Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penduduk adalah semua orang yang menempati suatu wilayah hukum
tertentu dan waktu tertentu, sehingga kita mengenal istilah penduduk tetap
(penduduk yang berada dalam suatu wilayah dalam waktu lama) dan
penduduk tidak tetap (penduduk yang berada dalam suatu wilayah untuk
sementara waktu). Sedangkan Warga Negara Indonesia adalah semua orang
yang tinggal di wilayah negara Republik Indonesia, baik penduduk asli
maupun keturunan asing yang telah disyahkan oleh undang-undang sebagai
warga negara Indonesia. Oleh karena itu kita sering menemukan istlah WNI
pribumi (penduduk asli Indonesia), WNI keturunan (misalnya keturunan
Tiong Hoa, Belanda, Amerika dan sebagainya), dan WNA.
Negara Republik Indonesia yang memiliki luas kurang lebih
1,904,569 km2, saat ini jumlah penduduk Indonesia tahun 2012 diperkirakan
sekitar 257.516.167 jiwa. Secara nasional pertumbuhan penduduk Indonesia
masih relatif cepat, walaupun ada kecenderungan menurun. Antara tahun
1961 – 1971 pertumbuhan penduduk sebesar 2,1 % pertahun, tahun 1971 –
1980 sebesar 2,32% pertahun, tahun 1980 – 1990 sebesar 1,98% pertahun,
dan periode 1990 – 2000 sebesar 1,6% pertahun. Menurut Badan Pusat
Statistik (BPS), per bulan September 2012,3 jumlah penduduk miskin di
Indonesia mencapai 28,59 juta orang (11,66 persen), atau berkurang sebesar
0,54 juta orang (0,30 persen) dibandingkan dengan penduduk miskin pada
Maret 2012 sebesar 29,13 juta orang (11,96 persen). Serta Tingkat
Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Agustus 2012 mencapai 6,14
persen. Adanya jumlah penduduk yang besar dan angka kemiskinan yang
cukup tinggi dapat memicu adanya masalah kependudukan yang dapat dilihat
dari berbagai aspek, baik dari kesehatan, pendidikan, ekonomi, sosial budaya
dan sebagainya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, rumusan masalah dari makalah ini
adalah:
1. Bagaimana masalah kependudukan yang ada di Indonesia terkini?
2. Mengapa terjadi masalah kependudukan tersebut?
3. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan masalah kependudukan
tersebut?
4. Bagaimana solusi dari masalah kependudukan tersebut?
5. Bagaimana mengintegrasi KB dalam pembangunan?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan dari makalah ini adalah:
1. Mengetahui masalah kependudukan yang ada di Indonesia.
2. Mengetahui penyebab masalah kependudukan tersebut.
3. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan masalah
kependudukan tersebut.
4. Mengetahui solusi dari masalah kependudukan tersebut.
5. Mengetahui integrasi KB dalam pembangunan?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kualitas Penduduk dan Kesehatan


Bagaimana kualitas penduduk Indonesia? Secara spontan kita pasti akan
mengatakan bahwa kualitas penduduk Indonesia masih tergolong rendah.
Kualitas penduduk dicerminkan dari tingkat pendapatan, tingkat pendidikan,
dan tingkat kesehatan.
1. Tingkat Pendapatan
Pendapatan penduduk Indonesia walaupun mengalami peningkatan tetapi
masih tergolong rendah dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain.
Perhatikan tabel berikut:

Pendapatan Per Kapita Beberapa Negara Tahun 2010


No. Negara Pendapatan Per Kapita (US $)
1. Amerika Serikat 47.140
2. Australia 43.740
3. Jepang 42.150
4. Malaysia 7.900
5. Singapura 40.920
6. Indonesia 2.580
7. Thailand 4.210
8. Filipina 2.050
9. Inggris 38.540
10. Korea Selatan 19.890

Dengan pendapatan per kapita yang masih rendah berakibat


penduduk tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga sulit
mencapai kesejahteraan. Rendahnya pendapatan per kapita penduduk di
Indonesia terutama disebabkan oleh:
a. Pendapatan nasional yang masih rendah. Hal ini disebabkan sumber
daya alam yang dimiliki belum sepenuhnya dikelola dan
dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.
b. Jumlah penduduk yang besar dan pertumbuhan penduduk yang
tinggi tiap tahunnya.
c. Masih rendahnya penguasaan teknologi oleh penduduk sehingga
pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam kurang optimal.
Oleh karena itu dalam upaya untuk menaikkan pendapatan perkapita,
pemerintah melakukan usaha, antara lain:
a. Meningkatkan pengolahan dan pengelolaan sumber daya alam yang
ada.
b. Meningkatkan kemampuan bidang teknologi agar mampu mengolah
sendiri sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia.
c. Memperkecil pertambahan penduduk diantaranya dengan
penggalakan program KB dan peningkatan pendidikan.
d. Memperbanyak hasil produksi baik produksi pertanian,
pertambangan, perindustrian, perdagangan maupun fasilitas jasa
(pelayanan)
e. Memperluas lapangan kerja agar jumlah pengangguran tiap tahun
selalu berkurang.

2. Tingkat Pendidikan
Pemerintah Indonesia telah berusaha keras untuk meningkatkan mutu
pendidikan penduduk melalui berbagai program pemerintah di bidang
pendidikan, seperti program beasiswa, adanya bantuan operasional
sekolah (BOS), program wajib belajar, dan sebagainya. Walaupun
demikian, karena banyaknya hambatan yang dialami, maka hingga saat
ini tingkat pendidikan bangsa Indonesia masih tergolong rendah.
Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan
penduduk Indonesia sebagai berikut :
a. Rendahnya kualitas sarana fisik
Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan
tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan
media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara
laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak
memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak
memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak
memiliki laboratorium dan sebagainya.
b. Rendahnya kualitas guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan
guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk
menjalankan tugasny. Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia
bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Kelayakan mengajar itu
jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri. Data
Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru
SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan
ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8%
yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat
sekolah menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki
pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544
dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas (3,48%
berpendidikan S3). Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya
faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran
merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin
kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada
kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.
c. Rendahnya kesejahteraan guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat
rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. idealnya seorang guru
menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang,
pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru
bantu Rp 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp
10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak
guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar
lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang
ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa
ponsel.
d. Rendahnya prestasi siswa
Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas
guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi
tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan
matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah.
Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari
materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal
berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin
karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal
pilihan ganda.
e. Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan
Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas.
Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan
menghambat pengembangan sumber daya manusia secara
keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi
pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah
ketidakmerataan tersebut.
f. Mahalnya biaya pendidikan.
Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk
menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat
untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan
dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT)
membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali
tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah. Pendidikan
berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus
murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya
membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk
menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin
akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu.
Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari
tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan
alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci tangan’.
g. Rendahnya pendapatan per kapita penduduk, menyebabkan orang
tua tidak mampu membiayai anaknya sekolah, sehingga banyak anak
yang putus sekolah atau berhenti sekolah sebelum tamat.
h. Ketidakseimbangan antara jumlah murid dengan sarana pendidikan
yang ada seperti kelas, guru, dan buku-buku pelajaran. Hal ini
menyebabkan tidak semua anak usia sekolah tertampung belajar di
sekolah, terutama di daerah pelosok dan terpencil yang sulit
dijangkau program pemerintah.
i. Masih kurangnya kesadaran penduduk terhadap pentingnya
pendidikan, sehingga anak tidak disekolahkan tetapi justru diarahkan
untuk bekerja membantu memenuhi ekonomi keluarga.
Berbagai upaya telah ditempuh oleh pemerintah dalam mengatasi
masalah pendidikan. Usaha-usaha pemerintah untuk meningkatkan
pendidikan di Indonesia yaitu:
a. Menambah jumlah sekolah dari tingkat SD sampai dengan perguruan
tinggi.
b. Menambah jumlah guru (tenaga kependidikan) di semua jenjang
pendidikan.
c. Pelaksanaan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun yang
telah dimulai tahun ajaran 1994/1995.
d. Pemberian bea siswa kepada pelajar dari keluarga tidak mampu
tetapi berprestasi di sekolahnya.
e. Membangun perpustakaan dan laboratorium di sekolah-sekolah.
f. Menambah sarana pendidikan seperti alat ketrampilan dan olah raga.
g. Meningkatkan pengetahuan para pendidik (guru/dosen) dengan
penataran dan pelatihan.
h. Penyempurnaan kurikulum sekolah dalam rangka peningkatan mutu
pendidikan.
i. Menggalakkan partisipasi pihak swasta untuk mendirikan lembaga-
lembaga pendidikan dan ketrampilan.

3. Tingkat Kesehatan
Tingkat kesehatan penduduk merupakan salah satu faktor yang
menunjang keberhasilan pembangunan. Tingkat kesehatan suatu negara
dapat dilihat dari besarnya angka kematian bayi dan usia harapan hidup
penduduknya. Hal ini terlihat dari tingginya angka kematian bayi dan
angka harapan hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-
negara maju. Faktor-faktor yang dapat menggambarkan masih rendahnya
tingkat kesehatan di Indonesia adalah:
a. Banyaknya lingkungan yang kurang sehat.
b. Penyakit menular sering berjangkit.
c. Gejala kekurangan gizi sering dialami penduduk.
d. Angka kematian bayi tahun 1980 sebesar 108 per 1000 bayi dan
tahun 1990 sebesar 71 per 1000 kelahiran bayi.

Masalah gizi yang masih dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah:


a. Kekurangan vitamin A
b. Kekurangan kalori protein
c. Kekurangan zat besi
d. Gondok
Usaha-usaha pemerintah untuk meningkatkan kualitas kesehatan
penduduk Indonesia yaitu:
a. Melaksanakan program perbaikan gizi.
b. Perbaikan lingkungan hidup dengan cara mengubah perilaku sehat
penduduk, serta melengkapi sarana dan prasarana kesehatan.
c. Penambahan jumlah tenaga medis seperti dokter, bidan, dan perawat.
d. Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.
e. Pembangunan Puskesmas dan rumah sakit.
f. Pemberian penyuluhan kesehatan kepada masyarakat.
g. Penyediaan air bersih.
h. Pembentukan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), kegiatan
posyandu meliputi:
- Penimbangan bayi secara berkala
- Imunisasi bayi/balita
- Pemberian makanan tambahan
- Penggunaan garam oralit
- Keluarga berencana
- Peningkatan pendapatan wanita

Gambar . Kegiatan di Posyandu

B. Kuantitas Penduduk (Jumlah Penduduk Besar Dan Pertumbuhan


Penduduk Cepat)
Menurut Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia pada tahun
2010 adalah sebanyak 237.641.326 jiwa, yang mencakup mereka yang
bertempat tinggal di daerah perkotaan sebanyak 118 320 256 jiwa (49,79
persen) dan di daerah perdesaan sebanyak 119 321 070 jiwa (50,21 persen).
Penyebaran penduduk menurut pulau-pulau besar adalah: pulau Sumatera
yang luasnya 25,2 persen dari luas seluruh wilayah Indonesia dihuni oleh
21,3 persen penduduk, Jawa yang luasnya 6,8 persen dihuni oleh 57,5 persen
penduduk, Kalimantan yang luasnya 28,5 persen dihuni oleh 5,8 persen
penduduk, Sulawesi yang luasnya 9,9 persen dihuni oleh 7,3 persen
penduduk, Maluku yang luasnya 4,1 persen dihuni oleh 1,1 persen penduduk,
dan Papua yang luasnya 21,8 persen dihuni oleh 1,5 persen penduduk.
Diantara negara-negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, Indonesia
menempati posisi keempat setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Di
Indonesia 60% penduduknya berada di pulau jawa. Ketidak merataan
persebaran penduduk di Indonesia menyebabkan ketidak merataan juga
pembangunan fasilitas fisik maupun non fisik. Hal tersebut akan menarik
banyak migran ke pulau jawa. Sehingga daerah yang ditinggalkan tidak
mengalami kemajuan. Jumlah penduduk Indonesia yang besar mengakibatkan
permasalahan kuantitas penduduk di Indonesia, yaitu:
1. Jumlah penduduk Indonesia, besarnya sumber daya manusia Indonesia
dapat dilihat dari jumlah penduduk yang ada. Jumlah penduduk di
Indonesia berada pada urutan keempat terbesar setelah Cina, India, dan
Amerika Serikat.
2. Pertumbuhan Penduduk Indonesia, peningkatan penduduk dinamakan
pertumbuhan penduduk. Angka pertumbuhan penduduk Indonesia lebih
kecil dibandingkan Laos, Brunei, dan Filipina.
3. Kepadatan penduduk Indonesia, kepadatan penduduk merupakan
perbandingan jumlah penduduk terhadap luas wilayah yang dihuni.
Ukuran yang digunakan biasanya adalah jumlsh penduduk setiap satu
km2 atau setiap 1 mil2. Permasalahan dalam kepadatan penduduk adalah
persebarannya yang tidak merata. Kondisi demikian menimbulkan
banyak permasalahan, misalnya pengangguran, kemiskinan, kriminalitas,
pemukiman kumuh dsb.
4. Susunan penduduk Indonesia, sejak sensus penduduk tahun 1961,
piramida penduduk Indonesia berbentuk limas atau ekspansif. Artinya
pada periode tersebut, jumlah penduduk usia muda lebih banyak daripada
penduduk usia tua. Median umur penduduk Indonesia tahun 2010 adalah
27,2 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa penduduk Indonesia termasuk
kategori menengah (intermediate). Penduduk suatu wilayah
dikategorikan penduduk muda bila median umur < 20, penduduk
menengah jika median umur 20-30, dan penduduk tua jika median umur
> 30 tahun. Rasio ketergantungan penduduk Indonesia adalah 51,31.
Angka ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif (15-64
tahun) terdapat sekitar 51 orang usia tidak produkif (0-14 dan 65+), yang
menunjukkan banyaknya beban tanggungan penduduk suatu wilayah.
Rasio ketergantungan di daerah perkotaan adalah 46,59 sementara di
daerah perdesaan 56,30. Perkiraan rata-rata umur kawin pertama
penduduk laki-laki sebesar 25,7 tahun dan perempuan 22,3 tahun
(perhitungan Singulate Mean Age at Marriage/SMAM).

Gambar. Populasi penduduk Indonesia berdasar jenis kelamin tahun 2011

Susunan penduduk yang seperti itu memberikan konsekuensi terhadap


hal-hal berikut.
a. Penyediaan fasilitas kesehatan.
b. Penyediaan fasilitas pendidikan bagi anak usia sekolah
c. Penyediaan lapangan pekerjaan bagi penduduk kerja
d. Penyediaan fasilitas sosial lainnya yang mendukung perkembangan
penduduk usia muda.
Solusi untuk mengatasi masalah jumlah penduduk diantaranya adalah
dengan Program Keluarga Berencana (KB). Mencanangkan program
Keluarga Berencana (KB) sebagai gerakan nasional, yaitu dengan:
a. Memperkenalkan tujuan-tujuan program KB melalui jalur
pendidikan.
b. Mengenalkan alat-alat kontrasepsi kepada pasangan usia subur, dan
menepis anggapan yang salah tentang anak.
c. Menetapkan Undang-Undang Perkawinan yang di dalamnya
mengatur serta menetapkan tentang batas usia nikah.
d. Mempermudah dan meningkatkan pelayanan dalam bidang
pendidikan, sehingga keinginan untuk segera menikah dapat
dihambat.

C. Mobilitas (Persebaran Penduduk Tidak Merata)


Banyaknya masyarakat Indonesia yang bermigrasi ke kota-kota besar
mengakibatkan terjadinya kepadatan di kota-kota besar. Namun fasilitas dan
perekonomian di daerah perkotaan semakin meningkat. Sedangkan pada
daerah yang ditinggalkan penduduknya tidak mengalami kemajuan sama
sekali sehingga terjadi ketidak seimbangan antara pertumbuhan daerah
perkotaan dan pedesaan.
Persebaran atau distribusi penduduk adalah bentuk penyebaran penduduk
di suatu wilayah atau negara, apakah penduduk tersebut tersebar merata atau
tidak. Kepadatan penduduk adalah angka yang menunjukkan jumlah rata-rata
penduduk pada setiap kilometer pada suatu wilayah negara.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran dan kepadatan penduduk
tiap-tiap daerah atau negara sebagai berikut:

1. Faktor Fisiografis, meliputi keadaan fisik pulau tersebut, misal keadaan


tanah, iklim dan cuaca.
2. Faktor Biologis, meliputi keanekaragaman makhluk hidup yang ada.
3. Faktor Kebudayaan dan Teknologi, meliputi kemajuan teknologi yang
ada.
Kepadatan penduduk dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1. Kepadatan penduduk aritmatik sangat mudah dalam perhitungannya.
Data kepadatan penduduk aritmatik sangat bermanfaat. Contohnya
adalah dengan diketahui tingkat kepadatan penduduk di suatu wilayah,
maka dapat digunakan untuk perencanaan penyediaan fasilitas sosial.
Jika pada suatu daerah memiliki kepadatan penduduk aritmatik yang
rendah, maka penyediaan fasilitas kesehatan, seperti puskesmas dapat
digabung dengan daerah yang berdekatan.
2. Kepadatan penduduk Indonesia antara pulau yang satu dan pulau yang
lain tidak seimbang. Selain itu, kepadatan penduduk antara provinsi yang
satu dengan provinsi yang lain juga tidak seimbang. Hal inidisebabkan
karena persebaran penduduk tidak merata. Sebagian besar penduduk
Indonesia terkonsentrasi di pulau Jawa dan Madura. Padahal, luas
wilayah pulau Jawa dan Madura hanya sebagian kecil dari luas wilayah
negara Indonesia. Akibatnya, pulau Jawa dan Madura memiliki tingkat
kepadatan penduduk yang tinggi, sedangkan di daerah-daerah lain tingkat
penduduknya rendah. Provinsi yang paling padat penduduknya adalah
Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Kepadatan penduduk erat kaitannya
dengan kemampuan wilayah dalam mendukung kehidupan penduduknya.
Daya dukung lingkungan dari berbagai daerah di Indonesia tidak sama.
Daya dukung lingkungan pulau Jawa lebih tinggi dibandingkan dengan
pulau-pulau lain, sehingga setiap satuan luas di Pulau Jawa dapat
mendukung kehidupan yang lebih tinggi dibandingkan dengan, misalnya
di Kalimantan, Papua, Sulawesi, dan Sumatra.Kemampuan suatu wilayah
dalam mendukung kehidupan itu ada batasnya. Apabila kemampuan
wilayah dalam mendukung lingkungan terlampau, dapat berakibat pada
terjadinya tekanan-tekanan penduduk. Jadi, meskipun di Jawa daya
dukung lingkungannya tinggi, namun juga perlu diingat batas
kemampuan wilayah tersebut dalam mendukung kehidupan.
Untuk mengatasi masalah pemerataan penduduk, program pemerintah
yang terkenal dalam upaya mengatasi masalah tersebut adalah transmigrasi,
yaitu pemindahan penduduk dari daerah yang padat penduduk ke daerah yang
belum padat penduduk. Program pemerintah tersebut dilaksanakan sekitar
tahun 1980 -1990 an. Tujuan pelaksanaan transmigrasi yaitu:
a. Meratakan persebaran penduduk di Indonesia.
b. Peningkatan taraf hidup transmigran.
c. Pengolahan sumber daya alam.
d. Pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia.
e. Menyediakan lapangan kerja bagi transmigran.
f. Meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa.
g. Meningkatkan pertahanan dan kemananan wilayah Indonesia.
Transmigrasi bukan hanya memindahkan penduduk, tetapi harus juga
menyiapkan aspek sosial, SDM, dan teknis. Aspek sosial, masyarakat yang
akan dipindahkan harus dipersiapkan agar mudah beradaptasi dengan
lingkungan yang baru. Aspek SDM, peningkatan skill perlu diberikan kepada
masyarakat yang akan dipindahkan. Aspek Teknis, mempersiapkan
prasarana dasar yang menunjang daerah transmigrasi, tidak hanya rumah
dan sepetak tanah. Ditemui berbagai kendala misalnya masyarakat tidak
kerasan ditempat barunya, sehingga mereka kembali ke kota. Banyak proyek
transmigrasi yang tidak dilakukan sesuai prosedur, yaitu penyiapan prasarana
dasar secukupnya, dana diselewengkan, sehingga penduduk yang
dipindahkan teraniaya. Beberapa solusi lain upaya lain yang dapat dilakukan
adalah:
a. Pengadaan rumah vertikal atau rusun
b. Mengatur jarak kelahiran
c. Menambah pengetahuan tentang kependudukan\
d. Meningkatkan usaha ekonomi keluarga
e. Para transmigran yang sukses bisa kembali membangun daerah asalnya.

D. Rendahnya Usia Kawin Pertama


Usia perkawinan pertama wanita erat hubungannya dengan fertilitas.
Karena bila umur perkawinan pertamanya semakin muda semaki mendekati
umur haid pertama, maka semakin lama masa reproduksinya. Hal itu semakin
panjang resiko seorang wanita untuk hamil dan melahirkan.

Data Riskesdas 2010 menunjukan bahwa prevalensi umur perkawinan


pertama antara 15-19 tahun sebanyak 41,9 persen. Menurut SDKI Tahun
2007, 17 persen wanita yang saat ini berumur 45-49 tahun menikah pada
umur 15 tahun, sedangkan proporsi wanita yang menikah pada umur 15 tahun
berkurang dari 9 persen untuk umur 30-34 tahun menjadi 4 persen untuk
wanita umur 20-24 tahun. Menurut data Susenas Tahun 2010, secara nasional
rata-rata usia kawin pertama di Indonesia 19.70 tahun, rata-rata usia kawin
didaerah perkotaan 20.53 tahun dan di daerah perdesaan 18.94 tahun, masih
terdapat beberapa propinsi rata-rata umur kawin pertama perempuan dibawah
angka nasional.
Data BPS tahun 2010, menunjukkan rata-rata perempuan di daerah
perkotaan menikah pada usia 20-22 tahun, hal ini disebabkan karena
partisipasi perempuan dalam karir dan pekerjaan sebelum perkawinan
sehingga dapat menunda usia perkawinan. Walaupun telah terjadi sedikit
peningkatan usia perkawinan pertama pada perempuan namun perlu
mendapat perhatian karena dapat memberikan dampak pada peningkatan
TFR.
Hasil penelitian menemukan bahwa ada beberapa factor yang
berpengaruh terhadap perkawinan pertama pada perempuan, diantaranya
adalah factor social, ekonomi, budaya dan factor tempat tinggal desa-kota.
Diantara beberapa factor tersebut, ternyata faktor ekonomi yang paling
dominan terhadap perkawinan pertama pada perempuan.
Rendahnya tingkat kemampuan eknomi keluarga akan mendorong para
orangtua mengawinkan anak-anak wanitanya walaupun mereka masih umur
muda. Sementara itu dari segi sosial budaya, umumnya terjadi karena adanya
pemikiran seperti takut anaknya menjadi perawan tua, kebanggaan apabila
anaknya cepat dilamar dan juga ingin mengurangi beban (tanggung jawab)
sebagi orang tua apabila anaknya telah menikah.
Ada juga faktor agama yang dianut oleh masyarakat setempat, seorang
anak diwajibkan patuh terhadap orang tua, apabila orang tua menginginkan
anaknya segera menikah walaupun usianya masih muda harus menurut
kehendak orang tua dan yang penting anaknya sudah ”haid pertama”. Tokoh
Masyarakat dan Tokoh Agama berpendapat bahwa perkawinan usia muda
pada perempuan lebih kepada menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan misalnya ”hamil diluar nikah”, pergaulan bebas atau sex bebas
antar remaja.
Faktor sosial yang berpengaruh terhadap perkawinan pertama pada
perempuan adalah faktor pendidikan, rendahnya pendidikan orang tua dan
rendahnya pendidikan remaja mendorong untuk pernikahan usia muda.
Mereka yang tidak melanjutkan sekolah akhirnya menganggur, karena
sulitnya mencari pekerjaan.Kalaupun ada yang bekerja hanya sebagai
pembantu rumah tangga dan tidak bertahan lama. Kawin usia muda juga
terjadi karena terlanjur ”hamil” sehingga terpaksa dikawinkan. Setelah
menikah umumnya mereka menyadari bahwa perkawinan usia muda tidak
baik untuk kelangsungan rumah tangga karena berbagai faktor. Rapuhnya
ketahanan keluarga karena masing-masing tidak siap secara sosial, ekonomi
budaya.
Salah satu program kependudukan yang dapat mengendalikan jumlah
penduduk dan langsung sasarannya terhadap perkawinan pertama pada
perempuan adalah program Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP). Program
PUP ini adalah upaya untuk meningkatkan usia perkawinan pertama,
sehingga mencapai usia minimal pada saat perkawinan usia 20 tahun bagi
wanita dan 25 tahun bagi pria. Program ini bisa terlaksana dengan baik
apabila semua pihak yang terkait mendukung. Salah satu kendala dalam
pelaksanaan program PUP di lapangan adalah belum direvisinya Undang-
Undang Perkawinan Tahun 1974 yang membolehkan perkawinan pada usia
16 tahun untuk wanita dan 18 tahun untuk pria.

E. Rendahnya Partisipasi Pria Dalam Ber-KB


Partisipasi pria adalah tanggung jawab pria dalam keterlibatan dan
kesertaan ber KB dan Kesehatan Reproduksi, serta prilaku seksual yang sehat
dan aman bagi dirinya, pasangannya dan keluarganya (BKKBN, 2000).
Bentuk nyata dari partisipasi pria tersebut adalah: sebagai peserta KB,
mendukung dan memutuskan bersama istri dalam penggunaan kontrasepsi,
sebagai motivator KB merencanakan jumlah anak dalam keluarganya
(BKKBN, 2003).
Berdasarkan pengambilan data peserta aktif pada bulan januari tahun
2010 menunjukan bahwa prevelensi KB di Indonesia adalah 75.8 % .
Diantaranya akseptor wanita sebanyak (75.4%) dan akseptor pria sebanyak
(1.6%)(BKKBN, 2011)
Rendahnya partisipasi pria/suami dalam KB dan kesehatan reproduksi
disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu: (a) faktor dukungan, baik politis,
sosial budaya, maupun keluarga yang masih rendah sebagai akibat
rendah/kurangnya pengetahuan pria/suami serta lingkungan sosial budaya
yang menganggap KB dan kesehatan reproduksi merupakan urusan dan
tanggung jawab perempuan, (b) faktor akses, baik akses informasi, maupun
akses pelayanan. Dilihat dari akses informasi, materi informasi pria masih
sangat terbatas, demikian halnya dengan kesempatan pria/suami yang masih
kurang dalam mendapatkan informasi mengenai KB dan kesehatan
reproduksi. Keterbatasan juga dilihat dari sisi pelayanan dimana sarana/
tempat pelayanan yang dapat mengakomodasikan kebutuhan KB dan
kesehatan reproduksi pria/suami masih sangat terbatas, sementara jenis
pelayanan kesehatan reproduksi untuk pria/suami belum tersedia pada semua
tempat pelayanan dan alat kontrasepsi untuk suami hanya terbatas pada
kondom dan vasektomi (Iman, 2008).
1. Adanya Sosial Budaya
Adanya anggapan sebagian masyarakat terutama perempuan bahwa pria
yang mengikuti KB terutama MOP atau vasektomi dimungkinkan untuk
“dapat kemana-mana” atau berlaku serong. Menghadapi suatu
permasalahan yang ada di dalam masyarakat yang terkait dengan
permasalahan ini diawali dengan diskusi, konsultasi yang terkait dengan
tata nilai sosial budaya yang ada di dalam masyarakat tersebut dengan
memberikan pemahaman bahwa orang yang dapat berlaku serong itu
bukan hanya orang yang sudah melakukan vasektomi saja. Namun
demikian dalam kehidupan masyarakat siapapun yang mempunyai niatan
untuk berbuat serong tersebut siapapun bisa melakukannya. Upaya
melakukan pemahaman atau konsultasi ini tidak mungkin hanya
dilakukan oleh petugas KB saja tetapi dengan melibatkan tokoh
masyarakat dan tokoh agama yang ada di sekitar masyarakat tersebut
untuk dapat memberikan pemantapan akan pemahaman dan pengamalan
nilai-nilai agama bagi seluruh anggota masyarakat. Dalam prakteknya
kegiatan ini diawali dengan pelatihan bagi tokoh agama dan tokoh
masyarakat tentang pentingnya Keluarga Berancana dalam kehidupan
masyarakat (Iman, 2008).
2. Pengetahuan Masyarakat
Berdasarkan pengamatan langsung dan penelitian sederhana yang pernah
dipublikasikan ternyata ada masyarakat yang belum mengetahui sama
sekali adanya jenis kontrasepsi yang diperuntukkan laki-laki/suami.
Masyarakat tertentu baik laki-laki ataupun perempuan masih ada yang
beranggapan bahwa tidak ada alat kontrasepsi yang diperuntukkan bagi
laki-laki. Sehingga ada yang merasa aneh atau merasa lucu KB kok yang
melakukan laki-laki. Dari kondisi ini berarti pengetahuan dan
pemahaman masyarakat tentang kontrasepsi pria yaitu kondom dan
vasektomi bagi sebagian masyarakat masih sangat rendah (Iman, 2008).
3. Agama
Tokoh agama tertentu masih beranggapan bahwa medis operatif pria
belum dibolehkan dalam aturan agama. Kondisi yang sebenarnya
hubungannya dengan agama disampaikan bahwa yang tidak
diperbolehkan adalah yang merusak atau tidak dapat dikembalikan.
Dengan demikian pelayanan vasektomi yang secara medis disebut
sebagai reversible atau dapat dikembalikan dengan melalui operasi
sederhana bedah mikro berarti bisa dipulihkan kembali sehingga
memungkinkan untuk orang yang melakukan tersebut dapat memiliki
anak kembali. Oleh karena itu untuk mengatasi masalah ini mutlak
diperlukan tokoh agama yang telah memahami secara penuh vasektomi
tanpa pisau ini dapat diberikan kepada masyarakat di
lingkungannya(Iman, 2008).
4. Tata Nilai Lokal Yang Ada Di Masyarakat
Wilayah tertentu beranggapan bahwa KB adalah urusan perempuan.
Kondisi ini menciptakan upaya pelaksanaan program KB yang
diutamakan sasarannya hanya perempuan. Sehingga dalam upaya
mengatasinya harus melibatkan suami atau pria sebagai obyek sekaligus
subyek dalam partisipasi pria dalam ber-KB. Maksudnya dalam
pelayanan KB pria diupayakan pria diperankan secara penuh untuk
memberikan motivasi langsung sebagai teladan bagi masyarakat di
lingkungannya melalui penyampaian pengalaman langsung yang
dihadapi masyarakat tersebut kepada calon peserta (Iman, 2008).
5. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat
Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang rendah beranggapan bahwa
operasi adalah mahal sehingga tidak mampu/tidak mungkin dilakukan
bagi masyarakat yang kurang mampu (Iman, 2008). Dalam pelaksanaan
program KB apapun dan berapapun kebutuhan masyarakat terutama yang
miskin dan hampir miskin untuk pemenuhan kebutuhan program KB
akan dipenuhi seluruhnya. Sehingga berapapun kebutuhan yang
diperlukan untuk vasektomi ini menjadi tanggungan pemerintah.
Sehingga masyarakat tidak harus mempunyai kekhawatiran berapa besar
yang diperlukan untuk kegiatan ini. Bahkan pemerintah memikirkan
kondisi ekonomi ini dengan memberikan ayoman pasca pelayanan untuk
biaya hidup 2 hari (Iman, 2008).
6. Belum Dimanfaatkannya Peserta KB Pria
Masyarakat yang sudah mengikuti KB pria yaitu kondom dan vasektomi
belum secara optimal diperankan sebagai motivator atau teladan dalam
masyarakat. Program yang dapat berjalan secara efektif di masyarakat
adalah yang dapat dianggap sebagai dari, oleh, dan untuk masyarakat itu
sendiri. Oleh karena itu hubungannya dengan kesertaan KB pria yaitu
peserta vasektomi sudah seyogyanya diperankan sebagai tokoh
masyarakat, teladan, motivator dan komunikator program tersebut antara
masyarakat dengan petugas pelaksana/pelayan program (Suprihastuti,
2000).
7. Persepsi
Adanya persepsi bahwa wanita yang menjadi target program KB menjadi
salah satu faktor rendahnya partisipasi pria dalam KB. Hasil penelitian
Purwanti (2004) menyimpulkan bahwa suami dengan persepsi positif
terhadap alat kontrasepsi pria lebih tinggi pada kelompok suami yang
menggunakan alat kontrasepsi pria dari pada kelompok kontrol
(Ekayanthi, 2005).
8. Kualitas Pelayanan KB Pria
Dari studi kualitatif di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dilakukan
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional tahun 2001
menunjukkan kualitas pelayanan menjadi salah satu faktor rendahnya
partisipasi pria dalam KB (Suprihastuti, 2000).
9. Terbatasnya Metode Kontrasepsi Pria
Dari studi kualitatif di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dilakukan
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional tahun 2001
menunjukkan terbatasnya metode kontrasepsi pria menjadi salah satu
faktor rendahnya partisipasi pria dalam KB (BKKBN, 2001).
10. Dukungan Istri Terhadap Suami Untuk KIB
Dari hasil penelitian di Sumatera Selatan dan Jawa Barat yang dilakukan
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional tahun 2001
menunjukkan 66,26% istri tidak setuju suaminya ber KB (BKKBN,
2001).
11. Aksesibilitas Pelayanan KB Pria
Adanya kemudahan dan ketersediaan sarana pelayanan berdampak
positif terhadap penggunaan suatu alat kontrasepsi. Menurut suami
pelayanan KB pria yang paling disukai adalah dekat dengan rumah atau
dekat dari tempat mereka bekerja (48,85%), sebanyak 12,8%
menginginkan tempat pelayanan dengan trasportasi yang mudah, biaya
terjangkau (9,9%), fasilitas lengkap (9,3%), dilayani dengan tenaga ahli
yang ramah (9%) dan dapat menjaga privacy (2,2%). Sedangkan tempat
memperoleh pelayanan KB pria adalah rumah sakit pemerintah 36,1%,
Puskesmas 29,1%, dan rumah sakit swasta 8,6% (Suprihastuti, 2000).
Belum semua pelayanan kesehatan mampu memberikan pelayanan
vasektomi. Hanya 5 – 81 persen pelayanan kesehatan yang menyediakan
pelayanan vasektomi dengan rata-rata 41 persen pelayanan kesehatan
pemerintah (Wibowo, 1994). Bahkan hasil baseline survei di 4 propinsi
Sumatera Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan NTT tahun 2002
memperlihatkan bahwa dari 30% pelayanan kesehatan yang menyediakan
pelayanan vasektomi, hanya 4% yang melayani vasektomi. Dari sisi
provider terlihat bahwa keberadaan dan kesiapan provider pemberi
pelayanan secara teknis telah mendukung pelaksanaan vasektomi.
Namun secara mental masih ada hambatan, disamping itu mutasi dokter
terlatihpun sangat cepat. Terbatasnya akses ke tempat pelayanan
disebabkan antara lain oleh (Suprihastuti, 2000):
a. Citra terhadap tempat pelayanan KB yang dipersiapkan sebagai
tempat pelayanan untuk wanita.
b. Kurangnya tenaga terlatih untuk vasektomi
c. Kurangnya motivasi provider untuk pelayanan vasektomi
d. Kurangnya dukungan peralatan dan medical suplies untuk vasektomi
e. Kurang dukungan logistik kondom.
Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kurangnya
partisipasi pria dalam ber-KB antara lain:
1. Untuk petugas KB atau petugas Kesehatan
a. Perlunya peningkatan KIE (komunikasi, informasi dan edukasi)
tentang partisipasi pria dalam KB kepada pasangan usia subur
sehingga mereka bisa memahami bahwa bukan hanya perempuan
saja yang ber-KB tapi pria juga penting untuk ber-KB.
b. Perlunya peningkatan KIE melalui paguyuban atau kelompok KB
pria tentang alat kontrasepsi pria yaitu kondom untuk meningkatkan
pengetahuan pria tentang alat kontrasepsi kondom.
c. Perlunya peningkatan KIE kepada calon pengantin pria dan wanita
tentang partisipasi pria dalam KB.
2. Untuk Pemerintah
a. Perlunya bantuan biaya pelayanan KB dan penyelenggaraan safari
KB selain alat kontrasepsi vasektomi/MOP.
b. Perlunya peningkatan pemberian kondom gratis untuk pasangan usia
subur.
c. Perlunya pengadaan metode kontrasepsi baru bagi pria selain
kondom dan vasektomi.
d. Perlunya peningkatan KIE mengenai partisipasi pria dalam KB
melalui media elektronik seperti televisi, radio dan media massa
sepeti majalah dan Koran.
F. Masih Lemahnya Institusi Daerah Dalam Pelaksanaan Program KB
Kerumitan makin terbayang karena upaya untuk mengatasi simpang siur
data dan kinerja program KB untuk menahan laju pertumbuhan penduduk
juga terganggu oleh masalah institusi, terutama di kabupaten/kota. Belum lagi
kalau kependudukan bukan hanya soal jumlah, tetapi juga soal menjaga
kualitasnya.
Dimulai sejak awal era reformasi, program KB seakan mati suri. Stagnasi
mulai terjadi sejak era otonomi daerah dicanangkan tahun 1999. Pada
umumnya daerah tidak menempatkan KB sebagai program prioritas.
Bahkan masih banyak kabupaten/kota yang tidak memiliki badan atau
lembaga yang mengurus KB. Dari 497 kabupaten/kota di Indonesia, baru 385
yang mempunyai institusi untuk mengurus KB. Ironisnya, dari 385
kabupaten/kota tersebut, baru 7 persen yang mempunyai institusi yang
khusus menangani KB, sedangkan 93 persen digabung dengan tugas-tugas
lain.
Mengecilnya komitmen pemda, khususnya pemerintah kabupaten/kota
pada awal pelaksanaan otonomi daerah antara lain karena pertimbangan
pembiayaan. KB yang banyak dinilai sebagai urusan yang lebih banyak
menyedot anggaran, kemudian diciutkan, digabungkan dengan urusan lain.
Kewajiban pemerintah provinsi, maupun kebupaten/kota mengurus
program KB baru ditegaskan pada Peraturan Pemerintah 38/2007. PP ini
ternyata hanya melahirkan berbagai institusi KB yang ala kadarnya. Kinerja
program tidak membaik, setidaknya jika dilihat dari hasil SP 2010.
Solusi
Kebijakan dan institusi KB mau nggak mau harus sentralistis. Saya yakin tidak akan
mengalami penolakan dari pemerintah daerah. mendesak pemerintah
mengembalikan kebijakan keluarga berencana (KB) nasional menjadi urusan
pemerintah pusat. Desakan didasari atas pertimbangan bahwa selama otonomi
daerah program KB mengalami stagnasi alias jalan di tempat.
Kelemahan itu ditandasi dengan tidak memadainya alokasi anggaran dalam APBD
untuk mendukung program. Kemudian, tidak jelasnya institusi atau kelembagaan
yang menangani KB. Kondisi ini diperburuk dengan alokasi sumber daya manusia
untuk program KB di daerah menurun drastis. Akibatnya, kinerja program KB yang
cenderung stagnan dalam sepuluh tahun terakhir
sentralisasi, dia menuntut adanya perubahan strategi kampanye dan sosialisasi KB.
KB juga tidak semata-mata diasosiasikan dengan keluarga berencana. Kebijakan KB
juga perlu melihat kondisi geografis antara Kawasan Timur Indonesia dan Kawasan
Barat Indonesia

G. Integrasi KB dalam Pembangunan


1. Menetapkan kebijakan jaminan dan pelayanan KB, peningkatan
partisipasi pria, serta kelangsungan hidup ibu, bayi dan anak skala
kabupaten.
2. Menyelenggarakan pelayanan rujukan KB dan operasionalisasi
jaminan dan pelayanan KB, peningkatan partisipasi pria,
penanggulangan masalah kesehatan reproduksi, serta kelangsungan
hidup ibu, bayi dan anak skala kabupaten.
3. Menetapkan dan mengembangkan jaringan pelayanan KB dan
kesehatan reproduksi termasuk pelayanan KB dirumah sakit skala
kabupaten.
4. Menetapkan perkiraan sasaran pelayanan KB, sasaran peningkatan
perencanaan kehamilan, sasaran peningkatan partisipasi pria,
sasaran “Unmet Need”, serta sasaran kelangsungan hidup ibu, bayi
dan anak skala kabupaten.
5. Menyerasikan dan menetapkan kriteria serta kelayakan tempat
pelayanan KB, serta peningkatan partisipasi pria, serta
kelangsungan hidup ibu, bayi dan anak skala kabupaten.
6. Melaksanakan jaminan dan pelayanan KB, serta peningkatan
partisipasi pria, serta kelangsungan hidup ibu, bayi dan anak skala
kabupaten.
7. Memantau tingkat Droup Out peserta KB.
8. Mengembangkan materi penyelenggaraan jaminan dan pelayanan
KB, dan pembinaan penyuluhan KB.
9. Menyebarluasan jaringan dan membina pelayanan KB.
10. Menyelenggarakan dukungan pelayanan rujukan KB dan kesehatan
reproduksi.
11. Menyelenggarakan dan fasilitasi upaya peningkatan kesadaran
keluarga berkehidupan seksual yang aman dan memuaskan,
terbebas dari HIV/AIDS dan infeksi menural seksual (IMS).
12. Membina penyuluhan KB.
13. Meningkatkan kesetaraan dan keadilan gender, terutama partisipasi
KB pria dalam pelaksanaan program pelayanan KB.
14. Menyediakan sarana dan prasarana pelayanan kontrasepsi mantap
dan kontrasepsi jangka panjang yag lebih terjangkau, aman,
berkualitas dan merata skala kabupaten.
15. Melaksanakan distribusi dan penggandaan sarana, alat, obat, dan
cara kontrasepsi, dan pelayanannya dengan prioritas keluarga
miskin dan kelompok rentan skala kabupaten.
16. Menjamin ketersediaan sarana, alat, obat dan cara kontrasepsi bagi
peserta mandiri skala kabupaten
17. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Bappenas. 2004. Bab 30 Pengendalian Pertumbuhan Penduduk, Pembangunan


Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas [Online :
http://www.bappenas.go.id/get-file-server/node/838/].

BKKBN. 2001. Operasionalisasi Program dan Kegiatan Strategis Peningkatan


Partisipasi Pria dalam Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi.
Jakarta.

BKKBN. 2003. Peningkatan Partisipasi Pria Dalam Keluarga Berencana dan


Kesehatan Reproduksi. Jakarta.

BKKBN. 2011. Perkawinan Muda di Kalangan Perempuan: Mengapa?. Jakarta.

Ekayanthi, Ni Wayan Dian. 2005. Persepsi Pria Pasangan Usia Subur Terhadap
Partisipasi Pria Dalam Program KB di Kecamatan Tabanan Kab.
Tabanan Prop Bali. UGM. Yogyakarta.

Iman, Saptono Budisantoso. 2008. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan


Partisipasi Pria dalam Keluarga Berencana Di Kecamatan Jetis
Kabupaten Bantul. Magster Promosi Kesehatan Program Pascasarjana
Universitas Dipoegoro. Semarang

Kemendagri. 2012. Kualitas Penduduk Indonesia Masih Memprihatinkan.


(online).(http://www.dukcapil.kemendagri.go.id/learning/detail/2012042
512184643). Diakses pada tanggal 13 Maret 2013.

Suprihastuti, DR. 2000. Pengambilan Keputusan Penggunaan Alat Kontrasepsi


Pria di Indonesia. Analisis Hasil SDKI 1997. Jakarta