Anda di halaman 1dari 19

PNEUMOTHORAX

I. KASUS
Identitas
Nama Pasien : Nn. I
Umur : 16 tahun
No. Rekam Medik : 651505
Alamat : Tinumbu, Makassar
Ruang Perawatan : Lontara 1 Atas Belakang Kamar Bed 2
Tanggal MRS : 18-02-2014

A. Anamnesis
 Keluhan utama :
Sesak
 Anamnesis Terpimpin :
Dialami sejak 1 tahun yang lalu, memberat 5 hari terakhir, sesak terus-menerus, tidak
dipengaruhi oleh aktivitas dan cuaca.
Batuk (+), lendir (+), kadang warna kehijauan
Nyeri dada kiri (+) terutama saat menarik napas dan batuk
Demam (-) , riwayat demam (-)
Mual (-), muntah (-), penurunan nafsu makan (+)
Penurunan berat badan (+), jumlah tidak diketahui.
 Riwayat penyakit sebelumnya :
- Riwayat dirawat di RS Labuang Baji selama 5 hari, dan dirujuk ke RSWS
- Riwayat mengonsumsi OAT tahun 2013

B. PemeriksaanFisis
1. Status Generalis
 KeadaanUmum : Sakit berat
 Kesadaran : GCS 15 (E4M6V5)
 Tanda Vital
o Tekanan Darah : 110/70 mmHg
o Frekuensi Nafas : 28x/menit
o Frekuensi Nadi : 64x/menit
o Suhu Badan : 36,5 ᴼC
 Mata
o Kelopak Mata : Edema (-)
o Konjungtiva : Anemis (+)
o Sklera : Ikterus (-)
o Kornea : Jernih
o Pupil : Isokor, Refleks (+)
 THT : Dalam Batas Normal
 Leher : KGB tidak ada pembesaran
 Dada
o Inspeksi
 Ekspansi : Simetris
 Sela Iga : Normal
 Paru-paru
o Palpasi
 Nyeri Tekan: Tidak Ada
 Massa Tumor: Tidak Ada
o Perkusi : Sonor
o Auskultasi
 BP : Vesikuler
Bunyi pernapasan menurun pada hemithorax
sinistra
 BT : Rh +/-, Wh -/-
 Jantung
o Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak
o Palpasi : Thrill tidak teraba
o Perkusi : Pekak
o Auskultasi : BJ I/II Murni regular, Bising (-)
 Neurosensori
o Pendengaran : Normal
o Penglihatan : Normal
 Kulit Kelamin : Dalam batas normal
 Ekstremitas
o Akral : -/-
hangat : +/+ o Tanda perdarahan : -/-
o Edema : -/- o Disabilitas : -/-
o Deformitas o Nyeri lutut : -/-

C. Radiologi
Gambar 1. Foto Thorax AP
Foto thorax AP
 Tampak gambaran lusen avaskuler pada hemithoraks kiri disertai
kolaps pada paru kiri
 Cor: CTI dalam batas normal, aorta normal
 Sinus dan diafragma baik
 Tulang-tulang intak
Kesan
 Pneumothoraks sinistra

D. Resume Klinis
Seorang perempuan, 23 tahun masuk ke Rumah Sakit dengan keluhan
sesak yang dialami sejak 1 tahun yang lalu dan memberat 5 hari terakhir, sesak
terus-menerus, tidak dipengaruhi oleh aktivitas dan cuaca. Batuk (+), lendir (+),
kadang warna kehijauan. Nyeri dada kiri (+) terutama saat menarik napas dan
batuk. Demam (-), riwayat demam(-). Mual (-), muntah (-), penurunan nafsu
makan (+). Penurunan berat badan (+), jumlah tidak diketahui.
Pada pemeriksaan fisis paru didapatkan bunyi pernapasan vesikuler,
bunyi pernapasan menurun pada hemithorax sinistra, dengan bunyi tambahan
Rh +/-, Wh -/-.

E. Diagnosis
 Pneumothoraks sinistra

E. Terapi
 Chest tube
 O2 2-4 liter per menit
 Cefotaxime 1 gr/24 jam/IV
 Ambroxol 3x30mg

II. DISKUSI
A. Insidens

Insidens pneumothoraks sulit diketahui karena episodenya banyak


yang tidak diketahui, pria lebih banyak dari wanita dengan perbandingan 5 :
1. Pneumothoraks spontan primer (PSP) sering juga dijumpai pada individu
sehat, tanpa riwayat penyakit paru sebelumnya. Pneumothoraks spontan
primer banyak dijumpai pada pria dengan usia antara dekade 3 dan 4. Salah
satu penelitian menyebutkan sekitar 81% kasus PSP berusia kurang dari 45
tahun. Seaton dkk, melaporkan bahwa pasien tuberkulosis aktif mengalami
komplikasi pneumothoraks sekitar 1,4% dan jika terdapat kavitas paru
komplikasi pneumotoraks meningkat lebih dari 90%. (1)
B. Anatomi
Secara anatomis, sistem respirasi pada manusia meliputi :
 Cavum nasi
 Pharynx
 Larynx
 Trachea
 Cavitas thoracis
 Pulmo (2)

 Cavum Nasi
Terdiri atas beberapa struktur, antara lain:
o Concha nasal
o Meatus nasi
o Septum nasi
o Sinus para nasalis
o Ostium pharyngeum tuba auditiva

 Pharynx

Terbagi menjadi 3 bagian, yaitu :


o Nasopharynx
o Oropharynx
o Laringopharyngx
 Larynx

Fungsi larynx :
o Menghasilkan bunyi
o Mencegah masuknya benda asing ke dalam trakea (sphincter)
o Respirasi

 Trachea

Trakea mempercabangkan :
o Bronkus principhalis dextra
 Bronkus lobaris superior dextra
 Bronkus lobaris medius dextra
 Bronkus lobaris inferior dextra
o Bronkus principhalis sinistra
 Bronkus lobaris superior sinistra
 Bronkus lobaris inferior sinistra
 Cavitas thoracis

 Pulmo
C. Definisi

Pneumothoraks adalah keadaan di mana terdapat udara atau gas


dalam rongga pleura. Pada kondisi normal, rongga pleura tidak terisi udara
sehingga paru-paru dapat leluasa mengembang dalam rongga dada. Rongga
pleura adalah rongga yang terletak antara selaput yang melapisi paru-paru
dan rongga dada. Pneumothoraks adalah suatu keadaan terdapatnya udara
atau gas di dalam pleura yang mengakibatkan kolapsnya paru yang terkena.
Tersering disebabkan oleh ruptur spontan pleura visceralis yang
menimbulkan kebocoran udara ke rongga thoraks.
Udara dalam kavum pleura ini dapat ditimbulkan oleh :
a) Robeknya pleura visceralis sehingga saat inspirasi udara yang berasal
dari alveolus akan memasuki kavum pleura. Pneumotorax seperti ini
disebut closed pneumotorax.
b) Robeknya dinding dada dan pleura parietalis sehingga terdapat
hubungan antara kavum pleura dengan dunia luar. Apabila lubang yang
terjadi lebih besar 2/3 diameter trakea. Maka udara cenderung lebih
melewati lubang tersebut dibandingkan traktus respiratorius yang
seharusnya. Pada saat ispirasi, tekanan dalam rongga dada menurun
sehingga udara dari luar masuk ke kavum pleura lewat lubang tadi dan
menyebabkan kolaps pada paru dari kavum pleura keluar melalui lubang
tersebut. Kondisi ini disebut sebagai open pneumothorax. (1)
D. Etiologi

Penyebab pneumotoraks dapat diklasifikasi sebagai berikut:


1. Pneumothoraks spontan:
 Pneumotoraks spontan primer terjadi jika pada penderita tidak
ditemukan penyakit paru-paru. Pneumotoraks ini diduga
disebabkan oleh pecahnya kantung kecil berisi udara di dalam
paru-paru yang disebut bleb atau bulla. Penyakit ini paling sering
menyerang pria berpostur tinggi-kurus. Faktor predisposisi adalah
merokok dan riwayat keluarga dengan penyakit yang sama.
 Pneumotoraks spontan sekunder merupakan komplikasi dari
penyakit paru-paru (misalnya penyakit paru obstruktif
menahun, asma, fibrosis kistik, tuberkulosis, emphysema). (3)
2. Pneumotoraks traumatik:
Terjadi akibat cedera traumatik pada dada. Traumanya bisa
berupa trauma benda tajam yang menembus (luka tusuk, peluru) atau
tumpul (benturan pada kecelakaan kendaraan bermotor).
Pneumotoraks juga bisa merupakan komplikasi dari tindakan medis
tertentu (misalnya central line placement). (3)

E. Patomekanisme Pneumothoraks Spontan

Paru-paru dibungkus oleh pleura parietalis dan pleura visceralis. Di


antara pleura parietalis dan visceralis terdapat cavum pleura. Tekanan
intrapleura selalu berupa tekanan negatif yang membantu dalam proses
respirasi. Adanya udara pada cavum pleura yang dikenali sebagai
pneumothoraks, menyebabkan tekanan negatif pada intrapleura tidak
terbentuk sehingga akan mengganggu pada proses respirasi dimana paru-
paru tidak dapat berkembang pada saat inspirasi. Hal Ini mengakibatkan
paru-paru kolaps. (4)
Pneumotoraks dapat diklasifikasi sebagai pneumothoraks spontan
dan traumatik. Hanya pneumothoraks spontan khususnya tipe sekunder
yang akan dibahas di sini karena pasien tidak memiliki riwayat trauma tetapi
memiliki riwayat penyakit tuberkulosis.
Pneumothoraks spontan sekunder didapati pada orang-orang dengan
gangguan paru yang mendasari seperti penyakit kronik obstruksi paru
dengan emphysema, fibrosis kistik, tuberkulosis, kanker paru dan
pneumocystis carinii pneumonia. Mekanisme terjadinya pneumotoraks
spontan sekunder yang pertama adalah akibat peningkatan tekanan alveolar
melebihi tekanan interstisial paru dan menyebabkan udara dari alveolus
berpindah ke rongga interstisial kemudian menuju hilus dan menyebabkan
pneumomediastinum. Kemudian udara akan berpindah melalui pleura
parietalis pars mediastinal ke rongga pleura sehingga menimbulkan
pneumotoraks. Mekanisme kedua adalah udara yang terlepas dari alveoli
yang ruptur yang disebabkan oleh nekrosis paru terus berpindah ke rongga
pleura mengakibatnya pneumothoraks spontan. (5)

F. Gejala Klinis

Dari anamnesis dapat berupa keluhan sulit bernafas yang timbul


mendadak disertai nyeri dada yang terkadang dirasakan menjalar ke bahu.
Dapat disertai batuk dan terkadang terjadi hemoptisis. Perlu ditanyakan
adanya penyakit paru atau pleura lain yang mendasari pneumotorak, dan
menyingkirkan adanya penyakit jantung.
Gejala-gejalanya sangat bervariasi, tergantung kepada jumlah udara
yang masuk ke dalam rongga pleura dan luasnya paru-paru yang mengalami
kolaps (mengempis). Gejalanya bisa berupa:
 Nyeri dada tajam yang timbul secara tiba-tiba, dan semakinn yeri jika
penderita menarik nafas dalam atau terbatuk.
 Sesak nafas
 Dada terasa sempit
 Mudah lelah
 Denyut jantung yang cepat
 Warna kulit menjadi kebiruan akibat kekurangan oksigen. Gejala-gejala
tersebut mungkin timbul pada saat istirahat atau tidur. (1)
Pemeriksaan fisik dapat didapatkan sesak nafas dan takikardi yang
dapat disertai sianosis pada pneumotorak ventil atau ada penyakit dasar
paru.
 Inspeksi: Dapat terjadi pencembungan pada sisi yang sakit
(hiperekspansi dinding dada), Pada waktu respirasi, bagian yang sakit
gerakannya tertinggal, trakea dan jantung terdorong ke sisi yang sehat ,
deviasi trakhea, ruang interkostal melebar,
 Palpasi: Pada sisi yang sakit, ruang antar iga dapat normal atau melebar,
iktus jantung terdorong ke sisi toraks yang sehat, vocal fremitus
melemah atau menghilang pada sisi yang sakit.
 Perkusi: Suara ketok pada sisi sakit, hipersonor sampai timpani dan
tidak menggetar, Batas jantung terdorong ke arah toraks yang sehat,
apabila tekanan intrapleura tinggi, Pada tingkat yang berat terdapat
gangguan respirasi/sianosis, gangguan vaskuler/syok.
 Auskultasi: Pada bagian yang sakit, suara napas melemah sampai
menghilang, Suara vokal melemah dan tidak menggetar serta
bronkofoni negatif. (1)

III. DISKUSI RADIOLOGI

Pneumothorax non-trauma terjadi saat udara masuk ke dalam kavum


pleura setelah adanya robekan pada pleura parietal/visceral. Paru kemudian
mengalami relaksasi dan retraksi yang luasnya bervariasi ke arah hilus. Foto
toraks dengan inspirasi cukup merupakan investigasi awal pada pasien curiga
pneumothorax.(4) Pneumothorax paling baik digambarkan dengan film
ketajaman rendah.(6) Pada pasien posisi supine, sekitar 500ml udara pleura
diperlukan untuk menegakkan diagnosis pneumothorax.(4)
Hal-hal berikut dapat terlihat pada kasus pneumothorax:
 Area radiolusen (udara) dalam kavum pleura sehingga vascular marking
menghilang (hiperlusen avaskuler) (7, 8)
Gambar 2. Hiperlusen avaskular (12)

 Visceral pleural white line terlihat yaitu garis lurus atau konveks yang
mengarah ke dinding dada yang terpisah dari pleura parietalis oleh suatu
kumpulan udara yang hiperlusen avaskuler (7, 8)

Gambar 3. Visceral Pleural White Line (13)

 Deep sulcus sign (subpulmonic pneumothorax) pada posisi supine (7)


Gambar 4. Deep sulcus sign (14)
 Shift mediastinum dan trachea, depresi diafragma dan intercostal space
melebar pada tension pneumothorax (7)

Gambar 5. Shift trakea dan mediastinum (12)

Pada foto radiologi kasus ini tampak gambaran hiperlusen avaskuler


pada hemithorax kiri yang merupakan gambaran udara dalam kavum pleura.
Oleh karena paru mengalami relaksasi dan retraksi, intercostal space melebar
serta terjadi shift mediastinum dan trakea ke arah kanan.(7) Hal ini menandakan
terjadinya tension pneumothorax yang disertai kolaps paru kiri yang
disebabkan oleh hambatan pengembangan paru akibat daripada proses patologi
yang terjadi yaitu dalam kasus ini, pneumothorax. Selain itu, hal ini bisa juga
terjadi karena penyebab sikatrik, yaitu akibat dari proses fibrosis pada paru
maupun pleura yang menganggu proses pengembangan paru. Hal ini demikian
karena adanya gambaran bintik-bintik kalsifikasi dan garis fibrosis pada
lapangan paru kanan atas akibat daripada tuberculosis lama tenang.(8) Kolaps
paru kiri mengakibatkan intercostal space pada hemithorax dextra menyempit.
Berdasarkan penyebab non-trauma, pneumothorax pada pasien ini
diklasifikasikan sebagai pneumothorax spontaneous sekunder akibat post-
(9,10)
infeksi tuberculosis. TB inaktif dengan lesi fibrosis dan kalsifikasi
kemungkinan besar bisa mengakibatkan terjadinya inflamasi pada parenkim
paru hingga terjadi robekan pada pleural visceralis paru sehingga udara
(11)
memasuki kavum pleura. Pneumothorax ini disertai dengan kolaps paru
sehingga jelas terlihat gambaran trakea yang deviasi ke arah kanan.
Umumnya, foto thoraks PA digunakan untuk mengukur ukuran
pneumotoraks. Namun, foto thoraks PA cenderung diremehkan ukuran
pneumotoraks karena hanya merupakan gambar dua dimensi sedangkan
rongga pleura adalah struktur tiga dimensi. Dengan demikian, perhitungan
ukuran pneumotoraks yang akurat dapat dilakukan dengan CT scan. (3)

DAFTAR PUSTAKA
1. Barmawi H, Budiono E. Penumothorax Spontan. In: Sudoyo AW,
Setiyohadi B, Alwi I, et all, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta.
2009. p. 2339.
2. Putz R, Pabst R. Sobotta, Edisi 22, Jilid 2.2005.48 – 72 p.
3. MacDuff A, Arnold A, Harvey J. Management of Spontaneous. BTS Guide
line. 2010;65:18-31.
4. Butler KH, Swencki SA. Chest Pain: A Clinical Assessment. In: Mirvis SE,
Shanmuganathan K, editors. Emergency Chest Imaging. USA: Elsevier Inc.;
2006. P. 165-7
5. Sahn SA, Heffner JE. Primary Care Spontaneous Pneumothorax. NEJM.
2000;342:868-74
6. Patel PR. Lecture Notes Radiologi, Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga; 2007. 4
4-5 p.
7. Murtala B. Radiologi Trauma dan Emergensi: IPB Press; 2012. 135-8 p.
8. O’Connor AR, Morgan WE. Clinical Review-Radiological Review of
Pneumothorax. BMJ.2005;330: 1494-5
9. Grainger RG, Allison DJ. Diagnostic Radiology, A Textbook of Medical
Imaging. 4th ed
10. Idress MM, Ingleby AM, Wali SO. Evaluation and Management of
Pneumothorax. Saudi Med J. 2003;24(5):447-8
11. Freixnet JL, Caminero JA, Marchena J, Casimiro JA, Hussein M.
Spontaneous Pneumothorax and Tuberculosis (Long Term Follow-Up).
ERJ. 2010. 126-7 p.
12. http://www.med-ed.virginia.edu/courses/rad/cxr/pathology8chest.html
13. http://www.rad.msu.edu/Education/pages/Stu_Resources/Common/pages/
Aben/IM_tutor/top_10.htm
14. http://www.med-ed.virginia.edu/courses/rad/chest/pneumo2.htm

BAGIAN RADIOLOGI LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN MARET 2014


UNIVERSITAS HASANUDDIN

PNEUMOTHORAKS

Oleh :

Liem Meysie Kristi Harlimton C111 10 006


St.Hardiyanti.S.Malik C111 10 257
M. Syafiq B.Hamidi C111 10 863
Fyco Christian K C111 10 264
LM Dila Pramashari C111 10 318

Pembimbing Residen :

dr. Sukriyani Syamsari

Dosen Pembimbing :

dr. Dario A. Nelwan, Sp.Rad

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN RADIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
LEMBAR PENGESAHAN
Yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa :

1. Andi Sri Suryani C111 10 005

2. St.Hardiyanti.S.Malik C111 10 257

3. M. Syafiq B.Hamidi C111 10 863

4. Fyco Christian K C111 10 264

5. LM Dila Pramashari C111 10 318

Judul Laporan Kasus : Fraktur Cruris

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Psikiatri
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, Februari 2014

Dosen Pembimbing Pembimbing Residen

dr. Dario A. Nelwan, Sp.Rad dr. Sukriyani Syamsari

Mengetahui

Kepala Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Prof. Dr. Dr. Muhammad Ilyas, Sp.Rad(K)