Anda di halaman 1dari 18

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN

RETINOBLASTOMA

Dosen pengampu : Ns. Fiki Wijayanti M.Kep.

Di Susun Oleh : kelompok 6

Akhmad Purwanto (010117A004)

Haris Muslim Al Choir (010117A037)

Humam Khoironi (010117A039)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama ALLAH SWT yang maha pengasih lagi maha
penyayang, kami memanjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-NYA yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah, inayah dan nikmat sehat kepada kami sehingga
dapat menyelesaikan tugas makalah dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN
ANAK DENGAN RETINOBLASTOMA” kami menyampaikan terimakasih kepada
dosen pembimbing yaitu Ns. Fiki wijayanti M.kep.

Dengan di selesaikannya makalah ini, kami berharap semoga makalah ini


dapat bermanfaat dan dapat meningkatkan pengetahuan sekaligus wawasan tentang
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN RETINOBLASTOMA. Terlepas
dari itu kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi
susunan kalimat maupun tata Bahasa. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami
menerima saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Ungaran 10 September 2019

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………. 2
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………3
BAB I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang……………………………………………………………..4
b. Rumusan Masalah……………………………….…………………………5
c. Tujuan Penulisan ………………………………….……………………….5

BAB II PEMBAHASAN

a. Definisi Retinoblastoma………………………………………….…………6
b. Etiologi …………………………………………….……………………….6
c. Manifestasi klisis………………………………..….………….……………6
d. Patofisiologi ………..…………………………….……………..…………..7
e. Tanda dan Gejala ......…………………………….………………...……….8
f. Klasifikasi ……………………………………………………….8
g. Penatalaksanaan ………………………………………………...10
h. Komplikasi ………………………………………………….......13
i. Pemeriksaan penunjang ………………………………………...13
j. Pengkajian teoritis ………………………………..…………….13
k. Intervensi keperawatan …………………………………………15

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………….18

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Retinoblastoma adalah tumor ganas dalam mata yang berasal dari jaringan
embrional retina. Insidennya 1:15.000-1:20.000 kelahiran hidup. Meskipun
retinoblastoma dapat terjadi pada semua usia, namun paling sering terjadi pada anak-
anak sebelum usia 2 tahun. Sekitar 95% kasus retinablastoma didiagnosis sebelum
usia 5 tahun. Retinoblastoma secara tipikal didiagnosis selama tahun pertama
kehidupan pada kasus familil dan kasus bilateral sedangkan pada kasus unilateral
secara sporadik didiagnosis antara usia 1 dan 3 tahun. Onset setelah usia 5 tahun
jarang namun dapat juga terjadi.
Retinoblastoma merupakan tumor yang dapat terjadi secara herediter (40%),
dan non herediter (60%). Retinoblastoma herediter meliputi pasien dengan riwayat
keluarga positif (10%) dan yang mengalami mutasi gen yang baru pada waktu
pembuahan (30%). Bentuk herediter dapat bermanifestasi sebagai penyakit unilateral
atau bilateral. Pada bentuk herediter, tumor cenderung terjadi pada usia muda. Tumor
unilateral pada bayi lebih sering dalam bentuk herediter, sedangkan anak yang lebih
tua lebih sering mengalami bentuk non-herediter. Tumor unilateral pada anak yang
muda mengalami abnormalitas genetik yang ringan dibandingkan pada anak yang
lebih tua.

4
Dahulu retinoblastoma dianggap berasal dari mutasi gen autosomal dominan,
tetapi pendapat terakhir menyebutkan bahwa kromosom alela nomor 13q14 berperan
dalam mengontrol bentuk hereditable dan non-hereditable (sifat menurun atau tidak
menurun) suatu tumor. Jadi pada setiap individu sebenarnya sudah ada gen
retinoblastoma normal. Pada kasus yang herediter, tumor muncul bila satu alela
13q14 mengalami mutasi spontan sedangkan pada kasus yang non-herediter baru
muncul bila kedua alela 13q14 mengalami mutasi spontan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud retinoblastoma ?
2. Bagaimana manifestasi klinis dari retinoblastoma ?
3. Bagaimana patofisiologi dari retinoblastoma ?
4. Apa tanda dan gejala dari retinoblastoma ?
5. Bagaimana klasifikasi dari retinoblastoma ?
6. Bagaimana penatalaksanaan dari retinoblastoma ?
C. Tujuan penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan memberikan informasi ilmiah kepada sesama
mahasiswa S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo, selain itu juga di harapkan
adanya pengembangan untuk pengobatan penyakit berdasarkan informasi yang terdapat
dalam makalah.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Retinoblastoma adalah tumor ganas dalam mata yang berasal dari jaringan
embrional retina. Insidennya 1:15.000-1:20.000 kelahiran hidup. 1-3 Meskipun
retinoblastoma dapat terjadi pada semua usia, namun paling sering terjadi pada
anak-anak sebelum usia 2 tahun. Sekitar 95% kasus retinablastoma didiagnosis
sebelum usia 5 tahun. Retinoblastoma secara tipikal didiagnosis selama tahun
pertama kehidupan pada kasus familil dan kasus bilateral sedangkan pada kasus
unilateral secara sporadik didiagnosis antara usia 1 dan 3 tahun. Onset setelah usia
5 tahun jarang namun dapat juga terjadi. (Rares et al., 2016)

B. Etiologi
Retinoblastoma terjadi secara familiar atau sporadik. Namun dapat juga
diklasifikasikan menjadi dua subkelompok yag berbeda, yaitu bilateral atau
unilateral dan diturunkan atau tidak diturunkan. Kasus yang tidak diturunkan
selalu unilateral, sedangkan 90 % kasus yang diturunkan adalah bilateral, dan
unilateral sebanyak 10%. Gen retinoblastoma (RBI) diisolasi dari kromosom
13q14, yang berperan sebagai pengatur pertumbuhan sel pada sel normal.
Penyebabnya adalah tidak terdapatnya gen penekan tumor, yang sifatnya

6
cenderung diturunkan. Kanker bisa menyerang salah satu mata yang bersifat
somatic maupun kedua mata yang merupakan kelainan yang diturunkan secara
autosom dominant. Kanker bisa menyebar ke kantung mata dan ke otak (melalu
saraf penglihatan/nervus optikus).

C. Manifestasi klinis
Gejala retinoblastoma dapat menyerupai penyakit lain dimata. Bila letak
tumor dimakula, dapat terlihat gejala awal strabismus. Massa tumor yang semakin
membesar akan memperlihatkan gejala leukokoria, tanda-tanda peradangan di
vitreus (Vitreous seeding) yang menyerupai endoftalmitis. Bila sel-sel tumor
terlepas dan masuk ke segmen anterior mata , akan menyebabkan glaucoma atau
tanda-tanda peradangan berupa hipopion atau hifema. Pertumbuhan tumor ini
dapat menyebabkan metastasis dengan invasi tumor melalui nervus optikus ke
otak, melalui sclera ke jaringan orbita dan sinus paranasal, dan metastasis jauh ke
sumsum tulang melalui pembuluh darah. Pada fundus terlihat bercak kuning
mengkilat, dapat menonjol kebadan kaca. Di permukaan terdapat neovaskularisasi
dan perdarahan. Warna iris tidak normal. Penyebaran secara limfogen, ke kelenjar
limfe preaurikular dan submandibula dan, hematogen, ke sumsum tulang dan
visera, terutama hati.
Kanker retina ini pemicunya adalag faktor genetik atau pengaruh
lingkungan dan infeksi virus. Gejala yang ditimbulkan retinoblastoma adalah
timbulnya bercak putih di bagian tengah mata atau retina, membuat mata seolah-
olah bersinar bila terkena cahaya. Kemudian kelopak mata menurun dan pupil
melebar, penglihatan terganggu atau mata kelihatan juling. Tapi apabila stadium
berlanjut mata tampak menonjol. Jadi apabila terihat tanda-tanda berupa mata
merah, berair, bengkak, walaupun sudah diberikan obat mata dan pada kondisi
gelap terlihat seolah bersinar seperti kucing jadi anak tersebut bisa terindikasi
penyakit retinoblastoma.

D. Patofisiologi

7
Retinoblastoma adalah suatu neuroblastik tumor ganas yang tidak berdiferensiasi
yang muncul dari lapisan retina manapun, dan secara biologik mirip dengan
neuroblastoma dan meduloblastoma. Studi imunohistokimia menunjukkan bahwa
sel tumor terwarnai positif pada enolase neuron-spesifik, fotoreseptor segmen
rod-outer-S antigen spesifik, dan rhodopsin. Sel tumor juga menyekresi substansi
ekstrasel seperti interfotoreceptor retinoid-binding protein (produk normal
fotoreseptor). Adanya sejumlah kecil jaringan glial dalam retinoblastoma
menunjukkan bahwa sel tumor dapat memengaruhi kemampuan berdiferensiasi
menjadi astroglia atau sel glial residen berproliferasi sebagai respon sel
neoplasma primer. retinoblastoma terdiri dari sel-sel bulat, oval atau kumparan
dengan ukuran kira-kira dua kali limfosit, hiperkromatik, dengan sedikit
sitoplasma. Nuklei sama besar, bentuk roset atau pseudoroset dengan proliferasi
sel di sekitarnya. Ketika tumor tumbuh kedalam vitreus atau ruang subretinal,
tumor sering tumbuh keluar mengikuti peredaran darah, menghasilkan pola
karakteristik nekrosis dan kalsifikasi yang sering ditemukan pada area nekrosis.

E. Tanda dan Gejala


Tanda retinoblastoma yang paling sering dan jelas adalah leukokoria, yaitu
refleksi putih pupil seperti mata kucing saat terkena cahaya. Tanda dan gejala lain
adalah penurunan visus, mata merah atau iritasi, strabismus serta gangguan
pertumbuhan dan perkembangan. Dapat terjadi neovaskularisasi, glaukoma
neovaskular, hifema, pseudohipopion, dan perdarahan vitreus pada pasien dengan
penyakit intraokular stadium lanjut. Pada retinoblastoma yang meluas
ekstraokular, dapat terjadi proptosis.(Rares et al., 2016)

F. Klasifikasi Retinoblastoma
1. Retinoblastoma intraokular
Harapan hidup 5 tahun >90%. Retinoblastoma intraokular terdapat dalam mata
dan terbatas pada retina atau mungkin dapat meluas dalam bola mata.

8
Retinoblastoma intraokular tidak akan meluas menuju jaringan sekitar mata atau
bagian tubuh yang lain.
2. Retinoblastoma ekstraokular
Harapan hidup 5 tahun < 10%. Retinoblastoma ekstraokuler dapat meluas keluar
mata. Secara tipikal dapat mengenai ke system saraf pusat dan tersering
mengenai sumsum tulang atau nodi limf. Salah satu sistem klasifikasi yang
sering digunakan pada retinoblastoma intraokular ialah Reese-Ellsworth
classification; klasifikasi ini tidak digunakan pada retinoblastoma ekstraokular.
Reese-Ellsworth mengembangkan sistem klasifikasi retinoblastoma intraokular
untuk menandai pemeliharaan penglihatan dan kontrol penyakit lokal ketika
terapi external-beam merupakan satu-satunya pilihan terapi. Klasifikasi Reese-
Ellsworth tidak menyediakan informasi mengenai harapan hidup pasien atau
penglihatannya dan hanya mengklasifikasikan berdasarkan jumlah, ukuran,
lokasi tumor, dan ada tidaknya vitreous seeds. Klasifikasi klinik retinoblastoma
yang lain ialah Essen classification.
Menurut Reese-Ellsworth, retino balastoma digolongkan menjadi
1. Golongan I
a. Tumor soliter/multiple kurang dari 4 diameter pupil.
b. Tumor multiple tidak lebih dari 4dd,dan terdapat pada atau dibelakang
ekuator
2. Golongan II
a. Tumor solid dengan diameter 4-10 dd pada atau belakang ekuator
b. Tumor multiple dengan diameter 4-10 dd pada atau belakang ekuator
3. Golongan III
a. Beberapa lesi di depan ekuator
b. Tumor ada didepan ekuator atau tumor soliter berukuran >10 diameter
papil
4. Golongan IV
a. Tumor multiple sebagian besar > 10 dd
b. Beberapa lesi menyebar ke anterior ke ora serrata

9
5. Golongan V
a. Tumor masif mengenai lebih dari setengah retina
b. Penyebaran ke vitreous

G. Penatalaksanaan
Dua aspek pengobatan retinoblastoma harus diperhatikan, pertama adalah
pengobatan local untuk jenis intraocular, dan kedua adalah pengobatan sistemik
untuk jenis ekstrokular, regional, dan metastatic.
Hanya 17% pasien dengan retinoblastoma bilateral kedua matanya masih
terlindungi. Gambaran seperti ini lebih banyak pada keluarga yang memiliki
riwayat keluarga, karena diagnosis biasanya lebih awal. Sementara 13% pasien
dengan retinoblastoma bilateral kedua matanya terambil atau keluar karena
penyakit intraocular yang sudah lanjut, baik pada waktu masuk atau setelah gagal
pengobatan local.
1. Jenis terapi
a. Pembedahan
Enukleasi adalah terapi yang paling sederhana dan aman untuk
retinoblastoma. Pemasangan bola mata palsu dilakukan beberapa minggu
setelha prosedur ini, untuk meminimalkan efek kosmetik. Bagaimanapun,
apabila enukleasi dilakukan pada dua tahun pertama kehidupan, asimetri
wajah akan terjadi karena hambatan pertumbuhan orbita. Bagaimanapun, jika
mata kontralateral juga terlibat cukup parah, pendekatan konservatif mungkin
bisa diambil.
Enukleasi dianjurkan apabila terjadi glaukoma, invasi ke rongga
naterior, atau terjadi rubeosis iridis, dan apabila terapi local tidak dapat
dievaluasi karena katarak atau gagal untuk mengikuti pasien secara lengkap
atau teratur. Enuklasi dapat ditunda atau ditangguhkan pada saat diagnosis
tumor sudah menyebar ke ekstraokular. Massa orbita harus dihindari.

10
Pembedahan intraocular seperti vitrektomi, adalah kontraindikasi pada pasien
retinoblastoma, karena akan menaikkan relaps orbita.
b. External beam radiotherapy (EBRT)
Retinoblastroma merupakan tumor yang radiosensitif dan radioterapi
merupakan terapi efektif lokal untuk khasus ini. EBRT mengunakan eksalator
linjar dengan dosis 40-45 Gy dengan pemecahan konvensional yang meliputi
seluruh retina. Pada bayi mudah harus dibawah anestesi dan imobilisasi
selama prosedur ini, dan harus ada kerjasama yang erat antara dokter ahli
mata dan dokter radioterapi untuk memubuat perencanan. Keberhasilan EBRT
tidak hanya ukuran tumor, tetapi tergantung teknik dan lokasi. Gambaran
regresi setelah radiasi akan terlihat dengan fotokoagulasi. Efek samping
jangka panjang dari radioterapi harus diperhatikan. Seperti enuklease, dapat
terjadi komplikasi hambatan pertumbuhantulang orbita, yang akhirnya akan
meyebabkan ganguan kosmetik. Hal yang lebih penting adalah terjadi
malignasi skunder.
c. Radioterapi plaque
Radioaktif episkeral plaque menggunakan 60 Co, 106 Ro, 125 I
sekarang makin sering digunakan untuk mengobati retinoblastoma. Cara itu
biasanya digunakan untuk tumoryang ukurannya kecil sa,pai sedang yang
tidak setuju dengan kryo atau fotokoagulasi, pada kasus yang residif setelah
EBRT, tetapi akhir-akhir ini juga digunakan pada terapi awal, khusunya
setelah kemoterapi. Belum ada bukti bahwa cara ini menimbulkan malignansi
sekunder. (Sinambela & Djakaria, 2017)
d. Kryo atau fotokoagulasi
Cara ini digunakan untuk mengobati tumor kecil (kurang dari 5 mm)
dan dapat diambil. Cara ini sudah secara luas digunakan dan dapat diulang
beberapa kali sampai kontrol lokal terapi. Kryoterapi biasanya ditujukan
unntuk tumorbagian depan dan dilakukan dengan petanda kecil yang
diletakkan di konjungtiva. Sementara fotokoagulasi secara umum digunakan
untuk tumor bagian belakang baik menggunakan laser argon atau xenon.

11
Fotokoagulasi tidak boleh diberikan pada tumor dekat makula atau diskus
optikus, karena bisa meninggalkan jaringan parut yang nantinya akan
menyebabkan ambliopi. Kedua cara ini tidak akan atau sedikit menyebabkan
komplikasi jangka panjang.
e. Modalitas yang lebih baru
Pada beberapa tahun terakhir,banyak kelompok yang menggunakan
kemoterapi sebagai terapi awal untuk kasus interaokular, dengan tujuan untuk
mengurabgi ukuran tumor dan membuat tumor bisa diterapi secara lokal.
Kemoterapi sudah dibuktikan tidak berguna untuk kasus intraocular, tetapi
dengan menggunakan obat yang lebih baru dan lebih bisa penetrasi ke mata,
obat ini muncul lagi. Pendekatan ini digunakan pada kasus-kasus yang tidak
dilakukan EBICT atau enukleasi, khususnya kasus yang telah lanjut.
Carboplatin baaik sendiri atau dikombinasi dengan vincristine dan VP16 atau
VM26 setelah digunakan. Sekarang kemoreduksi dilakukan sebagai terspi
awal kasus retinoblastoma bilateral dan mengancam fungsi mata.
f. Kemoterapi
Protocol adjuvant kemoterapi masih kontrovensial. Belum ada
penelitian yang luas, prospektif dan random. Sebagian besar penelitian
didasarkan pada sejumlah kecil pasien dengan perbedaan resiko relaps. Selain
itu juga karena kurang diterimanya secra luas sistem stadium yang
dibandingkan dengan berbagai macam variasi. Sebagian besar penelitian
didasarkan pada gambaran factor risiko secara histopatologi.
Penentuan stadium secara histopatologi setelah enukleasi sangat
penting untuk menentukan risiko relaps. Banyak peneliti memberikan
kemoterapi adjuvant untuk pasien-pasien retinoblastoma intraokular dan
memiliki faktor risiko potensial seperti nervus optikus yang pendek (< 5 mm),
tumor undifferentiated, atau invasi ke nervus optikus prelaminar. Kemoterapi
ingtratekal dan radiasi intracranial untuk mencegah penyebaran ke otak tidak
dianjurkan.

12
Apabila penyakitnya sudah menyebar ke ekstraokuler, kemoterapi
awal dianjurkan. Obat yang digunakan adalah carboplatin, cis;platin, etoposid,
teniposid, sikofosfamid, ifosfamid, vinkristin, adriamisin, dan akhir-akhir ini
adalah dikombinasi dengan idarubisin. Meskipun laporan terakhir menemukan
bahwa invasi keluar orbita dan limfonodi preauricular dihubungkan dengan
keluaran yang buruk, sebagian besar pasien ini akan mencapai harapan hidup
yang panjang dengan pendekatan kombinasi kemoterapi, pembedahan, dan
radiasi. Meskipun remisi bisa dicapai oleh pasien dengan metastasis, biasanya
mempunyai kehidupan pendek. Hal ini biasanya dikaitkan dengan ekspresi
yang belebihan p 170 glikoprotein pada retinoblastoma, yang dihubungkan
dengan multidrug resistance terhadap kemoterapi.

H. Komplikasi
1. Glaukoma
2. Katarak
3. Kebutaan
4. Antropi Mata
I. Pemeriksaan Penunjang
1. Oftalmoskopi mata
2. Ultrsonografi
3. Foto fundus

J. Pengkajian Teoritis
1. Identitas Klien
2. Pekerjaan Klien
3. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
4. Riwayat kesehatan Sekarang
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
6. Pengkajian Terselubung Mata

13
- Nervus II ( Optikus )

K. Diagnosa Teoritis
1. Gangguan persepsi sensorik penglihatan berhubungan dengan gangguan
penerimaan sensori dari mata
2. Resiko tinggi cidera, berhubungan dengan keterbatasan lapang pandang
3. Nyeri berhubungan dengan metastase ke otak, penekanan tumor ke arah otak
4. Gangguan citra diri berhubungan dengan perubahan penampilan pasca
operasi
5. Risiko keterlambatan perkembangan berhubungan dengan pembatasan
aktivitas.

14
L. Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Goal Statement (NOC) Intervensi (NIC)


Keperawatan
1. Gangguan  Mempertahankan lapang 1. Orientasikan pasien
persepsi sensori ketajaman penglihatan tanpa terhadap lingkungan,
penglihatan kehilangan lebih lanjut. staf, orang lain di
 Tentukan ketajaman areanya.
penglihatan, catat apakah satu 2. Letakkan barang yang
atau kedua mata terlibat. dibutuhkan/posisi bel
pemanggil dalam
jangkauan.
3. Dorong klien untuk
mengekspresikan
perasaan tentang
kehilangan/kemungkina
n kehilangan
penglihatan.
4. Lakukan tindakan untuk
membantu pasien untuk
menangani keterbatasan
penglihatan, contoh,
atur perabot/mainan,
perbaiki sinar suram dan
masalah penglihatan
malam
o Ketajaman penglihatan
dapat digunakan untuk
mengetahui gangguan
penglihatan yang
terjadi
o Orientasi akan
mempercepat
penyesuaian diri pasien
di lingkungan baru
o Mempermudah
pengambilan barang
jika dibutuhkan

2. Nyeri akut  Rasa nyeri yang ri rasakan 1. Berikan tindakan


pasien berkurang / hilang kenyamanan dasar
o Tentukan riwayat nyeri, (misalnya: reposisi) dan
misalnya lokasi nyeri, aktifitas hiburan
frekuensi, durasi, dan (misalnya: mudik,

15
intensitas (skala 0 – 10) dan telefisi).
tindakan penghilangan yang 2. Bicarakan dengan
digunakan individu dan keluarga
penggunaan terapi
distraksi, serta metode
pereda nyeri lainnya.
3. Ajarkan tindakan pereda
nyeri
4. Beri individu pereda
rasa sakit yang optimal
dengan analgesik
5. Dengan mengetahui
skala nyeri penderita
maka dapat ditentukan
tindakan yang sesuai
untuk menghilangkan
rasa nyeri tersebut
6. Tindakan kenyamanan
dasar dapat menurunkan
rasa nyeri

3 Cemas  Kecemasan dapat segera 1. Minta klien untuk relaks


berhubungan teratasi. merasakan sensasi yang
dengan  Kaji tingkat ansietas, derajat terjadi
penyakit yang pengalaman nyeri/timbulnya 2. Dorong klien untuk
diderita klien. gejala tiba – tiba dan mengulang
pengetahuan kondisi saat ini. prktikrelaksasi jika
 Berikan informasi yang akurat memungkinkan
dan jujur. Diskusikan dengan 3. Ciptakan lingkungan
keluarga bahwa pengawasan yang tenang dan tanpa
dan pengobatan dapat distraksi dengan lampu
mencegah kehilangan yang redup dan
penglihatan tambahan. lingkungan yang nyaman
 Dorong pasien untuk mengakui jika memungkinkan
masalah dan mengekspresikan 4. Evaluasi dan
perasaan. dokumentasi respon
 Identifikasi sumber/orang yang terapi relaksasi
menolong. 5. Gunakan seni dan
 Untuk mempermudah rencana bermain meningkatkan
tindakan keperawatan yang ekspresi
akan diberikan selanjutnya
 Kolaborasi dengan keluarga
pasien akan mempercepat
proses penyembuhan.

16
4 Resiko cidera  Resiko cedera berkurang. 1. Monitor kemampuan
trauma.  Orientasikan pasien klien dari tempat tidur dari
terhadap lingkungan, staf, dan kursi maupun sebaliknya
orang lain yang ada di areanya. 2. Identifikasi karakteristik
 Anjurkan keluarga memberikan dari lingkungan
mainan yang aman (tidak yangmung mungkin
pecah), dan pertahankan pagar meningkatkan resiko
tempat tidur. jatuh
 Arahkan semua alat mainan 3. Identifikas kekurangan
yang dibutuhkan klien pada kognitif atau fisik dari
tempat sentral pandangan klien pasien yang mungkin
dan mudah untuk dijangkau. meningkatkan potensi
 Orientasi akan mempercepat jatuh
penyesuaian diri pasien di 4. Kaji ulang riwat jatuh
lingkungan baru dari pasien bersama
keluarga

17
DAFTAR PUSTAKA

Rares, L., Ilmu, B., Mata, K., Kedokteran, F., Sam, U., & Manado, R. (2016).
Retinoblastoma. 4.

Sinambela, A., & Djakaria, H. M. (2017). Peran Radioterapi dalam Tatalaksana


Retinoblastoma. 8(2), 77–83.

Nanda Internasional.Diagnosis Keperawatan 2018-2020. EGC : Jakarta

Gloria,Bulechek,M.dkk. 2013,Nursing interventions Classification,edisi 6,

Jakarta,Elsevier.

Moothead Sue.dkk. 2013. Nursing Outcomes Classification edisi 5. ELSEVER

18