Anda di halaman 1dari 1

PEMBAHASAN

Pada kasus ini, pasien datang dengan keluhan benjolan di leher kiri sejak 2 minggu
sebelum masuk rumah sakit. Awalnya pasien mengeluh nyeri ketika menelan, Benjolan
berukuran kira-kira 5 cm, bertambah besar, tidak nyeri bila diraba, dapat digerakkan. Tidak
ada keluhan khas yang mengarah ke hipertiroid maupun hipotiroid. Tanda-tanda vital dalam
batas normal. Pada inspeksi di regio Colli sinistra, terlihat adanya benjolan di leher, benjolan
terlihat ikut bergerak saat menelan. Pada palpasi teraba benjolan di leher sisi kiri, keras,
immobile (terfiksir), tidak nyeri jika ditekan, ikut bergerak ketika menelan, batas tidak tegas
dengan ukuran lebar 5 cm, permukaan rata. Umumnya pada keganasan nodul biasanya berupa
soliter, batas tidak tegas, permukaan yang tidak rata dan konsistensinya keras sampai sangat
keras.
Pada pemeriksaan laboratorium, kadar TSH dan T4 bebas pada kasus keganasan
biasanya normal. Pada pasien ini ditemukan fungsi tiroid yang normal. Pada pemeriksaan
rontgen thorax tidak didapatkan kelainan. Pada pemeriksaan USG Tiroid didapatkan
gambaran tumor Tiroid Sinistra berukuran 5x4x2 cm.
Oleh karena gejala klinis tidak khas, maka setelah pengangkatan massa hasil operasi
perlu dilakukan pemeriksaan patologi anatomi agar dapat ditegakkan diagnosa pasti dan
ditatalaksana berdasarkan hasil pemeriksaan.
Tatalaksana tumor tiroid ini tergantung kasus yang dihadapi, apakah operable atau
inoperable. Bila inoperable, tindakan yang dipilih adalah dengan radioterapi. Bila kasus
tersebut operable, maka dapat dilakukan penilaian infiltrasi kelenjar getah bening sekitar, bila
tidak ada infiltrasi, dilakukan tiroidektomi total.
Pada pasien ini, secara klinis nodul dicurigai sebagai keganasan, maka ditentukan
terlebih dahulu apakah nodul ini inoperable atau operable. Karena tidak adanya pembesaran
kelenjar getah bening sekitar dan atau mestastasis jauh, maka disimpulkan bahwa nodul ini
merupakan nodul yang operable sehingga dapat dilakukan tindakan operasi pada pasien ini.
Setelah dilakukan operasi lobektomi, dilakukan pemeriksaan patologi anatomi. Pada
pasien ini, hasil yang didapat adalah keganasan folikulare dan oleh karena tidak adanya
infiltrasi pada kelenjar getah bening, maka pada pasien ini dilakukan tindakan tiroidektomi
total. Hal ini sudah sesuai dengan teori dan algoritma penatalaksanaan tumor tiroid. Untuk
penanganan lebih lanjut, pasien dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan sidik seluruh tubuh
empat minggu setelah tindakan tiroidektomi total untuk mengevaluasi apakah ada metastasis
lebih jauh setelah tindakan tiroidektomi.