Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum

Fisiologi Tumbuhan

DIFUSI OSMOSIS

NAMA : CHINDY ADSARIA LEMBANG


NIM : G011181076
KELAS :B
KELOMPOK: 7
ASISTEN : AISYAH AMINI IQBAL

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Saat ini, telah banyak ditemukan teori-teori baru yang dapat membantu manusia
mengetahui hal-hal yang belum diketahuinya. Salah satunya mengenai proses
metabolisme pada makhluk hidup, seperti transportasi zat di dalam tubuh tumbuhan.
Tumbuhan memerlukan zat-zat dari luar untuk kelangsungan hidupnya. Dimana
sirkulasi zat ini terjadi dalam gerakan sitoplasma atau dalam bentuk difusi dan osmosis.
Difusi merupakan peristiwa mengalirnya atau berpindahnya suatu zat dalam pelarut
dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah. Proses difusi terjadi didalam
proses metabolisme pada organisme multiseluler meliputi banyak hal diantaranya
transport materi dan energi. Metabolisme diartikan pertukaran zat antar suatu sel
organisme dengan lingkungannya. Aktifitas protoplasma yang penting adalah
pembentukan sel baru dengan cara pembelahan. Sistem penyerapan serta transportasi
nutrien sangat penting bagi tumbuhan dan hewan. Penyerapan atau transport pasif,
berlangsung dengan menggunakan sumber energi hasil respirasi berupa ATP.
Proses difusi sendiri adalah percampuran antara dua molekul yang berbeda
konsentrasi. Difusi juga terjadi pada sel organisme hidup dimana molekul yang
berdifusi harus menerobos pori-pori, tetapi antar molekul yang berbeda konsentrasinya
itu dipisahkan oleh membran plasma yang mempunyai pori-pori (osmos). Dengan
demikian osmosis adalah perpindahan air dari larutan yang mempunyai konsentrasi
rendah ke larutan yang mempunyai konsentrasi yang lebih tinggi melalui membran
semipermeable. Osmosis juga merupakan terdifusinya zat pelarut dari larutan
berkonsentrasi rendah ke larutan dengan konsentrasi tinggi (Harahap, 2012).
Dari uraian diatas maka dilakukanlah praktikum difusi osmosis untuk
mengetahui mekanisme dan faktor yang mempengaruhi difusi dan osmosis pada
tumbuhan.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Pratikum ini dimaksudkan agar mahasiswa setelah melakukan kegiatan ini
diharapkan dapat:
1. Menemukan dan membuktikan fakta mengenai gejala difusi dan osmosis
2. Mengetahui pengaruh konsentrasi larutan terhadap kecepatan difusi
3. Mengetahui arah pergerakan air pada peristiwa difusi dan osmosis
4. Mendeskripsikan pengertian difusi dan osmosis.
Adapun kegunaan dari praktikum ini setelah dilaksanakan adalah agar
mahasiswa dapat menemukan dan membuktikan fakta mengenai gejala difusi dan
osmosis, mengetahui pengaruh konsentrasi larutan terhadap kecepatan difusi,
mengetahui arah pergerakan air pada peristiwa difusi dan osmosis, serta mengetahui
pengertian difusi dan osmosis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Difusi Osmosis


Difusi merupakan perpindahan partikel zat dari larutan berkonsentrasi tinggi ke
larutan berkonsentrasi rendah. Peristiwa difusi pada tumbuhan sangat penting untuk
keseimbangan hidup tumbuhan. Karbon dioksida (CO2) dan oksigen (O2) diambil oleh
tumbuhan dari udara melalui proses difusi. Pengambilan air dan garam mineral oleh
tumbuhan dari dalam tanah, salah satunya melalui proses difusi. Difusi zat dari tanah
ke dalam tubuh tumbuhan disebabkan konsentrasi garam mineral di tanah lebih tinggi
daripada di sel. Demikian juga gas CO2 di udara masuk ke tubuh tumbuhan karena
konsentrasi CO2 di udara lebih tinggi daripada di sel tumbuhan. Sebaliknya, O2 dapat
berdifusi keluar tubuh tumbuhan jika konsentrasi O2 dalam tubuh tumbuhan lebih
tinggi akibat adanya fotosintesis dalam sel (Campbell, 2004).
Osmosis adalah proses perpindahan atau pergerakan molekul zat pelarut, dari
larutan yang konsentrasi zat pelarutnya tinggi menuju larutan yang konsentrasi zat
pelarutnya rendah melalui selaput atau membrane selektif permeable atau
semipermeable. Jika di dala suatu bejana yang dipisahkan oleh selaput semipermeable
ditempatkan dua larutan glukosa yang terdiri atas air sebagai pelarut dan glukosa
sebagai zat terlarut dengan konsentrasi yang berbeda dan dipisahkan oleh selaput
selektif permeable, maka air dari larutan yang konsentrasi rendah akan bergerak atau
berpindah menuju larutan glukosa yang konsentrasinya tinggi melalui selaput
permeable. Jadi pergerakan air berlangsung dari larutan yang berkonsentrasi tinggi
menuju kelarutan konsentrasi airnya rendah melalui selaput selektif permeable.
Larutan yang konsentrasi zat terlarutnya lebih tinggi dibandingkan dengan larutan di
dalam sel dikatakan sebagai larutan hipertonis, sedangkan larutan yang konsentrasinya
sama dengan larutan didalam sel disebut larutan isotonis (Yunita, 2010).
Jika larutan yang terdapat di luar sel, konsentrasi zat terlarutnya lebih rendah
daripada di dalam sel dikatakan sebagai larutan hipotonis. Apakah yang terjadi jika sel
tumbuhan atau hewan, misalnya sel darah merah ditempatkan dalam suatu tabung yang
berisi larutan dengan sifat larutan yang berbeda-beda? Pada larutan isotonis, sel
tumbuhan dan sel darah merah akan tetap normal bentuknya. Pada larutan hipotonis,
sel tumbuhan akan mengembang dari ukuran normalnya dan mengalami peningkatan
tekanan turgor sehingga sel menjadi keras. Berbeda dengan sel tumbuhan, jika sel
hewan/sel darah merah dimasukkan dalam larutan hipotonis, sel darah merah akan
mengembang dan kemudian pecah, hal ini karena sei hewan tidak memiliki dinding
sel. Pada larutan hipertonis, sel tumbuhan akan kehilangan tekanan turgor dan
mengalami plasmolisis (lepasnya membran sel daridinding sel), sedangkan sel hewan
dalam larutan hipertonis menyebabkan sel hewan/sel darah merah mengalami krenasi
sehingga menjadi keriput karena kehilangan air (Yunita, 2010).
2.2 Mekanisme Difusi Osmosis
Difusi merupakan proses perpindahan atau pergerakan molekul zat atau gas dari
konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Difusi melalui membran dapat berlangsung
melalui tiga mekanisme, yaitu difusi sederhana (simple difusion),difusi melalui saluran
yang terbentuk oleh protein transmembran (simple difusion by chanel formed), dan
difusi difasilitasi (fasiliated difusion). Difusi sederhana melalui membrane
berlangsung karena molekul-molekul yang berpindah atau bergerak melalui membran
bersifat larut dalam lemak (lipid) sehingga dapat menembus lipid bilayer pada
membran secara langsung. Membran sel permeabel terhadap molekul larut lemak
seperti hormon steroid, vitamin A, D, E, dan K serta bahan-bahan organik yang larut
dalam lemak, Selain itu, membran sel juga sangat permeabel terhadap molekul
anorganik seperti O,CO2, HO, dan H2O (Yahya, 2015).
Proses difusi digerakkan oleh gaya dorong yang terjadi karena adanya beda
potensial dari tinggi ke rendah, baik dalam hal temperatur, listrik, tekanan hidrostatik,
konsentrasi, an lain sebagainya. Di dalam tubuh tanaman, berlangsung proses difusi
seperti proses pertukaran gas di dalam daun yaitu C02 dan O2. Pada proses fotosintesis
terjadi pemindahan O2 dari daun ke udara bebas dan pemindahan CO2 dari udara ke
daun. Pada peristiwa ini, O2 dapat dibebaskan dan CO2 dapat digunakan, jika
kandungan O2 daun lebih tinggi dari lingkungan sekitar (Harahap, 2012).
Jika partikel suatu zat dapat bergerak bebas tanpa terhambat oleh gaya tarik,
maka dalam jangka waktu tertentu partikel-partikel itu akan tersebar merata dalam
ruang yang ada. Sampai distribusi merata seperti itu terjadi, akan terdapat banyak
partikel yang bergerak dari daerah tempat partikel lebih pekat ke daerah yang
partikelnya kurang pekat, dan secara menyeluruh gerakan partikel pada arah tertentu
yang kemudian disebut difusi (Yahya, 2015).
Osmosis adalah proses perpindahan atau pergerakan molekul zat pelarut, dari
larutan yang konsentrasi zat pelarutnya tinggi menuju larutan yang konsentrasi zat
pelarutya rendah melalui selaput atau membran selektif permeabel atau semi
permeabel. Jika di dalam suatu bejana yang dipisahkan oleh selaput semipermiabel,
jika dalam suatu bejana yang dipisahkan oleh selaput semipermiabel ditempatkan dua
larutan glukosa yang terdiri atas air sebagai pelarut dan glukosa sebagai zat terlarut
dengan konsentrasi yang berbeda dan dipisahkan oleh selaput selektif permeabel, maka
air dari larutan yang berkonsentrasi rendah akan bergerak atau berpindah menuju
larutan glukosa yang konsentrainya tinggi melalui selaput permeabel (Dwinata, 2013).
Membran semipermeabel harus ditembus oleh pelarut, tapi tidak oleh zat
terlarut, yang mengakibatkan gradien tekanan sepanjang membran. Osmosis
merupakan fenomena alami, tapi dapat dihambat secara buatan dengan meningkatkan
tekanan pada bagian dengan konsentrasi pekat menjadi melebihi bagian dengan
konsentrasi yang lebih encer. Gaya per unit luas yang dibutuhkan untuk mencegah
mengalirnya pelarut melalui membran permeabel selektif dan masuk ke larutan dengan
konsentrasi yang lebih pekat sebanding dengan tekanan turgor (Keenan, et al,. 1984).
2.3 Faktor yang Mempengaruhi Difusi Osmosis
Proses difusi dan osmosis pada makhluk hidup dipengaruhi oleh beberapa
faktor, diantaranya:
2.3.1 Faktor yang mempengaruhi Difusi
Ada beberapa faktor yang mempngaruhi difusi menurut Resdiana (2016),
seperti:
1. Suhu sangat berpengaruh dalam proses difusi, karena semakin tinggi suhu maka
semakin cepat pula proses difusi terjadi
2. Berat massa akan membuat proses difusi lebih lambat jika massa yang diamati lebih
besar
3. Difusi akan berlangsung lebih cepat apabila kelarutan medium lebih besar
4. Perbedaan Konsentrasi, makin besar perbedaan konsentrasi antara dua bagian, makin
besar proses difusi yang terjadi.
5. Jarak tempat berlangsungnya difusi, makin dekat jarak tempat terjadinya difusi,
makin cepat proses difusi yang terjadi.
6. Area Tempat berlangsungnya difusi, makin luas area difusi, makin cepat proses
difusi.
Kaltra (2013) memaparkan bahwa setidaknya ada tiga faktor yang
mempengaruhi osmosis:
1. Ukuran zat terlarut: semakin banyak zat terlarut maka peristiwa terjadinya osmosis
akan semakin cepat. Karena zat terlarut memiliki tekanan osmotik yang berfungsi
untuk memecah zat pelarut bergerak melalui membrane semipermeable.
2. Tebal membran: semakin tebal suatu membrane akan memperhambat terjadinya
osmosis. Karena dapat menyebabkan semakin sulitnya zat terlarut menembus
membrane tersebut.
3. Luas permukaan, semakin luas suatu permukaan maka semakin cepat proses difusi
terjadi
2.4 Jenis- Jenis Difusi
Menurt Campbell (2014) ada tiga jenis utama dari difusi, yang meliputi difusi
sederhana, difusi saluran dan difusi difasilitasi.
1. Difusi Sederhana
Difusi sederhana terjadi ketika kecil, molekul nonpolar mengangkut melalui
membran selektif permeabel. Molekul yang mampu melewati membran harus
hidrofobik sehingga mereka dapat bergerak melalui daerah hidrofobik dari wilayah
lipid bilayer. difusi sederhana adalah proses transpor pasif yang tidak memerlukan
energi atau protein membran.
2. Difusi Saluran
Difusi saluran juga merupakan jenis transpor pasif yang terjadi dengan bantuan
protein membran. Protein ini tertanam dalam membran sel dan dapat membuka dan
menutup untuk memungkinkan molekul atau senyawa ke dalam atau keluar dari sel.
difusi saluran mudah diatur oleh protein membran. Secara umum, ion dan partikel yang
bermuatan adalah jenis molekul yang memanfaatkan difusi saluran.
3. Difusi Difasilitasi
Jenis terakhir adalah difusi difasilitasi. Jenis difusi ini menggunakan operator
protein yang tertanam dalam membran sel. Operator-operator protein ini mengikat
senyawa, kemudian mengubah bentuk senyawa tersebut. Kemudian, operator-operator
protein merilis senyawa ke dalam atau keluar dari sel dan mendapatkan kembali bentuk
mereka. difusi difasilitasi juga merupakan proses transpor pasif.
2.5 Peran Difusi Osmosis pada Tanaman
Difusi dan osmosis sangat berperan penting dalam kehidupan tanaman. Difusi
merupakan salah satu prinsip yang menggerakkan partikel zat seperti CO2, O2, dan H2O
masuk dalam jaringan tanaman. Artinya difusi berperan dalam proses fotosintesis dan
transpirasi pada tanaman dengan perpindahan molekul larutan berkonsentrasi tinggi
menuju larutan berkonsentrasi rendah tanpa melalui selaput membrane. Pada
tumbuhan, sebagian air dan zat hara diserap melalui tanah. Zat yang lain seperti O2 dan
CO2 banyak diserap oleh daun. Dalam proses penyuplaian hara pada jaringan tanaman
difusi merupakan proses yang terlibat aktif didalam kegiatan tersebut (Riandy, 2007).
Sedangkan proses osmosis, sangat berperan dalam proses penyerapan air dalam
tumbuhan. Sedangkan penyerapan mineral yang terlarut dalam tanah di lakukan secara
difusi, yang akan di edarkan ke seluruh bagian tubuh tumbuhan. Terjadinya
pengangkutan ini akan menyebabkan rekanan turgor sel, sehingga mampu membesar
dan mempunyai bentuk tertentu. Osmosis juga memungkinkan terjadinya proses
membuka dan menutupnya stomata. Salah satu alasan mengapa tekanan osmotic juga
merupakan mekanisme utama dalam mengangkut air kebagian atas tumbuhan yang
kehilangan air (transpirasi). Akibat transpirasi konsentrasi zat terlarut dalam cairan
daun akan mengalami peningkatan (Sediawan, 2001).
Daun memiliki daya isap yang merupakan kemampuan untuk mengambil atau
menyerap air dari batang karena tekanan osmosis sel-sel daun lebih tinggi
dibandingkan dengan sel-sel pada batang. Perbedaan tekanan osmotic disebabkan oleh
daun yang selalu mengeluarkan airnya karena peristiwa gutasi (Sediawan, 2001).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

1.1 Hasil
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan maka didapatkan hasil
sebagai berikut:
5

0
I II III IV V VI
Kontrol
-5
kentang

25%
50%
-10
75%
100%
-15

-20
Pengamatan Ke-

Gambar 1. Grafik Perubahan Larutan dalam Pipa Kaca Berskala pada Kentang
0
I II III IV V VI
-5
-10
-15 Kontrol
Wortel

-20 25%
-25 50%

-30 75%

-35 100%

-40
-45
Pengamatan ke-

Gambar 2. Grafik Perubahan Larutan dalam Pipa Kaca Berskala pada Wortel
1.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan dapat diketahui pada
grafik pertama yaitu pengamatan difusi dan osmosis pada kentang (Solanum
tuberosum), dimana untuk proses difusi terjadi pada saat pencampuran air dengan
larutan sukrosa. Sedangkan untuk proses osmosis terjadi pada kentang dan wortel yang
berperan sebagai membrane semipermeabel antara air dan larutan sukrosa.
Grafik pertama menunjukkan bahwa larutan sukrosa dalam pipa kaca yang di
tancapkan ke kentang mengalami kenaikan sebanyak +10 untuk pengamatan ke tiga
pada konsentrasi 75% dan penurunan sebanyak -15 pada pengamatan ke tiga untuk
konsentrasi larutan 100%. Sedangkan pada pipa kaca yang ditancapkan pada wortel
mengalami penurunan larutan hingga -40 pada pengamatan ke empat untuk konsentrasi
larutan 25%, dan pengamatan ke lima untuk konsentrasi larutan 100%. Hal diatas tidak
sesuai dengan pendapat Pokharkar (1997) yang menyatakan bahwa semakin tinggi
konsentrasi larutan osmosis yang dipakai, aquades yang berpindah ke dalam kentang
akan semakin banyak.
Dari hasil yang di dapatkan dari kedua grafik diatas dapat disimpulkan bahwa
proses osmosis yang dilakukan tidak berjalan dengan benar, atau dengan kata lain
gagal. Hal ini terjadi karena beberapa faktor, antara lain ukuran bahan yang tidak sesuai
dengan prosedur yang seharusnya telah ditentukan, kemudian lubang yang dibuat pada
bahan terlalu besar hingga menyebabkan larutan yang berada didalam pipa kaca yang
ditancapkan ke bahan meluap hingga membasahi cawan petri, dan beberapa faktor lain
yang menjadi pengamatan ini tidak berjalan sebagaimana adanya.
Pada pengamatan proses osmosis baik pada ketang maupun wortel mengalami
penurunan larutan yang berada didalam pipa kaca, yang artinya tidak sesuai dengan
pendapat Yahya (2015) yang mengatakan bahwa osmosis adalah peristiwa dimana air
berpindah dari konsentrasi yang rendah menuju konsentrasi yang lebih tinggi. Dimana
seharusnya air yang berada pada pipa kaca berkurang akibat perpindahan molekul air
ke konsentrasi yang lebih tinggi melalui membrane semipermeabel.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan terkait proses difusi dan osmosis,
dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Proses difusi dan osmosis terbukti melalui praktikum ini dimana pada proses
difusi terjadi pada pencampuran air dan larutan sukrosa, dan proses osmosis
terjadi pada perpindahan air ke larutan sukrosa melalui membrane semi
permeabel
2. Difusi osmosis dipengaruhi oleh konsentrasi larutan yang digunakan dalam
pengamatan, dimana semakin tinggi konsentrasi larutan maka semakin cepat
proses terjadi
3. Larutan yang berpindah dari konsentrasi yang tinggi menuju tempat dengan
konsentrasi yang lebih rendah disebut difusi. Sedangkan osmosis adalah proses
perpindahan air dari konsentrasi rendah ke konsentrasi yang lebih tinggi
5.2 Saran
Saran saya untuk praktikum ini adalah agar praktikum kedapannya dapat
dilaksanakan dengan baik dan benar, serta penyajian hasil pengamatan lebih
dilengkapi agar dalam pembacaan hasil nantinya tidak mengalami kesulitan.
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Neil A. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta: Erlangga.

Dwinata, A. D. 2013. Dehidrasi Osmotik pada Irisan Buah Pepaya (Carica papaya. L)
dengan Pelapisan Sodium Alginal pada Suhu Ruang. (Skripsi). Departemen
Teknik Mesin dan Biosistem. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Harahap, Fauziah. 2012. Fisiologi Tumbuhan: Suatu Pengantar. Medan:Unimed
Presss.
Keenan. 1984. Kimia untuk Universitas Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Pokharkar, S. M., Prasad, S., & Das, H., 1997. A Model for Osmotic Concentration of
Banana Slices. J Food Sci. Technol., 34(3), 230-232.
Riandi. 2007. Media Pembelajaran Biologi. Bandung: UPI Press.

Sediawan, W. B., 2001. Mathematical Analysis of Osmotic Dehydration of Fruits.


(Makalah Seminar NAF). Batam.
Yahya. 2015. Perbedaan Tingkat Laju Osmosis antara Umbi Solanum tuberosum dan
Doucus corota. Jurnal Biology Education, 4(1):196-206.
Yunita. 2010. Fisiologi Tumbuhan Jiid 2. Bandung: ITB.