Anda di halaman 1dari 10

Etika Desainer Grafis

PENDAHULUAN

Grafis merupakan dunia yang dinamis mengikuti ruang dan waktu. Desain sendiri sangatlah
berpengaruh dan dipengaruhi oleh perubahan-perubahan. Dalam kehidupan sehari-hari tanpa
disadari manusia sudah berinteraksi dengan dunia desain sejak mereka ada dibumi ini, lahir, bermain
dan tumbuh menjadi dewasa hingga sekarang. Jika mencoba meng-flashback masa kecil, mayoritas
yang akan diingat adalah hal visual. Misalnya cover buku tulis waktu duduk di sekolah dasar, merk
sepatu, desain bungkus jajanan yang dulu sering dibeli, film kartun yang sering ditonton sewaktu hari
minggu, dan masih lagi. Ketika melihat bentuk visual itu, maka akan secara tidak langsung membuka
memori-memori tersebut dan seakan terbawa ke masa lampau dimana hal-hal dulu kembali teringat
dan terasa. Begitu kuatnya dunia desain sampai-sampai pikiran manusia bisa terbawa jauh tanpa
batas.

Melihat fenomena dunia desain yang cepat dan dinamis, seorang desainer harus bisa mengikuti
perkembangan tersebut. Tidak boleh ada rasa puas dengan apa yang dimiliki sekarang. Seorang
desainer harus terus menggali konsep visual, gaya, dan metode baru dalam mengembangkan desain.
Ketika hal tersebut bisa dilakukan dengan penuh kreatifitas dan inovasi secara berkelanjutan maka
tanpa disadari hal tersebut akan menjadi sebuah trend. Desain merupakan awal mula dimana
berkembangnya sebuah trend di tengah-tengah masyarakat. Desainer mendesain bukan semata-mata
hanya untuk keperluan atau kepentingan tertentu, tapi karena mereka memiliki sebuah tujuan. Desain
bisa mempengaruhi dan merubah hidup menjadi lebih baik, teratur, dan seimbang.

Etika sebuah profesi sangatlah penting. Kegiatan bisnis haruslah memiliki etika, guru memiliki etika,
pembawa berita memiliki etika, seorang manager memiliki etika. Namun apakah etika perlu dan
penting untuk seseorang yang pekerjaannya hanyalah merancang dan mendesain grafis atau visual?
Disinilah alasan mengapa saya memilih etika seorang perancang desain grafis untuk dibahas.

MENGENAL DESAIN GRAFIS


Desain Grafis itu berasal dari dua kata yaitu Desain dan Grafis. Kata desain berarti proses atau
perbuatan dengan mengatur segala sesuatu sebelum bertindak atau merancang. Sedangkan grafis
adalah titik atau garis yang berhubungan dengan cetak mencetak.

Jadi dengan demikian Desain grafis ialah suatu bentuk komunikasi visual yang menggunakan gambar
untuk menyampaikan informasi atau pesan seefektif mungkin. Dalam desain grafis, teks juga dianggap
gambar karena merupakan hasil abstraksi simbol-simbol yang bisa dibunyikan.

Desain grafis diterapkan dalam desain komunikasi dan fine art. Seperti jenis desain lainnya, desain
grafis dapat merujuk kepada proses pembuatan, metode merancang, produk yang dihasilkan
(rancangan), atau pun disiplin ilmu yang digunakan (desain).

Dalam bidang kompetensi Desain Grafis, hal yang harus dikuasai sebelum bekerja adalah:

1. Sikap (Attitude)

Bekerja sebagai penunjang di bidang komunikasi membutuhkan manusia yang sadar akan tugasnya
sebagai pengantar pesan/informasi. Pada tingkat awal, telah disadarkan akan pentingnya aspek
informatif. Pada jenjang yang lebih tinggi dibutuhkan wawasan mengenai teori komunikasi untuk
melakukan tugas yang lebih rumit dalam mengolah sebuah visual. Hal tersebut menyangkut
pertimbangan tentang:
- Pesan/message (apa maksud informasi)

- Khalayak/audience (siapa masyarakat/target yang dituju)

- Sasaran/objective (apa yang diharapkan setelah mendapat informasi).

Kerumitan ketiga aspek ini akan berkembang sejalan dengan makin kompleksnya masalah komunikasi
yang dihadapi.

2. Pengetahuan, Ketrampilan, dan Kepekaan (Skill, Knowledge, and Sensibility)

Dalam bidang desain grafis beberapa pengetahuan dasar umum dan keterampilan khusus perlu
diperoleh sebelum terjun ke lapangan kerja. Berikut pengetahuan yang wajib dimiliki oleh seorang
desainer grafis:

- Pengetahuan, keterampilan dan kepekaan oleh unsur rupa/desain (garis, bidang, bentuk, tekstur,
kontras, ruang, irama, warna, dan lain-lain) serta prinsip desain (harmoni, keseimbangan, irama,
kontras, kedalaman, dan lain-lain).

- Pengetahuan warna (lingkaran warna, intensitas, analog, saturasi, kromatik, dan lain-lain) dan
kepekaan warna baik aditif (cahaya langsung) maupun subtraktif (pantulan/pigmen), pengetahuan
warna monitor (RGB) dan warna untuk percetakan (CMYK, Spot Colour).

- Memiliki pengetahun dan keterampilan dalam oleh huruf/tipografi: family font, ukuran huruf, bobot
huruf, istilah dalam tipografi, keterampilan mengolah huruf secara manual (dengan tangan) maupun
secara digital.

- Memiliki ketrampilan menggambar dan kepekaan pada unsur gambar (garis, bidang, warna, dan
seterusnya).

- Memiliki pengetahuan dasar fotografi.

3. Kreatifitas (Creativity)

Kemampuan kreatif merupakan kompetensi kunci dalam profesi ini. Bidang desain grafis menuntut
hasil yang bukan hanya benar dan sesuai misi komunikasi, tetapi juga karya yang menampilkan
keunikan dan kesegaran gagasan. Hal ini jadi penting karena pada dasarnya manusia selalu menuntut
hal baru untuk menghindari kebosanan, dalam era banjir informasi seperti yang kita alami saat ini (tiap
orang menerima sedikitnya tujuh ribu informasi per hari) pesan yang tak unik/menarik akan hilang
ditelan kegaduhan komunikasi. Dalam lingkup demikian kreativitas seorang ahli bidang ini akan
dihargai.

ETIKA DESAINER GRAFIS

Berkaitan dengan waktu, desain grafis sangat dipengaruhi oleh dunia bisnis, teknologi, teori/konsep
baru, media baru dan gaya hidup dengan segala perkembangan dan tuntutannya. Lingkup dunia
desain grafis semakin luas dan kompleks dalam kurun waktu 15 tahun belakangan ini, terutama sejak
adanya krisis global 2008. Untuk itu, untuk mencapai optimasi hasil desain grafis yang berkualitas,
dibutuhkan strategi dan taktik baru. Etika desain merupakan salah satu konsep untuk pencapaian
hasil yang berkualitas tersebut.

Kode etik merupakan pernyataan formal dari nilai-nilai etis dan sosial dalam sebuah organisasi
(komersial). Kode etik biasanya berisi prinsip umum mengenai keyakinan organisasi pada hal-hal
seperti: kualitas, kepegawaian, lingkungan, dll. Selain itu juga mencakup masalah prosedur yang akan
digunakan dalam situasi tertentu, misalnya: konflik kepentingan, dll. Efektivitas kode etik biasanya
bergantung pada dukungan manajemen dengan pemberian sanksi maupun penghargaan.

Desain adalah suatu karya cipta atau perancangan manusia yang melakukan usaha pemecahan
masalah untuk menghasilkan karya dalam memenuhi keperluan, kebutuhan dan keinginan
sekelompok masyarakat.

Etika desain yang dibahas disini terbatas pada Desain Komunikasi Visual atau Desain Grafis, suatu
pendekatan dan pertimbangan kreatif yang esensial dan ideal dalam mencapai optimasi desain yang
integral.

Seorang desainer haruslah memiliki respect diri. Seorang desainer tidak boleh menganggap pekerjaan
diri sendiri (desainer) lebih rendah dari pekerjaan lain dikarenakan desain itu diperlukan dalam
berbagai jenis pekerjaan dan dalam kehidupan sehari-hari.

KONSEP ETIKA DESAINER GRAFIS

1. Benar

Tidak melakukan plagiat dan mentaati undang-undang hak cipta.

2. Baik

Berdasarkan teori Aksiologi yang menyatakan bahwa pertimbangan desain yang baik adalah
keserasian dan keindahan. Segalanya berkaitan dengan estetis dan terlihat baik. Konsep ini bersifat
lebih subyektif dalam memenuhi fungsi DKV atau desain grafis (informatif) dikarenakan penekanannya
tetap pada hasil atau tujuan akhir. Apakah hasil akhirnya baik atau tujuan diinginkan tercapai? Desain
grafis cenderung melibatkan konsep komunikasi pemasaran.

3. Dapat diterima/komunikatif

Bahwa hasil karya dapat diterima target sasaran sesuai dengan aspek geografis, demografis dan
khususnya psikografis sasaran, seperti kelas sosial, gaya hidup, kebiasaan, personalitas, sikap,
motivasi. Semua erat dengan kebudayaan dan norma. Termasuk penggunaan pendekatan komunikasi:
emosional, rasional dan moral.

4. Mampu mendukung peningkatan nilai-nilai (values)

Hubungan manusia dengan manusia.


Kemudahan (sign dan segala media informasi lainnya)

Kenyamanan (kampanye, kemasan)

Keamanan (sign, kampanye)

Kesejahteraan (kampanye)

Keindahan (majalah, buku, poster)

Mendukung promosi (periklanan)

Kesenangan/hiburan (berbagai media)

Hubungan manusia dengan lingkungan.

Keseimbangan eco-system/environment melalui kampanye dan program desain grafis

Hubungan manusia dengan pencipta.

Nilai religi (berbagai media)

5. Nilai tambah (value-added)

Sebagai tuntutan abad ke-21, beredar pernyataan bahwa “Good Design not Enough“. Desain yang baik
perlu nilai tambah. Desainer harus dapat menghasilkan suatu desain yang paling baru diantara desain
yang terbaru dan yang paling baik diantara desain yang baik.
ILMU YANG PERLU DIPELAJARI

Desain Grafis merupakan bidang ilmu yang meliputi banyak aspek mulai dari seni, komunikasi,
teknologi hingga sosial budaya. Dalam aspek seni rupa, kita harus mempelajari dasar-dasar seni rupa
seperti komposisi, warna, layout, tipografi dan ilustrasi serta aplikasinya dengan teknologi seperti
teknik reproduksi grafika, fotografi dan komputer. Karena desain grafis adalah seni rupa terapan, maka
ketika terjun dalam dunia bisnis sebaiknya seorang desainer grafis juga mempelajari ilmu komunikasi,
manajemen dan marketing

Dalam berbagai permasalahan memerlukan solusi kreatif dan hal ini dapat menghasilkan karya yang
kreatif. Dalam prosesnya, seorang desainer grafis memerlukan waktu, ruang, keahlian, atau sumber
daya lainnya untk menghasilkan suatu hasil. Proses desain pada umumnya memperhitungkan aspek
fungsi, estetik dan berbagai macam aspek lainnya yang biasanya datanya didapatkan dari riset,
pemikiran, brainstorming, maupun dari desain yang sudah ada sebelumnya.
KESIMPULAN

Kode etik merupakan pernyataan formal dari nilai-nilai etis dan sosial dalam sebuah organisasi
(komersial). Kode etik biasanya berisi prinsip umum mengenai keyakinan organisasi pada hal-hal
seperti: kualitas, kepegawaian, lingkungan, dll. Selain itu juga mencakup masalah prosedur yang akan
digunakan dalam situasi tertentu, misalnya: konflik kepentingan, dll. Efektivitas kode etik biasanya
bergantung pada dukungan manajemen dengan pemberian sanksi maupun penghargaan.

Bagi desainer grafis, kode etik bertujuan mencapai 'fair play' yang artinya bahwa semua yang
berhubungan dengan industri maupun profesi tersebut, seperti: klien, desainer, serta pihak-pihak
lainnya memiliki hubungan yang seimbang dalam hak dan kewajiban sesuai dengan aturan yang
disepakati/ berlaku. Kode etik disusun guna mencegah terjadinya praktek bisnis curang/ tidak adil
serta kerugian-kerugian yang akan diakibatkannya.

Selain itu, kode etik disusun guna memperjelas hal-hal penting dalam hubungan kerja antara klien,
desainer maupun pihak ketiga lainnya, sehingga harapan masing-masing pihak, serta standar
profesional dalam industri/ profesi ini dapat tercapai. Kode etik juga diharapkan dapat membantu
memperjelas pengetahuan klien mengenai apa, mengapa, bagaimana desain grafis itu.

Kaidah Estetika Dan Etika Seni Grafis


1 Kaidah Estetika Dan Etika Seni Grafis

A. Estetika Dalam Grafis Kata estetika berasal dari kata Yunani aesthesis yang berarti perasaan, selera
perasaan atau taste. Dalam prosesnya Munro mengatakan bahwa estetika adalah cara merespon
terhadap stimuli, terutama lewat persepsi indera, tetapi juga dikaitkan dengan proses kejiwaan,
seperti asosiasi, pemahaman,imajinasi, dan emosi. Ilmu estetika adalah suatu ilmu yang mempelajari
segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan, mempelajari semua aspek dari apa yang kita sebut
keindahan. 1. Beberapa pengertian estetika Estetika adalah hal yang mempelajari kualitas keindahan
dari obyek, maupun daya impuls dan pengalaman estetik pencipta dan pengamatannya. Estetika
dalam kontek penciptaan menurut John Hosper merupakan bagian dari filsafat yang berkaitan dengan
proses penciptaan karya yang indah DEFINISI: ESTETIKA: Ilmu yang mempelajari kualitas estetik suatu
benda atau karya dan daya impuls serta pengalamanan estetik pencipta maupun penghayat terhadap
benda atau karya.

2. Mengapa Mengenal Estetika?? Pertama, karena karya-karya seni dan desain yang alami maupun
yang buatan begitu berharga sehingga dipelajari ciri-ciri khasnya demi karya seni dan desain itu sendiri
Kedua, ia mesti berpendapat bahwa pengalaman estetika (pengalaman mengenai karya seni dan
desain) itu begitu berharga baik untuk kelompoknya maupun masingmasing anggotanya sehingga
karya seni dan desain itu mesti dipelajari Ketiga, mungkin dikira bahwa pengalaman ini begitu bernilai
pada dirinya sendiri sehingga membutuhkan pengujian dan penelitian mengenai kualitaskualitas karya
seni dan desain itu
2 Estetika merupakan pengetahuan yang mempelajari dan memahami melalui pengamatan hal ikhwal
keindahan baik pada obyek maupun subyek atau pencipta dan pengamatan melalui proses kreatis dan
fisolofis.

3. Estetika dalam Industri Grafis Komunikasi Penggabungan estetika dengan teknologi dalam industri
grafis komunikasi merupakan suatu yang kompleks dan mengarah pada perkembangan penggayaan
tertentu berdasarkan kebutuhan praktis Ikatan Kerjasama Desainer Grafis pada Perusahaan
Pemasaran bagian pemasaran adalah mengumpulkan data tentang selera pasar yang layak jual
Keuangan menentukan anggaran produksi Produksi merencanakan efektifitas dan efisiensi produk
Teknisi memacu produksi dan merekayasa teknologi agar dapat memproduksi lebih cepat dengan
biaya lebih ringan

B. Nirmana Dalam Grafis Nirmana dalam desain merupakan strategi atau langkah-langkah yang harus
dilakukan dalam penciptaan desan grafis agar menghasilkan karya yang mempunyai rasa estetik tinggi.
Nirmana merupakan ilmu dasar kedesainan yang mempelajari dasar-dasar desain mengenai warna,
bidang, bentuk, ruang, dengan berbagain pendekatan kreatif eksperimentatif meliputi komposisi,
irama, harmoni dan sebagainya. Meski nirmana dipahami sebagai sebuah bentuk yang tidak
berbentuk. Dalam konteks desain komunikasi visual, nirmana memegang peranan penting perihal
bagaimana menata dan menyusun elemen dasar desain komunikasi visual. Peranan penting lainnya,
di dalam nirmana mensyaratkan tatasusun dan tatakelola unsur desain komunikasi visual dalam
sebuah perencanaan komposisi yang serasi dan seimbang di dalam setiap bagiannya.

3 Definisi nirmana adalah pengorganisasian atau penyusunan elemen-elemen visual seperti titik, garis,
warna, ruang dan tekstur menjadi satu kesatuan yang harmonis. nirmana dapat diartikan sebagai hasil
angan-angan dalam bentuk dwimatra, trimatra yang mempunyai nilai keindahan. nirmana disebut
juga ilmu tatarupa. Arti nirmana : Dibentuk dari dua kata yaitu nir berarti tidak, mana berarti makna,
jika digabungkan berarti tidak bermakna atau tidak mempunyai makna. Jika di artikan lebih dalam
nirmana berarti lambang-lambang bentuk tidak bermakna, dilihat sebagai kesatuan pola, warna,
komposisi, irama, nada dalam desain. Bentuk yang dipelajari biasanya diawali dari bentuk dasar
seperti kotak, segitiga, bulat yang sebelumnya tidak bermakna diracik sedemikian rupa menjadi
mempunyai makna tertentu. Jika kita telaah lebih jauh, nirmana mirip dengan Tipografi (ilmu huruf)
yaitu tentang mengorganisasikan sesuatu untuk mencapai kualitas artistik pada sebuah karya seni
atau desain. nirmana berbicara tentang harmoni, keselarasan soal rasa, dan impresi pada sebuah
bentuk. nirmana tidak hanya mencakup 2 dan 3 dimensi saja melainkan menjelajah sebuah ruang yang
disebut dengan ruang maya. Ruang maya adalah ruang semu dimana kita bisa berhayal tentang
sesuatu yang mebingungkan kita sendiri, dalam artian hayalan tentang sebuah kegilaan bentuk yang
sulit kita torehkan dalam media 2 atau 3 dimensi. 1. Prinsip-Prinsip Dalam Nirmana Berikut adalah
prinsip-prinsip yang harus kita penuhi dalam membuat sebuah Nirmana : a. Kesatuan Kesatuan
merupakan suatu cara untuk menggabungkan dan menyatukan unsur-unsur visual yang ditata sesuai
dengan konsep ide pencipta dalam desain menjadi bentuk media grafis. Antara unsur-unsur tersendiri
yang kesemuanya akan membentuk wujud sarana informasi visual yang menjadi kesan satu kesatuan.
b. Keteraturan Keteraturan unsur-unsur visual yang ditata sehingga menjadi tertata dalam satu bentuk
media grafis.

4 Teraturnya tatanan unsur visual akan membuahkan kesan pkitangan yang bulat dan optimal. c.
Keragaman Unsur-unsur yang ditata agar tampak lebih bermakna, tidak hambar, dan tidak
membosankan. Secara keseluruhan, obyek yang ditampilkan saling dukung dan saling ngait yang
Menguntungkan. d. Komunikatif Segi komunikatif pada grafis komunikasiharus sangat diperhatikan.
Bila karya kurang komunikatif, berarti karya tersebut tidak berhasil, atau sesuatu yang diinformasikan
kepada kalayak / masyarakat (audience) tidak akan sampai. Agar grafis komunikasi bisa sampai ke
kalayak, maka harus memperhatikan segmen yang dibidik sebagai sasaran. Contoh Nirmana Dalam
Grafis Nirmana berarti kosong atau tidak ada apa-apa dan bisa juga berarti abstrak atau tidak
bermakna. Kalimat tersebut merupakan sebuah ungkapan, bahwa pada awalnya, sebelum seseorang
bertindak menciptakan sesuatu, masih belum ada apa-apa atau belum ada makna dari segala sesuatu.

5 Hal tersebut kemudian di jadikan titik awal atau merupakan pelajaran yang harus dikuasai oleh
seseorang yang ingin belajar tentang desain sebelum mulai berkarya. nirmana mengajarkan tentang
unsur atau elemen yang ada pada suatu lukisan atau gambar serta estetika seni dalam mengorganisasi
unsur atau elemen agar menjadi sebuah karya rupa yang bukan saja bagus, tetapi juga bermakna.
Dengan mempelajari nirmana, seseorang diharapkan akan memiliki pengertian, dapat mengasah
ketrampilan, dan mempertajam kepekaan terhadap segala sesuatu yang menyangkut dunia desain.
Oleh karena itu, nirmana wajib dipelajari dengan melakukan banyak latihan secara continyu untuk
dapat menghayati seni rupa dan seni desain dengan baik. Bahkan mungkin di saat mempelajarinya
akan terambah pula pula cabang seni yang lain. Di dalam nirmana, seseorang akan mempelajari segala
sesuatu yang berhubungan dengan seni rupa dan desain melalui tahap-tahap yang sangat mendasar.
Desain dikembangkan dari seni rupa. Sehingga yang dipelajari pada awalnya akan menyerupai. Dalam
ilmu desain grafis, selain prinsip-prinsip diatas ada beberapa prinsip utama komunikasi visual dari
sebuah karya desain. Ruang Kosong (White Space) Ruang kosong dimaksudkan agar karya tidak terlalu
padat dalam penempatannya pada sebuah bidang dan menjadikan sebuah obyek menjadi dominan.

6 Kejelasan (Clarity) Kejelasan atau clarity mempengaruhi penafsiran penonton akan sebuah karya.
Bagaimana sebuah karya tersebut dapat mudah dimengerti dan tidak menimbulkan ambigu/ makna
ganda. Kesederhanaan (Simplicity) Kesederhanaan menuntut penciptaan karya yang tidak lebih dan
tidak kurang. Kesederhanaan seing juga diartikan tepat dan tidak berlebihan. Pencapaian
kesederhanaan mendorong penikmat untuk menatap lama dan tidak merasa jenuh. Emphasis (Point
of Interest) Emphasis atau disebut juga pusat perhatian, merupakan pengembangan dominasi yang
bertujuan untuk menonjolkan salah satu unsur sebagai pusat perhatian sehingga mencapai nilai
artistic.