Anda di halaman 1dari 9

Vol 2, No.

1 (2017)

KAJIAN FEMINISME CERPEN PASIEN


KARYA DJENAR MAHESA AYU DAN IMPLIKASINYA
TERHADAP PENGAJARAN SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH

Zulfardi. D
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
FKIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat
Email: zulfardidarussalam64@yahoo.com
Submitted :13-10-2016, Reviewed:23-11-2016, Accepted:20-04-2015
http://dx.doi.org/10.22216/jcc.2017.v2i1.1461

ABSTRACK
This research used to use socialistfeminism approach with descriptive qualitative method wich described
the social phenomena in a short story Pasien by Djenar Mahesa Ayu. These phenomena are break down
the patriarchal understanding of woman as mere objekct in interaction witch the male. The finding show
that atad feminism woman has the right to declare his existence in accordance with individualism and
women should bi able to find subjectivity it self.
Keyword: socialist feminismeapproach.

ABSTRAK
Penelitian ini menggunakan menggunakan pendekatan socialistfeminism dengan metode
deskriptif kualitatif dipilih menggambarkan fenomena sosial dalam sebuah cerita pendek Pasien
dengan Djenar Mahesa Ayu.Fenomena ini memecah pemahaman patriarkal perempuan hanya
sebagai objekct dalam interaksi penyihir laki-laki.Temuan menunjukkan bahwa atad feminisme
wanita memiliki hak untuk menyatakan keberadaannya sesuai dengan individualisme dan
perempuan harus bi dapat menemukan subjektivitas itu sendiri.
Kata Kunci: pendekatan feminism sosialis

PENDAHULUAN Asumsi yang berkaitan dengan wanita


selalu menarik untuk dibicarakan dalam
Karya sastra yang baik adalah yang mampu
kerangka kebudayaan kontemporer. Dua sisi
menggambarkan berbagai pengalaman hidup
kehidupan wanita membuat permasalahan
manusia baik secara perorangan maupun
tentang wanita tidak pernah kering untuk
dalam bentuk dimensi sosial.Hal ini sesuai
dibicarakan. Sisi wanita yang identik dengan
dengan fungsi kehadiran karya sastra tersebut
keindahan, dan sisi wanita yang juga
sebagai gambaran fenomena kehidupan.
dianggap sebagai makhluk yang lemah sering
Berbagai masalah kehidupan termasuk dunia
dijadikan alasan oleh pengarang untuk
wanita yang di dalamnya timbul reaksi dari
mengeksploitasi wanita .
segala peristiwa luar dengan wujud yang
Sikapnya yang lembut dan pasif
llebih leluasa, sehingga gambaran diri wanita,
menyebabkan perempuan sering dianggap
pemikiran, perilaku dan perasaannya.

Jurnal Curricula Kopertis Wilayah X 29


Vol 2, No. 1 (2017)

rendah derajatnya dari laki-laki.Keberadaan Ratna (2004:191)mengatakan bahwa


pelacur lebih ditentang dan dianggap sampah pekerjaan wanita selalu dikaitkan dengan
bila dibandingkan dengan gigolo, pada hal memelihara, pria selalu dikaitkan dengan
keduanya itu sama-sama komonitas bekerja.Pria memiliki kekuatan untuk
amoral.Dalam budaya patriarchi perempuan menaklukkan, mengadakan ekspansi, dan
menempati posisi inferior sedangkan laki-laki bersifat agresif. Perbedaan fisik yang diterima
di tempat superior.Perempuan lebih sering sejak lahir kemudian diperkuat dengan
dipandang sebagai objek ketimbang subyek. hegemoni struktur kebudayaan, adat-istiadat,
Dalam karya sastra, pornografi dan kekerasan tradisi, pendidikan, dan sebagainya
sering menempatkan perempuan sebagai memunculkan feminisme yang menuntut
korban. kesetaraan gender antara laki-laki dan
Salah satu produk sastra yang perempuan.
berbicara tentang masalah feminisme adalah Teori feminis menjelaskan bahwa
cerpen Pasien karya Djenar Mahesa Ayu. tuntutan perempuan bukan terhadap
Tokoh perempuan dalam cerpen ini memiliki persamaan biologis tetapi lebih kepada
ide-ide feminis. Cerpen yang dikarang oleh kesadaran kultural yang selalu memarginalkan
tokoh feminis yang dalam karyanya selalu perempuan dapat diubah sehingga terbentuk
memunculkan sosok perempuan sebagai keseimbangan yang dinamis.
penggerak, perempuan sebagai subyek yang Dalam ilmu sastra feminisme
pantas disetarakan kedudukannya dengan laki- berhubungan dengan konsep kritik sastra
laki. Tokoh “saya” dan juga sebagai ”ia”selalu feminis.Yaitu studi sastra yang mengarahkan
mempertanyakan tentang paradigma fokus analisis kepada masalah wanita.Ada
masyarakat bahwa perempuan selalu pandangan yang mengatakan bahwa
dikorbankan dalam tindak pemerkosaan. pengkritik dan pembaca laki-laki belum
Mengapa si laki-laki sebagai pemerkosa dapat mampu menafsirkan dan menilai dengan tepat
menikmati hidup bebas, nyaman tanpa tulisan pengarang wanita (Santosa, 2009, 47-
tekanan.Berdasarkan hal di atas maka dalam 56) .Terutama karena mereka pada umumnya
penelitian ini ditetapkan fokus penelitian tidak mengenal tulisan pengarang wanita.
adalah analisis cerpen Pasien karya Djenar Berbagai ragam kritik sastra feministelah
Mahesa Ayu dengan menggunakan kajian dilakukan oleh para ahli. Untuk kepentingan
feminisme. penelitian ini digunakan pendekatan feminis
Teori feminisme tidak terlepas dengan sosialis, atau disebut juga dengan feminis
istilah gender dan emansipasi. Feminisme marxis yang memandang kaum wanita
melahirkan gender sebagai wacana diskursus merupakan kelas masyarakat yang tertidas.
yang membedakan hak dan kewajiban antara Fakih ( dalam Suharto, 2013 :12)
laki-laki dan perempuan berdasarkan jenis berpendapat bahwa perbedaan gender
kelamin.(Ramadhan dalam Alka, 2005).Secara sesungguhnya tidak menjadi masalah
sosiologis gender merupakan konstruksi sosial sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan
yang oleh masyarakat tradisional-patriarkhi gender. Namun, pada praktiknya perbedaan
dibentuk untuk membedakan laki-laki dan gender telah melahirkan ketidakadilan gender
perempuan. Munculnya istilah gender bagiterutama bagi kaum perempuan.Terkait
digunakan untuk mereduksi feminitas dan dengan teori tersebut berbagai permasalahan
maskulinitas sebagai batasan yang sama yang muncul akibat ketidakadilan gender bagi
dengan satu jenis kelamin pada individu. perempuan adalah marginalisasi, subordinasi,
Peran gender adalah peran yang dibuat oleh pelabelan, kekerasan, dan beban kerja.Hal-hal
masyarakat untuk laki-laki dan perempuan.

Jurnal Curricula Kopertis Wilayah X 30


Vol 2, No. 1 (2017)

di atas melatarbelakangi munculnya gerakan dilakukan berbagai cara, selain karena


feminis. memang materi yang dipelajari secara
Gerakan feminis muncul akibat langsung terkait dengan kondisi faktual, juga
tumpang tindihnya makna yang tidak bisa disiasati dengan pemberian ilustrasi atau
dipahami secara baik oleh masyarakat, antara contoh, sumber belajar, media, dan lain
gender dan jenis kelamin (Darusalam, 221- sebagainya, yang memang baik secara
223: 2016).Kaum feminis menolak pandangan langsung maupun tidak diupayakan terkait
bahwa ketidaksetaraan antara laki-laki dan atau ada hubungan dengan pengalaman hidup
perempuan bersifat alamiah dan tak nyata. Dengan demikian, pembelajaran selain
terelakkan.Ada stereotype perempuan dan akan lebih menarik, juga akan dirasakan
laki-laki disebabkan oleh pandangan yang sangat dibutuhkan oleh setiap siswa karena
salah kaprah terhadap jenis kelamin dan apa yang dipelajari dirasakan langsung
gender. Sesungguhnya, jenis kelamin adalah manfaatnya.Bentuk pembelajaran sastra
pembagian jenis laki-laki dan perempuan tersebut sesuai dengan pendekatan
berdasarkan perbedaan biologisnya, misalnya kontekstual.
laki-laki mempunyai penis, kalamenjing dan Pembelajaran kontekstual (contextual
memproduksi sperma, sedangkan perempuan teaching and learning) merupakan konsep
memilki vagina, rahim, alat menyusui, serta belajar yang dapat membantu guru mengaitkan
memproduksi sel telur. Adapun gender adalah antara materi yang diajarkannya dengan situasi
suatu sifat yang melekat pada laki-laki dan dunia nyata siswa dan mendorong siswa
perempuan yang dikonstruksi secara sosial membuat hubungan antara pengetahuan yang
budaya, misalnya laki-laki dianggap kuat, dimilikinya dengan penerapannya dalam
jantan, perkasa, dan rasional, sedangkan kehidupan mereka sebagai anggota keluarga
perempuan dianggap lembut, cantik, keibuan, dan masyarakat (Nurhadi, 2002).Untuk
dan irasional. memperkuat dimilikinya pengalaman belajar
Pembelajaran sastra Indonesia yang yang aplikatif bagi siswa, tentu saja diperlukan
inovatif dan kreatif adalah prosedur atau pembelajaran yang lebih banyak memberikan
tahap-tahap kegiatan belajar-mengajar karya kesempatan kepada siswa untuk melakukan,
sastra dengan kreasibaru dalam mencoba, dan mengalami sendiri (learning to
mengembangkan kemampuan daya cipta yang do), dan bukan sekadar pendengar yang pasif
dilakukan oleh siswa dan guru.Penekanan sebagaimana penerima terhadap semua
dilakukan pada kondisi belajar sastra untuk informasi yang disampaikan guru. Oleh sebab
mencapai kompetensi dasar yang ditentukan itu, melalui pembelajaran kontekstual,
dengan pembelajaran berpusat pada siswa mengajar bukan transformasi pengetahuan dari
dalam menuangkan gagasan atau melahirkan guru kepada siswa dengan menghafal
daya cipta berdasarkan pikiran dan perasaan sejumlah konsep-konsep yang sepertinya
dalam bentuk lisan maupun tulisan. terlepas dari kehidupan nyata, akan tetapi
Pembelajaran sastra yang disajikan lebih ditekankan pada upaya memfasilitasi
tidak hanya difokuskan pada pemberian siswa untuk mencari kemampuan untuk bisa
pembekalan kemampuan pengetahuan yang hidup (life skill) dari apa yang dipelajarinya.
bersifat teoretis, akan tetapi pengalaman Dengan demikian, pembelajaran akan lebih
belajar yang dimiliki siswa itu senantiasa bermakna, sekolah lebih dekat dengan
terkait dengan permasalahan aktual yang lingkungan masyarakat (bukan dekat dari segi
terjadi di lingkungannya. Setiap materi fisik), akan tetapi secara fungsional apa yang
pembelajaran dikaitkan dengan dengan dipelajari di sekolah senantiasa bersentuhan
kehidupan nyata. Untuk mengaitkannya bisa dengan situasi dan permasalahan kehidupan

Jurnal Curricula Kopertis Wilayah X 31


Vol 2, No. 1 (2017)

yang terjadi di lingkungannya (keluarga dan psikiater, tokoh saya bersikap menjadi
masyarakat) pendengar yang baik saat tokoh “ia”
berkonsultasi. Tokoh saya siap membantu
METODE menyelesaikan segala permasalahan yang
Pendekatan yang digunakan dalam menimpa pasiennya, tak terkecuali si “ia”
penelitian ini adalah feminisme sosialis yang “Mungkin saya terlalu ambisius, saya
dibantu dengan teori sosiologi sastra.Jenis selalu ingin cepat membantu mereka
enelitian ini adalah kualitatif dengan keluar dari masalahnya.Saya tahu,
menggunakan metode deskriptif. Data yang mereka hanya ingin di dengar.Dan
digunakan adalah data teks yang berhubungan saya adalah pendengar yang baik.
dengan aspek feminism yang bersumber dari Yang saya lakukan hanyalah bersikap
cerpen Pasien karya Djenar Mahesa Ayu. Data jadi pendengar, dan sesekali dengan
diinventarisasi, setelah itu direduksi.Hasil cara tersamar, memberinya wejangan.
reduksi data diklasifikasikan berdasarkan Ia sama sekali tidak boleh sampai
aspek feminisme.Hasil klasifikasi data merasa dipojokkan. Ia harus merasa
dianalisis berdasarkan teori femisnme dan nyaman. Ia harus mendapat
sosiologi sastra.Hasil analisis dukungan”
diinterpretasikan.
Pada kutipaan di atas pengarang
HASIL DAN PEMBAHASAN mengisahkan seorang wanita yang menjadi
Cerpen Pasien Djenar Mahesa Ayu korban pelecehan seksual yang harus
bercerita tentang feminisme tokoh “saya.” Di menanggung derita seumur
dalamnya dikisahkan penderitaan seorang hidupnya.Feminisme yang disampaikan dalam
wanita yang mengalami kekalahan akibat aspek ini adalah penceritaan yang dikemas
trauma yang menimpa dirinya semasa kanak- secara vulgar dan menonjolkan unsur
kanak. Tokoh wanita yang diperankan oleh seksualitas dalam kemasan feminis.Pengarang
“saya” adalah korban pemerkosaan.Setelah memandang bahwa wanita juga memiliki hak
besar dia bekerja sebagai seorang atas eksploitasi seks, libodo, hasrat atau
psikiater.Tokoh “saya” yang trauma dengan bahkan hanya merupakan bentuk pelampiasan
masa lalunya menjadi kuat karena dia kekesalan, yang selama ini didominasi oleh
ditempatkan sebagai subjek yang bercerita. kaum laki-laki.Hal ini dapat ditemukan pada
Ada dua tokoh “saya” dan “ia”. Di awal cerita kutipan berikut.
seakan-akan keduanya berbeda tetapi pada
hakikatnya dia adalah satu orang. “Saya benci bau rokok di badannya.
Cerpen Pasien adalah cerita tentang Saya benci bau alkohol yang ia
wanita oleh wanita.Konflik berada di akhir sendawakan ke hidung saya. Saya
cerita, sebab di sini terdapat kebenaran dan benci aroma parfum laki-laki berganti-
sekaligus puncak cerita yang memberi sugestif ganti melekat di sekujur tubuhnya.
kepada pembaca. Akan timbul kesan tersendiri Sepertinya ia tak pernah mandi setiap
bagi pembaca bahwa sang korban tak lain kali selesai meniduri mereka”
adalah dirinya sendiri yang sedang bercerita
kepada pembaca. Pada kutipan di atas jelas bahwa unsur
Tokoh saya yang berprofesi sebagai feminisme pengarang sekaligus sebagai tokoh
seorang psikiater menerima seorang pasien berusaha mengubah pandangan pembaca
“ia” yang mengalami korban pelecehan (masyarakat) tentang paradigma bahwa selama
seksual di usia masih belia. Sebagai seorang ini hanya laki-laki yang pantas untuk berganti-

Jurnal Curricula Kopertis Wilayah X 32


Vol 2, No. 1 (2017)

ganti pasangan.Teks menggambarkan bahwa menghadapinya. Ia akan berperang


melalui tokoh “ia” seorang wanita pun dengan cara yang anggun, katanya.”
sanggup untuk berganti-ganti pasangan tanpa
beban.Pantas pula untuk merokok dan minum Berdasarkan kutipan tersebut jelaslah
alcohol sebagai simbol kebebasan laki- bahwa tokoh “ia” adalah wanita yang kuat.Ia
laki.Teks menggambarkan bahwa tokoh “ia” mau menerima tawaran menjadi pembicara di
menjadi subyek yang mengendalikan laki-laki satu forum bersama dengan laki-laki yang
melalui kebiasannya berganti-ganti teman telah memperkosanya. Hal tersebut secara
tidur sebagai bentuk pelampiasan amarah dan psikologi gender tidak mungkin dilakukan
dendam. oleh perempuan sembarangan saja. Tokoh
adalah perempuan yang memiliki karakter dan
“ia hanya butuh melampiaskan berfikir analitik.Menurut dia musuh harus
amarah. Ia hanya berusaha dihadapi dengan bijak.Tanpa kekerasan dan
menghadapi ketakutan pada tiap detail bersikap lembut dan dewasa.
persetubuhan. Masuk ke titik
traumanya.Mencoba menikmatinya Memalui cerpen Pasien pengarang
dengan menindas mereka.” pada hakikatnya ingin mengungkapkan
pendapat dan pandangannya tentang segala
Secara sosiologis, dibalik yang menjadi keresahannya selama ini yang
keterpurukannya akibat pelecehan seksual juga dirasakan oleh semua wanita pada
yang dialaminya, tokoh “ia” juga umumnya. Pengarang melalui tokoh “saya”
digambarkan sebagai wanita yang tangguh. dan “ia”memepranyakan tentang paradigma
”Ia” mampu disejajarkan dengan laki-laki di yang dianut masyarakat. Korban pemerkosaan
berbagai forum dan kegiatan atau pelecehan seksual terhadap perempuan
kemasyarakatan.“Ia” memiliki kemampuan adalah aib, dan selamanya akan menjadi aib,
korespondensi yang tidak biasa dilakukan oleh tetapi laki-laki sebagai pelaku terhadap
perempuan lainpada umumnya. Teks secara pelecehan tersebut yang dari satu penyebab
tak langsung menggambarkan analogi terjadinya hal tersebut bebas bertindak dan
pengarang bahwa seorang wanita yang pernah ditoleransi oleh masyarakatnya.Hal tersebut
rusak fisik maupun mentalnya akibat ditemukan dalam kutipan teks di bawah ini.
pelecehan seksual oleh kaum laki-laki pun
dapat bangkit,kuat dan memiliki karakter “Kadang saya sulit bisa menerima
yang baik. bagaimana bisa manusia–manusia
biadab seperti itu masih bisa
“Ia selalu terlihat dan dikenal sebagai menghirup udara segar kebebasan.
perempuan kuat. Cara bicaranya yang Mendapat posisi layak di tengah
lugas di depan forum, goresan kuasnya masyarakat.Seperti makhluk yang
yang tidak biasa dilakukan oleh selama ini menteror perempuan itu.
perempuan umum, sama sekali tidak Bagaimana bisa ia dengan begitu
mengesankan kalau dia itu lemah. tenang melenggang sementara
Kemaren ia datang dan bverbicara korbannya terus menerus menjadi
kepada saya dengan mantap. Ia korban?Ia tidak hanya satu kali
mendapat tawaran sebagai pembicara menjadi korban. Namun berkali-
sebuah forum bersama dengan si kali.Reaksi dari kejadian traumatis itu
keparat pemerkosanya itu, dan ia telah membuatnya jadi bulan-bulanan
menerimanya. Ia akan

Jurnal Curricula Kopertis Wilayah X 33


Vol 2, No. 1 (2017)

masyarakat.Ia adalah korban seumur ditempatkan pada persoalan perempauan yang


hidup.” mengalami ketidakadilan dan penindasan.
Kurangnya perlindungan hukum untuk
Di akhir cerita digambarkan bahwa menangani masalah kekerasan seksual,
tokoh “saya” dan tokoh “ia” pada dasarnya ataupun norma masyarakat yang membatasi
adalah satu orang.Ia yang adalah korban hak-hak seksual perempuan. Dalam cerpen
pemerkosaan tak lain adalah saya yang ketika Pasien juga digambarkan konflik batin
dewasa berprofesi sebagai psikiater yang perempuan tentang masalah seks yang
mencoba menyelesaikan permasahan yang menjadikan mereka dimarjinalkan, dan juga
diderita oleh”ia.” “Saya menceritakan “ia” norma masyarakat yang tidak mereka setujui.
dengan segala permasalahannya kepada
pembaca. “Saya” bercerita seakan-akan antara Cerpen Pasien ingin mendobrak
“saya” dan “ia” sedang duduk berhadapan paham yang selama ini kedudukan dan posisi
anatara pasien dengan dokternya yang perempuan berada di bawah laki-laki, karena
memberi solusi psikologis terhadap bercermin dari awal penciptaan perempuan
permasalahan pelik yang menimpa dari tulang rusuk nabi Adam.Hasil yang sangat
pasiennya.Akan tetapi, di akhir cerita menonjol dalam cerpen Pasien adalah kuatnya
disebutkan bahwa saya sedang bercermin. ideologi feminisme. Adanya penolakan
terhadap cara pandang patriarkhis yang terasa
“Tiba-tiba terdengar suara sekretaris sangat menonjol dan mencapai tahap
lewat intercom memecah hening yang pemikiran yang mendasar. Dalam
kalut. Pasien saya sudah datang, kenyataannya kalau ada seorang perempuan
katanya.Saya menarik nafas lega.b tidur dengan banyak laki-laki maka yang
Mengambil langkah seribu.Bergegas terjadi adalah anggapan adanya upaya
menuju pintu.Menyingkir dari cermin merendahkan tubuh perempuan di dalam
yang membisu.” lingkungan sosialnya. Berbeda dengan
keadaan kaum laki-laki yang tidak pernah
Bayangan yang ada di hadapannya terusik karena dalam kenyataannya tidak
selama saya sedang bercermin yang pernah terpikirkan atau memang sengaja tidak
dianggapnya sebagai pasien yang dalam teks dipikirkan tentang kenapa laki-laki
cerita sebagai tokoh “ia”pada hakikatnya dalah mempunyai keleluasaan untuk bersetubuh
dirinya sendiri. dengan banyak perempuan .
Cerpen ini mengemukakan persoalan-
Cerpen ini secara utuh bercerita persoalan pergaulan, realitas kehidupan masa
tantang persoalan perempuan dengan kini, dan mengenai perjuangan perempuan
sekdusalitas.Jika laki-laki tidak pernah dalam menuntut hak nya.Masalah-masalah
merasakan ada persoalan dengan tersebut saling berhubungan.Apabila dilihat
seksualitasnya, maka pada perempuan dari kacamata feminisme berarti menyaran
sebaliknya.Karena tindak seksualitas dia selalu pada masalah prasangka gender. Prasangka
dipertanyakan, disudutkan, malah mengalami gender ditimbulkan oleh anggapan yang salah
intimidasi dan deskriminasi. Dalam teks kaprah terhadap jenis kelamin dan gender. Di
cerpen Pasien, pengarang mengajak pembaca masyarakat selama ini terjadi peneguhan
untuk merenung kembali problematika seks pemahaman yang tidak pada tempatnya
yang dialami perempuan terutana dalam hal mengenai gender. Apa yang disebut gender
tindak kekerasan dan pelecehan seksual. karena dikontruksi secara sosial budaya
Perempuan dalam cerpen Pasien masih dianggap sebagai kodrat Tuhan. Gender itu

Jurnal Curricula Kopertis Wilayah X 34


Vol 2, No. 1 (2017)

bukanlah ciptaan Tuhan, tetapi hanya ciptaan mengandung, melahirkan dan menyusui anak
masyarakat. masyarakat berprasangka bahwa itu merupakan kodrat, bukan kelemahan. .
dibalik jenis kelamin terdapat gender dan Selain itu, secara fisik perempuan kurang
ternyata prasangka itu berbeda pada bertenaga dibandingkan dengan kebanyakan
masyarakat di suatu tempat dengan tempat laki-laki.
lainnya. Selain itu, ketidakadilan juga terjadi dalam hal
Dalam cerpenPasien kodrat perempuan pelapisan sosial.Sistem pelapisan sosial yang
ditempatkan pada posisi yang lemah dan tidak dikenal selama ini adalah sistem pelapisan
menguntungkan.Begitu perempuan mendapat laki-laki. Dalam cerpen Pasien tokoh Saya
nista karena pelecehan seksual dia akn yang bekerja sebagai prikiater mencerminkan
terpuruk selama-lamanya, berbeda dengan bahwa pelapisan sosial tidak semuanya
laki-laki yang memiliki kekuasaan tanpa batas. didominasi oleh laki-laki.Prasangka gender
Dalam cerpen ini seolah-olah laki-laki terhadap perempuan yang hanya mampu
memiliki wewenang tanpa batas. Secara mengerjakan pekerjaan domestik, di tampilkan
otomatis perempuan diposisikan sebagai dalam cerpen ini bahwa perempuan mampu
makhluk nyang lemah dan dikalahkan.Laki- mengerjakan pekerjaan di luar rumah untuk
laki lepas tangan terhadap kesewenangan yang memperlihatkan eksistensi dirinya seperti
dilakukannya.Kondisi semacam itu merupakan yang dilakukan tokoh “saya”.
kontruksi sosial budaya yang telah berjalan Kondisi perempuan seolah harus menanggung
lama. Prasangka gender menjadi sangat mapan segala beban sementara laki-laki seolah
karena dilembagakan oleh adat kuno yang terbebas dan bebas melakukan apa saja
telah berjalan turun-temurun. Adat didekonsrtruksi noleh tokoh saya dalam
memandang perempuan sebagai makhluk yang cerpen Pasien. Kaitannya dengan gagasan
rendah derajatnya daripada laki-laki. feminis, cerpen Pasien tersebut menggunakan
Perempuan berada dipihak yang perspektif feminisme liberal. Di mana dalam
dirugikan, karena tidak ada hukum yang jelas feminis liberal dijelaskan bahwa subordinasi
tentang aturan seorang laki-laki yang telah wanita berakar dari keterbatasan hukum dan
merusak kepsucian perempuan.Perempuan adat.Subordinasi yang dimaksudkan adalah
disudutkan pada pilihan menanggung segala berasal dari publik.Masyarakat menganggap
resiko untuk menerimanya. Bila pelecehan wanita secara ilmiah kurang memiliki
seksual terhadap perempuan berakibat kemampuan intelektualitas dan fisik yang
perempuan hamil, maka perempuan harus lemah maka dianggap tidak layak diberi peran
menerimanya apakah akan melahirkan anak di lingkungan publik. Peraturan hukum dan
yang dikandungnya atau aborsi. kedua pilihan undang-undang negaralah serta norma yang
tersebut mendapat tempat yang sama dikonvensi secara lisan dalam tradisional yang
rendahnya di masyarakat. Sementara laki-laki bertanggung jawab atas penindasan dan
dengan leluasa bisa memilih menikahi atau subordinasi wanita. Dalam cerpen tersebut,
kabur saja.hal ini terlihat dari kutipan berikut. menjelaskan bahwa si tokoh perempuan
Oleh karena itu, tidak mengherankan mengalami ketidakadilan dan subordinasi
jika dalam cerpen Pasienini pencerita namun dari hal tersebut kemudian di suatu sisi
mencoba melepaskan belenggu tersebut, mempunyai hak yang sama dengan yang lain.
bahwa perempuan tidak selalu haruskalah Meskipun sebenarnya dalam feminis liberal
dengan laki-laki. Hal ini di buktikan oleh wanita dianggap kurang inteletual dan
kesungguhan tokoh Saya untuk tetap berkarir memiliki fisik yang lemah.
dan berjuang mempertahankan hak
hidupnya..Perempuan karena menstruasi,

Jurnal Curricula Kopertis Wilayah X 35


Vol 2, No. 1 (2017)

IMPLIKASINYATERHADAP konvensi seperti dalil, struktur, sebagaimana


PENGAJARAN SASTRA DI SEKOLAH yang ada dalam kegiatan pembelajaran
konfensiaonal.
Sastra yang merupakan bagian yang Pemanfaatan karya sastra sebagai
tak terpisahkan dari pengajaran bahasa dan media saluran pendidikan karakter sebenarnya
sastra Indonesia merupakan salah saru sarana bukan hal yang baru.Tetapi dalam hal ini
yang dimungkinkan bisa dilakukan oleh guru sesuai dengn tujuan pendidikan di sekolah
untuk menenamkan nilai-nilai karakter kepada yaitu menanamkan nilai-nilai karakter karya
siswa. Materi moral dan karakter yang sastra dapat mengoptimalkan usaha guru untuk
ditemukan dalam hasil analsisi dan kajian mencapai hal tersebut. Setelah sastra dibaca,
terhadap produk sastra yang ada dapat lalu dipahami, dimengerti selanjutnya
disisipkan ke dalam materi-materi dilaksanakan dalam kehidupan nsehari-hari,
pembelajaran khususnya mata pelajaran tentu karakter itu akan tumbuh dan
bahasa dan Sastra Indonesia di berkembang dalam diri siswa.
sekolah.Dengan materi bahasa dan sastra
siswa bisa diajak melakukan apresiasi, refleksi SIMPULAN
dan kontemplasi persoalan-persoalan etis dan Berdasarkan pembahasan terhadap
moral yang tercermin dalam karya sastra aspek feminisme dalan cerpen Pasien di atas
seoperti cerpen Pasien karya Djenarr Mahesa dapat disimpulkan bahwa, pengarang sebagai
Ayu.Siswa diajak melakukan refelksi dan wanita yang membangun feminimitas yang
kontemplasi persioalan etis dan moral yang direpresentasikan melalui tokoh “saya” ingin
terdapat di dalamnya.Dalam kaitan ini media menyajikan suatu analog bahwa wanita
karya sastra yang dipilih haruslah fungsional mempunyai hakatas kewanitaannya untuk
untuk memberikan pengalaman etis dan moral mengeksplorasi dirinya, menyatakan
kepada siswa.Isi sastra yang dipilih juga harus birahinya, dan seksualitasnya sesuai dengan
cocok dan tepat untuk siswa supaya bisa keindividuannya. Menurut pengarang wanita
melakukan refleksi dan kontemplasi. tidak perlu merasa enggan dan rendah diri
Karya sastra yang bernilai adalah yang dengan seperioritas laki-laki, yang sebenarnya
sarat dengan pesan moral.Seperti pada cerpen wanita pun bisa membalikkannya, bila wanita
Pasien, untuk siswa setingkat SLTA dapat mampu menemukan subjektivitas dirinya.
menghubungkaitkan beberapa disiplin ilmu
yang telah dipelajarinya dalam UCAPAN TERIMA KASIH
mengungkapkan pesan-pesan moral yang Penulis mengucapkan terima kasih
terdapat di dalamnya.Ilmu sosiologi, kepada 1.Lembaga Penelitian dan Pengabdian
antropologi, kewarganegaraan, ilmu agama Masyarakat (LPPM) Universitas
merupakan ilmu-ilmu terkait yang bisa Muhammadiyah Sumatera Barat yang telah
membuka ruang cakrawala siswa dalam memberikan fasilitas dan kemudahan kepada
melakukan interpretasi. para peneliti dalam kegiatan penelitian para
Cara ini dipandang dapat memudahkan dosen di Lingkungan UMSB. 2. Prof. Dr.
guru dalam membangun proses pembelajaran Musril Zahari, M.Pd. di Sekolah Tinggi Ilmu
yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai Ekonomi Rawamangun Jakarta Timur dan
karakter pada siswa. Siswa memiliki ruang Rahmad Fauzi, SH, M.H dari STIH
untuk berfikir dan beragumentasi secara Payakumbuh yang telah menyediakan waktu
bebas, menyeluruh dan mendalam tentang dan kesempatan untuk berdiskusi terutama
permasalahan yang ditemukannya dalam teks tentang kajian sosialis. 2. Dr. Redho Andi
sastra.Siswa tidak terikat dengan aturan Marta, M.Pd. di FKIP Universitas Muhammad

Jurnal Curricula Kopertis Wilayah X 36


Vol 2, No. 1 (2017)

Yamin Solok 3. Dian Permata Sari, S.Sn,


M.Sn. yang telah memfasilitasi penulis dengan
perpustakaan pribadinya.

DAFTAR PUSTAKA
Ayu, Djenar Mahesa. 2008. Pasien. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Darussalam, Zulfardi. 2016. “Kajian
Feminisme Novel Maimunah Cinta Sang
Perawan Karya Charisma W.”. Inovasi
Pendidikan, Jurnal Ilmiah Pendidikan
FKIP Universitas Muhammadiyah
Sumatera Barat, Volume 2. No 15, Maret
2016.
Kurniawan, Eva Dwi. 2006. “Seks,
Kepasrahan, dan Kematian dalam
Kumpulan Cerpen Mahasiswa”. Jurnal
Ilmiah SastraFKIP. Unesa.Volume2.
Nomor 1.
Nurhadi. 2002. Pembelajaran Kontektual
(Contextual Teaching And Learning).
Jakarta: Depdiknas.
Ratna, Nyoman Kuta. Teori, metode dan
teknik Penelitian sastra dari
strukturalismehingga Poststrukturalisme
Perspektif Wacana Naratif.Yogyakarta.
Pertaka Pelajar.
Santosa, Puji. 2009. “Perlawanan
Bangsa Terjajah Atas Harkat dan
Martabat Bangsa: Telaah Postkolonial
Atas Tiga Sajak Indonesia Modern”.
Atavisme:Jurnal Ilmiah Kajian Sastra, Volume
12, Nomor 2, hlm. 147—156.
Suharto, Sugihastuti. 2013. Kritik Sastra
Feminis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Jurnal Curricula Kopertis Wilayah X 37

Anda mungkin juga menyukai