Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. AIR

1. Pengertian Air

Air merupakan sumber daya alam yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan

manusia atau masyarakat pada umumnya, hal ini sesuai dengan tujuan dari

Deklarasi Penyelamatan Air, yang tujuannya adalah mencapai kelangsungan

hidup yang seimbang di seluruh dunia (Hanifah, 2001). Dapat diperkirakan

kebutuhan air dari tahun ke tahun sangat meningkat, hal ini tidak hanya

disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk per tahunnya, tetapi juga

disebabkan oleh peningkatan kebutuhan per kapita yang meningkat sesuai dengan

perubahan gaya hidup masyarakat. Saat ini persediaan air dari berbagai sumber

sangat terbatas dengan distribusi yang tidak merata, sehingga perlu dicari upaya-

upaya untuk mengatasi kelangkaan air agar dapat menjamin ketersediaannya bagi

generasi yang akan datang. Kelangkaan air akan merangsang pemanfaatan air dari

berbagai sumber air (Nasution dan Silaban, 2017).

Air merupakan bagian dari ekosistem secara keseluruhan. Keberadaan air

di suatu tempat yang berada membuat air bisa berlebih dan bisa berkurang

sehingga dapat menimbulkan berbagai persoalan. Air harus dikelola dengan bijak

dengan pendekatan terpadu secara menyeluruh. Terpadu berarti keterikatan

dengan berbagai aspek. Untuk sumber daya air yang terpadu membutuhkan

keterlibatan dari berbagai pihak (Robert J. Kodoatie, 2008).

5
6

2. Pengertian Air Bersih

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja

Perkantoran dan Industri terdapat pengertian mengenai air bersih yaitu air yang

digunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan

kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku

dan dapat diminum apabila dimasak.

Air bersih dibutuhkan dalam pemenuhan kebutuhan manusia untuk

melakukan segala kegiatan sehingga perlu diketahui bagaimana air dikatakan

bersih dari segi kualitas dan bisa digunakan dalam jumlah yang memadai dalam

kegiatan sehari-hari manusia. Ditinjau dari segi kualitas, ada beberapa persyartan

yang harus dipenuhi, diantaranya kualitas fisik yang terdiri dari bau, warna, dan

rasa, kualitas kimia yang terdiri dari pH, kesadahan dan sebagainya serta kualitas

biologi dimana air terbebas dari mikroorganisme penyebab penyakit. Agar

kelangsungan hidup manusia dapat berjalan lancar, air bersih juga harus tersedia

dalam jumlah yang memadai sesuai dengan aktivitas manusia pada tempat tertentu

dan kurun waktu tertentu (Gabriel, 2001).

3. Persyaratan Kualitatif Air Bersih

Persyaratan kualitatif adalah persyaratan yang menggambarkan mutu atau

kualitas dari air baku air bersih. Persyaratan ini meliputi :

3.1.Syarat Fisik. Syarat fisik air bersih yaitu (1) air tidak boleh berwarna,

(2) air tidak boleh berbau, (3) air tidak boleh berasa, (4) suhu air hendaknya

dibawah sela udara (sejuk ± 250C), (5) air harus jernih. Syarat-syarat kekeruhan
7

dan warna harus dipenuhi oleh setiap jenis air minum dimana dilakukan

penyaringan dalam pengolahannya.

3.2.Syarat Kimia. Air minum tidak boleh mengandung racun, zat-zat

mineral atau zat-zat kimia tertentu dalam jumlah melampaui batas yang telah

ditentukan. Beberapa persyaratan kimia antara lain adalah pH, total solid, zat

organik, CO2 agresif, kesadahan, kalsium (Ca), besi (Fe), mangan (Mn), tembaga

(Cu), seng (Zn), chlorida (Cl), nitrit (NO3), fluorida (F), serta logam-logam berat.

3.3.Syarat Biologis. Air minum tidak boleh mengandung bakteri-bakteri

penyakit (patogen) sama sekali dan tidak boleh mengandung bakteri-bakteri

golongan Coli melebihi batas-batas yang telah ditentukan yaitu 1 coli/100 mL air.

Bakteri golongan Coli ini berasal dari usus besar (faeces) dan tanah. Bakteri

patogen yang mungkin ada dalam air antara lain : Bakteri typhsum, Vibrio

Colerae, bakteri dysentriae, Entamoeba hystolotica, bakteri enteritis (penyakit

perut)

3.4.Syarat Radiologis. Air minum tidak boleh mengandung zat yang

menghasilkan bahan-bahan yang mengandung radioaktif, seperti sinar alfa, beta

dan gamma (Sutrisno dan Suciastuti, 2010).

B. Sampah

1. Pengertian Sampah

Sampah adalah barang yang dianggap sudah tidak terpakai dan dibuang

oleh pemilik atau pemakai sebelumnya, tetapi bagi sebagian orang masih bisa

dipakai jika dikelola dengan prosedur yang benar (Panji Nugroho, 2013).
8

Menurut Suharto dalam buku Limbah Kimia (2011) mengatakan

pemerintah belum begitu serius dalam memikirkan masalah sampah ini. Meskipun

pemerintah sudah melakukan beberapa trobosan namun di beberapa tempat

pembuangan sementara (TPS) gunungan sampah masih sangat mengganggu

masyarakat dan masih menjadi perhatian, oleh sebab itu bila tidak ditangani

secara benar, maka akan menimbulkan dampak seperti pencemaran air, udara dan

tanah yang mengakibatkan sumber penyakit.

Berdasarkan SK SNI 19-2454 (2002:1), sampah adalah limbah yang padat

terdiri dari zat organik dan anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan terus

dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi

pembangunan.

Secara umum membuang sampah yang tidak memenuhi syarat kesehatan

dapat mengakibatkan tempat berkembang dan sarang dari serangga dan tikus

dapat menjadi sumber pengotor tanah, sumber pencemaran air/pemukiman atau

udara serta menjadi sumber dan tempat hidup kuman-kuman yang membahayakan

kesehatan (Wahid Iqbal dan Nurul C, 2009:277).

Sampah mempunyai potensi untuk menimbulkan pencemaran dan

menimbulkan masalah bagi kesehatan. Pencemaran dapat terjadi di udara sebagai

akibat dekomposisi sampah, dapat pula terjadi pencemaran air dan tanah yang

disebabkan oleh adanya leachate. Tumpukan sampah dapat menimbulkan kondisi

lingkungan fisik dan kimia menjadi tidak sesuai dengan kondisi normal. Hal ini

dapat disebabkan oleh kenaikan suhu dan perubahan pH tanah maupun air
9

menjadi terlalu asam atau basa. Tumpukan sampah dapat menjadi sarang atau

tempat berkembang biak dari berbagai faktor penyakit (Suhartini, 2008).

2. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah

Menurut SNI 03-3241-1994, tempat pembuangan akhir (TPA) sampah

adalah sarana fisik untuk berlangsungnya kegiatan pembuangan akhir sampah

berupa tempat yang digunakan untuk mengkarantina sampah kota secara aman.

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) merupakan tempat pembuangan

terakhir bagi sampah-sampah yang berada pada suatu wilayah tertentu. Tempat

Pembuangan Akhir (TPA) dapat disefinisikan sebagai tempat karantina sampah

atau menimbun sampah yang diangkut dari sumber sampah sehingga tidak

mengganggu lingkungan (Fitri, 2007).

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah selalu terjadi proses

dekomposisi sampah organik yang menghasilkan gas-gas dan cairan yang disebut

dengan air lindi. Air lindi mengandung bahan-bahan kimia dan organik maupun

anorganik dan bakteri baik bersifat patogen atau non patogen. Adanya air lindi

yang baik dikumpulkan dikolam penampung untuk dilanjutkan dialirkan ke sungai

setelah melalui beberapa kolam atau langsung meresap kedalam tanah, jelas akan

memepengaruhi keberadaan air sumur atau air penduduk yang ada disekitarnya.

Air lindi atau air sampah dapat didefinisikan sebagai cairan yang meresap ke

dalam limbah padat dan mengandung bahan-bahan terlarut dan tersuspensi. Air

lindi dapat bergerak ke bawah dari landfill masuk kemuka air tanah dan

menyebabkan air tanah tercemar (Kristadi, 2008).


10

C. Timbal (Pb)

1. Pengertian Logam Timbal

Istilah logam berat hanya ditujukan kepada logam yang mempunyai berat

jenis lebih dari 5 g/cm3, namun pada unsur-unsur metaloid yang mempunyai sifat

berbahaya juga dimasukkan ke dalam kelompok logam berat. Ada kurang lebih 40

jenis unsur yang termasuk ke dalam kriteria logam berat. Beberapa contoh logam

berat yang beracun bagi manusi adalah arsen (As), Kadmium (Cd), Tembaga

(Cu), Timbal (Pb), Merkuri (Hg), Nikel (Ni) dan Seng (Zn) (WHO, 2010; Sherly

Ridhowati, 2013).

Timbal (Pb) merupakan logam berat yang terbesar lebih luas di alam

dibandingkan logam toksik lain. Sumber pencemaran Pb dapat berasal dari tanah,

udara, air, hasil pertanian limbah pengolahan emas, industri rumah dan

percetakan. Sumber kontaminasi terbesar Pb di lingkungan adalah gas buangan

dari bensin beradiktif limbah untuk bahan bakar kendaraan bermotor dan limbah

industri. Sebagian besar Pb di akumulasi oleh organ tanaman seperti daun, batang,

akar dan akar umbi-umbian. Timbal masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan,

makanan dan minuman. Akumulasi Pb dalam tubuh menyebabkan gangguan dan

kerusakan pada saraf, hati, ginjal, tulang dan otak (Widaningrum, et al., 2007;

Dewi, 2011).

Pencemaran logam berat semakin meningkat sejalan dengan proses

meningkatnya industrialisasi. Pencemaran logam berat dalam lingkungan bisa

menimbulkan bahaya kesehatan baik pada manusia, hewan, tumbuhan maupun

lingkungan. Efek gangguan logam berat terhadap kesehatan manusia tergantung


11

pada bagian mana dari logam berat tersebut yang terikat dalam tubuh serta

besarnya dosis paparan. Efek toksik dari logam berat mampu menghalangi kerja

enzim sehingga mengganggu metabolisme tubuh (Agus Suyanto, et al., 2010;

Sukar, 2012).

Sumber utama kontaminan logam berat dalam bahan pangan

sesungguhnya berasal dari udara dan air yang mencemari tanah. Semua tanaman

yang tumbuh di atas tanah yang telah tercemar akan mengakumulasi logam-logam

tersebut pada semua bagian seperti akar, batang, daun dan buah. Ternak akan

memanen logam-logam berat yang ada pada tanaman dan menumpuknya pada

bagian daging-dagingnya, selanjutntya manusia yang termasuk ke dalam

kelompok omnivora (pemakan segalanya), akan tercemar logam tersebut dari

empat sumber utama, yaitu udara yang terhirup saat bernapas, air minum, tanaman

(berupa sayuran dan buah-buahan), serta ternak (berupa daging, telur, dan susu)

(Astawan. M, 2008).

2. Karakteristik dan Sifat Timbal

Timbal (Pb) merupakan salah satu jenis logam berat yang sering juga

disebut dengan istilah timah hitam, merupakan logam lunak berwarnaabu-abu

kebiruan mengkilat dan memiliki bilangan oksidasi +2. Timbal memiliki titik

lebur yang rendah yaitu 327,50C, mempunyai nomor atom 82 dengan berat atom

207,20, memiliki titik didih sebesar 1.7490C, memiliki massa jenis 11,34 g/cm3,

mudah dibentuk, memiliki sifat kimia yang aktif sehingga biasa digunakan untuk

melapisi logam agar tidak timbul perkaratan (Sunarya, 2007; Widowati, 2008).
12

Gambar 1. Logam Timbal (Pb) (Sunarya, 2007)

Palar (1994) mengungkapkan bahwa logam Pb pada suhu 500-6000C dapat

menguap dan membentuk oksigen di udara dalam bentuk timbal oksida (PbO).

Dibawah ini merupakan tabel yang menunjukkan beberapa sifat fisika yang

dimiliki timbal.

Tabel 1. Sifat-sifat Fisika Timbal (Pb) (Palar,1994)


Sifat Fisika Timbal Keterangan
Nomor atom 82
Densitas (g/cm3) 11.34
Titik lebur (0C) 327,46
Titik didih (0C) 1.749
Kalor peleburan (kJ/mol) 4,77
Kalor penguapan (kJ/mol) 179,5
Kapasitas pada 250C (J/mol.K) 26,65
Konduktivitas termal pada 300k (W/m.K) 35,5
Ekspansi termal 250C (µm/m.K) 28,9
Kekerasan (skala Brinell = Mpa) 38,6

Timbal (Pb) merupakan logam yang bersifat neurotoksin yang dapat

masuk dan terakumulasi dalam tubuh manusia maupun hewan, sehingga

bahayanya terhadap tubuh semakin meningkat (Kusnoputranto, 2006).

3. Toksisitas atau Dampak Logam Timbal (Pb)

Toksisitas logam berat sangat dipengaruhi oleh faktor fisika, kimia dan

biologi lingkungan. Beberapa kasus kondisi lingkungan tersebut dapat mengubah

laju absorbsi logam dan mengubah kondisi fisiologis yang mengakibatkan


13

berbahayanya pengaruh logam. Akumulasi logam berat Pb pada tubuh manusia

yang terjasi secara terus menerus dapat mengakibatkan anemia, kemandulan,

penyakit ginjal, kerusakan syaraf dan kematian. Timbal dalam bentuk anorganik

dan organik memiliki toksisitas yang sama pada manusia. Misalnya pada bentuk

organik seperti tetraetil-timbal dan tetrametil-timbal (TEL dan TML). Timbal

dalam tubuh dapat menghambat aktivitas kerja enzim. Namun yang paling

berbahaya adalah toksisitas timbal yang disebabkan oleh gangguan absorbsi

kalsium Ca. Hal ni menyebabkan terjadinya penarikan deposit timbal dari tulang

tersebut (Darmono, 2001).

Timbal adalah logam toksik yang bersifat kumulatif sehingga mekanisme

toksitasnya dibedakan menurut beberapa organ yang dipengaruhinya, yaitu (1)

sistem hemopoetik, timbal akan menghambat sistem pembentukan hemoglobin

sehingga menyebabkan anemia, (2) sistem saraf pusat dan tepi dapat

menyebabkan gangguan enselfalopati dan gejala gangguan saraf perifer, (3)

sistem ginjal dapat menyebabkan aminoasiduria, fostfaturia, gluksoria, nefropati,

fibrosis dan atrofi glomerular, (4) sistem gastro-intestinal dapat menyebabkan

kolik kan konstipasi, (5) sistem kardiovaskular menyebabkan peningkatan

permeabelitas kapiler pembuluh darah, (6) sistem reproduksi dapat menyebabkan

kematian janin pada wanita dan hipospermi dan teratospermia (Darmono, 2001).
14

D. Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)

1. Prinsip Dasar

Spektrofotometri serapan atom adalah suatu metode yang digunakan untuk

mendeteksi atom-atom logam fase gas. Metode ini seringkali mengendalkan nyala

untuk mengubah logam dalam larutan sampel menjadi atom-atom logam

berbentuk gas yang digunakan untuk analisis kuantitatif dari logam dalam sampel

(Rohman, 2007).

Spektrokopi serapan atom digunakan untuk analisis kuantitatif unsur-unsur

logam dalam jumlah sekelumit (trace) dan sangat kelumit (ultratrace). Cara

analisis ini memberikan kadar total unsur logam dalam suatu sampel dan tidak

tergantung pada bentuk molekul dari logam dalam sampel tersebut. Cara ini cocok

untuk analisis sekelumit logam karena mempunyai kepekaan yang tinggi (batas

deteksi kurang dari 1 ppm), pelaksanaannya relatif sederhana dan interferensinya

sedikit. Spektrofotometri serapan atom didasarkan pada penyerapan energi sinar

oleh atom-atom netral dalam bentuk gas (Rohman, 2007).

Proses yang terjadi ketika dilakukan analisis dengan menggunakan

spektrofotometri atom dengan cara absorbsi yaitu penyerapan energi radiasi oleh

atom-atom yang berada pada tingkat dasar. Atom-atom tersebut menyerap radiasi

pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat atom tersebut. Sebagai

contoh plumbum menyerap radiasi pada panjang gelombang 283,3 nm, kadmium

pada 228,8 nm, magnesium pada 285,2 nm, natrium pada 589 nm, sementara

kalium menyerap pada panjang gelombang 766,5 nm. Dengan menyerap energi,
15

maka atom akan memperoleh energi sehingga suatu atom pada keadaan dasar

dapat ditingkatkan ke tingkat eksitasi (Rohman, 2007).

2. Analisis Kuantitatif

Apabila cahaya dengan panjang gelombang tertentu dilewatkan pada suatu

sel yang mengandung atom-atom bebas yang bersangkutan maka sebagian cahaya

tersebut akan diserap dan intensitas penyerapan akan berbanding lurus dengan

banyaknya atom bebas logam yang berada pada sel. Hubungan antara absorbansi

dengan konsentrasi diturunkan dari:

Hukum Lambert : bila suatu sumber sinar monkromatik melewati medium

transparan, maka intensitas sinar yang diteruskan berkurang dengan bertambahnya

ketebalan medium yang mengabsorbsi.

Hukum Beer : Intensitas sinar yang diteruskan berkurang secara eksponensial

dengan bertambahnya konsentrasi spesi yang menyerap sinar tersebut. Dari kedua

hukum tersebut diperoleh suatu persamaan:

A =ε.b.c

Dimana: ε = absortivitas molar

b = panjang medium

c = konsentrasiatom-atom yang menyerap sinar

A = absorbansi

Dari persamaan di atas, dapat disimpulkan bahwa absorbansi cahaya

berbanding lurus dengan konsentrasi atom (Day & Underwood, 2002).


16

3. Instrumentasi Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)

Adapun instrumentasi spektrofotometri serapan atom adalah sebagai

berikut (Rohman, 2007):

3.1.Sumber Radiasi. Sumber radiasi yang digunakan adalah lampu katoda

berongga (hallow cathoda lamp). Lampu ini terdiri atas tabung kaca tertutup yag

mengandung suatu katoda dan anoda. Katoda berbentuk silinder berongga yang

dilapisi dengan logam tertentu.

3.2.Tempat Sampel. Dalam analisis dengan spektrofotometri serapan

atom, sampel yang akan dianalisis harus diuraikan menjadi atom-atom netral yang

masih dalam keadaan azas. Ada berbagai macam alat yang digunakan untuk

mengubah sampel menjadi uap atom-atomnya, yaitu:

3.2.1.Dengan nyala (Flame). Nyala digunakan untuk mengubah

sampel yang berupa cair menjadi bentuk uap atomnya dan untuk proses atomisasi.

Suhu yang dapat dicapai oleh nyala tergantung pada gas yang digunakan,

misalnya untuk gas asetilen-udara suhunya sebesar 2.2000C. Sumber nyala

asetilen-udara ini merupakan sumber nyala yang paling banyak digunaka. Pada

sumber nyala ini asetilen sebagai bahan pembakar, sedangkan udara sebagai

bahan pengoksidasi. Pemilihan macam bahan pembakar dan gas pengoksidasi

serta komposisi perbandingannya sangat mempengaruhi suhu nyala. Pada

umumnya nyala dari gas asetilen-nitro oksidasi menunjukkan emisi latar belakang

yang kuat. Efek emisi nyala dapat dikurangi dengan menggunakan keping

pemotong radiasi.
17

3.2.2.Tanpa nyala (Flameless). Pengatoman dilakukan dalam tungku

dari grafit. Sejumlah sampel diambil sedikit (hanya beberapa µL), lalu diletakkan

dalam tabung grafit, kemudian tabung tersebut dipanaskan dengan sistem elektris

dengan cara melewatkan arus listrik pada grafit. Akibat pemanasan ini, maka zat

yang akan dianalisis berubah menjadi atom-atom netral dan pada fraksi atom ini

dilewatkan suatu sinar yang berasal dari lampu katoda berongga sehingga

terjadilah proses penyerapan energi sinar yang memenuhi kaidah analisis

kuantitatif.

3.3.Monokromator. Monokromator merupakan alat untuk memisahkan

dan memilih spektrum sesuai dengan panjang gelombang yang digunakan dalam

analisis dari sekian banyak spektrum yang dihasilkan lampu katoda berongga.

3.4.Detektor. Detektor digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang

melalui tempat pengatoman. Detektor yang umum digunakan adalah tabung

pengganda foton atau photomultiplier tube.

3.5.Amplifier. Amplifer merupakan suatu alat untuk memperkuat signal

yang diterima dari detektor sehingga dapat dibaca alat pencatat hasil (Readout).

3.6.Readout. Readout merupakan suatu alat penunjuk atau dapat juga

diartikan sebagai pencatat hasil. Pencatatan hasil dilakukan dengan suatu alat

yang telah terkalibrasi untuk pembacaan suatu transmisi atau absorpsi. Hasil

pembacaan dapat berupa angka atau berupa kurva yang menggambarkan

absorbansi atau intensitas emisi.


18

Gambar 2. Skema Instrumentasi Spektrofotometri Serapan Atom (Rohman, 2007)

E. Validasi Metode Uji

Validasi metode merupakan penilaian terhadap parameter tertentu,

berdasarkan percobaan laboratorium, untuk membuktikan bahwa parameter

tersebut memenuhi persyaratan untuk penggunaannya. Validasi metode analisis

digunakan untuk mengkonfirmasi atau membuktikan bahwa metode yang

digunakan dalam suatu penelitian memenuhi persyaratan sehingga dapat

dinyatakan bahwa data yang diperoleh selama penelitian merupakan hasil yang

baik dan dapat dipercaya. Parameter validasi metode yang sering digunakan dalam

analisis antara lain :

1. Akurasi

Akurasi adalah suatu kedekatan atau kesesuaian antara hasil suatu

pengukuran dan nilai benar dari kuantitas yang diukur atau suatu pengukuran

posisi yaitu seberapa dekat hasil pengukuran dengan nilai benar yang

diperkirakan. Menurut akurasi dinyatakan sebagai persen perolehan kembali

(recovery) analit yang ditambahkan. Persen perolehan kembali dapat ditentukan

denganpersamaan berikut:
19

% Recovery = x 100 %

Keterangan : Mean = Nilai rata–rata

Spike Level = KonsentrasiReference Material (larutan yang

telah diketahui konsentrasinya)

2. Presisi

Keseksamaan atau presisi diukur sebagai simpangan baku atau simpangan

baku relatif (koefisien variasi). Presisi merupakan ukuran derajat keterulangan

dari metode analisis yang memberikan hasil yang sama pada beberapa perulangan.

Presisi dinyatakan sebagai Relative Standar Deviation (RSD) dan limit ( r ).

Penentuan simpangan baku (SD) dan simpangan baku relatif (RSD) dilakukan

pada pengukuran sampel dengan pengulangan sebanyak 3 kali. RSD ditentukan

dari hasil replikasi pengujian dibawah kondisi yang ditentukan sedangkan limit

mewakili maksimum toleransi terhadap perbedaan antar duplikasi pada tingkat

probalitas tertentu. RSD dan limit dinyatakan melalui persamaan sebagai berikut :

RSD = X100%

Limit = 2.772 x SD

Keterangan : SD = Simpangan baku dari sampel

M = Nilai rata-rata

3. Linearitas

Linearitas adalah kemampuan suatu metode untuk memperoleh hasil-hasil

uji yang secara langsung proporsional dengan konsentrasi analit pada kisaran yang

diberikan. Pada metode linieritas ada beberapa parameter statistik yaitu koefisien

korelasi, residual plot dan residual standar deviasi. Linearitas suatu metode adalah
20

ukuran seberapa baik kurva kalibrasi yang menghubungkan antara respon (y) dan

konsentrsi (x) dengan persamaan y = a + bx. Hubungan linear yang dikatakan

ideal dapat dicapai jika nilai b = 0 dan r = +1 atau-1 yang bergantung pada arah

garis. Sedangkan nilai a menunjukkan kepekaan analisis terutama instrumen yang

digunakan. Nilai koefisien korelasi yang memenuhi persyaratan adalah sebesar≥

0,9970 (ICH, 1995), ≥ 0,97 (SNI) atau≥ 0,9980.

4. Limit of Detection (LOD) dan Limit of Quantification (LOQ)

Limit of Detection atau batas deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam

sampel yang dapat dideteksi yang masih memberikan respon signifikan. Batas

deteksi didefinisikan sebagai konsentrasi unsur dalam mg/L, yang memberikan

pembacaan sebanding dengan 3 kali deviasi standar dari serapan yang diukur pada

kondisi blanko. Batas deteksi dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan

berikut:

LOD = 3 x SD

Keterangan : LOD : Limit deteksi

SD : Simpangan baku

Menurut WHO (1992), Limitof Quantification atau batas kuantifikasi

diartikan sebagaiparameter pada analisis sekelumit yang diartikan sebagai

kuantitasi terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria

cermat dan seksama. Untuk penentuan limit kuantifikasi dapat digunakan rumus :

LOQ = 10 x SD

Keterangan : LOQ : Limit kuantifikasi

SD : Simpangan baku respon analitik dari blanko


21

F. Landasan Teori

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja

Perkantoran dan Industri terdapat pengertian mengenai air bersih yaitu air yang

digunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan

kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku

dan dapat diminum apabila dimasak.

Sampah mempunyai potensi untuk menimbulkan pencemaran dan

menimbulkan masalah bagi kesehatan. Tumpukan sampah dapat menimbulkan

kondisi lingkungan fisik dan kimia menjadi tidak sesuai dengan kondisi normal,

hal ini dapat disebabkan oleh kenaikan suhu dan perubahan pH tanah maupun air

menjadi terlalu asam atau basa. Tumpukan sampah tersebut dapat menjadi sarang

atau tempat berkembang biak dari berbagai faktor penyakit (Suhartini, 2008).

Air sumur yang ada disekitar TPA sampah dijadikan sumber mata air

utama bagi penduduk disekitarnya, karena untuk memenuhi segala kebutuhan

hidup sehari-hari air yang digunakan adalah air sumur dan tidak ada mata air

lainnya selain air sumur yang ada disekitar TPA. Air yang digunakan sebagai

kebutuhan sehari-hari masyarakat Mojosongo, Surakarta harus memiliki

kelayakan konsumsi bagi masyarakat disekitar TPA, sehingga harus dilakukan

analisis kandungan air secara kimia, fisika dan biologi untuk melihat kelayakan

air untuk dikonsumsi oleh masyarakat Mojosongo, Surakarta.

Perubahan kualitas air sumur dapat dipengaruhi oleh air lindi. Air lindi

merupakan air rembesan yang masuk kedalam air sumur melalui sumber yang ada
22

di dalam tanah atau cairan yang meresap kedalam tanah dari limbah padat atau

sampah yang ada di TPA mengandung bahan-bahan terlarut dan tersuspensi,

sehingga dapat mengkontaminasi kelayakan air yang ada didalam sumur. Air lindi

dapat bergerak ke bawah dari landfill masuk kemuka air tanah dan menyebabkan

air tanah tercemar dan dapat mengakibatkan berbagai penyakit (Kristadi, 2008).

Timbal (Pb) merupakan salah satu jenis logam berat yang sering juga

disebut dengan istilah timah hitam. Timbal memiliki titik lebur yang rendah,

mudah dibentuk, memiliki sifat kimia yang aktif sehingga biasa digunakan untuk

melapisi logam agar tidak timbul perkaratan. Timbal adalah logam yang lunak

berwarna abu-abu kebiruan mengkilat dan memiliki bilangan oksidasi +2

(Sunarya, 2007). Timbal (Pb) merupakan logam berat yang terbesar lebih luas di

alam dibandingkan logam toksik lain. Sumber pencemaran Pb dapat berasal dari

tanah, udara, air, hasil pertanian limbah pengolahan emas, industri rumah dan

percetakan. Sumber kontaminasi terbesar Pb di lingkungan adalah gas buangan

dari bensin beradiktif limbah untuk bahan bakar kendaraan bermotor dan limbah

industri. Akumulasi Pb dalam tubuh menyebabkan gangguan dan kerusakan pada

saraf, hati, ginjal, tulang dan otak (Widaningrum, et al., 2007; Dewi, 2011).

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 32 tahun 2017, menyatakan bahwa

kadar maksimal cemaran logam berat timbal (Pb) dalam air untuk keperluan

higiene sanitasi sebagai air baku air minum yaitu sebesar 0,05 mg/L (ppm).

Spektrofotometri serapan atom adalah suatu metode yang digunakan untuk

mendeteksi atom-atom logam fase gas. Metode ini seringkali mengandalkan nyala

untuk mengubah logam dalam larutan sampel menjadi atom-atom logam


23

berbentuk gas yang digunakan untuk analisis kuantitatif dari logam dalam sampel.

Metode spektrofotometri serapan atom berdasarkan pada prinsip absorpsi cahaya

oleh atom. Atom-atom akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu,

tergantung pada sifat unsurnya. Spektrofotometri serapan atom mempunyai

komponen-komponen utama, yaitu sumber radiasi, tempat sampel,

monokromator, detektor, amplifer dan readout (Rohman, 2007).

G. Hipotesis

Berdasarkan permasalahan yang ada dapat disusun suatu hipotesis dalam

penelitian ini bahwa:

1. Air sumur di sekitar TPA Putri Cempo Mojosongo mengandung logam berat

timbal (Pb).

2. Kadar logam berat timbal (Pb) dalam air sumur di sekitar TPA Putri Cempo

Mojosongo memenuhi syarat berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI

No.32 tahun 2017.

3. Ada perbedaan kadar logam timbal (Pb) dalam setiap jaraknya dan dapat

ditentukan kadarnya dengan metode spektrofotometri serapan atom (SSA)

karena adanya cemaran logam berat di dalam air sumur tersebut.