Anda di halaman 1dari 172

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.

id

SERAT MUDHATANYA:
Suntingan Teks dan Ajaran Kepemimpinan

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi sebagian Persyaratan


guna Melengkapi Gelar Sarjana Sastra Jurusan Sastra Daerah
Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Universitas Sebelas Maret

Disusun oleh
USWATUN CHASANAH
C0105050

FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit
2009to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

SERAT MUDHATANYA:
Suntingan Teks dan Ajaran Kepemimpinan

Disusun oleh:
USWATUN CHASANAH
C0105050

Telah disetujui oleh pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

Dra. Endang Tri W., M.Hum Drs. Sisyono Eko W., M.Hum
NIP 195811011986012001 NIP 196205031988032001

Mengetahui
Ketua Jurusan Sastra Daerah

Drs. Imam Sutarjo, M.Hum


NIP 196001011987031004

commit to user

ii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

SERAT MUDHATANYA:
Suntingan Teks dan Ajaran Kepemimpinan

Disusun oleh

USWATUN CHASANAH
C0105050

Telah disetujui oleh Tim Penguji Skripsi


Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret
Pada Tanggal 13 Agustus 2009

Jabatan Nama Tanda Tangan

Ketua Drs. Imam Sutarjo, M.Hum ……………..


NIP 196001011987031004

Sekretaris Dra. Hartini, M.Hum ……………..


NIP 195001311978032001

Penguji I Dra. Endang Tri Winarni, M.Hum ……………..


NIP 195811011986012001

Penguji II Drs. Sisyono Eko Widodo, M.Hum ……………..


NIP 196205031988032001

Dekan
Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Universitas Sebelas Maret

Drs. Sudarno, M.A


NIP 195303141985061001

commit to user

iii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

PERNYATAAN

Nama : Uswatun Chasanah


NIM : C0105050

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi berjudul Serat Mudhatanya:


Suntingan Teks dan Ajaran Kepemimpinan adalah betul-betul karya sendiri, bukan
plagiat, dan tidak dibuatkan oleh orang lain. Hal-hal yang bukan karya saya,
dalam skripsi ini diberi tanda citasi (kutipan) dan ditunjukkan dalam daftar
pustaka.

Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia
menerima sanksi akademik berupa pencabutan skripsi dan gelar yang diperoleh
dari skripsi tersebut.

Surakarta, 13 Agustus 2009

Yang membuat pernyataan,

Uswatun Chasanah

commit to user

iv
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

MOTTO

“Setiap kesuksesan dan keberhasilan membutuhkan syarat.”

“Believe yourself. You can do it.


Doa, effort, tawakkal!”
(iluvislam.com)

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya


sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. Al Insyirah: 5-6)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka
mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar Ra’d: 11)

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.”


(Al Hadits)

“Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia.

Berlarilah, tanpa lelah sampai engkau meraihnya.

Laskar pelangi tak kan terikat waktu.

Bebaskan mimpimu di angkasa, warnai bintang di jiwa.

Menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga.

Bersyukurlah pada Yang Kuasa.”

(“Laskar Pelangi”, NIDJI)

commit to user

v
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan skripsi ini kepada:

- Ibundaku tercinta

- Keluarga

- Sahabat dan teman

commit to user

vi
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji syukur hanya kepada Allah, Tuhan

semesta alam, yang telah memberikan kesempatan dan kemampuan kepada

hamba-Nya, sehingga penulisan skripsi yang berjudul “Serat Mudhatanya:

Suntingan Teks dan Ajaran Kepemimpinan” ini dapat terselesaikan.

Penulisan skripsi ini tidak mungkin selesai bila tanpa bimbingan dan

dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis

menyampaikan terima kasih kepada:

1. Drs. Sudarno, M.A., selaku Dekan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas

Sebelas Maret, yang telah memberikan kesempatan untuk menyusun skripsi

ini.

2. Drs. Imam Sutarjo, M.Hum., selaku Ketua Jurusan Sastra Daerah Fakultas

Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret, yang juga telah memberikan

kesempatan dan ilmunya dalam penyusunan skripsi ini.

3. Dra. Endang Tri Winarni, M.Hum., selaku Pembimbing Pertama, dengan

penuh kesabaran telah berkenan untuk mencurahkan perhatiannya pada

pembimbingan skripsi ini, juga proses kelulusan penulis.

4. Drs. Sisyono Eko Widodo, M.Hum., selaku Pembimbing Kedua, yang juga

telah berkenan untuk mencurahkan perhatiannya pada pembimbingan skripsi

ini, juga proses kelulusan penulis.

5. Siti Muslifah, S.S., M.Hum., selaku Pembimbing Akademik, yang telah

membimbing penulis sejak awal hingga akhir studi di Jurusan Sastra Daerah.

commit to user

vii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

6. Bapak dan ibu dosen Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa

yang telah memberikan ilmunya kepada penulis sehingga memberikan

kontribusi nyata dalam penulisan skripsi ini.

7. Kepala dan staff Perpustakaan Fakultas Sastra dan Seni Rupa dan

Perpustakaan Pusat Universitas Sebelas Maret, yang telah memberikan

kemudahan pelayanan kepada penulis.

8. Kepala dan staff Perpustakaan Museum Sana Budaya Yogyakarta yang telah

memberikan pelayanan terbaiknya selama proses pengumpulan data.

9. Seluruh staf dan karyawan Tata Usaha Fakultas Sastra dan Seni Rupa

Universitas Sebelas Maret, yang telah membantu penulis.

10. Rekan-rekan mahasiswa Sastra Daerah angkatan 2005, khususnya Filologi:

Mita, Daning, Ruma, Ebi, mbak Wik, mbak Ambar, Tantri, Ama yang telah

memberikan semangat untuk terus maju kepada penulis.

11. Saudara-saudariku pengurus dan anggota SKI, BPM, BKM, dan BEM FSSR

UNS atas perhatian, dukungan, pelajaran, kebersamaan dan indahnya

ukhuwah selama ini.

12. Berbagai pihak yang namanya tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Semoga amal kebaikannya mendapat balasan dari Allah SWT. Penulis

menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu

penulis mengharapkan kritik yang membangun demi perbaikan selanjutnya.

Akhirnya, semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca dan pemerhati

masalah filologi di Indonesia.

Surakarta, Agustus 2009

commit to user
Penulis

viii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………….. i

HALAMAN PERSETUJUAN ……………………………………………. ii

HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………… iii

HALAMAN PERNYATAAN …………………………………………….. iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ……………………………………………. v

HALAMAN MOTTO ………………………………………………….… vi

KATA PENGANTAR ………………………………………………….… vii

D A F T A R IS I … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … ix

DAFTAR TABEL ……………………...………………………………….... xi

DAFTAR SINGKATAN ……………………………………………… xii

ABSTRAK ……………………………………………………………..… xiii

BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………… 1

A. Latar Belakang ……………………………………………………… 1

B. Batasan Masalah ……………………………………………………. 16

C. Rumusan Masalah…………………………………………………….. 17

D. Tujuan Penelitian …………………………………………………….. 17

E. Manfaat Penelitian …………………………………………………… 17

F. Sistematika Penulisan ………………………………………………… 18

BAB II LANDASAN TEORI ……………………………………………... 20

A. Pengertian Filologi …………………………………………………… 20

B. Objek Filologi ……...………………………………………………… 21

C. Langkah Kerja Penelitian Filologi


commit to……………………………………
user 21

ix
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

D. Pengertian Sastra Piwulang …..…………………………………….… 25

E. Kepemimpinan Jawa ……………………………………………….… 26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ……………………………….. 29

A. Bentuk dan Jenis Penelitian ...………………………………….……. 29

B. Sumber Data dan Data Penelitian …………………………………… 29

C. Teknik Pengumpulan Data …………………………………… 30

D. Teknik Analisis Data ………………………………………………… 31

BAB IV ANALISIS DATA …………………………………………........... 33

A. Kajian Filologis ……………………..……………………...………… 33

1. Deskripsi Naskah ….……………………………………………... 33

2. Kritik Teks ……………………………………………………….. 49

3. Pedoman Transliterasi …………………………………………… 58

4. Suntingan dan Aparat Kritik ………………………………..…… 60

5. Sinopsis ………………………………………………………..… 116

B. Kajian Isi ……………………..……………………......................…. 123

1. Dialog I ….…………………………………..…………………... 123

2. Dialog II ……………………………..…………….……………. 128

3. Dialog III ………………………….………………...…………… 137

4. Dialog IV ………………..…………………………………..…… 139

BAB V PENUTUP ………………………………………………………. 147

A. Simpulan ……………………………………………………………. 147

B. Saran ………………………………………………………………… 148

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 150

LAMPIRAN ………………………………………………………………… 152


commit to user

x
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Ketebalan naskah SM .............................................................. 34

Tabel 4.2 Lakuna ..................................................................................... 50

Tabel 4.3 Adisi ........................................................................................ 52

Tabel 4.4 Substitusi ................................................................................. 52

Tabel 4.5 Transposisi .............................................................................. 54

Tabel 4.6 Ketidakkonsitenan penulisan kata ‘kagaliya’ dengan 54

‘kagaliha’ ………………………………………………….

Tabel 4.7 Ketidakkonsistenan penulisan kata ‘dhahuru’ dengan 55

‘dahuru’ ……………………………………………………

Tabel 4.8 Ketidakkonsistenan penulisan kata ‘kalentu’, ‘kêlèntu’ dan 55

‘kalintu’ ……………………………………………………

Tabel 4.9 Ketidakkonsistenan penulisan kata ‘asreng’ dengan 55

‘angsring’ …………………………………………………..

Tabel 4.10 Ketidakkonsistenan penulisan kata ’Mukammat’, 56

’Mukammad’ dan ’Mukamad’ .................................................

Tabel 4.11 Ketidakkonsitenan dalam penulisan bunyi vocal .................... 56

Tabel 4.12 Variasi penulisan kata ‘blêdug’ dan kata ‘balêdug’ ................ 57

Tabel 4.13 Variasi penulisan kata ‘saknagari’ dan kata ‘saknêgari’ ........ 57

Tabel 4.14 Variasi penulisan kata ‘glêpung’ dan kata ‘galêpung’ ........... 57

Tabel 4.15 Variasi penulisan kata ‘panjênêngan’ dan kata

‘pênjênêngan’........................................................................... 58

commit to user

xi
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

DAFTAR SINGKATAN

cm : menunjukkan ukuran centimeter

dkk : dan kawan-kawan

hal. : halaman

M : Masehi, menunjuk pada tahun Masehi

Manassa : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

PB : Paku Buwana

R.Ng : Raden Ngabehi

R.T. : Raden Tumenggung

SM : Serat Mudhatanya

commit to user

xii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

ABSTRAK

Uswatun Chasanah. C0105050. 2009. Serat Mudhatanya: Suntingan Teks dan


Ajaran Kepemimpinan. Skripsi: Jurusan Sastra Daerah, Fakultas Sastra dan Seni
Rupa, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Latar belakang penelitian ini adalah mengkaji naskah yang mengalami


korup (rusak) karena ditemukan banyak sekali kesalahan penulisan dan
ketidakkonsistenan penulisan. Keadaan ini menunjukkan bahwa naskah perlu
dibersihkan dari kesalahan-kesalahan. Permasalahan yang dibahas dalam
penelitian ini, yaitu bagaimana suntingan teks dari Serat Mudhatanya yang bersih
dari kesalahan sesuai dengan cara kerja filologi serta ajaran apa yang terkandung
di dalam Serat Mudhatanya. Tujuan penelitian ini adalah menyajikan suntingan
teks dari Serat Mudhatanya yang bersih dari kesalahan sesuai dengan cara kerja
filologi, serta mengungkapkan ajaran yang terkandung di dalam Serat
Mudhatanya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif
deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah katalog-katalog yang memuat
informasi tentang keberadaan naskah Serat Mudhatanya. Dari hasil inventarisasi
ditemukan 1 buah naskah yakni Serat Mudhatanya dengan nomor katalog PB
C56. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik fotografis, print out, dan
transliterasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis
deskriptif dan analisis interpretasi. Teknis analisis deskriptif mengacu pada cara
kerja penelitian filologi. Metode penyuntingan teks menggunakan metode edisi
standar, melalui tahapan-tahapan: (1) deskripsi naskah, (2) transliterasi naskah, (3)
kritik teks, (4) suntingan teks dan aparat kritik, (5) sinopsis. Teknik analisis
interpretasi digunakan untuk menginterpretasikan isi naskah melalui berbagai
sudut pandang peneliti.
Hasil akhir penelitian ini dapat disimpulkan bahwa naskah SM adalah
naskah pertama dan naskah tunggal dengan kode PB C56, sehingga digunakan
metode suntingan edisi standar untuk menghasilkan suntingan teks yang bersih
dari kesalahan. Suntingan teks SM ini adalah suntingan atau edisi teks yang
pertama dan bersih dari kesalahan (penulisan dan ejaan). Teks ini merupakan
karya R.T.Purbadipura, seorang Abdidalem Bupati Anom Gedong Tengen
Karaton Surakarta, ditulis oleh Wignyaukara dan R.T.Purbadipura sendiri. Dari
hasil kritik teks ditemukan beberapa kesalahan tulis, yaitu lakuna, adisi, substitusi,
ditografi, dan transposisi, juga ditemukan beberapa ketidakkonsistenan penulisan
dan variasi penulisan kata. Jadi, disimpulkan bahwa naskah ini rusak/ korup.
Secara garis besar, diketahui bahwa teks SM ini menjelaskan tentang ajaran
kepemimpinan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang
dilengkapi dengan beberapa contoh gaya kepemimpinan para Nabi, dan para
sahabat Nabi Muhammad SAW, serta gaya kepemimpinan raja-raja di Jawa. Ada
delapan ajaran kepemimpinan yang harus dipahami dan diterapkan oleh seorang
pemimpin dalam memimpin keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya, yakni:
kuwasa, purba, wisesa, kukum, adil, paramarta,
commit to userdana, dan pariksa.

xiii
perpustakaan.uns.ac.id 1
digilib.uns.ac.id

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan kebudayaan beserta

peninggalan-peninggalan masa lampaunya. Bentuk peninggalan masa lampau

yang masih dapat dilihat dan dinikmati adalah artefak yang umumnya berupa

bangunan, seperti candi, masjid, kraton, dan bangunan lainnya. Tetapi sebenarnya,

masih ada satu jenis artefak lagi yang sering diabaikan dan ditinggalkan oleh

masyarakat yakni peninggalan kebudayaan yang berupa naskah. Naskah adalah

karangan tulisan tangan, baik yang asli maupun salinannya, yang mengandung

teks atau rangkaian kata-kata yang merupakan bacaan dengan isi tertentu

(Darusuprapta, 1984:10).

Naskah di Indonesia jumlahnya sangat banyak, jenisnya pun sangat

beragam, berbanding lurus dengan jumlah suku bangsa yang ada di Indonesia.

Hampir setiap suku mempunyai peninggalan naskah ini. Salah satunya adalah

masyarakat Jawa, yang secara kepemilikan naskah menduduki urutan pertama dari

suku-suku yang lain. Naskah-naskah tersebut perlu segera dilakukan upaya

penanganan berupa penyelamatan, penelitian, pelestarian, pendayagunaan, dan

penyebarluasan hasil penelitian agar karya luhur nenek moyang kita tidak sekedar

menjadi benda pajangan di dalam museum-museum.

Suatu bidang ilmu yang erat kaitannya dengan upaya penanganan naskah

adalah filologi. Cara kerja filologi diperlukan sebelum naskah didayagunakan dan

commitkepentingan.
disebarluaskan untuk berbagai macam to user Tugas utama filolog adalah
perpustakaan.uns.ac.id 2
digilib.uns.ac.id

mendapatkan kembali naskah yang bersih dari kesalahan, yang memberi

pengertian sebaik-baiknya dan yang bisa dipertanggungjawabkan pula sebagai

naskah yang paling dekat dengan aslinya (Haryati Soebadio, 1975:3).

Girardet-Susanto (1983) mengklasifikasikan jenis naskah Jawa sebagai

berikut:

1. Kronik, Legende dan Mite

Di dalamnya termasuk naskah-naskah: babad, pakem, wayang purwa, panji,

pustakaraja dan silsilah.

2. Agama, Filsafat dan Etika

Di dalamnya termasuk naskah-naskah yang mengandung unsur-unsur:

Hinduisme-Budhisme, Islam, mistik Jawa, Kristen, magic dan ramalan, sastra

wulang.

3. Peristiwa kraton, hukum, peraturan-peraturan

4. Buku teks dan penuntun, kamus, ensiklopedi tentang linguistik, obat-obatan,

pertanian, antropologi, geografi, perjalanan, perdagangan, masak-memasak

dan sebagainya.

Dari beberapa jenis naskah Jawa yang telah disebutkan di atas, penulis

tertarik untuk mengkaji naskah Jawa jenis sastra piwulang. Sejarah telah mencatat

bahwa naskah Jawa jenis piwulang sempat mengalami masa keemasan setelah

melewati masa-masa populernya kembali karya sastra Jawa Kuna di zaman

Surakarta awal. Naskah-naskah jenis piwulang bermunculan salah satu sebabnya

sebagai wujud reaksi atas kondisi sosial masyarakat saat itu.

Salah satu dari sekian banyak karya sastra piwulang tersebut adalah Serat

Mudhatanya (selanjutnya disebut SB). Kata Mudhatanya berasal dari dua kata,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 3
digilib.uns.ac.id

yakni ”mudha” dan ”tanya”. Menurut W.J.S.Poerwadarminta dalam Baoesastra

Djawa, kata “mudha” mempunyai dua arti yakni ”enom” yang berarti ”muda”

dan ”bodho” yang berarti ”bodoh” (hal. 323). Kata “tanya” berarti ”bertanya”

(hal. 592). Dari pemaknaan secara etimologis dari judul tersebut, bisa diketahui

bahwa teks ini berisikan tentang seorang pemuda yang bertanya karena ketidak-

tahuannya.

Inventarisasi naskah sebagai langkah awal penelitian filologi dilakukan

melalui penelusuran terhadap berbagai katalog diantaranya:

1. Descriptive Catalogus of the Javanese manuscripts and Printed Book in the

Main Libraries of Surakarta and Yogyakarta (Girardet-Sutanto, 1983)

2. Javanese Language Manuscripts of Surakarta Central Java A Preliminary

Descriptive Catalogus Level I and II (Nancy K. Florida, 1994)

3. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid I Museum Sana Budaya

Yogyakarta (T.E. Behrend, 1990)

4. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 3-B (Fakultas Sastra

Universitas Indonesia, 1998)

5. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 4 Perpustakaan Nasional

Republik Indonesia (Lindstay, Jennifer, 1994)

6. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara jilid 2 Keraton Yogyakarta,

7. Daftar Naskah Perpustakaan Museum Radyapustaka Surakarta, Daftar Naskah

Perpustakaan Sasanapustaka Keraton Surakarta, Daftar Naskah Perpustakaan

Reksapustaka Pura Mangkunagaran Surakarta, Daftar Naskah Perpustakaan

Sanabudaya Yogyakarta, Daftar Naskah Perpustakaan Widyabudaya Keraton

Yogyakarta dan Daftar Naskah Perpustakaan Pura pakualaman Yogyakarta.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 4
digilib.uns.ac.id

Hasil inventarisasi dari berbagai katalog tersebut hanya ditemukan satu

naskah yang berjudul Serat Mudhatanya dalam Katalog Induk Naskah-Naskah

Nusantara Jilid I Museum Sana Budaya Yogyakarta (T.E. Behrend, 1990) dengan

nomor PB C56 dan dalam katalog Girardet-Susanto tahun 1983 dengan nomor

68615 (PB C56) berjudul Mudha Tanaya.

Langkah selanjutnya adalah melakukan pengecekan langsung ke tempat

penyimpanan naskah yakni di perpustakaan museum Sana Budaya Yogyakarta.

Berdasarkan pengecekan ke tempat penyimpanan naskah tersebut, naskah SM

dalam kondisi masih tersimpan disana dan hanya berjumlah 1 buah naskah.

Serat Mudhatanya terdapat pada sebuah buku cukup tipis yakni terdiri

dari 130 halaman, berukuran 21,2 cm x 16,8 cm. Selain Serat Mudhatanya

ternyata dalam naskah ini ada satu judul lain, yakni Serat Kawontenanipun

Pergerakan Komunis. Hal itu bisa dilihat dalam cover luar naskah ini yang

bertuliskan ”Serat Moedatanya. Serat Kawontenanipoen Pergerakan

Koemoenis”, berikut gambarnya:

Gambar 1.1 Judul pada cover depan

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 5
digilib.uns.ac.id

Kemudian pada cover dalam naskah juga terdapat perbedaan lagi, judul

naskah bertuliskan ”Moedatanya (Koemoenis)”, berikut gambarnya:

Gambar 1.2 Judul pada cover dalam

Setelah dibaca secara teliti, ternyata naskah ini terdiri dari 2 bentuk teks,

yakni prosa dan tembang macapat. Dua bentuk teks yang berbeda jika

dihubungkan dengan dua judul naskah yang berbeda penulisannya pula, ada

beberapa kemungkinan seperti berikut:

1. Jika didasarkan pada gambar 1.1, dua teks yang berbeda bentuk memiliki

judul masing-masing, yakni teks yang berbentuk prosa memiliki judul ”Serat

Mudhatanya”, sedangkan teks yang berbentuk tembang macapat memiliki

judul ”Serat Kawontenanipun Pergerakan Koemunis”, sehingga bisa

dikatakan diantara keduanya berdiri sendiri.

2. Jika didasarkan pada gambar 1.2, dua teks yang berbeda bentuk tersebut

include dalam satu judul, yakni judul Serat Mudhatanya, sehingga bisa

dikatakan diantara keduanya saling berkaitan.

Teks yang berbentuk prosa disajikan dalam bentuk dialog antara dua

tokoh. Hal-hal yang didialogkan atau didiskusikan antara dua tokoh tersebut

seputar kehidupan bermasyarakat tentang etika dan norma-norma, juga


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 6
digilib.uns.ac.id

kepemimpinan yang dilengkapi dengan kisah beberapa Nabi (Nabi Muhammad,

Nabi Adam, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, dan Nabi Yusuf) dan sahabat-sahabat

Nabi Muhammad yang biasa disebut dengan khulafaur rasyidin (Abu Bakar ash-

Shidiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib). Juga

beberapa kisah tentang gaya kepemimpinan beberapa pemimpin atau raja-raja di

Jawa mulai dari Kyai Ageng Sela hingga Paku Buwana VIII.

Teks yang berbentuk tembang macapat terdiri dari tiga pupuh, yaitu

Durma (24 bait), Pangkur (32 bait), dan Asmaradana (38 bait). Gaya tulisannya

sama dengan gaya tulisan teks yang berbentuk prosa. Teks ini berisi tentang

sejarah pemberontakan gerakan komunis yang terjadi di Banten, Bandung, dan

Batavia. Dalam katalog Behrend disebutkan bahwa teks lain ini merupakan surat

edaran yang ditandatangani oleh pepatih dalem K.R.A.Jayanagara, tertanggal 15

November 1926, menyebutkan bahwa tahun tersebut di Batavia, Banten, dan

Bandung sedang terjadi pemberontakan Komunis (hal. 504).

Setelah kedua teks ini dibaca lebih teliti lagi, ternyata di antara keduanya

tidak mempunyai keterikatan. Keduanya saling berdiri sendiri dengan isi atau

informasi yang dimiliki masing-masing, judul Serat Mudhatanya mewakili teks

yang berbentuk prosa, sedangkan judul Serat Kawontenanipoen Pergerakan

Koemoenis mewakili teks yang berbentuk tembang macapat. Teks yang berbentuk

prosa termasuk dalam kategori naskah Jawa jenis sastra piwulang, sedangkan teks

yang berbentuk tembang macapat termasuk dalam kategori naskah Jawa jenis

sejarah. Akhirnya, secara otomatis teks yang berbentuk tembang macapat, yang

berisi sejarah, tereliminasi dari objek kajian penelitian ini karena tidak sesuai

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 7
digilib.uns.ac.id

dengan sasaran objek penelitian ini, yakni naskah Jawa manuskrip jenis sastra

piwulang.

Teks Serat Mudhatanya terdapat pada halaman 1-37 dan halaman 53-90,

sedangkan teks Serat Kawontenanipoen Pergerakan Koemoenis terdapat pada

halaman 38-52. Pada halaman 63-70, teks dicoret dengan tanda silang oleh

penulis sebagai penanda bahwa teks tersebut sudah tidak terpakai (tidak perlu

dibaca). Tinta yang digunakan dari awal sampai akhir tidak sama. Ada 3 jenis

tinta yang digunakan: tinta sejenis pulpen boxi berwarna hitam kebiru-biruan dan

cukup tebal (halaman iv & 1-52); tinta sejenis pulpen biasa berwarna hitam

kecoklatan dan sangat tipis (halaman 53-74 & 74i-90); tinta sejenis pulpen boxi

berwarna hitam pekat dan sangat tebal (halaman 74a-74f).

SM merupakan naskah tulisan tangan (manuscript) dengan huruf Jawa

berbahasa Jawa Baru ragam krama dan ngoko. Naskah ini dikarang oleh RT

Purbadipura, Abdidalem Bupati Anom Gedhong Tengen di Surakarta pada Kamis

Legi, 28 Sura, Jimakir 1858 (28 Juli 1927). Naskah ini ditulis oleh dua orang

penulis, yakni Wignyaukara dan R.T.Purbadipura sendiri. SM pada halaman 1-37

ditulis oleh Wignyaukara, halaman 53-90 ditulis RT Purbadipura sendiri.

Informasi mengenai pengarang naskah SM bisa dilihat dari kutipan berikut:

“Sêrat Mudhatanya punika, ingkang ngarang Raden Tumênggung


Purbadipura, Abdi Dalêm Bupati Anom Gêdhong Têngên ing Surakarta
Hadiningrat. Pangarangipun nalika dintên Kêmis Lêgi tanggal kaping 28
wulan Sura taun Jimakir angka 1858 utawi kaping 28 Juli taun angka
1927. Gagriya salêbêting nagari ing kampung Kratonan Kidul, ondêr
dhistrik Sêrêngan, sakilène Pasar Gêmblêgan.”

Terjemahan:
”Serat Mudhatanya ini yang mengarang Raden Tumenggung Purbadipura,
Abdi Dalem Bupati Anom commit to user Tengen di keraton Surakarta
Gedhong
perpustakaan.uns.ac.id 8
digilib.uns.ac.id

Hadiningrat. Pembuatannya ketika hari Kamis Legi tanggal 28 bulan Sura


tahun Jimakir 1858 atau 28 Juli 1927. Bertempat tinggal di kampung
Kratonan Kidul, distrik Serengan, sebelah barat Pasar Gemblegan.”

Informasi tentang pengarang dan penulis naskah SM dikuatkan lagi oleh

gambar berikut:

Gambar 1.3 Akhir teks SM bagian pertama ditutup dengan tanda semacam
tanda tangan pengarang dan penulisnya, dan disertai keterangan teks tersebut
berlanjut ke halaman 53
a. Tulisan RT Purbadipura, bertuliskan “nyandhak kaca angka 53.
Purbadipura”
b. Tulisan Wignyaukara, bertuliskan “ingkang nyêrat Wignyaukara”

Ada empat alasan mengapa Serat Mudhatanya dijadikan objek kajian

dalam penelitian ini. Pertama, sejauh ini penelitian yang dilakukan terhadap

naskah Serat Mudhatanya baru sebatas deskripsi naskah untuk inventarisasi bagi

pembuatan katalog yang dilakukan oleh T.E. Behrend pada tahun 1990 dan

Girardet-Susanto pada tahun 1983, sedangkan penelitian secara filologis dan

telaah isi belum pernah dilakukan.commit to user


perpustakaan.uns.ac.id 9
digilib.uns.ac.id

Kedua, di dalam teks SM ini ditemui banyak sekali ketidakaturan

pemakaian ejaan dan kesalahan-kesalahan penulisan. Hal ini yang mendorong

peneliti untuk segera mengkaji naskah ini secara filologi untuk menghasilkan

sebuah teks yang diperkirakan paling mendekati aslinya dan menyediakan

terbitan naskah yang bersih dari kesalahan dan mudah dipahami oleh pembaca.

Berikut sebagian contoh dari ketidakaturan pemakaian ejaan dan kesalahan-

kesalahan penulisan tersebut:

1) Ketidakkonsistenan dalam penulisan kata, berikut sebagian contohnya:

- kata ”kalèntu” dengan kata ”kalintu”, berikut kutipannya:


”Wasana manawi wontên kalintu tuwin lêpating atur kula” (SM: 15)
”manawi botên kalèntu, criyosipun sabên…” (SM: 53c)

- kata ”dhahuru” dengan kata ”dahuru”, berikut kutipannya:


”uyang wayang wuyung botên raharja: dahuru” (SM: 56)
“Dhahuru têgêsipun rêbut suwala lahir batin” (SM: 57)

2) Variasi penulisan kata, berikut contohnya:


- kata ”balêdug” dengan kata ”blêdug” dan kata ”balêduga”, berikut

kutipannya:

“Nyirêp balêduga ron-ronan sami lembaka ijêm ariyu-riyu sakeca dhatêng


paningal” (SM: 53a)
“miwah mawi angin agêng blêdug angampak-ampak dhatêng mripat sêpêt
sakit” (SM: 53c)
“tilem boten sakeca, balêdug angampak-ampak kabur…” (SM: 58a)

- kata ”saknagari” dengan kata ”saknêgari”, berikut kutipannya:

”kawêwahan ningali solah bawanipun tiyang saknagari” (SM: 53)


“tiyang saknêgari manahipun tamtu suka rêna” (SM: 54)

- kata ”panjênêngan” dengan kata ”pênjênêngan”


”Pancen kula ajêng-ajêng rawuh panjênêngan” (SM: 53c)
“salam taklim kula dhatêng garwa putra pênjênêngan” (SM: 62)

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 10
digilib.uns.ac.id

3) Kesalahan penulisan kata, berikut contohnya:

”tiyang-tiyang sanakari ingkang dados wêwêngkonipun” (SM: 60)

4) Kekurangan penulisan kata, seperti kata ”gadha”, ”pamrentaha”, ”gri”,


”jantu”, dan lain-lain. Berikut kutipannya:
“Siyang dalu tansah kuwatir kêtir-kêtir. Gadha raos bok bilih…” (SM: 57)
“angsal duduka saking ingkang nyêpêng pamrentaha kadakwa botên anu-
anu.” (SM: 57)
“Dhatêng manah sumpêg namung muntêl wontên salêbêting gri kemawon.”
(SM: 58b)
“Sirah punika isi utêg, utêg panggenan budi, budi tumurun dhateng jantu
jantung anggèn pikir-pikir awon ingkang sae ingkang ngriku…” (SM: 61)

Ketiga, ada beberapa hal yang sangat menarik dari naskah SM ini, yakni

tentang gaya penulis naskah SM dalam menulis teks. Berikut uraiannya:

a. Pemakaian tanda berhenti di setiap kalimat dibuat sama, yakni dengan tanda

pada lingsa (,). Tanda pada lungsi (.) peneliti temukan hanya dipakai ketika

menuliskan judul teks. Berikut gambarnya:

Tanda
pada
lungsi

Gambar 1.4 Penulisan pada lungsi (.) pada judul teks SM (SM: 1)

Tanda
pada
commit to user lingsa

Gambar 1.5 Penulisan pada lingsa (,) di dalam paragraph. (SM: 1)


perpustakaan.uns.ac.id 11
digilib.uns.ac.id

b. Penulisan kata ’Allah’ dengan huruf Arab. Berikut gambarnya:

Gambar 1.6 Penulisan kata ‘Allah’ dengan huruf Arab. (SM: 23)

c. Pemakaian huruf Latin ketika menuliskan dua tokoh yang sedang berdialog,

yakni ditulis dengan huruf “a” dan “b” (“a”:orang pertama yang diasumsikan

sebagai ‘seorang kyai’, “b”:orang kedua yang diasumsikan sebagai ‘seorang

murid’). Berikut gambarnya:

Gambar 1.7 Penulisan icon 2 tokoh yang berdialog dengan


huruf Latin “a” dan “b” (SM: 2)

d. Penggunaan angka Romawi ketika menuliskan pembagian poin-poin

kedelapan ajaran (kuwasa, purba, wisesa, kukum, adil, paramarta, dana, dan

pariksa). Berikut gambarnya:

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 12
digilib.uns.ac.id

Gambar 1.8 Penulisan angka Romawi dalam pembagian


kedelapan ajaran (SM: 8)

Setiap penulis naskah mempunyai gaya masing-masing yang khas dalam

menuliskan suatu teks. Dan gaya menulis tersebut bukan suatu permasalahan

filologi melainkan suatu ciri tersendiri dari penulis naskah sebagai bentuk wujud

kreativitas. Di antara keempat gaya penulis naskah SM tersebut, ada satu yang

dikategorikan bisa menjadi permasalahan filologi yakni gaya penulis naskah yang

hanya menggunakan tanda pada lingsa (,) (untuk selanjutnya disingkat PLi) di

bagian tengah maupun di akhir kalimat. Hal tersebut akan mengganggu pembaca

dalam memahami teks. Oleh sebab itu, dibutuhkan hasil suntingan teks yang

bersih dari kesalahan-kesalahan sehingga didapatkan teks yang mudah dibaca dan

dimengerti oleh pembaca. Berikut contoh penggunaan tanda PLi atau koma dalam

paragraf:

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 13
digilib.uns.ac.id

Gambar 1.9 Penggunaan pungtuasi yang sama di dalam kalimat (SM: 7)

Transliterasi:
”Lamba punapa rangkêp (PLi) anggèr kêdah waspada (PLi) dados
botên kablowok ing rêmbag (PLi) sawatawis dipunêmong (PLi) mangatur-
aturipun kêdah kagalih ingkang panjang (PLi) sampun kasêsa anyagahi (PLi)
nanging bilih sampun sagah sampun ngantos nyidrani (PLi) ingkang sampun
kasagahakên kêdah kalêksanan (PLi) anggèr kêdah adhadhasar panggalih
lamba rumiyin (PLi) kaliyan pangandika arum manis mardawa mamalad
driya ingkang narik suka rêna (PLi) sampun ngêtrapakên pangandika sêrêng
sora (PLi) ingkang sarèh rèrèh ririh (PLi) sawatawis ingkang radi sumarah
ing karsa (PLi) ingkang botên rêkasa sangsara (PLi)

Keempat, isi dari naskah Serat Mudhatanya ini sangat menarik, yakni

tentang ajaran kepemimpinan (leadership). Kepemimpinan dalam hidup

bermasyarakat bagi generasi muda yang disajikan dalam bentuk dialog antara

seorang pemuda dengan seorang kyai atau ulama. Dalam Baoesastra Djawa

halaman 323 karya W.J.S.Poerwadarminta kata “mudha” diartikan sebagai

”enom” (muda) dan ”bodho” (bodoh). Dan pada halaman 592 kata “tanya”

diartikan sebagai ”takon” (bertanya).

Ajaran kepemimpinan dalam hidup bermasyarakat ini memuat tentang

bekal apa saja yang harus dimiliki bagi generasi muda ketika kelak terjun dalam
commit
kehidupan berkeluarga, bertetangga, to user
dan bermasyarakat. Di antaranya ada 8
perpustakaan.uns.ac.id 14
digilib.uns.ac.id

pedoman yang benar-benar harus dipahami, yaitu kuwasa, purba, wisesa, kukum,

adil, paramarta, dana, dan pariksa. Dalam teks SM ini, kedelapan pedoman

tersebut diartikan sebagai berikut:

1. Kuwasa berarti wewenang yang dimiliki untuk memutuskan segala sesuatunya

secara bijak. Berikut kutipannya:

”Kuwasa: wênang ngewahi tatanan ingkang kirang murakabi dhatêng


kulawarga” (SM: 7)

2. Purba berarti bertanggungjawab atas semua semua permasalahan dalam

kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Berikut kutipannya:

”Purba: mêngku dhatêng samukawis agêng alit, amis bacin, èwêt pêkèwêt,
gampil angèl, ruwêt rêntêng, papa sangsara. Sadaya kukubanipun ing ngriku,
punika anggèr ingkang kajibah mêngku.” (SM: 7)

3. Wisesa berarti tegas terhadap siapapun untuk senantiasa berbuat kebajikan.

Berikut kutipannya:

”Wisesa: punika satêngah amêksa dhatêng tindak sae. Angancam-ancam


sintên ingkang nglampahi lêpat badhe tampi pamisesa ing samurwatipun
nanging saderengipun kêdah dipundhawuhakên. Yen ala bakal nemu ala. Yen
becik bakal nemu becik.” (SM: 8)

4. Kukum berarti perlakuan hukum yang sama terhadap siapapun. Berikut

kutipannya:

”Kukum: kêdah nindakakên ing salêrêsipun. Têgêsipun: botên bahu kapine


sintên-sintêna bilih botên lêrês inggih kêdah kalêrêsakên. Manawi mêksa
botên purun mantuni tindakipun ingkang awon. Ing ngriku sampun
sêdhêngipun katindakakên prakawisipun.” (SM: 8)

5. Adil berarti bersikap adil terhadap siapapun, sesuai dengan usaha yang telah

dilakukan. Berikut kutipannya:

”Adil: punika tumrap dhatêng putra wayah sadhèrèk santana abdi agêng alit.
Manawi prakawisan rêbat lêrês. Dhatêng sasaminipun putra wayah sadhèrèk
santana abdi, kêdah dipuntêtêpakên ing pangadilanipun ingkang jêjêg.
Babasan utang nyaur, nyilih ngulihake. Utang lara nyaur lara, utang pati
commitkenging
nyaur pati, sapiturutipun. Botên to user dlemok cung, kêdah wradin.
perpustakaan.uns.ac.id 15
digilib.uns.ac.id

Têgêsipn yen si dhadhap kang utang, mung nyaur samene, yen si waru kang
utang kudu nyaur samene, punika dlêmok cung namanipun. Sampun ngantos
makatên, kêdah sami-sami pamidananipun, sarta kêdah têtêp ingkang sampun
kasêbut ing anggèr, anggèr botên kenging mèncèng.” (SM: 8)

6. Paramarta berarti berhati lembut dan mempunyai sifat belas kasihan terhadap

siapapun, sabar dan pemaaf. Berikut kutipannya:

”Paramarta: punika bilih putra wayah sadhèrèk santana abdi gadhah


prakawis dhatêng anggèr, ingkang sanès prakawis agêng, kadosta kalentu ing
patrap, dêksura, kumasurun, anggêgampil kagunganipun anggèr ingkang
botên sapintêna, punika kêdah dipunparingi paramarta. Sampun lajêng
katêtêpakên ing kalêpatanipun. Kêdah dipunaring-aringi supados asrêp
manahipun. Saupami lêpat sakêdhik kemawon dhatêng angger lajêng
kapidana awrat, sarta lajêng kauwus-uwus ingkang botên sampun-sampun,
punika botên prayogi.” (SM: 9)

7. Dana berarti rajin berderma dengan pemberian yang terbaik. Berikut

kutipannya:

”Dana: inggih ingkang kêrêp paparing. Manawi paparing barang ingkang


enggal risak, kadosta dhahar-dhaharan, sêmbêt sapanunggilanipun, punika
kêdah ingkang kêrêp. Manawi paparing barang ingkang sagêd lami
kanggenipun kadosta: ingkang warni mas, intên, dhuwung, tumpakan tuwin
griya papan semahan. Punika kêdah ingkang awis-awis.” (SM: 9)

8. Pariksa berarti sungguh-sungguh ketika melakukan proses pemantauan dan

kontrol terhadap kinerja bawahannya, tidak didelegasikan tetapi terjun

langsung ke bawah. Berikut kutipannya:

”Pariksa: pikajêngipun inggih ingkang pariksa sayêktos. Têgêsipun ingkang


botên kaliyan aturing liyan, ingkang awon ingkang sae anggèr kêdah
matitisakên piyambak dhatêng tiyangipun, botên mawi lalantaran utusan
sabab utusan punika asring suda wêwah kaliyan nyatanipun.” (SM: 12)

Kedelapan ajaran diatas relevan sekali dengan kenyataan hidup

bermasyarakat saat ini. Seorang pemuda yang nantinya bakal menjadi seorang

pemimpin, baik pemimpin di keluarga maupun pemimpin di masyarakat. Karena

kedudukannya sangat berpengaruh terhadap perubahan dan perbaikan kondisi


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 16
digilib.uns.ac.id

sosial ekonomi masyarakatnya. Masyarakat yang adil dan makmur lahir dari

kumpulan keluarga-keluarga yang harmonis dan selalu mentaati norma-norma

yang berlaku di masyarakat. Piwulang atau ajaran ini juga dilengkapi dengan

kisah kehidupan rumah tangga dan kepemimpinan Rosulullah Muhammad SAW

dan kisah perjuangan Nabi-Nabi sebelumnya seperti Nabi Adam, Daud, Sulaiman,

Yusuf serta kisah beberapa khalifah seperti Abu Bakar ash-Shidiq, Umar bin

Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib (SM: 18-35). Juga beberapa kisah

tentang gaya kepemimpinan beberapa pemimpin atau raja-raja di Jawa mulai dari

Kyai Ageng Sela hingga Paku Buwana VIII (SM: 75-90).

B. Batasan Masalah

Banyaknya permasalahan yang ada dalam Serat Mudhatanya,

kemungkinan naskah ini bisa diteliti dari berbagai sudut pandang. Untuk itu

diperlukan pembatasan masalah untuk mencegah melebarnya pembahasan.

Batasan masalah tersebut lebih ditekankan pada dua kajian utama, yakni kajian

filologis dan kajian isi. Kajian filologis digunakan untuk mengupas permasalahan

seputar uraian-uraian dalam naskah melalui cara kerja filologis, yakni meliputi

inventarisasi naskah, deskripsi naskah, transliterasi naskah, kritik teks, aparat

kritik dan terjemahannya. Sehingga diperoleh suntingan teks yang bersih dari

kesalahan-kesalahan. Kajian isi berfugsi untuk mengungkapkan isi yang

terkandung dalam teks Serat Mudhatanya.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 17
digilib.uns.ac.id

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka perumusan masalah dalam

penelitian teks Serat Mudhatanya sebagai berikut:

1. Bagaimana suntingan teks dari Serat Mudhatanya yang bersih dari kesalahan

sesuai dengan cara kerja filologi?

2. Bagaimana ajaran yang terkandung di dalam Serat Mudhatanya?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian adalah sebagai berikut:

1. Menyajikan suntingan teks dari Serat Mudhatanya yang bersih dari kesalahan

sesuai dengan cara kerja filologi.

2. Mengungkapakan ajaran yang terkandung di dalam Serat Mudhatanya.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yakni

manfaat praktis dan teoretis, sebagai berikut:

1. Manfaat Praktis

a. Menyelamatkan data dalam naskah Serat Mudhatanya dari kerusakan dan

hilangnya data dalam naskah tersebut.

b. Mempermudah pemahaman isi teks Serat Mudhatanya, sekaligus

memberikan informasi kepada masyarakat tentang ajaran yang terkandung

di dalamnya.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 18
digilib.uns.ac.id

2. Manfaat Teoretis

a. Memberikan kontribusi dan membantu peneliti lain yang relevan untuk

mengkaji lebih lanjut naskah Serat Mudhatanya khususnya dan naskah

Jawa pada umumnya dari berbagai disiplin ilmu.

b. Menambah kajian terhadap naskah Jawa yang masih banyak dan belum

terungkap isinya.

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih

jelas mengenai laporan hasil penelitian. Laporan penelitian ini akan dibagi

menjadi lima bab, yang akan disusun sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan

Bab ini merupakan uraian tentang latar belakang masalah, batasan

masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian

dan sistematika penulisan.

BAB II Kajian Teoritis

Bab ini menguraikan pengertian filologi, objek penelitian filologi

dan cara kerja filologi.

BAB III Metodologi Penelitian

Bab ini menguraikan bentuk dan jenis penelitian, sumber data dan

data, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.

BAB IV Pembahasan

Pembahasan diawali dengan pembahasan kajian filologi kemudian

dilanjutkan pembahasan kajian isi.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 19
digilib.uns.ac.id

BAB V Penutup

Dalam bab ini akan dikemukakan mengenai simpulan dari yang

telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya. Selain simpulan, dalam

bab ini juga akan dikemukakan saran-saran.

Sebagai bagian akhir dari penulisan laporan hasil ini akan

dilampirkan copy naskah dan daftar pustaka yang dipakai sebagai

bahan acuan dalam kegiatan penelitian ini.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 20
digilib.uns.ac.id

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Filologi

Filologi secara etimologis menurut Siti Baroroh Baried (1994), berasal

dari bahasa Yunani philologia yang berupa gabungan kata Philos yang berarti

“senang” dan Logos yang berarti “pembicaraan” atau “ilmu”. Jadi Filologi berarti

“senang berbicara”, yang kemudian berkembang menjadi “senang belajar”,

“senang kepada ilmu”, “senang kepada tulisan-tulisan”, dan kemudian “senang

kepada tulisan-tulisan yang bernilai tinggi” seperti karya-karya sastra (hal.2).

Istilah filologi muncul pada saat para ahli dihadapkan pada upaya

mengungkapkan kandungan suatu naskah yang merupakan produk masa lampau,

yaitu beratus-ratus tahun sebelum peneliti lahir. Dalam sejarah perkembangannya,

istilah filologi mengalami perubahan dan perkembangan.

Menurut Edward Djamaris (1977), filologi adalah ilmu yang objek

penelitiannya naskah-naskah lama (hal.2). Sedangkan menurut Achadiati Ikram

(1980), filologi dalam arti luas adalah ilmu yang mempelajari segala segi

kehidupan di masa lalu seperti yang ditemukan dalam tulisan. Di dalamnya

tercakup bahasa, sastra, adat istiadat, hukum dan lain sebagainya (hal.1).

Tugas utama filologi adalah menyediakan sebuah teks yang diperkirakan

paling mendekati aslinya dan menyediakan terbitan naskah yang mudah dipahami.

Dr. Haryati Soebadio menyatakan bahwa pekerjaan utama dalam penelitian

filologi ialah mendapatkan kembali naskah yang bersih dari kesalahan (dalam

Edward Djamaris, 1977:22). commit to user


perpustakaan.uns.ac.id 21
digilib.uns.ac.id

Robson dalam Prinsip-prinsip Filologi Indonesia menyatakan bahwa agar

sebuah karya sastra klasik ‘terbaca/dimengerti’ pada dasarnya ada dua hal yang

harus dilakukan: menyajikan dan menafsirkannya (Robson, S.O. 1994:12).

B. Objek Filologi

Edward Djamaris (1977) mengemukakan bahwa, objek penelitian filologi

terdiri dari dua hal yakni naskah dan teks (hal.2). Siti Baroroh Baried pun

berpendapat sama, filologi mempunyai objek naskah dan teks (hal.3). Dijelaskan

juga bahwa objek penlitian filologi adalah naskah tulisan tangan yang menyimpan

berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil budaya masa lampau

(hal.54).

Semua bahan tulisan tangan itu disebut naskah (handschrift atau

manuschrift), sedangkan teks adalah kandungan atau muatan naskah sesuatu yang

abstrak yang hanya dapat dibayangkan saja dan memuat berbagai ungkapan

pikiran serta perasaan penulis yang disampaikan kepada pembacanya.

C. Langkah Kerja Penelitian Filologi

Langkah kerja penelitian filologi menurut Masyarakat Pernaskahan

Nusantara (Manassa), terdiri atas: penentuan sasaran penelitian, inventarisasi

naskah, observasi pendahuluan, penentuan naskah dasar, transliterasi naskah, dan

penerjemahan teks. Sedangkan menurut Edward Jamaris (1977), langkah kerja

yang dilakukan dalam penelitian filologi meliputi inventarisasi naskah, deskripsi

naskah, perbandingan naskah, dasar-dasar penentuan naskah yang akan

ditranseliterasi, singkatan naskah dan transliterasi naskah (hal.23). Cara tersebut


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 22
digilib.uns.ac.id

digunakan apabila peneliti menemukan naskah jamak atau naskah yang lebih dari

satu. Teori tersebut tak selamanya harus dipaksakan bisa diterapkan pada semua

naskah. Masing-masing naskah mempunyai kondisi yang berbeda-beda.

Serat Mudhatanya ini penanganannya menggunakan tahapan/langkah

kerja penelitian filologi Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) yang

dipadukan dengan langkah kerja menurut Edward Djamaris. Karena Serat

Mudhatanya adalah naskah tunggal, maka tidak terdapat perbandingan naskah.

Secara terperinci langkah kerja penelitian filologi sebagai berikut:

1. Penentuan sasaran penelitian

Langkah pertama adalah menentukan sasaran, karena banyak ragam yang

perlu dipilih, baik tulisan, bahan, bentuk, maupun isinya. Ada naskah yang

bertuliskan huruf Arab, Jawa, Bali dan Batak. Ada naskah yang ditulis pada

kertas, daun lontar, kulit kayu, atau rotan. Ada naskah yang berbentuk puisi dan

ada pula yang berbentuk prosa. Ada naskah yang berisi sejarah/babad,

kesusastraan, cerita wayang, cerita dongeng, primbon, adat-istiadat,

ajaran/piwulang, dan agama.

Berdasarkan hal tersebut, ditentukan sasaran yang ingin diteliti adalah

sebagai berikut: naskah bertuliskan huruf Jawa carik, ditulis pada kertas,

berbentuk prosa dan berisi masalah piwulang/ajaran. Keseluruhan bentuk di atas

terangkum di dalam Serat Mudhatanya.

2. Inventarisasi naskah sasaran

Inventarisasi naskah dilakukan dengan mendaftar dan mengumpulkan

naskah yang judulnya sama dan sejenis untuk dijadikan objek penelitian. Menurut
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 23
digilib.uns.ac.id

Edi S. Ekadjati (1980) bila hendak melakukan penelitian filologi, pertama-tama

harus mencari dan memilih naskah yang akan dijadikan pokok penelitian, dengan

mendatangi tempat-tempat koleksi naskah atau mencarinya melalui katalog.

Langkah ini dilakukan untuk mengetahui jumlah naskah, dimana tempat

penyimpanannya, dan penjelasan lain tentang keadaan naskah.

3. Observasi Pendahuluan dan Deskripsi Naskah

Observasi pendahuluan ini dilakukan dengan mengecek data secara

langsung ke tempat koleksi naskah sesuai dengan informasi yang diungkapkan

oleh katalog. Setelah mendapatkan data yang dimaksud yakni Serat Mudhatanya

maka diadakan deskripsi naskah dan ringkasan isi.

Deskripsi naskah ialah uraian ringkas naskah terperinci. Deskripsi naskah

penting sekali untk mengetahui keadaan naskah dan sejauh mana isi naskah itu.

Emuch Sumantri (1986) menguraikan bahwa deskripsi naskah merupakan sarana

untuk memberikan informasi mengenai: judul naskah, nomor naskah, tempat

penyimpanan naskah, asal naskah, ukuran naskah dan teks, keadaan naskah,

jumlah baris setiap halaman, huruf, aksara, tulisan, cara penulisan, bahan naskah,

bahasa naskah, bentuk teks, umur naskah, fungsi sosial naskah serta ikhtisar teks

(halm.2). Sedangkan ringkasan isi naskah digunakan untuk mengetahui garis

besar kandungan naskah sesuai dengan urutan cerita dalam naskah.

4. Transliterasi naskah

Transliterasi naskah ialah penggantian atau pengalihan huruf demi huruf

dari abjad yang satu ke abjad yang lain. Penyajian bahan transliterasi harus
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 24
digilib.uns.ac.id

selengkap-lengkapnya dan sebaik-baiknya, agar mudah dibaca dan dipahami.

Transliterasi dilakukan dengan menyusun kalimat yang jelas disertai tanda-tanda

baca yang teliti, pembagian alinea dan bab untuk memudahkan konsentrasi

pikiran (Edward Djamaris, 1977:25).

5. Kritik teks

Kegiatan kritik teks dilakukan setelah naskah dideskripsikan. Pengertian

kritik teks menurut Paul Mass dalam Darusuprapta (1984) adalah menempatkan

teks pada tempat yang sewajarnya, memberi evaluasi terhadap teks, meneliti atau

mengkaji lembaran naskah dan lembaran bacaan yang mengandung kalimat-

kalimat atau rangkaian kata-kata tertentu.

6. Suntingan teks dan aparat kritik

Suntingan teks adalah menyajikan teks dalam bentuk aslinya, yang bersih

dari kesalahan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat dalam naskah yang dikritisi.

Aparat kritik merupakan suatu pertanggungjawaban dalam penelitian

naskah yang menyertai suntingan teks dan merupakan kelengkapan kritik teks.

Segala kelainan bacaan yang ditampilkan merupakan kata-kata atau bacaan salah

yang terdapat dalam naskah tampak dalam aparat kritik. Jika peneliti melakukan

perubahan (conjecture), pengurangan (eliminatio), dan penambahan (divinatio) itu

harus selalu disertai pertanggungjawaban melalui dasar teori maupun rujukan

yang tepat. Kesemuanya itu dicatat dan ditempatkan pada aparat kritik.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 25
digilib.uns.ac.id

7. Sinopsis

Sinopsis adalah penuturan yang ringkas suatu teks yang mencakup

keseluruhan isi secara utuh. Maksud mengemukakan sinopsis suatu teks yaitu

untuk memudahkan pembaca agar memperoleh gambaran isi teks secara

menyeluruh.

D. Pengertian Sastra Piwulang

Istilah serat wulang berasal dari kata serat dan wulang. Serat mempunyai

arti tulisan dan wulang piwulang mempunyai arti ajaran, pelajaran

(Prawiroatmojo, 1989-1990: 190&328). Dengan demikian serat wulang/piwulang

adalah tulisan yangh berisi tentang suatu ajaran. Ajaran tersebut tentunya

mengandung nilai-nilai keluhuran moral yang di dalamnya memuat pemikiran-

pemikiran tentang pengajaran moral secara baik menurut ukuran suatu bangsa.

Ajaran dalam serat wulang pada umumnya merupakan nilai-nilai yang berasal dari

pemikiran para pujangga. Keberadaan pujangga pada masa kesusastraan Jawa

Baru ini mempunyai kedudukan sebagai abdi dalem di kraton, kabupaten, sebagai

wali, kyai, atau guru di pondok pesantren. Para pujangga yang berfungsi sebagai

juru jarwa, juru anggit, juru penget, juru citra, juga juru penglipur

(Darusuprapta, 1980:12).

Serat wulang/piwulang merupakan karya sastra yang dominan dalam

sastra Jawa. Sebagai karya sastra lama, serat wulang ini mengandung nilai-nilai

rohani dan ajaran moral/etika yang ditujukan pada masyarakat pembacanya. Hal

ini merupakan suatu bukti bahwa karya sastra lama bersifat didaktis (Edi Subroto

dkk., 1996:4). Sifat didaktik ini dimungkinkan karena orang Jawa tidak memisah-
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 26
digilib.uns.ac.id

misahkan nilai-nilai luhur yang dimiliki yakni nilai religius, filosofis, etis dan

estetis. Karya sastra yang sarat dengan nilai-nilai estetis (menyangkut tata karma,

norma, dan nilai-nilai kehidupan sehari-hari).

Serat piwulang sebagai fungsi didaktis ini pada umumnya dijadikan

sebagai pegangan hidup dalam membentuk sikap pribadi yang ideal (Sadewa,

1989:14). Serat wulang lebih banyak mengajarkan kehidupan praktis, kehidupan

lahiriah yang disebut budi luhur, seperti mematuhi aturan berumah tangga, aturan

pemerintah, aturan agama, mendidik bawahan, mendidik anak, bercita-cita luhur,

mencintai tanah air, mengendalikan hawa nafsu, menjauhi berbuat jahat. Terdapat

pula ajaran untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai upaya untuk mendasari

motivasi ajaran lahiriah (Moh. Ardani, 1995:45).

E. Kepemimpinan Jawa

Pada zaman pemerintah Islam di Jawa (seperti pemerintahan Kasunanan

Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta) para leluluhur atau pujangga Jawa

mewariskan nilai-nilai atau pemikiran budaya Jawa kepada generasi sekarang

melalui naskah-naskah lama, baik berupa fiksi maupun nonfiksi yang cukup

melimpah. Karya sastra Jawa lama itu memuat berbagai hal, seperti bahasa,

filsafat, sastra, etika, hukum, obat-obatan dan sebagainya. Sejumlah warisan

naskah Jawa itu banyak yang berisi ajaran kepemimpinan yang disampaikan oleh

para pujangga atau para raja pada masa itu (Pardi Suratno, 2009:2)

Nilai-nilai kepemimpinan dalam naskah-naskah Jawa itu tampaknya

menjadi perhatian bagi para pemimpin Jawa saat ini. Oleh sebab itu, banyak pihak

yang berkeinginan tetap mewariskan nilai-nilai itu kepada generasi sesudahnya.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 27
digilib.uns.ac.id

Sebagai sosok intelektual dan pemimpin rakyat yang menyadari dirinya sebagai

wakil Tuhan tentunya menyadari bahwa dirinya mempunyai tanggung jawab

menyampaikan ajaran yang memiliki nuansa universal dan melampaui batas

waktu itu kepada masyarakat luas (Pardi Suratno, 2009:2).

Diantara sejumlah naskah Jawa yang memuat ajaran kepemimpinan adalah

Sêrat Wulangrèh, Asthabrata, Sêrat Sabdatama, Sêrat Wedhatama, Sêrat

Tripama, Sêrat Wirawiyata, Sêrat Pepali, dan sebagainya. Realitas menunjukkan

bahwa ajaran kepemimpinan itu disampaikan oleh para pemimpin pemerintahan

Jawa saat itu, seperti yang dilakukan oleh Pakubuwana IV (melalui karya yang

sangat popular Sêrat Wulangrèh), Paku Buwana IX (Sêrat Wulangputra),

Mangkunagara IV (Sêrat Tripama, Sêrat Wirawiyata, Sêrat Wedhatama), dan

sebagainya. Asthabrata merupakan salah satu ajaran kepemimpinan yang paling

terkenal di Jawa. Ajaran Asthabrata terdapat dalam Sêrat Rama Jarwa atau

Sêrat Nitisruti. Di dalamnya disampaikan ada 8 ajaran yang harus dimiliki oleh

seorang pemimpin, yakni sebagai berikut:

1. Pemimpin berwatak bumi: mampu menampung seluruh rakyatnya; kuat

santosa; suci.

2. Pemimpin berwatak matahari: kekuatan, kesabaran, dan sumber energi.

3. Pemimpin berwatak rembulan: keindahan, kelembutan, kehadirannya sangat

dinantikan karena dapat menyenangkan semua pihak.

4. Pemimpin berwatak angin: kepekaan dan empati.

5. Pemimpin berwatak samudra: keikhlasan dan lapang.

6. Pemimpin berwatak geni: ketegasan, keberanian, dan keadilan hukum.

7. Pemimpin berwatak bintang: simbol keindahan dan keteladanan.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 28
digilib.uns.ac.id

8. Pemimpin berwatak mendung (awan): pengayoman, perlindungan, keamanan,

dan keteduhan serta kewibawaan.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 29
digilib.uns.ac.id

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Bentuk dan Jenis Penelitian

Bentuk penelitian terhadap Serat Mudhatanya ini adalah penelitian

filologi. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, artinya melalui pendekatan

kualitatif yang bersifat deskriptif, yang berarti semata-mata menggambarkan,

melukiskan, menuliskan, melaporkan objek penelitian pada saat ini berdasarkan

data yang ditemukan atau sebagaimana adanya. Sebagaimana yang diungkapkan

oleh Bogdan R.C dan S.K. Bikeln dalam M. Attar Semi (1993) bahwa pendekatan

kualitatif yang bersifat deskriptif ini berpandangan bahwa semua hal yang berupa

sistem tanda tidak ada yang patut diremehkan, semuanya penting dan semuanya

mempunyai pengaruh dan berkaitan dengan yang lain. Dengan mendeskripsikan

segala macam bentuk tanda (semiotik) mungkin akan membentuk dan

memberikan suatu pemahaman yang lebih komprehensif mengenai apa yang

sedang dikaji (hal.24).

Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka

atau library research yaitu penelitian yang menggunakan sumber-sumber tertulis

untuk memperoleh data (Edi Subroto, 1992:42).

B. Sumber Data dan Data Penelitian

Sumber data penelitian ini adalah Katalog Induk Naskah-Naskah

Nusantara Jilid I Museum Sana Budaya Yogyakarta karya T.E. Behrend pada
commit
tahun 1990 dan dalam Descriptive to userof the Javanese manuscripts and
Catalogus
perpustakaan.uns.ac.id 30
digilib.uns.ac.id

Printed Book in the Main Libraries of Surakarta and Yogyakarta karya Girardet-

Sutanto pada tahun 1983. Data penelitian adalah naskah dan teks yang berjudul

Serat Mudhatanya koleksi museum Sana Budaya dengan nomor katalog PB C56.

Data sekunder dalam penelitian ini berupa buku-buku, makalah, artikel

dan sumber informasi penunjang lainnya yang dapat membantu memberikan

informasi yang berkaitan dengan penelitian naskah tentang Serat Mudhatanya.

C. Teknik Pengumpulan Data

Dalam teknik pengumpulan data ini, mengacu pada langkah awal dari cara

kerja penelitian filologi yaitu inventarisasi naskah. Inventarisasi naskah

dilaksanakan sesuai dengan sasaran penelitian yang telah diputuskan di awal,

yakni naskah jenis piwulang. Pengertian inventarisasi naskah dalam penelitian ini

adalah usaha-usaha mendata, mengumpulkan data. Salah satu caranya adalah

dengan membaca katalog. Kemudian mendaftar semua judul naskah yang sama.

Melalui katalog tersebut akan diperoleh beberapa informasi dan keterangan

tentang naskah yang dimaksud, misalnya jumlah naskah, tempat penyimpanan

naskah, deskripsi naskah (nomor catalog, ukuran naskah, tulisan naskah, bahasa

naskah, isi kandungan naskah), dan lain-lain.

Setelah mendapat informasi dari katalog-katalog, langkah selanjutnya

adalah mengecek langsung ke lokasi penyimpanan naskah dan melakukan

pengamatan (observasi). Langkah selanjutnya teknik fotografi digital, yaitu

memotret naskah dengan kamera digital (tanpa blitz). Teknik wawancara juga

diperlukan guna memperdalam kajian isi sebagai data sekunder guna melengkapi

data primer.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 31
digilib.uns.ac.id

D. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah mengolah data sesuai dengan cara kerja filologi.

Analisis data akan diolah sesuai dengan teori tahapan/langkah kerja penelitian

filologi Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) yang telah dipadukan

dengan langkah kerja menurut Edward Djamaris, yakni mulai dari penentuan

sasaran penelitian, inventarisasi naskah, observasi pendahuluan dan deskripsi

naskah, transliterasi naskah, kritik teks, suntingan teks dan aparat kritik, dan

terjemahan. Pada naskah tunggal, langkah kerja perbandingan naskah dan dasar-

dasar penentuan naskah yang akan ditransliterasi tidak berlaku. Analisis data pada

kajian isi dilakukan setelah terjemahan. Karena secara garis besar isi naskah

secara keseluruhan dapat diketahui dan lebih jelas setelah kerja filologi yang lain

selesai.

Penyuntingan naskah tunggal dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu

metode edisi standar dan metode edisi diplomatik. Untuk teks Serat Mudhatanya

ini menggunakan metode edisi standar (biasa). Edisi standar menurut Lubis dalam

Naskah, Teks dan Metose Penelitian Filologi, yaitu:

Edisi standar adalah suatu usaha perbaikan dan meluruskan teks sehingga
terhindar dari berbagai kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan yang timbul
ketika proses penulisan. Tujuannya ialah untuk menghasilkan suatu edisi yang
baru dan sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat, misalnya
dengan mengadakan pembagian alinea-alinea, pungtuasi, huruf besar dan kecil,
membuat penafsiran (interpretasi) setiap bagian atau kata-kata yang perlu
penjelasan, sehingga teks tampak mudah dipahami oleh pembaca modern.
(Nabilah Lubis, 2001:96).

Metode edisi standar digunakan jika isi naskah dianggap sebagai cerita

biasa, bukan cerita yang dianggap suci atau penting dari sudut agama atau bahasa,

sehingga tidak perlu diperlakukan secara khusus atau istimewa (Edward Djamaris,
commitdalam
1991:15). Hal-hal yang dilakukan to useredisi standar ini antara lain:
perpustakaan.uns.ac.id 32
digilib.uns.ac.id

membetulkan kesalahan teks, membuat catatan perbaikan, memberi komentar atau

tafsiran, menyusun daftar kata sulit sehingga memudahkan pembaca atau peneliti

membaca dan memahami teks.

Tahap akhir dari analisa data dengan mengungkapkan isi yang terkandung

dalam teks ini yakni dengan teknik analisis interpretasi digunakan untuk

menginterpretasikan isi naskah melalui berbagai sudut pandang peneliti yang

didukung dengan data penunjang, yakni buku-buku, artikel-artikel, majalah-

majalah, makalah-makalah, dan lain-lain.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 33
digilib.uns.ac.id

BAB IV

ANALISA DATA

A. Kajian Filologis

Kajian filologis memiliki tujuan menggambarkan, melukiskan,

menuliskan, melaporkan obyek penelitian pada saat ini, berdasarkan data yang

ditemukan atau sebagaimana adanya. Kajian ini terdiri atas lima bagian, yakni:

deskripsi naskah, transliterasi naskah, kritik teks, suntingan teks dan aparat kritik,

serta terjemahan.

Kelima bagian tersebut selengkapnya akan diuraikan sebagaimana berikut

ini:

1. Deskripsi Naskah

Deskripsi naskah adalah gambaran secara ringkas dan terperinci mengenai

wujud fisik naskah maupun isi naskah dengan tujuan untuk mempermudah

pengenalan terhadap naskah beserta konteks isinya. Deskripsi naskah yang

dilakukan terhadap naskah yang menjadi objek penelitian ini berpedoman pada

pendapat yang dikemukakan oleh Emuch Hermansoemantri (1986) yang

disesuaikan dengan karakteristik naskah yang diteliti.

Hal-hal yang diungkapkan dalam deskripsi naskah antara lain menyangkut

informasi atau data mengenai: (1) judul naskah; (2) nomor naskah; (3) tempat

penyimpanan naskah; (4) identitas pengarang/ penyalin; (5) manggala/ kolofon;

(6) ukuran naskah; (7) ukuran teks; (8) tebal naskah/ jumlah halaman; (9) jumlah

baris pada setiap halaman; (10) cara penulisan; (11) bahan naskah; (12) bahasa
commit
naskah; (13) bentuk teks; (14) huruf, to user
aksara, tulisan; (15) keadaan naskah; (16)
perpustakaan.uns.ac.id 34
digilib.uns.ac.id

umur naskah; (17) ikhtisar teks/ cerita; dan (19) catatan lain. Berikut deskripsi

lengkap naskah SM.

(1) Judul naskah

Naskah ini tercatat dalam katalog T.E. Behrend, Katalog Induk Naskah-

Naskah Nusantara Jilid I Museum Sana Budaya Yogyakarta (1990), pada

halaman 504, dengan judul Serat Mudatanya. Ketika dilakukan pengecekan

langsung ke tempat penyimpanan naskah, judul pada cover luar naskah

bertuliskan “Serat Moedatanya. Serat Kawontenanipoen Pergerakan

Koemoenis” dan pada cover dalam naskah juga pada bagian jilidan luar

bertuliskan “Moedatanya (Koemoenis)”.

Dua bentuk teks yang berbeda jika dihubungkan dengan dua judul naskah

yang berbeda penulisannya pula, ada beberapa kemungkinan seperti berikut:

1. Jika didasarkan pada judul di hard cover, dua teks yang berbeda bentuk

memiliki judul masing-masing, yakni teks yang berbentuk prosa memiliki

judul ”Serat Mudhatanya”, sedangkan teks yang berbentuk tembang

macapat memiliki judul ”Serat Kawontenanipun Pergerakan Koemunis”,

sehingga bisa dikatakan diantara keduanya berdiri sendiri.

2. Jika didasarkan pada judul di bagian jilidan luar dan cover dalam, dua teks

yang berbeda bentuk tersebut menjadi satu dalam satu judul, yakni judul

Serat Mudhatanya, sehingga bisa dikatakan diantara keduanya saling

berkaitan.

Setelah kedua teks ini dibaca lebih teliti lagi, ternyata di antara keduanya tidak

mempunyai keterikatan. Keduanya saling berdiri sendiri dengan isi atau

informasi yang dimiliki masing-masing. Teks yang berbentuk prosa termasuk


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 35
digilib.uns.ac.id

dalam kategori naskah Jawa jenis piwulang, sedangkan teks yang berbentuk

tembang macapat termasuk dalam kategori naskah Jawa jenis sejarah. Karena

sasaran penelitian ini adalah naskah manuskrip jenis piwulang bukan sejarah,

maka judul yang dipilih adalah Serat Mudhatanya. Dan judul Serat

Kawontenanipun Pergerakan Koemunis merupakan judul milik teks lain yang

berbentuk tembang macapat.

(2) Nomor naskah

Dalam katalog T.E. Behrend, Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid I

Museum Sana Budaya Yogyakarta (1990) pada halaman 504, naskah ini

terdaftar dengan nomor PB C56 dengan nomor rol film 112 no.10.

(3) Tempat penyimpanan naskah

Museum Sana Budaya Yogyakarta.

(4) Identitas pengarang/ penyalin

Teks SM dikarang oleh R.T.Purbadipura, hal ini dapat dilihat dari kutipan

halaman iv teks SM, yaitu:

“Sêrat Mudhatanya punika, ingkang ngarang Raden Tumênggung


Purbadipura, Abdi Dalêm Bupati Anom Gêdhong Têngên ing Surakarta
Hadiningrat. Pangarangipun nalika dintên Kêmis Lêgi tanggal kaping 28
wulan Sura taun Jimakir angka 1858 utawi kaping 28 Juli taun angka
1927. Gagriya salêbêting nagari ing kampung Kratonan Kidul, ondêr
dhistrik Sêrêngan, sakilène Pasar Gêmblêgan.”

Terjemahan:

”Serat Mudhatanya ini yang mengarang Raden Tumenggung Purbadipura,


Abdi Dalem Bupati Anom Gedhong Tengen di keraton Surakarta
Hadiningrat. Pembuatannya ketika hari Kamis Legi tanggal 28 bulan Sura
tahun Jimakir 1858 atau 28 Juli 1927. Bertempat tinggal di kampung
Kratonan Kidul, distrik Serengan, sebelah barat Pasar Gemblegan.”

R.T.Purbadipura merupakan seorang Abdi Dalêm Bupati Anom Gêdhong

Têngên keraton Surakarta. commit


Beliauto user
hidup pada zaman pemerintahan
perpustakaan.uns.ac.id 36
digilib.uns.ac.id

Pakubuwana X. R.T.Purbadipura adalah abdi dalem kesayangan Pakubuwana

X. Beliau seorang sastrawan yang sering menggubah perjalanan-perjalanan

PB X dalam bentuk tembang. R.T.Purbadipura merupakan ayah dari R.Ng.

Poerbacaraka. R.T.Purbadipura selain sebagai pengarang naskah SM ini juga

sekaligus sebagai penulis teks SM, tetapi beliau hanya menulis pada halaman

53a-90, sedangkan halaman-halaman sebelumnya ditulis oleh seorang jurutulis

bernama Wignyaukara. Hal ini bisa dilihat dari kutipan halaman 37 teks SM

berikut:

”...................................................................
a : inggih nggèr ndhèrèkakên wilujêng
b : sampun kyai
a : inggih
Ingkang ngarang Purbadipura
Ingkang nyêrat Wignyaukara”
Terjemahan:

“…………………..
a : ya nak, silahkan. Semoga selamat.
b : cukup sekian kyai
a : ya
Yang mengarang Purbadipura
Yang menulis Wignyaukara”

Selain naskah Serat Mudhatanya, beliau juga aktif menulis lebih dari 15 judul.

Sebagian besar bertemakan ajaran didaktik yang bernuansa Islam, etika hidup

manusia dan sejarah. Karya-karya tersebut diantaranya Serat Sri Karongron,

Serat Sri Papara, Serat Resi Danardana, Serat Sriyatna, Serat Sri Hascarya,

Serat Sri Sekaringpuri, Serat Sri Dirgayuswa, Serat Sri Hutomo, Bab

Dodotan, Cathetan Warni-warni, Essing Purbadipura, Kiyamat Kubra I-IV,

dan lain-lain.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 37
digilib.uns.ac.id

(5) Manggala/ kolofon

Naskah ini ditulis pada tahun 1858 Jawa. Sebagaimana yang tertulis pada

manggala berikut ini:

“Sêrat Mudhatanya punika, ingkang ngarang Raden Tumênggung


Purbadipura, Abdi Dalêm Bupati Anom Gêdhong Têngên ing Surakarta
Hadiningrat. Pangarangipun nalika dintên Kêmis Lêgi tanggal kaping 28
wulan Sura taun Jimakir angka 1858 utawi kaping 28 Juli taun angka
1927. Gagriya salêbêting nagari ing kampung Kratonan Kidul, ondêr
dhistrik Sêrêngan, sakilène Pasar Gêmblêgan.”

Terjemahan:

”Serat Mudhatanya ini yang mengarang Raden Tumenggung Purbadipura,


Abdi Dalem Bupati Anom Gedhong Tengen di keraton Surakarta
Hadiningrat. Pembuatannya ketika hari Kamis Legi tanggal 28 bulan Sura
tahun Jimakir 1858 atau 28 Juli 1927. Bertempat tinggal di kampung
Kratonan Kidul, distrik Serengan, sebelah barat Pasar Gemblegan.”

(6) Bahan naskah

Naskah SM dikemas dalam sebuah buku tulis cukup tebal dengan ketebalan

1,1 cm. Kertas yang dipakai kertas lokal, bergaris (garisnya berwarna biru

muda). Kertasnya cukup tebal. Terdapat garis bantu dengan pensil untuk

batas margin.

Penulis menemukan ada 2 jenis kertas lain di luar kertas asli dari buku yang

digunakan untuk menuliskan teks SM. Kertas-kertas tersebut tidak setebal

kertas asli dari buku. Dua jenis kertas lain tersebut yang satu ditempelkan

dengan kertas asli dari buku, yang satunya hanya disisipkan, tidak

ditempelkan. Berarti dalam satu buku ada 3 jenis kertas, yaitu:

1) Kertas asli dari buku itu sendiri: kertas lokal, bergaris (garisnya

berwarna biru muda), kualitas kerta cukup tebal, tiap halaman ada 25

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 38
digilib.uns.ac.id

baris, berukuran 21,2 cm x 16, 8 cm, warna kertas coklat muda agak

kekuning-kuningan.

2) Kertas yang ditempel: kertas lokal, bergaris (garisnya berwarna hitam),

tiap halaman ada 23 baris, kualitas kertas lebih tipis bila dibandingkan

denga kertas asli dari buku, ukuran kertas sama dengan kertas yang asli

dari buku, yaitu 21,2 cm x 16, 8 cm, warna kertas coklat muda agak

kekuning-kuningan.

3) Kertas yang disisipkan: kertas lokal, bergaris (garisnya berwarna hitam),

kualitas kertas tipis, berwarna coklat (coklatnya lebih gelap bila

dibandingkan dengan 2 jenis kertas di atas, berukuran 17,4 cm x 15,4

cm.

(7) Keadaan naskah

Keadaan naskah secara fisik baik utuh/ lengkap, tidak ada lembaran-lembaran

naskah yang hilang, ada beberapa lubang kecil di halaman bagian awal tetapi

tidak sampai mengenai tulisan, dijilid, hard cover berwarna hitam bercorak

keemasan. Ada sekitar 2-3 lembar di bagian pertengahan naskah yang disobek

secara sengaja dan terlihat pemotongannya rapi untuk menempelkan kertas

lain (kertas tambahan).

Teks pada halaman 63-70 (8 hal) dicoret dengan tanda silang oleh penulis

sebagai penanda bahwa teks tersebut sudah tidak terpakai (tidak perlu dibaca).

(8) Ukuran naskah

Naskah SM berukuran panjang 21,2 cm dan lebar 16,8 cm.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 39
digilib.uns.ac.id

(9) Ukuran teks

Dari uraian tentang bahan naskah diatas, yakni ada 3 jenis kertas yang

berbeda-beda, hal tersebut mempengaruhi ukuran teks. Sehingga ada 3 ukuran

teks yang masing-masing juga berbeda. Berikut uraiannya:

1) Kertas asli dari buku itu sendiri

Ukuran teks pada halaman ganjil (sebelah kiri) : 17,8 cm x 11,2 cm

Ukuran teks pada halaman genap (sebelah kanan) : 17,8 cm x 11,1 cm

▪ Margin atas : 2 cm

▪ Margin bawah : 1,4 cm

Ukuran margin kanan dan kiri antara halaman ganjil (halaman sebelah

kiri) dengan halaman genap (halaman sebelah kanan) berbeda, yakni:

Halaman ganjil (halaman sebelah kiri):

Margin kiri : 3,1 cm

Margin kanan : 2,5 cm

Halaman genap (halaman sebelah kanan):

Margin kiri : 2,4 cm

Margin kanan : 3,3 cm

2) Kertas yang ditempel

Ukuran teks pada halaman ganjil (sebelah kiri) : 16,4 cm x 11 cm

Ukuran teks pada halaman genap (sebelah kanan) : 16,4 cm x 10,8 cm

▪ Margin atas : 2,7 cm

▪ Margin bawah : 2,1 cm

Ukuran margin kanan dan kiri antara halaman ganjil (halaman sebelah

kiri) dengan halaman genap (halaman sebelah kanan) berbeda, yakni:


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 40
digilib.uns.ac.id

Halaman ganjil (halaman sebelah kiri):

Margin kiri : 3,8 cm

Margin kanan : 2 cm

Halaman genap (halaman sebelah kanan):

Margin kiri : 2,1 cm

Margin kanan : 3,9 cm

3) Kertas yang disisipkan

Panjang x lebar : 17,1 cm x 15,4 cm

▪ Margin atas : 2,2 cm ▪ Margin kiri : 2,4 cm

▪ Margin bawah : 1,5 cm ▪ Margin kanan : 3,2 cm

Pada kertas ini, teks ditulis hanya satu muka (tidak recto verso), maka

tidak ada pembedaan antara halaman ganjil (halaman sebelah kiri) dengan

halaman genap (halaman sebelah kanan).

(10) Tebal naskah/ jumlah halaman

Tebal naskah SM berukuran 1,1 cm dengan jumlah halaman 130 halaman atau

65 lembar, berikut keterangannya:

Tabel 4.1 Tabel ketebalan naskah SM

Naskah Halaman Jumlah halaman

Serat Mudhatanya i-xi 11 hal

(prosa berbentuk dialog) 1-37 37 hal

53a, 53b, 53c 3 hal

54-57 4 hal

58a, 58b 2 hal

commit to user
59-74 16 hal
perpustakaan.uns.ac.id 41
digilib.uns.ac.id

74a-74i (satu muka, 9 hal x 2 : 18 hal

tidak recto verso)

75-90 16 hal

Teks lain: Serat 38-52 15 hal

Kawontenanipun

Pergerakan Komunis

(berbentuk tembang

macapat)

Lembaran sisa (tidak 8 hal

ditulisi)

Total halaman 130 hal

(11) Jumlah baris pada setiap halaman

Jumlah baris pada setiap halaman rata-rata 24 baris:

a. SM 1-37 (penulis Wignyaukara) : 24 baris

b. SM 53a-90 (penulis R.T. Purbadipura) : 21-22 baris

(12) Cara penulisan

Penulisan teks pada setiap halaman ditulis secara bolak-balik, atau yang

lebih dikenal dengan sistem recto verso, yaitu lembaran-lembaran naskah

yang ditulisi pada kedua halaman muka dan belakang. Selain itu hanya

beberapa halaman yang ditulis secara satu muka (tidak recto verso), yaitu

pada halaman 74a sampai 74i. Ditulis satu muka karena kualitas kertasnya

cukup tipis dan tinta yang dipakai sangat tebal berwarna hitam pekat.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 42
digilib.uns.ac.id

Sehingga kecil kemungkinan teks pada halaman tersebut ditulis secara recto

verso.

Teks ditulis ke arah lebarnya, artinya teks ditulis sejajar dengan lebar

lembaran naskah, ditulis dari kiri ke kanan.

Penomoran halaman menggunakan 2 jenis angka, yaitu:

a. Angka Jawa: pada halaman 1-74 dan 75-90, terletak di sebelah atas

tengah.

b. Angka Arab: pada halaman 74a-74i, terletak di sebelah atas pojok

kanan, kemungkinan besar penomoran ini adalah tambahan dari

pembaca karena warna tinta teks dengan nomor halaman berbeda.

(13) Bahasa naskah

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa Baru, ragam krama dan ngoko,

disisipi oleh bahasa Arab. Bahasa naskah cukup mudah dipahami oleh

masyarakat pembaca saat ini.

(14) Bentuk teks

Teks SM ditulis dalam bentuk prosa berupa teks dialog.

(15) Huruf, aksara, tulisan

Huruf yang dipakai ada 3 macam, yaitu:

a. Huruf Jawa carik: digunakan untuk menuliskan teks secara keseluruhan.

b. Huruf Arab: hanya digunakan ketika menuliskan kata “Allah”.

c. Huruf Latin: hanya digunakan ketika menuliskan icon kedua tokoh

dalam teks yang sedang berdialog.

Karena teks SM ini ditulis oleh 2 penulis, maka bentuk tulisannya berbeda,

yaitu:
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 43
digilib.uns.ac.id

a. Penulis I (Wignyaukara):

- Ukuran font sedang

- Jarak antar huruf rapat

- Bentuk huruf ngetumbar miring ke kanan

- Tulisan jelas dan mudah dibaca

- Jarak antar baris cukup longgar

- Goresan pena sedang, tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis,

dengan tinta berwarna biru tua

- Sangat rapi, tidak ada coretan-coretan karena kesalahan penulisan

b. Penulis II (Purbadipura):

- Ukuran font agak kecil bila dibandingkan dengan tulisan penulis I

- Jarak antar huruf agak renggang

- Bentuk huruf ngetumbar miring ke kanan

- Tulisan jelas tetapi agak susah dibaca

- Jarak antar baris cukup longgar

- Goresan pena sangat tipis dengan tinta berwarna coklat, kecuali

pada halaman 74a-74i, goresan pena terlalu tebal dengan tinta

berwarna hitam pekat

- Kurang begitu rapi, banyak sekali coretan-coretan karena kesalahan

penulisan, banyak kata dan kalimat yang disisipkan karena susunan

kalimat dirasa kurang oleh penulis. Kata dan kalimat tambahan

tersebut ditempatkan di bagian margin (kanan, kiri, atas dan bawah

halaman teks).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 44
digilib.uns.ac.id

Pungtuasi atau tanda baca yang peneliti temukan di dalam teks SM ada

beberapa bentuk, yaitu:

a.

Dalam penulisan Jawa, tanda ini dikenal dengan istilah “pada lingsa”,

fungsinya sebagai tanda berhenti (tepatnya jeda) pada kata, frasa dan

klausa di dalam kalimat. Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah

tanda “koma” dalam suatu kalimat.

Fungsi tanda ini di dalam teks SM: tidak hanya sebagai tanda jeda suatu

kata, frasa dan klausa di dalam kalimat tetapi juga sebagai tanda

berhenti kalimat itu sendiri. Sehingga tanda berhenti antara kata, frasa,

klausa dan kalimat di dalam teks SM ini tidak ada pembedaan tanda,

keduanya sama. Kemungkinan besar pembaca akan merasa cukup

kesulitan ketika membaca dan memahami teks SM ini.

b.

Dalam penulisan Jawa, tanda ini dikenal dengan istilah “pada lungsi”,

berfungsi sebagai tanda berhenti suatu kalimat. Dalam bahasa Indonesia

dikenal dengan istilah tanda “titik” dalam suatu kalimat.

Fungsi tanda ini di dalam teks SM:

- sebagai tanda berhenti suatu kalimat, tetapi fungsi ini sedikit sekali

pengaplikasiannya, peneliti temukan hanya ada di halaman 24, 28,

dan 31

- sebagai tanda petik dalam kalimat langsung (kalimat langsung dari

kutipan teks dari naskah lain di luar teks SM)

- commit
untuk mengapit kutipan tekstodari
usernaskah lain di luar teks SM
perpustakaan.uns.ac.id 45
digilib.uns.ac.id

- dipakai sekali sebagai tanda berhenti ketika menuliskan judul teks

SM

c.

Fungsi tanda ini di dalam teks SM adalah:

- untuk mengungkapkan persamaan kata (SM: 14 & 15)

- untuk mengungkapkan maksud dari suatu kata tertentu (SM: 34)

d.

Fungsi tanda “titik dua” di dalam teks SM ini adalah:

- dipakai pada akhir sutau pernyataan lengkap yang diikuti rangkaian

atau pemerian

- dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian

e.

Tanda yang mirip dengan huruf “L” ini dalam teks SM berfungsi untuk

menandai adanya kekurangan teks. Penulisannya, tanda ini diletakkan

pada bagian bawah teks yang kurang, kemudian teks tambahannya

diletakkan pada daerah margin bagian kiri.

f.

Tanda yang mirip dengan huruf “T” ini dalam teks SM mempunyai

fungsi yang sama dengan tanda sebelumnya, tanda yang mirip dengan

huruf “L”, yaitu sebagai tanda untuk menandai adanya kekurangan teks.

Penulisannya, tanda ini diletakkan di samping teks yang kurang,

kemudian teks tambahannya diletakkan di daerah margin bagian kanan.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 46
digilib.uns.ac.id

g.

Tanda yang mirip dengan huruf “F” ini dalam teks SM mempunyai

fungsi yang sama dengan tanda sebelumnya, tanda yang mirip dengan

huruf “L” dan huruf “T”, yaitu sebagai tanda untuk menandai adanya

kekurangan teks. Penulisannya, tanda ini diletakkan di samping teks

yang kurang, kemudian teks tambahannya diletakkan di daerah margin

bagian kanan.

h.

Tanda ini dalam teks SM berfungsi sebagai tanda yang mengisyaratkan

bahwa kata yang hendak ditulis sama dengan kata diatasnya, sehingga

kata yang tersebut tidak perlu ditulis kembali, cukup dengan menuliskan

tanda ini.

(16) Umur naskah

Naskah ini dibuat pada tanggal 28 Sura tahun Jimakir 1858 atau 28 Juli

1927. Tidak ada keterangan yang menyatakan bahwa naskah ini adalah

naskah salinan. Informasi yang penulis temukan di halaman 37 tentang

penulis dan pengarangnya, mengandung maksud bahwa pengarang meminta

kepada juru tulis untuk menuliskan teks karangannya. Hal ini dikuatkan

dengan adanya tanda semacam tanda-tangan dari pengarang langsung. Jadi

umur naskah SM sampai tahun ini (2009) adalah 82 tahun.

(17) Ikhtisar teks/ cerita

Teks SM yang berbentuk teks dialog ini, mengisahkan dua orang, yakni

seorang kyai dan seorang murid, yang sedang berdialog membahas tentang

commit
etika hidup bermasyarakat dan to user
kepemimpinan. Dialog terjadi di rumah kyai.
perpustakaan.uns.ac.id 47
digilib.uns.ac.id

Dialog antara kyai dan murid ini terjadi dalam 4 kali dialog dengan tema

dialog yang berbeda-beda, berikut uraiannya:

a. Dialog I (SM: 1-16)

Berisi tentang etika hidup bermasyarakat bagi seorang pemimpin

dalam lingkup keluarga, tetangga, bawahan, dan hubungan dengan pihak

luar (8 ajaran kepemimipinan). Kepada keluarga dan sanak saudaranya dia

harus dekat, mencintai keluarga dan sanak saudaranya seperti mencintai

dirinya sendiri, tidak ada rasa rikuh pakewuh. Jika ada dari anggota

keluarga atau sanak saudaranya yang melakukan kesalahan, tidak langsung

dimarahi dengan semena-mena, hadapi dengan kelembutan dan kepala

dingin. Jika terbukti bersalah, jangan langsung memarahinya di depan orang

banyak. Pilihlah moment yang tepat untuk menegurnya, disampaikan

dengan penuh kelembutan dan kesabaran. Memberikan nasehat secukupnya

sesuai dengan kesalahan yang telah dilakukan. Dalam menegur jangan

sampai berlebihan sampai menjatuhkan wibawa dan reputasi sebagai

pemimpin keluarga.

Kepada para abdinya, seorang pemimpin harus memberikan

kepahaman akan tugas dan kewajibannya, selalu diingatkan agar jangan

sampai mengkhianati pekerjaan dan kewajibannya. Pemimpin yang baik

harus memperhatikan kesejahteraan abdi-nya, (kebutuhannya) jangan

sampai ada yang terlantarkan. Membangun hubungan yang baik dengan

abdi-nya, tidak sewenang-wenang (unsur senioritas). Berlaku seadil-adilnya

terhadap para abdi yang terbukti melakukan kesalahan, memberikan

ganjaran/ hukuman sesuai dengan kadar kesalahan yang telah dilakukan.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 48
digilib.uns.ac.id

Kepada tetangganya, pemimpin yang baik harus senantiasa

menjaga hubungan baik dengan orang lain, baik itu yang muda maupun

yang tua. Ketika bermusyawarah atau berdiskusi, tidak tergesa-gesa untuk

menyanggah pendapat orang lain melainkan didengarkan dahulu baik-baik,

dicerna baru kemudian ditanggapi dengan bahasa yang baik dan santun,

jangan sampai mengecewakan pihak yang berpendapat.

Untuk itu, ada 8 hal yang harus dipahami oleh seorang pemimpin,

yakni:

1) Kuwasa berarti wewenang yang dimiliki untuk memutuskan segala

sesuatunya secara bijak.

2) Purba berarti bertanggungjawab atas semua permasalahan dalam

kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya.

3) Wisesa berarti tegas terhadap siapapun untuk senantiasa berbuat

kebajikan.

4) Kukum berarti perlakuan hukum yang sama terhadap siapapun.

5) Adil berarti bersikap adil terhadap siapapun, sesuai dengan usaha yang

telah dilakukan.

6) Paramarta berarti berhati lembut dan mempunyai sifat belas kasihan

terhadap siapapun, sabar dan pemaaf.

7) Dana berarti rajin berderma dengan pemberian yang terbaik.

8) Pariksa berarti sungguh-sungguh ketika melakukan proses pemantauan

dan kontrol terhadap kinerja bawahannya, tidak didelegasikan tetapi

terjun langsung ke bawah.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 49
digilib.uns.ac.id

b. Dialog II (SM: 16-37)

Berisi tentang keteladanan kepemimpinan dari para Nabi dan para

sahabat Nabi yang dikutip dari Serat Tajussalatin, yakni Nabi Adam, Nabi

Musa, Nabi Yusuf, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Muhammad, Abu

Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi

Thalib.

c. Dialog III (SM: 53c-62)

Berisi tentang deskripsi kondisi alam, yakni iklim dan cuaca yang

terjadi saat itu hubungannya dengan sikap penduduk (faktor sebab dan

akibat).

d. Dialog IV (SM: 71-90)

Berisi tentang keteladanan kepemimpinan raja-raja di Jawa (Mataram,

Surakarta, Yogyakarta) mulai dari Ki Ageng Sela hingga PB VIII.

2. Kritik Teks

Kegiatan kritik teks dilakukan setelah naskah dideskripsikan. Pengertian

kritik teks menurut Paul Mass dalam Darusuprapta (1984) adalah menempatkan

teks pada tempat yang sewajarnya, memberi evaluasi terhadap teks, meneliti atau

mengkaji lembaran naskah dan lembaran bacaan yang mengandung kalimat-

kalimat atau rangkaian kata-kata tertentu. Baried berpendapat bahwa, “kritik teks

memberikan evaluasi terhadap teks, meneliti dan menempatkan teks pada tepatnya

yang tepat. Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan teks sedekat-dekatnya

dengan teks aslinya (constitutio textus) (Siti Baroroh Baried, et.al. 1994: 61).

Adapun Sangidu menyatakan:


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 50
digilib.uns.ac.id

Dengan kegiatan kritik teks ini, teks sudah dapat dibersihkan dari
kesalahan-kesalahan dan telah tersusun kembali seperti semula sehingga
dapat dipandang sebagai bentuk teks mula (arketip) yang dapat
dipertanggungjawabkan sebagai sumber untuk kepentingan berbagai
penelitian dalam bidang ilmu-ilmu lain. (Sangidu, 2004: 82)

Berdasarkan kegiatan kritik teks yang telah dilakukan terhadap teks Serat

Mudhatanya ditemukan beberapa bentuk kesalahan tulis yang meliputi: lakuna,

adisi, substitusi, ditografi, dan transposisi. Selain itu juga ditemukan beberapa

ketidakkonsistenan penulisan kata dan variasi-variasi penulisan kata. Masing-

masing penjelasannya sebagai berikut:

(1) Lakuna

Lakuna adalah pengurangan huruf, kata, frasa, atau kalimat pada teks.

Tabel 4.2 Tabel Lakuna

Halaman/ Tertulis
No. Tertulis Jawa Edisi
Baris Latin

1. 29/7 lèmè lèmèk

2. 29/22 kabungah kabungahan

3. 53c/21 wêdal wêkdal

4. 54/7, 56/13 jam jaman

5. 54/20 landhungi landhunging

6. 56/12 titisa titisan

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 51
digilib.uns.ac.id

7. 57/9 gadha gadhah

8. 57/11 pamrentaha pamrentahan

9. 58b/5 gri griya

10. 58b/21 parentah pamarentah

11. 59/5 tan kê tan kêna

12. 61/14 Wallahu Wallahu

akam aklam

13. 61/21 jantu jantung

14. 71/14 panjêngan panjênêngan

15. 73/9, 74/17 Kya Agêng Kyai Agêng

16. 74/8 wontê wontên

74e/7 mukmi mukmin

17. 77/16 suksa suksma

18. 79/13 saètu saèstu

19. 83/14 bala-ba bala-bala

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 52
digilib.uns.ac.id

(2) Adisi

Adisi adalah penambahan huruf, kata, frasa, atau kalimat pada teks.

Tabel 4.3 Tabel Adisi

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin Edisi

1. 7/23 dipunicaling dipunicali

2. 60/16 anggung agung

3. 74f/1 Narendrar Narendra

(3) Substitusi

Substitusi adalah penggantian huruf, kata, frasa, atau kalimat pada teks.

Tabel 4.4 Tabel Substitusi

Tertulis
No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Edisi
Latin

1. 32/9 yatin yatim

2. 36/6 dasanipun dhasaripun

3. 57/19 Bêgêblug Pagêblug

4. 57/22 sarma Darma

5. 58a/6-7 kadhah gadhah

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 53
digilib.uns.ac.id

6. 58a/22 karingipun garingipun

7. 58b/8 kêmbong kêmbung

8. 59/15 ngêdur ngêdhur

9. 60/10 dakmênang sakwênang

10. 60/19 sanakari sanagari

11. 61/7 thilar tilar

12. 62/3 dinas dhinas

13. 75/14-15 lêlakuhanipun lêlabuhanip

un

14. 76/3-4 mapat wapat

15. 77/13 sama nama

16. 84/17 dati-ati ngati-ati

17. 84/1-2 narama narima

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 54
digilib.uns.ac.id

18. 85/7 kalakuanipun lêlabuhanip

un

19. 90/12 mêsêp mênêp

20. 74e/17 Ngayogya Ngayodya

(4) Transposisi

Transposisi adalah perpindahan letak huruf, kata, frasa, atau kalimat pada teks.

Tabel 4.5 Tabel Transposisi

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin Edisi

1. 88/2 lêgêm gêlêm

Selain kesalahan penulisan teks seperti lakuna, adisi, substitusi, dan

ditografi, terdapat pula ketidakkonsistenan cara penulisan kata, yaitu:

a. Penulisan kata ‘kagaliya’ dengan ‘kagaliha’

Tabel 4.6 Ketidakkonsitenan penulisan kata ‘kagaliya’ dengan ‘kagaliha’

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin Edisi

1. 5/2 kagaliya

2. 4/14-15 kagaliha kagaliya

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 55
digilib.uns.ac.id

b. Penulisan kata ‘dhahuru’ dengan ‘dahuru’

Tabel 4.7 Ketidakkonsitenan penulisan kata ‘dhahuru’ dengan ‘dahuru’

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin Edisi

1. 57/18 dhahuru

dhahuru
2. 56/15 dahuru

c. Penulisan kata ‘kalentu’, ‘kêlèntu’ dan ‘kalintu’

Tabel 4.8 Ketidakkonsitenan penulisan kata ‘kalentu’, ‘kêlèntu’ dan ‘kalintu’

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin Edisi

1. 15/22 kalintu

2. 53c/19, 74/14 kalèntu

kalèntu
3. 72/15-16 kêlèntu

d. Penulisan kata ‘asreng’ dengan ‘angsring’

Tabel 4.9 Ketidakkonsitenan penulisan kata ‘asreng’ dengan ‘angsring’

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin Edisi

1. 83/9-10 asreng

asring

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 56
digilib.uns.ac.id

2. 83/7 angsring

e. Penulisan kata ’Mukammat’, ’Mukammad’ dan ’Mukamad’

Tabel 4.10 Ketidakkonsitenan dalam penulisan kata ’Mukammat’, ’Mukammad’

dan ’Mukamad’

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin Edisi

1. 15/9 Mukammat

2. 27/16, 28/2, Mukamad


Mukammad
29/24

3. 33/8 Mukammad

f. Ketidak-konsistenan dalam penulisan bunyi vocal

Tabel 4.11 Ketidakkonsitenan dalam penulisan bunyi vocal

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin Edisi

1. 72/18 Eslam
Islam (dengan

huruf ‘i’
72/13, 72/19, Eslam
Murda)
73/7, 80/19

2. 76/7 Nis

Nis
74/20 Nês

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 57
digilib.uns.ac.id

Selain kesalahan dan ketidak-konsitenan dalam penulisan kata, di dalam

teks SM ini juga ditemui ada beberapa variasi dalam penulisan kata, berikut

uraiannya:

a. Variasi penulisan kata ‘blêdug’ dan kata ‘balêdug’

Tabel 4.12 Variasi penulisan kata ‘blêdug’ dan kata ‘balêdug’

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin

1. 54/16 blêdug

2. 58a/12 balêdug

b. Variasi penulisan kata ‘saknagari’ dan kata ‘saknêgari’

Tabel 4.13 Variasi penulisan kata ‘saknagari’ dan kata ‘saknêgari’

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin

1. 53c-54/22-1 saknagari

2. 54/8 saknêgari

c. Variasi penulisan kata ‘glêpung’ dan kata ‘galêpung’

Tabel 4.14 Variasi penulisan kata ‘glêpung’ dan kata ‘galêpung’

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin

1. 35/10, 35/12 glêpung

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 58
digilib.uns.ac.id

2. 35/15, 35/23 galêpung

d. Variasi penulisan kata ‘panjênêngan’ dan kata ‘pênjênêngan’

Tabel 4.15 Variasi penulisan kata ‘panjênêngan’ dan kata ‘pênjênêngan’

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin

1. 13/10, 26/20, panjênêngan

35/, 72/7

2. 62/17 pênjênêngan

3. Pedoman Transliterasi

Naskah Serat Mudhatanya ditulis dengan aksara Jawa. Oleh karena itu,

transliterasi merupakan salah satu langkah penting yang harus dilakukan untuk

penyuntingan teks. Transliterasi ini sebagai usaha agar teks naskah dapat dibaca

oleh masyarakat yang lebih luas, tidak hanya dari suku Jawa saja. Transliterasi

adalah pengalihan huruf demi huruf dari satu abjad ke abjad yang lain (Edward

Djamaris, 1991: 199). Namun, prinsip transliterasi tersebut tidak sepenuhnya bisa

diterapkan karena sistem ejaan penulisan aksara Jawa berbeda dengan sistem

ejaan penulisan aksara Latin. Untuk itu, dalam transliterasi ini digunakan

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Jawa yang Disempurnakan (Sudaryanto, 1990)

sebagai dasar acuan penulisan bahasa Jawa dalam suntingan ini.

Berikut beberapa pedoman transliterasi untuk memudahkan pembaca

dalam memahami suntingan teks naskah Serat Mudhatanya ini:


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 59
digilib.uns.ac.id

1) Penyajian teks perdialog, tiap dialog diberi judul Dialog I, Dialog II, Dialog

III, dan Dialog IV.

2) Tanda [ ] (kurung biasa), seperti tanda [1], [2], [3] dan seterusnya

menunjukkan pergantian halaman.


1, 2, 3, dst.
3) Angka Arab ukuran kecil di sebelah kanan atas kata, yakni

Menunjukkan catatan atau kritik teks.

4) Teks yang berbahasa Arab dicetak miring.

5) Tanda ^ di atas vokal e, yakni ê dibaca [ ∂] seperti dalam bahasa Indonesia

kata “beras”, kata “gelas”.

6) Tanda  di atas vokal e, yakni è dibaca [ з ] seperti dalam bahasa

Indonesia kata “jengkel”, kata “bengkel”.

7) Kutipan dari naskah lain yang berbentuk tembang macapat disajikan perbaris.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 50
digilib.uns.ac.id

Dengan kegiatan kritik teks ini, teks sudah dapat dibersihkan dari
kesalahan-kesalahan dan telah tersusun kembali seperti semula sehingga
dapat dipandang sebagai bentuk teks mula (arketip) yang dapat
dipertanggungjawabkan sebagai sumber untuk kepentingan berbagai
penelitian dalam bidang ilmu-ilmu lain. (Sangidu, 2004: 82)

Berdasarkan kegiatan kritik teks yang telah dilakukan terhadap teks Serat

Mudhatanya ditemukan beberapa bentuk kesalahan tulis yang meliputi: lakuna,

adisi, substitusi, ditografi, dan transposisi. Selain itu juga ditemukan beberapa

ketidakkonsistenan penulisan kata dan variasi-variasi penulisan kata. Masing-

masing penjelasannya sebagai berikut:

(1) Lakuna

Lakuna adalah pengurangan huruf, kata, frasa, atau kalimat pada teks.

Tabel 4.2 Tabel Lakuna

Halaman/ Tertulis
No. Tertulis Jawa Edisi
Baris Latin

1. 29/7 lèmè lèmèk

2. 29/22 kabungah kabungahan

3. 53c/21 wêdal wêkdal

4. 54/7, 56/13 jam jaman

5. 54/20 landhungi landhunging

6. 56/12 titisa titisan

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 51
digilib.uns.ac.id

7. 57/9 gadha gadhah

8. 57/11 pamrentaha pamrentahan

9. 58b/5 gri griya

10. 58b/21 parentah pamarentah

11. 59/5 tan kê tan kêna

12. 61/14 Wallahu Wallahu

akam aklam

13. 61/21 jantu jantung

14. 71/14 panjêngan panjênêngan

15. 73/9, 74/17 Kya Agêng Kyai Agêng

16. 74/8 wontê wontên

74e/7 mukmi mukmin

17. 77/16 suksa suksma

18. 79/13 saètu saèstu

19. 83/14 bala-ba bala-bala

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 52
digilib.uns.ac.id

(2) Adisi

Adisi adalah penambahan huruf, kata, frasa, atau kalimat pada teks.

Tabel 4.3 Tabel Adisi

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin Edisi

1. 7/23 dipunicaling dipunicali

2. 60/16 anggung agung

3. 74f/1 Narendrar Narendra

(3) Substitusi

Substitusi adalah penggantian huruf, kata, frasa, atau kalimat pada teks.

Tabel 4.4 Tabel Substitusi

Tertulis
No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Edisi
Latin

1. 32/9 yatin yatim

2. 36/6 dasanipun dhasaripun

3. 57/19 Bêgêblug Pagêblug

4. 57/22 sarma Darma

5. 58a/6-7 kadhah gadhah

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 53
digilib.uns.ac.id

6. 58a/22 karingipun garingipun

7. 58b/8 kêmbong kêmbung

8. 59/15 ngêdur ngêdhur

9. 60/10 dakmênang sakwênang

10. 60/19 sanakari sanagari

11. 61/7 thilar tilar

12. 62/3 dinas dhinas

13. 75/14-15 lêlakuhanipun lêlabuhanip

un

14. 76/3-4 mapat wapat

15. 77/13 sama nama

16. 84/17 dati-ati ngati-ati

17. 84/1-2 narama narima

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 54
digilib.uns.ac.id

18. 85/7 kalakuanipun lêlabuhanip

un

19. 90/12 mêsêp mênêp

20. 74e/17 Ngayogya Ngayodya

(4) Transposisi

Transposisi adalah perpindahan letak huruf, kata, frasa, atau kalimat pada teks.

Tabel 4.5 Tabel Transposisi

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin Edisi

1. 88/2 lêgêm gêlêm

Selain kesalahan penulisan teks seperti lakuna, adisi, substitusi, dan

ditografi, terdapat pula ketidakkonsistenan cara penulisan kata, yaitu:

a. Penulisan kata ‘kagaliya’ dengan ‘kagaliha’

Tabel 4.6 Ketidakkonsitenan penulisan kata ‘kagaliya’ dengan ‘kagaliha’

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin Edisi

1. 5/2 kagaliya

2. 4/14-15 kagaliha kagaliya

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 55
digilib.uns.ac.id

b. Penulisan kata ‘dhahuru’ dengan ‘dahuru’

Tabel 4.7 Ketidakkonsitenan penulisan kata ‘dhahuru’ dengan ‘dahuru’

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin Edisi

1. 57/18 dhahuru

dhahuru
2. 56/15 dahuru

c. Penulisan kata ‘kalentu’, ‘kêlèntu’ dan ‘kalintu’

Tabel 4.8 Ketidakkonsitenan penulisan kata ‘kalentu’, ‘kêlèntu’ dan ‘kalintu’

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin Edisi

1. 15/22 kalintu

2. 53c/19, 74/14 kalèntu

kalèntu
3. 72/15-16 kêlèntu

d. Penulisan kata ‘asreng’ dengan ‘angsring’

Tabel 4.9 Ketidakkonsitenan penulisan kata ‘asreng’ dengan ‘angsring’

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin Edisi

1. 83/9-10 asreng

asring

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 56
digilib.uns.ac.id

2. 83/7 angsring

e. Penulisan kata ’Mukammat’, ’Mukammad’ dan ’Mukamad’

Tabel 4.10 Ketidakkonsitenan dalam penulisan kata ’Mukammat’, ’Mukammad’

dan ’Mukamad’

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin Edisi

1. 15/9 Mukammat

2. 27/16, 28/2, Mukamad


Mukammad
29/24

3. 33/8 Mukammad

f. Ketidak-konsistenan dalam penulisan bunyi vocal

Tabel 4.11 Ketidakkonsitenan dalam penulisan bunyi vocal

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin Edisi

1. 72/18 Eslam
Islam (dengan

huruf ‘i’
72/13, 72/19, Eslam
Murda)
73/7, 80/19

2. 76/7 Nis

Nis
74/20 Nês

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 57
digilib.uns.ac.id

Selain kesalahan dan ketidak-konsitenan dalam penulisan kata, di dalam

teks SM ini juga ditemui ada beberapa variasi dalam penulisan kata, berikut

uraiannya:

a. Variasi penulisan kata ‘blêdug’ dan kata ‘balêdug’

Tabel 4.12 Variasi penulisan kata ‘blêdug’ dan kata ‘balêdug’

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin

1. 54/16 blêdug

2. 58a/12 balêdug

b. Variasi penulisan kata ‘saknagari’ dan kata ‘saknêgari’

Tabel 4.13 Variasi penulisan kata ‘saknagari’ dan kata ‘saknêgari’

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin

1. 53c-54/22-1 saknagari

2. 54/8 saknêgari

c. Variasi penulisan kata ‘glêpung’ dan kata ‘galêpung’

Tabel 4.14 Variasi penulisan kata ‘glêpung’ dan kata ‘galêpung’

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin

1. 35/10, 35/12 glêpung

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 58
digilib.uns.ac.id

2. 35/15, 35/23 galêpung

d. Variasi penulisan kata ‘panjênêngan’ dan kata ‘pênjênêngan’

Tabel 4.15 Variasi penulisan kata ‘panjênêngan’ dan kata ‘pênjênêngan’

No. Halaman/Baris Tertulis Jawa Tertulis Latin

1. 13/10, 26/20, panjênêngan

35/, 72/7

2. 62/17 pênjênêngan

3. Pedoman Transliterasi

Naskah Serat Mudhatanya ditulis dengan aksara Jawa. Oleh karena itu,

transliterasi merupakan salah satu langkah penting yang harus dilakukan untuk

penyuntingan teks. Transliterasi ini sebagai usaha agar teks naskah dapat dibaca

oleh masyarakat yang lebih luas, tidak hanya dari suku Jawa saja. Transliterasi

adalah pengalihan huruf demi huruf dari satu abjad ke abjad yang lain (Edward

Djamaris, 1991: 199). Namun, prinsip transliterasi tersebut tidak sepenuhnya bisa

diterapkan karena sistem ejaan penulisan aksara Jawa berbeda dengan sistem

ejaan penulisan aksara Latin. Untuk itu, dalam transliterasi ini digunakan

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Jawa yang Disempurnakan (Sudaryanto, 1990)

sebagai dasar acuan penulisan bahasa Jawa dalam suntingan ini.

Berikut beberapa pedoman transliterasi untuk memudahkan pembaca

dalam memahami suntingan teks naskah Serat Mudhatanya ini:


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 59
digilib.uns.ac.id

1) Penyajian teks perdialog, tiap dialog diberi judul Dialog I, Dialog II, Dialog

III, dan Dialog IV.

Tanda [ ] (kurung biasa), seperti tanda [1], [2], [3] dan seterusnya menunjukkan
pergantian halaman.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 60
digilib.uns.ac.id

4. Suntingan Teks dan Aparat Kritik

a. Dialog I (Pertama):

Sêrat Mudhatanya

A : Sumangga nggèr lajêng pinarak ngriki.

B : Inggih.

A : Punapa sami wilujêng nggèr?

B : Pangèstunipun Kyai inggih wilujêng. Panjênêngan Kyai punapa inggih

sami wilujêng?

A : Pandonga sampeyan inggih wilujêng. Sumangga nggèr wedangipun

kaunjuk.

B : Inggih sumangga sami ngunjuk. Anggèn kula sowan panjênêngan

punika, sapisan lami botên kapanggih. Kaping kalih parlu nyaosi uninga

kula badhe pindhah griya dhatêng ing Purwasari, ondhêr distrik1 Lawiyan

(Surakarta) nyuwun dhawuhipun kyai benjing punapa prayoginipun dintên

ingkang kula angge pindhah?

A : Pamanggih kula prayogi benjing Kemis Lêgi tanggal ping 28 wulan Sura

Jimakir 1858 punika dintênipun sae. Gêsanging dintên mangetan kaliyan

mangidul kalêrêsan dalêmipun anggèr lèr pindhah mangidul. Sangat yusup

rijêki jam 7:25, potipun jam 8:15. Prayogi [2] nipun katamtokakên jam 7:0

awit kala subanipun dhawah rasa kumpul sae. Wontên punapa ta nggèr

kok mawi pindhah dalêm?

commit to user
1
dhistrik
perpustakaan.uns.ac.id 61
digilib.uns.ac.id

B : Mila pindhah, awit griya kula ingkang lami punika radi kalitên, mangka

anak putu batih kula kathah. Dados dhapur sêsak wontên ing griya lami.

Mila pindhah dhatêng griya ingkang agêng supados radi ombèr.

A : Inggih nggèr, botên langkung namung pupuji kula mugi-mugi

kalampahan kaliyan wilujêng sadayanipun sarta sagêda kaagêm ingkang

lami ngantos run tumurun dhatêng putra wayah sapangandhap.

B : Nuwun kapundhi paringipun pandonga panjênêngan mugi Gusti Allah

angabulna.

B : Dados pamriyoginipun2 Kyai benjing dintên kasêbut nginggil wau?

A : Inggih.

B : Dèrèng kalampahan kula sampun maturnuwun.

B : Kajawi punika sarèhne kula punika sugih anak putu sadhèrèk kulawarga

batih kathah, supados sami sakeca manahipun kados pundi Kyai? Mugi

paringa pitêdah badhe kula lampahi kaliyan têmên-têmên.

A : Anakku nggèr, saking trêsnane duwe wong tuwa [3] kaya aku, dadi karsa

ngandika kaya mangkana inggih ta nggèr. Kêkirangan punapa sampeyan,

namung rèhne wontên panêda 3 sampeyan. Kula sampeyan purih suka

pitêdah, inggih sasagêd-sagêd kula laksanani kados ing ngandhap punika:

Ha : Dhatêng putra, wayah, sadhèrèk, santana agêng alit.

Punika sampeyan rakêt ingkang sayêktos. Sampeyan anggêp kados

sarira sampeyan piyambak. Sampun dipunsigêni. Sampun manah rêrênggi.

Sampun lêlamisan. Ngagêma panggalih lamba kemawon. Dipunpitados

2
pamrayoginipun commit to user
3
panêdha
perpustakaan.uns.ac.id 62
digilib.uns.ac.id

sampun mawi sumêlang. Awon sae mangke rak katingal piyambak.

Sampeyan ngagêma dêdhasar4 panggalih sae.

Manawi badhe duka kagalih ingkang panjang rumiyin, sampun

kasêsa. Dene manawi kêdah lêrêsipun duka, ingkang badhe dipundukani

kasingitna sampun ngantos katingal tuwin kamirêng ing akathah.

Wiyosing pangandika ingkang sarèh sêmu manis, sarta ingkang talanjar

ing lêpatipun kemawon, sampun ngantos anggladrah ical jêjêripun.

Wêdaling pangandika ingkang suraos mirma tuwin pangowêl dhatêng

ingkang dipundukani. Langkung prayogi ingkang badhe dipundukani

kaajaka nitih kareta botên mawi rencang. Salêbêtipun kareta lumajêng, ing

ngriku kawiyosna dêdukanipun, nanging inggih ing [4] kang pangandika

sarèh wau punika.

Punapa ingkang dados kabêtahanipun sampeyan tulungi kaliyan

eklasing lair batos. Sampun kintên-kintên ingkang botên-botên. Ingkang

pitados dhatêng kadaripun Gusti Allah, sapa ala nemu ala, sapa bêcik

nêmu bêcik tamtu makatên. Sarta kagungan panggalih momot mêngku

pangaksama. Nyipta yèn dosa lara tak apura, yèn dosa mati tak uripi.

Awit putra, wayah, sadhèrèk, santana punika bilih ngantos gadhah

manah gêla, cuwa, susah anggrêsah, wirang isin, gêngipun papa sangsara

saking sampeyan, punika tamtu gampil anggènipun damêl ruwêt

rêntênging panggalihipun anggèr, sagêd ambêbayani sayêktos. Sabab

sampun sumêrêp dhatêng woda-wadinipun anggèr. Mila kagalih5 saenipun

sampun ngantos nandhang gêla, cuwa, sapanunggilanipun wau.

4
dhêdhasar commit to user
5
kagaliya
perpustakaan.uns.ac.id 63
digilib.uns.ac.id

Sarananipun anggèr kêdah mituruti ing sapantêsipun. Punapa ingkang

dipunsuwun, anggèr kêdah maringakên kaliyan lila lêgawa. Punika tamtu

pinanggih saenipun dhatêng sariranipun anggèr. Sarta kadhawuhan

sumêrêp ingkang têrang saha anglampahi kaliyan têmên-têmên dhatêng

pêpacaking agami ingkang dipunlampahi, ingkang kenging utawi ingkang

botên kenging, punika parlu sangêt.

Na: Dene manawi dhatêng abdi sampeyan agêng [5] alit.

Katêtêpna punapa ingkang sampun dados kawajibanipun. Kagaliya

sampun ngantos andaleya. Sarananipun kêdah dipuntuwuki boga busana.

Sampun ngantos wontên ingkang kêkirangan tuwin kasangsaran. Kêdah

kagalih kaliyan dana pariksa piyambak. Sampun lajêng tan nggêga aturing

liyan. Kêdah kapatitisakên kanyataaningsun.

Dhatêng abdi karakêtna sarta kaagêngna manahipun. Sampun

ngantos damêl tintrim maras-mirising abdi. Sadaya pandamêlaning abdi

punika, sajatosipun angrencangi dhatêng kabêtahan sampeyan. Mila

manawi nuju nyangkul pandamêlanipun anggèr sadèrèng tuwin

sêsampunipun kaarêm-arêm manahing sabda mangalêmbana angecani

manah, supados rumaos ènthèng anggènipun lumampah ing damêl. Lajêng

rumaos kagêm damêlipun.

Ki pujangga sampun cariyos, ”Ora ana wong kêndho janji kanggo.

Ora ana wong daleya ing gawe. Janji cukup pangane, ora ana panggawe

abot janji bobot.” Makatên punika kados sampun tamtu. Manawi sadaya

abdi sampeyan sampun karoban ing dana pariksa, tamtu lajêng gadhah

patêmbaya: anggènipun anglampahi pandamêlan mêsthi kaliyan têmên-


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 64
digilib.uns.ac.id

têmên. Sarta gadhah cipta: sampun ingkang sakit sanadyan dumugi ing

pêjah botên mingkuh. Awit namung sêdya mamalês sih kadarman ing

bêndaranipun.

Manawi para abdi sampun sumung [6] kêm, asih trêsna sayêktos

dhatêng sampeyan. Tamtu mangajêng-ajêng ayahan awrat ènthènga sêdya

dipunlampahi kaliyan sêdya tuhu. Bêbasanipun kajêglugna ing gunung

waja kacêmplungna ing sagara gêni, manahipun botên ajrih sêdya nêtêpi

dhawuh. Makatên wau witipun saking karoban ing sih dana marta. Sarta

pangandika mardawa manis rum ingkang sagêd nuju prana damêl

bingahing manahipun para abdi.

Wosipun anggèr kêdah wêwasar sabda nyata, têrus têrang botên

lêlamisan. Sêsampunipun pariksa têrang, ingkang sae dipun-ganjara

samurwatipun. Ingkang awon dipunpidanaa ingkang timbang kaliyan

lêpatipun, sampun ngantos kagungan kakasih. Manawi kagungan kêkasih

tamtu lajêng baukapine, botên jêjêg pangadilanipun. Nanging sadaya abdi

dipunrakêta, supados gadhah pangraos kasihan. Sampun sangêt-sangêt

ngandika rècèh dhatêng abdi. Manawi ngutus utawi andhawuhi namung

saparlunipun kemawon (cêkak aos).

Ca: Manawi dhatêng tiyang agêng alita ingkang sanês

wêwêngkonipun anggèr, têgêsipun pawong mitra tangga têpalih

kuwaruhan tuwin liya bangsa.

Punika sawatawis kêdah dipunombèri panggalih, sarta dipunecani

manahipun kaliyan têmbung manis. Kanthi awas ing pamawas. Empan

papan wadyaning mangsa kala. Sampun tilar weweka. Priksaa dhatêng


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 65
digilib.uns.ac.id

sêsumuking lajêng badhe kados pu [7] ndi, lamba punapa rangkêp, anggèr

kêdah waspada. Dados botên kablowok ing rêmbag, sawatawis

dipunêmong. Mangatur-aturipun kêdah kagalih ingkang panjang. Sampun

kasêsa anyagahi, nanging bilih sampun sagah sampun ngantos nyidrani.

Ingkang sampun kasagahakên kêdah kalêksanan. Anggèr kêdah

adhêdhasar panggalih lamba rumiyin, kaliyan pangandika arum manis

mardawa mamalad driya ingkang narik suka rêna. Sampun ngêtrapakên

pangandika sêrêng sora, ingkang sarèh rèrèh ririh. Sawatawis ingkang radi

sumarah ing karsa, ingkang botên rêkasa sangsara.

Ra : Tiyang ingkang gadhah bale griya, punika sampun tamtu gadhah

kuwasa, purba, wisesa, kukum, adil, paramarta, dana, pariksa.

Ing sakukubanipun ing ngriku kemawon. Dados kenging

dipunwastani, sasat angratoni dhatêng wêwêngkonipun, mila kêdah

pariksa dhatêng kuwasa, purba, wisesa, kukum, adil, paramarta, dana,

pariksa. Menggah têrangipun:

1. Kuwasa: wênang ngewahi tatanan ingkang kirang murakabi dhatêng

kulawarga.

2. Purba: mêngku dhatêng samukawis agêng alit, amis bacin, èwêt

pêkèwêt, gampil angèl, ruwêt rêntêng, papa sangsara. Sadaya

kukubanipun ing ngriku, punika anggèr ingkang kajibah mêngku.

Têgêsipun ingkang galih kados pundi sagêd dipunicaling6 sêsakit wau.

Sampun: ”Ya bèn awak-awakmu dhewe, wong kowe tak bla [8] nja,

commit to user
6
dipunicali
perpustakaan.uns.ac.id 66
digilib.uns.ac.id

kuwat ya angkatên, ora kuwat ya minggata”. Sampun makatên kêdah

anggèr ingkang damêl nirmala waluya jati, sampun sèlak.

3. Wisesa: punika satêngah amêksa dhatêng tindak sae. Angancam-

ancam sintên ingkang nglampahi lêpat badhe tampi pamisesa ing

samurwatipun nanging sadèrèngipun kêdah dipundhawuhakên, yèn ala

bakal nemu ala, yèn bêcik bakal nêmu bêcik.

4. Kukum: kêdah nindakakên ing salêrêsipun. Têgêsipun, botên

baukapine. Sintên-sintêna bilih botên lêrês inggih kêdah kalêrêsakên.

Manawi mêksa botên purun mantuni tindakipun ingkang awon, ing

ngriku sampun sêdhêngipun katindakakên prakawisipun.

5. Adil: punika tumrap dhatêng putra wayah, sadhèrèk, santana, abdi

agêng alit. Manawi prakawisan rêbat lêrês, dhatêng sêsaminipun putra,

wayah, sadhèrèk, santana, abdi, kêdah dipuntêtêpakên ing

pangadilanipun ingkang jêjêg. Bêbasan: ”Utang nyaur, nyilih

ngulihake. Utang lara nyaur lara, utang pati nyaur pati”, sapiturutipun.

Botên kenging dlêmok cung, kêdah wradin. Têgêsipun yèn Si Dhadhap

kang utang, mung nyaur sêmene, yèn Si Waru kang utang kudu nyaur

sêmene, punika dlêmok cung namanipun. Sampun ngantos makatên,

kêdah sami-sami pamidananipun. Sarta kêdah têtêp ingkang sampun

kasê [9] but ing anggêr-anggêr botên kenging mèncèng.

6. Paramarta: punika bilih putra wayah, sadhèrèk, santana, abdi gadhah

prakawis dhatêng anggèr, ingkang sanès prakawis agêng, kadosta

kalèntu ing patrap, dêksura, kumasurun, anggêgampil kagunganipun

anggèr ingkang botên sapintêna, punika kêdah dipunparingi paramarta.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 67
digilib.uns.ac.id

Sampun lajêng katêtêpakên ing kalêpatanipun. Kêdah dipunaring-

aringi supados asrêp manahipun. Saupami lêpat sakêdhik kemawon

dhatêng anggèr lajêng kapidana awrat, sarta lajêng kauwus-uwus

ingkang botên sampun-sampun, punika botên prayogi. Têmah


7
andados maras-mirising abdi, nipisakên pasuwitan. Mila kêdah

dipunparingi paramarta. Pantês kaparingan pangapura. Punapa dene

tiyangipun ingkang lêpat sampun mungêl nyuwun tobat, punika anggèr

wajib paring pangapuntên ingkang yêktos. Ingkang pitados dhatêng

wicantênipun tiyang sae.

7. Dana: inggih ingkang kêrêp pêparing. Manawi pêparing barang

ingkang enggal risak, kadosta dhahar-dhaharan, sêmbêt

sapanunggilanipun, punika kêdah ingkang kêrêp. Manawi pêparing

barang ingkang sagêd lami kanggenipun, kadosta ingkang warni mas,

intên, dhuwung, tumpakan, tuwin gri [10] ya papan pemahan, punika

kêdah ingkang awis-awis. Mila kula matur makatên sabab anggèr

punika tiyang pancen sugih mas picis raja brana miwah pamêdalipun

agêng. Nglêmpakakên 8 bandha donya arta kathah. Punika tamtu

mêndhêt saking pandamêlanipun tiyang alit. Nanging bilih tiyang alit

sangêt-sangêt dipunpunguti kas kayanipun, punapa botên mêsakakên,

sapisan. Kaping kalih, bilih sampun sugih arta sangêt, bêbasan sampun

ngumbuk-umbuk drèwu, lajêng badhe kados pundi, punapa tiyang

botên badhe pêjah. Manawi sampun pêjah, mangka tilar arta bandha

kathah, punika tamtu dados gadhahanipun para waris. Tarkadhang

7
andadosakên commit to user
8
Ngêmpalakên
perpustakaan.uns.ac.id 68
digilib.uns.ac.id

dados wêwinih ing prakawis, sabab kiranging panarimah

panampinipun warisan. Anggèr botên sagêd maibèn bab punika,

sampun kathah têtuladanipun. Punapa wontên tiyang umur satus taun?

awis. Dados bandha donya arta wau prayogi sacêkapipun kemawon.

Ingkang kagêm anggèr tuwin ingkang badhe kangge tambal sulam bale

griya. Salangkungipun kadanakêna. Dados asmanipun anggèr arum

angambar.

Mila sampun awrat tuwin owèl paring dana dhatêng putra

wayah, sadhèrèk, santana, abdi punapa dene dhatêng pawong

mitranipun anggèr. Nanging pawong mitra [11] wau kêdah dhawah

kantun. Paring dana dhatêng putra, wayah, sadhèrèk, santana, abdi

karumiyina. Sabab bilih tansah paring dana pawèwèh kasaenan

dhatêng pawong mitra, ing mangka dhatêng putra, wayah, sadhèrèk,

santana, abdi awis-awis tur sakêdhik, punika lajêng kenging babasan

”Dananing bandara kaya nyaring banyu padasan. Kang adoh kênthuran

kang cêdhak ora”, sampun ngantos makatên. Awit kasaenan punika

manawi ingkang mastani tiyang liya, sanadyan kasaenanipun wau

sagunung inggih dèrèng kenging dipunandêl, awit botên sumêrêp ing

sadintên-dintênipun. Beda kaliyan para putra wayah sadhèrèk santana

abdinipun piyambak. Manawi mastani bandaranipun sae, tamtu sae

sayêktos, awit nungkuli ing sadintên-dintênipun. Dados sampun mêsthi

têrang dhatêng watak wantuning bandaranipun. Dhangthèk kala matur

kasaenan dhatêng liyan wau dèrèng kenging dipunandêl, punika

makatên. Saupami sampeyan tansah damêl kasaenan dhatêng tiyang


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 69
digilib.uns.ac.id

liyan praja, sarana barang ingkang kathah reginipun, ingkang kataman

sarta ingkang mirêng kasaenanipun anggèr wau têmtu inggih lajêng

mastani sae. Nanging sarêng pitanglêt dhatêng putra, wayah, sadhèrèk,

santana, abdinipun ingkang damêl kasaenan wau, dipunpitang [12]

lêdi: ”Bêndaramu iku apa bêcik tênan?” Wangsulanipun: ”Lêrês

dhatêng liyan pancèn inggih kêrêp paring kasaenan. Nanging dhatêng

kula sadaya namung maligi pêpancèn kula ingkang mêsthi. Awis

sangêt wontên mirungganing kasaenan ingkang dumawah. Langkung

malih bilih suka-suka boga andrawira. Punika ingkang

dipunparlokakên namung dhatêng liyan. Bilih dhatêng putra, wayah,

sadhèrèk, santana, abdi awis-awis. Manguna suka wibawa inggih

namung alit-alitan kemawon. Bilih wontên katrangan makatên arak

kojur, pun liya lajêng gadhah grahita. Apa anggone gawe kabêcikan

marang aku iku, mung arêp panjaluk wêwalês bae”. Arak susah bilih

makatên.

8. Pariksa: pikajêngipun inggih ingkang pariksa sayêktos. Têgêsipun

ingkang botên kaliyan aturing liyan. Ingkang awon ingkang sae anggèr

kêdah matitisakên piyambak. Dhatêng tiyangipun, botên mawi

lêlantaran utusan sabab utusan punika asring suda wêwah kaliyan

nyatanipun. Anggèr tamtu kagungan panggalih: ”Bilih makatên kula

arak rêkaos?”. Inggih tamtu rêkaos tinimbang kaliyan nganggur.

Nanging bilih tiyang sumêdya nyambut damêl raharjaningrat, tamtu

botên angraos rêkaos. Rêkaos pundi kaliyan wong cilik pangane

sêthithi [13] k gawene iklik, yèn luput digitik? Sampeyan punapa kêrsa
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 70
digilib.uns.ac.id

linton sawulan kemawon? Dhèg gèdhèg-gèdhèg. Sarèhne tamtu botên

kêrsa, (bandara dados abdi). Anggèr kemawon ingkang amot, mêngku,

sedya, tata, titi, sêtiti, ngati-ati, mêrak ati, sampun angas-ungase bêngis

angêngis-êngis. Ulat murêrêng marêngut. Prayogi ingkang sêmu

sumèh sumaringah, sampun kagungan wawatêgan nistha.

B : Ingkang panjênêngan wastani nistha punika ingkang pundi Kyai?

A : Nistha punika kathah warninipun kadosta ngopèni barang ingkang

rèmèh-rèmèh. Mirêngakên cariyos ingkang botên damêl alus saening budi. Sarta

ingkang botên mawi wawatoning agami. Ginêm ingkang nglêmpara, anggêladrah,

nyatur awon ing tiyang. Sêsêmbranan, gêgujêngan ingkang ngantos kêlantur-

lantur. Makatên malih anggèr, mêndhêt tatêdhan ingkang sampun dhawah ing siti,

mêlik dhatêng baranging liyan, ngantos kawêdal ngandika kêpengin. Botên

resikan. Mangagêm botên tata kirang tumrap. Ngagêm nyamping, rasukan,

paningsêt, dhestar, sapanunggilanipun jithêtan utawi suwèk, lokot, rêgêd. Taksih

kathah panunggilanipun ingkang nama nistha. Cêkakipun sa [14] bên panggalih

botên mêlikan, inggih botên gadhah tindak tanduk nistha. Punika anggèr sampun

ngantos makatên.

Makatên inggih nggèr, ing agêsang punika limrahipun ingkang kaèsthi

sagêda sae ing salami-laminipun ing donya dumugi ing akerat taksih agama sae.

Punika botên liya amung mêndhêt têtuladan tindak tanduk ingsun priyagung kina

kalarasa kaliyan jamanipun ingkang dipunidaki. Angêmohana dhatêng lêlabuhan

ingkang awon.

Kajawi punika pamanggih kula sadaya barang ingkang ewah kêdah mawi

ngaso kèndêl, kadosta kareta sêpur inggih mawi kèndêl ing sawatawis wontên ing
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 71
digilib.uns.ac.id

sêtasiyun utawi ing haltê. Parlunipun bok manawi supados radi lêrês sawatawis,

sarta kaangge ngandhapakên nginggahakên barang ingkang sampun katamtonakên

mandhap minggahing prahu. Punapa dene kaangge niti pariksa rowa-rowa

sapanunggilanipun pirantosing kareta, bok manawi wontên ingkang ewah salah

satunggalipun, mila kêdah dipun satitèkakên. Makatên uninga gêsang ugi parlu

sangêt mawi ngaso kèndêl, kangge nglêrêmakên tuwin nuntumakên jiwa raga.

Manawi para luhur Buda, sêmadi maladi mahêning ngêningakên cipta. Manawi

para mukmin ya [15] sami sêmbahyang tuwin tapakur rahman. Para agami

Kristên, Yahudi, Konghucu tuwin liya-liyanipun, bok manawi inggih mawi

ngaso=kèndêl.

Wontên malih ingkang kula anggêp parlu, inggih punika ingkang kasêbut

ing Sêrat Wulang Sasana Sunu, warna sapisan mungêl:

....................................9

nahan warna sapisan kocapa/

dena eling salamine/

yèn tinitah sirêku/

saking ora mari dumadi/

dinadèkên manungsa/

mêtu saking ênur/

ri rajêng Nabi Mukammat10/

katujune nora tinitah sirèki/

dumadi sato kewan//

9
Baris pertama dari tembang Dhandhanggula yang tidak dikutip oleh penulis naskah, penulis
commit
naskah nampaknya langsung menuju ke baris to user
kedua.
10
Mukammad
perpustakaan.uns.ac.id 72
digilib.uns.ac.id

Denagêdhe sokurirèng Widhi/

aywa lupa sira sanalika/

dènrumêksa ing uripe/

dènmadhêp ing Hyang Agung/

denapasrah aywa saksêrik/

manawa ana karsa/

urip tapi mundhut/

ngaurip wasana lina/

tan tartamtu dawa cêndhaking ngaurip/

aywa kacipta dawa//

Aywa cipta cêndhak ing ngaurip/

yeku dudu ciptaning kawula/

cêndhak dawa wus pêpancèn/

mung cipta amutèngsun/

mati ana sajroning urip/

mangkana pan winênang/

cipta kang satuhu/

madhêp kumawulèng suksma/

tan sumêlang ananira saking Widhi/

widagda ciptamaya//

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 73
digilib.uns.ac.id

Sampun nggèr sawêg samantên atur kula. Kagem tuwin botên namung

sumangga. Wasana manawi wontên kalintu 11 tuwin lêpating atur kula, kula

nyuwun ngapuntên.

B : O, Kyai sangêt panuwun pêpundhi kula dhatêng paringipun [16] wasiyat

pitêdah punika. Mugi-mugi kula sagêda anglampahi. Rèhne sampun dalu anggèn

kula sowan panjênênganipun Kyai. Sarta sampun kaleksanan panuwun kula, kula

nyuwun pamit mantuk. Sanes dintên sowan malih, nyuwun wêwahing pitêdah.

A : Inggih nggèr ndhèrèkakên wilujêng. Salam taklim kula dhatêng garwa

putranipun anggèr.

B : Inggih nuwun Kyai. Sampun.

A : Inggih andum wilujêng.

b. Dialog II (Kedua):

B : Kulanuwun Kyai.

A : E, anakku mrene manèh. Mangga nggèr, lajêng kemawon lêlênggahan

ngriki.

B : Inggih Kyai.

A : Punapa sami wilujêng nggèr?

B : Inggih pandonganipun Kyai wilujêng. Pangabêkti kula katura.

A : Inggih nuwun nggèr. Sampun radi lami anggèr botên tindak mariki.

Punapa sèstu12 pindhah dalêm?

B : Inggih sampun kalampahan pindhah griya nêtêpi [17] dintên dhawuhipun

Kyai.

11
kalentu commit to user
12
saèstu
perpustakaan.uns.ac.id 74
digilib.uns.ac.id

A : Sokur alhamdulilah. Rak inggih sami wilujêng ta garwa putra wayah

sadaya?

B : Inggih saking pangèstunipun Kyai sami wilujêng sadaya.

A : Sumangga nggèr wedangipun kaunjuk.

B : Inggih, anggèn kula sowan punika sapisan ngaturi uninga bilih kula

sampun kalampahan pindhah griya: wilujêng. Kaping kalihipun sadaya

piwulangipun Kyai sampun wiwit kula angge. Kajawi punika bilih kêparêng kula

nyuwun wêwah ing piwulang malih. Supados wêwahing sasêrêpan kula. Sangêt-

sangêt ing panuwun kula wêwah ing piwulang wau.

A : Anakku nggèr, gene kok kêraya-raya timên ênggone arêp nyidhuk

kawruhe wong tuwa. Inggih ta nggèr sêsagêd-sagêd kula inggih nglaksanani

dhatêng panêdhanipun anggèr, nanging kauningana, sajatosipun kula punika

dhatêng pangawruh taksih kathah kêkirangan kula. Dèrèng mantra-mantra nama

sagêd, tinimbang kaliyan para sampurnèng kawruh. Namung sarèhne kapêksa

saking panêdhanipun anggèr, anggèr katingal asih trêsna dhatêng kula, kula inggih

kêdah nimbangi asih trêsna.

B : O, Kyai sampun kathah-kathah ingkang kagalih, cêkakipun makatên:

upami tatêdhan kula doyan sangêt dhatêng piwulangipun Kyai. Saupami malih,

tiyang karêm nêdha jèngkol [18] punapa sagêd ngêndhat dhatêng tiyang ingkang

pakarêmanipun nêdha jèngkol. Tamtu botên sagêd. Awit sampun kêlajêng dados

pakarêmanipun. Makatên malih kula. Dhatêng piwulangipun Kyai, tiyang sampun

kêlajêng ajêng, kados pundi malih. Mila sumangga kalajêngna paring pitêdah

dhatêng kula.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 75
digilib.uns.ac.id

A : Inggih nggèr kula botên sagêd macali ingkang kados pangandikanipun

anggèr. Botên langkung inggih mugi kamirêngna. Kula criyos: kala anu punika

kula matur dhatêng anggèr, tiyang gadhah bale griya punika prasasat angratoni

dhatêng wêwêngkonipun. Mila anggèr kula aturi priksa dhatêng lêlabuhanipun

ratu ingkang utami. Sanadyan anggèr dede ratu nanging prasasat angratoni

wêwêngkonipun piyambak wau punika. Sumangga kula pêthikakên sêratan

Tajusalatin kaliyan rêringkêsan. Namung kapêndhêt wosipun kemawon.

Nalika Nabi Adam jumênêng ratu angratoni putra wayahipun, punika

taksih karsa nyambut damêl kasap. Sabên dintên pandhe tosan, kaurupakên

kangge dhahar ing sadintên-dintênipun. Sajêgipun sugêng dèrèng nate dhahar

tuwuk. Botên karsa bingah-bingah. Dipuncaosi dhaharan miwah pangagêman

saking putra wayah inggih botên karsa. Sabên dintên tansah katingal prihatos.

Putra wayah ngantos matur ”Punapa ingkang kaprahatosakên13?”. Wangsulanipun

Kanjeng Nabi Adam, ”Aku [19] iki maune dikarsakake dening Gusti Allah dadi

kalipah ana suwarga. Nuju ana dosaku diudhunake marang ing donya kusniya

malebari iki, ngratoni anak putu. Mulane aku ora duwe bungah. Pancèn tak cêgah

sakpatute. Bok manawa dhompo panggawèhaku ngratoni kowe kabèh. Yèn luput

saka kurang titi pariksa. Yakti 14 nêmu dêduka manèh. Kaya aku diudhunake

marang bumi sap pitu. Yèn ratu kêrêp bungah-bungah, lan juwèh iku ilang sênêne.

Murwate ora nana kang kari.” Makatên nggèr bilih Kanjêng Nabi Adam.

Nalika Kanjêng Nabi Mungsa ngiras jumênêng ratu ing Mesir,

ngêmpalakên tiyang sapraja Mêsir sadaya, dipunparentahi dados kalih prangkat.

Saprangkat Kanabeyan, saprangkat Karaton. Ngêndal punika ingkang dados

13
kaprihatosakên commit to user
14
yêkti
perpustakaan.uns.ac.id 76
digilib.uns.ac.id

keblat Masjidil Aksa ing nagari Betal Mukadas. Punika mèh dipunrisak dening

tiyang kapir. Sultan Kanjêng Nabi Mungsa ngundhangi umat sadaya siyaga

sakapraboning prang. Pangandikanipun: ”Hèh wong Mêsir kabèh, sumurupa

panggawehanira rong prakara. Kang dhingin parentah kanabeyaningsun.

Kapindhone parentah karatoningsun. Wong bangga parentahing nabi lan bangga

parentahing ratu, iku sah yèn dènpatènana”. Kathah sangêt wadya balanipun

Kanjêng Nabi Mungsa, ngantos damêl senapati kalih wê [20] las. Satunggaling

senapati amêngkoni bala 220 èwu tiyang. Sangajênging senapati satunggal nama

Sèh Nakib, punika sor-soraning patih, ingkang winênang ngebahakên sagunging

wadyabala sarta mutusi sadayaning prakawis. Dene pêpatihipun nama Sèh Yusak:

mangkat saking Mêsir dhatêng Betal Mukadas. Untaping wadyabala agêng alit

jalêr èstri tumut mangun yuda sadaya. Solahipun golong gumulung kados

sagantên wutah ing dharatan. Sasat jagad prakêsa gonjing prabatarum. Nalika

punika Sultan Kanjêng Nabi Mungsa botên karsa nênitih amung ndharat kemawon

salamining pêrang punika. Manawi dalu kèndêl wontên ing margi. Para

punggawa sami nyaosi pasanggrahan kaagêma lêrês. Sultan Kanjêng Nabi

ngandika: ”Hèh wong Mêsir, aja susah nguwèhi panglêrêman marang ingsun, awit

luwih gêdhe panggawehanira iki saka angarêpake pêrang. Ingsun ora sêdya

ngrèrènoni ngiras sapanggawehanira kang marang ingsun dhewe nora pisan-pisan,

awit kuwatiring atiningsun. Yèn sira ingsun dhawuhi nyambut gawe ingkang

tumrap marang ingsun, iku ingsun sumêlang bok manawa nyuda marang

kêkuwatanira besuk timpuk 15 ing pêrang. Kêndhoning otot, akèh wêtuning

karingêt saking saka panggawehaningsun liyane prakawis pêrang, yèn sira ingsun

commit to user
15
têmpuk
perpustakaan.uns.ac.id 77
digilib.uns.ac.id

purih gawe pasanggrahan ana ing dalan tumrapingsun, besuk têmpuk ing aprang

yèn ana kêndhonira, ingsun ora bisa [21] nyrêngêni. Dene ingsun turu ana ing

dalan mung karo santosaning atiningsun bae aja kongsi dadi gawening wadyabala.

Malah dhamparingsun ora ingsun linggihi yèn durung tempuh ing aprang. Yèn

kasoring lakuningsun aja dadi pangundhat-undhat. Luwih gêdhe panggawehaning

prang iku mungguhing para raja.

Gêgênging 16 pakèwêding praja punika kalih prakawis:1)ebahing kalam

2)ebahing pêdhang, nanging pêdhang botên sagêd ngebahakên kalam, kalam

sagêd ngebahakên pêdhang. Mila ngatos-atos bilih ngebahakên kalam, kêdah

lêlambaran sabda ingkang mardu mardawa tanduking basa sastra cêtha wosing

suraos. Awit bilih botên makatên kalam sagêd ngebahakên pêdhang.

Sultan Kanjêng Nabi Mungsa sabên dintên kêmbul dhahar kaliyan

wadyabalanipun ingkang kalêrês jagi dipunjak dhahar sarêng. Tansah damêl

agêng sarta pirênaning manahing wadyabala. Rumaosing panggalih:

ênggoningsun dadi ratu iki saka si cilik.

Jumênêngipun narendra Kanjêng Nabi Yusup, ugi nagari Mêsir, nuju

miyos siniwaka lênggah ing dhampar kancana pinatik ing mutyara. Ing adhêp

para wadyabala agêng alit pêpak. Ingkang wontên ing arsa para kukuma17 tuwin

ngulama. Sadhèrèk sawêlas angadhêp wo [22] ntên ing kanan kering. Nalika

punika Kanjêng Nabi sawêg nuju gêrah malira. Kacriyos saya wêwah anusipun.

Wontên satunggaling punggawa ingkang matur, ”Dhuh gusti kajawi gêrah dalêm

kados wontên ingkang dados prihatosing panggalih. Punapa gusti ingkang

dipunprihatosakên. Panjênêngan dalêm agung kêkalih ing suksma. Botên

16
Gêng-gênging commit to user
17
kukum
perpustakaan.uns.ac.id 78
digilib.uns.ac.id

kêkirangan samukawis, keringan parangmuka, têka mawi panggalih prihatos”.

Wangsulanipun Kanjêng Nabi Yusup, ”Hèh sakèhing wadyabalaningsun wêruha,

kang dadi prihatin lan kuwatiring atiningsun, iya saka gêdhene

panggawehaningsun dadi kalipah. Wis pitulas taun anggoningsun jumênêng ratu,

ingsun durung sapisan marêgi ênggoningsun mangan. Saka tansah kuwatir

manawa ana sawijining wong kang ingsun ratoni, êsak atine utawa kurang

sandhang pangane. Iku bilahine pasthi katêmpuh marang panjênênganingsun (ratu

kang mêngkoni). Sarupane wong Mêsir iki kabèh kang padha ingsun ratoni iku

sarina sawêngine ingsun ora mariksa dhewe, amung ngêndêlake marang ature

punggawa mantri bae. Manawa ingsun besuk ing pangayunaning Gusti Allah

didangu, ”He Yusup, duk sira ingsun dadèkake ratu ana ing donya,

panggawehanira nata niti pariksa sukêr gampanging karaton. Iku sapa18 wus sira

lakoni dhewe karo setiti.” Yen didangu mangkono kapriye aturingsun. Sa [23]

têmêne ingsun ora midêr pariksa dhewe, mung pracaya marang aturing punggawa

bae. Mulane ingsun rewangi prihatin kurang mangan kurang turu. Sadina sawêngi

mung roti gandum rong iris. Para wadya sarêng mirêng dhawuh makatên lajêng

sami andhêkung sadaya.

Nalika jumênêngipun kanjêng Nabi Dawud, ngiras jumênêng ratu.

Sêsampunipun paring parentah tuwin ngukum-ukumi. Lajêng têdhak dhumatêng

pangimaman. Madhêp ing keblat salat kalih rêkaat, nyuwun dhumatêng ingkang

Maha Suci aturipun, ”Dhuh Gusti Allah ingkang paring karaton dhumatêng kula,

kapitados ambaurêksa dhumatêng kawulaning Allah sadaya, kula nyuwun rijêki

ingkang kalal saking Gusti Allah ing sadintên-dintênipun ingkang kula têdha,

commit to user
18
apa
perpustakaan.uns.ac.id 79
digilib.uns.ac.id

sampun ngantos kula nêdha mêndhêt saking pamêdaling nagari. Bilih kula

ngantos makatên nama ratu siya-siya”. Sanalika katarimah panuwunipun Kanjêng

Nabi Dawud. Kaparingan ayat tumurun damêl rasukan tosan. Namung dipunjujut

kaliyan asta mujijatipun Kanjêng Nabi Dawud. Punika ing sadintên-dintênipun

kasade lajêng kadamêl dhahar kaliyan garwa. Malah wadyabalanipun

dipunanggèni rasukan tosan sadaya, saking dadamêlan tapak astanipun Kanjêng

Nabi Dawud piyambak.

Jumênêngipun Kanjêng Nabi Suleman ratuning jagad. Karêmênanipun

sabên dintên dhawuh ngliwêt 1000 [24] kêndhil. Ingkang sakêndhilipun isi wos

momotan sadasa unta. Sadintên kaping kalih enjing lan sontên. Parlunipun

kaagêm ngingoni wadyabala ingkang pinuju sowan. Ingkang dipunliwêt wau arta

saking asiling nagari. Dene saliranipun piyambak sarta ingkang kagêm nipkah

dhumatêng garwa. Sarintên sadalunipun, inggih punika anggènipun nganam

wakul. Manawi sampun dados lajêng utusan nyade dhumatêng 19 pêkên. Bilih

sampun pajêng dados arta, lajêng katêmpurakên wos. Punika ingkang

dipundhahar sarta ingkang kagêm nipkah dhumatêng garwa. Sarta manawi dhahar

pados rencang pêkir utawi miskin kaajak kêmbul dhahar. Manawi botên angsal

pêkir miskin dipunlampu botên dhahar, kaanjingakên anglampahi siyam.

Satunggal wêkdal Kanjêng Nabi Suleman tindak pêpara dhatêng awiyat,

kadhèrèkakên wadyabala hiburan, ratuning jin setan lêlêmbat. Angin mega

mêndhung sapanunggilanipun bangsa ngawiyat. Sanadyan wadyabala dharatan

inggih andhèrèk nanging lumampah anggrubyuk wontên ing ngandhap kemawon.

Dipuntingali langkung sêmuwa. Tiyang sajagad mèh andhèrèk sadaya.

commit to user
19
dhatêng
perpustakaan.uns.ac.id 80
digilib.uns.ac.id

Salêbêtipun lumampah sami sênêng manahipun. Botên wontên ingkang

kêbêntèrên, seyub sabab mega mêndhung sami mayungi, sarêng dumugi lêladan

tanah Ngarab, wontên sapinggiring nagari Mêkah, wontên pêkir satungga [25] l,

ngungun ngraosi dhatêng Kanjêng Nabi ingkang sawêg nganglangi, ngitêri jagad,

ungêlipun ”He Allah Kang Maha Agung, kalangkung têmên paring tuwan

kamulyan lan kaagungan dhatêng putrane Dawud.” Kanjêng Nabi Suleman

mirêng lajêng dhawuh dhatêng ratuning angin ingkang anyunggi dhampar

palênggahan, dikakakên mandhap nyêlaki dhatêng panggenan pêkir ingkang

ngungun wau. Sarêng sampun cêlak, Kanjêng Nabi Suleman uluk salam, pun

pêkir inggih dugi mangsuli salam. Kanjêng Nabi andangu ”Kisanak, punapa

ingkang sampeyan ucapakên wau?”, pun pêkir mangsuli ”Kula ngungun

kamulyan tuwin kaagunganing Pangeran ingkang kaparingakên dhatêng

sampeyan Sinuhun, dene kok agêng têmên”. Kanjêng Nabi Suleman ngandika ”O

kisanak pêkir, sampeyan sumêrêpa, kamulyan tuwin kaagungan kula wontên ing

donya punika, punika taksih kungkulan kaliyan tiyang ingkang mungêl:

”subêkanalahi ngalkamdulillahi wala ilahailolahu allahu akbar, la kawola wala

kuwatta illa billahil ngalaihil ngalim”, ingkang têrus sumêrêp dumugi

satêgêsipun pisan. Benjing ing akerat dipunparingi kamulyan tuwin kaagungan

kados kula punika tikêl kaping sèwu. Kisanak pêkir sampun maibèn tamtu

makatên. Kaliyan malih ing donya punika sampun masthi risak, botên langgêng,

ingkang têtêp lan ingkang langgêng punika namung ing jaman kapêjahan”. Kula

sêlani inggih nggèr. [26]

B : Inggih Kyai sumangga

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 81
digilib.uns.ac.id

A : Layang Rama nuju têmbang Mijil. Angka kaca katon 440 dene larik 5

saka ngisor muni, sapada pinêthik, banjure sinêmbung:

Karana jroning urip puniki/

ana kang denantos/

mung sadhela tan langgêng uripe/

yayi risak jamaning wong urip/

jamane wong mati/

têtêp ananipun//

Sapada nginggil punika, pangandikanipun Sri Bathara Rama Wijaya

dhumatêng Sang Gunawan Wibisana. Lajêng kula sambêti taksih Sêkar Mijil

Sulastri Pelog Pathêt Barang (kala wau Mijil Maskenthar Salendro Pathêt

Manyura, rèhne larasipun tumbuk nêm, dados gampil pangingêripun dhatêng

barang). Pangapuntên nggèr radi nyalèwèng sakêthik.

B : Botên dados punapa Kyai. Kula malah sênêng. Sêkar Mijil punika kok

sakeca kamirêngakên.

A : Botên sêkar Mijil kemawon sanadyan liya-liyanipun sêkar inggih sakeca.

Janji sagêd ingkang ngêcakakên dhasar sae suwantênipun mawi kulina

sêkar, tamtu sakeca.

B : Panjênênganipun Kyai punika sampun sêpuh nanging manawi nyêkar

kok taksih sakeca.

A : Iyah, botên ta nggèr. Tiyang sêpuh punika ingkang tamtu sarwa suda.

Punapa dene suwantên kula punika nèm mila pancen cêkak mawi radi

gêrok. [27]

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 82
digilib.uns.ac.id

B : Inggih nanging kok taksih gadhah raos nganyut-anyut. Sumangga

kalajêngna Kyai sêkaripun Mijil Sulastri, sambêtipun kalawau.

A : Hê’êm,

Yèn mangkono pagene prihatin/

Ri ratri wirangrong/

sugih miskin wong cilik wong gêdhe/

bodho pintêr sanadyan narpati/

têmbe pasthi mati/

ragade kang kantun//

Dènulêsi wastra mung tri lapis/

tumuli ginotong/

mring kuburan pinêndhêm uruge/

bumi dhudhukan kaluwat bali/

dènidak-idak mrih/

madhêt ngisor dhuwur//

Asor luhur tan beda pangrakti/

pêndhême mangkono/

ing sarehne kaya padha bae/

prayogane narima eng20 ati/

ngati-ati nganti/

pupusên yèn lampus//

B : Saya sêkeca Kyai


commit to user
20
ing
perpustakaan.uns.ac.id 83
digilib.uns.ac.id

A : Nyumanggakakên. Sapunika kula nglajêngakên bab lêlabuhanipun para

ratu ingkang utami.

Nalika jumênêngipun narendra Gusti Kanjêng Nabi Mukamad21 Salalahu

Ngalaihi Wasalam, wadyabalanipun kapalih, ingkang saprangkat senapatinipun

Sayidina Ngali bin Katob, saprangkat senapatinipun sakabat nama Ki Seh Kalid.

Kalih pisan wau sami prawira ing ayuda, angrèh para prajurit lêksan kêthên.

Satunggal wêkdal, musti Kanjêng Nabi wau mangun kaprabon ngirapakên

wadyabala badhe kaangkatakên pêrang nglurugi para kapir ingkang mukir dhatêng

agami. Untaping wadya bala kados rob ing jalani [28] dhi. Busana maneka warni

asri kawuryan lêstantun lampahing wadyabala. Gusti Kanjêng Nabi Mukamad22,

kaliyan bagendha Sayidina Ngumar ing lampah karsa anyimpang mampir nuwèni

ingkang putra Sayidina Patimah. Kacariyos wêkdal punika sawêg karaos radi

kirang sakeca sariranipun. Panyimpangipun Kanjêng Nabi wau, wadya bala botên

wontên ingkang sumêrêp. Rawuh dalêmipun ingkang putra lajêng nèthèk kori.

Sadèrèngipun dipunwêngani kori, sayidina Siti Patimah matur maning salêbêting

dalêm. Dawuh dalêm, “Punapa wontên ingkang ndhèrèk punapa namung

piyambak?”. Gusti Kanjêng Nabi mangsuli pangandika, “Pamanmu Sayidina

Ngumar dhewe kang mèlu. Apa kowe ngidini, pamanmu Sayidina Ngumar tak

ajak mèlu malêbu ngomah”. Sayidina Siti Patimah matur, “Kados pundi anggèn

kula sagêd ngidini bilih paman Sayidina Ngumar ndhèrèk malêbêt griya, awit kula

amung ngangge sinjang satunggal, èwêt anggèn kula nutupakên. Katutupakên

nginggil ngandhap kados pundi, katutupakên ngandhap nginggil kados pundi”

(Putri ing Ngarab bilih kapanggih tiyang jalêr ingkang sanès mukrim, salira

21
Mukammad commit to user
22
Mukammad
perpustakaan.uns.ac.id 84
digilib.uns.ac.id

sakojur kêdah katutup sadaya namung mripat ingkang katingal). Gusti Kanjêng
23
Nabi ngandika “Nya, ênggèr sêbeku ênggonên, dadi bisa jarit loro.”

Kauncalakên lajêng dipunagêm. Sasampu [29] nipun makatên lajêng ngêngakakên

kori. Gusti Kanjêng Nabi kaliyan Sayidina Ngumar malêbêt dhatêng dalêm lajêng

sami lêlênggahan. Gusti Kang24 Nabi ngandika: ”Anakku nggèr, nggonmu turu

geneya dene ora nganggo lèmèk, amung gumlethak ana ing jrambah bae. Mangka

kowe lagi lara.” Sayidina Siti Patimah matur: ”Mila botên mawi lèmè25 saking

sayêktos botên dhawah. Anggèn kula sakit punika sabab tigang dintên tigang dalu

kula botên nêdha botên ngombe. Inggih saking botên wontênipun ingkang kula

têdha, sabab nipkahipun putra dalêm mantu tigang dintên lowong, saking sawêg

anglampahi ayahan dalêm nglurug pêrang punika.” Gusti Kanjêng Nabi mèsêm

kaliyan ngandika: ”Anakku nggèr, dêmi Gusti Allah muga angasihana marang

wong kang sabar ing bilahi lan coba. Laku mangkono iku ora nana kang nimbangi

ing bêcike. Aku iki dikarsakake dadi nabi ratu kalipah ing Gusti Allah diutus

dikakake26 pitutur marang wong kabèh amrih slamêt ing donya lan akerat padha

kasinungana sabar ing ati. Kacuwan bab siji ana ing donya yèn bisa nyabarake,

besuk ana ing akerat tampa wêwalês kabêcikan lan kabungah 27 atikêl kaping

sèwu, Insa Allah.

Sarêng Gusti Kanjêng Nabi Mukamad 28 sampun seda, [30] ingkang

anggêntosi jumênêng ratu bagendha Sayidina Abu Bakar Sidik. Satunggaling

dintên nuju miyos siniwaka lênggah ing Pasar Rukmi, para ngulama, punggawa,

23
nggèr
24
Kanjêng
25
lèmèk
26
ngandikakake
27
kabungahan commit to user
28
Mukammad
perpustakaan.uns.ac.id 85
digilib.uns.ac.id

mantri, agêng alit gumêlar sami sumewa sadaya. Panganggêpipun lastantun kados

nalika jumênêngipun Gusti Kanjêng Nabi. Wiyosipun wau parlu ngukum-ukumi

sagung para umat ingkang gadhah prakawis. Bibar pasewakaning kaprabon,

Sayidina Abu Bakar Sidik nilap ing wadyabala. Nyêlamur dhatêng pêkên sade

nyampingipun parlu badhe kadhahar sarta kaagêm nipkah dhatêng ingkang garwa.

Sadintên-dintên tansah makatên. Lami-lami kasumêrêpan ing wadyabala, lajêng

sami gadhah unjuk. Lampah makatên wau botên prayogi, dipunwastani kirang

santosa kramaning narpati. Kalipahing Gusti Allah sade nyamping dhatêng pêkên,

momor ing tiyang alit punika nyudakakên darajad. Sultan Abu Bakar Sidik

ngandika, ”Bênêr aturira iku, mungguh tumrape karatoningsun. Balik pangan lan

nipkahingsun marang rabiningsun, iku dudu panunggalane bab karaton. Nanging

wajibing manungsa kudu mangan lan nipkahi marang rabine, kang mêtu saka

kaskaya tapak tangane dhewe. Ora kêna nganggo saka liyane. Yèn tinggal

ngupaya nipkahe dhewe pasthi duraka. Lan yèn gêlêm mangan dudu nipkahe

dhewe iku mangan ruba arane”. Sarêng kêncêng pangandikanipun makatên. Para

punggawa ambudidaya sampun ngantos sang nata [31] nyalamur sade nyamping

piyambak dhatêng pêkên. Lajêng dipunsudhiyani sakêdhik saka arta Betta Mal

(asiling nagari). Sarêng Sultan Bagendha Abu Bakar bade29 seda nimbali ingkang

putra ingkang nama Sayidina Ngabdurrahman, dipunwasiyati. Sapêngkêripun

ingkang rama sabin pasitènipun ingkang dipuntanêmi kurma, punika dipunsadea

sapajêng-pajêngipun lajêng kasaurna dhatêng arta Betta Mal ingkang sampun

kadhahar sadintên-dintênipun wau. Tamtu langkung kathah pêpajênganipun

commit to user
29
badhe
perpustakaan.uns.ac.id 86
digilib.uns.ac.id

tinimbang arta Betta Mal ingkang kadhahar. Awit sadintênipun namung wos

satunggal bêruk, sampun sah kapara langkung ing panyaur.

Sasedanipun Bagendha Abu Bakar Sidik, ingkang anggêntosi jumênêng

ratu, Bagendha Sayidina Ngumar. Nuju dintên miyos tinangkil wadyabala

sumewa andhèr kados rob ing jalanidhi. Kanjêng Sultan lajêng ngukum-ukumi

sarta wêwarah ingkang amrih raharjaning donya akerat. Sarampungipun

sagunging wad, ingkang agêng-agêng sami munjuk. Mawi kaparêng nipkah sarta

dhaharipun Kanjêng Sultan dipuncaosi saking arta Betta Mal ing nagari. Dhawuh

wangsulanipun: ”Ingsun iki sira jumênêngake ratu ana ing nagari Madinah kene,

amêngkoni praja sajajahane. Ngêrèh para ratu-ratu, ngulama wadyabala sawonge

cilik lanang wado [32] n gêdhe cilik kabèh, kang padha masuk agamane swargi
30
gustiningsun Gusti Kanjêng Nabi Mukamad , iku kabèh kawêngku ana

panjênênganipun, dadi gêdhe bangêt sêsangganingsun ing karaton iki. Kang iku

pisungsungira nipkah lan dhaharingsun sadina-dinane sira sangga mêtu saka

dhuwit Betta Mal asil wêwêtoning nagara. Muga aja dadi rêngating atinira kabèh,

ingsun ora arêp nampani, balik anggonên nyangga sandhang pangane

kawulaningsun kang padha kêkurangan: anak yatin31, wong papa sangsara, jompo,

sarta bot repoting praja kang amrih ayêm têntrême wêwêngkoningsun, supaya aja

kongsi ana wong sambat kurang kapenak jiwa ragane. Dene ingsun amung minta

suka pirênane atinira kabèh. Wadyabalaningsun gêdhe cilik, muga padha

nglilanana bab nipkah lan dhaharingsun. Sadina-dinane ingsun sêdya ngupaya

dhewe mêtu saka tapak tanganingsun. Sarana adol bata ana ing desa Bangkèk

iringing gunung, rada kiwa sawatara adoh saka ing nagara. Anggoningsun ndêlik

30
Mukammad commit to user
31
yatim
perpustakaan.uns.ac.id 87
digilib.uns.ac.id

nyithak bata, sira aja padha kuwatir marang panggawehaningsun tinangkil

ngukum-ukumi, mancasi prakara, miyarsakake atur prasaja, lan

panggawehaningsun mêmarah marang wong amrih salamêt ing awal akhir,

kalawan nêtêpi pangabêktiningsun Gusti Ingkang Maha Suci. Iku pasthi ingsun

parlokake dhingin. Eng [33] goningsun nyithak bata amung sambèn. Dianggo jaga

supaya aja nganggo nipkah lan panganingsun saka dhuwit Betta Maling nagara”.

Sasedanipun Sultan Bagendha Sayidina Ngumar, ingkang anggêntosi

jumênêng ratu, Bagendha Sayidina Ngusman. Satunggal wêkdal dintên Jumungah

Sayidina Ngusman ngimami. Sarampunging parlu sunating Jumungah lajêng

minggah ing mimbar. Muji ing Gusti Allah muji ing Gusti Kanjêng Nabi

Mukammad Salalahu Ngalaihi Wasalam, lajêng dhawuh ondhang-ondhang: ”Hèh

kèh kawulane Gusti Allah kang padha ana ing masjid, padha wêruha panggawe

kang luwih abot iku rong prakara, siji panggawehaning ratu adil, loro nipkahi

marang rabi. Loro pisan iku ora kêna gothang. Mungguhing karaton kudu tansah

micara supaya wêruh pratingkah sukêr sakit gampang ewuhing praja, yèn nganti

kalèru kang nindakake pasthi duraka gêdhe. Bab nipkah marang bojo yèn ora

ditêtêpi iya mangkono, kaya priye ingsun kudu nindaki rong prakara mau

kapraboningsun kudu awèh parentah kang bênêr bêcik. Enggoningsun tinitah dadi

lanang mêngku rabi kudu awèh nipkah, ing mangka ingsun iki samêngko wis

tuwa. Allah Subêkanalahi Walkamdulillahi”. Wadyabala sarêng mirêng

pangandika makatên wau sami wêlas. Pangagênging punggawa Bagendha

Sayidina Ngali bin Katob, bibar pa [34] sewakan karêmpakan ngrêmbag bab

pangandikanipun sang prabu. Gêlêng giliking rêmbag sayuk rujuk tiyang sapraja.

Rèhne sang prabu wau têmên sampun sêpuh tamtu botên kuwawi nyambut damêl.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 88
digilib.uns.ac.id

Mila lajêng kapanci dipuncaosi dhahar saking arta Betta Mal. Nanging botên

watawis lami lajêng gêrah. Ngajêngakên badhe seda, arta Betta Mal ingkang

sampun kadhahar dipunsauri saking pêpajêngan panyadening pakêbonan ingkang

rumiyin nate dipuntatanêmi piyambak. Sah.

Sasedanipun Sultan Bagendha Sayidina Ngusman, ingkang gumantos

jumênêng ratu wontên ing Madinah, Bagendha Sayidina Ngali bin Katob wau.

Karatonipun mituhu pangrèhing ratu-ratu ingkang sampun kasêbut wau sadaya,

sarta nêtêpi sarengating Kanjêng Nabi panutan. Langkung hardayaning (hardaya =

seru, ribet) manggalih saking èngêt pakèwêtipun tiyang jumênêng ratu (makatên

raosing panggalihipun Sultan Bagendha Sayidina Ngali bin Katob). Tansah

kuwatos bok manawi kalèntu panindakipun tamtu katêmpuhakên dhumatêng

ingkang jumênêng ratu. Sanadyan botên sapunika (ing donya) masthi benjing

pinanggih ing akerat (têgêse sawuse mati tansah dicatur kapi alane ora uwis-uwis

malah alane dianggo kaca brênggala, iya iku wong duraka ing akerat mêmêlas).

Mila Sultan Bagendha Sayidina [35] Ngali bin Katob, sanadyan saliranipun

sampun nyêkêl asma Sultan Kabir Mukmin. Ewadene taksih sangêt prihatos

ngatos-atos. Ing mangka nalika taksih sugêngipun Gusti Kanjêng Nabi

Mukamad32, kajumênêngakên senapatining prang, botên nate kagungan panggalih

was sumêlang sakêdhik-kêdhika. Sarêng jumênêng nata tansah kêtir-kêtir. Mila

saselaning pasewakan rintên dalu tansah ulah pamicara kaliyan sagung para

ngulama tuwin sagung para bèrbudi. Saking sangêting prihatos, Sultan Bagendha

Sayidina Ngali bin Katob, sadintên-dintênipun namung dhahar glêpung gandum

sagêgêm. Gandum punika wêdalan saking sibi-sabinipun piyambak. Bilih

commit to user
32
Mukammad
perpustakaan.uns.ac.id 89
digilib.uns.ac.id

angglêpung dipunsarirani piyambak. Rampung ing pangglêpungipun lajêng

dipunrumati ngontên ing pêthi kinancing kêncêng. Pangagênging wadyabala

munjuk, ”Punapa karananipun Gusti, dene yasan dalêm galêpung panjênêngan

dalêm èmi-èmi sangêt. Ngantos panjênêngan dalêm lêbêtakên dhatêng pêthi

dipunkunci kêkah sangêt, ingkang purun mêndhêt dhahar dalêm kemawon sintên.

Kados botên wontên, kajawi ajrih, raos punapa tiyang amung bubuk lan gandum”.

Nanging kêrsa dalêm têka makatên punika abdi dalêm kawula dèrèng andungkap.

Dhawuh wangsulanipun Sultan Bagendha Sayidina bin Katob ”Mulane

yasaningsun galêpung gandum sudiyan panganingsun, ingsun lêbokake pêthi

tumuli ingsun kunci kukuh. Iku ingsun kuwatir [36] bok manawa kawruhan

marang anak-anakingsun. Pasthi diijoli pêpanganan kang luwih mirasa enak,

mulane ingsun kunci.

La punika nggèr lêlabuhan ingkang utami. Prayogi dipuntiru ingkang

yêktos. Inggih mangsa sagêda plêg botên ketang sapara dasanipun 33 inggih

lowung. Têgêsipun botên nama kêsangêtan anggonipun ngêmpalakên loba murka,

têmahan sagêd maradinakên ambêg paramarta mangaksama, sabab tansah ngagêm

têpa rahsaning sarira. Aku dislomot upêt anjingkat tur lara, kowe iya anjingkat,

rasane padha panas. Makatên sapiturutipun tiyang ingkang ngangge tepa-tepa.

Langkung prayogi malih bilih kagungan watêg, andhisikake liyan, angèrèkake

awake, ing atase wibawa, suka, wirya, busana, boga, andrawina, punika tumrap

dhatêng putra, wayah, sadhèrèk, santana, abdi agêng alit sadaya, bilih sêdya utami

kêdah makatên. Awit ing agêsang punika pikajênganipun warni-warni. Sok botên

kenging dipunwor, upami canthing bumbung dipunsoki toya saklênthing, tamtu

commit to user
33
dhasaripun
perpustakaan.uns.ac.id 90
digilib.uns.ac.id

botên sagêd amot. Têmahan ambaludag wutah dhatêng siti, ingkang malêbêt

namung sakêdhik. Kosok wangsulipun sagantên, sampun ngêmot toya kathah

sangêt ewadene dipunjogi toya saking pundi-pundi taksih malêbêt kemawon. [37]

B : Ha, inggih pandhawuhipun Kyai, bêbasanipun bilih ingkang punika

sampun kalajêng botên doyan dhatêng warah wuruk. Gèk kados pundi, dipunjujua

kados pêksi inggih namung tiwas anjuju, botên sagêd malêbêt. Kajawi punika

Kyai, sadaya paringipun piwulang Kyai dhatêng kula, kula maturnuwun

sakalangkung kapundhi, muni-muni sagêda nglampahi angsal barkah, pangèstu

panjênêngan. Rèhne sampun sawatawis dalu anggèn kula sowan Kyai. Manawi

kêparêng kula nyuwun pamit wangsul mantuk.

A : Inggih nggèr ndhèrèkakên wilujêng.

B : Sampun Kyai.

A : Inggih.

Nyandhak kaca angka 53

Ingkang ngarang Purbadipura

Ingkang nyêrat Wignyaukara

Dialog III (Ketiga):

[53c]

B : Kyai apa ana dalêm?

Jiman : Wontên, mangke kula matur. Punika wontên tamu.

A : (Mêdal dhatêng pandhapi) Monggo nggèr kula aturi lênggah. Wilujêng

nggèr?

B : Inggih wilujêng. Kyai punapa inggih wilujêng?


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 91
digilib.uns.ac.id

A : Inggih pandonganipun anggèr. Pancen kula ajêng-ajêng rawuh

panjênêngan. Punapa kabaripun?

B : Anu Kyai wêkdal punika hawanipun dhateng badan kok kirang sêkeca.

Kyai punapa inggih makatên?

A : Inggih lêrês makatên. Saya kula tiyang sêpuh, dhatêng badan raosipun

prungsang mriyang-mriyang. Bok manawi saking dèrèng wontên jawah punika.

La tiyang mangsa kanêm tanggal kaping 16 ika34 dèrèng wontên jawah, dados

panasipun sangêt, miwah mawi pundi agêng blêdug angampak-ampak dhatêng

mripat sêpêt sakit.

B : Inggih kok makatên wêkdal punika. Kula nyuwun criyosipun Kyai bilih

makatên punika kados pundi?

A : Manawi botên kalentu, criyosipun sabên kawan taun sapisan, katiganipun

panjang, inggih kados wêdal35 punika dhatêng badan kirang sakeca.

A : Kawêwahan ningali solah bawanipun tiyang saknaga[54]ri, kathah

ingkang sambat awratên samangken. Sarta glagading jaman tansah umêg lêmban

adu-adu dèrèng wontên ingkang rampung.

A : Inggih nggèr sampun dilalah. Manawi sawêg makatên punika raosipun

dhatêng badan kirang sakeca, dhatêng manah kirang têntrêm tansah kêtir-kêtir

kuwatir. Kosok wangsulipun bilih pinuju jam 36 tata têntrêm raharja, tiyang

saknêgari manahipun tamtu suka rêna sanadyan mangsa katiga ingkang

bêntèripun sangêt, ewadene rumaosing tiyang inggih sakeca kemawon. Gadhah

pamanggih manawi ngipe 37 barang ingkang têlês, sagêd lajêng enggal garing.

34
punika
35
wêkdal
36
jaman commit to user
37
ngêpe
perpustakaan.uns.ac.id 92
digilib.uns.ac.id

Akas dhangan dhatêng badan. Manawi nuju rêndhêng inggih katampi sakeca.

Raosipun dhatêng badan botên prungsang. Toya jawah wau sagêd nyuburakên

dhatêng tatanêman. Ron-ron lêmbaka ijêm riyu-riyu sakeca dhatêng paningal.

Blêdug sirêp, kalèn-kalèn mili gumaladhag, ngètirakên rêrêgêd. Manawi wontên

angina38 agêng inggih dipuntampi sae, sagêd nyirnakakên ambêt ingkang botên

eca. Têmahan dhatêng napas landhung. Landhung39 napas sagêd anglastantunakên

tampahing rah sumambrah dhatêng saranduning badan waradin samêsthinipun.

[55] Manawi pinuju botên wontên angin, inggih sakeca botên ngraosakên

sumuk. Sanadyan sumuk inggih kèwran anggenipun murih sêgêring badan.

Tiyang malarat narimah angsalipun rêjêki. Tiyang sugih botên was-kuwatos

dening durjana. Anggenipun nyambut damêl kaliyan sênênging manah.

Kèngkènan larè alit dhatêng purun ingkang sawatawis têbih, inggih botên

dipunkuwatosakên. Punapa dene para priyantun dhasar kacêkap saya sangêt

anggènipun tanpa sumêlang.

Cêkakipun bilih wontên ing jaman tata têntrêm raharja wau, manah ing

tiyang sami sênêng suka rêna. Sadaya ingkang katingal kamirêngakên, namung

katampèn kaliyan sae kemawon. Mèh botên wontên ingkang nguciwani. Sanadyan

bêgo wong apisan upami, inggih botên ngraosakên susah. Langkung malih bilih

tiyang-tiyang ingkang anggadhahi manah suka rêna wau angsal sih dana

pariksaning Gusti ingkang tansah anggêlar paramartaning panggalih sarta

nindakakên jêjêging [56] adil, botên pisan ambaukapine inggih dhatêng sintên

kemawon botên mawi mawang tiyang, tamtu kenging adiling lêlêrêsan. Manawi

saèstu makatên tamtu lajêng gadhah cipta asih trêsna dhatêng tênggèn ingkang

38
angin commit to user
39
landhunging
perpustakaan.uns.ac.id 93
digilib.uns.ac.id

dipundunungi. Sêdya labuh labêt nêtêpi prasêtyaning manah kèndêl kèrêm katrêm

wontên praja ingkang dipunênggèni. Dumugining lêbur luluh sêdya labuh. Saking

kataman adil paramarta wau ngantos sami katingal sangêt ing sih trêsnanipun

dhatêng ingkang ngasta pusaraning nagari, ingkang tansah rumêksa rukun

rumêngkuh asih marma dhatêng sadaya titisanagari.

Kosok wangsulipun manawi nuju jam 40 ingkang botên tata: pating

balêngkrah, botên têntrêm: uyang wayang wuyung, botên raharja: dahuru 41 .

Têmbung pating balêngkrah têgêsipun saking botên undha usuk, mangangge

sapurun-purunipun namung janji sagêd tumbas tanpa subasita yogya para ical.

Botên rukun dhatêng bangsa. Tingkah polah muna-muni kaduk purun kirang

dêdugi prayogi. Anggêpipun sami kemawon, botên sêdya urmat dhatêng

sêsamining manusa. Manah [57] gadhah raos angrêsahakên, botên gadhah manah

wêlas dhatêng tiyang ingkang nandang sudra papa, botên sudi têtulung dhatêng

tiyang sakit sangsara sapanunggilanipun. Ingkang piyambakipun asrêmbuhi

sumarêp 42 tuwin cêlak dhatêng tiyang ingkang katiwasan wau, namung ningali

kemawon.

Uyang wayang wuyung têgêsipun, badan manah ing tiyang botên sakeca.

Siyang dalu tansah kuwatir kêtir-kêtir. Gadha 43 raos bok bilih angsal sarusiku

agêngipun angsal dêduka saking ingkang nyêpêng pamrentaha44 kadakwa botên

anu-anu. Manah susah ngêsah mijêr ngalih panggenan mrika-mriki tansah kinuya-

nuya. Winaosnan iku kurang bênêr saiki kudu mangkene ora kêna mangkono,

40
jaman
41
dhahuru
42
sumêrêp
43
gadhah commit to user
44
pamrentahan
perpustakaan.uns.ac.id 94
digilib.uns.ac.id

sapanunggilanipun ingkang ngebahakên manah rêkaos. Sontan-santuning

dhêdhawuhan damêl bingunging manahipun ingkang tampi parentah.

Dhahuru têgêsipun rêbut suwala lair batin. Bêgêblug 45 , sêsakit, sontan-

santun ingkang dhatêng, tiyang ingkang nandhang raga botên angsal usapamarta

(usapamarta: jampi ingkang mêdal saking wêlas asih marma sabda sarma46, botên

kaliyan pangru [58]a dapaksa têmbung misesa). Angsalipun jampi saking

parentah kaliyan sabda sêrêng sora. Dados ingkang ajrihan sami giris manahipun

dipunlampu botên nyuwun. Têmahan bingung botên kantên-kantênan. Sanadyan

sakitipun awit inggih narimah botên jêjampi, saking manawi kadhah47 panuwun

kangelan mawi dipunsêntak-sêntak.

Manawi mangsa katiga manah ing tiyang sami ngrêsula saking panasipun

gumamplêng, dhatêng badan karaos puyang mriyang-mriyang tansah ngorong

kêdah ngombe. Nêdha botên eca, tilem boten sakeca, balêdug angampak-ampak

kabur malêbêt dhatêng irung tuwin maripat botên sakeca sakit ing ganjêl. Mangka

balêdug wau ingkang kathah ubalan saking wradinan ingkang dipunsirami saking

toya kalen ingkang isi rêrêgêd. Adhuh.

Manawi mangsa rêndhêng manahing tiyang inggih kathah ingkang sêdhih,

sabab katampon agêngipun katrocohan. Kêkesahan botên sagêd. Ngipe48 barang

ingkang têlês dangu karingipun 49 . Badhe [58]b mangkat nyambut damêl

kapanjêng jawah. Tamtu dhatêngipun radi lat . Trêkadhang botên nyambut damêl.

Raosing badan kêkês pating marinding sêmu sumêng ngêcêcês atis. Dhatêng

45
Pagêblug
46
darma
47
gadhah
48
Ngêpe commit to user
49
garingipun
perpustakaan.uns.ac.id 95
digilib.uns.ac.id

manah sumpêg namung muntêl wontên salêbêting gri50 kemawon. Manawi pinuju

anginipun agêng, raosing badan pating prakinting prindang-prindang,

dipunkêmuli sumuk. Tanpa kêmul mangsuk angin dhateng padaran kêmbong 51

ambasêsêt. Bilih botên wontên angin, ganda-ganda ingkang botên eca mulêg

botên sagêd ical. Têmahan damêl sêsêging manah. Umor munêg-munêg kados

badhe mutah. Lajêng gadhah kintên makatên wau mahanani sakit. Tiyang ingkang

malarat tansah gadhah manah was-kuwatos, bok manawi anggenipun nyambut

damêl bêbêrah, botên sagêd lêstantun. Angsala pandamêlan inggih kirang jênjêm

sabab para juragan kêrêp kêkirangan bahu sangking rêndhêngan. Lêlajêng muring-

muring dhatêng tiyang ingkang sami bêbêrah, trakadhang lajêng kèndêl botên
52
nyambut damêl. Para parentah dhatêng sor-soranipun tansah nindakakên

kêkêrasan, anggêp dhiri kasar [59] ladak êdak kumingsun, sawênang-wênang

dumèh nyêpêng panguwasa. Pangraosipun nindakakên bênêr miturut anggèr,

nanging tanpa dêduga lawan prayoga. Myang watara riringa haywa lali. Iku

parabot satuhu. Tan kê 53 tininggala. Tangi lungguh angadêg tuwin lumaku,

angucap mênêng anendra, uga duga nora kari, miwah sabarang karya. Ing prakara

gêdhe kalawan cilik. Papat iku datan kantun. Kanggo ing sadina-dina, lan ing

wêngi nagara miwah ing dhusun, kabeh kang padha ambêkan. Papat iku datan

kari, kalamun ana manungsa. Anyinggahi dugi lawan prayogi, iku watêkan tan

patut. Amor marang wong kathah, wong dêksura daludur tan wruh ing ngêdur54.

Aja sira pêdhak-pêdhak. Nora wurung nêniwasi. (Wulangreh)

50
griya
51
kêmbung
52
pamarentah
53
kêna commit to user
54
ngêdhur
perpustakaan.uns.ac.id 96
digilib.uns.ac.id

Cêkakipun manawi nuju jaman botên tata têntrêm raharja. Manahipun

tiyang sami giras-giris maras-miris kuwatir ketir-ketir. Sadaya ingkang katingal

tuwin kamirêngakên namung damêl botên sakecaning manah kemawon. Angsala

darajat [60] kaluhuran, tuwin angsala arta kathah pisan, kanggenipun nampèni,

bilih kaliyan manah rangu-rangu, botên katampèn kaliyan puja sokur. Sabab

saking sampun ngandhut manah sumêlang mêlang-mêlang. Sanadyan

wontêna 55 karamean tuwin pasamuan ingkang langkung saking endah, inggih

magsa ngêmu kuwatos. Langkung malih saupami tiyang-tiyang wau sumêrêp

utawi mirêng, bilih ingkang dados pangagêng nagari, panggalihanipun jahil,

mathakil, bêsisit, dakmênang56, kumaluhur, kèdanan dhatêng urmat, kumêcethil,

sukamèt lumuh kèlangan, nuruti karsanira pribadi, tur sugih donya, botên pisan

damêl têtuladan sae. Dhatêng sor-soranipun pundi ingkang anggung57 anggugung

bilih punika ingkang angsal sih. Bilih pangagêng makatên ambêg lêlabuhanipun

tiyang-tiyang sanakari58 ingkang dados wêwêngkonipun tamtu lajêng gadhah cipta

botên asih trêsna dhatêng nagari wutuh rahipun. Manah gêrah uyang ngalih

panggènan botên sêdya têtêp anggènipun gagriya wontên ing ngriku. [61] Labuh

labêt ajur luluh malih purana kêpêthuk kemawon sumimpang. Manawi dipunaruh-

aruhi èthok-èthok botên mirêng. Labêt saking mirêng punapa sampun kataman

wêwatakan botên sae wau.

Sêrat Menak Drig jilid 2 kaca angka 14 larik 5 saking ngandhap mungêl

dyan thilar59 aturipun, anggêp aturing bastak. Pasthining Hyang ngalamat jagad

55
wontên
56
sakwênang
57
agung
58
sanagari commit to user
59
tilar
perpustakaan.uns.ac.id 97
digilib.uns.ac.id

dahuru 60 . Atur bêcik kanthi nalar, tan nglastarèkakên janji. Mring aturan

ngomondaka. Kêna nurut buwang atur kang bêcik ujwalane ratu agung. Yen bakal

karusakan, sasar susur catur ala kang ginugu. Makatên nggèr ungelipun. Wallahu

akam61

B : Mèmpêr sangêt dhawuhipun Kyai punika, nanging punapa sababipun

dene praja angsring jaman tata asring boten tata.

A : Kajawi bêbasan sampun tinandur, ingkang murugakên inggih saking

sirah. Sirah punika isi utêg, utêg panggenan budi, budi tumurun dhateng jantu62,

jantung anggèn pikir-pikir awon ingkang sae ingkang ngriku, [62] lajêng kawêdal

dhatêng pangucap. Pangucapipun pangagêng ingkang nyêpêng panguwasa,

sumrambah dhatêng tiyang sadaya kang prang dinas63. Lajêng mahanani jaman

awon tuwin sae dalah satunggal ingkang tumindak.

B : Wah kula ndhèrèk sangêt dhawuhipun Kyai punika, kados tamtu

makatên. Kula matur suwun dhatêng Kyai anggènipun paring cariyos dhatêng

kula. Sapunika kula nyuwun pamit badhe mantuk sanès dintên kemawon sowan

malih.

A : Inggih nggèr ndhèrèkakên wilujêng, salam taklim kula dhatêng garwa

putra pênjênêngan.

B : Inggih Kyai nuwun kaping kalih, kantuna wilujêng.

Sambunge kaca angka 71

60
dhahuru
61
Wallahu aklam
62
jantung commit to user
63
dhinas
perpustakaan.uns.ac.id 98
digilib.uns.ac.id

c. Dialog IV (Keempat):

[71]

A : Jiman, klêdhang-klêdhang kae kaya anaku.

Jiman : Inggih.

B : Kulanuwun Kyai.

A : Mangga nggèr lajêng pinarak .

B : Inggih Kyai.

A : Ngriki ingkang radi cêlak kula anggènipun lênggah anggèr.

B : (Srêg maju).

A : Sami wilujêng nggèr sagarwa putra?

B : Pangèstonipun64 Kyai wilujêng sadaya.

A : Anggèr saking tindak pundi, kok radi siyang?

B : Saking griya kemawon, pancèn amung sêdya sowan Kyai.

A : Nuwun nggèr panjêngan65 kêrêp rawuh ing griya kula. Kula dèrèng nate

martamu dhatêng dalêmipun anggèr.

B : Mangga ta, benjing punapa Kyai rawuh ing griya kula ngiras mariksani

griya kula enggal, tuwin satiba bingahipun anak lan semah kula.

A : Inggih Insa Allah, sanes dintên kula matur sabên dhatêng anggèr. Jiman

patèhan kae ajokna mrene.

Jiman : Inggih.

A : Mangga nggèr ngunjuk wedang, punika wau sawêg kemawon kadamêl

wontên ing teko, rêkasnipun ingkang êmbok, tèhipun susong.

[72]

64
pangèstunipun commit to user
65
panjênêngan
perpustakaan.uns.ac.id 99
digilib.uns.ac.id

B : Inggih. Sowan kula punika inggih nyuwun cariyos ingkang ngêmu

wêwulang sadasa kados pundi. Manah kula manawi dipunparingi cariyos ingkang

Kyai punika têka lajêng ladhang dhatêng manah kula.

A : Sokur alkamdulillah bilih anggèr makatên. Kula inggih lêga lila dhatêng

panjênênganipun anggèr. Sumangga punapa ingkang kadangokakên. Ingkang

sagêd tamtu kula matur. Ingkang botên sagêd inggih matur balaka bilih dèrèng

sumêrêp.

B : Anu Kyai, karaton Jawi punika kula sampun sumêrêp. Ingkang miwiti

ngagêm agami Eslam, lajêng Sultan Dêmak sapisan, sapiturutipun dumugi

sapunika. Nanging bilih botên kêlèntu Kanjêng Sultan Dêmak punika bêbasanipun

rak namung madhahi. Talêcêripun ingkang kakung punika sintên ingkang wiwit

ngagêm agami Eslam66.

A : Ingkang wiwit ngagêm agami Eslam67 Kyai Agêng Ngabdurrahman ing

Sesela, ingkang lajêng aran Kyai Agêng Sela.

B : Kados pundi aturanipun.

A : Makatên Prabu Brawijaya ing Maospati ingkang wêkasan. Kula mêndhêt

jêjêr [73] ripun putra kakung ingkang nurunakên karaton Jawi kemawon inggih

punika: Radèn Bondhan Kajawan, taksih Buda pêputra Kyai Agêng Gêtas

Pandhawa, taksih Buda. Sakaliyan wau kula dèrèng sumêrêp kubur

pasareyanipun. Lajêng kyai Agêng Sela punika wiwit ngagêm agami Eslam 68

sapiturutipun mangandhap dumugi sapunika.

66
Islam
67
Islam commit to user
68
Islam
perpustakaan.uns.ac.id 100
digilib.uns.ac.id

B : Kya 69 Agêng Sela sapangandhap turunipun para ratu tumuli sapunika

punapa wontên pèngêtan ambêg lêlabuhanipun.

A : Sasumêrêp kula ing ngriki kados dèrèng wontên sêrat ingkang mligi

mèngêti ambêg lêlabuhanipun para ratu. Kajawi ing Pakualaman punika

kabaripun wontên sêrat pèngêtan makatên wau, dipunnamakakên Sêrat Jatipusaka,

wiwit saking sintên dumugi sintên kula dêrêng sumêrêp Sêrat Jatipusaka wau.

B : Cêkakipun kula gadhah pangintên dhatêng awak kula piyambak kados

mêsthi botên sagêd sumêrêp dhatêng Sêrat Jatipusaka wau. Mila bokcobi Kyai

kaparêng paring criyos dhatêng kula, ambêg lêlabuhanipun Kyai Agêng Sela

sapangandhap.

A : Mangke gèk gèsèh kaliyan ungêl-ungêlipun Sêrat Jatipusaka. [74]

B : Gèsèh inggih kajêngipun, tiyang sami anggêlar kawruh pangraosipun

piyambak-piyambak. Prakawis gèsèh punika limrah. Kadosta Sêrat Babad

Dipanagaran kaliyan Sêrat Orloh Dipanagaran, sami nyariyosakên pêrangipun

Pangeran Dipanagara. Têka inggih kathah gèsèhipun. Liya-liyanipun sêrat malih


70
inggih wonte gèsèhipun tur nunggil ingkang kacariyosakên. Mila mugi

kêparênga maringi cariyos dhatêng kula.

A : Manawi makatên inggih nggèr, kula cariyos nanging inggih mêksa merit

saking lêlampahanipun ingkang kasêbut ing Sêrat Babad. Namung manawi lêpat

tuwin kalèntu kemawon mugi sampun kirang pamêngku tuwin pangaksama.

Criyos kula kados ing ngandhap punika:

69
Kyai commit to user
70
wontên
perpustakaan.uns.ac.id 101
digilib.uns.ac.id

Ambêg lêlabuhanipun kanjêng Kya 71 Agêng Sesela dumugi Ingkang

Sinuhun Pakubuwana ingkang kaping kalih

Ha : Kangjêng Kyai Agêng Sesela, pêputra

Na : Kangjêng Kyai Agêng Nês72

Ca : Kangjêng Kyai ing Pamanahan

Ra : Kangjêng Panêmbahan Sènopati

Ka : Kangjêng Sinuhun Seda Krapyak

Da : Kangjêng Sinuhun Sultan Agung

[74]a

B : Anu Kyai kula punika angsring nggagas anak kaliyan bapa biyung. Anak

punika angsring botên sami mèmpêr kaliyan bapa biyungipun. Trakadhang plêg

warninipun. Punapa dene wêwatêganipun ugi anggèr botên mèmpêr kaliyan

tiyang sêpuhipun, punika kados pundi. Manawi kêparêng mugi paringa pitêdah.

A : Inggih nggèr mênggah wêwatonipun kula dèreng sumêrêp. Namung kula

ngaturakên pamanggih kula dhatêng anggèr. Kintên-kintên lêrês lêpat

nyumanggakakên. Manawi anggèr rujuk pamanggih kula makatên.

Trakadhang warninipun plêg kados bapakipun. Trakadhang warninipun

plêg kados biyungipun. Trakadhang warninipun sakêdhik mempêr bapaki [74b]

pun sakêdhik mempêr biyungipun. Trakadhang botên mèmpêr babar pisan kaliyan

sudarmanipun kalih. Ingkang makatên wau, manawi lare warninipun plêg kaliyan

bapakipun punika nalika badhe dhumawah ing wiji, ingkang branta rumiyin

kanthi adrênging manah punika ingkang jalêr. Saking adrêngipun ngantos

71
Kyai commit to user
72
Nis
perpustakaan.uns.ac.id 102
digilib.uns.ac.id

mahanani wujud kados piyambakipun, têmahan dadosing manungsa inggih kados

bapakipun.

Kosok wangsulipun bilih ingkang branta rumiyin kanthi adrênging manah

ingkang èstri. Saking adrêngipun ngantos mahanani wujud kados ibunipun.

Têmahan dadosing manungsa inggih kados ibunipun.

Manawi lare warninipun sakêdhik kados bapakipun, sakêdhik kados

ibunipun [74c] punika nalika badhe andhawahakên, ingkang badhe nampèn ing

wiji, jalêr èstri sami sasarêngan adrêng ing trastanipun. Lajêng mahananipun

angadhah73 warni kados bapa biyungipun.

Manawi wontên lare babar pisan botên wontên èmpêr-èmpêripun kaliyan

bapa biyungipun, punika nalika badhe andhawahakên saha ingkang badhe

nampèni wiji, jalêr èstri botên gadhah niyat nunggil tilêm. Tangi tilêm ènjing

wontên lajêng dadakan lajêng katindakakên. Wasana dados, têmahan botên

mempêr babar pisan. Makatên malih nglilir saking tilêm dalu têngah dalu. Wontên

barang ingkang gadhah kajêng piyambak lajêng katindakakên. Trakadhang

salêbêting tilêm wau mêntas supina sumêrêp kêthèk, sarêng nglilir manahipun

taksih anggagas impènipun. Tamtu inggih [74d] mahanani kados tilêm.

Sapanunggilanipun ingkang kumantil-antil wontên ing manah. Sagêd ugi

dadosing lare lajêng kados ingkang dipun-gagas wau. Sanadyan amung sakêdhik

èsthining manah tamtu anglabêti. Wontên ugi ingkang beda-beda wêwatêkanipun.

Ingkang lajêng watêgipun sae. Ingkang manggulu watêgipun awon sapiturutipun,

punika kados inggih botên liyan inggih saking tiyang sêpuhipun kalih. Têgêsipun

nalika badhe nètèsakên wiji ingkang dados. Bapa biyungipun manahipun sawêg

commit to user
73
anggadhah
perpustakaan.uns.ac.id 103
digilib.uns.ac.id

punapa. Punapa sawêg murka angongsa-ongsa. Punapa sawêg sabar narimah

tawêkal . Punapa sawêg wêning. Punapa buthêg. Punapa nepsu. Punapa sawêg

ngèsthi kasugihan kasinggihan, kaluwihan sapiturutipun ingkang [74e] sawêg

kaèsthi marêm manah. Tamtu mahanani dhatêng anak.

B : êlo, manawi makatên manah punika ping-pingan sangêt.

A : Inggih nggèr, tiyang ingkang sampun tilangkung punika dipunsêbut

manahipun dalêmipun Gusti ingkang Kuwasa kolbu mukmi74 baetullah. Manawi


75
tiyang limrah, mêmanahanipun tamtu sontan-santu gajêg makatên, gajêg

mangkana. Amila sare dene wontên sêsorah kados ingkang kasêbut nginggil.

Prayogi bilih badhe nètèsakên wiji, mawi ya angèsthi ingkang sae. Sampun

bêbasan sakengingipun kemawon, sampun makatên. Têtuladanipun wontên inggih

mangsa ngêplêkan. Inggih mirit sakêdhik-sakêdhik to cung. Inggih punika Prabu

Dasarata ing Ngayogya 76 , duk arsa pêputra [74]f Sri Jathara Rama Wijaya

Narendrar77 ing Purwapura.

B : Sanadyan sadaya wau sawêg nama sêsorah nanging manah kula marêm

cumêplong sarta rujuk.

A : Sokur nggèr alkamdulilah, walahu aklam.

[74i] : lanjutan dari halaman 75

Ja : Kanjêng Sinuhun Pakubuwana kaping Tiga, pêputra

Ya : Kanjêng Sinuhun Pakubuwana kaping Sakawan, pêputra

Nya : Kanjêng Sinuhun Pakubuwana kaping Gangsal, pêputra

Ma : Kanjêng Sinuhun Pakubuwana kaping Nêm, pêputra

74
mukmin
75
sontan-santun
76
Ngayodya commit to user
77
narendra
perpustakaan.uns.ac.id 104
digilib.uns.ac.id

Ga : Kanjêng Sinuhun Pakubuwana kaping Pitu, punika putra dalêm Sri PeBe

kaping Sakawan

Tha : Kanjêng Sinuhun Pakubuwana kaping Wolu, punika putra dalêm Sri

PeBe kaping Nêm, pêputra

: Kanjêng Sinuhun Pakubuwana kaping IX

Sri PeBe V

Sri PeBe VII Sadherek sami putra dalêm Sri PeBe IV nanging sanes ibu.

Sri PeBe VIII Sri PeBe V : nalika pêputra Sri PeBe V taksih jumênêng

Adhipati Anom, ingkang ibu lajêng seda, mila

asma Kanjêng Ratu Kadipaten

Sri PeBe VII : saking Kanjêng Ratu Kancana

Sri PeBe VIII : saking Kanjêng Raden Rantan Gawa Paminggir

[75]

Ta : Kanjêng Sinuhun sumare Têgal Arum, pêputra

Sa : Kanjêng Sinuhun Mangkurat Bawa

Wa : Kanjêng Sinuhun Mangkuratan

La : Kanjêng Sinuhun Pakubuwana Sapisan, punika putranipun ingkang

Sinuhun sumare ing Têgal Arum wau. Dados sadhèrèkan mrênah rayi

kaliyan Sinuhun Mangkurat Bawa. Sinuhun Pakubuwana Sapisan pêputra:

Pa : Kanjêng Sinuhun Prabu Amangkurat

Dha : Kanjêng Sinuhun Pakubuwana kaping Kalih

Ja : PB III

Ya : PB IV
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 105
digilib.uns.ac.id

Nya : PB V

Ma : PB VI

Ga : PB VII╒

Ba : PB VIII ╒

Tha : PB IX

╒ : kaping pitu, kaping wolu punika sami putra kaping 4, dados sanes dalêm

kaping 5 kaprênah nèm.

Mangsuli

Ha : Kanjêng Kyai Agêng Sesela. Ambêg lêlakuhanipun78 nalika taksih nèm,

rêmên dhatêng ing kaprajuritan, mila ngantos kadadosakên prajurit

Tamtama ing Dêmak. Linambaran tapabrata, wêgah dhahar, wêgah

nendra, tansah puruhita dhatêng para sagêd ing jaman samantên. Ngèsthi

dhatêng dugi prayogi. Mila lêpas dhatêng kawruh kasampurnan. Sarêng

sampun sêpuh rêmên sangêt dhatêng budi kapandhitan, nêtêpi agami

Eslam 79 . Rintên dalu tansah sêmbah Hyang nyuwun pitulung ing Gusti

Allah ingkang kaèsthi sagêda mêngku ing tanah Jawi. Sasêlaning ngabêkti

ing [76] Gusti Allah, sinambi olah tata, nênanêm, sapanunggilanipun,

dèrèng kalampahan sêlak seda. Nanging nalika karaos badhe mapat 80

sampun dhawuh dhatêng ingkang putra Kyai Agêng Nis kinèn

anglajêngakên ingkang dados èsthining panggalih wau.

78
lêlabuhanipun
79
Islam commit to user
80
wapat
perpustakaan.uns.ac.id 106
digilib.uns.ac.id

Na : Kanjêng Kyai Agêng Nis. Ambêg lêlabuhanipun nyantri balaka. Karêm

lêlana tapabrata dhatêng ing wana. Mandhap ing jurang, minggah ing ardi.

Mila ngantos pêparab Bagus Anis, têgêsipun kêrêp kêkesahan ugi puruhita

dhatêng para sagêd ngantos dados sabatipun Kyai Bêluk ing Lawiyan.

Bêtah nglampahi wêgah dhatêng sare. Ngèsthi wêlingipun ingkang rama

tumuntên sagêda kasêmbadan. Dèrèng kalampahan kasêlak seda. Nanging

ugi sampun mêling dhatêng ingkang putra kanjêng Kyai Agêng

Pamanahan, kinèn anglajêngakên èsthining panggalih.

Ca : Kanjêng Kyai Agêng ing Pamanahan. Ambêg lêlabuhanipun, rêmên

tapabrata mardi budi utami. Mêmikir tata, titi, tatas, patitis. Amot mêngku

dhatêng kawruh akal lêmbat. Sagêd angawula. Waspada dhatêng tindak

nistha madya utami. Lêpas ing [77] panggalih, mutusi ing sasmita. Pun

padene dhatêng ngalamat ilamat dalajating praja, priksa sadèrèngipun

dumados. Mila nalika suwita wontên nagari Pajang saking sagêdipun

manggalih dhatêng samukawis ngantos dipunparabi Kyai Pamanahan

(namanipun piyambak Ngabdurrahman). Saking sugih pikir jêmbar ing

panggalih, mila ingkang dipunsuwitani sabên badhe kagungan karsa, tamtu

mundhut pamanggih sarta panimbangipun Kyai Agêng Pamanahan wau.

Saking katarimahipun ngantos dipun-ganjar siti ing Mataram. Dalah

malêbat wukiripun pisan (katêlah nama Kyai Agêng Mataram).

Salêbêtipun ngawula wontên ing Pajang, sasêlaning pakaryan praja, inggih

botên sah cêgah dhahar nendra têtêp ngabêkti ing suksa 81 awit taksih

nglastantunakên82 wêlingipun rama ing nginggil wau. Dèrèng kalampahan

81
suksma commit to user
82
nglêstantunakên
perpustakaan.uns.ac.id 107
digilib.uns.ac.id

kasêlak seda nanging ugi sampun mêling dhatêng ingkang putra Radèn

Ngabêhi Sutawijaya: Panêmbahan Senapati, kinèn anglajêngakên

èsthining panggalih sêdya mangkurat tanah Jawi. Kyai Agêng Pamanahan

satampining siti Mataram upami dalu sampun mèh rahina sêmubang ing

purwa pajar sidik. Trostong-trostong hyang arupa arsa madhangi jaman.

[78]

Ra : Kanjêng Panêmbahan Senapati ing ngalaga. Ambêg lêlabuhanipun nèm

mila têtêg, têguh, dhantêr ing panggalih, sanadyan sampun nama kagungan

kamuktèn saking ingkang rama (siti ing Mataram) ewadene taksih karêm

lêlana tapa brata mati raga, tansah wêgah dhahar nèndra, ngèsthi

pêpêndhening sarira, mêlêng gumêlênging karsa. Nênuwun dhumatêng

Ingkang Murba Misesa tumuntêna kalêksanan wêlinging rama. Sagêd

mêngkoni nata pramudita nung sajawi sadaya. Linambaran nastapa, asih

dhatêng sêsamining manungsa kaliyan pangandika mêmalatsih damêl

bingah sarta agênging manah. Dhantêr dhatêng yuda. Digdaya

mandraguna prawira têtêg têguh ing pakewuh priksa dhatêng mangsa kala.

Tansah ngêtrapakên dugi prayoga watara riringa. Putus dhatêng kêdhap

sasmita. Botên kewran dhatêng galaring mangsah. Bilih pasang gêlang

botên katupiksa ing mêngsah. Saking rêmpit wingiding karsa alus lurusing

wadi ngantos botên kawadaka ing liyan. Bilih badhe mangsah pêrang

kajawi panggalih têtêg santosa prayitna ngatos-atos. Mawi nênungku cipta

sêmadi mahêni. Ngêlingkên kang panca driya. Mêgêng napas nutupi

babaèn nawa sanga. [79] Ngatas karsaning Hyang Wisesa, manawi

sampun têrang kaparêng lajêng mangsah sarta nyipta patêmbayaning


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 108
digilib.uns.ac.id

panggalih kalah sirna, mênang ngukum. Sarêng sampun kalampahan

jumênêng nata. Anggènipun mêngku dhatêng putra, santana, wadyabala

adil paramarta dana pariksa, tansah damêl agêngipun manah. Sadaya

tiyang wêwêngkonipun agêng alit sami kinulit daging. Raos eca sakeca

karumiyinakên dhatêng titiyang wêwêngkonipun. Saliranipun

kêkantunakên. Nanging ingkang sampun tetela lêpat tuwin awon masthi

kapidana punapa lêrêsipun. Ingkang saètu83 wis84 lêrês masthi dipun-ganjar

samurwatipun. Tansah panggalih waspada prayitna wèwèka, anglêluri

saha ngèstokakên sabda wasiyating para sêpuh ingkang amrih raharja.

Ka : Ingkang Sinuhun Seda Krapyak. Ambêg lêlabuhanipun asih marma

dhatêng putra, santana, wadyabala. Pangimbating praja adil paramarta.

Nanging panggalihipun tipis, botên patos têtêg radi ngêmu sumêlang.

Da : Ingkang Sinuhun Sultan Agung. Ambêg lêlabuhanipun timur, mila

sampun bapa kaliyan [80] para sadhèrèk rêmên sangêt anglampahi tapa

brata, bêkti ing Gusti Allah tuwin dhatêng para sêpuh. Asih sangêt dhatêng

para Jamhur Ngulami ingkang ahli sarengat tarekat kakekat makripat

kawruh ing kaeslaman. Bêbasanipun têtêp ngêdohi cêgah, anglampahi

parentahing Nabi panutan. Jumênêngipun narendra ngagêm Ambêg

Trimurti, inggih punika: 1)Ambêging Ratu Utami 2)Wali 3)Prajurit,

kaagêm sadaya, botên kewran panindakipun.

Têgêsipun Ambêging Ratu Utami wau tansah awas ing pamawas

dhatêng adil paramarta kêncêng, têtêp ing pangandika, sagêd damêl

agênging manahipun para wadyabala, para dhah ing nguja krama, welas

83
saèstu commit to user
84
wus
perpustakaan.uns.ac.id 109
digilib.uns.ac.id

asih dhatêng pêkir miskin. Patitis mêmatah karya, ingkang pandamêlan

alus botên kaparingan pandamêlan agal. Ingkang pandamêlan agal, botên

kaparingan pandamêlan alus sapiturutipun makatên.

Ambêging Wali, nêtêpi agami Eslam 85 . Bêtah tapa brata cêgah

dhahar nendra. Putus ing ngèlmi kasampurnan pamoring kawula gusti,

priksa sangkal paraning tumuwuh, botên kalèdhon pangukut,

pangracutipun lêpas patitis, sarta pambabaripun inggih botên kaèstu ing

tatrap [81] tuwin tansah ngicali susah panggrêsah ing panggalih. Namung

angagêngakên panarimah sumarah pasrah satitah èngêt dhatêng Gusti

Allah ingkang murba kamisesa ing ngalam sadaya.

Ambêg Prajurit: têtêg, têguh, têtêp, santosa, wèwèka, prayitna,

kêndêl dhatêng ing lêrês, sagêd pasang gêlar amrih sêkecaning lampah,

murih pakèwêding mangsah. Priksa pating awrat ènthènging lêlampahan

tansah dipunmaspaosakên. Lêlambaran prawira sakti mandraguna, bilih

sampun têmpuk ing yuda. Amratignya sêpuh kalah sirna mênang ngukum.

Botên watak nistha pêpangusira. Salêbêting panggalih amung pasrah

dhatêng Ingkang Murba Misesa ing jagad pramudhita. Èwêt bilih tindak

punika manut ing lêlampahan. Awon manggih awon, sae manggih sae.

Têmtu makatên ambêg lêlabuhanipun ingkang Sinuhun Sultan Agung.

Sanadyan sampun jumênêng narendra agung binathara, botên angêgung-

êgungakên, malah taksih radi asor raga. Taksih rêmên anjarah desa,

amilang kori, ngayam malas anjalak pandêling. Dhalasan sagantên inggih

dipunlêbêti. Saking anggènipun martitisakên dhatêng ing kawontênan

commit to user
85
Islam
perpustakaan.uns.ac.id 110
digilib.uns.ac.id

ingkang sajati. Botên amung pracaya dhatêng atur kemawon, mawi dipun-

nyatakakên piyambak. Cê[82]kakipun bilih ing tanah Jawi sêsampunipun

karaton Dêmak Pajang Mataram dumugi sapunika dèrèng wontên narendra

ingkang kados Sinuhun Sultan Agung Hanyakrakusuma ingkang sumare

ing ngastana Imogiri. Sanadyan sampun seda ewadene taksih kagungan

daya prabawa tandhaning narendra ingkang linangkung, maibên.

Sumangga kacobiya sowan dhatêng pasareyanipun. Mangke rak lajêng

priksa lan kraos dhatêng manah kumêlas lajêng ajrih, asih ayêm têntrêm

wêning kaprabon ambêging ratu tuhu linangkung.

Ta : Ingkang Sinuhun Têgal Arum. Ambêg lêlabuhanipun inggih amung

salimrahing ratu kemawon, ugi asih marma dhatêng wadyabala. Wiyosing

pangandika angsring ngecani manah. Nanging sok wontên ingkang botên

nyata. Manawi panggalihanipun inggih tansah murih dhatêng raharjaning

praja. Namung asring kalêbêtan atur ingkang lala cora tarkadhang inggih

karsa ngagêm. Mila pandamêlan ingkang rèmèh-rèmèh sok

dipunparlokakên. Rêmên ngugung dhatêng para wanita. Kêrêp tilêm

ngagêm panggalih ingkang sawang karsa. Têmahan damêl rangu-

ranguning manahipun ingkang tampi dhawuh. Manawi duka botên mawi

panggalih panjang. Ingkang [83] kêrêp lajêng kabranang ing atur

mêmadul. Dhatêng ing ayuda kirang waspada. Mila kalampahan jêngkar

saking Mataram (bêdhah).

Sa : Ingkang Sinuhun Mangkurat Bawa, ingkang mêjahi Trunajaya. Ambêg

lêlabuhanipun santosa ing ayuda. Sagêd olah pangandika kêkèrasan,

pangandika manis arum nanging angsring botên tana, upami sapunika


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 111
digilib.uns.ac.id

pêthak sanes dintên abrit. Botên wantah ing karsa, rêmên sêsiliban,

manawi kagungan karsa asring kêncêng, botên keguh ing atur prasaja.

Wa : Ingkang Sinuhun Mangkurat Mas. Ambêg lêlabuhanipun sanadyan

sampun nama diwasa, ewadene panggalihipun taksih kados nalika taksih

timur. Labêt saka kogung bala-ba 86 dhatêng wadyabala punapa dene

dhatêng wasita inggih lila pêparing raja brana. Nanging dhatêng wanita

bosênan, cêngkiling, mara asta rêmên gêgujêngan ingkang dipuncêlakakên

tiyang ingkang ngubungi karsa. Alitan panggalih, angsring sèlak botên

nêtêpi prajanji. Rêmên nyobi dhatêng wataking wanita. Pangandikanipun

sêmbrana parikêna, botên mituhu dhatêng wêlinging rama. Ing ayuda

kirang prawira, tipis ing panggalih, nanging kêrêp pêranging karsa

ingkang botên tana.

La : Ingkang Sinuhun Pakubuwana sapisan. [84] Ambêg lêlabuhanipun alus,

lêmbat, sabar, narama 87 , tawêkal, rèrèh, ririh ing ngandika botên rèsèh.

Ngèstokakên dhawuh ing rama. Bêtah tapa brata pasrah ing Gusti Allah,

sanadyan dipunwisesa dipunêngis-êngis dhatêng samining manusa inggih

amung sumarah. Sadaya rêmbag ingkang dhatêng saliranipun sanadyan

lêrês sae badhe sakeca botên lajêng dipunturuti. Nanging kagalih panjang

sarta kaèsthi wontên ing cênta maya. Tansah kèndêl wontên ing papan sêpi

ijèn sêmadi maladi mahênêng-ngêningkên kang panca driya nêgês dhatêng

Gusti ingkang nguwasani ing gêsang kita. Dados bilih kagungan karsa

mangka dèrèng têrang tetela saking Hyang Kang Murba, dèrèng karsa

anindakakên. Bilih sampun angsal sasmita cêtha wela-wela., punika sawêg

86
bala-bala commit to user
87
narima
perpustakaan.uns.ac.id 112
digilib.uns.ac.id

dipunlampahi, kaliyan tata titi samêgta prayitna dati-ati 88 . Saking sabar

alusing panggalih, tiyang siti tiyang liya bangsa agêng ngalit sami sih

trêsna sêdya biyantu labuh sakit dumugi pêjah dipuntampahi kaliyan suka

dawaning manah.

Pa : Ingkang Sinuhun Prabu Amangkurat. Ambêg lêlabuhanipun alus.

Ngêmong dhatêng wadyabala. Asih trêsna sangêt dhatêng garwa putra.

Rêmên [85] paring dana dhatêng putra santana wadya89. Sarta pinarcaya

ing karya. Botên wontên ingkang dipunsinggèni. Sadaya rinakêt sami

kinawula warga. Dadosa sami amrih asih sumungkêm dhatêng

panjênênganipun.

Dha : Ingkang Sinuhun Pakubuwana ingkang kaping kalih. Ambêg

kalakuanipun 90 alus, sabar, aris, lêmês ing panggalih. Rêmên damêl


91
yayan enggal. Warni-warnining kados tênan wêwah-wêwah. Asih

dhatêng wadyabala tuwin dhatêng para ngulama. Panggalih tipis, botên

panggah, kirang wèwèka nanging radi buta ajêngan. Saking saening

panggalih ngantos sadaya aturing wadya kaagêm sadaya, kadosta rêmbag

ngrangkul Walandi kaagêm. Rêmbag ngrangkul bangsa Cina kaagêm.

Rêmbag bangsa sabrang kakêsahên 92 saking tanah Jawi kaagêm.Punika

labêt saking panggalih kirang kêkêncêngan. Namung pracaya dhatêng

aturing putra, santana, wadyabala. Beda-bedaning rêmbag namung

dipunpituruti. [86] Saking kirang kêncênging panggalih têmahan wudhar

(Kartasura bêdhah).

88
ngati-ati
89
wadyabala
90
lêlabuhanipun
91
yasan commit to user
92
kakesahan
perpustakaan.uns.ac.id 113
digilib.uns.ac.id

Ja : Ingkang Sinuhun Pakubuwana kaping tiga. Ambêg lêlabuhanipun asih

dhatêng garwa, putra, santana, wadyabala. Adil paramarta. Rêmên dhatêng

pakaryan kadosta: pangukir, pambubut, panggapyuk, mringgi, undhagi,

sapanunggilanipun pandamêlan kajêng. Punapa dene dhatêng cariyos-

cariyos têtuladan kina inggih rêmên, ngantos kagungan kakasih tiyang

paramèng sastra paramèng têmbung inggih punika Mas Ngabehi

Yasadipura Sapisan lajêng aran Ngabehi Tus Pajang utawi Ngabehi

Pensiyun. Nanging panggalih dalêm radi tipis. Sabab kados taksih

kèngêtan nalika bêdhah ing Kartasura de [87] ning Cina. Bêdhah Pacina

wau taksih nglabêti dhatêng panggalih marêm kagungan raos marma was,

mila sangêt suka rêna nampèni panungkulipun ingkang raka, nama inggih

punika Kanjêng Gusti Pangeran Adipati Harya Mangkunagari Sapisan,

ingkang aran Sambêr Nyawa. Malah prasasat dipunrangkul rintên dalu

tansah mundhut rêmbag-rêmbag ingkang amrih raharja dhatêng ingkang

raka wau.

Ya : Ingkang Sinuhun Pakubuwana ingkang kaping sakawan. Ambêg

lêlabuhanipun, nalika dèrèng Pakêpung, panggalih dalêm taksih ngagêm

watak timur. Angsring karsa nampèni atur lala cora. Panggalih dalêm kèlu-

kêlulun dhatêng tiyang pitu inggih punika: 1)Bahman 2)Wiradigda

3)Kandhuruhan 4)Pasêngah 5)Mat Saleh 6)Sujanapura 7)Wartajaya, sami

sagah ing gulangi pêrang anjabêl pasisir manca nagari. Têmahan dados

pakêpung wau nalika Garêbêg Mulut taun Jimawal angka 1717 aturipun

tiyang pitu mau macêthot. Rèhne ngojok-ojok kang botên sae. Ingkang

nêm kasusup ing Gupêrmèn lajêng kaucal. Ingkang satunggal pun jasa
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 114
digilib.uns.ac.id

pura luwar. Sarêng sampun rampung prakawis punika, ingkang Sinuhun

lajêng karsa abêlakakên para ngulama tuwin para ngalim cariyos têtu [88]

ladan sae, miwah warni dalêm ngalus-alus tanpa cacad. Mawi lêgêm 93

ngibadah nêtêpi rukuning agami Eslam 94 . Tansah anjangkung mêmadi

manawi mahêning-êning panca driya. Saking sangêt gênturing lampah

katarimah ing Pangeran ingkang Maha Agung. Ingkang Sinuhun wau

ngantos sinêbut Sinuhun Bagus utawi Waliyolah yaseng Cêmani (dhusun

Cêmani punika pasanggrahan dalêm kaprênah [89] saking lèr kadhaton,

têbihipun udakawis namung kawan pal)

Nya : ingkang Sinuhun Pakubuwana ingkang kaping lima. Ambêg

lêlabuhanipun kandêl patitis, mardawèng sastra, mardawèng têmbung,

rêmên dhatêng sêrat-sêrat, nyêmakakên dhatêng para sagêd, botên tampik

cariyos. Awon saenipun pariksani. Cacadipun anggènipun jumênêng

namung sakêdhap, udakawis tigang taun.

Ingkang Sinuhun Pakubuwana kaping nêm. Ambêg lêlabuhanipun sabar

narimah. Rêmên ramèni 95 dhatêng ingkang kaprênah sêpuh. Trapsila

doraka. Pangandika manis arum. Labêt taksih kirang yuswa, kenging

sambêkala saking aturing garwa ingkang dipuntrêsnani sangêt. Sêsarêngan

ing Ngayogya wontên prakawis ngramanipun Pangeran Dipanêgara. Bibar

Pêrang Dipanagaran. Ingkang Sinuhun karsa ya mbangun tapa dhatêng ing

Pulo Ambon.

Ma : Ingkang Sinuhun Pakubuwana ingkang kaping pitu. Ambêg

lêlabuhanipun kêndêl santosa, têtêg tata titi patitis, sabar, sarèh,


93
gêlêm
94
Islam commit to user
95
ngrameni
perpustakaan.uns.ac.id 115
digilib.uns.ac.id

pangandika cêtha. Têtêp mantêp ngantêpipun ingkang sampun kawahya.

Botên karsa lincat ing karsa. Kêncêng adil paramarta. Dana krama [90]

inggih marma dhatêng putra, santana, wadyabala. Mila sadaya sami suka

asih trêsna sumungkêm, sêdya labuh ing sakit sêpuh. Suka lila lêbura ing

ayahan dalêm. Salêbêtipun jumênêng, tiyang sanagari mèh botên wontên

ingkang gadhah manah susah kang grêsah ngrêsula, ingkang kathah

namung suka sênêng tumêmên dhatêng kawajibanipun. Dhatêng ing

pamitran rakêt ngagêm salêrêsipun, botên mawi mawang bangsa ing

pamitran kasami kemawon.

Ga : Ingkang Sinuhun Pakubuwana ingkang kaping wolu. Ambêg

lêlabuhanipun sarwa sagêd, nanging mêsêp 96 angèsthi ing kapandhitan. Rintên

dalu tansah manungku cipta hênêng hêning. Panggalih alus sabar botên nate duka.

Lumintu dana kramanipun dhatêng putra santana wadyabala. Dhatêng putra

santana asih trêsna sangêt.

commit to user
96
mênêp
perpustakaan.uns.ac.id 116
digilib.uns.ac.id

5. Sinopsis

Sinopsis adalah penuturan yang ringkas suatu teks yang mencakup

keseluruhan isi secara utuh. Maksud mengemukakan sinopsis suatu teks yaitu

untuk memudahkan pembaca agar memperoleh gambaran isi teks secara

menyeluruh. Teks SM ini berbentuk prosa yang disajikan dalam bentuk dialog,

terjadi empat kali dialog dengan tema masing-masing. Sebelum menyajikan

sinopsis dari teks SM ini, penulis akan terlebih dahulu menyajikan susunan

penyajian teks SM secara struktural melalui tabel berikut:

Tabel 4.17 Tabel susunan penyajian teks SM secara struktural

Dialog Hal. Isi dialog

Dialog I 1-16 a. Ajaran kepemimpinan dalam lingkup kehidupan

keluarga, kehidupan dengan para abdi, dan kehidupan

bermasyarakat.

b. Delapan ajaran kepemimpinan, yakni: kuwasa, purba,

wisesa, kukum, adil, paramarta, dana, pariksa.

Dialog II 16-37 Keteladanan kepemimpinan dari para Nabi dan para

sahabat Nabi yang dikutip dari Serat Tajussalatin.

Teks lain 38-52 Sejarah pemberontakan pergerakan Komunis di

Bandung, Batavia, dan Banten.

Dialog III 53c-62 Gambaran kondisi jaman yang sejahtera dan jaman yang

tidak sejahtera kaitannya dengan sikap manusia.

Dialog IV 71-90 Keteladanan kepemimpinan dari para pemimpin atau

raja-raja di Jawa mulai dari Kyai Ageng Sela sampai

commit
Paku Buwana VIII.to user
perpustakaan.uns.ac.id 117
digilib.uns.ac.id

Berikut sinopsis teks SM yang penulis sajikan perdialog:

a. Dialog I

Terhadap keluarga dan sanak saudaranya, seorang pemimpin harus

bijaksana, menyayangi mereka, dan memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Kepada para abdinya, pemimpin harus memahamkan terkait dengan hak dan

kewajibannya, memenuhi kebutuhannya, tidak sewenang-wenang (sikap

senioritas), menyayangi mereka dan tidak membeda-bedakan status sosialnya.

Dalam kehidupan bermasyarakat, seorang pemimpin juga harus menjalin

hubungan yang baik keapada sesama, menghormati yang tua dan mengasihi

yang muda.

Berikut delapan ajaran kepemimpinan yang harus dimiliki seorang

pemimpin:

1) Kuwasa : berwenang memutuskan segala sesuatu.

2) Purba : bertanggung jawab atas semua permasalahan yang ada.

3) Wisesa : pemimpin harus tegas.

4) Kukum : perlakuan hukum yang sama terhadap siapapun.

5) Adil : bersikap adil terhadap siapapun sesuai kadarnya.

6) Paramarta : berhati lembut dan kasih sayang terhadap siapapun.

7) Dana : rajin berderma dengan pemberian terbaik.

8) Pariksa : senantiasa mengontrol kebijakan-kebijakan yang telah

diputuskan dan kinerja-kinerja jajaran pemerintahan di bawahnya.

b. Dialog II

Keteladanan kepemimpinan dari para Nabi dan para sahabat Nabi yang

dikutip dari Serat Tajussalatin.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 118
digilib.uns.ac.id

1) Nabi Adam

Seorang pemimpin yang sangat sederhana, setiap hari senantiasa terlihat

prihatin, dan tanpa rasa malu Nabi Adam bersedia bekerja pekerjaan yang

kasar.

2) Nabi Musa

Seorang pemimpin yang tegas, tangguh, dicintai semua rakyatnya. Hal itu

terlihat ketika peperangan melawan kaum kafir yang hendak menghancurkan

Masjid Al-Aqsa, semua rakyatnya ikut terjun di medan peperangan baik itu

yang tua, muda, lelaki maupun perempuan. Beliau sangat menyayangi kaum

fakir dan miskin.

3) Nabi Yusuf

Seorang pemimpin yang menyadari kesalahannya, yakni di tengah-tengah

kemakmuran bangsanya, beliau tidak pernah terjun langsung ke lapangan

memantau kondisi rakyatnya, hanya didelegasikan kepada utusannya sehingga

beliau memutuskan untuk turut hidup susah karena khawatir jika ternyata ada

rakyatnya yang hidup susah.

4) Nabi Dawud

Seorang pemimpin yang rela bekerja keras demi keluarga, para abdi dan

rakyatnya, yakni membuat baju besi kemudian dijual di pasar untuk

menafkahi keluarga dan keperluan perang.

5) Nabi Sulaiman

Nabi yang paling luas kerajaannnya. Seorang pemimpin yang sangat

menyayangi keluarga, para abdi, semua rakyatnya, dan semua makhluk yang

ada di alam ini.


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 119
digilib.uns.ac.id

6) Nabi Muhammad

Seorang pemimpin yang sangat menyayangi keluarga dan anak-anaknya dan

seorang pemimpin yang sangat bijaksana.

7) Abu Bakar Ash Shidiq

Seorang pemimpin yang sangat bijaksana, hidup sangat sederhana, tidak

bersedia memakai uang negara (Baitu Mal) untuk mencukupi kebutuhan

keluarga sehari-hari.

8) Umar

Sama seperti Nab-nabi sebelumnya, beliau juga seorang pemimpin yang

sangat sederhana, tidak bersedia memakai uang negara untuk mencukupi

kebutuha keluarganya sehari-hari.

9) Utsman bin Affan

Di usianya yang semakin senja, beliau masih bertahan memimpin rakyat dan

mencari nafkah untuk keluarganya, mekipun tidak seoptimal biasanya.

10) Ali bin Khatab

Seorang pemimpin yang sangat pemberani, dan hidupnya sangat sederhana.

c. Dialog III

Berisi gambaran kondisi jaman yang sejahtera dan jaman yang tidak sejahtera.

Jaman yang sejahtera adalah jaman dimana rakyatnya senantiasa bersyukur

terhadap apa yang ada, tidak pernah mengeluh meskipun kondisi alamnya saat

itu sedang kemarau panjang ataupun musim penghujan. Sedangkan jaman yang

tidak sejahtera adalah jaman dimana rakyatnya senantiasa berkeluh kesah

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 120
digilib.uns.ac.id

musim kemarau dan musim penghujan tiba. Selain itu jaman yang tidak

sejahtera juga didukung oleh sikap rakyatnya yang mulai terkikis moralnya.

d. Dialog IV

Berisi keteladanan kepemimpinan dari para pemimpin atau raja-raja di Jawa

mulai dari Kyai Ageng Sela sampai Paku Buwana VIII.

1) Kyai Ageng Sesela

Pemimpin yang gemar bertapa, sederhana hidupnya (rajin berpuasa, sedikit

tidur), rajin menimba ilmu kepada orang-orang yang ahli. Di usianya yang

semakin senja, beliau semakin rajin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

2) Kyai Ageng Nis

Raja yang gemar bertapa dan rajin menimba ilmu kepada orang-orang pintar.

3) Kyai Ageng ing Pamanahan

Raja yang juga gemar bertapa, senantiasa menjauhi perbuatan tercela, tajam

pemikirannya hingga memiliki kemampuan bisa memprediksi kejadian yang

akan terjadi.

4) Kanjeng Panembahan Senapati

Raja muda yang tangguh dan teguh, rajin bertapa dan patuh terhadap

ayahandanya.

5) Kanjeng Sinuhun Seda Krapyak

Raja yang sangat menyayangi keluarga, para abdi dan punggawanya. Tetapi

beliau seorang raja yang kurang teguh pendiriannya.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 121
digilib.uns.ac.id

6) Kanjeng Sinuhun Sultan Agung

Raja yang gemar bertapa, taat terhadap perintah agama Islam, sangat

menghormati kaum ulama.

7) Kanjeng Sinuhun Tegal Arum

Raja yang sangat menyayangi keluarga, para abdi dan punggawanya. Beliau

suka memperhatikan hal-hal kecil yang sangat remeh, suka memuja

kecantikan wanita, kurang pemberani dan kurang tangguh.

8) Kanjeng Sinuhun Mangkurat Bawa

Raja yang sangat pemberani dan tangguh dalam peperangan, ramah, tetapi

kurang teguh pendirian.

9) Kanjeng Sinuhun Mangkurat Mas

Raja yang dermawan, tetapi kurang dewasa dan bijaksana, suka bermain

wanita, suka mengingkari janji, dan kurang tangguh dalam medan peperangan.

10) Kanjeng Sinuhun PB I

Raja yang penyabar, halus budi pekertinya, senantiasa bersyukur dan tawakal

kepada Allah SWT, tidak tergesa-gesa dan mempertimbangkan suatu

permasalahan lebih dalam lagi.

11) Kanjeng Sinuhun Prabu Amangkurat

Raja yang sangat menyayangi keluarga, para abdi dan punggawanya. Rajin

berderma. Tidak suka membanding-bandingkan status sosial orang tertentu.

12) Kanjeng Sinuhun PB II

Raja yang penyabar, halus budi pekertinya dan baik hatinya. Tetapi terlalu

mempercayai setiap masukan tanpa dipertimbangkan terlebih dahulu.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 122
digilib.uns.ac.id

13) Kanjeng Sinuhun PB III

Raja yang sangat menyayangi keluarga, para abdi dan punggawanya. Gemar

membuat benda-benda dari kayu. Sangat menyukai karya sastra dan

bersahabat dekat dengan ahli sastra bernama Yasadipura I.

14) Kanjeng Sinuhun PB IV

Raja yang kurang teguh pendirian sehingga mudah dipengaruhi oleh orang

lain.

15) Kanjeng Sinuhun PB V

Raja yang sangat pandai dalam hal kesusatraan, rajin mempelajari karya-karya

sastra Jawa Klasik.

16) Kanjeng Sinuhun PB VI

Raja yang sangat penyabar, senantiasa bersyukur dengan apa yang

dimilikinya. Raja yang ramah, supel, gaya bicaranya menyenangkan.

17) Kanjeng Sinuhun PB VII

Raja yang sangat pemberani, tangguh, teguh pendirian, tegas, sabar, dan

senantiasa berlaku adil. Beliau sangat disayangi oleh rakyat, abdi dan para

punggawanya. Jaringannya cukup luas sampai ke mancanegara.

18) Kanjeng Sinuhun PB VIII

Raja yang multi talenta (serba bisa). Hatinya sangat lembut, sabar, dan tidak

pernah marah.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 123
digilib.uns.ac.id

B. Kajian Isi

Kajian isi mengungkapkan isi yang terkandung dalam Serat Mudhatanya.

Secara garis besar serat ini menceritakan tentang ajaran-ajaran pokok

kepemimpinan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ajaran

kepemimpinan tersebut disampaikan secara lengkap mulai dari sikap seorang

pemimpin terhadap keluarga dan sanak saudaranya sampai pada sikap seorang

pemimpin terhadap bangsa dan negara yang dipimpinnya. Ajaran kepemimipinan

ini dilengkapi dengan contoh-contoh gaya kepemimpinan dari para Nabi, sahabat-

sahabat Nabi hingga para pemimpin Jawa mulai dari Kyai Ageng Sela sampai

Kanjeng Sinuhun Paku Buwana VIII.

Kajian isi Serat Mudhatanya akan disampaikan secara detail dan urut

susunannya perdialog, mulai dari dialog pertama hingga dialog keempat. Masing-

masing dialog memuat isi yang berbeda-beda. Berikut uraiannya:

1. Dialog I (SM 1-16):

Dialog pertama ini berisi tentang etika hidup bermasyarakat bagi seorang

pemimpin dalam lingkup keluarga, tetangga, bawahan, dan pihak luar, juga

delapan ajaran pokok kepemimipinan.

Pemimpin adalah seorang manusia biasa yang kesehariannya selalu hidup

bersama dengan keluarga dan sanak saudaranya. Di dalam teks SM ini dijelaskan

bahwa dalam menciptakan suasana kehidupan keluarga yang harmonis dan

sejahtera, seorang pemimpin atau kepala keluarga harus mampu bersikap seperti

berikut:

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 124
digilib.uns.ac.id

a. Seorang kepala keluarga harus dekat dengan keluarga dan sanak saudaranya.

b. Seorang kepala keluarga harus mencintai keluarga dan sanak saudaranya

seperti mencintai dirinya sendiri.

c. Seorang pemimpin harus membangun pola komunikasi dua arah dengan

anggota keluarga, tidak ada rasa rikuh pakewuh atau sungkan.

d. Pemimpin keluarga yang baik tidak hanya tampak baik di luar permukaannya

saja. Antara hati, ucapan dan perbuatan harus sama.

e. Setiap keputusan dan kebijakan yang dikeluarkan harus didasari dengan hati

yang bersih.

f. Jika ada anggota keluarga atau sanak saudara yang melakukan kesalahan, tidak

langsung memarahinya dengan semena-mena, hadapi dengan kelembutan dan

kepala dingin. Jika terbukti bersalah, jangan langsung memarahinya di depan

orang banyak. Pilihlah saat yang tepat untuk menegurnya dengan teguran yang

lembut dan nasehat secukupnya sesuai dengan kesalahan yang telah dilakukan.

Dalam menegur jangan sampai berlebihan sampai menjatuhkan wibawa dan

reputasi sebagai seorang pemimpin keluarga.

Dalam kehidupan kesehariannya, seorang pemimpin juga tidak bisa lepas

dari hubungannya dengan seorang abdi (bawahan) yang senantiasa membantu

kinerjanya. Berikut beberapa sikap yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin

terhadap abdinya:

a. Memberikan pemahaman kepada abdi-nya akan tugas dan kewajibannya,

selalu diingatkan agar jangan sampai mengkhianati pekerjaan dan

kewajibannya.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 125
digilib.uns.ac.id

b. Pemimpin yang baik harus memperhatikan kesejahteraan abdi-nya,

(kebutuhannya) jangan sampai ada yang disia-siakan.

c. Membangun hubungan yang baik dengan abdi-nya, tidak sewenang-wenang

(unsur senioritas).

d. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang ketika berbicara membuat hati

para abdi tentram ketika mendengarnya.

e. Berlaku seadil-adilnya terhadap para abdi yang terbukti melakukan kesalahan,

dengan memberikan ganjaran/ hukuman sesuai dengan kadar kesalahan yang

telah dilakukan.

f. Jika hendak memerintah, yang seperlunya saja, tidak berlebihan.

Sebagai makhluk sosial, seorang pemimpin juga tidak bisa lepas dari hidup

bermasyarakat yang setiap hari selalu berinteraksi. Berikut beberapa sikap yang

harus dilakukan oleh seorang pemimpin dalam memimpin masyarakatnya:

a. Menjaga hubungan baik dengan orang lain, muda tua, lain bangsa, dan lain-

lain.

b. Bertutur kata yang ramah dan santun dengan siapapun.

c. Setiap keputusan harus dipertimbangkan secara lebih mendalam lagi.

Selain beberapa sikap yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin

terhadap keluarga, sanak saudara, abdi(bawahan), dan masyarakat yang telah

diuraikan di atas, di dalam teks SM ini juga dijelaskan ada delapan pedoman

(bekal) yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Delapan pedoman tersebut

adalah kuwasa, purba, wisesa, kukum, adil, paramarta, dana dan pariksa.

Berikut uraiannya:
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 126
digilib.uns.ac.id

1) Kuwasa berarti wewenang yang dimiliki untuk memutuskan segala sesuatunya

secara bijak. Berikut kutipannya:

”Kuwasa: wênang ngewahi tatanan ingkang kirang murakabi dhatêng


kulawarga” (SM: 7)

2) Purba berarti bertanggungjawab atas semua semua permasalahan dalam

kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Berikut kutipannya:

”Purba: mêngku dhatêng samukawis agêng alit, amis bacin, èwêt pêkèwêt,
gampil angèl, ruwêt rêntêng, papa sangsara. Sadaya kukubanipun ing ngriku,
punika anggèr ingkang kajibah mêngku.” (SM: 7)

3) Wisesa berarti tegas terhadap siapapun untuk senantiasa berbuat kebajikan.

Berikut kutipannya:

”Wisesa: punika satêngah amêksa dhatêng tindak sae. Angancam-ancam


sintên ingkang nglampahi lêpat badhe tampi pamisesa ing samurwatipun
nanging saderengipun kêdah dipundhawuhakên. Yen ala bakal nemu ala. Yen
becik bakal nemu becik.” (SM: 8)

4) Kukum berarti perlakuan hukum yang sama terhadap siapapun. Berikut

kutipannya:

”Kukum: kêdah nindakakên ing salêrêsipun. Têgêsipun: botên bahu kapine


sintên-sintêna bilih botên lêrês inggih kêdah kalêrêsakên. Manawi mêksa
botên purun mantuni tindakipun ingkang awon. Ing ngriku sampun
sêdhêngipun katindakakên prakawisipun.” (SM: 8)

5) Adil berarti bersikap adil terhadap siapapun, sesuai dengan usaha yang telah

dilakukan. Berikut kutipannya:

”Adil: punika tumrap dhatêng putra wayah sadhèrèk santana abdi agêng alit.
Manawi prakawisan rêbat lêrês. Dhatêng sasaminipun putra wayah sadhèrèk
santana abdi, kêdah dipuntêtêpakên ing pangadilanipun ingkang jêjêg.
Babasan utang nyaur, nyilih ngulihake. Utang lara nyaur lara, utang pati
nyaur pati, sapiturutipun. Botên kenging dlemok cung, kêdah wradin.
Têgêsipn yen si dhadhap kang utang, mung nyaur samene, yen si waru kang
utang kudu nyaur samene, punika dlêmok cung namanipun. Sampun ngantos
makatên, kêdah sami-sami pamidananipun, sarta kêdah têtêp ingkang sampun
kasêbut ing anggèr, anggèr botên kenging mèncèng.” (SM: 8)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 127
digilib.uns.ac.id

6) Paramarta berarti berhati lembut dan mempunyai sifat belas kasihan terhadap

siapapun, sabar dan pemaaf. Berikut kutipannya:

”Paramarta: punika bilih putra wayah sadhèrèk santana abdi gadhah


prakawis dhatêng anggèr, ingkang sanès prakawis agêng, kadosta kalentu ing
patrap, dêksura, kumasurun, anggêgampil kagunganipun anggèr ingkang
botên sapintêna, punika kêdah dipunparingi paramarta. Sampun lajêng
katêtêpakên ing kalêpatanipun. Kêdah dipunaring-aringi supados asrêp
manahipun. Saupami lêpat sakêdhik kemawon dhatêng angger lajêng
kapidana awrat, sarta lajêng kauwus-uwus ingkang botên sampun-sampun,
punika botên prayogi.” (SM: 9)

7) Dana berarti rajin berderma dengan pemberian yang terbaik. Berikut

kutipannya:

”Dana: inggih ingkang kêrêp paparing. Manawi paparing barang ingkang


enggal risak, kadosta dhahar-dhaharan, sêmbêt sapanunggilanipun, punika
kêdah ingkang kêrêp. Manawi paparing barang ingkang sagêd lami
kanggenipun kadosta: ingkang warni mas, intên, dhuwung, tumpakan tuwin
griya papan semahan. Punika kêdah ingkang awis-awis.” (SM: 9)

8) Pariksa berarti sungguh-sungguh ketika melakukan proses pemantauan dan

kontrol terhadap kinerja bawahannya, tidak didelegasikan tetapi terjun

langsung ke bawah. Berikut kutipannya:

”Pariksa: pikajêngipun inggih ingkang pariksa sayêktos. Têgêsipun ingkang


botên kaliyan aturing liyan, ingkang awon ingkang sae anggèr kêdah
matitisakên piyambak dhatêng tiyangipun, botên mawi lalantaran utusan
sabab utusan punika asring suda wêwah kaliyan nyatanipun.” (SM: 12)

Di dalam dialog ini juga diuraikan bahwa pemimpin yang baik

hendaknya menjauhkan diri dari perbuatan nista. Berikut beberapa contoh

perbutan nista:

a. Memperhatikan hal-hal kecil yang tidak ada manfaatnya.

b. Mendengarkan cerita/perkataan orang yang tidak membawa dampak halusnya

budi pekerti.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 128
digilib.uns.ac.id

c. Mendengarkan cerita/perkataan orang yang tidak berdasarkan pada agama

d. Berbicara sekehendak dirinya, suka menjelek-jelekkan orang lain.

e. Suka bercanda/bersendau gurau secara berlebihan.

f. Suka mengambil makanan yang sudah jatuh di atas tanah.

g. Jorok, tidak memperhatikan kebersihan diri dan lingkungannya.

h. cara berpakaian sekehendak hatinya, memakai baju yang sudah tidak layak

Dalam memimpin negara yang begitu kompleks permasalahannya, seorang

raja juga perlu istirahat sejenak (refreshing) untuk kembali menyegarkan pikiran.

Seperti orang Muslim, istirahatnya adalah shalatnya, sembahyang dan

tafaqurrahman (mendekatkan diri kepada Allah). Atau seperti orang Budha,

istirahatnya adalah bersemedi, mengheningkan jiwa raga.

2. Dialog II (SM 16-37)

Dialog ini berisi tentang keteladanan kepemimpinan para Nabi dan

kepemimpinan sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang sebagian besar

diambil dari Serat Tajussalatin bagian kitab Tabihul Gapilin dalam pasal ke-5.

1) Kepemimpinan Nabi Adam

Di dalam teks SM ini, Nabi Adam digambarkan sebagai seorang raja yang

sebagai berikut:

a. Seorang raja yang bersedia bekerja pekerjaan kasar tanpa rasa malu, yakni

sebagai seorang Pandhe tosan atau seorang pandai besi.

Berikut kutipannya:

”...punika taksih karsa nyambut damêl kasap. Sabên dintên pandhe tosan,
kaurupakên kangge dhahar ing sadintên-dintênipun.” (SM: 18)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 129
digilib.uns.ac.id

Terjemahan:

”....masih bersedia bekerja pekerjaan yang keras/kasar. Setiap harinya bekerja


sebagai Pandhe tosan (orang yang ahli membuat alat-alat/benda-benda dari
besi), guna untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.” (SM: 18)

b. Selama hidupnya belum pernah makan enak. Tidak suka hidup bermewah-

mewah. Setiap hari senantiasa terlihat prihatin. Berikut pernyataan Nabi Adam

ketika ditanya oleh putranya tentang gaya hidup beliau yang senantiasa

prihatin:

”Aku iki maune dikarsakakke dening Gusti Allah dadi kalipah ana suwarga.
Nuju ana dosaku diudhunake marang ing donya kusniya malebari iki,
ngratoni anak putu. Mulane aku ora duwe bungah. Pancèn tak cêgah sak
patute. Bok manawa dhompo panggawèhaku ngratoni kowe kabèh. Yèn luput
saka kurang titi pariksa. Yakti nêmu duduka manèh. Kaya aku diudhunake
marang bumi sap pitu. Yèn ratu kêrêp bungah-bungah lan juwèh iku ilang
sênêne. Murwate ora nana kang kari.” (SM: 19)

Terjemahan:

”Awalnya, memang aku ditakdirkan menjadi seorang khalifah/pemimpin di


dalam surga. Karena kesalahan yang telah kuperbuat, Allah SWT memutuskan
untuk menurunkanku ke bumi, mengelola dan memimpin bumi ini. Oleh sebab
itu, sedikit sekali aku bersenang-senang, memang sekuat tenaga aku
menekannya. Jangan sampai aku mengulangi kesalahan yang kedua kalinya
karena ketidak telitianku dalam memimpin kalian semua, seperti kesalahanku
dahulu hingga diturunkan dari langit tingkat tujuh. Jika raja hanya bersenang-
senang belaka, hilanglah wibawanya dan harga dirinya”. (SM: 19)

2) Kepemimpinan Nabi Musa

Di dalam teks SM ini, Nabi Musa digambarkan sebagai seorang raja yang

tangguh dan sangat pemberani.

Ketika Masjid Al-Aqsa di negeri Baital Muqadas hendak dihancurkan oleh

orang-orang kafir, Nabi Musa menginstruksikan kepada semua bala tentara dan

semua rakyatnya untuk bersiap siaga perang melawan musuh Islam. Nabi Musa

commitKanabeyan
membagi dua pasukan, yakni pasukan to user dan pasukan Karaton. Beliau
perpustakaan.uns.ac.id 130
digilib.uns.ac.id

juga mengangkat 12 senapati, setiap senopati memimpin pasukan berjumlah 220

orang. Seh Nakib, salah satu senapati, bertugas untuk menggerakkan bala tentara

sekaligus memutuskan setiap permasalahan. Semua bala tentara dan semua rakyat

Nabi Musa, laki-laki-perempuan, tua-muda, semuanya terjun ke medan

peperangan turut berperang melawan orang-orang kafir yang hendak

menghancurkan Masjid Al-Aqsa.

Ketika perang, Nabi Musa tidak bersedia naik di atas kuda atau tandu,

beliau langsung terjun ke medan peperangan bersama tentaranya. Ketika malam,

beliau beristirahat di jalan. Punggawa yang melihat kondisi beliau yang seperti

itu, tidak tega dan langsung menawarkan tempat beristirahat yang lebih layak,

tetapi beliau menolaknya dengan lembut. Beliau berpesan kepada punggawa

tersebut supaya tenaganya jangan terlalu difokuskan untuk membuat tempat

peristirahatan, lebih baik tenaganya disimpan untuk pertarungan esoknya.

Dalam kehidupan sehari-harinya, Nabi Musa selalu mengajak makan

bersama dengan para abdi(bawahan) dan jajaran pemerintahannya. Beliau

senantiasa membuat hati mereka senang.

3) Kepemimpinan Nabi Yusuf

Di dalam teks SM ini, Nabi Yusuf digambarkan ketika itu beliau

sedang jatuh sakit malaria. Semua saudara dan para punggawanya berkumpul jadi

satu berada di samping beliau. Salah seorang dari mereka menanyakan perihal

sakitnya karena disamping sakit, Nabi Yusuf nampak memikirkan sesuatu yang

sangat berat. Dijawab oleh Nabi Yusuf bahwa beliau sangat khawatir terhadap

kondisi rakyatnya. Beliau tidak akan makan enak sebelum rakyat terpenuhi
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 131
digilib.uns.ac.id

kebutuhannya. Beliau merasa bersalah karena selama ini tidak bisa terjun

langsung mengamati kehidupan rakyatnya, beliau hanya mendelegasikan kepada

utusannya. Hal itu yang membuat beliau resah dan khawatir, kurang makan dan

kurang tidur, kesehariannya hanya makan roti gandum 2 potong. Mendengar hal

itu, para punggawa langsung merasa iba.

4) Kepemimpinan Nabi Dawud

Di dalam teks SM ini, Nabi Dawud digambarkan ketika itu seusai

memberikan perintah dan putusan-putusan, Nabi Dawud melangkah menuju ke

masjid kemudian mendirikan sholat dua rakaat. Beliau berdoa, memohon kepada

Allah SWT supaya diberi rezeki yang halal untuk hidup sehari-hari. Beliau tidak

ingin memakai uang negara untuk membiayai hidup beliau sehari-hari. Jika

sampai memakai uang negara adalah suatu kesia-siaan, percuma menjadi seorang

raja.

Kemudian Allah mengabulkan doa Nabi Dawud. Dengan perantara kalam-

Nya, Allah memerintahkan kepada Nabi Dawud untuk membuat baju besi.

Perintah itu dijalankannya. Setiap hari Nabi Dawud membuat baju besi, kemudian

menjualnya ke pasar, penghasilannya dipakai untuk hidup sehari-hari bersama

istri dan anak-anak beliau. Tidak hanya itu, beliau juga memberikan baju-baju

besi tersebut secara cuma-cuma kepada semua punggawanya.

5) Kepemimpinan Nabi Sulaiman

Di dalam teks SM ini, diceritakan bahwa Nabi Sulaiman setiap harinya

selalu menanak nasi sejumlah 1000 kendhil. Satu kendhilnya bisa untuk makan 10
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 132
digilib.uns.ac.id

binatang onta. Setiap hari menanak dua kali, setiap pagi dan sore hari. Beliau

sengaja mempersiapkannya untuk para punggawanya yang hendak berkunjung ke

rumah beliau. Uang untuk menanak nasi tersebut, beliau ambil dari uang negara.

Sedangkan untuk menghidupi keluarga sehari-hari, beliau jualan tempat nasi di

pasar. Ketika hendak makan, beliau selalu mengajak kepada kaum fakir dan

miskin untuk makan bersama. Jika tidak mendapati adanya orang fakir dan

miskin, beliau memilih untuk menunda makannya dan melanjutkan untuk

berpuasa.

Suatu ketika, Nabi Sulaiman bersama semua punggawanya diikuti

rakyatnya dari bangsa jin, angin, mega, dan awan. Karena begitu banyaknya yang

turut mengiringi, terlihat seolah-olah semua makhluk di bumi ini ikut semua.

Rombongan tersebut tidak ada yang merasa kepanasan karena dilindungi oleh

awan. Sesampainya di Arab, tepatnya di tepi kota Mekah, ada seorang fakir yang

terpana melihat pemandangan seperti itu. Beliau menghampiri orang tersebut,

memberikan salam, kemudian berkata bahwa kemuliaan yang beliau dapatkan

sekarang ini masih jauh dibawah orang yang senantiasa memuji Allah dengan

mengucapkan kata subhanallah walhamdulillah walaa ilaha illallah allahu akbar,

la haula walaa quwatta illa billahil ‘aliyyil ‘adzim, sekaligus mengetahui makna

kalimat tersebut, maka besok ketika di akhirat orang tersebut akan mendapatkan

kemuliaan seperti kemuliaan Nabi Sulaiman saat itu. Nabi Dawud menambahkan

kepada orang fakir tersebut bahwa di dunia hanya sementara.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 133
digilib.uns.ac.id

6) Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW

Di dalam teks SM ini, Nabi Muhammad digambarkan sebagai sesosok

bapak yang sangat menyayangi putrinya. Saat itu hendak dilaksanakan

peperangan. Perang melawan orang kafir, orang yang mengkhianati dan

memusuhi agama Islam. Pasukan perang dibagi menjadi dua kelompok, pasukan

pertama dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib, pasukan kedua dipimpin oleh Khalid

bin Walid. Dua-duanya adalah senapati yang pemberani dalam peperangan.

Dalam perjalannya menuju medan peperangan, Nabi Muhammad hendak mampir

sejenak menjenguk putrinya, Siti Fatimah, yang kabarnya sedang menderita sakit.

Kepergian beliau didampingi Umar bin Khattab tanpa sepengetahuan para

punggawanya. Sesampai di rumah Siti Fatimah, Nabi Muhammad menanyakan

perihal sakitnya. Siti Fatimah menjelaskan kepada ayahandanya bahwa sakitnya

disebabkan karena sudah tiga hari tidak makan dan tidak minum. Tidak ada

sesuap nasipun yang bisa dimakan karena selama tiga hari itu pula suaminya, Ali

bin Abi Thalib, tidak memberinya nafkah karena harus bertempur di medan

peperangan melawan kaum kafir. Setelah mendengar penjelasan dari putrinya,

beliau bersabda bahwa barang siapa yang sabar menghadapi cobaan dan ujian,

kelak di akhirat akan mendapatkan balasan kebajikan seribu kali lipat.

7) Kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Sepeninggal Nabi Muhammad, yang menggantikan kursi kekhalifahan

adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Seusai memberikan perintah dan putusan-putusan

di depan jajaran pemerintahannya, Abu Bakar pergi ke pasar menjual beberapa

bajunya untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Hal itu dilakukannya


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 134
digilib.uns.ac.id

berulang-ulang hingga diketahui oleh salah seorang punggawanya. Punggawa

tersebut kemudian berkata kepada Abu Bakar bahwa perbuatan tersebut kurang

layak dilakukan oleh seorang raja. Kemudian dengan sangat bijaknya Abu Bakar

berkata, “Memang benar apa yang anda katakan. Namun, masalah kebutuhan istri,

anak-anak dan keluarga di rumah itu di luar tanggung jawab kerajaan. Sudah

menjadi kewajiban bagi seorang kepala keluarga untuk memberi nafkah keluarga

dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Jika sampai menggunakan uang negara yang

bukan haknya itu dinamakan perbuatan riba”. Para punggawa bersikukuh

mengeluarkan sedikit uang dari Baitul Mal untuk diberikan kepada Abu Bakar.

Karena beliau sangat menghargai keputusan para punggawanya, beliau menerima

tawaran tersebut. Menjelang akhir hidupnya, beliau berpesan kepada putranya,

Sayidina Ngabdurrahman bahwa sepeninggal beliau nanti semua perkebunan

kurma diminta untuk dijual dan uangnya digunakan untuk membayar uang dari

Baitul Mal yang dahulu pernah dipakai untuk biaya hidup sehari-hari.

8) Kepemimpinan Umar

Sepeninggal Abu Bakar Asy-Syidiq, yang menggantikan kursi

kekhalifahan adalah Umar bin Khatab. Suatu hari datang beberapa punggawa

menghadap Umar. Kedatangan mereka hendak menawarkan uang dari Baitul Mal

kepada Umar supaya dipakainya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Oleh

Umar tawaran tersebut ditolaknya secara bijaksana. Beliau meminta kepada

punggawa-punggawa tersebut untuk memberikan uang dari Baital Mal itu kepada

rakyatnya yang lebih membutuhkan, seperti orang miskin, anak yatim, orang yang

teraniaya hidupnya, dan untuk kebutuhan negara yang mendesak. Jangan sampai
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 135
digilib.uns.ac.id

ada rakyatnya yang hidup kekurangan dan menderita. Masalah biaya hidup Umar

sehari-hari, beliau meminta kepada punggawa tersebut untuk merelakannya.

Beliau mengusahakan dari tangan beliau sendiri dengan menjual batu bata di desa

Bangkek yang letaknya lumayan jauh dari rumah beliau. Beliau berpesan kepada

punggawa tersebut supaya tidak perlu merasa khawatir terhadap Umar dengan

pekerjaannya yang seperti itu. Pekerjaan membuat batu bata hanya sambilan,

hanya untuk jaga-jaga jangan sampai biaya hidup beliau sehari-hari menggunakan

uang Baitul Mal, masalah rakyat dan kenegaraan tetap beliau prioritaskan.

9) Kepemimpinan Utsman bin Affan

Sepeninggal Umar bin Khatab, yang menggantikan kursi kekhalifahan

adalah Ustman bin Affan. Suatu hari yakni hari Jumat, usai mengimami shalat

para jamaahnya, Usman bergerak menuju mimbar hendak memberikan ceramah

kepada para jamaah dan semua rakyatnya. Beliau berkata bahwa ada dua jenis

pekerjaan yang lebih berat dibandingkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang lain,

yakni menjadi seorang raja yang adil dan pekerjaan memberikan nafkah kepada

keluarga. Dua pekerjaan tersebut merupakan amanah yang harus

dipertanggungjawabkan. Beliau mengakui di depan para punggawanya, bahwa

dua pekerjaan tersebut untuk saat itu tidak bisa dilaksanakan secara optimal

karena kondisi beliau saat itu sudaah sangat tua. Para punggawa mendengar hal

tersebut merasa iba. Seorang pembesar dari punggawa tersebut, yakni Ali bin Abi

Thalib kemudian mengumpulkan semua punggawa membahas solusi untuk

menghadapi kondisi rajanya yang seperti itu. Akhirnya mereka bersepakat

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 136
digilib.uns.ac.id

sebagian dari uang Baitul Mal diberikan kepada Usman bin Affan untuk

mencukupi kebutuhan beliau sehari-hari.

Tidak lama kemudian, Usman bin Affan jatuh sakit. Kemudian Usman

menjual semua perkebunan miliknya untuk membayar uang dari Baitul Mal. Dan

kursi kekhalifahan dipegang oleh Ali bin Abi Thalib.

10) Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib

Di dalam teks SM ini, penulis naskah menyebut nama Ali dengan Ali bin

Khatab. Menurut buku-buku sejarah Islam, seperti dalam buku “Kisah Teladan 20

Sahabat Nabi” karya Dr. Hamid Ahmad Ath-Thahir, nama lengkap Ali yang benar

adalah Ali bin Abi Thalib. Sedangkan untuk kata “Khatab” adalah nama dari

khalifah Umar, yakni Umar bin Khatab bukan Ali bin Khatab.

Ali bin Abi Thalib adalah seorang raja yang selalu waspada di setiap

tindak-tanduknya, selalu hati-hati jangan sampai melakukan kesalahan. Ali bin

Abi Thalib mendapat gelar Sultan Kabir Mukmin. Semasa pemerintahan Nabi

Muhammad, beliau adalah seorang pemimpin perang yang sangat pemberani.

Ketika menjadi raja, setiap harinya beliau hanya makan roti gandum. Gandum

yang ditanam sendiri di kebunnya. Beliau sendiri juga yang membuat roti gandum

tersebut. Setelah jadi, roti tersebut disimpan dalam peti rapat-rapat. Punggawa

yang mengetahui hal itu langsung menanyakan kepada Ali kenapa sampai dikunci

rapat-rapat, padahal hanya gandum, tidak akan ada orang yang berkeinginan untuk

mengambilnya. Kemudian Ali mengutarakan alasannya mengapa roti gandum

tersebut sampai disimpannya rapat-rapat, yakni beliau tidak ingin anak-anaknya

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 137
digilib.uns.ac.id

mengetahui hal itu, jika sampai diketahui oleh anak-anaknya pasti akan diganti

dengan makanan yang lebih layak dan enak.

3. Dialog III (SM: 53c-62)

Dialog ketiga ini berisi tentang gambaran kondisi alam yang terjadi saat

itu serta bagaimana reaksi masyarakat dengan kondisi alam yang seperti itu.

Berikut ada dua macam kondisi suatu bangsa dilihat dari reaksi masyarakat

terhadap keempat musim yang sering terjadi di masyarakat, yaitu:

a. Kondisi bangsa yang sejahtera

Bangsa yang sejahtera adalah bangsa yang senantiasa bersyukur dengan

kondisi alam yang senantiasa berganti. Baik itu musim penghujan,musim

kemarau,musim angin besar, maupun musim tidak ada angin sama sekali,

mereka tetap menerima, menikmati dan mensyukurinya.

Pada waktu musim penghujan, atau istilah Jawanya “rendeng”, masyarakat

menyambutnya dengan suka cita. Karena menurutnya di musim penghujan, air

hujan sangat potensial untuk menyuburkan tanah dan membuat tanaman-

tanaman semakin tumbuh subur. Air hujan juga bisa menyerap debu-debu

yang bertebaran. Selain itu, air hujan juga bisa menghanyutkan sampah-

sampah yang mengumpul di sungai-sungai. Cuaca di musim penghujan yang

tidak begitu panas, membuat tubuh terasa segar.

Bagi mereka, musim kemarau, atau istilah Jawanya “katiga” pun juga bisa

memberikan kemanfaatan yang luar biasa. Barang-barang atau benda-benda

yang dijemur akan lebih cepat keingnya.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 138
digilib.uns.ac.id

Ketika musim angin besar tiba, mereka juga menerimanya dengan senang

hati karena dengan adanya angin besar bisa menghilangkan bau di lingkungan

sekitar yang tidak sedap. Ketika tidak ada anginpun, mereka tidak mudah

mengeluh justru mereka bersyukur karena aktivitas atau pekerjaan mereka

tidak terhalang oleh angin besar.

b. Kondisi bangsa yang tidak sejahtera

Suatu kondisi bangsa yang tidak sejahtera ditandai dengan kondisi alam

yang cukup buruk dengan penerimaan masyarakat yang tidak baik pula.

Ketika musim penghujan tiba, masyarakat menyambutnya dengan bersedih

hati karena barang-barang atau benda-benda yang sedang dijemur lama

keringnya. Jalan-jalan yang belum beraspal juga menjadi becek sehingga

menyebabkan orang-orang terhalang untuk melakukan aktivitas. Cuaca dingin

yang terjadi di musim penghujan ini juga menyebabkan tubuh menggigil

kedinginan dan perut terasa kembung penuh udara sehingga mereka lebih

memilih untuk bertahan di rumah saja.

Apalagi ketika musim kemarau panjang tiba, masyarakat semakin merasa

sedih dan berkeluh kesah karena cuacanya sangat panas. Debu-debu banyak

yang bertebaran membuat penglihatan jadi terganggu. Ketika tidak ada angin,

bau tidak sedap di lingkungan sekitar semakin menyengat dan mengganggu

ketentraman masyarakat.

Selain kondisi alam yang buruk, suatu kondisi bangsa yang tidak nyaman

dan tidak tentram ditandai dengan sikap masyarakat saat itu yang berbuat

sekehendak hatinya. Banyak masyarakat berbuat tanpa didasari moral dan

etika yang baik. Hilang rasa saling menghormati dan menghargai. Tidak
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 139
digilib.uns.ac.id

mempunyai rasa belas kasihan sedikitpun terhadap orang lain yang

membutuhkan pertolongan. Kondisi seperti ini bisa diperparah jika

pemimpinnya hanya mementingkan dirinya sendiri, berbuat sewenang-

wenang, tergila-gila dengan jabatan, dengan membawa misi mengumpulkan

harta sebanyak-banyaknya, tidak bisa memberikan teladan yang baik bagi

jajaran pemerintah dan rakyatnya. Rakyat yang hidup dibawah

kepemimpinannya merasa tertekan, tidak nyaman, tidak tentram, membuat

mereka tidak bersedia mengabdi negara dengan tulus.

4. Dialog IV (SM: 71-90)

Dialog keempat ini berisi tentang keteladanan kepemimpinan raja-raja

yang pernah memerintah di Jawa (Mataram, Surakarta, Yogyakarta) mulai dari

Kyi Ageng Sela hingga PB VIII. Berikut uraiannya:

1) Kyai Ageng Sesela

Ketika masih muda, Kyai Ageng Sesela gemar sekali tentang hal-hal

keprajuritan, hingga akhirnya diangkat menjadi prajurit Tamtama di Demak.

Beliau juga gemar bertapa, rajin berpuasa, dan sedikit tidur. Beliau juga suka

menimba ilmu kepada orang-orang berilmu hingga beliau menguasai ilmu

kasampurnan. Saat usianya yang semakin lanjut, beliau rajin sekali melakukan

budi kapandhitan, meyakini agama Islam. Siang malam senantiasa sembah

Hyang, dengan penuh harap memohon kepada Allah semoga beliau bisa

mengemban amanah sebagai pemimpin di Jawa.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 140
digilib.uns.ac.id

2) Kyai Ageng Nis

Seorang raja yang kesehariannya hanya nyantri (belajar ilmu agama).

Beliau gemar sekali bertapa di hutan, menuruni jurang dan mendaki gunung.

Karena kegemarannya itu hingga beliau mendapat gelar Bagus Awis. Selain

bertapa, beliau juga gemar mendatangi orang-orang pintar untuk menimba

ilmunya, hingga bertemu dengan seorang kyai bernama kyai Beluk di desa

Laweyan.

3) Kyai Ageng ing Pamanahan

Seorang raja yang gemar bertapa brata mardi budi utami. Cara

berpikirnya tata titi tatas patitis. Senantiasa waspada terhadap perbuatan nista.

Saat itu beliau sedang bertapa, hidup sementara di daerah Pajang. Beliau adalah

seorang raja yang dalam dan tajam cara berpikirnya, halus persaannya, tajam mata

batinnya, yakni bisa mengetahui kejadian yang bakal terjadi, hingga mendapat

gelar Kyai Pamanahan (nama aslinya Kyai Ngabdurrahman). Karena kemampuan

beliau yang bisa memprediksi masa depan, banyak orang di daerah Pajang

tersebut yang meminta bantuan beliau. Sebagai ucapan terimakasih orang-orang di

daerah itu memberikan tanah di daerah Mataram, hingga beliau mendapat julukan

sebagai Kyai Ageng Mataram.

4) Kanjeng Panembahan Senapati

Seorang raja muda yang tangguh dan teguh. Meskipun telah mempunyai

kesaktian dari ayahandanya, tetapi beliau tetap rajin bertapa brata mati raga, rajin

berpuasa dan sedikit tidur, berharap kepada Yang Maha Murba Misesa semoga
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 141
digilib.uns.ac.id

terlaksana apa yang telah diwasiatkan oleh ayahandanya, yakni seorang raja yang

bisa memimpin kerajaannya dan merangkul semuanya. Seorang raja yang penuh

kelembutan mengasihi sesama manusia.

5) Kanjeng Sinuhun Seda Krapyak

Sinuhun Seda Krapyak adalah seorang raja yang penuh perhatian dan

senantiasa mengasihi keluarga, para abdi dan jajaran pemerintahannya. Namun

ada satu hal kelemahan beliau yakni karakter beliau yang kurang teguh

pendiriannya hingga mudah sekali berubah pemikirannya.

6) Kanjeng Sinuhun Sultan Agung

Sinuhun Sultan Agung adalah seorang raja yang gemar bertapa, sangat

patuh terhadap perintah agama. Seorang raja yang sangat menghormati para ulama

yang ahli di bidang syariat, hakikat, tarikat, dan ma’rifat. Dalam menjalankan

amanah sebagai seorang raja, Kanjeng Sinuhun Sultan Agung menggunakan 3

teori yang dikenal dengan ambeg Trimurti, yakni 1)ambeging ratu utami,

2)ambeging wali, 3)ambeging prajurit.

Ambeging ratu utami adalah sebagai seorang raja harus senantiasa peka,

awas, waspada, adil, teguh pendirian, mampu membuat senang para jajaran

pemerintahan di bawahnya, mengasihi kaum fakir miskin, dan bijak dalam hal

pembagian wilayah kerja sesuai dengan kemampuan punggawanya.

Ambeging wali adalah sebagai seorang raja harus patuh terhadap ajaran

agama Islam, gemar bertapa, sedikit makan, sedikit tidur. Seorang raja harus

paham tentang ilmu hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Seorang
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 142
digilib.uns.ac.id

raja yang senantiasa pasrah, tawakal terhadap keputusan Allah Yang Maha

Menguasai alam jagad raya.

Ambeging prajurit adalah seorang raja harus tangguh, teguh pendirian,

pemberani, waspada, Raja harus kritis terhadap permasalahan yang ada. Dalam

peperangan, seorang raja harus kuat fisiknya, tangguh, dan pemberani.

Namun ada satu hal dari Sultan Agung yang kurang begitu bagus untuk

diteladani yakni sikap beliau yang masih suka menjarah desa.

7) Kanjeng Sinuhun Tegal Arum

Sinuhun Tegal Arum adalah seorang raja yang sangat perhatian terhadap

keluarga dan jajaran pemerintahannya. Setiap perkataan beliau yang keluar

membuat hati tentram bagi yang mendengar, tetapi terkadang ada yang tidak

sesuai dengan kenyataannya. Terkadang masih suka memperhatikan hal-hal kecil

yang sangat remeh. Suka memuja kecantikan wanita. Jika jajaran

pemerintahannya melakukan kesalahan, tanpa berpikir panjang, beliau langsung

memarahinya. Di medan peperangan, Sinuhun Tegal Arum kurang begitu

pemberani dan tangguh.

8) Kanjeng Sinuhun Mangkurat Bawa

Sinuhun Mangkurat Bawa adalah seorang raja yang sangat pemberani dan

tangguh dalam peperangan. Gaya bicaranya menyenangkan, ramah terhadap

siapapun, tetapi kadang suka berubah pendirian, sekarang putih, keesokannya

merah. Jika sudah punya keinginan yang kuat, beliau akan berusaha keras

mewujudkannya.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 143
digilib.uns.ac.id

9) Kanjeng Sinuhun Mangkurat Mas

Meskipun sudah dewasa, tetapi terkadang karakter beliau masih seperti

anak-anak. Sinuhun Mangkurat Mas adalah seorang raja yang dermawan, gemar

memberi kepada para punggawanya. Namun ada beberapa sikap dari Sinuhun

Mangkurat Mas yang tidak baik untuk diteladani yakni: suka bermain wanita,.

suka bercanda dan bersendau gurau secara berlebihan, suka mengingkari janji,

tidak patuh terhadap nasehat ayahandanya, kurang tangguh dan berani di medan

peperangan.

10) Kanjeng Sinuhun PB I

Sinuhun PB I adalah seorang raja yang penyabar, halus budi pekertinya,

senantiasa bersyukur dan tawakal terhadap pemberian Allah, setiap pendapat dan

masukan dari jajaran pemerintahannya baik itu baik maupun buruk, tidak

langsung dituruti, melainkan dipikirkan lebih dalam lagi. Beliau adalah seorang

raja yang gemar menyepi di daerah yang sepi, untuk menenangkan hati dan

pikirannya, mendekatkan diri kepada Allah memohon petunjuk.

11) Kanjeng Sinuhun Prabu Amangkurat

Sinuhun Prabu Amangkurat adalah seorang raja yang sangat perhatian dan

mengasihi keluarga, para abdi dan jajaran pemerintahan di bawahnya. Gemar

memberikan uang kepada mereka. Seorang raja yang tidak suka membanding-

bandingkan status, semua dirangkulnya dengan penuh kasih sayang.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 144
digilib.uns.ac.id

12) Kanjeng Sinuhun PB II

Sinuhun PB II adalah seorang raja yang penyabar, halus budi pekertinya,

dan baik hatinya. Senantiasa menyayangi para abdi beserta jajaran

pemerintahannya dan para ulama. Namun ada satu hal dari beliau yang kurang

begitu bagus untuk diteladani yakni menerima semua pendapat dan masukan dari

jajaran pemerintahan di bawahnya, semua dipakainya tanpa dipertimbangkan

lebih dalam lagi baik buruknya.

13) Kanjeng Sinuhun PB III

Sinuhun PB III adalah seorang raja yang sangat perhatian dan mengasihi

keluarga, para abdi dan jajaran pemerintahan di bawahnya. Gemar bekerja dan

membuat benda-benda yang terbuat dari kayu. Beliau sangat menyukai karya

sastra hingga bersahabat dekat dengan seorang ahli sastra bernama Yasadipura I.

14) Kanjeng Sinuhun PB IV

Sebelum terjadi pemberontakan Pakepung, watak Sinuhun PB IV masih

polos dan bersih. Namun pada perkembangannya, beliau menjadi mudah

dipengaruhi oleh orang lain yakni ada tujuh orang. Begitu mudahnya beliau

menerima ide-ide buruk dari ketujuh orang itu. Ada beberapa punggawa yang

menyanggah dan tidak sepakat dengan ide tersebut. Hingga terjadilah

pemberontakan Pakepung ketika Garebeg Maulud tahun 1717 Jawa. Ketujuh

orang tersebut adalah Mbah Man, Wiradigda, Kandhuruhan, Pasêngah, Mat Saleh,

Sujanapura dan Wartajaya. Ketujuh orang tersebut akhirnya ditangkap. Setelah

kejadian tersebut, Sinuhun PB IV kembali ke jalan yang benar dengan mematuhi


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 145
digilib.uns.ac.id

perintah agama dan menghormatai para alim ulama. Beliau semakin rajin

beribadah sesuai dengan tuntunan agama Islam dan mendekatkan diri kepada

Allah SWT. Hingga sampai akhirnya beliau mendapat gelar Sinuhun Bagus

Waliyullah ing Cêmadi.

15) Kanjeng Sinuhun PB V

Sinuhun PB V adalah seorang raja yang sangat pandai dalam hal

kesusastraan, suka mempelajari karya-karya sastra Jawa Kuna. Beliau menjabat

sebagai raja hanya dalam waktu tiga tahun.

16) Kanjeng Sinuhun PB VI

Sinuhun PB VI adalah seorang raja yang penyabar, bersyukur dengan apa

yang telah dimiliki. Beliau adalah orang yang supel terhadap siapapun. Gaya

bicaranya sangat menyenangkan, ramah. Seusai turut dalam peperangan

Dipanagara, beliau memutuskan untuk bertapa di pulau Ambon.

17) Kanjeng Sinuhun PB VII

Sinuhun PB VII adalah seorang raja yang sangat pemberani, tangguh,

teguh pendirian, tegas, waspada, sabar dan berlaku adil terhadap siapapun. Gaya

bicaranya sangat santun dan jelas. Karena sifat, karakter dan sikap beliau yang

patut diteladani, semua rakyat, para abdi dan punggawa sangat menyukai Sinuhun

PB VII, sampai sedia mengabdi dalam keadaan bagaimanapun. Semasa

pemerintahannya, semua rakyat hidup sejahtera. Jaringan beliau cukup luas

sampai ke mancanegara.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 146
digilib.uns.ac.id

18) Kanjeng Sinuhun PB VIII

Sinuhun PB VIII adalah seorang raja yang multi talenta (serba bisa).

Beliau gemar sekali melakukan olah budi, menenangkan diri dan mengheningkan

cipta di setiap siang dan malam harinya. Hatinya sangat lembut, penyabar dan

tidak pernah marah. Beliau sangat menyayangi keluarga, para abdi, punggawa dan

jajaran pemerintahan di bawahnya.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 147
digilib.uns.ac.id

BAB V

PENUTUP

A. SIMPULAN

Berdasarkan pembahasan terhadap teks Serat Mudhatanya dalam bab-bab

sebelumnya, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

1. Berdasarkan kajian filologis, dapat diketahui bahwa naskah Serat Mudhatanya

adalah naskah pertama dan naskah tunggal, yang tersimpan di dalam museum

Sana Budaya Yogyakarta dengan nomor katalog PB C56. Teks SM berbentuk

prosa dan disajikan dalam bentuk dialog, yang terdiri atas empat dialog.

Naskah SM ini dikarang oleh R.T.Purbadipura, seorang Abdidalem Bupati

Anom Gedong Tengen Karaton Surakarta, ditulis oleh Wignyaukara dan

R.T.Purbadipura sendiri. Dari hasil kritik teks ditemukan beberapa kesalahan

tulis, yaitu lakuna, adisi, substitusi, ditografi, dan transposisi, juga ditemukan

beberapa ketidakkonsistenan penulisan dan variasi penulisan kata. Sehingga

naskah ini rusak/ korup. Metode penyuntingan teks menggunakan metode

suntingan edisi standar untuk menghasilkan suntingan teks yang bersih dari

kesalahan. Jadi, suntingan teks SM yang telah dihasilkan dalam penelitian ini

adalah suntingan atau edisi teks yang pertama dan bersih dari kesalahan

(penulisan dan ejaan).

1) Berdasarkan kajian isi, naskah Serat Mudhatanya adalah naskah yang berisi

ajaran kepemimpinan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

yang dilengkapi dengan beberapa contoh gaya kepemimpinan para Nabi, dan

commit
para sahabat Nabi Muhammad SAW,to serta
user gaya kepemimpinan raja-raja di
perpustakaan.uns.ac.id 148
digilib.uns.ac.id

Jawa. Ada delapan ajaran kepemimpinan yang harus dipahami dan diterapkan

oleh seorang pemimpin dalam memimpin keluarga, masyarakat, bangsa dan

negaranya, yakni: kuwasa, purba, wisesa, kukum, adil, paramarta, dana, dan

pariksa. Kuwasa berarti wewenang yang dimiliki seorang pemimpin harus

digunakan untuk memutuskan segala sesuatunya secara bijak. Purba berarti

pemimpin harus bertanggungjawab atas semua permasalahan dalam

kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Wisesa berarti pemimpin

harus tegas terhadap siapapun untuk senantiasa berbuat kebajikan. Kukum

berarti pemimpin harus memperlakukan hukum yang sama terhadap siapapun.

Adil berarti pemimpin harus bersikap adil terhadap siapapun, sesuai dengan

usaha yang telah dilakukan. Paramarta berarti pemimpin harus berhati lembut

dan mempunyai sifat belas kasihan terhadap siapapun, sabar dan pemaaf.

Dana berarti pemimpin harus rajin berderma dengan pemberian yang terbaik.

Pariksa berarti pemimpin harus bersungguh-sungguh ketika melakukan proses

pemantauan dan kontrol terhadap kinerja bawahannya, tidak didelegasikan

tetapi terjun langsung ke bawah.

B. SARAN

Berkaitan dengan simpulan yang dihasilkan dalam penelitian ini, dapat

diajukan beberapa saran sebagai berikut:

1. Penanganan awal yang telah dilakukan terhadap naskah Serat Mudhatanya

dalam penelitian ini adalah secara filologis, sehingga telah dihasilkan edisi

kritik teks. Selanjutnya perlu tindak lanjut dan kerjasama dengan pihak-pihak

terkait untuk mempublikasikan teks Serat Mudhatanya dalam bentuk terbitan


commit to user
perpustakaan.uns.ac.id 149
digilib.uns.ac.id

agar teks ini mudah dibaca, dipahami, dan dinikmati oleh masyarakat luas.

Selain itu, dimungkinkan diadakannya penelitian lanjutan secara lebih

mendalam dan spesifik dari bidang-bidang ilmu terkait, seperti: ilmu sastra,

linguistik, serta ilmu-ilmu lainyang terkait untuk kemudian dipublikasikan,

mengingat pentingnya materi kajian yang ada di dalam SB ini.

2. Penelitian yang telah dilakukan ini, sekaligus membuka peluang diadakannya

penelitian lanjutan; walaupun telah menghasilkan edisi kritik naskah.

commit to user

Anda mungkin juga menyukai