adanya pesimisme
dari kalangan pelaku pasar dalam negeri terhadap program IMF. Dengan kata lain
pasar domestic Thailand mempertanyakan kredibilitas IMF dalam upaya
membangkitkan stabilitas perekonomian Negara.

Strategi pemerintah Thailand dalam mengatasi krisis

Untuk mengatasi krisis ekonomi di Thailand, pemerintah Thailand


mengeluarkan berbagai kebijakan. Pertama, berusaha mengembalikan kepercayaan
para investor asing. Diharapkan para investor asing bersedia membawa modalnya
masuk kembali ke Thailand. Dengan memperbaiki kepercayaan investor asing
terutama maka masalah krisis likiuditas dalam cadangan devisa Thailand dapat
semakin teratasi. Pemerintah PM Chuan tetap mempertahankan kerja sama dengan

9
https://interpretermaxima.wordpress.com/2013/05/13/imf-amerika-serikat-dan-krisis-finansial-
asia-1997-1998/

6
IMF. Pemerintah PM Chuan mendapatkan kesempatan besar untuk memperbaiki
keadaan ekonomi domestik Thailand dari IMF yakni melalui bantuan bersifat
finansial dan teknis. PM Thailand,Chuan, berusaha mendesak AS supaya bisa
memberi bantuan finansial secara terpisah dari bantuan multilateral IMF.

Sikap yang mendukung dari Presiden AS, Bill Clinton, digunakan sebagai
jaminan atas keseriusan Thailand dalam melakasanakan program reformasi ekonomi
dari lembaga keuangan internasional, IMF. Akhirnya, dukungan tersebut akan
memperbaiki dan meningkatkan kepercayaan lembaga-lembaga internasional dan
negara-negara lain terhadap Thailand. Namun sikap PM Chuan yang begitu patuh
terhadap program perbaikan ekonomi IMF melahirkan opini bahwa PM Chuan
adalah a good student of the IMF. Opini tersebut mempunyai arti positif bagi
pemerintahan PM Chuan. Karena melakukan pinjaman dari IMF maka PM Chuan
harus menanggung konsekuensi yakni tidak bisa bersikap lain di luar program
ekonomi IMF. Pendirian ini melahirkan reaksi positif yakni meningkatnya
kepercayaan rakyat Thailand terhadap perkembangan ekonomi domestik negara
Thailand.

Kedua, mengadakan reformasi finansial atau keuangan. Reformasi finansial


dilakukan oleh pemerintahan PM Chuan. Di antara reformasi keuangan tersebut
adalah penyelesaian semua aset milik ke-56 perusahaan-perusahaan keuangan yang
ditutup itu hingga 31 Desember 1998 melalui the Financial Restructuating
Agency (FRA) dan the Asset Management Corporation (AMC), perusahaan-
perusahaan keuangan akan direkapitalisasi pada 1998 seiring dengan peraturan yang
ketat, memperbaiki undang-undang kepailitan (bankruptcy law), dan pemerintah
menjamin tidak akan melakukan penutupan terhadap perusahaan-perusahaan
keuangan lain.

Ketiga, pemerintahan Thailand, PM Chuan memberlakukan pengontrolan lalu


lintas dan perdagangan bath melalui mekanisme two-tier system. Kebijakan ini
diharapkan mampu menjaga terjadinya stabilitas nilai tukar pada level yang lebih
rendah. Hal tesebut dapat menyebabkan industri dapat kembali beroperasi secara

7
normal dan baik. Misalnya, ekspor produk agroindustri lebih mampu bersaing serta
bahan baku industri dapat diimpor dengan harga lebih murah. Selain itu, diharapkan
adanya kebijakan ini mampu mempertahankan cadangan devisa negara.

Keempat, pemerintah Thailand membuat kebijakan untuk mendorong biaya


produksi dan ekspor. Pelaksanaan kebijakan ini dilaksanakan dalam rangka untuk
mengembangkan proyek-proyek investasi padat karya yang didanai dari pinjaman
Bank Dunia dan Miyazawa Iniatiative, Jepang. Dari kebijakan ini maka diharapkan
adanya peningkatan daya beli rakyat dan merangsang kegiatan produksi. Kebijakan
yang dikeluarkan pemerintah (Paket 30 Maret 1999) itu berisi program pembiayaan
sebesar 53 milyar bath, pengurangan pajak sebesar 54,7 milyar bath per tahun, serta
pengurangan harga energi sebesar 23,8 milyar bath per tahun.

Kelima, dalam sektor-sektor industri yang selama ini sangat terbatas bagi
penanaman modal asing akhirnya disetujui oleh Parlemen Thailand di akhir 1998.
Contohnya, produsen mobil asal Jepang mulai memiliki 100% industri mobil. Tetapi
sektor-sektor industri tersebut tidak termasuk bagian sektor ekspor dan jasa
turisme.Thailand tidak hanya mengandalkan sektor industri namun juga sektor
pertanian khususnya teknologi pertanian. Sektor teknologi pertanian ini sudah lama
ditinggalkan oleh sebagian besar rakyat Thailand sewaktu perekonomian sedang
mengalami peningkatan yang besar.

Akhirnya, perekonomian Thailand berangsur-angsur pulih. Hal ini bisa dilihat


dari indikator-indikator ekonomi pada pertengahan 1999. Misalanya, mata uang Bath
mulai terlihat stabil, nilai indeks harga saham SET hampir meningkat dua kali lipat,
cadangan devisa mengalami kenaikan pesat, hutang luar negeri turun, dan angka
inflasi mengalami penurunan.10

10
https://zahidiyahela.wordpress.com/2012/11/28/strategi-pemerintah-thailand-dalam-mengatasi-
krisis-thailand-tahun-1997/

8
2. Malaysia

Malaysia juga mengalami dampak krisis yang cukup parah, ditandai dengan
menurunnya mata uang ringgit dari RM 2.4/US$ menjadi RM 4,88 / US $ atau
mengalami depresiasi lebih dari 100 % pada 1997. Penurunan ringgit diikuti pula
dengan anjloknya nilai investasi senilai RM 22 milliar. Namun demikian, belajar dari
apa yang menimpa Thailand. pemerintah Malaysia tidak mengajukan pinjaman
kepada IMF melainkan hanya merminta pendapat dan konsultasi atas langkah-
langkah penyelesaian krisis. Dikemudian hari, melalui program the National
Economic Recovery Plan, pemerirntah Malaysia berusaha keras menjaga stabilitas
keuangan nasional, mengembalikan kepercayaan pasar, serta melakukan
restrukturisasi atas utang korporasi. Selain itu, untuk meningkatkan geliat
perekonornian disektor ril, otoritas moneter setempat menurunkan suku bunga secara
bertahap serta melakukan pelonggaran kebijakan moneter yang dimulai pada
pertengahan 1998 hingga 1999. Permerintah Malaysia juga memberlakukan stimulus
fiscal. Dengan upaya upaya tersebut, Malaysia mulai bangkit dan secara bertahap
keluar dari krisis ( Hui Lim and Khoon Goh How Malaysia Weathered The Financial
Crisis. Polhcies and Possible Lessons, 2002). Malaysia merupakan negara tercepat
yang pulih dari krisis ini dengan menolak bantuan IMF.

3. Indonesia

Pada bulan Juni 1997, Indonesia terlihat jauh dari krisis. Tidak seperti Thailand,
Indonesia memiliki inflasi yang rendah, surplus perdagangan lebih dari US$900 juta,
cadangan devisa yang besar, lebih dari US$20 miliar, dan perbankan yang baik. Tapi
banyak perusahaan Indonesia yang meminjam dalam bentuk dolar AS. Pada tahun
berikut, ketika rupiah menguat terhadap dolar, kebijakan ini telah bekerja baik untuk
perusahaan tersebut—level efektivitas hutang mereka dan biaya finansial telah
berkurang pada saat harga mata uang lokal meningkat.

Pada bulan Juli 1997, Thailand mengambangkan baht, Otoritas Moneter


Indonesia melebarkan jalur perdagangan dari 8 % ke 12 %. Rupiah mulai terserang

9
kuat di Agustus. Pada 14 Agustus 1997, pertukaran mengambang teratur ditukar
dengan pertukaran mengambang-bebas. Rupiah jatuh lebih dalam. IMF datang
dengan paket bantuan 23 miliar dolar, tetapi rupiah jatuh lebih dalam lagi karena
ketakutan dari hutang perusahaan, penjualan rupiah, permintaan dolar yang kuat.
Rupiah dan Bursa Saham Jakarta menyentuh titik terendah pada bulan September.
Moody's menurunkan hutang jangka panjang Indonesia menjadi "junk bond".

Meskipun krisis rupiah dimulai pada bulan Juli dan Agustus 1997, krisis ini
menguat pada bulan November ketika efek dari devaluasi di musim panas muncul
pada neraca perusahaan. Perusahaan yang meminjam dalam dolar harus menghadapi
biaya yang lebih besar yang disebabkan oleh penurunan rupiah. Pada masa
pemerintahan Presiden Soeharto, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp
2.000 dengan titik terendah nya di Rp 1.977 per dolar AS pada tahun 1991. Sampai akhirnya
terjadi krisis moneter (krismon) dan terjadi pelemahan rupiah yang sangat drastis. Rupiah
terus terkikis seiring kian rontoknya cadangan devisa Indonesia. Dolar AS bertahan di kisaran
Rp 2.000-2.500 karena Indonesia belum menganut rezim kurs mengambang. Sistem kurs
terkendali yang dianut membuat orde Baru ingin dolar AS harus bertahan di level itu. Setelah
meninggalkan kurs mengambang, dolar AS secara perlahan mulai merangkak ke Rp 4.000 di
akhir 1997, dan lanjut ke Rp 6.000 di awal 1998. Setelah sempat mencapai Rp 13.000, dolar
AS sedikit menjinak dan kembali menyentuh Rp 8.000 pada April 1998. 11

Akibatnya, banyak rakyat yang bereaksi dengan menukarkan rupiah dengan


dolar AS, menurunkan harga rupiah lebih jauh lagi. Inflasi rupiah dan peningkatan
besar harga bahan makanan menimbulkan kekacauan di Indonesia. Pada bulan
Februari 1998, Presiden Soeharto memecat Gubernur Bank Indonesia, Sudrajad
Djiwandono. Akhirnya, Presiden Soeharto dipaksa untuk mundur pada tanggal 21
Mei 1998 . Indonesia memasuki periode kelam. B.J. Habibie diangkat menjadi
presiden. Mulai dari sini krisis moneter indonesia memuncak Penembakan
mahasiswa, kerusuhan massa, dan kejatuhan Orde Baru membuat rupiah kian
'terkapar'. Sampai akhirnya dolar AS menyentuh titik tertinggi sepanjang masa di Rp

11
https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-4195716/dolar-as-sekarang-rp-14825-waktu-krismon-
1998-berapa

10
16.650 pada Juni 1998. Dolar AS kemudian berbalik arah setelah reformasi, seiring
dengan kepercayaan investor yang sedikit demi sedikit kembali.

Beberapa Negara anggota ASEAN lainya juga terkena dampak dari krisis
ekonomi yang melanda di tahun 1997-1998, namun tidak separah Thailand, Malaysia,
dan Indonesia. Beberapa Negara tersebut adalah:

1. Laos

Pada 1997, nilai tukar Kip terhadap dolar Amerika serikat adalah ₭1.259,97/dolar
AS menjadi ₭ 3.298,33/dolar AS pada 1998 atau terjadi penurunan nilai tukar hingga
161,78 %. Selain Laos, nilai tukar Indonesia juga terkena dampak besar dengan
penurunan 72,58 % dari Rp4.650/dolar AS pada 1997 menjadi Rp8.025/dolar AS
pada 1998.

2. Myanmar

Sementara Myanmar adalah negara yang cenderung stabil dari tekanan nilai tukar
pada 1997/1998. Pada 1997, nilai tukar Kyat terhadap dolar AS tercatat K6,24/dolar
AS atau terdepresiasi 5,48 % dari tahun sebelumnya. Pada 1998, nilai tukar Kyat
hanya terdepresiasi 1,62 % dari tahun sebelumnya atau K6,34/dolar AS.

3. Singapura

Sebagai ekonomi terbuka, dolar Singapura terbuka terhadap tekanan spekulatif


seperti telah terjadi pada 1985. Ekonomi sangat penting dalam keberlangsungan
Singapura sebagai negara merdeka, pemerintah Singapura berhasil mengatur suku
pertukaran mata uangnya untuk menghindari potensi penyerangan
speklulatif.Singapura juga cukup berhasil mengendalikan tekanan mata uangnya dan
menjadi satu-satunya negara ASEAN yang mata uangnya menguat terhadap AS dolar.
Pada 1998, nilai tukar dolar Singapura terhadap AS dolar adalah SG$1,66/US$ atau
terapresiasi sebesar 0,9 % dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar
SG$1,68/US$.

11
Daftar Pustaka

Jurnal Ilmiah Mahasiswa (JIM) Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Unsyiah Vol.1 No.2 November 2016 : 377-388
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180908174215-82-328800/gejala-krisis-
ekonomi

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180502033958-532-294984/baht-peluit-
krisis-mata-uang-asia

https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-4195716/dolar-as-sekarang-rp-14825-
waktu-krismon-1998-berapa

https://id.wikipedia.org/wiki/Perhimpunan_Bangsa-Bangsa_Asia_Tenggara
https://interpretermaxima.wordpress.com/2013/05/13/imf-amerika-serikat-dan-krisis-
finansial-asia-1997-1998/

https://tirto.id/negara-negara-yang-paling-terpuruk-saat-krisis-ekonomi-asean-csSK
https://www.ajarekonomi.com/2016/04/mengenang-kembali-krisis-ekonomi-
asia.html

https://zahidiyahela.wordpress.com/2012/11/28/strategi-pemerintah-thailand-dalam-
mengatasi-krisis-thailand-tahun-1997/

12