Anda di halaman 1dari 15

BIOSEKURITI DALAM KEGIATAN PEMBENIHAN DAN

PENDEDERAN IKAN AIR LAUT

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Pengelolaan Kesehatan Ikan semester ganjil

Disusun oleh :
Nadhif Aditia Aryanta 230110170004
Joan Naufal Safari 230110170006
Riva Hafidah 230110170044
Naufal Muhammad Rizhmi 230110170088
Aldha Rachmawati 230110170101
Zulfahana Amatulloh 230110170163

Kelas :
Akuakultur / Kelompok 4

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
hidayah dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaiakan tugas mata kuliah
Pengelolaan Kesehatan Ikan. Shalawat serta salam kita limpahkan kepada Nabi
Muhammad SAW, kepada para sahabatnya, keluarganya dan kita semua sebagai
umatnya. Makalah yang beresi mengenai “Biosekuriti Pembenihan dan Pendederan
Ikan Air Laut” ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengelolaan
Kesehatan Ikan.
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk memberikan informasi
mengenai prinsip – prinsip biosekuriti, penerapan biosekuriti, biosekuriti dalam
pembenihan dan pendederan ikan air laut.
Makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak yang telah membantu
dalam penyelesaian makalah. Sehingga penulis ingin mengucapkan terima kasih
kepada pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca guna membangun
kami dalam penyusunan makalah kedepannya. Penulis harap makalah ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca khususnya bagi kita semua selaku mahasiswa di
bidang perikanan.

Jatinangor, 06 Agustus 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

BAB Halaman
KATA PENGANTAR ............................................................ ii
DAFTAR ISI ........................................................................... iii
I PENDAHULUAN ................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................. 1
1.3 Tujuan ................................................................................. 2
II KAJIAN PUSTAKA .............................................................. 3
2.1 Biosekuriti .......................................................................... 3
2.2 Prinsip Dasar Biosekuriti.................................................... 3
2.3 Biosekuriti Pembenihan dan Pendederan Ikan Laut ........... 4
2.4 Peranan dan Penerapan Biosekuriti Ikan Laut.................... 6
2.5 Tindakan Pengendalian Biosekuriti Ikan Laut ................... 8
III KESIMPULAN ....................................................................... 11
3.1 Kesimpulan .............................................................................. 11
3.2 Saran ......................................................................................... Error!
Bookmark not defined.
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................... 12

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sektor budidaya di Indonesia saat ini merupakan sector produksi yang
paling berkembang pesat. Namun, bisnis budidaya memiliki resiko kerugian yang
sangat besar, karena industri sektor ini sangat rentan diserang parasit, jamur,
bakteri, atau virus. Timbulnya suatu wabah penyakit bukan hanya disebabkan oleh
faktor tunggal saja, melainkan merupakan hasil interaksi yang sangat kompleks
antara ikan budidaya, lingkungan budidaya (internal dan eksternal), serta organisme
penyebab penyakit (patogen), dan kemampuan (skill) pelaksana/ petugas (SDM)
dalam pemantauan kesehatan ikan (Kabata 1985).
Salah satu cara untuk mencegah terjadinya berbagai penyakit, maka perlu
diterapkan biosekuriti yang merupakan suatu tindakan yang dapat mengurangi
resiko masuknya penyakit dan penyebarannya dari suatu tempat ke tempat lainnya
(Lotz 1997). Karena, biosekuriti dipandang sangat penting sebagai salah satu faktor
penentu keberlanjutan produksi. Penerapan biosekuriti juga karena adanya
kekhawatiran terhadap introduksi pathogen yang melalui impor organisme akuatik
yang bertindak sebagai pembawa infeksi virus atau penyakit.
Salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan dalam suatu usaha
pembenihan ikan adalah kemampuan dalam mengendalikan masuknya dan
berkembangnya organisme pathogen pada unit pembenihan tersebut. Hal ini hanya
dapat dipenuhi melalui penerapan biosecurity yang sistematis dan konsisten.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan biosekuriti ?
2. Apa saja prinsip dasar aplikasi biosekuriti ?
3. Bagaimana biosekuriti pada pembenihan dan pendederan ikan air laut?
4. Bagaimana peranan dan penerapan biosekuriti ?
5. Apa saja tindakan pengendalian biosekuriti ?

1
2

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengertian biosekuriti
2. Untuk mengetahui prinsip dasar aplikasi biosekuriti
3. Untuk mengetahui biosekuriti pada pembenihan dan pendederan ikan
air laut
4. Untuk mengetahui peranan dan penerapan biosekuriti
5. Untuk mengetahui tindakan yang harus dilakukan dalam pengendalian
biosekuriti.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Biosekuriti
Biosecurity merupakan suatu tindakan yang dapat mengurangi resiko
masuknya penyakit dan penyebarannya dari suatu tempat ke tempat lainnya (Lotz
1997). Salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan dalam suatu usaha
pembenihan ikan adalah kemampuan dalam mengendalikan masuknya dan
berkembangnya organisme pathogen pada unit pembenihan tersebut. Hal ini hanya
dapat dipenuhi melalui penerapan biosecurity yang sistematis dan konsisten.

2.2 Prinsip Dasar Biosekuriti


Pada penerapan biosekuriti dalam perikanan didasari oleh kegiatan isolasi
dan desinfeksi. Definisi dari isolasi pada ikan menurut KBBI (2019) ialah
pemisahan satu kelompok ikan dari kelompok ikan lain sehingga perkawinan
antarkelompok dapat dihindari. Sedangkan menurut BKIPM (2011) adalah untuk
mencegah penularan HPIK dan/atau HPI tertentu yang mungkin terbawa oleh ikan
yang masuk. Dapat diartikan isolasi pada ikan adalah memisahkan ikan yang sakit
(terinfeksi) agar ikan yang belum terjangkit tidak tertular.
Isolasi sangat krusial dilakukan pada kegiatan perikanan sebab bila tidak
dilakukan, ikan-ikan akan terjangkit penyakit yang terbawa oleh ikan yang
terinfeksi dan yang paling parah mengakibatkan kematian total yang dapat
merugikan pembudidaya. BKIPM (2011) menyatakan beberapa hal yang harus
diperhatikan pada kegiatan isolasi seperti berikut :
a. Ikan yang menunjukkan gejala klinis serangan penyakit harus dipisahkan
dari ikan yang sehat.
b. Lamanya isolasi selama-lamanya 15 (lima belas) hari dan dapat
diperpanjang apabila diperlukan, atau ditetapkan berdasarkan masa inkubasi
HPIK/HPI tertentu yang mungkin terbawa oleh ikan tersebut.
c. Selama masa isolasi, ikan-ikan tersebut harus selalu dilakukan pengamatan
oleh petugas yang ditunjuk.

3
4

d. Ikan yang sakit selama masa isolasi harus dipisahkan untuk dilakukan
perlakuan dan atau pengobatan.
e. Ikan yang mati selama masa isolasi atau pengasingan harus dimusnahkan
dengan cara dibakar atau dikubur.

Desinfeksi ialah pembasmian hama penyakit dari suatu barang/tempat


(KBBI 2019). BKIPM (2011) mendefinisikan desinfeksi sebagai upaya
penggunaan bahan kimia dan/atau bahan organik untuk proses suci hama
(sterilisasi) pada sarana dan prasarana instalasi karantina terhadap adanya
kontaminasi mikroorganisme. Desinfeksi penting dilakukan pada kegiatan
budidaya sebagai bentuk biosekuriti.
Desinfeksi dilakukan pada sarana dan prasarana dari budidaya dengan
teknik perendaman menggunakan bahan kimia sesuai mikroba target, penetralan
bahan desinfeksi, serta pembilasan menggunakan air bersih. Selang dan batu aerasi
serta peralatan jaring dapat direndam dalam wadah yang sedang desinfeksi dengan
peralatan yang dibutuhkan antara lain desinfektan, ember/wadah penampung
larutan desinfektan, sikat dan busa/kain lap (BKIPM 2011). Bahan kimia yang
digunakan pada desinfeksi (desinfektan) beragam, mulai dari kaporit, alkohol,
formalin, dan lainnya serta dapat juga disinari oleh sinar ultraviolet.

2.3 Biosekuriti Pembenihan dan Pendederan Ikan Laut


a. Ikan Kakap
Ikan kakap putih (Lates calcarifer, Bloch., 1790) merupakan salah satu
komoditas budidaya laut unggulan di Indonesia, karena memiliki pertumbuhan
yang relatif cepat dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan budidaya
(relatif mudah dibudidayakan), serta secara ekonomis cukup menjanjikan. Ikan
kakap putih di alam dapat hidup di muara sungai sampai laut lepas, pada rentang
kadar garam dari 0 - 40 ppt (Badrudin 2015).
Budidaya ikan kakap putih dalam karamba jaring apung (KJA) dan di
tambak secara ekonomis telah memberikan dampak positif bagi peningkatan
pendapatan pembudidaya ikan dan memberikan dampak positif secara ekologis,
5

yaitu mengurangi tekanan terhadap eksploitasi sumber daya ikan kakap putih di
alam (Badrudin 2015).
Dalam usaha pembenihan dan pendederan ikan kakap, terdapat dua jenis
sistem pemeliharannya, yaitu sistem pemeliharaan dalam tambak dan sistem
pemeliharaan dalam keramba jaring apung (KJA). Untuk sistem pembenihan dan
pendederan ikan kakap, tabu dilakukan di dalam sistem karamba jaring apung lepas
pantai dikarenakan ukuran ikan kakap pada stadia benih belum begitu efektif
apabila dipelihara dalam media pemeliharaan yang besar seperti karamba jaring
apung lepas pantai.
Dalam pembenihan dan pendederan ikan kakap dalam tambak perlu adanya
penerapan biosecurity, berupa pagar keliling untuk mencegah hewan berkeliaran di
daerah budidaya, desinfektan didepan pintu masuk dan jalur kolam untuk
menghindari penyebaran penyakit. Perlu sarana pengolah limbah (air dan lumpur
dari kolam) baik berupa kolam atau parit yang berfungsi untuk mengendapkan
bahan organik serta mengembalikan parameter kualitas air sebelum dibuang ke
perairan umum (Badrudin 2015).
Apabila benih ikan yang didapatkan masih berukuran kecil, sebaiknya
dibesarkan melalui proses penggelondongan sampai mencapai ukuran layak tebar
di KJA (>10 cm). Penggelondongan benih kakap putih dapat dilakukan dengan
cara:. Sistem Bak dan Sistem jaring tancap di tambak . Sarana dan prasana
penggelondongan Sistem Bak: Penggelondongan dapat dilakukan di bak berukuran
sekitar 1 – 2 m3 dengan konstruksi yang kokoh dan dilengkapi dengan saluran
pemasukan dan pengeluaran. Selain itu juga dilengkapi dengan aerator serta berada
dalam lokasi yang terjaga kebersihannya, bisa dalam ruangan maupun di luar
ruangan. Sistem karamba di tambak: Metoda pendederan (penggelondongan) benih
kakap putih dalam wadah waring yang dipasang dalam KJT di tambak dipilih
karena wadah pendederan lebih kecil dengan ukuran 2 x 1 meter (atau sesuai
kebutuhan).
6

Gambar 1. Pendederan ikan kakap putih sistem bak dan KJA di tambak

2.4 Peranan dan Penerapan Biosekuriti Ikan Laut


Peranan biosekuriti dalam kegiatan pembenihan dan pendederan ikan air
laut yaitu sebagai faktor penentu keberlanjutan produksi, pemenuhan tuntunan
konsumen global untuk mengkonsumsi produk yang berasal dari sistem produksi
yang memenuhi unsur-unsur safety dan sustainable, mencegah peningkatan tingkat
kematian dan rendahnya laju pertumbuhan akibat infeksi mikroorganisme patogen,
dan perlindungan terhadap introduksi patogen eksotis melalui kegiatan impor
organisme akuatik yang bertindak sebagai pembawa infeksi (carrier) penyakit
(Novriadi, 2017).
Gambar dibawah ini merupakan aspek-aspek yang penting dalam penerapan
biosekuriti dalam Aquaculture Biosecurity Hanbook (2016):
7

Gambar 2. Aspek-Aspek yang Penting dalam Penerapan Biosekuriti

Penerapan biosekuriti dalam kegiatan pembenihan dan pendederan ikan air laut
menurut Novriadi (2017), yaitu :
1. Identifikasi berbagai sumber penyakit
Mengidentifikasi berbagai sumber penyakit dan langsung mengambil
langkah untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan pathogen dalam siklus
produksi. Penyebaran penyakit umumnya terjadi ketika spora atau bibit penyakit
berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain melalui berbagai perantara, seperti
melalui teknisi pengelola, peralatan, kendaraan, hewan liar, transfer benih dan
sumber air yang digunakan. Kulit, pakaian hingga siklus fisiologis pencernaan
hewan liar disekitar lokasi menjadi rute dan siklus umum untuk penyebaran
penyakit. Sumber penyebaran infeksi lainnya juga dapat berasal dari pakan untuk
benih ikan.
8

Penggunaan rotifer atau artemia yang terinfeksi dapat menjadi salah satu
penyebab utama penyebaran penyakit infeksius serta kontaminasi aflatoksi pada
pakan dapat mempengaruhi tingkat kelulushidupan ikan.
Beberapa penelitian menyebutkan penyebaran Viral Nervous
Necrosis (VNN) dapat terjadi dari satu bak ke bak yang lain melalui penggunaan
alat siphon yang sama untuk beberapa unit produksi.
2. Tindak Pengendalian

2.5 Tindakan Pengendalian Biosekuriti Ikan Laut


Penyebaran penyakit dapat terjadi secara vertikal dari induk ke benih yang
dihasilkan ataupun secara horizontal selama proses produksi. Penggunaan media
air pemeliharaan yang bebas patogen dan bahan kontaminan. Proses filtrasi
bertingkat yang meliputi filtrasi mekanis, biologis serta dilengkapi dengan UV atau
ozon menjadi salah satu titik kontrol penting dalam komponen biosekuriti.

Berikut merupakan cara pengedalian:


a. Induk bebas diseleksi dari penyakit serta penggunaan induk dengan variasi
genetik yang beragam. Kedua faktor ini sangat mempengaruhi status
kesehatan dan sistem imun benih yang dihasilkan yang pada akhirnya
mempengaruhi tingkat laju pertumbuhan ikan.
b. Penggunaan benih yang memiliki sertifikat bebas penyakit dan berasal
dari hatchery (panti benih) yang tersertifikasi
c. Melakukan desinfeksi terhadap telur, peralatan kerja, bak inkubasi, bak
pemeliharaan, kultur fitoplankton, pakan dan personil yang terlibat dalam
proses produksi. Prosedur dan pembuatan bahan desinfeksi termasuk
gambaran umum tentang penempatan bak desinfeksi kaki untuk personel
terangkum dalam SNI 8230:2016
d. Tindakan karantina terhadap induk dan benih yang berasal dari sumber
eksternal. Satu hal yang perlu diperhatikan pada tindakan karantina ini
adalah penggunaan peralatan dan air pemeliharaan yang harus dibedakan
dengan unit produksi lainnya.
9

Pemisahan ini bertujuan untuk mengurangi berbagai dampak negatif yang


dapat ditimbulkan akibat tindakan pengendalian intensif selama fase
karantina, seperti penggunaan antibiotika, bahan kimia dan bahan aktif
biologis lainnya. Titik buangan air karantina juga menjadi perhatian penting
dan harus dipisahkan dengan titik air input atau yang digunakan untuk
produksi. Air buangan harus dikendalikan secara khusus dengan
menggunakan desinfektan atau melalui sistem biofiltrasi bertingkat. Hal ini
bertujuan untuk mencegah aktifnya mikroorganisme dalam bahan aktif
biologis yang digunakan selama proses karantina, seperti probiotik dan
vaksin, atau patogen yang berasal dari media transportasi, pada suhu dan
kondisi lingkungan tertentu. Tindakan sterilisasi air buangan juga bertujuan
untuk mencegah masuknya bahan kimia yang digunakan selama proses
karantina dan dan berpotensi dapat menimbulkan kontaminasi di
lingkungan produksi.
e. mengeliminasi hewan lain yang berpotensi sebagai vektor penyebaran
penyakit dalam sistem produksi serta konstruksi bangunan yang dapat
mencegah lolosnya ikan budidaya ke lingkungan sekitar produksi. Di
Amerika Serikat, industri lele Channel catfish mengalami kerugian
ekonomi yang cukup besar akibat penyebaran parasit oleh burung
pelican Pelecanus erythrorhynchus dengan menggunakan siput sebagai
inang perantara. Penyebaran wabah penyakit juga dapat terjadi akibat
berpindahnya ikan mati oleh burung atau hewan lainnya dari satu unit
produksi ke unit produksi yang lain.
f. Gunakan estimasi padat tebar yang tepat dengan merujuk kepada publikasi
ilmiah atau pengalaman selama produksi. Padat tebar yang
melebihi carrying capacity berpotensi menimbulkan stress dan
menyebabkan lemahnya sistem imun sehingga ikan menjadi lebih rentan
terinfeksi patogen.
g. Penerapan monitoring dan surveillance yang konsisten di setiap unit
produksi. Selain untuk identifikasi patogen, kegiatan ini sebaiknya juga
diarahkan untuk identifikasi organisme yang memiliki kemungkinan
10

sebagai carrier penyakit dengan tidak menunjukkan gejala klinis spesifik.


Kegiatan ini dimaksudkan untuk mencegah penyebaran horizontal akibat
degradasi kualitas lingkungan dan menurunnya sistem daya tahan tubuh
ikan.
h. Penerapan berbagai standar produksi yang dapat bersinergi positif dengan
penerapan biosekuriti, seperti Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dan
Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB). Bila merujuk pada ketentuan
internasional, para pelaku usaha dapat menyesuaikan penerapan dimaksud
sesuai dengan prinsip-prinsip Good Management practices (GMPs) hingga
kepada persyaratan yang lebih spesifik untuk sertifikasi produk, seperti
yang tercantum pada dokumen standar Aquaculture Stewardship Council
(ASC).
BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pemaparan diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Biosecurity merupakan suatu tindakan yang dapat mengurangi resiko
masuknya penyakit dan penyebarannya dari suatu tempat ke tempat lainnya.
2. Prinsip penerapan biosekuriti dalam perikanan didasari oleh kegiatan isolasi
dan desinfeksi.
3. Peranan biosekuriti dalam kegiatan pembenihan dan pendederan ikan air
laut salah satunya yaitu sebagai faktor penentu keberlanjutan produksi,
pemenuhan tuntunan konsumen global untuk mengkonsumsi produk yang
berasal dari sistem produksi yang memenuhi unsur-unsur safety dan
sustainable.
4. Dalam pembenihan dan pendederan ikan kakap dalam tambak perlu adanya
penerapan biosecurity, berupa pagar keliling untuk mencegah hewan
berkeliaran di daerah budidaya, desinfektan didepan pintu masuk dan jalur
kolam untuk menghindari penyebaran penyakit.

11
DAFTAR PUSTAKA

_________.2019. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Online).diakses pada 06


September 2019 pukul 08.12

Aquaculture Biosecurity Handbook. 2016. Ministry for Primary Industries.


newzealand.govt.nz

Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil


Perikanan.2011.Pedoman Teknis Tindakan Karantina Ikan Secara
Terintegrasi Berbasis In Line Inspection di Unit Pembenihan, Pembesaran,
dan Penampungan/Pengumpul Ikan.Kementerian Kelautan dan Perikanan
Republik Indonesia.Jakarta

Badrudin. 2015. Budidaya Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch., 1790) di
Karamba Jaring Apung dan Tambak. Jakarta: WWF Indonesia.

DJPB Batam. 2016. Penerapan Biosekuriti di Unit Pembenihan Ikan Laut (Untuk
Menunjang Produksi Benih Berkualitas dan Bebas Penyakit). Batam: DJPB
Batam.

Kabata. 1985. Parasites and Disease of Fish Cultured in The Tropics. Taylor and
rancis, London and Philadelphia.

Lotz, J. M. 1997. Viruses, Biosecurity and Spesific Pathogen Free Stocks in Shrimp
Aquaculture. World Journal of Microbiology and Biotechnology 13 : 405-
413.

Novriadi, Romi. 2017. Penerapan Biosekuriti di Industri Akuakultur. Trobos Aqua.


Edisi 59.

12