Anda di halaman 1dari 12

TUGAS PRESENTASI KASUS

EKTIMA
BLOK EARLY CLINICAL AND COMMUNITY EXPOSURE III
(BLOK ECCE III)

Tutor :
dr. Ismiralda Okke Putranti Sp. KK.

Kelompok F-1 :
Eviyanti Ratna G1A010063
Meta Mukhsinina G1A010064
Mey Harsanti G1A010065
Nurvynda Pratiwi G1A010066

JURUSAN KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2013
BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Ektima adalah pioderma ulseratif kulit yang umumnya disebabkan oleh
Streptococcus β-hemolyticus. Penyebab lainnya bisa Staphylococcus aureus atau
kombinasi dari keduanya. Menyerang epidermis dan dermis membentuk ulkus dangkal
yang ditutupi oleh krusta berlapis, biasanya terdapat pada tungkai bawah.
Pioderma ialah penyakit kulit yang disebabkan oleh Staphylococcus,
Streptococcus, atau oleh kedua-duanya. Faktor predisposisi yang dapat menyebabkan
timbulnya penyakit ini adalah hygiene yang kurang, menurunnya daya tahan tubuh, atau
jika telah ada penyakit lain di kulit.
Streptococcus merupakan organisme yang biasanya menyebabkan infeksi pada
ektima. Gambaran ektima mirip dengan impetigo, namun kerusakan dan daya invasifnya
pada kulit lebih dalam daripada impetigo. Infeksi diawali pada lesi yang disebabkan
karena trauma pada kulit, misalnya, ekskoriasi, varicella atau gigitan serangga. Lesi pada
ektima awalnya mirip dengan impetigo, berupa vesikel atau pustul. Kemudian langsung
ditutupi dengan krusta yang lebih keras dan tebal daripada krusta pada impetigo, dan
ketika dikerok nampak lesi punched out berupa ulkus yang dalam dan biasanya berisi
pus.
Insiden ektima di seluruh dunia tepatnya tidak diketahui. Frekuensi terjadinya
ektima berdasarkan umur biasanya terdapat pada anak-anak dan orang tua, tidak ada
perbedaan ras dan jenis kelamin (pria dan wanita sama). Pada anak-anak kebanyakan
terjadi pada umur 6 bulan sampai 18 tahun.
Dari hasil penelitian epidemiologi didapatkan bahwa tingkat kebersihan dari
pasien dan kondisi kehidupan sehari-harinya merupakan penyebab yang paling terpenting
untuk perbedaan angka serangan, beratnya lesi, dan dampak sistemik yang didapatkan
pada pasien ektima.
Ektima merupakan penyakit kulit berupa ulkus yang paling sering terjadi pada
orang-orang yang sering bepergian (traveler). Pada suatu studi kasus di Perancis,
ditemukan bahwa dari 60 orang wisatawan, 35 orang (58%) diantaranya mendapatkan
infeksi bakteri, dimana bakteri terbanyak yang ditemukan yaitu Staphylococcus aureus
dan Streptococcus B-hemolyticus grup A yang merupakan penyebab dari penyakit kulit
impetigo dan ektima. Dari studi kasus ini pula, ditemukan bahwa kebanyakan wisatawan
yang datang dengan ektima memiliki riwayat gigitan serangga (73%).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Ektima adalah pioderma yang menyerang epidermis dan dermis, membentuk
ulkus dangkal yang ditutupi dengan krusta berlapis yang disebabkan oleh Streptococcus
B hemoliticus group A. Karena ektima biasanya terdapat pada lapisan dermis dan lebih
dalam dari impetigo, sehingga sering juga disebut dengan impetigo ulseratif (Siregar,
2004).

B. Etiologi dan Predisposisi


1. Etiologi

Penyebab umum dariektima atau impetigo ulseratif adalahStreptococcus


pyogenik, staphylococcus atau keduanya. Bakteriologi dari ektima pada dasarnya
sama dengan impetigo, karena keduanya disebabkan oleh infeksi Streptococcus
pyogenes yang didapatkan pada kultur murni. Selain itu juga ditemukan penyebab
lain yaitu Staphylococcus aureus. Dari 66 kasus yang ditemukan, disebabkan oleh
Streptococcus group A. Suatu literatur menunjukkan bahwa dari 35 pasien impetigo
dan ektima, 15 di antaranya disebabkan oleh staphylococcus aureus, 12 pasien
disebabkan oleh Streptococcus group A, dan 8 pasien disebabkan oleh keduanya
(Loretta, 2008).

Streptococcus β hemolyiticus group Adapat menimbulkan lesi atau infeksi


sekunder pada lesi sebelumnya. Predisposisi timbulnya ektima yaitu adanya
kerusakan pada jaringan seperti ekskoriasi, gigitan serangga dan keadaan
imunokompromais. Penyebaran infeksi Streptococcuspada kulit diperberat oleh
kondisi lingkungan yang padat, sanitasi buruk dan malnutrisi (Shou, 2009).

2. Faktor Predisposisi

Ektima dapat dilihat pada daerah yang mengalami kerusakan pada jaringannya.
Misalnya ekskoriasi, gigitan serangga, dermatitis atau skabies . Ektima juga
dapat ditemukan pada penderita dengan gangguan imunitas (misalnya penderita
diabetes). Faktor-faktor pentingyang berperan dalam timbulnya ektima antara lain
• Temperatur dan kelembaban yang tinggi dan daerah tropis
• Kondisi lingkungan yang kotor
• Hygiene yang buruk
• Malnutrisi dan Impetigo yang tidak diobati dengan baik akan berkembang
menjadi ektima biasanya sering pada penderita dengan hygiene buruk.
C. Epidemiologi
Insiden ektima di seluruh dunia tepatnya tidak diketahui. Frekuensi terjadinya
ektima berdasarkan umur biasanya terdapat pada anak-anak dan orang tua, tidak ada
perbedaan ras dan jenis kelamin (pria dan wanita sama). Pada anak-anak kebanyakan
terjadi pada umur 6 bulan sampai 18 tahun.
Dari hasil penelitian epidemiologi didapatkan bahwa tingkat kebersihan dari
pasien dan kondisi kehidupan sehari-harinya merupakan penyebab yang paling terpenting
untuk perbedaan angka serangan, beratnya lesi, dan dampak sistemik yang didapatkan
pada pasien ektima.
Ektima merupakan penyakit kulit berupa ulkus yang paling sering terjadi pada
orang-orang yang sering bepergian (traveler). Pada suatu studi kasus di Perancis,
ditemukan bahwa dari 60 orang wisatawan, 35 orang (58%) diantaranya mendapatkan
infeksi bakteri, dimana bakteri terbanyak yang ditemukan yaitu Staphylococcus aureus
dan Streptococcus B-hemolyticus grup A yang merupakan penyebab dari penyakit kulit
impetigo dan ektima. Dari studi kasus ini pula, ditemukan bahwa kebanyakan wisatawan
yang datang dengan ektima memiliki riwayat gigitan serangga (73%).
D. Patogenesis dan Patofisiologis
Patogenesis
Streptococcus menembus barrierluka atau kontak langsung. Tubuh melakukan sistem
imun alami menghasilkan fagosit seperti makrofag untuk segera memfagosit bakteri yang
masuk dengan mengeluarkan sitokin dan kemokin. Akan tetapi Streptococcusmemiliki
kapsul yang terdiri dari asam hyaluronat dan menyebabkan resisten terhadap fagosit.
Dinding sel terdiri dari protein (antigen M, T, R), karbohidrat (kelompok spesifik), dan
peptidoglikan. Streptococcus grup A juga mempunyai pili di dalam kapsul yang berisi
sebagian dari protein M dan dilindungi oleh asam lipoteichoic yang penting untuk
melekatkan diri pada sel epitelial. Protein M ini menolak fagositosis yang dilakukan oleh
leukosit polimorfonuklear. Streptococcus juga menghasilkan eksotoksin A yang dapat
menyebabkan kerusakan pada jaringan, menuju ke saluran limfatik dan dapat menembus
sampai ke pembuluh darah (Brooks, 2005).
Patofisiologi

E. Penegakan diagnosis
1. Anamnesis
Pasien biasanya datang dengan keluhan luka pada anggota gerak bawah. Pasien
biasanya menderita diabetes dan orang tua yang tidak peduli dengan kebersihan
dirinya. Anamnesis ektima, antara lain:
1. Keluhan utama. Pasien datang dengan keluhan berupa luka.
2. Durasi. Ektima terjadi dalam waktu yang lama akibat trauma berulang, seperti
gigitan seranga.
3. Lokasi. Ektima terjadi pada lokasi yang relatif sering trauma berulang, seperti
tungkai bawah.
4. Perkembangan lesi. Awalnya lesi berupa pustul kemudian pecah membentuk
ulkus yang tertutupi krusta.
5. Riwayat penyakit sebelumnya. Misalnya, Diabetes melitus dapat menyebabkan
penyembuhan luka yang lama.

2. Pemeriksaan Fisik
Effloresensi ektima berupa awalnya berupa pustul kemudian pecah membentuk
ulkus yang tertutupi krusta

Gambar D : Krusta coklat berlapis lapis pada ektima


Gambar E : Pada Lesi ektima yang diangkat krustanya akan terlihat ulkus yang
dangkal.

3. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaaan penunjang yang dapat dilakukan. yaitu biopsi kulit dengan jaringan
dalam untuk pewarnaan Gram dan kultur. Selain itu, juda dapat dilakukan
pemeriksaan histopatologi.
b. Gambaran histopatologi didapatkan peradangan dalam yang diinfeksi kokus,
dengan infiltrasi PMN dan pembentukan abses mulai dari folikel pilosebasea.
Pada dermis, ujung pembuluh darah melebar dan terdapat sebukan sel PMN.
Infiltrasi granulomatous perivaskuler yang dalam dan superficial terjadi dengan
edema endotel. Krusta yang berat menutupi permukaan dari ulkus pada ektima.

Gambar F: Pioderma
Neutrofil tersebar pada dasar ulserasi
(Seperti yang ditunjukkan oleh tanda panah)

c. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakuan adalah pemeriksaan Gram dan


kultur. Bahan untuk pemeriksaan bakteri sebaiknya diambil dengan
mengerok tepi lesi yang aktif. Pemeriksaan dengan Gram merupakan
prosedur yang paling bermanfaat dalam mikrobiologi diagnostik ketika
dicurigai adanya infeksi bakteri. Sebagian besar bahan yang
diserahkanh a r u s d i h a p u s p a d a g e l a s o b j e k , d i w a r n a i G r a m d a n
d i p e r i k s a s e c a r a m i k r o s k o p i k . P a d a pemeriksaan mikroskopik, reaksi
Gram ( biru-keunguan menunjukan organisme Gram positif, merah Gram negatif)
dan morfologi bakteri ( bentuk : kokus, batang, fusiforme atau yang lain ).
F. Penalataksanaan

Penatalaksanaan ektima, antara lain (Koda, 20005):


1. Nonfarmakologi
Pengobatan ektima tanpa obat dapat berupa mandi menggunakan sabun
antibakteri dan sering mengganti linen, handuk, dan pakaian.
2. Farmakologi
Pengobatan farmakologi bertujuan mengurangi morbiditas dan mencegah
komplikasi
a. Sistemik
Pengobatan sistemik digunakan jika infeksinya luas. Pengobatan sistemik
dibagi menjadi pengobatan lini pertama dan pengobatan lini kedua.
1) Pengobatan lini pertama (golongan Penisilin)
a) Dewasa: Dikloksasilin 4 x 250 - 500 mg selama 5 - 7 hari.
Anak : 5 - 15 mg/kgBB/dosis, 3 - 4 kali/hari.
b) Amoksisilin + Asam klavulanat 3 x 25 mg/kgBB
c) Sefaleksin 40 - 50 mg/kgBB/hari selama 10 hari
2) Pengobatan lini kedua (golongan Makrolid)
a) Azitromisin 1 x 500 mg, kemudian 1 x 250 mg selama 4 hari
b) Klindamisin 15 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis selama 10 hari
c) Dewasa: Eritomisin 4 x 250 - 500 mg selama 5 - 7 hari.
Anak : 12,5 - 50 mg/kgBB/dosis, 4 kali/hari.
b. Topikal
Pengobatan topikal digunakan jika infeksi terlokalisir, tetapi jika luas maka
digunakan pengobatan sistemik. Neomisin, Asam fusidat 2%, Mupirosin, dan
Basitrasin merupakan antibiotik yang dapat digunakan secara topikal. Neomisin
merupakan obat topikal yang stabil dan efektif yang tidak digunakan secara
sistemik, yang menyebabkan reaksi kulit minimal, dan memiliki angka resistensi
bakteri yang rendah sehingga menjadi terapi antibiotik lokal yang valid. Neomisin
dapat larut dalam air dan memiliki kestabilan terhadap perubahan suhu. Neomisin
memiliki efek bakterisidal secara in vitro yang bekerja spektrum luas gram negatif
dan gram positif. Efek samping neomisin berupa kerusakan ginjal dan ketulian
timbul pada pemberian secara parenteral sehingga saat ini penggunaannya secara
topikal dan oral.

3. Edukasi
Memberi pengertian kepada pasien tentang pentingnya menjaga kebersihan
badan dan lingkungan untuk mencegah timbulnya dan penularan penyakit kulit.

G. Prognosis
Ektima sembuh secara perlahan, tetapi biasanya meninggalkan jaringan parut (skar).
H. Pencegahan
Pada daerah tropis, perhatikan kebersihan dan gunakan lotion antiserangga untuk
mencegah gigitan serangga.
BAB III
KESIMPULAN

1. Ektima adalah pioderma yang menyerang epidermis dan dermis, membentuk ulkus
dangkal yang ditutupi dengan krusta berlapis yang disebabkan oleh Streptococcus B
hemoliticus group A.
2. Penyebab umum dari ektima atau impetigo ulseratif adalah Streptococcus pyogenik,
staphylococcus atau keduanya.
Lampiran

dr. Lulus Alhamdulillah

Jalan Riyanto Gg. Dahlia No.1

(0281) 633801

Purwokerto, 17 November 2013

R/ Eritromisin tab mg 500 No. XXI

S 3 dd tab 1 p.c

R/ Amoksisilin tab mg 500 No. XV

S 3 dd tab 1 p.c

R/ Krim Asam fusidat 2% 5g No.I

S 3 dd ue in loc dol (tipis tapi rata)

Pro : Nn. Angel

Umur : 22 tahun

Alamat : Jalan budidaya kelautan no.11 Purwokerto


DAFTAR PUSTAKA

Arenas R, Estrada R : Ecthyma/Erisepelas, Tropical Dermatology. Landes Bioscience.2001. p.


148 -151.

Brooks, Geo F., Butel Janet S, and Morse, Stephen A. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 1.
Jakarta: Salemba Medika.

Koda-Kimble MA, Young LY, Kradjan WA, et al. Applied Therapeutics: The Clinical Use of
Drugs, 8th ed. Baltimore: Lippincott Williams & Wilkins, 2005.
Loretta Davis, MD. 2008. Ecthyma. Division of Dermatology. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/1052279-overview#a0101. Diakses tanggal 26
November 2013.
Shou, K, et al. 2009. Cutaneus Bacterial Infection. In: Pediatric Dermatology: A colour Atlas
and Synopsis. 2nd ed. USA: Yhe McGraw Hill. P.354-355.

Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia: dari sel ke sistem. Edisi 2. Jakarta: EGC.

Sularsito SA, Djuanda S, Djuanda A, et al: Ektima, Pioderma, Ilmu Penyakit Kulitdan Kelamin.
6Th ed. Jakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2010. p.57-60.
http://referatnaya.blogspot.com/2011/08/v-behaviorurldefaultvml-o.html.