Anda di halaman 1dari 32

KONSEP CSR DALAM PERSPEKTIF PENGEMBANGAN ORGANISASI Oleh : Padlah Riyadi., MM., Asean CPA

ORGANISASI Oleh : Padlah Riyadi., MM., Asean CPA 2.1. Landasan Teori Di Indonesia, Tanggung Jawab Sosial

2.1. Landasan Teori

Di Indonesia, Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Disepadankan dengan Corporate Social Responbility Sebagaimana tercantum didalam UU Perseroan Terbatas No. 40 tahun 2007 Pasal 74 bahwa TJSL merupakan kebijakan negara yang menjadi tanggung jawab bersama untuk bekerjasama (to corporate) antara negara, pelaku bisnis, perusahaan, dan masyarakat. Bukan sebaliknya untuk mencari celah lubang-lubang (loopholes) kelemahan terhadap ketentuan hukum yang kemudian diekspoitasi untuk menghindari (to evade) tanggung jawab tersebut.

Filosofis nilai yang tercantum dalam tanggung bersama dalam menjaga harmoni ekonomi, sosial dan lingkungan menjadi sebuah nilai yang harus dicapai bersama demi keadilan berdasarkan UU (Ius Contiduendum).

2.1.1. Grand Theory : Teori Stakeholder

Stakeholders atau pemangku kepentingan adalah pihak pihak yang dapat

mempengaruhi atau dipengaruhi oleh berbagai keputusan, kebijakan maupun kegiatan operasional perusahaan, Jones membagi mengklasifikasikan stakeholder atau pemangku kepentingan tersebut dalam 2 kategori, yaitu:

1. Inside Stakeholders, yaitu Kepentingan dan tuntutan dari orang-orang internal perusahaan terhadap sumber daya perusahaan, seperti pemegang saham, para manajer dan karyawan

2. Outside Stakeholder, yaitu orang-orang diluar perusahaan tetapi memiliki kepentingan terhadap perusahaan serta dapat dipengaruhi oleh keputusan dan

9

10

tindakan yang dilakukan oleh perusahaan, seperti pelanggan, pemasok, pemerintah, masyarakat lokal dan masyarakat secara umum.

Pada tahun 1980an pendekatan stakeholder muncul, risalah dari pendekatan stakeholder adalah keinginan untuk membangun suatu kerangka kerja yang responsif terhadap masalah yang dihadapi para manajer saat itu yaitu perubahan lingkungan. Tujuan dari manajemen stakeholder adalah untuk merancang metode yang digunakan untuk mengelola berbagai kelompok dan hubungan yang dihasilkan dengan cara yang strategis. Stakeholder adalah setiap kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan organisasi. Stakeholder dapat dibagi menjadi dua berdasarkan karakteristiknya yaitu stakeholder primer dan stakeholder sekunder.

Stakeholder primer adalah seseorang atau kelompok yang tanpanya perusahaan tidak dapat bertahan untuk going concern, meliputi: shareholder dan investor, karyawan, konsumen dan pemasok, bersama dengan yang didefinisikan sebagai kelompok stakeholder publik, yaitu: pemerintah dan komunitas. Kelompok stakeholder sekunder didefinisikan sebagai mereka yang mempengaruhi, atau dipengaruhi perusahaan, namun mereka tidak berhubungan dengan transaksi dengan perusahaan dan tidak esensial kelangsungannya.

Teori stakeholder menekankan akuntabilitas organisasi jauh melebihi kinerja keuangan atau ekonomi sederhana. Teori ini menyatakan bahwa organisasi akan memilih secara sukarela mengungkapkan informasi tentang kinerja lingkungan, sosial dan intelektual mereka, melebihi dan di atas permintaan wajibnya, untuk memenuhi ekspektasi sesungguhnya atau yang diakui oleh stakeholder.

Teori stakeholder memiliki bidang etika (moral) dan manajerial. Bidang etika berargumen bahwa seluruh stakeholder memiliki hak untuk diperlakukan secara adil oleh organisasi, dan manajer harus mengelola organisasi untuk keuntungan seluruh stakeholder. Teori stakeholder mengasumsikan bahwa eksistensi perusahaan memerlukan dukungan stakeholder, sehingga aktivitas perusahaan juga mempertimbangkan persetujuan dari stakeholder. Semakin kuat stakeholder, maka perusahaan harus semakin beradaptasi dengan stakeholder. Pengungkapan sosial dan lingkungan kemudian dipandang sebagai dialog antara perusahaan dengan stakeholder. Perusahaan dapat berupaya untuk mengganti dan mempengaruhi harapan pihak eksternal tentang kinerja (performance) perusahaaan.

Berdasarkan kajian tentang teori stakeholder dapat disimpulkan bahwa teori tersebut memiliki penekanan yang berbeda tentang pihak-pihak yang dapat mempengaruhi luas pengungkapan informasi di dalam laporan keuangan perusahaan. Teori stakeholder lebih mempertimbangkan posisi para stakeholder yang dianggap powerfull. Kelompok stakeholder inilah yang menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan dalam mengungkapkan dan/atau tidak mengungkapkan suatu informasi di dalam laporan keuangan.

2.2. Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR Disclosure)

11

Secara konseptual, pengungkapan (disclosure) merupakan bagian integral dari pelaporan keuangan. Secara teknis, pengungkapan merupakan langkah akhir dalam proses akuntansi yaitu penyajian informasi dalam bentuk seperangkat penuh statemen keuangan (Suwarjono, 2005).

Hendriksen (2000) mendefinisikan pengungkapan sebagai penyajian sejumlah informasi yang dibutuhkan untuk pengoperasian secara optimal pasar modal yang efisien. Bentuk pengungkapan pada dasarnya bersifat wajib (mandatory) dan sukarela (voluntary). Perusahaan melakukan pengungkapan baik informasi keuangan maupun non keuangan agar dapat meningkatkan nilai perusahaan. Salah satu informasi yang wajib untukdiungkapkan perusahaan adalah informasi tentang tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).

Ketentuan mengenai kegiatan CSR di Indonesia diatur dalam UndangUndang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM) dan UndangUndang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) yang menyatakan bahwa setiap perseroan atau penanam modal berkewajiban untuk melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. Ketentuan ini dimaksudkan untuk mendukung terjalinnya hubungan perusahaan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat. Pengaturan CSR juga bertujuan untuk mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungannya. Dengan demikian CSR merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perusahaan, bukan kegiatan yang bersifat sukarela (Wahyudi dan Azheri, 2008).

Salah satu implementasi prinsip responsibility diterapkan dalam bentuk tanggung jawab sosial perusahaan yang disebut dengan Corporate Social Responsibility (CSR). Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan klaim agar perusahaan tak hanya beroperasi untuk kepentingan para pemegang saham, tapi juga untuk kesejahteraan pihak pemangku kepentingan dalam praktik bisnis, yaitu para pekerja, komunitas lokal, pemerintah, LSM, konsumen, dan lingkungan. Global Compact Initiative (2002) menyebut pemahaman ini dengan 3P (profit, people, planet), yaitu tujuan bisnis tidak hanya mencari laba (profit), tetapi juga menyejahterakan orang (people), dan menjamin keberlanjutan hidup planet ini. Dalam perkembangannya, terdapat terobosan baru mengenai gagasan CSR yang terkenal dengan sebutan The Triple Botton Line.

Dikutip dari Agung Rakhmat (2013:2) perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggungjawab yang berpijak pada singgle botton line, yaitu nilai perusahaan yang direfleksikan dalam kondisi keuangan saja. Tanggungjawab perusahaan harus berpijak pada triple botton line, yaitu tidak hanya pada aspek keuangan saja melainkan juga pada sosial dan lingkungan. Kondisi keuangan saja tidak cukup menjamin nilai perusahaan tumbuh secara berkelanjutan (Eklington 2004).

Pelaksanaan CSR telah menjadi strategi jangka panjang manajemen perusahaan dalam menciptakan nama baik perusahaan. Namun pada kenyataannya tidak semua perusahaan mampu melaksanakan CSR, karena CSR merupakan salah satu topik

12

yang berkaitan dengan moral dan etika bisnis. Oleh karena itu, penerapan prinsip- prinsip GCG diharapkan dapat membantu mewujudkan praktek CSR, karena implementasi dari tanggungjawab sosial perusahaan tidaklah terlepas dari penerapan GCG di dalam perusahaan tersebut yang akan mendorong manajemen untuk mengelola perusahaan secara benar termasuk mengimplementasikan tanggungjawab sosialnya.

Corporate Social Responsibility (CSR) merujuk pada transparansi pengungkapan informasi sosial perusahaan atas kegiatan atau aktifitas sosial yang dilakukan perusahaan. Transparansi informasi yang diungkapkan tidak hanya informasi keuangan perusahaan, tetapi perusahaan juga diharapkan mengungkapkan informasi mengenai dampak (externalities) sosial dan lingkungan hidup yang diakibatkan aktifitas perusahaan. Darwin (2004) mendefinisikan bahwa Corporate Social Responsibility sebagai mekanisme bagi suatu organisasi untuk secara sukarela mengintegrasikan perhatian terhadap lingkungan dan sosial ke dalam operasinya dan interaksinya dengan stakeholders, yang melebihi tanggung jawab organisasi di bidang hukum.

Corporate Social Responsibility (CSR) mengandung makna bahwa perusahaan memiliki tugas moral untuk berlaku jujur, mematuhi hukum, menjujung integritas (Ardianto, 2011: 35). Mc Williams dan Siegel, 2001 juga meyakini bahwa:’CSR is conventionally defined as the social involvement, responsiviness, and accountabilitty of companies apart from their core profit activities and beyond the requirements of the law and what is otherwise required by goverment.”

Dalam berbagai wacana Corporate Social Responsibility juga dapat diartikan secara luas dan universal seperti berikut:

1.

World Business Council for Sustainable Development Komitmen berkesinambungan dari kalangan bisnis untuk berperilaku etis dan memberi kontribusi bagi pembangunan ekonomi, seraya meningkatkan kualitas kehidupan karyawan dan keluargnya, serta komunitas lokal dan masyarakat luas pada umumnya.

2.

International Finance Corporation Komitmen dunia bisnis untuk memberi kontribusi terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan melalui kerjasama dengan karyawan, keluarga mereka, komunitas lokal dan masyarakat luas untuk meningkatkan kehidupan mereka melalui cara-cara yang baik bagi bisnis maupun pembangunan.

3.

European Commission “A concept whereby companies decide voluntarily to contribute to a better society and a cleaner environment”. Kalau diterjemahkan secara bebas artinya adalah sebagai berikut: Sebuah konsep dengan mana perusahaan mengintegrasikan perhatian terhadap sosial dan lingkungan dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksinya dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) berdasarkan prinsip kesukarelaan.

4.

CSR Asia Komitmen perusahaan untuk beroperasi secara berkelanjutan berdasarkan prinsip ekonomi, sosial dan lingkungan, seraya menyeimbangkan beragam kepentingan para stakeholders.

13

5. ISO 26000 mengenai Guidance on Social Responsibility Tanggung jawab sebuah organisasi terhadap dampak-dampak dari keputusan- keputusan dan kegiatan-kegiatannya pada masyarakat dan lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk perilaku transparan dan etis yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat; mempertimbangkan harapan pemangku kepentingan, sejalan dengan hukum yang ditetapkan dan norma-norma perilaku internasional; serta terintegrasi dengan organisasi secara menyeluruh .

Secara universal, dari pemahaman tersebut mengungkapkan bahwa aktivitas CSR pada umumnya mempunyai tujuan sebagai keterlibatan sosial pelaku bisnis atau stakeholder dalam mencapai peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan pada kualitas hidup pekerja atau masyarakat sebagai penunjang triple bottom line perusahaan yakni ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dirasa mampu meningkatkan reputasi perusahaan dalam rentang waktu panjang dan akan berpengaruh pula terhadap lingkungan perusahaan itu sendiri terlebih bagi karyawannya yang dapat dirasakan secara langsung.

Pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan atau yang sering disebut dengan social disclosure, corporate social reporting, social accounting (Mathews, 1995) atau corporate social responsibility (Hackston dan Milne, 1996) merupakan proses pengkomunikasian dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan ekonomi perusahaan terhadap kelompok khusus yang berkepentingan dan masyarakat secara keseluruhan. Hal tersebut memperluas tanggung jawab perusahaan, di luar peran tradisionalnya untuk menyediakan laporan keuangan kepada pemilik modal, khususnya pemegang saham (Gray et al, 1987).

Berbagai alasan perusahaan dalam melakukan pengungkapan CSR telah diteliti sebelumnya seperti untuk mentaati peraturan, memperoleh keunggulan kompetitif, memenuhi ketentuan kontrak pinjaman dan ekspektasi masyarakat, melegitimasi tindakan perusahaan, dan menarik investor (Deegan dan Blomquist, 2001; Hasnas, 1998; Patten, 1992, dalam Basamalah dan Jeremias, 2005). Dalam studi literatur Finch (2005), motivasi perusahaan menggunakan sustainability reporting framework adalah untuk mengkomunikasikan kinerja manajemen dalam mencapai keuntungan jangka panjang kepada stakeholder. Aktivitas CSR juga terbukti dapat meningkatkan reputasi sehingga memperbaiki hubungan dengan pihak bank, investor, atau lembaga pemerintahan, dan hasil perbaikan hubungan tersebut tercermin pada keuntungan ekonomi perusahaan (Harjoto dan Jo, 2007).

Dari aspek ekonomi, perusahaan akan mengungkapkan suatu informasi jika informasi tersebut dapat meningkatkan nilai perusahaan. Dengan menerapkan CSR, diharapkan perusahaan memperoleh legitimasi sosial dan memaksimalkan kekuatan keuangan dalam jangka panjang. Dari aspek investasi, investor juga memiliki kecenderungan menanamkan modalnya pada perusahaan yang memiliki kepedulian pada masalah sosial. Perusahaan akan menggunakan informasi tanggung jawab sosial sebagai keunggulan kompetitif perusahaan. Dalam aspek hukum, perusahaan harus taat pada peraturan pemerintah seperti Undang-Undang Penanaman Modal No. 25 Tahun 2007 dan Undang-Undang Perseroan Terbatas

14

No. 40 Tahun 2007 yang mengharuskan perseroan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. Jika peraturan ini dilanggar maka perusahaan akan menanggung risiko untuk diberhentikan operasinya (Wahyudi dan Azheri, 2008).

Darwin (2004) mengatakan bahwa Corporate Sustainability Reporting terbagi menjadi 3 kategori yaitu kinerja ekonomi, kinerja lingkungan dan kinerja sosial. Gloutie dalam Hartanti (2006) menyatakan bahwa tema-tema yang diungkapkan dalam wacana akuntansi tanggung jawab sosial adalah:

1. Kemasyarakatan, mencakup aktivitas kemasyarakatan yang diikuti perusahaan, misalnya aktivitas terkait dengan kesehatan, pendidikan, dan seni, serta pengungkapan aktivitas kemasyarakatan lainnya.

2. Ketenagakerjaan, meliputi dampak aktivitas perusahaan pada orang-orang dalam perusahaan tersebut. Aktivitas tersebut meliputi rekruitmen, program pelatihan, gaji dan tunjangan, mutasi dan promosi, dan lainnya.

3. Produk dan konsumen, melibatkan aspek kualitatif suatu produk atau jasa, antara lain kegunaan, durability, pelayanan, kepuasan pelanggan, kejujuran dalam iklan, kejelasan atau kelengkapan isi pada kemasan.

4. Lingkungan hidup, yaitu aspek lingkungan dari proses produksi, yang meliputi pengendalian polusi dalam menjalankan operasi bisnis, pencegahan dan perbaikan kerusakan lingkungan akibat pemrosesan sumber daya alam dan konversi sumber daya alam.

Grey et al (1995) mengatakan bahwa sifat dan volume pelaporan mengenai pertanggungjawaban sosial perusahaan bervariasi antar waktu dan antar negara. Hal ini disebabkan isu-isu yang dipandang penting oleh satu negara mungkin akan menjadi kurang penting bagi negara lain. Lewis dan Unerman (1999) mengatakan bahwa variasi pelaporan tersebut disebabkan oleh budaya atau norma yang berlaku pada masing-masing negara. Hendriksen (1991:203) mendefinisikan pengungkapan sebagai penyajian sejumlah informasi yang dibutuhkan untuk pengoperasian secara optimal pasar modal yang efisien. Pengungkapan ada yang bersifat wajib (mandatory), yaitu pengungkapan informasi wajib dilakukan oleh perusahaan yang didasarkan pada peraturan atau standar tertentu, dan ada yang bersifat sukarela (voluntary) yang merupakan pengungkapan informasi melebihi persyaratan minimum dari peraturan yang berlaku.

Setiap pelaku ekonomi selain berusaha untuk kepentingan pemegang saham dan mengkonsetrasikan diri pada pencapaian laba juga mempunyai tanggung jawab sosial, dan hal itu perlu diungkapkan dalam laporan tahunan, sebagaimana dinyatakan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 (Revisi terbaru 19 Desember 2013, di sahkan 27 Agustus 2014) paragraf keduabelas:

“Entitas dapat pula menyajikan, terpisah dari laporan keuangan, laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang menganggap karyawan sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting. Laporan tambahan tersebut di luar ruang lingkup Standar Akuntansi Keuangan”.

15

Pengungkapan sosial yang dilakukan oleh perusahaan umumnya bersifat voluntary (sukarela), unaudited (belum diaudit), dan unregulated (tidak dipengaruhi oleh peraturan tertentu). Oleh karena itu, perusahaan memiliki kebebasan untuk mengungkapkan informasi yang tidak diharuskan oleh badan penyelenggara pasar modal. Keragaman dalam pengungkapan disebabkan oleh perusahaan yang dikelola oleh manajer yang memiliki pandangan filosofi manajerial yang berbeda dan keluasan yang berkaitan dengan pengungkapan informasi kepada masyarakat.

Menurut Zhegal dan Ahmed (1990) dalam Anggraini (2006) mengidentifikasikan beberapa hal yang berkaitan dengan pelaporan CSR perusahaan, yaitu sebagai berikut:

1. Lingkungan, meliputi pengendalian terhadap polusi, pencegahan atau perbaikan terhadap kerusakan lingkungan, konservasi alam, dan pengungkapan lain yang berkaitan dengan lingkungan.

2. Energi, meliputi konservasi energi, efisiensi energi.

3. Praktik bisnis yang wajar, meliputi, pemberdayaan terhadap minoritas dan perempuan, dukungan terhadap usaha minoritas, tanggung jawab sosial

4. Sumber daya manusia, meliputi aktivitas di dalam suatu komunitas, dalam kaitan dengan pelayanan kesehatan, pendidikan dan seni.

5. Produk, meliputi keamanan, pengurangan polusi.

Sementara itu, dalam Anggraini (2006), Darwin (2004) mengatakan bahwa Corporate Sustainability Reporting terbagi menjadi tiga kategori yang biasa disebut sebagai aspek Triple Bottom Line, yaitu kinerja ekonomi, kinerja lingkungan, dan kinerja sosial. Tujuannya adalah agar stakeholder bisa mendapat yang lebih komprehensif untuk menilai kinerja, risiko, dan proyek bisnis, serta kelangsungan hidup suatu korporasi.

Tabel 2.1 Kategori dalam Corporate Sustainability Reporting menurut Darwin (2004)

Kategori

Aspek

Kinerja Ekonomi

Efek ekonomi secara langsung

Pelanggan, pemasok, karyawan, investor dan sektor publik (pemerintah)

Kinerja Lingkungan

Hal-hal yang terkait dengan lingkungan

Bahan baku, energi, air, keanekaragaman hayati (biodiversity), emisi, sungai, dan sampah, pemasok, produk dan jasa, pelaksanaan, dan angkutan

Kinerja Sosial

Praktik kerja

Keamanan dan keselamatam tenaga

kerja,

kesempatan kerja

pendidikan dan training,

Hak manusia

Strategi dan manajemen, non diskriminasi, kebebasan berserikat dan berkumpul, tenaga kerja di bawah umur,

16

 

kedisiplinan, keamanan, dll

 

Sosial

Komunitas,

korupsi,

kompetisi

dan

penetapan harga

 

Tanggung jawab terhadap produk

Kesehatan dan keamanan pelanggan, iklan yang peduli terhadap hak pribadi

Sumber : Darwin (2004)

2.1. Manfaat Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan Perusahaan Menurut Suwardjono (2005: 134), pengungkapan (disclosure) berkaitan dengan cara pelaporan atau penjelasan hal-hal informatif yang dirasa penting dan bermanfaat bagi pemakai, selain apa yang dapat dinyatakan melalui laporan keuangan utama. Penyampaian informasi yang bersifat material terkait dengan kondisi keuangan, kinerja, kepemilikan dan tata kelola perusahaan perlu dilaporkan dan dipertanggungjawabkan kepada stakeholder secara tepat waktu. Pengungkapan merupakan pengeluaran informasi yang ditujukan bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

Tujuan dari pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) adalah agar perusahaan dapat menyampaikan tanggung jawab social yang telah dilaksanakan perusahaan dalam periode tertentu. Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) dapat diungkapkan perusahaan dalam media laporan tahunan (annual report) perusahaan yang berisi laporan tanggung jawab social perusahaan selama kurun waktu satu tahun berjalan (Sari, 2012: 128). Pengungkapan dalam penyampaian informasi yang dilakukan oleh perusahaan kepada pihak-pihak yang memerlukan informasi harus memiliki kejelasan yang menggambarkan kondisi perusahaan yang sebenarnya serta relevan, seperti halnya laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan perusahaan harus memberikan informasi yang jelas dan dapat menggambarkan secara tepat mengenai kejadian-kejadian ekonomi yang berpengaruh terhadap hasil operasi unit usaha di dalam perusahaan (Muslichah dan Ancari, 2014: 3).

Menurut Saiman, (2009: 297), Corporate Sosial Responsibility (CSR) adalah bentuk tanggung jawab dari setiap perusahaan terhadap lingkungan terutama kemungkinan kerusakan lingkungan yang semakin parah, sehingga anak cucu kita kelak tidak semakin menanggung beban Yang lebih berat dibandingkan dengan generasi sekarang. Menurut Susanto (2009), Corporate social responsibility memiliki manfaat sebagai berikut:

1. Mengurangi risiko dan tuduhan terhadap perlakuan tidak pantas yang diterima perusahaan. Perusahaan yang menjalankan tanggung jawab sosialnya secara konsisten akan mendapat dukungan luas dari komunitas yang telah merasakan manfaat dari berbagai aktivitas yang dijalankannya. Corporate social responsibility akan mendongkrak citra perusahaan, yang dalam rentang waktu panjang akan meningkatkan reputasi perusahaan.

17

2. Sebagai pelindung dan membantu perusahaan meminimalkan dampak buruk yang diakibatkan suatu krisis. Sebagai contoh, sebuah perusahaan pertambangan dilanda isu adanya pencemaran lingkungan dalam pembuangan limbahnya. Namun, karena perusahaan tersebut dianggap konsisten dalam menjalankan tanggung jawab sosialnya, maka masyarakat dapat memaklumi dan memaafkannya sehingga relatif tidak memengaruhi aktivitas dan kinerjanya.

3. Keterlibatan dan kebanggaan karyawan. Karyawan akan merasa bangga bekerja ada perusahaan yang memiliki reputasi yang baik, yang secara konsisten melakukan upaya-upaya untuk membantu meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan sekitar. Hal ini pada akhirnya akan berujung pada peningkatan kinerja dan produktivitas.

4. Memperbaiki dan mempercepat hubungan antara perusahaan dengan para stakeholder-nya. Pelaksanaan Corporate social responsibility secara konsisten mengakibatkan para stakeholder senang dan merasa nyaman dalam menjalin hubungan dengan perusahaan.

5. Meningkatkan penjualan. Insentif-insentif lainnya, seperti insentif pajak dan berbagai perlakuan khusus lainnya.

Hal ini perlu dipikirkan guna mendorong perusahaan agar lebih giat lagi menjalankan tanggung jawab sosialnya. Adapun bentuk tanggung jawab sosial perusahaan, yaitu sebagai berikut (Bradshaw dalam Harahap, 2001: 360-361):

1) Corporate philanthropy adalah tanggung jawab perusahaan berada sebatas kedermawanan atau voluntir belum sampai pada tanggung jawabnya. 2) Corporate responsibility adalah kegiatan pertanggungjawaban sudah merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan bisa karena ketentuan UU atau bagian dari kemauan atau kesediaan perusahaan. 3) Corporate policy adalah tanggung jawab sosial perusahaan itu sudah merupakan bagian dari kebijakannya.

Menurut Wibisono (2007-127), terdapat tahapan-tahapan yang harus dilakukan ketika perusahaan akan melakukan program Corporate social responsibility yaitu:

1. Tahap Perencanaan Perencanaan terdapat tiga langkah utama, yaitu awareness building, Corporate social responsibility Assessment, dan Corporate social responsibility manual building. 1) Awareness building merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran mengenai pentingnya Corporate social responsibility dan komitmen manajemen. Upaya ini dapat dilakukan antara lain melalui seminar, lokakarya, diskusi kelompok, dan lain-lain. 2) Corporate social responsibility assessment merupakan upaya untuk memetakan kondisi perusahaan dan mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu mendapatkan prioritas perhatian dan langkah-langkah yang tepat untuk membangun struktur perusahaan yang kondusif bagi penerapan Corporate social responsibility secara efektif.

18

3) Corporate social responsibility manual building. Penyusunan manual Corporate social responsibility dibuat sebagai acuan, panduan dan pedoman dalam pengelolaan kegiatan sosial kemasyarakatan yang dilakukan oleh perusahaan. Pedoman ini diharapkan mampu memberikan kejelasan dan keseragaman pola pikir dan pola tindak seluruh elemen perusahaan guna tercapainya pelaksanaan program yang terpadu, efektif dan efesien. 2. Tahap Implementasi Dalam memulai implementasi pada dasarnya ada tiga pertanyaan

yang mesti dijawab. Siapa orang yang mesti dijawab, siapa orang yang akan menjalankan, apa yang harus dilakukan, serta bagaimana cara melakukan sekaligus alat apayang diperlukan. Dalam istilah manajemen populer, pertanyaan tersebut diterjemahkan menjadi:

1)

Pengorganisasi (organizing) dumber daya yang diperlukan.

2) Penyusunan (staffing) untuk menempatkan orang sesuai

denganjenis tugas atau pekerjaan yang harus dilakukannya. 3) Pengarahan (directing) yang terkait dengan bagaimana cara melakukan tindakan.

4)

Pengawasan atau koreksi (controlling) terhadap pelaksanaan.

5) Pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana penilaian penilaian (evaluating) untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan.

3. Tahap Evaluasi Tahap evalauasi adalah tahap yang perlu dilakukan secara konsisten dari waktu ke waktu untuk mengukur sejauh mana efektivitas penerapan CSR. Evaluasi bukan tindakan untuk mencaricarikesalahan, atau mencari kambing hitam. Evaluasi justru dilakukan. Evaluasi juga bisa dilakukan dengan meminta pihak independen untuk melakukan audit implementasi atau praktik CSR yang telah dilakukan. Langkah ini tak terbatas pada kepatuhan terhadap peraturan danprosedur operasi standar tetapi juga mencakup pengendalian resikoperusahaan.

4. Pelaporan Pelaporan diperlukan dalam rangka membangun sistem informasi baik untuk keperluan proses pengambilan keputusan maupun keperluan keterbukaan informasi material dan relevan mengenai perusahaan. Jadi selain berfungsi untuk keperluan shareholder juga untuk stakeholder lainnya yang memerlukan. Menurut Darwin dalam Adawiyah (2013: 20), secara umum isu Corporate social responsibility mencakup lima komponen pokok, sebagai berikut:

1) Hak Asasi Manusia (HAM), yaitu bagaimana perusahaan menyikapi masalah HAM dan strateginya serta kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan untuk menghindari terjadinya pelanggaran HAM dalam perusahaan. 2) Tenaga kerja (buruh), yaitu bagaimana kondisi tenaga kerja di supply chain ataupun di pabrik, mulai dari sistem panggajian, kesejahteraan hari tua dan keselamatan kerja, peningkatan keterampilan dan profesionalisme karyawan, sampai pada pola penggunaan tenaga kerja di bawah umur. 3) Lingkungan hidup, yaitu bagaimana strategi dan kebijakan yang

19

berhubungan dengan masalah lingkungan hidup. Usaha perusahaan mengatasi dampak lingkungan atas produk dan jasa mulai dari pengadaan bahan baku sampai pada masalah pembuangan limbah, serta dampak lingkungan yang diakibatkan oleh proses produksi dan distribusi produk. 4) Sosial masyarakat, yaitu bagaimana strategi dan kebijakan dalam bidang sosial dan pengembangan masyarakat setempat (community development), serta dampak operasi perusahaan terhadap kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat. 5) Dampak produk dan jasa terhadap pelanggan, yaitu apa saja yang harus dilakukan oleh perusahaan untuk memastikan bahwa produk dan jasanya terbebas dari dampak-dampak negatif seperti menggangu kesehatan pelanggan, mengancam keamanan dan produk yang dilarang. Berdasarkan kelima komponen di atas maka komponen - komponen tersebut dapat dijadikan tolak ukur dalam menilai seberapa besar kesadaran perusahaan dalam memenuhi tanggung jawab sosialnya kepada stakeholdernya. Jika perusahaan hanya menjalankan salah satu komponen saja dari kelima komponen tersebut dapat dikatakan kesadaran perusahaan masih rendah.

2.3. Profitabilitas Menurut Harahap (2000: 35), pengertian profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Profitabilitas digunakan untuk menunjukan tingkat keberhasilan suatu badan usaha dalam menghasilkan pengembalian (return) kepada pemiliknya. Analisis profitabilitas memberikan bukti pendukung mengenai kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dan sejauh mana efektivitas pengelolaan perusahaan. Rasio keuangan merupakan alat analisis yang sering digunakan untuk analisis profitabilitas.

Menurut Kasmir (2012: 197), tujuan penggunaan rasio profitabilitas bagi perusahaan maupun bagi pihak luar perusahaan adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode tertentu.

2. Untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang.

3. Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu.

4. Untuk menilai besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri.

5. Untuk mengukur produktifitas seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal pinjaman maupun modal sendiri.

6. Untuk mengukur produktifitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal sendiri.

Profitabilitas merupakan suatu rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Rasio profitabilitas (profitability ratio) menunjukkan pengaruh gabungan dari likuiditas, manajemen aktiva, dan utang terhadap hasil operasi (Brigham dan Houston, 2001: 89). Menurut Brigham dan Houston (2006: 107),

20

profitabilitas merupakan hasil akhir dari serangkaian kebijakan dan keputusan yang dilakukan oleh suatu perusahaan. Profitabilitas diukur dengan menggunakan rasio profitabilitas.

Rasio profitabilitas merupakan sekelompok rasio yang menunjukan gabungan efek-efek dari likuiditas, manajemen aktiva, dan utang pada hasil operasi. Rasio-rasio profitabilitas terdiri dari: Margin laba atas penjualan, Basic Earning Power (BEP), Return on Assets (ROA), dan Return on Common Equity (ROE). Menurut Rivai (2006: 157), Return on Assets (ROA) digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva/assets yang dimilikinya. Return on Assets (ROA) digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen perusahaan dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Semakin besar Return on Assets (ROA) suatu perusahaan, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai perusahaan tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan asset.

Menurut Dendawijaya (2001: 120), Return on Assets (ROA) berguna untuk mengukur kemampuan manajemen perusahaan dalam memperoleh keuntungan atau laba secara keseluruhan. Istilah Return on Assets (ROA) sama dengan Net Earning Power Ratio (Rate of Return on Investment/ROI) yang mengandung pengertian kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuangan neto. Keuntungan neto yang dimaksud adalah keuntungan neto sesudah pajak (Riyanto, 2001: 336).

Return on Asset menunjukan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan. Semakin besar ROA, berarti semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai dari semakin baiknya posisi bank dari segi penggunaan asset (Taswan, 2010: 165).

Menurut Utomo (2009: 7), semakin besar Return on Assets (ROA) suatu perusahaan, maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai perusahaan tersebut dan semakin baik pula posisi perusahaan tersebut dari segi penggunaan aset. Return on Assets (ROA) merupakan perbandingan antara pendapatan bersih (net income) dengan rata-rata aktiva (average assets). Return on Assets (ROA) adalah rasio profitabilitas yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan pada tingkat penjualan, asset dan modal saham yang tertentu (Mamduh dan Halim, 2009: 81).

Menurut Bank Indonesia dalam (Husni, 2011: 46), Return on Assets (ROA) adalah salah satu metode penilaian yang berfungsi untuk mengukur tingkat rentabilitas sebuah perusahaan, yaitu tingkat keuntungan yang dicapai oleh sebuah perusahaan dengan seluruh dana yang ada di perusahaan. Return on Assets (ROA) membandingkan laba terhadap total aset, yang dapat dicari dengan rumus sebagai berikut:

Return on Total Assets = sebelum pajak

total aset

21

Return On Asset (ROA) memiliki beberapa kegunaan yang dapat dikemukakan sebagai berikut (Abdullah, 2005: 124):

1. Salah satu kegunaannya yang prinsipil ialah sifatnya yang menyeluruh. Apabila perusahaan sudah menjalankan praktik akuntansi yang baik maka manajemen dapat menggunakan Return On Asset (ROA) dalam

2. mengukur efisiensi penggunaan modal kerja, efisiensi produk dan efisiensi bagian penjualan.

3. Return On Asset (ROA) dapat membandingkan efisiensi penggunaan modal pada perusahaan dengan perusahaan lain sejenis.

4. Return On Asset (ROA) dapat digunakan untuk mengukur efisiensi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh divisi atau bagian, yaitu dengan mengalokasikan semua biaya dan modal ke dalam bagian yang bersangkutan.

5. Return On Asset (ROA) dapat digunakan untuk mengukur rentabilitas dari masing-masing produk yang dihasilkan oleh perusahaan.

6. Return On Asset (ROA) selain berguna untuk keperluan control, juga berguna untuk keperluan perencanaan.

2.4. Leverage Financial Leverage merupakan penggunaan sumber dana yang memiliki beban tetap, dengan harapan akan memberikan tambahankeuntungan yang lebih besar dari pada beban tetapnya, sehingga keuntungan pemegang saham bertambah. Alasan yang kuat menggunakan beban tetap adalah untuk meningkatkan pendapatan yang tersedia bagi pemegang saham. Leverage juga merupakan sarana untuk mendorong peningkatan keuntungan atau pengembalian hasil/nilai tanpa menambah investasi (Rawi, 2008).

Leverage merupakan salah satu bagian dari instrumen keuangan yang digunakan perusahaan untuk memberikan informasi keuangan kepada investor. Perusahaan memberikan informasi yang detail dalam laporan tahunan. Peningkatan investasi relatif lebih mudah pada saat perusahaan mempunyai likuiditas (Zweibel, 1996). Bank dan pemberi hutang (kreditor) mempunyai investasi di perusahaan dan mereka cenderung menginginkan hasil dari investasi tersebut. Gilson (1990) menyatakan bahwa Bank di USA berperan penting dalam organisasi perusahaan yang mana dapat mengganti manajer dan direktur.

Leverage keuangan (ratio leverage) merupakan perbandingan antara dana-dana yang dipakai untuk membelanjai/membiayai perusahaan atau perbandingan antara dana yang diperoleh dari kreditor dengan dana yang disediakan pemilik perusahaan. Rasio tersebut digunakan untuk memberikan gambaran mengenai struktur modal yang dimiliki perusahaan, sehingga dapat dilihat tingkat risiko tak tertagihnya suatu hutang. Perusahaan memperoleh tambahan modal dari kreditor sehingga kreditor mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhi manajemenperusahaan dalam pengambilan keputusan dan menginformasikan kepada investor. Oleh karena itu, perusahaan yang mempunyai leverage tinggi mempunyai kewajiban lebih untuk memenuhi kebutuhan informasi kreditor jangka panjang. Kreditor memerlukan informasi keuangan yang cukup agar dapat memastikan bahwa perusahaan memiliki cukup kas pada saat kewajibannya jatuh tempo di masa yang akan datang.

22

Dengan semakin tinggi leverage maka beban tetap perusahaan akan semakin bertambah. Hal ini akan berakibat pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan menjadi terbatas (Rawi, 2008). Perusahaan akan berusaha untuk mengungkapkan tanggungjawab sosial seminimal mungkin untuk menghindari tekanan dari kreditor. Kreditor dapat mempengaruhi dan menekan perusahaan apabila perusahaan terlalu banyak berkutat dengan aktivitas sosial. Hal ini disebabkan kreditor berharap kepentingannya didahulukan daripada aktivitas sosial.

Oleh karena itu, semakin tinggi leverage, maka semakin rendah pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan (Rawi dan Muchlish, 2010). Beberapa penelitian yang meneliti hubungan antara leverage dan pengungkapan tanggungjawab sosial, yaitu Rawi (2008), Anggraini (2006), Sembiring (2003), Rawi dan Muchlish (2010), Cormier dan Magnan (1999), Belkaoui dan Karpik (1989), Panjaitan (2009), Darwis (2009). Penelitian tersebut menemukan adanya pengaruh negatif leverage terhadap pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan.

2.5. Firm Size (Ukuran Perusahaan)

Firm size atau ukuran perusahaan merupakan salah satu variabel yang banyak digunakan untuk menjelaskan variasi pengungkapan dalam laporan keuangan tahunan perusahaan Secara umum perusahaan besar akan mengungkapkan informasi lebih banyak daripada perusahaan kecil. Hal ini karena perusahaan besar akan menghadapi risiko politis yang lebih besar dibanding perusahaan kecil. Secara teoritis perusahaan besar tidak akan lepas dari tekanan politis, yaitu tekanan untuk

melakukan pertanggungjawaban sosial.

Pengungkapan sosial yang lebih besar merupakan pengurangan biaya politis bagi perusahaan. Perusahaan mengungkapkan kepedulian pada lingkungan melalui pelaporan keuangan menyebabkan perusahaan dalam jangka waktu panjang bisa terhindar dari biaya yang sangat besar akibat dari tuntutan masyarakat. Perusahaan yang berukuran lebih besar juga cenderung memiliki public demand akan informasi yang lebih tinggi disbanding perusahaan yang berukuran lebih kecil.

Cowen dkk. (1987) menyatakan bahwa perusahaan yang lebih besar akan memiliki pemegang saham yang mungkin memperhatikan program sosial yang dibuat perusahaan dan laporan tahunan akan digunakan untuk menyebarkan informasi tentang tanggungjawab sosial tersebut, sehingga aktivitas perusahaannya mendapatkan legitimasi dari masyarakat. Firm size atau ukuran perusahaan menunjukkan besar kecilnya kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan. Perusahaan besar merupakan entitas yang banyak disorot oleh pasar maupun publik secara umum. Mengungkapkan lebih banyak informasi merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk mewujudkan akuntabilitas publik. perusahaan besar memiliki sumber daya yang besar. Dengan sumber daya yang besar tersebut perusahaan perlu dan mampu membiayai penyediaan informasi untuk kepentingan internal. Informasi tersebut sekaligus menjadi bahan untuk keperluan pengungkapan informasi kepada pihak eksternal, sehingga tidak perlu ada tambahan biaya yang besar untuk dapat melakukan pengungkapan dengan lebih lengkap.

Perusahaan besar akan mengungkapkan informasi lebih banyak daripada perusahaan kecil. Untuk mendapatkan legitimasi, perusahaan besar akan melakukan aktivitas

23

sosial lebih banyak agar mempunyai pengaruh terhadap pihak-pihak internal maupun eksternal yang mempunyai kepentingan terhadap perusahaan. Teori stakeholder akan melegitimasikan perusahaan terus berupaya memastikan bahwa mereka beroperasi dalam bingkai dan norma yang ada dalam masyarakat atau lingkungan dimana perusahaan berada, dimana mereka berusaha untuk memastikan bahwa aktivitas perusahaan diterima oleh pihak luar sebagai suatu yang dapat diterima (Deegan,

2002).

Pendapat yang sama diungkapkan juga oleh Tilt (1994) yang menyatakan bahwa perusahaan memiliki kontrak dengan masyarakat untuk melakukan kegiatannya berdasarkan nilai-nilai justice, dan bagaimana perusahaan menanggapi berbagai kelompok kepentingan untuk melegitimasi tindakan perusahaan. Perusahaan yang berukuran lebih besar cenderung memiliki public demand akan informasi yang lebih tinggi dibanding dengan perusahaan yang berukuran kecil (Kartika, 2010). Ukuran perusahaan dapat diukur menggunakan total assets, penjualan atau ekuitas.

Firm size atau ukuran perusahaan adalah suatu skala di mana dapat diklasifikasikan besar kecil perusahaan menurut berbagai cara, antara lain: total aktiva, jumlah tenaga kerja, log size, nilai pasar saham, dan lain-lain (Miswanto dan Husnan, 1999) Cooke (1989) meneliti pengaruh firm size atau ukuran perusahaan, status perusahaan dan jenis industri terhadap pengungkapan tanggungjawab sosial dalam laporan tahunan perusahaan Swedia yang terdaftar di bursa. Size perusahaan merupakan variabel penting yang menjelaskan luas pengungkapan dalam laporan tahunan. Beberapa penelitian tentang pengaruh ukuran (size) perusahaan terhadap pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan, yaitu Sabeni (2002), Panjaitan (2009), Sembiring (2003 dan 2005), Nurkhin (2009), Novita dan Djakman (2008), Darwis (2009), Cooke (1989), Chow dan Boren (1987), Wallace dkk. (1994), Cowen dkk. (1987), Patten (1991), Belkaoui dan Karpik (1989), Hackston dan Milne (1996). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran (size) perusahaan berpengaruh positif terhadap pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan

2.6. Enviromental Performance (Kinerja Lingkungan)

Menurut Wirawan (2013: 732), kinerja singkatan dari kinetika energi dan padananya dalam Bahasa Inggris performance, adalah keluaran yang dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau dimensi pekerjaan atau profesi yang dilaksanakan oleh sumber

daya manusia atau pegawai dalam waktu tertentu. Menurut Hamalik (2003: 195), lingkungan (environtment) merupakan faktor kondisional yang mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang penting.

Lingkungan terdiri dari: lingkungan sosial adalah lingkungan masyarakat baik kelompok besar maupun kelompok kecil, lingkungan personal meliputi individu– individu sebagai suatu pribadi berpengaruh terhadap individu pribadi lainnya. Kemudian lingkungan alam atau fisik meliputi semua sumber daya alam yang dapat diberdayakan sebagai sumber belajar, lingkungan cultural mencakup hasil budaya dan teknologi yang dapat dijadikan sumber belajar yang dapat menjadi factor pendukung pengajaran. Dalam konteks ini termasuk sistem nilai, norma, dan adat kebiasaan.

24

Suratno et al. (2006), menyatakan bahwa environmental performance merupakan kinerja perusahaan dalam menciptakan lingkungan yang baik (green). Untuk mengukur kinerja lingkungan suatu perusahaan, pemerintah melalui Kementrian Lingkungan Hidup membentuk suatu platform yang dipakai untuk menilai kepatutan operasi industri terhadap lingkungan hidup dan masyarakat lewat program pemeringkatan yang bernama Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) (Reliantoro, 2012).

Sejak tahun 2002, KLH (Kementrian Lingkungan Hidup) mengadakan PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup) di bidang pengendalian dampak lingkungan untuk meningkatkan peran perusahaan dalam program pelestarian lingkungan hidup.Melalui PROPER, kinerja lingkungan perusahaan diukur dengan menggunakan warna, mulai dari yang terbaik emas, hijau, biru, merah, hingga yang terburuk hitam untuk kemudian diumumkan secara rutin kepada masyarakat agar masyarakat dapat mengetahui tingkat penataan pengelolaan lingkungan pada perusahaan dengan hanya melihat warna yang ada (Rakhiemah dan Agustia, 2009:

3).

Kinerja lingkungan perusahaan dapat dinilai dengan melihat peringkat warna yang didapat oleh perusahaan melalui Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Kinerja lingkungan yang dinilai melalui PROPER memberikan pengaruh terhadap pengungkapan CSR. Perusahaan dengan kinerja lingkungan yang baik juga terbukti memiliki kepedulian sosial yang lebih besar baik terhadap masyarakat maupun tenaga kerjanya (Rahmawati, 2012).

Menurut Pujiasih (2013: 23), kinerja lingkungan diukur dari prestasi perusahaan mengikuti Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER). Program ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) untuk mendorong penataan perusahaan dalam pengelolaan hidup. PROPER diumumkan secara rutin kepada masyarakat, sehingga perusahaan yang dinilai akan mendapat insentif maupun disinsentif reputasi, tergantung pada tingkat ketaatannya.

Kinerja lingkungan perusahaan diukur dari PROPER yang diterbitkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup (KLH). PROPER merupakan program KLH untuk menilai prestasi perusahaan dalam pengelolaan lingkungannya. PROPER menggunakan peringkat untuk mengukur kinerja lingkungan perusahaan. Terdapat lima (5) kategori yang ditandai dengan warna-warna sebagai pemeringkatnya. Urutan peringkat dari yang terkecil ke yang terbesar dalam PROPER adalah hitam, merah, biru, hijau, dan emas. Dalam penelitian ini digunakan data ordinal yaitu pengukuran kinerja lingkungan menggunakan skor 1 hingga 5 PROPER (Pratama dan Rahardja, 2013: 6).

Tabel 2.2 Kriteria Peringkat PROPER

Peringkat

Keterangan

25

Emas

Diberikan kepada penanggung jawab usaha dan / atau kegiatan yang telah secara konsisten menunjukkan keunggulan lingkungan(environmental excellency) dalam proses produksi dan/atau jasa, melaksanakan bisnis yang beretika dan bertanggung jawab terhadap masyarakat

Hijau

Diberikan kepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan dalam peraturan (beyond compliance) melalui pelaksanaan sistem manajemen lingkungan, pemanfaatan sumber daya secara efisien dan melakukan upaya pemberdayaan masyarakat dengan baik

Biru

Diberikan kepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang telah melakukan upaya pengelolaan lingkungan sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang undangan

Merah

Diberikan kepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang upaya pengelolaan lingkungan hidup dilakukannya tidak sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Hitam

Diberikan kepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang sengaja melakukan perbuatan atau melakukan kelalaian yang mengakibatkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan serta pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan atau tidak melaksanakan sanksi administrasi.

Sumber: Laporan PROPER, 2018.

Menurut Pujiasih (2013: 23), peringkat kinerja lingkungan perusahaan dibagi menjadi 5 peringkat warna untuk memudahkan komunikasi dengan stakeholder dalam menyikapi hasil kinerja penataan masing-masing perusahaan. Penggunaan peringkat warna merupakan bentuk komunikatif penyampaian kinerja kepada masyarakat agar lebih mudah dipahami dan diingat. Lima peringkat warna yang digunakan yaitu emas, hijau, biru, merah dan hitam. Suatu perusahaan akan mendapatkan peringkat emas jika perusahaan telah secara konsisten menunjukan keunggulan lingkungan dalam proses produksi atau jasa, melaksanakan bisnis yang beretika dan bertanggungjawab terhadap masyarakat, peringkat hijau jika perusahaan telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan dalam peraturan melalui pelaksanaan sistem pengelolaan lingkungan, pemanfaatan sumberdaya secara efisien melalui upaya 4R (reduce, reuse, recycle, dan recovery) dan melakukan tanggungjawab sosial dengan baik (Pujiasih, 2013: 23).

Peringkat biru jika perusahaan telah melakukan upaya pengelolaan lingkungan yang dipersyaratkan sebagaimana diatur dalam perundangundangan, peringkat merah jika perusahaan tidak melakukan pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana di atur dalam undang-undang dan perusahaan akan mendapatkan peringkat hitam jika perusahaan sengaja melakukan perbuatan atau kelalaian yang mengakibatkan

26

pencemaran atau kerusakan lingkungan atau pelanggaran terhadap peraturan undang- undang atau tidak melaksanakan sangsi asministrasi (Pujiasih, 2013: 23).

Menurut Ja’far dan Arifah (2006), sistem manajemen lingkungan yang

komprehensif terdiri dari kombinasi lima pendekatan sebagai berikut:

1. Meminimalkan dan mencegah waste (pemborosan), merupakan perlindungan lingkungan efektif yang sangat membutuhkan pencegahan terhadap aktivitas yang tidak berguna. Pencegahan polusi merupakan penggunaan material atau bahan baku, proses produksi atau praktek-praktek yang dapat mengurangi meminimalkan atau mengeliminasi penyebab polusi atau sumber-sumber polusi. Tuntutan aturan dan cost untuk pengawasan polusi yang semakin meningkat merupakan faktor penggerak bagi perusahaan untuk menemukan cara- cara yang efektif untuk mencegah polusi.

2. Management deman side, merupakan sebuah pendekatan dalam pencegahan polusi yang asal mulanya digunakan dalam industri. Demand side industry mengharuskan perusahaan untuk melihat dirinya sendiri dalam sudut pandang baru, sehingga dapat menemukan peluang-peluang baru.

3. Desain lingkungan, merupakan bagian integral dari proses pencegahan polusi dan manajemen lingkungan proaktif. Perusahaan sering dihadapkan pada inefisiensi dalam mendesain produk, misalnya produk tidak bisa dirakit kembali, diupgrade kembali, dan dire cycle. Desain lingkungan diharapkan dapat mengurangi biaya reprose sing dan mengembalikan produk ke pasar secara lebih cepat dan ekonomis.

4. Product stewardship, merupakan praktik-praktik untuk mengurangi risiko terhadap lingkungan melalui masalah-masalah dalam desain, manufaktur, distribusi, pemakaian atau penjualan produk. Alternatif produk yang memiliki less pollution dan alternatif material, sumber energi, metode prosesing yang mengurangi waste menjadi kebutuhan bagi perusahaan.

5. Full cost environmental accounting, merupakan konsep yang secara langsung akan berpengaruh terhadap individu, masyarakat, dan lingkungan yang biasanya tidak mendapatkan perhatian dari perusahaan.

Ukuran keberhasilan perusahaan dalam melaksanakan manajemen lingkungan dapat dilakukan dengan mengidentifikasi kinerja lingkungan proaktif. Penerapan

manajemen lingkungan ini memerlukan keterlibatan prinsip dasar kedalam strategi perusahaan. Prinsip-prinsip tersebut antara lain (Jafar dan Arifah, 2006):

1) Mengadopsi kebijakan lingkungan yang bertujuan mengeliminasi polusi berdasarkan pada posisi siklus hidup operasional perusahaan dan mengkomunikasikan kebijakan keseluruhan perusahaan kepada stakeholder.

2)

Menetapkan secara obyektif kriteria efektifitas program lingkungan.

3)

Membandingkan kinerja lingkungan perusahaan dengan perusahaan perusahaan yang merupakan leader dalam satu industry dengan benchmarking dan menetapkan praktik terbaik.

4) Menetapkan budaya perusahaan bahawa kinerja lingkungan merupakan tanggung j awab seluruh karyawan. 5) Menganalisis dampak berbagai isu lingkungan yang berkaitan dengan permintaan terhadap produk masa depan terhadap produk dan persaingan

27

industry.

6) Memberanikan diri melakukan diskusi tentang isu-isu lingkungan, khususnya melalui rapat pimpinan.

7)

Mengembangkan anggaran untuk pembiayaan lingkungan.

8)

Mengidentifikasikan pertanggungj awaban lingkungan.

Selama ini pengukuran terhadap kinerja lingkungan masih belum tercapai kesepakatan final. Hal ini dikarenakan setiap negara memiliki cara pengukuran sendiri-sendiri tergantung situasi dan kondisi lingkungan masing-masing negara. Di Indonesia Kementrian Lingkungan Hidup telah menerapkan PROPER sebagai alat untuk memberikan peringkat kinerja lingkungan perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia (Tamba, dalam Rahmawati, 2012).

2.1.1. Government Regulation (Regulasi Pemerintah)

Regulasi pemerintah adalah segala peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengatur perusahaan. Aspek ini sangat penting untuk diperhatikan oleh perusahaan, baik perusahaan pemerintah maupun perusahaan asing. Beberapa peraturan terkait isu utama CSR di Indonesian yaitu: Organisational governance, Environment, Labour practices, Consumer issues, Fair operating practices, Human rights, Social and economic development.

Semakin banyak peraturan yang harus diataati oleh perusahaan maka semakin luas pula pengungkapan yang harus dilakukan terkait pelaksanaan peraturan-peraturan tersebut. Bapepam LK mengeluarkan keputusan No. 134/BL/2006 tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan bagi Emiten dan Perusahaan Publik. Dibanding aturan yang lama (SK Bapepam No. 38/PM/1996) jumlah informasi yang wajib diungkapkan, khususnya yang terkait dengan praktek Corporat Governance, jauh lebih banyak. Pada tahun 2007, DPR juga telah mengesahkan UU No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, dalam pasal 74 undang-undang tersebut mewajibkan perusahaan untuk menguraikan aktivitas dan biaya yang dikeluarkan berkaitan dengan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan.

Hal ini akan berdampak pada semakin banyaknya informasi operasional perusahaan yang harus diungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan, termasuk dalam pengungkapan CSR. Peraturan lain yang menyentuh CSR adalah UU No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Pasal 15(b) menyatakan bahwa “Setiap penaman modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan”. Kemudian dalam Pasal 74 Undang-Undang no.40 tahun 2007 disebutkan bahwa perseroan yang menjalankan usaha yang berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan, tanggung jawab tersebut harus diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran, dan apabila perseroan tidak melaksanakan kewajiban tersebut akan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.

Adanya perubahan dari kewajiban moral menjadi kewajiban hukum bagi perseroan sebagaimana dimaksud oleh kedua undang-undang tersebut di atas untuk

28

melakasanakan CSR adalah wajar jika dikaitkan dengan Sila ke-4 Pancasila yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dan Pasal 33 Undang- Undang Dasar 1945 tentang Kesejahteraan Sosial. Sejalan dengan pemikiran di atas setiap perusahaan harus merubah paradigma berpikir, bahwa pelaksanaan CSR tidaklah merugikan perusahaan, malah justeru sebaliknya, karena antara perusahaan dengan masyarakat terdapat hubungan timbal balik yang saling menguntungkan dalam berbagi aspek kehidupan.

29

29

Penelitian Terdahulu

No.

Nama Peneliti & Judul Penelitian

Variabel Penelitian

Metode Penelitian

Hasil Penelitian

1

Kurnianingsih (2013) : Pengaruh Profitabilitas Dan Size Perusahaan Terhadap Corporate Social Responsibility

Profitabilitas, Size Perusahaan, Corporate Social Responsibility

Metode Analisis Regresi Linear Berganda

Profitabilitas (ROA) dan Size Perusahaan (Ln of total asset) tidak berpengaruh signifikan secara parsial terhadap pengungkapan CSR. Profitabilitas dan Size Perusahaan yang terdiri dari ROA dan Ln of total asset tidak berpengaruh signifikan terhadap CSR

2

Maiyarni dkk (2014) ; Pengaruh Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Likuiditas Dan

Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Likuiditas, Leverage, Pengungkapan CSR

Metode Analisis Data Panel Dengan Eview 6.01

Profitabilitas, Likuiditas, dan Leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap pengungkapan CSR, sedangkan ukuran perusahaaan tidak berpengaruh terhadap pengungkapan CSR

Leverage

Terhadap

Pengungkapan CSR pada Perusahaan LQ 45 Yang Terdaftar di BEI Periode 2009-

 

2012

 

3

Janra (2015) ; Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Leverage, Profitabilitas, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Pengungkapan Informasi Sosial Perusahaan (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2010-

Kepemilikan Manajerial, Leverage, Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Pengungkapan Informasi Pertanggungjawaban Sosial Perusahaan

Metode Analisis Regional Data Panel Eview 7.0

Kepemilikan Manajerial dan Leverage secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan informasi penanggungjawaban sosial perusahaan. Profitabilitas dan ukuran perusahaan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap

30

31

 

2011)

   

pengungkapan

informasi

pertanggungjawaban

sosial

perusahaan

4.

Randawati dan Asyik (2015) ; Pengaruh Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Leverage dan Kepemilikan Publik Terhadap Pengungkapan CSR

Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Leverage, Kepemilikan Publik Pengungkapan CSR

Menggunakan Metode Analisa Regresi Linear Berganda

Profitabilitas berpengaruh positif terhadap indeks CSR, ukuran perusahaan, (size), dan leverage secara parsial tidak berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR. Kepemilikan publik tidak berpengaruh terhadap indeks pengungkapan CSR

5.

Wulandhari (2015) ; Pengaruh Ukuran Perusahaan (Size), Tipe Perusahaan (Profile), Financial Leverage, Profitabilitas dan Struktur Kepemilikan Saham Terhadap Kepemilikan Saham Terhadap Pengungkapan CSR pada Perusahaan Yang Terdaftar di BEI 2010-2012

Ukuran Perusahaan (Size), Tipe Perusahaan (Profile) , Financial Leverage, Profitabilitas, Struktur Kepemilikan Saham, Pengungkapan CSR

Menggunakan Metode :

Financial Leverage berpengaruh signifikan terhadap 6 pengungkapan CSR, namun ukuran perusahaan, tipe perusahaan, profitabilitas, kepemilikan saham manajerial dan kepemilikan saham publik tidak memiliki pengaruh terhadap pengungkapan CSR.Sedangkan berdasarkan uji simultan ukuran perusahaan, tipe perusahaan, leverage, profitabilitas, kepemilikan saham manajerial dan kepemilikan saham publik memiliki pengaruh terhadap pengungkapan CSR di BEI tahun

Analisa Regresi Linear Berganda Versi 17

32

       

2010-2012

6.

Rochayatun Sulis (2016) : Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Corporate Social Responsibility (CSR)

Enviromental Performance, Kepemilikan Institusional, Dewan Komisaris, Dewan Komisaris Independen, Komite Audit, CSR Disclosure, Corporate Governance

Metode Regression Linear Berganda- Uji F

Kesimpulan Enviromental Performance berpengaruh dalam CSR Disclosure, tetapi mekanisme Corporate Governance yang diproksikan Kepemilikan Institusional dan Dewan Komisari Tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap CSR Disclosure, tetapi mekanisme Corporate Governance yang diprosikan Komite Audit, Dewan Komisaris Independen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap CSR Disclosure

7.

Alyssa Natasya Barnas, Dini Wahjoe Hapsari, Siska Priyandani Yudowati (2016) :

Profitabilitas,Ukuran Perusahaan,CSR Disclosure

Metode Analisis Panel Data Software Eview Versi 8

Hasil penelitian ini profitabilitas dan ukuran perusahaan berpengaruh secara simultan

33

 

Pengaruh Profitabilitas dan Ukuran Perusahaan TerhadapPengungkapan Corporate Social Responsibility (Studi Empiris pada Perusahaan Subsektor Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2011-

   

terhadap pengungkapan corporate social responsibility. Secara parsial variabel ukuran perusahaan berpengaruh signifikan dengan arah positif terhadap pengungkapan corporate social responsibility, sedangkan profitabilitas dengan arah positif tidak berpengaruh terhadap pengungkapan corporate social responsibility

2014)

8.

Dinny Andriany, Wiily Sri & Djamhur (2017) : Pengaruh Pengukuran Perusahaan, Profitabilitas, Leverage dan Pengungkapan Media Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility

Pengukuran Perusahaan, Profitabilitas, Leverage, Pengungkapan Media, Pengungkapan CSR.

Metode Analisis Panel Data Software Eview Versi 8

Kesimpulan ukuran perusahaan, profitabilitas, pengungkapan media tidak berpengaruh terhadap pengungkapan CSR, tetapi leverage mempunyai pengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR.

9.

Wiyuda (2018) : Pengaruh CSR, Karakteristik Perusahaan Terhadap Luas Pegungkapan CSR pada Perusahaan di BEI

Kepemilikan Institusional, Dewan Komisaris, Komite Audit, Good Corporate Governance, Profitabilitas,

Menggunakan Analisa Regresi Linear Berganda

Kepemilikan institusional, dewan komisaris dan profitabilitas berpengaruh terhadap pengungkapan CSR. Komite audit

34

Ukuran Perusahaan, Tipe Industri (Profile), Leverage, Pengungkapan CSR berpengaruh terhadap luas pengungkapan CSR .
Ukuran Perusahaan, Tipe Industri (Profile), Leverage, Pengungkapan CSR berpengaruh terhadap luas pengungkapan CSR .

Ukuran Perusahaan, Tipe Industri (Profile), Leverage, Pengungkapan CSR

Tipe Industri (Profile), Leverage, Pengungkapan CSR berpengaruh terhadap luas pengungkapan CSR . Ukuran

berpengaruh terhadap luas pengungkapan CSR. Ukuran perusahaan, tipe industri (profile) dan leverage tidak berpengaruh terhadap pengungkapan CSR

35

10.

Anak Agung Ayu Intan Wulandari & I Putu Sudana (2018) : Pengaruh Profitabilitas, Kepemilikan Asing, Kepemilikan Manajemen, dan Leverage pada Intensitas Pengungkapan Corporate Social Responsibility

Profitabilitas, Kepemilikan Asing, Kepemilikan Manajemen, Leverage, Pengungkapan CSR

Menggunakan Metoda Analisa Regressi Linear Berganda 21

Kesimpulkan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh pada intensitas pengungkapan CSR, kepemilikan asing tidak berpengaruh pada intensitas pengungkapan CSR, kepemilikan manajemen berpengaruh positif pada intensitas pengungkapan CSR, dan leverage berpengaruh negatif pada intensitas pengungkapan CSR. Hasil penelitian memberikan dasar bagi manajemen dalam mengambil kebijakan pengungkapan intensitas CSR

36

11.

 

Profitabilitas, Leverage, Ukuran

 

Dari empat variablel profitabiitas, leverage, ukuran perusahaan dan risk minimization berpengaruh positip terhadap pengungkapan CSR

Ivon Nurmas Ruroh, Sri Wahjuni Latifah (2018) :

Pengaruh Profitabilitas, Leverage, Ukuran Perusahaan dan Risk Minimization terhadap Pengungkapan CSR (Studi Empiris Pada Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar Di BEI Periode 2015- 2016)

Perusahaan, Risk Minimization, Pengungkapan CSR

Metode Statistik Linear Berganda uji test Kalmogorov Smirnov

12

Dika Austin (2018) :

Likuiditas, Ukuran Perusahaan, Pengungkapan CSR dengan Profitabilitas sebagai Moderating Variabel

Regresi Linear Berganda, dengan Moderate Regression Analysis (MRA)

Kesimpulan likuiditas tidak berpengaruh terhadap pengukuran CSR, tetapi ukuran perusahaan mempunyai pengaruh positip terhadap pengukuran CSR, sedangkan profitabilitas sebagai variabel moderasi tidak dapat menunjukan keterpengaruhan faktor likuiditas dan ukuran perusahaan terhadap pengukuran CSR

Pengaruh Likuiditas dan Ukuran Perusahaan Terhadap Pengukuran

CSR

dengan

   

Profitabilitas sebagai Variabel Moderasi Perusahaan Manufaktur di BEI tahun 2013-2017

13.

Zulhamri Abdullah and Yuhanis Abdul Aziz (2017) :Institutionalizing

Corporate social responsibility, Corporate reputation, Institution, Malaysia, Social responsibility,

Structural Equation Modeling (SEM) Amos 20.0

Kesimpulan : Adanya pengaruh hubungan positip antara pengungkapan CSR dengan

37

 

corporate social responsibility, effects on corporate reputation, culture, and legitimacy in Malaysia

Organizations

 

reputasi perusahaan publik di Malaysia, mereka memandang bahwa Corporate Reputation dari pengungkapan CSR memberikan legitimasi terhadap reputasi perusahaan

14.

Muhammad Ahmad, Shahid Amin, Muhammad Usman & Shafaq Arif (2018) :

corporate governance, intellectual capital, corporate social responsibility, Australian stock exchange (ASX)

PLS-SEM, NVIVO

Kesimpulan hasil empiris penelitian mengungkap beberapa masalah utama, seperti CG tidak hanya menjadi penyebab kinerja keuangan perusahaan yang baik tetapi juga terkait dengan pengungkapan kegiatan CSR yang lebih baik karena hasil ini juga sejalan dengan teori Agency and Stakeholder. Penelitian dilakukan terhadap perusahaan publik yang listing di Australian Stock Exchange

The Impact of Corporate Governance and Intellectual Capital on Firm’s Performance and Corporate Social Responsibility Disclosure: Evidence from Australian Listed Companies

38

15

Intan Maiza Abd Rahman & Ku Nor Izah Ku Ismail (2018) : The moderating effect of culture on the relationship between women directors and CSR disclosure in Malaysia

Women directors; CSR disclosure; board culture; corporate governance; transformational leadership

Metode Analisa Regression Linear 20.

Kesimpulan penelitian ini tidak dapat Penemukan dukungan atau hubungan efek langsung dari direktur wanita pada pengungkapan CSR dalam analisis regresi, meskipun penelitian ini menemukan beberapa dukungan bahwa direktur perempuan pengaruh positif dalam pengungkapan CSR. Dalam analisis univariat. Suatu dukungan ringan positif yang ditemukan untuk hubungan antara direktur wanita dan pengungkapan CSR menunjukkan bahwa para direktur wanita mungkin dapat melakukan gaya kepemimpinan mereka dan karakteristik feminin ketika memutuskan informasi CSR apa yang akan diungkapkan dalam laporan tahunan.

39

16.

Carlos Mata A, Ana Fialho b, Teresa Eug_Enio (2018) : A

Enviromental Disclosure, EnviromentalAccounting Reporting

Qualitatif Descriptif

Kesimpulan penelitian tentang laporan lingkungan terutama

berpusat

pada

Decade

of

informasi lingkungan

environmental accounting reporting:

diungkapkan secara sukarela

melalui

korporasi

What we know?

 

laporan dan sarana komunikasi lain yang digunakan oleh organisasi, berusaha menguji teori yang menjelaskan praktik pelaporan lingkungan.

17.

Umair Tufail,

Sara

Profitabilitas, Leverage, CSR Disclosure

Metode Analisis Linear Berganda

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa tingkat pengungkapan kegiatan CSR yang lebih tinggi ditemukan di sebagian besar industri Perkebunan di Pakistan ROA dan leverage tidak berkorelasi dengan tingkat pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. itu menunjukkan bahwa utang tidak memiliki pengaruh pada kegiatan pengungkapan TJSP. Perusahaan memiliki tanggung jawab yang sama terhadap pengungkapan Tanggung Jawab Sosial ketika

Kamran,

Naveed

Ahmad

&

Sohail

 

Anwar

(2017)

:

Corporate

Social

Responsibility (CSR)

Disclosure

in

Plantation

&

Consumer Products’ Industry in Pakistan

40

       

mereka memiliki struktur pembiayaan utang yang lebih tinggi atau kurang.

18.

Ngoc Bich Nguyen (2017) :

corporate social responsibility, corporate social performance social performance, financial performance, Credit Institusion BAnk

Ordinary Least Square (OLS)

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa ada

The

effect

of

hubungan negatif yang signifikan antara pengungkapan CSR dan kinerja keuangan bank komersial

corporate social responsibility

disclosure

on financial performance : Evidence from credit institutions in Vietnam

 

di

Vietnam. Hasil ini dapat

dijelaskan oleh persyaratan tambahan dari undang-undang untuk tanggung jawab sosial sementara bank berada dalam

 

situasi yang sulit sebagai akibat

dari

perlambatan ekonomi selama

diteliti. Bersama dengan itu, persepsi pelanggan bank terhadap tanggung jawab sosial perusahaan perbankan Vietnam juga berkontribusi untuk membangun

hubungan negatif ini.