Anda di halaman 1dari 43

CRITICAL BOOK REPORT

“PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA KELAS RENDAH


SD”

DISUSUN OLEH :
Kelompok 3 (Tiga)
Nama Mahasiswa :
1. Jihan Agustina (1173311059)
2. Levia Ayu Azrianti (1173311065)
3. Luthfiya Nibroos Angkat (1173311070)
4. Mukti Kanaya Siddiq (1173311086)
5. Ninta Kariana Banurea ( 1173311094)
Kelas : H Ekstensi PGSD 2017
Mata kuliah : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Kelas Rendah SD
Dosen Pengampuh : Faisal, S.Pd, M.Pd.
Marta Marselina Sembiring, S.Pd., M.Pd.

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat,
Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga dapat menyelesaikan penyusunan tugas Critical Book
Report ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Adapun pembuatan Critical
Book Report ini sebagai bentuk tugas dari dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas
Rendah SD. Selain itu agar pembaca dapat menambah pengetahuan dan informasi yang
terdapat didalam tugas ini.

Dalam penyusunan tugas ini, tidak sedikit hamabatan yang dihadapi. Namun penulis
menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan tugas ini tidak lain berkat bantuan, dorongan
dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang dihadapi teratasi. Oleh karena itu
diucapkan terima kasih kepada :

1. Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas Rendah SD yang telah memberikan
tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga termotivasi dan dapat menyelesaikan tugas ini

2. Orang tua yang telah turut membantu, membimbing,dan mengatasi berbagai kesulitan
sehingga tugas ini selesai.

Tugas ini diakui masih banyak kekurangan karena pengetahuan yang dimiliki sangat
kurang. Oleh karena itu diharapkan kepada Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Kelas Rendah SD dan para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat
membangun untuk kesempurnaan tugas Critical Book Report ini.

Medan, Septembber 2019

Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ................................................................................................................... i
Daftar Isi ........................................................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................................... 1
BAB II. RINGKASAN BUKU ........................................................................................ 2
BAB III KEUNGGULAN BUKU
A. Keterkaitan antar Bab ................................................................................ 37
B. Kemutakhiran isi buku .............................................................................. 38
BAB IV. KELEMAHAN BUKU
A. Keterkaitan antar Bab ................................................................................. 39
B. Kemutakhiran isi buku ............................................................................... 39
BAB V. IMPLIKASI
A. Implikasi terhadap Teori ............................................................................. 40
B. Implikasi terhadap Program Pembangunan Indonesia ............................... 40
C. Pembahasan dan Analisis ............................................................................ 41
BAB VI. PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................................. 42
B. Saran ........................................................................................................... 42
Daftar Pustaka ................................................................................................................. 43
BAB I
PENDAHULUAN

Dr.Taufina,M.P.d. dilahirkan di Bukit Tinggi pada tanggal 4 Mei 1962. Beliau anak
pertama dari pasangan ibu Hj.Rosmawar Lukman (Alm) dan bapak H.Taufik. Setelah
menempuh pendidikan di SD Negeri 02 Bukit Tinggi pada tahun 1975, melanjutkan pendidikan
ke SMEP Negeri Bukit Tinggi tahun 1986, dan SMSR Negeri Padang tahun 1982.
Penulis melanjutkan pendidikan S1 Seni Rupa di IKIP Padang dan lulus tahun 1986.
Selanjutnya melanjutkan pendidikan S2 pada program studi Bahasa Indonesia di Universitas
Negeri Padang tahun 2000. Kemudian, pada tahun 2006 penulis menyelesaukan Progaram
Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Malang.

Buku Mozaik Keterampilan Berbahasa di sekolah Dasar ini adalah cetakan ke 1 pada
tahun 2016 dan memiliki ISBN 978-602.73296-7-6. Penerbit buku ini CV.Angkasa Jl.Cipagalo
Girang No.24, Margacinta – Bandung 40284. Buku ini memiliki : Telp : (022) 753 1124 – 753
1163, Fax : (022) 753 1084 – 753-1194, Website : www.angkasagroup.id,
www.tokobukuangkasa.com,Email:redaksi_angkasa@angkasagroup.id,pemasaran@angkasag
roup.id. Buku ini dicetak oleh Percetakan CV Titian Ilmu Jln. Rumah Sakit No.108 Cinambo
– Bandung 40294. Buku ini memiliki ukuran 336,17,5 x 25 cm, Berat buku 590 gr, jumlah
halaman ada 336 halaman dan harga buku ini dijual sebesar Rp.98.000.,M
BAB II

RINGKASAN ISI BUKU

BAB I : KETERAMPILAN MENYIMAK

A. Pengertian Menyimak
Menyimak adalah suatu bentuk keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif dan
melibatkan pemahaman pesan atau lambing lambing lisan dengan penuh perhatian,
pemahaman apresiasi,serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi
atau pesan, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan pembicara
melalui ujaran atau bahasa lisan.
B. Manfaat Menyimak
1. Menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang berharga bagi
kemanusiaan sebab menyimak memiliki nilai informative yaitu memberikan
masukan masukan tertentu yang menjadikan seseorang lebih berpengalaman.
2. Meningkatkan intelektualitas serta memperdalam penghayatan keilmuan dan
khazanah ilmu.
3. Memperkaya kosakata, menambah pembendaharaan ungkapan yang tepat, bermutu,
dan puitis. Orang yang banyak menyimak komunikasinya menjadi lebih lancar dan
kata kata yang digunakan lebih variatif.
4. Memperluas wawasan, meningkatkan penghayatan hidup, serta membina sifat
terbuka, dan objektif.
5. Meningkatkan kepekaan dan kepedulian sosial.
6. Meningkatkan citra artistic jika yang disimak merupakan bahan simakan yang isi
dan bahasanya halus. Banyak menyimak dapat menumbuhsuburkan sikap
apresiatif, sikap menghargai karya atau pendapat orang lain dalam kehidupan, dan
meningkatkan selera estetis seseorang.
7. Mengunggah kreativitas dan semangat seseorang untuk menciptakan atau
menghasilkan ujaran ujaran dan tulisan tulisan yang berjati diri. Jika banyak
menyimak, seseorang akan mendapatkan ide ide yang cemerlang dan segar, serta
pengalaman hidup yang berharga. Semua itu akan mendorong seseorang untuk giat
dan kreatif dalam berkarya.
C. Tujuan Menyimak
1. Mendapatkan fakta. Mendapatkan fakta dapat dilakukan melalui berbagai cara, bisa
melalui keterampilan menyimak, bisa pula melalui keterampilan membaca. Di
Indonesia, memperoleh fakta melalui kegiatan menyimak masih sangat membudaya
di seluruh lapisan masyarakat, baik melalui radio, televisi, pertemuan, maupun
menyimak ceramah ceramah. Namun di Negara maju, budaya menyimak sudah
jarang ditemukan. Mereka lebih suka mendapatkan fakta melalui majalah, Koran,
dan buku buku.
2. Menganalisis fakta. Menganalisis fakta yaitu proses menafsir fakta fakta atau
informasi sampai pada tingkat unsur unsurnya dan menaksir sebab akibat yang
terkandung dalam fakta fakta. Proses menganalisis fakta harus betul betul dipahami
maknanya. Apabila penyimak menyimak sedarhana pikiran pembaca hendaknya ia
menghubungkan apa yang disimaknya dengan pengetahuan dan pengalaman sendiri
sehingga materi disimak dengan baik.
3. Mengevaluasi fakta. Penyimak yang kritis akan mengajukan beberapa pertanyaan
sehubungan dengan hasil analisisnya.
4. Mendapatkan inspirasi. Seseorang menyimak pembicaraan bukan untuk
memperoleh fakta saja, melainkan untuk memperoleh inspirasi. Seseorang
mendengarkan ceramah atau diskusi ilmiah semata mata untuk tujuan mendapatkan
inspirasi atau ilham.
5. Mendapatkan hiburan. Pembicara harus mampu menciptakan suasana gembira dan
senang karena tujuan menyimak disini untuk menghibur. Tujuan ini akan lebih
mudah tercapai apabila pembicara mampu menciptakan humor yang segar dan
orisinil yang mengakibatkan penyimak menunjukkan respon yang mencerminkan
kegembiraan dan bersifat reaktif.
6. Memperbaiki kemampuan berbicara. Tujuan menyimak yang terakhir justru
memperbaiki kemampuan berbicara. Dengan menyimak pembicara yang terpilih
seseorang dapat memperbaiki kemampuan berbicara.
D. Proses Menyimak
1. Penyimak memproses raw speech dan menyimpan image darinya dalam short term
memory.
2. Penyimak menentukan tipe dalam setiap peristiwa pembicaraan yang sedang
diproses.
3. Penyimak mencari maksud dan tujuan pembicara dengan mempertimbangkan
bentuk dan jenis pembicaraan, konteks, da nisi.
4. Penyimak me-recall latar belakang informasi (melalui skema yang ia miliki) sesuai
dengan konteks subjek masalah yang ada.
5. Penyimak mencari arti literal dari pesan yang ia simak.
6. Penyimak menentukan arti yang dimaksud.
7. Penyimak mempertimbangkan apakah informasi yang ia terima harus disimpan di
dalam memorinya atau ditunda.
8. Penyimak menghapus bentuk pesan pesan ia terima.
E. Jenis jenis Menyimak
1. Jenis menyimak berdasarkan sumber suara yang disimak. Ada dua, yaitu menyimak
intrapribadi (Intrapersonal Listening) dan Menyimak Antarpribadi (Interpersonal
Listening).
2. Jenis menyimak berdasarkan cara menyimak bahan yang disimak. Ada dua, yaitu
menyimak ekstensif dan menyimak intensif.
3. Jenis menyimak berdasarkan taraf aktivitas penyimak. Ada dua, yaitu kegiatan
menyimak bertaraf rendah dan kegiatan menyimak bertaraf tinggi.
F. Strategi Menyimak
1. Simak ulang ucap
2. Simak kerjakan
3. Simak tulis
4. Simak terka
5. Memperluas kalimat
6. Simak rangkuman
7. Simak menemukan benda
8. Bisik berantai
9. Simak menyelesaikan cerita
10. Identifikasi kata kunci
11. Identifikasi kalimat topic
12. Paraphrase
13. Satu mulut satu kelas
14. Satu rekaman satu kelas
15. Group cloze
16. Libat cakap
17. Bebas libat cakap
18. Pemberian petunjuk
19. Menyimak ekspositori
20. Menyimak kritis
21. Menyimak dengan membuat catatan
22. Simak baca
23. Simak salin
24. Menyimak setuju
25. Menyimak selektif
26. Menyimak integrative
27. Menjawab pertanyaan
28. Menelaah materi simakan
29. Bermain drama
G. RPP Menyimak
1. RPP menyimak menggunakan KTSP 2006
2. RPP menyimak menggunakan kurikulum 2013

BAB II : KETERAMPILAN BERBICARA

A. Pengertian Berbicara

Tarigan (2008b:15) misalnya,mengemukakan bahwa berbicara adalah,”Kemampuan


mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan,menyatakan serta
menyampaikan pikiran,gagasan,dan perasaan”.

Utari Nababan (1993:45) juga menyatakan bahwa keterampilan berbicara


adalah,pengetahuan bentuk-bentuk bahasa dan makna-makna bahasa,serta kemampuan untuk
menggunakannya pada saat kapan dan kepada siapa.”
Defenisi berbicara juga dikemukakan oleh Brown dan Yule (dalam
Santosa,dkk,2007:34) bahwa berbicara adalah,”Kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi
bahasa untuk mengekspresikan atau menyampaikan pikiran,gagasan atau perasaan secara
lisan.” Sedangkan selamat dan Amir (1996:64) mengemukakakan pengertian berbicara
sebagai,”Keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan sebagai aktivitas untuk
menyampaikan gagasan yang disusun serta dikembangkan dengan kebutuhan menyimak.

Berbicara merupakan bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor


fisik,psikologis,neurologis dan linguistik. Pada saat berbicara memanfaatkan faktor fisik yaitu
alat ucap untuk menghasilkan bunyi bahasa. Bahkan organ tubuh yang lain seperti
kepala,tangan,dan roman muka pun dimanfaatkan dalam berbicara. Berbicara tidak terlepas
dari faktor neurologis yaitu jaringan syaraf yang berbicara. Demikian pulak faktor semantik
yang berhubungan dengan makna dan faktor linguistik yang berkaitan dengan struktur bahasa
selalu berperan dalam kegiatan berbicara. Bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap dan kata-kata
harus disusun menurut aturan tertentu agar bermakna.

B. Manfaat Berbicara

Menurut Samsuri dan Sadtono (1990:34), keterampilan berbicara dalam mata pelajaran
bahasa Indonesia di SD,diarahkan agar siswa memiliki kemampuan untuk:

1. Berpragmatik secara efektif dan efesien sesuai dengan etika yang berlaku secara lisan.

2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan
bahasa negara.

3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai
tujuan.

4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual serta


kematangan emosional dan sosial.

C. Tujuan Berbicara

1. Menghibur

Sesuai dengan namanya,berbicara untuk menghibur para pendengar,pembicara menarik


perhatiaan pendengar dengan berbagai cara seperti humor, spontanitas, menggairahkan, kisa-
kisah jenaka, petualang, dan lain-lain. Tujuan berbicara untuk menghibur biasa dilakukan
untuk pelawak, pemain dagelan,dan lain-lain.
2. Menginformasikan

Berbicara untuk tujuan menginformasikan dan untuk melaporkan,dilaksanaan bila


seseorang ingin :

a. Menjelaskan suatu proses.

b. Menguraikan,menafsirkan,atau menginterprestasikan sesuatu hal.

c. Memberi,menyebarkan,atau menanamkan pengetahuan.

d. Menjelaskan kaitan,hubungan,relasi antara benda,hal,atau peristiwa.

3. Menstimulasikan

Berbicara untuk menstimulasikan pendengar jauh lebih kompleks dari berbicara untuk
menghibur atau berbicara untuk menginformasikan,sebab pembicara harus pintar merayu,
mempengaruhi, atau meyakinkan pendengarnya. Berdasarkan keadaan itulah pembicara
membakar semangat dan emosi pendengarnya sehingga pada akhirnya pendengar tergerak
untuk mengerjakan apa-apa yang dikehendaki pembicara.

4. Meyakinkan

Berbicara untuk meyakinkan pendengarnya akan sesuatu dapat dilakukan dengan


meyakinkan pendengarnya. Pendengar akan tampak yakin dilihat dari sikap pendengar seperti
sikap menolak menjadi sikap menerima.

5. Menggerakkan

Berbicara yang mampu menggerakkan diperlukan pembicara yang beribawa, panutan


atau tokoh idola masyarakat. Dengan kepandaiannya dalam berbicara,kemampuan membakar
emosi,kecakapan memanfaatkan situasi,ditambah penguasaannya terhadap ilmu jiwa massa,
pembicaraan dapat menggerakkan pendengarnya.

D. Jenis-jenis Berbicara

1. Jenis Berbicara Berdasarkan Situasi Pembicaraan


Aktivitas berbicara selalu terjadi atau berlangsung dalam suasana, situasi, dan
lingkungan tertentu. Jika kita melihat berdasarkan situasi pembicaraan, berbiacara dapat
digolongkan dalam dua bagian yaitu pembicaraan bersifat formal dan pembicaraan bersifat
informal. Pembicaraan bersifat formal yaitu pembicaraan yang terjadi dalam kegiatan resmi.
Sedangkan pembicaraan yang bersifat informal adalah pembicaraan yang terjadi dalam
kegiatan yang tidak resmi.

2. Jenis Berbicara Berdasarkan Tujuan Pembicaraan

Tujuan orang yang berbicara pada umumnya adalah untuk menghibur,


menginformasikan, menstimulasi, meyakinkan, atau menggerakkan pendengarnya. Setiap
orang berbicara memiliki tujuan tersendiri. Tujuan berbicara dapat kita klasifikasikan kedalam
lima jenis berbicara yaitu : menghibur, menginformasikan, menstimulasikan, meyakinkan, dan
menggerakkan. (Solchan,2011:11.10).

Berbicara menginformasikan bersuasana serius, tertib, dan hening. Berbicara


menstimulasi juga bersuasana serius, kadang-kadang terasa kaku. Berbicara
meyakinkan,sesuai namanya, bertujuan meyakinkan pendengarnya. Berbicara menggerakkan
pun menurut keseriusan baik dari segi pembicara maupun dari segi pendengarnya.

3. Jenis Berbicara Berdasarkan Jurnal Penyimak

Komunikasi lisan selalu melibatkan dua pihak,yakni pendengar dan pembicara. Dilihat
dari segi jumlah pendenfar, jenis berbicara dapat digolongkan menjadi (a) berbicara
antarpribadi (b) berbicara dalam kelompok kecil, dan (c) berbicara dalam kelompok besar.

Berbicara antarpribadi atau berbicara empat mata, terjadi apabila dua pribadi
membicarakan, mempercakapkan, merundingkan, atau mendiskusikan sesuatu. Suasana
pembicaraan mungkin serius dan mungkin pula santai,akrab,dan bebas. Dalam berbicara antar
pribadi, pembicara dan penyimak berganti peran secara otomatis sesuai dengan tuntutan situasi.

Berbicara dalam kelompok kecil terjadi apabila seseorang pembicara menghadapi


sekelompok kecil penyimak,misalnya tiga sampai lima orang. Pembicara dan penyimak dapat
bertukar peran,misalnya setelah pembicara seselai berbicara diadakan tanya jawab atau diskusi.
Mobilitas pertukaran peran pembicara menjadi penyimak atau penyimak menjadi pembicara
dalam berbicara dalam kelompok kecil tidaklah setinggi mobilitas pertukaran peran dalam
berbicara antar pribadi.

Berbicara dalam kelompok besar terjadi apabila seseorang pembicara menghadapi


penyimak berjumlah besar atau maasa. Para penyimak dapat berupa penyimak homogen dan
mungkin pula penyimak heterogen dalam berbicara jenis ketiga ini. Dalam lingkungan
pendidikan, misalnya, para penyimak homogen baik dalam usia maupun dalam kemampuan.
Dalam rapat besar dilapangan terbuka, digedung perlemen, atau kampanye pemilihan umum
para penyimaknya sangat heterogen.

4. Jenis Berbicara Berdasarkan Peristiwa Khusus Yang Melatarbelakangi Pembicaraan

Manusia sering menghadapi berbagai kegiatan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian


dari kegiatan itu dikategorikan sebagai peristiwa khusus,istimewa, atau spesifik. Berdasarkan
peristiwa khusus itu,berbicara atau pidato dapat digolongkan dalam enam jenis, yakni: (a)
pidato prestasi (b) pidato penyambutan (c) pidato perpisahan (d) pidato jamuan (e) pidato
perkenalan dan (f) pidato nominasi.

Sesuai dengan peristiwa,isi pidato pun harus mengenai peristiwa yang berlangsung.
Pidato prestasi adalah pidato yang dilakukan dalam suasana pembagian hadiah. Pidato
sambutan atau penyambutan berisi ucapan selamat datang pada tamu. Pidato perpisahan berisi
kata-kata perpisahan. Pidato jamuan makan malam berupa ucapan selamat,mendoakan
kesehatan buat tamu dan sebagainya. Pidato memperkenalkan berisi penjelasan pihak yang
memperkenalkan tentang nama,jabatan,pendidikan,pengalaman kerja,keahlian yang
diperkenalkan kepada tuan rumah. Pidato mengunggulkan berisi pujian,alasan, mengapa
sesuatu itu diunggulkan.

5. Jenis Berbicara Berdasarkan Metode Penyampaian Berbicara

Berbicara mendadak terjadi karena seseorang tanpa direncanakan, sebelumnya harus


berbicara didepan umum. Hal ini dapat terjadi karena tuntutan situasi. Misalnya karena
pembicara yang telah direncanakan berhalangan tampil, terpaksa secara mendadak dicarikkan
penggantinya atau dalam suatu pertemuan seseorang diminta secara mendadak memberikan
kata sambutan,pidato perpisahan,dan sebagainya.

Pembicaraan yang dalam taraf belajar mempersiapkan bahan pembicaraan dengan


cermat dan dituliskan dengan lengkap. Bahan yang ditulis itu dihafalkan kata demi kata,lalu
tampil berbicara berdasarkan hasil hafalannya. Cara berbicara seperti ini memang banyak
kelemahannya. Pembicara mungkin lupa akan beberapa bagian dari isi pidatonya,
perhatiaannya tidak bisa diberikan kepada pendengar, kaku dan kurang penyesuaian pada
situasi yang ada.
E. Strategi Berbicara

1. Mendongeng

a. langkah-langkah mendongeng untuk kelas rendah

1) siswa mendapatkan lembaran teks dongeng singkat dari guru.

2) siswa membaca nyaring dongeng yang berikan guru ke depan kelas.

3) guru memberikan tanggapan kepada siswa yang membaca dongeng.

4) siswa kembali membacakan dongeng ke depan kelas.

5) guru memberikan tanggapan kepada siswa yang membaca dongeng.

6) siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tanda baca.

7) siswa menyimak dongeng yang dibacakan guru dengan benar.

8) guru berhenti bercerita dan bertanya jawab dengan siswa jika dalam dongeng
terdapat nilai-nilai kehidupan.

9) siswa diminta kembali membacakan dongeng ke depan kelas untuk melihat


pemahaman siswa.

b. langkah-langkah mendongeng untuk kelas tinggi

1) siswa mendapatkan lembaran teks dongeng singkat guru.

2) siswa membaca dongeng dalam hati.

3) siswa mendongeng secara lisan kedepan kelas.

4) guru memberikan tanggapan kepada siswa yang membaca dongeng.

5) siswa kembali membacakan dongeng kedepan kelas.

6) guru memberikan tanggapan kepada siswa yang membaca dongeng.

7) siswa menyimak dongeng yang dibacakan oleh guru dengan benar.

8) guru berhenti bercerita dan bertanya jawab dengan siswa jika dalam dongeng
terdapat nilai-nilai kehidupan.
9) siswa diminta kembali membacakan dongeng kedepan kelas untuk melihat
pemahaman siswa.

2. Bermain Peran

Langkah-langkah bermain peran :

a) siswa mendapatkan lembaran teks drama dari guru,dalam teks drama tersebut
banyak melakukan gerakan dan ekspresi.

b) siswa membaca dan menghayati teks drama.

c) siswa diminta untuk memerankan masing-maisng tokoh dalam teks drama dengan
melihat teks didepan kelas.

d) siswa lain menanggapi drama singkat siswa yang tampil tadi,baik dari segi
mimik,intonasi maupun ekspresi.

e) siswa diminta kembali memerankan masing-masing tokoh dalam teks drama


dengan melihat teks didepan kelas.

f) siswa lain menanggapi drama singkat siswa yang tampil tadi,baik dari segi
mimik,intonasi, maupun ekspresi.

g) guru meluruskan bagaimana seharusnya ekspresi,intonasi,mimik yang tepat pada


teks drama dengan memerankan secara langsung tokoh yang ada dalam teks
drama.

h) guru berhenti berdrama saat ada nilai-nilai kehidupan dan bertanya jawab dengan
siswa seputar nilai tersebut.

i) siswa dibagi kedalam beberapa kelompok yang dalam tiap kelompok terdapat
maksimal lima siswa dan minimal tiga siswa.

j) siswa mendapatkan lembaran teks drama sederhana dari guru,masing-masing


kelompok mendaptkan mendapatkan teks drama yang berbeda.

k) siswa diminta menghafal teks drama dan menampilkannya kedepan kelas jika hari
itu bisa ditampilkan jika tidak ditampilkan pada pertemuan berikutnya.

l) siswa dari kelompok lain menggapai drama yang dilakukan oleh kelompok yang
tampil.
m) kelompok kedua menampilkan dramanya kedepan kelas dan seterusnya.

n) guru menanggapi semua kelompok yang telah tampil baik intonasi,mimik maupun
ekspresi.

3. Cerita Berantai

Langkah-langkah cerita berantai:

a) siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang dalam setiap kelompok terdapat
delapan siswa.

b) siswa mendengarkan ketentuan-ketentuan dalam kegiatan.

c) siswa berdiri dikelompok masing-masing dari depan ke belakang di bawah


bimbingan guru.

d) siswa dibarisan pertama masing-masing kelompok diajak ke luar kelas dan


diberikan sebuah teks cerita sederhana atau disampaikan secara langsung oleh guru
dan dihafalkan, kemudian kembali ketempat duduk semula.

e) siswa mendengarkan judul cerita tentang gambar.

f) siswa berdiskusi bersama kelompok masing-masing untuk menentukan susunan


gambar yang benar.

g) kelompok siswa yang pertama berhasil menyusun gambar mengacukan tangannya


dan memperlihatkan kepada kelompok lain serta menceritakan dari gambar
kedepan kelas.

h) kelompok lain menanggapi susunan cerita.

i) siswa dari masing-masing kelompok menceritakan hasil susunan gambar kedepan


kelas seperti kelompok pertama.

j) guru memajang gambar urutan cerita yang benar dipapan tulis.

k) siswa menyimak cerita guru yang disesuaikan dengan gambar yang telah disusun
secara berurutan.

l) guru berhenti bercerita dan bertanya jawab jika ada dalam cerita terdapat nila-nilai
kehidupan.
5. Menyajikan Informasi Atau Pidato

Langkah-langkah menyajikan informasi (pidato) :

a) siswa mendengarkan penjelasan tentang pidato,cara membuat pidato dan lainnya


yang berhubungan dengan pidato.

b) siswa mempersiapkan perlengkapan untuk membuat pidato.

c) siswa membuat sebuah pidato sederhana dibawah bimbingan guru yang temannya
ditentukan oleh siswa sendiri ataupun dari guru.

d) beberapa siswa membacakan pidato hasil karanganya kedepan kelas.

e) siswa lain menanggapi pidato yang disampaikan teman,baik dari segi ekspresi,
pidato, dan lainnya.

f) guru ikut serta memberikan tanggapannya.

g) siswa menyimak pidato yang disampaikan oleh guru.

h) guru berhenti berpidato jika ada nila-nilai kehidupan dan bertanya jawab tentang
nilai-nilai tersebut.

i) siswa mengumpulkan pidato yang telah dibuatnya tadi kepada guru.

6. Berpartisipasi Dalam Diskusi

Langkah-langkah berpartisipasi dalam diskusi

a) siswa dibagi dalam beberapa kelompok,satu kelompok terdiri dari empat siswa.

b) siswa menyimak informasi berupa materi yang disampaikan oleh guru.

c) siswa bertanya seputar materi kepada guru.

d) guru meminta masing-masing kelompok memberikan pendapatnya terhadap solusi


permasalahan.

e) siswa berdiskusi dengan anggota kelompok untuk menemukan jawaban dan


permasalahan.

f) masing-masing kelompok memberikan pendapatnya terhadap solusi permasalahan.


g) siswa lain menanggapi pendapat siswa tersebut dan memberikan pendapat juga atas
permasalahan.

h) guru mengarahkan jawaban siswa ke arah yang benar jika jawaban siswa salah.

i) siswa bersama dengan guru menyimpulkan solusi dari permasalahan.

7. Sandiwara Boneka

Langkah-langkah sandiwara boneka

a) siswa menyimak penjelasan guru tentang sandiwara boneka.

b) siswa menyimak vidio tentang sandiwara boneka.

c) siswa bertanya jawab tentang vidio yang diputarkan ataupun seputar sandiwara
boneka.

d) siswa dibagi menjadi beberapa kelompok,satu kelompok terdiri dari empat siswa.

e) masing-masing perwakilan anggota kelompok mengambil gulungan kertas untuk


menentukan judul sandiwara boneka yang akan diperankan oleh masing-masing
siswa.

f) siswa mendapatkan naskah cerita yang sesuai dengan judul pada gulungan karena
siswa yang diambil dari guru.

g) siswa mendaptkan boneka tangan yang sesuai perannya dari guru.

h) siswa diberikan waktu untuk menghafal teks cerita dan berlatih memainkan boneka
tangan.

i) masing-masing siswa menampilakan sandiwara boneka tangan sesuai cerita yang


didapat didepan kelas dan kelompok lain menanggapi penampilan tersebut.

j) guru memberikan penilaian terhadap masing-masing kelompok.

k) masing-masing kelompok diminta untuk lebih berlatih lagi dirumah dalam


memainkan sandiwara boneka.

l) siswa menampilkan sandiwara boneka lagi dipertemukan selanjutnya setelah siswa


berlatih dirumah.
BAB III : KETERAMPILAN MEMBACA

A.Pengertian Membaca

Menurut Tarigan(1991) membaca proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh


pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-
kata/bahasa tulis.Membaca dapat pula dianggap sebagai suatu proses untuk memahami yang
tersirat dalam yang tersurat,melihat pikiran yang terkandung didalam kata-kata yang tertulis.

Peranan membaca tidak dapat dipungkiri lagi dalam kehidupan sehari-hari.Ada


beberapa peranan yang dapat disumbangkan oleh kegiatan membaca antara lain : kegiatan
membaca dapat membantu memecahkan masalah,dapat memperkuat suatu keyakinan
pembaca,sebagai suatu pelatihan,memberi pengalaman estetis,meningkatkan
prestasi,memperluas pengetahuan,dan sebagainya.

Kegiatan membaca tidak timbul secara alami tetapi ada faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi yaitu faktor dalam(intern) pembaca dan faktor luar(ekstern) pembaca.Faktor
yang berasal dari dalam diri pembaca itu antara lain tuntutan kebutuhan pembaca,adanya rasa
persaingan antara sarana yang diperlukan oleh pembaca,adanya dorongan dari luar.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca adalah


suatu proses interaksi memahami lambang bahasa melalui berbagai strategi untuk memahami
makna dari yang tertulis,melibatkan aktivitas visual dan berpikir.Selain itu,membaca
merupakan suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi,berlainan dengan berbicara
dan menulis yang justru melibatkan penyandian.

B.Manfaat Membaca

Membaca adalah kegiatan yang sangat bermanfaat dan sangat penting dalam
kehidupan.Banyak sekali manfaat yang akan didapat dengan membaca.Manfaat dari
membaca,yaitu:

1.Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan

2.Ketika sibuk membaca,seorang terhalang masuk dalam kebodohan

3.Dengan sering membaca,seseorang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam


bertutur kata

4.Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir


5.Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.

Pentingnya membaca dalam kehidupan sehari-hari adalah: pertama,membaca dapat


membuka wawasan baru.Kedua,membaca dapat memberikan pencerahan baru pada
pemikiran.Ketiga,membaca dapat mencerdaskan intelektual,spritual,emosional,dan
kepercayaan diri yang berpadu dengan kerendahan hati.Keempat,membaca membuat
seseorang menjadi seorang yang mandiri dalam mencari pengetahuan.

C.Tujuan Membaca

Menurut Tarigan(2008) tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta
memperoleh informasi,mencakup isi,memahami makna bacaan.Tujuan membaca secara umum
yaitu mampu membaca dan memahami puisi.Selain itu,secara umum tujuan membaca
adalah(1) mendapatkan informasi, (2) memperoleh pemahaman, dan (3) memperoleh
kesenangan.

Sedangkan secara khusus,tujuan membaca adalah: (1) memperoleh informasi faktual,


(2) memperoleh keterangan tentang sesuatu yang khusus dan problematis, (3) memberikan
penilaian kritis terhadap karya tulis seseorang, (4) memperoleh kenikmatan emosi, dan (5)
mengisi waktu luang.

D. Proses Membaca

Proses membaca dapat dilakukan dengan memperhatikan langkah-langkah dalam


membaca.Langkah-langkah dalam membaca dapat dijabarkan sebagai berikut:

1.Kegiatan Prabaca

Kegiatan prabaca dimaksudkan untuk menggugah prilaku siswa dalam penyelesaian


masalah dan memotivasi penelaahan materi bacaan.Kegiatan prabaca ini terdiri dari:

a.Gambaran awal; berisikan informasi yang berkaitan dengan isi cerita, dapat meningkatkan
pemahaman

b.Petunjuk untuk melakukan antisipasi; dirancang untuk menstimulasi pikiran,berisi


pertanyaan-pertanyaan deklaratif yang berkaitan dengan materi yang akan dibaca

c.Pemetaan semantik; memperkenalkan kosakata yang akan ditemukan dalam bacaan dan dapat
menggugah skemata yang berkaitan dengan topik bacaan

d.Menulis sebelum membaca


2.Kegiatan Saat Baca

a.Strategi metakognitif; berkaitan dengan pengetahuan seseorang atas penggunaan intelektual


otaknya dan usaha sadarnya dalam mengontrol penggunaan kemampuan intelektual tersebut.

b.Close prosedur; digunakan juga untuk meningkatkan pemahaman dengan cara


menghilangkan sejumlah informasi dalam bacaan.

E.Jenis-Jenis Membaca

Banyak ditemukan jenis membaca di SD jika merujuk pada kurikulum pembelajaran


membaca di SD.Membaca hendaknya memperhatikan keindahan dalam pelafalannya.Jenis
membaca berdasarkan sasaran pembacanya,yaitu: (1) membaca permulaan dan (2) membaca
lanjut.Membaca permulaan terdiri atas membaca nyaring dan membaca lancar.Sedangkan
membaca lanjut yang dimaksud yaitu membaca dalam hati.

1.Membaca Permulaan

Membaca permulaan dalam pengertian ini adalah membaca permulaan dalam teori
keterampilan,maksudnya menekankan pada proses penyandian membaca secara
mekanikal.Membaca permulaan yang menjadi acuan adalah membaca merupakan proses
recording dan decoding.Membaca merupakan suatu proses yang bersifat fisik dan
psikologis.Proses yang bersifat fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual.Dengan
indra visual,pembaca mengenali dan membedakan gambar-gambar bunyi serta kombinasinya.

2.Membaca Lanjut

Membaca lanjut adalah keterampilan membaca yang baru dapat dilakukan bila
pembaca telah dapat membaca teknik atau membaca permulaan sebab membaca teknik menjadi
dasar membaca lanjut.Sasaran membaca lanjut: (1) Pembaca memahami isi bacaan.(2)
Pembaca dapat membaca cepat dengan kecepatan tinggi.(3) Pembaca dapat membaca tanpa
suara,tanpa menggerakkan bibir,tanpa alat bantu jari atau pensil,tanpa mengeja dalam hati.

F.Strategi Membaca

1.Strategi Bawah-Atas

Strategi bawah-atas membaca memulai proses pemahaman teks dari tataran kebahasaan
yang paling rendah menuju ke yang tinggi.Pembaca model ini mulai dari mengidentifikasi
huruf-huruf,kata,frasa,kalimat,dan terus bergerak ke tataran yang lebih tinggi,sampai akhirnya
ia memahami isi teks.Pemahaman ini dibangun berdasarkan data visual yang berasal dari teks
melalui tahapan yang lebih rendah ke tahapan yang lebih tinggi.

2.Strategi Atas-Bawah

Strategi atas-bawah terlihat pada model yang dikembangkan oleh Coady yang
mendasarkan teorinya pada konsep psikolinguistik.Ia menjelaskan bahwa latar belakang
pengetahuan berinteraksi dengan kemampuan konseptual dan strategi proses yang menentukan
berhasil atau tidaknya suatu pemaknaan.

3.Strategi Campuran

Klein mengemukakan bahwa guru yang baik tidak perlu memakai satu teori
saja.Mereka bisa mengambil dan memilih yang terbaik dari semua strategi yang ada,termasuk
pandangan-pandangan teoritis dan model pembelajaran membaca.Begitu juga model bawah-
atas dan atas-bawah bisa digunakan dalam waktu bersamaan jika diperlukan.

4.Strategi Interaktif

Menurut teori skema,suatu teks hanya menyediakan arahan bagi pembaca dan pembaca
seharusnya menemukan dan membangun sendiri makna teks berdasarkan pengetahuan awal
mereka.Pengetahuan yang telah dimiliki pembaca atau yang mereka terima sebelumnya disebut
latar belakang pengetahuan pembaca dan struktur pengetahuan awal tersebut disebut skemata.

5.Strategi KWL(Know-Want to Know-Learned)

Strategi KWL memberikan kepada siswa tujuan membaca dan memberikan suatu
peranan aktif siswa sebelum,saat,dan sesudah membaca.Strategi ini membantu mereka
memikirkan informasi baru yang diterimanya.Strategi ini juga bisa memperkuat kemampuan
siswa mengembangkan pertanyaan tentang berbagai topic.

BAB IV : KETERAMPILAN MENULIS


A. Pengertian Menulis

Menulis adalah menurunkan dan menuliskan lambing-lambang grafik yang


menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat
membaca lambang-lambang grafik kalau mereka memahami bahasa dengan benar grafik (
Tarigan, 1991:21). Menurut Nurgiyantoro (2005:273), menulis adalah aktivitas
mengungkapkan gagasan melalui media bahasa. Menulis merupakan kegiatan produktif dan
ekspresif sehingga penulis harus memiliki kemampuan dalam menggunakan kosa kata, tata
tulis, dan struktur bahasa.Pendapat ini menunjukkan, bahwa dengan tulisan dapat terjadi
komunikasi antara penulis dan pembaca.Hal ini dapat terjadi apabila penulis dan pembaca
memahami lambang-lambang grafik yang dipergunakan untuk menulis tersebut.
B. Manfaat Menulis

Menurut Sabarti, dkk ( 1988:2 ), manfaat menulis ada delapan, diantaranya:


1. Mengetahui kemampuan dan potensi diri serta pengetahuan tentang topik yang dipilih.
2. Dengan mengembangkan berbagai gagasan kita terpaksa bernalar, menghubung-
hubungkan serta membandingkan fakta-fakta yang mungkin tidak pernah kita lakukan
kalau kita tidak menulis.
3. Lebih banyak menyerap, mencari, serta menguasai informasi sehubungan dengan topik
yang ditulis.
4. Menulis berarti mengorganisasi gagasan secara sistematik serta mengungkapkan secara
tesurat.
5. Melalui tulisan kita dapat menjadi peninjau dan penilai gagasan kita secara objektif.
6. Lebih mudah memecahkan masalah dengan menganalisisnya secara tersurat dalam konteks
yang lebih konkret.
7. Dengan menulis kita aktif berpikir sehingga kita dapat menjadi penemu sekaligus pemecah
masalah, bukan sekedar penyeda informasi.
8. Kegiatan menulis yang terencanaakanmembiasakankitaberpikirdanberbahasasecaratertib

C. Tujuan Menulis

Mengigat proses komunikasi dilakukan secara tidak langsung, tidak melalui tatap muka
antara penulis dan pembaca, dengan tulisan itu berfungsi itu sebagaimana yang diharapkan oleh
penulis, maka isi tulisan serta lambang grafik yang dipergunakan penulis harus benar-benar
dipahami baik oleh penulis ataupun pembacanya.
Hal tersebut diatas, sangat berkaitan erat dengan tujuan menulis Tarigan (1991:24-25)
mengemukakan tujuan menulis sebagai berikut:
1. Tujuan penugasan
Penulis tidak memiliki tujuan, untuk mencapai menulis. Penulisannya menulis, tanpa
mengetaui tujuannya.
2. Tujuan altruistik
Penulis bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghindari kedukaan para
pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan dan
penalaranya, ingin membuat hidup para pembaca lebih mudah dan menyenangkan
dengan karya itu.
3. Tujuan persuasif
Penulis bertujuan mempengaruhi pembaca,agar para pembaca yakin akan kebenaran
gagasan atau ide yang dituangkan atau diutarakan oleh penulis.
4. Tujuan informasion alat atau tujuan penerangan
Penulis menuangkan ide/gagasan dengan tujuan memberi informasi atau keterangan
kepada pembaca.
5. Tujuan penyataan diri
Penulis berusaha untuk menyatakan atau memperkenalkan dirinya sendiri kepada para
pembaca.
6. Tujuan kreatif
Penulis bertujuan agar pembaca dapat memiliki nilai-nilai artistic atau nilai-nilai
kesenian dengan membaca tulisan sipenulis.
7. Tujuan pemecahan masalah
Penulis berusaha memecahkan masalah yang dihadapi.Dengan tulisanya, penulis
berusaha memberi kejelasan pada pembaca tentang bagaimana cara pemecahan suatu
masalah.

D. Jenis-jenis Menulis
Keterampilan menulis tidak diperoleh secara alamiah proses pembelajaran.Agar
terampil dalam menuliskan huruf sebagai lambang bunyi, siswa harus berlatih mulai dari cara
memegang alat tulis. Siswa juga berlatih menggerakan tangan dengan memperhatikan ayang
yang harus ditulis atau digambarkan.Siswa harus dilatih mengamati lambang bunyi, memahami
setiap huruf sebagai lambang bunyi tertentu sampai dapat menuliskannya dengan benar.Proses
belajar menulis permulaan dilaksanakan setelah siswa mampu mengenal huruf-huruf yang
diajarkan.Setelah mampu menulis, siswa dituntut mengarang berbagai tulisan sesuai dengan
apa yang mereka ketahui, baik melalui apa yang mereka alami, dilihat, maupun yang
didengar.Artinya, dalam menulis terdapat jenis menulis secara garis besar, yaitu menulis
permulaan dan menulis lanjut.
1. Menulis Permulaan

Menulis permulaan dimulai dengan pengenalan terhadap cara memegang pensil yang
benar.Tingkat permulaan, kegiatan menulis lebih didominasi oleh hal-hal bersifat
melanis.Kegiatan mekanis yang dimaksud dapat berupa :
a. Sikap duduk yang baik dalam menulis
b. Cara memegang pensil/alat tulis
c. Cara memegang buku
d. Melemaskan tangan dengan cara menulis diudara
e. Melemaskan jari-jari melalui kegiatan menggambar, menjiblak/ngeblat, melatih
dasar-dasar menulis.
f. Dilanjutkan dengan menulis garis lurus, lengkung, dan zigzag dipasir
g. Kemudian menulis garis lurus, lengkung, dan zigzag dipunggung teman
h. Menulis huruf lepas diudara, dipasir, dan punggung teman
i. Menulis garis lurus, lengkung, dan zigzag dikertas engan cara menjiplak
j. Menulis garis lurus, lengkung, dan zigzag di kertas dengan cara menebalkan garis
yang digunakan harus garis putus-putus.

Latihan mengeblat, yakni menirukan atau menebalkan suatu tulisan dengan menindas
tulisan yang telah ada.Ada beberapa cara mengeblat yang bisa dilakukan anak, misalnya
dengan menggunakan kertas karbon, kertas tipis, menebalkan tulisan yang sudah ada sebelum
anak melakukan kegiatan ini, guru hendaknya memberi contoh cara menulis dengan benar
dipapan tulis, kemudian menirukan gerakan tersebut dengan telunjuknya diudara.
Pengenalan huruf dengan menulis dikelas rendah dapat dilakukan dengan beberapa
tahap sesuai dengan perkembangan siswa, yaitu :
a. Menulis Permulaan dengan Huruf Kecil

Menulis permulaan dengan menggunakan huruf kecil diajarkan dikelas I semester I


SD.Proses kegiatan belajar menulis di SD terutama dikelas I dan II selalu dilakukan melalui
proses : mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis kerangka, menulis naskah jadi,
dan memajangkan (Subana :2008:31).
Menulis permulaan d SD dapat dilakukan dengan tahapan, yaitu :
1. Berlatih menulis di awang-awang
2. Berlatih menulis dipunggung teman
3. Berlatih menulis di pasir
4. Berlatih mengeblat
5. Berlatih menulis huruf lepas
b. Menulis Tegak Bersambung

Menulis huruf tegak tersambung atau menulis harus memiliki banyak manfaat bagi
anak-anak.Ketika anak menulis dngan tangan,sensori motorik halus, sentuhan, dan visual anak
akan aktif secara bersamaan.Proses penggoresan garis tegak yang tebal dan garis miring yang
tipis pada huruf tegak yang tebal dan garis miring yang tipis pada huruf tegak bersambung
melatih anak tentang ketegasan, kelembutan, dan ketekunan.Karena itu, sekalipun zaman
sudah serba kompute dan digital, tidak ada salahnya kita tetap mengajarkan anak cara menulis
huruf tegak bersambung.
c. Menulis Permulaan dengan Huruf Kapital pada Huruf Awal Kata Permulaan
Kalimat

Menulis permulaan dengan memperkenalkan cara menulis huruf besar atau huruf
kapital pada awal kalimat diajarkan dikelas II SD.Dalam pengajaran menulis permulaan ini,
kapital pada siswa ditugaskan untuk menuliskan kembali kalimat demi kalimat pada buku
catatan pada masing-masing.Disamping itu dapat pula para siswa ditugaskan untuk
menceritakan kembali isi bacaan tersebut dengan secara tertulis.Untuk membantu mereka
dalam menuliskan kembali isi bacaan, antara lain dapat dibantu oleh guru dengan cara
menuliskan kata-kata pokok dalam kalimat.
d. Menulis Ejaan

Ejaan adalah cara atau aturan menulis kata-kata dengan huruf menurut disiplin ilmu
bahasa(Tarigan, 1991:2).Pada pengertian itu ternyata menulis ejaan ialah menulis sesuai
dengan ketentuan yang harus dilaksanakan dalam menuliskan kata-kata dengan huruf.
2. Menulis Lanjut

Ragam tulisan dapat didasarkan pada isi tulisan pada menulis lanjut, isi tulisan
mempengaruhi jenis informasi, pengorganisasian, dan jenis menulis.Berdasarkan ragam
tersebut jenis menulis dibedakan menjadi empat: deskripsi, eksposisi, argumentasi,
narasi.Keraf(1993:6) berpendapat bahwa jenis menulis didasarkan pada tujuan umum,
berdasarkan hal tersebut menulis dapat dibedakan menjadi lima: desripsi, eksposisi,
argumentasi, narasi dan persuaisi.
a. Deskripsi

Kata deskripsi berasal dari bahasa latin describere yang berarti menggambarkan atau
memberikan sesuat hal.Jadi, menulis deskripsi adalah menulis dengan menceritakan kedaan
sesuai dengan aslinya sehingga pembaca dapat merasakan apa yang dirasakan oleh penulis.
Tujuan deskripsi adalah membentuk gambaran melalui ungkapan bahasa dari imajinasi
pembaca agar dapat membayangkan suasana, orang, peristiwa, dan memahami suatu sensasi
atau emosi (Anshori, 2007:10).
Menurut Sparno (2008:4:14), menulis deskripsi ada dua macam yaitu :
1. Deskripsi Ekspositori
Merupakan karangan yang sangat logis, biasanya merupakan daftar rincian atau hal
yang penting-penting saja yang disusun menurut sistem dan urutan-urutan logis objek yang
diamati.
2. Deskripsi Impresionatis

Merupakan karangan yang menggambarkan impresi penulisnya, atau untu menetralisir


pembacanya.
b. Eksposisi (Paparan)

Eksposisi berasal dari kata exposition yang berarti membuka.Dapat pula


diartikan sebagai tulisan yang bertujuan untuk memberitahu, mengupas, menguraikan,
atau menerangkan sesuatu (Suparno, 2006:5:29).Langkah-langkah penulisan karangan
eksposisi : (1) menentuan tema, (2) menentukan tujuan karangan, (3) memilih data yang
sesuai dengan tema, (4) membuat kerangka karangan, (5) mengembangkan keranga
menjadi karangan.
Ciri-ciri/karakteristik karangan eksposisi: (a) menjelaskan informasi agar
pembaca mengetahuinya, (b) menyatakan sesuatu yang benar-benar terjadi (data
faktual), (c) tidak terdapat unsur mempengaruhi atau memaksakan kehendak, (d)
menunjukkan sebuah peristiwa yang terjadi atau tentang proses kerja sesuatu.
Berdasarkan cara atau metode penguraiannya, karangan eksposisi dapat
dibedakan ke dalam beberapa karangan, antara lain:
1) Eksposisi Definisi
2) Eksposisi Proses
3) Eksposisi Klasifikasi
4) Ekasposisi Ilstrasi (Contoh)
5) Eksposisi Perbandingan dan Pertentangan
6) Eksposisi Laporan

c. Argumentasi (Bahasan)

Argumentasi adalah tulisan yang berisi atas paparan alasan dan pendapat untuk
mumbuat suatu kesimpulan (Suparno : 2008:5:56).Argumentasi ditulis untuk
memberikan alasan, mmperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau
gagasan.Jadi, setiap karangan argumentasi selalu terdapat alasan atau argumen tentang
bantahan terhadap suatu pendapat atau penguatan terhadap pendapat tersebut.Langkah-
langkah menulis argumentasi antara lain :
a. Membuat topik
b. Menetapkan tujuan karangan
c. Melakukan observasi lapangan
d. Membuat kerangka karangan
e. Mengembangkan kerangka karangan
f. Membuat kesimpulan

d. Narasi (Kisahan)

Karangan narasi berisi penyampaian rangkaian peristiwa menurut urutan


kejadiannya, dengan maksud memberi arti pada suatu kejadian.Menoleh devenisi yang
dipaparkan oleh Suparno (2006:4:54) bahwa narasi adalah tulisan yang menyajikan
serangkaian peristiwa.Menurut Gorys Keraf (200:136) cii-ciri karangan narasi adalah ;
(1) menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan, (2) dirangkai dalam urutan waktu, (3)
berusaha menjawab pertanyaan “apa yang terjadi?”, dan (4) ada konflik.Tujuan menulis
narasi ada dua, yaitu hendak memberikan informasi atau memberikan wawasan dan
memperluas pengetahuan kepada pembaca, dan memberikan pengalaman estetis
kepada pembaca.
Jenis-jenis narasi terdiri atas lima, jenis narasi akan dijabarkan sebagai berkut :
1) Narasi Informasi
Adalah narasi yang memilik sasaran penyampaian informasi secara tepat
tentang suatu peristiwa dengan tujuan mmperluas pengetahuan orang tentang kisah
seseorang.
2) Narasi Ekspositorik
Adalah narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat
tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang tentang kisah
seseorang.Dlam narasi ekspositorik, penulis menceritakan suatu peristiwa
berdasarkan data yang sebenarnya.
3) Narasi Objektif atau Artistik
Adalah narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu,
menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar
sehingga tampak seolah-olah melihat.
4) Narasi Sugestif
Adalah narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu,
menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar
sehingga tampak seolah-lah melihat.
c. Persuasi
Persuasi adalah tulisan yang bermaksud mempengaruhi orang lain. Dalam persuasi
selain logika perasaan juga memegang peranan penting.
Langkah-langkah menulis persuasi adalah sbagai berikut:
a. Menentukan topik dan tujuan
b. Membuat kerangka karangan
c. Mengumpulkan bahan
d. Menarik kesimpulan
e. Penutup

E. Proses Menulis
Langkah-langkah dalam proses menulis ada tiga. Agar tulisan anda rapid an benar lalui
semua langkah berikut , yaitu pra menulis, saat menulis dan pasca menulis. Banyak orang gagal
menulis karena tidak melakukan proses tesebut dengan lengkap. Atau mungkin tulisan jadi,
tapi tidak maksimal.
1. Pra Menulis

Pra menulis merupakan tahap persiapan. Pada tahap ini seorang penulis melakuksn
berbagai kegiatan, misalnya menemukan ide gagasan, menentukan judul karangan,
menentukan judul, memilih bentuk atau jenis tulisan, membuat kerangka dan mengumpulksn
bahan-bahan. Ide gagasan bersumber dari pengalaman, observasi, buku bacaan dan imajinasi.
. Pengembangan ide ke dalam kerangka karangan dapat menggunakan berbagai pola
pengembangan. Secara umum, kerangka karangan terdiri atas tiga bagian , yaitu pendahuluan,
pengembangan dan penutup. Pengembanga dapat dilakukan dengan dua pola yaitu pola
alamiah dan rasional. Pola alamiah adla pola pengembangan yang disesuaikan dengan urutan
waktu terjadinya peristiwa dan urutan tempat atau ruang (space order). Sedangkan pola
pengembangan rasional dilakuan berdasarkan urutan sebab akibat, problem solving
(pemecahan masalah), aspek da topik.

2. Saat Menulis

Tahap enulisan dimulai dengan menjabarkan ide ke dalam bentuk tulisan. Pada tahap ini
memerlukan berbagai pengetahuan kebahasaan dan teknik penulisan. Pengetahan kebahasaan
digunakan untuk pemilihan kata, penentuan gaya bahasa, pembentukan kalimat sedangkan
teknik penulisa untuk penyusunan paragraph sampai dengan penyusunan karangan secara utuh.
Beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan pada saat menentukan judul, antara lain
(1)singkst, (2) provokatif, (3) relevan dengan isi.
3. Pasca Menulis

Pasca menulis terdiri atas tiga yaitu merevisi atau mengubah, mengedit dan menyajikan
atau mempublikasikan tulisan. Ketiga langkah tersebut daoat dijelaskan sebagai berikut :
a. Merevisi atau mengubah

Pada tahap merevisi dilakukan dengan koreksi terhadap keseluruhan karangan. Koreksi
dilakuka terhadap berbagai aspek misalnya, struktur krangan dan kebahasaan. Pada tahap ini
masih dimungkinkan mengubah judul karangan apabila judul yg telah ditentukan kurang tepat.
b. Mengedit

Dalam pengeditan ini diperlukan format buku yang akan menjadi acuan, misalnya ukuran
kertas, bentuk tulidan dan pengaturan spasi. Proses pengeditan dapat diperluas dan
disempurnakan dengan penyedian gambar atau ilustrasi.
c. Menyajikan atau mempublikasikan tulisan

Mempublikasikan tulisan merupakan menyampaikan karangan kepada publik dalam


bentuk cetakan dan tidak dalam bentuk cetakan. Contoh penyampaian tanpa cetakan dilakukan
dengan pementasan, penceritaan , peragaan dsb. Karangan ebrbentuk cerita anak disampaikan
melalui majalah.
F. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Menulis
a. RPP Menulis Menggunakan KTSP
Adapun komponennya yaitu :
1. Standar Kompetensi
2. kompetensi Dasar
3. indicator
4. Tujuan Pembelajaran
5. deskripsi Materi
6. Metode /strategi
7. langkah-langkah Pembelajaran
8. Sumber Belajar
9. Penilaian

b. RPP Menulis Menggunakan Kurikulum 2013


Adapun komponennya yaitu :
1. Kompetensi Intidan Indika
2. Kompetensi Dasar dan Indikator
3. Tujuan Pembelajaran
4. metode dan Pendekatan
5. Materi Pembelajaran
6. Media, alat dan Sumber Belajar
7.Langkah-langkah pembelajaran
8. Penilaian

BAB V : APRESIASI SASTRA


A. Pengertian Sastra
Banyak ahli yang mendefenisikan pengertian mengenai sastra, diantaranya:
1. Zainuddin (1992:99) menyatakan bahwa, “Sastra adalah karya seni yang dikarang
menurut standar bahasa kesusastraan.” Standar kesustraan yang dimaksud adalah
penggunaan kata-kata yang indah dan gaya bahasa serta gaya cerita yang menarik.
Sedangkan kesusastraan adalah karya seni yang mengungkapkannya baik dan
diwujudkan dalam bentuk bahasa yang indah.
2. Esten (1993:9) mendefinisikan “Sastra atau kesusastraan adalah pengungkapan dari
fakta aristik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (masyarakat)
melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan
manusia (kemanusiaan).”
3. Semi (1988:8) mengungkapkan “Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni
kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupan menggunakan bahasa sebagai
mediumnya.”
4. Sudjiman (1991:68) mendefinisikan “Sastra sebagai karya lisan atau tulisan yang
memiliki berbagai cirri keunggulan seperti keorisinilan, keindahan dalam bagian isi,
dan ungkapannya.”
5. Menurut Plato dan Aristoteles “Sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari
kenyataan (mimesis).”
Gambaran pengertian oleh para ahli membukacakrawala untuk memahami bahwa sastra
merupakan suatu bentuk dan hasil pekerjaan karya seni kreatif secara lisan dan tulisan berupa
gambaran dari kenyataan yang dikarang menurut standar bahasa kesusastraan, yaitu
penggunaan kata-kata yang indah dan gaya bahasa serta gaya cerita yang menarik.
B. Manfaat Sastra
Menurut Lazar (2002:15-19), beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari pembelajaran
sastra, antara lain:
1. Memberikan motivasi kepada siswa
2. Memberi akses pada latar belakang budaya
3. Memberik akses pada pemerolehan bahasa
4. Memperluas perhatian siswa terhadap bahasa
5. Mengembangkan kemampuan interpretative siswa
6. Mendidik siswa secara keseluruhan

C. Tujuan Sastra
Tujuan pembelajaran sastra di sekolah terkait pada tiga tujuan khusus di bawah ini:
1. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual serta
kematangan emosional dan social
2. Meningkatkan dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan,
memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan
berbahasa
3. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan
intelektual manusia Indonesia

D. Jenis-jenis Sastra
Sastra terdiri dari sastra baru dan sastra lama. Sastra lama adalah sastra yang berbentuk
lisan atau sastra melayu yang tercipta dari suatu ujaran atau ucapan. Bentuk-bentuk
kesusastraan yang berkembang adalah dongeng, mantra, pantun, dan sejenisnya. Karya sastra
klasik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Nama penciptanya tidak diketahui (anonym)
2. Cerita-ceritanya banyak diwarnai oleh hal-hal gaib
3. Banyak menggunakan kata-kata yang baku, seperti alkisah, sahibul hikayat,
menurut empunya cerita, konon, dan sejenisnya.
4. Istanasentris, kisah berupa kehidupan istana, raja-raja, dewa-dewa, para pahlawan,
atau tokoh-tokoh mulia lainnya
5. Karena belum ada media cetak dan elektronik, sastra klasik berkembang secara
lisan
6. Tema karangan bersifat fantastis, karangan berbentuk tradisional, dan proses
perkembangannya statis
7. Contoh sastra lama: fable, sage, mantra, gurindam, pantun, syair dan lain-lain.
Sastra baru adalah karya sastra yang telah dipengaruhi oleh karya sastra asing sehingga
sudah tidak asli lagi. Ciri dari sastra baru yakni:
1. Pengarang dikenal oleh masyarakat luas
2. Bahasanya tidak klise
3. Proses perkembangan dinamis
4. Tema karangan bersifat rasional
5. Bersifat modern/tidak tradisional
6. Masyarakat sentries (berkutat pada masalah kemasyarakatan)
7. Contoh sastra baru: novel, biografi, cerpen, drama, sonata, dan lain-lain.
Sastra dapat dikelompokkan menjadi prosa, puisi, dan drama. Prosa juga terbagi menjadi
prosa lama dan prosa baru. Begitu juga dengan puisi, puisi terdiri dari puisi lama dan puisi
baru. Berikut penjabaran tentang prosa, puisi, dan drama.
1. Prosa
Prosa merupakan karya sastra yang bersifat menguraikan atau mendeskripsikan suatu fakta
ataupun isi pikiran dan perasaan secara jelas serta tidak terikat pada syarat-syarat tertentu. Jenis
tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa
dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis
media lainnya. Prosa juga disebut dengan karangan bebas. Artinya, penulis prosa dapat secara
bebas menuliskan apa yang ada didalam pikirannya, tanpa harus terkait oleh aturan tertentu.
a. Prosa Lama
Prosa lama merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau
kebudayaan barat. Ciri-ciri prosa lama sebagai berikut:
1. Statis, lamban perubahannya
2. Pokok cerita berupa berikisar istana sentris, bersifat kerajaan
3. Bersifat fantastis, bentuknya hikayat, dongeng
4. Dipengaruhi sastra Hindu dan Arab
5. Tidak ada pengarang atau anonym
6. Kurang diferensiasi
7. Tatanan bahasa masih tradisional
8. Belum kronologis
Prosa lama terdiri atas:
1. Dongeng
Dongeng adalah cerita pendek tentang petualangan khayal dengan situasi dan tokoh-
tokoh yang luar biasa dan gaib. Dongeng adalah cerita yang berisi tentang pengungkapan
sesuatu yang bersifat khayalan.
Jenis-jenis dongeng berdasarkan isinya, yaitu: mite, legenda, fable, cerita jenaka,
farabel dan sage. Berikut penjelasan jenis dongeng berdasarkan isinya.
a) Mite
Mitos atau mite adalah cerita prosa rakyat yang berhubungan dengan kepercayaan
terhadap sesuatu benda atau hal yang dipercayai mempunyai kekuatan gaib dengan tokoh para
dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain pada masa lampau dan dianggap
benar-benar terjadi oleh penganutnya.
b) Legenda
Legenda merupakan cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi oleh pemilik
cerita yang ceritanya dihubungkan dengan tokoh sejarah dan tempat tertentu, telah dibumbui
dengan keajaiban, kesaktian, dan keistimewaan tokohnya. Oleh karena itu, legenda sering kali
dianggap sebagai “sejarah” kolektif (folk history).
c) Fable
Fable yaitu dongeng yang tokohnya adalah binatang yang berperilaku seperti manusia,
misalnya dapat berbicara dan berjalan. Binatang-binatang itu dapat berbicara, makan, minum,
berkeluarga sebagaimana halnya dengan manusia. Fable tidak hanya dikenal di masyarakat
nusantara, melainkan hampir dikenal di seluruh dunia.
d) Cerita jenaka
Cerita jenaka adalah cerita yang berisikan kejadian lucu yang terjadi pada masa lalu. Cerita
dalam dongeng lucu dibuat untuk menyenangkan atau membuat tertawa pendengar atau
pembaca. Umumnya cerita jenaka terbagi dua jenis:
1. Cerita jenaka tempatan, adalah cerita jenaka yang lebih berorientasikan soal-soal yang
berkaitan dengan isu tempatan dari segi watak, latar, persoalan, dan sebagainya.
2. Cerita jenaka pengaruh asing/luar, adalah cerita yang mendapat pengaruh terutama
Hindu dan Islam karena masyarakat Melayu pernah menerima pengaruh-pengaruh
tersebut.

e) Parabel
Parabel yaitu dongeng atau cerita rekaan yang mengandung nilai-nilai pendidikan untuk
menyampaikan ajaran agama, moral, atau kebenaran umum dengan menggunakan
perbandingan atau ibarat. Parabel juga dapat berupa metafora yang diperluas menjadi cerita
pendek dan sederhana yang mengandung hikmah atau pedoman hidup.
f) Sage
Sage yaitu dongeng yang mengandung unsure sejarah atau kisah kepahlawanan. Ada
berbagai jenis sage yang membedakan sifatnya, yaitu:
1) Sage sejarah adalah cerita yang menggambarkan suatu peristiwa luar biasa atau
kepribadian tokoh tertentu dari masa lalu.
2) Sage iblis (sage keimanan) berkaitan dengan konflik antara orang-orang dengan
makhluk mitologi.
3) Cerita rakyat dapat dikenali oleh bahasa kuno. Hal tersebut dapat diketahui bagian
cerita atau tulisan. Tema cerita mengenai hal-hal magis atau setan.
4) Sage alam menjelaskan tentang fenomena alam, cara yang tidak biasa atau kejadian,
sedangkan sage gender menjelaskan tentang asal-usul dan sejarah keluarga yang
dikenal.
5) Sage perjalanan yang menceritakan perjalanan diberbagai tempat yang berbeda, yang
bentuk ceritanya berdasarkan lokal masing-masing.
6) Schwank sage adalah perjalanan antara legenda tradisional dan cerita kehidupan sehari-
hari.
7) Sage yang berhubungan dengan benda teknologi modern atau fantasi teknologi.

2. Cerita Sejarah
Cerita sejarah adalah cerita yang berisi tentang sejarah yang dipadukan dengan hal-hal
yang kurang masuk akal.
3. Cerita Pelipur Lara
Cerita pelipur lara adalah cerita yang digunakan sebagai hiburan berupa kisah raja,
putrid raja yang cantik, atau putra raja yang gagah berani.

4. Cerita-cerita berbingkai
Cerita berbingkai adalah cerita yang menceritakan sebuah kejadian dalam pelaku utama
atau pelaku pendamping, lalu dalam cerita tersebut pelaku utama atau pelaku pendamping juga
menceritakan kisah lain sehingga menimbulkan cerita kedua atau ketiga.
5. Wiracerita (epos)
Epos adalah cerita kepahlawanan atau syair panjang yang menceritakan riwayat perjuangan
seorang pahlawan yang hidup terus menerus di tengah bangsa dan masyarakat.
b. Prosa Baru
Prosa baru merupakan pancaran dari masyarakat baru. Karya-karya prosa yang dihasilkan
oleh masyarakat baru Indonesia mulaik fleksibel dan bersifat universal; ditulis dan dilukiskan
secara lincah serta bisa dinikmati oleh lingkup yang lebih luas. Ciri-ciri prosa baru yaitu:
1. Dinamis, perubahannya cepat
2. Rakyat sentries, mengambil bahan dari rakyat sekitar
3. Realistis, bentuknya roman, novel, cerpen, drama, kisah, dan sebagainya.
4. Dipengaruhi sastra barat
5. Nama pencipta selalu dicantumkan.
Jenis-jenis prosa baru adalah:
1. Roman
Roman adalah bentuk prosa baru yang mengisahkan kehidupan pelaku utamanya
dengan segala suka dukanya. Dalam roman, pelaku utamanya sering diceritakan mulai dari
masa kanak-kanak sampai dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Roman mengungkap
adat atau aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail dan menyeluruh, alur bercabang-
cabang, banyak digresi.
2. Novel
Novel adalah bentuk prosa baru yang melakukan sebagian kehidupan pelaku utamanya
yang terpenting, paling enarik, dan mengandung konflik. Konflik atau pergulatan jiwa tersebut
mengakibatkan perubahan nasib pelaku. Biasanya novel lebih pendek daripada roman dan lebih
panjang daripada cerpen.
3. Cerpen
Cerpen adalah bentuk prosa baru yang menceritakan sebagaian kecil dari kehidupan
pelakunya yang terpenting dan paling menarik. Di dalam cerpen boleh ada konflik atau
pertikaian, akan tetapi hal itu tidak menyebabkan perubahan nasib pelakunya.
4. Riwayat
Riwayat adalah suatu karangan prosa baru yang berisi pengalaman-pengalama hidup
pengarang sendiri atau bisa juga pengalaman hidup orang lain sejak kecil hingga dewasa
bahkan sampai meninggal dunia.
5. Kritik
Kritik adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk suatu hasil karya
dengan memberi alas an-alasan tentang isi dan bentuk dengan kriteria tertentu yang sifatnya
objektif dan menghakimi.
6. Resensi
Resensi adalah pembicaraan/pertimbangan suatu karya. Isinya bersifat memaparkan
agar pembaca mengetahui karya tersebut dari berbagai aspek seperti tema, alur, perwatakan,
dialig, dan lain-lain, sering juga disertai dengan penilaian dan saran tentang perlu tidaknya
karya tersebut dibaca atau dinikmati.
7. Esai
Esai adalah ulasan suatu masalah secara sepintas lalu berdasarkan pandangan pribadi
penulisnya. Isinya bisa berupa hikmah hidup, tanggapan, renungan, ataupun komentar tentang
budaya, seni, fenomena social, politik, pementasan drama, film dan lain-lain.
8. Kisah perjalanan
Kisah perjalanan adalah karangan cerita yang mengungkapkan sesuatu yang pernah dialami
seseorang dalam perjalanan.
2. Puisi
Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara
imajinatif dan disusun dengan mengosentrasikan semua kekuatan bahasa dengan
pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.
a. Puisi lama
Ciri puisi lama: (1) Merupakan puisi rakyat yang tidak dikenal nama pengarangnya, (2)
Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan, (3) Sangat terikat oleh aturan-
aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima. Berikut adalah jenis-jenis
puisi lama:
1) Mantera
Mantera merupakan karya sastra lama yang berisi pujian-pujian terhadap sesuatu yang gaib
atau yang dikeramatkan. Mantera biasanya diucapkan oleh pawang atau dukun sewaktu
melakukan upacara keagamaan ataupun ketika berdoa.
2) Pantun
Pantun merupakan puisi lama yang terdiri dari empat baris dalam satu baitnya. Baris
pertama dan kedua merupakan sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempatnya adalah isi.
3) Seloka
Seloka disebut juga dengan pantun berbingkai. Bedanya dengan pantun, kaliat ke-2 dan ke-
4 pada bait pertama diulang kembali dan menjadi kalimat ke-1 dan ke-3 pada bait keduanya.
Pengulangan itu dilakukan terus-menerus sehingga bait-bait dala puisi sambung-menyambung.
4) Talibun
Talibun adalah pantun yang susunannya terdri dari enam, delapan, atau sepuluh baris.
Pembagian baitnya sama dengan pantun biasa, tiga baris pertama merupakan sampiran dan tiga
baris berikutnya merupakan isi.
5) Karmina
Kamina atau pantun kilat ialah pantun yang terdiri atas dua baris, baris pertama merupakan
sampiran dan baris kedua isinya.
6) Gurindam
Gurindam disebut juga sajak pribahasa atau sajak dua seuntai. Gurindam memiliki
beberapa persamaan dengan pantun yakni pada isinya. Gurindam banyak mengandung nasihat
atau pendidikan, terutama yang berkaitan dengan masalah keagamaan. Gurindam terdiri atas
dua kaliat. Kalimat pertama berhubungan langsung dengan kalimat keduanya. Kalimat pertama
selalu menyatakan pikiran atau peristiwa sedangkan kalimat keduanya menyatakan keterangan
atau penjelasannya.
7) Syair
Syair merupakan pusi klasik yang merupakan pengaruh kebudayaan Arab. Dilihat dari
jumlah barisnya, syair hampir sama dengan pantun, yakni sama-sama terdiri dari empat baris.
Perbedaannya terletak pada persajakan. Pantun bersajak a-b-a-b, sedangkan syair bersajak a-a-
a-a. Selain itu, pantun memiliki sampiran, sedangkan syair tidak memilikinya.

b. Puisi Baru/Modern
Ciri pusi baru: (1) bentuknya rapi, simetris; (2) Mempunyai persajakan akhir; (3) Banyak
mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain; (4) sebagian besar
puisi empat seuntai; (5) Tiap-tiap barisnya terdiri atas sebuah gatra; (6) Tiap gartanya terdiri
atas dua kata (sebagian besar) 4-5 suku kata. Jenis-jenis puisi baru menurut isinya, dibedakan
atas:
1) Balada adalah puisi berisi kisah/cerita.
2) Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
3) Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
4) Elegi, yaitu puisi atau sajak duka nestapa.
5) Epigram, yaitu puisi atau sajak yang mengandung bisikan hidup yang baik dan benar,
mengandung ajaran nasihat dan pendidikan agama.
6) Satire, yaitu sajak atau puisi yang mengecam, mengejek, menyindir dengan kasar
kepincangan social atau ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat.
7) Romance, yaitu sajak atau puisiyang berisikan cerita tentang cinta kasih, baik cinta
kasih kepada lawan jenis, bangsa dan Negara, kedamaian, dan sebagainya.
Berdasarkan jumlah baris dalam kalimat pada setiap baitnya, puisi baru dibagi dalam
beberapa bentuk puisi, yaitu:
1) Distikon, adalah sajak yang terdiri atas dua baris kalimat dalam setiap baitnya, bersajak
a-a.
2) Terzina, atau sajak tiga seuntai, artinya setiap baitnya terdiri atas tiga buah kalimat.
Terzina dapat bersajak a-a-a; a-a-b; a-b-c; atau a-b-b.
3) Quatrain, adalah sajak empat seuntai yang setiap baitnya terdiri atas empat buah
kalimat. Quatrain bersajak a-b-a-b; a-a-a-a; atau a-a-b-b.
4) Quint, adalah sajak atau puisi yang terdiri atas lima baris kalimat dalam setiap baitnya.
Quint bersajak a-a-a-a-a.
5) Sektet, adalah sajak atau puisi enam seuntai, artinya terdiri atas enam buah kalimat
dalam setiap baitnya. Sektet mempunyai persajakan yang tiak beraturan. Dalam sektet,
pengarangnya bebas menyatakan perasaannya tanpa menghiraukan persajakan atau
rima bunyi.
6) Septima, adalah sajak tujuh seuntai yang setiap baitnya terdiri atas tujuh buah kalimat.
7) Stanza, adalah sajak delapan seuntai yang setiap baitnya terdiri atas delapan buah
kalimat.
8) Sonata, berasal dari kata Sonetto dalam bahasa Italia yang berbentuk dari kata latin
Sono yang ebrarti ‘bunyi’ atau ‘suara’.
3. Drama
Drama adalah karya sastra yang ditulis dala bentuk dialog dengan maksud dipertunjukkan
oleh aktor.
BAB III

KEUNGGULAN BUKU

A. Keterkaitan Antar Bab

Pada bab pertama buku ini membahas mengenai keterampilan menyimak.


Keterampilan menyimak bermanfaat sebagai nilai informatif yaitu memberikan argument
tertentu yang menjadikan seseorang lebih berpengalaman serta meningkatkan intelektualitas
dalam memperkaya kosakata dan pembendaharakan kata agar seseorang dapat lebih giat dan
kreatif dalam berkarya. Selanjutnya pada bab kedua dijelaskan mengenai keterampilan
berbicara dan lainnya sehingga pembaca mampu membedakan keterampilan berbahasa yang
satu dengan lainnya. Pada bab ketiga membahas mengenai keterampilan membaca, hal ini
sangat diperlukan sebelum kita memulai untuk menulis. Dengan membaca seseorang bisa
menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai model kalimat, lebih lanjut lagi ia bisa
meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yg akan
ditulis. Kemudian pada bab keempat membahas mengenai keterampilan menulis. Adapun
dengan memahami keterampilan menulis kita dapat berpikir secara aktif sehingga dapat
menjadi penemu sekaligus pemecah masalah. Selanjutnya pada bab kelima yg merupakan bab
terakhir dari buku ini membahas mengenai apresiasi sastra. Dengan mengapresiasikan sastra
kita dapat termotivasi untuk meningkatkan kemampuan dalam menguasai teks sastradan
memahami bahsa serta dalam menghubungkan teks sastra yang dibaca dengan nilai-nilai dan
tradisi masyarakat.

Secara keseluruhan menurut saya pembahasan pada buku ini sangat terstruktur
sehingga dapat membuat pola pikir pembaca menjadi terarah dan mudah untuk mengikuti
langkah-langkah ataupun ilmu yang akan disampaikan. Pokok pembahasan dari bab satu (i)
sampai dengan bab lima (v) merupakan suatu kesatuan dalam keterampilan berbahasa di
sekolah dasar, yang tentunya saling berkaitan dan dengan urutan yang sudah sesuai.
B. Kemutakhiran Buku

Dilihat dari tahun terbit, buku ini terbit 2016 tepatnya sudah tiga tahun dari sekarang
dan tidak termasuk buku yang sudah lama. Tetapi penulis menggunakan sumber bacaan atau
referensi kebanyakan sudah lebih dari lima tahun terakhir, walaupun seperti itu penulis tetap
menggunakan referensi yang akurat dan terpercaya seperti buku panduan terjemahan, jurnal
terakreditasi dan dengan buku-buku yang memang penulisnya ahli dalam bidang metodologi
penelitian. Penulis juga mencantumkan beberapa contoh sastra hal tersebut menggambarkan
bahwa penulis dapat langsung menerapkan keterampilan-keterapilan berbahasa dan mengambil
contoh terbaru agar para pembaca lebih memahami serta menambah wawasasn pengetahuan
yang mendasari keterampilan menyajikan bahasa dan apresiasi sastra di sekolah dasar.
BAB IV

KELEMAHAN BUKU

A. Keterkaitan Antar Bab

Berdasarkan analisis tidak ditemukan kelemahan pada buku ini. Hal ini dapat dibuktikan
dengan semua pembahasan pada tiap judul akan selalu di riview ulang dengan mengarah ke
subbab yang ada sebelumnya atau subbab setelahnya.

B. Kemuktahiran

Buku sudah baik karena berukuran sedang dan dicetak menggunakan kertas yang ringan
dan tipis sehingga mudah untuk dibawa. Kulit buku ini menggunakan hardcover yang
seharusnya memberikan kesan elegan tetapi dikarenakan gambar latar belakang yang tidak
menarik serta cover menggunakan kombinasi warna yang pucat, sehingga menjadikan buku ini
terlihat tidak menarik untuk dibaca.

Bahasa dan kalimat yang digunakan dalam buku tersebut masih kurang baik karena
masih susah untuk dimengerti dan dicerna, kata-katanya tidak begitu mudah untuk dipahami
sehingga pembaca harus lebih serius dan berkonsentrasi saat membacanya. Dalam setiap bab
sering di jumpai antara kalimat yang tidak berhubungan, maka sebab itu dalam memahami pun
menjadi susah. Sebaiknya penggunaan kalimat dalam dibuat dengan menggunakan bahasa
yang mudah dipahami agar isi yang terkandung didalamnya dapat tersampaikan dengan jelas.
BAB V

IMPLIKASI

A. Implikasi Terhadap Teori

Teori-teori yang terdapat pada buku ini sangatlah berdampak untuk penemuan,
pembuktian dan pengembangan. Penemuan berarti informasi yang diperoleh dari buku ini pada
setiap babnya adalah informasi yang betul-betul baru yang sebelumnya belum pernah
diketahui. Apabila kita mengaplikasikan teori tersebut secara benar dalam proses pembelajaran
di Sekolah dasar maka upaya penciptaan proses pembelajaran di sekolah dasar dapat bermutu
dan berkualitas. Sedangkan pembuktian berarti informasi yang diperoleh itu digunakan untuk
membuktikan adanya keragu-raguan terhadap informasi atau pengetahuan tertentu, dan
pengembangan berarti memperdalam dan memperluas pengetahuan yang ada. Teori-teori yang
terdapat juga dapat digunakan sebagai penguat informasi dalam pembuktian pembelajaran di
sekolah dasar. Maka, dapat disimpulkan bahwa buku ini dapat memberikan pengetahuan baru
kepada kita dan juga dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi.

B. Implikasi Terhadap Program Pembangunan di Indonesia

Hasil yang di dapatkan dari informasi yang dikumpulkan berdasarkan fakta-fakta akan
di telaah, dan dikembangkan maka informasi tersebut sebagai data informasi yang baru bagi
kita yang sangat penting yang akan menjadi bahan pertimbangan untuk memperkirakan
tindakan selanjutnya khususnya dalam pendidikan. Salah satu contohnya, dapat memberi
sumbangan yang sangat berharga pada perkembangan ilmu pendidikan, terutama pada
penerapan model-model pembelajaran dengan menguasai keterampilan-keterampilan
berbahasa untuk meningkatkan hasil proses pembelajaran dan hasil belajar di kelas dan sebagai
bahan masukan bagi sekolah untuk memperbaiki praktik-praktik pembelajaran guru agar
menjadi lebih efektif dan efisien sehingga kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa
meningkat. Meningkatkan hasil belajar dan solidaritas siswa untuk menemukan pengetahuan
dan mengembangkan wawasan, meningkatkan kemampuan menganalisis suatu masalah
melalui pembelajaran dengan model pembelajaran inovatif. Manfaat terbesar bagi kita yaitu
sebagai sarana belajar untuk mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan dengan terjun
langsung sehingga dapat melihat, merasakan, dan menghayati apakah praktik-praktik
pembelajaran yang dilakukan selama ini sudah efektif dan efisien.
C. Pembahasan dan Analisis

Hasil yang di dapatkan dari informasi yang dikumpulkan berdasarkan fakta-fakta akan
di telaah, sehingga kita dapat menyajikan berbagai gambar secara lengkap mengenai implikasi
teoritikal dari buku tersebut. Tujuannya untuk meyakinkan para pembaca terhadap kontribusi
ilmu pengetahuan maupun teori yang dipergunakan untuk menyelesaikan masalah yg ada
disekolah dasar.

Kita juga harus mampu memahami operasional serta mampu menyajikan refleksi
penulis tentang keterampilan-keterampilan berbahasa yang hendak digunakan di dalam
pembelajaran disekolah dasar. Contoh pada bagian ini dapat disajikan berupa penjelasan
mengenai keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca,
keterampilan menulis dan apresiasi sastra. kesemuanya itu merupakan upaya menciptakan
proses pembelajaran keterampilan berbahasa disekolah dasar yg bermutu dan dilakukan dengan
penguasaan subtansi dan kemampuan aplikasi yang berhubungan denan keterampilan
berbahasa. Tidak hanya itu , dengan memahami keterampilan-keterampilan tersebut dapat
memberikan para pembaca wawasan pengetahuan yang mendasari keterampilan menyajikan
sebuah bahasa, melatih keterampilan merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi
pembelajaran, serta mengembangkan sikap positif, rasa tanggung jawab, dan santun berbahasa.
Dengan demikian buku ini diharapkan dapat menambah wawasan pembaca dan pemerhai
pembelajaran dalam upaya meningkatkan keterampilan berbahasa dan apresiasi sastra di
sekolah dasar.
BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dapat disimpulan secara keseluruhan pembahasan pada buku ini sangat terstruktur
sehingga dapat membuat pola pikir pembaca menjadi terarah dan mudah untuk mengikuti
langkah-langkah ataupun ilmu yang akan disampaikan. Pokok pembahasan dari bab satu (i)
sampai dengan bab lima (v) merupakan suatu kesatuan dalam keterampilan berbahasa di
sekolah dasar, yang tentunya saling berkaitan dan dengan urutan yang sudah sesuai. Serta
dengan menguasai keterampilan-keterampilan berbahasa yang dibuku ini sangat berguna untuk
meningkatkan hasil proses pembelajaran dan hasil belajar di kelas dan sebagai bahan masukan
bagi sekolah untuk memperbaiki praktik-praktik pembelajaran guru agar menjadi lebih efektif
dan efisien sehingga kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa meningkat.

B. Saran

Kepada pembaca yg ingin membahas tentang keterampilan-keterampilan berbahasa di


sekolah dasar sebaiknya memiliki buku ini sebagai bahan tambahan bacaan yang bermanfaat
untuk menambah pengetahuan pembaca menjadi lebih dalam lagi tentang kebahasaaan.
DAFTAR PUSTKA

Taufina. 2016. Mozaik Keterampilan Berbahasa Di Sekolah Dasar. Badung : CV. Angkasa