Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN JIWA

“RISIKO TINGGI BUNUH DIRI”

Disusun Oleh :

ZADAM MARITA
1314901038

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADDIYAH BENGKULU
TH. 2013/2014
LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO TINGGI BUNUH DIRI

I. KASUS ( MASALAH UTAMA )


RISIKO TINGGI BUNUH DIRI
A. Defenisi
1. Pengertian
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri
dan dapat mengakhiri kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan
keputusan terkahir dari individu untuk memecahkan masalah yang
dihadapi. ( Budi Anna Kelihat, 2001 ). Bunuh diri menurut Gail W.
Stuart dalam buku “Keperawatan Jiwa” dinyatakan sebagai suatu
aktivitas yang jika tidak dicegah, dimana aktivitas ini dapat
mengarah pada kematian ( 2007 ).
Perilaku destruktif diri yaitu setiap aktifitas yang jika tidak
dicegah dapat mengarah kepada kematian ( Gail Wiscara Stuart, dan
Sandra J. Sundeen, 2008 ).
Perilaku bunuh diri meliputu isyarat-isyarat, percobaan atau
ancaman verbal, yang akan mengakibatkan kematian, luka atau
mernyakiti diri sendiri.
Haroid I. Kaplan & Berjamin J. Sadock ( 2002 ) berpendapat
bahwa bunuh diri merupakan kematian yang diperbuat oleh sang
pelaku sendiri secara sengaja. Bunuh diri adalah segala perbuatan
seseorang yang dapat mengahiri hidupnya sendiri dalam waktu
singkat. Selama tahun 1950 sampai dengan 1988 rata – rata bunuh
diri pada remaja yaitu usia antara 15 dan 19 tahun ( Attempt suicide,
1991 ). Ditambahkan pula oleh Ann Isaacs ( 2004 ), bahwa bunuh
diri adalah pikiran untuk menghilangkan nyawa sendiri.
2. Tanda dan Gejala
Pengkajian orang yang bunuh diri juga mencakup apakah
orang tersebut tidak membuat rencana yang spesifik dan apakah
tersedia alat untuk melakukan rencana bunuh diri tersebut.
a. Petunjuk dan gejala
1) Keputusasaan
2) Celaan terhadap diri sendiri, perasaan gagal dan tidak
berguna
3) Alam perasaan depresi
4) Agitasi dan gelisah
5) Insomnia yang menetap
6) Penurunan BB
7) Berbicara lamban, keletihan, menarik diri dari lingkungan
sosial.
8) Petunjuk psikiatrik :

 Upaya bunuh diri sebelumnya


 Kelainan afektif
 Alkoholisme dan penyalahgunaan obat
 Kelaianan tindakan dan depresi mental pada remaja
 Dimensia dini/ status kekacauan mental pada lansia
 Riwayat psikososial:

- Baru berpisah, bercerai/ kehilangan


- Hidup sendiri
- Tidak bekerja, perbahan/ kehilangan pekerjaan
baru dialami
- Faktor-faktor kepribadian :

 Implisit, agresif, rasa bermusuhan


 Kegiatan kognitif dan negatif
 Keputusasaan
 Harga diri rendah
 Batasan/gangguan kepribadian antisosial
(Rastirainia, 2009)
3. Tingkatan
A. Ancaman bunuh diri
Peringatan verbal atau nonverbal bahwa orang tersebut
mempertimbangkan untuk bunuh diri. Orang tersebut
mungkin menunjukkan secara verbal bahwa ia tidak akan
berada di sekitar kita lebih lama lagi atau mungkin juga
mengkomunikasikan secara nonverbal melalui pemberian
hadiah, merevisi wasiatnya dan sebagainya. Pesan-pesan ini
harus dipertimbangkan dalam konteks peristiwa kehidupan
terakhir. Ancaman menunjukkan ambivalensi seseorang
tentang kematian. Kurangnya respon positif dapat ditafsirkan
sebagai dukungan untuk melakukan tindakan bunuh diri.
B. Upaya bunuh
Semua tindakan yang diarahkan pada diri yang dilakukan
oleh individu yang dapat mengarah kematian jika tidak
dicegah.
C. Bunuh diri mungkin terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan
atau diabaikan. Orang yang melakukan upaya bunuh diri dan
yang tidak benar-benar ingin mati mungkin akan mati jika
tanda-tanda tersebut tidak diketahui tepat pada waktunya.
4. Klasifikasi
Perilaku bunuh diri berkembang dalam rentang diantaranya :
a. Suicidal ideation, Pada tahap ini merupakan proses contemplasi
dari suicide, atau sebuah metoda yang digunakan tanpa
melakukan aksi/ tindakan, bahkan klien pada tahap ini tidak
akan mengungkapkan idenya apabila tidak ditekan. Walaupun
demikian, perawat perlu menyadari bahwa pasien pada tahap ini
memiliki pikiran tentang keinginan untuk mati
b. Suicidal intent, Pada tahap ini klien mulai berpikir dan sudah
melakukan perencanaan yang konkrit untuk melakukan bunuh
diri,
c. Suicidal threat, Pada tahap ini klien mengekspresikan adanya
keinginan dan hasrat yan dalam , bahkan ancaman untuk
mengakhiri hidupnya .
d. Suicidal gesture, Pada tahap ini klien menunjukkan perilaku
destruktif yang diarahkan pada diri sendiri yang bertujuan tidak
hanya mengancam kehidupannya tetapi sudah pada percobaan
untuk melakukan bunuh diri. Tindakan yang dilakukan pada
fase ini pada umumnya tidak mematikan, misalnya meminum
beberapa pil atau menyayat pembuluh darah pada lengannya.
Hal ini terjadi karena individu memahami ambivalen antara mati
dan hidup dan tidak berencana untuk mati. Individu ini masih
memiliki kemauan untuk hidup, ingin di selamatkan, dan
individu ini sedang mengalami konflik mental. Tahap ini sering
di namakan “Crying for help” sebab individu ini sedang
berjuang dengan stress yang tidak mampu di selesaikan.
e. Suicidal attempt, Pada tahap ini perilaku destruktif klien yang
mempunyai indikasi individu ingin mati dan tidak mau
diselamatkan misalnya minum obat yang mematikan . walaupun
demikian banyak individu masih mengalami ambivalen akan
kehidupannya.
f. Suicide, Tindakan yang bermaksud membunuh diri sendiri . hal
ini telah didahului oleh beberapa percobaan bunuh diri
sebelumnya. 30% orang yang berhasil melakukan bunuh diri
adalah orang yang pernah melakukan percobaan bunuh diri
sebelumnya. Suicide ini yakini merupakan hasil dari individu
yang tidak punya pilihan untuk mengatasi kesedihan yang
mendalam.
B. Rentang Respon
Menurut Beck ( 1994 ) dalam Keliat ( 1991 hal 3 ) mengemukakan
rentang harapan – putus harapan merupakan rentang adaptif – maladaptif.
Respon adaptif Respon maladaptive
 Harapan
 Yakin
 Percaya
 Inspirasi
 Tetap hati
 Putus harapan
 Tidak berdaya
 Putus asa
 Apatis
 Gagal dan kehilangan
 Ragu-ragu
 Sedih
 Depresi
 Bunuh diri
Respon adaptif merupakan respon yang dapat diterima oleh norma-
norma sosial dan kebudayaan yang secara umum berlaku, sedangkan
respon maladaptif merupakan respon yang dilakukan individu dalam
menyelesaikan masalah yang kurang dapat diterima oleh norma-norma
sosial dan budaya setempat. Respon maladaptif antara lain :
a. Ketidakberdayaan, keputusasaan, apatis.
Individu yang tidak berhasil memecahkan masalah akan
meninggalkan masalah, karena merasa tidak mampu mengembangkan
koping yang bermanfaat sudah tidak berguna lagi, tidak mampu
mengembangkan koping yang baru serta yakin tidak ada yang
membantu.
b. Kehilangan, ragu-ragu
Individu yang mempunyai cita-cita terlalu tinggi dan tidak
realistis akan merasa gagal dan kecewa jika cita-citanya tidak tercapai.
Misalnya : kehilangan pekerjaan dan kesehatan, perceraian, perpisahan
individu akan merasa gagal dan kecewa, rendah diri yang semua dapat
berakhir dengan bunuh diri.
c. Depresi
Dapat dicetuskan oleh rasa bersalah atau kehilangan yang
ditandai dengan kesedihan dan rendah diri. Biasanya bunuh diri terjadi
pada saat individu ke luar dari keadaan depresi berat.
d. Bunuh diri

Adalah tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri


untuk mengkahiri kehidupan. Bunuh diri merupakan koping terakhir
individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

C. Faktor Predisposisi
1. Faktor Genetic dan Teori Biologi
Factor genetic mempengaruhi terjadinya resiko bunuh diri pada
keturunannya. Disamping itu adanya penurunan serotonin dapat
menyebabkan depresi yang berkontribusi terjadinya resiko buuh diri.
2. Teori sosiologi
Emile Durkheim membagi suicide dalam 3 kategori yaitu
Egoistik ( orang yang tidak terintegrasi pada kelompok sosial) , atruistik
( Melakukan suicide untuk kebaikan masyarakat ) dan anomic ( suicide
karena kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain dan beradaptasi
dengan stressor ).
3. Teori psikologi
Sigmund Freud dan Karl Menninger meyakini bahwa bunuh diri
merupakan hasil dari marah yang diarahkan pada diri sendiri.
Sedangkan Menurut Stuart dan Sundeen ( 1997 ), faktor
predisposisi bunuh diri antara lain :
1. Sifat kepribadian
Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan besarnya
resiko bunuh diri adalah rasa bermusuhan, implisif dan depresi.
2. Lingkungan psikososial
Seseorang yang baru mengalami kehilangan,
perpisahan/perceraian, kehilangan yang dini dan berkurangnya
dukungan sosial merupakan faktor penting yang berhubungan dengan
bunuh diri.
3. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri
merupakan faktor resiko penting untuk prilaku destruktif.
4. Faktor biokimia
Data menunjukkan bahwa secara serotogenik, apatengik, dan
depominersik menjadi media proses yang dapat menimbulkan prilaku
destrukif diri.
D. Faktor Presipitasi

1. Faktor pencetus seseorang melakukan percobaan bunuh diri adalah :


2. Perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan hubungan
interpersonal/ gagal melakukan hubungan yang berarti.
3. Kegagalan beradaptasi sehingga tidak dapat menghadapi stres.
4. Perasaan marah/ bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman
pada diri sendiri.
5. Cara untuk mengakhiri keputusasaan.

Penyebab lain:

1. Adanya harapan untuk reuni dan fantasy.


2. Merupakan jalan untuk mengakhiri keputusasaan dan
ketidakberdayaan
3. Tangisan untuk minta bantuan
4. Sebuah tindakan untuk menyelamatkan muka dan mencari
kehidupan yang lebih baik
E. Mekanisme Koping
a.Mood/ Affek
Depresi yang persisten, merasa hopelessness, helplessness, isolation,
sedih, merasa jauh dari orang lain, afek datar, sering mendengar atau
melihat bunyi yang sedih dan unhappy, membenci diri sendiri, merasa
dihina, sering menampilkan sesuatu yang tidak adekuat di sekolah,
mengharapkan untuk dihukum.
b. Perilaku/ Behavior.
Perubahan pada penampilan fisik, kehilangan fungsi, tak berdaya
seperti tidak intrest, kurang mendengarkan, gangguan tidur, sensitif,
mengeluh sakit perut, kepala sakit, perilaku antisocial : menolak untuk
minum, menggunakan obat – obatan, berkelahi, lari dari rumah.
c. Sekolah dan hubungan interpersonal.
Menolak untuk ke sekolah, bolos dari sekolah, withdraw sosial teman
– temannya, kegiatan – kegiatan sekolah dan hanya interest pada hal –
hal yang menyenangkan, kekurangan system pendukung sosial yang
efektif.
d. Ketrampilan koping.
Kehilangan batas realita, menarik dan mengisolasikan diri, tidak
menggunakan support system, melihat diri sebagai orang yang secara
total tidak berdaya.
II. Data yang Perlu Dikaji
Pengkajian merupakan tahap awal dan utama dari proses
keperawatan, pengkajian mereflesksikan isi, proses dan informasi yang
berhubungan dengan kondisi bilogis, psikologis, sosial dan spiritual klien
yang terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan masalah
pasien ( Keliat, 2006 ).
Untuk menyaring data di perlukan format pengkajian yang
didalamnya berisi: identitas pasien, alasan masuk rumah sakit, faktor
predisposisi, pemeriksaan fisik, psikososial, status mental, kebutuhan
persiapan pulang, mekanisme koping, masalah psikososial, lingkungan
pengetahuan, maupun aspek medik.
1. Identitas Klien
Meliputi Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan,
pekerjaan, dan dari penanggung jawab.
2. Keluhan utama dan alasan masuk
Keluhan utama atau alasan masuk ditanyakan pada keluarga/ klien, apa
yang menyebabkan klien dan keluarga datang ke rumah sakit. Keluhan
biasanya berupa menyediri ( menghindar dari orang lain ) komunikasi
kurang atau tidak ada, berdiam diri dikamar, menolak interaksi dengan
orang lain, tidak melakukan kegiatan sehari – hari, dependen.
3. Faktor predisposisi
Kehilangan, perpisahan, penolakan orang tua ,harapan orang tua yang
tidak realistis ,kegagalan/ frustasi berulang, tekanan dari kelompok
sebaya; perubahan struktur sosial. Terjadi trauma yang tiba tiba misalnya
harus dioperasi, kecelakaan dicerai suami, putus sekolah, PHK, perasaan
malu karena sesuatu yang terjadi ( korban perkosaan, di tuduh kkn,
dipenjara tiba – tiba ) perlakuan orang lain yang tidak menghargai klien/
perasaan negatif terhadap diri sendiri yang berlangsung lama.
4. Faktor presipitasi
Faktor internal dan eksternal : trauma dan ketegangan peran ( transisi
peran : perkembangan, situasi, dan sehat sakit ).
5. Aspek fisik
Mengukur dan mengobservasi TTV, ukur TB dan BB, aktivitas sehari-
hari, pola tidur, pola istirahat, rekreasi dan kaji fungsi organ tubuh bila
ada keluhan.
6. Aspek psikososial
 Membuat genogram yang memuat paling sedikit tiga generasi.
 Konsep diri :
- Citra tubuh : Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang
berubah atau tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi
atau yang akan terjadi. Menolak penjelasan perubahan tubuh,
persepsi negatip tentang tubuh. Preokupasi dengan bagian tubuh
yang hilang, mengungkapkan keputusasaan, mengungkapkan
ketakutan.
- Identitas diri : Ketidak pastian memandang diri, sukar menetapkan
keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan .
- Peran diri : Tugas yang diemban dalam keluarga, Berubah atau
berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit , proses menua ,
putus sekolah, PHK.
- Ideal diri : Harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas dll.
Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya :
mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi.
- Harga diri : Hubungan klien dengan orang lain, penilaian dan
penghargaan orang lain terhadap dirinya.
 Hubungan sosial dengan orang lain yang terdekat dalam kehidupan,
kelompok yang diikuti dalam masyarakat
 Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah.
7. Status mental
Kontak mata klien kurang/ tidak dapat mepertahankan kontak mata,
kurang dapat memulai pembicaraan, klien suka menyendiri dan kurang
mampu berhubungan dengan orang lain, adanya perasaan keputusasaan
dan kurang berharga dalam hidup.
8. Kebutuhan persiapan pulang
 Kemampuan makan klien, klien mampu menyiapkan dan
membersihkan alat makan
 Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC
serta membersihkan dan merapikan pakaian
 Mandi klien dan cara berpakaian, observasi kebersihan tubuh klien
 Istirahat dan tidur klien, aktivitas didalam dan diluar rumah
 Pantau penggunaan obat dan tanyakan reaksi yang dirasakan setelah
minum obat.
9. Mekanisme koping
Apabila klien mendapat masalah, maka kliem takut atau tidak mau
menceritakannya pada orang orang lain ( lebih sering menggunakan
koping menarik diri ).
10. Masalah psikososial dan lingkungan
Dari data keluarga atau klien mengenai masalah yang dimiliki klien.
11. Pengetahuan
Dapat didapatkan melalui wawancara dengan klien kemudian tiap
bagian yang dimiliki klien disimpulkan dalam masalah.
12. Aspek medik
Terapi yang diterima klien bias berupa ECT, terapi lain seperti terapi
psikomotor, terapi tingkah laku, terapi keluarga, terapi spiritual, terapi
okupasi, dan terapi lingkungan, TAK, serta rehabilitasi ( Khaidir
Muhaj, 2009 ).

III. Diagnosa Keperawatan


Resiko Bunuh Diri
IV. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

Diagnosis Rencana Tindakan Keperawatan


Tujuan Kriteria Evaluasi Tindakan Keperawatan
Resiko Bunuh Diri Pasien tetap aman dan selamat Setelah.....x pertemuan, pasien SP 1
mampu : - Identifikasi benda-benda yang
- Mengidentifikasi benda- dapat membahayakan pasien
benda yang dapat - Amankan benda-benda yang
membahayakan pasien dapat membahayakan pasien
- Mengendalikan dorongan - Lakukan kontrak teratment
bunuh diri - Ajarkan acra mengendalikan
dorngan bunuh diri
- Latih cara mengendalikan
dorongan bunuh diri
Setelah ... x pertemuan, pasien SP 2
mampu : - Identifikasi aspek positif
- Mengidentifikasi aspek pasien
positif dan mampu - Dorong pasien untuk berpikir
menghargai diri sebagai positif terhadap diri
individu yang berharga. - Dorong pasien untuk
menghargai diri sebagai
individu yang berharga.
Setelah... x pertemuan, pasien SP 3
mampu : - Identifikasi pola koping yang
- Mengidentifikasi pola biasa diterapkan pasien
koping yang konstruktif - Nilai pola koping yang iasa
dan mampu dilakukan
menerapkannya. - Identifikasi pola koping yang
konstruktif
- Anjurkan pasien menerapkan
pola koping yang konstruktif
dalam kegiatan harian
Setalah... x pertemuan, pasien SP 4
mampu : - Buat rencana masa depan
- Membuat rencana masa yang realistis bersama pasien
depan yang realistis dan - Identifkasi cara mencapai
mampu melakukan rencana masa depan yang
kegiatan realistis
- Beri dorongan pasien
melakukan kegiatan dalam
meraih masa depan yang
realistis
Keluarga mampu merawat Setelah ... x pertemuan, keluarga SP 1
pasien dengan resiko bunh diri mampu : - Diskusikan masalah yang
- Merawat pasien dan dirasakan keluarga dalam
mampu menjelaskan merawat pasein
pengertian, tanda, gejala - Jelaskan pegertian, tanda,
serta jenis perilaku gejala resiko bunuh diri dan
bunuh diri jenis perilaku bunuh diri yang
dialami pasein beserta proses
terjadinya
- Jelaskan cara-cara merawat
pasien resiko bunh diri
Setalah...x peretmuan keluarga SP 2
mampu : - Latih keluarga mempraktekan
- Merawat pasien dan cara merawat pasien dengan
mampu melakukan resiko bunuh diri
secara langsung cara - Latih keluaraga melakukan
merawat pasien cara merawat langsung
kepada pasien RBD
Setelah dilakukan...x pertemuan SP 3
keluarga mampu : - Bantu keluarga membuat
- Membuat jadwal jadwal aktivitas di rumah
aktivitas di rumah dan termasuk mnum obat
mampu melakukan - Jelaskan follow up pasien
follow up setelah pulang
DAFTAR PUSTAKA

Bee_robby. 2011. Askep Isolasi sosial. http://www.scribd.com

Depkes. 2000. Standar Pedoman Perawatan jiwa.

Khaidir Muhaj. 2009. Askep menarik diri. http://khaidirmuhaj.blogspot.com.

Anna Budi Keliat, SKp. 2000. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sosial Menarik Diri,
Jakarta : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Keliat BA. 1999. Proses kesehatan jiwa. Edisi 1. EGC : Jakarta.

Stuart GW, Sundeen SJ. Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC. 1998

Townsend. 1998. Nursing Diagnosis in Psychiatric Nursing a Pocket Guide for Care Plan
Construction. Edisi 3. EGC : Jakarta.

Nurjanah, Intansari. 2001. Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa. Yogyakarta :


Momedia

Tarwoto dan Wartonah. 2000. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta.

Stuart, Sudden. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 3. EGC : Jakarta.

Stuart, GW and Laraia. 2005. Principles and practice of psychiatric nursing, 8ed. Elsevier
Mosby : Philadelphia.

Anda mungkin juga menyukai