Anda di halaman 1dari 20

Komunikasi Tumbuh Kembang Remaja

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Bu Nian Afrian Nuari, S.Kep.Ns.,M.Kep

Di Susun Oleh :
Stela Sela Silvia
NIM : 201401075

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


STIKES KARYA HUSADA PARE KEDIRI
JL. Soekarno Hatta No. 7, Kotak Pos 153, Telp. (0354) 395203, Fax. (0354) 393888
Pare, Kediri
Tahun 2014/2015

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan ke hadhirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
keluasan waktu dan kesehatan kepada penulis untuk dapat menyelesaikan tugas makalah mata
kuliah “Fundamental of Nursing II”. Jenis tugas yang diberikan adalah pemaparan pokok
bahasan “Komunikasi Tumbuh Kembang Remaja”.
Melalui penugasan ini diharapkan para mahasiswa dapat memahami tentang
Komunikasi Tumbuh Kembang Remaja yang pada gilirannya dapat diimplementasikan
dalam kegiatan pembelajaran.
Saya menyadari, sebagai mahasiswa yang pengetahuannya belum seberapa dan masih
perlu banyak belajar dalam penulisan makalah, makalah ini masih banyak memiliki
kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan adanya kritik
dan saran yang positif agar makalah ini menjadi lebih baik dan berguna di masa yang akan
datang.

Pare, 11 Maret 2015

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ........................................................................................................... i


Kata Pengantar........................................................................................................... ii
Daftar Isi .................................................................................................................... iii
BAB I : Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah.................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................... 1
1.3 Tujuan ............................................................................................................. 2
1.4 Manfaat .......................................................................................................... 2
BAB II : Kajian Pustaka
2.1 Pengertian Komunikasi .................................................................................. 3
2.2 Bentuk-Bentuk Komunikasi .......................................................................... 4
2.3 Pengertian Remaja ......................................................................................... 4
BAB III : Pembahasan
3.1 Komunikasi pada Remaja ............................................................................... 6
3.2 Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi pada Remaja .................................. 7
3.3 Prinsip Komunikasi pada Remaja ................................................................... 7
3.4 Teknik Komunikasi pada Remaja. .................................................................. 9
3.5 Cara Komunikasi yang Efektif pada Usia Remaja ......................................... 10
3.6 Hambatan dalam Komunikasi pada Remaja ................................................... 11
BAB IV : Penutup
4.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 15
4.2 Saran................................................................................................................ 15
Daftar Pustaka ........................................................................................................... 16

iii
iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia dalam hidupnya memerlukan interaksi dengan orang lain. Untuk berinteraksi
juga membutuhkan komunikasi yang baik. Bagi sebagian orang tua, inilah masa yang bisa
cukup sulit, terutama dalam hal membangun komunikasi dengan anak remaja. Karakteristik
pertumbuhan dan perkembangan remaja yang mencakup perubahan transisi biologis yaitu
perubahan fisik yang terjadi pada remaja. Menurut Hewitt (1981) tujuan penggunaan proses
komunikasi secara spesifik, yaitu mempelajari atau mengajarkan sesuatu, mempengaruhi
perilaku seseorang, mengungkapkan perasaan, menjelaskan perilaku sendiri atau perilaku
orang lain, hubungan dengan orang lain, menyelesaikaan sebuah masalah, mencapai sebuah
tujuan, menurunkan tegangan dan menyelesaikan konflik, menstimulasi minat pada diri
sendiri atau orang lain. Dengan hal tersebut maka sangatlah penting seorang perawat untuk
dapat melakukan komunikasi secara efektif.
Peran perawat dalam melakukan komunikasi pada remaja adalah hubungan yang
terapeutik antara perawat dan klien akan pengalaman belajar dan juga merupakan pengalaman
koreksi terhadap komunikasi klien. Disini perawat sebagai tim pelaksana dalam melakukan
penyusunan asuhan keperawatan membina hubungan interpersonal yang sepaham dan saling
bergantung dengan orang lain, peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan
kebutuhan serta mencapai tujuan realistis yang jelas dan peningkatan integritas diri. Dari latar
belakang diatas, dijelaskan bahwa komunikasi seorang perawat pada usia remaja adalah
hubungan yang terapeutik antara perawat dan klien akan pengalaman belajar dan juga
merupakan pengalaman koreksi terhadap komunikasi klien.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah yang dikaji
dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.2.1 Bagaimana komunikasi pada remaja?
1.2.2 Apa faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi pada remaja?
1.2.3 Apa prinsip komunikasi pada remaja?
1.2.4 Bagaimana teknik komunikasi pada remaja?

1
1.2.5 Bagaimana cara komunikasi yang efektif pada remaja?
1.2.6 Apa hambatan dalam komunikasi pada remaja?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah / topik makalah tersebut, maka adapun tujuan makalah
tersebut adalah untuk:
1.3.1 Mengetahui komunikasi pada remaja.
1.3.2 Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi pada remaja.
1.3.3 Mengetahui prinsip komunikasi pada remaja.
1.3.4 Mengetahui teknik komunikasi pada remaja.
1.3.5 Mengetahui cara komunikasi yang efektif pada remaja
1.3.6 Mengetahui hambatan dalam komunikasi pada remaja

1.4 Manfaat
Manfaat dari makalah ini adalah dapat memberi pengetahuan dan informasi tentang
Perkembangan Tumbuh Kembang Remaja

2
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Komunikasi


Komunikasi adalah seni penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari komunikator
atau penyampai berita, untuk mengubah serta membentuk perilaku komunikan atau penerima
berita kepola dan pemahaman yang dikehendaki bersama.
Ada beberapa pengertian komunikasi yang di kemukakan oleh beberapa para ahli, yaitu
sebagai berikut:
1. Menurut Edward Depari, komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan
dan pesan yang disampaikan melalui lambang-lambang tertentu, mengandung arti,
dilakukan oleh penyampai pesan ditujukan kepada penerima pesan.
2. Menurut James A.F. Stoner, komunikasi adalah proses dimana seorang berusaha
memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan.
3. Menurut John R. Schemerhom, komunikasi adalah proses antara pribadi dalam
mengirim dan menerima simbol-simbol yang berarti bagi kepentingan mereka.
4. Menurut Dr. Phill Astrid Susanto, komunikasi adalah proses pengoperan lambang-
lambang yang mengandung arti.
5. Menurut Human Relation of Work, Keith Devis, komunikasi adalah proses lewatnya
informasi dan pengertian seseorang ke orang lain.
6. Menurut Oxtord Dictionary (1956), komunikasi adalah pengiriman atau tukar
menukar informasi, ide atau sebagainya.
7. Menurut Drs. Onong Uchjana Effendy, MA, komunikasi mencangkup ekspresi
wajah, sikap dan gerak-gerik suara, kata-kata tertulis, percetakan, kereta api, telegraf,
telepon dan lainnya.
Secara umum komunikasi dapat disebutkan sebagai proses pengiriman dan penerimaan
kabar atau berita (informasi) antara dua orang atau lebih dengan cara efektif, sehingga pesan
yang dimaksud dapat dipahami. Dengan mengaju kepada beberapa definisi, komunikasi
adalah penyampaian informasi, gagasan atau pengetahuan kepada pihak lain. Dengan
mengacu beberapa definisi komunikasi yang dikemukakan oleh para ahlinya, secara ringkas
dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah penyampaian informasi, gagasan, pengetahuan
kepada orang lain. Walaupun definisi tersebut tidak mengungkapkan apakah alat-alat dan

3
perlengkapan yang digunakan, kita anggap saja bahwa yang dimaksudkan termasuk pula
penggunaan alat perlengkapannya (Barata, 2003:54).

2.2 Bentuk-Bentuk Komunikasi


Bentuk komunikasi dapat verbal, non-verbal atau abstrak. Komunikasi verbal dapat
melibatkan bahasa dan ekspresinya, vokalisasi dalam bentuk tertawa, merintih atau berteriak
atau implikasi dari hal-hal yang tidak dikatakan dalam apa-apa yang tidak dikatakan.
Komunikasi non-verbal sering disebut bahasa tubuh dan meliputi posisi tubuh, pergerakan,
ekspresi wajah, postur tubuh dan reaksi. Komunikasi abstrak dapat berbentuk permainan,
ekspresi, artistik, simbol, foto, dan pilihan pakaian. Karena komunikasi verbal memungkinkan
digunakannya kontrol kesadaran yang lebih besar maka komunikasi verbal menunjukkan
indikator perasaan sebenarnya yang kurang dapat diterima, terutama perasaan anak-anak
(Wong et al, 2008:138).
Banyak faktor yang mempengaruhi proses komunikasi. Agar sukses (sesuai dengan
yang diharapkan), komunikasi harus dengan situasi, waktu yang tepat, dan diungkapkan
dengan jelas. Hal ini menunjukkan bahwa perawat memahami dan menggunakan teknik-
teknik komunikasi yang efektif, termasuk teknik mendengarkan. Pesan verbal dan nonverbal
harus sama yaitu dua atau lebih pesan yang dikirimkan melalui tingkat yang berbeda tidak
boleh bertolak belakang. Isu penting dalam komunikasi adalah membiarkan saluran tetap
terbuka dan memeriksa persepsi dengan sering untuk mengkaji kualitas pemahaman (Wong et
al, 2008:138).

2.3 Pengertian Remaja


Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke dewasa.
Batasan usia remaja menurut WHO (2007) adalah 12 ampai 24 tahun, namun pada usia
remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong dalam dewasa dan bukan lagi remaja.
Sebaliknya jika usia sudah bukan lagi remaja tetapi masih tergantung pada orang tua (tidak
mandiri), maka tetap dimasukkan kedalam kelomppok remaja. Remaja merupakan tahapan
seseorang dimana ia berada dianatara fase anak dan dewasa yang ditandai dengan perubahan
fisik, perilaku, kognitif, biologis dan emosi. Untuk mendeskripsikan remaja dari waktu ke
waktu memang berubah sesuai perkembangan zaman (Efendi dan Makhfudli,2004:221).
Gunarsa dan Gunarsa (2001) menyatakan bahwa remaja adalah masa peralihandari masa

4
anak-anak menuju masa dewasa dengan usia 11 sampai 21 tahun, disertai dengan perubahan
fisik, kepribadian, kognitif, psikososial dalam rangka pembentukkan identitas diri.
Suatu analisis yang dikemukakan oleh Monks, Knoers, dan Haditono (1996) mengenal
semua aspek perkembangan dalam masa remaja yang secara global berlangsung antara usia
12-21 tahun yaitu usia 12-15 tahun: masa usia remaja awal, 15-18 tahun: masa remaja madya,
18-21 tahun: masa remaja akhir, akan mengemukakan banyak faktor yang masing-masing
perlu mendapat tinjauan sendiri (Satiadarma,2004:62).

5
BAB II

PEMBAHASAN

3.1 Komunikasi pada Remaja


Remaja (usia 12 tahun lebih) menggunakan komunikasi verbal yang canggih (misalnya
komunikasi menggunakan media elektronik seperti sms, bbm, twitter, e-mail, facebook)
meskipun perilaku mereka belum menunjukkan tingkat komunikasi, kognitif atau kematangan
lebih tinggi. Remaja bisa berespons terhadap pendekatan-pendekatan verbal dengan satu suku
kata. Sikap berdiam diri, marah atau tingkah laku lain perawat harus menghindari
kecenderungan untuk beresponsminimal dan perilaku sosial yang diharapkan dengan
menyelidik, konfrontasi, sikap terus bertanya, atau sikap-sikap yang menghakimi.
Mempermudah kontak awal dengan diskusi mengenal teman, hobi, sekolah dan
keluarga dapat memberikan waktu bagi remaja yang gelisah untuk menyesuaikan diri.
Keterbukaan dapat terjadilebih mudah jika remaja dan perawat terlihat dalam aktivitas
bersama (Engel,2008:7-8). Sangat bermanfaat untuk menanyakan kepada remaja apa yang
mereka ketahui tentang kontak kesehatan dan untuk menjelaskan rasional dari pengkajian
kesehatan. Remaja mungkin mempunyai perhatian terhadap privasi dari kerahasiaan, dan
kesempatan harus diberikan untuk melengkapi beberapa atau semua pengkajian tanpan
kehadiran orang tua. Perawat wanita perlu sensitif terhadap potensi rasa malu remaja putra
saat diperiksa perawat wanita dan berikan selimut penutup serta meminimalkan sentuhan.
Parameter kerahasiaan harus dijelaskan terutama harus dijelaskan bahwa informasi yang
disampaikan bersifat rahasia kecuali perlu dilakukan intervensi. Remaja cenderung
menfokuskan perhatian pada citra diri dan fungsi tubuh, dan bila sesui harus diberikan umpan
balik dari pengkajian. Diagram dan model dapat meningkatkan umpan balik. Walaupun
remaja tingkat pemahan dan kosa kata yang tinggi, mereka dapat berfungsi secara tidak
konsisten pada tingkat kognitif yang lebih tinggi, rinci, dan teknis. Remaja yang sadar diri
mungkin engganbertanya untuk klarifikasi penjelasan yang tidak dimengerti (Engel,2008:7-
8). Perkembangan komunikasi pada usia remaja ini ditunjukkan dengan kemampuan
berdiskusi atau berdebat dan sudah mulai berpikir secara konseptual, sudah mulai
menunjukkan perasaan malu, pada anak usia sering kali merenung kehidupan tentang masa
depan yang direfleksikan dalam komunikasi. Pada usia ini pola pikir sudah mulai

6
menunjukkan ke arah yang lebih positif, terjadi konseptualisasi mengingat masa ini adalah
masa peralihan anak menjadi dewasa.

3.2 Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi pada Remaja


1. Pendidikan
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka komunikasi berlangsung secara
efektif.
2. Pengetahuan
Semakin banyak pengetahuan yang didapat maka komunikasi berlangsung secara
efektif.
3. Sikap
Sikap mempengaruhi dalam berkomunikasi. Bila komunikan bersifat pasif / tertutup
maka komunikasi tidak berlangsung secara efektif.
4. Usia tumbuh kembang status kesehatan anak
Bila ingin berkomunikasi, maka harus disesuaikan dengan tingkat usia agar
komunikasi tersebut berlangsung secara efektif.
5. Saluran
Saluran sangat penting dalam berkomunikasi agar pesan dapat tersampaikan ke
komunikan dengan baik.
6. Lingkungan

3.3 Prinsip Komunikasi pada Remaja


1. Cara Membangun Hubungan Yang Harmonis Dengan Remaja
Hal yang sering orang tua lakukan dalam berkomunikasi. Dalam
berkomunikasi, orang tua ingin segera membantu menyelesaikan masalah remaja,
ada hal-hal yang orang tua yang sering lakukan, seperti :
a. Cenderung lebih banyak bicara dari pada mendengarkan,
b. Merasa tahu lebih banyak dari pada remaja,
c. Cenderung memberi arahan dan nasihat,
d. Tidak berusaha mendengarkan dulu apa yang sebenarnya terjadi dan yang dialami
remaja,
e. Tidak memberikan kesempatan agar remaja mengemukakan pendapat,

7
f. Tidak mencoba menerima dahulu kenyataan yang dialami remaja dan
memahaminya,
g. Merasa putus asa dan marah-marah karena tidak tahu lagi apa yang harus
dilakukan terhadap remaja.
2. Kunci pokok berkomunikasi dengan remaja
Adapun kunci pokok yang dilakukan orang tua terhadap anaknya yang
beranjak dewasa seperti :
a. Mendengar supaya remaja mau berbicara,
b. Menerima dahulu perasaan remaja,
c. Bicara supaya didengar.
Oleh sebab itu orang tua harus mau belajar dan berubah dalam cara berbicara
dan cara mendengar.
3. Mengenal Diri Remaja
a. Pahami Perasaan Remaja
Banyak terjadi masalah dalam berkomunikasi dengan remaja, yang disebabkan
karena orang tua kurang dapat memahami perasaan anaknya yang diajak bicara.Agar
komunikasi dapat lebih efektif orang tua perlu meningkatkan kemampuannya dan
mencoba memahami perasaan anak sebagai lawan bicara.
b. Bagaimana memahami perasaan remaja
Untuk memahami perasaan remaja, orang tua harus menerima dulu perasaan
dan ungkapan remaja terutama ketika ia sedang mengalami masalah, agar ia merasa
nyaman dan mau melanjutkan pembicaraan dengan orang tua. Orang tua akan lebih
mengerti apa yang sebenarnya dirasakan remaja.
4. Membuat Remaja Mau Berbicara Pada Orang Tua Saat
Menghadapi Masalah Dan Membantu Remaja Menyelesaikan Masalah.
a. Pesan kamu dan pesan saya
Pesan kamu adalah cara seperti ini bukanlah penyampaian akibat perilaku anak
terhadap orang tua tetapi berpusat pada kesalahan anak cenderung tidak
membedakan antara anak dan perilakunya sehingga membuat anak merasa
disalahkan, direndahkan dan di sudutkan.
Pesan saya lebih menekankan perasaan dan kepedulian orang tua sebagai
akibat perilaku anak sehingga anak belajar bahwa setiap perilaku mempunyai akibat
terhadap orang lain. Melalui pesan saya akan mendorong semangat anak,
mengembangkan keberaniannya, sehingga anak akan merasa nyaman.

8
b. Menentukan masalah siapa
Ketika menghadapi remaja sebagai lawan bicara yang bermasalah, kita perlu
mengetahui masalah siapa ini. Hal ini perlu dibiasakan karena :
1) Kita tidak mungkin menjadi seorang yang harus memecahkan semua masalah.
2) Kita harus mengajarkan kepada remaja rasa tanggung jawab dalam memecahkan
masalahnya sendiri.
3) Kita perlu membantu remaja untuk tidak ikut campur urusan orang lain.
4) Anak perlu belajar mandiri
Setelah mengetahui masalah siapa maka akibatnya siapa yang punya masalah
harus bertanggung jawab untuk menyelesaikannya.Bila masalah itu adalah masalah
remaja maka tekhnik yang digunakan adalah mendengar aktif.

3.4 Teknik Komunikasi pada Remaja


Komunikasi dengan remaja merupakan sesuatu yang penting dalam menjaga hubungan
dengan remaja, melalui komunikasi ini pula perawat dapat memudahkan mengambil berbagai
data yang terdapat pada diri remaja yang selanjutnya dapat diambil dalam menentukan
masalah keperawatan. Beberapa cara yang digunakan dalam berkomunikasi dengan remaja,
antara lain :
1. Melalui orang lain atau pihak ketiga
Cara berkomunikasi ini pertama dilakukan oleh remaja dalam menumbuhkan
kepercayaan diri remaja, dengan menghindari secara langsung berkomunikasi dengan
melibatkan orang tua secara langsung yang sedang berada disamping anak. Selain itu
dapat digunakan dengan cara memberikan komentar tentang sesuatu.
2. Bercerita
Melalui cara ini pesan yang akan disampaikan kepada anak remaja dapat mudah
diterima, mengingat anak sangat suka sekali dengan cerita, tetapi cerita yang
disampaikan hendaknya sesuai dengan pesan yang akan disampaikan, yang akan
diekspresikan melalui tulisan.
3. Memfasilitas
Memfasilitasi adalah bagian cara berkomunikasi, malalui ini ekspresi anak atau
respon anak remaja terhadap pesan dapat diterima, dalam memfasilitasi kita harus
mampu mengekspresikan perasaan dan tidak boleh dominan , tetapi anak harus
diberikan respons terhadap pesan yang disampaikan melalui mendengarkan dengan

9
penuh perhatian dan jangan mereflisikan ungkapan negatif yang menunjukan kesan
yang jelek pada anak remaja tersebut.
4. Meminta untuk menyebutkan keinginan
Ungkapan ini penting dalam berkomunikasi dengan anak dengan meminta anak
untuk menyebutkan keinginan dapat diketahui berbagai keluhan yang dirasakan anak
dan keinginan tersebut dapat menunjukan persaan dan pikiran anak pada saat itu.
5. Pilihan pro dan kontra
Penggunaan teknik komunikasi ini sangat penting dalam menentukkan atau
mengetahui perasaan dan pikiran anak, dengan mengajukan rasa situasi yang
menunjukkan pilihan yang positif dan negatif yang sesuai dengan pendapat anak remaja.
6. Penggunaan skala
Pengunaan skala atau peringkat ini digunakan dalam mengungkapkan perasaan
sakit pada anak seperti pengguaan perasaan nyeri, cemas, sedih dan lain-lain, dengan
menganjurkan anak untuk mengekspresikan perasaan sakitnya.
7. Menulis
Melalui cara ini remaja akan dapat mengekspresikan dirinya baik pada keadaan
sedih, marah atau lainnya dan biasanya banyak dilakukan pada remaja yang jengkel,
marah dan diam.

3.5 Cara Komunikasi yang Efektif pada Usia Remaja


Adapun cara komunikasi antara orang tua dan anak yang efektif pada usia remaja yaitu
meliputi: (Sofia Retnowati, 2013:3)
1. Membuka pintu, yaitu ungkapan orang tua yang memungkinkan anak untuk
membicarakan lebih banyak, mendorong anak untuk mendekat dan mencurahkan isi
hatinya. Dan yang penting menumbuhkan pada anak rasa diterima dan dihargai.
Beberapa pernyataan yang bersifat membuka antara lain: “Saya mengerti.. “ Ya..hm..
“Oh ya..” Coba ceritakan lebih banyak..”ibu koq tertarik ya..”Kelihatannya kamu
seneng ya..
2. Mendengar Aktif, kemampuan orangtua untuk menguraikan perasaan anak dengan
tepat, jadi orangtua mengerti perasaan anak, yang dikirim anak lewat bahasa verbal
maupun non verbalnya. Keuntungan dari mendengar aktif, anatara lain: mendorong
terjadinya katarasis; menolong anak tidak takut terhadap perasaan (positif-negatif);
mengembangkan hubungan yang sangat dekat dengan orang tua; memudahkan anak

10
memecahkan masalahnya; meningkatkan kemampuan anak untuk mendengar pendapat
orang tua; meningkatkan tanggungjawab anak.
3. Komunikasi dengan empatik, prinsip komunikasi empatik: “Berusaha mengerti lebih
dahulu, baru dimengerti” . Dalam mendengarkan empatik, kita sebagai orang tua
berusaha masuk ke dalam kerangka pikiran, perasaan anak remaja kita.
Kita sebagai orang tua, tidak hanya mendengar dengan telinga, tapi dengan mata dan
hati. Hati kita merasakan, memahami, menyelami dan berintuisi dengan permasalahan yang
sedang dialami oleh anak remaja kita. Mata kita mengamati pesan-pesan nonverbal yang
diekspresikan oleh anak kita. Kita menggunakan otak kanan sekaligus otak kiri.
Mendengar Empatik adalah mendengar untuk mengerti baik secara emosional sekaligus
intelektual, bukan dengan maksud untuk menjawab, mengendalikan atau memanipulasi orang
lain. Memang tidak mudah untuk dapat menjalin komunikasi yang positif dengan anak remaja
kita yang sedang mengalami berbagai gejolak dalam dirinya. Tetapi tidak berarti tidak bisa.
Pemahaman dan pengertian kita sebagai orang tua atas kesulitan-kesulitan yang sedang
dialami anak remaja kita, merupakan hal sangat penting. Anak remaja kita membutuhkan
pengertian dari orangtuanya bahwa ia sedang mengalami proses perubahan.Sikap ini akan
mendukung terjalinnya komunikasi yang positif dengan anak remaja.

3.6 Hambatan dalam Komunikasi pada Remaja


Komunikasi merupakan sesuatu hal yang sangat penting bagi manusia dalam melakukan
interaksi dengan sesama. Kita pada suatu waktu merasakan komunikasi yang kita lakukan
menjadi tidak efektif karena kesalahan dalam menafsirkan pesan yang kita diterima. Hal ini
terjadi karena setiap manusia mempunyai keterbatasan dalam menelaah komunikasi yang
disampaikan.
Kesalahan dalam menafsirkan pesan bisa disebabkan karena tiga hal yaitu:
1. Hambatan Fisik :
a. Sinyal nonverbal yang tidak konsisten.
Gerak-gerik kita ketika berkomunikasi tidak melihat kepada lawan bicara, tetap
dengan aktivitas kita pada saat ada yang berkomunikasi dengan kita, mampengaruhi
proses komunikasi yang berlangsung.
b. Gangguan Noises
Gangguan ini bisa berupa suara yang bising pada saat kita berkomunikasi, jarak
yang jauh, dan lain sebagainya.

11
c. Gangguan fisik (gagap, tuli, buta).
Adanya gangguan fisik seperti gagap, tunawicara, tunanetra, dan sebagainya
yang dialami oleh seorang Remaja. Terimalah mereka apa adanya. Mereka pasti
memiliki potensi unggul lain yang perlu digali. Sebagai perawat, kita harus siap
menerima kenyataan tersebut seraya mencari cara agar tidak terjadi hambatan
komunikasi dengan remaja tersebut, misalnya dengan cara belajar bahasa yang
mereka dapat pahami.
d. Teknik bertanya yang buruk.
Ternyata kita yang tidak memiliki kemampuan bertanya, tidak akan sanggup
menggali pemahaman orang lain, tidak sanggup mengetahui apa yang dirasakan
orang lain. Oleh karena itu, kembangkan selalu teknik bertanya kepada orang lain.
Bahwa setiap individu memiliki modalitas belajar yang berbeda-beda.
e. Teknik menjawab yang buruk.
Kesulitan seseorang memahami materi yang disampaikan karena komunikator
tidak mampu menjawab dengan baik.Pertanyaan bukannya dijawab, melainkan
dibiarkan.Pertanyaan justru dijawab tidak tepat.Salah satu teknik menjawab yang
buruk adalah komunikator tidak memberikan kesempatan individu menyelesaikan
pertanyaan lalu langsung di jawab oleh komunikator.
f. Kurang menguasai materi.
Ini faktor yang sangat jelas.Begitu kita tidak menguasai materi, itulah
hambatan komunikasi.Kompetensi profesional salah satu maknanya adalah
menguasai materi secara mendalam bahkan ditambahkan lagi, meluas.
g. Kurang persiapan.
Bagaimana mungkin proses penyampaian materi atau pembelajaran
dapat optimal jika tidak menyiapkan perencanaan dengan baik
2. Hambatan Psikologis :
a. Mendengar.
Biasanya kita mendengar apa yang ingin kita dengar. Banyak hal atau
informasi yang ada di sekeliling kita, namun tidak semua yang kita dengar dan
tanggapi. Informasi yang menarik bagi kita, itulah yang ingin kita dengar.
b. Mengabaikan informasi yang bertentangan dengan apa yang kita ketahui.
Sering kali kita mengabaikan informasi yang menurut kita tidak sesuai dengan
ide, gagasan dan pandangan kita padahal kalau dicermati sangat berhubungan dengan
ide kita, padahal ada kalanya gagasan kita yang kurang benar.

12
c. Menilai sumber.
Kita cenderung menilai siapa yang memberikan informasi. Jika ada seorang
remaja yang memberikan informasi tentang suatu hal, kita cenderung
mengabaikannya.
d. Pengaruh emosi.
Pada keadaan marah, remaja akan kesulitan untuk menerima informasi. apapun
berita atau informasi yang diberikan, tidak akan diterima dan ditanggapinya.
e. Kecurigaan.
Kembangkanlah sikap berbaik sangka pada semua orang. Hendaklah berpikir
baik atau positif bahwa materi ini bisa dipahami oleh remaja. Komunikator curiga
pada komunikan akan membawa suasana pembelajaran tidak kondusif.
f. Tidak jujur.
Karakter dasar komunikator mestilah ditampilkan selama pembelajaran
komunikasi pada remaja berlangsung dan juga di luar pembelajaran. Kita harus jujur.
Jangan bohong. Jujurlah jika memang tidak tahu
g. Tertutup.
Jika ada kita yang memiliki sikap tertutup atau introvert dalam proses
pembelajaran, sebaiknya jangan menjadi komunikator. Sebab dalam proses itu
diperlukan kerjasama, keterbukaan, kehangatan, dan keterlibatan.
h. Destruktif.
Jelas sikap ini akan menjadi penghambat aliran komunikasi pada remaja.
Cegahlah sedini mungkin oleh kita.Jika sikap destruktif itu muncul, lakukan segera
penanganannya secara bijak atau sesuai prosedur yang berlaku.
i. Kurang dewasa.
Kita memang perlu menyadari sikapnya dalam proses pembelajaran. Bedakan
ketika kita berbicara dengan anak-anak, karena kita berkomunikasi dengan seorang
remaja.mampu, tetapi ada hambatan psikologi.
3. Semantik :
a. Persepsi yang berbeda.
Komunikasi tidak akan berjalan efektif, jika persepsi si pengirim pesan tidak
sama dengan si penerima pesan. Perbedaan ini bahkan bisa menimbulkan
pertengkaran, diantara pengirim dan penerima pesan. Setiap individu memiliki latar
belakang yang berbeda. Itu adalah wajar dan real. Yang perlu dilakukan adalah
kesepakatan antara komunikator dan komunikan bahwa inilah tujuan komunikasi

13
yang ingin kita raih. Oleh karena itu, sampaikanlah tujuan tersebut kepada
komunikan dengan jelas.
b. Kata yang berarti lain bagi orang yang berbeda.
Kita sering mendengar kata yang artinya tidak sesuai dengan pemahaman kita.
Seseorang menyebut akan datang sebentar lagi, mempunyai arti yang berbeda bagi
orang yang menanggapinya. Sebentar lagi bisa berarti satu menit, lima menit,
setengah jam atau satu jam kemudian. Pastikanlah kita menggunakan bahasa
pengantar yang bisa dipahami oleh orang lain (komunikan). Hindari menggunakan
istilah yang tidak diketahui komunikan. Jika ingin menggunakan istilah, jelaskanlah
padanannya dengan bahasa yang mudah dipahami. Kita akan mudah menjelaskan
materi jika dibantu dengan bahasa komunikan.
c. Terjemahan yang salah.
Ada kalanya dalam komunikasi terdapat istilah asing yang belum diketahui
oleh kita. Kita jangan merasa malu jika memang belum tahu. Ambillah kamus bahasa
Indonesia atau kamus istilah umum atau istilah dalam bidang studi tertentu sebagai
sahabat dalam menerjemahkan kata atau istilah yang tidak diketahui.
d. Semantik yaitu pesan bermakna ganda.
Anda pastilah mengetahui bahwa ada kemungkinan pesan yang dikirim
bermakna ganda, lebih dari 1 arti. Inilah salah satu penyebab miscommunication.
Contoh “Untuk memahami materi Hipertensi pada lanjut usia tadi, kerjakanlah 10
soal pada buku yang kamu pegang “• Informasi perintah ini tidak jelas. Buku yang
mana yang dimaksud? Halaman berapa? Hindari penggunaan kalimat bermakna
ganda.
e. Belum berbudaya baca, tulis, dan budaya diam.
Penyampaian materi pembelajaran Anda agar maksimal perlu ditunjang dengan
pelaksanaan budaya yang baik di dalam kelas. Tumbuhkan kebiasaan bahwa ketika
Anda menjelaskan, peserta didik memperhatikan. Ketika Anda meminta mereka
menjawab, mereka memberikan respons jawaban. Ketika seorang peserta didik
sedang menjawab, peserta didik lain diminta menyimak. Jangan sampai sebaliknya,
ketika Anda sedang menjelaskan, para peserta didik justru saling berbicara. Ketika
mereka disuruh bertanya, tidak satu pun bertanya. Bahkan Anda dapat
menumbuhkan budaya saling koreksi jawaban antar peserta didik dapat dilakukan di
bawah bimbingan Anda.
(Nailul Himmah, 2013:03)

14
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada BAB III menyimpulkan bahwa: komunikasi adalah suatu
proses penyampaian informasi, gagasan atau pengetahuan kepada pihak lain. Remaja ialah
masa peralihan dari masa kanak-kanak ke dewasa. Bentuk komunikasi ada 2: Verbal dan non-
verbal. Remaja (usia 12 tahun lebih) menggunakan komunikasi verbal yang canggih,
meskipun perilaku mereka belum menunjukkan tingkat komunikasi, kognitif atau kematangan
lebih tinggi. Adapun hambatan komunikasi: hambatan fisik, hambatan psikologi dan
hambatan semantik atau hambatan dalam mengartikan.

4.2 Saran
Berdasarkan pembahasan diatas penulis menyarankan kepada para remaja untuk
melakukan komunikasi yang sesuai kepada orang tua atau teman sebaya. Dan menyarankan
kepada orang tua untuk mendidik anaknya cara berkomunikasi yang benar dan sesuai dengan
tingkatan

15
DAFTAR PUSTAKA

 Wong, Dona L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Vol 1 Wong. EGC: Jakarta
 Montyp, Satiadarma. 2004. Jurnal Provitae. Buku Obor: Jakarta Barata, Atep Adya. 2003.
KOMUNIKASI. Elek Media Komputindo: Jakarta Engel, Joyce. 2008.
 Pengkajian Pediatrik. EGC: Jakarta Shofia, Retnowati. 2013. (Online),
(https://www.google.com/search?q=hambatan+komunikasi+pada+usia+remaja&ie=utf-
8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-
beta&channel=sb#channel=sb&q=cara+komunikasi+pada+usia+remaja&rls=org.mozilla:e
n-US:official, Diakses pada tanggal 13 Maret 2015. Pukul 20:00)
 Himmah, Nailul. 2013. (Online), (http://nailul-nailul.blogspot.com/2012/08/hambatan-
dalam-komunikasi.html, Diakses pada tanggal 13 Maret 2015. Pukul 20:23)

16