Anda di halaman 1dari 29

CRITICAL BOOK REPORT

Tugas Mata Kuliah Hukum Pidana

Unsur-Unsur Tindak Pidana

Disusun Oleh:

Nama

: Sarah Theresia Br. Harianja

NIM

: 3173311044

Kelas

: Reg D 2017

Dosen Pengampu

: Dr. Reh Bungana Beru PA, SH. M.Hum.

Dosen Pengampu : Dr. Reh Bungana Beru PA, SH. M.Hum. JURUSAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KERWARGANEGARAAN FAKULTAS

JURUSAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KERWARGANEGARAAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan

rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan tugas critical book report ini tepat pada

waktunya. Selama menyusun makalah ini saya banyak mengalami hambatan dan kesulitan.

Namun berkat dorongan dan motivasi dari teman-teman, critical book report ini dapat saya

selesaikan.

Pada kesempatan ini, saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah

membantu dalam penyelesaian critical book report ini. Saya juga berterimakasih kepada Ibu

Dr. Reh Bungana Beru PA, SH. M.Hum. selaku dosen pengampu pembimbing mata kuliah

Hukum

Pidana.

Dimana

selama

proses

penyelesaian

tugas

ini

saya

telah

di

arahkan

sebelumnya tentang bagaimana sistematika critical book report oleh dosen pengampu.

Adapun buku yang saya review pada tugas Critical Book Report ini adalah buku

dengan topik Hukum Pidana Umum dan tertulis Di Indonesia‟‟. Seperti yang kita ketahui

bahwa, ilmu politik dan ilmu negara memiliki hubungan yang saling keterkaitan.

Demikianlah kata pengantar yang dapat saya sampaikan, dalam penugasan critical

book report ini. Saya menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan baik dari segi

penyusunan, bahasa, isi maupun segi lainnya. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan

saran yang bersifat membangun dari pembaca sehingga saya dapat memperbaikinya menjadi

lebih baik lagi.

Medan, September 2019

Penulis

DAFTAR ISI

Sampul dan halaman judul

1

KATA PENGANTAR

2

DAFTAR ISI

3

BAB I PENDAHULUAN

4

A.

Informasi Bibliografi

4

BAB II PEMBAHASAN SECARA UMUM YANG AKAN DIREVIEW

6

BAB III PEMBAHASAN CRITICAL BOOK REPORT

14

A. Latar Belakang Masalah Yang Akan Dikaji

14

B. Permasalahan Yang akan Dikaji

15

C. Kajian Teori Yang Digunakan

15

D. Metode Yang Digunakan

16

E. Analisis Critical Book Report

17

BAB IV PENUTUP

22

A. Kesimpulan

22

 

B. Saran

22

DAFTAR PUSTAKA

24

DAFTAR LAMPIRAN

25

A. Informasi Bibliografi

BUKU UTAMA

BAB I

PENDAHULUAN

Judul

: Hukum Pidana Umum dan Tertulis Di Indonesia

Penulis

: Frans Maramis, S.H., M.H.

ISBN

: 978-979-769-439-5

Penerbit

: PT RAJA GRAFINDO PERSADA

Tahun terbit

: 2013

Urutan Cetakan

: Ke-2

Dimensi Buku

: 21cm

Tebal Buku

: XVI+ 320 hlm

BUKU PEMBANDING

Judul

: Asas-Asas Hukum Pidana; Memahami Tindak Pidana Dan

Pertanggungjawaban Pidana Sebagai Syarat Pemidanaan

ISBN

: 978-602-97757-8-5

Penulis

: Amir Ilyas, SH., MH.

Penerbit

: Rangkang Education Yogyakarta & PuKAP-Indonesia

Tahun terbit

: 2012

Urutan Cetakan

: Pertama

Dimensi Buku

: 14 cm x 21 cm

Tebal Buku

: xiv+126 hlm

BAB II

PEMBAHASAN SECARA UMUM BUKU

A. Ringkasan Isi Buku

Di dalam Buku Hukum Pidana Umum dan Tertulis Di Indonesia, buku yang ditulis

oleh Frans Maramis, S.H., M.H

Buku ini terdiri dari 16 Bab.

Bab 1 Definisi, Pengertian, Cakupan, dan Tujuan Hukum Pidana

Hukum

Pidana

dapat

didefinisikan

sebagai

keseluruhan

peraturan

hukum

yang

menentukan perbuatan-perbuatan yang pelaku-pelakunya seharusnya dipidana dan pidana-

pidana yang seharusnya dikenakan. Definisi hukum pidana ini mencakup empat pokok yang

terkait erat satu dengan yang lain, yaitu peraturan, perbuatan, pelaku, dan pidana.

Pada umunnya, penggunaan istilah hukum pidana menunjuk pada hukum pidana

material, yaitu peraturan-peraturan hukum pidana itu sendiri, misalnya peraturan-peraturan

hukum pidana dalam KUHPid. Ia tidak mencakup hukum pidana formal atau hukum acara

pidana. Lingkup buku ini adalah hukum pidana umum dan tertulis di Indonesia, yaitu

peraturan-peraturan hukum pidan dalam KUHPid, baik ketentuan-ketentuan umum maupun

tindak-tindak pidana tertentu di dalamnya; dengan agak meluas sampai pada pengembangan

hukum pidana dalam KUHPid melalui putusan-putusan pengadilan. Di mana diperlukan, akan

disinggung ketentuan-ketentuan di luar KUHPid sebagai perbandingan.

Bab 2 Hukum Pidana Sebagai Bagian Hukum Publik dan Hubungannya Dengan

Bidang-Bidang Hukum Lain

Hukum

pidana

merupakan

bagian

dari

hukum

publik

karena

objeknya

ialah

kepentingan-kepentingan umum dan soal mempertahankannya dilakukan oleh pemerintah.

Pemerintah memiliki hak dan wewenang dan dibebani kewajiban untuk mempertahankan

hukum pidana.

Ada pengecualiannya, yaitu berkenaan dengan adanya delik aduan dalam KUHPid di

mana untuk penuntutan tindak pidana jenis ini disyaratkan pengaduan dari pihak tertentu yang

dirugikan oleh tindak pidana yang bersangkutan.

Hukum pidana merupakan ultimum remedium atau sarana terakhir, yaitu hukum

pidana

hanay

diadakan

apabila

sanksi-sanksi

dalam

bidang-bidang

hukum

lain

tidak

memadai. Asas ini terutama merupakan suatu asas untuk tahap penyusunan undang-undang

pidana bukan untuk tahap penerapan atau penegakkan hukum pidana.

Bab 3 Ilmu Hukum Pidana

Ilmu hukum pidana adalah ilmu tentang pengertian objektif dari hukum pidana positif.

Objek ilmu hukum pidana adalah asas, kaidah, dan sanksi dalam hukum pidana positif. Tugas

ilmu hukum pidana mencakup menerangkan, menganalisis, menyistematiskan, dan fungsi

kritik.

Dalam rangka tugas analisis dapat digunakan metode-metode penemuan hukum pada

umumnya, yang mencakup penafsiran dan konstruksi hukum; dengan catatan bahwa dalam

hukum pidana, metode analogi dalam konstruksi hukum pada umumnya tidak dapat diterima.

Bab 4 Sumber-Sumber Hukum Pidana Indonesia

Undang-undang merupakan sumber hukum dalam arti formal yang utama untuk

hukum pidana Indonesia, antara lain KUHPid. Secara lebih terbatas, ketentuan-ketentuan

hukum pidana juga dapat ditemukan dalam Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah.

KUHPid

pada

dasarnya

adalah

Wetboek

van

Strafrecht

voor

Nederlands

Indie

(Staatsblad 1915-732), mulai berlaku sejak 1 Januari 1918, yang dengan UU No. 1 Tahun

1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, dinyatakan tetap berlaku dengan sejumlah perubahan,

penambahan, pencabutan, anatar lain nama Wetboek van Strafrecht voor Nederlands Indie

diganti menjadi Wetboek van Strafrecht atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Pada saat

diundangkan, UU No. 1 Tahun 1946 ini hanya berlaku untuk wilayah Pemerintahan RI

Yogyakartasaja, kemudian dengan UU No. 73 Tahun 1958, maka UU No. 1 Tahun 1946

dinyatakan berlaku untuk seluruh wilayah Republik Indonesia. Sejak itu telah dilakukan pula

sejumlah perubahan, penmabahan, dan pencabutan.

Menurut Pasal 103 KUHPid, ketentuan-ketentuan dalam Bab I sampai dengan Bab

VIII- tidak termasuk Bab IX-Buku I juga berlaku perbuatan-perbuatan yang oleh ketentuan

perundang-undangan lain diacancam pidana, kecuali jika oleh undang-undang ditentukan lain.

Pasal 103 KUHPid merupakan penghubung antara KUHPid dengan undang-undang pidana di

luar KUHPid.

Bab 5 Struktur Tindak Pidana

Tindak Pidana adalah perbuatan yang pelakunya seharusnya dipidana. Dalam ajaran

tentang struktur tindak pidana dikenal adanya konsep penyatuan dan konsep pemisahan antara

perbuatan dan kesalahan (pertanggungjawaban pidana). Buku ini mengacu pada konsep

penyatuan antara perbuatan dan pertanggungjawaban pidana. Berlandaskan pada konsep

penyatuan ini, unsur-unsur tindak pidana pada dasarnya dapat dibedakan atas unsur perbuatan

(objektif, actus reus) dan unsur kesalahan (subjektif, pertanggungjawaban pidana mens rea).

Walaupun mengacu pada konsep penyatuan antara perbuatan dan kesalahan, tetapi menjadi

perhatian bahwa pada umumnya, antara perbuatan dan kesalahan dapat diebdakan, malahan

perlu dilakukan pembedaan untuk pembahasan yang lebih cermat.

Bab 6 Unsur Perbuatan

Istilah perbuatan dalam hukum pidana mencakup perbuatan aktif, yaitu berbuat

sesuatu, dan perbuatan pasif, yaitu tidak berbuat sesuatu. Perbuatan aktif adalah setiap

gerakan otot yang dikehendaki yang diadakan untuk menimbulkan suatu akibat. Dari asas

legalitas, umumnya oleh para ahli hukum pidana ditarik beberapa pengertian yang lebih

spesifik, yaitu: (1) hukum pidana harus merupakan peraturan tertulis dalam suatu peraturan

perundang-undangan; (2) peraturan hukum pidana tidak boleh berlaku surut; (3) tidak boleh

digunakan analogi untuk menentukan adanya perbuatan pidana; (4) Lex certa (undang-undang

yang pasti), yaitu undang-undang harus cukup jelas sehingga: a) merupakan pegangan bagi

warga masyarakat dalam memilih tingkah lakunya, b) untuk memberikan kepastian kepada

penguasa mengenai batas-batas kewenangannya.

Teori kausalitas oleh Maximilian Von Buri yaitu teori conditio sine qua non (syarat

mutlak) jika berdiri sendiri kurang manfaatnya bagi hukum pidana. Teori ini dapat diterima

sebagai suaru titik tolak, tetapi untuk sampai pada kesimpulan tentang apa yang merupakan

sebab dari suatu akibat perlu ada pembatasan dari sudut ajaran melawan hukum. Jika suatu

perbuatan tidak bersifat melawan hukum, maka perbuatan itu juga bukan merupakan sebab

dari suatu akibat; dengan kata lain, perbuatan itu memang merupakan syarat untuk terjadinya

akibat, tetapi bukan sebab untuk terjadinya akibat.

Ajaran melawan hukum yang material adalah ajaran bahwa suatu perbuatan selain

harus mencocoki rumusan undang-undang, juga harus bersifat melawan hukum. Melawan

hukum selalu merupakan unsur dari setiap tindak pidana sekalipun kata melawan hukum tidak

dicantumkan dalam rumusan pasal. Pengertian “melawan hukum” (wederrechtelijk) disini

adalah sama dengan arti melawan hukum (onrechtmatige daad) dalam hukum perdata (Pasal

1365 KUHPerdata) sebagaimana ditafsirkan dalam putusan Hoge Raad, 31-1-1919, drukkers-

arrest

(arest

percetakan),

atau Cohen-Lindebaum

arrest.

Walaupun

demikian, menurut

pandangan yang umum berlaku, ajaran melawan hukum yang material tidak memiliki fungsi

positif, yaitu tidak memiliki fungsi untuk menghukum seseorang yang perbuatannya tidak

dilarang dalam undang-undang, melainkan hanya memiliki fungsi negatif, yaitu sebagai

alasan penghapus pidana.

Bab 7 Unsur Kesalahan

Asas tiada pidana tanpa kesalahan (Belanda: geen straf zonder schuld) adalah asas

bahwa seseorang hanya dapat dihukum atas perbuatannya apabila pada dirinya terdapat

kesalahan (Belanda: schuld).

Kesalahan (schuld), sebagaimana didefinisikan oleh D. Simsons, adalah keadaan

psikis pelaku dan hubungannya dengan perbuatan yang dilakukan yang sedemikian rupa,

sehingga berdasarkan keadaan psikis tersebut pelaku dapat dicela atas perbuatannya.

Kesalahan (schuld) terdiri atas 3 (sub) unsur, yaitu: (1) kemampuan bertanggungjawab

(toerekeningsvatbaarheid) dari pelaku; (2) sikap batin tertentu dari pelaku sehubungan

dengan perbuatannya yang berupa adanya kesengajaan atau kealpaan; dan (3) tidak ada alasan

yang menghapuskan kesalahan atau menghapuskan pertanggungjawaban pidana pada diri

pelaku.

Bab 8 Alasan Penghapus Pidana: Alasan Pembenar

Alasan

penghapus

pidana

adalah

alasan-alasan

yang

membawa

akibat

bahwa

sekalipun perbuatan telah memenuhi unsur rumusan ketentuan pidana tetapi tidak dapat

dipidana.

Alasan pembenar adalah alasan yang menghapuskan sifat melawan hukum dari

perbuatan, sehingga perbuatan yang dilakukan menjadi perbuatan yang patut dan benar.

Bab 9 Alasan Penghapus Pidana: Alasan Pemaaf

Alasan

pemaaf

adalah

alasan

yang

menghapus

kesalahan

seseorang,

sekalipun

perbuatan yang dilakukan tetap bersifat melawan hukum. Alasan pemaaf dalam KUHPid

mencakup gangguan jiwa, daya paksa relatif, pembelaan terpaksa melampaui batas, dan

perintah jabatan tanpa wewenang. Alasan pemaaf di luar undang-undang mencakup tidak

adanya kesalahan sama sekali dan kekeliruan mengenai kanyataan.

Bab 10 Percobaan

Unsur-unsur percobaan, menurut Pasal 53 ayat (1) KUHPid, yaitu: (1) Adanya niat;

(2) Adanya permulaan pelaksanaan yang menyatakan niat; (3) Pelaksanaan itu tidak selesai,

dan (4) Tidak selesainya pelaksaan bukan semata-mata karena kehendaknya sendiri.

Bab 11 Penyertaan

Penyertaan (deelneming) adalah peristiwa dimana lebih dari satu orang melakukan

tindak pidana. Penyertaan dalam KUHPid dirinci atas: 1) Pembuat (dader) tindak pidana,

yang mencakup: a) yang melakukan (plegen), b) yang menyuruh melakukan (doen plegen), c)

yang

turut

serta

melakukan

(medeplegen),

pembantu (medeplichter).

Bab 12 Perbarengan Tindak Pidana

d)

yang

menganjurkan

(uitlokken);

dan

2)

Perbarengan (Belanda: samenloop; Latin: concursus) tindak pidana aalah peristiwa

dimana seseorang melakukan perbuatan atau perbuatan-perbuatan yang melanggar beberapa

ketentuan pidana, dan beberapa tindak pidana itu diadili sekaligus.

Perbarengan dalam KUHPid terdiri atas perbarengan peraturan, perbuatan berlanjut,

dan perbarengan perbuatan.

Ada empat macam cara menghitung pidana dalam perbarengan tergantung pada jenis

perbarengan, yaitu: 1) cara absorpsi (penyerapan) murni untuk perbarengan peraturan dan

perbuatan berlanjut; 2) cara absorpsi (penyerapan) yang dipertajam untuk perbarengan

perbuatan atas kejahatan-kejahatan yang diancam dengan tindak pidana pokok yang sejenis;

3) cara kumulasi (penjumlahan) yang diperlunak untuk perbarengan perbuatan atas kejahatan-

kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis; dan 4) cara kumulasi murni

untuk pelanggaran (overtredingen).

Bab 13 Pidana dan Tindakan

Sanksi dalam hukum pidana mencakup pidana (Belanda: straf) dan tindakan (Belanda:

maatregel).

Jenis-jenis pidana diatur dalam pasal 10 KUHPid terdiri atas: 1) Pidana Pokok: a)

pidana mati, b) pidana penjara, c) pidana kurungan, d) pidana denda, e) pidana tutupan; dan 2)

pidana tambahan: a) pencabutan hak tertentu, b) perampasan barang tertentu, c) pengumuman

putusan hakim.

Jenis-jenis tindakan dalam KUHPid terdiri atas: 1) Perawatan dalam rumah sakit jiwa

bagi pelaku yang mengalami gangguan jiwa (Pasal 44); 2) hukuman bersyarat (Pasal 14a-

14f); 3) penyerahan kepada orangtua atau pemerintah bagi terdakwa belum dewasa yang

melakukan perbuatan sebelum berumur 16 tahun (Pasal 45 dan 46).

Tetapi

pasal

45,46,

dan

47

KUHPid

sudah

dinyatakan

tidak

berlaku

lagi

dan

pengaturannya diambil oleh UU No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak.

Bab 14 Hapusnya Kewenangan Menuntut Pidana Dalam Menjalankan Pidana

Hapusnya kewenangan menuntut pidana (alasan penghapus penuntutan) mencakup: ne

bis

in

idem,

tersangka

meninggal

dunia,

daluwarsa,

pembayaran

denda

untuk

delik

pelanggaran. Hapusnya kewenangan menjalankan pidana mencakup: terpidana meninggal

dunia dan daluwarsa

Bab 15 Batas-Batas Berlakunya Hukum Pidana Indonesia

Dalam pasal 1 ayat (1) KUHPid terkandung asas lex temporis delicti, yaitu undang-

undang yang diterapkan pada terdakwa adalah undang-undang yang berlaku saat perbuatan

dilakukan.

KUHPid sendiri memberikan pengecualian terhadap lex temporis delicti, yaitu dalam

Pasal 1 ayat (2) KUHPid, dimana bilamana ada perubahan dalam perundang-undangan

sesudah perbuatan dilakukan, maka terhadap terdakwa diterapkan ketentuan yang paling

menguntungkannya. Asas-asas lainnya tentang lingkungan kuasa berlakunya hukum pidana

yaitu asas wilayah, asas nasionalitas aktif, asas nasionalitas pasif, dan asas universal.

Bab 16 Tindak Pidana Dalam KUHPid

Dari sudut ilmu hukum pidana, pembagian delik umumnya dilakukan berdasarkan

pembagian yang pada dasarnya terdiri atas delik terhadap negara, delik terhadap masyarakat,

delik terhadap perorangan; dengan catatan bahwa antara ketiga pembagian dasar tersebut

memiliki kaitan satu dengan yang lain.

BAB III

PEMBAHASAN CRITICAL BOOK REPORT

A. Latar Belakang Masalah yang akan Dikaji

Untuk mengenakan pidana itu harus dipenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat

tertentu ini lazimnya disebut dengan unsur-unsur tindak pidana.

Jadi seseorang dapat

dikenakan pidana apabila perbuatan yang dilakukan memenuhi syarat-syarat tindak pidana

(strafbaarfeit). Menurut Sudarto,pengertian unsur tindak pidana hendaknya dibedakan dari

pengertian unsur-unsur tindak pidana sebagaimana tersebut dalam rumusan undang-undang.

Pengertian yang pertama (unsur) ialah lebih luas dari pada kedua (unsur- unsur). Misalnya

unsur-unsur (dalam arti sempit) dari tindak pidana pencurian biasa, ialah yang tercantum

dalam Pasal 362 KUHP.

Dengan instrumentalisasi hukum pidana maka tekanan diletakkan pada kegunaan

hukum pidana itu bagi pengaturan masyarakat, dan bagi usaha mendorong kelakuan agar

sesuai dengan norma. Akibatnya adalah bahwa banyak ahli hukum pidana bertanya-tanya:

seberapa jauhkah sistem hukum pidana dewasa ini cukup diberi peralatan dan diorganisasikan

untuk dapat memenuhi tugasnya dengan baik? Banyak kritik terhadap hukum pidana dewasa

ini oleh karenanya juga diarahkan kepada sistem yang berlaku sekarang yang dipandang tidak

mengenai sasaran tidak tepat, dan sulit dapat digunakan.

Kritik terhadap hukum pidana ini mendapat sifat yang lain sama sekali jika tidak

hanya

mengenai

kegunaan

atau

ketepatannya

yang

dipertanyakan,

melainkan

tentang

kepatutannya. Kritik ini menyentuh hukum pidana sejauh dia terlihat sebagai hal yang

memungkinkan untuk diwujudkannya kebebasan manusia dan pengembangannya, dengan

meniadakan berbagai bentuk kesewenang-wenangan dalam penggunaan kekuasaan. Kritik ini

akan membuka tabir dari hukum pidana yang berlaku dan mempertontonkannya sebagai suatu

yang “tidak hukum.”

B. Permasalahan yang akan dikaji

Dalam mengemukakan apa yang merupakan unsur-unsur tindak pidana, umumnya

dikemukakan terlebih dahulu pembedaan dasar anatar unsur (bagian) perbuatan dan unsur

(bagian) kesalahan (pertanggungjawaban pidana). Unsur (bagian) perbuatan ini sering juga

disebut unsur (bagian) objektif sedangkan unsur (bagian) kesalahan sering juga disebut unsur

(bagian) subjektif. Selanjutnya dikemukakan unsur-unsur (sub-sub unsur) yang lebih terinci

dari masing-masing unsur (bagian) dasar tersebut.

Suatu masalah yang penting adalah seberapa jauhkah unsur-unsur ini, terlepas dari

keterkaitannya pada waktu, dan telepas pula dari sifat asal kelahirannya, masih mempunyai

arti kritis normatif bagi peradilan pidana dewasa ini dan akan datang. Dan masalah ini

seyogyanya diteliti untuk persiapan penggunaanya dan atau kelanjutannya dalam hukum

pidana kita masa yang akan datang. Suatu masalah yang sedang kita hadapi pula saat ini.

C. Kajian teori yang digunakan

Menurut

Wirjono

Prodjodikoro,

“tindak

pidana

berarti

suatu

perbuatan

yang

pelakunya dapat dikenakan hukuman pidana.” Menurut D. Simons, tindak pidana (strafbaar

feit) adalah kelakuan (handeling) yang diancam dengan pidana “yang bersifat melawan

hukum, yang berhubungan dengan kesalahan dan yang dilakukan oleh orang yang mampu

bertanggungjawab (eene strafbaar gestelde “onrechtmatige,metschuld in verband staande

handeling van een toerekeningsvatbaarperson”). Menurut G.A. van Hamel, sebagaimana

yang diterjemahkan oleh Moeljatno, “strafbaar feit adalah kelakuan orang (menselijke

gedraging) yang dirumuskan dalam wet, yang bersifat melawan hukum, yang patut dipidana

(strafwaardig) dan dilakukan dengan kesalahan,”

Moeljatno merupakan ahli hukum pidana yang memiliki pandangan yang berbeda

dengan penulis-penulis lain tentang definisi tindak pidana. Moeljatno menggunakan istilah

perbuatan pidana. Menurut Moeljatno, perbuatan pidana hanya mencakup perbuatan saja,

sebagaimana dikatakannya bahwa, “perbuatan pidana hanya menunjuk kepada sifatnya

perbuatan saja, yaitu sifat dilarang dengan ancaman dengan pidana kalau dilanggar”. Dari

sudut pandang Moeljatno, unsur pelaku dan hal-hal yang berkenaan dengannya seperti

kesalahan dan mampu bertanggungjawab, tidak boleh dimasukkan kedalam definisi perbuatan

pidana; melainkan merupakan bagian dari unsur yang lain, yaitu unsur pertanggungjawaban

pidana.

Simons memberi definisi perbuatan (handeling) sebagai setiap gerakan otot yang

dikehendaki yang diadakan untuk menimbulkan suatu akibat. J.M. van Bemmelen yang

menulis bahwa pembuat undang-undang, misalnya membuat perbedaan antara kejahatan yang

dilakukan dengan sengaja dan karena kealpaan. Demikian juga Bambang Poernomo yang

menulis bahwa pembagian secara mendasar di dalam melihat elemen perumusan delik hanya

mempunyai dua elemen dasar yang terdiri atas bagian yang objektif dan bagian yang

subjektif. Menurut Simons, melawan hukum diartikan sebagai “bertentangan dengan hukum”,

bukan saja terkait dengan hak orang lain (hukum subjektif), melainkan juga mencakup

Hukum Perdata atau Hukum Administrasi Negara. Menurut Vos, Moeljatno, dan Tim

Pengkajian Bidang Hukum Pidana BPHN atau BABINKUMNAS dalam Rancangan KUHPN

memberikan definisi “bertentangan dengan hukum” artinya, bertentangan dengan apa yang

dibenarkan oleh hukum atau anggapan masyarakat, atau yang benar-benar dirasakan oleh

masyarakat sebagai perbuatan yang tidak patut dilakukan.

D. Metode Penelitian

Metode yang digunakan di dalam buku ini adalah dengan menggunakan teknik

pengumpulan data dimana di dalam buku ini mengumpulkan data-data yang digunakan dan di

dalamnya juga memiliki kajian teori yang di dapatkan dari beberapa tokoh maupun ahli-ahli

yang ada di dalamnya.

Penjelasan

yang ada di dalam makalah ini

membantu dalam

memahami metode yang digunakan di dalamnya. Metode penelitian secara spesifik yang ada

dalam buku ini Deskriptif Kuantitatif. Data

Penelitian

secara deskriptif

analisis

yang

dimaksudkan

untuk mendeskripsikan penelitian sesuai dengan variabel yang akan diteliti

tanpa melakukan pengujian hubungan antar variabel melalui pengujian hipotesis. Metode

yang digunakan bersifat umum yang dapat menjelaskan tiap-tiap bab yang jelas dan terperinci

yang dapat membuat para sipembaca mudah memahami dan dapat mengerti dengan jelas.

E. Analisis Critical Book Report

Penilaian tentang kelebihan dan kelemahan buku

Pada hakikatnya, setiap perbuatan pidana harus terdiri dari unsur-unsur lahiriah (fakta)

oleh perbuatan, mengandung kelakuan dan akibat yang ditimbulkan karenanya. Keduanya

memunculkan kejadian dalam alam lahir (dunia).

Disamping: A) Kelakuan dan akibat, untuk adanya perbuatan pidana biasanya diperlukan pula

adanya B). Hal ikhwal atau keadaan tertentu yang menyertai perbuatan, hal ikhwal mana olleh

van Hamel dibagi dalam dua golongan, yaitu

yang mengenai orang

yang melakukan

perbuatan dan yang mengenai di luar diri si pelaku (Moeljanto, 2008: 64).

Undang-undang

tindak

pidana dapat

dibedakan

setidak-tidaknya dari

dua sudut

pandang, yakni: (1) dari sudut teoretis dan (2) dari sudut undan-undang. Teoretis artinya

berdasarkan pendapat para ahli hukum, yang tercermin pada rumusannya. Sementara itu,

sudut undang-undang adalah bagaimana kenyataan tindak pidana itu dirumuskan menjadi

tindak pidana tertentu dalam pasal-pasal peraturan perundang-undangan yang ada.

Secara keseluruhan penulisan critical book report ini memiliki beberapa keunggulan,

mulai dari sistematika penulisan dimana penyampaian dilakukan secara sistematis, dengan

menjelaskan setiap poin-poin penting dalam pembahasan sehingga memudahkan pembaca

memahami isi dari critical book report tersebut,

Penulisan critical book report ini juga

menggunakan analitis kritis berdasarkan literatur atau refrensi dari buku, pendapat para ahli

maupun dari temuan-temuan pada penelitian sebelumnya dengan hasil yang didapatkan oleh

penulis. Dalam buku utama dan juga buku pembanding sangat jelas dilengkapi dengan Materi,

baik metode maupun kerangka teori digambarkan secara jelas dalam penelitian ini sehingga

pembaca dapat mengetahui cara yang digunakan oleh penulis untuk mecapai tujuan dan

sasaran penelitian. Disamping banyak kelebihan yang disebutkan di atas, sebuah karya

penulisan tidak akan lepas dari kekurangan. Menurut saya sebagai pembaca, kekurangan dari

cbr ini ialah dalam buku pembanding kurang lengkap dijelaskan tentang materi yaitu struktur

tindak pidana, sementara dalam buku utama terdapat urutan cetakan yang lengkap dan

terdapat materi yang jelas serta dilengkapi dan dijelaskan juga bagian materi dari struktur

tindak pidana antara lain dijelaskan mengenai definisi, pengertian, konsep penyatuan dan

pemisahan perbuatan dan pertanggungjawaban tindak pidana, jenis-jenis rumusan delik dan

subjek tindak pidana.

Dengan isu-isu yang berkaitan dengan Hukum Pidana. Namun secara keseluruhan cbr

ini layak dijadikan sebagai sumber referensi dan bahan bacaan bagi semua kalangan, terutama

bagi mahasiswa supaya dapat menambah ilmu kita dan kita dapat mengetahui isi dari buku

tersebut.Sebagai penutup, meskipun ditemukan berbagai kekurangan dan kelebihan dalam

critical book report ini , namun penulis tersebut telah memberikan kontribusi positif pada

kemajuan dan pengembangan di bidang ilmu pengetahuan khususnya pada pengembangan

karya ilmiah. Keunggulan buku utama mulai dari covernya sangat menarik, dan juga lengkap

dijelaskan dengan kajian teori yang begitu lengkap. Buku ini menjelaskan setiap materi

dengan jelas dan buku ini juga layak digunakan sebagai bahan bacaan dan juga bahan untuk

pembelajaran dalam Hukum Pidana yang dapat mengetahui wawasan dan dapat menambah

pengetahuan kita dalam mempelajari Unsur-unsur tindak pidana dan sangat bermanfaat bagi

para calon pendidik.

Kelebihan Buku Utama :

Bahasanya ringan dan dapat mudah dipahami

Di bagian sampulnya gambarnya cukup menarik

Pembahasan isi buku yang lebih banyak tetapi sudah menjelaskan dengan terperinci.

Di buku ini juga terdapat beberapa penjelasan dari para ahli

Di dalam pembahasan buku utama ini pembahasannya mengarah kepada definisi,

pengertian, konsep penyatuan dan pemisahan perbuatan dan pertanggungjawaban

tindak pidana, jenis-jenis rumusan delik dan subjek tindak pidana.

Buku ini sangat cocok sebagai buku ajar khususnya bagi mahasiswa yang mengambil

jurusan Hukum

Kekurangan Buku Utama :

Terkadang ada beberapa orang yang tidak suka membaca buku dengan tema seperti ini

khususnya bagi yang tidak mengambil Hukum Pidama atau di fakultas ilmu sosial

Seharusnya pembahasan dalam buku ini lebih disajikan dalam bentuk data yang lebih

jelas dan terperinci lagi.

Kelebihan Buku Pembanding :

Buku ini merupakan buku yang tepat bagi para mahasiswa atau masyarakat umum

yang baru mengenal Hukum Pidana dikarenakan pembahasan yang diberikan terkesan

ringan dan dan tidak berbelit-belit sehingga akan mudah dipahami oleh masyarakat

awam dan mahasiswa semester awal. Sehingga buku ini patut diberi apresiasi besar

dikarenakan buku ini dapat membantu pemahaman pengertian dan ruang lingkup

tindak pidana, unsur-unsur tindak pidana, unsur-unsur pertanggungjawaban tindak

pidana, dan teori pemidanaan.

Kelebihan dari buku ini ialah penjelesan yang diberikan oleh penulis sangatlah luas,

dalam arti kata membuka wawasan bagi para mahasiswa yang baru mengenal jurusan

Hukum, lalu penjelasan yang diberikan dalam buku ini diambil dari sumber yang jelas

dan sesuai dengan sejarah yang terjadi

Selain itu dalam buku ini juga diterangkan tentang pandangan yang ada dalam Hukum

Pidana yang akan menjadi bahan kajian mahasiswa kedepan. Selain itu, di setiap akhir

bab selalu dicantumkan link atau alamat web yang menjadi sumber dari penjelasan

yang ada di buku ini, sehingga pembaca dapat menjadi lebih aktif dan diakhirnya juga

dimuat kesimpulan dari penulisnya.

Kelemahan Buku Pembanding :

Seharusnya pembahasan dalam buku ini lebih banyak lagi supaya lebih dapat menarik

minat pembacanya

Seharusnya didalam buku ini terdapat gambar yang berkaitan dengan Studi Hukum

Pidana

Buku ini kekurangannya adalah sedikit sekali contoh-contoh tentang Tindak Pidana

Di dalam buku pembanding ini masih banyak terdapat

ditelusuri

lagi

artinya

lalu,

penjelasan

yang

diberikan

kata-kata sulit yang harus

hanya

berupa

pengantar

sehingga pembaca harus mencari buku atau artikel lain jika ingin menelusuri materi-

materi yang diterangkan dalam buku ini lebih lanjut.

Bahasa yang digunakan di dalam buku ini jika dibandingkan dengan buku Frans

Maramis

lebih

mudah

dipahami

dan

menggunakan

bahasa

yang

ringan

yang

mencakup dari mulai pengertian dan ruang lingkup tindak pidana, unsur-unsur tindak

pidana, unsur-unsur pertanggungjawaban tindak pidana, dan teori pemidanaan,

Gaya penyampaian yang ada di dalam buku ini sangat menarik, buku ini mencakup

dan menarik studi hukum pidana lebih nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

Analisis Critical Book Report yang mencakup

Tujuan penulisan buku

Sebagaimana sebuah buku pengantar, buku Hukum Pidana Umum dan tertulis di

Indonesia ini memuat prinsip-prinsip dasar materi tentang studi hukum pidana yang sengaja

dirancang untuk dimanfaatkan oleh kalangan mahasiswa penstudi hukum dan juga bagi siapa

saja yang peduli terhadap masalah-masalah pidana yang terjadi. Di dalamnya Anda akan

menemukan paparan

komprehensif

mengenai

studi

ini

dengan

memanfaatkan

berbagai

literatur asing. Walaupun hendak menunjukkan karakter studi ini secara menyeluruh, penulis

tetap mengedepankan satu aspek yang dirasa sangat penting, yaitu perspektif konsep-konsep

dan unsur-unsur tindak pidana, Misalnya bagian yang objektif da bagian yang subjektif.

Di bagian lain Anda akan mendapatkan pokok bahasan menyangkut masalah yang

berkenaan dengan pandangan negara sebagai aktor utama dalam sistem pidana. Hal yang tak

kalah penting adalah mengenai manajemen konflik dalam sistem pemidanaan. Persoalan ini

dikembangkan dengan menggunakan materi manajemen konflik dalam sistem pemidanaan

serta metoda penyelesaian konflik serta berbagai pendekatannya.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Sebenarnya setiap perbuatan pemerintah

melalui alat-alatnya dalam menjalankan

ketentuan undang-undang adalah sah dan tidak melawan hukum, asalkan dilakukan dengan

sebenarnya dan patut. Menurut Vos, petugas tidak boleh menangkap orang yang melarikan

diri, membunuh atau melukai berat, kecuali mengenai delik yang sangat serius, misalnya

pembunuh massal. Melawan hukum adalah setiap perbuatan yang tidak boleh dilakukan baik

menurut undang-undang maupun kaidah-kaidah/norma-norma yang hidup dimasyarakat baik

dalam bentuk perbuatan yang bertentangan dengan hak orang lain maupun yang tidak didasari

oleh suatu hak. Meletakkan sifat melawan hukum dalam pengertian hukum pidana haruslah

bertentangan dengan hak orang lain bukan suatu perbuatan yang tidak didasari hak.

Dalam literatur hukum pidana biasanya daya paksa itu dibagi dua yang pertama daya

paksa yang absolut atau mutlak, biasa di sebut vis absoluta. Bentuk ini sebenarnya bukan daya

paksa yang sesungguhnya, karena di sini pembuat sendiri menjadi korban pak saan fisik orang

lain. Jadi ia tidak mempunyai pilihan lain sama „sekali. Misalnya, seseorang yang diangkat

oleh orang pegulat yang kuat lalu dilemparkan ke orang lain sehingga orang lain itu tertin das

dan cedera. Orang yang dilemparkan itu sendiri sebenarnya menjadi korban juga sehingga

sama sekali tidak dapat dipertang gungjawabkan terhadap perbuatan menindas orang lain.

B. Saran

Untuk mengetahui suatu perbuatan dalam rumusan pasal, maka haruslah diperhatikan

secara seksama mengenai unsur-unsur yang ada agar dapat dikelompokkan secara jelas

sebagai

suatu

bentuk

perbuatan.

Pada

prinsipnya

seseorang

hanya

dapat

dibebani

tanggungjawab pidana bukan hanya karena ia telah melakukan suatu perilaku lahiriah yang

harus dapat dibuktikan oleh seorang penuntut umum. Pembelaan harus seimbang dengan

serangan atau ancaman. Serangan tidak boleh melampaui batas keperluan dan keharusan.

Harus seimbang antara kepentingan yang dibela dan cara yang dipakai di satu pihak dan

kepentingan yang dikorbankan. Jadi, harus proporsional, tidak semua alat dapat digunakan

(hanya yang pantas, masuk akal saja).

DAFTAR PUSTAKA

Maramis, Frans, 2013, Hukum Pidana Umum dan Tertulis Di Indonesia, Jakarta: PT Raja

Grafindo Persada.

Ilyas, Amir, 2012, Asas-Asas Hukum Pidana; Memahami Tindak Pidana Dan

Pertanggungjawaban Pidana Sebagai Syarat Pemidanaan, Yogyakarta: Rangkang Education

Yogyakarta & PuKAP-Indonesia.

A. BUKU UTAMA

DAFTAR LAMPIRAN

A. BUKU UTAMA DAFTAR LAMPIRAN
A. BUKU UTAMA DAFTAR LAMPIRAN

B. BUKU PEMBANDING

B. BUKU PEMBANDING
B. BUKU PEMBANDING

Reviewer :NATALCHRISMANSSIAHAAN

NIM

:3173311032

Kelas

:RegulerD2017

MataKuliah:HukumPidana

NILAI:92

LAPORANREVIEWCRITICALBOOKREVIEW

SetelahsayamembacalaporanCriticalBookReview,SarahTheresiaBr.Harianja.

Sayadapatmenilaibahwahasilnyamemuaskan.Mengapasayakatakanamemuaskan?

Adabeberapaalasanmengapasayamemberikanpenilaiantersebut,karena

berdasarkansistematikapenulisan,isilaporan,kerapiantulisan,danlain-lain.Berikutini

adalahpenjelasanmengenaialasanyangsayaberikannya:

SistematikapenulisanlaporanCriticalBookReviewyangtelahdibuatolehSarah

sesuaidengansitematikayangtelahditentukan.

Berdasarkankerapiantulisan,CriticalBookReviewyangtelahdibuatOlehSarah

masihmemilikibeberapakekurangan,dibagianpenomoran,laporanyangdibuat

tidakmemilikinomordantidakterteradihalamanmakalah.Akantetapibagian

pagelayout,EYD,tatabahasasudahsesuaidenganyangseharusnya.

Berdasarkanisilaporan,CriticalBookReviewyangdibuatolehSarah,,sudah

tepatpembahasannyamudahdipahami,sertakonteknyakompleks,tidakbertele-

teleataudapatdikatakansingkatdanpadat.Namunadakekuranganpada

bagianBabIIIPembahasanyaitupadabagiananalisis.Sarahhanyamenjelaskan

analisistentangkelebihandankekuranganbukuutamadanbukupembanding

tidakadamembahastentangperbandinganisikeduabukutersebut.Tapi

berdasarkankeseluruhanisilaporantersebut,sudahmemuaskankarena

penjelasandimulaidaripendahuluan,pembahasansampaipenutupbisa

dipahami.

DemikianlahhasilreviewsayaterhadaplaporanCriticalBookReviewtentangHukum

Pidana,milikSarahTheresiaBr.HarianjakelasRegulerD2017.