Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam meracik suatu bentuk sediaan obat, tentunya ada beberapa faktor
atau aspek yang perlu diperhatikan agar sediaan yang /dihasilkan bisa sesuai,
salah satunya adalah bentuk keseragaman ukuran partikel. Ukuran partikel dari
bahan obat merupakan penentu untuk beberapa sifat zat. Hal ini berlaku baik
untuk bahan yang berada dalam kondisi yang berbentuk serbuk atau bubuk
maupun yang diracik dalam bentuk sediaan tablet, granular, salep, suppositoria
dan emulsi.
Menurut Shangel (2014), disolusi merupakan suatu proses dimana suatu
bahan kimia atau obat menjadi terlarut dalam suatu pelarut. Pelarutan suatu zat
aktif sangat penting artinya karena ketersediaan suatu obat sangat
tergantung dari kemampuan zat tersebut melarut kedalam media pelarut
sebelum diserap ke dalam tubuh
Pengetahuan mengenai kecepatan disolusi atau kelarutan sangat diperlukan
untuk membantu memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau
kombinasi obat, membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul
pada waktu pembuatan larutan farmasetis (di bidang farmasi) dan lebih
jauh lagi, dapat bertindak sebagai standar atau uji kemurnian (Astuti dkk, 2008)
Kelarutan obat dapat dinyatakan dalam beberapa cara. Menurut U.S
Pharmacopedia dan National Formulary, definisi kelarutan obat adalah jumlah mL
pelarut dimana akan larut 1 gram zat terlarut (Martin dan Swarbrick, 1990).
Sediaan obat yang diberikan secara oral di dalam saluran cerna harus mengalami
proses pelepasan dari sediaannya kemudian zat aktif akan melarut dan
selanjutnya diabsorpsi. Proses pelepasan zat aktif dari sediaannya proses
pelarutnnya sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat kimia dan fisika zat tersebut serta
formulasi sediannya. Salah satu sifat zat aktif yang penting untuk diperhatikan
adalah kelarutan karena pada umumnya zat baru diabsopsi setelah terlarut dalam
cairan saluran cerna. Oleh karena itu salah satu untuk menigkakan ketersediaan
hayati suatu sediaan adalah dengan menaikkan kelarutan zat aktifnya (Astuti, dkk,
2007)
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan disolusi dari suatu zat
antara lain adalah, suhu, viskositas, pH, pengadukan, ukuran partikel,
polimorfisme, dan sifat permukaan zat (Astuti, Dkk, 2007)
Oleh karena itu, pada percobaan ini dilakukan dengan maksud untuk
mengetahui kecepatan disolusi dari Paracetamol dengan menggunakan alat
disolusi dan titrasi alkalimetri dengan larutan baku NaOH dan penambahan
indikator fenolftalein, karena proses pembuatannya penting bagi kita sebagai
calon kefarmasian untuk mengetahui dan mempelajari agar selanjutnya dapat
diterapkan pada pelayanan kefarmasian (Ansel, 1985).
1.2 Maksud dan Tujuan
1.2.1 Maksud Percobaan
Adapun maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan
memahami cara penentuan konstanta kecepatan disolusi dari suatu obat.
1.2.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah agar mahasiswa dapat
1. Menentukan kecepatan disolusi suatu zat
2. Menggunakan alat penentu kecepatan disolusi
3. Menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan disolusi suatu
zat.
1.3 Prinsip Percobaan
Adapun prinsip dari percobaan ini yaitu didasarkan pada penentuan
konstanta kecepatan disolusi dari Paracetamol berdasarkan kadar Paracetamol
yang terdisolusi pada menit ke 5, 10 dan 15 dalam media air dengan
menggunakan alat disolusi tipe dayung (paddle), menentukan kadarnya
menggunakan titrasi alkalimetri menggunakan larutan baku basa NaOH 0,05 N
dan penambahan indikator fenoftalein berdasarkan perubahan warna dari tak
berwarna menjadi merah muda.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
2.1.1 Disolusi
Disolusi didefinisikan sebagai proses dimana suatu zat padat masuk ke
dalam pelarut menghasilkan suatu larutan. Dalam system biologi pelarutan obat
dalam media aqueous merupakan suatu bagian penting sebelum kondisi absorbs
sistemik. Laju pelarutan obat-obatan dengan kelarutan dalam air sangat kecil dari
bentuk sediaan padat yang utuh atau terdisintegrasi dalam saluran cerna sering
mengendalikan laju absorbsi sistemik obat (Shargel dan Andrew, 1998)
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk
sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting
artinya bagi ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat
tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh. Sediaan
obat yang harus diuji disolusinya adalah bentuk padat atau semi padat, seperti
kapsul, tablet atau salep (Ansel, 1985).
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larut dalam
cairan pada tempat absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang diberikan secara
oral dalam bentuk tablet atau kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai partikel-
partikel obat larut dalam cairan pada suatu tempat dalam saluran lambung-usus.
Dalam hal dimana kelarutan suatu obat tergantung dari apakah medium asam atau
medium basa, obat tersebut akan dilarutkan berturut-turut dalam lambung dan
dalam usus halus (Ansel, 1985).
Bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukkan dalam saluran
cerna, obat tersebut mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk padatnya. Kalau
tablet tersebut tidak dilapisi polimer, matriks padat juga mengalami disintegrasi
menjadi granul-granul, dan granul-granul ini mengalami pemecahan menjadi
partikel-partikel halus. Disintegrasi, deagregasi dan disolusi bisa berlangsung
secara serentak dengan melepasnya suatu obat dari bentuk dimana obat tersebut
diberikan (Martin, 1993).
Kecepatan disolusi adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknya suatu
zat terlarut dalam pelarut tertentu setiap satuan waktu. Persamaan kecepatan
menurut Noyes dan Whitney sebagai berikut (Ansel, 1993):
dM D.s
= (Cs-C)
dt h
dM
Keterangan : : Kecepatan disolusi
dt
D : Koefisien difusi
Cs : Kelarutan zat padat
C : Konsentrasi zat dalam larutan pada waktu
h : Tebal lapisan difusi
Disolusi merupakan proses ketika suatu zat padat masuk ke dalam pelarut
menghasilkan suatu larutan atau dengan kata lain proses saat zat padat melarut.
Maka kecepatan disolusi dapat dinyatakan sebagai jumlah zat dalam bentuk
padatan yang terlarut dalam pelarut tertentu sebagai fungsi dari waktu. Prinsip
disolusi dikendalikan oleh afinitas antara zat padat dengan pelarut (Moechtar,
1990).
Tetapan laju disolusi merupakan suatu besaran yang menunjukkan
jumlah bagian senyawa zat yang larut dalam media per satuan waktu. Uji
disolusi yang diterapkan pada sediaan zat bertujuan untuk mengukur serta
mengetahui jumlah zat aktif yang terlarut dalam media pelarut yang diketahui
volumenya pada waktu dan suhu tertentu, menggunakan alat tertentu yang
didesain untuk uji parameter disolusi (Moechtar, 1990).
Tahap disolusi meliputi proses pelarutan zat pada permukaan partikel
padat yang membentuk larutan jenuh di sekeliling partikel yang dikenal sebagai
lapisan diam (stagnant layer). Kemudian zat yang terlarut dalam lapisan diam ini
berdifusi ke dalam pelarut dari daerah konsentrasi zat yang tinggi ke daerah
konsentrasi zat yang rendah (Moechtar, 1990).
Dalam bidang farmasi, pengetahuan kecepatan disolusi atau kelarutan
sangat diperlukan untuk membantunya memilih medium pelarut yang paling baik
untuk zat atau kombinasi zat, membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu
yang timbul pada waktu pembuatan larutan farmasetis (di bidang farmasi), dan
lebih jauh lagi, dapat bertindak sebagai standar uji kemurnian.
Kelarutan zat dapat dinyatakan dalam beberapa cara. Menurut U. S. Pharmacopeia
dan National Formulary, definisi kelarutan zat adalah jumlah ml pelarut dimana
akan larut 1 gram zat terlarut. Sediaan zat yang diberikan secara oral di dalam
saluran cerna harus mengalami proses pelepasan dari sediaannya kemudian zat
aktif akan melarut dan selanjutnya diabsorpsi. Proses pelepasan zat aktif dari
sediaannya dan proses pelarutannya sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat kimia dan
fisika zat tersebut serta formulasi sediaannya. Salah satu sifat zat aktif yang
penting untuk diperhatikan adalah kelarutan karena pada umumnya zat baru
diabsorpsi setelah terlarut dalam cairan saluran cerna. Oleh karena itu salah satu
usaha untuk meningkatkan ketersediaan hayati suatu sediaan adalah dengan
menaikkan kelarutan zat aktifnya (Rudi, 2010).
2.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan disolusi yaitu (Martin, 1993):
1. Suhu
Meningginya suhu umumnya memperbesar kelarutan (Cs) suatu zat yang
bersifat endotermik serta memperbesar harga koefisien difusi zat.
2. Viskositas
Turunnya viskositas pelarut akan memperbesar kecepatan disolusi suatu
zat sesuai dengan persamaan Einstein. Meningginya suhu juga menurunkan
viskositas dan memperbesar kecepatan disolusi.
3. pH pelarut
pH pelarut sangat berpengaruh terhadap kelarutan zat-zat yang bersifat
asam atau basa lemah.
Untuk asam lemah:
Jika (H+) kecil atau pH besar maka kelarutan zat akan meningkat. Dengan
demikian, kecepatan disolusi zat juga meningkat.
Untuk basa lemah:
Jika (H+) besar atau pH kecil maka kelarutan zat akan meningkat. Dengan
demikian, kecepatan disolusi juga meningkat.

4. Pengadukan
Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi tebal lapisan difusi (h). jika
pengadukan berlangsung cepat, maka tebal lapisan difusi akan cepat berkurang.
5. Partikel
Jika partikel zat berukuran kecil maka luas permukaan efektif menjadi
besar sehingga kecepatan disolusi meningkat.
6. Polimorfisme
Kelarutan suatu zat dipengaruhi pula oleh adanya polimorfisme. Struktur
internal zat yang berlainan dapat memberikan tingkat kelarutan yang berbeda
juga. Kristal meta stabil umumnya lebih mudah larut daripada bentuk stabilnya,
sehingga kecepatan disolusinya besar.
7. Sifat Permukaan Zat
Pada umumnya zat-zat yang digunakan sebagai bahan obat bersifat
hidrofob. Dengan adanya surfaktan di dalam pelarut, tegangan permukaan antar
partikel zat dengan pelarut akan menurun sehingga zat mudah terbasahi dan
kecepatan disolusinya bertambah.
2.1.3 Metode Penentuan Kecepatan Disolusi
Ada 2 metode penentuan kecepatan disolusi yaitu (Martin, 1993):
1. Metode Suspensi
Serbuk zat padat ditambahkan ke dalam pelarut tanpa pengontrolan
terhadap luas permukaan partikelnya. Sampel diambil pada waktu-waktu tertentu
dan jumlah zat yang larut ditentukan dengan cara yang sesuai.
2. Metode Permukaan Konstan
Zat ditempatkan dalam suatu wadah yang diketahui luasnya sehingga
variable perbedaan luas permukaan efektif dapat diabaikan. Umumnya zat diubah
menjadi tablet terlebih dahulu, kemudian ditentukan seperti pada metode suspensi.
Kecepatan pelarutan berbanding lurus dengan luas permukaan bahan
padat, koefisien difusi, serta berbanding lurus dengan turunnya konsentrasi pada
waktu t. Kecepatan pelarutan ini juga berbanding terbalik dengan tebal lapisan
difusi. Pelepasan zat aktif dari suatu produk obat sangat dipengaruhi oleh sifat
fisikokimia zat aktif dan bentuk sediaan. Ketersediaan zat aktif ditetapkan oleh
kecepatan pelepasan zat aktif dari bentuk sediaan, dimana pelepasan zat aktif
ditentukan oleh kecepatan melarutnya dalam media sekelilingnya (Tjay, 2002).
2.1.4 Mekanisme Disolusi
Tes kecepatan melarut telah didesain untuk mengukur berapa kecepatan
zat aktif dari satu tablet atau kapsul melarut ke dalam larutan. Hal ini perlu
diketahui sebagai indikator kualitas dan dapat memberikan informasi sangat
berharga tentang konsistensi dari “batch” satu ke “batch” lainnya. Tes disolusi ini
didesain untuk membandingkan kecepatan melarutnya suatu obat, yang ada di
dalam suatu sediaan pada kondisi dan ketentuan yang sama dan dapat diulangi
(Shargel, 1988).
Kecepatan disolusi sediaan sangat berpengaruh terhadap respon klinis dari
kelayakan sistem penghantaran obat. Disolusi menjadi sifat sangat penting pada
zat aktif yang dikandung oleh sediaan obat tertentu, dimana berpengaruh terhadap
kecepatan dan besarnya ketersediaan zat aktif dalam tubuh. Jika disolusi makin
cepat, maka absorbsi makin cepat. Zat aktif dari sediaan padat (tablet, kapsul,
serbuk dan suppositoria), sediaan system terdispersi (suspensi dan emulsi), atau
sediaan-sediaan semisolid (salep, krim dan pasta) mengalami disolusi dalam
media/cairan biologis kemudian diikuti absorbsi zat aktif ke dalam sirkulasi
sistemik (Voigt, 1995).
Bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukkan dalam saluran
cerna, obat tersebut mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk padatnya. Kalau
tablet tersebut tidak dilapisi polimer, matriks padat juga mengalami disintegrasi
menjadi granul-granul, dan granul-granul ini mengalami pemecahan menjadi
partikel-partikel halus. Disintegrasi, deagregasi dan disolusi bisa berlangsung
secara serentak dengan melepasnya suatu obat dari bentuk dimana obat tersebut
diberikan (Martin, 1993).
Mekanisme disolusi, tidak dipengaruhi oleh kekuatan kimia atau
reaktivitas partikel-partikel padat terlarut ke dalam zat cair, dengan mengalami
dua langkah berturut-turut: (Gennaro, 1990)
1. Larutan dari zat padat pada permukaan membentuk lapisan tebal yang tetap
atau film disekitar partikel
2. Difusi dari lapisan tersebut pada massa dari zat cair.
Langkah pertama,. larutan berlangsung sangat singkat. Langka kedua, difusi
lebih lambat dan karena itu adalah langkah terakhir.
Pada waktu suatu partikel obat mengalami disolusi, molekul-molekul obat
pada permukaan mula-mula masuk ke dalam larutan menciptakan suatu lapisan
jenuh obat-larutan yang membungkus permukaan partikel obat padat. Lapisan
larutan ini dikenal sebagai lapisan difusi. Dari lapisan difusi ini, molekul-molekul
obat keluar melewati cairan yang melarut dan berhubungan dengan membrane
biologis serta absorbsi terjadi. Jika molekul-molekul obat terus meninggalkan
larutan difusi, molekul-molekul tersebut diganti dengan obat yang dilarutkan dari
permukaan partikel obat dan proses absorbsi tersebut berlanjut (Martin, 1993).
Jika proses disolusi untuk suatu partikel obat tertentu adalah cepat, atau
jika obat diberikan sebagai suatu larutan dan tetap ada dalam tubuh seperti itu,
laju obat yang terabsorbsi terutama akan tergantung pada kesanggupannya
menembus menembus pembatas membran. Tetapi, jika laju disolusi untuk suatu
partikel obat lambat, misalnya mungkin karena karakteristik zat obat atau bentuk
dosis yang diberikan , proses disolusinya sendiri akan merupakan tahap yang
menentukan laju dalam proses absorbsi. Perlahan-lahan obat yang larut tidak
hanya bisa diabsorbsi pada suatu laju rendah, obat-obat tersebut mungkin tidak
seluruhnya diabsorbsi atau dalam beberapa hal banyak yang tidak diabsorbsi
setelah pemberian ora, karena batasan waaktu alamiah bahwa obat bisa tinggal
dalam lambung atau saluran usus halus (Martin, 1993).
Pemikiran awal dilakukannya uji hancurnya tablet didasarkan pada
kenyataan bahwa tablet itu pecah menjadi lebih luas dan akan berhubungan
dengan tersedianya obat di dalam cairan tubuh. Namun sebenarnya uji hancur
hanya waktu yang diperlukan tablet untuk hancur di bawah kondisi yang
ditetapkan dan lewatnya partikel melalui saringan. Uji ini tidak memberi jaminan
bahwa partikel-partilkel tersebut akan melepas bahan obat dalam larutan dengan
kecepatan yang seharusnya. Untuk itulah sebabnya uji disolusi dan ketentuan uji
dikembangkan bagi hampir seluruh produk tablet (Martin, 1993).
Pelepasan dari bentuk-bentuk sediaan dan kemudian absorpsi dalam tubuh
dikontrol oleh sifat fisika kimia dari obat dan bentuk yang diberikan, serta sifat-
sifat fisika kimia dan fisiologis dari system biologis. Konsentrasi obat, kelarutan
dalam air, ukuran molekul, bentuk kristal, ikatan protein, dan pKa adalah faktor-
faktor fisika kimia yang harus dipahami untuk mendesain system pemberian
(Martin, 1993).
Obat-obat yang diberikan dalam bentuk larutan biasanya diabsorpsi lebih
cepat dibandingkan pemberian dalam bentuk padat, karena tidak membutuhkan
prose melarut (Ansel, 1989).
Disolusi dari suatu partikel obat dikontrol oleh beberapa sifat fisika-kimia,
termasuk bentuk kimia, kebiasaan kristal, ukuran partikel, kelarutan, luas
permukaan, dan sifat-sifat pembasahan. Bila data kelarutan kesetimbangan
dirangkaikan, maka eksperimen disolusi dapat membantu mengidentifikasi daerah
masalah bioavailabilitas potensial (Lachman, 1994).
Obat dapat diubah dalam system saluran cerna menjadi berbagai bentuk
yang menjadikannya kurang atau lebih lambat tersedia untuk diabsorpsi.
Perubahan ini mungkin disebabkan oleh penggabungan atau berikatannya obat-
obat dengan beberapa bahan lain yang mungkin berupa suatu unsure yang normal
dari system saluran cerna atau suatu bahan makanan atau bahan obat lain. (Ansel,
1989)
Dalam bidang farmasi, penentuan kecepatan pelarutan suatu zat perlu
dilakukan karena kecepatan pelarutan suatu zat aktif dapat dilakukan pada
beberapa tahap pembuatan sediaan obat yaitu : tahap preformulasi, tahap
formulasi, dan tahap produksi (Effendi, 2005).
Analisis kecepatan disolusi zat aktif dari sediaannya merupakan analisis
yang penting dalam pengujian mutu untuk sediaan-sediaan obat. Analisis disolusi
telah masuk persyaratan wajib USP untuk persyaratan tablet dan kapsul, sejak
tahun 1960. Berbagai studi telah berhasil dalam korelasi disolusi invivo dengan
disolusi invitro. Namun, disolusi bukan merupakan suatu peramal koefisien terapi,
tetapi disolusi lebih merupakan parameter mutu yang dapat memberikan informasi
berharga tentang ketersediaan hayati dari suatu produk (Voigt, 1995).
Pengembangan dan penggunaan uji disolusi invitro untuk mengevaluasi
dan menggambarkan disolusi dan absorbsi invitro bertujuan : (Ansel, 1989).
a. Untuk mengetahui kepentingan bahwa sifat-sifat fisikokimia yang ada dalam
model disolusi dapat berarti atau berpengaruh dalam proses invivo apabila
dikembangkan suatu model yang berhasil meniru situasi invivo
b. Untuk menyaring zat aktif penting dikaitkan dengan formulasinya dengan sifat
disolusi dan absorbsinya sesuai.
c. Sistem uji disolusi invitro dapat digunakan sebagai prosedur pengendalian
mutu untuk produk akhir.
d. Menjamin kesetaraan hayati (bioekivalen) dari batch yang berbeda dari bentuk
sediaan solid apabila korelasi antara sifat disolusi dan ketersdiaan hayati telah
ditetapkan.
e. Metode yang baik sekali dan handal untuk memantau proses formulasi dan
manufaktur.
f. Penetapan kecepatan disolusi intrinsik berguna untuk mengetahui sifat disolusi
zat aktif yang baru.
g. Agar sistem disolusi invitro bernilai maka system harus meniru secara dekat
sistem invivo sampai tingkat invitro-invivo yang konsisten tercapai. Oleh
karena itu keuntungan dalam biaya, tenaga kerja, kemudahan dapat diberikan
dengan penggunaan sistem
Disolusi dapat terjadi langsung pada permukaan tablet, dari granul-granul
bilamana tablet telah pecah atau dari partikel-partikel halus bilamana granul-
granul telah pecah. Pada tablet yang tidak berdesintegrasi, kecepatan disolusinya
ditentukan oleh proses disolusi dan difusi. Namun demikian, bagi tablet yang
berdesintegrasi, profil disolusinya dapat menjadi sangat berbeda tergantung dari
apakah desintegrasi atau disolusinya yang menjadi penentu kecepatan (Ansel,
1989)
2.1.5 Prinsip Kerja Alat Disolusi
Prinsip kerja alat disolusi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu (Depkes,
1995) :
1. Alat terdiri dari sebuah wadah tertutup yang terbuat dari kaca atau bahan
transparan yang inert, suatu batang logam yang digerakkan oleh motor dan
keranjang yang berbentuk silinder dan dipanaskan dengan tangas air pada suhu
370C.
2. Alat yang digunakan adalah dayung yang terdiri dari daun dan batang
sebagai pengaduk. Batang berada pada posisi sedemikian sehingga sumbunya
tidak lebih dari 2 mm pada setiap titik dari sumbu vertikel wadah dan berputar
dengan halus tanpa goyangan yang berarti.
2.2 Uraian Bahan
1. Alkohol (Depkes, 1979; Rowe, 2009)
Nama Resmi : AETHANOLUM
Nama Lain : Alkohol, etanol, ethyl alkohol
Rumus Molekul : C2H5OH
Berat Molekul : 46.07 gr/mol
Rumus Struktur :

Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan


mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah
terbakar dan memberikan nyala biru yang tidak
berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P
dan dalam eter P.
Khasiat : Antiseptik (menghambat pertumbuhan bakteri pada
jaringan hidup), desinfektan (membunuh atau
menghambat pertumbuhan bakteri pada jaringan
mati).
Kegunaan : Sebagai pensteril mikroorganisme pada alat.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terhindar dari cahaya,
ditempat sejuk jauh dari nyala api.
2. Air suling (Depkes, 1995; Rowe, 2009)
Nama resmi : Aqua Destillata
Nama Lain : Air suling, Aquadest
Rumus Molekul : H2O
Berat molekul : 18,02 gr/mol
Rumus Struktur :

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan


tidak mempunyai rasa
Khasiat : Pelarut
Kegunaan : Sebagai medium
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
3. Fenolftalein (Depkes, 1979; Pubchem, 2015)
Nama Resmi : Phenolftalein
Nama Lain : Fenolftalein
Rumus Molekul : C20H14O4
Berat Molekul : 318,32 gr/mol
Rumus Struktur :

Pemerian : Serbuk hablur putih, putih atau kekuningan.


Kelarutan : Sukar larut dalam air, larut dalam etanol (95%)
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat : -
Kegunaan : Sebagai indikator.
4. NaOH (Depkes 1979; Subandi, 2010)
Nama Resmi : NATRII HYDROXYDUM
Nama Lain : Natrium hidroksida
Rumus Molekul : NaOH
Berat Molekul : 40,00 g/mol
Rumus Struktur :

Pemerian : Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping,


kering, rapuh dan mudah meleleh basah. Sangat
alkalis dan korosif. Segera menyerap CO2
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%).
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai titran
Khasiat :-
5. Paracetamol (Depkes, 1979)
Nama Resmi : ACETAMINOPHENUM
Nama Lain : Paracetamol
Rumus Molekul : C8H9NO2
Rumus Struktur :

Pemerian : Hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa


pahit
Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol
(95%) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40
bagian gliserol P dan dalam 9 bagian
propilenglikol P, larut dalam alkali hidroksida
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
Khasiat : Analgetikum dan antipiretikum
Kegunaan : Sebagai sampel
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu 20 Maret 2019, pada pukul
13.00-15-50 WITA yang bertempat di Laboratorium Teknologi Farmasi, Jurusan
Farmasi, Fakultas Olahraga dan Kesehatan, Universitas Negeri Gorontalo.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat :
1. Aquarium
2. Buret
3. Dispo
4. Digital stirrer
5. Gelas ukur
6. Gelas kimia
7. Heater
8. Labu disolusi
9. Pipet tetes
10. Statif dan klem
3.2.2 Bahan :
1. Alkohol 70%
2. Aluminium foil
3. Aquadest
4. Fenofthalein
5. NaOH 0,05 N
6. Paracetamol
7. Tisu
3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Larutan Baku
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibersihkan alat dengan alkohol 70%
3. Ditimbang NaOH sebanyak 0,4 g menggunakan timbangan analitik
4. Dimasukkan ke dalam air 200 mL
5. Diaduk hingga larut
6. Dimasukkan ke dalam buret dan ditutup menggunakan aluminium foil
3.3.2 Kecepatan 150 rpm
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibersihkan alat dengan alkohol 70%
3. Disiapkan alat disolusi yang akan digunakan
4. Diukur suhu alat heater menjadi 37⁰C
5. Dimasukkan aquadest 900 mL ke dalam labu disolusi
6. Dimasukkan labu disolusi ke dalam air yang telah diatur suhu
7. Dihidupkan digital stirrer dan diputar dengan kecepatan 150 rpm
8. Dimasukkan tablet paracetamol ke dalam labu disolusi sebanyak 1 tablet
9. Diambil 10 mL larutan pracetamol yang ada di dalam labu dan
ditambahkan 10 mL aquadest dengan dispo pada waktu 5, 10 dan 15 menit
10. Dimasukkan sampel yang telah disampling ke dalam gelas kimia
11. Ditetesi 2 tetes fenofthalein
12. Dititrasi menggunakan larutan baku NaOH 0,05 N dengan indikator
fenofthalein
13. Dihasilkan perubahan warna dari bening menjadi ungu
14. Dilihat volume larutan baku yang terpakai
15. Dicatat hasil yang telah diperoleh
3.3.3 Kecepatan 250 rpm
16. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
17. Dibersihkan alat dengan alkohol 70%
18. Disiapkan alat disolusi yang akan digunakan
19. Diukur suhu alat heater menjadi 37⁰C
20. Dimasukkan aquadest 900 mL ke dalam labu disolusi
21. Dimasukkan labu disolusi ke dalam air yang telah diatur suhu
22. Dihidupkan digital stirrer dan diputar dengan kecepatan 250 rpm
23. Dimasukkan tablet paracetamol ke dalam labu disolusi sebanyak 1 tablet
24. Diambil 10 mL larutan pracetamol yang ada di dalam labu dan
ditambahkan 10 mL aquadest dengan dispo pada waktu 5, 10 dan 15 menit
25. Dimasukkan sampel yang telah disampling ke dalam gelas kimia
26. Ditetesi 2 tetes fenofthalein
27. Dititrasi menggunakan larutan baku NaOH 0,05 N dengan indikator
fenofthalein
28. Dihasilkan perubahan warna dari bening menjadi ungu
29. Dilihat volume larutan baku yang terpakai
30. Dicatat hasil yang telah diperoleh
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Waktu Volume titran (ml)
(menit) 150 rpm 250 rpm
5 0,1 0,3
10 0,2 0,3
15 0,3 1
4.2 Perhitungan
4.2.1 Larutan Baku NaOH 0,05 N dalam 200 mL
Diketahui :N = 0,005 N
V = 200 mL
Mr = 40
Ditanya : gr ?
gr 1000
Penyelesaian : N = x
Mr V
gr 1000
0,05 N = x
40 100
gr
0,05 N = X5
40
0,05 x 40
g =
5
g = 0,2 g
4.2.2 Uji Disolusi
a. Penentuan ketetapan disolusi pada pengadukan 150 rpm
Diketahui : Kesetaraan = 6,906
Penyelesaian :
1. Menit ke 5
Ma1 = Kesetaraan x Volume titran
= 6,906 x 0,1 ml
= 0,6906 M
10
Mb1 = Ma1 x
900
= 0,6906 x 0,0111
= 0,00766 M
Mt1 = Mb1
= 0,00766 M
2. Menit ke 10
Ma2 = Kesetaraan x Volume titran
= 6,906 x 0,2 ml
= 1,3812 M
10
Mb2 = Ma2 x
900
= 1,3812 x 0,0111
= 0,01533 M
10
Mt2 = Mb2 + ( x Mb1)
900
= 0,01533 M + (0,0111 x 0,00766 M)
= 0,01533 + 0,00085
= 0,01618 M
3. Menit ke 15
Ma3 = Kesetaraan x Volume titran
= 6,906 x 0,3 ml
= 2,0718 M
10
Mb3 = Ma3 x
900
= 2,0718x 0,0111
= 0,02299 M
10
Mt3 = Mb3 + ( x Mb2)
900
= 0,02299 M + (0,0111 x 0,01533 M)
= 0,02299 + 0,00017
= 0,02316 M
b. Penentuan ketetapan disolusi pada pengadukan 250 rpm
Diketahui : Kesetaraan = 6,906
Penyelesaian :
1. Menit ke 5
Ma1 = Kesetaraan x Volume titran
= 6,906 x 0,3 ml
= 2,0718 M
10
Mb1 = Ma1 x
900
= 2,0718 x 0,0111
= 0,02299 M
Mt1 = Mb1
= 0,02299 M
2. Menit ke 10
Ma2 = Kesetaraan x Volume titran
= 6,906 x 0,3 ml
= 2,0718 M
10
Mb2 = Ma2 x
900
= 2,0718 x 0,0111
= 0,02299 M
10
Mt2 = Mb2 + ( x Mb1)
900
= 0,02299 M + (0,0111 x 0,02299 M)
= 0,02299 + 0,00025
= 0,02324 M
3. Menit ke 15
Ma3 = Kesetaraan x Volume titran
= 6,906 x 1 ml
= 6,906 M
10
Mb3 = Ma3 x
900
= 6,906 x 0,0111
= 0,07665 M
10
Mt3 = Mb3 + ( x Mb2)
900
= 6,906 + (0,0111 x 0,02299)
= 6,906 + 0,00025
= 0,0769 M
3.2.3 Tabel Konsentrasi
a. Tabel kosentrasi 150 rpm
Waktu (menit) V titran Ma Mb Mt
5 0,1 0,9606 0,007666 0,00766
10 0,2 1,3812 0,01533 0,01618
15 0,3 2,0718 0,02299 0,02316
b. Tabel konsentrasi 250 rpm
Waktu (menit) V titran Ma Mb Mt
5 0,3 2,0718 0,02299 0,02299
10 0,3 2,0718 0,02299 0,02324
15 1 6,906 0,07665 0,0769
3.2.4 Tabel Laju Disolusi
a. Tabel laju disolusi 150 rpm
Waktu (menit) Mt dM/dt
5 0,00766 0,001532
10 0,01618 0,001618
35 0,02316 0,001544
b. Tabel laju disolusi 250 rpm
Waktu (menit) Mt dM /dt
5 0,0689 0,00689
10 0,0773 0,000415
15 0,09973 0,00324
3.2.5 Grafik Disolusi
0.25

0.2

0.15
150 rpm

0.1 250 rpm

0.05

0
5 10 15

4.3 Pembahasan
Disolusi merupakan suatu proses dimana suatu bahan kimia atau obat
menjadi terlarut dalam suatu pelarut. pelarutan suatu zat aktif sangat penting
artinya karena ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan
zat tersebut melarut kedalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh
(Shargel, 1998).
Dalam farmasi, Pengetahuan mengenai kecepatan disolusi atau kelarutan
sangat diperlukan untuk membantu memilih medium pelarut yang paling baik
untuk obat atau kombinasi obat, membantu mengatasi kesulitan kesulitan
tertentu yang timtul pada waktu pembuatan larutan farmasetis (di
bidang farmasi), dan lebih jauh lagi, dapat bertindak sebagai standar atau uji
kemurnian (Astuti dkk, 2008)
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan disolusi dari suatu zat
antara lain adalah, suhu, viskositas, pH, pengadukan, ukuran partikel,
polimorfisme, dan sifat permukaan zat (Astuti, Dkk, 2007)
Pada praktikum ini dilakukan percobaan disolusi obat dengan menentukan
kecepatan disolusi paracetamol dengan melarutkan dalam labu disolusi
menggunakan alat uji disolusi tipe dayung dengan suhu 37°C dan dengan
kecepatan 150 rpm dan 250 rpm. Kemudian larutan paracetamol disampling setiap
5 menit sampai menit ke 15 dan setiap sampling di titrasi menggunakan larutan
baku NaOH 0,05 N dengan bantuan indikator fenolftalein.
Sebelum melakukan praktikum pertama-tama terlebih dahulu menyiapkan
alat dan bahan yang akan kita gunakan pada saat praktikum yaitu alat buret, dispo,
hitter, labu disolusi, statif dan klem, spatula, stirer, waterbath, gelas ukur dan pipet
tetes, serta bahan yang digunakan yaitu alkohol 70%, aluminium foil, aquadest,
paracetamol, phenolphtalain, NaOH, dan tisu.
Langkah pertama yang dilakukan dalam percobaan ini adalah,
membersihkan alat dengan alkohol 70%, hal ini bertujuan untuk mensterilkan alat
dari bakteri yang menempel sehingga memudahkan dalam melakukan praktikum.
Hal ini sesuai dengan pendapat Dwidjoseputro (2003), mengatakan bahwa alkohol
70% dapat mensterilkan dan membunuh mikroorganisme pada jaringan hidup dan
jaringan mati.
Kemudian dibuat larutan baku NaOH 0,4 g dilarutkan kedalam 200 mL
aquadest, kemudian diaduk hingga merata. Larutan baku NaOH yang telah siap,
dimasukkan kedalam buret yang sebelumnya telah dibungkus dengan aluminium
foil. Tujuan dari pembungkusan dengan aluminium foil yaitu untuk menghindari
cahaya sehingga larutan baku NaOH tidak mudah teroksidasi. Hal ini sesuai
dengan pendapat Mulyono (2006), yang mengatakan bahwa salah satu sifat fisik
dan kimia dari larutan NaOH yaitu cepat teroksidasi jika terkena sinar matahari
secara langsung,
Langkah berikutya dirangkai alat uji disolusi yang akan digunakan, alat
disolusi yang dipakai pada percobaan ini yaitu alat disolusi tipe 2 (Metode paddle)
alat yang digunakan berbentuk dayung, menurut Depkes (2014), Metode paddle
terdiri atas suatu dayung yang terdiri dari batang dan daun logam yang merupakan
satu kesatuan dapat disalut dengan suatu penyalut inert yang sesuai. Kemudaian
diatur suhu dalam bejana sampai 37°C menggunkan waterbath yang bertujun
unutuk menyamakan suhu tubuh manusia, hal ini sebagai pembanding jika obat
tersebut berada dalam tubuh manusia, menurut Asmadi (2008) suhu tubuh yang
normal adalah berkisar 36°C sampai 37°C. Setelah mencapai suhu 37°C,
dugunakan aquadest sebanyak 900 mL kedalam labu disolusi bertujuan untuk
menyamakan kapasitas cairan lambung didalam tubuh, Menurut Price (2006),
kapasitas lambung dapat mencapai 1 sampai 2 L. Tapi, dalam praktikum ini hanya
digunakan 900 ml. Kemudian diletakan labu kedalam waterbath dan digital
stearrer diatur pada kecepatan 150 rpm tujuannya agar sampel yang akan diletakan
dalam labu disolusi tercampur dengan baik, Menurut Atkins (1994), tujuan
dilakukan pengadukan Sebagai penentu suaatu zat terlarut, semakin banyak
jumlah pengadukan, maka zat terlarut menjadi mudah larut.
Kemudian dimasukan paracetamol kedalam labu disolusi. Setelah itu ,
larutan disampling sebanyak 5 mL setiap 5 menit sampai menit ke 15. Setiap
sampel disampling segera diganti dengan aquades sebanyak 5 ml, hal ini untuk
menyesuaikan keadaan pada labu disolusi dengan keadaan pada lambung yaitu
kondisi sink. Menurut Martin et all (1993), kondisi sink mengacu pada kapasitas
pelarut kelebihan medium disolusi. Kondisi ini didefinisikan sebagai volume
media setidaknya lebih besar 3 kali dari yang dibutuhkan untuk membentuk
larutan jenuh substansi obat. Kompartimen reseptor terus menerus disegarkan
dengan pelarut baru dan menghapus setiap obat yang telah menyebar dalam
kompartemen reseptor.
Kemudian hasil sampling dimasukan kedalam botol vial dan ditetesi
dengan fenoftalein sebanyak 1 tetes, tujuan menggunakan indikator adalah untuk
mengetahui jika larutan yang digunakan bersifat asam atau basah, menurut
Khopkar (1990), tujuan penggunaan indikator fenolftalein adalah untuk
mengetahui apakah larutan yang diuji bersifat asam ataupun basa. Selanjutnya
ditentukan kadar masing-masing sampel dengan menggunakan metode titrasi
alkalimetri, karena sampel yang akan ditentukan kadarnya adalah paracetamol
yang bersifat asam maka untuk menentukan kadarnya harus dinetralisasi dengan
menggunakan larutan bersifat basa yaitu larutan baku NaOH 0,05 N, Menurut
Padmaningrum (2006), tujuan memakai metode titrasi karena titrasi merupakan
suatu proses analisis dimana suatu volume larutan standar ditambahkan ke dalam
larutan dengan tujuan mengetahui komponen yang tidak dikenal. Titrasi
dihentikan setelah terjadi perubahan warna larutan dari bening menjadi ungu
muda. Setelah itu, dicatat volume titrasinya dan dihitung kecepatan disolusiya.
Langkah terakhir, dilakukan uji disolusi menggunakan kecepatan 250 rpm,
prosesnya sama dengan sampel yang pertama. Pertama dibersihkan labu disolusi,
disi dengan aquadest 900 mL dengan menggunakan alat tipe dayung, kemudian
dimasukan sampel kedalam labu disolusi, selanjutnya diletakan didalam botol vial
dan dititrasi.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, diperoleh hasil laju disolusi
untuk paracetamol dengan kecepatan pengadukan 150 rpm pada menit ke-5
adalah 0,00766, pada menit ke-10 adalah 0,01618 dan pada menit ke-15 adalah
0,02316. Untuk hasil laju disolusi dengan kecepatan pengadukan 250 rpm
diperoleh pada menit ke-5 adalah 0,02299, pada menit ke-10 adalah 0,02324 dan
pada menit ke-15 adalah 0,0769.
Adapun kemungkinan kesalahan dalam percobaan ini yaitu di pengaruhi
oleh pada pengambilan larutan paracetamol yang ada dalam labu menggunakkan
dispo yang mungkin tidak terambil sebanyak 10 ml, tidak tepatnya waktu
pengambilan larutan paracetamol, penambahan indikator dan pada saat titrasi.
Menurut Martin (2008), faktor yang mempengaruhi disolusi yaitu suhu, medium,
kecepatan perputaran, ketetapan vertikal poros, goyangan poros, vibrasi,
gangguan pola aliran, posisi pengambilan cuplikan, formulasi bentuk sediaan dan
kalibrasi alat disolusi.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
penentuan kecepatan disolusi paracetamol menggunkaan alat disolusi tipe II USP
(metode paddle) metode paddle terdiri atas suatu dayung yang diikat secara
vertical ke suatu motor yang berputar (digital stirrer) dengan kecepatan terkendali
yaitu 150 rpm dan 250 rpm.
Hasil uji kecepatan disolusi paracetamol dengan kecepatan 150 rpm
didapatkan hasil pada menit ke-5 adalah 0,00766, pada menit ke-10 adalah
0,01618 dan pada menit ke-15 adalah 0,02316. Untuk hasil laju disolusi dengan
kecepatan pengadukan 250 rpm diperoleh pada menit ke-5 adalah 0,02299, pada
menit ke-10 adalah 0,02324 dan pada menit ke-15 adalah 0,0769.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan disolusi adalah suhu,
viskositas, pH pelarut, pengadukan, ukuran partikel, polimorfisme, dan sifat
permukaan zat.
5.2 Saran
5.2.1 Saran Untuk Asisten
Lebih memperhatikan dan mengarahkan praktikkan sesuai dengan
prosedur kerja agar tidak terjadi kesalahan saat melakukan praktikum.
5.2.2 Saran Untuk Laboratorium
Diadakan penambahan alat-alat lab. Agar praktikum dapat berjalan dengan
lancar, tanpa hambatan kekurangan alat dilaboratorium.
5.2.3 Saran Untuk Jurusan
Diharapkan adanya penambahan sarana dan prasarana laboratorium agar
lebih lengkap sehingga jalannya praktikum dapat terlaksana dengan baik dan
sesuai dengan yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
Ansel, H.C. 1985. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh Farida
Ibrahim, Edisi Keempat. UI Press. Jakarta.

Atkins PW. 1994. Physical Chemistry, edisi ke-5. Oxford Univ Pr. England.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III.


Badan Pengawasan Obat Dan Makanan. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV.


Badan Pengawasan Obat Dan Makanan. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V.


Badan Pengawasan Obat Dan Makanan. Jakarta.

Effendi, M. Idris. 2005. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Universitas


Hassanudin Press. Makassar.

Gennaro, R.A. 1990. Rhemingtons Pharmaceutikal Science. 18th ed. Mack


Printing Company. Easton Pennsylvvania.

Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press. Jakarta.

Lachman L, Lieberman HA, Kanig, JL. Teori Dan Praktek Farmasi Industri.
Edisi Ketiga. Volume III. Diterjemahkan Oleh Siti Suyatmi. Universitas
Indonesia Press. Jakarta.

Martin. 1993. Farmasi Fisik 2. Edisi III. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Martin, R,.J. 2008. Antimicrobial Drugs. In Hsu, W.A (eds). Handbook of


Veterinary Pharmacology. Wiley-Blackwell, Lowa.

Moechtar. 1990. Farmasi Fisik. UGM Press. Yogyakarta.

Mulyono. 2006. Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. PT Bumi Aksara.


Jakarta.

Padmaninggrum, R.T. 2006. Titrasi Asidimetri. Laboratorium Kimia FMIPA


UNY. Yogyakarta.

Price, Wilson. 2006. Patofisiologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Rudi, L. 2010. Penuntun Dasar-dasar Pemisahan Analitik. Unuversitas Haluoleo.


Kendari.
Rowe, R.C. et al. 2006. Handbook Of Pharmaceutical Excipients, 5th Ed. The
Pharmaceutical Press. London.

Shargel, L And Andrew, B. C. 1998. Biofarmasetika Dan Farmakokinetika


Terapan (Terjemahan) Faisch. S. Ed. 2. Airlangga University Press.
Surabaya.

Subandi. 2010. Mikrobiologi Perkembangan Kajian dan Pengamatan Presfektif


Islam. Remaja Rosdakrya. Bandung.

Thjay, T. H. Dan Raharja, K. 2007. Obat-Obat Penting, Khasiat, Penggunaan


Dan Efek-Efek Sampingnya, Edisi Keenam. Pt. Elex Media Komputindo
Kelompok Gramedia. Jakarta.

Voight, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Diterjemahkan Oleh


Noerono Soendani. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
C. Diagram Alir
1. Larutan Baku

Larutan Baku

- Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

- Dibersihkan alat dengan alkohol 70%

- Ditimbang NaOH sebanyak 0,4 g menggunakan


timbangan analitik

- Dimasukkan kedalam air 200 mL

- Diaduk hingga larut

- Dimasukkan kedalam buret dan ditutup menggunakan


aluminium foil

NaOH 0,05 N
2. Kecepatan 150 rpm
150 rpm

- Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

- Dibersihkan alat dengan alkohol 70%

- Disiapkan alat disolusi yang akan digunakan

- Diukur suhu alat heater menjadi 37oC

- Dimasukkan aquadest 900 mL kedalam labu disolusi

- Dimasukkan labu disolusi kedalam air yang telah diatur


suhunya

- Dihidupkan digital stirrer dan diputar dengan kecepatan


150 rpm

- Dimasukkan tablet paracetamol kedalam labu disolusi


sebanyak 1 tablet

- Diambil 10 mL larutan paracetamol yang ada didalam


labu dan ditambahkan 10 mL aquadest dengan dispo
pada waktu 5, 10 dan 15 menit

- Dimasukkan sampel yang telah disampling kedalam


gelas kimia lalu ditetesi dengan indikator fenoftalein

- Dititrasi menggunakan larutan baku NaOH 0,05 N dan


berubah warna dari bening menjadi warna ungu

- Dilihat volume larutan baku yang terpakai kemudian


dicatat hasil yang telah diperoleh

Disolusi paracetamol 5 menit = 0,00766


Disolusi paracetamol 10 menit = 0,01618
Disolusi paracetamol 15 menit = 0,02316
.
3. Kecepatan 250 rpm
250 rpm

- Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

- Dibersihkan alat dengan alkohol 70%

- Disiapkan alat disolusi yang akan digunakan

- Diukur suhu alat heater menjadi 37oC

- Dimasukkan aquadest 900 mL kedalam labu disolusi

- Dimasukkan labu disolusi kedalam air yang telah diatur


suhunya

- Dihidupkan digital stirrer dan diputar dengan kecepatan


250 rpm

- Dimasukkan tablet paracetamol kedalam labu disolusi


sebanyak 1 tablet

- Diambil 10 mL larutan paracetamol yang ada didalam


labu dan ditambahkan 10 mL aquadest dengan dispo
pada waktu 5, 10 dan 15 menit

- Dimasukkan sampel yang telah disampling kedalam


gelas kimia lalu ditetesi dengan indikator fenoftalein

- Dititrasi menggunakan larutan baku NaOH 0,05 N dan


berubah warna dari bening menjadi warna ungu

- Dilihat volume larutan baku yang terpakai kemudian


dicatat hasil yang telah diperoleh

Disolusi paracetamol 5 menit = 0,02299


Disolusi paracetamol 10 menit = 0,02324
Disolusi paracetamol 15 menit = 0,0769
.