Anda di halaman 1dari 111

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha


Pengasih lagi Maha Penyayang, dengan ini kami panjatkan
puji syukur atas kehadirat-Nya yang telat melimpahkan
rahmat-Nya kepada kami sehingga kami dapat
menyelesaikan buku yang berjudul “Endangered Plants in
Djuanda Forest Park”. Buku ini merupakan karya yang
dibuat oleh mahasiswa-mahasiswa Pendidikan Biologi A
2015 berdasarkan hasil observasi lapangan, wawancara dan
studi literatur. Dalam buku ini disajikan hasil observasi
kami di Tahura Djuanda Kota Bandung Jawa Barat. Di
dalam buku ini kami mengkaji tanaman-tanaman yang
hampir langka di Tahura Djuanda.
Penyusunan buku “Endangered Plants in Djuanda
Forest Park” ini melibatkan berbagai pihak. Kami ucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak
yang telah membantu kami dalam pembuatan buku ini,
khususnya:
1. Dr. Hj. Sariwulan Diana, M.Si. sebagai dosen
pengampu mata kuliah Fisiologi Tumbuhan
2. Dr. Hj. Sri Anggraeni, M.S. sebagai dosen pengampu
mata kuliah Fisiologi Tumbuhan
3. Sri Rahayu Kartini, S.Si, sebagai pranata laboratorium
pendidikan fisiologi FPMIPA UPI
4. Seluruh asisten praktikum mata kuliah Fisiologi
Tumbuhan
5. Pihak-pihak yang telah menjadi narasumber saat
observasi lapangan
Semoga dari buku ini dapat diambil manfaatnya,
sehingga memberikan wawasan lebih bagi pembaca
khususnya terkait literasi tumbuhan yang rentan
mengalami kepunahan di masa yang akan datang. Kami
ucapkan terima kasih atas kritik dan saran yang
membangun dari pembaca.

Bandung, Desember 2018


Penulis

Pendidikan Biologi A 2015


Latar Belakang
LATAR BELAKANG

Tumbuhan langka merupakan tumbuhan yang


persebarannya berkurang dan semakin menghilang di
dunia. Tumbuhan langka ini biasanya memiliki
karakteristik sulit dikembangbiakan dan media
pertumbuhan yang sangat spesifik. Indonesia kaya akan
keanekaragaman flora, terdapat berbagai jenis tumbuhan
langka yang hidup di Indonesia. Menanam tumbuhan
langka di Taman Hutan Raya merupakan salah satu upaya
pemerintah dalam melestarikan tumbuhan langka.
Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda memiliki tipe
vegetasi hutan alam sekunder yang didominasi oleh jenis
pohon Pinus (Pinus merkusii), Kaliandra (Calliandra
callothyrsus), Bambu (Bambusa sp.) dan berbagai jenis
tumbuhan bawah seperti tumbuhan Teklan (Euphatorium
sp.).Pada tahun 1963 berbagai jenis tanaman kayu asing
yang berasal dari luar daerah dan luar negeri, ditanam
pada lahan seluas 30 ha di sekitar plaza dan gua yang
terdiri dari 40 famili, 112 species dengan jumlah
diperkirakan 2.500 pohon (Akliyah, 2010). Belasan
tanaman koleksi Taman Hutan Raya (Tahura) Ir H
Djuanda, Bandung, masuk dalam kategori kritis.
Di antara belasan pohon tersebut, bahkan ada yang hanya
satu pohon saja ditemukan di kawasan konservasi seluas
lebih dari 500 hektare tersebut. (Riadi, 2016).
Profil
Taman Hutan Raya
PROFIL TAMAN HUTAN RAYA

Taman Hutan Raya


Juanda (Tahura)
Bandung merupakan
salah satu tujuan
wisata terkenal di
Bandung bagian utara.
Suguhan hutan yang
masih alami menjadi
daya tarik tersendiri.
Selain menikmati suasana alam yang sangat indah, kondisi
geografis yang mendukung yang berada tepat pada
cekungan Bandung yang membentang mulai dari Curug
Dago, Dago Pakar sampai Maribaya yang termasuk dalam
Kawasan Tahura ini. Taman Hutan Raya yang berlokasi di
Kompleks Tahura, Jl. Ir. H. Djuanda no. 99, Ciburial,
Cimenyan, Kota Bandung, Jawa Barat ini berada di
ketinggian 770-1330 mdpl dan memiliki luas 590 hektare
dan tercatat dalam hutan ini memiliki kurang lebih 2500
jenis tanaman yang terdiri dari 40 jenis famili.
Sejarah Tahura dimulai saat pertama kali dirintis
pembangunannya sejak 1960 oleh Gubernur Jawa Barat
kala itu yaitu Mashudi, dibantu Ir. Sambas Wirakusumah
(Administratur Bandung Utara), Ismail Saleh (Menteri
Kehakiman) dan Soejarwo (Dirjen Kehutanan dan
pertanian). Tiga tahun setelahnya yaitu 1963, sebagian
Kawasan hutan lindung ini mulai dipersiapkan sebagai
salah satu Hutan Wisata dan Kebun Raya yang berada di
Bandung.
Tahun 1963 pada waktu meninggalnya Ir. H.
Djuanda, maka Hutan Lindung tersebut diabadikan
namanya menjadi Kebun Raya Rekreasi Ir. H. Djuanda
untuk mengenang jasa-jasanya dan waktu itu pula jalan
Dago dinamakan jalan Ir. H. Djuanda. Untuk tujuan
tersebut, kawasan tersebut mulai ditanami dengan
tanaman koleksi pohon-pohonan yang berasal dari
berbagai daerah. Kerjasama pembangunan Kebun Raya
Hutan Rekreasi tersebut melibatkan Botanical Garden
Bogor (Kebun Raya Bogor) , dengan menanam koleksi
tanaman dari di Bogor.
Pada tanggal 23 Agustus 1965 diresmikan oleh
Bapak Gubernur Mashudi sebagai Kebun Raya Hutan
Rekreasi lr. H. Djuanda sebagai Embrio Taman Hutan
Raya Ir. H. Djuanda yang dikelola oleh Dinas Kehutanan
(dulu Djawatan Kehutanan Propinsi Jawa Barat). Tahun
1978 pengelolaan dari Dinas Kehutanan (dulu Djawatan
Kehutanan Propinsi Jawa Barat) diserahkan ke Perum
Perhutani Jawa Barat. Pada tahun 1980 Kebun
Raya/Hutan Wisata yang merupakan bagian dari komplek
Hutan Gunung Pulosari ini ditetapkan sebagai taman
wisata, yaitu Taman Wisata Curug Dago seluas 590 ha
yang ditetapkan oleh SK. Menteri Pertanian Nomor :
575/Kpts/Um/8/1980 tanggal 6 Agustus 1980.
Pada tahun 1985, Bapak Mashudi dan Bapak
Ismail Saleh sebagai pribadi dan Bapak Soedjarwo selaku
Menteri Kehutanan mengusulkan untuk mengubah status
Taman Wisata Curug Dago menjadi Taman Hutan Raya.
Usulan tersebut kemudian diterima Presiden Soeharto
yang kemudian dikukuhkan melalui Keputusan Presiden
No. 3 Tahun 1985 tertanggal 12 Januari 1985. Peresmian
Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda dilakukan pada
tanggal 14 Januari 1985 yang bertepatan dengan hari
kelahiran Bapak Ir. H. Djuanda. Taman Hutan Raya Ir. H.
Djuanda sebagai Taman Hutan Raya pertama di
Indonesia.
Selain pohon, objek wisata yang ditawarkan oleh
Tahura ada Curug Omas Maribaya, Penangkaran rusa,
Goa Belanda, Goa Jepang, Guest House, Camping
Ground, Museum Ir. H. Djuanda, Forest Café, Taman
Bermain, panggung terbuka, dan Plaza Tahura.
Peta Persebaran
Sumber:
https://www.prote
ctedplanet.net/ir-h-
juanda-grand-
forest-park
Metode Pengambilan Data
METODE
PENGAMBILAN DATA

Alat

Alat yang digunakan pada pengambilan data berupa


kamera, alat perekam, dan alat tulis.

Metode Observasi dan Wawancara

Metode yang digunakan pada pengambilan data pohon


langka di Tahura Djuanda yaitu.

1. Observasi/ survei, yaitu dengan mengambil data


berdasarkan hasil pengamatan dan mencatat ciri-ciri
pohon langka pada setiap lokasi di Tahura. Langkah
pertama dengan mengidentifikasi dan menentukan
pohon-pohon yang termasuk langka berdasarkan
data inventaris keseluruhan pohon yang ada di
kantor Tahura. Setelah itu dilakukan pengamatan
langsung di setiap lokasi pohon langka tersebut
tumbuh dengan mengidentifikasi ciri-ciri morfologi
pohon Litsea glutinosa (Huru / adem ati),
Cinnamomum parthenoxylon (Ki Sereh), Ficus
fistulosa (Beunying), Kigelia africana (Sosis),
Baccaurea javanica (Menteng), Terminalia
kaernbanchii (Katapang), Ochoroma pyramidale
(Balsa), Gynostoma sumatranum (Cemara
Gunung), Taxodium distichiumi (Meniran),
Phyllanthus virgatus (Cemara Meksiko), Ficus
glomerata (Loa), Pterospermum celebicum (Bayur
Sulawesi), Ficus variegata (Ara Kondang), Hopea
odorata (Chengal Pasir), Ficus hispida (Bisoro),
Fragraea fragrans (Tembesu), Dipterocarpus
rotusus (Keruing Gunung), Khaya anthotheca
(Mahoni Uganda)..
2. Wawancara, dilakukan dengan pihak Tahura untuk
mendapatkan informasi tentang pohon langka
tersebut, seperti manfaat pohon, habitat asli pohon,
dan lain sebagainya.
3. Studi literatur, dilakukan dengan mengambil data di
internet sebagai informasi tambahan berupa
deskripsi pohon maupun gambar pelengka
Hasil Pengamatan
Cinnamomum parthenoxylon

Ki Sereh

Gambar 1. Pohon Cinnamomum parthenoxylon


(Treewalks, Tanpa tahun)
Bagian-Bagian Cinnamomum parthenoxylon

Akar Batang

Gambar 2. Akar Pohon Gambar 3. Batang Pohon


Cinnamomum parthenoxylon Cinnamomum parthenoxylon
(Krisanti, 2014) (Dok. Kelompok 1A, 2018)

Daun Bunga

Gambar 4. Daun Gambar 5. Bunga


Cinnamomum parthenoxylon Cinnamomum parthenoxylon
(Hachi, 2011) (Dok. Kelompok 1A, 2018)

Buah
Kingdom : Plantae
Diviso : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Laurales
Familia : Lauraceae
Genus : Cinnamomum
Species : Cinnamomum
Gambar 6. Buah
Cinnamomum parthenoxylon ..parthenoxylon
(Dok. Kelompok 1A, 2018)
Deskripsi Tanaman Cinnamomum parthenoxylon

Cinnamomum parthenoxylon memiliki nama daerah Ki


Sereh dengan persebaran di Pakistan, India, Cina Selatan,
Burma, Thailand, Semenanjung Malaysia, Sumatera,
Kalimantan, Jawa, Sulawesi. Dahulu pohon ini merupakan
tumbuhan yang dengan mudah dijumpai di hutan-hutan alam
terutama di Jawa, akan tetapi untuk saat ini sudah jarang
dijumpai. Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa tanaman
ini banyak disukai oleh masyarakat karena mempunyai banyak
manfaat khususnya baik untuk digunakan sebagai bahan
bangunan. Namun sejak adanya penebangan liar, tanaman ini
mulai sulit untuk dijumpai karena merupakan salah satu jenis
yang menjadi sasaran utama kegiatan penebangan liar bahkan
yang tertinggal hanya tunggak bekas tebangan saja (Hani dkk.,
2010).
Pohon ini memiliki tinggi mencapai 35-45 m, diameter 90-
105 cm. Batang bundar, umumnya tidak berbanir, kulit batang
warna kelabu atau kelabu coklat sampai krem, mengelupas
kecil-kecil, kulit dalam kemerahan, makin ke dalam menjadi
merah muda atau putih (Tanpa nama, 2018). Daunnya tunggal
dan ujung daun sedikit melancip. Perbungaan majemuk pada
ketiak daun dan umumnya di bagian dekat ujung ranting,
panjang malai 2,5-15 cm, bunga kecil dengan mahkota bunga
kuning muda dan umumnya tidak berbulu. Buah lonjong,
buah muda bulat berwarna hijau dan buah tua coklat
kehitaman, diameter buah 0,8-1 cm. Pada lapisan kulit kayu
berfungsi sebagai pelindung, di bawah tanah, cabang akar
menyebar luas dan berfungsi untuk jangkar pohon dan
mengekstrak nutrisi dari tanah.
Ki Sereh memiliki ciri khas bau harum yang berasal dari
bagian batang maupun akar tanaman ini apabila dilukai atau
terkena sayatan. Kegunaan tanaman ini cukup luas serta
mempunyai kualitas kayu yang baik (Hani dkk., 2010).
Manfaat Cinnamomum parthenoxylon
Minyak atsiri yang dihasilkan mengandung safrol yang
digunakan untuk bahan obat dan bahan pembuatan sabun.
Kayunya dapat dijadikan obat liver. Dijadikan komponen
utama pembuatan rumah, untuk menghindari serangan rayap
yang merusak bangunan yang berbahan kayu. Selain itu
kisereh juga baik digunakan sebagai bahan baku pembuatan
arang aktif maupun sebagai bahan bakar arang karena
mempunyai nilai kalor yang tinggi (Nurhayati et al, 1997).

Upaya Pelestarian Cinnamomum parthenoxylon


Menurut petugas di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir.
Juanda, anakan ki sereh yang sering dijumpai dipermukaan
tanah pada musim hujan apabila dibiarkan begitu saja lambat
laun akan mati dengan sendirinya, karena ki sereh termasuk
jenis yang intoleran sehingga tidak tahan terhadap naungan
serta tidak mampu bersaing jika ada tanaman bawah yang lain.
Oleh sebab itu, petugas Tahura Ir. Juanda sedang berupaya
untuk membudidayakan ki sereh dengan cara memindahkan
anakan yang tumbuh dibawah pohon induk ke lokasi lain dan
sampai saat ini menunjukkan hasil yang cukup baik.

Hubungannya dengan Fisiologi Tumbuhan

Tempat tumbuh ki sereh cukup luas karena dapat tumbuh


dari dataran rendah hingga pegunungan (umumnya 10-2000 m
dpl). Tumbuh pada berbagai jenis tanah yang berdrainase baik
pada berbagai tipe iklim (Dephut, 2002). Oleh karena itu
tanaman ini dapat dikatakan sebagai tanaman serbaguna
karena memiliki fungsi dalam pemanfaatan batang untuk kayu
pertukangan, pembuatan minyak ki sereh dalam bidang
tanaman biofarmaka, dan tanaman budaya masyarakat.
Litsea glutinosa

Huru / Adem ati

Gambar 7. Pohon Litsea glutinosa


(Dok. Kelompok 1A, 2018)
Bagian-Bagian Litsea glutinosa

Batang
Daun

Gambar 8. Batang Litsea glutinosa Gambar 9. Daun Litsea glutinosa


(Dok. Kelompok 1A, 2018) (Dok. Kelompok 1A, 2018)

Buah
Bunga

Gambar 10. Bunga Litsea


glutinosa Gambar 11. Buah Litsea glutinosa
(Dok. Kelompok 1A, 2018) (C. Bob, 2013)

Kingdom : Plantae
Diviso : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsia
Ordo : Laurales
Familia : Lauraceae
Genus : Litsea
Species : Litsea glutinosa
Deskripsi Tanaman Litsea glutinosa
Litsea glutinosa merupakan pohon yang tingginya
dapat mencapai 10 meter. Batang berkayu dan
bercabang-cabang , berwarna akuning. Daun tunggal,
berbentuk elips, berwarna hijau, dan berbulu halus.
Bunga berbentuk malai dengan mahkota berwarna putih
kekuningan. Buah berbentuk bulat. Buah muda berwarna
hijau, setelah tua berwarna hitam. Akar tunggang
berwarna coklat muda
Manfaat Litsea glutinosa
Zat-zat yang terkandung dalam tumbuhan ini yang bersifat
khas manis ,pahit, dan mendinginkan berfungsi sebagai anti
inflamasi, penghilang sakit (analgesic), dan untuk
menghentikan pendarahan (hemostatic). Akarnya digunakan
untuk mengobati diare, kencing manis,radang usus, dan
radang kulit bernanah (obat luar) berhasiat untuk mengobati
bisul, luka berdarah,obat penenang, radang kulit bernanah,dan
radang payudara (Agromedia,2008).

Upaya Pelestarian Litsea glutinosa


Menurut petugas di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. Juanda.
Tanaman Huru sangat langka dan tidak mudah dibudidayakan.
Tanaman Huru di Indonesia dapat mudah dihitung jari dan
hanya ada di beberapa lokasi tertentu. Dan upaya pelestarian
salah satu tanaman ini adalah dengan cara penjagaan
ekosistem .ketika lingkungan tempat tumbuh menjadi lebih
baik dan terjaga, maka tanaman tersebut akan dapat senantiasa
melangsngkan siklus hidupnya.

Hubungannya dengan Fisiologi Tumbuhan


Tempat tumbuh Huru tidak cukup luas karena hanya akan
tumbuh pada lingkungan yang cocok. Hali ini merupakan
alasan mengapa huru dikatakan sebagai tanaman langka di
Indonesia.
Ficus fistulosa

Beunying

Gambar 12. Habitus Ficus Fistulosa)


(Dok. Kelompok 2A, 2018)
Bagian-Bagian Ficus fistulosa

A B

Gambar 13. A. Daun tunggal, B. Bunga & buah,


C. Buah majemuk semu
(Siyang, 2013)

Kingdom : Plantae
Diviso : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Urticales
Familia : Moraceae
Genus : Ficus
Species : Ficus fistulosa
Deskripsi Tanaman Ficus fistulosa
✢ Tanaman ini memiliki habitus berupa pohon yang
memiliki tinggi hingga 20 meter dengan dbh sebesar 21
cm (Anas & Yayang, 2012).

✢ Batang bergetah berwarna putih apabila terluka

✢ Memiliki stipula berukuran 10 mm (Anas & Yayang,


2012).

✢ Daun pada tanaman ini berseling dan bertulang daun


brachidodromous

✢ Buah pada tanaman ini merupakan buah majemuk semu

✢ Bunga tidak terlihat karena dilindungi oleh dasar bunga


yang membulat seperti buah. Tanaman ini
penyerbukannya dibantu oleh sejenis tawon.

✢ Tanaman ini berasal dari Bornea dengan nama Ara.


(Anas & Yayang, 2012)
Manfaat Ficus fistulosa
Menurut Anas dan Yayang (2012), Ficus fistulosa memiliki
manfaat sebagai berikut :
✢ Daun muda dapat dikonsumsi langsung sebagai lalapan
✢ Buah dapat dikonsumsi
✢ Daun Ficus fistulosa dipercaya dapat mengatasi diare.

Upaya Pelestarian Ficus fistulosa


Upaya pelestarian yang dilakukan pihak Taman Hutan Raya
agar tanaman Beunying (Ficus fistulosa) tetap tumbuh yaitu
dengan cara melakukan pembibitan, juga dengan pemberian
pupuk dan pemberian zat kapur, serta memelihara tanah
sekitar tanaman tersebut agar sesuai dengan dengan
lingkungan aslinya yaitu yang hidup di ketinggian dataran
rendah dan tanah yang kurang subur dan berkapur.

Hubungannya dengan Fisiologi Tumbuhan


Tanaman Beunying (Ficus fistulosa) membutuhkan banyak
zat yang mengandung kalsium dan magnesium yang tinggi
sehingga kebayakan tumbuh di daerah dengan curah hujan
rendah dan membutuhkan tanah kurang subur serta berkapur
(Permata, 2018).
Kigelia africana

Sosis

Gambar 14. Pohon Kigelia africana)


(Dok. Kelompok 2A, 2018)
Bagian-Bagian Kigelia africana

Gambar 15. Bunga Kigelia


africana (Bunga Majemuk)
(Campeo, 2018)
Gambar 16. Buah
Kigelia africana
(Buah Tunggal)
(McCullough, 2018)

Kingdom : Plantae
Diviso : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Gambar 17. Daun
Ordo : Schrophulariales
Kigelia africana Familia : Bignoniaceae
(Daun Majemuk) Genus : Kigelia
(Roger & Allison, Species : Kigelia africana
2018)
Deskripsi Tanaman Kigelia africana
Dikenal dengan nama pohon sosis atau pohon
mentimun karena bentuk buahnya menyerupai sosis
maupun mentimun. Tinggi pohon sosis mencapai 18
meter, kulit kayunya lunak berwarna coklat abu-abu,
panjang daun mencapai 20 cm dengan jumlah lipatan
antara 3-8 lipatan, jumlah lipatan ini akan lebih besar
apabila tumbuh di area terbuka. Buahnya berdiameter
7,5-10 cm dengan panjang antara 30-90 cm. Pohon sosis
berbunga setahun sekali antara bulan Agustus hingga
November, bunganya berwarna merah gelap mekar pada
malam hari dan penyerbukannya dibantu oleh kalelawar
(Sancoyo, 2017).
Manfaat Kigelia africana
Menurut (Sancoyo, 2017), Manfaat Kigelia africana yaitu :
✢ Tepung buah sebagai penyembuh bisul
✢ Buah dan kulit kayunya direbus untuk diminum sebagai
obat sakit perut
✢ Kayunya sangat baik untuk pagar, kotak buah dan perahu
tradisional

Upaya Pelestarian Kigelia africana


Upaya pelestarian yang dilakukan pihak Taman Hutan Raya
agar tanaman Sosis (Kigelia africana) tetap tumbuh yaitu
dengan cara melakukan pembibitan dan juga dengan
pemberian pupuk, serta memelihara tanah sekitar tanaman
tersebut agar sesuai dengan dengan lingkungan aslinya yaitu
yang hidup di tanah yang lembab.

Hubungannya dengan Fisiologi Tumbuhan


Tanaman Sosis (Kigelia africana) membutuhkan banyak zat
yang mengandung alumunium, silikon dan oksigen sehingga
tanaman ini sering tumbuh pada tanah liat kadang berbatu dan
lembab (Anugrah, 2017).
Terminalia kaernbachii

Katapang

Gambar 18. Pohon Katapang


(Dok. Kelompok 3A, 2018)

dffghg
(
Bagian-Bagian Terminalia kaernbachii

Gambar 20. Daun Katapang


(Wikipedia, 2014)

dffghg
(

Gambar 21. Buah Katapang


Gambar 19. Batang Katapang
(Anones, 2018)
(Dok. Kelompok 3A, 2018)

dffghg
Kingdom : Plantae dffghg
( Diviso (
: Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Myrtales
Familia : Combretaceae
Genus : Terminalia
Species : Terminalia kaernbachii
Deskripsi Tanaman Terminalia kaernbachii
Terminalia kaernbachii atau lebih dikenal dengan nama
Ketapang atau Katapang. Tumbuhan ini merupakan tumbuhan
berhabitus pohon dengan tinggi mencapai 20-45 meter
(Thomson & Evans, 2006).
Tumbuhan ini merupakan tumbuhan khas hutan pantai
formasi Barringtonia (Whitten, dan Soeriaatmadja, 1999).
Species ini dapat tumbuh pada iklim baik tropis maupun
subtropis. Memiliki bunga kecil, majemuk, biseksual,
berwarna putih, dengan aroma yang tidak begitu kuat.
Daun tersusun secara tersebar, dengan ukuran daun cukup
lebar mencapai 8-25 cm Panjang (Thomson & Evans, 2006).
Buah berupa beri, dengan tersusun majemuk, memiliki kulit
buah yang halus, yang didalamnya terdapat biji yang cukup
keras berukuran cukup besar, dan keras. Biji ini di beberapa
negara digunakan untuk menanam kembali Terminalia
kaernbachii dan dapat dikonsumsi. Species ini merupakan
bagian dari Famili Combretaceae.
Manfaat Terminalia kaernbachii
• Secara ekonomi: Bijinya dimanfaatkan untuk mengganti biji
almond pada kue-kue dan pada pegagan dan daunnya
dimanfaatkan untuk membuat tinta
• Secara ekologi: Memperbaiki kesehatan dan memperpanjang
umur ikan cupang
• Secara estetika: Buahnya yang matang memiliki warna yang
mencolok, memperindah pemandangan sehingga cocok
dijadikan tanaman hias

Upaya Pelestarian Terminalia kaernbachii


Melakukan penanaman bibit pohon dengan rutin. Penanaman
dilakukan di satu tempat, ketika pohon sudah mulai dewasa
dipindahkan ke daerah yang sesuai dengan karakter tumbuhan yang
batang nya besar ditempatkan di pinggiran daerah Taman Hutan
Raya dan dekat aliran sungai, serta keberadaan sebuah bangunan.

Hubungannya dengan Fisiologi Tumbuhan


Akar Terminalia catappa memiliki akar tunggang yang
bercabang banyak sehingga secara fiisiologis dapat membuat daya
serap terhadap air dan zat makanan lebih besar. Daun memiliki ujung
yang berbentuk bulat tumpul, mengkilap, kasar, dan berwarna hijau
tua yang kemudian akan berubah menjadi kuning dan merah ketika
akan gugur (Thomson & Evans, 2006).
Secara fisiologis daunnya yang mengkilap menunjukan adanya
lapisan lilin yang tebal untuk mengurangi laju transpirasi yang tinggi
di daerah pantai serta berubahnya warna daun saat akan gugur
mennunjukan bahwa tumbuhan ketapang termasuk dalam
kategori deciduous yang akan menggugurkan daunnya saat musim
kemarau. Strategi ini dibutuhkan karena air sangat penting dalam
proses fotosintesis. Bila tidak ada air, daun tidak dapat
berfotosintesis, klorofil yang ada di daun tidak dapat berfungsi lalu
menghilang. Setelah klorofil menghilang, tersisalah pigmen-pigmen
lain yang ada di daun, seperti antosianin yang berwarna merah.
Baccaurea javanica

Menteng

Gambar 22. Pohon Menteng


(Dok. Kelompok 3A, 2018)

dffghg
(
Bagian-Bagian Baccaurea javanica

Gambar 24. Bunga Menteng


(Dok. Kelompok 3A, 2018)

dffghg
(

Gambar 25. Buah Menteng


(Lee, 2011)
Gambar 23. Batang Menteng
(Dok. Kelompok 3A, 2018)

dffghg
(
dffghg
Kingdom : Plantae
(Diviso : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Malpighiales
Familia : Phyllanthaceae
Genus : Baccaurea
Species : Baccaurea javanica
Deskripsi Tanaman Baccaurea javanica
Baccaurea javanica merupakan species dari familia
Phyllantaceae, yang dikenal sebagai pohon Menteng.
Tumbuhan ini dulu banyak ditanam dan masih mudah
dijumpai di Pulau Jawa, bahkan di daerah Jakarta ada daerah
bernama Menteng, yang menunjukkan pohon ini banyak
tumbuh di daerah tersebut.
Namun, saat ini species ini terbilang cukup langka, dan
sulit ditemukan. Species ini memiliki ciri khas buah yang
berbentuk bulat, berwarna hijau dengan sedikit warna
kekuningan jika sudah matang, dengan rasa cukup segar
(manis, sedikit asam).
Berhabitus pohon dengan ketinggian mencapai 8-12 meter
(Fern, 2014). Persebarannya mencakup daerah-daerah tropis,
terutama Asia Tenggara.

Manfaat Baccaurea javanica


• Secara ekonomi: Buahnya dimanfaatkan untuk
dikonsumsi langsung
• Secara ekologi: Menyerap CO2 di udara, pelestari air di
tanah pada akarnya, penahan angin, penghasil zat
organik dan oksigen, serta mencegah erosi.
• Secara estetika: Jenis-jenis yang dibudidayakan
membentuk tajuk yang bagus dan dapat dimanfaatkan
sebagai tanaman hias dan pohon pelindung
Upaya Pelestarian Baccaurea javanica
Perbanyakan pohon dilakukan dengan penanaman bibit dengan
rutin dan persebaran biji dapat dilakukan secara alami karena
banyaknya hewan kera yang memanfaatkan buah-buahan sebagai
sumber makanannya. Selain itu untuk menangani kepunahan dan
sebagai koleksi tanaman yang pernah ada di Taman Hutan Raya
Juanda Bandung dibuat awetan tumbuhan kering (hebarium).

Hubungannya dengan Fisiologi Tumbuhan


Tumbuhan ini ditemukan umumnya di dekat sungai, di mana
tersedia air dalam jumlah yang cukup (Haegens, 2000; Uji, 1992).
Baccaurea diperbanyak melalui biji untuk memperoleh tanaman
dengan tinggi tertentu sebelum masa berbunga. Sifat tanaman
Baccaurea yang berumah dua menyebabkan pohon jantan atau
pohon betina baru dapat diketahui setelah tanaman berbunga yang
umumnya terjadi pada tahun keempat atau kelima setelah
penanaman (Abdullah et. al., 2005; Lestari & Sari, 2005).
Tumbuhan Baccaurea berbuah sangat lebat dengan musim
berbunga dan berbuah sepanjang tahun (Lestari & Sari, 2005). Selain
sebagai buah konsumsi segar, Baccaurea kerap dijadikan asinan dan
difermentasikan menjadi minuman anggur. Selain ditanam untuk
buahnya, tanaman ini juga dapat dijadikan sebagai tanaman hias dan
tanaman peneduh atau pelindung, baik di taman maupun pinggir
jalan raya. Sosok tanaman yang rindang dan rimbun potensial untuk
dijadikan sebagai tanaman penghijauan, sehingga dapat mengurangi
dampak pemanasan global. Baccaurea juga dikenal sebagai
tumbuhan tempat merambat rotan (Uji, 1992).
Baccaurea menghasilkan produk kayu unggul yang kuat dan
tahan lama, sehingga dapat digunakan sebagai bahan bangunan,
membuat perahu, dan furniture. Kulit kayu digunakan sebagai bahan
pewarna kuning dan merah, serta lembayung pada kain sutra, serta
dapat menyembuhkan peradangan pada mata.Rebusan daun biasa
diminum untuk melancarkan datang bulan dan pencuci mulut untuk
menyembuhkan sariawan (Munawaroh, 2001).
Ochroma pyramidale

Balsa

Gambar 26. Habitus Ochroma pyramidale


(Dok. Kelompok 4A, 2018)
Bagian-Bagian Ochroma pyramidale

Gambar 27. Daun dan Bunga Balsa


(Sibir, 2012)

Gambar 28. Buah Balsa


(Paton, 2003)

Kingdom : Plantae
Diviso : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Malvales
Familia : Malvaceae
Genus : Ochroma
Species : Ochroma pyramidale
Deskripsi Tanaman Ochroma pyramidale

Balsa merupakan tanaman pohon dengan tinggi dapat


mencapai 35 meter dan daun berbentuk bundar telur dengan
bunga kuning kehijauan.
Pohon balsa banyak dijumpai di India dan Amerika Latin.
Di Indonesia, Balsa banyak tumbuh di Pulau Jawa. Umumnya
balsa tumbuh baik di dataran rendah sampai ketinggian 500
Mdpl.
Perkembangbiakkan balsa secara generatif dengan biji,
pertumbuhannya sangat cepat (Boreega, 2015).
Balsa merupakan material kayu yang cukup sulit ditemui.
Tidak seperti kayu jati yang memiliki tingkat kekuatan tinggi,
kayu balsa merupakan kayu yang sangat ringan.
Meskipun demikian, harga jual kayu balsa sangat tinggi,
selain karena ketersediaannya yang cukup langka juga karena
potensi kegunaannya.
Manfaat Ochroma pyramidale

Spesies ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi dari


kayunya. Kayu Balsa dikenal memiliki tekstur kayu yang
cukup ringan, kuat, mudah dibentuk, sehingga banyak
digunakan pada industri-industri manufaktur, seperti:
pembuatan kapal, pembuatan model, mainan, papan seluncur
atau papan surfing, dan pada industri pembuatan tusuk gigi.
Selain itu, bubur kayu-nya diketahui cukup baik untuk
digunakan menjadi bahan pembuatan kertas, terutama kertas
untuk mencetak (printing).

Upaya Pelestarian Ochroma pyramidale

Dalam rangka melestarikan Balsa yang saat ini dikategorikan


sebagai tumbuhan berpotensi langka dapat dilakukan dengan
memperkenalkan manfaat kayu Balsa pada masyarakat luas
sehingga tertarik untuk menanam dan memperbanyak
tumbuhan melalui budidaya.
Gymnostoma sumatranum

Cemara Gunung

Gambar 29. Pohon Gymnostoma sumatranum


(Dok. Kelompok 4A, 2018)
Bagian-Bagian Gymnostoma sumatranum

Gambar 30. Daun


Cemara Gunung
(Rhu, 2010)

Gambar 31. Strobilus


Cemara Gunung
(Rhu, 2010)

Kingdom : Plantae
Diviso : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Fagales
Familia : Casuarinaceae
Genus : Gymnostoma
Species : Gymnostoma sumatranum
Deskripsi Pohon Gymnostoma sumatranum

Distribusi dari Gymnostoma sumatranum yaitu Burma,


Sumatra, Kalimantan, Jawa, Malaysia, Sulawesi, Papua Barat,
dan Filipina.
Tanaman pohon dengan tinggi bisa mencapai 20 meter.
Kulit batang abu-abu coklat terang, ranting-ranting terkulai
menyerupai jarum.
Daun tunggal, tersusun dalam 7-8 helai. Bunga
berkelamin satu, bunga jantan dan betina bisa terdapat dalam
1 pohon atau pohon berbeda. Bunga jantan terletak di ujung,
bulir memanjang, dan bunga betina berada di samping, bunga
betina berbentuk kerucut (Sumarno, 2018).
Manfaat Gymnostoma sumatranum
Species yang masih muda banyak digunakan sebagai
pohon ornamen, atau pohon hias, misalnya untuk pohon natal.
Namun, penggunaan sebagai pohon ornamental sudah mulai
dikurangi, mengingat jumlah species ini sudah terbatas,
hampir langka. Kayu dari species ini dikenal sangat kuat, dan
keras, sehingga di daerah Serawak, Malaysia, digunakan
sebagai bahan pembuat arang (charcoal), dan banyak dipakai
sebagai bahan kayu bakar, dan juga bahan bangunan.

Upaya Pelestarian Gymnostoma sumatranum


Upaya pelestarian yang perlu dilakukan untuk
mempertahankan keberadaan Cemara Gunung yaitu dengan
mencari cara budidaya tumbuhan ini, karena sampai saat ini
belum diketahui propagasi Cemara Gunung selain
menggunakan biji.

Hubungannya dengan Fisiologi Tumbuhan


Cemara Gunung memiliki habitat dengan spesifitas
tinggi diantaranya, tanah harus rendah nutrien, pH rendah,
suhu lingkungan rendah, dan berada di dataran tinggi. Hal
tersebut mampu memberikan daya dukung tumbuhan ini untuk
tetap hidup, jika salah satunya tidak terpenuhi akan
memengaruhi fisiologis dari tumbuhan tersebut.
Phyllanthus virgatus

Meniran

Gambar 32. Pohon Phyllanthus virgatus


(Dok. Kelompok 5A, 2018)
Gambar 33. Gambar 34.
Daun Phyllanthus virgatus Biji Phyllanthus virgatus
(Dok. Kelmpok 5, 2018) (Dok. Kelmpok 5, 2018)

Gambar 35. Bunga Phyllanthus sp.


(Stender, K., Tanpa tahun)

Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Subclassis : Rosidae
Ordo : Euphorbiales
Familia : Euphorbiaceae
Genus : Phyllanthus
Species : Phyllanthus virgatus
Nama local : Meniran Pohon
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Deskripsi singkat dari pohon Phyllanthus virgatus:

▪ Pohon meniran merupakan tumbuhan tahunan


dengan batang yang ramping dan mempunyai
banyak cabang
▪ Banyak dimanfaatkan sebagai obat-obatan.
▪ Habitat dari pohon ini dapat ditemukan di savanna,
hutan, tanah yang subur dan sawah.
▪ Persebarannya terdapat di daerah Asia Timur, Asia
Tenggara dan Kepulauan pasifik.
▪ Di Taman Hutan Raya Djuanda ini hanya terdapat
satu pohon yang tersisa, pohon tersebut ditanam dari
hasil pembibitan.
Manfaat Phyllanthus virgatus
Tanaman ini memiliki senyawa Flavon,
Hypophyllanthin, Nirathin, Nirterali yang mengandung
banyak khasiat untuk kesehatan tubuh dan mencegah penyakit.
Beberapa penyakit tersebut diantaranya dapat mengobati batu
ginjal & asam urat, mengobati radang sendi, mengobati
penyakit kuning, mengatasi hipertensi, serta dapat mencegah
penyakit kulit. Biasanya bagian yang digunakan untuk
pengobatan adalah bagian daun dan akarnya.

Upaya Pelestarian Phyllanthus virgatus


Pembibitan pohon meniran ini dilakukan sebagai upaya
pelestarian pohon ini.

Hubungannya dengan Fisiologi Tumbuhan


Pemeliharaan pohon ini kurang diperhatikan sehingga banyak
rumput-rumput liar dan jarak dengan tanaman lain dekat
sehingga mempengaruhi petumbuhan dan perkembangan dari
pohon ini. Hal tersebut menjadi penyebab sedikitnya jumlah
pohon meniran di Taman Hutan Raya Djuanda
Taxodium distichium

Cemara Meksiko

Gambar 36. Pohon Taxodium distichium


(Dok. Kelompok 5A, 2018)
Bagian-Bagian Taxodium distichium

Gambar 37. Daun


Taxodium distichium
(Dok. Kelompok 5A, 2018)

Gambar 39. Strobilus


Jantan Toxodium distichum
(Holly K, 2007)

Gambar 38. Strobilus


Betina Toxodium distichum
(Austin, 2012)

Kingdom : Plantae
Diviso : Pinophyta
Classis : Coniferopsida
Ordo : Coniferales
Familia : Cupresaceae
Genus : Toxodium
Species : Toxodium distichum
Deskripsi Tanaman Taxodium distichium
Tanaman Taxodium distichium atau Cemara Meksiko
merupakan tanaman anggota dari Cupressaceae. Menurut
daftar IUCN (International Union for Conservation of Nature)
cemara mexico termasuk kedalam daftar merah yang berarti
spesies ini terancam punah. Taxodium distichium adalah
pohon besar, pertumbuhannya lambat, dan berumur Panjang.
Biasanya tumbuh hingga ketinggian 30-40 m (100-131 ft) dan
diameter batang 1-2 m (3-6 ft) (Conner, 1998). kulit batang
berwarna coklat keabu-abuan sampai coklat kemerahan, tipis,
dan berserat dengan tekstur berserabut. Daun Taxodium
distichium berbentuk linier dan seperti jarum, tersusun dalam
dua peringkat pada sisi berlawan dengan bilah pipih tumbuh
pada ranting yang tersusun secara spiral pada batang. Tidak
seperti kebanyakan species lain dalam familia Cupressaceae,
Taxodium distichium kehilangan daunnya di musim dingin.
Strobilus jantan dan betina diproduksi dari tunas yang
terbentuk pada akhir musim gugur, dengan penyerbukan pada
awal musim dingin dan matang dalam waktu sekitar 12 bulan
(Fajron, 2005).
Manfaat Toxodium distichum
Pohon cemara dapat dimanfaatkan sebagai peneduh dan
penghias halaman rumah sebab pohon cemara bisa
memproduksi oksigen untuk menyegarkan halaman rumah.
Jika ditanam pada daerah pesisir pantai bisa mengatasi abrasi.
Kayu pohon cemara bisa dimanfaatkan untuk pembuatan
perabot rumah tangga. Daun pohon cemara bisa dimanfaatkan
sebagai penghias rumah. Kambium pohon cemara bisa diolah
sebagai bumbu masakan serta Biji pohon cemara bisa
langsung dimakan.

Upaya Pelestarian Toxodium distichum


Pohon ini dapat diperbanyak dengan cara kultur jaringan,
.kultur dapat didefinisikan sebagai teknik membudidayakan
jaringan agar menjadi organisme yang utuh dan mempunyai
sifat yang sama dengan induknya. Lingkungan tempat tumbuh
merupakan salah satu dari beberapa faktor yang
mempengaruhi persebaran cemara meksiko ini. Banyak sekali
unsur-unsur lingkungan yang harus dijaga dengan baik agar
tetap bisa menopang keberlangsungan tanaman tersebut.

Hubungannya dengan Fisiologi Tumbuhan


Tamanan Toxodium distichum dapat menghasilkan aleopati.
Alelopati didefinisikan sebagai suatu fenomena alam dimana
suatu organisme memproduksi dan mengeluarkan suatu
senyawa biomolekul (disebut alelokimia) ke lingkungan dan
senyawa tersebut memengaruhi perkembangan dan
pertumbuhan organisme lain di sekitarnya. Sebagian alelopati
terjadi pada tumbuhan dan dapat mengakibatkan tumbuhan di
sekitar penghasil alelopati tidak dapat tumbuh atau mati.
Ficus glomerata

Loa

Gambar 40. Pohon Ficus glomerata


(Dok. Kelompok 6A, 2018)
Gambar 41. Daun Ficus Gambar 42. Bunga Ficus
glomerata glomerata
(Dok. Kelompok 6A, 2018) (Mesosyn, 2007)

Gambar 43. Buah Ficus glomerata


(Parmar, 2017)

Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Sub-classis : Dillenidae
Ordo : Urticales
Familia : Moraceae
Genus : Ficus
Species : Ficus glomerata
Deskripsi Tanaman Ficus glomerata

Ciri Khas: Getah (lateks) putih hingga kekuningan, kuncup


daunnya di ujung ranting terlindungi oleh sepasang daun
penumpu yang lekas rontok.
Pohon Ficus glomerata atau pohon loa tingginya 17 m banyak
ditemukan di daerah Asia Tenggara, Australia, dan Benua Asia,
sedangkan di Indonesia ditemukan di daerah tropis, di sungai di rawa
karena pohon loa banyak mengandung air. Perbungaan pohon loa
sangat unik dan pola penyerbukannya (en: pollination syndrome)
yang khas, yang melibatkan sejenis tawon dari
familia Agaonidae untuk menyerbuki bunga-bunganya yang
tertutup. Daunnya berwarna hijau tua dan mengkilap panjang daun
sekitar 7-10 cm dengan bentuk meruncing (Singh, 2013)
Memiliki akar gantung atau akar udara, bentuk perawakan yang
khas serta bentuk buah yang unik, yang membedakan kelompok ini
dari tumbuhan yang lain. Buah Ficus berasal dari karangan
bunga tertutup yang dikenal sebagai bunga periuk (syconium), buah
Ficus termasuk buah semu. Buahnya bergerombol pada batang
pohon, berukuran kecil, buah yang belum masak berwarna hijau
yang sudah masak berwarna merah (Singh, 2013).
Berpotensi langka karena tanaman ini sering dimanfaatkan untuk
pembuatan bonsai, karena bonsai dari pohon loa sangat bagus, dan
semakin langka maka harga bonsai dari pohon loa semakin mahal.
Manfaat Ficus glomerata

1. Akar : Mengobati penyakit anjing gila; menyembuhkan,


mencegah gigitan nyamuk dan serangga (Suryanto,
2016).
2. Kulit batang: Mengobati penyakit kehamilan, sifilis;
mencuci luka luar (Suryanto, 2016).
3. Daun : Mengobati bronchitis, penyakit empedu
(Suryanto, 2016).
4. Buah : Mengobati kolesterol, darah tinggi, penyakit
jantung, osteoporosis, anemia, gangguan pernapasan,
sakit tenggorokan, batu ginjal; meningkatkan berat
badan; melancarkan BAB; meningkatkan stamina
(Twins, 2017).

Upaya Pelestarian Ficus glomerata


Upaya pelestarian pohon loa yaitu dengan tidak membuat
bonsai dari pohon loa, penanaman kembali pohon loa dengan
cara bibit pohon loa disimpan ditempat yang teduh sedangkan
pohon loa yang sudah besar disimpan ditempat yang terkena
cahaya matahari langsung agar pohon loa tumbuh besar tidak
terkena penyakit dan jamur.

Hubungannya dengan Fisiologi Tumbuhan


1. Akar gantung dari pohon loa berfungsi untuk menyerap uap
air dan gas dari udara karena pohon loa ini hidup di daerah
yang basah atau terendam air seperti di sungai dan rawa.
2. Terdapat kandungan flavonoid yang secara tidak langsung
mengatur pertumbuhan pada akar, pucuk dan dormansi
(Buana, 2017).
Pterospermum celebicum

Bayur Sulawesi

Gambar 44. Pohon Pterospermum celebicum


(Dok. Kelompok 6A, 2018)
Gambar 45. Daun Gambar 46. Buah
Pterospermum celebicum Pterospermum celebicum
(Dok. Kelompok 6A, 2018) (Silent Nature, 2018)

Gambar 47. Bunga Pterospermum celebicum


(Widyawati, 2014)

Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Sub-classis : Dillenidae
Ordo : Malvales
Familia : Malvaceae
Genus : Pterospermum
Species : Pterospermum celebicum
Deskripsi Tanaman Pterospermum celebicum

Ciri Khas: Tekstur Kasar, lingkar tumbuhnya tampak


samar-samar, buah mula-mula berambut halus kemudian
gundul, perbungaan berupa malai terminal atau di ketiak
dan bijinya bersayap.
Pterospermum celebicum atau pohon bayur berada di
dataran rendah di daerah tropis. Daerah penyebarannya yaitu
di India, Asia Tenggara, Kalimantan Selatan, Kalimantan
Timur, Amerika Tengah, dan Brazil. Pohon bayur berukuran
besar sebagai penghasil kayu berkualitas baik. Pterospermum
celebicum tingginya dapat mencapai 45 m dan batangnya
berdiameter 1 m. Batang pohon berwarna keabu-abuan, pohon
memiliki struktur halus hingga memecah dangkal. Daun
tunggal terletak berseling, bertangkai pendek. Helaian daun
bundar telur sampai lanset. Warna daunnya sisi atas hijau
terang, sisi bawah daun berambut halus kecoklatan, pada
pangkal dengan tiga tulang daun (Anonimus, 2015).
Perbungaan berupa malai terminal panjang bunga hingga 6
cm, bunganya berwarna kuning, berambut halus, bunga soliter
atau muncul tiga bunga sekaligus pada tepi cabang daun.
Bakal buah menumpang superior dan terdiri dari 5 ruang
dengan tiap ruang mengandung banyak bakal buah, dan
tangkai kepala putik ramping. Buahnya berbentuk
kotak silindris, buah mula-mula berambut halus kemudian
gundul, buahnya berwarna coklat dan bijinya banyak dan
bersayap (Anonimus, 2015).
Berpotensi langka karena di Indonesia pohon bayur sering
ditebang liar secara besar-besaran karena pohon bayur
memiliki kualitas kayu yang sangat bagus untuk bangunan dan
peralatan rumah tangga.
Manfaat Pterospermum celebicum

1. Akar : Membantu fermentasi nira aren (Mentari et al,


2017).
2. Kulit batang: Mengobati sakit perut, disentri, bisul, sakit
gigi, pendarahan, keseleo dan kulit melepuh (Suryanto,
2016).
3. Batang: Sebagai konstruksi bangunan dan perahu;
pembuatan mebel dan perkakas rumah tangga (Suryanto,
2016).
4. Daun : Mengandung tannin untuk mengobati gatal-gatal
dan disentri (Suryanto, 2016).

Upaya Pelestarian Pterospermum celebicum

Upaya pelestarian Pterospermum celebicum yaitu dengan cara


tidak menebang liar pohon bayur, melakukan reboisasi, dan
apabila telah menebang pohon maka menanam kembali pohon
tersebut. Serta menjaga agar tanaman tidak tergenang air.

Hubungannya dengan Fisiologi Tumbuhan

1. Bentuk biji Pterospermum celebicum yang bersayap untuk


mempermudah proses penyerbukan dengan perantara
angin atau disebut anemogami.
2. Kandungan tanin pada daun Pterospermum celebicum
mampu mengikat protein, sehingga protein pada tanaman
dapat resisten terhadap degradasi oleh enzim protease di
dalam silo atau rumen (Kondo et al, 2004).
Ficus variegata

Ara Kondang

Gambar 48. Ficus variegata


(Dokumentasi Kelompok 7A, 2018)
Gambar 49. Bunga Ficus Gambar 50. Daun Ficus
variegata variegata
(Morad, 2014) (Lasut, 2014)

Gambar 51. Buah Ficus


variegata
(Lasut, 2014)

Kingdom : Plantae
Diviso : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Sub-classis : Rosiidae
Ordo : Rosales
Familia : Moraceae
Genus : Ficus
Species : Ficus variegata
Deskripsi Tanaman Ficus variegata

Ficus variegata Blume atau sering disebut tanaman


Ara Kondang atau Nyawai merupakan jenis tanaman langka
yang ada di area Taman Hutan Raya Djuanda (TAHURA)
Bandung. Pohon nyawai termasuk golongan tanaman fast
growing species atau tanaman yang dapat tumbuh cepat.
Nyawai merupakan tanaman pionir dan mudah ditemukan di
hutan alam bekas kebakaran hutan, salah satunya di
Kalimantan Timur (Rusmana, 2013).
Pohon ara kondang memiliki corak kayu yang baik,
berwarna cerah, kuning keputihan (Sumarni et al. 2009).
Ficus variegata Blume memiliki bunga dan buah yang
berukuran kecil, termasuk bunga dan buah majemuk, serta
sulit untuk diamati. Bunga nyawai termasuk uniseksual dan
berumah dua (dioecious), serta penyerbukannya dibantu oleh
serangga (Pramono dan Rustam, 2015).
Pohon ini merupakan pohon berbatang besar dan
keras yang dahulu sangat khas ada di Jawa Barat. Di Taman
Hutan Raya Djuanda sendiri pohon ini ditemukan sekitar 20
meter dari monumen Ir. Djuanda (samping sebelah kiri
monumen).
Manfaat Ficus variegata
Pohon ara kondang atau Ficus variegata dapat
tumbuh tinggi, sehingga biasa dijadikan sebagai pohon
penaung sekaligus tanaman hias. Selain itu buah dari ara
kondang ini merupakan sumber makanan bagi herbivora,
seperti kelalawar pemakan buah. Daun dari pohon ara
kondang ini juga merupakan sumber makanan bagi
beberapa jenis hewan Lepidoptera. Adapun kayu dari
pohon ini dapat dijadikan sebagai sumber makanan bagi
larva Anoplophora chinensis.

Upaya Pelestarian Ficus variegata


Pohon ini dikategorikan langka karena diduga
informasi tentang aspek biologi reproduksinya masih terbatas
sehingga jumlahnya di alam juga terbatas. Saat ini pohon ara
kondang sudah diusahakan untuk dibudidayakan di beberapa
tempat misalnya di Cikampek, Jawa Barat dan di Kalimantan.

Hubungannya dengan Fisiologi Tumbuhan


Pohon ara kondang umumnya ditemukan tumbuh di
alam dalam bentuk tidak berkelompok. Hal tersebut
mengakibatkan tumbuhan ini sulit untuk berreproduksi atau
melestarikan keturunannya.
Hopea odorata

Chengal Pasir

Gambar 53. Hopea odorata


(Khor, 2014)
Gambar 54. Pohon Hopea odorata Gambar 55. Biji Hopea odorata
(Dokumentasi Kelompok, 2018) (Loupok, 2014)

Gambar 56. Daun Gambar 57. Bunga


Hopea odorata Hopea odorata
(Silviculture, 2014) (Rxburgh, 2014)

Kingdom : Plantae
Diviso : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Sub-classis : Rosidae
Ordo : Malvales
Familia : Dipterocarpaceae
Genus : Hopea
Species : Hopea odorata
Deskripsi Tanaman Hopea odorata

Hopea odorata atau chengal pasir memiliki tinggi 45


meter dan diameter 120 cm. Daun dari chengal pasir
merupakan daun tunggal dengan kedudukan daunnya
berseling. Perbungaannya bercabang, ukuran bunga kecil,
berkelamin tunggal, dan memiliki 5 helai kelopak bunga
(Wickneswari, 1995).
Hopea odorata merupakan salah satu anggota dari
Famili Dipterocarpaceae yang tumbuh di iklim kering dengan
jumlah keringnya 3-5 bulan pertahun dan termasuk hampir
langka karena jumlahnya yang terbatas. Persebarannya pun
hanya di sekitar pulau Sumatera dan Kalimantan. Selain itu
tanaman cengal pasir ini dapat tumbuh di hutan tropis,
dataran rendah dengan tanah subur sampai ketinggian
300mdpl, dan lokasi tumbuhnya tidak jauh dari sungai
(Martawijaya et al. 1981).
Kayu dari Hopea odorata banyak digunakan untuk
balok, tiang dan papan pada bangunan perumahan. Serta
dapat juga digunakan sebagai kayu perkapalan (perahu,
kulit dan lain-lain), tong air, ambang jendela, kerangka
rumah, talenan dan barang bubutan. Hal tersebut karena kulit
kayu dari Hopea odorata mengandung tanin tinggi, dapat
digunakan untuk penyamak kulit, juga menghasilkan getah
bermutu rendah (Martawijaya et al. 1981).
Manfaat Hopea odorata

Hopea odorata atau pohon cengal pasir memiliki


batang kayu yang tebal dan kuat, sehingga batang pohonnya
biasa dimanfaatkan manusia sebagai kayu bangunan, kayu
perkakas, kayu perkapalan, bantalan kereta api, dan rangka
pintu maupun jendela. Selain itu pohon cengal pasir ini pun
mampu tumbuh tinggi, sehingga sangat cocok sebagai pohon
penaung sekaligus sebagai tanaman hias.

Upaya Pelestarian Hopea odorata


Pelestarian tumbuhan Hopea odorata ini dilakukan
dengan membudidayakannya pada iklim dan lingkungan yang
mendukung. Rehabilitasi lingkungan tempat tumbuhnya pun
merupakan upaya yang dilakukan agar Hopea odorata dapat
tumbuh, hingga mencapai masa kawin dan dapat
menghasilkan keturunan melalui perkawinan secara alami
(tanpa bantuan manusia).

Hubungannya dengan Fisiologi Tumbuhan


Iklim yang cocok untuk tumbuhnya adalah iklim
basah, hal ini dapat mempengaruhi fisiologi tumbuhan
tersebut. Iklim yang basah mendukung tumbuhan untuk dapat
melakukan metabolismenya lebih baik, apabila di iklim kering
maka metabolisme tumbuhan Hopea odorata ini tidak akan
optimal. Sehingga tumbuhan bisa mengalami kematian atau
tidak dapat berkembang sampai tahap dapat menghasilkan
keturunan.
Ficus hispida

Bisoro

Gambar 59. Ficus hispida


(Dokumentasi Kelompok 8A, 2018)
D

Gambar 60. Daun Ficus hispida


(Dok. Kelompok 8A, 2018)

Gambar 61. Buah Ficus hispida


(nparks, 2013)

Gambar 62. Bunga Ficus hispida


(Noort & Rasplus, 2018)

Kingdom : Plantae
Diviso : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Sub-classis : Hamamelidae
Ordo : Urticales
Familia : Moraceae
Genus : Ficus
Species : Ficus hispida
Deskripsi Tanaman Ficus hipsida
Ficus hipsida atau yang lebih dikenal dengan
nama lokal “bisoro” merupakan tumbuhan yang
berasal dari Asia Tenggara dan Australia. Di luar
negeri tumbuhan ini dikenal dengan nama umbar hair
big tree. Bentuk tubuh dari pohon family Moraceae ini
relatif lebih kecil dibandingkan pohon pada umumnya,
bahkan ada yang mengelompokan tumbuhan ini ke
dalam habitus perdu. Ciri khas dari Ficus hispida ini
yang membedakannya dengan Ficus glomerata yaitu
dapat dilihat dari perletakan buahnya pada batang.
Ficus hispida memiliki sedikit tangkai untuk
menempelkan buahnya.
Tumbuhan ini sulit untuk dibudidayakan di
Taman Hutan Raya Djuanda Bandung dari usia bibit ke
usia penanaman, karena untuk menumbuhkan
tumbuhan ini diperlukan lingkungan yang sesuai
seperti habitat asalnya yaitu di hutan tropis. Sementara
untuk penyebarannya di hutan tropis cukup cepat.
Lokasi persebaran Pohon Bisoro (Ficus hipsida) +/- 10
m ke arah Barat dari gedung pusat informasi Taman
Hutan Raya Djuanda Bandung (dekat mushola,
sebelum jogging track) dan di sekitar Gua Jepang.
Manfaat Ficus hipsida
Manfaat dari tanaman Ficus hispida ini daunnya
dapat dijadikan ampelas dan dapat dimanfaatkan dalam
pengobatan tradisional untuk berbagai penyakit seperti
antidiare, astringent, hepatoprotektif, antitusif,
antipiretik, anti inflamator, hemostatik, agen anti ulkus,
dan anemia (Mandal dan Kumar, 2002 ; Peraza Sanchez
dkk., 2002). Buahnya telah banyak digunakan sebagai
pengobatan tradisional di India dan Nepal sebagai pakan
Upaya(Kumar
ternak Pelestarian
dkk.,Ficus
2012).hispida
Upaya Pelestarian tanaman Ficus hispida ini diantaranya
adalah pertama dengan membuat bibit Ficus hispida agar
bisa ditanam kembali dan diperbanyak agar tidak punah.
Yang kedua dilakukan dengan cara membuat proyek
taman hutan raya dengan menanam Ficus hispida seperti
yang telah dilakukan di daerah Yogyakarta yang ditanam
oleh Pemerintah Daerah DIY pada proyek Taman Kehati
di Desa Tepus, Kabupaten Gunung Kidul sebagai
keanekaragaman tumbuhan lokal di DIY (Kehati, 2009
dalam Fitria dkk., 2015).

Hubungannya dengan Fisiologi Tumbuhan


Tanaman Ficus hispida ini tergolong tumbuhan berumah
dua dengan setiap individu memproduksi syconia betina
yang mengandung bunga betina yang akan menjadi bakal
biji buah, sedangkan syconia jantan mengandung pollen
(Lee dkk., 2013). Pohon bisoro akan mulai berbuah pada
usia 3 tahun dengan buah bergerombol sekitar 10-20
buah dalam sebuah tandan (Lee dkk., 2013) ini
menunjukkan bahwa perbuahan tanaman ini tergolong
lama.
Fagraea fragnans

Tembesu

Gambar 63. Pohon Fagraea fragnans


(Dokumentasi Kelompok 8A, 2018)
Gambar 64. Daun Fagraea
fragnans
(Dok. Kelompok 8A, 2018)

Gambar 65. Buah Fagraea


fragnans
(Mindawati dkk, 2014)

Gambar 66. Bunga Fagraea


fragnans
(Mindawati dkk, 2014)

Kingdom : Plantae
Diviso : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Sub-classis : Asteridae
Ordo : Apocynales
Familia : Loganiaceae
Genus : Fagraea
Species : Fagraea fragnans
Deskripsi Tanaman Fagraea fragnans

Persebaran pohon di Indonesia, Malaysia,


Thailand, Myanmar, Filipina Habitus pohon dengan
tinggi mencapai 40 meter, usia tahunan. Kulit luar
berwarna coklat sampai hitam dan sedikit mengelupas.
Kayu keras berwarna kuning emas tua atau coklat
jingga, tekstur kayu halus sampai agak halus.
permukaan kayu agak mengkilap.

Daunnya berbentuk lanset hingga bulat telur-


lonjong, pertulangan daun brachidodromous. Akar
tunggang kokoh. Bunga majemuk berbau
wangi, korola berwarna putih kekuning-kuningan.
Buah tunggal berbentuk bulat berwarna hijau atau
kuning pada saat muda dan berwarna merah atau
orange bila telah masak. Musim berbunga / berbuah
sekitar bulan April - Juni
Manfaat Fagraea fragnans
Manfaat dari tanaman Frgrarea fragrans ini
Kayunya digunakan untuk kontruksi balok jembatan dan
bangunan rumah, daunnya dimanfaatkan untuk obat-
obatan tradisional selain daun rebusan ranting dan
cabang juga biasa di konsumsi sebagai minuman di
malaysia (Kumar dkk., 2012).

Upaya Pelestarian Frgrarea fragrans


Upaya Pelestarian tanaman Frgrarea fragrans ini
diantaranya adalah pertama dengan membuat bibit
Frgrarea fragrans agar bisa ditanam kembali dan
diperbanyak agar tidak punah. Selain itu, dilakukan
dengan cara merendam bijinya selama 24 jam untuk
dapat berkecambah. Membuat peraturan di daerah
Kalimantan jika menebang tanaman tersebut sebanyak
satu pohon makan wajib menamam kembali pohon
Frgrarea fragrans (Kehati, dalam Fitria dkk., 2015).

Hubungannya dengan Fisiologi Tumbuhan


Tanaman Frgrarea fragrans ini tergolong
tumbuhan berumah dua dengan setiap individu
memproduksi syconia betina yang mengandung bunga
betina yang akan menjadi bakal biji buah itu artinya
tanaman ini tidak akan bisa berkembang biak jika hanya
ada satu tanaman. Pohon Tembesu akan mulai berbuah
pada usia 3 tahun dengan buah bergerombol sekitar 10-
20 buah dalam sebuah tandan (Lee dkk., 2013)
menunjukkan perbuahan tanaman ini tergolong lama.
Dipterocarpus retusus

Keruing Gunung

Gambar 68. Dipterocarpus retusus


(Dokumentasi Kelompok 9, 2018)
Gambar 69. Batang D. retusus Gambar 70. Daun D. retusus
(Dokumentasi Kelompok, 2018) (Setiadi, 2015)

Gambar 71. Bunga D. retusus Gambar 72. Buah D. retusus


(Silviculture, 2014) (Rxburgh, 2014)

Kingdom : Plantae
Diviso : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Malvales
Familia : Dipterocarpaceae
Genus : Dipterocarpus
Species : Dipterocarpus retusus
Deskripsi Tanaman Dipterocarpus retusus
Tinggi pohon Dipterocarpus retusus mencapai
50 meter, diameternya 150 cm. Batangnya tegak,
lurus, dengan kulit luar yang berwarna abu-abu coklat
dan mengelupas dalam kepingan besar (Satria, Tanpa
Tahun).
Kayu gubalnya tebal dan berwarna putih
kekuningan sampai kuning tua. Keawetan dan
kekuatan kayunya digolongkan dalam kelas III dan II,
dan berat jenisnya 0,73 (Satria, Tanpa Tahun).
Daunnya tunggal, tersusun berselang-seling,
lebar, panjang tangkai daunnya 3-6 cm berbentuk
jorong, agak berbulu dan tulang daun terlihat amat
jelas (Satria, Tanpa Tahun).
Perbungaan tunggal atau dalam tandan pendek
yang bercabang-cabang. Bunganya besar,
aktinomorf, berkelamin 2, daun kelopak 5 helai, tidak
gugur, menyatu menjadi tabung yang membungkus
bakal buah, dua helai diantaranya panjang dan
selebihnya pendek (Satria, Tanpa Tahun).
Buahnya berukuran besar, terbungkus kelopak,
sering dengan pelebaran tabung kelopak serupa sayap
sempit atau gigir membujur di sisi luar, sebanyak lima
buah. Taju atau cuping kelopak di ujung buah
membentuk dua sayap yang besar dan tiga taju kecil
serupa telinga berukuran kecil (Satria, Tanpa Tahun).
Manfaat Dipterocarpus retusus
Kayu Keruing Gunung sebagai salah satu kayu yang
memiliki kelas awet II dan kelas kuat II. Kayu Keruing
Gunung dapat dipakai sebagai bahan bangunan rumah,
perahu dan kadang-kadang alat rumah tangga Keruing
Gunung memiliki potensi sebagai obat. Ekstrak kloroform
pada daun dan ekstrak etil asetat pada kulit paling aktif
dalam menghambat bakteri Staphylococcus aureus. Kedua
ekstrak teraktif tersebut memiliki nilai daya hambat, yaitu
ekstrak fraksi kloroform daun sebesar 17,5 mm dan
ekstrak etil asetat kulit sebesar 17 mm (Aziz, dkk., 2017).

Upaya Pelestarian Dipterocarpus retusus


Upaya pelestraian tanaman Dipterocarpus retusus
atau Keruing Gunung ini bisa dilakukan dengan cara
membuat kebun benih atau melakukan pembibitan dan
penanaman secara berkala di wilayah-wilayah yang sesuai
dengan habitat tanaman ini. Selain itu, proses penebangan
dilakukan dengan sistem tebang pilih dan reboisasi atau
penanaman kembali tanaman Dipterocarpus retusus.

Hubungannya dengan Fisiologi


Semua jenis keruing menghasilkan semacam
ooleoresin yang dikenal dengan minyak keruing yang
digunakan untuk memakal (mendempul) perahu, sebagai
pernis perabotan rumah atau dinding. Resin yang lebih
kental dikenal dengan damar. Batang keruing dilukai
sehingga akan mengeluarkan cairan resin.
Khaya anthotheca

Mahoni Uganda

Gambar 75. Khaya anthotheca


(Dokumen Pribadi Kel. 9A,
2018)
Gambar 76. Daun Khaya Gambar 77. Batang Khaya
anthotheca anthotheca
(Wursten, 2007) (Dok. Kelompok 9A, 2018)

Gambar 78. Bunga Khaya Gambar 79. Buah Khaya


anthotheca anthotheca
(Hyde, 2016) (Baumann, 2009)

Kingdom : Plantae
Diviso : Tracheophyta
Classis : Magnoliopsida
Sub-classis : Rosidae
Ordo : Sapindales
Familia : Meliaceae
Genus : Khaya
Species : Khaya anthotheca
Deskripsi Tanaman Khaya anthotheca
Struktur batang Khaya anthotheca bulat,
berdiameter hingga 120 cm, percabangan banyak hingga
membentuk kanopi payung yang sangat rimbun, arah
pertumbuhan tanaman mahoni tegak lurus ke atas, kulit
batang luarnya berwarna cokelat kehitaman yang beralur
dangkal seperti sisik dan mengelupas setelah tua
(Masano, 1997).
Daun Khaya anthotheca yaitu majemuk, terdiri dari
3-7 pasang daun. Panjang daun berkisar 150-300 mm
warna hijau mengkilap gelap dengan dasar meruncing
secara luas dan sedikit asimetris. Tekstur halus dan
mengkilap (Masano, 1997).
Khaya anthotheca memiliki mahkota bunga yang
padat. Bunga muncul di ujung cabang. Berwarna putih
dan beraroma manis. Ukuran bunga hingga 10 mm.
Bunga jantan dan betina terpisah tetapi di pohon yang
sama. Benang sari bergabung untuk membentuk tabung
hingga 6 mm. Periode pembuahan dari bulan September
hingga Desember (Masano, 1997).
Buah Khaya anthotheca keras, berkayu, oval,
membelah kapsul hingga diametrer 60 mm, dengan 4
atau 5 katup, biji bersayap. Buah-buahan terjadi dari
bulan Maret hingga September (Masano, 1997).
Manfaat Khaya anthotheca
Kayunya untuk kontruksi ringan, bantalan kereta api,
pertukangan, bahan bakar pembuatan arang dan lain-lain.
Kulit batang coklat keabu-abuan dan digunakan
dalam pengobatan tradisional untuk mengobati pilek,
demam, radang paru-paru, sakit perut, muntah, kencing
nanah, impotensi pria, luka-luka dan bisul. Ini juga
merupakan sumber pewarna coklat kemerahan.
Ekstrak bijinya berguna sebagai obat anti serangga.
Minyak dari biji digunakan untuk melawan kutu
rambut. Akar digunakan untuk anemia, disentri dan prolaps
rektal (Masano, 1997).

Upaya Pelestarian Khaya anthotheca


Pemeliharaan pohon mahoni dapat dilakukan dengan
teknik penyulaman, penyiangan, pendangiran, dan
pemupukan secara rutin. Dapat tumbuh pada daerah dengan
curah hujan antara 1500 mm–3000 mm pertahun.
Tumbuh pada tanah dengan kandungan liat lebih dari
50 %. Umumnya bersifat asam sampai netral dengan pH
antara 4,30 - 6,40.
Tumbuh di ketinggian 50m-300 m (optimum), masih
dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian lebih dari 600m
diatas permukaan laut (Masano, 1997).

Hubungannya dengan Fisiologi Tumbuhan


Ekstrak biji dan minyak dari biji Khaya anthotheca
dapat berfungsi sebagai bahan pestisida (Institut Pertanian
Bogor, Tanpa Tahun). Pada musim kemarau pohon Khaya
anthotheca menggugurkan daunnya (Meranggas) yang
bertujuan untuk mengurangi penguapan (Oodel, 2017).
Penutup
KESIMPULAN

Tanaman yang berpotensi langka yang berada di


Taman Hutan Raya Ir. Juanda Bandung diantaranya yaitu
Litsea glutinosa (Huru / adem ati), Cinnamomum
parthenoxylon (Ki Sereh), Ficus fistulosa (Beunying),
Kigelia africana (Sosis), Baccaurea javanica (Menteng),
Terminalia kaernbanchii (Katapang), Ochoroma
pyramidale (Balsa), Gynostoma sumatranum (Cemara
Gunung), Taxodium distichiumi (Meniran), Phyllanthus
virgatus (Cemara Meksiko), Ficus glomerata (Loa),
Pterospermum celebicum (Bayur Sulawesi), Ficus
variegata (Ara Kondang), Hopea odorata (Chengal Pasir),
Ficus hispida (Bisoro), Fragraea fragrans (Tembesu),
Dipterocarpus rotusus (Keruing Gunung), Khaya
anthotheca (Mahoni Uganda). Upaya pelestarian yang
dilakukan oleh pihak pengelola Taman Hutan Raya Ir.
Juanda diantaranya melakukan pembibitan, penanaman,
dan pemeliharaan tanaman secara berkala. Hal tersebut
dilakukan untuk menjaga tanaman yang berpotensi langka
agar tidak punah.
DAFTAR PUSTAKA

Agromedia. (2008). Buku Pintar Tanaman Obat.


Tangerang: Agromedia Pustaka.
Akliyah. (2010). Nilai Ekonomi Taman Hutan Raya Ir. H.
Juanda Kota Bandung Dengan Metode Biaya
Perjalanan. Jurnal Perencanaan Wilayah Kota,
10(2), 1-9.
Anas dan Yayang. (2012). Pertelaan Jenis Pohon Koleksi
Arboretum. [Online]. Diakses dari: http://balitek-
agroforestry.org/btpaciadmin/content/publikasi
Fdownload/PERTELAAN_JENIS_POHON_ARBO
RETUM.pdf.
Anominus. (2015). Flora. [Online]. Diakses dari:
http://www.proseanet.org/florakita/. [23 Desember
2018].
Anugrah. (2017). Ciri-ciri Tanah dan Jenisnya beserta
Sifat dan Gambarnya. [Online] Diakses dari :
https://hidupsimpel.com/ciri-ciri-tanah/.
Aziz, dkk., 2017. Karakteristik Populasi Dan Potensi
Bioprospeksi Keruing Gunung (Dipterocarpus
retusus Bl.) Di Taman Nasional Gunung Rinjani,
Provinsi Ntb. [Online]. Diakses dari: https://
repository.ipb.ac.id/ handle/123456789/78651
Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional.
(2008). Indonesia dan Obat Tradisional. [Online].
Diakses dari: www. litbang. depkes. go.id
Borrega. (2015). Mechanics of balsa (Ochroma
pyramidale) wood. [Online]. Diakses dari
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0
167663615000216
Buana, Ika. (2017). Senyawa Flavonoid Di Dalam
Tumbuhan. [Online]. Diakses dari:
http://www.farmasi.fkunissula.ac.id [23 Desember
2018].
Conner. (1988). Natural and artificial regeneration of
baldcypress [Taxodium distichum (L.) Rich.] in the
Barataria and Lake Verret basins of Louisiana. Baton
Rouge: Louisiana State University.
Departemen Kehutanan. (2002). Data Strategis Kehutanan.
Departemen Kehutanan. Jakarta.
Dony. (2017). Cara Mengatasi Tanaman Langka di
Indonesia. [Online]. Diakses dari:
https://ilmugeografi.com/biogeografi/cara-
melestarikan-tanaman-langka. (25-12-2018).
Farjon, A. (2005). Monograph of Cupressaceae and
Sciadopitys. Florida: Royal Botanic Gardens.
Fern, K. (2014). Baccaurea javanica. [Online]. Diakses
dari:
tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Baccaure
a+javanica.
Fitria, L., R.D.P. Suranto dan I.D. Utami. (2015). Uji
potensi buah luwingan (Ficus hispida L.f) sebagai
penurun kadar kolesterol darah dengan hewan model
tikus Wistar (Rattus norvegicus Berkenhout, 1769)
hiperlipidemia. Penelitian BOPTN. Fakultas Biologi
UGM.
Fokus Litbang 29 Januari 2013. Balai Penelitian
Kehutanan Banjarbaru. [Online]. Diakses dari: http://
foreibanjarbaru.or.id/archives/471?cat=12.
Haegens, R. (2000). Taxonomy, phylogeny and
biogeography of Baccaurea, Distichirhops and
Nothobaccaurea (Euphorbiaceae). Blumea
(Supplement) 12 : 1-217.
Hani, dkk.. (2010). KISEREH (Cinnamomum
parthenoxylon (Jack) Meissn.), JENIS POHON
SERBAGUNA DAN POTENSIAL UNTUK HUTAN
RAKYAT. [Online]. Diakses dari:
http://www.fordamof.org/files/
KISEREH(Cinnamomumparthenoxylon(Jack)Meiss
n.).pdf
Institut Pertanian Bogor. (Tanpa tahun). Menduga variasi
dan diferensiasi genetik antar spesies (interspecific
variation) lima spesies pohon anggota Meliaceae
yaitu S. macrophylla, S. ahagoni, M. azedarach, A.
indica, dan K. anthotheca. [Online]. Diakses dari:
https://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/12345678
9/60346/2/BAB%20I%20Pendahuluan.pdf.
Jia, Q., X. Liu, X. Wu, R. Wang, X. Hu, X. Li dan Huang.
(2001). Hypoglycemic activity of a polyphenolic
oligomer-rich extract of Cinnamomum parthenoxylon
bark in normal and streptozotocin-induced diabetic
rats. Journal of Tropical Ecology Phytomedicine,
Volume 16, Issue 8, Pages 744-750. Cambridge
University Press.
Kondo, M, et al. (2004). Feeding Value to Goats of Whole-
crop oat ensiled with green tea waste. Anim. Feed Sci.
Technol. 113: 71-81.
Kumar, K.S. and K.L.S. Kumar. (2012). Hepatoprotective
Effect of 50% Ethanolic Extract of Ficus hispida Linn
Against CCl4, Induced Hepatotoxixity in Rats.
European Journal of Biological Sciences 4(1): 01-04.
Lansky
Lee, S.H., A.B.C. Ng, K.H. Ong, T. O’Dempsey and H.
T.W. Tan. (2011). The status and distribution of
Ficus hispida L.f. (Moraceae) in Singapore. Nature in
Singapore. Vol.6:85-90.
Lestari, R. dan R. Sari. (2005). Penggalian Data Pendukung
Domestikasi dan Komersialisasi Jenis, Spesies, dan
Varietas Tanaman Buah di Kebun Raya Bogor. hal.
101-120. Prosiding Lokakarya Domestikasi &
Komersialisasi Tanaman Hortikultura. Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat
Penelitian dan Pengembangan Hortikultura,
Departemen Pertanian.
Mandal S.C., and Ashok Kumar C.K. (2002). Studies on
anti-diarrhoeal activity of Ficus hispida leaf extract
in rats. Fitoterapia. Vol. 73:663–667
Martawijaya A, Kartasujana I, Kadir K, Prawira SA.
(1981). Atlas kayu Indonesia. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Bogor.
Masano. (1997). Teknik Penanaman Khaya Anthotheca.
Info Hutan No. 81. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Badan
Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.
Departemen Kehutanan Bogor.
Mentari, SN, et al. (2017). Peran Akar Kayu Bayur
(Pterospermum sp.) Terhadap Fermentasi Nira Aren
(Arenga pinnata). CHEMICA 18 (2), 90-95.
Munawaroh, E. (2001). 81-88. Potensi Baccaurea sp.
Sebagai Penghasil Buah-buahan dan Usaha
Pelestariannya di Kebun Raya Bogor. hal. 81-88.
Dalam: Darnaedi, D., Y. Purwanto, H.M. Hadad E.A.,
Sudarmono, S. Hartini, dan D. Latifah (ed.).
Prosiding Seminar Hari Cinta Puspa dan satwa
Nasional. Pusat Konservasi Tumbuhan, Kebun Raya
Bogor, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia,
Bogor.
Nurhayati, T., Setiawan dan Mahpudin. (1997). Hasil
Destilasi Kering 15 Jenis Kayu. Buletin Penelitian
Hasil Hutan. 15(4) p. 291-298. Badan Litbang
Kehutanan. Bogor.
Oodel. (2017). 5 tumbuhan yang menggugurkan daunnya
saat kemarau beserta sebab. [Online]. Diakses dari:
https://brainly.co.id/tugas/11318112
Permata. (2018). Tanah Kapur. [Online] Diakses dari:
https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/tanah/tanah-
kapur
Pramono, A., dan Rustam, E. (2015). Karakteristik
Morfologi serta Perkembangan Fig Nyawai (Ficus
variegata Blume) Di Kebun Raya Cibodas. Jurnal
Perbenihan Tanaman Hutan. 3(2): 101-113.
Riadi. (2016). Banyak Pohon Langka di Tahura Djuanda.
Pikiran Rakyat. 4 Mei 2016
Rusmana. (2013). Teknik Produksi Bibit dan Prospek
Pengembangan Hutan Tanaman Nyawai (Ficus
variegata Blume.).
Sancoyo. (2017). Pohon Sosis (Kigelia africana). [Online].
Diakses dari: http://krbogor.lipi.go.id/id/Pohon-
Sosis-Kigelia-africana-Lam-Benth.html.
Satria. (Tanpa Tahun). Buku Jurnal Berbahasa Indonesia
(Keruing). [Online]. Diakses dari: http://pohon-
kayu.dy. web.id/id3/1377-1267/Keru
ing_50642_pohon-kayu-dy.html
Singh, dkk. (2013). Development Of Quality Control
Parameter For the Standadization Of Fruit Of Ficus.
207-213.
Sumarni, G., Muslich, M., Hadjib, dkk. (2009). Sifat dan
Kegunaan Kayu: 15 Jenis Andalan Setempat Jawa
Barat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil
Hutan. Bogor.
Sumarno. (2018). Dendrologi Hutan : Casuarinaceae.
[Online]. Diakses dari
http://www.academia.edu/9473822/DENDROLOGI
_HUTAN_CASUARINACEAE
Suryanto, Susen C.P. (2016). Pesona 101 Pohon Di
TAHURA Ir. H. Djuanda. Bandung: Perhimpunan
Insan Kreatif dan Pecinta Lingkungan Semanggi.
Tanpa nama. (2018). Ki Sereh. [Online]. Diakses dari:
http://silentnature.net/ki-sereh/
Thomson, L. A. J., dan Evans, B. (2006). Terminalia
catappa: Tropical Almond. Species Profiles for
Pacific Island Agroforestry. 2(1).
Twins, Ryana (2017). 11 Manfaat Buah Loa atau Buah Ara
untuk Kesehatan. [Online]. Diakses dari:
https://manfaat.co.id/manfaat-buah-loa [18
Desember 2018].
Uji, T. (1992). Baccaurea Lour. In Verheij, E.W.M. and
R.E. Cornel, (eds.). Plant Resources of South East
Asia No.2. Edible fruits and nuts. Leiden: Backhuys
Publishers. Pp. 98-100.
Whitten, T., Soeriaatmadja, R. E., Afiff, S. A., dkk. (1999).
Ekologi Jawa dan Bali. Jakarta: Prenhallindo.
Wickneswari, R. S.L Lee & D. Mariam.(1995). Utility of
RAPD markers in detecting genetic variation in
multiple seedlings of Hopea odorata Roxb.
(Dipterocarpaceae). Malaysia Forester 58(2): 42-50

.
DAFTAR PUSTAKA GAMBAR

Gambar 1. Pohon Cinnamomum parthenoxylon.


http://treewalks.gov.hk/images/tree/photo/t0046_0101_
photo.jpg
Gambar 2. Akar Pohon Cinnamomum parthenoxylon.
https://hejogeulis.files.wordpress.com/2014/02/
100_1517.jpg
Gambar 4. Daun Cinnamomum parthenoxylon.
https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/en/th
umb/3/33/Cinnamomum_parthenoxylon.JPG/220pxCin
namomum_parthenoxylon.JPG (Diakses tanggal 17
Desember 2018)
Gambar 11. Buah Litsea glutinosa.
https://1.bp.blogspot.com/-
CZTxSZR2to4/V76PH1Ou_dI/AAAAAAAAH-
Y/4cRQQ6TbrFIdzUhuVdmH_c7q0uCTdnxRwCLcB/s
1600/Manfaat%2Bdan%2BKhasiat%2BTanaman%2BA
dem%2BAti%2B%2528Litsea%2BGlutinosa%2BC.D.
%2529.jpg
Gambar 13. A. Daun tunggal, B. Bunga & buah, C. Buah
majemuk semu.
https://borneoficus.info/2018/06/09/ficus-fistulosa-
male-female-figs-compar ed/
Gambar 15. Bunga Kigelia africana (Bunga Majemuk)
https://www.gettyimages.in/detail/photo/sausage-tree-
flowers-royalty-free-image/570862477
Gambar 16. Buah Kigelia africana (Buah Tunggal)
https://www.gettyimages.in/photos/sausage-
tree?sort=mostpopular& mediatype=
photography&phrase=sausage%20tree#license
Gambar 17. Daun Kigelia africana (Daun Majemuk)
http://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:nam
es:109874-1
Gambar 20. Daun Katapang
https://en.wikipedia.org/wiki/Terminalia_(plant)
Gambar 21. Buah Katapang
http://www.viveroanones.com
Gambar 25. Buah Menteng
https://www.flickr.com/photos/rarefruit/6084448606

Gambar 27. Daun dan Bunga Balsa


http://www.adenium-sib.ru/shop/1283/desc/ochroma-
pyramidale-ili-balsa-piramidalnaja-semena
Gambar 28. Buah Balsa
https://biogeodb.stri.si.edu/bioinformatics/dfm/metas/
view/9383
Gambar 30. Daun Cemara Gunung
http://www.natureloveyou.sg/Gymnostoma%20sumat
ranum/Main.html
Gambar 31. Strobilus Cemara Gunung
http://www.natureloveyou.sg/Gymnostoma%20sumat
ranum/Main.html
Gambar 35. Bunga Phyllanthus sp.
https://www.marinelifephotography.com/flowers/phylla
nthaceae/phyllanthus-debilis.htm
Gambar 38. Strobilus Betina Toxodium distichum
https://florafaunaweb.nparks.gov.sg/Special-
Pages/plant-detail.aspx?id=3176.
Gambar 39. Strobilus Jantan Toxodium distichum
https://www.flickr.com/photos/abizeleth/2060549524/
Gambar 42. Bunga Ficus glomerata
http://mesosyn.com/phaleria-01.jpg
Gambar 43. Buah Ficus glomerata
https://thumbs.dreamstime.com/b/photograph-fruits-
gular-figs-cluster-fig-tree-indian-scientific-name-
ficus-racemosa-glomerata-roxburghii-105836207.jpg
Gambar 46. Buah Pterospermum celebicum
http://silentnature.net/bayur/
Gambar 47. Bunga Pterospermum celebicum
https://floradanfaunaindonesia.wordpress.com/2014/1
2/07/flora-di-indonesia/
Gambar 49. Buah Ficus variegata.
http://tropical.theferns.info/image.php?id=
Ficus+variegata#plantimages/1/8/182fd431652fb673b
9c5dbda62d1fb77778fccfa.jpg
Gambar 50. Daun Ficus variegata.
http://tropical.theferns.info/image.php?id=
Ficus+variegata#plantimages/0/3/031ea0d5220d95b6
9a4f89f4c258eefd8942b9a2.jpg
Gambar 51. Buah Ficus variegata.
http://tropical.theferns.info/image.php?id=
Ficus+variegata#plantimages/8/e/8e241d9d2b8fda8b1
ad780ae176656d10757dfd4.jpg
Gambar 53. Pohon Hopea odorata.
http://tropical.theferns.info/plantimages/9/e/9e
762fa828a55040a6f1079503fa4625d04b77c8.jpg
Gambar 55. Biji Hopea odorata.
http://tropical.theferns.info/plantimages/0/e/0e726d3d
c8f42577c69d2cafec2427df70802a5a.jpg
Gambar 56. Daun Hopea odorata.
http://tropical.theferns.info/plantimages/7/5/75ff42b7
2efc51e85130bc85a646af089aea60b9.jpg
Gambar 57. Bunga Hopea odorata.
http://tropical.theferns.info/plantimages/d/5
/d551bf2e71893caba6d50abf283635b50b98914b.jpg
Gambar 61. Buah Ficus hispida.
https://florafaunaweb.nparks.gov.sg/Special-Page
s/plant-detail.aspx?id=8062.
Gambar 62. Bunga Ficus hispida.
http://www.figweb.org/Ficus/Subgenus_
Sycomorus/Section_Sycocarpus/Subsection_Sycocarp
us/Ficus_hispida.htm.
Gambar 65. Buah Fagraea fragnans.
Tembesu Kayu Raja Andalan Sumatera. Palembang:
PT Rambang.
Gambar 66. Bunga Fagraea fragnans.
Tembesu Kayu Raja Andalan Sumatera. Palembang:
PT Rambang.
Gambar 70. Daun Dipterocarpus retusus.
https://theadiokecenter.files.word
press.com/2015/08/dipterocarpusretusus_2.jpg?w=7
23&h=542
Gambar 71. Bunga Dipterocarpus retusus.
http://english.xtbg.cas.cn/rs/ma/201
702/W020170222373734217436.jpg
Gambar 72. Buah Dipterocarpus retusus.
http://4.bp.blogspot.com/9dxAAkN
3ZKk/UsjG3X1pgKI/AAAAAAAALmg/RU87NIF
BFyc/s1600/Dipterocarpus+retusus+Blume.jpg
Gambar 76. Daun Khaya anthotheca.
https://www.mozambiqueflora.com/species
data/image-display.php?species_id=1334
40&image_id=4
Gambar 78. Bunga Khaya anthotheca.
https://www.mozambiqueflora.com/speciesdata/ima
gedisplay.php?species_id=133440&im age_id=21
Gambar 79. Buah Khaya anthotheca.
http://www.africanplants.senckenberg.de
/root/index.php?page_id=78&id=2871#image=3784
5
Foto-Foto Kegiatan
FOTO-FOTO KEGIATAN

(Dok. kelompok 1A, 2018)

(Dok. kelompok 2A, 2018)


FOTO-FOTO KEGIATAN

(Dok. kelompok 3A, 2018)

(Dok. kelompok 4A, 2018)


FOTO-FOTO KEGIATAN

(Dok. kelompok 5A, 2018)


FOTO-FOTO KEGIATAN

Kelompok 9

(Dok. kelompok 6A, 2018)

(Dok. kelompok 7A, 2018)


FOTO-FOTO KEGIATAN

(Dok. kelompok 8A, 2018)

(Dok. kelompok 9A, 2018)

Anda mungkin juga menyukai