Anda di halaman 1dari 17

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN ANAK

USIA DINI

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Perkembangan Peserta Didik

Kelompok 6

Dwi Oktaviani
(421417003)
Indriyani Monoarfa
(421417018)

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO


FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA
JURUSAN FISIKA
PRODI PENDIDIKAN FISIKA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan kasih sayang-Nya, sehingga kami selaku penulis dapat menyelesaikan
tugas makalah ini yang berjudul “Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini”.
Kami selaku penulis makalah ini berterima kasih kepada dosen
pembimbing mata kuliah Perkembangan Peserta Didik Ibu Supartin M.Pd yang
telah membimbing kami untuk menyelesaikan tugas ini.
Penulis sadar bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan yang masih perlu diperbaiki. Oleh karena itu, penulis mengharapkan
kritik dan saran dari para pembaca demi perbaikan tugas ini dimasa yang akan
datang.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.Amin.

Gorontalo, 09 September 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

COVER .................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................4
1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 4
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................. 5
1.3 Tujuan ............................................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN .........................................................................................6
2.1 Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan .................................................... 6
2.2 Ciri-ciri Perkembangan Masa Anak-anak Awal ............................................... 7
2.3 Karakteristik-karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini .............................. 8
2.3.1 Perkembangan Fisik-Motorik ............................................................................ 8
2.3.2 Perkembangan Kognitif ................................................................................... 10
2.3.3 Perkembangan Sosio Emosional ...................................................................... 12
2.3.4 Perkembangan Bahasa ..................................................................................... 13
2.4 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Anak .............................. 14
2.4.1 Pandangan Nativisme ....................................................................................... 14
2.4.2 Pandangan Naturalisme.................................................................................... 14
2.4.3 Pandangan Empirisme...................................................................................... 15
2.4.4 Pandangan Konvergensi atau Interaksionisme................................................. 15
BAB III PENUTUP ...............................................................................................16
3.1 Simpulan ......................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................17

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan intelektual, spriritual dan sosial emosional seorang manusia
merupakan hasil dari perkembangan di usia-usia dini seseorang. Perkembangan
anak pada usia pra-sekolah atau sekarang lebih dikenal dengan anak usia dini
yang berada pada rentang usia 0-6 tahun oleh para ahli dianggap sebagai usia
emas dalam tahap perkembangan manusia. Anak usia dini adalah individu yang
sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, karena itu
dimasa usia ini disebut sebagai golden age (masa emas) yaitu masa yang berharga
dibanding usia selanjutnya. Usia tersebut merupakan fase kehidupan yang unik
dan menyenangkan dengan karateristik khas, baik secara fisik, psikis, sosial, dan
moral. Masa ini yang seharusnya masa menyenangkan dilakukan dengan
memperlihatkan gambar-gambar melalui media buku cerita bergambar, karena
media buku cerita bergambar hampir semua dapat melatih aspek perkembangan
anak terutama pada perkembangan kognitif anak.
Pada masa usia dini anak mengalami masa keemasan (the golden years)
yang merupakan masa dimana anak mulai peka/sensitif untuk menerima berbagai
rangsangan. Masa peka pada masing-masing anak berbeda, seiring dengan laju
pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual. Masa peka adalah masa
terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang
diberikan oleh lingkungan. Masa ini juga merupakan masa peletak dasar untuk
mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, agama
dan moral. Perkembangan fisik atau jasmani anak sangat berbeda satu sama lain,
sekalipun anak-anak tersebut usianya relatif sama, bahkan dalam kondisi ekonomi
yang relatif sama pula. Sedangkan pertumbuhan anak-anak berbeda ras juga
menunjukkan perbedaan yang menyolok. Hal ini antara lain disebabkan perbedaan
gizi, lingkungan, perlakuan orang tua terhadap anak, kebiasaan hidup dan lainnya.
Menurut PERMENDIKNAS No.058 tahun 2009 tentang “standar
Pendidikan Anak Usia Dini terdapat 5 dimensi perkembangan yaitu

4
perkembangan fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional, nilai agama dan
moral (NAM)”.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun dalam pembahasan makalah ini mengangkat rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan pertumbuhan dan perkembangan?
2. Apa saja ciri-ciri perkembngan masa anak-anak awal?
3. Apa saja kerakteristik-karakteristik perkembangan anak usia dini?
4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak?
1.3 Tujuan
Adapun dalam pembahasan makalah ini bertujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian pertumbuhan dan perkembangan.
2. Mengetahui ciri-ciri perkembangan masa anak-anak awal.
3. Mengetahui karakteristik-karakteristik perkembangan anak usia dini
4. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak

5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Setiap organisme pasti mengalami peristiwa perkembangan selama
hidupnya. Perkembangan ini meliputi seluruh bagian dengan keadaan yang
dimiliki oleh organisme ini, baik yang bersifat konkret maupun yang bersifat
abstrak. Jadi, peristiwa perkembangan itu, khususnya perkembangan manusia,
tidak hanya tertuju pada aspek psikologis saja, tetapi juga aspek biologis.
Djaali dalam Helmawati (2015:10) mengemukakan bahwa pertumbuhan
diartikan perubahan kuantitatif pada material sesuatu sebagai akibat dari adanya
pengaruh lingkungan. Sedangkan definisi perkembangan menurut F.J. Monk, dkk
mendefinisikan bahwa perkembangan adalah suatu proses yang kekal dan tetap
menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi
berdasarkan proses pertumbuhan.
Selain itu, perkembangan diartikan sebagai suatu proses yang menuju
kedepan dan tidak dapat diulang kembali. Dalam perkembangan manusia terjadi
perubahan-perubahan yang sedikit banyak bersifat tetap dan tidak dapat diulangi.
(Abu Ahmadi & Munawar Sholeh, 2005: 1)
Secara umum, definisi perkembangan dan pertumbuhan memiliki
pengertian yang sama yakni keduanya mengalami perubahan. Tetapi secara
khusus, pertumbuhan adalah mengacu pada perubahan yang bersifat kuantitas,
sedang perkembangan lebih mengarah kepada kualitas. Artinya konsep
pertumbuhan mengandung definisi sebagai perubahan ukuran fisik yang bersifat
pasti, akurat yakni dari kecil menjadi besar, dari sempit menjadi lebar. Selain itu,
yang terpenting dalam pertumbuhan ialah terjadinya proses pematangan fisik yang
ditandai dengan makin kompleksnya sistem jaringan otot, sistem syaraf maupun
sistem fungsi organ tubuh. Kematangan tersebut, menyebabkan organ fisik merasa
siap untuk dapat melakukan tugas-tugas dan aktivitas sesuai dengan tahap
perkembangan individu. Jadi, perkembangan dapat diartikan sebagai akibat dari
perubahan kematangan dan kesiapan fisik yang memiliki potensi untuk

6
melakukan suatu aktivitas, sehingga individu telah mempunyai suatu pengalaman.
(Agoes Dariyo, 2007: 35)
2.2 Ciri-ciri Perkembangan Masa Anak-anak Awal
Anak dilahirkan di dunia dalam kondisi serba kurang lengkap, sebab
semua naluri, fungsi jasmaniah, serta rohaniahnya belum berkembang dengan
sempurna. Oleh karena itu anak manusia mempunyai kemungkinan panjang untuk
bebas berkembang.1 Yang dimaksud dengan kebebasan berkembang di sini yaitu
untuk bisa mempertahankan hidupnya dan untuk bisa menyesuaikan diri dalam
lingkungannnya. Bahkan seorang anak bisa meningkat pada taraf perkembangan
tertinggi pada usia kedewasaannya. Hingga di kemudian hari ia mampu
mengendalikan alam sekitar dan juga bumi.
Menurut urutan waktu, masa kanak-kanak adalah masa perkembangan dari
usia 2 hingga 6 tahun. Perkembangan biologis pada masa-masa ini berjalan pesat,
tetapi secara sosiologis ia masih sangat terikat oleh lingkungan dan keluarganya.
Oleh karena itu, keluarga sangat berperan penting untuk mempersiapkan anak
untuk bisa beradaptasi ke dalam lingkungan yang lebih luas terutama lingkungan
sekolah.
Masa kanak-kanak sering disebut juga dengan masa estetika, masa indera
dan masa menentang orang tua. Disebut estetika karena pada masa ini merupakan
saat terjadinya perasaan keindahan. Disebut juga masa indera, karena pada masa
ini indera anak-anak berkembang pesat. karena pesatnya perkembangan tersebut,
anak-anak senang mengadakan eksplorasi, yang kemudian disebut dengan masa
menentang.
Pada masa ini anak-anak memiliki sikap egosentris karena merasa dirinya
berada di pusat lingkungan yang ditunjukkan anak dengan sikap senang
menentang atau menolak sesuatu yang datang dari orang disekitarnya.
Perkembangan yang seperti itu disebabkan oleh kesadaran anak, bahwa dirinya
memiliki kemampuan dan kehendak sendiri, yang mana kehendak tersebut
berbeda dengan kehendak orang lain.
Pada masa anak-anak awal, anak-anak banyak meniru, banyak bermain
sandiwara atau pun khayalan, dari kebiasaannya itu akan memberikan
7
keterampilan dan pengalaman-pengalaman terhadap si anak. Ada yang
mengatakan bahwa masa kanak-kanak awal dimulai sebagai masa penutup bayi.
Masa anak-anak awal berakhir sampai dengan sekitar usia masuk sekolah dasar.
Adapun ciri-ciri pada masa anak-anak awal ialah :
a. Usia yang mengandung masalah atau usia sulit
b. Usia mainan
c. Usia prasekolah
d. Usia belajar kelompok
e. Usia menjelajah dan banyak bertanya
f. Usia meniru dan kreatif
Sedangkan tugas-tugas perkembangan pada fase ini meliputi :
a. Belajar berbicara, misalnya dengan belajar menyebut kata ayah, ibu atau
benda-benda sederhana disekitarnya.
b. Belajar membedakan jenis kelamin.
c. Belajar mengadakan hubungan emosional selain dengan orang-orang
terdekatnya.
d. Belajar membedakan antara hal-hal yang baik dan yang buruk dan
mengembangkan kata hati.
e. Membentuk konsep-konsep pengertian sederhana tentang kenyataan sosial dan
alam.
Namun antara anak yang satu dengan anak yang lainnya memiliki masa
anak-anak awal yang berbeda-beda, hal tersebut dikarenakan tiap anak memiliki
perkembangan yang berbeda, yang mana perkembangan-perkembangan pada
masa ini dipengaruh oleh beberapa faktor diantaranya perkembangan fisik,
perkembangan kognitif dan perkembangan psikososial.
2.3 Karakteristik-karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini
Adapun karakteristik perkembangan anak usia dini dapat dilihat sebagai
berikut:
2.3.1 Perkembangan Fisik-Motorik
Pertumbuhan fisik pada setiap anak tidak selalu sama. Ada yang
mengalami pertumbuhan secara cepat, ada pula yang lambat. Pada masa kanak-
8
kanak pertambahan tinggi dan pertambahan berat badan relatif seimbang.
Perkembangan motorik anak terdiri dari dua, ada yang kasar dan ada yang halus.
Perkembangan motorik kasar seorang anak pada usia 3 tahun adalah
melakukan gerakan sederhana seperti berjingkrak, melompat, berlari kesana
kemari dan ini menunjukkan kebanggaan dan prestasi. Sedangkan usia 4 tahun, si
anak tetap melakukan gerakan yang sama, tetapi sudah berani mengambil resiko
seperti jika si anak dapat naik tangga dengan satu kaki lalu dapat turun dengan
cara yang sama dan memperhatikan waktu pada setiap langkah. Lalu, pada usia 5
tahun si anak lebih percaya diri dengan mencoba untuk berlomba dengan teman
sebayanya atau orang tuanya.
Sebagian ahli menilai bahwa usia 3 tahun adalah usia bagi anak dengan
tingkat aktivitas tertinggi dari seluruh masa hidup manusia. Sebab tingkat
aktivitas yang tinggi dan perkembangan otot besar mereka (lengan dan kaki) maka
anak-anak pra sekolah perlu olahraga sehari-hari.
Adapun perkembangan keterampilan motorik halus dapat dilihat pada usia
3 tahun yakni kemampuan anak-anak masih terkait dengan kemampuan bayi
untuk menempatkan dan memegang benda-benda. Pada usia 4 tahun, koordinasi
motorik halus anak-anak telah semakin meningkat dan menjadi lebih tepat seperti
bermain balok, kadang sulit menyusun balok sampai tinggi sebab khawatir tidak
akan sempurna susunannya. Sedangkan pada usia 5 tahun, mereka sudah memiliki
koordinasi mata yang bagus dengan memadukan tangan, lengan, dan anggota
tubuh lain nya untuk bergerak.
Hal ini tidak terlepas dari ciri anak yang selalu bergerak dan selalu ingin
bermain sebab dunia mereka adalah dunia bermain dan merupakan proses belajar.
Mulai sejak si anak membuka mata di waktu pagi sampai menutup mata kembali
di waktu malam, semua kegiatannya dilalui dengan bergerak, baik bolak-balik,
berjingkrak, berlari maupun melompat. Dalam kaitan ini, anak bukanlah miniatur
orang dewasa karena mereka melakukan aktivitas berdasarkan kematangan dan
kemampuan yang sesuai usianya.

9
2.3.2 Perkembangan Kognitif
Istilah kognitif (cognitive) berasal dari kata cognition dan knowing berarti
konsep luas dan inklusi yang mengacu pada kegiatan mental yang tampak dalam
pemerolehan, organisasi/penataan dan penggunaan pengetahuan. Dalam arti yang
luas, kognitif merupakan ranah kejiwaan yang berpusat di otak dan berhubungan
dengan konasi (kehendak), afeksi (perasaan).
Proses perkembangan kognitif ini dimulai sejak lahir. Namun campur
tangan sel-sel otak dimulai setelah seorang bayi berusia 5 bulan saat kemampuan
sensorisnya benar-benar tampak.
Ada 2 teori utama perkembangan kognitif, yakni: teori pembelajaran dan
teori perkembangan kognitif. Konsep utama dari teori pembelajaran adalah
pelaziman, digunakan untuk memahami bayi. Ada dua bentuk pelaziman,
pertama, pelaziman klasik berlangsung ketika suatu stimulus yang semula netral,
seperti bunyi bel yang muncul bersamaan dengan stimulus tidak bersyarat seperti
susu yang mengalir dari dot ke dalam mulut si anak sehingga si anak akan
terbiasa, jika bunyi bel berulangkali dihubungkan dengan pengalaman
mendapatkan susu dari dot, maka bayi akan mulai mengisap begitu ia mendengar
bunyi bel. Kedua, pelaziman instrumental, seperti bila bayi tersenyum di saat ayah
menggelitik perutnya, lalu bayi tersenyum kembali, maka pelaziman ini mungkin
sedang berlangsung.
Sementara jika mengacu pada teori yang dikemukakan Peaget, seorang
pakar psikologi kognitif dan psikologi anak, dapat disimpulkan 4 tahap
perkembangan kognitif, yaitu:
 Tahap sensori motor, terjadi pada usia 0-2 tahun
 Tahap pra operasional, terjadi pada usia 2-7 tahun
 Tahap konkrit operasional, terjadi pada usia 7-11 tahun
 Tahap formal operasional, terjadi pada usia 11-15 tahun
Namun, untuk kategori anak usia dini, maka tahapan perkembangan yang
paling bisa dilihat adalah tahap 1 dan 2.
Terdapat dua bekal kapasitas yang dibawa bayi sejak lahir. Pertama, bekal
kapasitas jasmani yang ditunjukkan dengan dua gerakan refleks, yakni: grasp
10
reflex berupa gerakan otomatis untuk menggenggam; dan rooting reflex berupa
gerakan kepala dan mulut yang terjadi secara otomatis jika setiap kali pipinya
disentuh, kepalanya akan berbalik atau bergerak ke arah datangnya rangsangan
lalu mulutnya terbuka dan terus mencari hingga ketemu puting susu ibu atau
putting susu dot untuknya. Lalu, ge rakan reflex ini terjadi pada usia 0 s/d 5 bulan
serta belum memerlukan ranah kognitif sebab sel-sel otaknya belum berfungsi
matang sebagai alat pengendali.
Kedua, bekal kapasitas sensori berlaku bersamaan dengan berlakunya
refleks-refleks motor tadi bahkan kadang lebih baik. Hal ini terbukti dengan
adanya kemampuan pengaturan nafas, penyedotan dan tanda-tanda respons
terhadap stimulus. Juga danya kemampuan mereka untuk membedakan suara
keras dan kasar dengan suara lembut ibunya dari pada ayahnya dan orang lain.
Dengan demikian, tahap sensori motor yang berlangsung pada usia 0-2
tahun merupakan bagian dari perkembangan kognitif yang tampak dalam bentuk
aktivitas motorik sebagai reaksi stimulasi sensorik. Anak membentuk representasi
mental, dapat meniru tindakan masa lalu orang lain, dan merancang sarana baru
untuk memecahkan masalah dengan menggabungkan secara mental skema dengan
pengetahuan yang diperolehnya. Inteligensi anak masih bersifat primitif yakni
didasarkan pada perilaku terbuka (tindakan konkret dan bukan imajiner atau yang
hanya dibayangkan saja). Hal ini amat penting karena menjadi fondasi untuk tipe-
tipe intelegensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. Lalu, pada usia 18-24
bulan muncul kemampuan untuk mengenal objek permannen atau telah menjadi
cakap dalam berfikir simbolik.
Sedangkan usia 2-7 tahun, si anak berada dalam periode perkembangan
kognitif pra-operasional yakni usia dimana penguasaan sempurna akan objek
permanen dimiliki. Artinya, si anak memiliki kesadaran akan eksisnya suatu
benda yang harus ada atau biasa ada. Juga mengembangkan peniruan yang
tertunda seperti ketika ia melihat perilaku orang lain seperti saat orang merespons
barang, orang, keadaan dan kejadian yang dihadapi pada masa lalu.
Di samping itu juga anak mulai mampu memahami sebuah keadaan yang
mengandung masalah, setelah berfikir sesaat, lalu menemukan reaksi ‘aha’ yaitu
11
pemahaman atau spontan untuk memecahkan masalah versi anak-anak. Akan
tetapi, si anak belum bisa memahami jika terjadi perbedaan pandangan dengan
orang lain.
2.3.3 Perkembangan Sosio Emosional
Para psikolog mengemukakan bahwa terdapat tiga tipe temperamen anak,
yaitu:
Pertama, anak yang mudah diatur, mudah beradaptasi dengan pengalaman
baru, senang bermain dengan mainan baru, tidur dan makan secara teratur dan
dapat menyesuaikan diri dengan perubahan di sekitarnya.
Kedua, anak yang sulit diatur seperti sering menolak rutinitas sehari-hari,
sering menangis, butuh waktu lama untuk menghabiskan makanan dan gelisah
saat tidur.
Ketiga, anak yang membutuhkan waktu pemanasan yang lama, umumnya
terlihat agak malas dan pasif, jarang berpartisipasi secara aktif dan seringkali
menunggu semua hal diserahkan kepadanya.
Dari pendapat diatas diketahui bahwa kepribadian dan kemampuan anak
berempati dengan orang lain merupakan kombinasi antara bawaan dengan pola
asuh ketika ia masih anak-anak. Ketika anak berusia satu tahun, senang dengan
permainan yang melibatkan interaksi sosial, senang bermain dengan sesama jenis
kelamin jika berada dalam kelompok yang berbeda. Namun ketika berumur antara
1 s/d 1,5 tahun, biasanya menunjukkan keinginan untuk lebih mandiri yakni
melakukan kegiatan sendiri, seperti main sendiri, makan dan berpakaian sendiri,
cemburu, tantrum (marah jika kemauannya tidak dipenuhi).
Sedangakan saat usia 1,5 s/d 2 tahun, ia mulai berinteraksi dengan orang
lain, tetapi butuh waktu untuk bersosialisasi, ia masih sulit berbagi dengan orang
lain, sehingga ia akan menangis bila berpisah dengan orang tuanya meski hanya
sesaat.
Sedangakan untuk usia 2,5 sampai 6 tahun, perkembangan emosi mereka
sangat kuat seperti ledakan amarah, ketakutan yang hebat, iri hati yang tidak
masuk akal karena ingin memiliki barang orang lain dan biasanya terjadi dalam
lingkungan keluarga yang besar. Demikian pula dengan rasa cemburu muncul
12
karena kurangnya perhatian yang diterima dibanding dengan lainnya, dan terjadi
dalam keluarga yang kecil. Terjadi sebagai akibat dari lamanya bermain, tidak
mau tidur siang dan makan terlalu sedikit.
Secara jelas kognisi sosial seorang anak yang berumur 0-1 tahun adalah
tumbuhnya perasaan sebagai seorang pribadi sehingga lebih menyukai orang yang
familiar (obyek ikatan emosinya). Sedangkan usia 1-2 tahun yakni tumbuh
pengenalan sosial dengan mengenali perilaku yang disengaja. Lalu untuk usia 3-5
tahun, muncul pemahaman perbedaan antara kepercayaan dan keinginan seorang
anak yakni persahabatan yang didasarkan pada aktivitas bersama. Lalu, ketika
anak berusia 6-10 tahun, persahabatan yang terbangun lebih pada kesamaan fisik
dan adanya kepercayaan secara timbale balik.
2.3.4 Perkembangan Bahasa
Kemampuan setiap orang berbahasa berbeda-beda. Ada yang berkualitas
baik dan ada yang rendah. Perkembangan ini mulai sejak awal kehidupan sampai
anak berusia 5 bulan (0-1 tahun), seorang anak akan mengoceh seperti orang yang
sedang berbicara dengan rangkaian suara yang teratur, walaupun suara
dikeluarkan ketika berusia 2 bulan. Disini terjadi penerimaan percakapan dan
diskriminasi suara percakapan. Ocehan dimulai untuk menyusun dasar bahasa.
Lalu pada usia satu tahun si anak dapat menyebut 1 kata atau periode
holoprastik. Kemudian usia 18-24 bulan, anak mengalami percepatan
perbendaharaan kata dengan memproduksi kalimat dua atau tiga kata disebut
periode telegrafik sebab tanda atau bagian kecil tata bahasa dan mengabaikan kata
yang kurang penting.
Selanjutnya pada usia 2,5 s/d 5 tahun, pengucapan kata meningkat. Bahasa
anak mirip orang dewasa. Anak mulai memproduksi ujaran yang lebih panjang,
kadang secara gramatik, kadang tidak. Lalu, pada usia 6 tahun keatas, anak
mengucapkan kata seperti orang dewasa.
Sementara faktor-faktor yang mempengaruhi banyaknya anak berbicara,
antara lain:
 Intelegensi, semakin cerdas anak semakin cepat keterampilan bicaranya.

13
 Jenis disiplin, disiplin yang rendah membuat cenderung cepat bicara dibanding
dengan anak yang orang tuanya bersikap keras dan berpandangan bahwa anak
harus dilihat, tetapi tidak didengar.
 Posisi urutan, anak sulung didorong lebih banyak bicara dari pada adiknya.
 Besarnya keluarga, anak tunggal didorong lebih banyak bicara dibanding anak-
anak dari keluarga besar sebab orang tua lebih banyak waktu untuk berbicara
dengannya.
 Status sosial ekonomi, dalam keluarga kelas rendah kegiatannya cenederung
kurang terorganisasi dari pada kelas menengah dan atas.
 Status ras, mutu dan keterampilan berbicara yang kurang baik pada
kebanyakan anak berkulit hitam sebab ayahnya tidak ada atau sebab keluarga
tidak teratur sebab banyak anak dan ibu bekerja diluar.
 Berbahasa dua.
 Penggolongan peran seks, misalnya laki-laki dituntut untuk sedikit bicara dari
pada perempuan.
Dengan demikian karakteristik ini penting diketahui sebagai bentuk
kepedulian pada perkembangan anak yang membutuhkan perhatian ekstra dari
orang dewasa disekitarnya, sehingga akan tumbuh anak-anak yang memang
diharapkan.
2.4 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Anak
2.4.1 Pandangan Nativisme
Berdasarkan pandangan ini keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak
didik itu sendiri. Nativisme dari kata “native” yang artinya adalah terlahir, bagi
nativisme lingkungan sekitar tidak ada artinya, sebab lingkungan tidak akan
berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak. Jadi, perkembangan anak
merupakan hasil perubahan dari sifat-sifat pembawaan itu sendiri. Faham ini tidak
mempercayai pengaruh pendidikan terhadap perkembangan anak.
2.4.2 Pandangan Naturalisme
Pandangan naturalisme tidak memandang penting pendidikan, aliran ini
juga disebut “negativisme”, karena berpendapat pendidikan wajib membiarkan
pertumbuhan anak pada alam, dengan kata lain pendidikan tidak diperlukan.
14
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memberikan kebebasan kepada
anak untuk berkembang menurut kodrat dan alamnya yang baik itu.
2.4.3 Pandangan Empirisme
Perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan
pembawaan tidak diperlukan sebab pada waktu lahir seorang anak masih bersih.
Dalam hal ini para penganut empirisme menganggap setiap anak lahir seperti
tabula rasa, dalam keadaan kosong, tak punya kemampuan dan bakat apa-apa.
Hendak menjadi apa anak kelak bergantung pada pengalaman maupun
lingkunangan yang mendidiknya.
2.4.4 Pandangan Konvergensi atau Interaksionisme
Perkembangan bukan hanya dilihat dari salah satu faktor pembawaan
(hereditas) atau lingkungan. Tetapi dapat dikatakan bahwa pengaruh kerjasama
antara faktor internal dan eksternal, ataupun antara faktor-faktor dasar dan ajar
(nature and nuture). Menurut teori konvergensi:
a. Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan
b. Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada
anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik.
c. Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Menurut urutan waktu, masa kanak-kanak adalah masa perkembangan dari
usia 2 hingga 6 tahun. Perkembangan biologis pada masa-masa ini berjalan pesat,
tetapi secara sosiologis ia masih sangat terikat oleh lingkungan dan keluarganya.
Oleh karena itu, keluarga sangat berperan penting untuk mempersiapkan anak
untuk bisa beradaptasi ke dalam lingkungan yang lebih luas terutama lingkungan
sekolah. Perkembangan fisik merupakan dasar bagi kemajuan perkembangan
berikutnya, dengan meningkatnya pertumbuhan tubuh baik berat badan maupun
tinggi badan serta kekuatannya, memungkinkan anak untuk lebih aktif dan
berkembang keterampilan fisiknya, dan juga berkembangnya eksplorasi terhadap
lingkungan tanpa bantuan orang tuanya.
Perkembangan kognitif, anak dalam hal ini otaknya mulai
mengembangkan kemampuan untuk berfikir, belajar dan mengingat. Masa anak-
anak adalah masa perkembangan dari usia 2 tahun sampai dengan usia 6 tahun,
pada masa-masa ini perkembangan biologis dan fisik berjalan dengan sangat cepat
dan pesat, akan tetapi secara sosiologisnya anak-anak masih sangat terikat dengan
lingkungannya terutama keluarga.

16
DAFTAR PUSTAKA
Hasanah, Uswatun. (2016). Pengembangan Kemampuan Fisik Motorik Melalui
Permainan Tradisional Bagi Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak.
Volume 5, Edisi 1 halaman 3
Murni. (2017). Perkembangan Fisik, Kognitif, dan Psikososial Pada Masa Kanak-
Kanak Awal 2-6 Tahun. Volume 3, Nomor 1 halaman 2-4
Rahman, Ulfiani. (2009). Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini. Jurnal
Lentera Pendidikan. Volume 12, No.1 halaman 5-10
Yusuf, Syamsu, 2012. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya

17