Anda di halaman 1dari 19

PERAN SUNAN GUNUNG DJATI DALAM PENYEBARAN ISLAM DI

JAWA BARAT

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Pada Mata Kuliah Sejarah Islam Sunda Dosen
Pengampu: Moeflich Hasbullah, MA dan Usman Supendi, M.Pd

Oleh:

Fahmi M Lutfi 1155010037


Iis Listari 1145010061
Jawad Mughofar KH 1145010071

JURUSAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM


FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016
KATA PENGANTAR
Bismillaahirrahmaanirrohiim,
Puji syukur Kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Esa atas petunjuk, rahmat,
dan hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan tugas ini tanpa ada halangan
apapun sesuai dengan waktu yang telah di tentukan.
Makalah ini di susun dalam rangka memenuhi tugas terstruktur pada mata
kuliah Ilmu Sejarah Islam Sunda. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat
penyusun harapkan.
Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penyusun dan
umumnya bagi para pembaca. Aamiin.

Bandung, 09 Maret 2016

Penyusun,

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............................................................................... 1


B. Rumusan Masalah .......................................................................... 3
C. Tujuan ............................................................................................ 3

BAB II PEMBAHASAN

A. Biografi Sunan Gunung Djati ........................................................ 4


B. Peran Sunan Gunung Djati Dalam Penyebaran Islam Di Jawa
Barat ............................................................................................... 9

BAB III PENUTUP

A. Simpulan ........................................................................................ 14

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Sartono Kartodiordjo (1987) para penguasa kerjaan di
Pesisir Pantai Utara Jawa selain memegang tampuk pemerintahan, juga
terlibat dalam perdagangan dan agama. Menurut De Graaf (2001) Sejak
abad 11 Masehi di pesisir Utara Jawa telah memiliki pemukiman-
pemukiman Muslim, sehingga Islam dapat berkembang di daerah tersebut.
Selain itu, cepatnya penyebaran agama Islam di pesisir maupun di
pedalaman Jawa tidak dapat dilepaskan dari peranan para wali yang
tergabung dalam kelompok Wali Songo. Secara politik, periode ini
merupakan pemantapan institusionalisasi Islam. Para wali di Pantai Utara
Jawa termasuk elite politik-religius.
Disamping kewibawaan ruhaniah menurut Sartono Kartodirdjo
(1987), mereka juga berperan di bidang politik, antara lain ada yang
memegang kekuasaan pemerintahan. Keterpaduan antara dua jenis
kekuasaan tidak bertentangan baik itu dengan konsep Islam tentang
kekuasaan maupun konsep (Hindu)-Jawa tentang kekuasaan raja. Peran
dan kedudukan para wali dapat dilihat dari beberapa karakternya di
antaranya adalah: 1. Wali tidak mengembangkan atau memperluas
wilayah, tetapi menjalankan pengaruh melalui lembaga-lembaga
pesantren seperti yang dilakukan oleh Sunan Giri. 2. Wali tidak
mengembangkan pengaruh politik dan mengembangkan kekuasaan politik
kepada tangan raja seperti yang dilakukan oleh Sunan Kudus, Sunan
Bonang, dan Sunan Kalijaga. 3. Wali mengembangkan wilayah dan
membuat lembaga kerajaan serta sekaligus mengembangkan agama Islam
seperti yang diperankan oleh Sunan Gunung Djati baik di Cirebon maupun
Banten.

1
2

Pada abad ke 15 dan 16 di Jawa Barat terdapat kerajaan Sunda


dengan pusat pemerintahannya di Pakuan Pajajaran. Kekuatan kerajaan
tersebut melemah setelah terjadi pemberontakan-pemberontakan dari
pelbagai daerah yang ingin melepaskan ikatan dengan Pakuan Pajajaran
seperti Cirebon, Galuh, Talaga, dan Banten. Menurut F. de Haan (1912:93),
bersamaan dengan melemahnya kerajaan Sunda, Agama Islam mulai
masuk dan menyebar di wilayah tersebut. Berdasarkan berita dari Tome
Pires, pengaruh Islam di Jawa Barat berasal dari Cirebon (Uka
Tjandrasasmita, 1975: 93). Jika berdasarkan berita dari Tome Pires, maka
Islam sudah ada di Cirebon sejak lebih kurang 1470-1475 Masehi (H. J. de
Graaf, 1952:153). Tetapi sampai sekarang belum ditemukan keterangan
yang pasti baik itu dari berita Tiongkok maupun Arab yang memberikan
penjelasan waktu tentang masuknya Islam ke Jawa Barat. Informasi
mengenai hal ini hanya dapat diterima dari sumber-sumber lokal seperti
yang dikutif oleh Hageman (1866) yang menyebutkan adanya Haji Purwa
di Galuh dan Cirebon pada tahun 1250 Tahun Jawa atau 1337 Tahun
Masehi.
Proses penyebaran dan perluasan Islam di Jawa Barat lebih banyak
dikisahkan melalui dua gerbang penyebaran yaitu Cirebon dan Banten.
Didua daerah itu dikuasai oleh seorang raja juga seorang ulama yaitu Sunan
Gunung Djati. Karena dua kekuasaan yang diperankannya yaitu kekuasaan
politik dan agama, dia mendapatkan gelar Ratu Pandita. Dibawah
kepemimpinannya dilakukan penyebaran agama Islam di Jawa Barat atau
Tatar Sunda dari dua pusat kekuasaan Islam yaitu Cirebon dan Banten.
Penjelasan lebih lanjut mengenai bagaimana sosok dan sepak
terjang dari Sunan Gunung Djati, insyaAllah akan di jelaskan dalam
makalah ini.
3

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka dapat
dibuat perumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana biografi Sunan Gunung Djati?
2. Bagaimana Peran Sunan Gunung Djati Dalam Penyebaran Islam
Di Jawa Barat?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan diatas, tujuan penyusunan makalah ini adalah
untuk:
1. Mengetahui bagaimana biografi Sunan Gunung Djati?
2. Mengetahui bagaimana Peran Sunan Gunung Djati Dalam
Penyebaran Islam Di Jawa Barat?
BAB II

PEMBAHASAN

A. Biografi Sunan Gunung Djati


Dalam buku Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara
(2014:150) dijelaskan tentang pengaruh pernikahan Islami prabu siliwangi
terhadap dinastinya. Dituturkan dalam Carita Purwaka Caruban Nagari,
1720. Dampak pernikahan menjadi sebab awal masuknya Islam di kalangan
istana Pakoean Padjadjaran. Dimulai pada masa Raden Manah Rarasa atau
Pamanah Rasa, lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi dari Pakoean
Padjadjaran dengan gelar Prabu Dewata Wisesa.
Prabu Siliwangi menikah dengan Nyai Subang Larang yang
merupakan santri dari Syekh Hasanuddin atau di kenal pula sebagai Syekh
Quro. Melalui pernikahan inilah menjadi sebab terjadinya Islamisasi Prabu
Siliwangi dan Dinastinya. Pernikahan tersebut dilaksanakan dengan Islami.
Dari hasil pernikahan tersebut melahirkan tiga orang anak yaitu: Walang
Sungsang (1423), Rara Santang (1426), dan Radja Sangara).
Dalam hal ini Rara Santang dari pernikahannya dengan Maulana
Sultan Mahmud atau Syarif Abdullah pun melahirkan Syarif Hidayatullah
atau Sunan Gunung Djati sebagai salah seorang dari Walisanga adalah cucu
Prabu Siliwangi.
Lebih lengkapnya dari Sunan Gunung Djati atau Syarif
Hidayatullah, yang tadi sudah di jelaskan bahwa ia adalah anak seorang
puteri raja Pajajaran bernama Rara Santang atau Syarifah Mada’in, yang
menikah dengan Maulana Sultan Mahmud atau Syarif Abdullah, yang
konon putera raja Mesir keturunan Bani Ismailiah. Syarif Hidayatullah
memiliki seorang saudara bernama Syarif Nurullah (Suhadi, 1995/1996:
84).
Pada masa remajanya Sunan Gunung Djati berguru kepada Syekh
Tajudin al-Kubri dan Syekh Ataullahi Sadzili di Mesir, kemudian ia ke
Baghdad untuk belajar Tasawuf (Budiono Hadi Sutrisno, 2009:162)

4
5

Ketika Syarif Hidayatullah berusia 27 tahun, sekitar tahun 1475 M,


ia kembali ke tanah Jawa dan bermukim di Caruban dekat Cirebon. Di
Cirebon, Syarif Hidayatullah kemudian menikah dengan Nyi Ratu
Pakungwati puteri dari Pangeran Cakrabuana, penguasa Cirebon. Setelah
Pangeran Cakrabuana berusia lanjut, kekuasaan atas negeri Cirebon
diserahkan kepada menantunya, yaitu Syarif Hidayatullah dan diberi
gelar Susuhunan atau Sunan (Suhadi, 1995/1996: 84).
Ketika Kerajaan Islam Demak mendengar adanya seorang penyiar
agama Islam di Cirebon, maka atas persetujuan para wali, Raden Fatah
selaku Sultan Demak menetapkan Syarif Hidayatullah sebagai Penetap
Penata Gama Rasul di tanah Pasundan bergelar Sunan Gunung Djati dan
termasuk salah seorang Wali Sanga. Tidak hanya itu, Sunan Gunung Djati
ditetapkan pula sebagai pengusa negeri Cirebon (Suhadi, 1995/1996: 84).
Dalam Babad Cirebon, Sunan Gunung Djati disebut Ratu Pandita. Artinya
Syarif Hidayatullah mempunyai fungsi rangkap yaitu sebagai wali,
penyebar agama Islam di Jawa Barat atau tanah Pasundan, dan sebagai raja
yang memerintah dan berkedudukan di Cirebon (Tjandrasasmita, 1999:
284-285). Dari Cirebon agama Islam dengan mudah disebarkan ke seluruh
wilayah Pasundan, sehingga hampir semua rakyat Sunda memeluk agama
Islam (Suhadi, 1995/1996: 84)
Setelah Sunan Gunung Djati diangkat menjadi salah seorang wali,
hubungan Cirebon dengan Demak semakin erat. Hubungan tersebut
kemudian dikuatkan dengan pernikahan puteri Sunan Gunung Djati
bernama Ratu Ayu dengan Pati Unus, putera Raden Fatah (Suhadi,
1995/1996: 84). Berita lain menyebutkan Ratu Ayu menikah dengan Sultan
Trenggana, dan setelah Sultan Trenggana wafat, Ratu Ayu menikah dengan
Fatahillah (Abdurachman, ed., 1982: 37)
Purwaka Caruban Nagari menyebutkan Sunan Gunung Djati
menikah dengan Nhay Kawunganten, puteri dari Pajajaran dan mempunyai
dua orang anak. Anak yang tertua bernama Sabakingking yang kemudian
bernama Hasanuddin menjadi Sultan Banten. Anak yang kedua bernama
6

Siti Winahon, lebih dikenal dengan nama Ratu Ayu yang kemudian
menikah dengan salah seorang sultan Demak (Edi S EkaDjati, 1992:32).
Selain dengan Nhay Kawunganten Sunan Gunung Djati juga
menikah dengan Nyi Mas Siti Babadan, dari Babadan, Cirebon.
Perkawinannya yang lain adalah dengan Rara Djati dari kalangan ningrat
Cirebon. Dari perkawinan ini lahir dua orang putera, yaitu Jaya Kelana dan
Brata Kelana. Brata Kelana kemudian dikenal dengan nama Pangeran Seda
Lautan (pangeran yang meninggal di laut). Isteri Sunan Gunung Djati yang
lain bernama Nyi Mas Tepasari dari daerah Bumiayu, Brebes, memiliki
putera bernama Pangeran Pasarean yang kemudian menurunkan para Sultan
Cirebon (Abdurachman, ed., 1982: 37).
Sunan Gunung Djati juga disebutkan menikahi seorang puteri dari
negeri Tiongkok bernama Ong Tien. Diceritakan bahwa pertemuan Sunan
Gunung Djati dengan Ong Tien terjadi ketika Sunan Gunung Djati
mengadakan kunjungan ke negeri Tiongkok. Dari pernikahan tersebut
mereka tidak dikaruniai anak (Abdurachman, ed., 1982: 37). Adanya
perkawinan antara Sunan Gunung Djati dengan Ong Tien dari Tiongkok
secara langsung maupun tidak langsung berdampak pula terhadap hubungan
dagang kedua negeri. Data arkeologi menunjukkan di sekitar Keraton
Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan di kompleks pemakaman Gunung
Sembung banyak ditemukan keramik yang berasal dari negeri Tiongkok
Pada usia 120 tahun tepatnya tahun 1568 Sunan Gunung Djati wafat
dan dimakamkan di Pasir Djati, yaitu di daerah Gunung Sembung, sekitar
15 kilometer sebelum Kota Cirebon dari arah barat (Agus Sunyoto,
2011:90). Setelah Sunan Gunung Djati wafat, pemerintahan di Cirebon
dilanjutkan oleh Pangeran Mas yang bergelar Pangeran Ratu atau
Panembahan Ratu (1570-1640) (Graaf, 1986: 254). Purwaka Caruban
Nagari menyebut Panembahan Ratu memerintah sampai tahun 1649, tetapi
sumber lain menunjuk tahun 1650.
Pada masa pemerintahan Panembahan Ratu, tahun 1628, terjadi
serangan Mataram terhadap VOC di Batavia, dan pada tahun itu pula terjadi
7

ikatan kekeluargaan melalui perkawinan antara kakak perempuan


Panembahan Ratu, yakni Ayu Sukluh dengan Mas Rangsang yang
kemudian menjadi Sultan Agung Mataram. Ikatan perkawinan ini
memperkuat hubungan antara Panembahan Ratu dengan Sultan Agung
Mataram, dan merupakan kelanjutan hubungan yang sudah dibina sejak dari
masa Senapati Ing Alaga (setelah menjadi raja bergelar Panembahan
Senapati). Diberitakan bahwa pada tahun 1590 Raja Mataram, Panembahan
Senopati, membantu Cirebon mendirikan atau memperkuat tembok yang
mengelilingi kotanya. Perkuatan kota Cirebon tersebut dilakukan oleh Raja
Mataram, karena ia menganggap Cirebon sebagai pertahanan keprajuritan
di bagian barat kerajaannya.
Setelah Panembahan Ratu wafat pada tahun 1649/1650, ia
digantikan oleh cucunya yaitu Panembahan Adiningkusuma, yang
kemudian bergelar Panembahan Ratu II. Tidak lama setelah diangkat
menjadi raja, ia diundang ke Mataram bersama isteri dan kedua anaknya,
yaitu Martawijaya dan Kartawijaya. Panembahan Ratu II sejak berada di
Mataram tidak pernah kembali lagi ke Cirebon sampai meninggal pada
tahun 1662. Makamnya di Girilaya, sehingga ia dikenal juga sebagai
Panembahann Girilaya.
Setelah Panembahan Girilaya wafat, kekuasaan Cirebon terpecah
menjadi dua akibat perebutan kekuasaan oleh kedua anaknya. Kekuasan
Cirebon kemudian dibagi menjadi dua, yaitu Panembahan Martawijaya
menjadi Sultan Sepuh I dengan gelar Abil Makarim Syamsudin, dan
Pangeran Kartawijaya menjadi Sultan Anom I dengan gelar Abil Makarim
Badrudin.
Di masa pemerintahan Sunan Gunung Djati sampai terpecahnya
Cirebon menjadi dua kekuasaan yaitu sekitar abad XVII sampai XVIII, di
Cirebon berkembang kegiatan sastra seperti kegiatan mengarang tembang
keagamaan Islam, yang disebut suluk, yang bercorak mistik. Hal ini
menunjukkan bahwa pengaruh ruhani Sunan Gunung Djati itu masih
berlangsung hingga abad XVIII.
8

Sunan Gunung Djati dikenal sebagai peletak dasar Islam di Banten.


Babad Banten menceritakan bahwa Sunan Gunung Djati dan puteranya
Hasanuddin datang dari Pakungwati (Cirebon) untuk mengIslamkan
masyarakat Banten. Awalnya mereka mereka datang ke Banten Girang,
kemudian ke selatan ke Gunung Pulosari, tempat 80 orangajar (pendeta
Hindu) tinggal. Mereka kemudian menjadi pengikut Hasanuddin.
Selanjutnya diceritakan, di lereng Gunung Pulosari, Sunan Gunung Djati
mengajarkan ilmu pengetahuan keIslaman kepada anaknya. Setelah selesai
mengajarkan ilmu keIslaman, Sunan Gunung Djati kemudian
memerintahkan anaknya supaya menyebarkan agama Islam kepada
penduduk Banten.
Permintaan Sunan Gunung Djati tersebut kemudian dilaksanakan
oleh Hasanuddin dengan berkeliling sambil berdakwah dari satu daerah ke
daerah lain. Dalam menyampaikan agama Islam kepada penduduk lokal,
Hasanuddin terkadang menggunakan cara-cara yang dikenal oleh
masyarakat setempat, seperti menyabung ayam ataupun mengadu kesaktian.
Cara-cara ini berhasil, terbukti dengan banyaknya pembesar negeri yang
memeluk agama Islam dan bersedia menjadi pengikut Hasanuddin.
Pada tahun 1525, seluruh daerah Banten dikuasai oleh tentara Islam
dari Demak dan Cirebon yang dibantu oleh pasukan Hasanuddin. Atas
petunjuk Sunan Gunung Djati, pusat pemerintahan yang berada di Banten
Girang di daerah pedalaman kemudian dipindahkan ke dekat pelabuhan
Banten. Pada pemindahan pusat pemerintahan Banten ke pesisir tersebut,
Sunan Gunung Djati pulalah yang menentukan lokasi dalem (istana),
benteng, pasar dan alun-alun yang harus dibangun. Ada beberapa alasan
pemindahan pusat pemerintahan tersebut dari Banten Girang ke daerah
dekat pesisir, yaitu:
a. Ekonomi, berdasarkan potensi maritimnya, Banten berpotensi sebagai
pelabuhan besar yang dapat menggantikan Sunda Kelapa.
b. Mistis religius, kota dan keraton yang ditaklukkan harus ditinggalkan,
karena dianggap sudah tidak memiliki kekuatan magis lagi.
9

c. Politik, memudahkan hubungan antara pesisir utara Jawa dan pesisir


Sumatera melalui Selat Sunda.
Di samping peran dalam proses pengIslaman di daerah Banten,
Sunan Gunung Djati bersama anaknya Hasanuddin selanjutnya memperkuat
dasar Islam di Banten. Hal ini dibuktikan dengan dengan dibangunnya
masjid dan tempat kegiatan keagamaan berupa pesantren
Ada dua masjid yang dibangun di kota Banten pada masa
pemerintahan Hasanuddin di daerah ini. Pertama, yaitu Masjid Agung
Banten yang terletak di pusat pemerintahan berdekatan dengan Keraton
Surosowan. Sementara masjid yang lainnya dibangun di daerah Pecinan
letaknya agak ke barat dari bagian kota. Masjid yang berada di Pecinan
tersebut telah runtuh, dan kini hanya tinggal menaranya saja. Adapun
Masjid Agung Banten masih berdiri kokoh hingga saat ini. Masjid ini
beratap tumpang lima susun, dan merupakan model atap tumpang masjid-
masjid kuna sebagaimana masjid-masjid lainnya di Jawa.
Dalam masyarakat Islam, masjid merupakan tempat paling utama
dalam mengembangkan syiar Islam. Hal ini diperkuat oleh beberapa
babad yang menyebutkan tentang peranan masjid sebagai tempat
bermusyawarah dan pertemuan untuk membahas masalah keagamaan.

B. Peran Sunan Gunung Djati Dalam Penyebaran Islam Di Jawa Barat


Proses penyebaran dan perluasan Islam di Jawa Barat lebih banyak
dikisahkan melalui dua gerbang penyebaran yaitu Cirebon dan Banten.
Didua daerah itu dikuasai oleh seorang raja juga seorang ulama yaitu Sunan
Gunung Djati. Karena dua kekuasaan yang diperankannya yaitu kekuasaan
politik dan agama, dia mendapatkan gelar Ratu Pandita. Dibawah
kepemimpinannya dilakukan penyebaran agama Islam di Jawa Barat atau
Tatar Sunda dari dua pusat kekuasaan Islam yaitu Cirebon dan Banten.
Menurut Hoesen Djajadiningrat (1913), setelah Sunan Gunung Djati
jadi penguasa Kerajaan Islam Cirebon, secara damai ia mengajarkan dan
menyebarkan agama Islam. Pada saat itu, beribu-ribu orang berdatangan
10

kepada Sunan Gunung Djati untuk berguru agama Islam. Pada awalnya
kepala-kepala daerah di sekelilingnya mencoba menentang gerakan itu.
Tetapi mereka melihat tentangannya tidak berguna, mereka membiarkan
diri mereka sendiri terseret oleh gerakan tersebut. Para bupati seperti Galuh,
Sukapura, dan Limbangan menerima dan memelukagama Islam dan
menghormati Sunan Gunung Djati. Para penguasa di sekitar Cirebon
menganggap bahwa Sunan Gunung Djati adalah sebagai peletak dasar bagi
dinasti sultan-sultan Cirebon.
Dalam menjalankan pemerintahannya, Sunan Gunung Djati
menggunakan sistem desentralisasi. Adapun pola kekuasaannya Kerajaan
Islam Cirebon menggunakan pola Kerajaan Pesisir, di mana pelabuhan
mempunyai peranan yang sangat penting dengan dukungan wilayah
pedalaman menjadi penunjang yang vital. Struktur pemerintahan Kerajaan
Islam Cirebon menurutCarita Purwaka Caruban Nagari, terdiri dari
Tumenggung sebagai pemimpin tertinggi, kemudian penasehat, dan
pimpinan tentara atau lasykar yaitu para Adipati, kemudian para pemimpin
wilayah yang lazim disebut dengan Ki Gedeng.Adapun program-program
yang dijalankan dalam memipin pemerintahan di Cirebon, menurut Sunarjo
(1983) Sunan Gunung Djati adalah intensitas pengembangan agama Islam
ke segenap penjuru Tatar Sunda. Sedangkan di bidang ekonomi Sultan
menekankan bidang perdagangan terutama dengan nagari-nagari di wilayah
Nusantara. Selain itu dikembangkan pula hubungan perdagangan dengan
negeri Campa, Malaka, Cina, India, dan Arab. Setelah membangunan
kekuatan-kekuatan ekonomi,
Sunan Gunung Djati sebagai kepala pemerintahan melakukan
penataan pemerintahan baik di pusat maupun di wilayah-wilayah nagari.
Untuk kelancaran pemerintahan, maka Sultan menempatkan kerabat-
kerabat dan ulama-ulama sebagai unsur pimpinan pemerintahan baik pusat
maupun daerah.Menyadari posisi Cirebon sebagai pusat penyebaran agama
Islam, pusat kekuasaan politik, serta pusat perekonomian yang sangat
strategis, maka Sunan Gunung Djati mempercepat pengembangan kota
11

tersebut. Untuk hal itu, maka ia menjalin hubungan dengan Kerajaan Islam
Pesisir Utara Jawa yaitu Kerajaan Islam Demak.

Dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa, Sunan Gunung


Djati tidak bekerja sendirian, beliau sering ikut bermusyawarah dengan
anggota wali lainnya di Masjid Demak. Bahkan disebutkan beliau juga
membantu berdrinya Masjid Demak. Dari pergaulannya dengan Sultan
Demak dan para Wali lainnya ini akhirnya Syarif Hidayatullah mendirikan
Kesultanan Pakungwati di Cirebon dan ia memproklamirkan diri sebagai
Raja yang pertama dengan gelar Sultan. Pada era Syarif Hidayatullah atau
lebih dikenal dengan gelar Sunan Gunung Djati dapat dikatakan sebagai era
keemasan (Golden Age) perkembangan Islam di Cirebon. Sebelum Syarif
Hidayatullah, Cirebon dipimpin oleh Pangeran Cakrabuana (1447-1479)
merupakan rintisan pemerintahan berdasarkan asas Islam, dan setelah Syarif
Hidayatullah, pengaruh para penguasa Cirebon masih berlindung di balik
kebesaran nama Syarif Hidayatullah (Matsukin HS, 2003:21-34)
Dengan berdirinya Kesultanan tersebut Cirebon tidak lagi mengirim
upeti kepada Pajajaran yang biasanya disalurkan lewat Kadipaten Galuh.
Tindakan ini dianggap sebagai pembangkangan oleh Raja Pajajaran. Raja
Pajajaran tak peduli siapa yang berdiri di balik Kesultanan Cirebon itu maka
dikirimkannya pasukan prajurit pilihan yang dipimpin oleh Ki Jagabaya.
Tugas mereka adalah menangkap Sunan Gunung Djati yang dianggap
lancang mengangkat diri sebagai raja tandingan Pajajaran. Tapi usaha ini
tidak berhasil, Ki Jagabaya dan anak buahnya malah tidak kembali ke
Pajajaran, mereka masuk Islam dan menjadi pengikut Sunan Gunung Djati.
Dengan bergabungnya prajurit dan perwira pilihan ke Cirebon maka makin
bertambah besarlah pengaruh Kesultanan Pakungwati. Daerah-daerah lain
seperti : Surantaka, Japura, Wana Giri, Telaga dan lain-lain menyatakan diri
menjadi wilayah Kesultanan Cirebon. Lebih-lebih dengan diperluasnya
Pelabuhan Muara Djati, makin bertambah besarlah pengaruh Kasultanan
Cirebon (Edi S EkaDjati, 1992:32).
12

Dalam Babad Cirebon dapat disimpulkan mengenai metode dakwah


yang dilaksanakan Sunan Gunung Djati, misalnya di tiongkok, yaitu di
mulai dari lingkungan terdekat tempat beliau menetap (tukang keramik dan
peci). Karena kemampuan dakwahnya akhirnya Islam menarik banyak
lapisan masyarakat, termasuk di kalangan para pembesar Tartar (Besa
Basuki Kertawibawa, 2009:177)
Sebagai anggota Wali Songo, secara umum dalam berdakwahnya
Sunan Gunung Djati menerapkan berbagai metode dalam penyebaran Islam
di tanah Jawa. Adapun ragam metode dakwahnya menurut Dadan Wildan
(2003) adalah sebagai berikut:
1. Metode “maw’izhatul hasanah wa mujahadalah bilati hiya ahsan”.
Dasar metode ini merujuk pada Al-qur’an surat An-Nahl ayat 125,
yang artinya: “Seluruh manusia kepada jalan tuhanmu dengan
hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara
yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu yang lebih mengetahui tentang
siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk”.
2. Metode “Al-Hikmah” sebagai sistem dan cara berdakwah para wali
yang merupakan jalan kebijaksanaan yang diselanggarakan secara
populer, atraktif, dan sensasional. Cara ini mereka pergunakan
dalam menghadapi masyarakat awam. Dengan tata cara yang amat
bijaksana, masyarakat awam itu mereka hadapi secara masal,
kadang-kadang terlihat sensasional bahkan ganjil dan unik sehingga
menarik perhatian umum.
3. Metode “Tadarruj” atau “Tarbiyatul Ummah”, dipergunakan
sebagai proses klasifikasi yang disesuaikan dengan tahap
pendidikan umat, agar ajaran Islam dengan mudah dimengerti oleh
umat dan akhirnya dijalankan oleh masyarakat secara merata.
Metode ini diperhatikan setiap jenjang, tingkat, bakat. Materi dan
kurikulumnya, tradisi ini masih tetap dipraktekan dilingkungan
pesantren.
13

4. Metode pembentukan dan penanaman kader serta penyebaran juru


dakwah ke berbagai daerah. Tempat yang dituju ialah daerah yang
sama sekali kosong dari pengaruh Islam.
5. Metode kerjasama, dalam hal ini diadakan pembagian tugas
masing-masing para wali dalam mengIslamkan masyarakat tanah
Jawa. Misalnya Sunan Gunung Djati bertugas menciptakan doa
mantra untuk pengobatan lahir batin, menciptakan hal-hal yang
berkenaan dengan pembukaan hutan, transmigrasi atau
pembangunan masyarakat desa.
6. Metode musyawarah, para Wali sering berjumpa dan
bermusyawarah membicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan
tugas dan perjuangan mereka. Semetara dalam pemilihan wilayah
dakwahnya tidaklah sembarangan dengan mempertimbangkan
faktor geogstrategi yang sesuai dengan kondisi zamannya.

Sunan Gunung Djati sendiri dilingkungan masyarakatnya selain


sebagai pendakwah, juga berperan sebagai politikus, pemimpin dan juga
berperan sebagai budayawan. Pemilihan Cirebon sebagai pusat aktivitas
dakwahnya Sunan Gunung Djati, tidak dapat dilepaskan hubungannya
dengan jalur perdagangan, demikian juga telah dipertimbangkan dari aspek
sosial, politik, ekonomi, nilai geostrategis, geopolitik dan geoekonomi yang
menentukan keberhasilan penyebaran Islam selanjutnya (Dadang Kurnia,
2007:7)..
BAB III

PENUTUP
A. Simpulan
Sunan Gunung Djati atau Syarif Hidayatullah, yang tadi sudah di
jelaskan bahwa ia adalah anak seorang puteri raja Pajajaran bernama Rara
Santang atau Syarifah Mada’in, yang menikah dengan Maulana Sultan
Mahmud atau Syarif Abdullah. Sunan Gunung Djati merupakan cucu dari
Raja Pajajaran yaitu Prabu Siliwangi. Pada masa remajanya Sunan Gunung
Djati berguru kepada Syekh Tajudin al-Kubri dan Syekh Ataullahi Sadzili
di Mesir, kemudian ia ke Baghdad untuk belajar Tasawuf. Lalu, pada usia
120 tahun tepatnya tahun 1568 Sunan Gunung Djati wafat dan dimakamkan
di Pasir Djati, yaitu di daerah Gunung Sembung, sekitar 15 kilometer
sebelum Kota Cirebon dari arah barat.
Penyebaran Islam di Jawa Barat, tidak dapat dilepaskan dari gerakan
Islamisasi Jawa yang dilakukan oleh Wali Sanga secara integral.
Penyebaran agama Islam di Jawa Barat tidak terlepas dari perannan tokoh
Sunan Gunung Djati seorang wali yang juga seorang Raja. Selain
menyebarkan agama Islam, Sunan Gunung Djati telah menjadi peletak dasar
bagi kekuasaan politik Islam di Jawa Barat yang meliputi Banten dan
Cirebon. Sebelum Sunan Gunung Djati menyebarkan Islam di tatar Sunda,
di Cirebon sudah ada gerakan penyebararan agama Islam yang dipelopori
oleh Haji Purwa di Cirebon, Syekh Quro di Karawang dan Syekh Datuk
Kahfi di Cirebon. Gerakan Islamisasi yang dilakukan oleh Sunan Gunung
Djati dilakukan dengan pendekatan agama, ekonomi, politik dan kultural.
Dengan pendekatan tersebut maka dalam waktu yang relatif singkat Islam
dapat menyebar hampir keseluruh wilayah Jawa Barat.

14
DAFTAR PUSTAKA

Djajadiningrat, Hoesen. 1913. Critische beschouwing van de Sadjarah Banten.


Bijdrage ter kenschetsing van de Javaansche Geschiedschrijving, Nederland.
Diterjemahkan Tinjauan Kritis Tentang Sajarah Banten, Sumbangan Bagi
Pengenalan Sifat – Sifat Penulisan Sejarah Jawa, Djambatan, Jakarta, 1983.

Ekadjati, Edi S. 1992. Sejarah Lokal Jawa Barat, Jakarta: Interumas Sejahtera

HS, Matsuki dan M. Ishom El-Saha (edit.), 2003. Intelektualisme Pesantren: Potret
Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di era Pertumbuhan Pesantren, Jakarta: Diva
Pustaka

Kertawibawa, Besta Basuki. 2009. Syarif Hidayatullah Sang Pengembang


Kerajaan Cirebon. Bandung: PT. Kiblat

Kurnia, Dadang. Metode Dakwah Sunan gunung Jati (Suatu Tinjauan dari Sudut
Pandang Antropologi Pendidikan), Jurnal Pendidikan Dasar Volume : V- Nomor :
7-April 2007

Kartodirdjo, Sartono. 1992. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Jilid I,


Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sulendraningrat, P.S. 1984, Babad Tanah Sunda Babad Cirebon. Cirebon.

Sunyoto, Agus. 2011. Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan,


Jakarta: Transpustaka

Suryanegara, Ahmad Mansur. 2014. Api Sejarah Jilid Kesatu Edisi Revisi.
Bandung: Suryadinasti

Sutrisno, Budiono Hadi. 2009 Sejarah walisongo Misi PengIslaman di Tanah Jawa.
Yogyakarta: Graha Pustaka.
Uka Tjadrasasmita, 2000. Pertumbuhan dan Perkembangan Kota – Kota Muslim
di Indonesia. Kudus: Menara Kudus.

Anda mungkin juga menyukai