Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

“SAKTAH”

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah

Gharaibul Qiroah
Dosen Pembimbing
Ahmad Sutrisno, M. Pd

Disusun Oleh:

1. Ana Fitriani
2. Isna Nofiaturrosidah
3. Lailatul Fitriya Purbawati

PENDIDIKAN GURU TAMAN PENDIDIKAN AL-QUR’AN


(PGTPQ) AN-NAHDLIYAH BESUKI
TAHUN 2019
1
DAFTAR ISI

Cover ............................................................................................................. 1

Daftar Isi ....................................................................................................... 2

Bab I Pendahuluan ................................................................................... 3

A. Latar Belakang Masalah ................................................................... 3

B. Rumusan Masalah ............................................................................. 4

C. Tujuan Pembahasan .......................................................................... 4

Bab II Pembahasan..................................................................................... 5

A. Pengertian Saktah.............................................................................. 5

B. Contoh- contoh Bacaan Saktah.......................................................... 5

C. Cara Membaca Saktah....................................................................... 6

Bab III Penutup ........................................................................................... 9

A. Kesimpulan........................................................................................ 9

B. Kritik dan Saran................................................................................. 9

Daftar Pustaka ............................................................................................. 10

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Berbicara tentang Al-Qur’an memang bagai lautan yang tak bertepi,


semakin jauh ia dikejar semakin luas pula jangkauannya. Dari aspek
manapun Al-Qur’an dikaji dan diteliti, ia tidak pernah habis atau basi,
bahkan semakin kaya dan selalu aktual. Mungkin itulah salah satu mukjizat
yang terpancar dari kitabullah sebagai bukti risalah Allah yang dititipkan
pada Rasul-Nya, yaitu al-Islam.
Aspek bacaan Al-Qur’an dalam pengertian yang luas, bukan hanya
sekedar melafalkan huruf Arab dengan lancar, akan tetapi juga merupakan
salah satu aspek kajian yang paling jarang diperbincangkan,
dalam mempelajari dan mencari dalil-dalil fiqh baik dari Al-Qur’an, hadits
maupun dari pendapat para ulama, ternyata tidak diikuti oleh semangat
mentashihkan bacaan atau mencari jawaban tentang apa dan mengapa ada
bacaan saktah, madd, ghunnah yang sama-sama wajib dipelajari bagi kaum
muslimin.
Tidak semua orang dapat membaca Al-Qur’an dengan tepat dan
benar, padahal membaca Al-Qur’an dengan tepat dan benar itu sendiri
merupakan keharusan bagi kaum muslimin.
Sebagai akibat dari kurangnya informasi yang memadai tentang
bacaan Al-Qur’an, bagi kebanyakan orang dianggap hanya mempelajari
makhraj dan sifat huruf, hukum nun atau mim mati, dan tanwin, dan mad
saja. Lalu mereka membaca al-quran apa adanya sebagaimana yang terdapat
dalam tulisan mushaf atau rasm, padahal banyak kalimat yang cara bacanya
tidak sama persis dengan tulisannya.

B. Rumusan Masalah

3
1. Apa yang dimaksud dengan saktah?

2. Apa saja contoh-contoh bacaan saktah dalam Al-Qur’an?

3. Bagaimana cara membaca saktah?

C. Tujuan Pembahasan

1. Untuk mengetahui definisi saktah.

2. Untuk mengetahui contoh-contoh bacaan saktah dalam Al-Qur’an.

3. Untuk mengetahui cara membaca saktah

BAB II

4
PEMBAHASAN

A. Pengertian Saktah

Menurut bahasa saktah berarti diam. Adapun yang dimaksud saktah


menurut istilah, adalah berhenti sejenak ketika membaca ayat suci Al-Qur’an
dengan kadar waktu satu Alif atau dua ketukan tanpa mengambil nafas dengan
maksud (niat) tetap ingin meneruskan bacaan Al-Qur’annya. 1

B. Contoh- contoh Bacaan Saktah

Di dalam Al-Qur’an menurut riwayat Imam Hafsh, saktah hanya terdapat


empat tempat,2 yaitu:
1. Surat Al Kahfi (18) ayat 1-2 juz 15

‫جههاا‬
‫عو ح ح‬
‫هههۥ ه‬ ‫ب وحل ح مم ي حمجحعل ل ل د‬ ‫ى ع حمبد ههه ٱملك هت ىح ح‬ ‫حممد د ل هل لهه ٱل لذ هيي حأنَحز ح ح‬ ‫ٱمل ح‬
‫ل ع حل ى‬
‫م‬
ِّ‫ن‬
‫ذي ح‬ ‫نِّ ٱللهه ه‬
‫مهنُي ح‬ ‫شحر ٱمل د‬
‫مههمؤ ه‬ ‫ه وحي دب ح ي‬ ‫منِّ ل لد دمن د‬
‫داٗ ي‬‫دي م‬‫ش ه‬‫ساٗ ح‬‫ماٗ ل يدينُذ هحر ب حأ م‬
‫ قحي ي م‬١
‫ح‬ ‫ح‬
٢ ٗ‫سمنُا‬ ‫ح ح‬ ‫ن ل حهد مم أمجرراٗ ح‬
‫تأ ل‬ ‫ح ه‬‫صل ه ىح‬
‫ن ٱل ىل‬ ‫مدلو ح‬ ‫ي حمع ح‬
Artinya:
1. Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya
Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di
dalamnya.
2. sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang
sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada
orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa
mereka akan mendapat pembalasan yang baik.
2. Surat Yasin (36) ayat 52 juz 23

ِّ‫ن‬ ‫مههاٗ وحع حههد ح ٱللرمح ىح‬


‫مهه د‬ ‫ممرقحههد هنَ ح ااا هىحهه ح‬
‫ذاٗ ح‬ ‫مههنِّ ل‬ ‫حقاٗدلواٗ ا ي ىحوحميل ححنُاٗ ح‬
‫مههنن ب حعحث حنُ حههاٗ ه‬
‫صد حقح‬ ‫وح ح‬
1
Pimpinan Pusat Majelis Pembina Taman Pendidikan Al-Qur’an An Nahdliyah, Pedoman
Pengelolaan Taman Pendidikan Al-Qur’an Metode Cepat Tanggap Belajar Al-Qur’an An-
Nahdliyah(Tulungagung: Pimpinan Pusat Majelis Pembina Taman Pendidikan Al-Qur’an An
Nahdliyah,2008), h. 89
2
Masruri dkk, Belajar Mudah Membaca Al-Qur’an Ghoroibul Qur’an Ummi (Surabaya:
CV Ummi Media Center, 2007), h. 19

5
‫سدلو ح‬
٥٢ ‫ن‬ ‫ٱمل د‬
‫ممر ح‬
Artinya: Mereka berkata: "Aduhai celakalah kami! Siapakah yang
membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?". Inilah yang
dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-
rasul(Nya).

3. Surat Al Qiyamah (75) ayat 27 juz 29

٢٧ ‫م مان حراٗقق‬ ‫وحهقي ح‬


‫ل ح‬
Artinya: dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang dapat
menyembuhkan?

4. Surat Al Muthoffifin (83) ayat 14 juz 30

١٤ ‫ن‬ ‫كاٗدنَواٗ ا ي حمك ه‬


‫سدبو ح‬ ‫ى قددلوب هههمِ ل‬
‫ماٗ ح‬ ‫ك حلل ب ح مال حراٗ ح ح‬
‫ن ع حل ى‬
Artinya: Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu
mereka usahakan itu menutupi hati mereka.

C. Cara Membaca Saktah

1. Surat Al Kahfi ayat 1-2, yaitu: pada lafazh ‫ قحي ي م‬١ ‫جاا‬
ٗ‫ما‬ ‫عو ح ح‬ ‫ي حمجحعل ل ل د‬
‫هۥ ه‬
‫ل يدينُذ هحر‬
(YAJ'ALLAHUU 'IWAJAA berhenti sejenak QAYYIMAALLIYUNDZIRA).

cara membacanya : yaitu dengan menghilangkan tanwin dan digantinya dengan


fathah pada lafazh 'IWAJAN sehingga menjadi madd 'iwad, panjang dua
harakat. yaitu menjadi 'IWAJAA berhenti sejenak ukuran dua harakat tanpa
bernafas, kemudian diteruskan dengan lafazh selanjutnya. Faedah saktah pada
ayat ini yaitu : untuk memisahkan dua lafazh, yang apabila membacanya di
washol/disambung dengan tidak memakai saktah, maka akan disangka bahwa
lafazh QOYYIMAN menjadi sifat dari lafazh 'IWAJAN, yang tentu ma'nanya
sangat bertolak belakang, 'IWAJAN artinya kebengkokan sedangkan
QAYYIMAN artinya lurus, oleh karena itu ketika lafazh 'IWAJAN membacanya

6
hendak di washol dengan lafazh QAYYIMAN maka diwajibkan memakai
Saktah.3

2. Surat Yasin (36) ayat 52 juz 23, yaitu: pada lafal ٗ‫ما‬ ‫ممرقحد هنَ ح ااا هىح ح‬
‫ذاٗ ح‬ ‫منِّ ل‬
‫ه‬
(MIMMARQADINAA berhenti sejenak HAADZAA MAA ) cara
membacanya : yaitu dengan memanjangkan ujung lafazh MARQADINAA ukuran
dua harakat karena hukum madd ashli, berhenti sejenak ukuran dua harakat tanpa
bernafas, kemudian di teruskan dengan lafazh selanjutnya. Faedah saktah pada
ayat ini yaitu : untuk memisahkan perkataan orang kafir dengan perkataan orang
mukmin, perkataan orang kafir selesai pada lafazh MARQADINAA sedangkan
lafazh sesudahnya ( HAADZAA MAA..) merupakan perkataan orang mukmin.
apabila kedua lafazh tersebut di sambungkan tanpa memakai saktah maka akan
terjadi kekeliruan dalam ma'nanya.

3. Surat Al Qiyamah (75) ayat 27 juz 29, yaitu: pada lafazh ‫م مان حراٗقق‬ ‫وحهقي ح‬
‫ل ح‬
٢٧ ( (WA QIILA MAN berhenti sejenak RAAQ ) cara membacanya : yaitu
dengan meng izharkan huruf nun mati pada lafazh MAN, berhenti sejenak ukuran
dua harakat tanpa bernafas, kemudian di teruskan dengan lafazh selanjutnya.
Faedah saktah pada ayat ini yaitu : menunjukan bahwa lafazh MAN dan RAAQ
bukanlah satu kalimah melainkan dua kalimah, dan apabila membacanya
disambung tanpa memakai saktah, maka akan terjadi idghoom bilaghunnah, dan
kemungkinan akan dianggap satu kalimah. yaitu menjadi lafazh :
‫( مراق‬MARRAAQ ) dengan mengikuti wazan ‫ ( فعال‬FA''AALUN ) tasydid pada
huruf 'ain.

4. Surat Al Muthoffifin (83) ayat 14 juz 30, yaitu: pada lafazh ‫ك حل ل ب ح مال راٗ ح‬
‫ن‬
( KALLAA BAL berhenti sejenak RAANA ) cara membacanya : yaitu dengan
mengizharkan huruf lam pada lafazh BAL, berhenti sejenak ukuran dua harakat
tanpa bernafas, kemudian di teruskan dengan lafazh selanjutnya. Faidah saktah
3
Maftuh Basthul Birri, Fath al-Mannan (Standar Tajwid Bacaan al-Qur’an) (Kediri: t.p,
2000), h. 136

7
pada ayat ini yaitu : menunjukan bahwa lafazh BAL dan RAANA bukanlah satu
kalimah melainkan dua kalimah, dan apabila membacanya disambung tanpa
memakai saktah, maka akan terjadi idgham mutaqaaribain shogiir, dan
kemungkinan akan dianggap satu kalimah, yaitu menjadi
lafazh : ‫ ( بببران‬BARRAANA ) dengan mengikuti wazan ‫ ( فعببال‬FA''AALUN )
tasydiid pada huruf 'ain.4

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
4
Humam As’ad, Cara Cepat Belajar Tajwid Praktis (Yogyakarta: Team Tadarus Angkatan
Muda Masjid & Mushola, t.th), h.27

8
Menurut bahasa saktah berarti diam. Adapun yang dimaksud saktah
menurut istilah, adalah berhenti sejenak ketika membaca ayat suci Al-Qur’an
dengan kadar waktu satu Alif atau dua ketukan tanpa mengambil nafas
dengan maksud (niat) tetap ingin meneruskan bacaan Al-Qur’annya.
Di dalam Al-Qur’an menurut riwayat Imam Hafsh, saktah hanya
terdapat empat tempat yaitu:
1. Surat Al Kahfi (18) ayat 1-2 juz 15
2. Surat Yasin (36) ayat 52 juz 23
3. Surat Al Qiyamah (75) ayat 27 juz 29
4. Surat Al Muthoffifin (83) ayat 14 juz 30
Selain pada empat tempat ini, hendaknya jangan sampai membaca
saktah supaya tidak menacatkan bacaan.

B. Kritik dan Saran


Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan dan masih banyak memerlukan pembenahan. Oleh karena itu
kami mengharap kepada segenap pembaca yang budiman untuk memberikan
masukan baik berupa kritik maupun saran, baik secara lisan mapun secara
tertulis. Kami akan dengan senang hati menerimanya. Harapan kami semoga
makalah ini menjadi manfaat. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Pimpinan Pusat Majelis Pembina Taman Pendidikan Al-Qur’an An Nahdliyah,


Pedoman Pengelolaan Taman Pendidikan Al-Qur’an Metode Cepat
Tanggap Belajar Al-Qur’an An-Nahdliyah, Tulungagung: Pimpinan

9
Pusat Majelis Pembina Taman Pendidikan Al-Qur’an An Nahdliyah.
2008.

Masruri dkk, Belajar Mudah Membaca Al-Qur’an Ghoroibul Qur’an Ummi,


Surabaya: CV Ummi Media Center, 2007.

Birri, Maftuh Basthul. Fath al-Mannan (Standar Tajwid Bacaan al-Qur’an,


Kediri: t.p, 2000.

As’ad, Humam. Cara Cepat Belajar Tajwid Praktis(Yogyakarta: Team Tadarus


Angkatan Muda Masjid & Mushola, t.th.

10