Anda di halaman 1dari 11

TUGAS PRESENTASI KASUS

FURUNKEL DAN KARBUNKEL


BLOK EARLY CLINICAL AND COMMUNITY EXPOSURE III
(BLOK ECCE III)

Tutor :
dr. Ismiralda Okke Putranti Sp. KK.

Kelompok F-3 :
Anisah Astirani G1A010073
Keyko Lampita M. S. G1A010074
Lina Sunayya G1A010075
Windarto G1A010036

JURUSAN KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2013
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pioderma adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri
pembentuk pion. Penyebab utama adalah bakteri Staphylococcus aureus dan
Streptococcus sp. Staphylococcus epidermidis pada dasarnya merupakan
bakteri flora normal kulit yang jarang menyebabkan infeksi. Tiga kondisi
utama yaitu portal masuk, pertahanan host dan sifat organisme patogen
mengubah sifat flora normal yang awalnya komensal menjadi patologis (Wolff
et al, 2008).
Prevalensi pioderma di beberapa negara seperti Brazil, Ethiopia, dan
Taiwan adalah sebanyak 0,2-35 %. Prevalensi pioderma di Indonesia adalah
pada dewasa adalah sebanyak 1,4 % dan sebanyak 0,2% menjangkiti anak-
anak (WHO, 2005). Furunkel dan karbunkel merupakan bentuk dari pioderma
yang paling sering dijumpai. Furunkel dan karbunkel memiliki hubungan erat
dengan keadaan sosial dan ekonomi. Secara umum, furunkel disebabkan oleh
bakteri gram positif, yaitu Staphylococcus. Penyakit ini memiliki gejala khas
timbulnya abses yang bersifat nyeri pada tempat infeksi, kemudian beberapa
hari terjadi fluktuasi dan “titik-titik” yang merupakan pusat pustul. Begitu inti
di bagian tengah nekrosis hancur, maka secara bertahap lesi tersebut
menghilang. Pada beberapa pasien bisul merupakan gangguan yang hilang
timbul, walaupun hal ini jarang ada hubungannya dengan kelainan-kelainan
berarti yang melatarbelakanginya. Beberapa orang mungkin merupakan
penyebar stafilokokus pada daerah nasal serta perinasal, dan kemudian
organisme tersebut bias dipindahkan melalui jari-jemari ke tempat-tempat lain
di tubuh (Graham-Brown, 2005).
Karbunkel adalah gabungan beberapa furunkel yang dibatasi oleh
trabekula fibrosa yang berasal dari jaringan subkutan yang padat.
Perkembangan dari furunkel menjadi karbunkel bergantung pada status
imunologis penderita. Tempat yang sering terkena karbunkel adalah bagian
tengkuk dari leher. Pada mulanya lesi berbentuk seperti kubah yang lunak
kemerahan, kemudian sesudah beberapa hari mulai terjadi sepurasi, dan nanah
keluar dari muara-muara folikel. Karbunkel biasanya ditemukan pada manusia
berusia pertengahan atau berusia lanjut, dan biasanya berkaitan dengan
diabetes serta debilitas. Sekarang kelainan ini sudah jarang.untuk pengobatan
dapat diberikan fluklosasislin (Graham-Brown, 2005).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Furunkel atau yang lebih dikenal di masyarakat dengan bisul,
adalah peradangan pada folikel rambut dan jaringan subkutan di sekitarnya
(Siregar, 2005). Furunkel dapat muncul lebih dari satu tempat. Kondisi ini
disebut dengan furunkulosis. Beberapa furunkel muncul di suatu tempat
dalam jumlah yang cukup banyak. Fenomena ini dikenal dengan
karbunkel. Setiap furunkel dalam karbunkel dibatasi oleh trabekula fibrosa
yang berasal dari jaringan subkutan yang padat. Perkembangan furunkel
menjadi karbunkel tergantung dari status imunologis penderita (Siregar,
2005). Karbunkel merupakan nodul inflamasi pada daerah folikel rambut
yang lebih luar dan dasarnya lebih dalam daripada furunkel.

B. Etiologi dan Predisposisi


1. Etiologi
Lebih dari 80% kasus furunkel diketahui disebabkan oleh
Staphylococcus aureus. Bakteri ini berbentuk bulat (coccus) dengan
diameter 0,7-0,9 mikron, gram positif, hidup dalam pH 6,8-8,2.
Biasanya virulensinya ringan, tetapi jika kulit luka, busuk atau terkena
iritasi, bakteri ini dapat menyebabkan pernanahan bahkan tumor. Jika
mencapai aliran darah dapat menyebabkan kerusakan oraganik
(Trianggono, 2007).
S. aureus merupakan kokus gram positif. Organisme ini
merupakan penyebab infeksi kulit tersering, termasuk bisul, infeksi
luka, pneumonia, endocarditis, dan septicemia (Neal, 2005). S. aureus
adalah penyebab infeksi piogenik kulit yang paling sering, ia dapat
juga menyebabkan furunkel, karbunkel, osteomyelitis, artritis septik,
infeksi luka, abses, pneumonia, empyema, endocarditis, pericarditis,
meningitis, dan penyakit yang diperantarai toksin, termasuk keracunan
makanan, sindrom kulit terbakar, dan sindrom syok toksik (Behrman,
2000).
2. Predisposisi
Furunkel dan karbunkel lebih sering ditemukan pada musim
panas, karena seseorang menjadi mudah berkeringat. Keadaan higinitas
personal yang kurang, lingkungan yang kurang baik/bersih, diabetes,
obesitas, hiperhidrosis, anemia, dan stress emosional turut
mempengaruhi tingkat insidensi (Siregar, 2004). Furunkulosis juga
mudah terjadi pada individu dengan kadar besi serum yang rendah,
malnutrisi, infeksi HIV atau berbagai keadaan imunodefisiensi lainnya.
Keberadaan anggota keluarga lain yang juga mengidap furunkulosis
juga turut menjadi factor risiko penyakit ini (Behrman, 2000).

C. Epidemiologi
Furunkel dan karbunkel memiliki insidensi yang cukup rendah di
Negara barat. Furunkel dan karbunkel lebih banyak ditemui di Negara
tropis terutama pada musim panas. Meski belum ada data spesifik yang
menunjukkan prevalensinya, furunkel dan karbunkel umumnya lebih
sering terjadi pada anak-anak, tetapi bisa juga menyerang pada dewasa
muda dan dewasa. Tidak ada perbedaan frekuensi kejadian furunkel dan
karbunkel pada laki-laki maupun perempuan (Siregar, 2005).
D. Patogenesis dan Patofisiologis
1. Patogenesis
2. Patofisiologis
Furunkel dan karbunkel umumnya disebabkan oleh bakteri
Staphylococcus aureus. Bakteri ini awalnya merupakan flora normal
pada kulit manusia. Pada kondisi kulit yang terbuka karena adanya
luka, bakteri dapat masuk dan menginfeksi sehingga menyebabkan
ekskoriasi lokal. Kondisi ini merangsang respon tubuh terhadap
adanya infeksi dengan cara mengerahkan sel-sel polimorfonuklear
(PMN) ke tempat masuknya kuman. Sel PMN ditarik ke lokasi
peradangan oleh komponen yang dihasilkan bakteri yaitu Panton-
Valentine Leukocidin (Luk-PVL) dan y-haemolysin yang terdiri atas
protein tipe S dan F, serta interleukin yang dihasilkan oleh sel endotel
dan makrofag yang teraktivasi pada proses infeksi. Pada area infeksi
yang terakumulasi leukosit PMN kemudian akan terbentuk pus dan
menimbulkan rasa nyeri (Konig, 1997).

E. Penegakkan Diagnosis
1. Anamnesis
Pada anamnesis, pasien mengeluhkan adanya benjolan berbentuk
nodul yang berangsur-angsur berwarna putih, berbatas tegas dengan
rasa nyeri terlokalisir di daerah lesi. Saat dilakukan perabaan,
permukaan kulit di lokasi benjolan terasa lebih hangat dibandingkan
permukaan kulit normal.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik didapatkan ujud kelainan kult berupa infiltrate
kecil yang berangsur-angsur membesar membentuk nodula
eritematosa. Di sekeliling folikel rambut akan nampak bintik-bintik
sebagai mata bisul, Tidak lama, nodul tersebut melunak akibat
supurasi, selanjutnya terbentuk abses sehingga cairan pus pecah
melalui lokus minoris resistensie jaringan nekrotik yang keluar sebagai
pus akan terbentuk fistel.
3. Pemeriksaan Penunjang
Penegakan diagnosis furunkel dan karbunkel dapat dilakukan
dengan pemeriksaan darah dan pemeriksaan bakteriologik.
Pemeriksaan darah didapatkan kondisi leukositosis pada pasien, namun
kondisi ini tidak spesifik hanya terjadi pada furunkel dan karbunkel.
Pengambilan sekret dari lokasi lesi biasanya dilakukan untuk
mengetahui jenis bakteri penyebab furunkel maupun karbunkel.
F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan furunkel dan karbunkel secara umum dengan
meningkatkan higinitas kulit dan mencegah luka-luka di kulit. Apabila
hanya ditemukan sedikit furunkel cukup diberikan antibiotik topikal.
Apabila furunkel dalam jumlah yang cukup banyak sehingga menjadi
karbunkel atau disertai dengan kondisi infeksi sistemik berupa desmam,
maka dapat diberikan antibiotik sistemik (Wiese-Posselt et al., 2007).
1. Farmakologis
a. Furunkel (Siregar, 2005) :
1) Jika masih berupa infiltrat, dapat diberikan salep iktiol 5% atau
salep antibiotic secara topikal.
2) Antibiotik sistemik : eritromisin 4x250 mg atau penisilin masih
menjadi obat pilihan atau antibiotik yang memiliki spektrum
yang luas dapat memberikan hasil yang baik
3) Jika lesi sudah matang, lakukan insisi dan aspirasi, selanjutnya
dikompres atau diberikan salep kloramfenikol 2%.
b. Karbunkel (Siregar, 2005) :
1) Topikal : jika masih infiltrat diberi salep iktiol 10%, namun
jika lesi sudah matang lakukan insisi dan aspirasi, dipasang
drainase, kemudian dikompres.
2) Antibiotik sistemik : eritromisin 4x250 mg selama 7-14 hari;
penisilin 600.000 IU selama 5-10 hari. Selain itu dapat
diberikan sefalosporin atau golongan kuinolon yang masih
sensitif dan memberikan hasil yang memuaskan.
2. Non-farmakologis
Furunkel dan karbunkel (Siregar, 2005) :
a. Menjaga higinitas kulit
b. Menjaga kebersihan dan mencegah luka-luka pada kulit.
c. Melakukan usaha-usaha untuk mengatasi faktor predisposisi seperti
obesitas, diabetes melitus, dan hiperhidrosis.
BAB III
KESIMPULAN

1. Furunkel adalah peradangan folikel rambut dan jaringan subkutan


disekitarnya. gabungan beberapa furunkel membentuk karbunkel
2. Faktor predisposisi pembentukan furunkel antara lain adalah obesitas,
hiperhidrosis, dan diabetes mellitus.
3. Prinsip penatalaksanaan furunkel dan karbunkel adalah dengan meningkatkan
higinitas kulit dan pemberian antibiotik.
DAFTAR PUSTAKA

Behrman, Richard E. 2000. Ilmu Kesehatan anak Nelson. Jakarta: EGC.

Djuanda, Adhi. 2010. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi Keenam. Jakarta:
Balai Penerbit FK Universitas Indonesia.

Graham-Brown, Robin. 2005. Dermatologi: Catatan Kuliah. Jakarta: Erlangga

Konig, B., Prevost G., Konig, W. 1997. Composition of Staphylococcal Bi-


component Toxins Determines Pathophysiological Reactions.J. Med.
Microbiol (46): 479-485.

Neal, Michael J. 2005. At a Glance Farmakologi Medis. Jakarta: Erlangga

Siregar. 2005. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: EGC

Trianggono, Retno I. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta:


Gramedia Pustaka Utama.

Wiese-Posselt, B., Heuck, D., Draeger, A., Mielke, M., Witte, W., Ammon, A.,et
al.2007. Successful Termination of a Furunculosis Outbreak Due to lukS-
lukF–Positive, Methicillin-Susceptible Staphylococcus aureus in a
German Village by Stringent Decolonization, 2002–2005. Clinical
Infectious Diseases Society of America (44):e88-e95.