Anda di halaman 1dari 3

HIPOKALSEMIA

Etiologi

Defisiensi vitamin-D. Keadaan yang dapat menyebabkan defisiensi vitamin D adalah :

 Asupan makanan yang tidak mengandung lemak


 Malabsorbsi yang terjadi pada gasrektomi sebagian, pankreatitis kronik, pemberian laksan
yang terlalu lama, bedah pintas usus dengan tujuan mengurangi obesitas
 Metabolisme vitamin D yang terganggu pada penyakit riketsia, pemberian obat kejang,
gangguan fungsi ginjal dan gangguan fungsi hati kronik.

Hipoparatiroidisme. Dapat terjadi pada saat pasca bedah kelenjer tiroid, secara tidak sengaja
kelenjar tparatiroid ikut terangkat. Dapat juga terjadi secara idiopatik sejak anak-anak.

Pseudohipoparatiroidisme. Bersifat diturunkan. Organ sasaran tidak memberi respons yang baik
terhadap hormon.

Proses keganasan. Karsinoma medular kelenjer tiroid, menyebabkan kalsitonin meningkat sehingga
eksresi kalsium urin meningkat. Hipoparatiroidisme akibat karsinoma payudara dan karsinoma prostat
dengan anak sabar yang bersifat osteoblastik.

Hiperfosfatemia. Terjadi pada pemberian fosfat berlebihan, penyakit ginjal kronik atau gagal ginjal
akut, pemberian sitotoksik pada limfoma atau leukimia.

Pengobatan

Kadar kalsiumion normal adalah 4-5,2 mg/dl atau 1-1,3 mmol/L. Gejala hipokalsemia belum timbul
bila kadar kalsium-ion lebih dari 3,2 mg/dl atau lebih dari 0,8 mmol/L atau kalsium-total sebesar lebih
dari 8-8,5 mg/dl. Pada keadaan asimptomatik, dianjurkan meningkatkan asupan kalsium dalam
makanan sebesar 1000 mg/hari. Gejala hipokalsemia baru timbul bila kadar kalsium-ion kurang dari
2,8 mg/dl atau kurang dari 0,7 mmol/L atau kadar kalsium total <7 mg/dl.

Gejala hipokalsemia berupa parestesi, tetani, hipotensi dan kejang. Dapat ditemukan tanda Chovstek
atau tanda trousseau, bradikardi dan interval QT yang memanjang. Pengobatan yang diberikan bila
timbul gejala adalah pemberian kalsium intravena sebesar 100-200 mg kalsium elemental atau 1 gram
– 2 gram kalsium glukonas dalam larutan dextrosa atau NaCl isotonis dengan dosis 0,5-1,5 mg
kalsium elemental/Kg BB dalam 1 jam. Kalsium infus kemudian dapat ditukar dengan kalsium oral
dan kalsitriol 0,25-0,5 ig/hari.

Hipomagnesemia dapat juga menimbulkan hipokalsemia. Bila ada hipomagnesemia dengan fungsi
ginjal normal dapat diberikan larutan 10% magnesium sulfat sebesar 2 gram selama 10 menit dan
kemudian diikuti dengan 1 gram dalam100 cc cairan per 1 jam. Pada keadaan hipokalsemi kronik
disertai hipoparatiroid, diberi kalsium oral seperti kalsium karbonat 250 mg kalsium elemental/650
mg tablet.

HIPERKALSEMIA

Hiperkalsemia sering menyertai penyakit-penyakit seperti :


Hiperparatiroidisme. Hiperparatiroidisme primer terjadi adenoma, karsinoma dan hiperplasia (akibat
hipokalsemia yang lama) kelenjer paratiroid.

Hiperparatiroidisme sekunder dapat disebabkan oleh malabsorbsi vitamin-D, penyakit ginjal kronik
berat.

Hiperparatiroidisme tersier di tandai dengan sekresi berlebihan yang sangat bermakna hormon
paratiroid dan hiperkalsemi disertai dengan hiperplasi paratiroid akibat respons berlebihan terhadap
hipokalsemi. Keadaan ini disebut juga sebagai hiperparatiroidisme refrakter. Tidak memberi respon
terhadap pemberian kalsium dan kalsitrol dan terjadi pada penyakit ginjal kronik tahap terminal.

Tumor ganas. Sering terjadi pada karsinoma paru, buah dada, ginjal, ovarium dan keganasan
hematologi. Faktor penyebab hiperkalsemia disebabkan oleh 1) faktor lokal pada tulang akibat
metastasis yang bersifat osteoklastik dan 2) faktor humoral. Faktor humoral disebabkan oleh substansi
yang beredar dalam darah dihasilkan oleh sel tumor dan bersifat osteoklastik. Substansi ini disebut
juga sebagai osteoclast-activating cytokines.

Intoksikasi vitamin-D. Batas antara normokalsemia dan hiperkalsemia akibat pemeberian vitamin-D
sempit, sehingga kadang-kadang tidak disadari sudah terjadi hiperkalsemia. Hiperkalsemia
dipermudah dengan pemberian vitamin-D bersama dengan diuretik tiazid.

Intosiksasi vitamin-A. Pemberian vitamin-A berlebihan dapat menyebabkan hiperkalsemi. Pada


percobaan binatang, pemberian vitamin-A berlebihan menyebabkan fraktur tulang dan peningkatan
jumlah sel osteoklast serta ditemukan klasifikasi metastatik.

Sarkoidosis. Dapat terjadi hiperkalsemia karena adanya peningkatan absorbsi kalsium melalui usus
dan pelepasan kalsium dari tulang. Pada sarkoidosis terjadi peningkatan produksi vitamin-D.

Hipertiroidisme. Terjadi akibat meningkatnya resorbsi tulang. Hormon tiroid dapat memperkuat
kerja hormon paratiroid atau secara langsung hormon tiroid dapat meresorbsi kalsium tulang.

Insufisiensi adrenal. Deplesi volume yang terjadi meningkatkan reabsorbsi kalsium pada tubulus
ginjal. Absorbsi kalsium usus juga meningkat akibat kurangnya hormon glukotiroid.

Sindrom Milk-Alkali. Pemberian antasid yang mengandung kalsium karbonat dengan disertai
pemberian susu yang berlebihan pada pengobatan tukak lambung dapat menyebabkan hiperkalsemia.

Pengobatan Hiperkalsemia

 Meningkatkan eksresi kalsium melalui ginjal.


Dilakukan dengan dengan pemberian larutan NaCl isotonis. Pemberian cairan ini akan
meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang umumnya rendah akibat pengeluaran urin
berlebihan disebabkan induksi oleh hiperkalsemia, muntah-muntah akibat hiperkalsemia.
 Menghambat Resorbsi tulang
- Kalsitonin- menghambat resorbsi tulang dengan cara menghambat maturasi osteoklast.
Diberikan intramuskular atau subkutan setiap 12 jam dengan dosis 4 IU/kgBB.
- Bifosfonat- menghambat aktivitas metabolik ostepklas dan juga bersifat sitotoksik
terhadap osteoklas.
- Galium nitrat-menghambat resorbsi tulang oleh osteoklas dengan menghambat pompa
proton ATP ase dependent pada membran osteoklas.
 Mengurangi absorbsi kalsium dari usus
Glukokortikoid (prednison, 20-40 mg/hari) mengurangi produksi kalsitrol oleh paru dan
kelenjar limfe yang di aktivasi produksinya oleh sel mononuklear. Klasium serum dapat turun
dalam 2 -5 hari.
 Kelasi kalsium ion
Kalsium ion dapat dikelasi dengan mempergunakan Na-EDTA atau fosfat secara intravena.
Penggunaan terbatas oleh karena efek toksik bahan kelas ini.

Anda mungkin juga menyukai