Anda di halaman 1dari 12

ORGANISASI KB DI INDONESIA

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI)

Berawal dari tantangan yang sangat besar tentang KB pada tahun 1950-an pada masa itu
pemerintah belum mendapat manfaat KB bagi meningkatkan kualitas bangsa. Masyarakat
melihat KB sebagai upaya pemberantasan kehamilan semata, sesuatu hal yang dianggap sebagai
bentuk perampasan kemerdekaan yang baru saja mereka nikmati. Hamil dan melahirkan
ditanamkan sebagai tugas mulia seorang wanita untuk melahirkan jutaan generasi baru bangsa
Indonesia yang akan mengelola sumber daya alam yang melimpah dan mengangkat citra
Indonesia sebagai "bangsa yang besar" di dunia mata.

Pandangan tersebut membuat semakin banyak wanita yang hamil dan melahirkan. Hal
tersebut berdampak terhadap kesehatan wanita. Angka kematian ibu dan bayi baru lahir sangat
tinggi. Hal ini semakin mendorong para pendiri PKBI untuk membentuk wadah gerakan
keluarga berencana di Indonesia.

Diawali dengan diskusi dengan Mrs. Dorothy Brush, anggota Field Service IPPF.
Disusul oleh kunjungan Dr. Abraham Stone, kepala Lembaga Margareth Sanger Research
Institute New York. Kemudian Dr.Soeharto, dokter pribadi Presiden Soekarno ketika itu, mulai
menjajagi kemungkinanan untuk mendirikan sebuah organisasi keluarga berencana. Akhirnya,
pada tanggal 23 Desember 1957, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) resmi
berdiri.

Kepekaan dan kepedulian PKBI terhadap masalah kesehatan wanita pada gilirannya
menyadarkan masyarakat untuk menempatkan KB dalam perspektif yang lebih luas, yaitu
kesehatan reproduksi. Kerja keras yang terus-menerus membuahkan pengakuan dunia terhadap
eksistensi PKBI. Pada tahun 1969, PKBI mencatat sejarah baru sebagai anggota penuh IPPF,
sebuah lembaga federasi aternasional beranggotakan 184 negara yang memperjuangkan
pemenuhan.hak dan kesehatan seksual reproduksi bagi masyarakat di seluruh dunia.

Visi perkumpulan:

Terwujudnya masyarakat yang dapat memenuhi kebutuhan kesehatan reproduksi dan seksual
serta hak-hak kesehatan reproduksi dan seksual yang berkesetaraan dan berkeadilan jenis
kelamin.

Misi perkumpulan:

1. Memberdayakan anak dan remaja agar mampu mengambil keputusan dan berperilaku
bertanggung jawab dalam hal serta hak-hak kesehatan reproduksi dan seksual.

2. Mendorong partisipasi masyarakat, terutama masyarakat miskin, marginal, dan tidak


terlayani untuk memperoleh akses, informasi, pela yanan, dan hak-hak kesehatan
reproduksi dan seksual yang berkualitas serta berkesetaraan dan berkeadilan jenis
kelamin.

3. Berperan aktif dalam mengurangi prevalensi infeksi menular seksual dan menanggulangi
HIV / AIDS, serta mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA dan OHIDA

4. Memperjuangkan agar hak-hak dan hak wanita reproduksi dan seksual wanita diakui dan
dihargai terutama terkait dengan berbagai alternatif penanganan kehamilan yang tidak
diinginkan.

5. Menerima dukungan dari pengambil kebijakan, pemangku kepentingan, media dan


masyarakat terhadap program kesehatan reproduksi dan seksual serta hak-hak kesehatan
reproduksi dan seksi.

6. Mempertahankan peran PKBI sebagai LSM pelopor, profesional, profesional, kredibel,


berkelanjutan, dan mandiri dalam bidang kesehatan reproduksi dan juga hak-hak
kesehatan reproduksi dan seksiual dengan dukungan relawan dan staf yang profesional.

Nilai perkumpulan:

1. Menghargai harkat dan martabat manusia dari segi jenis kelamin, umur, orientasi seksual,
ras, warna kulit, fisik, agama, aliran politik, status sosial dan ekonomi.

2. Menjunjung tinggi nilai kesetaraan dan keadilan jenis kelamin demokrasi, keadilan sosial,
pengelolaan yang baik.

3. Melakukan pelayanan kesehatan reproduksi dengan pendekatan hak asasi manusia.

4. Berpegang teguh pada semangat kerelawanan, kepeloporan, profesionalisme,


kemandirian.

Berbagai program PKBI, sebagai berikut.

1. Program anak dan remaja.


2. Program khusus bencana dan keadaan darurat.
3. Pemberdayaan wanita.
4. Partisipasi pria dalam kesehatan reproduksi.
5. HIV / AIDS
6. Penanganan KTD
7. Advokasi.
8. Peningkatan kapasitas staf, relawan, akreditasi.
9. Monitoring dan evaluasi (Monev).

BKKBN

BKKBN merupakan lembaga pemerintah non-departemen (LPND) yang memiliki badan hukum
yang jelas dengan tugas dan kewenangannya diatur dalam undang-undang. Pada awalnya,
lembaga ini bernama Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional kemudian pada tahun
2009 berganti nama menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional menyusul
disahkannya RUU Pengembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menjadi UU oleh
DPR. Pada tingkat provinsi, BKKBN bernama BKKB daerah yang memiliki tugas dan
wewenang dalam mengendalikan penduduk, meningkatkan kualitas dan mobilitas penduduk.

Tantangan Pembangunan KB di Indonesia, antara lain belum kuatnya komitmen


pemerintah kabupaten / kota untuk menyukseskan program KB, terlihat bahwa program
kependudukan dan KB belum menjadi prioritas dalam pemberian anggaran dalam APBD
kabupaten / kota. Tahun 2010, BKKBN menargetkan penurunan angka kesuburan wanita (total
fertility rate, TFR) dari 2,6 menjadi 2,2 dan penurunan pertumbuhan penduduk Indonesia dari
1,3 persen Per tahun menjadi 1 persen pada akhir 2010, serta penambahan jumlah peserta KB
baru sebesar 7,1 juta orang.

Filosofi: Menggerakkan peran serta masyarakar dalam keluarga berencana.

Visi: Seluruh keluarga ikut KB

Misi: Mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera.

Fungsi

1. Pengkajian dan perencanaan kebijakan nasional di bidang perencanaan keluarga dan


keluarga sejahrera.

2. Koordinasi Kegiatan Fungsional dalam pelaksanaan tugas BKKBN.

3. Fasilitasi dan pembinaan terhadap kegiatan instalasi pemerintah, swasta, LSOM dan
masyarakat dibidang keluarga berencana dan keluarga sejahtera.

4. Penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum dibidang perencanaan


umum, ketatausahaan, organisasi dan tatalaksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan,
hukum, persandian, perlengkapan dan rumah tangga

Tugas pokok: Melaksanakan tugas permerintah dibidang keluarga berencanaan dan keluarga
sejahtera sesuai dengan peraturan Peraturan-undangan yang berlaku.

Kewenangan:

1. Penyusunan rencana nasional secara makro dibidangnya.


2. Perumusan kebijakan dibidangrnya untuk mendukung pembangunan secara makro

3. Perumusan kebijakan pengendalian angka kelahiran dan penurunan angka kemarian ibu,
bayi, dan anak

4. Penetapan sistem informasi dibidangnya.

5. Kewajiban lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,


yaitu perumusan dan pelaksanaan kegiatan tertentu dibidang keluarga berencana dan
keluarga sejahtera serta pe rumusan pedoman pengembangan kualitas keluarga.

PROGRAM KB DI INDONESIA

PROGRAM KB

Keluarga berencana adalah upaya peningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui
pendewasaan umur pernikahan, pengaturan kelahiran, pembinaan kesejahteraan keluarga,
meningkatkan keluarga untuk terwujudkan keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera (UU No. 10
tahun 1992).

Visi: Terwujudnya "Keluarga Berkualitas 2015", yang hakekatnya mewujudkan keluarga


Indonesia yang memiliki anak ideal, sehat, berpendidikan, sejahtera, berketahanan, dan terpenuhi
hak-hak reproduksinya (Program KB nasional RPJM 2005-2009).

Misi: Mewujudkan keluarga bahagia dan sejahtera, agar terwujud

a. Keluarga dengan anak ideal

Keluarga dengan anak ideal adalah keluarga yang bisa merencanakan kehidupan
berkeluarga dengan baik dan penuh tanggung jawab.

b. Keluarga sehat

Keluarga sehat bukan keluarga yang sehat jasmani, tetapi juga sehat secara rohani dan
sosial. Kondisi ini terutama berkaitan dengan kesehatan ibu, bayi, anak dan reproduksi
(remaja) sehingga mereka terhindar dari penyakit menular seksual termasuk HIVIAIDS.

c. Keluarga berpendidikan

Keluarga berpendidikan keluarga yang memiliki pengetahuan luas, termasuk pengetahuan


tentang kesehatan reproduksi dan KB, dan menjaga kehamilan dan persalinan yang
aman, pengasuhan dan tumbuh kembang anak, peningkatan kualitas lingkungan keluarga,
anggota keluarga terbebas dari buta huruf, menyekolahkan anak minimal hingga (wajib
belajar) 9 tahun, serta memberi kesempatan belajar yang sama untuk semua anak tanpa
membedakan jenis kelamin.

d. Keluarga sejahtera

Keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah,
mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materi yang layak, bertakwa untuk
Tuhan Yang Maha Esa, serta memiliki hubungan yang serasi, selaras, dan seimbang
antaranggotanya dan antar keluarga,masyarakat serta Lingkungan.

e. Keluarga berketahanan Keluarga berketahanan adalah keluarga yang memiliki keuletan


dan tangguhan, baik fisik maupun mental spiritual, agar hidup mandiri dan mampu
mengembangkan diri sendiri dan anggota keluarga untuk hidup harmonis, sejahtera lahir
dan batin.

f. Keluarga yang terpemuhi hak-hak reproduksinya

Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya adalah keluarga yang dapat mengakses
dan memahami informasi tentang seluk beluk kesehatan reproduksi secara jujur dan
lengkap serta mampu memperoleh program KB dan kesehatan reproduksi sesuai dengan
kebutuhannya.

Tujuan umum program KB nasional adalah memenuhi permintaan masyarakat akan


pelayanan KB dan kesehatan Reproduksi (KR) yang berkualitas, menurunkan angka kematian
ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi
untuk membentuk keluarga kecil berkualitas. Dengan demikian, tujuan umum 5 tahun kedepan
untuk mewujudkan visi dan misi program KB dengan membangun kembali dan menetapkan
pondasi yang kokoh bagi pelaksana program KB di masa depan untuk mencapat keluarga
berkualitas tahun 20I5. Sesuai dengan tujuan tersebut merupakan kelanjutan dari tujuan
demografis dan tujuan filosofis program 1970, yaitu penurupan TFR tahun 2000 sebesar 50%
dari kondisi TFR tahun 1970, kelembagaan dan pengelolaan norma keluarga kecil bahagia
sejahtera (NKKBS) dengan merencanakan kehamilan dan mencegah kehamilan yang belum
diinginkan, meningkatkan status kesehatan wanita dan anak serta meningkatkan kesejahteraan,
kesehatan, dan kepuasan seksual.

SASARAN PROGRAM KB NASIONAL

Sasaran program KB nasional lima tahun kedepan yang sudah tercantum dalam RPJM
2004/2009 adalah sebagai berikut.

1. Menurunkan rata-rata laju pertumbuhan penduduk (LPP) secara nasional menjadi 1,14%
per tahun.

2. Menurunkan angka kelahiran TFR menjadi 2,2 setiap wanita.


3. Meningkatkan peserta KB pria menjadi 4,5%.

4. Menurunkan pasangan usia subur (PUS) yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin
menjarangkan kelahirannya, tetapi tidak memakai alat kontrasepsi menjadi 6%.

5. Meningkatkan penggunaan metode kontrasepsi yang efektif dan efisien.

6. Meningkatkan partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak.

7. Meningkatkan jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera I yang aktif dalam
usaha ekonomi produktif.

8. Meningkatkan jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggaraan KB dan KR.

Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut.

1. Tercapainya peserta KB baru sebanyak 1.072.473 akseptor

2. Terbinanya peserta KB aktif sebanyak 5.098.188 akseptor atau 71.87% dari pasangan
usia subur sebanyak 7.093.654.

3. Meningkatnya rata-rata usia nikah pertama wanita menjadi 18,2 per tahun.

4. terkendalinya perkembangan kependudukan, terutama tingkat pertumbuhan migrasi dan


persebaran penduduk.

Dari hasil tersebut maka mencapai target RPJMN 2004-2009 adalah sebagai berikut.

1. LPP menjadi sekitar 1.14% per tahun (tidak tercapai).

2. 2 TFR menjadi 2,2 per wanita (tidak tercapai).

3. 3 Unmet Need menjadi 6% (tidak tercapai).

4. Peserta KB pria menjadi 4,5 persen (tidak tercapai).

5. Meningkatnya penggunaan kontrasepsi yang efektif dan juga efisien (tidak tercapai).

6. Rata-rata usia nikah pertama perempuan menjadi 21 tahun (tidak tercapai).

7. 7 Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh-kembang anak (tercapai).

8. Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera I yang aktif dalam
usaha ekonomi produktif (tidak tercapai).

9. Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam pelayanan KB dan KR (tidak tercapai).


RUANG LINGKUP PROGRAM KB

Berikut ini merupakan komponen ruang lingkup pelayanan KB yang dapat disediakan untuk
masyarakat.

1. Komunikasi informasi dan edukasi (KIE).

2. Konseling.

3. Pelayanan kontrasepsi.

4. Pelayanan infertilitas.

5. Pendidikan seksual.

6. Konsultasi pra perkawinan dan konsultasi perkawinan.

7. Konsultasi genetik

8. Tes keganasan.

9. Adopsi

Berbagai program dalam ruang lingkup KB, adalah sebagai berikut.

1. Program keluarga berencana

Kegiaran yang dilaksanakan sebagai berikut.

a. Peningkaran pelayanan keluarga miskin, termasuk melalui Askeskin.

b. Pengembangan kebljakan dan strategi nasional KB rumah sakit serta fasilitas


pelayanan kesehatan rawat inap

c. Peningkatan akses dan kualitas pelayanan kontrasepsi.

d. Jaminan ketersediaan alat dan obat kontrasepsi untuk keluarga miskin dan pelayanan
swasta.

e. Peningkatan akses informasi dan layanan KB pria,

f. Peningkatan advokasi dan pelayanan komunikasi dan edukasi juga demi


kelangsungan hidup ibu, bayi dan anak.

2. Program kesehatan reproduksi remaja (KRR)

Kegiatan yang dilaksanakan sebagai berikut.

a. Penyusunan buku dan materi KRR.


b. Penyuluhan dan penyebaran informasi yang diatur KRR melalui momen strategis.

c. Pemantauan dan evaluasi.

d. Pembinaan program melalui seminar dan pentaloka.

e. Pengembangan modul dan sistem pembelajaran.

3. Program Peningkatan Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga

Kegiatan yang dilakukan Sebagai Berikut.

a. Peningkatan kemitraan dalam pembinaan ketahanan keluarga.

b. Kegiatan komunikasi informasi dan edukasi serta program peningkatan kualitas


Lingkungan keluarga.

c. Peningkatan kegiatan pemberdayaan ketahanan keluarga

d. Peningkatan Kegiatan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga.

4. Program penguatan kelembagaan keluarga kecil berkualitas

Kegiatan yang dilaksanakan sebagai berikut.

a. Peningkatan pelembagaan dan jejaring KB dan KR.

b. Peningkatan peran serta masyarakat dan pemberdayaan petugas lini lapangan.

c. Perkuat jaringan kemitraan.

d. Peningkatan keterpaduan melalui kegiatan pada berbagai momentum besar

e. Pemantapan mekanisme operasional

f. Penyediaan program data dan informasi KB nasional.

g. Pengembangan sarana dan peningkatan kualitas SDM dalam penguasaan teknologi


informasi.

STRATEGI PROGRAM PELAYANAN KB

Strategi dasar Program KB nasional

1. Menggerakkan dan memberdayakan seluruh masyarakat dalam program KB.

2. Menata kembali pengelolaan program KB.

3. Memperkuat SDM operasional program KB.


4. Meningkatkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga melalui pelayanan KB.

5. Meningkatkan pembiayaan program KB.

Strategi pendekatan dalam program KB nasional adalah sebagai berikut.

1. pendekatan Kemasyarakatan diarahkan untuk meningkatkan dan menggalakkan peran


serta masyarakat yang dibina dan dikembangkan secara berkelanjutan.

2. Pendekatan koordinasi aktif mengoordinasikan program pelaksanaan program KB dan


pembangunan keluarga sejahtera sehingga dapat saling menunjang dan memiliki kekuatan
yang sinergi dalam mencapai tujuan dengan menerapkan kemitraan sejajar.

3. Pendekatan integratif memadukan pelaksanaan kegiatan pembangunan yang dapat


membangkitkan dan menggerakkan potensi yang dimiliki oleh semua masyarakat
sehingga dapat menguntungkan dan memberikan manfaat di semua pihak.

4. pendekatan kualitatif meningkatkan kualitas pelayanan baik dari strategi pemberi


pelayanan dan penerima pelayanan sesuai dengan situasi dan kondisi.
5. persetujuan kemandirian memberi peluang kepada sektor pembangunan lainnya dan
masyarakat yang telah mampu untuk segera mengambil alih peran dan tanggung jawab
dalam pelaksanaan program KB nasionai.

6. pendekatan tiga dimensi strategi tiga dimensi program KB sebagai pendekatan program
KB nasional. Program tersebut atas dasar survei PUS di Indonesia terhadap ajakan KIE
yang terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu 15% PUS langsung menjawab "ya" untuk ber-
KB, 15-55% PUS merespons "ragu-ragu" untuk ber-KB, 30% PUS merespons "tidak
untuk ber-KB.

Strategi tiga dimensi dibagi dalam tiga tahap pengelolaan program KB sebagai berikut.

a. Tahap memperluas jangkauan. Pola tahap ini penggarapan program lebih difokuskan
kepada sasaran:

 Pemerataan akses dan meningkatkan wilayah, yaitu pemerataan akses dan


mencangkup program KB yang lebih diutamakan di wilayah potensial, seperti
wilayah Jawa, Bali dengan kondidi jumlah penduduk dan laju pertumbuhan yang
besar.

 Pemerataan akses dan mencangkup khalayak. Mengarah kepada upaya menjadi


akseptor KB sebanyak-banyaknya. Pada tahap ini pendekatan pelayanan KB
didasarkan pada pendekatan klinik.

b. Tahap pelembagaan. Tahap ini untuk mengantisipasi keberhasilan pada tahap perluasan
jangkauan. Tahap pemerataan akses dan cakupan wilayah diperluas hingga propinsi luar
Jawa-Bali. Pada saat ini, indikator kuantitatif kesertaan ber-KB pada kisaran 45-65%
dengan prioritas pelayanan kontrasepsi dengan metode jangka panjang, dengan
memanfaatkan berbagai momentum besar.

c. Tahap pembudayaan program KB. Pada tahap ini, kegiatan pemerataan akses dan
cakupan wilayah diperluas hingga di seluruh provinsi Indonesia. Sedangkan pada tahap
pemerataan akses dan cakupan khalayak diperluas pada sisa PUS yang menolak untuk
ber-KB sehingga program pendekatan program KB dilengkapi dengan takesra dan
Kukesra.

Strategi Terkait-5 prinsip

1. Prinsip Integrasi. Strategi pendekatan dengan prinsip integrasi bertujuan agar program
KB nasional menjadi bagian tidak terpisahkan dari program pembangunan lainnya.

Strategi pendekatan-prinsip Integrasi

a. Integrasi Konsep KB dalam Konsep KR dan Hak-haknya serta kesetaraan dan keadilan
berbasis jenis kelamin.

b. Integrasi kegiatan pemberdayaan keluarga dengan pelayanan KB pemberdayaan wanita

c. Integrasi program kesehatan reproduksi remaja dengan program KB dan KR.

d. Integrasi program penguatan kelembagaan dan jaringan KB dengan program


pengembangan institusi pelayanan masyarakat lainnya.

e. Integrasi program KB dengan program pembangunan lainnya.

2. Prinsip desentralisasi. Strategi pendekatan dengan prinsip desentralisasi tujuan untuk


memberi peluang dan kesempatan daerah melaksanakan program KB nasional sesuai
aspirasi dan kondisi sosial budaya lokal.

Strategi pendekatan-Prinsip desentralisasi

a. Penegasan jenis dan Peningkatan kewenangan.

b. Sistem dan kebijakan SDM.

c. Dukungan infrastruktur lintas sektoral.

d. Mekanisme pengendallan yang handal.

e. Pendelegasian wewenang operasional dengan pendekatan wilayah paripurna.


3. Prinsip pemberdayaan. Strategi pendekatan dengan prinsip pemberdayaan bertujuan
untuk mengoptimalkan potensi yang telah ada dimasyarakat agar dapat memberikan
dukungan pelaksanaan program secara berdaya guna.

Strategi pendekatan-prinsip pemberdayaan


a. Peningkatan kapasitas pengelola dan pelaksanaan program KB nasional
b. Peningkatan kualitas kepemimpinan.
c. pemberdayaan institusi masyarakat dalam program KB nasional dan
pemberdayaan keluarga.
d. Pemberdayaan masyarakat, keluarga, dan individu dalam rangka meningkatkan
kemandirian
e. Program pemberdayaan wanita dalam pelaksanaan KB nasional
f. Pemantapan jaringan kerja program KB nasional.

4. Prinsip kemitraan, Strategi Pendekatan dengan Prinsip kemitraan bertujuan untuk


mengembangkan kerja sama yang didasarkan pada kesetaraan, saling menguntungkan,
tulus dan saling menghargai di antara kedua belah pihak dalam mencapai tujuan yang
telah disepakati.

Strategi pendelkatan-prinsip kemitraan

a. Koordinasi dalam kerangka kemitraan yang tulus dan setara.

b. Partisipasi aktif masyarakat.

c. Kerja sama internasional.

5. Prinsip segmentasi sasaran. Strategi pendekatan dengan prinsip segmentasi sasaran


bertujuan untuk memfokuskan sasaran program agar optimal, efisien, dan efektif.

Strategi pendekatan –segmen sasaran

a. Keberpihakan pada keluarga rentan.

b. Perhatian terhadap segmen khusus.

c. Data dan informasi keluarga.

d. Partisipasi pria dalam kerangka kesetaraan dan keadilan berbasis jenis kelamin

DAMPAK PROGRAM KB TERHADAP PENCEGAHAN KELAHIRAN

Program KB nasional memberikan berbagai dampak bagi ibu, anak-anak yang dilahirkan, anak-
anak yang lain, ayah serta seluruh keluarga.

1. Untuk ibu; dengan jalan mengatur jumlah dan jarak kelahiran.


a. Memperbaiki kesehatan tubuh karena kehamilan yang berulang kali dalam jangka
waktu yang terlalu pendek dapat mencegah.

b. Meningkatkan kesehatan mental dan sosial yang dimungkinkan oleh adanya


waktu yang cukup untuk mengasuh anak, beristirahar dan menikmati waktu luang
serta melakukan kegiatan lainnya.

2. Untuk anak-anak yang dilahirkan

a. Anak dapat tumbuh secara wajar karena ibu yang mengandungnya dalam kondisi
sehat.

b. Sesudah lahir, anak mendapat perhatian, pemeliharaan dan makanan yang cukup
karena kehadiran anak tersebut memang diinginkan dan direncanakan.

3. Untuk anak-anak yang lain

a. Memberi kesempatan kepada anak agar perkembangan fisiknya lebih baik karena
setiap anak memperoleh makanan yang cukup dari sumber yang tersedia di
keluarga.

b. Perkembangan mental dan sosial lebih sempurna karena pemeliharaan yang lebih
baik dan lebih banyak waktu yang dapat diberikan oleh ibu untuk setiap anak.

c. Mendapat perencanaan kesempatan pendidikan yang lebih baik karena sumber


pendapatan keluarga tidak habis hanya untuk anggota pertahankan hidup.

4. Untuk ayah

Memberi kesempatan bagi ayah agar dapat memperbaiki kesehatan fisik dan
memperbaiki kesehatan mental dan sosial karena kecemasan berkurang juga lebih banyak
waktu terluang untuk keluarga.

5. Untuk seluruh keluarga

Kesehatan Fisik, mental dan sosial setiap anggota keluarga tergantung dari kesehatan
seluruh keluarga. Setiap anggota keluarga mempunyai peluang yang lebih banyak untuk
mendapat pendidikan.